Coretanzone

    Social Items

Teori Pembangunan Ekonomi: Aliran Klasik, Karl Marx, Schumpeter, Neo Klasik, dan Post Keynesian
Sudah sejak lama yaitu sejak beradab-abad yang lalu, perhatian utama masyarakat dunia dalam bidang ekonomi tertuju pada bagaimana mempercepat tingkat peengembangan ekonimi. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam teori dari berbagai ahli ekonomi.

Secara garis besar teori pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dapat digolongkan sebagai "mahsab analitis" yang menekankan kepada teori yang bisa mengungkapkan proses pertumbuhan ekonomi secara logis dan konsisten tetapi sering bersifat abstrak dan kurang menekankan kepada sisi empiris historisnya. Yang termasuk dalam golongan ini adalah golongan Klasik, dan Neo Klasik.Yang kedua adalah "mahsab histories" yang menekankan proses pembangunan didasarkan pada proses pentahapannya. Yang termasuk dalam golongan kedua ini diantaranya adalah Karl Marx dan Rostow. Menurut penggolongan lain, teori pembangunan ekonomi dapat digolongkan menjadi lima golongan besar yakni aliran klasik, Karl Marx, Schumpeter, Neo Klasik dan Post Keynesian, yang pembahasannya adalah sebagai berikut.

Teori Pembangunan Ekonomi Aliran Klasik


Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permulaan abad ke 19 yaitu dimasa revolusi industri dimana suasana waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal sedang merajalela dan menurut alairan klasik ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi sebaliknya dan perekonomian akan mengalami kemacetan.

Menurut aliran ini bahwa meningkatnya tingkat keuntungan akan mendorong perkembangan investasi dan investasi (pembentukan capital ) akan menambah volume persediaan capital (capital stock). Keadaan ini akan memajukan tingkat teknologi dan memperbesar jumlah barang yang beredar sehingga tingkat upah naik, yang berarti meningkatnya tingkat kemakmuran penduduk. Tingkat kemakmuran akan mendorong bertambahnya jumlah penduduk sehingga mengakibatkan berlakunya hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing return).

Tokoh-tokoh Aliran Klasik tersebut antara adalah Adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus yang masing-masing akan kita bahas berikut ini:

1. Adam Smith

Adam Smith adalah ahli Ekonomi Klasik yang paling terkemuka. Bukunya yang sangat terkenal berjudul An Inquiry into the Nature and Cause of the Wealth of Nations terbit tahun 1776. Ia meyakini berlakunya "doktrin hukum alam" dalam persoalan ekonomi. Ia menganggap setiap orang paling tahu terhadap kepentingannya sendiri sehingga sebaiknya setiap orang dibebaskan untuk mengejar kepentingannya demi keuntungannya sendiri. Ia penganut faham perdagangan bebas dan penganjur kebijakan pasar bebas. Pasar persaingan sempurna adalah mekanisme pencipta keseimbangan otomatis yang akan menciptakan maksimisasi kesejahteraan ekonomi.Menurutnya terdapat tiga unsur pokok sistem produksi, unsur-unsur tersebut adalah: sumber daya alam yang tersedia, jumlah penduduk dan stok barang modal

Menurut Adam Smith, untuk berlakunya perkembangan ekonomi diperlukan adanya spesialisasi atau pembagian kerja. Pembagian kerja didasari oleh akumulasi capital yang berasal dari dana tabungan dan luas pasar. Luas pasar disni berfungsi untuk menampung hasil produksi sehingga dapat menembus perdagangan internasional. Perrtumbuhan itu mulai maka ia akan bersifat kumulatif artinya bila ada pasar yang dan ada akumulasi kapital, pembagian kerja akan terjadi dan akan menaikan tingkat produktivitas tenaga kerja.

Proses Penumpukan Modal. Smith menekankan, penumpukan modal harus dilakukan terlebih dahulu daripada pembagian kerja. Smith menganggap pemupukan modal sebagai satu syarat mutlak bagi pembangunan ekonomi; dengan demikian permasalahan pembangunan ekonomi secara luasa adalah kemampuan manusia untuk lebih banyak menabung dan menanam modal. Dengan demikian tingkat investasi akan ditentukan oleh tingkat tabungan dan tabungan yang sepenuhnya diinvestasikan.

Agen Pertumbuhan, menurutnya para petani, produsen dan pengusaha, merupakan agen kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Fungsi ketiga agen tersebut saling berkaitan erat. Bagi Smith pembangunan pertanian mendorong peningkatan pekerjaan konstruksi dan perniagaan. Pada waktu terjadi surplus pertanian sebagai akibat pembangunan ekonomi, maka permintaan akan jasa perniagaan dan barang pabrikan meningkat pula; ini semua akan membawa kemajuan perniagaan dan berdirinya industri manufaktur. Pada pihak lain, pembangunan sektor tersebut akan meningkatkan produksi pertanian apabila petani menggunakan teknologi yang canggih. Jadi pemupukan modal dan pembangunan ekonomi terjadi karena tampilnya para petani, produsen dan pengusaha.

Menurut Smith, proses pertumbuhan ini bersifat komulatif (menggumpal). Apabila timbul kemakmuran sebagai akibat kemajuan di bidang pertanian, indusrtri manufaktur, dan perniagaan, kemakmuran itu akan mengarah pada pemupukan modal, kemajuan teknik, meningkatnya produk, perluasan pasar, pembagian kerja, dan kenaikan secara terus menerus. Dilain pihak naiknya produktifitas akan menyebabkan upah naik dan ada akumulasi kapital. Tetapi karena Sumber Daya Alam terbatas adanya, maka keuntungan akan menurun karena berlakunya hukum penambahan hasil yang semakin berkurang. Pada tingkat inilah perkembangan mengalami kemacetan.

Teori Adam Smith tidak luput dari kelemahan, kelemahannya adalah sbb:

# Pembagian masyarakat yang dilakukannya terlalu lugas sehingga mengabaikan peranan kelas menengah dalam memberikan daya dorong bagi pembangunan ekonomi.

# Alasan yang tidak adil bagi kegiatan menabung. Menurutnya yang dapat menabung hanyalah tuan tanah, kapitalis dan lintah darat, padahal yang sebenarnya golongan lain penerima pendapatan juga dapat melakukan kegiatan menabung.

# Persaingan sempurna tidak terdapat di dunia nyata

# Mengabaikan peran wiraswasta

# Asumsi yang tidak realistis tentang keadaan stasioner

2. David Ricardo

Tulisannya yang terkenal berjudul The Principles of Political Economy and Taxation yang terbit 1917.Teori Ricardo didasarkan pada asumsi; a)Seluruh tanah digunakan untuk produksi gandum, b) Factor produksi tanah berlaku law of diminishing return, c) Persediaan tanah tetap, d) Permintaan gandum bersifat inelastic, e) Buruh dan modal adalah masukan yang bersifat variable, f) Keadaan pengetahuan teknis adalah tertentu, g) Buruh dibayar pada tingkat upah minimal, h) Harga penawaran buruh tertentu dan tetap, i) Permintaan buruh tergantung pada pemupukan modal, j) Terdapat persaingan sempurna, k) Pemupukan modal dihasilkan dari keuntungan.

Menurut David Ricardo di dalam masyarakat ekonomi ada tiga golongan masyarakat yaitu golongan capital, golongan buruh, dan golongan tuan tanah. Golongan kapital adalah golongan yang memimpin produksi dan memegang peranan yang penting karena mereka selalu mencari keuntungan dan menginvestasikan kembali pendapatannya dalam bentuk akumulasi kapital yang mengakibatkan naiknya pendapatan nasional. Golongan buruh merupakan golongan yang terbesar dalam masyarakat, namun sangat tergantung pada capital. Golongan tuan tanah merupakan golongan yang memikirkan sewa saja dari golongan kapital atas areal tanah yang disewakan.

David Ricardo mengatakan bahwa bila jumlah penduduk bertambah terus dan akumulasi kapital terus menerus terjadi, maka tanah yang subur menjadi kurang jumlahnya atau semakin langka adanya. Akibatnya berlaku pula hukum tambahan hasil yang semakin berkurang. Disamping itu juga ada persaingan diantara kapitalis-kapitalis itu sendiri dalam mengolah tanah yang semakin kurang kesuburannya dan akibatnya keuntungan mereka semakin menurun hingga pada tingkat keuntungan yang normal saja.

Selain pandangannya yang kritis tentang pembangunan, teori Ricardo memiliki beberapa kelemahan yaitu; a) Mengabaikan pengaruh teknologi dalam mengarasi masalah diminishing return, b) tidak ada keadaan stasioner dengan keuntungan yang meningkat, produksi meningkat dan terjadi pemupukan modal, c) menganggap upah yang tidak akan meningkat karena pertambahan jumlah penduduk, d) kebijakan pasar bebas yang tidak pernah ada dalam realita, e) mengabaikan factor kelembagaan, f) tanah juga memproduksi selain gandum, g) menganggap modal dan buruh adalah koefisien yang tetap padahal keduanya adalah variable bebas, dan h) mengabaikan tingkat suku bunga.

3. Thomas Robert Malthus

Menurut Thomas Robert Malthus tambahan permintaan tergantung kepada kenaikan jumlah penduduk yang terus menerus. Namun, hal itu juga perlu diikuti oleh perkembangan unsur lain seperti turunnya biaya produksi dan kenaikan jumlah capital. Apabila jumlah produksi bertambah maka secara otomatis permintaan akan ikut bertambah pula karena pada hakekatnya kebutuhan manusia tidak terbatas.

Malthus menitikan perhatian pada “perkembangan kesejahteraan” suatu negara, yaitu pembangunan ekonomi yang dapat dicapai dengan meningkatkan kesejakteraan suatu negara. Kesejahteraan suatu negara sebagian bergantung pada kuantitas produk yang dihasilkan oleh tenaga kerjannya, dan sebagian lagi pada nilai atas produk tersebut.

Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi, Menurut Malthus pertumbuhan penduduk saja tidak cukup untuk berlangsungnya pembangunan ekonomi. Malahan, pertumbuhan penduduk adalah akibat dari proses pembangunan ekonomi. Pertumbuhan penduduk akan meningkatkan kesejahteraan hanya bila pertumbuhan tersebut meningkatkan permintaan efektif. Rendahnya konsumsi atau kurangnya permintaan efektif yang menimbulkan persediaan melimpah, menurut Teori Malthus merupakan sebab utama keternbelakangan. Untuk pembangunan, negara harus memaksimalkan produksi di sektor pertanian dan sektor industri. Ini memerlukan kemajuan teknologi, pendistribusian kesejahteraan dan tanah secara adil, perluasan perdagangan internal dan eksternal, peningkatan konsumsi tidak produktif, dan peningkatan kesempatan kerja melalui rencana pekerjaan umum.

Malthus memiliki beberapa saran saran untuk pembangunan ekonomi, saran-sarantersebut adalah; a) harus adnya pertumbuhan berimbang antara sector pertanian dan sector industri, b) harus adanya upaya untuk menaikkan permintaan efektif dengan cara pendistribusian kesejahteraan dan pemilikan tanah secara lebih adil, dan c) perlunya melakukan perluasan perdagangan internal dan eksternal.

4. Arthur Lewis

Teorinya didasarkan pada anggapan adanya penawaran buruh yang tidak terbatas di negara terbelakang dengan upah subsisten. Pembangunan ekonomi berlangsung bila modal terakumulasi akibat peralihan buruh surplus dari sector subsisten ke sector kapitalis. Pembentukan modal tergantung pada surplus kapitalis.Surplus ini diinvestasikan kembali pada aktiva kapitalis baru. Pembentukan modal berlangsung dan lebih banyak orang dipekerjakan dari sector subsisten. Proses tersebut akan berlangsung sampai rasio buruh modal naik dan penawaran buruh menjadi tidak elastis. Pokok masalahnya adalah bagaimana proses pertumbuhan terjadi dalam perekonomian dua sector yaitu; sector tradisional dengan produktifitas rendah dan sumber tenaga kerja yang melimpah, dan sector modern dengan produktifitas tinggi dan sebagai sumber akumulasi modal. Kemudian pembentukan modal bergantung pada surplus capital ( modal dibentuk dari laba yang dihasilkan oleh para kapitalis)

Menurutnya proses pertumbuhan ekonomi akan berakhir jika akibat pembentukan modal tidak ada lagi surplus buruh yang tersisa, dan sector kapitalis berkembang begitu cepat sehingga mengurangi secara absolute penduduk di sector subsisten

Teori Pembangunan Ekonomi Karl Marx


Karl Marx lahir pada thaun 1818 di Kota Trier JermanPemikiran Marx sangat dipengaruhi oleh Darwin dan menggunakan gagasan ini untuk menjelaskan proses dialektik sejarah. Menurut Marx, masyarakat menempuh tahapan-tahapan yang berbeda dalam sejarah dan yang menenukan tahapan-tahapan tersebut adalah perubahan dalam sarana produksi dan hubungan-hubungan produksi.

Menurutnya berdasarkan sejarah, perkembangan masyarakat melalui 5 tahap :

1. Masayarakat kumunal primitive, yang masih menggunakan alat-alat produksi sederhana yang merupakan milik kumunal. Tidak ada surplus produksi di atas konsumsi.

2. Masyarakat perbudakan, adanya hubungan antar pemilik factor produksi dan orang-orang yang hanya bekerja untuk mereka. Para budak diberi upah sangat minim Mulai ada spesialisasi untuk bidang pertanian, kerajinan tangan dsb. Karena murahnya harga buruh maka minat pemilik factor produksi untuk memperbaiki alat-alat yang dimilikinya rendah. Buruh makin lama sadar dengan kesewenang-wenangan yang dialaminya sehingga menimbulkan perselisihan antara dua kelompok tersebut.

3. Masyarakat feodal, kaum bangsawan memiliki factor produksi utama yaitu tanah.. Para petani kebanyakan adalah budak yang dibebaskan dan mereka mengerjakan dahulu tanah milik bangsawan. Hubungan ini mendorong adanya perbaikan alat produksi terutama di sector pertanian. Kepentingan dua kelas tersebut berbeda, para feodal lebih memikirkan keuntungan saja dan kemudian mendirikan pabrik-pabrik. Banyak timbul pedagang-pedagang baru yang didukung raja yang kemudian membutuhkan pasar yang lebih luas. Perkembangan ini menyebakan timbulnya alat produksi kapitalis dan menghendaki hapusnya system fiodal. Kelas borjuis yang memilki alat-alat produksi menghendaki pasaran buruh yang bebas dan hapusnya tariff serta rintangan lain dalam perdagangan yang diciptakan kaum fiodal sehingga kemudian masyarakat tidak lagi munyukai system ini

4. Masyarakat kapitalis, hubungan produksinya didasarkan pada pemilikan individu masing-masing kapitalis terhadap alat-alat produksi. Kelas kapitalis mempekerjakan buruh . Keuntungan kapitalis membesar yang memungkinkan berkembangnya alat-alat produksi. Perubahan alat yang mengubah cara produksi selanjutnya menyebabkan perubahan kehidupan ekonomi masyarakat. Perbedaan kepentingan antara kaum kapitalis dan buruh semakin meningkat dan mengakibatkan perjuangan kelas

5. Masyarakat sosialis, kepemilikan alat produksi didasarkan atas hak milik sosial. Hubungan produksi merupakan hubungan kerjasama dan saling membantu diantara buruh yang bebas unsur eksploitasi. Tidak ada lagi kelas-kelas dalam masyarakat.

Marx meramalkan keruntuhan system kapitalis. Menurutnya runtuhnya kapitalisme terjadi karena adanya

1. Konsentrasi , penggabungan perusahaan-perusahaan agar tidak bangkrut karena persaingan dalam masyarakat kapitalis

2. Akumulasi yang menyebabkan perbedaan kaya miskin semakin lebar

3. Kesengsaraan, karena kemiskinan semain luas

4. Krisis, karena daya beli masyarakat semakin berkurang karena pendapatan buruh semakin berkurang, sehingga terjadilah kelebihan produksi atas konsumsi (over production). Harga barang-barang merosot dan produksi terpaksa ditahan.

Akibat hal di atas daya beli masyarakat terus merosot yang mengakibatkan over produksi, harga barang merosot, produksi ditahan, banyak pabrik yang ditutup sehingga terjadilah krisis

Menurut Karl Marx masyarakt menempuh tahapan-tahapan yang berbeda dalam sejarah dan yang menentukan tahap-tahap tersebut adalah perubahan dalam sarana produksi dan juga hubungan-hubungan produksi yang telah dijelaskan di atas,namun sejarah telah membuktikan bahwa periode evolusi yang dikemukakan oleh Mrx ternyata keliru. Tidak ada masa dalam sejarah masyarakat yang melalui tahapan evolusi sebagaimana yang dikemukakan Marx. Sebaliknya sebagaimana system yang diyakini oleh Marx terjadi melalui serangkaian tahapan tertentu, malah dapat terjadi dalam waktu bersamaan dan dalam masyarakat yang sama pula di saat satu wilayah dari suatu Negara sedang mengalami system yang menyerupai masyarakat fiodal, system kapitalis berlaku di wilayah lainnya dalam Negara yang sama. Jadi pernyataan bahwa tahapan dari satu system ke system berikutnya mengiuti pola evolusi sebagaimana yang dikemukakan oleh Marx dan teori evolusi tidak dapat dibuktikan sama sekali.

Teori Pembangunan Ekonomi Neo Klasik


Teori ini berkembang pada pertengahan tahun 1950 an. Analisis pertumbuhan ekonominya didasarkan pada pandangan-pandangan ahli ekonomi klasik. Perintis teori ini adalah Robert Solow dan travor Swan. Pendapatnya mengenai perkembangan ekonomi adalah sebagai berikut :

# Adanya akumulasi capital merupakan factor penting dalam perkembangan ekonomi

# Perkembangan tersebut merupakan proses yang gradual

# Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif

# Merupakan aliran yang optimis terhadap perkembangan ekonomi

# Adanya aspek internasional dalam perkembangan tersebut

Menurut teori ini tingkat bunga dan tingkat pendapatan akan menentukan tingginya tingkat tabungan.Pada suatu tingkat teknik tertentu, tingkat bunga akan menentukan investasi, jika kesempatan untuk investasi bertambah ( misalnya karena kemajuan teknologi), tambahnya permintaan untuk investasi menyebabkan tingkat bunga naik yang selanjutnya meningkatkan jumlah tabungan. Adanya kenaikan investasi tersebut menyebabkan harga-harga barang naik.

Kenaikan harga-harga dan tingkat bunga menyebabkan investasi terbatas hanya pada proyek-proyek dengan tingkat keuntungan terbesar dan akhirnya permintaan investasi berkurang sehingga tingkat bunga dan harga barang capital turun kembali. Jika tingkat bunga sangat rendah sedemikian rupa maka tidak ada orang yang mau menabungJika keadaan tersebut terjadi maka akumulasi capital berakhir dan perekonoian mengalami keadaan yang statis.Agar tidak mengalami hal tersebut maka kondisi full employment harus tetap dijaga dengan mengadakan proyek-proyek pekerjaan umum.

Kemajuan teknologi (penemuan-penemuan baru yang mengurangi penggunaan tenaga buruh) juga merupakan pendorong kenaikan pendapatan nasional. Mereka yakin bahwa manusia mampu untuk mengatasi terbatasnya pertumbuhan akibat habisnya sumber daya alam.Hal lain lagi yang dianggap penting untuk pertumbuhan ekonomi adalah kemampuan untuk menabung. Kalau tidak ada tabungan, kemajuan teknologi yang baru belum dapat digunakan.

