Melawan atau Ditindas - Coretanzone

    Social Items

Melawan atau Ditindas
Keheningan malam ini menambah gairah untuk melihat cakrawala yang sedang bercengkrama dengan alam, panorama pergi ke alam tiada dalam ketiadaan, terlihat mereka yang sedang bertapa dibawah gunung fantasi, dan mereka yang sedang asyik beronani dengan kekuasaan. Dalam keheningan itu aku dikejutkan dengan serdadu-serdadu yang berlari dengan laras panjang yang mereka pikul, menembus keheningan malam, merebut hak-hak rakyat jelata, menembak mati yang melawan, mencakar perut ibu-ibu yang sedang hamil. Malam ini penuh dengan darah dan tangisan janda yang ditinggal mati suaminya, bayi-bayi terkapar di sudut gubuk, Anak yatim bersimbah darah, bumi bergoncang dengan keras, mengutuk perbuatan yang nista ini. Alam sedang menangis melihat anak manusia yang tak sadar lagi, kesadaran telah hilang bersama keringnya embun pagi, panasnya mentari tadi siang membakar kebencian yang ada di dalam hati. Dari kejauhan terlihat sesosok ibu tua yang menghampiriku kemudian bertanya: "apa sebenarnya ini?" pertanyaan yang membuatku terkejut, ingin ku jawab namun logikaku telah ditutup dengan harumnya bau amis darah yang berserakan diantara gubuk-gubuk kecil itu.

Malam semakin larut, bulan terus menyinari bumi dengan indahnya namun kemurkaan tampak jelas dari wajah indah itu, intan-intan yang selalu terpancar dari wajah cantiknya telah larut dalam kesedihan yang memukau. Bintang-bintang tak lagi menampakkan binaran mutiara yang selalu kita lihat, semuanya menunjukkan pancaran kebenciaan.

Langkah kakiku kembali menuju ke kamar tempat dimana aku tinggal, dengan perabotan sederhana yang ku gunakan untuk bertahan hidup, lukisan kuno yang menambah indah kamar terpampang di sudut kamar. Aku mulai merebahkan badanku di atas tikar yang selalu ku gunakan untuk tempat beristirahat, ku coba untuk menutup mata yang dari tadi panas, namun mata ini tak bisa diajak untuk tertutup rapat, bayangan kekejaman tadi masih menghantuiku, mataku masih terjaga. Aku terus berusaha namun usahaku sia-sia, bayangan itu lebih kuat dibandingkan dengan ushaku. Namun seacra perlahan usahaku mulai menuai hasil, mata ini dengan perlahan merapat dan akupun tertidur ditemani dengan teriakan kodok yang mengalun dengan lembut.

Aku dikejutkan dengan suara adzan yang dikumandangkan dengan indah dari surau yang terletak di ujung jalan, rasa dingin mulai menghampiriku hingga menembus ke dalam jantungku, aku masih teringat dengan kejadian tadi malam, dalam hatiku bertanya “mimpikah aku semalam atau nyatakah itu?”

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, warna kuning emas yang terpancar darinya memperindah suasana pagi, embun pagi dengan jelas terlihat diatas dedaunan,  rumput ilalang begoyang lembut ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Dengan perasaan cemas bercampur sedih aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku yang pengap itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sepi, padahal di pagi sebelumnya jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan dibeli oleh warga sekitar, kios-kios tidak juga menampakkan tanda-tanda akan dibuka, semuanya bagaikan ditelan bumi. Aku terus berjalan mengikuti irama yang samar namun tak asing lagi di telingaku. Semakin aku mendekat sumber suara itu semkin jelas terdengar. Suara tangis sendu yang keluar dari mulut mungil seorang anak yang melihat bapaknya terkapar di atas keranda mayat. Banyak anak-anak yang tak berdosa sedang duduk di sudut-sudut jalan, tergambar jelas dari wajah anak-anak itu kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Serpihan luka masih mengental di dalam hati mereka, air mata masih bercucuran membasahi bumi.

Pandanganku tertuju pada sesosok wajah jelita yang tak asing lagi bagiku dia teman sekampusku, lalu coba untuk ku sapa,

“hy ani sudah lama kamu di disini?”

