Social Items

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?
Sebenarnya ada beberapa Nabi yang ditemani oleh hawariyyun (penolong), seperti Nabi Isa AS, begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki teman perjuangan dalam mendakwahkan ajaran Islam. Mereka ini biasanya dikenal dengan sebutan sahabat bagi kaum Mukminin dan sahabiyah bagi kaum Mukminah. Gelar yang mereka miliki adalah radhiallahu anhu yang artinya semoga Allah ridha atas mereka.

Gelar yang diberikan kepada para sahabat Rasulullah SAW dinisbatkan dari salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu surah at-Taubah ayat 100. "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Kalau dilihat dari segi definisi maka, sahabat adalah siapa saja yang pernah beretemu dan bertatap muka secara langsung dengan Rasulullah SAW kemudian memeluk Islam. Walaupun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pengkategorian siapa saja yang boleh disebut sebagai sahabat Nabi SAW.

Imam Muslim atau nama lengkapnya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang merupakan ulama hadis termasyhur, memberi pengelompokan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi 12 peringkat. Pengelompokon yang diberikan oleh Imam Muslim ini disandarkan kepada peristiwa yang telah mereka alami dan saksikan.

Para sahabat yang masuk dalam golongan pertama ialah mereka yang pertama masuk ke dalam Islam atau dalam istilah bahasa Arab disebut sebagai as-sabiqun al-awwalun, golongan ini diantaranya Abu Bakar as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan sahabat-sahabt lainnya. Golongan yang kedua diberikan kepada para sahabat yang ikut dan tergabung dalam baiat di gedung pertemuan kaum Quraisy pada waktu sebelum islam dan dan awal islam (Dar An-Nadwah). Golongan ketiga diberikan kepada mereka yang hijrah ke wilayah Habasyah. Golongan keempat adalah para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada bukit Aqabah pertama.

Untuk para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada Aqabah kedua dikategorikan ke dalam golongan kelima. Golongan keenam merupakan orang-orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di Quba pada waktu sebelum memasuki wilayah Yatsrib (Madinah) pada saat hijrah. Sahabat yang ada dalam golongan ketujuh adalah mereka yang turut bersama-sama dengan Rasulullah SAW dalam perang badar. Golongan yang dikategorikan berada dalam kelompok yang kedelapan yaitu mereka yang hijrah ke suatu tempat antara Hudaibiyah dan Badar.

Selanjutnya para sahabat yang masuk dalam golongan kesembilah adalah kaum muslimin yang ikut terlibat dalam baiat ar-Ridwan (baiat saat perjanjian Hudaibiyah). Yang kesepuluh merupakan para sahabat yang hijrah antara Hudaibiyah dan al-Fatah pada peristiwa fathu Makkah (penaklukkan Makkah). Para sahabat yang masuk dalam golongan ke sebelas ialah mereka yang berdasarkan urutan masuk Islam, dan yang berada dalam golongan ke sebelas adalah anak-anak dan remaja yang sempat melihat Rasulullah SAW secara langsung pada saat haji wada dan penaklukkan kota Makkah.

Imam Muslim berpendapat bahwa, jumlah para sahabat Rasulullah SAW saat beliau wafat mencapai seratus empat puluh empat ribu. Mereka adalah orang-orang yang secara langsung melihat Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam. Imam Bukhari berpandangan bahwa sahabat Nabi SAW adalah orang Islam yang hidup bersama beliau dan pernah secara langsung melihatnya. Imam Ahmad bin Hambal berpandangan bahwa sahabat merupakan orang yang pernah hidup bersama dengan Nabi SAW, sesaat, hanya melihatnya, sehari, sebulan, setahun dan seterusnya.

Sa'id bin Musayyab yang merupakan pemuka tabi'in mengungkapkan bahwa sahabat merupakan umat Islam yang hidup bersama dengan Nabi SAW satu atau dua tahun dan pernah ikut bersama Rasulullah berperang satu atau dua kali. Sedangkan Ibnu Hajar al-Hairimi memberi definisi sahabat sebagai orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW kemudian menjadi mukmin dan hidup bersama Nabi SAW baik itu dalam waktu yang lama maupun hanya sebentar, baik itu melakukan periwayatan hadis atau tidak, atau pernah melihat Rasulullah walaupun hanya sekali atau tak bisa melihatnya karena dalam keadaan buta namun hidup di zaman Rasulullah SAW masih hidup.

Walaupun terdapat perbedaan pendapat ulama terkait dengan definisi sahabat, namun pada dasarnya hampir mirip saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, baik itu melihat secara langsung atau tidak karena buta, kemudian memeluk Islam dan hidup bersamanya walau sesaat.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW mempunyai peran yang sangat besar dalam mewariskan ajaran agama Islam. Mereka adalah generasi terbaik umat Islam karena secara langsung dapat berhubungan dengan Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam. Ketika terdapat permasalahan-permasalahan dalam persoalan agama, mereka secara langsung dapat bertanya kepada Rasulullah SAW dan kemudian mendapatkan jawaban dan pencerahan dari beliau, atau ketika mereka melakukan ijtihad maka itu berasal dari pemahaman secara murni akan al-Quran dan Hadis.

