Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam - Coretanzone

    Social Items

Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam
Dalam keseharian kita sering menemui seseorang yang dikucilkan atau mendapat perlakuan berbeda hanya karena kondisi fisiknya. Pembedaan sesama berdasarkan pada kondisi fisik dapat dikategorikan sebagai perilaku dikriminasi. Diskriminasi merupakan salah satu perilaku tercela yang mesti kita hindari. Selain diskriminasi, ada beberapa perilaku tercela lain yang harus kita hindari. Apa sajakah perilaku tercela yang dimaksud?. Berikut pembahasan Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam.


Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam

Hasad


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Hasad

Nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. kepada hamba-Nya tidak sama. Ada manusia yang dikaruniai nikmat berupa harta benda. Ada yang dikaruniai nikmat berupa anak, kecerdasan, kecantikan, dan berbagai nikmat lainnya. Meskipun demikian, ada manusia yang merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia Allah Swt.

Hasad merupakan penyakit hati ketika seseorang merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia Allah Swt. Hasad secara bahasa berarti dengki atau benci. Hasad menurut istilah adalah membenci nikmat Allah Swt. yang dianugerahkan kepada orang lain. Selain itu, ia juga menginginkan agar nikmat tersebut segera hilang atau terhapus dari orang lain. (Uwes Qorni: 1997)

Pengertian Hasad Menurut Para Ulama

  1. Menurut al-Jurjani al-Hanafi, hasad adalah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki agar berpindah kepadanya.
  2. Menurut Imam al-Gazali, hasad adalah membenci nikmat Allah Swt. yang ada pada diri orang lain dan menyukai hilangnya nikmat tersebut.
  3. Menurut Sayyid Qutb, hasad merupakan kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya hilang. Cara yang dipergunakan oleh pendengki dapat berupa tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati atau cukup dengan keinginan saja. Motif dari tindakan itu adalah kejahatan.

Ada dua kondisi yang mungkin ditunjukkan oleh seseorang jika orang lain mendapat nikmat. Pertama, benci terhadap nikmat Allah Swt. yang dikaruniakan kepada orang lain dan ia menginginkan nikmat tersebut hilang atau berpindah kepadanya. Sikap ini disebut dengan hasad. Kedua, tidak membenci nikmat tersebut dan tidak menginginkannya lenyap, tetapi ia ingin memperoleh nikmat yang sama. Sikap ini disebut gitbah atau nafasah (kompetisi).

Hasad pertama kali dilakukan oleh iblis. Iblis merasa tidak suka Adam mendapat karunia Allah Swt. Iblis menolak untuk bersujud (memberi hormat) kepada Adam sebab sifat takabur dan hasad. Hasad di dunia pertama kali dilakukan oleh Qabil terhadap Habil, saudaranya. Qabil tidak menyukai Habil menerima nikmat berupa kesempatan menikah dengan Iklima. Ia menginginkan nikmat yang diterima Habil berpindah kepadanya. Iblis yang merupakan musuh manusia hingga akhir zaman terus memanas-manasi Qabil. Oleh karena sifat hasad, Qabil tega membunuh Habil, saudara kandungnya.

Perilaku hasad sering kita temui dalam keseharian. Misalnya, A mendapat karunia dari Allah Swt. berupa kecantikan. B tidak menyukai nikmat yang diterima A. Ia ingin nikmat berupa kecantikan tersebut berpindah kepadanya atau hilang dari A. Sikap yang ditunjukkan oleh B merupakan penyakit hati, yaitu hasad. Masih banyak contoh perilaku hasad yang terjadi dalam kehidupan.

2. Menghindari Perilaku Hasad dalam Keseharian

Hasad merupakan penyakit yang berbahaya. Hasad dapat menyerang siapa pun, baik anak-anak, orang dewasa, laki-laki, maupun perempuan.

Sifat hasad dapat ditimbulkan oleh sifat-sifat sebagai berikut.

a. Permusuhan dan Kebencian

Permusuhan dan kebencian terhadap orang lain dapat menimbulkan sifat hasad. Permusuhan dapat menyebabkan seseorang berkeinginan untuk mengalahkan lawannya. Sikap ini menyebabkannya tidak suka jika lawan atau musuhnya mendapat karunia Allah Swt. Ia ingin nikmat tersebut hilang atau beralih kepadanya sehingga orang lain tidak dapat mengalahkannya. Ketika lawan mendapat karunia Allah Swt., ia khawatir jika nikmat atau karunia tersebut dijadikan alat untuk mengalahkannya. Dengan demikian, ia menginginkan dan berusaha menghilangkan nikmat dari orang yang dibencinya.

b. Sombong dan Ujub

Kesombongan yang bersarang dalam hati seseorang dapat menimbulkan perilaku hasad. Orang yang sombong selalu merasa di atas orang lain. Oleh karenanya, ia tidak menyukai jika orang lain menerima nikmat yang mungkin saja dapat menyainginya. Ia khawatir nikmat yang diterima orang lain dapat menyamai karunia yang diterimanya padahal ia ingin lebih dari orang lain dalam segala hal.

Selain sifat takabur yang dapat menimbulkan hasad, ujub juga dapat menimbulkan perilaku hasad. Orang yang ujub suka membangga-banggakan amal dan nikmat yang diterimanya. Ia tidak ingin ada orang yang dapat mengalahkan atau menyainginya. Sikap ini dapat menimbulkan hasad. Hal ini karena ia tidak menyukai jika ada orang lain yang menerima nikmat. Ia menginginkan nikmat yang diterima orang lain hilang atau berpindah kepadanya.

c. Cinta Harta dan Gila Jabatan

Sikap terlalu cinta harta dan gila jabatan dapat menimbulkan perilaku hasad. Seseorang yang terlalu cinta harta tidak menyukai jika ada orang lain yang memperoleh nikmat berupa harta benda. Ia khawatir orang tersebut mampu mengalahkannya dalam bidang ekonomi atau kekayaan. Selain itu, sikap gila jabatan menyebabkan seseorang merasa tidak suka jika ada orang lain mendapat karunia berupa kedudukan atau jabatan. Ia ingin kedudukan atau jabatan tersebut hilang atau berpindah kepadanya.

Hasad merupakan penyakit umat terdahulu. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam sabda Rasulullah saw. berikut ini.

Artinya: Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat dahulu (yaitu) benci dan dengki. Dan dengki itulah yang membinasakan agama. Tidak seperti (pisau) mencukur rambut. (H.R. Ahmad dan Tirmizi)

Menurut Imam al-Gazali hasad itu ada tiga macam sebagai berikut.

  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan beralih kepada dirinya.
  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang, meskipun ia tidak dapat menggantikannya, baik karena merasa mustahil bahwa dirinya akan dapat menggantikannya atau memang kurang senang memperolehnya atau sebab lain. Hasad semacam ini lebih jahat dari kedengkian yang pertama.
  • Tidak ingin jika nikmat orang lain itu hilang, tetapi ia benci kalau orang itu akan melebihi kenikmatan yang dimilikinya sendiri. Hal ini juga dilarang sebab orang tersebut jelas tidak rela dengan apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah.

Demikianlah, hasad menurut Imam al-Gazali dapat berbentuk tiga sikap seperti disebutkan di atas. Sebagai perilaku tercela hasad menimbulkan dampak negatif, baik bagi pelaku maupun orang lain. Di antara dampak negatif perilaku hasad sebagai berikut.

a. Menghanguskan Amal Kebaikan

Salah satu dampak negatif hasad adalah menghanguskan amal kebaikan. Dampak ini dirasakan oleh pemilik perilaku hasad. Hasad dapat membakar amal kebaikan bagaikan api membakar kayu bakar. Api dalam sekejap dapat menghanguskan setumpuk kayu bakar yang dikumpulkan berhari-hari. Perhatikan sabda Rasulullah saw. dari Abu Hurairah berikut ini.

