Menelusuri Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan - Coretanzone -->

    Social Items

Menelusuri Perkembang Islam pada Abad Pertengahan
Perkembangan Islam pada abad pertengahan merupakan kelanjutan dari abad klasik yaitu pada awal Rosulullah saw. diutus oleh Allah swt. sebagai nabi dan pembimbing umat manusia. Setelah Rosulullah saw. wafat kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, Islam semakin berkembang luas di seluruh jazirah arab dan di luar jazirah arab. Perjuangan Islam terus berlanjut hingga pada abad pertengahan Islam dikenal luas dan memberikan banyak kontribusi kepada dunia.

Sekilas tentang Dunia Islam pada Abad Pertengahan


Dalam buku Ensiklopedia Islam, Jilid 2 karangan Ikhtiar Baru Van Hoeven, menjelaskan bahwa sejarah Islam telah melalu tiga periode, yaitu periode klasik pada tahun 650-1250, periode pertengahan pada tahun 1250-1800, dan periode modern pada tahun 1800 hingga saat ini. Pada periode klasik Islam mengalami masa keemasan dan kemajuan, hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya kemajuan Ilmu pengetahuan dan sain, dan adanya integrasi antar wikayah kekuasaan Islam.

Pada Periode pertengahan Islam mulai mengalami masa kemunduran, ditandai dengan tidak adanya keutuhan dalam wilayah kekuasaan Islam dan terpecahnya wilayah-wilayah Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah, diantaranya yaitu:

1. Kerajaan Ottoman di Turki

Kerajaan Ottoman di Turki

Kerajaan ottoman merupakan salah satu kerajaan Islam yang berada di wilayah Turki, kemerdekaannya diproklamirkan oleh Utsman I dari bangsa Turki Utsmani, setelah wafatnya Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk pada tahun 1300 M.

Sebagai seorang proklamator Utsman I kemudian dinobatkan sebagai raja (sultan) pertama dari kerajaan Ottoman, kemudian disusul oleh raja-raja berikutnya. Dinasti Ottoman mengalami kemajuan pada saat pemerintahan Sultan Muhammad II pada tahun 1451-1481. Sultan ini memiliki jasa besar karena telah menyebarkan Islam ke benua Eropa, melalui penaklukan benteng konstantinopel yang merupakan ibu kota Romawi Timur pada tahun 1453 M. Keberhasilan inilah yang menjadikan Sultan Muhammad II dijuliki sebagai Al-Fatih yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah Sang Penakluk.

Setelah masa kejayaan, kemudian kerajaan ottoman mengalami masa keemasan yaitu pada pemerintahan Sultan Sulaeman I pada tahun 1520-1566 M. Sultan Sulaeman diberi gelar sebagai Sulaeman Agung dan Sulaeman Al-Qonuni. Saat pemerintahannya, kerajaan Ottoman mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, yaitu pada wilayah Afrika Utara, Meisr, Hedzjaz, Armenia, Irak, Krimea, Asia Kecil, Yunani, Balkan, Bosnia, Bulgaria, Rumania, Hongaria, sampai ke batas sungai dabude dengan tiga lautan, yaitu laut tengah, laut merah dan laut hitam.

Perjalanan pemerintahannya mengalami begitu banyak kemajuan, namun setelah Sulaeman Agung meninggal dunia, kerajaan Ottoman turki kemudian mengalami kemunduran, satu persatu wilayah kekuasaannya melepas diri dan membentuk pemerintahannya sendiri.

2. Kerajaan Mughal di India

Penyebarluasan agama Islam di India dibagi menjadi empat periode, yaitu periode sebelum kerajaan Mughal pada tahun 705-1526 M, periode Mughal pada tahun 1526-1856 M, periode masa penjajahan Inggris pada tahun 1858-1947 M, dan periode negara India sekuler yaitu pada tahun 1947 sampai sekarang.

Kerajaan mughal didirakn oleh keturunan dari Jengiz Khan bangsa Mongol yaitu Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun 1526 M. Kerajaan Mughal beribukota di Delhi (India).

Selama kerajaan Mughal berdiri diperintah oleh 15 orang sultan secara silih berganti yang dimulai dari sultan Zahiruddin Muhammad Babur 1526-1530 M, hingga sultan terakhir Mughal yaitu Sultan Bahadur Syah II pada tahun 1837-1858 M. Pada masa pemerintahan Sultan Akbar Syah I (1556-1605 M) kerajaan mughal mencapai masa kejayaan. Kemudian dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya yaitu Jahangir atau Nuruddin Muhammad Jahangir pada tahun 1605-1627 M, Syah Jihan pada tahun 1627-1658 M, dan Aurangzeb dan Alamgir I pada tahun 1658-1707 M.

Dinasti Mughal Agung

Dalam perjalanannya Dinasti Mughal memiliki wilayah kekuasaan meliputi Kabul, Lahore, Multan, Delhi, Oud, Agra, Allahabad, Gujarat, Ajmer, Bihar, Melwa, Khandes, Bengal, Ahmad Nagar, Berar, Khasmir, Ousra, Galkanda, Bajipur, Tajore, dan Trichinopoli.

3. Kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran)

Kekuasaan umat Islam di persia sudah ada sejak tahun 641 M, kemudian bangsa persia yang awalnya beragama Zoroaster berbondong-bondong masuk Islam. Dinasti Islam silih berganti memerintah persia hingga bangsa Mongol merebutnya pada abad ke 12 M. Selama sekitar tiga abad bangsa mongol menguasai wilayah persia sampai pada tahun 1501 M muncul dinasti baru yaitu kerajaan safawi.

Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi atau Ismail I pada tahun 907 H (1501 M) di Tibriz. Sultan Ismail I berkuasa mulai tahun 1501 sampai 1524 M, dengan wilayah kekuasaan pada sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Utsamani di Turki, dan pada sebelah timur berbatasan dengan kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan ini merupakan tiga kerajaan besar pada abad pertengahan.

Setelah pemerintahan Syah Ismail Syafawi berakhir, kerajaan safawi secara silih berganti diperintah oleh 17 sultan. Sultan terakhir kerajaan ini bernama Sultan Muhammad.

Masa puncak kejayaan Dinasti Safawi ketika diperintah oleh Syah Abas pada tahun 1585-1628 M. Sultan Syah Abas berjasa mempersatukan seluruh persia, mengusir portugis dari kepulauan Hormuz, dan pelabuhan Gumran diubah namanya namanya menjadi Bandar Abbas, nama itu bertahan hingga saat ini. Beliau juga memindahkan ibu kota kerajaan yang awalnya berada di Qizwan kemudian dipindahkan ke Isfahan.

Setelah masa pemerintahan sultan Syah Abas berakhir, kedudukan kerajaan safawi menjadi lemah di bawah pemerintahan sultan-sultan berikutnya. Kelemahan ini disebabkan karena adanya perebutan kekuasaan dan penyebab lainnya.

Setelah dinasti Syafawi runtuh, persia selanjutnya diperintah oleh dua dinasti yaitu; Dinasti Zand pada tahun 1759-1794 M, Dinasti Pahlevi pada tahun 1925-1979. Setelah mengalami berbagai gejolak dalam pemerintahan hingga pada tanggal 11 februari 1979 terjadi revolusi Iran yang dipimpin oleh Ulama ternama yaitu Ayatullah Komeini (1900-1989 M). Sistem kerajaan yang telah ribuan tahun berkuasa kemudian digantikan dengan sistem republik (demokrasi) dengan nama "Jumhuri-ye Eslami-ye Iran" atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Republik Islam Iran.

Setelah Dunia Islam mengalami perpecahan di berbagai wilayah, Dunia eropa mulai mengalami penguatan dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah mereka pelajari dari Islam. Ilmu dan pengetahuan itu mereka kembangkan kemudian digunakan untuk melemahkan wilayah-wilayah Islam yang sudah melemah. Penjajahan dilakukan dimana-mana untuk merebut kekuasaan dengan tiga tujuan utama yaitu Gold, Glory dan Gospel. Kemudian mereka melakukan monopoli dibidang ekonomi dengan merebut pusat-pusat perdagangan yang awalnya dikuasai oleh umat Islam.

Pusat-pusat perdagangan itu seperti Kota Goa di pantai barat India pada tahun 1510 M dan dijadikan sebagai benteng pangkalan untuk menyaingi perdagangan Umat Islam dengan Afrika Timur. Pelabuhan Malaka pada tahun 1511 M dikuasai dan dijadikan sebagai benteng pangkalan untuk menyaingi perdagangan umat Islam di luar Nusantara dengan Nusantara. Pada akhirnya umat Islam mengalami kemunduran dan kelemahan di bidang politik, ilmu pengetahuan, perekonomian dan kebudayaan.

Perkembangan Ajaran Islam pada Abad Pertengahan


Pada Abad pertengahan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat, walaupun tidak bisa menandingi abad klasik yang perkembangannya sangat pesat.

Di India misalnya, Kerajaan Mughal telah melakukan berbagai usaha dalam dakwah dan pendidikan Islam yaitu dengan berdirinya lembaga pendidikan madrasah dan masjid-masjid. Di madrasah-madrasah yang dibangun diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti tafsir, Ilmu hadist, dan Ilmu fiqih sebgai mata pelajaran pokok.

Sebagian ulama India telah menyusun sebuah kitab yang berisi kumpulan fatwa mazhab hanafi kemudian dicetak dengan empat jilid besar. Kitab yang diberi judul Al-Fatawa Al-Hindiyyah ini disusun atas dasar permintaan penguasan mughal yaitu Sultan Abu Al-Muzaffar Muhyiddin Aurangzeb (Alamgir I : 1658-1707 M), sehingga kemudian kitab ini dikenal dengan sebutan Al-Fatawa Al-Alamgariyah.

Selain kerajaan Mughal, pada dinasti Mamluk saat berkuasa di Mesir pada tahun 1250-1517 M, telah muncul beberapa ulama besar antara lain Ibnu Hajar Al-Asqalani (1375-1449 M) dan Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Ibnu Hajar Al-Asqalani selain sebagai ulama ternama, beliau juga sebagai dosen, guru besar, pimpinan akademik, mufti, hakim, penulis dan khatib. Beliau menulis beberapa karya besar diantaranya berjudul Fath Al-Bari fi Syarh Al-Bukhari yang terdiri dari 13 jilid, dan Bulug Al-Maram Min Adillah Al-Ahkam. Sedangkan Ibnu Khaldun terkenal sebagai sejarawan, dan bapak sosiologi Islam. Kitab Karangannya yang paling terkenal adalah Al-Ibar yang terdiri dari 7 jilid.

