Coretanzone: Agama -->

    Social Items

Kisah Teladan Ibnu Sina dalam Menghadapi Orang yang Bodoh
Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh Islam yang sangat mahsyur. Beliau dikenal sebagai tokoh kedokteran yang karya-karyanya menjadi rujukan di bidang kedokteran berabad-abad lamanya. Sebagai salah seorang ilmuan yang lahir di Persia, beliau memiliki begitu banyak kisah inspiratif yang dapat kita ambil hikmahnya, salah satu kisahnya sebagai berikut.


Sebagai masyarakat yang hidup di padang pasir Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh yang suka melakukan perjalanan untuk berbagai kepentingan. Suatu ketika beliau melakukan perjalanan untuk urusan tertentu, ketika dalam perjalanan Ibnu Sina melihat ada tempat yang rindang dan bisa dijadikan sebagai tempat berteduh dan beristirahat. Beliau menghentikan kudanya di tempat tersebut kemudian mengikat kudanya di tempat yang agak rindang dan beristirahat.


Setelah beristirahat sejenak, Ibnu Sina lalu memberi makan kudanya dengan jerami yang dicampur dengan rumput-rumput yang dipilihnya berkualitas baik. Sebagai manusia yang memiliki pengetahuan yang tinggi, Ibnu Sina mengetahui betul bahwa menyiksa hewan itu suatu hal yang buruk, hewan apapun harus disayang karena merupakan ciptaan Allah, apalagi hewan yang sehari-hari selalu membantu manusia dalam beraktivitas.


Setelah memberi makan kudanya, Ibnu Sina kembali beristirahat di tempatnya yang lebih teduh yang tidak jauh dari tempat kudanya beristrahat. Beliau kemudian mengambil bekal yang dibawanya dan menikmatinya untuk menghilangkan lapar dan dahaga. 


Dalam kesendiriannya menikmati bekal yang dimilikinya, tiba-tiba datang seseorang mengendarai keledai yang juga ingin beristirahat di tempat tesebut. Orang yang baru datang ini turun dari keledainya kemudian mengikat keledainya itu di dekat kuda milik Ibnu Sina, dengan maksud agar keledai yang ia kendarai dapat memakan jerami dan rumput yang sama dengan yang dimakan oleh kuda milik Ibnu Sina.


Setelah keledainya diikat dan diberi makan, orang ini kemudian berjalan dan menuju ke tempat istirahat Ibnu Sina dan beristirahat dekat dengan ilmuan Islam ini. Setalah itu dia mengambil bekalnya dan menikmatinya. Di sela-sela mereka berdua menikmati apa yang mereka miliki, Ibnu Sina mengingatkan orang ini dengan mengatakan bahwa.


"Keledai yang engkau miliki, jauhkan dari kudaku agar tidak ditendang"


Orang yang berada di dekat Ibnu Sina ini hanya tesenyum mendengar peringatan itu, dia tidak bergerak untuk memindahkan keledainya, dan hanya memandang ke arah keledai dan kuda yang berdiri berdampingan.


Tak begitu lama dari peringatan Ibnu Sina, tiba-tiba terdengar suara "plak," kuda milik Ibnu Sina menendang keledai yang berada di dekatnya hingga keledai itu terluka cidera. 


Melihat keledainya sudah terluka cidera, orang ini kemudian marah-marah kepada Ibnu Sina, dan meminta pertanggung jawaban kepada Ibnu Sina atas apa yang telah kuda itu lakukan kepada keledainya. Namun Ibnu Sina hanya diam, tak ada sepata katapun terucap dari mulut Ibnu Sina. Merasa kesal dengan hal tesebut, pemiliki keledai ini pergi ke hakim untuk melaporkan apa yang telah terjadi dan meminta agar hakim mengatakan kepada Ibnu Sina untuk mengganti rugi atau membayar luka cedera keledai miliknya yang ditendang kuda milik Ibnu Sina.


Setelah laporan itu diterima oleh hakim, Ibnu Sina dipanggali untuk dilakukan sidang. Dalam persidangan hakim bertanya kepada Ibnu Sina tentang apa yang telah terjadi, namun Ibnu Sina tetap menutup mulutnya, tak terucap satu katapun.


Melihat keadaan ini, hakim kemudian bertanya kepada orang yang mengadukan permasalahannya.


"Apakah orang yang engkau laporkan ini bisu?"


Mendengar pertanyaan dari hakim itu, orang yang mengadu ini menjawab, "tidak hakim, saat berteduh tadi dia berbicara kepadaku."


Hakim terdiam sejenak dan bernya lagi, "apa yang orang ini katakan kepadamu?"


Orang ini dengan wajah yang mulai berubah menjawab dengan hati-hati, "keledaimu jangan dekatkan dengan kuda yang ku miliki, nanti ditendang"


Hakim tersenyum mendengar jawaban dari orang ini, kemudian berkata kepada Ibnu Sina, "engkau memang orang yang cukup cerdas, dengan tidak berkata apapun kebenaran sudah terungkap"


Ibnu Sina lalu tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh hakim tersebut, kemudian ia berkata, "tiada cara apapun menghadapi orang yang bodoh, kecuali dengan diam, karena dengan begitu kebenaran akan menunjukkan jalannya sendiri. Itulah yang menyebabkan saya memilih untuk diam."


Sidangpun selesai, dan Ibnu Sina tidak membayar ganti rugi atas apa yang telah kudanya lakukan kepada keledai miliki orang tersebut, karena sebelumnya Ibnu Sina sudah memperingatkan orang tersebut agar jangan mendekatkan keledainya di dekat kuda miliki Ibnu Sina.


Dari salah satu kisah kecerdasan Ibnu Sina di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa, ternyata diam itu terkadang emas. Untuk menghadapi orang bodoh kita tak perlu banyak berdebat dengan mereka, karena orang yang memiliki kecerdasan yang minim tidak akan mampu menjangkau cara berpikir orang yang cerdas. Mereka (orang-orang bodoh) akan terus berdebat hingga bisa terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Olehnya itu bijak dan berpikir cerdas merupakan jalan yang terbaik dalam menghadapi berbagai persoalan.