Artinya: Jauhilah olehmu sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (H.R. Ahmad)

Hidup ini perjuangan dan untuk melakukan amal saleh dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Hal ini karena setan dan hawa nafsu terus-menerus mengajak manusia untuk berbuat maksiat. Seseorang yang berbuat kebajikan dan amal saleh berarti harus berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Sungguh disayangkan jika hasad merusak semua amal kebaikan yang dilakukan dengan perjuangan keras.

Amal yang telah dilakukan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap oleh perilaku hasad. Ibarat "Setitik nila merusak susu sebelanga" atau "Panas setahun terhapus oleh hujan sehari". Sekali berbuat hasad, amal kebaikan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun pun lenyap tidak berbekas. Sungguh dahsyat dan mengerikan dampak negatif perilaku hasad bagi diri dan amal seseorang.

b. Merasa Senang jika Orang Lain Tertimpa Musibah

Seseorang yang berperilaku hasad merasa tidak suka jika orang lain mendapat karunia Allah Swt. Hal ini karena ia khawatir orang lain dapat menyainginya dengan nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. Sebaliknya, ia merasa senang atau bahagia jika orang lain tertimpa musibah. Tertimpa musibah menyebabkan seseorang berduka atau bersedih. Dengan demikian, ia merasa senang sebab orang lain sengsara dan tidak dapat menyainginya.

c. Memutus Tali Silaturahmi

Hasad dapat memutus tali silaturahmi yang telah terjalin. Seseorang yang memiliki sifat hasad senantiasa tidak menyukai nikmat yang diterima oleh orang lain. Suatu nikmat terkadang disyukuri dengan mengundang teman untuk makan bersama. Seseorang yang hasad sering tidak mau menghadirinya sebab ia merasa tidak suka dengan nikmat tersebut. Mungkin juga ia mau hadir, tetapi tidak ikhlas. Lama-kelamaan tali silaturahmi yang telah terjalin pun pudar.

Hasad dapat mendorong seseorang untuk senantiasa berusaha menghilangkan nikmat yang diterima teman atau saudara. Jika teman atau orang lain mengetahuinya, tentu saja mereka tidak suka. Sikap ini dapat merenggangkan bahkan memutus tali silaturahmi yang telah terjalin.

d. Hilangnya Ketenangan Hidup

Sifat hasad menimbulkan rasa lelah yang tiada akhir bagi pelakunya. Pelaku hasad juga akan kehilangan ketenangan dalam hidup. Ia selalu merasa waswas jika ada orang lain yang mendapat karunia Allah Swt. Setiap kali ada orang lain yang menerima karuniaNya, ia merasa bersedih dan tersiksa. Hatinya semakin terbakar oleh sifat hasad. Dengan demikian, ketenangan hilang dan yang ada hanya rasa waswas dan keinginan untuk menghilangkan nikmat yang diterima orang lain.

e. Tidak Dapat Menyempurnakan Iman

Orang yang hasad tidak dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. dijelaskan bahwa tidak sempurna iman seseorang sehingga ia dapat mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian, pelaku hasad tidak dapat menyempurnakan iman karena ia tidak dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

f. Menyusahkan Diri Sendiri

Sifat hasad dapat menyusahkan diri pelaku. Hal ini karena sifat hasad yang dimilikinya tidak akan mampu menolak kehendak Allah Swt. Allah Swt. berhak mengaruniakan suatu nikmat kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Allah Swt. berhak mengaruniakan kebahagiaan kepada orang yang tidak disukai oleh pelaku hasad. Kehendak Allah Swt. pasti terwujud meskipun orang yang hasad tidak dapat menerimanya. Dengan demikian, pelaku hasad hanya menyusahkan diri sendiri sebab kehendak-Nya tetap berlangsung. Ia akan tersiksa dan senantiasa merasa waswas. Dengan demikian, pelaku hasad telah menyusahkan diri sendiri karena ia tidak akan mampu menghentikan atau menolak kehendak Allah Swt.

Demikianlah beberapa dampak negatif perilaku hasad. Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di  depan, bahwa hasad tidak membawa hikmah. Justru hasad menyebabkan dampak buruk yang tidak pernah kita inginkan. Oleh karena itu, marilah kita jauhi hasad dan musnahkan dari hati. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat hasad sebagai berikut.

a. Mewaspadai Bahaya dan Menghindari Penyebabnya

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa hasad menyebabkan dampak buruk. Oleh karena itu, seseorang yang ingin terhindar dari hasad harus mewaspadai dan senantiasa mengingat bahaya yang ditimbulkannya. Selain itu, ia juga harus menghindari hal-hal atau sifat-sifat yang dapat menyebabkan hasad. Dengan melakukan hal tersebut seseorang akan dapat terhindar dari sifat hasad.

b. Menyadari bahwa Nikmat yang Diterima Berasal dari Allah Swt.

Nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang adalah yang terbaik untuknya. Suatu nikmat yang dikaruniakan kepada orang lain belum tentu cocok untuk orang tertentu. Kesadaran tersebut dapat menghilangkan hasad dari dalam diri. Senantiasa bersyukur atas nikmat Allah Swt. merupakan cara meng- hilangkan hasad dari dalam hati. Nikmat yang dikarunia kan Allah Swt. harus disyukuri.

Bersyukur berarti berterima kasih atas karunia-Nya. Seseorang tidak akan mampu memberi nikmat atau mencegahnya agar tidak dikaruniakan Allah Swt. kepada orang lain. Kesadaran bahwa nikmat yang diterima oleh makhluk termasuk manusia berasal dari Allah Swt. dapat menghindarkan perilaku hasad dari hati.

c. Menyadari bahwa Sesama Manusia adalah Saudara

Kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara dapat menghilangkan hasad dari hati. Sesama manusia adalah saudara yang tidak seharusnya disakiti atau dianiaya. Saudara sesama muslim bagaikan satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang sakit, anggota yang lain turut merasakannya. Begitu juga dengan sesama muslim. Jika ada saudara muslim yang mendapat nikmat, muslim yang lain turut merasakannya. Selain itu, seseorang harus berusaha mencintai dan membenci orang lain karena Allah Swt. Sikap ini juga dapat menghindarkan hasad dari kehidupan.

d. Memohon Perlindungan Allah Swt.

Seseorang yang ingin terhindar dari sifat hasad hendaknya senantiasa memohon perlindungan Allah Swt. Hanya kepada Allah Swt. kita memohon perlindungan agar dijauhkan dari sifat hasad. Hanya Dia yang dapat memberi perlindungan kepada hamba-Nya dari perilaku hasad. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk senantiasa memohon perlindungan-Nya dari perilaku hasad. Semoga dengan senantiasa memohon perlindungan-Nya kita dapat terhindar dari hasad yang sangat merugikan.

Riya


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Riya

Riya merupakan perilaku tercela sebagaimana hasad. Riya berasal dari kata ru’yah yang berarti penglihatan. Dari asal katanya riya dapat dipahami sebagai sikap atau perilaku yang ingin dilihat atau diperlihatkan kepada orang lain. Tujuannya untuk memperoleh pujian, penghargaan, dan posisi tertentu dalam hati manusia. Sebagian ulama mendefinisikan riya sebagai menginginkan kedudukan dalam hati manusia dengan cara memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.

Riya merupakan sifat yang sangat halus. Riya diibaratkan seperti mencari semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam gelap gulita. Oleh karena halusnya kadang kita tidak menyadari bahwa riya telah bersarang dalam hati. Keberadaan riya dalam hati dan amal sangat berbahaya sebab ia dapat menghapus pahala dari amal saleh yang telah dilaksanakan. (Uwes al-Qorni. 1997)

Contoh riya seringkali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, A menunaikan salat karena dilihat oleh orang tuanya. Tujuan A mungkin hanya untuk mendapat pujian dari orang tuanya. Hanya pujian dari orang tuanya yang didapatkan tanpa mendapat rida Allah Swt. B rajin belajar hanya karena ingin dipuji orang tuanya dan beberapa contoh lainnya.