Menurut Neo Klasik, tingkatan perkembangan ekonomi yang dialami suatu negara melalui beberapa tahap :

# Mula-mula negara meminjam capital dan disebut sebagai debitur yang belum mapan

# Setelah dapat menghasilkan dengan capital pinjaman tersebut, negara itu membayar deviden dan bunga atas pinjaman yang dilakukan. Pada tingkat ini belum dibayar pokok pinjaman capital

# Setelah penghasilan meningkat terus, sebagian penghasilan digunakan untuk melunasi hutang dan sebagian dipinjamkan ke negara lain yang membutuhkan.. Negara berada dalam tingkat debitur yang sudah mapan ( mature debtor)

# Negara dapat menerima bunga dan deviden lebih besar daripada yang dibayar, jadi ada surplus. Dengan kata lain hutangnya semakin sedikit dan piutangnya semakin besar. Negara tersebut sampai pada tingkatan kreditur yang belum mapan (immature creditor)

# Negara melulu hanya menerima deviden dan bunga dari negara lain. Negara sampai pada tingkat kreditur yang sudah mapan (mature creditor).

Teori Pembangunan Ekonomi Schumpeter


Teori Schumpeter ini pertama kali dikemukakan dalarn bukunya yang berbahasa Jerman pada tahun 1911 yang pada tahun 1934 diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan judul The Theory of Economic Development. Kemudian dia mengulas teorinya lebih dalam mengenai proses pembangunan dan faktor utama yang menentuka pembangunan dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1939 dengan judul Business Cycle

Salah satu pendapat Schumpeter yang menjadi landasan teori pembangunan adalah adanya keyakinan bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem yang paling baik untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang pesat. Namun, Schumpeter meramalkan bahwa dalam jangka panjang sistem kapitalisme akan mengalami kemacetan (Satagnasi). Pendapat ini sama dengan pendapat kaum Klasik.

Menurut Schumpeter, faktor utama yang menyebabkan perkembangan ekonomi adalah proses inovasi dan pelakunya adalah para inovator atau pengusaha. Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterapkan dengan adanya inovasi oleh para Pengusaha (entrepreneurs). Dan kemajuan ekonomi tersebut dapat dimaknai sebagai peningkatan output total masyarakat.

Dalam mernbahas perkembangan ekonomi, Schumpeter membedakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi, meskipun keduanya merupakan sumber peningkatan output masyarakat. Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi, tanpa adanya perubahan dalam “teknologi” produksi itu sendiri. Misalnya, kenaikan output yang disebabkan oleh pertumbuhan stok modal ataupun penambahan faktor-faktor produksi tanpa tanpa adanya perubahan pada teknologi produksi yang lama.

Sedangkan pembangunan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh adanya inovasi yang dilakukan oleh para pengusaha(entrepreneurs.). Inovasi disini bukan hanya berarti perubahan yang “radikal” dalam hal teknologi, inovasi dapat juga direpresentasikan sebagai penemuan produk baru, pembukaan pasar baru, dan sebagainya. Inovasi tersebut nienyangkut perbaikan kuantitatif dan sistem ekonomi itu sendiri yang bersumber dari kreativitas para pengusahanya.

Menurut Sehumpeter, pembangunan ekonorni akan berkernbang pesat dalam lingkungan masyarakat yang rnenghargai dan merangsang setiap orang untuk menciptakan hal-hal yang baru (inovasi), dan lingkungan yang paling cocok untuk itu adalah masyarakat yang menganut paham laissez faire, bukan dalarn masyarakat sosial ataupun komunis yang cenderung mematikan kreativitas pendudukunya.

Teori Analisis Post-Keynesian


Analisis Keynesian menggunakan anggapan berdasarkan atas keadaan waktu sekarang seperti mengenai tingkat teknik tenaga kerja selera, dengan tidak memperhatikan keadaan jangka panjang. Teori ini juga berpendapat bahwa apabilah jumlah penduduk bertambah maka pendapatan rill perkapitah akan berkurang kecuali bila pendapat rill juga bertambah.

Ahli-ahli post-keynesian ialah mereka yang mencoba merumuskan perluasan teori keynes.post-keynesian memperluas sistem menjadi teori output dan kesempatan kerja dalam jangka panjang, yang menganalisa fluktuasi jangka pendek untuk mengetahui adanya perkembangan ekonomi jangka panjang.

Dalam analisis ini persoalan yang penting ialah; a) Syarat yang diperlukan untuk mempertahankan perkembangan pendapat yang mantap (steady growth) pada tingkat pendapatan dalam kesempatan kerja penuh (full employment income) tanpa mengalami deflasi atau inflasi. b) Apakah pendapatan itu benar-benar bertambah pada tingkat sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya kemacetan yang lama atau terus menerus.

1. Teori Harrod-Domar

Pada hakikatnya teory Harrod-Domar merupakan pengembangan dari teory makro Keynes. Analisis Keynes dianggap kurang lengkap karena mengungkapkan masalah – masalah ekonomi dalam jangka panjang. Sedangkan teory Harrod- Domar ini menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar suatu perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teory ini berusaha menunjukan syarat yang dibutuhkan agar suatu perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dengan mantab. Menurut teory Harrod-Domar, pembentukan modal merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Pembentukan modal tersebut dapat diperoleh melalui proses akumulasi tabungan.

Besarnya tabungan masyarakat proposional dengan besarnya pendapatan nasional.mpunyai beberapa asumsi yakni :

# Perekonomian dalam keadaan pengerjaan penuh ( full empyloyment ) dan faktor – faktor produksi yang ada juga dimanfaatkan secara penuh .

# Perekonomian tterdiri dari dua sector : sector rumah tangga dan sector perusahaan.

# Besarnya tabungan masyarakat proposional dengan besarnya pendapatan nasional.

# Kecenderungan menabung besarnya tetap.

2. Teori Evsey D. Domar

Karena investasi menaikkan kapasitas produksi dan pendapatan, maka seberapa tingkat kenaikan investasi sama dengan kenaikan pendapatan dan kapasitas produksi diperlukan anggapan-anggapan teori sebagai berikut:

# Perekonomian sudah ada dalam pengerjaan tingkat penuh (full employment income)

# Tidak ada pemerintah dan perdagangan luar negeri

# Tidak ada keterlambatan penyesuaian (lag of adjustment)

# Hasrat menabung marginal dan hasrat menabung rata-rata sama.

# Marginal propensity to savedan Capital coeffisien adalah tetap.

Dari teori ini dinyatakan bahwa kenaikan investasi akan menaikkan kapasitas produksi dan pendapatan. Perekonomian kenyataannya menghadapi masalah yaitu bila investasi hari ini tidak cukup maka akan terjadi pengangguran. Bila ada investasi hari ini maka besok diperlukan investasi yang lebih banyak untuk menaikkan permintaan sehingga kapasitas produksi bertambah.

3. Teori Harrod

Harrod juga menyelidiki keadaan-keadaan untuk perkembangan ekonomi yang terus menerus, dan menunjukkan cara yang mungkin dapat ditempuh untuk mencapai perkembangan ekonomi itu. Ia memulai dengan mengatakan bahwa tabungan sama dengan investasi.

Harrod beranggapan bahwa tabungan yang diharapkan itu selalu terjadi, sehingga perbedaan anatara tabungan yang diharapkan dengan investasi yang diharapkan itu akan berupa investasi yang belum diharapkan (unintended investment). Ini berarti persediaan (inventory) menumpuk apabila tabungan yang diharapkan melebihi investasi yang diharapkan. Model Harrod ini dapat dinyatakan sesuai dengan modelnya domar. Kedua model itu menunjukkan bahwa untuk mempertahankan pengerjaan penuh, tabungan yang diharapkan dari pendapatan pada tingkat pengerjaan penuh harus diimbangi dengan jumlah infestasi yang diharapkan, yang sama besarnya dengan tabungan yang diharapkan.

Ikhtisar analisa Harrod dan Domar (roy Harrod dan Evsey Domar)

# Investasi adalah pusat dari persoalan pertumbuhan yang mantap sebab proses investasi mempunyai dua sifat yaitu menciptakan pendapatan dan menaikkan kapasitas produksi dalam perekonomian.

# Naiknya kapasitas produksi dapat menghasilkan out-put yang lebih banyak.

# Laju pertumbuhan yang sebenarnya (actual rate of growth) dapat berbeda dengan laju pertumbuhan yang mantap (waranted rate of growth).

Bila laju pertumbuhan yang sebenarnya lebih besar daripada laju pertumbuhan yang mantap akan cenderung terjadi inflasi. Sebaliknya bila laju pertumbuhan sebenarnya lebih kecil dari pada laju peertumbuhan mantap akan cenderung terjadi deflasi.

4. Teori Stagnasi Sekular (Secular Stagnation)

Stagnasi sekuler menunjukkan suatu fase perkembangan kapitalis yang telah masak dimana tabungan bersih pada tingkat full employmentcenderung bertambah, sedangkan investasi bersihnya menurun. Ini menandakan kecenderungan jangka panjang menuju pada pengurangan kegiatan ekonomi.perumusan sebab-sebab stagnasi sekuler adalah:

# Menitik beratkan pada peranan faktor faktor eksogen seperti teknologi, perkembangan penduduk, pembukaan dan perkembangan daerah baru.Menurut A. Hansen, perkembangan penduduk yang cepat, pembukaan daerah baru dan kemajuan teknologi akan mendorong investasi dan menaikkan pendapatan. Menurut Keynes, perkembangan penduduk akan mendorong kenaikan ekonomi, menaikkan daya beli dan dapat memperluas pasar. Tertundanya perkembangan penduduk menagkibatkan akumulasi kapital relatif lebih banyak dari pada tenaga kerja.

# Menitik beratkan pada perubahan-perubahan dasar di dalam lembaga-lembaga sosial seperti meningkatnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan dan poerkembangan organisasi buruh.

# Menitik beratkan pada faktor-faktor endogen seperti perkembangan persaingan dan konsentrasi-konsentrasi perusahaan dalam industri.