Kisah Teladan Ibnu Sina dalam Menghadapi Orang Bodoh - Terkadang Diam Itu Emas

Idul Fitri
Syariat Islam tentang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan menjadi salah satu pelaksanaan ibadah bagi seluruh umat Islam yang sudah memenuhi syarat dalam melaksanakannya. Puasa ini merupakan suatu ibadah yang dilakukan dengan tidak makan dan minum dan menjaga agar terhindar dari segala hal yang membatalkan puasa selama seharian di bulan Ramdahn yang dihitung sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika kita kalkulasikan waktunya di Indonesia maka, ibadah ini dilaksanakan kurang lebih selama 13 jam (pada siang hari). Printah kewajiban berpuasa ini dapat dilihat dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 183.

Setelah berpuasa selama satu bulan penuh (29 atau 30 hari), tibalah waktunya untuk umat Islam merayakan hari raya pada tanggal 1 sampai dengan 7 Syawal. Di hari raya ini seluruh muslimin dan muslimat di dunia dari semua kalangan bergembira dengan cara-cara yang baik sesuai tuntunan agama, dan hampir di setiap negara bahkan daerah memiliki tradisi-tradisi tertentu dalam merayakannya.


Masyarakat Muslim di negara Turki merayakan momen lebaran dengan tradisi Seker Bayram, yaitu tradisi mengantarkan mengantarkan manisan kepada tetangga-tetangga rumah terdekat setelah mereka melakukan sungkeman. Tradisi ini merupakan bentuk silaturahmi untuk mempererat hubungan ukhuwah atau persaudaraan antara sesama. Bagi masyarakat Turki, seker baryam sendiri merupakan sebutan atau nama lain dari Idul Fitri.


Di negara Afganistan, tradisi lebaran dilakukan dengan sebutan Tokhm-Jangi atau perang telur. Tradisi lebaran ini dilaksanakan setelah shalat sunnah Idul Fitri. Bagi laki-laki yang ingin berpartisipasi dalam tradisi ini mereka berkumpul di lapangan atau halaman yang luas dengan membawa telur ayam yang sudah direbus, kemudian mereka memecahkannya. Peserta yang dianggap menang adalah mereka yang telurnya tidak pecah hingga selesai perlombaan.


Tradisi perayaan lebaran di Negara Kosovo dilakukan dengan menyiapkan makanan tradisional yakni borek dan beberapa makanan penutup lainnya, seperti puding. Masyarakat kosovo mengenal lebaran dengan sebutan bajram. Ketika perayaan bajram tiba, masyarakat kosovo akan bangun lebih awal, kemudian wanita-wanita di sana akan menyipakan makanan tradsional tersebut. Setelah shalat Idul Fitri, mereka akan keluar rumah berkeliling untuk mengucapkan selamat kepada sesama umat Islam, kemudian setelah beberapa saat dilakukan itu mereka lanjutkan dengan jamuan minum teh dan sarapan, kemudian mengunjungi keluarga dan kerabat untuk merayakan lebaran bersama-sama.


Negara Saudi Arabia merayakan lebaran dengan pagelaran seni yang dilakukan dengan pembacaan puisi, teater, pertunjukan musik, dan parade dari beberap provinsi di sana. Mereka juga menghiasi rumahnya dengan berbagai pernak pernik khas Idul Fitri.


Jika di negara Arab Saudi perayaan lebaran dilakukan dengan pagelaran seni, lain halnya dengan di India. Negeri Hindustani ini terbilang umat Islam cukup banyak, mereka merakan idul Fitri dengan berbelanja di pasar (bazar) di malam Chaand Raat yaitu malam terakhir bulan ramadhan. Selain itu perempuan-perempuan Islam India juga melukis tangan mereka dengan henna dan mengenakan pakaian tradisional. Hidangan yang tidak pernah luput di hari lebaran adalah siwaiyaan, sejenis makanan tradisional yang terbuat dari bihun manis kering yang dalam penyajiannya disertakan dengan susu.


Idul Fitri


Bagi masyakarat Islam di China perayaan Idul Fitri dilakukan dengan tradisi mengunjungi atau ziarah ke makam leluhur mereka, dan tradisi ini dilakukan juga untuk mengenang ratus ribu umat Islam di China yang meninggal pada masa dinasti Qing. Di hari lebaran, para Muslim di China akan mengenakan kopiah putih dan jas khas mereka, selain itu para Muslimah China mengenakan baju hangat dan penutup kepala (kerudung) yang setengah tertutup. Makanan khas lebaran di Negara yang warganya minoritas beragama Islam ini adalah mie yang terbuat dari tepung dengan beberap pelengkap makanan lainnya, seperti daging dan sayuran.


Perayaan idul Fitri bagi saudara-saudari muslim kita di negara Palestina dilaksanakan dengan beberapa tradisi, seperti membuat kue ma'amoul yaitu sejenis kue butter manis yang terbuat dari tepung semolina. Di dalam kue ini terdapat beberapa isian buah kering seperti korma, kacang-kacangan, atau buah ara. Kue ini bentuknya mirip nastar namun bagian luarnya memilki motif yang khas dan ukurannya agak lebar melebihi nastar. Bagi orang tua yang berada di Palestina, lebaran tanpa kue ini bagaikan tidak berlebaran, sehingga kue ini semacam menjadi tradisi yang harus ada di setiap hari raya Idul Fitri.


Selain kue yang mirip nastar, kuliner lain yang selalu dikonsumsi masyarakat Palestina saat lebaran adalah ikan Fesikh, yaitu ikan asin yang terbuat dari olahan ikan belanak. Ikan Fesikh ini biasanya dikonsumsi bersama dengan irisan lemon, potongan bawang bombai, dan roti khas mesir sebagai sarapan sebelum shalat Idul Fitri. Dalam pengolahan ikan fesikh ini dilakukan oleh orang yang benar-benar sudah mahir, kalau tidak ikan ini bisa menjadi racun bagi orang yang mengonsumsinya.


Pada saat lebaran di Palestina, mereka tak lupa menyediakan kopi Arab yang biasanya disiapkan untuk orang yang akan silaturahmi ke rumahnya. Ketika ada orang yang bersilaturahmi, mereka akan hidangkan kopi Arab dan beberapa kue dan coklat untuk disantap. Jika ada tamu yang menolak untuk minum kopi dan makan kue tanpa alasan yang jelas, mereka menganggapnya sebagai suatu hal yang tidak sopan.