Selain kedua ulama di atas masih banyak ulama-ulama besar lainnya yang lahir pada abad pertengahan. Diantaranya seperti Jalaluddin Al-Mahalli di Mesir (791-964 H) dan Jalaluddin As-Suyuti (849-911 H) yang mengarang Kitab Jalalain yang terdiri dari dua jilid. Ibnu Katsir di Bosyra pada tahun 700 H/1300 M - Damaskus pada tahun 774 H/1373 M, beliau menulis Tafsir Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari empat jilid. Imam An-Nawawi di Damaskus pada tahun 631 H/1233 M-676 H/1277 M, beliau mengarang kitab hadist Riyadh As-Salihin. Selain itu imam An-Nawawi juga menyusun kitab fiqih mazhab Syafi'i dengan judul Minhaj At-Talibin. Imam An-Nawai wafat pada tahun 1277 M. Sudah banyak kitab-kitab karangan ulama-ulama abad pertengahan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Abad Pertengahan


Beberapa wilayah kekuasaan Islam di abad pertengahan telah mengalami perkembangan Ilmu pengetahuan, walaupun tidak bisa melebihi kejayaan daulah Abasiyyah dan tidak dapat menyaingi bangsa Eropa. Di India misalnya selain pelajaran agama seperti yang tersebut di atas, di sekolah-sekolah diajarkan juga ilmu pengetahuan umum seperti ilmu filsafat, logika, geografi, geometri, matematika, politik dan sejarah. Pada masa pemerintahan sultan Syah Jehan dan Aurangzeb, telah dibangun sekolah-sekolah tinggi, selain pengajaran di sueknon. Di agra pada tahun 1642 M, perpustakaannya telah memiliki 24.000 judul buku dari berbagai disiplin ilmu.

Pada masa dinasti Mamluk berkuasa di Mesir, telah muncul cendikiawan muslim diantaranya seperti; Ibnu Abi Usaibiah penulis buku Uyun Al-Anba fi Tabaqat At-Tibaa yang artinya penyampai Informasi dalam tingkatan para dokter. Abu Al-Fida, Ibnu Tagri Badri At-Tabaki, dan Al-Maqrizi, mereka berdua terkenal sebagai penulis sejarah kedokteran. Abu Hasan Ali Nafis (wafat 1288 M) merupakan kepala rumah sakit Qiro yang menemukan susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, tiga abad lebih dulu dibandingkan dengan Servetus asal portugis. Nasiruddin At-Tusi (1201-1274 M) merupakan seorang ahli observatorium dan Abu Faraj Tabari (1226-1274 M) merupakan seorang ahli matematika.

Selain ilmuan-ilmuan Islam di atas masih banyak ilmuan-ilmuan Islam lain yang mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti ahli ilmu Geografi yang bernama Ibnu Batutah (703-779 H), beliau merupakan pengembara Muslim yang telah mengelilingi dunia termasuk pernah singgah sebanyak dua kali di Samudra Pasai (sekarang Aceh). Buku yang pernah beliau susun adalah berjudul Rihlah Ibnu Batutah, yaitu berisi tentang perjalanan Ibnu Batutah dalam mengelilingi dunia. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Untuk diketahui bahwa pada abad pertengahan pernah disusun kitab Mausu'at yang berisi tentang kumpulan berbagai Ilmu pengetahuan yang kemudian di saat sekarang ini disebut sebagai ensiklopedia. Cendikiawan muslim yang pernah menyusun buku ini adalah An-Nuwairy, Ibnu Fadlullah, dan Jalaluddin As-Suyuti.

Perkembangan Kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan


Selain ajaran Islam dan ilmu pengetahuan, pada abad pertengahan berkembang pula kebudayaan islam seperti arsitektur dan seni sastra.

1. Arsitektur


Taj Mahal

Dari segi bahasa, kata arsitektur berasal dari bahasa yunani yaitu architektur yang terdiri dari dua suku kata yakni arche dan tektoo. Arche memiliki arti asli, awal dan otentik, sedangkan tektoo berarti berdiri stabil dan kokoh.

Dalam Islam arsitektur merupakan ilmu sekaligus sebagai seni dalam merancang bangunan atau struktur lain yang fungsional. Dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam yang berawal dari pengakuan akan keesaan Allah swt. sebagai sang pencipta. Arsitektur Islam dapat ditemukan pada banunan masjid, istana, dan makam.

Pada masa kejayaan Dinasti Safawi dibangun masjid Syah di kota Isfahan, masjid itu sekarang disebut sebagai masjid Imam. Dibangun pula masjid Syah Lutfullah, Istana Cebil Sutun (empat puluh tiang), menara-menara goyang, dan jembatan khaju. Karena Indahnya kota isfahan, maka orang iran menyebut kota ini sebagai Isfahan Nisfe Jahan yang artinya Isfahan kota setengah dunia.

Selain itu di kota Masyhad dibangun pula makam Imam Ali Ar-Rida, dan Masjid Imam Reza yang luas dan megah dengan arsitektur Islam yang berkualitas tinggi. Kubah Masjid ini dihiasi dengan ratusan kilogram emas murni. Di kota tua Qum yang berjarak 150 km dari Teheran, terdapat makam Hazrat Fatimah Ma'sumah saudara kandung Imam Ali Ar-Rida, yang tidak sunyi dari peziarah yang berasal dari persia maupun peziarah yang berasal dari negara tetangga seperti Pakistan, Afganistan, dan Irak.