2. Menghindari Perilaku Riya dalam Keseharian

Riya dapat muncul sewaktu-waktu tanpa permisi. Riya berarti melakukan suatu perbuatan tidak ikhlas karena Allah Swt. Motivasi melakukan suatu perbuatan atau ibadah adalah untuk mendapat pujian atau mencari tempat di hati manusia. Amal atau ibadah yang dilakukan karena riya hanya akan mendapat pujian dari manusia dan tidak mendapat pahala dari-Nya.

Seseorang yang berperilaku riya membaguskan ibadah atau amalnya jika dilihat orang lain. Jika tidak ada yang melihat, ia akan melakukannya sesuka hati bahkan meninggalkannya. Seseorang yang berperilaku riya menunaikan salat jika dilihat orang lain. Jika tidak dilihat, mungkin saja ia tidak menunaikannya.

Riya merupakan penyakit hati yang tidak dapat dilihat oleh penglihatan. Meskipun demikian, orang yang memiliki sifat riya dapat dilihat dari ciri-cirinya. Di antara ciri-ciri sifat riya sebagai berikut. Merasa senang dan ringan dalam melaksanakan ibadah jika dilihat orang lain.

  • Merasa senang jika perbuatannya mendapat pujian dari orang lain.
  • Ada perubahan sikap, gaya bicara, dan penampilan jika berhadapan dengan penguasa.

Berhati-hatilah jika salah satu ciri yang telah disebutkan terdapat dalam diri. Jika salah satu ciri riya terdapat dalam diri, benahi niat bahwa ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah Swt. semata. Perbaiki niat jika rasa senang telah terasa ketika perbuatan yang kita lakukan mendapat pujian orang lain.

Riya dikategorikan sebagai perilaku munafik karena seseorang yang riya berbuat baik jika dilihat orang lain. Apa yang dilakukan oleh pelaku riya tidak sesuai dengan hatinya. Selain itu, di depan orang tertentu ia melakukan perbuatan baik, tetapi di belakang perbuatan yang dilakukan sebaliknya. Pantaslah jika riya dikategorikan sebagai perbuatan munafik.

Riya juga dikategorikan sebagai perbuatan syirik khafiy. Perbuatan yang dilakukan dengan riya berarti dilaksanakan tidak ikhlas karena Allah Swt. Ia berniat melakukan suatu perbuatan untuk selain Allah Swt. Oleh karena itu, riya juga dikategorikan sebagai syirik kecil. Hal tersebut disebabkan orang yang riya beribadah tetapi menduakan Allah Swt. Ia melaksanakan perbuatan dengan tujuan memperoleh pujian dari manusia. Menduakan Allah Swt. dengan makhluk merupakan perbuatan syirik khafiy (tersembunyi).

Riya sangat berbahaya jika ada dalam hati seseorang. Dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman seperti berikut.

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya. (Q.S. al-Ma‘un: 5-6)

Berdasarkan ayat di atas dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang memiliki sifat riya termasuk orang yang celaka. Mereka melaksanakan ibadah tidak ikhlas karena Allah Swt. Mereka melaksanakan ibadah hanya untuk mendapat pujian dari sesama. Hanya pujian dari sesama manusia itulah yang diperoleh oleh orang yang riya.

Rasulullah saw. sangat khawatir jika umatnya terjangkit penyakit ini. Kekhawatiran Rasulullah saw. tercermin dalam sebuah hadis yang artinya,

"Dari Abu Sa’id al-Khudriy berkata, "Rasulullah saw. pernah menemui kami dan kami sedang berbincang tentang al-Masih Dajjal. Maka beliau saw. bersabda,”Maukah kalian aku beritahu tentang apa yang aku takutkan terhadap kalian daripada al-Masih Dajjal?’ Kami menjawab, ’Tentu wahai Rasulullah. ’Beliau saw. berkata, ’Syirik yang tersembunyi, yaitu orang yang melakukan salat kemudian membaguskan salatnya tatkala dilihat oleh orang lain’.” (H.R. Ibnu Ma-jah dan Baihaqi)

Riya bukanlah penyakit yang tidak dapat diobati. Riya dapat dihilangkan sedikit demi sedikit dengan cara melakukan hal-hal berikut.

a. Menghilangkan Sebab-Sebab Riya

Seseorang berbuat riya disebabkan oleh hal-hal tertentu. Untuk menghilangkan riya, penyebab riya harus dihilangkan. Jika penyebab riya tidak dihilangkan, riya tidak akan pernah hilang dari dalam hati. Membiarkan penyebab riya bersarang dalam hati sama dengan membiarkan riya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghilangkan riya dari hati harus menghilangkan penyebabnya. Jika sebab-sebab riya telah hilang, perilaku riya akan hilang dengan sendirinya. (Sa’id Hawwa. 2006)

b. Mengikhlaskan Ibadah untuk Allah Swt.

Semata Manusia dikaruniai Allah Swt. nikmat yang berlimpah. Hidup dan kehidupan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, pantaslah jika manusia melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sebagai wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya. Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah Swt. semata. Hidup, mati, dan ibadah hanya untuk Allah Swt., zat yang mengaruniakan hidup dan kehidupan.

c. Berusaha Melawan Bisikan Setan

Seseorang yang melaksanakan ibadah harus berusaha untuk melawan bisikan setan. Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk, termasuk riya. Bisikan setan harus terus-menerus dilawan karena mereka tidak berhenti menggoda sekejap pun. Jangan sekalikali menuruti ajakan setan sebab ia akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Jika setan telah mengajak untuk berbuat riya, kita harus segera memperbaiki niat dan mengembalikannya hanya untuk Allah Swt. semata.

d. Menyadari bahwa Hanya Allah Swt. yang Memberi Balasan

Setiap amal manusia akan mendapat balasan yang sesuai. Amal kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Amal buruk akan mendapat balasan buruk pula. Kesadaran bahwa hanya Allah Swt. yang dapat memberi balasan merupakan cara menghilangkan riya dari hati. Manusia tidak akan mampu memberi balasan terhadap amal yang dilaksanakan oleh sesamanya. Hanya Allah Swt. yang mampu memberi balasan terhadap amal perbuatan makhluk-Nya.

Aniaya


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Aniaya

Aniaya dapat diartikan dengan perbuatan bengis atau berbuat sewenang-wenang. Berbuat aniaya dapat diartikan dengan berbuat sewenang-wenang. Perbuatan sewenang-wenang tersebut dapat dilakukan terhadap sesama manusia maupun terhadap makhluk-Nya.

Aniaya merupakan perilaku tercela yang harus diwaspadai. Terhadap sesama manusia tidak sepantasnya kita berbuat aniaya. Terhadap sesama makhluk kita tidak boleh berbuat aniaya. Makhluk Allah Swt. memiliki hak yang sama untuk hidup. Oleh karena itu, kita tidak boleh berbuat aniaya kepada mereka.

Termasuk dalam perbuatan aniaya (zalim) adalah perbuatan yang melampaui batas. Selain itu, termasuk dalam perbuatan aniaya adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim dapat diartikan dengan melanggar hak orang lain. Tanpa disadari kita sering menzalimi atau berbuat aniaya kepada teman atau saudara.

Salah satu contoh perbuatan zalim adalah mengurangi timbangan. Meskipun pembeli tidak mengetahuinya, tetap saja penjual telah berbuat aniaya kepadanya. Allah Swt. mengetahui seluruh perbuatan manusia. Allah Swt. mengetahui perbuatan zalim yang telah dilakukan oleh penjual yang mengurangi timbangan. Jika barang yang dijual cacat atau barang yang ada kurang berat timbangannya, kita dapat berkata jujur atau mengurangi harga. Hal tersebut lebih baik dan lebih jujur daripada berbuat zalim dengan mengurangi timbangan.

