Analisis Film Before The Flood (2016)* - Coretanzone

    Social Items

Analisis Film Before The Flood (2016)*
Film Before The Flood merupakan salah satu film dokumenter Amerikas Serikat yang dirilis pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Fisher Stevens dan merupakan film dokumenter kelas dunia yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Lalu apa saja yang diangkat dalam film ini? Berikut ini ulasannya.

Masalah Lingkungan dalam Film Before The Flood


Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye (2001),[1] dalam buku mereka, Power and Interdependence, menyatakan bahwa dalam perkembangan kontemporer, isu cakupan isu dalam studi hubungan tidak hanya sekadar membahas isu tradisional seperti militer dan kemananan saja, akan tetapi juga isu-isu non-konvensional seperti lingkungan dan Hak Asasi Manusia.

Khususnya untuk isu lingkungan, menurut Andrew Hurrel (1995),[2] setidaknya dalam tiga dekade terakhir, cukup signifikan menjadi konsen dalam studi hubungan internasional. Beberapa sebab di antaranya adalah meningkatnya degradasi lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesadaran ekologis. Selain itu, isu lingkungan yang sifatnya transboundary dan mengglobal turut andil dalam mengantar isu tersebut dalam studi hubungan internasional.[3]

Perubahan iklim adalah salah satu isu lingkungan yang paling sering dan paling mutakhir dibicarakan dalam hubungan internasional. Menurujuk pada Stephen H. Schneider (2002),[4] maka perubahan iklim jika ditinjau dari terminologinya adalah perubahan variabel iklim seperti suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam periode waktu yang panjang. Terminologi perubahan iklim sering disamakan dengan terminologi pemanasan global. Akan tetapi pemanasan global bukan satu-satunya gejala perubahan iklim, oleh karenanya lebih tepat menggunakan terminologi perubahan iklim.

Perubahan iklim sebenarnya merupakan proses yang alami akan tetapi perubahan tersebut menjadi semakin cepat karena dipicu aktivitas manusia. Percepatan perubahan iklim tersebut dimulai sejak revolusi industri. Sebagaimana diungkapkan Ban Ki-Moon, “perubahan iklim datang jauh lebih cepat. Kita sudah melihat pola cuaca yang luar biasa ekstream.”[5]

Percapatan laju perubahan iklim sejatinya sudah dimulai sejak awal revolusi industri. Revolusi industri membuat manusia secara berlebihan menggunakan bahan bakar fosil, melakukan deforestasi dan penggunaan lahan, yang kesemuanya itu menjadi penyebab menumpuknya Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer.

Meskipun isu perubahan iklim merupakan suatu kebenaran, setidaknya didukung oleh 98persen ilmuwan iklim, akan tetapi secara politis isu perubahan iklim ini belum menjadi perhatian para pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan yang notabene adalah politikus lebih memperhatikan popularitas dan kekuatan modal ketimbang substansi kebenaran dari hasil kajian para ilmuwan ilmuwan.

Dalam film Before The Flood  digambarkan bagaimana gletser-gletser purba di Greenland dan di Arktik yang secara cepat menghilang, jauh lebih cepat dari prediksi ilmiah, polusi industri berupa kadar racun di udara di Beijing, China, penebangan habis-habisan hutan boreal di Kanada dan hutan hujan tropis di Indonesia, curah hujan yang tak terduga hingga menghancurkan pertanian di India, serta naiknya permukaan air laut di Miami, Amerika, dan di Karibati, sebuah Negara kepulauan di samudera Pasific, yang terancam akan hilang dari peta dunia.

Peran Aktor dalam Film Before The Flood


Dengan berakhirnya perang dingin yang melibatkan dua Negara adidaya di dunia ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet, turut berdampak pada adanya perubahan isu dan aktor dalam studi hubungan internasional. Dalam hal actor hubungan internasional, menurut Margareth E. Keck dan Kathryn Sikkink (1998),[6] hubungan internasional bukan sekadar interaksi antar Negara tetapi meliputi interaksi antar berbagai actor non negara baik dengan sesamanya maupun dengan Negara.

Sebagai persoalan yang mengglobal, permasalahan lingkungan, yakni perubahan iklim, telah melibatkan banyak aktor, baik actor Negara maupun actor-non Negara. Menurut Goldstein (2005),[7] Negara boleh jadi aktor yang paling penting dalam hubungan internasional, tetapi mereka sangat tergantung, terbatasi dan dipengaruhi oleh aktor bukan Negara.Terdapat banyak aktor non-negara yang mempunyai pengaruh dan legitimasi yang independen dari negara.