Kerajaan Mughal di India pada masa kejayaannya juga mendirikan bangunan-bangunan yang megah dan indah dengan arsitektur yang mengagumkan, seperti istana di Delhi dan Lahore, masjid jami di Aunfur yang dibangun antara tahun 1438-1478 M, yang meniru bangunan dinasti Timurid. Benteng Merah, Char Minar (empat menara) yang dibangun tahun 1591 M, di Hyderabad, bangunan ini bercorak Islam dan Hindu, dan bangunan-banunan makam yang mengagumkan seperti Taj Mahal yang dibangun oleh Syah Jehan selama 12 tahun (1631-1643 M) yang di dalamnya disemayamkan Istrinya yang bernama Arjumand. Bangunan ini dikerjakan oleh arsitektur-arsitektur ternama yang berasal dari Iran, Arab, dan Turki, sedangkan yang menggambar rancangan bangunan sekaligus sebagai pengawas dalam pembangunannya adalah Ustad Isa Irani.

Pada masa keemasan kerajaan Ottoman di Turki, telah dibangun masjid-masjid dengan gaya arsitektur tinggi dan menawan. Masjid Sulaeman yang di masanya merupakan masjid terindah di Turki, Masjid Bayazid, Masjid Abu Ayub Al-Anshari yang terletak di sebelah masjid Aya Sopia. Bangunan masjid-masjid ini dihiasi dengan kaligrafi sehingga menambah nilai estetikanya.

Selian itu, di turki juga pada abad pertengahan dibangun juga gedung sekolah, rumah sakit, jembatan, saluran air, pemandian umum, tempat peristirahatan, dan makam. Pembangunan bangunan di turki ditangani langsung oleh arsitek terkenal di masanya yaitu Sinan Pasya.

Pada abad pertengahan, di Nusantara juga telah didirikan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Islam yaitu masjid, istana dan makam. Diantara masjid-masjid yang diangun adalah Masjid Agung Demak, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Kudus, Masjid Agung Cirebon, Masjid Sultan Abdurrahman di Pontianak Kalimantan Barat, dan Masjid Agung Keraton Buton di Bau-bau Sulawesi Tenggara.

2. Seni Sastra

Sebagai bagian dari kebudayaan seni sastra hidup dan berkembang pula pada abad pertengahan di berbagai wilayah kerajaan dan wilayah Islam seperti; Turki, Persia, India, Irak, dan Nusantara.

Banyak sekali sastrawan-sastrawan muslim yang hidup dan melahirkan karyanya di abad pertengahan diantara mereka yang dapat penulis tulis di sini adalah.

Fariduddin Al-Attar (1119-1230 M)

Sastrawan Muslin yang satu ini lahir di Nisabur yaitu wilayah timur laut Persia. Semasa hidupnya Al-Attar mengembara ke berbagai wilayah Islam, seperti India, Mesir, Hejaz, dan Asia Tengah. Setelah lamanya mengembara, beliau pulang ke tanah kelahirannya kemudian menulis puisi dan menyusun petuah-petuah sufi selama 39 tahun. Karyanya yang paling terkenal adalah Mantiq At-Tair yang artinya Musyawarah Burung yaitu sebuah sajak alegori yang mengisahkan pengalaman religius kaum sufi. Karya Fariduddin Al-Attar lainnya adalah Tazkiratul Auliya, buku ini disusun dalam bentuk prosa untuk mnegenang para sufi pendahulunya.

Jalaluddin Ar-Rumi (1207-1273 M)

Jalaluddin Ar-Rumi

Sastrawan termahsur di zamannya hingga saat ini lahir di Afganistan pada tahun dan wafat di turki. Beliau merupakan salah satu keturunan dari sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a. Karena kemahsurannya dalam dunia sastra maka beliau mendapat gelar sebagai Maulana yang artinya tuan kami. Karya yang pernah beliau tulis antara lain adalah; (a) Diwan Syams-i Tabriz, merupakan kumpulan puisi yang terdiri atas 33.000 bait, semuanya berbentuk gazal sufi. (b) Masnawi, kitab ini berisi 26.660 bait yang terdiri dari 6 jilid, berisi tentang akar-akar agama dan penemuan kegaiban-kegaiban alam dan pengetahuan ketuhanan. Kitab puisi ini diselesaikan selama 10 tahun.

Sya'adi Syiraz (antara tahun 1291 dan 1295 M)

Sastrawan Islam yang satu ini merupakan orang persia yang karya tulisnya berjudul Bustan yang dalam bahasa Indonesia artinya Kebun Buah dan Gulistan yang artinya Kebun Bunga. Gulistan ditulis dalam bentuk prosa yang berisi nasihat, kata-kata mutiara, nasihat, renungan pribadi yang berisi selingan puisi anekdot, humor dan nasehat.

Fuzuli (wafat sekitar tahun 1556 M)

Karya yang paling terkenal oleh Fuzuli adalah Shikeyetname yang artinya pengaduan. Karyanya ini berbentuk puisi dengan pesan-pesan yang sangat mendalam. Fuzuli merupakan salah satu penyair terkenal dalam sejarah sastra Islam. Beliau tinggal di Irak.

Pada abad pertengahan di Nusantara lahir pula sastrawan-sastrawan Muslim seperti di sumatra ada Hamzah Fansuri pada akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17, Syamsudin Pasai (1630 M), dan Nuruddin Ar-Raniri yang wafat pada 1658 M. Di Jawa seperti sunan Kali Jaga, Sunan Panggung, Ki Ageng Selo, Sunan Bonang. Karya sastra mereka pada umumnya berisi tentang nasehat-nasehat agama.

Dunia Islam pada abad pertengahan bukan saja melahirkan kebudayaan berupa Arsitektur dan Seni sastra saja, tetapi juga terdapat seni lainnya, seperti musik, seni lukis, seni tarik suara, seni tari, seni pahat, seni kaligrafi dan seni lainnya.

Menelusuri Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan

Menelusuri Perkembang Islam pada Abad Pertengahan
Perkembangan Islam pada abad pertengahan merupakan kelanjutan dari abad klasik yaitu pada awal Rosulullah saw. diutus oleh Allah swt. sebagai nabi dan pembimbing umat manusia. Setelah Rosulullah saw. wafat kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, Islam semakin berkembang luas di seluruh jazirah arab dan di luar jazirah arab. Perjuangan Islam terus berlanjut hingga pada abad pertengahan Islam dikenal luas dan memberikan banyak kontribusi kepada dunia.

Sekilas tentang Dunia Islam pada Abad Pertengahan


Dalam buku Ensiklopedia Islam, Jilid 2 karangan Ikhtiar Baru Van Hoeven, menjelaskan bahwa sejarah Islam telah melalu tiga periode, yaitu periode klasik pada tahun 650-1250, periode pertengahan pada tahun 1250-1800, dan periode modern pada tahun 1800 hingga saat ini. Pada periode klasik Islam mengalami masa keemasan dan kemajuan, hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya kemajuan Ilmu pengetahuan dan sain, dan adanya integrasi antar wikayah kekuasaan Islam.

Pada Periode pertengahan Islam mulai mengalami masa kemunduran, ditandai dengan tidak adanya keutuhan dalam wilayah kekuasaan Islam dan terpecahnya wilayah-wilayah Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah, diantaranya yaitu:

1. Kerajaan Ottoman di Turki

Kerajaan Ottoman di Turki

Kerajaan ottoman merupakan salah satu kerajaan Islam yang berada di wilayah Turki, kemerdekaannya diproklamirkan oleh Utsman I dari bangsa Turki Utsmani, setelah wafatnya Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk pada tahun 1300 M.

Sebagai seorang proklamator Utsman I kemudian dinobatkan sebagai raja (sultan) pertama dari kerajaan Ottoman, kemudian disusul oleh raja-raja berikutnya. Dinasti Ottoman mengalami kemajuan pada saat pemerintahan Sultan Muhammad II pada tahun 1451-1481. Sultan ini memiliki jasa besar karena telah menyebarkan Islam ke benua Eropa, melalui penaklukan benteng konstantinopel yang merupakan ibu kota Romawi Timur pada tahun 1453 M. Keberhasilan inilah yang menjadikan Sultan Muhammad II dijuliki sebagai Al-Fatih yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah Sang Penakluk.

Setelah masa kejayaan, kemudian kerajaan ottoman mengalami masa keemasan yaitu pada pemerintahan Sultan Sulaeman I pada tahun 1520-1566 M. Sultan Sulaeman diberi gelar sebagai Sulaeman Agung dan Sulaeman Al-Qonuni. Saat pemerintahannya, kerajaan Ottoman mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, yaitu pada wilayah Afrika Utara, Meisr, Hedzjaz, Armenia, Irak, Krimea, Asia Kecil, Yunani, Balkan, Bosnia, Bulgaria, Rumania, Hongaria, sampai ke batas sungai dabude dengan tiga lautan, yaitu laut tengah, laut merah dan laut hitam.

Perjalanan pemerintahannya mengalami begitu banyak kemajuan, namun setelah Sulaeman Agung meninggal dunia, kerajaan Ottoman turki kemudian mengalami kemunduran, satu persatu wilayah kekuasaannya melepas diri dan membentuk pemerintahannya sendiri.

2. Kerajaan Mughal di India

Penyebarluasan agama Islam di India dibagi menjadi empat periode, yaitu periode sebelum kerajaan Mughal pada tahun 705-1526 M, periode Mughal pada tahun 1526-1856 M, periode masa penjajahan Inggris pada tahun 1858-1947 M, dan periode negara India sekuler yaitu pada tahun 1947 sampai sekarang.

Kerajaan mughal didirakn oleh keturunan dari Jengiz Khan bangsa Mongol yaitu Zahiruddin Muhammad Babur pada tahun 1526 M. Kerajaan Mughal beribukota di Delhi (India).

Selama kerajaan Mughal berdiri diperintah oleh 15 orang sultan secara silih berganti yang dimulai dari sultan Zahiruddin Muhammad Babur 1526-1530 M, hingga sultan terakhir Mughal yaitu Sultan Bahadur Syah II pada tahun 1837-1858 M. Pada masa pemerintahan Sultan Akbar Syah I (1556-1605 M) kerajaan mughal mencapai masa kejayaan. Kemudian dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya yaitu Jahangir atau Nuruddin Muhammad Jahangir pada tahun 1605-1627 M, Syah Jihan pada tahun 1627-1658 M, dan Aurangzeb dan Alamgir I pada tahun 1658-1707 M.

Dinasti Mughal Agung

Dalam perjalanannya Dinasti Mughal memiliki wilayah kekuasaan meliputi Kabul, Lahore, Multan, Delhi, Oud, Agra, Allahabad, Gujarat, Ajmer, Bihar, Melwa, Khandes, Bengal, Ahmad Nagar, Berar, Khasmir, Ousra, Galkanda, Bajipur, Tajore, dan Trichinopoli.

3. Kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran)

Kekuasaan umat Islam di persia sudah ada sejak tahun 641 M, kemudian bangsa persia yang awalnya beragama Zoroaster berbondong-bondong masuk Islam. Dinasti Islam silih berganti memerintah persia hingga bangsa Mongol merebutnya pada abad ke 12 M. Selama sekitar tiga abad bangsa mongol menguasai wilayah persia sampai pada tahun 1501 M muncul dinasti baru yaitu kerajaan safawi.

Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi atau Ismail I pada tahun 907 H (1501 M) di Tibriz. Sultan Ismail I berkuasa mulai tahun 1501 sampai 1524 M, dengan wilayah kekuasaan pada sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Utsamani di Turki, dan pada sebelah timur berbatasan dengan kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan ini merupakan tiga kerajaan besar pada abad pertengahan.

Setelah pemerintahan Syah Ismail Syafawi berakhir, kerajaan safawi secara silih berganti diperintah oleh 17 sultan. Sultan terakhir kerajaan ini bernama Sultan Muhammad.

Masa puncak kejayaan Dinasti Safawi ketika diperintah oleh Syah Abas pada tahun 1585-1628 M. Sultan Syah Abas berjasa mempersatukan seluruh persia, mengusir portugis dari kepulauan Hormuz, dan pelabuhan Gumran diubah namanya namanya menjadi Bandar Abbas, nama itu bertahan hingga saat ini. Beliau juga memindahkan ibu kota kerajaan yang awalnya berada di Qizwan kemudian dipindahkan ke Isfahan.

Setelah masa pemerintahan sultan Syah Abas berakhir, kedudukan kerajaan safawi menjadi lemah di bawah pemerintahan sultan-sultan berikutnya. Kelemahan ini disebabkan karena adanya perebutan kekuasaan dan penyebab lainnya.

Setelah dinasti Syafawi runtuh, persia selanjutnya diperintah oleh dua dinasti yaitu; Dinasti Zand pada tahun 1759-1794 M, Dinasti Pahlevi pada tahun 1925-1979. Setelah mengalami berbagai gejolak dalam pemerintahan hingga pada tanggal 11 februari 1979 terjadi revolusi Iran yang dipimpin oleh Ulama ternama yaitu Ayatullah Komeini (1900-1989 M). Sistem kerajaan yang telah ribuan tahun berkuasa kemudian digantikan dengan sistem republik (demokrasi) dengan nama "Jumhuri-ye Eslami-ye Iran" atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Republik Islam Iran.

Setelah Dunia Islam mengalami perpecahan di berbagai wilayah, Dunia eropa mulai mengalami penguatan dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah mereka pelajari dari Islam. Ilmu dan pengetahuan itu mereka kembangkan kemudian digunakan untuk melemahkan wilayah-wilayah Islam yang sudah melemah. Penjajahan dilakukan dimana-mana untuk merebut kekuasaan dengan tiga tujuan utama yaitu Gold, Glory dan Gospel. Kemudian mereka melakukan monopoli dibidang ekonomi dengan merebut pusat-pusat perdagangan yang awalnya dikuasai oleh umat Islam.

Pusat-pusat perdagangan itu seperti Kota Goa di pantai barat India pada tahun 1510 M dan dijadikan sebagai benteng pangkalan untuk menyaingi perdagangan Umat Islam dengan Afrika Timur. Pelabuhan Malaka pada tahun 1511 M dikuasai dan dijadikan sebagai benteng pangkalan untuk menyaingi perdagangan umat Islam di luar Nusantara dengan Nusantara. Pada akhirnya umat Islam mengalami kemunduran dan kelemahan di bidang politik, ilmu pengetahuan, perekonomian dan kebudayaan.

Perkembangan Ajaran Islam pada Abad Pertengahan


Pada Abad pertengahan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat, walaupun tidak bisa menandingi abad klasik yang perkembangannya sangat pesat.

Di India misalnya, Kerajaan Mughal telah melakukan berbagai usaha dalam dakwah dan pendidikan Islam yaitu dengan berdirinya lembaga pendidikan madrasah dan masjid-masjid. Di madrasah-madrasah yang dibangun diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti tafsir, Ilmu hadist, dan Ilmu fiqih sebgai mata pelajaran pokok.

Sebagian ulama India telah menyusun sebuah kitab yang berisi kumpulan fatwa mazhab hanafi kemudian dicetak dengan empat jilid besar. Kitab yang diberi judul Al-Fatawa Al-Hindiyyah ini disusun atas dasar permintaan penguasan mughal yaitu Sultan Abu Al-Muzaffar Muhyiddin Aurangzeb (Alamgir I : 1658-1707 M), sehingga kemudian kitab ini dikenal dengan sebutan Al-Fatawa Al-Alamgariyah.

Selain kerajaan Mughal, pada dinasti Mamluk saat berkuasa di Mesir pada tahun 1250-1517 M, telah muncul beberapa ulama besar antara lain Ibnu Hajar Al-Asqalani (1375-1449 M) dan Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Ibnu Hajar Al-Asqalani selain sebagai ulama ternama, beliau juga sebagai dosen, guru besar, pimpinan akademik, mufti, hakim, penulis dan khatib. Beliau menulis beberapa karya besar diantaranya berjudul Fath Al-Bari fi Syarh Al-Bukhari yang terdiri dari 13 jilid, dan Bulug Al-Maram Min Adillah Al-Ahkam. Sedangkan Ibnu Khaldun terkenal sebagai sejarawan, dan bapak sosiologi Islam. Kitab Karangannya yang paling terkenal adalah Al-Ibar yang terdiri dari 7 jilid.

