Coretanzone

    Social Items

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga
Pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga memiliki peranan sangat penting, karena anak sejak berada dalam kandungan dan sejak lahir berada dalam lingkungan keluarga, sehingga kedua orang tua yang pertama akan menjadi contoh baginya dan yang menjadi guru pertama dalam hidupnya. Karakter yang ditampilkan orang tua akan menjadi contoh bagi anak, sehingga dalam berperilaku sudah sepantasnya orang tua berhati-hati, agar perilaku yang baik saja yang ditularkan kepada pembentukan karakter anak.

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.

Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

Orang Tua Dapat Mengerti Lingkungan Yang Baik Untuk Anak


Seorang anak tentunya tidak langsung dapat mengenal alam sekitar mengerti dan memahami segalanya dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan pendidikan keluarga, pendidikan kelembagaan dan pendidikan di masyarakat. Keluarga sebagai komunitas pertama memiliki peran penting dalam pembangunan mental dan karakteristik sang anak. Di dalam keluarga, anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Interaksi yang terjadi bersifat dekat dan intim, segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya, dan sebaliknya apa yang didapati anak dari keluarganya akan mempengaruhi perkembangan jiwa, tingkah laku, cara pandang dan emosinya. Dengan demikian pola asuh yang diterapkan orang tua dalam keluarganya memegang peranan penting bagi proses interaksi anak di lingkungan masyarakat kelak.

“Kehidupan keluarga yang senantiasa dibingkai dengan lembutnya cinta kasih dan nuansa yang harmonis, dari sana akan hadirlah individi-individu dengan tumbuh kembang yang wajar sebagaimana diharapkan. Sebaliknya keluarga yang dinding kehidupannya dipahat dengan sentakan-sentakan, broken home, broken heart, perlakuan sadis dan kekejaman tercerai berainya benang-benang kasih sayang dan jalinan cinta, maka keluarga beginilah yang bakal alias cikal bakal menjadi suplayer limbah-limbah kehidupan sosial dan sampah-sampah masyarakat yang menyedihkan.

Tidak dapat dipungkiri, jika dasar pendidikan yang menjadi landasan dan tongkat estafet pendidikan anak selanjutnya adalah pendidikan keluarga. Apabila pondasi pendidikan dibangun dengan kuat maka pembangunan pendidikan selanjutnya akan mudah dan berhasil dengan baik, sebaliknya jika pondasi pendidikan lemah dan berantakan, sulit kiranya membangun pendidikan selanjutnya.

Gilbert Highest dalam Jalaludin mengatakan bahwa: kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur kembali, anak-anak  menerima pengaruh dan pendidikan  dari lingkungan keluarga (Gilbert Highest, 1961: 78).

Dari apa yang diungkapkan Gilbert, kita dapat mengetahui memang pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dari keluarga, bagaimana orang tua berprilaku akan selalu menjadi perhatian anak, dan akan ditanamkan di benaknya. Anak lahir berdasarkan fitrahnya. Jika pendidikan yang baik diterapkan orang tuanya maka banyak hal baik yang dapat ditiru anak tersebut dalam prilakunya. Lain halnya dengan anak yang dididik dengan cemoohan dan ejekan dari setiap kegagalan yang ia dapati, maka anak tersebut akan selalu hidup dalam ketakutan dan kegelisahan disebabkan hasil perbuatannya yang tidak memuaskan orang tuanya.

Dalam keluarga, seorang anak akan mendapati hal-hal yang tidak didapati di lingkungan formal maupun lingkungan masyarakat, seperti perhatian yang penuh, kasih sayang, belaian hangat kedua orang tua dan banyak hal lain lagi. Berbeda dengan lingkungan sekolah dan masyarakat, keluarga menjadi motor penggerak keberhasilan anak dalam mencapai inspirasi peergaulannya dengan teman-temannya serta lingkungan masyarakat sekitar. Orang tua yang menanamkan rasa kasih sayang dalam keluarga akan menimbulkan keharmonisan dalam interaksi dengan sang anak. Segala permasalahan yang dijumpai anak akan mudah diketahui melalui pendekatan secara personal.

Seorang anak akan merasa termotivasi jika hasil jerih payah dan prestasinya dihargai orang tua, sehingga keharmonisan hubungan keduanya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak tersebut dalam peningkatan prestasi belajar. Akan tetapi terkadang kita jumpai orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak dapat memenuhi keinginan orang tuanya itu. Hal ini akan menimbulkan rasa keterpaksaan pada diri anak baik dalam bidang prestasi, tugas maupun kewajibannya. Rasa keterpaksaan itu akan mengakibatkan timbulnya rasa malas dan mematikan rasa kesadaran diri dalam berbuat. Banyak kita dapati seorang anak takut gagal dalam berprestasi, sebab dampak yang akan didapati dari kegagalannya berupa hukuman maupun siksaan dari orang tuannya. Bagi sebagian anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuannya, berprestasi adalah sesuatu hal yang tidak penting baginya sebab segala tindakan yang ia lakukan tidak pernah dihiraukan oleh orang tuanya, sehingga berprestasi ataupun tidak merupakan suatu hal yang lumrah dan biasa saja.

Syamsu Yusuf mengatakan: “Keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik:  (a) saling memperhatikan dan mencintai (b) bersikap terbuka (c) orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya (d) ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga  (e) mampu berjuang mengatasi hidupnya (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi (g) orang tua melindungi/mengayomi anak (h) komunikasi antara anggota keluarga berlangsung dengan baik (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dalam keluarga terjadi proses interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Proses pengasuhan tersebut seperti mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kematangan sesuai yang diharapkan. Penggunaan pola asuh tertentu memberikan dampak dalam mewarnai setiap perkembangan terhadap bentuk-bentuk prilaku tertentu pada anak, seperti prilaku agresif yang sering terjadi.

Keharmonisan dan rasa demokrasi tidak selalu seperti yang kita harapkan, hingga saat sekarang ini masih banyak orang tua yang menerapkan kekerasan dalam mendidik anaknya. Mereka beranggapan pendidikan yang keras akan dapat mewujudkan keinginan dan harapannya, seperti prestasi, budi pekerti dan lain-lain. Namun sebaliknya kenyataan yang kita jumpai justru bertolak belakang dengan harapan-harapan yang diinginkan. Anak yang dididik keras akan timbul rasa tertekan dan takut, ada juga anak yang diberi kebebasan sehingga anak tersebut malas dan enggan untuk mencapai prestasi yang lebih baik, sebab tidak adanya perhatian dan tanggapan dari orang tuannya atas apa yang yang diraihnya.

Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

1) Memelihara dan membesarkan anak. 2) Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya. 3) Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. 4) Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

“Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

Alat pendidikan karakter dalam keluarga


Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki peranan penting dalam membangun sikap anak yang nantinya akan ditampilkan dalam berbagai lingkungan dimana anak itu berada, sehingga pendidikan karakter dalam keluarga bukan saja mengenai arahan dan aturan orang tua secara otoritar kepada anak tetapi orang tua perlu memahami kondisi dan kemauan anak, sehingga bisa menyesuaikan antara keduanya, kalau tidak akan menyebabkan pada rendahnya keinginan anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak
Pola asuh diambil dari kata pola serta asuh. Dalam kamus besar bhs Indonesia kata pola memiliki makna gambar yang digunakan untuk contoh batik; corak batik atau tenun; ragi atau suri; potongan kertas yang digunakan jenis; skema; langkah kerja; – permainan – pemerintahan, bentuk susunan yang tetap- kalimat; dalam puisi, merupakan sajak yang dinyatakan dengan bunyi gerak kata atau makna. Sedang Asuh bermakna mengawasi menjaga serta mendidik anak kecil; menuntun menolong serta melatih, dll; memimpin mengepalai, menyelenggarakan suatu organisasi atau kelembagaan.