Selain tradisi unik lebaran di beberapa negara di atas, Indonesia juga memiliki tradisi lebaran yang sangat banyak, namun yang paling umum adalah tradisi kuliner, sungkeman, silaturahmi/halal bi halal. Tradisi kuliner merupakan tradisi yang sudah sangat kental dengan masyarakat Indonesia, dimana setiap hari raya Idul Fitri tiba, masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke akan menyiapkan makanan khas daerahnya masing-masing untuk dimakan setelah selesai shalat idul fitri.


Tradisi sungkeman pada hari raya idul fitri dilakukan dengan cara, orang yang lebih muda sungkeman kepada yang lebih tua sembari meminta maaf. Sedangkan silaturahmi atau halal bi halal dilakukan dengan mengunjungi keluarga, kerabat, teman, sahabat, dan lain-lain untuk mengucapkan selamat idul fitri dan saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Kegiatan halal bi halal ini juga biasanya dilakukan secara serimonial oleh lembaga organisasi, perkumpulan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar mempermudah orang berkumpul di suatu tempat untuk bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.


Demikianlah tradisi unik umat Islam dari beberapa negara dalam merayakan lebaran Idul Fitri yang penulis rangkum dari beberapa sumber. Semoga bermanfaat.

Idul Fitri - Lebaran dan Tradisi Unik dari Beberapa Negara di Dunia

Apa Itu Zakat Fitrah? Hukum Membayar Zakat Fitrah, Tata cara membayar Zakat Fitrah, dan Siapa Saja yang Berhak Menerimanya
Agama Islam merupakan agama yang paling sempurna, segala kehidupan manusia diatur di dalam syariatnya. Hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan alam menjadi pokok utama syariat Islam.


Pada bulan Ramadhan, Allah mewajibkan kepada manusia untuk melaksanakan puasa, yaitu suatu ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. Perintah puasa ini sebagai bagian dari hubungan manusia dengan Allah.


Dalam bulan ramadhan ini selain perintah puasa, ada juga perintah lain yaitu membayar zakat fitrah sebagai bagian dari aktualisasi perintah hubungan manusia dengan sesama manusia, karena pada dasarnya manusia itu makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu sama lain. Selain itu membayar zakat fitrah untuk mensucikan harta dan mensucikan orang yang menjalankan ibadah puasa, sebagaimana terdapat dalam hadis di bawah ini.


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ للهِ زَكَاةَ الْفِطْرِطُهْرَةً لِلْصَائِمِ مِنَ لَّلغْوِ وَالرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمِسْكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ مَنْ أَدَّاهَا بَعْدَالصَّلَاةِ فَهِيَ الصَّدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-saia dan kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat Is, maka ia adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya sesudah shalat Id, maka itu hanyalah sekedar sedekah (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)


Pengertian Zakat Fitrah


Zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, seperti fakir miskin dan lain-lain sebagaimana telah diatur dalam syariat Islam. Zakat dibagi menjadi dua macam yaitu, zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dibayarkan oleh semua umat Islam, bahkan bayi yang baru lahir sebelum shalat idul fitri sudah diwajibkan kepada orang tuanya untuk membayar zakat firtahnya.


Dalam sebuah Riwayat Rasulullah saw. bersabda.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ (رواه البخاري)


Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita, baik kecil maupun besar, dari golongan Islam dan beliau menyuruh membagikannya sebelum orang pergi shalat Id. (HR al Bukhari)


Hukum Membayar Zakat Fitrah


Hukum membayar zakat fitrah adalah wajib bagi semua umat Islam dari semua usia, laki-laki maupun perempuan. Jika kita perhatikan hadis diatas maka pembayaran zakat fitrah dilakukan dengan makanan pokok, yang pada zaman Rasulullah yaitu kurma dan gandum dengan ukuran satu sha’. Hal ini jika kita konversikan ke Indonesia, maka makanan pokok masyarakat Indonesia secara umum yaitu beras, adapula makanan pokok lain yaitu sagu, ubi kayu, dan sebagainya. Ukuran atau berat dalam membayar zakat fitrah adalah satu sha’ yang sama dengan 2176 gram atau 2,2 kg beras atau makanan pokok lainnya, namun pada prakteknya digenapkan menjadi 2,5 kg, atau 3,5 liter beras.


Tata Cara Membayar Zakat Fitrah


Zakat fitrah dapat dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan untuk membatu orang-orang yang membutuhkan, namun waktu yang paling baik adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan hingga sebelum waktu shalat Idul Fitri. Jika dikeluarkan setelah shalat idul fitri maka hanyalah sedekah, hal ini sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim di atas.


Penyaluran zakat fitrah dapat dilakukan sendiri atau dapat juga disalurkan melalui badan amil zakat dan atau panitia zakat (Al ’Amilin) yang sudah dibentuk. Besaran dalam membayar zakat fitrah adalah nilainya sama dengan satu sha’ yaitu 2,2 kg (digenapkan menjadi 2,5 kg) kurma, gandum, beras, sagu, ubi kayu, dan sebagainya. Namun jika ingin mengeluarkannya dengan menggunakan uang sebagaimana pendapat Mazhab Hanafi, maka ukurannya di Indonesia adalah sama dengan harga makanan pokok itu.


Mengeluarkan zakat dengan makanan pokok dapat dilihat pada hadis dibawah ini.


عَنْ أَبِيْ خُدْرِي يَقُوْلُ كُنَّانُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِصَاعًامِنْ َطعَامٍ أَوْ صَاعًامِنْ تَمْرٍأَوْ  صَاعًامِنْ أَقْطٍ أَوْ صَاعًامِنْ زَبَيْبٍ


Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra ia berkata bahwa: Adalah kami mengeluarkan zakat fitri satu sha’ dari makanan pokok atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari kue atau satu sha’ dari kismis (HR Bukhar dan Muslim)


Lalu siapa saja yang wajib mengeluarkan zakat fitrah?


