Kebiadaban Terhadap Lingkungan - Coretanzone

    Social Items

Kebiadaban Terhadap Lingkungan
Baru-baru ini salah satu warganet mengunggah foto-foto dua orang dari Kapal Cantika 10C membuang sampah plastik ke laut. Entah apa yang merasuki mereka, aksi konyol dan tergolong biadab karena merusak ekologi dan mengancam kelangsungan hidup dan alam ini mendapat kecaman berbagai pihak.

Ini tentu hanya puncak gunung es dari ketidaksiapan manusia untuk hidup era industrialisasi yang bergantung pada plastik pada satu sisi, dan di sisi yang lain belum mampunya sebagian kita bersahabat dengan alam. Akan dengan mudah kita melihat masyarakat tanpa rasa bersalah membuang sampah di pantai atau laut. Perilaku yang lumrah terjadi di banyak tempat di Maluku.

Tentu ada banyak pihak yang bertanggung jawab akan kondisi ini. Selain minimnya kesadaran masyarakat yang menjadi persoalan mendasar, kurang tanggap dan tidak cakapnya pemerintah juga adalah problem tersendiri. Semua seperti acuh dan masa bodoh.

Tak ada fasilitas pembuangan sampah, kurang-nya penyuluhan atau program dan regulasi yang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan adalah fakta yang menunjukan bahwa pemerintah, termasuk organisasi masyarakat sipil masih lalai atau tak hadir dalam menyikapi perilaku sosial semacam ini. Belum banyak yang melihat sampah, utamanya plastik sebagai persoalan besar.

Pembuangan Sampah dari Kapal Cantika 10C

Aktivitas membuang sampah ke laut, khususnya oleh rumah tangga, bila ditelisik sejatinya adalah hal yang lumrah terjadi sejak lama. Dahulu hal itu tidak menjadi persoalan, ketika belum ada banyak sampah plastik. Karena sampah yang dibuang lebih banyak sampah organik, seperti daun, kayu dan lainnya yang gampang diurai oleh alam.

Kondisi sudah berbeda. Saat ini, plastik memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini terjadi karena proses pembuatannya yang memang mudah, harganya yang murah, sifatnya yang mudah dibentuk dan tahan lama, serta kegunaannya yang banyak, mulai dari pembungkus permen, sampai pada komponen pesawat luar angkasa.

Walaupun demikian, di balik keunggulannya, plastik memiliki efek samping yang besar bagi lingkungan karena sulit terurai secara alami. Menurut Keni Vidilaseris, seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, diperkirakan atau dibutuhkan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun agar plastik bisa terurai di alam.

Itu pula mengapa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekologi dan lingkungan hidup. Karena itu pula di berbagai tempat upaya penanggulangan sampah plastik terus dilakukan dan menjadi prioritas. Sayangnya di Maluku upaya itu belum signifikan, perlu kemauan dan kesungguhan kita bersama, jika tidak, lambat laun ‘surga’ dan alam yang indah seperti yang kita miliki di Kepulauan Maluku ini akan rusak dan bahkan menjadi ‘neraka’ bagi ekosistemnya.
Artikel ini merupakan tulisan yang direpost dari status facebook, semua isi konten menjadi tanggung jawab penulis.
Penulis
Photo

Pemerhati Maluku

Kebiadaban Terhadap Lingkungan


Kebiadaban Terhadap Lingkungan
Baru-baru ini salah satu warganet mengunggah foto-foto dua orang dari Kapal Cantika 10C membuang sampah plastik ke laut. Entah apa yang merasuki mereka, aksi konyol dan tergolong biadab karena merusak ekologi dan mengancam kelangsungan hidup dan alam ini mendapat kecaman berbagai pihak.

Ini tentu hanya puncak gunung es dari ketidaksiapan manusia untuk hidup era industrialisasi yang bergantung pada plastik pada satu sisi, dan di sisi yang lain belum mampunya sebagian kita bersahabat dengan alam. Akan dengan mudah kita melihat masyarakat tanpa rasa bersalah membuang sampah di pantai atau laut. Perilaku yang lumrah terjadi di banyak tempat di Maluku.

Tentu ada banyak pihak yang bertanggung jawab akan kondisi ini. Selain minimnya kesadaran masyarakat yang menjadi persoalan mendasar, kurang tanggap dan tidak cakapnya pemerintah juga adalah problem tersendiri. Semua seperti acuh dan masa bodoh.

Tak ada fasilitas pembuangan sampah, kurang-nya penyuluhan atau program dan regulasi yang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan adalah fakta yang menunjukan bahwa pemerintah, termasuk organisasi masyarakat sipil masih lalai atau tak hadir dalam menyikapi perilaku sosial semacam ini. Belum banyak yang melihat sampah, utamanya plastik sebagai persoalan besar.

Pembuangan Sampah dari Kapal Cantika 10C

Aktivitas membuang sampah ke laut, khususnya oleh rumah tangga, bila ditelisik sejatinya adalah hal yang lumrah terjadi sejak lama. Dahulu hal itu tidak menjadi persoalan, ketika belum ada banyak sampah plastik. Karena sampah yang dibuang lebih banyak sampah organik, seperti daun, kayu dan lainnya yang gampang diurai oleh alam.

Kondisi sudah berbeda. Saat ini, plastik memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini terjadi karena proses pembuatannya yang memang mudah, harganya yang murah, sifatnya yang mudah dibentuk dan tahan lama, serta kegunaannya yang banyak, mulai dari pembungkus permen, sampai pada komponen pesawat luar angkasa.

Walaupun demikian, di balik keunggulannya, plastik memiliki efek samping yang besar bagi lingkungan karena sulit terurai secara alami. Menurut Keni Vidilaseris, seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, diperkirakan atau dibutuhkan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun agar plastik bisa terurai di alam.

Itu pula mengapa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekologi dan lingkungan hidup. Karena itu pula di berbagai tempat upaya penanggulangan sampah plastik terus dilakukan dan menjadi prioritas. Sayangnya di Maluku upaya itu belum signifikan, perlu kemauan dan kesungguhan kita bersama, jika tidak, lambat laun ‘surga’ dan alam yang indah seperti yang kita miliki di Kepulauan Maluku ini akan rusak dan bahkan menjadi ‘neraka’ bagi ekosistemnya.
Artikel ini merupakan tulisan yang direpost dari status facebook, semua isi konten menjadi tanggung jawab penulis.
Penulis
Photo

Pemerhati Maluku