Iapun menjawab

“saya baru datang juga di sini, sekitar sepuluh menit yang lalu”

Kami saling berpandangan. Ani adalah seorang mahasiswi fakultas kesehatan di Universitas yang sama denganku, sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa fakultas keguruan. Kami saling kenal ketika mengikuti acara seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi extra kampus. Wajah cantik nan anggun itu melirik ke hadapan mereka yang sedang tidur di atas tanah yang penuh dengan hamparan bebatuan dan aliran darah yang telah mengering, kebingungan terlihat jelas dari raut wajah yang sejak tadi memandang ke seluruh penjuru wilayah yang telah dilumuri dengan kekejaman akibat dari nafsu serakah sekolompok manusia.

******

Matahari siang itu hampir membakar seluruh tubuh yang lalu lalang di setiap jalanan, sudut-sudut langit dipenuhi dengan amarah, namun kesibukan yang dilakukan oleh manusia tak pernah henti, mereka mengerjakan pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari tanpa meperdulikan panasnya matahari. Langkah kakiku terhenti di sudut kampus, lirikan mataku melihat sekelompok orang yang sedang asyik berteriak dan berorasi di depan kampus, di sekitar mereka terdapat kerumunan manusia yang memakai seragam coklat yang sedang menjaga dan mengawasi kegitatan tersebut. Teriakan teriakan yang mereka lantunkan bagaikan petir yang menyambar kepala manusia di siang bolong, kadang kala teriakan yel-yel khas mahasiswa terdengar, “hidup mahasiswa… hidup rakyat…”, teriakan itu berirama sekali dan membakar semangat mereka.

Perhelatan siang hari itu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong, membongkar bongkahan-bongkahan bebatuan keras, mengalir bagaikan lahar panas yang menyembur keluar dari gunung merapi. Mobil angkotpun mulai menumpuk di sepanjang jalan, kemacetan tak terhindarkan lagi, pihak lalu lintas bingung mengarahkan jalannya kendaraan yang tak beraturan itu. Aku termangu melihat pemandangan yang melengking, ku telusuri sudut kampus itu hingga sampai diantara kumpulan mahasiswa yang sedang menikmati kobaran api yang keluar dari ban bekas yang dibakar. Pikiranku sejenak terhenti berpikir, pikiran kosong yang jauh mengembara menembus batas langit, menghilang ke dalam larutan emosi yang terbakar oleh petir-petir kebencian. Langkah kakiku kembali mengalun lirih menuju sekelompok mahasiswa yang berdiri di dalam keramaian yang begitu panas. Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, sahabat seperjuangan dalam suka dan duka.

"eh kenapa baru kelihatan di sini zaki? Padahal demonya sudah dari tadi”

“maaf sahabat, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan, jadinya terlambat ke sini”

“tidak apa-apa sahabat, yang penting sudah hadir di sini”

Kami berdua terdiam sejenak karena suasana mulai memanas, ada sedikit pertentangan antara pihak keamanan dan pimpinan aksi, perdebatan terdengar dari dalam kerumunan itu. Aku kemuadian bertanya kepada sahabatku itu.

“tema sentral aksi hari ini apa?”

Dia tak menjawab pertannyaanku itu, dia cuma diam melihat hal yang terjadi di luar pertanyaanku, mungkin telinganya tertutup oleh ramainya perdebatan yang belum ada titik penyelesaian. Kemudian kami dikejutkan dengan tembakan yang bunyinya hampir memecahkan gendang telinga, tembakan yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan masa aksi, atau hanya sebuah bunyi yang mencoba untuk memaikan perannya sebagai dewa petir yang menyambar keberanian manusia. Bunyi tembakan berulang terdengar dan menyakitkan telinga, bahkan asap tebal mulai mengepul, massa aksi mulai berlari mencari perlindungan, air mata mengalir dengan deras keluar dari mata-mata yang rapuh, mata yang datang hanya untuk melihat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas dan direnggut oleh penguasa yang rakus. Siang itu bagaikan neraka yang harus dilawan dengan kekerasan, batu dan cacian keluar bersamaan, mengiringi luapan kemarahan hanya demi satu nama yaitu keadilan.

