Coretanzone

    Social Items

Melawan atau Ditindas
Keheningan malam ini menambah gairah untuk melihat cakrawala yang sedang bercengkrama dengan alam, panorama pergi ke alam tiada dalam ketiadaan, terlihat mereka yang sedang bertapa dibawah gunung fantasi, dan mereka yang sedang asyik beronani dengan kekuasaan. Dalam keheningan itu aku dikejutkan dengan serdadu-serdadu yang berlari dengan laras panjang yang mereka pikul, menembus keheningan malam, merebut hak-hak rakyat jelata, menembak mati yang melawan, mencakar perut ibu-ibu yang sedang hamil. Malam ini penuh dengan darah dan tangisan janda yang ditinggal mati suaminya, bayi-bayi terkapar di sudut gubuk, Anak yatim bersimbah darah, bumi bergoncang dengan keras, mengutuk perbuatan yang nista ini. Alam sedang menangis melihat anak manusia yang tak sadar lagi, kesadaran telah hilang bersama keringnya embun pagi, panasnya mentari tadi siang membakar kebencian yang ada di dalam hati. Dari kejauhan terlihat sesosok ibu tua yang menghampiriku kemudian bertanya: "apa sebenarnya ini?" pertanyaan yang membuatku terkejut, ingin ku jawab namun logikaku telah ditutup dengan harumnya bau amis darah yang berserakan diantara gubuk-gubuk kecil itu.

Malam semakin larut, bulan terus menyinari bumi dengan indahnya namun kemurkaan tampak jelas dari wajah indah itu, intan-intan yang selalu terpancar dari wajah cantiknya telah larut dalam kesedihan yang memukau. Bintang-bintang tak lagi menampakkan binaran mutiara yang selalu kita lihat, semuanya menunjukkan pancaran kebenciaan.

Langkah kakiku kembali menuju ke kamar tempat dimana aku tinggal, dengan perabotan sederhana yang ku gunakan untuk bertahan hidup, lukisan kuno yang menambah indah kamar terpampang di sudut kamar. Aku mulai merebahkan badanku di atas tikar yang selalu ku gunakan untuk tempat beristirahat, ku coba untuk menutup mata yang dari tadi panas, namun mata ini tak bisa diajak untuk tertutup rapat, bayangan kekejaman tadi masih menghantuiku, mataku masih terjaga. Aku terus berusaha namun usahaku sia-sia, bayangan itu lebih kuat dibandingkan dengan ushaku. Namun seacra perlahan usahaku mulai menuai hasil, mata ini dengan perlahan merapat dan akupun tertidur ditemani dengan teriakan kodok yang mengalun dengan lembut.

Aku dikejutkan dengan suara adzan yang dikumandangkan dengan indah dari surau yang terletak di ujung jalan, rasa dingin mulai menghampiriku hingga menembus ke dalam jantungku, aku masih teringat dengan kejadian tadi malam, dalam hatiku bertanya “mimpikah aku semalam atau nyatakah itu?”

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, warna kuning emas yang terpancar darinya memperindah suasana pagi, embun pagi dengan jelas terlihat diatas dedaunan,  rumput ilalang begoyang lembut ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Dengan perasaan cemas bercampur sedih aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku yang pengap itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sepi, padahal di pagi sebelumnya jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan dibeli oleh warga sekitar, kios-kios tidak juga menampakkan tanda-tanda akan dibuka, semuanya bagaikan ditelan bumi. Aku terus berjalan mengikuti irama yang samar namun tak asing lagi di telingaku. Semakin aku mendekat sumber suara itu semkin jelas terdengar. Suara tangis sendu yang keluar dari mulut mungil seorang anak yang melihat bapaknya terkapar di atas keranda mayat. Banyak anak-anak yang tak berdosa sedang duduk di sudut-sudut jalan, tergambar jelas dari wajah anak-anak itu kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Serpihan luka masih mengental di dalam hati mereka, air mata masih bercucuran membasahi bumi.

Pandanganku tertuju pada sesosok wajah jelita yang tak asing lagi bagiku dia teman sekampusku, lalu coba untuk ku sapa,

“hy ani sudah lama kamu di disini?”

Iapun menjawab

“saya baru datang juga di sini, sekitar sepuluh menit yang lalu”

Kami saling berpandangan. Ani adalah seorang mahasiswi fakultas kesehatan di Universitas yang sama denganku, sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa fakultas keguruan. Kami saling kenal ketika mengikuti acara seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi extra kampus. Wajah cantik nan anggun itu melirik ke hadapan mereka yang sedang tidur di atas tanah yang penuh dengan hamparan bebatuan dan aliran darah yang telah mengering, kebingungan terlihat jelas dari raut wajah yang sejak tadi memandang ke seluruh penjuru wilayah yang telah dilumuri dengan kekejaman akibat dari nafsu serakah sekolompok manusia.

******

Matahari siang itu hampir membakar seluruh tubuh yang lalu lalang di setiap jalanan, sudut-sudut langit dipenuhi dengan amarah, namun kesibukan yang dilakukan oleh manusia tak pernah henti, mereka mengerjakan pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari tanpa meperdulikan panasnya matahari. Langkah kakiku terhenti di sudut kampus, lirikan mataku melihat sekelompok orang yang sedang asyik berteriak dan berorasi di depan kampus, di sekitar mereka terdapat kerumunan manusia yang memakai seragam coklat yang sedang menjaga dan mengawasi kegitatan tersebut. Teriakan teriakan yang mereka lantunkan bagaikan petir yang menyambar kepala manusia di siang bolong, kadang kala teriakan yel-yel khas mahasiswa terdengar, “hidup mahasiswa… hidup rakyat…”, teriakan itu berirama sekali dan membakar semangat mereka.

Perhelatan siang hari itu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong, membongkar bongkahan-bongkahan bebatuan keras, mengalir bagaikan lahar panas yang menyembur keluar dari gunung merapi. Mobil angkotpun mulai menumpuk di sepanjang jalan, kemacetan tak terhindarkan lagi, pihak lalu lintas bingung mengarahkan jalannya kendaraan yang tak beraturan itu. Aku termangu melihat pemandangan yang melengking, ku telusuri sudut kampus itu hingga sampai diantara kumpulan mahasiswa yang sedang menikmati kobaran api yang keluar dari ban bekas yang dibakar. Pikiranku sejenak terhenti berpikir, pikiran kosong yang jauh mengembara menembus batas langit, menghilang ke dalam larutan emosi yang terbakar oleh petir-petir kebencian. Langkah kakiku kembali mengalun lirih menuju sekelompok mahasiswa yang berdiri di dalam keramaian yang begitu panas. Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, sahabat seperjuangan dalam suka dan duka.