Orang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah itu tentu saja adalah orang Islam yang mampu dan memiliki kelapangan rezeki, laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, kaya maupun miskin. Orang yang memilki kelapangan rezeki maksudnya adalah orang yang memiliki kelebihan kebutuhan dan kebutuhan atas orang-orang yang ditanggungnya. Sehingga orang yang menanggung orang lain wajib membayar zakat orang yang ditanggungnya. Misalnya, anak kecil yang ditanggung oleh orang tuanya (belum bisa mencari nafkah sendiri), orang yang sudah lanjut usia yang ditanggung oleh kerabatnya, wanita yang ditanggung oleh suaminya, dan sebagainya.


Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat Fitrah


Terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran sebagai berikut.


إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ  


Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At Taubah : 60)


Sesuai dengan ayat al-Quran di atas maka, delapan golongan yang berhak menerima zakat itu sebagai berikut:

  1. Orang Fakir, adalah orang-orang yang benar-benar sengsara, tidak memilki sedikitpun harta dan tidak ada daya dan upaya (kemampuan) untuk dapat mencari nafkah tersebut.
  2. Orang Miskin, orang yang hanya memilki sedikit harta namun tidak cukup untuk kehidupannya dan sangat kekurangan
  3. Pengurus Zakat, mereka ini adalah orang-orang yang diberi tugas untuk mengumpukan zakat dan menyalurkannya
  4. Muallaf, orang-orang kafir yang ada padanya harapan untuk memeluk agama Islam, dan orang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
  5. Memerdekakan Budak, zakat dapat diberikan untuk memerdekakan budak yang dimiliki tuannya, selain itu untuk melepaskan umat Islam yang menjadi tawanan perang.
  6. Orang yang berhutang, dalam hal ini hutangnya dimaksudkan untuk bukan hal yang maksiat dan tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya. Bagi yang berhutang untuk kepentingan persatuan umat Islam, maka hutangnya dapat dibayarkan dengan zakat walaupun orang tersebut memiliki kemampuan untuk membayarnya.
  7. Orang-orang yang berjuang di jalan Allah (sabilillah), maksudnya adalah orang-orang yang melakukan upaya untuk pertahanan Islam dan umat Islam. Diantara mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa fi sabilillah ini mencakup pembangunan pendidikan (sekolah), rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya yang sangat bermanfaat.
  8. Ibnu Sabil atau orang-orang yang dalam perjalanan dengan maksud baik (bukan maksiat) yang mengalami kesulitan dalam perjalanannya.

Selain delapan golongan orang yang berhak menerima zakat, adapula golongan yang atau orang-orang yang tidak boleh menerima zakat yaitu;

  1. Anak cucu dan keluarga Rasulullah.
  2. Keluarga orang yang mengeluarkan zakat, anak, istri, cucu, kakek, nenek, dan sebagainya.

Demikianlah tulisan singkat ini tentang apa itu zakat fitrah? hukum membayar zakat fitrah, tata cara membayar zakat fitrah, dan orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah. Wallau a'lam.

Apa Itu Zakat Fitrah? Hukum Membayar Zakat Fitrah, Tata Cara Membayar Zakat Fitrah, dan Siapa Saja yang Berhak Menerimanya

Inilah Bacaan Do'a Khatam Al-Quran yang Baik Untuk Dunia dan Akhirat
Do'a kahatam al-Quran merupakan salah satu do'a yang biasanya dibaca oleh umat Islam ketika selesai menghatamkan atau menyelesaikan bacaan al-Quran secara keseluruhan. Pada dasarnya tidak ada do'a khusus atau ketentuan khusus dalam membaca do'a ini, namun di Indonesia yang mayoritas warganya beragama Islam, biasanya membaca seluruh isi al-Quran baik itu memahai isinya atau tidak memehami isinya, kemudian membaca do'a khatam al-Quran dengan berbagai bentuk, ada yang mengundang keluarga dan kerabat untuk sama-sama berdo'a di rumah orang yang menghatamkan al-Quran, dan adapula dalam bentuk lain. Mereka melakukan ini pada hari-hari biasa dan lebih khususnya lagi pada bulan Ramadhan.


Coba kita perhatikan masjid-masjid di Indonesia, pada bulan ramadhan beramai-ramai umat Islam beribadah dan membaca al-Quran sebagai pengingat diri dan sebagai jalan untuk mendapatkan berkah dari Allah baik itu di dunia maupun di akhirat. Bacaan al-Quran memang memiliki nilai pahala yang banyak, apalagi di bulan ramdhan nilai pahala akan dilipatgandakan. Walaupun demikian banyaknya pahala itu, namun dalam beribadah yang paling penting adalah mendapatkan ridho dari Allah, sehingga dalam do'a khatam al-Quran do'a yang dibacakan untuk mendapatkan rahmat, berhat, dan ridho Allah swt.


Membaca do'a setelah menghatamkan al-Quran itu sangat penting, dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw., sehingga hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Hal ini sebagaimana dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh ad-Darimi dengan sanad yang berasal dari Humaid al-A'raj, dijelaskan bahwa jika seseorang membaca al-Quran lalu menghatamkannya, kemudian dia membaca do'a, maka ada 4.000 malaikat mengamini do'anya itu. Kalau do'a diamini oleh 4.000 malaikat maka, insya Allah do'anya itu langsung diterima oleh Allah swt.


حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا قَزَعَةُ بْنُ سُوَيْدٍ عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ قَالَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ثُمَّ دَعَا أَمَّنَ عَلَى دُعَائِهِ أَرْبَعَةُ آلَافِ مَلَكٍ


Artinya: Telah menceritakan kepada kami Amr bin Hammad telah menceritakan kepada kami Faza'ah bin Suwaid dari Humaid Al A'raj ia berkata; Barangsiapa yang membaca Al Qur'an kemudian ia berdoa, maka doanya akan diamini oleh empat ribu malaikat. (Hadits Darimi Nomor 3345)


Mengutip dari laman NU Online bahwa, Imam an-Nawawi menyebutkan do'a khatmil Qur’an dalam kitabnya at-Tibyan fi Adab Hamalati al-Quran sebagai berikut:


اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ۞ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ۞ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَأَزِلْ عُيُوْبَنَا وَتَوَّلَنَا بِالْحُسْنَى وَزَيِنَّا بِالتَّقْوَى وَاجْمَعْ لَنَا خَيْرَ الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى وَارْزُقْنَا طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنَا ۞ اَللَّهُمَّ يَسِّرْنَا لِلْيُسْرَى وَجَنِّبْنَا الْعُسْرَى وَأَعِذْنَا مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا وَأَعِذْنَا مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَفِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ۞ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتَّقْوَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى ۞ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَوْدِعُكَ أَدْيَانَنَا وَأَبْدَانَنَا وَخَوَاتِيْمِ أَعْمَالِنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَحْبَابَنَا وَسَائِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَجَمِيْعَ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ مِنْ أُمُوْرِ الآخِرَةِ وَالدُّنْيَا ۞ اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاجْمَعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ أَحْبَابِنَا فِي دَارِ كَرَامَتِكَ بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ ۞ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ فِي رِعَايَاهُمْ وَالْاِحْسَانِ إِلَيْهِمْ وَالشَّفَقَةِ عَلَيْهِمْ وَالرِّفْقِ بِهِمْ وَالْإِعْتِنَاءِ بِمَصَالِحِهِمْ وَحَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةِ إِلَيْهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِصِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَالْعَمَلِ بِوَظَائِفِ دِيْنِكَ الْقَوِيْمِ ۞ اللَّهُمَّ الْطُفْ بِعَبْدِكَ سُلْطَانَنَا وَوَفِّقْهُ لِمَصَالِحِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَحَبِّبْهُ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِ ۞ اللّهُمَّ ارْحَمْ نَفْسَهُ وَبِلَادَهُ وَصُنْ أَتْبَاعَهُ وَأَجْنَادَهُ وَانْصُرْهُ عَلَى أَعْدَاءِ الدّيْنِ وَسَائِرِ الْمُخَالِفِيْنَ وَوَفِّقْهُ لِإِزَالَةِ الْمُنْكَرَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَحَاسِنِ وَأَنْوَاعِ الْخَيْرَاتِ وَزِدِ الْاِسْلَامَ بِسَبَبِهِ ظُهُوْرًا وَأَعِزَّهُ وَرَعِيَّتَهُ إِعْزَازًا بَاهِرًا ۞ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِي أَوْطَانِهِمْ وَاقْضِ دِيْوَنَهُمْ وَعَافِ مَرْضَاهُمْ وَانْصُرْ جُيُوْشَهُمْ وَسَلِّمْ غُيَّابَهُمْ وَفُكَّ أَسْرَاهُمْ وَاشْفِ صُدُوْرَهُمْ وَأَذْهِبْ غَيْظَ قُلُوْبِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمُ الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، إِلهَ الْحَقِّ، وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ ۞ اللّهُمَّ اجْعَلْهُمْ آمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ فَاعِلِيْنَ بِهِ نَاهِيْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ مُجْتَنِبِيْنَ لَهُ مُحَافِظِيْنَ عَلَى حُدُوْدِكَ قَائِمِيْنَ عَلىَ طَاعَتِكَ مُتَنَاصِفِيْنَ مُتَنَاصِحِيْنَ ۞ اللَّهُمَّ صُنْهُمْ فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِي جَمِيْعِ أَحْوَالِهِمْ الحمد لله رب العالمين حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده ۞ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ۞ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ۞


Artinya: "Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam dengan pujian yang memadai dengan nikmat-nikmat-Nya dan sepadan dengan tambahan-Nya ۞ Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas Muhammad dan keluarga penghulu kami Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Berkatilah penghulu kami Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkati Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. ۞ Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah keburukan kami, bimbinglah kami dengan jalan yang terbaik, hiasilah kami dengan ketaqwaan, kumpulkanlah bagi kami kebaikan akhirat dan dunia dan anugerahkanlah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidupkan kami. ۞ Ya Allah, mudahkanlah kami ke jalan kemudahan dan jauhkanlah kami dari kesukaran, lindungilah kami dari keburukan diri kami dan amal-amal kami yang buruk, lindungilah kami dari siksa neraka dan siksa kubur, fitnah semasa hidup dan sesudah mati serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal ۞ Ya Allah, kami mohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan ۞ Ya Allah, Kami titipkan pada-Mu agama, jiwaraga dan penghabisan amal-amal kami, keluarga dan orang-orang yang kami cintai, kaum muslimin lainnya dan segala urusan akhirat dan dunia yang Engkau anugerahkan kepada kami dan mereka ۞ Ya Allah, kami mohon kepadaMu maaf dan keselamatan dalam agama, dunia dan akhirat. Kumpulkanlah antara kami dan orang-orang yang kami cintai di negeri kemuliaanMu dengan anugerah dan rahmatMu ۞ Ya Allah, perbaikilah para pemimpin muslimin dan jadikanlah mereka berlaku adil terhadap rakyat mereka, berbuat baik kepada mereka, menunjukkan kasih sayang dan bersikap lemah-lembut kepada mereka serta memperhatikan kemaslahatan mereka. Jadikanlah mereka mencintai rakyat dan mereka dicintai rakyat. Jadikanlah mereka menempuh jalanMu dan mengamalkan tugas-tugas agamaMu yang lurus ۞ Ya Allah, berlembutlah kepada hambaMu, penguasa kami dan jadikanlah dia memperhatikan maslahat-maslahat dunia dan akhirat. Jadikanlah dia mencintai rakyatnya dan jadikanlah dia dicintai rakyat ۞ Ya Allah, rahmatilah diri dan negerinya, jagalah para pengikut dan tentaranya, tolonglah dia untuk menghadapi musuh-musuh agama dan para penantang lainnya. Jadikanlah dia bertindak menghilangkan berbagai kemungkaran dan menunjukkan kebaikan-kebaikan serta berbagai bentuk kebajikan. Jadikanlah Islam semakin tersebar dengan sebabnya, muliakanlah dia dan rakyatnya dengan kemuliaan yang cemerlang ۞ Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin dan murahkanlah harga-harga mereka, amankanlah mereka di negeri-negeri mereka, lunasilah hutang-hutang mereka, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, bebaskanlah mereka yang ditawan, sembuhkanlah penyakit hati mereka, hilangkanlah kemarahan hati mereka dan persatukanlah diantara mereka. Jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka, tetapkanlah mereka diatas agama RasulMu SAW. Ilhamilah mereka agar memenuhi janjiMu yang Engkau berikan kepada mereka, tolonglah mereka dalam menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Tuhan Yang Maha Besar dan jadikanlah kami dari golongan mereka ۞ Ya Allah, jadikanlah mereka menyuruh berbuat kebaikan dan mengamalkannya, mencegah dari kemunkaran dan menjauhinya, memelihara batas-batasMu, melakukan ketaatan kepadaMu, saling berbuat baik dan menasihati ۞ Ya Allah, jagalah dalam pendapat dan perbuatan mereka, berkatilah mereka dalam semua keadaan mereka ۞ Segala Puji bagi Allah Tuhan sekalian alam dengan pujian yang memadai dengan nikmat-nikmat-Nya dan sepadan dengan tambahan-Nya ۞ Ya Allah, limpahkanlah sholwat dan salam ke atas Muhammad dan keluarga Penghulu Kami Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan salawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Berkatilah Penghulu kami Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkati Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia." (Imam an-Nawawi, at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, Dar el-Minhaj, halaman 184-186)