Aktivitas pengasuhan banyak disimpulkan menjadi usaha dalam mendidik anak. Orangtua menjadi pendidik menentukan cara asuh yang sesuai dalam memengaruhi perkembangan anak, dan membimbingnya pada kehidupan yang pantas serta bermartabat. Proses pengasuhan senantiasa miliki sifat dinamis dalam mencari bentuk atau pola asuh yang lebih efisien serta baik. Banyak pakar menyampaikan pengertian serta bentuk-bentuk pola asuh yang pas. Laurrence Steinburg mendeskripsikan; Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang sama dengan kondisi psikologis dengan unsur-unsur seperti kejujuran, empati, mengendalikan diri pribadi, kebaikan hati, kerja sama, pengendalian diri, dan kebahagiaan. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong anak sukses di sekolah, mensupport perubahan keingintahuan intelektual, motivasi belajar, serta kemauan untuk sampai suatu hal. Pengasuhan yang baik merupakan yang menghindari anak dari perilaku anti sosial, mengerjakan pelanggaran hukum ringan, dan penggunaan narkoba serta alkohol. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong melindungi anak dari mengembangnya keresahan, depresi, gangguan makan serta beberapa permasalahan psikologi lainnya.

Pada umumnya dari pemahaman di atas bisa ditarik rangkuman kalau pengasuhan merupakan aktivitas dalam rangka mendidik, menuntun, mengarahkan anak, baik secara fisik ataupun mental, kepercayaan hidup serta kepribadian. Dalam hal seperti ini bapak serta ibu mempunyai peranan menjadi seseorang pendidik dalam lingkungan keluarga dalam usaha mengarahkan anak dalam perilaku serta norma-norma yang baik.

Perilaku orangtua tetap jadi tolak ukur anak dalam proses pendidikan dalam keluarga. Anak akan mengikuti orangtua dalam berlaku serta berprilaku baik hal tersebut disadari atau tidak. Sejak dilahirkan ke dunia, anak akan mengikuti perilaku orangtua serta tidak ada yang bisa dilakukan orangtua untuk menahan hal itu. Cenderung seseorang anak menirukan semua hal yang muncul dari perilaku orangtua karena disebabkan mereka mempunyai kemauan yang kuat untuk tumbuh berkembang menjadi seperti ibu serta ayahnya. Sering kita temui orangtua yang melarang anaknya melakukan tindakan agresif, akan tetapi tidak disadari orangtua itu mengerjakannya hingga tidak tutup peluang anak itu bertindak yang sama pada rekan maupun keluarga yang lainnya.

Pekerjaan mendidik serta mengasuh anak tidak seutuhnya bisa dikerjakan dalam keluarga, seperti pendidikan keterampilan, pengetahuan, wawasan serta pengalaman. Oleh karenanya keluarga memerlukan instansi pendidikan lainnya yakni pendidikan sekolah. Dengan begitu pendidikan di sekolah adalah sisi yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan keluarga. Pendidikan di sekolah juga adalah penghubung pada kehidupan anak dalam keluarga serta kehidupan dalam masyarakat.

Namun masuknya anak ke pendidikan sekolah tidak bermakna orangtua sudah tuntas dalam pengasuhan, malah sekolah jadi partner buat orangtua dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada seiring pekerjaan pengasuhan itu. Orangtua bisa menjadi lebih meyakini serta mantap dalam ikuti perubahan anaknya. Perasaan yang juga sama akan muncul pada diri anak bersamaan keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah. Hal terpenting yang bisa disaksikan dari keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah ialah orangtua bisa tahu semua bentuk persoalan anak di sekolah hingga bisa bekerja bersama dengan guru untuk menyelesaikannya.

Keterlibatan orangtua dalam sekolah tidak cuma dengan turut menolong anak dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, tetapi lebih pada hubungan wali siswa-sekolah, baik pada komite sekolah, bimbingan penyuluhan atau beberapa hal yang terkait dengan pendidikan anak di sekolah. Perhatian orangtua pada anak bisa diwujudkan dengan membuat rutinitas bekerja dengan teratur serta disiplin pada tiap-tiap tugas serta keharusan menjadi seseorang siswa.

Mengenai dalam lingkungan masyarakat, pergaulan dengan rekan-rekan seumuran mempunyai dampak yang kuat pada perilaku anak. Orangtua sebaiknya bisa memberi perhatian yang baik juga. Pada saat kecil orangtua bisa mengatur pergaulan anak serta mengarahkannya pada rekan-rekan yang dipandang baik. Begitupun pada saat remaja orangtua bisa mengarahkan supaya bergaul dengan anak-anak yang sudah jelas mempunyai latar belakang baik serta prilkau yang baik juga.

Mengenai pengasuhan orangtua didalam keluarga ada tiga pola yaitu: 1. Pola Asuh Otoriter 2. Pola Asuh Permisip
3.Pola Asuh Demokrasi

Pola Asuh Otoriter (PAO)

Tiap-tiap orangtua tentulah menginginkan anaknya jadi orang yang bermanfaat serta menggapai kebahagiaan nantinya. Namun dalam mengasuh seringkali kita merasakan orangtua yang mengambil langkah serta sikap yang otoriter dalam mendidik anaknya. Sering orangtua lebih memprioritaskan kuatnya kemauan serta harapan supaya anak mencapai kesuksesan di waktu yang akan datang. Mereka tetap berpikir apa yang meraka kerjakan hanya untuk kebaikan sang anak serta tidak menghiraukan perasaan serta keadaan anak itu.

Pola asuh otoriter sangat punya pengaruh pada perubahan mental anak. Orangtua mempunyai kepentingan kuat untuk memegang kendali, akan tetapi pada intinya sikap otoriter ditujukan untuk beberapa hal yang baik. Orangtua tidak inginkan anaknya mengalami kegagalan, bahaya, atau suatu jelek yang menimpanya, akan tetapi perubahan mental anak akan terganggu, seperti dikatakan Laurence berikut: “Pada akhirnya satu-satunya cara agar anak anda dapat benar-benar sehat, bahagia serta sukses ialah bila anda memberi kebebasan untuk mencoba serta membuat keputusannya sendiri walau itu membuka peluang dia akan sakit hati dan kecewa. Pengasuhan yang baik menyertakan keselarasan pada keterlibatan serta kemandirian. Bila kedua-duanya dikerjakan dengan berlebihan- bila orangtua tidak perduli atau sangat turut campur- maka kesehatan mental akan menjadi rusak.

Beberapa hal negatif yang akan muncul pada diri anak karena sikap otoriter yang diaplikasikan orangtua, seperti takut, kurang mempunyai kepercayaan diri, jadi pembangkang, penentang atau kurang aktif. Orangtua semacam itu tetap memberi pengawasan berlebihan pada anak hingga beberapa hal yang kecil juga mesti terwujud sesuai dengan kemauannya. Di lain sisi, orangtua itu lebih seperti polisi yang tetap memberikan pengawasan serta aturan-aturan tanpa ingin memahami anak.

Seperti dijelaskan awal mulanya jika di antara beberapa hal negatif yang akan muncul ialah sikap penentang pada anak. Dari kelompok penentang bisa digolongkan jadi tiga jenis.

Pertama, jenis penentang aktif. Mereka jadi keras kepala, senang menyanggah serta membangkang apa kehendak orangtua. Mereka geram karena orangtua tidak menghormati dirinya menjadi manusia. Untuk menantang jelas tidak bisa dikarenakan sang “polisi” miliki kemampuan besar. Karena itu jalan yang dipilihnya ialah menyakiti hatinya.

Kedua, jenis pemberontak lewat cara halus, sadar kalau badan kecilnya tidak dapat menyaingi kemampuan “Polisi” yang tidak lain orang tuanya sendiri mereka memilih sikap diam, tetapi tidak juga ikuti perintah.

Ketiga, jenis senantiasa terlambat. Anak-anak semacam itu baru ingin kerjakan satu perintah sesudah terlebih dulu menyaksikan orang tuannya kesal, geram, serta mengomel karena kemalasannya.

Pola Asuh Permisif (PAP)

Orangtua yang baik tentu saja belum pernah bercita-cita jadikan anaknya menjadi sampah masyarakat, tidak bermanfaat serta tidak disiplin. Akan tetapi kadang kita masih tetap merasakan orangtua yang ikhlas membiarkan anaknya tanpa bimbingan serta arahan. Anak jadi tidak terukur, serta terasa orang tuanya sudah memberi kebebasan seutuhnya pada dirinya, hingga tiap-tiap keputusan yang ia mengambil ialah seutuhnya hak priadi yang tidak seseorang juga bisa mencampurinya.