"eh kenapa baru kelihatan di sini zaki? Padahal demonya sudah dari tadi”

“maaf sahabat, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan, jadinya terlambat ke sini”

“tidak apa-apa sahabat, yang penting sudah hadir di sini”

Kami berdua terdiam sejenak karena suasana mulai memanas, ada sedikit pertentangan antara pihak keamanan dan pimpinan aksi, perdebatan terdengar dari dalam kerumunan itu. Aku kemuadian bertanya kepada sahabatku itu.

“tema sentral aksi hari ini apa?”

Dia tak menjawab pertannyaanku itu, dia cuma diam melihat hal yang terjadi di luar pertanyaanku, mungkin telinganya tertutup oleh ramainya perdebatan yang belum ada titik penyelesaian. Kemudian kami dikejutkan dengan tembakan yang bunyinya hampir memecahkan gendang telinga, tembakan yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan masa aksi, atau hanya sebuah bunyi yang mencoba untuk memaikan perannya sebagai dewa petir yang menyambar keberanian manusia. Bunyi tembakan berulang terdengar dan menyakitkan telinga, bahkan asap tebal mulai mengepul, massa aksi mulai berlari mencari perlindungan, air mata mengalir dengan deras keluar dari mata-mata yang rapuh, mata yang datang hanya untuk melihat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas dan direnggut oleh penguasa yang rakus. Siang itu bagaikan neraka yang harus dilawan dengan kekerasan, batu dan cacian keluar bersamaan, mengiringi luapan kemarahan hanya demi satu nama yaitu keadilan.

Bayang-bayang setan berkeliaran di depan kampus, menggoda dan mencoba meruntuhkan idealisme mahasiswa, pentungan terdengar di sisi-sisi jalan. Kamipun berlari menyusuri jalanan kampus menghindari amukan massa yang semakin brutal. Di bawah pohon yang rindang dan masih berdiri kokoh di belakang kampus, memberi satu isyarat bahwa kami harus berteduh di bawahnya, dengan menarik nafas yang panjang aku dan sahabatku itu kemudian beristirahat dibawah pohon tersebut.

Sungguh peristiwa yang melelahkan dan menguras hampir sebagian tenaga, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, dalam sekejap para pahlawan keadilan diterjang oleh badai yang begitu dahsyat, kemanakah mereka harus mengadu, kemanakah mereka harus mengeluh, dan kemanakah mereka berlindung, apakah semuanya sudah terlanjur salah ataukah dianggap salah. Nurani tidak lagi dipakai, akal sudah ditutupi oleh kabut dendam, iblis kemudian terbahak melihat semua ini merasa dirinya telah menang.

Apa yang terjadi siang ini merupakan ritual yang sering dilakukan oleh mahasiswa jika ada ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, menyuarakan kebenaran yang entah itu benar ataukah dibenarkan. Dalam ritual tersebut kadang terjadi pula hal-hal yang dibenarkan oleh akal dan idealism, walau dianggp salah oleh norma-norma yang berlaku, hanya demi mencari simpati dari penguasa untuk melirik dan mendengar jeritan rakyat. Apakah kita harus memberontak ataukah diam menerima keterpurukan, pilahan bijak selalu hadir sebagai solusi. Kebenaran yang benar haruslah diperjuangkan dengan jalan yang benar, bukan dengan menggunakan hawa nafsu dalam perjuangan.

Manakala Guntur berteriak di tengah langit, gemuruh angin akan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan, hujanpun mengikuti arah yang telah ditunjuk, rerumputan tumbuh di padang yang kosong, halilimtar menyambar dahan-dahan pohon, menghanguskan yang dihinnggapinya, lalu apa bedanya manusia dengan halilintar jika hawa nafsu digunakan.

Bersambung...

Melawan atau Ditindas

Perangkat Pembelajaran Berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK
Ketika memasuki tahun ajaran baru, guru dituntut untuk memiliki perangkat pembelajaran dalam melaksanakan fungsinya sebagai pengajar dan pendidik di dalam kelas maupun di luar kelas, sebagai bentuk pelayanan yang baik kepada peserta didik. Perangkat pembelajaran adalah alat yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan proses belajaran mengajar yang disiapkan sebelum memasuki kelas.

Elemen pembelarajan di dalam kelas terdiri dari manusia, dan alat pembelajaran. Sebagaiman kita ketahui bahwa pembelajaran membutuhkan sistem dan alat sehingga tingkat keberhasilannya dapat mencapai apa yang telah diinginkan. Sistem saat ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan itu sendiri, sedangkat alatnya adalah perangkat pembelajaran dan alat-alat belajara lainnya.

Perangkat pemebelajaran berkarakter menjadi bagian terpadu antara mengajar pelajaran yang diampuh dengan mendidik para peserta didik untuk mengenal karakter bangsanya yang terdiri dari keagamaan, moral, budaya bangsa dan lain sebagainya.

Saat ini guru dituntut bukan saja dapat memberikan materi secara ilmiah, tetapi juga dituntut dapat memberikan hal lain yang dapat membawa peseta didik dalam mencapai keberhasilan pada tataran pendidikan dan kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.

Perangkat pembelajaran yang baik itu dapat menduduk cita-cita pendidikan nasional yaitu : "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa", dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan taqwa. Ini merupakan tantangan besar bagi guru, dimana guru dituntut untuk mencerdaskan tiga ranah penting di dalam diri siswa (Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Intektual).

Perangkat Pembelajaran Berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK


Di sini akan kami bagikan perangkat pembelajaran berkarakter lengkap bahasa inggris SMA/SMK yang dapat bapak dan ibu guru unduh secara gratis, dengan tujuan sebagai bahan acuan dalam menyusun perangkat pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing.