Menurut Minix (1998), actor-aktor selain Negara terbagi menjadi tiga, yaitu: Intergovernmental Organization (IGO) atau organisasi antar pemerintah; Nongovernmental Organization (NGO) atau oranisasi non-pemerintah; dan Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional.[8]

Dalam Before The Flood, baik actor Negara maupun actor non-negara dengan ketiga pembagiannya terlibat. Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional sebagai indutri besar yang trans Negara dalam menjalankan aktivitas cukup banyak memberikan dampak kepada kemerosotan lingkungan untuk efekivitas dan efieinsi produksi guna menekan cost sekecil-kecilnya guna mendapatkan laba sebesar-besarnya. Sebagai contoh yang menarik, sebagimana dipaparkan dalam film adalah hutan yang dengan sengaja dinyalakan di Sumatera untuk membuat perkebunana kelapa sawit untuk  memperoleh minyak sayur termurah.

Contoh lain yang tidak kalah tragisnya adalah di China, ketika industrialiasasi membuat hampir seluruh warga kota menggunakan masker guna tidak menghirup udara yang memiliki kadar racun akibat polusi.

Baik di China, India, maupun Indonesia, actor non-negara seperti Nongovernmental Organization (NGO) berperan menekan pemerintah sebagai actor negara dengan data dan temuan yang ilmiah guna pemerintah mengambil kebijakan pro terhadap lingkungan hidup, akan tetapi sepertinya, isu lingkungan tidak begitu populis dan berpotensi memposisikan pemerintah pada posisi yang berlawanan dengan Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional, actor non pemerintah yang bergerak dengan kekuatan modal yang besar.

Penanganan Masalah Lingkungan


Penanganan masalah kemerosotan petama dan utama adalah mulai merubah pandangan “antrophosentrism”, bahwa manusia adalah ukuran segalanya dan tidak ada sama sekali pertimbangan apapun di luar manusia, katakanlah seperti alam. Pandangan bahwa manusia adalah ukuran segalanya membuat manusia mengkesploitasi alam tanpa batas dan alam mengalami kemorosotan sehingga pada titik tertentu tidak layak dihidupi.

Berikut adalah persoalan gaya hidup. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai masyarakat maju, sebagaimana kata Rostow, ditandai dengan adanya high-consumption, konsumsi tingkat tinggi. Persoalannya, hal tersebut berkonsekusnsi pada kemerosotan lingkungan. Persoalannya makin rumit karena sejak awalnya sudah ada ketimpangan pemakaian sumber daya energy. Sunita Narain dari Centre For Science And Environment, Delhi, menunjukan bahwa konsumsi energy listrik satu warga Amerika di rumah setara dengan 34 warga India. Gaya hidup manusia di Negara maju dapat berakibat pada hilangnya sebuah Negara dari peta dunia.

Untuk menekan gaya hidup yang hyper-consumption, oleh Gregory Mankiw, Profesor Ekonomi dari Harvard University, menyarankan tentang pajak karbon. Ketika ditanyakan oleh Leonardo DiCaprio tentang kenapa Amerika belum punya pajak karbon? Profesor Mankiw menjawab, “para politikus tidak selalu mengikuti kata-kata para profesor.”[9]

Masyarakat harus bergerak, menekan pemerintah untuk memainkan perannya sebagai actor Negara dalam membuat kebijkan yang pro terhadap lingkungan hidup. Menerapkan system yang ketat terhadap Multinational Corporations (MNCs) sekaligus mencari energy alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan.

-------------
*) Catatan ini adalah tugas kuliah pada Desember 2016, di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Bosowa, Makassar

[1] Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye, Power and Interdependence, New York: Longman, 2001, hal. 3

[2] Ken Booth dan Steven Smith, International Relation Theory Today, Pennsylvania: University Press, 1995, hal. 130

[3] Ibid.

[4] Stephen H. Schneider, et. Al. Climate Change Policy: A Survey, Washington: Island Press, 2002, hal. 3

[5] Dalam Before The Flood, 2016

[6] Margareth E. Keck dan Kathryn Sikkink, Activist Beyond Border: Advocacy Networks in International Politics, Ithaca: Cornell University, 1998, hal. 1

[7] Joshua S. Goldstein, International Relations, Pearson/Longman, hal. 12

[8] Dean A. Minix dan Sandra Hawley (1998), Global Politics, dalam Teguh Andi Raharjo, Aktor-Aktor di Balik Hubungan Internasional http://hibanget.com/aktor-aktor-di-balik-hubungan-internasional/ diakses pada 23 Desember 2016

[9] Dalam Before The Flood, 2016
Postingan ini dikirim oleh:
Photo

Learning to appreciate a process for a change

Analisis Film Before The Flood (2016)*

Analisis Film Before The Flood (2016)*
Film Before The Flood merupakan salah satu film dokumenter Amerikas Serikat yang dirilis pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Fisher Stevens dan merupakan film dokumenter kelas dunia yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Lalu apa saja yang diangkat dalam film ini? Berikut ini ulasannya.