Kesimpulan


Berdasarkan pemikiran para ekomon dalam teori-teorinya maka dapat dikemukakansebagai berikut. Klasik: Adam Smith menunjukkan pentingnya faktor Divition of labour (pembagian tenaga kerja atau spesialisasi) dalam pengembangan ekonomi. D. Ricardo, menunjukkan pentingnya faktor tanah.Thomas Robert Malthus menunjukkan pentingnya faktor pertambahan penduduk, dan pengaruh terhadap penambahan jumlah permintaan. Sedangkan Karl Marx, menunjukkan pentingnya tersedia adanya nilai lebih (surplus value) bagi perkembangan ekonomi. Post Keynesia, khususnya Roy Harrod dan Evsey Domar mengemukakan pentingnya peranan kapital di mana investasi lebih penting untuk perkembangan ekonomi, sedang Neo Klasik melihat peranan dari teknologi. Schumpeter, dalam masalah perkembangan ekonomi ini melihat pentingnya para entrepreneur. Apabila entrepreneur banyak tersedia, maka perkembangan ekonomi akan dapat tercapai dengan pesat.

Dengan demikian maka, dari semu teori yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi tergantung dari berbagai macam faktor yang ada di dalam masyarakat, bukan tergantung pada satu faktor saja.

Daftar Pustaka

https://superkurnia.wordpress. com
https://resum.wordpress. com

Teori Pembangunan Ekonomi: Aliran Klasik, Karl Marx, Schumpeter, Neo Klasik, dan Post Keynesian

Hidup dan Berkembangnya Budaya Asing di Indonesia
Banyak orang mengira bahwa budaya asing itu hanyalah sesuatu yang berasal dari kebudyaan barat. Padahal budaya asing itu adalah segala sesuatu yang berasal dari luar, bukan saja barat tetapi budaya juga budaya China, Arab, dan sebagainya.

Saat ini kebudayaan asing, sudah banyak bercampur dengan kebudayaan lokal, bahkan sudah tidak dapat dilepaspisahkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sebut saja baju "koko" yang awalnya berasal dari kebudayaan China, oleh sebagian masyarakat Indonesia dijadikan sebagai baju "keagamaan" atau dalam kata lain digunakan untuk melakukan kegiatan keagamaan baik itu kegiatan sosial (ibadah goiru mahdhah) maupun kegiatan ritual keagaamn (ibadah mahdhah).

Konsep Budaya Asing


Kebudayaan suatu negara atau wilayah tidak terbentuk secara murni. Artinya, kebudayaan bukan hanya merupakan hasil interaksi dalam masyarakat, namun juga telah terpengaruh dan bercampur dengan unsur kebudayaan dari luar. Pengaruh budaya asing terjadi pertama kali saat suatu bangsa berinteraksi dengan bangsa lain. Misalnya, melalui perdagangan dan penjajahan. Dalam proses interaksi tersebut terjadi saling memengaruhi unsur budaya antarbangsa.

Pada awalnya, perhatian para sarjana antropologi untuk memahami bagaimana unsur kebudayaan asing bisa masuk ke Indonesia adalah melalui penelusuran sejarah mengenai kedatangan bangsa-bangsa asing ke Indonesia yang bertujuan untuk melakukan kolonisasi. Pada masa kolonial Belanda diterapkan sistem administrasi, seperti kelurahan, kawedanan, desa, dan dusun yang sampai sekarang masih tetap berlaku. Pengaruh budaya asing lainnya yang bersifat positif adalah budaya baca tulis yang mulai diterapkan pada masyarakat di segala lapisan sosial.

Budaya asing tidak harus selalu diartikan budaya yang berasal dari luar negeri, seperti budaya barat. Namun, tidak bisa disangkal bahwa budaya barat berupa makanan, mode, seni, dan iptek memang telah banyak memengaruhi budaya masyarakat di Indonesia. Pada abad ke-20 dan ke-21, pengaruh budaya asing di Indonesia dapat terlihat melalui terjadinya gejala globalisasi. Dalam proses globalisasi terjadi penyebaran unsur-unsur budaya asing dengan cepat melalui sarana teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi.

Faktor Sejarah


Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudra, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena letak geografis tersebut, Indonesia terletak di persimpangan jalan yang banyak disinggahi orang-orang asing. Akibatnya, Indonesia banyak menerima pengaruh unsur kebudayaan asing, seperti dari India, Cina, dan Eropa. Hubungan dengan masyarakat luar tersebut menyebabkan bertambahnya keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia terdiri atas unsur kebudayaan asli, yaitu kebudayaan nenek moyang pada zaman prasejarah dan unsur kebudayaan dari luar, seperti kebudayaan Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen. Itulah sebabnya, kebudayaan Indonesia banyak yang diwarnai budaya asing. Misalnya, dalam gaya hidup, cara berpakaian, seni musik, dan seni tari.

Pengaruh Hindu sangat terasa dalam susunan negara dan pemerintah, terutama mengenai kedudukan raja-raja pada zaman dahulu yang dianggap sebagai keturunan dewa yang bersifat turun-temurun. Dengan masuknya Hindu, rakyat Indonesia dapat belajar membaca dan menulis dengan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta. Akibat pengaruh Hindu dan Buddha maka seni bangunan candi berkembang pesat, seperti dengan berdirinya Candi Borobudur, Prambanan, dan Mendut. Selain itu, agama Islam juga banyak memengaruhi masyarakat Indonesia. Hampir sebagian besar penduduk Indonesia terpengaruh budaya Islam. Bahkan di daerah Aceh, Banten, Cirebon, Demak, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Barat Islam berkembang pesat, terutama pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa Eropa di samping membawa pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi juga menyebarkan agama Kristen.

Pengaruh Budaya Asing dalam Era Globalisasi


Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Indonesia telah memasuki era globalisasi. Kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi telah menyebabkan masuknya pengaruh budaya dari seluruh penjuru dunia dengan cepat ke Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan sistem komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mengikuti sistem serta kaidah-kaidah yang sama. Pada era globalisasi, peristiwa yang terjadi di suatu negara dapat diketahui dengan cepat oleh negara lain melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar atau internet.

Globalisasi berlangsung melalui saluran-saluran tertentu, seperti media massa, pariwisata internasional, lembaga perdagangan dan industri internasional, serta lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Saluran-saluran globalisasi, antara lain sebagai berikut.

1. Media Massa

Arus globalisasi diperoleh melalui media komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, film, dan internet. Globalisasi melalui media massa telah membuat dunia menjadi seolah-olah tanpa batas. Melalui media massa, seperti televisi yang disiarkan dalam jaringan satelit, peristiwa bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004 dapat diketahui di seluruh dunia. Demikain juga dengan perkembangan internet yang telah memudahkan perkembangan iptek dengan adanya kemudahan mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dengan murah dan cepat. Selain itu, dalam arus globalisasi, terjadi perubahan perilaku masyarakat di bidang mode pakaian, peralatan hidup, dan makanan akibat pengaruh penyebaran informasi dari luar negeri melalui media massa.

2. Pariwisata Internasional

Berkembangnya sektor pariwisata internasional juga berpengaruh terhadap penyebaran arus globalisasi. Kegiatan pariwisata internasional yang melibatkan banyak negara dapat dilakukan dengan mudah karena adanya kemajuan sarana transportasi dan telekomunikasi. Dengan meningkatnya kebutuhan wisata antarnegara menyebabkan masuknya devisa yang sangat dibutuhkan untuk membiayai pembangunan suatu negara. Dengan berkembangnya sektor pariwisata internasional, seseorang dapat dengan mudah berpergian dari satu negara ke negara lainnya.

3. Lembaga Perdagangan dan Industri Internasional

Globalisasi dalam perdagangan internasional ditandai dengan adanya pasar bebas. Dalam era pasar bebas, setiap negara akan berlomba-lomba mengembangkan keunggulan komparatifnya untuk menarik para investor dari luar negeri. Era pasar bebas juga ditandai adanya kebebasan kontak perdagangan antarnegara tanpa dibatasi hambatan fiskal dan tarif. Walaupun setiap negara bebas untuk menjalin hubungan perdagangan, namun tetap diperlukan suatu wadah kerja sama di bidang ekonomi. Misalnya, pendirian dewan kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC) dan dewan kerja sama ekonomi Amerika Utara (NAFTA).

Arus globalisasi yang melanda seluruh dunia mempunyai dampak bagi bidang sosial budaya suatu bangsa. Pada awalnya, globalisasi hanya dirasakan di kota-kota besar di Indonesia. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi globalisasi juga telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Arus globalisasi yang penyebarannya sangat luas dan cepat tersebut membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif globalisasi, antara lain sebagai berikut.

# Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia.

# Kemajuan teknologi menyebabkan kehidupan sosial ekonomi lebih produktif, efektif, dan efisien sehingga membuat produksi dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional.

# Kemajuan teknologi memengaruhi tingkat pemanfaatan sumber daya alam secara lebih efisien dan berkesinambungan.

# Kemajuan iptek membuat bangsa Indonesia mampu menguasai iptek sehingga bangsa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa lain.

Globalisasi juga mempunyai dampak negatif, antara lain sebagai berikut.

# Terjadinya sikap mementingkan diri sendiri (individualisme) sehingga kegiatan gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat mulai ditinggalkan.

# Terjadinya sikap materialisme, yaitu sikap mementingkan dan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi karena hubungan sosial dijalin berdasarkan kesamaan kekayaan, kedudukan social atau jabatan. Akibat sikap materialisme, kesenjangan sosial antara golongan kaya dan miskin semakin lebar.

# Adanya sikap sekularisme yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama.

# Timbulnya sikap bergaya hidup mewah dan boros karena status seseorang di dalam masyarakat diukur berdasarkan kekayaannya.

# Tersebarnya nilai-nilai budaya yang melanggar nilai-nilai kesopanan dan budaya bangsa melalui media massa seperti tayangantayangan film yang mengandung unsur pornografi yang disiarkan televisi asing yang dapat ditangkap melalui antena parabola atau situs-situs pornografi di internet.

# Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa, yang dibawa para wisatawan asing. Misalnya, perilaku seks bebas.

Gejala individualisme di perkotaan, mobilitas penduduk yang tinggi serta efisiensi merupakan kebiasaan hidup masyarakat kota yang telah terpengaruh budaya asing. Namun, tidak bisa disangkal bahwa semua itu adalah karena pengaruh modernitas kehidupan manusia. Kebutuhan manusia yang semakin beragam dan penghargaan atas waktu menjadikan efisiensi dan kepraktisan sebagai sesuatu yang penting untuk manusia.