1. RPP Bahasa Inggris SMA Berkarakter (unduh di sini)

2. Silabus Bahasa Inggris SMA (unduh di sini)

3. Perangkat Pembelajaran Lainnya (unduh di sini)

Struktur Perangkat Pembelajaran Berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK


Struktur perangkat pembelajaran berkarakter bahasa Inggris SMA/SMK terdiri atas 6 perangkat pembelajaran sebagai berikut:

1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

2. Pemetaan SK dan KD Bahasa Inggris SMA/SMK

2. RPP Berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK

3. Silabus Bahasa Inggris SMA/SMK

4. Program Semester Bahasa Inggris SMA/SMK

5. Program Tahunan Bahasa Inggris SMA/SMK

6. KKM Bahasa Inggris SMA.

Demikian postingan kali ini tentang perangkat pembelajaran berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK, semoga bermanfaat.

Perangkat Pembelajaran Berkarakter Bahasa Inggris SMA/SMK

Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA
Perangkat pembelajaran merupakan alat untuk melakukan aktifitas pembelajaran di dalam kelas. Tanpa perangkat pembelajaran tersebut seorang guru akan kesulitan untuk memulai proses belajar mengajar secara terstruktur dan terencana. Kelengkapan perangkat pembelajaran merupakan suatu kewajiban yang sudah ditentukan dalam kurikulum, sehingga menjadi kewajiban seorang guru untuk memiliki perangkat tersebut.

Semua guru pasti ingin menjadi guru professional, dimana guru profesional adalah orang yang mampu dalam melaksanakan tugas sebagai guru dan mampu menerapkan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga hasil dari proses itu adalah siswa dapat memiliki kompetensi yang mapan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sebagaian guru hanya mengejar menyelesaikan target pembelajaran (menyelsesaikan materi pembelajaran) tanpa memperhatikan tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan di dalam kelas. Alhasil materi pelajaran selesai dibahas siswa tidak dapat menerapkan materi tersebut.

Inilah fenomena yang tak asing lagi kita lihat di lapangan pendidikan, fenomena yang sangat merugikan siswa dan dunia pendidikan. Olehnya itu, sudah saatnya kita sebagai guru, mari sama-sama kita menata kembali proses belajar mengajar yang efektif dan efisien dengan memperhatikan tingkat kemampuan siswa, sehingga nantinya apa yang menjadi harapan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA Kurikulum 2013


Berikut ini adalah perangkat pembelajaran bahasa arab SMA/MA kurikulum 2013 yang dapat diunduh sebagai acuan dalam menyusun perangkat pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing.

1.  Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab Kurikulum 2013 Kelas X (unduh di sini)

2.  Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab Kurikulum 2013 Kelas XI (unduh di sini)

3.  Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab Kurikulum 2013 Kelas XII (unduh di sini)

Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA KTSP


Berikut ini adalah perangkat pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA yang sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

1. Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab KTSP Kelas X (unduh di sini)

2. Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab KTSP Kelas XI (unduh di sini)

3. Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab KTSP Kelas XII (unduh di sini)

Perangkat pembelajaran bahasa Arab untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) dan Sederajat sebagai pedoman bagi guru bahasa Arab dalam menyusun perangkat pembelajan. Perengkat pembelajaran tersebut antara lain adalah:

1. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Bahasa Arab MA/SMA

2. Program Tahunan Bahasa Arab MA/SMA

3. Program Semester Bahasa Arab MA/SMA

4. Silabus Bahasa Arab MA/SMA

5. RPP Bahasa Arab MA/SMA

6. Rincian Minggu Efektif dan Jumlah Jam Efektif Bahasa Arab MA/SMA

7. Pemetaan SK KD Bahasa Arab MA/SMA

Demikianlah postingan kali ini tentang Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA, semoga bermanfaat bagi bapak/ibu guru sekalian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perangkat Pembelajaran Bahasa Arab SMA/MA

Faktor-faktor Pendorong Terjadinya Integritas Politik
Integritas politik adalah sebuah proses yang di dalamnya terdapat bobot-bobot politik, sehingga di dalam proses tersebut bersifat politik juga. Olehnya itu, integritas politik dapat mencakup bidang vertikal dan horisontal, atau gabungan antara keduanya. Pada dasarnya integritas mengandung dua unsur saja yaitu, bagaimana agar rakyat tunduk dan patuh pada tuntutan yang ada pada negara, dan bagaimana meningkatkan konsensus normatif yang mengatur tentang tingkah laku politik masyarakat yang ada di dalam negara.

Ramlan subakti mengatakan bahwa ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kelompok-kelompok masyarakat yang terintegrasi dalam suatu komunitas bersama. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Ikatan primordial, (2) sakral, (3) tokoh, (4) Bhineka Tunggal Ika, (5) konsep ekonomi. Sementara itu, perkembangan ekonomi suatu masyarakat dapat juga menjadi faktor pemersatu suatu masyarakat. Perkembangan ekonomi suatu masyarakat akan melahirkan diferensiasi (pembagian) dan spesialisasi (pengkhususan) pekerjaan seperti, sektor industri, jasa, perdagangan, bank, pertambangan, pertanian, perkebunan, dan pendidikan yang satu sama lain saling berhubungan secara fungsional. Artinya bahwa, spesialisasi dan diferensiasi pekerjaan tersebut akan saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mendukung kelangsungan hidup suatu komunitas tersebut.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan rinci, maka akan dipaparkan faktor-faktor pendorong terjadinya intgritas politi dalam uraian yang lebih terinci, yaitu sebagai berikut.

1. Primordial


Identitas bersama suatu komunitas dapat terbentuk karena adanya ikatan keaslian kedaerahan, kekerabatan, kesamaan suku, ras, tempat tinggal, bahasa, dan adat istiadat. Ikatan-ikatan tersebut dinamakan ikatan primordial. Pembentukan identitas bersama dalam suatu masyarakat, bangsa hingga negara akan mengalami banyak kendala jika masyarakatnya bersifat majemuk atau plural. Keadaan ini akan melahirkan segmentasi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki identitas sendiri hingga melahirkan perasaan in group dan out group pada masing-masing kelompok yang ujung pangkalnya adalah jika tidak melahirkan integritas sosial kemungkinan akan menimbulkan konflik. Artinya, jika usaha penciptaan identitas nasional tidak memuaskan berbagai kelompok budaya maka, yang muncul adalah disintegritas masyarakat. Perpecahan Yugoslavia menjadi negara-negara atas dasar etnis seperti etnis Kroasia, Serbia, dan Bosnia di era 1990-an, gerakan separatis di Rusia akibat kebijkan presiden Mikhail Gorbachev yang disebut Perestroika dan Glasnot sebagai kegagalan dalam menciptakan integritas bangsa yang majemuk.