Masalah Lingkungan dalam Film Before The Flood


Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye (2001),[1] dalam buku mereka, Power and Interdependence, menyatakan bahwa dalam perkembangan kontemporer, isu cakupan isu dalam studi hubungan tidak hanya sekadar membahas isu tradisional seperti militer dan kemananan saja, akan tetapi juga isu-isu non-konvensional seperti lingkungan dan Hak Asasi Manusia.

Khususnya untuk isu lingkungan, menurut Andrew Hurrel (1995),[2] setidaknya dalam tiga dekade terakhir, cukup signifikan menjadi konsen dalam studi hubungan internasional. Beberapa sebab di antaranya adalah meningkatnya degradasi lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesadaran ekologis. Selain itu, isu lingkungan yang sifatnya transboundary dan mengglobal turut andil dalam mengantar isu tersebut dalam studi hubungan internasional.[3]

Perubahan iklim adalah salah satu isu lingkungan yang paling sering dan paling mutakhir dibicarakan dalam hubungan internasional. Menurujuk pada Stephen H. Schneider (2002),[4] maka perubahan iklim jika ditinjau dari terminologinya adalah perubahan variabel iklim seperti suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam periode waktu yang panjang. Terminologi perubahan iklim sering disamakan dengan terminologi pemanasan global. Akan tetapi pemanasan global bukan satu-satunya gejala perubahan iklim, oleh karenanya lebih tepat menggunakan terminologi perubahan iklim.

Perubahan iklim sebenarnya merupakan proses yang alami akan tetapi perubahan tersebut menjadi semakin cepat karena dipicu aktivitas manusia. Percepatan perubahan iklim tersebut dimulai sejak revolusi industri. Sebagaimana diungkapkan Ban Ki-Moon, “perubahan iklim datang jauh lebih cepat. Kita sudah melihat pola cuaca yang luar biasa ekstream.”[5]

Percapatan laju perubahan iklim sejatinya sudah dimulai sejak awal revolusi industri. Revolusi industri membuat manusia secara berlebihan menggunakan bahan bakar fosil, melakukan deforestasi dan penggunaan lahan, yang kesemuanya itu menjadi penyebab menumpuknya Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer.

Meskipun isu perubahan iklim merupakan suatu kebenaran, setidaknya didukung oleh 98persen ilmuwan iklim, akan tetapi secara politis isu perubahan iklim ini belum menjadi perhatian para pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan yang notabene adalah politikus lebih memperhatikan popularitas dan kekuatan modal ketimbang substansi kebenaran dari hasil kajian para ilmuwan ilmuwan.

Dalam film Before The Flood  digambarkan bagaimana gletser-gletser purba di Greenland dan di Arktik yang secara cepat menghilang, jauh lebih cepat dari prediksi ilmiah, polusi industri berupa kadar racun di udara di Beijing, China, penebangan habis-habisan hutan boreal di Kanada dan hutan hujan tropis di Indonesia, curah hujan yang tak terduga hingga menghancurkan pertanian di India, serta naiknya permukaan air laut di Miami, Amerika, dan di Karibati, sebuah Negara kepulauan di samudera Pasific, yang terancam akan hilang dari peta dunia.

Peran Aktor dalam Film Before The Flood


Dengan berakhirnya perang dingin yang melibatkan dua Negara adidaya di dunia ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet, turut berdampak pada adanya perubahan isu dan aktor dalam studi hubungan internasional. Dalam hal actor hubungan internasional, menurut Margareth E. Keck dan Kathryn Sikkink (1998),[6] hubungan internasional bukan sekadar interaksi antar Negara tetapi meliputi interaksi antar berbagai actor non negara baik dengan sesamanya maupun dengan Negara.

Sebagai persoalan yang mengglobal, permasalahan lingkungan, yakni perubahan iklim, telah melibatkan banyak aktor, baik actor Negara maupun actor-non Negara. Menurut Goldstein (2005),[7] Negara boleh jadi aktor yang paling penting dalam hubungan internasional, tetapi mereka sangat tergantung, terbatasi dan dipengaruhi oleh aktor bukan Negara.Terdapat banyak aktor non-negara yang mempunyai pengaruh dan legitimasi yang independen dari negara.