Selain kedua ulama di atas masih banyak ulama-ulama besar lainnya yang lahir pada abad pertengahan. Diantaranya seperti Jalaluddin Al-Mahalli di Mesir (791-964 H) dan Jalaluddin As-Suyuti (849-911 H) yang mengarang Kitab Jalalain yang terdiri dari dua jilid. Ibnu Katsir di Bosyra pada tahun 700 H/1300 M - Damaskus pada tahun 774 H/1373 M, beliau menulis Tafsir Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari empat jilid. Imam An-Nawawi di Damaskus pada tahun 631 H/1233 M-676 H/1277 M, beliau mengarang kitab hadist Riyadh As-Salihin. Selain itu imam An-Nawawi juga menyusun kitab fiqih mazhab Syafi'i dengan judul Minhaj At-Talibin. Imam An-Nawai wafat pada tahun 1277 M. Sudah banyak kitab-kitab karangan ulama-ulama abad pertengahan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Abad Pertengahan


Beberapa wilayah kekuasaan Islam di abad pertengahan telah mengalami perkembangan Ilmu pengetahuan, walaupun tidak bisa melebihi kejayaan daulah Abasiyyah dan tidak dapat menyaingi bangsa Eropa. Di India misalnya selain pelajaran agama seperti yang tersebut di atas, di sekolah-sekolah diajarkan juga ilmu pengetahuan umum seperti ilmu filsafat, logika, geografi, geometri, matematika, politik dan sejarah. Pada masa pemerintahan sultan Syah Jehan dan Aurangzeb, telah dibangun sekolah-sekolah tinggi, selain pengajaran di sueknon. Di agra pada tahun 1642 M, perpustakaannya telah memiliki 24.000 judul buku dari berbagai disiplin ilmu.

Pada masa dinasti Mamluk berkuasa di Mesir, telah muncul cendikiawan muslim diantaranya seperti; Ibnu Abi Usaibiah penulis buku Uyun Al-Anba fi Tabaqat At-Tibaa yang artinya penyampai Informasi dalam tingkatan para dokter. Abu Al-Fida, Ibnu Tagri Badri At-Tabaki, dan Al-Maqrizi, mereka berdua terkenal sebagai penulis sejarah kedokteran. Abu Hasan Ali Nafis (wafat 1288 M) merupakan kepala rumah sakit Qiro yang menemukan susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, tiga abad lebih dulu dibandingkan dengan Servetus asal portugis. Nasiruddin At-Tusi (1201-1274 M) merupakan seorang ahli observatorium dan Abu Faraj Tabari (1226-1274 M) merupakan seorang ahli matematika.

Selain ilmuan-ilmuan Islam di atas masih banyak ilmuan-ilmuan Islam lain yang mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti ahli ilmu Geografi yang bernama Ibnu Batutah (703-779 H), beliau merupakan pengembara Muslim yang telah mengelilingi dunia termasuk pernah singgah sebanyak dua kali di Samudra Pasai (sekarang Aceh). Buku yang pernah beliau susun adalah berjudul Rihlah Ibnu Batutah, yaitu berisi tentang perjalanan Ibnu Batutah dalam mengelilingi dunia. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Untuk diketahui bahwa pada abad pertengahan pernah disusun kitab Mausu'at yang berisi tentang kumpulan berbagai Ilmu pengetahuan yang kemudian di saat sekarang ini disebut sebagai ensiklopedia. Cendikiawan muslim yang pernah menyusun buku ini adalah An-Nuwairy, Ibnu Fadlullah, dan Jalaluddin As-Suyuti.

Perkembangan Kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan


Selain ajaran Islam dan ilmu pengetahuan, pada abad pertengahan berkembang pula kebudayaan islam seperti arsitektur dan seni sastra.

1. Arsitektur


Taj Mahal

Dari segi bahasa, kata arsitektur berasal dari bahasa yunani yaitu architektur yang terdiri dari dua suku kata yakni arche dan tektoo. Arche memiliki arti asli, awal dan otentik, sedangkan tektoo berarti berdiri stabil dan kokoh.

Dalam Islam arsitektur merupakan ilmu sekaligus sebagai seni dalam merancang bangunan atau struktur lain yang fungsional. Dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam yang berawal dari pengakuan akan keesaan Allah swt. sebagai sang pencipta. Arsitektur Islam dapat ditemukan pada banunan masjid, istana, dan makam.

Pada masa kejayaan Dinasti Safawi dibangun masjid Syah di kota Isfahan, masjid itu sekarang disebut sebagai masjid Imam. Dibangun pula masjid Syah Lutfullah, Istana Cebil Sutun (empat puluh tiang), menara-menara goyang, dan jembatan khaju. Karena Indahnya kota isfahan, maka orang iran menyebut kota ini sebagai Isfahan Nisfe Jahan yang artinya Isfahan kota setengah dunia.

Selain itu di kota Masyhad dibangun pula makam Imam Ali Ar-Rida, dan Masjid Imam Reza yang luas dan megah dengan arsitektur Islam yang berkualitas tinggi. Kubah Masjid ini dihiasi dengan ratusan kilogram emas murni. Di kota tua Qum yang berjarak 150 km dari Teheran, terdapat makam Hazrat Fatimah Ma'sumah saudara kandung Imam Ali Ar-Rida, yang tidak sunyi dari peziarah yang berasal dari persia maupun peziarah yang berasal dari negara tetangga seperti Pakistan, Afganistan, dan Irak.