Dengan demikian, segala kebiasaan yang bersifat rumit disederhanakan agar lebih efisien. Di Indonesia, modernitas adalah salah satu konsep yang menunjukkan adanya interaksi antara budaya lokal dan budaya asing. Ciri-ciri modernitas adalah mobilitas sosial yang tinggi, efisiensi, dan sikap individualisme. Hal-hal tersebut tidak bisa dipungkiri telah memengaruhi kehidupan manusia. Namun, setiap perubahan kebudayaan mempunyai dampak positif dan negatif. Individualisme berdampak negatif apabila mendorong individu untuk bekerja secara lebih produktif.

Namun, di sisi lain individualisme juga berdampak pada timbulnya sikap mementingkan diri sendiri. Selain itu, sebagai dampak individualisme, kegiatan gotong royong dan bentuk-bentuk kelembagaan sosial lainnya mulai diabaikan. Dengan demikian, modernitas tidaklah harus dinilai secara positif atau negatif karena hal itu tergantung pada bagaimana masyarakat dan individu memberikan penilaian sesuai dengan konteks kebudayaannya.

Namun, sebenarnya kemodernan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan nilainilai kebersamaan, empati, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kesadaran untuk tetap menghargai nilai-nilai tersebut. Perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial dalam masyarakat memang tidak bisa diterapkan secara kaku. Misalnya, lebih sulit untuk menerapkan sikap tersebut di dalam masyarakat perkotaan. Hal itu disebabkan sikap individualisme dan budaya materialisme yang lebih tinggi pada masyarakat perkotaan.

Oleh karena itu, perwujudan sikap empati sosial di dalam masyarakat perkotaan tidak bisa diterapkan dengan meniru kebersamaan masyarakat di daerah pedesaan. Perwujudan sikap empati sosial tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk tindakan untuk membantu sesama yang mengalami musibah bencana alam. Contohnya pada saat terjadinya bencana tsunami di Aceh, gempa Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan bencana banjir di Jakarta tahun 2007, sikap kegotongroyongan dan kebersamaan diwujudkan warga masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan social untuk meringankan penderitaan korban bencana alam.

Kesimpulan


Sebagai sarana pewarisan budaya pada era globalisasi, media massa sangat berpengaruh dalam penyerapan budaya asing di masyarakat yang bersifat positif dan negatif. Dampak positif budaya asing di media massa adalah masuknya iptek yang menunjang kemajuan di segala bidang. Pengaruh negatif budaya asing di media massa adalah terjadinya goncangan budaya karena adanya individu yang tidak siap menerima perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya dan adat istiadat.

Saat ini dunia semakin mengglobal, dan kita sebagai anak bangsa Indonesia, tidak dapat melepaskan diri dengan itu. Sehingga masuknya budaya asing di Indonesia tidak bisa dihindari, terlebih hal ini sudah berlangsung sejak lama. Kita tidak bisa membendung arus globalisasi, yang perlu dilakukan adalah memfilter antara budaya asing yang baik dengan budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Hidup dan Berkembangnya Budaya Asing di Indonesia

Konsep dan Ciri Budaya Lokal Indonesia
Seluruh kebudayaan manusia di dunia secara umum memiliki konsep dan ciri yang hampir sama, yang membedakannya adalah konsop dan ciri secara khusus yang terdapat dalam suatu bangsa, negara, atau yang paling terkecil adalah suatu daerah.

Kebudayaan lokal sudah banyak dikaji dalam berbagai literatur, termasuk salah satunya yaitu literatur antropologi.  Pada awal pembentukan disiplin antropologi di Indonesia, para ahli etnografi berusaha untuk mendeskripsikan berbagai macam kebudayaan yang tersebar luas di tanah air. Penelitian tersebut ditulis dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia karangan Koentjaraningrat yang berisi esai atau kumpulan tulisan mengenai laporan etnografi kebudayaan suku bangsa di Indonesia.

Konsep Budaya Lokal


Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya local suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.

Menurut Hildred Geertz dalam bukunya Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, di Indonesia saat ini terdapat lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda dan memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula. Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Misalnya, wilayah pesisir pantai Jawa yang beriklim tropis hingga wilayah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju. Perbedaan iklim dan kondisi geografis tersebut berpengaruh terhadap kemajemukan budaya lokal di Indonesia.

Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah Cina Selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang luas tersebut telah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lainnya. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional serta memandang diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa tersebut mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.

Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya dan adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda. Misalnya, perbedaan Bahasa dan adat istiadat antara suku bangsa Gayo-Alas di daerah pegunungan Gayo-Alas dengan penduduk suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.

Menurut Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I, masyarakat awal pada zaman praaksara yang datang pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Ras-ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut juga mendorong terjadinya kemajemukan budaya lokal berbagai suku bangsa di Indonesia.

Menurut James J. Fox, di Indonesia terdapat sekitar 250 bahasa daerah, daerah hukum adat, aneka ragam kebiasaan, dan adat istiadat. Namun, semua bahasa daerah dan dialek itu sesungguhnya berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa dan budaya Melayu Austronesia. Di antara suku bangsa Indonesia yang banyak jumlahnya itu memiliki dasar persamaan sebagai berikut.

# Asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan masyarakat, seperti bentuk rumah dan adat perkawinan.

#  Asas-asas persamaan dalam hukum adat.

# Persamaan kehidupan sosial yang berdasarkan asas kekeluargaan.

# Asas-asas yang sama atas hak milik tanah.

Ciri Budaya Lokal


Ciri-ciri budaya lokal dapat dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku bangsa. Kelembagaan sosial merupakan ikatan sosial bersama di antara anggota masyarakat yang mengoordinasikan tindakan sosial bersama antara anggota masyarakat. Lembaga social memiliki orientasi perilaku sosial ke dalam yang sangat kuat.

Hal itu ditunjukkan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan anggota lembaga sosial tersebut. Dalam Lembaga sosial, hubungan sosial di antara anggotanya sangat bersifat pribadi dan didasari oleh loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin dan gengsi sosial yang dimiliki. Bentuk kelembagaan sosial tersebut dapat dijumpai dalam system gotong royong di Jawa dan di dalam sistem banjar atau ikatan adat di Bali. Gotong royong merupakan ikatan hubungan tolong-menolong di antara masyarakat desa. Di daerah pedesaan pola hubungan gotong royong dapat terwujud dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, dan panen bersama merupakan beberapa contoh dari aktivitas gotong royong yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di daerah pedesaan. Di dalam masyarakat Jawa, kebiasaan gotong royong terbagi dalam berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, dan panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.

Di dalam masyarakat Jawa, pelaksanaan selamatan ada yang dilakukan secara individual ataupun secara kolektif. Tujuannya adalah untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu. Misalnya, keraton Yogyakarta dan Surakarta adalah kelompok masyarakat yang paling sering melakukan ritual selamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, seperti gerebeg, sedekah bumi, upacara apeman, dan gunungan yang masih dilaksanakan sampai sekarang.

Di daerah Bali, beberapa bentuk kebudayaan lokal masih dilaksanakan sampai saat ini. Misalnya, mebanten atau membuat sesaji setiap hari sebanyak tiga kali oleh masyarakat Bali sebagai perwujudan rasa syukur, hormat, dan penyembahan kepada Tuhan. Konsep kepercayaan masyarakat Bali yang menjadi budaya adalah adat untuk melilitkan kain berwarna hitam dan putih pada batang pohon yang besar, tiang, dan bangunan di setiap daerah di Pulau Bali. Selain itu, contoh budaya lokal adalah upacara Ngaben yang saat ini menjadi tontonan para wisatawan yang datang ke Bali. Ngaben adalah upacara tradisi membakar jenazah orang yang sudah meninggal sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal.

Salah satu aktivitas masyarakat Bali yang diikat oleh prinsip kebudayaan local adalah sistem pengairan di Bali yang disebut Subak. Subak adalah salah satu bentuk gotong royong atau sistem pengelolaan air untuk mengairi lahan persawahan berbentuk organisasi yang anggotanya diikat oleh pura subak. Di dalam sistem subak terdapat pembagian kerja berdasarkan hak dan kewajiban sebagai anggota subak. Oleh karena itu, apabila ada warga yang tidak menjadi anggota maka ia tidak berhak atas jatah air untuk mengairi sawahnya dan mengurus pura serta bebas dari semua kewajiban di sawah dan pura.

Budaya lokal di Indonesia mempunyai berbagai perbedaan. Sukusuku bangsa yang sudah banyak bergaul dengan masyarakat luar dan bersentuhan dengan budaya modern, seperti suku Jawa, Minangkabau, Batak, Aceh, dan Bugis memiliki budaya lokal yang berbeda dengan suku bangsa yang masih tertutup atau terisolasi seperti suku Dayak di pedalaman Kalimantan atau suku bangsa Wana di Sulawesi Tengah.

Perbedaan budaya tersebut bisa menimbulkan konflik sosial akibat adanya perbedaan perilaku yang dilandasi nilai-nilai budaya yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan konsep budaya yang mengandung nilai kebersamaan, saling menghormati, toleransi, dan solidaritas antarwarga masyarakat yang hidup dalam komunitas yang sama.

Misalnya, para mahasiswa yang tinggal di rumah indekos di Yogyakarta. Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan budaya tersebut bisa menimbulkan konflik sosial dalam kehidupan sehari-hari apabila tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, diperlukan rasa toleransi dan saling menghormati antarpenghuni rumah indekos. Sikap toleransi antarpenghuni rumah indekos tersebut akan muncul apabila didasari prinsip relativisme budaya yang memandang bahwa setiap kebudayaan tersebut berbeda dan unik serta tidak ada nilai-nilai budaya suatu kelompok yang dianggap lebih baik atau buruk dibanding kelompok lainnya.

Kesimpulan


Pada dasarnya budaya lokal di Indonesia mengandung banyak sekali nilai-nilai yang hampir seluruhnya mirip antara satu daerah dan derah lain. Misalnya saja nilai gotong royong, toleransi, persaudaraan, dan lain sebagainya. Nilai-nilai yang baik dalam budaya lokal ini sudah seyogyanya dijadikan sebagai perekat bangsa, agar tidak terjadi perpecahan.