Dalam pendidikan sekolah, pola asuh permisif yang diaplikasikan orangtua akan memberikan efek minimnya prestasi belajar, anak mungkin berubah menjadi malas serta tidak perduli dengan hasil belajar yang ia capai karena tidak ada perhatian dari orangtua. Orangtua terasa tidak dapat memberi pendidikan serta pengasuhan dengan baik hingga menyerahkan seutuhnya pendidikan pada sekolah. Mereka melupakan peranan terpenting dalam keluarga menjadi pendidik, pengasuh, pembimbing, pemberi motivasi, kasih sayang serta perhatian.

Anak yang berkembang tanpa batasan dan peraturan serta perhatian akan mengalami ketidakjelasan hidup serta hilangnya contoh teladan yang menyebabkan pada beralihnya anak pada lingkungan, rekan atau beberapa orang terdekatnya serta membuatnya menjadii figur. Tentang pola asuh Permisif, Diana Braumrind dalam Syamsu Yusuf LN, memaparkan sikap atau perilaku orangtua seperti berikut:

1. Sikap ”Acceptance”nya tinggi, akan tetapi kontrolnya rendah
2. Memberikan kebebasan pada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya

Profil Perilaku Anak:

1. Berlaku Impulsif serta Agresif
2. Senang memberontak
3. Kurang mempunyai rasa percaya diri serta pengendalian diri
4. Senang mendominasi
5. Tidak jelas arah hidupnya
6. Prestasinya rendah

Bisa diambil kesimpulan jika anak yang merasakan pengasuhan dari orang tuanya dengan pola asuh permisif akan cinderung miliki sifat bebas tanpa ketentuan, serta mempunyai emosi yang tidak stabil serta meledak-ledak, sedang orangtua tak akan dipandang seperti figur yang mempunyai peranan dan teladan baginya. Ia memandang jika apa yang ia capai merupakan bersumber dari pribadinya serta tidak ada yang bisa memberi aturan ataupun larangan.

Pola Asuh Demokrasi (PAD)

Jalinan yang terhubung antara orangtua dan anak seharusnya dilandasi prinsip sama-sama menghargai serta kasih sayang. Jika orangtua senantiasa mengutamakan pendekatan dengan cara personal dengan curahan kasih sayang, maka dapat terbentuklah keyakinan yang besar dalam diri anak. Anak akan berlaku terbuka pada orang tuanya hingga semua persoalan bisa dicari kunci penyelesaianya. Diluar itu orangtua lebih gampang memberikan pengarahan serta nasehat dan meninggalkan cara-cara paksaan dan intimidasi terhadap anak.

Perilaku anak akan terbentuk secara bertahap menuju pada kepribadian yang baik. Dorongan yang kuat dengan tiada henti sangatlah diinginkan dari orangtua. Sosok orangtua yang demokratis tidak memprioritaskan kebutuhan pribadinya, namun masih menghormati serta memerhatikan kebutuhan anak menjadi seseorang individu di antara populasi manusia. Dalam kata lain, orangtua tetap memandang kebutuhan bersama menjadi pembatas dari kebebasan seorang inividu.

Latar belakang pengasuhan yang ditemui anak pastilah amat punya pengaruh pada perkembangan selanjutnya, karena beberapa hal yang ia temui dari pola pengasuhan orang tuanya bisa menjadi bekal sikap serta prilakunya pada kehidupannya nantinya.

Keluarga mempunyai fungsi yang begitu terpenting dalam usaha meningkatkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang serta pendidikan mengenai nilai-nilai kehidupan baik agama ataupun sosial budaya yang diberikannya adalah aspek yang kondusif untuk menyiapkan anak menjadi pribadi serta anggota masyarakat yang sehat.

Jadi, telah jelas jika pola asuh demokrasi begitu memberikan efek positif pada perubahan anak. Orangtua bisa mencurahkan kasih sayang serta perhatiannya pada anak dengan baik serta seutuhnya tanpa memakai beberapa cara pemaksaan dan kekerasan. Dalam hal seperti ini, orangtua mesti menguasai komunikasi yang tepat dalam melakukan pendekatan supaya proses pengasuhan bisa berjalan baik serta tidak memengaruhi mental ataupun perkembangannya.

Pola asuh demokrasi begitu serupa dengan apa yang diterangkan Diana Baumrind Western dan Lioyd, 1994: 359-360; Sigelmen serta Sheffer, 1995: 396 tentang hasil penelitiannya lewat observasi dan wawancara pada siswa taman kanak-kanak. Ia menuturkan mengenai parenting stayle Pola Asuh, di antara tiga jenis; Authoritarian, Permissive, dan Authorotative, jenis yang sama juga dengan pola asuh demokrasi ialah Authoritative. Beberapa sikap yang diambil orangtua dalam mengasuh serta mendidik anak yakni:

1. Sikap “Acceptance” dan kontrolnya tinggi
2. Berlaku responsive tehadap kepentingan anak
3. Mendorong anak untuk mengatakan pendapat atau pertanyaan
4. Memberi keterangan mengenai efek perbuatan yang baik serta yang jelek.

Profil Perilaku Anak yang diakibatkan:

1. Berlaku bersahabat
2. Mempunyai perasaan percaya diri
3. Dapat mengatur diri Self Control
4. Berlaku Sopan
5. Ingin bekerjasama
6. Mempunyai perasaan ingin tahunya yang tinggi
7. Memiliki tujuan/arah hidup yang jelas
8. Berorientasi pada prestasi

Dari paparan di atas bisa dilihat jika sikap demokratis orangtua tercermin dari perbuatannya ingin menghargai pribadi anak, dan menegur perbuatan yang salah dari prilakunya dengan baik-baik seperti yang disebutkan Irawati Istadi: “Harus dibedakan antara pribadi anak dengan perilaku bisa saja salah, namun pribadi anak tetap senantiasa baik.

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat
Bagaimana cara anda menentukan pasangan hidup anda ke depan? Bagaimana cara anda merencanakan berhubungan atau kencan dengan seseorang? Dua pertanyaan ini paling mendasar mengingat saat ini di dalam masayarakat sudah terjadi pergaulan bebas yang tidak hanya terjadi pada kalangan muda-mudi tetapi kalangan tua juga terjadi hal yang sama.

Di dunia barat berpacaran umumnya berarti suatu periode yang panjang untuk mengenal seseorang melalui pertemuan yang sering, melihat ke mana tujuannya, mungkin hidup bersama dan, jika kedua belah pihak berpikiran sama, maka mungkin saja mereka menikah suatu saat nanti. Namun, bagi seorang Muslim yang belum menikah, untuk mencari pasangan bukan dengan cara yang demikian!

Islam tidak mengenal pacaran dengan model di atas, yang diajarkan ajaran agama Islam ialah berpacaran dalam menentukan pasangan berarti mengenal pasangan (taaruf) dengan jalan yang hikmah, yaitu menentukan batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilewati. Islam tidak mengajarkan untuk tinggal bersama pasangan sebelum menikah, Islam tidak mengajarkan untuk kencan berdua tanpa ada muhrim, hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori yang artinya "janganlah seorang lelaki berduaan (berkencan) dengan seorang wanita kecuali ada muhrimnya"

Islam tidak mengajarkan untuk seseorang melihat aurat pasangan taaruf/pacarnya (kecuali wajah dan tangan untuk wanita) sebelum menikah, ada beberapa pendapat mengatakan yang tidak boleh dilihat (aurat) bisa dilakukan oleh perantara yang terpercaya (misalnya: keluarga, sahabat, dan teman karib) yang dibolehkan (muhrim) dan juga sesama jenis, sehingga bisa mengetahui apakah calon pasangan mengalami cacat di bagian tubuh tertentu atau tidak. Hal ini boleh dilakukan mengingat menikah bukan tentang hidup satu atau dua hari tetapi menikah adalah pertemuan dua orang yang nantinya hidup sepanjang hayat, sehingga untuk menghindari perceraian perlu dilakukan hal-hal yang sifatnya intim tetapi dengan cara-cara yang Islami.