Bayang-bayang setan berkeliaran di depan kampus, menggoda dan mencoba meruntuhkan idealisme mahasiswa, pentungan terdengar di sisi-sisi jalan. Kamipun berlari menyusuri jalanan kampus menghindari amukan massa yang semakin brutal. Di bawah pohon yang rindang dan masih berdiri kokoh di belakang kampus, memberi satu isyarat bahwa kami harus berteduh di bawahnya, dengan menarik nafas yang panjang aku dan sahabatku itu kemudian beristirahat dibawah pohon tersebut.

Sungguh peristiwa yang melelahkan dan menguras hampir sebagian tenaga, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, dalam sekejap para pahlawan keadilan diterjang oleh badai yang begitu dahsyat, kemanakah mereka harus mengadu, kemanakah mereka harus mengeluh, dan kemanakah mereka berlindung, apakah semuanya sudah terlanjur salah ataukah dianggap salah. Nurani tidak lagi dipakai, akal sudah ditutupi oleh kabut dendam, iblis kemudian terbahak melihat semua ini merasa dirinya telah menang.

Apa yang terjadi siang ini merupakan ritual yang sering dilakukan oleh mahasiswa jika ada ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, menyuarakan kebenaran yang entah itu benar ataukah dibenarkan. Dalam ritual tersebut kadang terjadi pula hal-hal yang dibenarkan oleh akal dan idealism, walau dianggp salah oleh norma-norma yang berlaku, hanya demi mencari simpati dari penguasa untuk melirik dan mendengar jeritan rakyat. Apakah kita harus memberontak ataukah diam menerima keterpurukan, pilahan bijak selalu hadir sebagai solusi. Kebenaran yang benar haruslah diperjuangkan dengan jalan yang benar, bukan dengan menggunakan hawa nafsu dalam perjuangan.

Manakala Guntur berteriak di tengah langit, gemuruh angin akan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan, hujanpun mengikuti arah yang telah ditunjuk, rerumputan tumbuh di padang yang kosong, halilimtar menyambar dahan-dahan pohon, menghanguskan yang dihinnggapinya, lalu apa bedanya manusia dengan halilintar jika hawa nafsu digunakan.

Bersambung...

Melawan atau Ditindas


Loading...
Melawan atau Ditindas
Keheningan malam ini menambah gairah untuk melihat cakrawala yang sedang bercengkrama dengan alam, panorama pergi ke alam tiada dalam ketiadaan, terlihat mereka yang sedang bertapa dibawah gunung fantasi, dan mereka yang sedang asyik beronani dengan kekuasaan. Dalam keheningan itu aku dikejutkan dengan serdadu-serdadu yang berlari dengan laras panjang yang mereka pikul, menembus keheningan malam, merebut hak-hak rakyat jelata, menembak mati yang melawan, mencakar perut ibu-ibu yang sedang hamil. Malam ini penuh dengan darah dan tangisan janda yang ditinggal mati suaminya, bayi-bayi terkapar di sudut gubuk, Anak yatim bersimbah darah, bumi bergoncang dengan keras, mengutuk perbuatan yang nista ini. Alam sedang menangis melihat anak manusia yang tak sadar lagi, kesadaran telah hilang bersama keringnya embun pagi, panasnya mentari tadi siang membakar kebencian yang ada di dalam hati. Dari kejauhan terlihat sesosok ibu tua yang menghampiriku kemudian bertanya: "apa sebenarnya ini?" pertanyaan yang membuatku terkejut, ingin ku jawab namun logikaku telah ditutup dengan harumnya bau amis darah yang berserakan diantara gubuk-gubuk kecil itu.

Malam semakin larut, bulan terus menyinari bumi dengan indahnya namun kemurkaan tampak jelas dari wajah indah itu, intan-intan yang selalu terpancar dari wajah cantiknya telah larut dalam kesedihan yang memukau. Bintang-bintang tak lagi menampakkan binaran mutiara yang selalu kita lihat, semuanya menunjukkan pancaran kebenciaan.