Do'a di atas mengandung kemaslahatan bagi diri sendiri, bagi orang lain dan bagi bangsa dan negara. Selain do'a di atas masih banyak bentuk do'a khatam al-Quran lainnya, ada juga do'a  yang penting dan populer yaitu sebagai berikut:


اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيتُ وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ


Artinya : "Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-quran. Jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku atas apa yang terlupakan darinya. Ajarilah aku atas apa yang belum tahu darinya. Berikanlah aku kemampuan membacanya sepanjang malam dan ujung siang. Jadikanlah ia sebagai pembelaku, wahai tuhan semesta alam."


Inilah dua contoh do'a khatam al-Quran yang dapat kita baca ketika menyelesaikan bacaan al-Quran, semoga al-Quran menjadi syafaat bagi kita di dunia maupun di akhirat kelak. Amin.


Demikianlah postingan kali ini tentang bacaan do'a khatam al-Quran yang baik untuk dunia dan akhirat, semoga bermanfaat.

Inilah Bacaan Do'a Khatam Al-Quran yang Baik Untuk Dunia dan Akhirat

5 Hukum Perceraian Menurut Syariat Islam
Hukum perceraian dalam Islam dapat bervariasi. Perceraian bisa bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah, hingga haram, tergantung masalah dan situasinya. Berikut ini hukum perceraian dalam Islam.

1. Hukum perceraian yang wajib


Perceraian adalah wajib jika pasangan yang sudah menikah tidak dapat berdamai dan tidak memiliki jalan keluar selain perceraian untuk menyelesaikan masalah. Biasanya, masalah ini akan dibawa ke Pengadilan Agama setempat. Jika pengadilan memutuskan bahwa perceraian adalah keputusan terbaik, maka perceraian itu wajib.

Selain masalah yang tidak dapat diselesaikan, alasan lain untuk bercerai dengan hukum wajib adalah ketika suami atau istri melakukan tindakan keji dan tidak ingin bertobat lagi. Atau ketika salah satu pasangan murtad alias meninggalkan agama Islam, maka perceraian adalah wajib.

2. Hukum perceraian yang sunnah


Terkadang perceraian direkomendasikan dan mendapatkan hukum sunnah dalam beberapa keadaan. Salah satu penyebab perceraian yang hukumnya sunnah adalah ketika seorang suami tidak mampu menanggung kebutuhan istrinya. Selain itu, ketika istri tidak dapat mempertahankan kehormatannya atau tidak ingin menjalankan kewajibannya kepada Allah, dan suami tidak lagi dapat membimbingnya, maka disunnahkan bagi suami untuk menceraikannya.

3. Hukum perceraian yang makruh


Hukum perceraian menjadi makruh jika dilakukan tanpa alasan Syar'i. Misalnya, jika seorang istri memiliki karakter yang mulia dan memiliki pengetahuan agama yang baik, maka hukum perceraian adalah makruh. Alasannya, suami dianggap tidak memiliki alasan yang jelas mengapa ia harus menceraikan istrinya jika rumah tangga mereka sebenarnya masih dapat dipertahankan.

4. Hukum perceraian yang mubah


Ada beberapa alasan yang membuat hukum perceraian mubah. Misalnya, jika seorang istri tidak dapat menaati suaminya dan berperilaku buruk. Jika suami tidak dapat menahan atau bersabar, maka perceraian itu sah atau diizinkan. Selain itu, perceraian berubah jika suami tidak lagi memiliki keinginan untuk berhubungan intim atau istrinya tidak lagi subur atau menopause.

5. Hukum perceraian yang haram


Meskipun awalnya perceraian tidak dilarang dalam Islam, namun perceraian dilarang jika perceraian yang dijatuhkan oleh suami tidak sesuai dengan hukum Islam. Perceraian dilarang dalam beberapa kondisi.

Misalnya, menceraikan seorang istri saat menstruasi atau pascapersalinan (nifas), serta menceraikan istrinya setelah berhubungan intim tanpa diketahui hamil atau tidak. Selain itu, seorang suami juga dilarang menceraikan istrinya jika tujuannya adalah untuk mencegah istri dari mengklaim hak atas harta miliknya.

Itulah 5 hukum perceraian dalam Islam. Untuk itu maka, sebelum memutuskan untuk bercerai, anda harus berpikir dulu.

5 Hukum Perceraian Menurut Syariat Islam

Kumpulan Ayat-ayat Sajadah dan Tata Cara Sujud Tilawah
Sujud tilawah merupakan salah satu sujud yang dilakukan apabila mendengarkan ayat-ayat sajadah, hukum dalam melakukan sujud ini adalah sunnah. Adapun hadis Rasulullah saw. yang menyebutkan sunnah melakukakn sujud tilawah saat mendengar ayat-ayat sajadah adalah sebagai berikut.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Nabi saw. membaca al-Quran, ketika bacaan beliau sampai pada ayat sajadah, beliau sujud dan kami pun ikut sujud, sampai-sampai sebagian di antara kami tidak dapat tempat untuk dahi mereka.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau membaca surat an-Najm lalu sujud tilawah. Para sahabat yang shalat bersamanya ikut sujud kecuali seorang yang sudah tua hanya mengambil segenggam batu kerikil atau tanah pasir lalu diusapkan pada dahi seraya berkata: "Ini saja sudah cukup bagiku."

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah pernah membaca surat Al-Insyiqaaq, "idzas samaaun syaqqat" (apabila langit terbelah) di depan sahabat lain, lalu ia sujud tilawah. Ketika selesai salat ia memberitahu para sahabat bahwa Rasulullah saw. sujud pada ayat tersebut.