Saling Kenal Menganal


Sebagaimana kita ketahui bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki yang kita kenal dengan nama Adam dan seorang perempuan yang bernama Hawa. Dari kedua manusia pertama inilah kemudian lahir milyaran manusia yang ada di muka bumi, yang berbeda-beda. Allah tidak menciptakan satu manusia sama dengan manusia lainnya sekalipun itu kembar identik, yang lahir dari rahim yang satu. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbedaan sidik jari setiap orang yang berbeda-beda.

Kemudian dalam perkembangannya, manusia mengalami pemisahan-pemisahan, tinggal berpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain, melahirkan ras-ras yang berbeda, membentuk bangsanya masing-masing, kemudian membentuk sukunya dengan budayanya masing-masing dan kemudian membentuk kerajaan atau negara yang berbeda-beda. Hal ini memang sudah menjadi rencana Allah dengan tujuan agar manusia saling kenal mengenal, sebagaimana firmannya di dalam Al-Quran surat Al-Hujrat ayat 13, yang artinya "wahai manusia, sesungguhnya telah kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenal."

Ayat ini membuktikan bahwa, saling kenal mengenal itu sudah meruntuhkan batas-batas negara, warna kulit, dan kebudayaan. Dunia saat ini sudah dapat diakses hanya dengan sebuah perangkat gandget kecil di tangan, kita sudah bisa berkenalan dengan orang yang berada di luar daerah atau bahkan di luar negeri sekalipun. Berkenalan juga bisa diartikan sebagai hubungan diplomasi antar negara, hubungan pesahabatan antar negara, hubungan perdagangan antar negara, dan hubungan cinta dengan yang berbeda warga negara.

 Allah telah menjadikan manusia berbeda-beda dengan tujuan mulia, karena dengan perbedaan tadi dunia akan terlihat indah, coba bayangkan kalau di dunia ini hanya ada satu jenis manusia saja, atau satu budaya manusia saja, apakah tidak membosankan itu?

Budaya Pacaran dalam Arti Taaruf


Sejak awal penciptaan manusia (Adam dan Hawa) keduanya telah dibekali dengan rasa cinta, yang kemudian diturunkan kepada keturuanan selanjutnya yaitu kita saat ini. Sehingga rasa saling suka, rasa saling ingin memiliki, dan rasa ingin hidup bersama dengan berlainan jenis sudah menjadi fitrah manusia. Namun hal ini perlu dilatar belakangi dengan niat yang baik serta cara yang baik pula. Yaitu cara-cara yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Ada orang bilang; "dunia sudah modern tapi masih mempertahankan budaya Islam yang klasik, kuno namanya itu." Kalau kita melihat kenyataan yang terjadi dengan pernyataan ini maka lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab. Apa hasil dari pacaran ala barat yang katanya modern? Hilanya kehormatan, dan yang lebih parah lagi berapa banyak bayi-bayi yang tidak berdosa dibuang akibat perbuatan zina. Atau berapa banyak wanita muda yang melakukan aborsii? Mari kita jawab sendiri menggunakan rasio yang Allah telah berikan tentang faedah ajaran Islam yang katanya kuno itu.

Lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab

Lalu bagaimana berpacara sebenarnya?

Banyak kalangan Islam melarang untuk berpacaran, padalah kalau kita kembalikan kepada akar sejarah, pacaran tidak terjadi seperti yang ada dalam budaya masyarakat saat ini. Pacaran merupakan budaya melayu. Kata pacaran berasal dari nama daun inai atau daun pacar yang digunakan untuk merias tangan seorang wanita. Dalam budaya masyarakat melayu, jika ada seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan, maka laki-laki itu akan mengirimkan beberapa 'utusan' untuk berpantun di depan rumah wanita tersebut. Jika wanita itu dan keluarganya merespon dan menerima, maka kedua keluarga akan berkumpul dan membicarakan tentang ikatan yang akan terjadi kemudian ditandai dengan pemakaian inai (pacar air) di tangan kedua muda mudi ini. Inai ini fungsinya untuk menandai adanya hubungan keduanya.

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Setelah acara itu sang perempuan di kurung di dalam rumah oleh orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan tentang rumah tangga selam empat puluh hari atau lebih, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, atau yang biasanya ditandai dengan hilangnya inai di tangan perempuan. Dalam waktu yang telah ditentukan (biasanya hingga 3 bulan) sang lelaki tidak datang melamar maka, perempuan boleh memutuskan hubungan, namun jika sang lelaki datang melamar pujaan hatinya maka akan terjadi perjanjian suci berupa pernikahan. Dalam waktu menunggu tersebut kalian jangan kira mereka berpacaran seperti yang terjadi saat ini, mereka sangat terjaga hubungannya hingga pernikahan dilangsungkan.

Nah sekarang sudah jelaskan bahwa pacaran itu adalah menandai pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta dengan pacar air. Dalam hal ini jika kita tinjau dari segi Islam maka sudah terjadi proses taaruf di sini. Sehingga pacaran yang baik adalah yang dilakukan dengan adab dan etika sesuai dengan budaya masyarakat dan tuntunan ajaran agama, yaitu datang ke rumah kemudian saling kenal mengenal dan jika cocok, maka menikahlah setelah itu barulah memasuk babak pacaran yang lebih intim setelah menikah.

Hukum Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib
Siapa umat Islam yang tidak mengenal sosok sahabat Rasulullah yang satu ini, Ali bin Abi Thalib yang menjadi sepupu, sahabat dan menantu Rasulullah saw. Untuk itu mari mengenal sosok khalifah Ali bin Abi Thalib.

Biografi Ali bin Abi Thalib 


1. Nasab Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib mempunyai nama lengkap adalah, Ali bin Abi Thalib bin Abdi Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. beliau lahir didalam ka’bah, 23 tahun sebelum Hijriyah. Ali mempunyai nama kecil Haidarah, selanjutnya Rasulullah memberikan nama Turab untuk Ali.

Bapak Ali bin Abi Thalib bernama Abu Thalib atau nama sebetulnya Abdi Manaf yaitu paman dari Rasulullah saw. Hal tersebut memberikan pemahaman jika Ali merupakan sepupu dari Rasulullah SAW karena Ia anak dari paman Rasulallah saw.

Ibunda Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad Hasyim bin Abdi Mana bin Qushay. Ibunya digelari menjadi wanita pertama yang melahirkan seseorang putera Bani Hasyim. Hal ini, berarti Ali bin Abi Thalib merupakan keturunan dari Bani Hasyim, serta Ibunya jadi wanita pertama yang melahirkan seorang khalifah.

Ali merupakan anak bungsu, Ia mempunyai 3 (tiga) saudara laki laki serta 2 (dua saudara wanita, yakni Ja’far, Aqil, Thalib yang masing-masing umurnya berjarak 10 (sepuluh) tahun dengan Ali, lalu Ummu Hani’ serta Jumanah.

Saat musim paceklik melanda golongan Quraisy, Abu Thalib yang mempunyai banyak anak, mengundang empati Rasulullah saw. hingga ingin membantu bebannya. Rasul bersama dengan ke-2 pamannya Hamzah serta Abbas mendatangi Abi Thalib, serta mengemukakan kehendak ingin menjaga anaknya itu. Lantas Abi Thalib menyampaikan “Tinggalkanlah Aqil bagiku, serta bawa siapa saja yang kamu kehendaki”. Hamzah membawa Ja’far, Abbas membawa Thalib, dan Rasulullah menentukan untuk menjaga Ali. Dalam hal seperti ini menunjukkan jika Abi Thalib menyayangi Aqil lebih dari yang lain. Serta sejak itu Ali tinggal bersama dengan Rasulullah serta memperoleh kasih sayang seperti dari bapak kandungnya sendiri.

Semenjak Ali tinggal didalam rumah Rasulullah, ia mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah, yang melatih sifat-sifat terpuji. Ali di waktu kecilnya mengalami perubahan yang hebat, telah tampak jika dia seseorang anak yang kritis serta brilian. Perubahannya itu di tandai dengan ketidaksamaan dengan rekan-rekan sepantarannya yang tampak jelas. Rasul yang mengajarkan supaya Ali mempunyai hati yang lembut, serta sadar akan kebenaran.