Menurut Minix (1998), actor-aktor selain Negara terbagi menjadi tiga, yaitu: Intergovernmental Organization (IGO) atau organisasi antar pemerintah; Nongovernmental Organization (NGO) atau oranisasi non-pemerintah; dan Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional.[8]

Dalam Before The Flood, baik actor Negara maupun actor non-negara dengan ketiga pembagiannya terlibat. Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional sebagai indutri besar yang trans Negara dalam menjalankan aktivitas cukup banyak memberikan dampak kepada kemerosotan lingkungan untuk efekivitas dan efieinsi produksi guna menekan cost sekecil-kecilnya guna mendapatkan laba sebesar-besarnya. Sebagai contoh yang menarik, sebagimana dipaparkan dalam film adalah hutan yang dengan sengaja dinyalakan di Sumatera untuk membuat perkebunana kelapa sawit untuk  memperoleh minyak sayur termurah.

Contoh lain yang tidak kalah tragisnya adalah di China, ketika industrialiasasi membuat hampir seluruh warga kota menggunakan masker guna tidak menghirup udara yang memiliki kadar racun akibat polusi.

Baik di China, India, maupun Indonesia, actor non-negara seperti Nongovernmental Organization (NGO) berperan menekan pemerintah sebagai actor negara dengan data dan temuan yang ilmiah guna pemerintah mengambil kebijakan pro terhadap lingkungan hidup, akan tetapi sepertinya, isu lingkungan tidak begitu populis dan berpotensi memposisikan pemerintah pada posisi yang berlawanan dengan Multinational Corporations (MNCs) atau perusahaan multinasional, actor non pemerintah yang bergerak dengan kekuatan modal yang besar.

Penanganan Masalah Lingkungan


Penanganan masalah kemerosotan petama dan utama adalah mulai merubah pandangan “antrophosentrism”, bahwa manusia adalah ukuran segalanya dan tidak ada sama sekali pertimbangan apapun di luar manusia, katakanlah seperti alam. Pandangan bahwa manusia adalah ukuran segalanya membuat manusia mengkesploitasi alam tanpa batas dan alam mengalami kemorosotan sehingga pada titik tertentu tidak layak dihidupi.

Berikut adalah persoalan gaya hidup. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai masyarakat maju, sebagaimana kata Rostow, ditandai dengan adanya high-consumption, konsumsi tingkat tinggi. Persoalannya, hal tersebut berkonsekusnsi pada kemerosotan lingkungan. Persoalannya makin rumit karena sejak awalnya sudah ada ketimpangan pemakaian sumber daya energy. Sunita Narain dari Centre For Science And Environment, Delhi, menunjukan bahwa konsumsi energy listrik satu warga Amerika di rumah setara dengan 34 warga India. Gaya hidup manusia di Negara maju dapat berakibat pada hilangnya sebuah Negara dari peta dunia.

Untuk menekan gaya hidup yang hyper-consumption, oleh Gregory Mankiw, Profesor Ekonomi dari Harvard University, menyarankan tentang pajak karbon. Ketika ditanyakan oleh Leonardo DiCaprio tentang kenapa Amerika belum punya pajak karbon? Profesor Mankiw menjawab, “para politikus tidak selalu mengikuti kata-kata para profesor.”[9]

Masyarakat harus bergerak, menekan pemerintah untuk memainkan perannya sebagai actor Negara dalam membuat kebijkan yang pro terhadap lingkungan hidup. Menerapkan system yang ketat terhadap Multinational Corporations (MNCs) sekaligus mencari energy alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan.

-------------
*) Catatan ini adalah tugas kuliah pada Desember 2016, di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Bosowa, Makassar

[1] Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye, Power and Interdependence, New York: Longman, 2001, hal. 3

[2] Ken Booth dan Steven Smith, International Relation Theory Today, Pennsylvania: University Press, 1995, hal. 130

[3] Ibid.

[4] Stephen H. Schneider, et. Al. Climate Change Policy: A Survey, Washington: Island Press, 2002, hal. 3

[5] Dalam Before The Flood, 2016

[6] Margareth E. Keck dan Kathryn Sikkink, Activist Beyond Border: Advocacy Networks in International Politics, Ithaca: Cornell University, 1998, hal. 1

[7] Joshua S. Goldstein, International Relations, Pearson/Longman, hal. 12

[8] Dean A. Minix dan Sandra Hawley (1998), Global Politics, dalam Teguh Andi Raharjo, Aktor-Aktor di Balik Hubungan Internasional http://hibanget.com/aktor-aktor-di-balik-hubungan-internasional/ diakses pada 23 Desember 2016

[9] Dalam Before The Flood, 2016
Postingan ini dikirim oleh:
Photo

Learning to appreciate a process for a change

Loading...