Ayat-Ayat Sajadah


Ayat-ayat sajadah disebut demikian karena di dalam ayat-ayat tersebut mengandung penjelasan tentang sujud. Berikut ini adalah 15 ayat-ayat sajadah yang jika dibacakan maka disunnahkan untuk melakukan sujud.

1. Surat Al A'raf/7 Ayat 206

إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيُسَبِّحُونَهُۥ وَلَهُۥ يَسۡجُدُونَۤ

Artinya: Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.

2. Surat Ar Ra'd/13 Ayat 15

وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا وَظِلَٰلُهُم بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ

Artinya: Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

3. Surat An Nahl/16 Ayat 49

وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن دَآبَّةٖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ

Artinya: Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

4. Surat Al Isra'/17 Ayat 107

قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ

Artinya: Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud,

5. Surat Maryam/19 Ayat 58

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٖ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَٱجۡتَبَيۡنَآۚ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَبُكِيّٗا

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

6. Surat Al Hajj/22 Ayat 18

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٞ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ

Artinya: Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

7. Surat Al Hajj/22 Ayat 77

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡكَعُواْ وَٱسۡجُدُواْۤ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

8. Surat Al Furqan/25 Ayat 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ قَالُواْ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا وَزَادَهُمۡ نُفُورٗا

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

9. Surat An Naml/27 Ayat 26

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ

Artinya: Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar".

10. Surat Al Sajdah/32 Ayat 15

إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِ‍َٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

11. Surat Shaad/38 Ayat 24

قَالَ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ وَأَنَابَ

Artinya: Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

12. Surat Fushshilat/41 Ayat 37

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.

13. Surat An Najm/53 Ayat 62

فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ

Artinya: Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

14. Surat Al Insyiqaq/84 Ayat 21

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقُرۡءَانُ لَا يَسۡجُدُونَۤ

Artinya: dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,

15. Surat Al 'Alaq/96 Ayat 19

كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب

Artinya: sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

Tata Cara Sujud Tilawah


Sujud tilawah merupakan salah satu sujud yang dilaksanakan sebagaimana sujud pada umumnya. Sujud tilawah dapat dilaksanakan pada saat mendengarkan ayat-ayat sajadah sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Ketika melaksanakan sujud tilawah, doa yang dibacakan adalah.

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta”

Setelah membaca doa di atas maka, dilanjutkan dengan membaca doa berikut.

اللهمَّ اكْتُبْ لِي بها عندَكَ أَجْراً وَاجْعَلْهاَ لِي عِنْدَكَ ذَخْراً، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْراً وَاقْبِلْهاَ مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهاَ مِن عَبْدِكَ دَاوُدَ

“Ya Allah dengan sujud ini, catatlah pahala bagku di sisimu dan jangan Engkau catat dosa bagiku dan terimalah sujud ini sebagaimana Engkau menerimanya dari hambamu Dawud As.

Nah itulah kumpulah ayat-ayat sajadah dan tata cara sujud tilawah beserta dengan doa yang dibacakana ketika sujud tilawah.

Kumpulan Ayat Sajadah dan Tata Cara Sujud Tilawah

8 Ciri Umat Islam yang Ikhlas dalam Beribadah
Ikhlas adalah kata yang sudah populer dan dikenal oleh semua orang. Tetapi untuk memahami kata ini sangat sulit, karena ikhlas memiliki begitu banyak terminologi. Meski begitu, hampir semua ulama memaknai kata tulus dengan makna yang tidak jauh berbeda, yaitu menunjukkan semua ibadah kepada Allah tidak lain dari itu.

Ikhlas adalah esensi dari iman. Seseorang tidak dianggap beragama dengan benar jika dia tidak tulus. Firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 162 sebagai berikut.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. Al-An'am: 162).

Di ayat lain Allah SWT. berfirman

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. al-Bayyinah: 5)

Rasulullah SAW. suatu kali bersabda, "Bersikaplah Ikhlas dalam agama, cukup bagimu sedikit amal." Dalam hadits lain Rasululla bersabda, "Sesungguhnya, Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan tulus dan berharap untuk keridhaanya-Nya."

Imam Syafi'i pernah memberi nasihat kepada temannya, "Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla." "

Karena itu, tidak mengherankan Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, "Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat." Dalam kesempatan lain beliau berkata, "Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik."

Karena itu, sifat ikhlas sangat dibutuhkan dalam beribadah kepada Allah SWT. Kita dapat melihat orang-orang yang ikhlas dengan ciri sebagai berikut

1. Selalu beramal dan bersungguh-sungguh dalam amal, baik dalam keadaan kesendirian atau dengan banyak orang, baik ada pujian atau celaan.

Perjalanan waktu akan menentukan apakah seseorang itu tulus atau tidak dalam amal. Melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik suka maupun duka, orang akan melihat kualitas ketulusan dalam ibadah, dakwah, dan jihad. Ali bin Abi Talib r.a. berkata, "Orang yang riya memiliki beberapa karakteristik; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan berkurang jika dikecam."

2. Terjaga dari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah, baik dalam keadaan dengan manusia atau jauh dari mereka.

Disebutkan dalam hadis, "Aku berkata kepadamu bahwa umatku datang pada Hari Pengadilan dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu terbang. Mereka adalah saudara-saudaramu, dan kulit mereka sama seperti milikmu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tapi mereka adalah orang-orang yang jika mereka sendiri melanggar apa yang dilarang oleh Allah. "(H.R Ibnu Majah).

Tujuan untuk menjadi ikhlas adalah mencari keridhaan Allah, bukan keridhoan manusia. Jadi, mereka selalu memperbaiki diri dan terus melakukan perbuatan baik, baik dalam kondisi mereka sendiri atau ramai, dilihat oleh orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka percaya bahwa Allah melihat setiap perbuatan baik dan buruk, sekecil apa pun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang da'i yang tulus akan merasa bahagia jika kebaikan direalisasikan di tangan sesama da'i, karena ia juga merasa senang jika dilakukan dengan tangannya.