2. Beberapa ciri Fisik Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib merupakan seorang yang berkulit sawo matang, badannya tegap agak pendek. Mempunyai jenggot panjang, mata yang besar berwarna hitam kemerah-merahan. Beliau mempunyai bulu dada serta pundak yang lebat, muka yang tampan, dan ringan langkah ketika berjalan.

3. Ali bin Abi Thalib Masuk Islam 

Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, Ia dilahirkan di tempat yang suci yakni ka’bah. Tidak sempat sekalinya Ali menyembah berhala. Akan tetapi Ali masuk agama Islam dengan resmi yaitu pada umur 7 tahun, 8 tahun dan ada juga yang menyebutkan sepuluh tahun. Dalam refensi lainnya, saat Rasulullah menerima wahyu pertama melalui perantara malaikat Jibril, Ali bin Abi Thalib saat itu berusia 9 tahun, atau ada juga yang menyebutkan berusia 13 tahun. Akan tetapi yang tentu Ali masuk Islam saat Ia berusia begitu muda.

Agama Islam diterimanya dengan sepenuh hati, tidak bercampur dengan dampak kepercayaan lama serta tidak bercampur dengan suatu yang mengeruhkan kejernihannya. Oleh karenanya, begitu nyata jika Ali merupakan seorang Muslim yang murni.

4. Istri dan Anak Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri Rasulullah saw. yakni Fatimah binti Nabi Muhammad saw. Mereka menikah sesudah perang badar. Dalam kata lain, posisi Ali telah makin bertambah, pertama menjadi sepupu sekaligus teman dekat Rasulullah saw, lalu dipererat menjadi menantu Rasulullah saw.

Ali begitu setia serta menyukai Fatimah, mereka dikaruniai 3 (tiga) putra, yakni Hasan, Husain, serta Muhasin tapi Muhasin wafat saat bayi. Serta mempunyai 2 (dua) putri yang bernama Zainab al-Kubra, serta Ummu Kultsum al-Kubra.

Enam bulan sesudah Rasulullah SAW meninggal dunia, Fatimah binti Rasulullah juga wafat di umur yang tidak kenap 30 (tiga puluh) tahun. Lantas setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah dengan beberapa wanita.

Ummu Banin binti Hazam, dari pernikahan ini dikaruniai 4 (empat) anak yakni, Abbas, ja’far, Abdullah, serta Usman. Akan tetapi mereka semua terbunuh dalam perang karbala, terkecuali Abbas. Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik dikeruniai 2 (dua) anak yakni Ubaidullah serta Abu Bakar yang terbunuh di perang karbala. Kemudian Istri Ali yang lain bernama Atsma` binti `Umais, Ummu Habib binti Robi`ah, Ummu Said binti Urwah, Binti Umru`ul Qais, Umamah binti Abil Ash, Khaulah binti Ja’far bin Qais.

Ali bin Abi Thalib tertulis menikah dengan 8 (delapan) wanita sesudah wafatnya Fatimah binti Rasulullah akan tetapi ada sumber lainnya yang menyampaikan ada 9 (sembilan). Dari pernikahan itu Ali mempunyai banyak keturunan, hingga ada banyak putra putri beliau yang tidak didapati nama ibu kandungnya yakni, Ummu Hani`, Maimunah, Zainab as-Shughra, Ramlah as-Shughra, Ummu Kaltsum as-Shughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah serta Nafisah.

Diantara beberapa orang istri Ali bin Abi Thalib, ada yang meninggal dunia saat beliau masihlah hidup, ada juga yang diceraikan serta saat Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, Ia tinggalkan 4 (empat) orang istri serta 19 (sembilan belas) Ummu Walad (budak wanita). Jumlah keseluruhnya putera-puteri Ali yakni, 14 (empat belas) putera, serta 17 (tujuh belas) puteri.

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib mempunyai banyak kelebihan atau keutamaan. Di bawah ini beberapa kelebihan Ali, yang terdiri dari dua jenis, yakni kelebihan menurut kedudukan, serta kelebihan berdasar pada kepribadian, lalu dilanjutkan dengan nasihat atau beberapa kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib.

1. Kedudukan Ali bin Abi Thalib

Jika dilihat dari kedudukan, Ali bin Abi Thalib merupakan yang sangat dekat nasabnya dengan Rasulullah. Pertama, Ali merupakan sepupu mutlak dari Rasulullah saw. Ke-2, Ali merupakan teman dekat yang sudah ditanggung baginya syurga. Ke-3, Ali merupakan menantu Rasulullah saw., tiap-tiap orang ketika itu banyak yang ingin jadi semacam itu, supaya lebih dekat dengan keluarga Rasulullah saw. serta mendapatkan keturunan yang terhormat. Yang paling akhir beliau merupakan seseorang khalifah Islam, yang melanjutkan pucuk kepemimpinan dari khalifah Utsman bin Affan atas amanah dari Rasulullah saw.

2. Kepribadian Ali bin Abi Thalib

Di bawah ini merupakan beberapa kelebihan Ali bin Abi Thalib, menurut Imam al-Bukhori dalam Shahinya :

a. Menyukai Allah serta RasulNya

Ali bin Abi Thalib masuk Islam dengan hati yang teguh, serta beliau sudah ikut dengan Rasulullah menegakkan Islam. Lalu bukti yang tegas mengatakan jika Ali benar-benar menyintai Allah dan Rasul, yakni ada dalam Sabda Rasul yang diriwayatkan Sahal bin Sa’ad.

Di dialam hadits itu dikisahkan jika Rasulullah akan memberi sebuah bendera besok hari pada seorang yang begitu menyukai Allah dan RasulNya. Lantas beberapa orang menanyakan serta sekalian mengharap jika dirinyalah yang akan diberikan bendera. Pada besok harinya, pada saat orang telah menunggu Rasulullah menanyakan, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib? ”. Ali tidak berada di majelis itu karena beliau menderita sakit pada kedua matanya. Lantas Ali dibawa menghadap Rasul, serta Rasulullah meludah pada kedua mata Ali sekalian berdoa, serta saat itu juga mata Ali sehat seperti tidak sempat sakit.

Lalu Rasul menyerahkan bendera yang telah ditunggu-tunggu pada Ali bin Abi Thalib. Ini dia bukti yang akurat, jika Rasulullah sendiri yang menibatkan kalau Ali orang yang begitu mencintai Allah serta RasulNya.

b. Kelembutan Rasulullah pada Ali bin Abi Thalib

Rasulullah senantiasa lembut pada istrinya, akan tetapi Ali juga mengalami hal semacam itu, saat Rasul hadir kerumah Ali ingin menemuinya, Rasul berjumpa dengan Fatimah serta bertanya, “dimanakah putera pamanku itu? ” fatimah menjawab : “di masjid”. Rasulullah menjumpai Ali dimasjid serta saat Ali akan berdiri, lantas selendangnya terjatuh, serta tanah mengotori punggungnya. Rasulullah menghapuskan tanah di punggung Ali serta berkata, “duduklah wahai Abu Turab, duduklah wahai Abu Turab”.

c. Ali bin Abi Thalib membenci perselisihan

Diriwayatkan dari Abidah bin Amru as-Salmani, dari Ali bin Abi Thalib, Ia berkata : “putuskanlah hukum seperti kalian memutuskannya dulu. Sesungguhnya saya membenci perselisihan. Usahakanlah supaya golongan muslimin satu jama’ah, atau aku mati seperti sahabat- sahabatku mati.

Selanjutnya dari sumber yang berbeda, kelebihan Ali dapat disaksikan dari sifat-sifatnya seperti berikut.

a. Menjauhi kezhaliman

Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pemberani, akan tetapi dengan keberaniannya itu Ia mempu menghidari kezhaliman. Sekali juga Ali tak pernah memulai serangan pada seorang, bila Ia bisa menghindarinya. Serta Ali menasehatkan pada anaknya Hasan, “ janganlah kamu melawan orang berduel. Bila kamu dilawan karena itu hadapilah rintangan itu, karena orang yang melawan merupakan aniaya, orang yang aniaya akan kalah.

b. Hati yang bersih dari perasaan dengki musuh

Kecerdasan Ali disertai dengan hati yang bersih dari perasaan dengki pada orang yang memusuhinya. Ali melarang keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan mutslah pada seseorang pembunuh serta membunuh orang yang bukan pembunuh.

c. Tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan sesuatu

Ali bin Abi Thalib tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan suatu maupun menyembunyikannya, dan tidak ingin menerima sikap terlalu berlebih, walau dari orang yang memujinya. Kadang Ali memperoleh pujian yang terlalu berlebih, sedang Ali sendiri sangsi dengan maksudnya, lantas Ali menuturkan pada orang itu, “ Saya tak sempurna seperti yang engkau jelaskan serta lebih mulia dari anggapan apakah yang terdapat dalam hatimu”.

d. Pribadi yang zuhud

Di antara kelebihan Ali bin Abi Thalib ialah karakter kezuhudan yang dimilikinya.

