Cerita dari Namlea: Minyak Kayu Putih Pulau Buru, Maluku - Coretanzone

    Social Items

Apa yang terlintas di kepala anda jika mendengar Namlea atau Pulau Buru? Saya coba tebak: pertama, pulau pembuangan tahanan politik. Kedua adalah Tertalogi Pulau Buru yang berisikan empat novel karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan hebat Indonesia dan juga seorang tahanan politik di pulau Buru. Ketiga dan yang terakhir adalah Minyak kayu putih. Dan tak lupa yang terakhir adalah tambang emas gunung botak. Semoga tebakan saya tidak meleiisyet.

Minyak kayu putih dan Namlea bagai dua sisi dalam satu koin, tak terpisahkan. Hal itu dikarenakan di Namlea tumbuhan yang nama latinnya Melaleuca leucadendra ini tumbuh dengan liar, tak ada yang menanam dan merawat, dan tinggal dipetik. Dan, perlu dicatat bahwa minyak kayu putih “made from Buru” sajalah yang memiliki kualitas prima.

Saat berkunjung di Namlea, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Bukit Tatanggo, suatu bukit di mana tersaji pemandangan hamparan lahan pohon kayu putih. Jika di Kebun Teh, di Malino para warga memetik daun teh, maka di Namlea sini, aktivitas warganya memetik daun kayu putih. Seperti halnya daun teh, daun kayu putih terbaik adalah di pucuk. Pucuk.. pucuk.. pucuk..

Sebagian besar kita mengenal minyak kayu putih hanya dalam bentuk kemasannya dan dipakai ketika tergigit serangga, sakit perut atau membutuhkan kehangatan akan menggunakan minyak kayu putih. Tapi sedikit dari kita yang tahu bagaimana perjuangan para warga di Namlea untuk memetik daun kayu putih itu sebelum diolah dan dikemas menjadi minyak kayu putih, seperti yang kebanyakan kita pakai. Untuk ke lahan pohon kayu putih, para warga harus mendaki bukit, sebab mereka percaya bahwa khasiat minyak kayu putih yang dihasilkan pohon kayu putih di atas bukit lebih baik daripada di bawah bukit. Setelah memetik daun pucuk minyak kayu putih, para warga itu harus membawa tumpukan daun kayu putih itu dengan peralatan yang sederhana: satu bambu berukuran kurang-lebih satu meter yang di kedua ujungnya dipasangkan dua karung beras.

Setelah daun minyak kayu putih diangkut ke tempat penyulingan. Ada yang menarik dari proses penyulingan minyak kayu putih, yakni cara penyulingannya yang masih menggunakan cara tradisional dan memiliki filosofi tersendiri. Mungkin sebab itulah kualitas dan khasiat minyak kayu putih dari pulau Buru adalah yang paling prima.
Postingan ini dikirim oleh:
Photo

Seorang Penjelajah Nusantara

Cerita dari Namlea: Minyak Kayu Putih Pulau Buru, Maluku

Apa yang terlintas di kepala anda jika mendengar Namlea atau Pulau Buru? Saya coba tebak: pertama, pulau pembuangan tahanan politik. Kedua adalah Tertalogi Pulau Buru yang berisikan empat novel karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan hebat Indonesia dan juga seorang tahanan politik di pulau Buru. Ketiga dan yang terakhir adalah Minyak kayu putih. Dan tak lupa yang terakhir adalah tambang emas gunung botak. Semoga tebakan saya tidak meleiisyet.

Minyak kayu putih dan Namlea bagai dua sisi dalam satu koin, tak terpisahkan. Hal itu dikarenakan di Namlea tumbuhan yang nama latinnya Melaleuca leucadendra ini tumbuh dengan liar, tak ada yang menanam dan merawat, dan tinggal dipetik. Dan, perlu dicatat bahwa minyak kayu putih “made from Buru” sajalah yang memiliki kualitas prima.

Saat berkunjung di Namlea, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Bukit Tatanggo, suatu bukit di mana tersaji pemandangan hamparan lahan pohon kayu putih. Jika di Kebun Teh, di Malino para warga memetik daun teh, maka di Namlea sini, aktivitas warganya memetik daun kayu putih. Seperti halnya daun teh, daun kayu putih terbaik adalah di pucuk. Pucuk.. pucuk.. pucuk..

Sebagian besar kita mengenal minyak kayu putih hanya dalam bentuk kemasannya dan dipakai ketika tergigit serangga, sakit perut atau membutuhkan kehangatan akan menggunakan minyak kayu putih. Tapi sedikit dari kita yang tahu bagaimana perjuangan para warga di Namlea untuk memetik daun kayu putih itu sebelum diolah dan dikemas menjadi minyak kayu putih, seperti yang kebanyakan kita pakai. Untuk ke lahan pohon kayu putih, para warga harus mendaki bukit, sebab mereka percaya bahwa khasiat minyak kayu putih yang dihasilkan pohon kayu putih di atas bukit lebih baik daripada di bawah bukit. Setelah memetik daun pucuk minyak kayu putih, para warga itu harus membawa tumpukan daun kayu putih itu dengan peralatan yang sederhana: satu bambu berukuran kurang-lebih satu meter yang di kedua ujungnya dipasangkan dua karung beras.

Setelah daun minyak kayu putih diangkut ke tempat penyulingan. Ada yang menarik dari proses penyulingan minyak kayu putih, yakni cara penyulingannya yang masih menggunakan cara tradisional dan memiliki filosofi tersendiri. Mungkin sebab itulah kualitas dan khasiat minyak kayu putih dari pulau Buru adalah yang paling prima.
Postingan ini dikirim oleh:
Photo

Seorang Penjelajah Nusantara