Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya - Coretanzone -->

    Social Items

Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya
Indonesia - lahir sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa. Suku-suku bangsa ini tersebar luas ke seluruh pelosok negeri. Mulai dari Pulau Sumatera hingga tanah Papua. Nah, salah satu suku bangsa yang berada di Pulau Sulawesi adalah suku Bugis. Suku Bugis cukup terkenal di Sulawesi. Suku ini tergolong dalam suku Melayu Deutero. Dan masuk ke Indonesia setelah adanya gelombang migrasi yang pertama dari daratan Asia, yaitu di Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” berdasarkan nama pada raja pertama yang berasal dari Cina, yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo. Yaitu La Sattumpugi.

Suku Bugis memiliki budaya yang berbeda degan suku-suku lainnya. Suku ini pun memiliki karakteristik unik dan membudaya. Diantaranya adalah budaya dalam bertegur sapa, atau mengucapkan tabe’ (permisi). Saling menghargai satu sama lain, serta berbagai budaya dalam hal adat-istiadat. Adat-istiadat ini berupa adat dalam pernikahan, adat bertani, adat bangun rumah, dan beberapa prinsip hidup suku Bugis.

Dalam budaya pernikahan, suku Bugis menerapkan 2 hal penting. Yaitu

1. Pernikahan yang dianjurkan:


Assialang marola, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik itu dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Assialana memang, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Ripanddeppe’ mabelae, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

2. Pernikahan yang dilarang atau sumbang (salimara’):


Anak dengan ibu atau ayah
Saudara sekandung.
Menantu dan mertua.
Paman atau bibi dengan kemenakannya.
Kakek atau nenek dengan cucu.

Adat dan budaya suku Bugis tak bisa dipisahkan dari berbagai hal. Mulai dari alat musik, sistem kepercayaan, rumah adat, mata pencaharian penduduk, teknologi dan beragam lainnya. Mengenai kesenian, Suku Bugis terkenal dengan alat musiknya yang khas. Yaitu Gandrang Bulo, Kecapi, Gendang, Suling. Sedangkan tariannya adalah tari Paduppa Bosara, tari Pakarena, tari Ma’badong, tari Mabbissu, dan Tari Kipas. Sistem kepercayaan penduduk suku Bugis dahulu adalah animisme yang diwariskan leluhur secara turun-menurun. Namun, kemudian masyarakat mengikuti kepercayaan sure galigo. Yaitu kepercayaan pada dewa tunggal atau disebut Patoto E. Dan saat ini kepercayaan ini semakin ditinggalkan dan Islam menjadi agama mereka saat ini.

Suku Bugis dikenal dengan sistem kekerabatannya yang kuat dan dikenal dengan nama Assiajingeng. Sistem ini merupakan sistem bilateral yang mengikuti pergaulan orang tuanya. Baik itu dari pihak ayah, maupun pihak ibu. Suku Bugis sendiri memiliki status sosial dalam pembangunan rumah mereka. Yaitu rumah besar untuk para raja (Saoraja) dan rumah untuk rakyat biasa (Bola). Masyarakat Suku Bugis mencari kehidupan dari bercocok tanam dan berlaut. Hal ini karena memang tanah di Sulawesi ini begitu subur. Sedangkan lautnya pun luas. Sebagian besar suku ini mengandalkan 2 sumber kehidupan ini.

Tak banyak yang tahu kalau suku Bugis yang terletak di Sulawesi Selatan ini menyimpan banyak kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Walaupun ada budaya yang telah bercampur dengan budaya-budaya lainnya seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi saat ini. Walaupun demikian,  pokok pentingnya masih ada dan diterapkan semua masyarakatnya.

Nah, itulah beberapa hal seputar suku Bugis di Sulawesi Selatan dan budayanya yang ada dalam suku tersebut. Semoga artikel sederhana ini dapat bermanfaat.

Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya

Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya
Indonesia - lahir sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa. Suku-suku bangsa ini tersebar luas ke seluruh pelosok negeri. Mulai dari Pulau Sumatera hingga tanah Papua. Nah, salah satu suku bangsa yang berada di Pulau Sulawesi adalah suku Bugis. Suku Bugis cukup terkenal di Sulawesi. Suku ini tergolong dalam suku Melayu Deutero. Dan masuk ke Indonesia setelah adanya gelombang migrasi yang pertama dari daratan Asia, yaitu di Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” berdasarkan nama pada raja pertama yang berasal dari Cina, yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo. Yaitu La Sattumpugi.

Suku Bugis memiliki budaya yang berbeda degan suku-suku lainnya. Suku ini pun memiliki karakteristik unik dan membudaya. Diantaranya adalah budaya dalam bertegur sapa, atau mengucapkan tabe’ (permisi). Saling menghargai satu sama lain, serta berbagai budaya dalam hal adat-istiadat. Adat-istiadat ini berupa adat dalam pernikahan, adat bertani, adat bangun rumah, dan beberapa prinsip hidup suku Bugis.

Dalam budaya pernikahan, suku Bugis menerapkan 2 hal penting. Yaitu

1. Pernikahan yang dianjurkan:


Assialang marola, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik itu dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Assialana memang, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Ripanddeppe’ mabelae, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

2. Pernikahan yang dilarang atau sumbang (salimara’):


Anak dengan ibu atau ayah
Saudara sekandung.
Menantu dan mertua.
Paman atau bibi dengan kemenakannya.
Kakek atau nenek dengan cucu.

Adat dan budaya suku Bugis tak bisa dipisahkan dari berbagai hal. Mulai dari alat musik, sistem kepercayaan, rumah adat, mata pencaharian penduduk, teknologi dan beragam lainnya. Mengenai kesenian, Suku Bugis terkenal dengan alat musiknya yang khas. Yaitu Gandrang Bulo, Kecapi, Gendang, Suling. Sedangkan tariannya adalah tari Paduppa Bosara, tari Pakarena, tari Ma’badong, tari Mabbissu, dan Tari Kipas. Sistem kepercayaan penduduk suku Bugis dahulu adalah animisme yang diwariskan leluhur secara turun-menurun. Namun, kemudian masyarakat mengikuti kepercayaan sure galigo. Yaitu kepercayaan pada dewa tunggal atau disebut Patoto E. Dan saat ini kepercayaan ini semakin ditinggalkan dan Islam menjadi agama mereka saat ini.

Suku Bugis dikenal dengan sistem kekerabatannya yang kuat dan dikenal dengan nama Assiajingeng. Sistem ini merupakan sistem bilateral yang mengikuti pergaulan orang tuanya. Baik itu dari pihak ayah, maupun pihak ibu. Suku Bugis sendiri memiliki status sosial dalam pembangunan rumah mereka. Yaitu rumah besar untuk para raja (Saoraja) dan rumah untuk rakyat biasa (Bola). Masyarakat Suku Bugis mencari kehidupan dari bercocok tanam dan berlaut. Hal ini karena memang tanah di Sulawesi ini begitu subur. Sedangkan lautnya pun luas. Sebagian besar suku ini mengandalkan 2 sumber kehidupan ini.

Tak banyak yang tahu kalau suku Bugis yang terletak di Sulawesi Selatan ini menyimpan banyak kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Walaupun ada budaya yang telah bercampur dengan budaya-budaya lainnya seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi saat ini. Walaupun demikian,  pokok pentingnya masih ada dan diterapkan semua masyarakatnya.

Nah, itulah beberapa hal seputar suku Bugis di Sulawesi Selatan dan budayanya yang ada dalam suku tersebut. Semoga artikel sederhana ini dapat bermanfaat.