Para da'i yang tulus akan menyadari kelemahan dan kekurangan mereka. Karena itu mereka selalu membangun amal jama'i dalam dakwah mereka. Selalu menyalakan syuro dan memperkuat perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam, bukan untuk mendapatkan popularitas dan meningkatkan diri mereka sendiri atau institusi mereka.

4. Tidak mencari popularitas diri dan tidak menonjolkan diri sendiri

5. Tidak silau dan cinta jabatan

6. Tidak diperbudak dengan imbalan dan balasan.

7. Tidak mudah kecewa.

8. Yang terakhir adalah jika Anda keras dalam menghafal Al-Qur'an, maka Anda termasuk orang-orang yang tulus dan jujur ​​dan benar-benar Allah akan selalu membantu perjuangan Anda.

Semoga delapan karakteristik orang yang tulus dalam beribadah ada di dalam diri kita sebagai seorang Muslim. Sehingga segala yang kita lakukan adalah ibadah yang hanya dimaksudkan untuk mendapatkan keridhoan Allah.

8 Ciri Umat Islam yang Ikhlas dalam Beribadah

Shalawat Menjadi Salah Satu Sebab Dikabulkannya Doa
Membaca shalawat terhadap Rasulullah saw. adalah salah satunya beribadah yang mulia serta mempunyai banyak keutamaan serta faedah untuk seseorang hamba. Di antara keutamaan bershalawat merupakan menjadi salah satunya karena dikabulkannya doa seseorang hamba

Supaya doa yang kita panjatkan bisa sampai pada Allah swt., maka janganlah lupa untuk selalu mengikutikan doa yang kita panjatkan itu dengan bershalawat pada junjungan kita Rasululla saw. Mengikutikan doa dengan shalawatt yang penulis maksudkan disini merupakan memulai doa kita dengan membaca shalawat Nabi saw., demikian juga waktu kita akhiri doa, sebaiknya kita juga membaca shalawat kepada Rasulullah saw.

Doa yang tidak dibarengi dengan shalawat Nabi akan berhenti diantara langit serta bumi. Tentang perihal ini, mari kita lihat sabda Rasulullah saw. seperti berikut  ini:

Diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi bahwa Umar bin Khaththab berkata : “sesungguhnya doa itu terhenti antara langit dan bumi, tiada naik barang sedikit pun darinya, sehingga engkau bershalawat kepada nabimu.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah sempat dengar seseorang lelaki berdoa dalam shalatnya, tetapi tidak mengagungkan Allah serta tidak bershalawat pada Nabi. Rasulullah bersabda : “Orang ini terburu buru”. Lalu Rasulullah memanggilnya serta bersabda yang artinya; "jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta puja dan puji kepada Allah, lalubershalawat kepada Nabi, barulah setelah itu ia berdoa meminta apa yang diinginkan. (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan an Nasa’i, dari Fudhalah bin ‘Ubaid).

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda bahwa "semua doa terhalang hingga diucapkan shalawat kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam. (H.R ad Dailami, ath Thabrani dan al Baihaqi)

Imam al Munawi, dalam Faidhul Qadir berkata: “Jadi setiap doa yang dipanjatkan seorang hamba tidak akan diangkat ke hadapan Allah swt. sampai disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya suatu doa.

Imam an Nawawi dalam Kitab al Adzkaar berkata: Bahwa sebelum berdoa disunahkan bagi seorang muslim untuk memanjatkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membaca shalawat kepada Rasulullah saw.

Haruskan bershalawat setiap waktu akan berdoa.


Lantas hadir pertanyaan apakah setiap waktu akan berdoa mesti membaca shalawat lebih dulu. Mengenai perihal ini, bisa dijelaskan seperti berikut :

1. Hadits di atas adalah satu keterangan yang pasti jika sebelum memulai berdoa seseorang hamba sebaiknya bershalawat untuk Rasulullah saw. yakni sesudah membaca hamdalah. Karena membaca shalawat adalah salah satunya sebab dikabulkannya doa. Ini merupakan sandaran yang shahih.

2. Keharusan membaca shalawat menjadi pembuka doa, dikhususkan untuk doa doa yang sifatnya umum. Salah satunya bila seseorang berdoa untuk suatu yang dia mohonkan pada Allah swt. di sepertiga malam, atau ada yang inginkan suatu lantas berdoa usai melaksanakan shalat atau pada berbagai macam doa yang sifatnya umum ini sebaiknya di buka dengan membaca hamdalah serta bershalawat pada Rasulullah saw.

3. Bila seorang berdoa yang sifatnya khusus sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw untuk dibaca pada waktu, tempat serta kondisi spesifik, maka Rasulullah saw tidak memberikan contoh untuk membaca hamdalah serta shalawat terlebih dulu namun secara langsung membaca doa yang di ajarkan beliau yaitu sesuai lafaz serta peruntukkannya. Seperti  membaca doa keluar rumah, doa pergi ke masjid, doa waktu hujan turun, doa masuk pasar serta banyak lagi yang lainnya.

Contoh Bacaan Puji-pujian kepada Allah dan Shalawat kepada Rasulullah saw. saat berdo'a


Doa tidak hanya diawali dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. tetapi terlebih dahulu diawai dengan membaca hamdalah dan puji-pujian kepada Allah swt. Hal ini dapat dicontohkan sebagai berikut:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِى مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا َلَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan pujian yang sesuai dengan segala nikmat-Nya dan memadai dengan penambahan-Nya. Ya Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana pujian itu patut bagi keluhuran-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat semuanya.”

Seudah membaca awalan dalam berdoa yaitu membaca alhamdalah dan puji-pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah, maka kita berdoa dengan pelan dan khusu' sesuai dengan keinginan yang ingin kita minta melalui doa kepada Allah swt. Kemudian pembaan doa diakhiri pula dengan shalawat kepada Rasulullah saw. dan puji-pujian kepada Allah swt.

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya: “Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat semuanya. Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan, dan semoga kesejahteraan senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Do'a adalah salah satu cara untuk meminta kepada Allah swt, sebagaimana firmannya bahwa "mintalah niscaya akan aku (Allah) do'a kalian". Maka berdoalan dengan do'a yang baik dan dengan cara yang santun.

Demikianlah postingan singkat tentang shalawat menjadi salah satu sebab dikabulkannya doa, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Shalawat Menjadi Salah Satu Sebab Doa Dikabulkan