Langkah kakiku kembali menuju ke kamar tempat dimana aku tinggal, dengan perabotan sederhana yang ku gunakan untuk bertahan hidup, lukisan kuno yang menambah indah kamar terpampang di sudut kamar. Aku mulai merebahkan badanku di atas tikar yang selalu ku gunakan untuk tempat beristirahat, ku coba untuk menutup mata yang dari tadi panas, namun mata ini tak bisa diajak untuk tertutup rapat, bayangan kekejaman tadi masih menghantuiku, mataku masih terjaga. Aku terus berusaha namun usahaku sia-sia, bayangan itu lebih kuat dibandingkan dengan ushaku. Namun seacra perlahan usahaku mulai menuai hasil, mata ini dengan perlahan merapat dan akupun tertidur ditemani dengan teriakan kodok yang mengalun dengan lembut.

Aku dikejutkan dengan suara adzan yang dikumandangkan dengan indah dari surau yang terletak di ujung jalan, rasa dingin mulai menghampiriku hingga menembus ke dalam jantungku, aku masih teringat dengan kejadian tadi malam, dalam hatiku bertanya “mimpikah aku semalam atau nyatakah itu?”

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, warna kuning emas yang terpancar darinya memperindah suasana pagi, embun pagi dengan jelas terlihat diatas dedaunan,  rumput ilalang begoyang lembut ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Dengan perasaan cemas bercampur sedih aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku yang pengap itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sepi, padahal di pagi sebelumnya jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan dibeli oleh warga sekitar, kios-kios tidak juga menampakkan tanda-tanda akan dibuka, semuanya bagaikan ditelan bumi. Aku terus berjalan mengikuti irama yang samar namun tak asing lagi di telingaku. Semakin aku mendekat sumber suara itu semkin jelas terdengar. Suara tangis sendu yang keluar dari mulut mungil seorang anak yang melihat bapaknya terkapar di atas keranda mayat. Banyak anak-anak yang tak berdosa sedang duduk di sudut-sudut jalan, tergambar jelas dari wajah anak-anak itu kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Serpihan luka masih mengental di dalam hati mereka, air mata masih bercucuran membasahi bumi.

Pandanganku tertuju pada sesosok wajah jelita yang tak asing lagi bagiku dia teman sekampusku, lalu coba untuk ku sapa,

“hy ani sudah lama kamu di disini?”

Iapun menjawab

“saya baru datang juga di sini, sekitar sepuluh menit yang lalu”

Kami saling berpandangan. Ani adalah seorang mahasiswi fakultas kesehatan di Universitas yang sama denganku, sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa fakultas keguruan. Kami saling kenal ketika mengikuti acara seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi extra kampus. Wajah cantik nan anggun itu melirik ke hadapan mereka yang sedang tidur di atas tanah yang penuh dengan hamparan bebatuan dan aliran darah yang telah mengering, kebingungan terlihat jelas dari raut wajah yang sejak tadi memandang ke seluruh penjuru wilayah yang telah dilumuri dengan kekejaman akibat dari nafsu serakah sekolompok manusia.

******

Matahari siang itu hampir membakar seluruh tubuh yang lalu lalang di setiap jalanan, sudut-sudut langit dipenuhi dengan amarah, namun kesibukan yang dilakukan oleh manusia tak pernah henti, mereka mengerjakan pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari tanpa meperdulikan panasnya matahari. Langkah kakiku terhenti di sudut kampus, lirikan mataku melihat sekelompok orang yang sedang asyik berteriak dan berorasi di depan kampus, di sekitar mereka terdapat kerumunan manusia yang memakai seragam coklat yang sedang menjaga dan mengawasi kegitatan tersebut. Teriakan teriakan yang mereka lantunkan bagaikan petir yang menyambar kepala manusia di siang bolong, kadang kala teriakan yel-yel khas mahasiswa terdengar, “hidup mahasiswa… hidup rakyat…”, teriakan itu berirama sekali dan membakar semangat mereka.

Perhelatan siang hari itu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong, membongkar bongkahan-bongkahan bebatuan keras, mengalir bagaikan lahar panas yang menyembur keluar dari gunung merapi. Mobil angkotpun mulai menumpuk di sepanjang jalan, kemacetan tak terhindarkan lagi, pihak lalu lintas bingung mengarahkan jalannya kendaraan yang tak beraturan itu. Aku termangu melihat pemandangan yang melengking, ku telusuri sudut kampus itu hingga sampai diantara kumpulan mahasiswa yang sedang menikmati kobaran api yang keluar dari ban bekas yang dibakar. Pikiranku sejenak terhenti berpikir, pikiran kosong yang jauh mengembara menembus batas langit, menghilang ke dalam larutan emosi yang terbakar oleh petir-petir kebencian. Langkah kakiku kembali mengalun lirih menuju sekelompok mahasiswa yang berdiri di dalam keramaian yang begitu panas. Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, sahabat seperjuangan dalam suka dan duka.