Sudah saatnya semua orang saling menghargai antara satu dengan yang lain, sudah saatnya kita semua bangkit bahu membahu bergotong royong membangun bangsa ini, sudah saatnya kita menarik benang merah mencari titik persaudaraan bangsa agar bangsa ini tidak rapuh.

Konsep dan Ciri Budaya Lokal Indonesia

The Treaty of Sevres 1920 AD: Division of Ottoman Territories
The Sevres Treaty was one of a series of heavy agreements designed by the Allies to punish the Central Bloc after the First World War. This agreement ordered the division of the Ottoman Empire, which became the main cause of the destruction of this empire. Through the agreement, the Allies sought to undermine the power of the Ottoman Empire and essentially eliminate Turkish sovereignty. As a result, the wave of resistance of the Turkish people led by Mustafa Kemal was getting stronger.

Division of Ottoman Territories


The Sevres Treaty was signed by the Allies on 10 August 1920, after 15 months of planning. This agreement was designed to strangle the Ottoman Turks through severe sanctions in them. Italy, Britain, and France signed it on behalf of the victorious Allies.

One important point of the agreement was the division of the Ottoman Empire in the Middle East. France took over Lebanon, Syria, and territory in southern Anatolia, while Britain took over Palestine and Iraq. The provisions of this distribution have been decided in the secret agreement of Sykes-Picot in 1917.

Meanwhile, Greece was active in resistance to Ottoman control of Smyrna, although technically it remained within the Ottoman Empire. However, the Smyrna people were given a referendum choice about whether they wanted to remain in the Ottoman Empire or join Greece.

While Italy was given the Dodecanese Islands as well as influence in the coastal region of Anatolia.

The agreement made the Strait of Dardanelles into international waters and disarmed the Ottoman Empire's power over it. In addition, several ports near Istanbul are changing as free international zones. This is a territorial loss for a country.

The Sevres Agreement aims to secure Allied interests in the Middle East. In addition, the Allies also obtained oil resources that were recently discovered in the area.

The Sevres Treaty also recognizes certain regions as independent sovereign states, including the Kingdom of Hijaz and Armenia.

The agreement of the Sevres Agreement also benefited the Kurdish struggle. This is because in the agreement it was agreed to establish an independent Kurdistan region, which had previously been under the Ottoman rule. Although in its development the agreement was never eliminated for Kurds.

Military Sanctions and Economy of the Sevres Agreement


Similar to other agreements signed by the Central Bloc, the Sèvres Treaty imposed severe military restrictions on the Ottoman Empire. The Ottoman Army was restricted to only 50,000 people.

In addition, Ottoman was also banned from having the air force and navy reduced to only thirteen ships. Under the Treaty of Sevres, the Allies were given the power to implement these provisions.

The financial consequences of the Sèvres Treaty matched the Treaty of Versailles in terms of severity; however, the new Weimar Germany is still allowed to run its own economy.

Heavy sanctions were also imposed on the economy, Ottoman rule over the financial and economic sectors was taken over and handed over to the Allies. The takeovers included controls from the Ottoman Bank, controls on imports and exports, control of the national budget, control of financial regulations, loan requests and tax system reform.

The Allies even control debt payments. One condition is that only France, Italy and the United Kingdom can become holders of debt bonds. The Ottoman Empire was also banned from having economic cooperation with Germany, Austria, Hungary and Bulgaria and all the economic assets of these four countries were liquidated in the Ottoman Empire.

The Sèvres Treaty also gave the Allies the right to reform the electoral system of the Ottoman Empire.

Turkish nationalist leader Mustafa Kemal organized a rebellion against the treaty right before the Grand Vizier, Ahmed Pasha, of the Empire ratified it. Pasha was overthrown and Kemal refused to sign the agreement, which he considered did not need to be hard.

Kemal argued that the agreement punished the Turkish people and not the leaders of the Ottoman Empire who had led the country into war. Thanks to the protested protests, the Allies and the new Turkish government were forced to renegotiate the agreement for Turkey.

The Treaty of Sevres 1920 AD: Division of Ottoman Territories

Sykes-Picot Agreement (1916): Maps and History
The Sykes-Picot Agreement is a secret agreement between Britain and France regarding the division of Ottoman territory in the Middle East. The agreement formulated by François Georges-Picot represented France and Mark Sykes represented Britain.

After both conducting surveys and negotiations, finally the agreement was inaugurated in May 1916 or at the height of World War I. The agreement was based on the assumption that the Allies would win the war and as a result, the Ottoman Empire siding with Germany would be divided by the Allies.

Under the Sykes-Picot Agreement, France intends to acquire territory or direct control in Syria, Lebanon and southeast Turkey, including the area around Alexandretta. Britain currently controls Iraq and Jordan and areas in Palestine around the northern port of Haifa. Meanwhile, the holy city of Jerusalem and Bethlehem will be under international control. None of these areas stood as an independent state, because all were ruled as provinces of the Ottoman Empire since the 16th century.

In the next agreement, Russia, another ally in World War I, will receive Armenia and parts of Kurdistan. Russia also hopes that this means the realization of his old dream to control access to the Mediterranean Sea from the Black Sea through the Strait of Dardanelles. While the Italians, including allies, will acquire the Aegean Sea and western Turkey around the big city of Izmir. The territory of Saudi Arabia is now not included in the agreement because in 1916 the region was not considered economically or politically important (oil has not been found).

Map Sykes-Picot Agreement
In its development, part of the agreement involving Russia was canceled when Russia left the war early through a separate agreement with Germany. While due to the success of Mustafa Kemal Atatürk's military defense of the Anatolian Peninsula, the region was not partitioned after the war.

Some British Government officials warned at that time, part of the Sykes-Picot Agreement was contrary to a secret agreement made with Arabs in the Husayn-McMahon Sherif correspondence. The correspondence contained that Britain would give Great Syria to Sherif Husayn if he was willing to help him fight the Ottomans. The exit of the Balfour Declaration aimed at establishing a Jewish state in Palestine in 1917 further complicates the problem of the division of the region.

In the end, only the Sykes-Picot Agreement and the Balfour Declaration were formalized in the 1920 San Remo Treaty and in the League of Nations in 1922. As a result, Syria and Lebanon became the mandates of France and Jordan, Iraq and Palestine including Jerusalem under the British mandate. While Syarif Hussein failed to get the promised area of Mc.Mahon.

As a result, in the post-World War I era, Arabs not only failed to gain independence but also divided into separate countries ruled by two different powers. The consequences of this decision continued to cause conflict in this region throughout the 20th century.

Sykes-Picot Agreement (1916 AD): History and Maps

The Struggle and the Ideals of the Kurds (19th-20th Century)
Kurds are the largest ethnic group in the world that does not have a homeland. Genocide with chemical weapons carried out by Iraq against the Kurds, in October 1988 has become one of the darkest histories for the tribe. In 1988, at least Iraq launched attacks with chemical weapons on Kurdish residents. The incident sparked criticism from various countries in the world.

Although criticism came from various parties, it did not have much impact on the Kurds. They remain a tribe without a homeland and become a minority in the area they occupy. In an effort to fight for their ideals, the Kurds played a number of roles in important events that took place in Asia Minor and the Middle East in the 20th century. Starting from the Sevres agreement to the Gulf war involving Iraq and Iran.

Historical Background of the Kurds


The Kurds are an Indo-European tribes who predominantly adhere to Sunni Islam. Kurds are the fourth largest ethnic group in the Middle East, after Arabia, Turkey and Persia. Approximately 15% of the Middle Eastern population.

They live in an area called Kurdistan (land of Kurds). The Kurdistan region is found in several countries, such as southeast Turkey, northern Iran, northern Iraq, southern Soviet, and northern Syria.

The biggest Kurdistan region is in three countries, namely Turkey, Iraq and Iran. In the 20th century, there were an estimated 18 million Kurds as a whole, with 8 million in details in Turkey, 5 million in Iran, 3.4 million in Iraq, and the rest spread in Syria and former Soviet areas. This number has increased at the beginning of the 21st century, the number of Kurds has increased to around 30-32 million.

Kurdistan is not a country, so it cannot be found on modern maps. The term Kurdistan was first used as an expression of geography by the Saljuk Turks in the 12th century and became a general term in the 16th century. Where many Kurdish territories fell into Ottoman and Safavid control.

The Kurds came from the Medes tribe who entered Parsi from the Central Asia region. They controlled the mountains of Persia from 614-550 BC. After the arrival of the Islamic Arab forces to the mountainous region of Parsi in the 7th century, the majority of them eventually converted to Islam. Until now, there are two main groups of Kurdish Muslims, 75% Sunni and 15% are Shiites.

One of the famous figures from the Kurds is Salahuddin al-Ayubbi. The main figure in the Third Crusade was a Muslim leader in dealing with the Crusaders. However, Salahuddin's struggle at that time was in the name of Islam, not as a Kurd.

The Kurds only began to fight for the fate of their nation at the end of the 19th century, precisely in 1880. At that time a rebellion led by Kurdish figures, Shaykh Ubaydullah in the Hakari province under the Ottoman rule.

In 1897, Kurds began publishing newspapers named Kurdistan. The newspaper was funded by one of the famous Kurdish families, Badr Khan. The publication of this newspaper aims to disseminate information about the culture and struggle of the Kurds.

Twenty years later, in 1919, the Kurdish leader, Syaikh Mahmud, proclaimed the Sulaymaniah region as an area independent of British rule. But the British managed to thwart the effort. Despite its failure, the Sulaymaniah event was recorded as the first major uprising in the 20th century.

Syaikh Mahmud's efforts had a major influence on the movement of Kurds in the regions of Iran, Iraq and Turkey. In 1919-1922, under the leadership of Ismail Agha Simitqo, Kurds in Iran and Turkey, struggled to obtain a semi-autonomous region along the Iran-Turkey northwestern border region.

The agreement of the 1920 Sevres treaty, by the Allies and Ottomans, benefited the Kurdish struggle. This is because in the agreement it was agreed to establish an independent Kurdistan region, which had previously been under the Ottoman rule. Although in its development the agreement was not irregular for the Kurds.