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?
Sebenarnya ada beberapa Nabi yang ditemani oleh hawariyyun (penolong), seperti Nabi Isa AS, begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki teman perjuangan dalam mendakwahkan ajaran Islam. Mereka ini biasanya dikenal dengan sebutan sahabat bagi kaum Mukminin dan sahabiyah bagi kaum Mukminah. Gelar yang mereka miliki adalah radhiallahu anhu yang artinya semoga Allah ridha atas mereka.

Gelar yang diberikan kepada para sahabat Rasulullah SAW dinisbatkan dari salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu surah at-Taubah ayat 100. "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Kalau dilihat dari segi definisi maka, sahabat adalah siapa saja yang pernah beretemu dan bertatap muka secara langsung dengan Rasulullah SAW kemudian memeluk Islam. Walaupun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pengkategorian siapa saja yang boleh disebut sebagai sahabat Nabi SAW.

Imam Muslim atau nama lengkapnya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang merupakan ulama hadis termasyhur, memberi pengelompokan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi 12 peringkat. Pengelompokon yang diberikan oleh Imam Muslim ini disandarkan kepada peristiwa yang telah mereka alami dan saksikan.

Para sahabat yang masuk dalam golongan pertama ialah mereka yang pertama masuk ke dalam Islam atau dalam istilah bahasa Arab disebut sebagai as-sabiqun al-awwalun, golongan ini diantaranya Abu Bakar as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan sahabat-sahabt lainnya. Golongan yang kedua diberikan kepada para sahabat yang ikut dan tergabung dalam baiat di gedung pertemuan kaum Quraisy pada waktu sebelum islam dan dan awal islam (Dar An-Nadwah). Golongan ketiga diberikan kepada mereka yang hijrah ke wilayah Habasyah. Golongan keempat adalah para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada bukit Aqabah pertama.

Untuk para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada Aqabah kedua dikategorikan ke dalam golongan kelima. Golongan keenam merupakan orang-orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di Quba pada waktu sebelum memasuki wilayah Yatsrib (Madinah) pada saat hijrah. Sahabat yang ada dalam golongan ketujuh adalah mereka yang turut bersama-sama dengan Rasulullah SAW dalam perang badar. Golongan yang dikategorikan berada dalam kelompok yang kedelapan yaitu mereka yang hijrah ke suatu tempat antara Hudaibiyah dan Badar.

Selanjutnya para sahabat yang masuk dalam golongan kesembilah adalah kaum muslimin yang ikut terlibat dalam baiat ar-Ridwan (baiat saat perjanjian Hudaibiyah). Yang kesepuluh merupakan para sahabat yang hijrah antara Hudaibiyah dan al-Fatah pada peristiwa fathu Makkah (penaklukkan Makkah). Para sahabat yang masuk dalam golongan ke sebelas ialah mereka yang berdasarkan urutan masuk Islam, dan yang berada dalam golongan ke sebelas adalah anak-anak dan remaja yang sempat melihat Rasulullah SAW secara langsung pada saat haji wada dan penaklukkan kota Makkah.

Imam Muslim berpendapat bahwa, jumlah para sahabat Rasulullah SAW saat beliau wafat mencapai seratus empat puluh empat ribu. Mereka adalah orang-orang yang secara langsung melihat Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam. Imam Bukhari berpandangan bahwa sahabat Nabi SAW adalah orang Islam yang hidup bersama beliau dan pernah secara langsung melihatnya. Imam Ahmad bin Hambal berpandangan bahwa sahabat merupakan orang yang pernah hidup bersama dengan Nabi SAW, sesaat, hanya melihatnya, sehari, sebulan, setahun dan seterusnya.

Sa'id bin Musayyab yang merupakan pemuka tabi'in mengungkapkan bahwa sahabat merupakan umat Islam yang hidup bersama dengan Nabi SAW satu atau dua tahun dan pernah ikut bersama Rasulullah berperang satu atau dua kali. Sedangkan Ibnu Hajar al-Hairimi memberi definisi sahabat sebagai orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW kemudian menjadi mukmin dan hidup bersama Nabi SAW baik itu dalam waktu yang lama maupun hanya sebentar, baik itu melakukan periwayatan hadis atau tidak, atau pernah melihat Rasulullah walaupun hanya sekali atau tak bisa melihatnya karena dalam keadaan buta namun hidup di zaman Rasulullah SAW masih hidup.

Walaupun terdapat perbedaan pendapat ulama terkait dengan definisi sahabat, namun pada dasarnya hampir mirip saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, baik itu melihat secara langsung atau tidak karena buta, kemudian memeluk Islam dan hidup bersamanya walau sesaat.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW mempunyai peran yang sangat besar dalam mewariskan ajaran agama Islam. Mereka adalah generasi terbaik umat Islam karena secara langsung dapat berhubungan dengan Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam. Ketika terdapat permasalahan-permasalahan dalam persoalan agama, mereka secara langsung dapat bertanya kepada Rasulullah SAW dan kemudian mendapatkan jawaban dan pencerahan dari beliau, atau ketika mereka melakukan ijtihad maka itu berasal dari pemahaman secara murni akan al-Quran dan Hadis.

Subscribe Our Newsletter