2. Menghindari Perilaku Aniaya dalam Keseharian

Perilaku aniaya harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Aniaya tidak membawa manfaat sedikit pun bagi kehidupan seseorang. Ada beberapa macam bentuk zalim sebagai berikut.

a. Zalim kepada Allah Swt.

Zalim kepada Allah Swt. merupakan kezaliman tertinggi. Zalim kepada Allah Swt. dapat berbentuk perbuatan syirik, tidak mengakui bahwa Allah Swt. adalah khaliq, tidak takut kepada Allah Swt., dan berbagai tindakan lainnya.

b. Zalim terhadap Anggota Tubuh Pemberian Allah Swt.

Anggota tubuh merupakan karunia Allah Swt. yang harus dijaga sebaik-baiknya. Anggota tubuh hendaknya dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tidak sepantasnya anggota tubuh dipergunakan untuk berbuat aniaya. Menyakiti orang lain merupakan perilaku zalim yang menggunakan anggota tubuh sebagai alatnya. Jangan sampai anggota tubuh menjauhkan kita dari Allah Swt.

c. Zalim terhadap Harta

Harta benda merupakan karunia Allah Swt. dan titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh pemilik-Nya. Karunia berupa harta benda harus dipergunakan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan bantuan. Memanfaatkan harta benda untuk suatu perbuatan yang menjauhkan dari Allah Swt. berarti telah berbuat aniaya terhadap harta benda.

d. Zalim kepada Sesama Manusia

Zalim kepada sesama manusia dapat berbentuk pemukulan, penghinaan, fitnah, dan berbagai bentuk perbuatan buruk lainnya. Zalim kepada sesama manusia ini yang paling sering dibahas dan muncul ke permukaan. Perbuatan zalim lainnya sering dilupakan dan luput dari pembahasan.

e. Zalim terhadap Sesama Makhluk

Banyak sekali bentuk perbuatan zalim terhadap sesama makhluk. Misalnya merusak lingkungan, menyiksa hewan, tidak memberi makan binatang peliharaan, dan perbuatan lainnya.

Demikianlah bentuk-bentuk perbuatan zalim. Perbuatan zalim dapat menyakiti dan menyengsarakan orang lain. Dengan demikian, zalim harus dijauhkan dari kehidupan. Tanamkan dalam hati bahwa tidak sepantasnya kita menyakiti atau berbuat zalim kepada Allah Swt., sesama makhluk, maupun diri sendiri. Diri sendiri dan sesama makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup dan merasakan kebahagiaan. Selain itu, kesadaran bahwa makhluk Allah Swt. memiliki kedudukan yang sama di hadapanNya dapat menghindarkan perbuatan zalim dari hati.

Diskriminasi


1. Pengertian dan Contoh Diskriminasi

Diskriminasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan lain sebagainya). Segala perlakuan pembedaan yang didasarkan atas warna kulit, jenis kelamin, golongan, status sosial, dan berbagai perbedaan lainnya merupakan perbuatan diskriminasi.

Masih banyak tindakan diskriminasi kita saksikan dalam keseharian. Banyak orang yang memperoleh perlakuan berbeda karena memiliki warna kulit berbeda. Masih banyak kita temukan perlakuan berbeda terjadi karena perbedaan status sosial maupun jenis kelamin. Perlakuan berbeda mendatangkan rasa yang tidak nyaman bahkan sakit hati bagi orang yang menerimanya.

Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan dengan kekurangan. Setiap manusia menginginkan kesempurnaan. Akan tetapi, tidak semua keinginan manusia terwujud. Ada manusia yang diciptakan dengan kelebihan dalam bidang kecantikan dan ada yang tidak memilikinya. Ada yang dikaruniai kelebihan berbentuk kecerdasan dan ada yang tidak. Semua itu tentu ada hikmahnya dan kita tidak boleh bertindak diskriminasi karena perbedaan tersebut.

Salah satu contoh diskriminasi adalah A tidak mau bergaul dengan B. Sikap tersebut berbeda dengan sikapnya kepada teman-temannya yang lain. Perbedaan perlakuan terhadap B oleh A dikarenakan B hanya anak seorang petani. Status sosial B berbeda dengan teman-temannya yang lain.

Tindakan A terhadap B dapat dikategorikan sebagai tindakan diskriminasi. A tidak mau bergaul dengan B hanya karena B anak seorang petani yang status sosialnya berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Sikap yang ditunjukkan oleh A dapat menyinggung bahkan menyakiti hati B. Sikap yang demikian tidak pantas untuk ditiru.

2. Menghindari Perilaku Diskriminasi dalam Keseharian

Islam melarang umatnya berperilaku diskriminatif. Hal ini dapat dilihat dalam perintah dan larangan Allah Swt. Perintah dan larangan-Nya berlaku bagi seluruh manusia, tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit, status sosial, dan berbagai perbedaan lainnya. Misalnya, perintah menunaikan salat berlaku bagi seluruh umat manusia tanpa membedakan status sosial, suku bangsa, dan berbagai perbedaan lainnya. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa Islam melarang hamba-Nya bertindak diskriminatif.

Diskriminasi akan melahirkan kekisruhan. Ketenangan dan kedamaian hidup tidak akan didapat melalui diskriminasi. Bayangkan jika dalam suatu masyarakat terjadi tindak diskriminasi. Orang-orang yang menerima perlakuan berbeda akan merasa tidak puas dengan perlakuan yang diterimanya. Orang-orang tersebut dapat melakukan protes atau keengganan melaksanakan program bersama. Dengan demikian, ketenangan pun terganggu.

Perbedaan dan keragaman hendaknya dijadikan sebagai sarana saling mengisi untuk menciptakan kehidupan yang damai dan indah. Perbedaan yang ada merupakan sarana untuk mengenal satu sama lain. Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini.

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. al-Hujurat: 13)

Dalam kehidupan bernegara tindak diskriminasi harus dijauhi. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menjamin perlakuan sama antar warga negara. Warga negara tidak dibedakan berdasarkan suku bangsa, warna kulit, jenis rambut, jenis kelamin, dan berbagai perbedaan yang ada. Warga negara bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan pemerintahan.

Perilaku diskriminasi harus dijauhkan dari kehidupan. Menghindari perilaku diskriminasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Menyadari bahwa Manusia Berkedudukan Sama di Hadapan Allah

Allah Swt. Membedakan manusia berdasarkan hati dan amalnya. Jika Allah Swt. tidak membedakan manusia berdasarkan kondisi fisik, manusia tidak sepantasnya melakukannya. Padahal kita tahu bahwa Allah Swt. adalah pemilik seluruh makhluk. Jika Allah Swt. sebagai pemilik makhluk tidak pernah membedakannya berdasarkan kondisi fisik, kita sebagai makhluk-Nya tidak sepantasnya memperlakukan sesama makhluk dengan perilaku diskriminatif.

b. Meyakini bahwa Setiap Makhluk Dikaruniai Keistimewaan

Tiap-tiap makhluk termasuk manusia diciptakan dengan keistimewaan tersendiri. Mungkin saja teman Anda tidak dikaruniai kecantikan, tetapi dikaruniai kecerdasan yang luar biasa. Teman Anda yang kurang beruntung dalam bidang ekonomi, mungkin saja memiliki keistimewaan dalam bidang lainnya. Dengan menanamkan kesadaran bahwa tiap-tiap manusia atau makhluk memiliki keistimewaan, perilaku diskriminasi dapat dihindari.

Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam

Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam
Dalam keseharian kita sering menemui seseorang yang dikucilkan atau mendapat perlakuan berbeda hanya karena kondisi fisiknya. Pembedaan sesama berdasarkan pada kondisi fisik dapat dikategorikan sebagai perilaku dikriminasi. Diskriminasi merupakan salah satu perilaku tercela yang mesti kita hindari. Selain diskriminasi, ada beberapa perilaku tercela lain yang harus kita hindari. Apa sajakah perilaku tercela yang dimaksud?. Berikut pembahasan Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam.


Perilaku Tercela dan Cara Menghindarinya Sesuai Ajaran Islam

Hasad


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Hasad

Nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. kepada hamba-Nya tidak sama. Ada manusia yang dikaruniai nikmat berupa harta benda. Ada yang dikaruniai nikmat berupa anak, kecerdasan, kecantikan, dan berbagai nikmat lainnya. Meskipun demikian, ada manusia yang merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia Allah Swt.

Hasad merupakan penyakit hati ketika seseorang merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia Allah Swt. Hasad secara bahasa berarti dengki atau benci. Hasad menurut istilah adalah membenci nikmat Allah Swt. yang dianugerahkan kepada orang lain. Selain itu, ia juga menginginkan agar nikmat tersebut segera hilang atau terhapus dari orang lain. (Uwes Qorni: 1997)

Pengertian Hasad Menurut Para Ulama

  1. Menurut al-Jurjani al-Hanafi, hasad adalah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki agar berpindah kepadanya.
  2. Menurut Imam al-Gazali, hasad adalah membenci nikmat Allah Swt. yang ada pada diri orang lain dan menyukai hilangnya nikmat tersebut.
  3. Menurut Sayyid Qutb, hasad merupakan kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya hilang. Cara yang dipergunakan oleh pendengki dapat berupa tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati atau cukup dengan keinginan saja. Motif dari tindakan itu adalah kejahatan.

Ada dua kondisi yang mungkin ditunjukkan oleh seseorang jika orang lain mendapat nikmat. Pertama, benci terhadap nikmat Allah Swt. yang dikaruniakan kepada orang lain dan ia menginginkan nikmat tersebut hilang atau berpindah kepadanya. Sikap ini disebut dengan hasad. Kedua, tidak membenci nikmat tersebut dan tidak menginginkannya lenyap, tetapi ia ingin memperoleh nikmat yang sama. Sikap ini disebut gitbah atau nafasah (kompetisi).

Hasad pertama kali dilakukan oleh iblis. Iblis merasa tidak suka Adam mendapat karunia Allah Swt. Iblis menolak untuk bersujud (memberi hormat) kepada Adam sebab sifat takabur dan hasad. Hasad di dunia pertama kali dilakukan oleh Qabil terhadap Habil, saudaranya. Qabil tidak menyukai Habil menerima nikmat berupa kesempatan menikah dengan Iklima. Ia menginginkan nikmat yang diterima Habil berpindah kepadanya. Iblis yang merupakan musuh manusia hingga akhir zaman terus memanas-manasi Qabil. Oleh karena sifat hasad, Qabil tega membunuh Habil, saudara kandungnya.

Perilaku hasad sering kita temui dalam keseharian. Misalnya, A mendapat karunia dari Allah Swt. berupa kecantikan. B tidak menyukai nikmat yang diterima A. Ia ingin nikmat berupa kecantikan tersebut berpindah kepadanya atau hilang dari A. Sikap yang ditunjukkan oleh B merupakan penyakit hati, yaitu hasad. Masih banyak contoh perilaku hasad yang terjadi dalam kehidupan.

2. Menghindari Perilaku Hasad dalam Keseharian

Hasad merupakan penyakit yang berbahaya. Hasad dapat menyerang siapa pun, baik anak-anak, orang dewasa, laki-laki, maupun perempuan.

Sifat hasad dapat ditimbulkan oleh sifat-sifat sebagai berikut.

a. Permusuhan dan Kebencian

Permusuhan dan kebencian terhadap orang lain dapat menimbulkan sifat hasad. Permusuhan dapat menyebabkan seseorang berkeinginan untuk mengalahkan lawannya. Sikap ini menyebabkannya tidak suka jika lawan atau musuhnya mendapat karunia Allah Swt. Ia ingin nikmat tersebut hilang atau beralih kepadanya sehingga orang lain tidak dapat mengalahkannya. Ketika lawan mendapat karunia Allah Swt., ia khawatir jika nikmat atau karunia tersebut dijadikan alat untuk mengalahkannya. Dengan demikian, ia menginginkan dan berusaha menghilangkan nikmat dari orang yang dibencinya.

b. Sombong dan Ujub

Kesombongan yang bersarang dalam hati seseorang dapat menimbulkan perilaku hasad. Orang yang sombong selalu merasa di atas orang lain. Oleh karenanya, ia tidak menyukai jika orang lain menerima nikmat yang mungkin saja dapat menyainginya. Ia khawatir nikmat yang diterima orang lain dapat menyamai karunia yang diterimanya padahal ia ingin lebih dari orang lain dalam segala hal.

Selain sifat takabur yang dapat menimbulkan hasad, ujub juga dapat menimbulkan perilaku hasad. Orang yang ujub suka membangga-banggakan amal dan nikmat yang diterimanya. Ia tidak ingin ada orang yang dapat mengalahkan atau menyainginya. Sikap ini dapat menimbulkan hasad. Hal ini karena ia tidak menyukai jika ada orang lain yang menerima nikmat. Ia menginginkan nikmat yang diterima orang lain hilang atau berpindah kepadanya.

c. Cinta Harta dan Gila Jabatan

Sikap terlalu cinta harta dan gila jabatan dapat menimbulkan perilaku hasad. Seseorang yang terlalu cinta harta tidak menyukai jika ada orang lain yang memperoleh nikmat berupa harta benda. Ia khawatir orang tersebut mampu mengalahkannya dalam bidang ekonomi atau kekayaan. Selain itu, sikap gila jabatan menyebabkan seseorang merasa tidak suka jika ada orang lain mendapat karunia berupa kedudukan atau jabatan. Ia ingin kedudukan atau jabatan tersebut hilang atau berpindah kepadanya.

Hasad merupakan penyakit umat terdahulu. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam sabda Rasulullah saw. berikut ini.

Artinya: Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat dahulu (yaitu) benci dan dengki. Dan dengki itulah yang membinasakan agama. Tidak seperti (pisau) mencukur rambut. (H.R. Ahmad dan Tirmizi)

Menurut Imam al-Gazali hasad itu ada tiga macam sebagai berikut.

  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan beralih kepada dirinya.
  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang, meskipun ia tidak dapat menggantikannya, baik karena merasa mustahil bahwa dirinya akan dapat menggantikannya atau memang kurang senang memperolehnya atau sebab lain. Hasad semacam ini lebih jahat dari kedengkian yang pertama.
  • Tidak ingin jika nikmat orang lain itu hilang, tetapi ia benci kalau orang itu akan melebihi kenikmatan yang dimilikinya sendiri. Hal ini juga dilarang sebab orang tersebut jelas tidak rela dengan apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah.

Demikianlah, hasad menurut Imam al-Gazali dapat berbentuk tiga sikap seperti disebutkan di atas. Sebagai perilaku tercela hasad menimbulkan dampak negatif, baik bagi pelaku maupun orang lain. Di antara dampak negatif perilaku hasad sebagai berikut.

a. Menghanguskan Amal Kebaikan

Salah satu dampak negatif hasad adalah menghanguskan amal kebaikan. Dampak ini dirasakan oleh pemilik perilaku hasad. Hasad dapat membakar amal kebaikan bagaikan api membakar kayu bakar. Api dalam sekejap dapat menghanguskan setumpuk kayu bakar yang dikumpulkan berhari-hari. Perhatikan sabda Rasulullah saw. dari Abu Hurairah berikut ini.