In 1923, Syaikh Ahmad Barzani and Mullah Mustafa Barzani began a long campaign to gain autonomy for the Kurdistan region in Iraq. Mullah Mustafa later founded the Kurdish Democratic Party. Besides the Kurdish Democratic Party, another Kurdish party in Iraq was named the Patriotic Union of Kurdistan which was founded by Jalal Talabani.

In Iran, Kurds also formed a political party. Kurdish political parties in Iran were first established in 1942. Three years later, the second Kurdish political party was named the Iranian Kurdish Democratic Party. In the same year, the party succeeded in bringing together all Kurdish movements, including Komola. They then proclaimed the founding of the Republic of Mahabad with its president Qazi Mohammad.

The Mahabad Republic is the only independent Kurdish country in history. However, this country is only one year old, because in 1946 the Iranian Shah forces invaded Mahabad and dispersed the republic. A number of Kurdish leaders, including Qazi Mohammad, were arrested and executed.

In the territory of Turkey, the Kurds were recorded three times carrying out a major rebellion, first in 1925, then in 1930, and finally in 1937. The entire attempt at the revolt ended in failure. As a result, many Kurds were massacred and deported by the Turkish government.

The Kurdish Tribe


As previously explained, the Kurds have been struggling to obtain a homeland since the 19th century. The Treaty of Sevres in 1920 which was one of its contents guaranteeing Kurdish independence, in reality never materialized. The main obstacle to the realization of the agreement was the spread of the Kurdistan region in several countries, which made it difficult to form a Kurdish state. In addition, there is a lack of commitment from countries participating in the agreement to realize independence for Kurds.

Based on that reality, the ideals of the Kurds have changed. If they had previously dreamed of establishing an independent Kurdistan country, now they only craved an autonomous region of Kurdistan. These ideals that they are now fighting for.

In Turkey, although the number of Kurds is the most compared to other Kurdistan regions, they can be said to be immobile. The policy of repression and integration that the Turkish government has consistently implemented from year to year has resulted in the crippling Kurdish warriors.

The Turkish army did not hesitate to attack fighters in Iraqi Kurdistan, as they did in 1983, 1984, 1986 and 1987. Based on the testimony of Kurds in the Journeys in Kurdistan book, Turkish forces were an army which was stunned followed by Arab forces . This is even more ironic, because regimes in Turkey, Iraq and Iran (until 1979) formed cooperation to quell the Kurdish rebellion.

In Iran, Kurds who inhabit the Khuzastan province have been demanding autonomy in their territory since the time of the Iran Shah. When the Iranian Revolution erupted, Kurds joined Khomeini's ranks. After the revolution, the Kurds filed three demands on the mullah regime, namely the autonomy of the Kurdistan province, eliminating discrimination in employment, and distributing oil mining products fairly.

The Khomaeni regime refused to grant autonomy to Kurdistan province. He does not want the oil-rich Khuzastan region of Iran, because the region is one of Iran's main foreign exchange earners.

The mullah government in practice managed to reduce the Peshmarga movement. Even Kurds are siding with Iran in the Gulf War when Iraqi forces invaded Kurdistan in Iran.

The same action with different consequences also occurred when Iranian forces stormed into Iraqi Kurdistan. The Peshmarga are shoulder to shoulder with Iranian forces to fight Iraqi forces. It can be said that the success of Iran in taking Kurdistan in Iraq in early 1988, cannot be separated from the contribution of the Kurds. Not surprisingly after the end of the Gulf War I, Saddam Hussein was so angry at the Kurds. He tried to storm the base of the peshmarga which he labeled "traitors".

Hostilities with Saddam Hussein's Regime


In 1982, for the first time in history, two major Kurdish Iraqi parties, the Kurdish Democratic Party led by Masoud Barzani and the Kurdistan Patriotic Union led by Jalal Talabani, agreed to unite against Saddam's regime. Both the Kurdish Democratic Party and the Kurdistan Patriotic Union get support from Iran, whether political support or weapons.

The participation of Kurds in the Gulf I War was very detrimental to the Iraqi side. The climax, in 1988 Iraqi forces launched a large-scale attack with chemical weapons against the Kurdish population.

The first attack began in March 1988, where the Iraqi Air Force bombarded chemical bombs in the city of Halabjah located in the Iraqi Kurdistan region. The incident killed around 4000 Kurds.

The second attack, took place on August 25 to September 5. Kurds residing in the villages of Butia, Mesi, Amadiyah and a number of other villages were victims of the second attack. The attack killed around 2,500 Kurds and resulted in around 60,000 Kurds fleeing to Turkey and Iran.

This second attack caused a wave of criticism in the international community. In October 1988, the European parliament condemned and appealed to its members to issue sanctions on Saddam's regime. Meanwhile, the United States Senate urged President Ronald Reagan to impose economic sanctions on Baghdad.

The only country that expressly stopped cooperation with Iraq was Japan. They stopped sending materials that could be used to make chemical weapons. Although some countries condemn Iraq's use of chemical weapons against Kurds. However, they did not fully support the Kurdish struggle to realize their ideals. Until now, Kurds are still struggling to realize their ideals.

The Struggle and the Ideals of the Kurds (19th-20th Century)

The Safavid dynasty in Persia ruled between 1501-1722 AD This dynasty was one of the large Islamic kingdoms in Persia. The beginning of this Kingdom originated from a tarekat movement in Ardabil, a city in Azerbaijan. The Safavid name was attributed to the name of one of the Sufi teachers in Ardabil named Shaykh Ishak Saifuddin. According to history, he was descended from Musa al-Khadim, the seventh imam Syi'ah Itsna ‘Asyariyah.

This congregation stood at the same time as the establishment of the Ottoman Empire. This tarekat movement has many followers who are very firm in holding religious teachings.

This movement changed the model of its movement from religious movements to political movements. When it became a great power, the Safavid Dynasty faced several times with the Ottomans. The Safavid dynasty declared Shi'ah a state school, the Safavid Dynasty was known as the foundation of the formation of the Iranian state.

The Safavid dynasty reached its heyday during Abbas I. However, that glory was not maintained by his successors. This is because the powerful sultans are weak. So that it triggers rebellion and prolonged problems.

History of the Establishment of the Safavid Dynasty


The forerunner of the establishment of the Safavid Dynasty originated from the tarekat movement which was named Safavid. This movement appeared in Persia, precisely in Ardabil, a city in Azerbaijan. This region is inhabited by Kurds and Armenians. The Safavid name was attributed to the name of one of the Sufi teachers in Ardabil named Sheikh Ishak Safiuddin or Shafi Ad-Din. According to history, he was descended from Musa al-Khadim, the seventh imam Syi'ah Itsna ‘Asyariyah. Shafi Ad-Din came from the descendants of people who were and chose the Sufi as a way of life. His teacher was named Syaikh Tajuddin Ibrahim Zahidi (1216-1301 AD) known as Zahid Al-Gilani. Due to his achievements and perseverance in Sufism, Shafi Ad-Din was taken by his teacher's son-in-law.

Shafi Ad-Din founded the Safavid Order after he replaced the teacher and at the same time his father-in-law who died in 1301 AD The followers of this tarekat were very firm in holding on to the teachings of religion. In the beginning, the Safaweed Sufism movement was aimed at fighting against the people of disbelief, then fighting the groups they called "Expert Bid'ah". This Shafi Ad-Din-led congregation was increasingly important, especially after changing the form of the tarekat from the recitation of local pure Sufism into a well-known movement which had great influence in Persia, Syria, and Anatolia. In countries outside Ardabil, Shafi Ad-Din placed a representative to lead his students. The deputy was given the title of caliph and would later become a war commander.

Then the tarekat students supported the Safavid order to gather strength by becoming soldiers and very fanatical about their beliefs. In fact, they also oppose people who don't agree with them. The Safavid Order was widely accepted by the community so that this tarekat changed the model of the religious spiritual movement into a political movement. This began to appear when the tarekat movement was led by Junaid 1447-1460 M. Junaid expanded political activities in religious activities. The expansion of this activity gets obstacles. One of them was from the rulers of Qara Qayunlu and Aq-Qayunlu who were the two strongest tribes of Turkey. So that there was a conflict between Junaid and the Turkish authorities.

The involvement of the Safavid Order in increasingly large politics led the Safavid order to confront the powerful forces at that time namely the Ottoman Turks. When Junaid had a conflict with Qara Qayunlu, he suffered defeat and was exiled to a place. In that place, Junaid got protection from the ruler of Diyar Bakr who was also a Turkic nation. Junaid lived in the palace of Uzun Hasan, who at that time controlled parts of Persia. While in exile, Junaid did not remain silent. He married one of Uzun Hasan's sisters. In 1459 AD, Junaid tried to take Ardabil but failed. Then in 1460 M Junaid tried to capture the city of Circassia but the troops he led were intercepted by Sarwan's army. Junaid was finally killed in the battle.

The leadership of the Safavid movement was then given to the son of Junaid, Haidar, but Haidar was still very small at that time. After waiting a few years, Haidar was mature enough to marry one of Uzun Hasan's daughters. From this marriage, Ismail was born who later became the founder of the Safavid dynasty in Persia.

Development and Progress of the Safavid Dynasty


At the time of Ismail I came to power for approximately 23 years (1501-1524 AD) he succeeded in expanding his domain, he could also destroy the remnants of the power of Aqqayunlu in Hamadan 1503 AD, control of the Caspian province in Mazandaran, Gurgan and Yazd in 1504 M, Diyar Bakr 1505-1507, Baghdad and the southwestern Persian region in 1508 AD, Sirwan 1509 AD and Khurasan in 1510 M. Ismail I only needed ten years to control all Persia.

The political ambition to encourage Ismail I was to expand his territory to the Ottoman Turks, but because the Ottoman Turks were a very strong dynasty at that time, Ismail I finally suffered defeat. That defeat undermined Ismail's pride and confidence. As a result, his life has changed. Ismail I was more fanatical and this situation had a negative impact on the Safavid dynasty, namely the emergence of a power struggle between the leaders of the Turkish tribes, Persian officials, and Qizilbash.