2. Sakral


Sakral dalam konsep ini adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak, karena dipercayai sebagai wahyu ilahi. Keyakinan masyarakat yang bersifat sakral terwujud dalam agama dan kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat supranatural. Dalam komunitas masyarakat yang mempercayai adanya hal-hal yang bersifat sakral, agama dan ideologi dipandang oleh para anggota masyarakatnya sebagai tujuan absolut yang berharga mati. Artinya para penganut keyakinan tersebut siap berkorban nyawa demim mempertahankan ideologi yang diyakininya. Agama akan menjadi semangat integrasi jika masing-masing penganutnya memiliki kesamaan pandang dan keyakinan itu, akan tetapi juga menjadi pemicu disintegrasi jika agama tersebut terpecah-pecah dalam aliran-aliran (sektarian) yang berbeda satu sama lain.

Jika antar sekter dalam satu agama yang semula tidak akur, maka identitas agama tersebut terancam dan akan memunculkan integrasi antarsekte. Hal ini mendorong terjadinya integrasi yang di dalmnya terdapat musuh bersama. Ketika menghadapi musuh bersama, antar kelompok akan bersatu untuk membentuk kekuatan bersama, akan tetapi jika musuh berhasil dikalahkan maka antarsekte tersebut akan mengalami disintegrasi kembali.

3. Tokoh


Integrasi bisa tercipta manakala suatu masyarakat terdapat seorang atau beberapa orang tokoh pemimpin yang disegani dan dihormati karena kepemimpinannya yang bersifat karismatik. Selain itu, ketokohan seseorang atau beberapa pahlawan yang menjadi pujaan masyararakat karena ia menjadi juru selamat masyarakat tersebut. Biasanya pemimpin yang kharismatik dan pahlawan yang dipuja masyarakat sering kali dijadikan sebagai lambang atau simbol masyarakat tersebut. Misalnya Osama bin Laden yang oleh pihak Amerika serikat disebut sebagai gembong teroris tetapi di pihak lain sebagi komunitas Muslim menganggapnya sebagai figur pahlawan dan simbol perlawanan kepada kezaliman barat terhadap dunia Islam.

Begitupula dengan tokoh Gus Dur yang oleh warga Nahdliyin dianggap sebagai simbol pemersatu, akan tetapi sebagian umat Islam justru banyak mencaci maki karena dianggap lebih banyak berpihak kepada kelompok-kelompok yang kontroversial. Di lain pihak, bagi kalangan kelompok minoritas, ia adalah figur perdamaian dan perlindungan karena keterpihakannya kepada kelompok-kelompok ini. Di satu pihak ia memiliki kekuatan sebagai pemersatu anggota-anggota masyarakat, akan tetapi sebagian pihak yang memiliki figur lain sebagai tokoh, maka Gus Dur bukan berarti apa-apa. Sifat ketokohan (figuritas) ini akan sangat tergantung pada subjektifitas kelompok-kelompoknya masing-masing.

4. Bhineka Tunggal Ika


Bhineka Tunggal Ika dilihat sebagai pemersatu bangasa yang majemuk untuk mencapai integritas suatu bangsa. Dalam konsep ini, biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang diantara kelompok ini tidak saling melengkapi tetapi justru lebih bersifat kompetitif. Untuk itu, biasanya pemerintah negera tersebut memilah-milahkan budaya bangsa sebagai budaya universal yang terbagi atas subbudaya-subbudaya daerah yang beragam. Keragaman budaya antardaerah dan antarkelompok tersebut dianggap sebagai kekayaan khazanah kebudayaan. Untuk itu perlu diciptakan image masyarakat perbedaan dalam satu yang disebut sebagai Bhineka Tunggal Ika. Jika keragaman dalam suatu bangsa tidak berhasil dikelola secara bijak, maka disintegritas akan muncul sebagai akibat dari kegagalan tersebut. Adapun gagal dan tidaknya integritas nasional tergantung dari kebijakan pemerintah dalam menciptakan idologi nasional. Jika masyarakat merasakan manfaat keragaman tersebut, maka integritas akan tercipta. Akan tetapi, jika masyarakat tidak merasakan manfaat keragaman itu maka, yang akan terjadi adalah disintegritas nasional (pemisahan antarwilayah).

5. Perkembangan Ekonomi


Perkembangan ekonomi melahirkan pembagian kerja dan spesialisasi pekerjaan untuk mendukung kelangsungan hidup suatu fungsi sistem ekonomi, yaitu menghasilkan barang dan jasa. Perkembangan ekonomi tidak memungkinkan semua pekerjaan dikerjakan oleh satu orang, oleh sebabg itu perlu dikerjakan oleh banyak tenaga yang terbagi dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu. Artinya, pekerjaan produksi harus dilakukan oleh ahli di bidang produksi, kepegawaian, pemasaran, dan lain sebagainya. Akan tetapi perbedaan bidang keahlian pekerjaan tersebut, akan membentuk satu sistem kerja untuk menghasilkan barang dan jasa yang dapat digunakan oleh masyarakat. (Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, 2015: 88-91)

Kelima faktor pendorong terjadinya integritas politik sebagaimana dijelaskan di atas barulah sebagian. Sebenarnya masih banyak faktor yang mendukung integritas suatu bangsa seperti, homogenitas kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas sosiogeografis, dan efektivitas dan efisiensi komunitas.

Faktor-faktor pendorong terjadinya integritas politik di Indonesia yang paling penting adalah memperhatikan kebhinekaan, karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai perbedaan suku, bangsa, kelompok, budaya, agama, dan lain sebagainya. Perbedaan yang dimiliki oleh bangsa ini harus dikelola dengan baik, agar tidak terjadi gesekan dalam masyarakat. Pengelolaannya dapat dilakukan dengan memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagainya pesan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Keadilan dapat dilakukan dengan pemerataan pembangunan dalam semua bidang seperti pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.

Referensi:

Setiadi, Elly M. dan Usman Kolip. 2015. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana.