Artinya: Jauhilah olehmu sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar. (H.R. Ahmad)

Hidup ini perjuangan dan untuk melakukan amal saleh dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Hal ini karena setan dan hawa nafsu terus-menerus mengajak manusia untuk berbuat maksiat. Seseorang yang berbuat kebajikan dan amal saleh berarti harus berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Sungguh disayangkan jika hasad merusak semua amal kebaikan yang dilakukan dengan perjuangan keras.

Amal yang telah dilakukan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap oleh perilaku hasad. Ibarat "Setitik nila merusak susu sebelanga" atau "Panas setahun terhapus oleh hujan sehari". Sekali berbuat hasad, amal kebaikan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun pun lenyap tidak berbekas. Sungguh dahsyat dan mengerikan dampak negatif perilaku hasad bagi diri dan amal seseorang.

b. Merasa Senang jika Orang Lain Tertimpa Musibah

Seseorang yang berperilaku hasad merasa tidak suka jika orang lain mendapat karunia Allah Swt. Hal ini karena ia khawatir orang lain dapat menyainginya dengan nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. Sebaliknya, ia merasa senang atau bahagia jika orang lain tertimpa musibah. Tertimpa musibah menyebabkan seseorang berduka atau bersedih. Dengan demikian, ia merasa senang sebab orang lain sengsara dan tidak dapat menyainginya.

c. Memutus Tali Silaturahmi

Hasad dapat memutus tali silaturahmi yang telah terjalin. Seseorang yang memiliki sifat hasad senantiasa tidak menyukai nikmat yang diterima oleh orang lain. Suatu nikmat terkadang disyukuri dengan mengundang teman untuk makan bersama. Seseorang yang hasad sering tidak mau menghadirinya sebab ia merasa tidak suka dengan nikmat tersebut. Mungkin juga ia mau hadir, tetapi tidak ikhlas. Lama-kelamaan tali silaturahmi yang telah terjalin pun pudar.

Hasad dapat mendorong seseorang untuk senantiasa berusaha menghilangkan nikmat yang diterima teman atau saudara. Jika teman atau orang lain mengetahuinya, tentu saja mereka tidak suka. Sikap ini dapat merenggangkan bahkan memutus tali silaturahmi yang telah terjalin.

d. Hilangnya Ketenangan Hidup

Sifat hasad menimbulkan rasa lelah yang tiada akhir bagi pelakunya. Pelaku hasad juga akan kehilangan ketenangan dalam hidup. Ia selalu merasa waswas jika ada orang lain yang mendapat karunia Allah Swt. Setiap kali ada orang lain yang menerima karuniaNya, ia merasa bersedih dan tersiksa. Hatinya semakin terbakar oleh sifat hasad. Dengan demikian, ketenangan hilang dan yang ada hanya rasa waswas dan keinginan untuk menghilangkan nikmat yang diterima orang lain.

e. Tidak Dapat Menyempurnakan Iman

Orang yang hasad tidak dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. dijelaskan bahwa tidak sempurna iman seseorang sehingga ia dapat mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian, pelaku hasad tidak dapat menyempurnakan iman karena ia tidak dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

f. Menyusahkan Diri Sendiri

Sifat hasad dapat menyusahkan diri pelaku. Hal ini karena sifat hasad yang dimilikinya tidak akan mampu menolak kehendak Allah Swt. Allah Swt. berhak mengaruniakan suatu nikmat kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Allah Swt. berhak mengaruniakan kebahagiaan kepada orang yang tidak disukai oleh pelaku hasad. Kehendak Allah Swt. pasti terwujud meskipun orang yang hasad tidak dapat menerimanya. Dengan demikian, pelaku hasad hanya menyusahkan diri sendiri sebab kehendak-Nya tetap berlangsung. Ia akan tersiksa dan senantiasa merasa waswas. Dengan demikian, pelaku hasad telah menyusahkan diri sendiri karena ia tidak akan mampu menghentikan atau menolak kehendak Allah Swt.

Demikianlah beberapa dampak negatif perilaku hasad. Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di  depan, bahwa hasad tidak membawa hikmah. Justru hasad menyebabkan dampak buruk yang tidak pernah kita inginkan. Oleh karena itu, marilah kita jauhi hasad dan musnahkan dari hati. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat hasad sebagai berikut.

a. Mewaspadai Bahaya dan Menghindari Penyebabnya

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa hasad menyebabkan dampak buruk. Oleh karena itu, seseorang yang ingin terhindar dari hasad harus mewaspadai dan senantiasa mengingat bahaya yang ditimbulkannya. Selain itu, ia juga harus menghindari hal-hal atau sifat-sifat yang dapat menyebabkan hasad. Dengan melakukan hal tersebut seseorang akan dapat terhindar dari sifat hasad.

b. Menyadari bahwa Nikmat yang Diterima Berasal dari Allah Swt.

Nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang adalah yang terbaik untuknya. Suatu nikmat yang dikaruniakan kepada orang lain belum tentu cocok untuk orang tertentu. Kesadaran tersebut dapat menghilangkan hasad dari dalam diri. Senantiasa bersyukur atas nikmat Allah Swt. merupakan cara meng- hilangkan hasad dari dalam hati. Nikmat yang dikarunia kan Allah Swt. harus disyukuri.

Bersyukur berarti berterima kasih atas karunia-Nya. Seseorang tidak akan mampu memberi nikmat atau mencegahnya agar tidak dikaruniakan Allah Swt. kepada orang lain. Kesadaran bahwa nikmat yang diterima oleh makhluk termasuk manusia berasal dari Allah Swt. dapat menghindarkan perilaku hasad dari hati.

c. Menyadari bahwa Sesama Manusia adalah Saudara

Kesadaran bahwa sesama manusia adalah saudara dapat menghilangkan hasad dari hati. Sesama manusia adalah saudara yang tidak seharusnya disakiti atau dianiaya. Saudara sesama muslim bagaikan satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang sakit, anggota yang lain turut merasakannya. Begitu juga dengan sesama muslim. Jika ada saudara muslim yang mendapat nikmat, muslim yang lain turut merasakannya. Selain itu, seseorang harus berusaha mencintai dan membenci orang lain karena Allah Swt. Sikap ini juga dapat menghindarkan hasad dari kehidupan.

d. Memohon Perlindungan Allah Swt.

Seseorang yang ingin terhindar dari sifat hasad hendaknya senantiasa memohon perlindungan Allah Swt. Hanya kepada Allah Swt. kita memohon perlindungan agar dijauhkan dari sifat hasad. Hanya Dia yang dapat memberi perlindungan kepada hamba-Nya dari perilaku hasad. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk senantiasa memohon perlindungan-Nya dari perilaku hasad. Semoga dengan senantiasa memohon perlindungan-Nya kita dapat terhindar dari hasad yang sangat merugikan.

Riya


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Riya

Riya merupakan perilaku tercela sebagaimana hasad. Riya berasal dari kata ru’yah yang berarti penglihatan. Dari asal katanya riya dapat dipahami sebagai sikap atau perilaku yang ingin dilihat atau diperlihatkan kepada orang lain. Tujuannya untuk memperoleh pujian, penghargaan, dan posisi tertentu dalam hati manusia. Sebagian ulama mendefinisikan riya sebagai menginginkan kedudukan dalam hati manusia dengan cara memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.

Riya merupakan sifat yang sangat halus. Riya diibaratkan seperti mencari semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam gelap gulita. Oleh karena halusnya kadang kita tidak menyadari bahwa riya telah bersarang dalam hati. Keberadaan riya dalam hati dan amal sangat berbahaya sebab ia dapat menghapus pahala dari amal saleh yang telah dilaksanakan. (Uwes al-Qorni. 1997)

Contoh riya seringkali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, A menunaikan salat karena dilihat oleh orang tuanya. Tujuan A mungkin hanya untuk mendapat pujian dari orang tuanya. Hanya pujian dari orang tuanya yang didapatkan tanpa mendapat rida Allah Swt. B rajin belajar hanya karena ingin dipuji orang tuanya dan beberapa contoh lainnya.