After the death of Ismail I, the authority of the Safavid dynasty was continued by Tahmasp I (1524-1576 AD), then after that was followed by Ismail II (1576-1577 AD) and Muhammad Khubanda (1577-1587 AD). However, in the reign of the three sultans the Safavid Dynasty suffered a setback. The setback continued until finally Abbas I ascended the throne. During the time of Abbas I, the Safavid dynasty slowly progressed. The steps were taken by Abbas I in advancing the Safavid dynasty include:

Trying to eliminate Qizilbash's domination of the Safavid dynasty by forming new forces whose members consisted of slaves who came from captives of the Georgians, Armenians, and Circassia who had existed since the reign of Tahmasp I.

Hold a peace treaty with the Ottoman Turks. In addition, Abbas I promised not to insult the first three caliphs in Islam, namely Abu Bakr, Umar bin Khattab and Uthman ibn Affan in Friday sermons. As a guarantee of these conditions, Abbas I handed over his cousin Haidar Mirza as a hostage in Istanbul.

After the Safavid dynasty became strong again, Abbas I began to expand and reclaim his lost territories. Abbas I also attacked the Ottoman Turks. At that time the Ottoman Turks under the leadership of Sultan Muhammad II, Abbas I attacked the Ottoman Turks and succeeded in conquering the territories of Tabriz, Sirwan and Baghdad. After that, Abbas I also succeeded in taking control of the city of Nakhchivan Erivan, Ganja and Tiflis in 1605-1606 AD In 1622 AD, Abbas I succeeded in seizing the Hurmuz archipelago and turning the port of Gumrun into the port of Abbas.

In Abbas I's reign was the height of the Safavid dynasty. Politically, Abbas I was able to overcome various internal turmoil which disrupted the stability of the country and succeeded in recapturing territories which had been taken by other dynasties before the previous sultans. Other advances achieved by the Safavid dynasty include:

# Economics

After Abbas I succeeded in seizing the Hurmuz archipelago and turning the port of Gumrun into the port of Abbas, the trade routes that were usually contested by the Dutch, British and French was completely managed by this dynasty.

# Field of education

In the Safavid dynasty, many well-known scientists emerged including Baha 'al-Din al-'Amili (generalist of science), Sadr al-Dîn al-Syîrâzî (philosopher) and Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad (philosophers, historians, theologians, who had made observations on the life of the bee).

# Field of Urban Development and Art

The rulers of this dynasty changed Isfahan, which was the capital of this dynasty to become a very beautiful city. Isfahan is a city that is very important for political and economic purposes. In the city stands magnificent buildings such as mosques, hospitals, schools, giant bridges above Zende Rud, and Chihil Satun palace. The city of Isfahan is increasingly beautiful with the making of tourist parks. When Abbas I died, in Isfahan there were 162 mosques, 48 academies, 1802 inns, and 273 public baths.

In the field of art, it can be seen from the architecture of the buildings, as seen in the Shah mosque and the Syaikh Lutf Allah mosque. Other art elements are also seen in handicrafts, ceramics, rugs, carpets, clothing, pottery and others. The painting also began to emerge at this time precisely when the Sultan of Tahmaps I came to power.

Setback and Destruction of the Syafawiyah Kingdom


The Safavid kingdom suffered a post-government setback led by Abbas I. Six subsequent sultans were unable to maintain the progress made by their predecessors. The sultan is also weak in leading and has a bad character which also affects the running of the government. So that the Safavid kingdom suffered a lot of setbacks and did not experience development.

After the death of Abbas I, the government was taken over by Safi Mirza (1628-1642), he was the grandson of Abbas I. During his reign, he was known as a weak and cruel sultan of the royal dignitaries. He was also unable to maintain the progress made by Abbas I. In addition, the city of Kandahar was successfully controlled by the Mughal Dynasty led by Sultan Syah Jihan. Similarly, Baghdad was captured by the Ottoman Turks.

After Safi Mirza, the government was held by Abbas II (1642-1667). He was a sultan who liked to drink, was suspicious of the dignitaries and treated him cruelly. The people were not very concerned about Abbas II's government. Abbas II died due to illness. Then led by Sulaiman (1667-1694), he had bad habits like Abbas II who was also a drunkard. Many cases of oppression and extortion occurred. Especially against scholars and Sunni adherents and tends to impose Shia ideology. So that there were no significant developments during his reign.

The situation worsened during the reign of Hussein (1694-1722). He gave freedom to the Shia clerics to impose Shi'ism and his opinion on Sunnis. This sparked outrage from Sunni groups in Afghanistan, so they made a rebellion. The Afghans first rebelled in 1709 led by Mir Vays and succeeded in seizing the Qandahar region. On the other hand, the rebellion took place in Herat carried out by the Ardabil tribe of Afghanistan and succeeded in occupying Marsyad. Mir Vays was replaced by Mir Mahmud and he could unite his forces and Ardabil's forces. So that he was able to reclaim Afghan territories from Safavid rule.

Shah Husein felt pressured because of threats from Mir Mahmud. Finally, Syah Husein acknowledged his authority and appointed Mir Mahmud to become Governor in Qandahar with the title Husein Quli Khan (Husein's slave). This power was utilized by Mir Mahmud to expand the territory. He succeeded in seizing Kirman and Isfahan and again forced Shah Hussein to surrender unconditionally. On October 12, 1722 AD, Shah Husein surrendered and on October 25 Mir Mahmud entered the city of Isfahan triumphantly. Then Mir Mahmud was replaced by Ashraf to rule Isfahan.

The next government was continued by one of the sons of Husein named Tahmasp II (1722-1732), he received full support from the Qazar tribe from Russia. Thus, he proclaimed himself a legitimate ruler with a central government in the city of Astarabad. Tahmasp II collaborated with Nadir Khan of the Afshar tribe to conquer the Afghans who were in Isfahan in 1726 AD Nadir Khan's forces succeeded in capturing Isfahan in 1729 M. Ashraf was killed in the war. The Syafawiyah dynasty returned to power.

However, Tahmasp II was dismissed by Nadir Khan and replaced by Abbas III (1733-1736) who was the son of Nadir Khan. His son was still very small, so on March 8, 1736, Nadir Khan appointed himself as sultan. During the reign of Nadir Khan, the Safavid Dynasty was successfully conquered by the Qajar Dynasty. So ended the Safavid dynasty in Persia.

Safavid Dynasty in Persia (1501-1722 AD)

Ottoman and Safavid Conflict 16th-18th Century
The Ottoman Empire and the Safavid empire were the two major Islamic powers that emerged in the Middle Ages. Unfortunately, the two empires were caught in a long-term conflict. The Ottoman and Safavid conflicts were based on territorial differences and religious traditions. As Sunni Muslims, the Ottoman empire strongly opposed the existence of the Safavids who embraced Shiite doctrine. This conflict is more or less similar to a dispute between various Catholic and Protestant forces in Europe.

Background to the Ottoman and Safavid Conflicts


The Middle Ages of Islam cannot be separated from the emergence of the Ottomans as the new power of the Islamic world. This new empire can quickly expand its power. The strength of the troops and the speed of expansion at the same time become the main barrier for European imperialism.

Meanwhile, the Safavid dynasty, which had previously been a tarekat movement, began to spread its political influence under the leadership of Junayd (1447-1460), the grandfather of Shah Ismail. He formed an army of followers who were predominantly Turkmen who inhabited large areas covering Anatolia and Syria.

Their bigotry was later exploited by Junayd and his successors to obtain political power in Persia.

After gaining power, Junayd's grandson, Shah Ismail adopted the doctrine of Itsna Asyari'ah as the official religion of the Iranian state.

The Safavid Empire later became the kingdom of Shi'ah surrounded by Sunni rulers, such as Uzbeks in Transoxiania, Ottomans in Anatolia, and Mamluks in Syria and Egypt.

Of the three countries, Uzbeks and Ottomans posed a serious threat to the existence of the Safavids.

In the first half of the 16th century, Iranian history was dominated by conflicts between Safavid and Ottoman rulers on the one hand, and competition with Uzbeks on the other.

However, the conflict with the Ottomans was more than territorial competition. The Safavid ability to manipulate Syi'ah's forces in large numbers along the Anatolia border had become a major threat to the Ottomans.

Prolonged Conflict


The threat from the Safavids was increasingly evident, forcing the Ottomans to move. In 1514, the Ottoman Sultan Selim I announced a holy war against the Safavids which he considered a disseminator of bid'ah. The war was known as the Chaldiran War.

Using cannons, the Ottoman army succeeded in defeating Shah Isma'il, the founder of the Safavid dynasty, and occupied much of northern Persia (now Iran). The defeat caused a heavy religious shock towards the Safavids, because according to their beliefs, their leaders could not be defeated.

Putra Selim I, Sulaiman continued the war against the Shah Tahmasp I (r. 1524-76), but Tahmasp retaliated with a "scorched earth" strategy, making it impossible for Ottoman forces to live in colonies. Tahmasp also formed an alliance with Habsburg, the main enemy of the Ottomans.

At the time of Solomon, the Ottomans succeeded in taking over Tabriz in northern Persia. But the Ottomans had reached the limit of expansion, so Solomon was forced to sign a peace treaty with the Safavids in 1555. Thanks to the agreement, the Safavids managed to maintain control of northern Persia and the area along the Caspian Sea but lost Iraqi territory.

After Sulaiman's death, Shah Abbas managed to regain temporary control over Baghdad and Basra in Iraq. Shah Abbas's success was inseparable from the betrayal of Jannisari's special forces. For fifteen years Iraq remained the Safavid kingdom province.

But after Shah Abbas died, the Ottomans recaptured the area. The Zuhab Treaty of 1639 became an agreement affecting the conflict of the two empires. The agreement stipulates that borders are almost identical to those owned by Iraq and Iran today. Until the 18th century, two major powers remained enemies but no further war broke out.

During the period of the conflict, the two empires achieved major military victories and suffered military defeats. Nevertheless they are not able to defeat others convincingly. Their futile war damaged both their economic and military power and were a major factor in their long decline.

Ottoman and Safavid Conflict 16th-18th Century