Faktor-faktor Pendorong Terjadinya Integritas Politik

Bagaimana Perilaku Politik?
Politik bukan lagi menjadi sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang saling mempengaruhi untuk tercapai tujuan yang dimilikinya. Saling mempengaruhi inilah yang kemudian disebut sebagai perilaku politik.

Perilaku politik atau dalam bahasa inggris adalah political behaviour merupakan perilaku yang dilakukakn seseorang baik itu secara individu maupun kelompok untuk memenuhi hak dan kewajiban yang dimilikinya sebagai insan politik. Seseorang sebagai individu atau kelompok diwajibkan negara untuk melakukan hak dan kewajiban yang dimilikinya guna melakukan perilaku politik. Banyak contoh yang dapat kita temukan dalam perilaku politik, diantaranya yaitu:

1. Adanya pemilihinan umum untuk memilih pemimpin atau wakil rakyat dalam pemerintahan.

2. Memiliki hak sebagai insan politik untuk mengikuti suatu oraganisasi partai politik (parpol), menjadi anggota organisasi masyarakat (ormas), atau berada dalam salah satu lembaga swadaya masayarakat.

3. Memiliki andil untuk ikut serta dalam pesta politik (demokrasi).

4. Memiliki hak untuk mengkritik atau menurunkan pemimpin yang otoriter.

5. Memiliki hak untuk memimpin partai politik.

6. Memiliki kewajiban untuk berperilaku baik dalam politik sesuai dengan undang-undang dasar dan ketentuan perundangan yang berlaku.

Dalam setiap dan hubungan kekuasaan terdapat tiga unsur yang terlibat di dalamnya yaitu: (1) tujuan dari kekuasaan tersebut, (2) cara penggunaan sumber-sumber pengaruh, dan (3) hasil penggunaan sumber-sumber pengaruh. Adapun ciri-ciri kekuasaan yang merupakan penjabaran dari ketiga unsur tersebut di atas diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kekuasaan adalah hubungan atar manusia atau interaksi sosial

2. Pemegang kekuasaan mempengaruhi yang lain

3. Pemegang kekuasaan bisa seorang individu, atau sekelompok orang, kelompok sosial, kelompok budaya, atau bisa juga pemerintah.

4. Sasaran kekuasaan (yang dipengaruhi) bisa berupa individu, kelompok atau pemerintah.

5. Seseorang yang memiliki sumber-sumber kekuasaan belum tentu memiliki kekuasaan. Hal itu tergantung pada penggunaan sumber-sumber kekuasaan tersebut.

6. Penggunaan sumber-sumber mungkin melibatkan, konsensus atau kombinasi.

7. Suatu perspektif moral, apakah tujuan kekuasaan itu baik atau buruk?

8. Hasil penggunaan sumber-sumber itu bisa menguntungkan seluruh masyarakat atau bisa juga menguntungkan sekelompok kecil masyarakat, tergantung pada ada tidaknya distribusi (pembagian) kekuasaan yang relatif merata dalam masyarakat.

9. Pada umumnya kekuasaan ada yang bersifat politis yang memiliki makna bahwa sumber-sumber itu digunakan dan dilaksanakan untuk masyarakat umum. Adapula kekuasaan yang berbentuk pribadi yang cenderung digunakan untuk kepentingan sebagian kecil masyarakat.

10. Kekuasaan yang beraspek politik adalah penggunaan sumber-sumber untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. (Ramlan Surbakti: 1984).

Dengan demikian maka, pada dasarnya perilaku politik adalah suatu kegiatan atau aktifitas yang dilakukan seseorang baik itu secara indiviu atau kelompok dalam memnuhi hak dan kewajibannya sebagai salah satu dari insan politik yang hidup dalam bermasarakat. Sehingga perlilaku politik ini perlu dikontrol oleh peraturan perundangan agar tidak keluar dari rel peradaban baik manusia. Perilaku politik juga termasuk di dalamnya saling mempengaruhi untuk ketercapaian suatu tujuan politik yang diinginkan.

Bagaimana Perilaku Politik?

Pembentukan Kerangka Berpikir dan Pengembangan Tulisan
Kajian Pustaka dalam suatu artikel ilmiah jangan hanya berupa kutipan, atau bahkan kumpulan kutipan. Mengapa? Kajian Pustaka sesungguhnya sintesis hasil baca penulis dari sekian macam referensi yang diperlukan untuk meneliti atau mengkritisi suatu fenomena yang sedang aktual dibahas dalam konteksnya. Dari sini, muncullah kerangka teori penulis yang kemudian diikuti pemilihan metode penelitian dalam menganalisis atau menyikap suatu fenomena yang menjadi fokus peneliti.

Dalam lingkup masyarakat ilmiah Universitas Indonesia, kegiatan penyusunan berbagai sumber untuk mendukung kerangka konseptual tulisan disebut sintesis (Nugardjito 2004a:1), yaitu “tindakan merangkum berbagai pengertian atau pendapat sehingga merupakan suatu tulisan baru yang mengandung kesatuan yang selaras dengan kebutuhan penulis”. Sementara itu, pada Learning Asistance Centre, the University of Sydney (1998) kegiatan serupa disebut evidence development. Dalam evidence development penulis harus mendukung tesisnya dengan berbagai bukti dari berbagai referensi yang diorganisasikan sedemikian rupa dan logis pengembangannya.

Selain pencarian bukti yang mendukung tesis, kalau memungkinkan dicari pula suatu counter argument dari tesis tulisan. Dari yang kontra ini diharapkan akan menimbulkan dukungan terhadap tesis itu sendiri. Yang harus diingat di sini adalah evidence development bukanlah kumpulan ringkasan dari berbagai hal yang disampaikan penulis/pakar/peneliti yang dipakai sebagai rujukan tulisan yang dikembangkan penulis. Konsep para pakar yang dirujuk itu harus diolah dan disesuaikan dengan keperluan dan dari sudut pandang penulis yang selaras dengan tesis tulisannya. Kalau perlu, materi itu dievaluasi dalam arti mengapa dirujuk dalam penulisan.

Sebagai contoh, di bawah diambilkan paparan dari Essay Module yang biasanya digunakan oleh Learning Assistance Centre the University of Sydney Australia untuk menunjukkan bagaimana evidence development disusun dengan mengambil topik umum tentang alergi. Seorang penulis yang hendak menulis topik tentang REAKSI ALERGI dikaitkan dengan perokok pasif (orang yang tidak merokok tetapi terpajan asap rokok dari orang-orang di sekitarnya) dapat mengumpulkan berbagai sumber penulisan berupa ringkasan hasil penelitian sebagai berikut.