2. Menghindari Perilaku Riya dalam Keseharian

Riya dapat muncul sewaktu-waktu tanpa permisi. Riya berarti melakukan suatu perbuatan tidak ikhlas karena Allah Swt. Motivasi melakukan suatu perbuatan atau ibadah adalah untuk mendapat pujian atau mencari tempat di hati manusia. Amal atau ibadah yang dilakukan karena riya hanya akan mendapat pujian dari manusia dan tidak mendapat pahala dari-Nya.

Seseorang yang berperilaku riya membaguskan ibadah atau amalnya jika dilihat orang lain. Jika tidak ada yang melihat, ia akan melakukannya sesuka hati bahkan meninggalkannya. Seseorang yang berperilaku riya menunaikan salat jika dilihat orang lain. Jika tidak dilihat, mungkin saja ia tidak menunaikannya.

Riya merupakan penyakit hati yang tidak dapat dilihat oleh penglihatan. Meskipun demikian, orang yang memiliki sifat riya dapat dilihat dari ciri-cirinya. Di antara ciri-ciri sifat riya sebagai berikut. Merasa senang dan ringan dalam melaksanakan ibadah jika dilihat orang lain.

  • Merasa senang jika perbuatannya mendapat pujian dari orang lain.
  • Ada perubahan sikap, gaya bicara, dan penampilan jika berhadapan dengan penguasa.

Berhati-hatilah jika salah satu ciri yang telah disebutkan terdapat dalam diri. Jika salah satu ciri riya terdapat dalam diri, benahi niat bahwa ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah Swt. semata. Perbaiki niat jika rasa senang telah terasa ketika perbuatan yang kita lakukan mendapat pujian orang lain.

Riya dikategorikan sebagai perilaku munafik karena seseorang yang riya berbuat baik jika dilihat orang lain. Apa yang dilakukan oleh pelaku riya tidak sesuai dengan hatinya. Selain itu, di depan orang tertentu ia melakukan perbuatan baik, tetapi di belakang perbuatan yang dilakukan sebaliknya. Pantaslah jika riya dikategorikan sebagai perbuatan munafik.

Riya juga dikategorikan sebagai perbuatan syirik khafiy. Perbuatan yang dilakukan dengan riya berarti dilaksanakan tidak ikhlas karena Allah Swt. Ia berniat melakukan suatu perbuatan untuk selain Allah Swt. Oleh karena itu, riya juga dikategorikan sebagai syirik kecil. Hal tersebut disebabkan orang yang riya beribadah tetapi menduakan Allah Swt. Ia melaksanakan perbuatan dengan tujuan memperoleh pujian dari manusia. Menduakan Allah Swt. dengan makhluk merupakan perbuatan syirik khafiy (tersembunyi).

Riya sangat berbahaya jika ada dalam hati seseorang. Dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman seperti berikut.

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya. (Q.S. al-Ma‘un: 5-6)

Berdasarkan ayat di atas dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang memiliki sifat riya termasuk orang yang celaka. Mereka melaksanakan ibadah tidak ikhlas karena Allah Swt. Mereka melaksanakan ibadah hanya untuk mendapat pujian dari sesama. Hanya pujian dari sesama manusia itulah yang diperoleh oleh orang yang riya.

Rasulullah saw. sangat khawatir jika umatnya terjangkit penyakit ini. Kekhawatiran Rasulullah saw. tercermin dalam sebuah hadis yang artinya,

"Dari Abu Sa’id al-Khudriy berkata, "Rasulullah saw. pernah menemui kami dan kami sedang berbincang tentang al-Masih Dajjal. Maka beliau saw. bersabda,”Maukah kalian aku beritahu tentang apa yang aku takutkan terhadap kalian daripada al-Masih Dajjal?’ Kami menjawab, ’Tentu wahai Rasulullah. ’Beliau saw. berkata, ’Syirik yang tersembunyi, yaitu orang yang melakukan salat kemudian membaguskan salatnya tatkala dilihat oleh orang lain’.” (H.R. Ibnu Ma-jah dan Baihaqi)

Riya bukanlah penyakit yang tidak dapat diobati. Riya dapat dihilangkan sedikit demi sedikit dengan cara melakukan hal-hal berikut.

a. Menghilangkan Sebab-Sebab Riya

Seseorang berbuat riya disebabkan oleh hal-hal tertentu. Untuk menghilangkan riya, penyebab riya harus dihilangkan. Jika penyebab riya tidak dihilangkan, riya tidak akan pernah hilang dari dalam hati. Membiarkan penyebab riya bersarang dalam hati sama dengan membiarkan riya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghilangkan riya dari hati harus menghilangkan penyebabnya. Jika sebab-sebab riya telah hilang, perilaku riya akan hilang dengan sendirinya. (Sa’id Hawwa. 2006)

b. Mengikhlaskan Ibadah untuk Allah Swt.

Semata Manusia dikaruniai Allah Swt. nikmat yang berlimpah. Hidup dan kehidupan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, pantaslah jika manusia melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sebagai wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya. Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah Swt. semata. Hidup, mati, dan ibadah hanya untuk Allah Swt., zat yang mengaruniakan hidup dan kehidupan.

c. Berusaha Melawan Bisikan Setan

Seseorang yang melaksanakan ibadah harus berusaha untuk melawan bisikan setan. Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk, termasuk riya. Bisikan setan harus terus-menerus dilawan karena mereka tidak berhenti menggoda sekejap pun. Jangan sekalikali menuruti ajakan setan sebab ia akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Jika setan telah mengajak untuk berbuat riya, kita harus segera memperbaiki niat dan mengembalikannya hanya untuk Allah Swt. semata.

d. Menyadari bahwa Hanya Allah Swt. yang Memberi Balasan

Setiap amal manusia akan mendapat balasan yang sesuai. Amal kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Amal buruk akan mendapat balasan buruk pula. Kesadaran bahwa hanya Allah Swt. yang dapat memberi balasan merupakan cara menghilangkan riya dari hati. Manusia tidak akan mampu memberi balasan terhadap amal yang dilaksanakan oleh sesamanya. Hanya Allah Swt. yang mampu memberi balasan terhadap amal perbuatan makhluk-Nya.

Aniaya


1. Pengertian dan Contoh Perilaku Aniaya

Aniaya dapat diartikan dengan perbuatan bengis atau berbuat sewenang-wenang. Berbuat aniaya dapat diartikan dengan berbuat sewenang-wenang. Perbuatan sewenang-wenang tersebut dapat dilakukan terhadap sesama manusia maupun terhadap makhluk-Nya.

Aniaya merupakan perilaku tercela yang harus diwaspadai. Terhadap sesama manusia tidak sepantasnya kita berbuat aniaya. Terhadap sesama makhluk kita tidak boleh berbuat aniaya. Makhluk Allah Swt. memiliki hak yang sama untuk hidup. Oleh karena itu, kita tidak boleh berbuat aniaya kepada mereka.

Termasuk dalam perbuatan aniaya (zalim) adalah perbuatan yang melampaui batas. Selain itu, termasuk dalam perbuatan aniaya adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim dapat diartikan dengan melanggar hak orang lain. Tanpa disadari kita sering menzalimi atau berbuat aniaya kepada teman atau saudara.