“Manusia yang sangat zuhud pada dunia yaitu Ali bin Abi Thalib”. Sufyan berkata : “sesungguhnya Ali tidak pernah menempatkan batu bata di atas batu bata, tanah liat di atas tanah liat, sepotong kayu di atas potongan yang lain (bangun rumah) serta tidak pernah menghimpun harta”.

Dia menolak untuk mendiami istana putih di Kuffah karena memprioritaskan gubuk yang dihuni oleh fakir miskin, serta terkadang Ia menjual pedangnya untuk membeli baju serta makanan.

Walau Ali sangatlah zuhud, Akan tetapi ali jauh dari perilaku kasar, sempit dada, kurang pergaulan. Bahkan Ali merupakan orang yang begitu toleransi pada sesama.

Inilah Ali bin Abi Thalib, seorang yang pemberani dengan keberanannya, orang yang zuhud lagi lurus, tidak berlebih-lebihan, serta menghidarkan dirinya dari kezhaliman.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib wafat terbunuh saat malam jum’at waktu sahur tanggal 17 ramadhan 40 H. Beliau meninggal dunia pada umur 63 tahun. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib ini didasari oleh dendam lama di Nahrawan.

Tokoh yang membuat konspirasi untuk membunuh Ali bin Abi Thalib ialah Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi atau nama sebetulnya Abdurrahman bin Amru bersama dengan kedua temannya, wardan dan Syabib. Pembunuhan ini telah direncanakan dengan begitu masak. Syabib bertindak selaku pelaksana eksekusi, Ia di depan pintu menunggu Ali keluar rumah untuk membangunkan orang shalat. Lantas Syabib memukul leher, serta menebas kepala bagian atas Ali bin Abi Thalib, hingga mengucurlah darah pada jenggot beliau.

Ketika itu, Ali sudah sempat berteriak serta memerintah untuk tangkap beberapa pembunuh, dan mereka lantas melarikan diri. Wardan sukses di kejar serta secara langsung dibunuh, Syabib berhasil lolos dari kejaran, sedang Ibnu Muljam diamankan dengan tangan terikat. Lalu Ali bin Abi Thalib dibawa kerumah dan Ibnu Muljam. Ali menanyakan, “apa yang mendorongmu lakukan ini? ”, Ia menjawab : “aku sudah mengasah pedang ini saat empat pulu hari serta saya meminta pada Allah supaya bisa membunuh makhluk yang sangat buruk dengan pedang ini”. Ali berkata : “menurutku engkaulah yang perlu terbunuh dengan pedang itu, menurutku engkaulah makhluk yang sangat buruk! ”.

Lalu Ali bin Abi Thalib menyampaikan bahwa, bila beliau meninggal dunia karena itu bunuhlah Ibnu Muljam itu. Tapi bila beliau hidup, karena itu dialah yang lebih tau bagaimana hukuman yang patut untuk dia.

Jenazah Ali bin Abi Thalib dimandikan oleh Abdullah bin Ja’far, lalu dishalatkan oleh putera beliau Hasan, dimakamkan saat malam hari di Darul Imarah, Kuffah. Mudah-mudahan Allah me-ridhai Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib merupakan teman dekat yang istimewa untuk Rasulullah saw, karena Ali bagian dari keluarganya, yakni menjadi sepupu, dan menantu Rasulullah saw.  Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, hatinya tidak sempat tercampur dengan menyembah kapada berhala. Beliau ikut serta menyebarkan dakwan islamiyah bersama dengan Rasulullah saw, dan turut dalam beberapa peperangan. Ali bin Abi Thalib mempunyai karakter yang mulia, Ia orang yang cerdas pemikirannya, suci hatinya, zuhud, serta menghindari diri dari melakukan perbuatan zalim, dan merupakan salah satu sahabat yang pemberani.

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib

Mengenal Sosok Ummul-Mukminin Zainab binti Khuzaimah
Rasulullah saw. merupakan nabi terakhir yang diutus Allah untuk seluruh umat manusia. Pada masanyanya Rasulullah saw. memiliki 9 istri. Salah satunya Zainab binti Khuzaimah yang meninggal dunia pada 1 H atau tahun pertama kaum Muslimin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasulullah memiliki istri yang banyak bukan tanpa alasan, atau bukan karena alasan negagatif yang selalu dituduhkan oleh kalangan pembenci Islam. Rasulullah saw. memiliki istri yang banyak dan sebagian dari kalangan janda itu karena Rasulullah saw. ingin melindungi mereka dari keadaan dunia arab waktu itu yang ganas. Salah satunya adalah Zainab binti Khuzaimah.

Nasab serta Periode Pertumbuhannya


Nama lengkapnya ialah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasar pada asal-usul keturunannya, dia termasuk juga keluarga yang dihormati serta disegani. Tanggal lahirnya tidak di ketahui dengan tentu, akan tetapi ada kisah yang menyebutkan jika dia lahir sebelum tahun ke-3 belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia telah diketahui dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) seperti sudah diterangkan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad jika Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah merupakan Ummul-Masakin. Gelar itu disandangnya semenjak periode jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin juga di terangkan jika Rasulullah saw. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah, serta saat itu dia telah diketahui dengan sebutan Ummul-Masakin semenjak jaman jahiliah. Berdasar pada hal tersebut bisa diambil kesimpulan jika Zainab binti Khuzaimah populer dengan karakter kemurah-hatiannya, kedermawanannya, serta karakter santunnya pada orang-orang miskin yang dia prioritaskan ketimbang pada dianya sendiri. Karakter itu telah tertanarn dalam dirinya sejak mulai memeluk Islam meskipun ketika itu dia belumlah tahu jika orang-orang yang baik, penyantun, serta penderma akan mendapatkan pahala dari Allah.

Keislaman dan Pernikahannya 


Zainab binti Khuzaimah. termasuk juga golongan orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam ialah akal serta pikirannya yang baik, menampik syirik dan penyembahan berhala serta tetap menghindari diri dari perbuatan jahiliah.

Beberapa perawi berlainan pandangan mengenai nama-nama suami pertama serta ke-2 sebelum dia menikah dengan Rasulullah saw. Sejumlah perawi menyampaikan jika suami pertama Zainab merupakan Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang lalu menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, akan tetapi dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sejumlah perawi menyampaikan jika suami kedua-duanya ialah Abdullah bin Jahsy. Sebetulnya ada banyak perawi yang menyampaikan pandangan yang berlainan. Namun, dari beberapa pandangan itu, yang sangat kuat ialah kisah yang mengemukakan kalau suami pertamanya ialah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak bisa melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya saat mereka pindah ke Madinah. Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara lelaki Thufail) menikah dengan Zainab. Seperti kita kenali, Ubaidah bin Harits merupakan salah seseorang prajurit penunggang kuda yang sangat perkasa sesudah Hamzah bin Abdul-Muththalib serta Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga turut menantang beberapa orang Quraisy dalam Perang Badar, serta pada akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang itu.

Sesudah Ubaidah meninggal dunia, tidak ada kisah yang menuturkan mengenai kehidupannya sampai Rasulullah menikahinya. Rasulullah menikah dengan Zainab karena beliau ingin membuat perlindungan serta mengurangi beban kehidupan yang dirasakannya. Hati beliau jadi luluh menyaksikan Zainab hidup menjanda, sesaat semenjak kecil dia telah diketahui dengan kelemah- lembutannya pada orang-orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat buat alam semesta, beliau ikhlas memprioritaskan kebutuhan kaum muslimin, termasuk juga kebutuhan Zainab. Beliau selalu meminta pada Allah supaya hidup miskin serta mati dalam kondisi miskin serta disatukan di Padang Mahsyar bersama dengan orang-orang miskin.