Speer (1968) reported on a group of 441 non-smokers who complained of sneezing, running nose and other respiratory symptoms when exposed to environmental tobacco smoke. He concluded that the reactions were irritative in nature rather than a form of allergy involving the formation of immune antibodies.

Salvagio et al (1981) have found no allergic response even in people who claim to be smoke sensitive and they suggest that the reported sensitivity may be due to psychological factors.

Zussman (1970) reported that expose to tobacco smoke caused a specific form of allergy of the mucosal membrane. He selected a random group of patients from those who had a history of skin sensitivity including some who complained they could not tolerate exposure to tobacco smoke. Most of these patients showed a positive reaction to tobacco leaf extract. He argued that non-smokers exposed to tobacco smoke develop allergy of the nose and allergic conjunctivus and even serious cardiopulmonary diseases.

McDougall and Gliech (1976) found no evidence of tobacco smoke allergens in their tests of 30 subjects who reportedly experienced allergic symptoms on exposure to tobacco or tobacco smoke.

Becker et al (1976) reported the isolation of a large molecular weight from tobacco smoke which the authors claimed to be an allergen. They claimed that this might be responsible for health problems in smokers and non-smokers (1977, 1978).

Ringkasan di atas kemudian dibandingkan dan lalu dibuat tabel untuk melihat persamaan dan perbedaan. Pembuatan tabel ini akan memudahkan analisis karena dikategorikan dalam (1) nama penulis, (2) tahun, (3) tujuan penelitian, (4) sampel penelitian, dan (5) hasil penelitian.

(1) Source (by author) (2)Dates (3) Aim of study topic (4) Study subject(s) (5) Outcomes
Speers 1968 Reason for respiratory effects of tobacco smoke on non-smokers 441 non-smokers responses Reaction was irritative not allergic (no immune antibodies)
Salvaggio et al 1981 Reason for effects of tobacco smoke Sample included smoke sensitive people Reaction not allergic, smoke sensitivity could be psychological
Zussman 1970 Effect of tobacco leaf extract on skin sensitive patients Skin sensitive patients, some also tobacco smoke sensitive Positive reaction to tobacco leaf extract, argued that tobacco smoke causes specific allergy of mucosa membrane, and other allergic reactions in nonsmokers and cardiopulmonary diseases
McDougall and Gliech 1976 Allergic reactions to tobacco smoke 30 subjects who claimed to be allergic to smoke No allergic reactions
Becker et al 1976, 1977, 1978 composition of tobacco smoke Tobacco smoke Isolated large molecular weight molecule, probably allergen, responsible for allergic reactions

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa berdasarkan bukti yang terkumpul, mahasiswa dapat menulis sebuah esai pendek dengan menetapkan tesis sebagai penanda posisinya sebagai penulis, apakah dia setuju bahwa perokok pasif dapat menimbulkan reaksi alergi terhadap asap rokok, atau dia tidak setuju bahwa asap rokok dapat membangkitkan reaksi alergi pada perokok pasif, atau bahkan dia dalam posisi netral. Yang dimasudkan dengan tesis adalah “perumusan singkat yang mengandung tema dasar sebuah tulisan dengan satu gagasan sentral yang menonjol” (Nugardjito 2004b:7; Oshima dan Hogue 1991:78). Berikutnya argumen disusun dalam urutan yang logis untuk menunjang tesis yang dia sampaikan. Esai berdasarkan bukti-bukti di atas jika dipaparkan dalam bahasa Indonesia akan seperti berikut.

ALERGI

1) Meskipun bau dan kepulan asap rokok membuat orang merasa terganggu, bahkan menyebabkan rasa tidak nyaman pada beberapa orang, asap rokok belum diyakini dapat menyebabkan alergi. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengukur akibat asap rokok dan ekstrak daun tembakau terhadap sampel penelitian, tetapi hasilnya masih dipertanyakan.

2) Pada tahun 1968, Speer menyatakan bahwa ketika berada pada lingkungan perokok, sampel sebanyak 441 orang yang non-perokok mengeluh bersin, mengeluarkan cairan dari hidung, dan gejala gangguan pernafasan. Ia menyimpulkan bahwa ketidaknyamanan ini terjadi secara alami daripada bentuk alergi yang melibatkan pembentukan antibodi kekebalan.

3) Akan tetapi, pada studi berikutnya yang dilakukan Zussman (1970), dinyatakan bahwa asap rokok memang menyebabkan reaksi alergi. Zussman memilah secara random dan mendapatkan sampel sekelompok pasien yang berkulit sensitif termasuk beberapa orang yang mengeluhkan tidak tahan terpajan asap rokok. Sebagian pasien ini positif menunjukkan terpengaruhi oleh ekstrak daun tembakau. Zussman berpendapat bahwa non-perokok yang terpajan asap rokok menunjukkan adanya alergi berupa bersin dan konjungtivis (radang selaput bening mata), bahkan penyakit cardiopulmonary (jantung-paru-paru) yang serius. Namun, Taylor (1974) menunjukkan adanya masalah besar dalam menentukan apakah sampel yang bereaksi positif terhadap ekstrak daun tembakau gayut terhadap respon klinis asap rokok. Maksudnya, apakah sampel yang bereaksi positif terhadap ekstrak daun tembakau juga bereaksi positif terhadap asap rokok?

4) Studi tentang unsur pembentuk asap rokok belum dapat memecahkan masalah. Becker dkk. (1976) menemukan isolasi molekul berbobot besar dari asap rokok diakui sebagai penyebab alergi dan mereka menyatakan bahwa reaksi alergi tergantung dari kesehatan para perokok dan non-perokok itu sendiri (1977, 1978). Akan tetapi, teknik pemisahan yang mereka gunakan dikritik oleh berbagai literatur ilmiah terkait (Stedman 1978) dan ini menimbulkan keraguan atas kesahihan hasil penelitian Becker, dkk.

5) Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau McDougall dan Gliech (1976) gagal menemukan bukti bahwa asap rokok merupakan penyebab alergi dalam penelitiannya terhadap sampel sebanyak 30 orang yang dilaporkan mengalami gejala alergi ketika terpajan tembakau atau asap rokok. Salvaggio dkk (1981) menemukan bahwa tidak ada respon alergi bahkan pada orang-orang yang mengaku dirinya sensitif terhadap asap rokok. Mereka menyarankan bahwa laporan yang menyatakan adanya sensitivitas mungkin disebabkan oleh faktor psikologis. Dalam analisisnya mengenai tembakau yang dipertanyakan sebagai penyebab alergi, Taylor (1974) mengingatkan bahwa ‘tidak ada bukti yang menunjukkan sensitivitas khusus dari asap rokok’. Pernyataan ini tetap sahih meskipun kenyataannya asap rokok tetap saja dianggap sebagai penyebab alergi.

Contoh di atas merupakan diskusi penulis dengan dirinya sendiri tentang kecurigaan penulis terhadap asap rokok sebagai penyebab alergi. Ia melakukan eksplorasi studi pustaka beberapa hasil penelitian tentang asap rokok. Berikutnya, ia dapat merumuskan hipotesisnya setelah ditambah studi lainnya.

Yang menarik di sini adalah pembiasaan mendokumentasikan hasil baca referensi agar dapat membantu kelancaran penulisan. Sebaiknya dilakukan pembiasaan membuat ringkasan dari hasil baca, mungkin dengan cara diketik melalui telepon genggam lalu dikirim ke email khusus untuk menampung kutipan hasil baca, atau ringkasan hasil baca. Jika dilakukan secara manual, dapat menyediakan kertas dengan ukuran HVS A4 dibagi empat, kertas-kertas tersebut disimpan dalam boks bekas sepatu baru. Berikutnya, saat usai ditulisi dengan kutipan atau ringkasan hasil baca dengan tulisan tangan, kertas-kerta tersebut disimpan dalam boks. Inilah tabungan kutipan. Tulisan tangan membuat kenangan tersendiri ketika membacanya ulang. Tanggal ditulis perlu dicantumkan agar menjadi sejarah proses penulisan.

Software juga dapat digunakan, misalnya EndNote, Mendeley, atau Zotero. Namun, mungkin terlalu lama jika harus membuka laptop. Atau, lakukanlah hal-hal yang praktis sesuai selera.

# Tulisan ini merupakan salah satu materi dalam kegiatan BIMTEK HAKI tahun 2019
Penulis:
Photo

Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta

Pembentukan Kerangka Berpikir dan Pengembangan Tulisan

Esok Masih Ada Cinta
Hujan terus turun membasahi bumi seakan tak mau berhenti, anginpun ikut berhembus kencang. Di kejauhan sana rumput ilalang bergoyang mengikuti irama angin. Sinar mentari masih dihalangi awan hitam, belum nampak dirinya untuk menerangi bumi yang sedang ku pijak. Saya masih berlindung di teras rumah tua dengan hati yang gundah gulana, menanti hujan berhenti untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang hampir sampai tetapi putus di tengah jalan untuk bebetapa saat.

Dalam kesendirian di tengah hujan deras itu, tiba-tiba muncul sesosok wajah, berjalan dengan anggun di tepi jalan kenangan. Dia begitu anggun, kelopak matanya yang indah, senyumnya yang menawan memikat hati. Rasanya ingin ku gapai, tapi apalah daya, itu hanyalah ilusi masa lalu. Dia terus hadir, terkadang hilang tapi tak jauh, akan muncul kembali untuk beberapa saat.

Dia masih duduk di bawah pohon depan kampus, saya terus menatapnya, hingga suatu ketika dia menyadari itu. Ketika kami sedang bertatapan, dia hanya memberiku senyum yang tak bisa ku lupakan hingga saat ini. Rinduku masih melekat di situ, di suatu masa yang telah pergi jauh.

Kami berdua akhirnya berkenalan, dan mengobrol seadanya dalam pertemuan kedua ketika berada dalam suatu kegiatan kampus. Setelah peristiwa itu, hampir sebulan lamanya saya tak pernah bertemu dengannya. Rasa rindu untuk menatapnya tak pernah padam, wajahnya selalu ada dalam tatapanku, memberiku semangat baru setiap pagi menjelang. Dia begitu istimewa, walau saya belum begitu mengenalnya, tetapi itulah yang saya rasakan.

Hari berlalu dan terus berlalu, hingga suatu ketika dia memanggilku dari kejauhan. Saat itu saya baru keluar dari kelas kuliah.

“Abang…, abang Zaki…”

Suara yang agak kencang tetapi lembut itu membuatku menoleh ke belakang, melihat sesosok wanita dengan jilbab biru tosca, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan. Saya membalas senyum itu sembari berjalanan menghampirinya. Jantungku berdetak beitu kencang, hatiku girang tiada tara, dan sambil membatin,

“Ohh… rinduku”

“hai kejora, apa kabar?, lama kita tidak berjumpa”

Saya membuka percakapan ketika sudah berada di sampingnya.

“Alhamdulillah, baik abang, abang apa kabar?”

“Alhamdulillah baik, kamu kemana saja? Tak pernah kelihatan”

“Kebetulan saya ada studi lapangan, jadinya tidak pernah masuk ke kampus, saya ke sini juga hanya untuk konsultasi dengan pembimbing”

“Studimu tentang apa?”

“Saya sedang meneliti tentang kesiapan masayarakat dalam menghadapi era digital atau istilah kerennya saat ini revolusi industry 4.0 itu”

“Wah, menarik juga penelitianmu kejora”

Kami terus berbincang berbagai hal tentang penelitian yang sedang dia lakukan, kemudian saya mengajaknya untuk mengobrol di sebuah cafe di depan kampus, biar obrolannya lebih asyik.

Sesampainya di sana, kami masih berada dalam topik yang sama. Sepertinya dia serius betul melihat kondisi masyarakat dan perkembangan teknologi yang apakah mampu melahirkan suatu masyarakat yang disebut oleh Anwar Ibrahim sebagai masyarakat madani atau civil society itu.

Saya lebih banyak mendengar cerita dia bertemu dengan masyarakat pinggiran kota yang secara ekonomi belum mampu memilki berbagai alat teknologi mutakhir, dan masih banyak lagi yang dia ceritakan tentang bagaimana masyarakat harus makan di bawah kolom jembatan dan belum mengerti betul cara memanfaatkan berbagai teknologi itu untuk bangkit dan membangun kehidupannya. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah semua elemen bangsa, khususnya pemerintah untuk melakukan upaya-upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena, tanpa pendidikan yang baik maka, semuanya akan lumpuh.