Salah satu contoh perbuatan zalim adalah mengurangi timbangan. Meskipun pembeli tidak mengetahuinya, tetap saja penjual telah berbuat aniaya kepadanya. Allah Swt. mengetahui seluruh perbuatan manusia. Allah Swt. mengetahui perbuatan zalim yang telah dilakukan oleh penjual yang mengurangi timbangan. Jika barang yang dijual cacat atau barang yang ada kurang berat timbangannya, kita dapat berkata jujur atau mengurangi harga. Hal tersebut lebih baik dan lebih jujur daripada berbuat zalim dengan mengurangi timbangan.

2. Menghindari Perilaku Aniaya dalam Keseharian

Perilaku aniaya harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Aniaya tidak membawa manfaat sedikit pun bagi kehidupan seseorang. Ada beberapa macam bentuk zalim sebagai berikut.

a. Zalim kepada Allah Swt.

Zalim kepada Allah Swt. merupakan kezaliman tertinggi. Zalim kepada Allah Swt. dapat berbentuk perbuatan syirik, tidak mengakui bahwa Allah Swt. adalah khaliq, tidak takut kepada Allah Swt., dan berbagai tindakan lainnya.

b. Zalim terhadap Anggota Tubuh Pemberian Allah Swt.

Anggota tubuh merupakan karunia Allah Swt. yang harus dijaga sebaik-baiknya. Anggota tubuh hendaknya dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tidak sepantasnya anggota tubuh dipergunakan untuk berbuat aniaya. Menyakiti orang lain merupakan perilaku zalim yang menggunakan anggota tubuh sebagai alatnya. Jangan sampai anggota tubuh menjauhkan kita dari Allah Swt.

c. Zalim terhadap Harta

Harta benda merupakan karunia Allah Swt. dan titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh pemilik-Nya. Karunia berupa harta benda harus dipergunakan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan bantuan. Memanfaatkan harta benda untuk suatu perbuatan yang menjauhkan dari Allah Swt. berarti telah berbuat aniaya terhadap harta benda.

d. Zalim kepada Sesama Manusia

Zalim kepada sesama manusia dapat berbentuk pemukulan, penghinaan, fitnah, dan berbagai bentuk perbuatan buruk lainnya. Zalim kepada sesama manusia ini yang paling sering dibahas dan muncul ke permukaan. Perbuatan zalim lainnya sering dilupakan dan luput dari pembahasan.

e. Zalim terhadap Sesama Makhluk

Banyak sekali bentuk perbuatan zalim terhadap sesama makhluk. Misalnya merusak lingkungan, menyiksa hewan, tidak memberi makan binatang peliharaan, dan perbuatan lainnya.

Demikianlah bentuk-bentuk perbuatan zalim. Perbuatan zalim dapat menyakiti dan menyengsarakan orang lain. Dengan demikian, zalim harus dijauhkan dari kehidupan. Tanamkan dalam hati bahwa tidak sepantasnya kita menyakiti atau berbuat zalim kepada Allah Swt., sesama makhluk, maupun diri sendiri. Diri sendiri dan sesama makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup dan merasakan kebahagiaan. Selain itu, kesadaran bahwa makhluk Allah Swt. memiliki kedudukan yang sama di hadapanNya dapat menghindarkan perbuatan zalim dari hati.

Diskriminasi


1. Pengertian dan Contoh Diskriminasi

Diskriminasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan lain sebagainya). Segala perlakuan pembedaan yang didasarkan atas warna kulit, jenis kelamin, golongan, status sosial, dan berbagai perbedaan lainnya merupakan perbuatan diskriminasi.

Masih banyak tindakan diskriminasi kita saksikan dalam keseharian. Banyak orang yang memperoleh perlakuan berbeda karena memiliki warna kulit berbeda. Masih banyak kita temukan perlakuan berbeda terjadi karena perbedaan status sosial maupun jenis kelamin. Perlakuan berbeda mendatangkan rasa yang tidak nyaman bahkan sakit hati bagi orang yang menerimanya.

Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan dengan kekurangan. Setiap manusia menginginkan kesempurnaan. Akan tetapi, tidak semua keinginan manusia terwujud. Ada manusia yang diciptakan dengan kelebihan dalam bidang kecantikan dan ada yang tidak memilikinya. Ada yang dikaruniai kelebihan berbentuk kecerdasan dan ada yang tidak. Semua itu tentu ada hikmahnya dan kita tidak boleh bertindak diskriminasi karena perbedaan tersebut.

Salah satu contoh diskriminasi adalah A tidak mau bergaul dengan B. Sikap tersebut berbeda dengan sikapnya kepada teman-temannya yang lain. Perbedaan perlakuan terhadap B oleh A dikarenakan B hanya anak seorang petani. Status sosial B berbeda dengan teman-temannya yang lain.

Tindakan A terhadap B dapat dikategorikan sebagai tindakan diskriminasi. A tidak mau bergaul dengan B hanya karena B anak seorang petani yang status sosialnya berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Sikap yang ditunjukkan oleh A dapat menyinggung bahkan menyakiti hati B. Sikap yang demikian tidak pantas untuk ditiru.

2. Menghindari Perilaku Diskriminasi dalam Keseharian

Islam melarang umatnya berperilaku diskriminatif. Hal ini dapat dilihat dalam perintah dan larangan Allah Swt. Perintah dan larangan-Nya berlaku bagi seluruh manusia, tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit, status sosial, dan berbagai perbedaan lainnya. Misalnya, perintah menunaikan salat berlaku bagi seluruh umat manusia tanpa membedakan status sosial, suku bangsa, dan berbagai perbedaan lainnya. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa Islam melarang hamba-Nya bertindak diskriminatif.

Diskriminasi akan melahirkan kekisruhan. Ketenangan dan kedamaian hidup tidak akan didapat melalui diskriminasi. Bayangkan jika dalam suatu masyarakat terjadi tindak diskriminasi. Orang-orang yang menerima perlakuan berbeda akan merasa tidak puas dengan perlakuan yang diterimanya. Orang-orang tersebut dapat melakukan protes atau keengganan melaksanakan program bersama. Dengan demikian, ketenangan pun terganggu.

Perbedaan dan keragaman hendaknya dijadikan sebagai sarana saling mengisi untuk menciptakan kehidupan yang damai dan indah. Perbedaan yang ada merupakan sarana untuk mengenal satu sama lain. Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini.

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. al-Hujurat: 13)

Dalam kehidupan bernegara tindak diskriminasi harus dijauhi. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menjamin perlakuan sama antar warga negara. Warga negara tidak dibedakan berdasarkan suku bangsa, warna kulit, jenis rambut, jenis kelamin, dan berbagai perbedaan yang ada. Warga negara bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan pemerintahan.

Perilaku diskriminasi harus dijauhkan dari kehidupan. Menghindari perilaku diskriminasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Menyadari bahwa Manusia Berkedudukan Sama di Hadapan Allah

Allah Swt. Membedakan manusia berdasarkan hati dan amalnya. Jika Allah Swt. tidak membedakan manusia berdasarkan kondisi fisik, manusia tidak sepantasnya melakukannya. Padahal kita tahu bahwa Allah Swt. adalah pemilik seluruh makhluk. Jika Allah Swt. sebagai pemilik makhluk tidak pernah membedakannya berdasarkan kondisi fisik, kita sebagai makhluk-Nya tidak sepantasnya memperlakukan sesama makhluk dengan perilaku diskriminatif.

b. Meyakini bahwa Setiap Makhluk Dikaruniai Keistimewaan

Tiap-tiap makhluk termasuk manusia diciptakan dengan keistimewaan tersendiri. Mungkin saja teman Anda tidak dikaruniai kecantikan, tetapi dikaruniai kecerdasan yang luar biasa. Teman Anda yang kurang beruntung dalam bidang ekonomi, mungkin saja memiliki keistimewaan dalam bidang lainnya. Dengan menanamkan kesadaran bahwa tiap-tiap manusia atau makhluk memiliki keistimewaan, perilaku diskriminasi dapat dihindari.