"eh kenapa baru kelihatan di sini zaki? Padahal demonya sudah dari tadi”

“maaf sahabat, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan, jadinya terlambat ke sini”

“tidak apa-apa sahabat, yang penting sudah hadir di sini”

Kami berdua terdiam sejenak karena suasana mulai memanas, ada sedikit pertentangan antara pihak keamanan dan pimpinan aksi, perdebatan terdengar dari dalam kerumunan itu. Aku kemuadian bertanya kepada sahabatku itu.

“tema sentral aksi hari ini apa?”

Dia tak menjawab pertannyaanku itu, dia cuma diam melihat hal yang terjadi di luar pertanyaanku, mungkin telinganya tertutup oleh ramainya perdebatan yang belum ada titik penyelesaian. Kemudian kami dikejutkan dengan tembakan yang bunyinya hampir memecahkan gendang telinga, tembakan yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan masa aksi, atau hanya sebuah bunyi yang mencoba untuk memaikan perannya sebagai dewa petir yang menyambar keberanian manusia. Bunyi tembakan berulang terdengar dan menyakitkan telinga, bahkan asap tebal mulai mengepul, massa aksi mulai berlari mencari perlindungan, air mata mengalir dengan deras keluar dari mata-mata yang rapuh, mata yang datang hanya untuk melihat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas dan direnggut oleh penguasa yang rakus. Siang itu bagaikan neraka yang harus dilawan dengan kekerasan, batu dan cacian keluar bersamaan, mengiringi luapan kemarahan hanya demi satu nama yaitu keadilan.

Bayang-bayang setan berkeliaran di depan kampus, menggoda dan mencoba meruntuhkan idealisme mahasiswa, pentungan terdengar di sisi-sisi jalan. Kamipun berlari menyusuri jalanan kampus menghindari amukan massa yang semakin brutal. Di bawah pohon yang rindang dan masih berdiri kokoh di belakang kampus, memberi satu isyarat bahwa kami harus berteduh di bawahnya, dengan menarik nafas yang panjang aku dan sahabatku itu kemudian beristirahat dibawah pohon tersebut.

Sungguh peristiwa yang melelahkan dan menguras hampir sebagian tenaga, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, dalam sekejap para pahlawan keadilan diterjang oleh badai yang begitu dahsyat, kemanakah mereka harus mengadu, kemanakah mereka harus mengeluh, dan kemanakah mereka berlindung, apakah semuanya sudah terlanjur salah ataukah dianggap salah. Nurani tidak lagi dipakai, akal sudah ditutupi oleh kabut dendam, iblis kemudian terbahak melihat semua ini merasa dirinya telah menang.

Apa yang terjadi siang ini merupakan ritual yang sering dilakukan oleh mahasiswa jika ada ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, menyuarakan kebenaran yang entah itu benar ataukah dibenarkan. Dalam ritual tersebut kadang terjadi pula hal-hal yang dibenarkan oleh akal dan idealism, walau dianggp salah oleh norma-norma yang berlaku, hanya demi mencari simpati dari penguasa untuk melirik dan mendengar jeritan rakyat. Apakah kita harus memberontak ataukah diam menerima keterpurukan, pilahan bijak selalu hadir sebagai solusi. Kebenaran yang benar haruslah diperjuangkan dengan jalan yang benar, bukan dengan menggunakan hawa nafsu dalam perjuangan.

Manakala Guntur berteriak di tengah langit, gemuruh angin akan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan, hujanpun mengikuti arah yang telah ditunjuk, rerumputan tumbuh di padang yang kosong, halilimtar menyambar dahan-dahan pohon, menghanguskan yang dihinnggapinya, lalu apa bedanya manusia dengan halilintar jika hawa nafsu digunakan.

Bersambung...

Loading...