Kami berdua terdiam sesaat sambil menikamati kopi cappuccino yang kami pesan. Saya menyeruput kopi yang hangat, sedangkan dia lebih memilih kopi yang dingin, katanya untuk mendinginkan hatinya yang sedang membara, tetapi pancaran kecantikannya tetap menyejukkan jiwaku.

Ah… rasanya saya ingin berada di sampingnya, menemani dirinya menysuri kota ini, tapi apalah daya, kami berada di fakultas dan jurusan yang berbeda. Dia kuliah di jurusan manajemen informatika, sedangkan saya di keguruan. Setiap hari kami berada di gedung kuliah yang berbeda dan jarang pula bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi saya percaya bahwa “jodoh itu tak akan kemana.” Seandainya dia adalah tulang rusukku maka, kami akan disatukan dalam mahligai cinta.

Bersambung…

Esok Masih Ada Cinta

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?
Sebenarnya ada beberapa Nabi yang ditemani oleh hawariyyun (penolong), seperti Nabi Isa AS, begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki teman perjuangan dalam mendakwahkan ajaran Islam. Mereka ini biasanya dikenal dengan sebutan sahabat bagi kaum Mukminin dan sahabiyah bagi kaum Mukminah. Gelar yang mereka miliki adalah radhiallahu anhu yang artinya semoga Allah ridha atas mereka.

Gelar yang diberikan kepada para sahabat Rasulullah SAW dinisbatkan dari salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu surah at-Taubah ayat 100. "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Kalau dilihat dari segi definisi maka, sahabat adalah siapa saja yang pernah beretemu dan bertatap muka secara langsung dengan Rasulullah SAW kemudian memeluk Islam. Walaupun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pengkategorian siapa saja yang boleh disebut sebagai sahabat Nabi SAW.

Imam Muslim atau nama lengkapnya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang merupakan ulama hadis termasyhur, memberi pengelompokan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi 12 peringkat. Pengelompokon yang diberikan oleh Imam Muslim ini disandarkan kepada peristiwa yang telah mereka alami dan saksikan.

Para sahabat yang masuk dalam golongan pertama ialah mereka yang pertama masuk ke dalam Islam atau dalam istilah bahasa Arab disebut sebagai as-sabiqun al-awwalun, golongan ini diantaranya Abu Bakar as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan sahabat-sahabt lainnya. Golongan yang kedua diberikan kepada para sahabat yang ikut dan tergabung dalam baiat di gedung pertemuan kaum Quraisy pada waktu sebelum islam dan dan awal islam (Dar An-Nadwah). Golongan ketiga diberikan kepada mereka yang hijrah ke wilayah Habasyah. Golongan keempat adalah para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada bukit Aqabah pertama.

Untuk para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada Aqabah kedua dikategorikan ke dalam golongan kelima. Golongan keenam merupakan orang-orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di Quba pada waktu sebelum memasuki wilayah Yatsrib (Madinah) pada saat hijrah. Sahabat yang ada dalam golongan ketujuh adalah mereka yang turut bersama-sama dengan Rasulullah SAW dalam perang badar. Golongan yang dikategorikan berada dalam kelompok yang kedelapan yaitu mereka yang hijrah ke suatu tempat antara Hudaibiyah dan Badar.

Selanjutnya para sahabat yang masuk dalam golongan kesembilah adalah kaum muslimin yang ikut terlibat dalam baiat ar-Ridwan (baiat saat perjanjian Hudaibiyah). Yang kesepuluh merupakan para sahabat yang hijrah antara Hudaibiyah dan al-Fatah pada peristiwa fathu Makkah (penaklukkan Makkah). Para sahabat yang masuk dalam golongan ke sebelas ialah mereka yang berdasarkan urutan masuk Islam, dan yang berada dalam golongan ke sebelas adalah anak-anak dan remaja yang sempat melihat Rasulullah SAW secara langsung pada saat haji wada dan penaklukkan kota Makkah.

Imam Muslim berpendapat bahwa, jumlah para sahabat Rasulullah SAW saat beliau wafat mencapai seratus empat puluh empat ribu. Mereka adalah orang-orang yang secara langsung melihat Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam. Imam Bukhari berpandangan bahwa sahabat Nabi SAW adalah orang Islam yang hidup bersama beliau dan pernah secara langsung melihatnya. Imam Ahmad bin Hambal berpandangan bahwa sahabat merupakan orang yang pernah hidup bersama dengan Nabi SAW, sesaat, hanya melihatnya, sehari, sebulan, setahun dan seterusnya.

Sa'id bin Musayyab yang merupakan pemuka tabi'in mengungkapkan bahwa sahabat merupakan umat Islam yang hidup bersama dengan Nabi SAW satu atau dua tahun dan pernah ikut bersama Rasulullah berperang satu atau dua kali. Sedangkan Ibnu Hajar al-Hairimi memberi definisi sahabat sebagai orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW kemudian menjadi mukmin dan hidup bersama Nabi SAW baik itu dalam waktu yang lama maupun hanya sebentar, baik itu melakukan periwayatan hadis atau tidak, atau pernah melihat Rasulullah walaupun hanya sekali atau tak bisa melihatnya karena dalam keadaan buta namun hidup di zaman Rasulullah SAW masih hidup.

Walaupun terdapat perbedaan pendapat ulama terkait dengan definisi sahabat, namun pada dasarnya hampir mirip saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, baik itu melihat secara langsung atau tidak karena buta, kemudian memeluk Islam dan hidup bersamanya walau sesaat.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW mempunyai peran yang sangat besar dalam mewariskan ajaran agama Islam. Mereka adalah generasi terbaik umat Islam karena secara langsung dapat berhubungan dengan Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam. Ketika terdapat permasalahan-permasalahan dalam persoalan agama, mereka secara langsung dapat bertanya kepada Rasulullah SAW dan kemudian mendapatkan jawaban dan pencerahan dari beliau, atau ketika mereka melakukan ijtihad maka itu berasal dari pemahaman secara murni akan al-Quran dan Hadis.

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?