Walau Nabi. memungkiri beberapa nama atau julukan yang diketahui pada jaman jahiliah, tapi beiau tidak memungkiri julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Menjadi Ummul-Mukminin 


Tidak di ketahui dengan tentu masuknya Zainab binti Khuzaimah ke rumah tangga Nabi., apa sebelum Perang Uhud atau setelahnya. Yang pasti, Rasulullah. menikahinya karena kasih sayang pada umatya, meskipun wajah Zainab tidak demikian cantik serta tidak seorang juga dari kalangan teman dekat yang bersedia menikahinya. Mengenai lamanya Zainab ada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah juga banyak tendapat ketidaksamaan. Satu diantaranya pendapat menyampaikan jika Zainab masuk ke rumah tangga Rasulullah saw. saat tiga bulan, serta pendapat lainnya delapan bulan. Namun, yang tentu, hasilnya begitu singkat kanena Zainab wafat sewaktu Rasulullah hidup. Didalam kitab sirah juga tidak diterangkan penyebab kematiannya. Zainab wafat pada umur relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, serta Rasulullah saw. yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Hidupnya bersama dengan Rasulullah saw, cuma singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab populer dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya pada golongan miskin. Zainab wafat, saat Rasulullah masihlah hidup. Serta Rasulullah sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama-tama dimakamkan di Baqi.

Mudah-mudahan karunia Allah selalu mengikuti Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. serta mudah-mudahan Allah memberikannya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Mengenal Sosok Ummul-Mukminin Zainab binti Khuzaimah

Pada umumnya banyak pakar memiliki pendapat jika agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Tapi ada banyak bukti yang memperlihatkan jika agama Islam masuk ke Indonesia lebih awal lagi. Contohnya, penemuan batu nisan makam Fatimah binti Maimun yang berada di Leran, Gresik yang berangka tahun 1082 M. Bahkan juga berdasar sebagian pakar yang lain, Islam telah hadir di Indonesia kurang lebih abad ke-7 M.

Perihal pendapat tentang Islam masuk sekitar abad ke-7 M didasarkan pada sumber-sumber yang datang dari Dinasti Tang. Berita itu bercerita ada orang Ta-shih yang membatalkan tujuannya untuk menyerang kerajaan Ho-Ling. Orang Ta-shih diidentifikasin sebagai orang Arab. Beberapa orang Ta-shih betempat tinggal di seputar kekuasaan Sriwijaya. Waktu itu beberapa orang Ta-shih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi dibanding melakukan Islamisasi, mengingat masih tetap kuatnya kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha di kerajaan Sriwijaya waktu itu.

Pendapat beberapa pakar yang mengatakan jika agama Islam masuk pada abad ke-13 M di dukung oleh fakta-fakta historis. Berita Marco Polo pada tahun 1292 menunjukkan kenyataan itu, saat ia hadir di Perlak ia banyak menjumpai masyarakat yang sudah beragama Islam serta banyak pedagang dari India yang senang menyiarkan agama Islam disana. Berita Ibnu Batuta yang hadir berkunjung di Samudra Pasai pada tahun 1345 serta bukti-bukti arkeologis batu nisan makam Sultan Malik As-saleh yang berangka tahun 1297 M menguatkan pandangan ini jika Islam sudah masuk di Indonesia kurang lebih abad ke-13.

Dalam pengetahuan histori, ketidaksamaan pandangan merupakan satu hal yang tidak dapat dijauhi. Kita mesti dapat menyikapinya dengan bijak serta sesuai sumber-sumber yang akurat. Dalam hal seperti ini butuh juga dibedakan dalam tiga pemahaman, yakni waktu kedatangan, proses penyebaran serta perubahan agama Islam. Abad ke-7 bisa dilihat menjadi awal masuknya Islam di Nusantara (Indonesia).

Akan tetapi pada saat itu rupanya belumlah sangat mungkin buat beberapa pedagang muslim untuk lakukan proses Islamisasi, mengingat masih tetap kuatnya dampak Hindu. Agar bisa lakukan proses Islamisasi membutuhkan seputar 5 atau 6 abad kemudian sampai terbentuknya kekuasaan yang bercorak kerajaan/kesultanan Islam, contohnya Perlak atau Samudra Pasai. Semenjak itu memungkinkan proses penyebaran serta peningkatan agama Islam diluar pusat kerajaan.

Untuk itu maka, cara atau metode dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Perdagangan 


Pada abad ke-7 M, wilayah Nusantara kedatangan beberapa pedagang Islam dari Gujarat/India, Persia, serta Bangsa Arab. Mereka telah mengambil bagian dalam beragam aktivitas perdagangan di Indonesia. Perihal ini konsekuensi logisnya memunculkan interaksi dagang pada penduduk Indonesia serta beberapa pedagang Islam. Di samping berdagang, menjadi seseorang muslim juga memiliki keharusan berdakwah karena itu beberapa pedagang Islam juga menyampaikan serta mengajari agama serta kebudayaan Islam pada orang yang lain. Lewat cara itu, banyak pedagang Indonesia memeluk agama Islam serta merekapun sebarkan agama Islam serta budaya Islam yang baru dianutnya pada orang yang lain.

2. Perkawinan 


Diantara beberapa pedagang Islam ada yang tinggal di Indonesia. Sampai saat ini di sejumlah kota di Indonesia ada kampung Pekojan. Kampung itu dulu adalah rumah beberapa pedagang Gujarat. Koja berarti pedagang Gujarat. Sebagian dari beberapa pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia. Khususnya putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itu, maka banyak keluarga raja atau bangsawan masuk Islam. Lalu dibarengi oleh rakyatnya. Dengan begitu Islam cepat berkembang.

3. Pendidikan 


Perubahan Islam yang cepat mengakibatkan muncul tokoh ulama atau mubalig yang sebarkan Islam lewat pendidikan dengan membangun pondok-pondok pesantren. Serta didalam pesantren itu tempat pemuda pemudi menuntut pengetahuan yang terkait dengan agama Islam. Yang bila beberapa pelajar itu tuntas dalam menuntut ilmu dan pengetahuan tentang agama Islam, mereka memiliki keharusan untuk mengajari kembali pengetahuan yang diperolehnya pada penduduk yang ada di sekitarnya. Yang pada akhirnya penduduk sekitarnya menjadi pemeluk agama Islam. Pesantren yang sudah berdiri pada saat perkembangan Islam di Jawa, diantaranya Pesantren Sunan Ampel Surabaya yang dibangun oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) serta Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak datang dari Maluku (daerah Hitu), dan lain sebagainya.

4. Politik 


Seseorang raja memiliki kekuasaan serta dampak yang besar serta memegang fungsi terpenting dalam proses Islamisasi. Bila raja suatu kerajaan memeluk agama Islam, automatis rakyatnya akan berbondong - bondong memeluk agama Islam. Karena, penduduk Indonesia mempunyai kepatuhan yang tinggi serta raja tetap jadi contoh untuk rakyatnya. Bila raja serta rakyat memeluk agama Islam, tentunya untuk kebutuhan politik maka dapat diadakannya pelebaran wilayah kerajaan, yang dibarengi dengan penyebaran agama Islam.

5. Lewat Dakwah di Kalangan Masyarakat 


Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri ada juru-juru dakwah yang sebarkan Islam di lingkungannya, diantaranya: Dato'ri Bandang sebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi Selatan), Tua Tanggang Parang sebarkan Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur), Seseorang penghulu dari Demak sebarkan agama Islam di kalangan bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan), Para Wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Wali yang populer ada 9 wali yang terkenal dengan sebutan walisongo, mereka adalah; Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Derajat (Syarifuddin), Sunan Kalijaga (Jaka Sahid), Sunan Kudus (Jafar Sodiq), Sunan Muria (Raden Umar Said), dan Sunan Gunung Jati (Faletehan).