Kerajaan Mughal di India pada masa kejayaannya juga mendirikan bangunan-bangunan yang megah dan indah dengan arsitektur yang mengagumkan, seperti istana di Delhi dan Lahore, masjid jami di Aunfur yang dibangun antara tahun 1438-1478 M, yang meniru bangunan dinasti Timurid. Benteng Merah, Char Minar (empat menara) yang dibangun tahun 1591 M, di Hyderabad, bangunan ini bercorak Islam dan Hindu, dan bangunan-banunan makam yang mengagumkan seperti Taj Mahal yang dibangun oleh Syah Jehan selama 12 tahun (1631-1643 M) yang di dalamnya disemayamkan Istrinya yang bernama Arjumand. Bangunan ini dikerjakan oleh arsitektur-arsitektur ternama yang berasal dari Iran, Arab, dan Turki, sedangkan yang menggambar rancangan bangunan sekaligus sebagai pengawas dalam pembangunannya adalah Ustad Isa Irani.

Pada masa keemasan kerajaan Ottoman di Turki, telah dibangun masjid-masjid dengan gaya arsitektur tinggi dan menawan. Masjid Sulaeman yang di masanya merupakan masjid terindah di Turki, Masjid Bayazid, Masjid Abu Ayub Al-Anshari yang terletak di sebelah masjid Aya Sopia. Bangunan masjid-masjid ini dihiasi dengan kaligrafi sehingga menambah nilai estetikanya.

Selian itu, di turki juga pada abad pertengahan dibangun juga gedung sekolah, rumah sakit, jembatan, saluran air, pemandian umum, tempat peristirahatan, dan makam. Pembangunan bangunan di turki ditangani langsung oleh arsitek terkenal di masanya yaitu Sinan Pasya.

Pada abad pertengahan, di Nusantara juga telah didirikan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Islam yaitu masjid, istana dan makam. Diantara masjid-masjid yang diangun adalah Masjid Agung Demak, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Kudus, Masjid Agung Cirebon, Masjid Sultan Abdurrahman di Pontianak Kalimantan Barat, dan Masjid Agung Keraton Buton di Bau-bau Sulawesi Tenggara.

2. Seni Sastra

Sebagai bagian dari kebudayaan seni sastra hidup dan berkembang pula pada abad pertengahan di berbagai wilayah kerajaan dan wilayah Islam seperti; Turki, Persia, India, Irak, dan Nusantara.

Banyak sekali sastrawan-sastrawan muslim yang hidup dan melahirkan karyanya di abad pertengahan diantara mereka yang dapat penulis tulis di sini adalah.

Fariduddin Al-Attar (1119-1230 M)

Sastrawan Muslin yang satu ini lahir di Nisabur yaitu wilayah timur laut Persia. Semasa hidupnya Al-Attar mengembara ke berbagai wilayah Islam, seperti India, Mesir, Hejaz, dan Asia Tengah. Setelah lamanya mengembara, beliau pulang ke tanah kelahirannya kemudian menulis puisi dan menyusun petuah-petuah sufi selama 39 tahun. Karyanya yang paling terkenal adalah Mantiq At-Tair yang artinya Musyawarah Burung yaitu sebuah sajak alegori yang mengisahkan pengalaman religius kaum sufi. Karya Fariduddin Al-Attar lainnya adalah Tazkiratul Auliya, buku ini disusun dalam bentuk prosa untuk mnegenang para sufi pendahulunya.

Jalaluddin Ar-Rumi (1207-1273 M)

Jalaluddin Ar-Rumi

Sastrawan termahsur di zamannya hingga saat ini lahir di Afganistan pada tahun dan wafat di turki. Beliau merupakan salah satu keturunan dari sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a. Karena kemahsurannya dalam dunia sastra maka beliau mendapat gelar sebagai Maulana yang artinya tuan kami. Karya yang pernah beliau tulis antara lain adalah; (a) Diwan Syams-i Tabriz, merupakan kumpulan puisi yang terdiri atas 33.000 bait, semuanya berbentuk gazal sufi. (b) Masnawi, kitab ini berisi 26.660 bait yang terdiri dari 6 jilid, berisi tentang akar-akar agama dan penemuan kegaiban-kegaiban alam dan pengetahuan ketuhanan. Kitab puisi ini diselesaikan selama 10 tahun.

Sya'adi Syiraz (antara tahun 1291 dan 1295 M)

Sastrawan Islam yang satu ini merupakan orang persia yang karya tulisnya berjudul Bustan yang dalam bahasa Indonesia artinya Kebun Buah dan Gulistan yang artinya Kebun Bunga. Gulistan ditulis dalam bentuk prosa yang berisi nasihat, kata-kata mutiara, nasihat, renungan pribadi yang berisi selingan puisi anekdot, humor dan nasehat.

Fuzuli (wafat sekitar tahun 1556 M)

Karya yang paling terkenal oleh Fuzuli adalah Shikeyetname yang artinya pengaduan. Karyanya ini berbentuk puisi dengan pesan-pesan yang sangat mendalam. Fuzuli merupakan salah satu penyair terkenal dalam sejarah sastra Islam. Beliau tinggal di Irak.

Pada abad pertengahan di Nusantara lahir pula sastrawan-sastrawan Muslim seperti di sumatra ada Hamzah Fansuri pada akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17, Syamsudin Pasai (1630 M), dan Nuruddin Ar-Raniri yang wafat pada 1658 M. Di Jawa seperti sunan Kali Jaga, Sunan Panggung, Ki Ageng Selo, Sunan Bonang. Karya sastra mereka pada umumnya berisi tentang nasehat-nasehat agama.

Dunia Islam pada abad pertengahan bukan saja melahirkan kebudayaan berupa Arsitektur dan Seni sastra saja, tetapi juga terdapat seni lainnya, seperti musik, seni lukis, seni tarik suara, seni tari, seni pahat, seni kaligrafi dan seni lainnya.