6. Seni Budaya 


Perkembangan Islam bisa lewat seni budaya, seperti bangunan (masjid), seni pahat, seni tari, seni musik, serta seni sastra. Langkah semacam ini banyak didapati di Jogjakarta, Solo, Cirebon, dan sebagainya. Seni budaya Islam dibuat melalui cara mengakrabkan budaya daerah setempat dengan ajaran agama Islam yang disusupkan ajaran tauhid yang dibikin sederhana, sehalus serta sebisa mungkin menggunakan kebiasaan lokal, contohnya : Membumikan ajaran Islam lewat syair-syair, misalnya: Gending Dharma, Suluk Sunan Bonang, Hikayat Sunan Kudus, dan lain sebagainya. Mengkultulrasikan wayang yang sarat dokrin. Misalnya: Beberapa tokoh simbolis dalam wayang diadopsi atau menciptakan nama yang lain yang dapat mendekatkan dengan ajaran Islam, Menciptakan tokoh baru serta cerita baru yang sarat pengajaran. Membunyikan bedug menjadi ajakan sholat lima waktu sekaligus juga alarm pengingat waktu.

7. Tasawuf 


Seorang Sufi biasa diketahui dengan hidup dalam keserhanaan, mereka tetap meresapi kehidupan masyarakatnya yang hidup bersama-sama ditengah – tengah masyarakatnya. Beberapa Sufi umumnya mempunyai ketrampilan yang menolong penduduk serta sebarkan agama Islam. Beberapa Sufi pada saat itu salah satunya Hamzah Fansuri di Aceh serta Sunan Panggung Jawa.

Memang banyak metode atau cara yang digunakan dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, tapi umumnya dilakukan dengan 7 cara atau metode di atas.

Cara-cara yang digunakan Mubaligh Zaman Dahulu dalam Menyebarkan Islam di Indonesia

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)
Beberapa teori mengenai masuknyaIslam di Indonesia ini selalu muncul sampai sekarang ini. Ada banyak pandangan mengenai masuknya Islam di Indonesia diantaranya yaitu.

Teori Makkah 


Islam yang masuk serta berkembang di Indonesia datang dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7 M. Teori ini dikemukakan oleh Hamka (Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah), ia merupakan seseorang ulama’ sekaligus juga sebagai seorang sastrawan Indonesia. Hamka menyampaikan pandangannya ini pada tahun 1958, waktu orasi yang disampaikannya pada dies natalis perguruan tinggi Islam Negri (PTIN) di Yogyakarta. Argumentasi yang dijadikan referensi Hamka ialah sumber lokal Indonesia serta sumber Arab. Tidak hanya itu yang tidak bisa dilewatkan ialah fakta menarik lainnya yaitu bahwa beberapa orang Arab telah berlayar sampai Cina pada abad ke-7 M dalam rencana untuk berdagang. Hamka yakin dalam perjalanan berikut mereka berkunjung di kepulauan Nusantara waktu itu.

Orang yang berpandangan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya datang dari Arab dan Mesir, memiliki beberapa dasar teori yaitu; 1) Pada bad ke 7 yakni tahun 674 di Pantai Barat Sumatera telah ada perkampungan Islam (Arab), 2) Samudra Pasai menganut mazhab Syafi’i, di mana pengaruh mazhab Syafi’I paling besar pada saat itu ialah Mesir serta Makkah, 3) Raja-raja Samudra Pasai memakai gelar Al-Malik, yakni gelar dari Mesir.

Teori Gujarat


Teori Gujarat menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia ini datang dari Gujarat pada abad ke-13, Islam dibawa serta disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang berkunjung di kepulauan Nusantara. Mereka meniti jalan perdagangan yang telah terjadi antara India dan Nusantara. Pandangan ini dkemukakan oleh Snouck Hurgronje. Ia mengambil pandangan ini dari Pijnapel, seseorang ahli dari Universitas Leiden Belanda, yang seringkali mempelajari artefak-artefak peninggalan di Indonesia. Pendapat Pijnapel ini dapat dibetulkan oleh J. P Moquette yang sempat mempelajari bentuk nisan kuburan-kuburan raja-raja pasai.

Pandangan tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 serta pembawanya datang dari Gujarat (Cambay), India, dengan dasar teori sebagai berikut; 1) Minimnya fakta yang menjelaskan bagaimana peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia, 2) Jalinan dagang Indonesia dengan India sudah lama lewat jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa, 3) Terdapat batu nisan Sultan Samudra Pasai yakni Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak ciri khas Gujarat.

Teori Cina 


Teori ini mengungkapkan terkait agama Islam yang disebarkan di Indonesia oleh beberapa orang Cina. Mereka bermafhab Hanafi, Pandangan ini disimpulkan oleh salah seseorang pegawai Belanda pada saat pemerintahan kolonial Belanda dahulu.

Teori ini berasumsi jika proses kehadiran Islam ke Indonesia datang dari beberapa perantau Cina. Orang Cina sudah berhubungan dengan penduduk Indonesia jauh sebelum Islam diketahui di Indonesia. Pada waktu Hindu Buddha etnis Cina atau Tiongkok sudah berbaur dengan masyarakat Indonesia, terlebih lewat kontak dagang. Bahkan juga ajaran Islam sudah masuk ke Cina pada abad ke-7 M, waktu di mana agama ini baru berkembang.

Teori Persia


Teori Persia menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia beasal dari daerah Persia atau Parsi (Iran). Pencetus dari teori ini ialah Hosein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hosein lebih menitik beratkan analisisnya pada persamaan budaya serta kebiasaan yang berkembang pada penduduk Parsi serta Indonesia. Kebiasaan itu diantaranya : kebiasaan dalam merayakan 10 Muharram atau hari Asyuro menjadi hari suci golongan Syi’ah atas kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw.

Teori tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 ini dan pembawanya datang dari Persia (Iran) didasari atas beberapa hal, yaitu: 1) Peringatan 10 Muharam atau Asyura atas wafatnya Hasan serta Husein cucu Nabi Muhammad SAW, yang begitu di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. 2) Persamaan ajaran Sufi yang diyakini Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran yakni Al-Hallaj. 3) Pemakaian istilah bhs Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi Harakat. 4) Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik. 5) Ada perkampungan Leren/Leran daerah Gresik. Leren merupakan nama salah satunya simpatisan tori ini yakni Umar Amir Husen serta P. A. Hussein Jayadiningrat.

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu
Ayat Al-Kursi (آية الكرسي) yang dalam bahasa Indonesia artinya Ayat Singgasana merupakan ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini dijelaskan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab adalah ayat yang sangat agung di dalam Al Qur'an. Dalamnya mengenai keesaan Allah dan kekuasaan Allah yang mutlak atas semua hal serta, dan Allah tidak kesusahan sedikitpun dalam memelihara segala yang diciptakannya.

Teks Bacaan Ayat Kursi


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


Terjemahannya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S Al-Baqarah/2: 255)

Video Bacaan Ayat Kursi Oleh Mevlan Kurtishi


Berikut ini video bacaan ayat kursi oleh Mevlan Kurtishi.



Faedah Membaca Ayat Kursi


Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap shalat fardhu, ia akan berada dalam lindungan Allah swt. sampai dengan shalat berikutnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di setiap akhir shalatnya, maka Allah tidak menegah untuk memasuki surga kecuali kematian, dan siapa pun yang membacanya ketika ia akan tidur, maka Allah swt. melindunginya di rumahnya, rumah tetangganya, dan rumah-rumah di sekitarnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di akhir shalat, maka Allah swt. akan mengendalikan siap yang masuk ke dalam jiwanya dan dia seperti orang yang sedang berjihat dengan Rasulullah dia sehingga mati syahid.

Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap sholat fardhu, maka Allah swt. menganugrahkan kepadanya setiap orang yang hatinya bersyukur, setiap orang berbuat benar, syafaat dari para nabi dan Allah melimpahkan rahmat kepadanya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika berbaring di tempat tidurnya, maka Allah swt mengutus 2 Malaikat untuk menjaganya hingga fajar tiba.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi sebelum meninggalkan rumahnya, maka Allah swt. mengutus 70.000 malaikat kepadanya - mereka semua memohon pengampunan dan berdoa untuknya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika dalam kesempitan, maka Allah Yang Maha Kuasa akan melampangkannya.

Demikianlah ulasan kali ini tentang bacaan ayat kursi dan faedah membacanya dalam setiap waktu, semoga bermanfaat.

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu