Social Items

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan
Persaudaraan merupakan salah satu hal yang pokok dalam Islam. Persaudaraan dapat dilihat dari beberapa segi. Selain persaudaraan karena pertalian darah, ada beberapa bentuk persaudaraan, seperti persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa dan setanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Olehnya itu maka Rasulullah sangat menekankan persoalan persaudaraan dalam hubungan sesama manusia, sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis berikut.

1. Muslim yang satu adalah suadara bagi muslim yang lain


اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (H.R. Muslim)

2. Sesama saudara jangan saling membenci


لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara (Muttafaq ‘Alaih)

3. Umat Islam bagaikan bangunan yang kokoh


اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi)

Dalam riwayat Bukhâri ada tambahan:

وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan jari jemari kedua tangannya.

4. Sesama muslim tidak saling merendahkan


الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). (HR Bukhari dan Muslim).

5. Sesama umat Islam saling menyayangi


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. (HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim)

6. Tidak beriman seseorang yang tidak mencintai saudaranya


لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa persaudaraan sesama umat Islam itu sangat penting, karena dengan itu umat Islam akan menyatu menjadi satu kesatuan yang kuat. Kalau umat Islam bercerai berai maka, akan menjadi lemah. Olehnya itu marilah kita saling mencintai dalan saling menyayangi sebagaiman seruan Rasulullah saw. dalam banyak hadinya diantaranya adalah 6 hadis Rasulullah saw. tentang persaudaraan di atas.

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan

10 Cendikiawan Dunia yang Mengagumi Nabi Muhammad saw
Keagungan kepribadian Nabi Muhammad saw dan kebenaran ajaran yang disampaikannya tidak hanya diakui oleh umat Islam, melainkan juga oleh kaum cendikiawan barat, baik dari kalangan nasrani maupun yahudi. Berikut ini pernyataan beberapa cendikiawan barat terhadap figur Nabi Muhammad saw.

1. Karl Marx (1817-1883).


Ahli politik, filsafat dan ahli kemasyarakatan kelahiran Jerman ini, dalam bukunya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab denga judul Al-Hayat ia menulis: “ Lelaki arab yang telah menemukan kesalahan agama nasrani dan agama yahudi itu, melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya ditengah-tengah kaum musyrik penyembah berhala, mendakwah mereka pada agama tauhid dan menanamkan keyakinan tentang keabadian roh. Maka layak bagi kita untuk  mengakui kenabiannya dan dia adalah Rasul (pesuruh) langit untuk bumi.

Dalam bukunya yang lain, Ra’sul Mal, Karl Marx menulis antara lain: “Risalah nabi ini telah membuka jalan baru untuk ilmu, cahaya, dan pengetahuan, layak dicatat kata-kata dan perbuatannya dalam pola khusu operasional. Oleh karena pelajaran yang diberikannya adalah wahyu Allah yang diturunkan dan merupakan risalahnya juga, maka menjadi tugas dan kewajibannya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang telah menimbuni risalah-risalah yang lalu akibat ulah orang-orang yang bodoh yang mengandalkan ajarannya tanpa dukungan orang yang berakal.”

2. Sir Herbert Spencer (1820-1903)


Merupakan seorang filsuf kelahiran Cardiff, Inggris. Dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Ushulul Ijtima antara lain menulis: “hendaknya kalian menjadikan Muhammad sebagai perlambang politik agama yang tepat, dan seorang yang paling jujur dalam menerapkan sistemnya yang kudus ditengah-tengah umat seluruhnya. Muhammad merupakan suatu sosok amanah yang dijelamakan dalam kejujuran yang murni, siang dan malam selalu tekun dalam menghidupkan umatnya.

3. Sydoe (1817-1893)


Dia adalah seorang orientalis dan sejarahwan besar prancis. Tentang Nabi Muhammad saw, anggota persatuan cendikiawan Perancis ini menulis dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab, Khulasatu Tarihil Arab, antara lain sebagai berikut. “Muhammad telah menjadikan kabilah-kabilah arab itu satu tatanan umat menuju satu tujuan. Sehingga semua orang melihat penjelmaannya sebagai suatu umat besar yang satu sisi sayap kerajaannya mencapai spanyol dan di sisi satunya lagi mencapai india. Maka berkibarlah di mana-mana panji perdaban, ketika itu eropa sedang dirundung kegelapan jahiliyyah (kebodohan) pada abad-abad pertengahan.”

4. Dr. Wile (1818-1889)


Seorang orinetalis berkebangsaan Perancis yang bekerja di Aljazair sebagai guru dan penerjemah. Dalam karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa arab, Tarikhul Khulafa, ia menulis antara lain: “ Muhammad layak mendapatkan kekaguman dan penghargaan kita sebagai reformis agung, bahkan dia patut juga diberi gelar nabi. Kita tak usah mendengarkan orang-orang yang bermaksud jahat dan pendapat orang-orang ekstrem. Sungguh Muhammad itu seorang besar dalam agama dan pribadinya. Barang siapa yang menyerangnya, jelas dia tidak mengerti dan melecehkan jasa-jasanya.

5. Conte Henry de Castri (1853-1915)


Merupakan seorang orinetalis yang dalam karyanya Al-Islam, ia menulis antara lain: “Muhammad tidak membaca dan tidak menulis, seperti yang dikatakan dirinya sendiri. Ia seorang nabi yang ummi. Dengan demikian ia tidak pernah membaca kitab suci, tidak pernah agamanya itu mengutip agama-agama terdahulu seperti yang dituduhkan orang dengan kebodohan. Sejarah Muhammad penuh mengandung pujian dan pengagungan kepadanya yang sudah tentu tidak diketahui oleh orang-orang yang tidak mengenalnya.

6. Pastor Isaaq Tiles


Seorang agamawan kelahiran Bordeauz (1810-1897), menulis dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa arab, Haqaiqut Thariq, antara lain mengungkapkan bahwa; “Kalau kita mau meneliti dengan seksam karya-karya Muhammad dan kenabiannya, kita tidak akan menemukan sesautupun yang mencela atau mengancam nasrani, bahkan kita akan melihat garis pemisah antara kaum Yahudi dan Nasrani.

Islam datang menciptakan kebahagiaan dan peradaban Muhammad sama halnya dengan Musa membolehkan poligami dan perbudakan, walau perbudakan itu sendiri tidak diajarkan dalam aqidah Islam. Muhammad membolehkan perbudakan karena dalam keadaan darurat. Sedangkan poligami, Musa tidak mengharamkannya dalam tauratnya, dan Daud juga tidak mengharamkan dalam zaburnya. Kami wajib memahami bahwa akhlak Islam lebih luhur dari akhlak Nasrani.”

7. Monsier Deitet Vanan (1823-1879)


Adalah seorang orientalis Peranci yang pada tahun 1875 mengembara ke timur. Dalam karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab Asyi’ah Khashah bin Nuril Islam mengungkapkan antara lain; “Sesunggunya al-Quran yang dibawa Muhammad itu telah mencatat adanya kitab-kitab suci yang lain, dan ia merupakan satu-satunya kitab yang menyeru orang untuk bersikap lemah lembut dan baik hati.

Telah mengadu kepada Rasulullah Muhammad, salah seorang dari Bani Salim bin Auf yang bernama Al-Husein: “Ya Rasulullah saya mempunya orang tua yang masih beragama masehi dan keduanya enggan masuk agama Allah. Saya akan bermaksud memaksa keduanya,” Rasulullah Muhammad menjawab, “tidak ada paksaan dalam menganut agama, seperti yang tercantum dalam surat al-Kafirun/109 ayat 6; bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku.” Juga tercantum dalam surat al-Ankabut/29 ayat 46; “dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik.”

8. Lev Nikolaevich Tolstoy


Merupakan seorang filsuf dan sastrawan besar Rusia menulis dalam bukunya ‘Siapakah Muhammad’, antara lain mengungkapkan bahwa: Tahun pertama gerakan dakwahnya membawa Muhammad untuk menghadapi berbagai tantangan sebagaimana keadaan nabi yang diutus sebelumnya yang mengajak umatnya kepada kebenaran. Tetapi tantangan-tantangan ini tidak mematahkan semangatnya. Bahkan Muhammad terus berdakwah, padahal ketika itu ia belum menyatakan bahwa dirinya sebagai nabi yang satu. Tetapi datang sebagai penyempurna risalah-risalah sebelumnya dan mengajak kaumnya pada keyakinan seperti nabi-nabi sebelumnya.”

9. Edward Adams


Merupakan seorang orientalis dari Amerika dalam salah satu karyanta menyatakan antara lain: “ Nagera Arab dulu, sebelum kenabian Muhammad, adalah negara yang tenggelam dalam kerusakan moral. Sulit bagi kita mencirikan kejadian yang terjadi di setiap tempat. Kerusakan besar yang menyengsarakan rakyat pada masa itu dan kejahatan pada anak-anak (anak perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup karena takut membawa petaka), pengorbanan manusia yang dilakukan atas nama agama, perang yang berkelanjutan antara suku, dan penduduk negri yang selalu hidup kekurangan, serta tidak adanya tatanan hukum yang kuat. Semua itu mengakibatkan penghambaan dan perbudakan diantara manusiabertambahnya kejahatan, pelecehan seksual dan kehormatan diantara manusia.

Ketika itulah datang Muhammad saw. sebagai juru penerang risalah yang maha esa dan maha perkasa bagi seluruh alam, yang ditangannya membawa petunjuk dan pembeda, yakni Al-Quran dan di tangan kirinya membawa cahaya. Sesungguhnya, semua ini untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuha Yang Maha Mulia.

10. Albornos Catian


Dia merupakan seorang orientalis berkebangsaan italia. Ia menulis tentang Nabi Muhammad saw dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab Adayanul Arab, yang menyebutkan bahwa, seungguhnya keistimewaan Muhammad terletak pada kemampuannya yang menakjubkan sebagai seorang politisi yang bijak-bestari, lebih dari sekedar nabi yang mendapatkan wahyu. Kiranya tidak seorangpun yang mengenal Muhammad, akan menjatuhkan kehormatannya, dan siapa yang melakukannya maka ia telag berbuat aniaya terhadap dirinya dan juga terhadap Muhammad.

10 Cendikiawan Dunia yang Mengagumi Nabi Muhammad saw

Nama-nama Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad Rasulullah saw. memiliki beberapa nama, Muslim meriwayatkan bahwa beliau bersabda, “aku memiliki beberapa nama:
  1. Aku bernama Muhammad
  2. Aku bernama Ahmad
  3. Aku bernama Al-Mahi (penumpas), dimana Allah menumpas kekafiran karena aku
  4. Aku bernama hasyiir (pengumpul), dimana Allah mengumpulkan manusia atas risalahku
  5. Aku bernama al-‘Aqib (penutup), dimana tidak ada seorang nabi lagi sesudahku, dan
  6. Aku, Allah memberiku pula nama Ra’uf (penyantun) dan rahim (penyayang).” (H.R. Muslim)
Nabi Muhammad Rasulullah saw. adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah swt.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا  

Terjemahannya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab/33: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa nabi Muhammad saw. bukanlah bapak dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid (bernama Zainab) dapat beliau nikahi.

Sebagai nabi dan Rasul terakhir, nabi Muhammad saw. tidak hanya diutus kepada sebagian golongan umat, seperti halnya para nabi terdahulu, melainkan untuk seluruh umat manusia.

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا  

Terjemahannya: Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Q.S. An-Nisa/4: 79)

Nama-nama Nabi Muhammad SAW

Ayat-ayat Al-Quran tentang Tugas Nabi Muhammad-Rasulullah saw.
Secara garis besarnya Nabi Muhammad saw. mempunyai tugas meluruskan aqidah umat manusia kelaigus memperbaiki akhlaknya. Berikut kami kemukakan beberapa ayat al-Quran yang menyuratkan tugas-tugas beliau.

1. Sebagai Rahmat Bagi Alam semesta


وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ  

Terjemahannya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al-Anbiya/21: 107)

2. Bertabligh, artinya menyampaikan ajaran Allah swt.


فَإِنۡ حَآجُّوكَ فَقُلۡ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ  

Terjemahannya: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali-Imran/3: 20)

Yang dimaksud buta huruf dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak mengenal baca tulis. Menurut sebagian mufassir yang dimaksud dengan ummi, dalam ayat tersebut adalah orang musyrik arab yang tidak tau baca tulis. Menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang diberi kitab.

3. Membawa agama yang benar


هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا  

Terjemahannya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Q.S. Al-Fath/48: 28).

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ  

Terjemahannya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (Q.S. Ash-Shaf/61: 9).

Ayat-ayat tersebut menyiratkan bahwa dengan kedatangan Islam, maka hukum-hukum sebelumnya tidak berlaku lagi dan diganti dengan hukum-hukum al-Quran. Sebab al-Quran juga menerangkan hal-hal yang mereka ada-adakan dalam agama-agam terdahulu, sehingga agama yang terjamin kebenarannya adalah agama Islam. Dan tidak ada lagi agama yang diturunkan Allah selain agama Islam. Al-Quran itu sendiri dalam pemeliharaan Allah swt., sehingga tidak berhasil dipalsukan meskipun berulang kali terjadi pemalsuan al-Quran.

4. Pembawa kabar gembira dan pemberi petunjuk peringatan


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا  

Terjemahannya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, (Q.S. Al-Ahzab/33: 45)

وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا  

Terjemahannya: dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Q.S. Al-Ahzab/33: 46)

5. Penunjuk ke jalan yang lurus


وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  

Terjemahannya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S. Asy-Syura/42: 52).

Ayat-ayat Al-Quran tentang Tugas Nabi Muhammad-Rasulullah saw.

Kepribadian dan Sifat-sifat Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad saw. terkenal dengan kepribadian dan jiwa kepemimpinan yang terpuji. Hal itu telah diungkapkan dalam ayat-ayat al-Quran antar lain:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ  

Terjemahannya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Alu Imran/3: 159)

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ  

Terjemahannya: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. At-Taubah/9: 128)

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  

Terjemahannya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab/33: 21)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  

Terjemahannya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. Al-Qalam/68: 4)

وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ

Terjemahanya: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,  (Q.S. Al-Insyirah/94: 4)

Maksud dari ayat yang terakhir ini adalah, meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, serta menjadikan taat kepada nabi termasuk taat kepada Allah swt.

Para sahabat juga memberikan kesaksian atas keluhuran akhlak Rasulullah saw. baik selaku nabi maupun sebagai pemimpin umat. Antara lain mereka katakan bahwa, Nabi saw.

1. Sangat dermawan


Ibnu Syihab Mengemukakan, setelah perang di Hunain, Rasulullah saw. memberi Shafwan Bin Umaiyah seratus ekor ternak, kemudian ditambahnya seratus ekor lagi.” (H.R. Muslim)

2. Selalu mengabulkan permintaan orang lain


Jabir bin Abdullah ra. menceritakan “ apabila Rasulullah saw. dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab dengan perkataan: ‘Tidak’.” (H.R. Muslim)

3. Bersikap bijak


Abu Hurairah ra. mengisahkan ketika ada seorang arab dusun kencing di masjid, para sahabat membentaknya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya itu dengan seember air. Kalian semua diperintah untuk berlaku manis dan bijak. Bukn berlaku kasar dan menimbulkan kesulitan.” (H.R. Bukhari). Ketika itu lantai yang dikencingi orang arab dusun itu berupa pasir, jaki sekali saja disiram dengan seember air kencingnya meresap ke dalam pasir.

4. Pemberani


Anas bin Malik ra. mengungkapkan, “Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik, paling pemurah, dan paling pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang banyak keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka berpapsan dengan Rasulullah saw. yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat asal suara tersebut. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamkannya dari Abu Thalhah, sambil menyandang pedang. Sabda beliau: ‘jangan panik, jangan panik’. Kami mendapati beliau memang santai-santai saja, dan berkuda perlahan-lahan.” (H.R. Muslim).

5. Tempat berlindung para sahabat


Ali bin Abi Thalib mengabarkan, “pada saat pertempuran sedang hebat-hebatnya kami selalu berlindung di belakang Rasulullah saw. Tidak ada orang yang lebih berani mendekati musuh seperti beliau.” (H.R. Muslim).

Kepribadian dan Sifat-sifat Nabi Muhammad saw

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Persaudaraan
Coretanzone.id - Al-Quran banyak menjelaskan tentang macam-macam persaudaraan atau dalam bahasa arab disebut sebagai ukhuwah, diantaranya adalah persuadararaan dalam kemanusiaan, persaudaraan dalam kebangsaan, persaudaraan dalam aqidah. Salah satu persaudaraan dalam hal ini adalah orang-orang yang sudah bertaubat dari dosa dan orang-orang yang beriman. Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 11.

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ 

Terjemahnnya: Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. At-Taubah/9:11)

Orang-orang yang beriman kepada Allah memiliki hubungan persaudaraan yang sangat kuat, sehingga jika ada kerenggangan atau terputusnya tali silaturahmi akibat dari suatu masalah, maka harus didamaikan atau diperbaiki dengan tujuan untuk mendapatkan rahmat dari Allah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 10 sebagai berikut.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

Terjemahannya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat/49: 10)

Baca juga: Penjelasan al-Quran tentang Empat Macam Persaudaraan

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk selalu berpegangan pada tali agamaNya. Maksudnya adalah dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya sebagaimana yang telah ada dalam syariat Islam. Allah sangat melarang kepada umat Islam untuk bercerai berai, sehingga semua umat Islam sudah seharusnya bersatu sebagai satu kesatuan yang kuat. Dalam al-Quran Allah swt berfirman

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Terjemahannya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran/3:103)

Ayat di atas menjelaskan tentang keadaan masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam hidup bermusuhan antara satu dengan yang lainnya atau antara satu suku dengan suku yang lainnya, seperti yang terjadi pada suku aus dan khazraj. Lalu kemudian setelah datangnya Islam, maka masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala kemudian menyembah Allah, lalu Allah mempersatukan hati mereka melalui Rasulullah saw.

Tak ada satu orangpun di dunia ini yang mampu mempersatukan satu hati manusia kecuali dengan kehendak Allah. Hal ini dijelaskan dalam ayat al-Quran berikut.

وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ 

Terjemahannya: dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (al-Anfal/8: 63)

Dalam ayat di atas Allah dengan tegas menyatakan bahwa, walaupun kita telah membeli segala macam hal kemewahan yang ada di dunia ini untuk digunakan sebagai perantara dalam mempersatukan hati manusia, namun jika belum menjadi kehendak Allah maka hal itu tidak akan bisa terjadi. Tetapi jika sudah menjadi kehendak Allah maka, tanpa harus membelanjakan kekayaan di dunia ini, manusia hatinya akan bersatu. Dengan demikian maka, di sinilah letak kemaha kuasnaan Allah dan kemaha bijaksanaanNya dalam mengatur kehidupan makhluk hidupNya.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan persaudaraan yag hakiki, yaitu persaudaraan tanpa rasa benci dan dendam, sehingga yang ada hanyalah rasa kasih sayang antara satu dengan yang lain. Hal ini sebagaimana dalam surat Al-Hijr ayat 47 sebagai berikut.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

Terjemahannya: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Q.S. Al-Hijr: 47)

Persaudaraan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya adalah bentuk reprsentasi dari lenyapnya segala rasa dendam yang tersimpan di dalam hati, sehingga manusia akan bersama-sama berkumpul untuk membicarakan tentang hajat bersama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Persaudaraan dalam hubungan nasab dalam al-Quran dijelsakan sebagai berikut.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Terjemahannya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa: 23)

Pernikahan dalam Islam diatur secara sempurna, sehingga orang tidak bisa menikah dengan saudara kandungnya sendiri, atau menikah dengan mertuanya sendiri. Hal ini diatur agar manusia hidup sebagaimana kodratnya sebagai sebaik-baik ciptaan.

Demikianlah penjelasan singkat tentang ayat-ayat al-Quran tentang persaudaraan. Sebenarnya masih banyak lagi ayat-ayat al-quran yang menjelaskan tentang persaudaraan, namun karena keterbatasan penulis maka, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Persaudaraan

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran
Persaudaraan atau dalam Islam dikenal dengan ukhuwwah merupakan ikatan antara satu orang dengan yang lainnya disebabkan karena persamaan dari berbagai segi, misalnya keturunan, agama, suku, bangsa, profesi, sifat, dan sebagainya, yang dengan itu membentuk suatu ikatan bathin sehingga satu dengan yang lainnya merasa ada kedekatan tersendiri. Meski ada perbedaan dari berbagai segi tetapi al-Quran memberi penjelasan bahwa semua umat manusia adalah bersaudara.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa, dalam Islam pesaudaraan dikenal dalam empat macam yaitu:

Pertama, ukhuwah ‘ubudiyyah, yakni persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-An’am/6 ayat 38.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ  

Terjemahannya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Kedua, ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah, yakni persaudaraan karena sama-sama manusia secara keseluruhan. Persaudaraan semacam ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  

Terjemahannya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketiga, ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Ha l ini dapat dilihat dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13.

Menurut Muhammad Imarah, pluralitas bangsa, suku bangsa, agama dan golongan merupakan kaidah yang abadi yang berfungsi sebagai pendorong untuk saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan, berlomba menciptakan prestasi dan memberikan tuntunan bagi perjalanan bangsa-bangsa dalam menggapai kemajuan dan ketinggian.

Baca juga: Ayat-ayat al-Quran tentang Persaudaraan

Keempat, ukhuwah diniyyah, yakni persaudaraan karena seagama (Ukhuwwah fi din al-Islam). Islam memberi penjelasan bahwa semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahat (bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah) yakni orang-orang yang beragama Islam semuanya bersaudara. Persaudaraan sesame umat Islam ini tidak memandang perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 10.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ  

Terjemahnnya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Semua umta yang beriman adalah bersaudara, sebagaimana yang dijelaskan ayat al-Quran di atas. Olehnya itu menjalin hubungan persaudaraan merupakan perintah Allah kepada semua umat Islam, agar tidak saling tercerai berai. Jika ada umat Islam yang hubungannya renggang maka perbaikilah kerenggangan itu. Selain itu sesame umat Islam juga selayaknya harus saling bahu membahu dalam membangun eksistensi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979
Hari itu, pada tanggal 20 November 1979, tepat jam 05.00 pagi, jamaah shalat shubuh tengah menantikan azan subuh. Belumlah juga muazin Masjid al-Haram mengumandangkan azan, tidak diduga, seseorang pria berusia 40 tahun-an, dengan 200 pengikutnya, mengatakan dengan lantang: "Sang Mahdi yang dinantikan sudah hadir." Pria yang pimpin pergerakan itu terakhir didapati bernama Juhaiman al-Utaibi.

Al-Utaibi lakukan sabotase. Ia serta pengikutnya merampas pengeras suara dari imam Masjid al-Haram, lantas mengatakan dengan keras kehadiran Sang Penebus, al-Mahdi. Gerombolan ini juga keluarkan senjata mereka.

Al-Utaibi, menyatakan beberapa ciri al-Mahdi, yang dalam keyakinan Islam akan tiba menjadi penyelamat umat manusia, ada pada mertua al-Utaibi, yakni Abdullah Muhammad al-Qahthani. Gerombolan ini berbaiat pada 'Imam al-Mahdi' palsu itu pas dibagian antara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim.

Masjid al-Haram, serta lokasi tawaf saat itu betul-betul mencekam. Al-Utaibi berpidato, "Wahai umat Islam, beberapa ciri al-Mahdi sudah tercukupi dalam figur yang sekarang ada diantara kalian, wahai saudara, duduklah serta berkumpullah kalian diantara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim. Janganlah buat gaduh. Wahai Ahmad al-Luhaibi, naiklah ke atap masjid, bila memandang ada yang menantang tembak saja,"

Sesudah itu, al-Utaibi serta gerombolannya mengatakan Masjid al-Haram sudah disabotase. Momen perebutan Masjid al-Haram berjalan cepat, kira-kira satu jam gerombolan ini sukses kuasai.

Momen ini begitu populer dalam sejarah. BBC membuat dokumentasi dengan judul "Blokade Makkah". Jejak al-Utaibi memang bukan figur yang popular. Sebelum aktif di kegiatan keagamaan serta menentukan beraliran salafi keras, ia sempat ikut serta dalam jual beli narkoba.

Genealogi 'pemberontak' mengalir dalam dirinya sendiri. Bapak al-Utaibi merupakan pengikut golongan Ikwan Man Atahallah, yang ikut serta dalam Perang as-Siblah, menantang pendiri Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud.

Al-Utaibi sempat masuk dalam militer Saudi pada umur 18 tahun, namun menetukan pilihan keluar serta mengenyam pendidikan di Kampus Madinah pada 1973. Di sinilah di berjumpa dengan al-Qahthani. Kedua-duanya mempunyai persamaan pemikiran serta mendakwahkan ide mereka pada masjid-masjid kecil di Madinah. Pengikutnya makin banyak serta bergabung dalam satu jamaah yang menyebut diri mereka al-Mutabisah.

Pembaharuan yang dilaksanakan otoritas Kerajaan Saudi, dalam pandangan al-Utaibi, cuma menjauhkan umat dari agama mereka. Hal inilah yang menjadikan al-Utaibi dan kelompoknya berpandangan, haram taati raja serta harus selekasnya mendorong timbulnya al-Mahdi, supaya umat Islam kembali pada agama mereka.

Pada saat keadaan serta situasi genting saat sabotase golongan al-Utaibi, otoritas keamanan Saudi saat itu termasuk sangatlah lambat sebab faktor-faktor diantaranya, kekosongan pejabat militer lantaran tengah berada di luar negeri, sakitnya raja Khalid, serta kurangnya kapabilitas intelijen.

Pihak Keamanan Saudi menduga situasinya biasa saja, cuma masalah kecil keamanaan. Akan tetapi, Pihak Kerajaan betul-betul mengerti keadaan begitu genting, saat satu regu keamanan yang di kirim lakukan penelusuran namun ditembak.

Saudi menerapkan status darurat. Beberapa ribu personil keamanan dikerahkan untuk mengepung Masjid al-Haram. Di hari ke-2 dari sabotase, pesawat jet tempur lalu-lalang diatas Masjid al-Haram.

Kelompok bersenjata tertekan. Mereka bergabung di lantai dasar Masjid al-Haram, mereka membakar karpet serta ban mobil untuk bikin kepulan asap. Beberapa dari gerombolan itu melumuri muka mereka dengan cairan warna hitam.

Sepanjang pengepungan itu, sebelumnya beberapa personil militer benar-benar tidak berani lakukan serangan. Hal ini sebab untuk menjaga kesucian Masjid al-Haram. Jangankan menumpahkan darah manusia, membunuh burung atau hewan apa pun tidak diperbolehkan di masjid ini. Termasuk juga kehadiran orang non-Muslim.

Akan tetapi, Dewan Ulama Saudi, pada akhirnya membuat fatwa bahwa bisa membunuh golongan yang mereka sebut sebagai 'Penjajah Masjid al-Haram'. Fatwa inilah yang pada akhirnya mengakibatkan baku tembak pada kedua pihak. Pihak keamanan Saudi dibantu oleh militer Prancis. Pertarungan dahsyat pun berlangsung.

Saat baku tembak, al-Qahthani tertembak serta diberitakan meninggal. Perihal ini ikut membuat sangsi pengikutnya mengenai kebenarannya menjadi al-Mahdi.

Pertarungan itu berjalan cukuplah alot sepanjang kira-kira 15 hari sampai pada akhirnya gerombolan bersenjata itu menyerah. Mereka kehabisan logistik amunisi serta bahan makanan.

Menurut data resmi Saudi, momen berdarah ini mengakibatkan 255 orang wafat. Akan tetapi, beberapa sumber menyebutkan jumlahnya korban jiwa sampai 1.000 orang sementara 450 orang terluka.

Pemerintah Saudi menjatuhkan sangsi hukuman mati pada 65 gerombolan bersenjata yang tertangkap. Al-Utaibi ialah orang yang pertama-tama dieksekusi mati dari kelompok itu pada 9 Desember 1980.

Sumber: republika. co.id

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979

Menelusuri Islam di Nusantara menjadi salah satu kegiatan ilmiah yang sangat menarik, karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang di dalamnya terdapat berbagai macam suku, bangsa, dan etnis dengan adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda. Perbedaan yang ada di dalam bangsa ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan beragama, sehingga wajah Islam di Nusantara secara budaya dan tradisi agak berbeda dengan wajah Islam di Arab atau di negara lain. Namun sangat disayangkan, semakin hari wajah Islam Indonesia yang sejuk dan toleran mulai direduksi dengan model Islam luar yang berwajah "radikal" dan itu bukan menjadi representasi Islam rahmatan lil alamin.

Intoleransi atas nama agama serta tumbuhnya semangat keagamaan di Indonesia belakangan ini sering dihubungkan dengan kebijaksanaan non-akomodatif pada saat Orde Baru dalam memperlakukan umat Islam. Sikap antagonis Soeharto pada Islam, terutamanya pada saat-saat awal kekuasaannya, sering diklaim sudah menggerakkan tumbuhnya golongan Islam transnasional. Tekanan Soeharto yang terlalu berlebih pada pergerakan Islam politik membuat artikulasi keislaman mereka terhambat. Oleh karenanya, kala rezim Orde Baru jatuh serta muncul kebebasan yang lumayan besar, beberapa golongan Islam politik itu banyak bermunculan.

Tidak ada yang salah dari penjelasan itu, akan tetapi mengabaikan factor sejarah yang lebih panjang bisa menghambat kita dalam memandang masalah dengan lebih mendalam serta adil.

Perubahan Islam Indonesia saat ini tidak bisa dipisahkan dari latar belakang masa lalunya yang bagitu panjang. Bangkitnya semangat keagamaan yang muncul akhir-akhir ini tidak tampil demikian saja, tetapi merupakan bagian dari serangkaian perjalanan panjang proses islamisasi di Indonesia.

Sebelum Islam masuk, Jawa sudah diketahui menjadi salah satu wilayah yang mempunyai peradaban yang maju. Perihal ini, dapat dibuktikan dengan kehadiran beberapa karya sastra, candi, serta kerajaan Hindu-Buddha. Sesudah Islam masuk, budaya Islam mulai membaur dengan budaya Jawa hingga menghisalkan satu sintesa mistik (mystic synthesis) yang diambil dari beberapa kebiasaan serta khazanah budaya Indonesia pra-Islam (Hindu-Buddha dan kebiasaan Jawa) dan ajaran Islam. Budaya Islam waktu itu bisa di terima sebab menjadi salah satu khazanah budaya yang kaya. Oleh sebab pencampuran itu, sebagian besar umat Islam di Indonesia pada rentang abad ke-14 sampai awal abad ke-19, menjalankan agama mereka dengan semangat sinkretis seperti ini.

Pandangan sinkretis itu jadikan umat Islam waktu itu begitu religius dalam kesadaran jalinan mereka dengan kesatuan serta ketergantungan pada prinsip kosmik yang meliputi semua yang mengendalikan kehidupan mereka.

Abangan dan Putihan

Abangan ialah panggilan untuk kelompok masyarakat Jawa Muslim yang menjalankan Islam dalam bentuk yang lebih sinkretis jika dibanding dengan kelompok santri yang lebih ortodoks. Istilah ini diambil dari kata bahasa Jawa yang bermakna merah, kali pertama digunakakan oleh Clifford Geertz, akan tetapi sekarang ini maknanya sudah berubah. Abangan condong mengikuti sistem keyakinan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni. Dalam sistem keyakinan itu ada tradisi-tradisi Hindu, Buddha, serta animisme. Akan tetapi beberapa sarjana memiliki pendapat kalau apa yang secara klasik dianggap bentuk variasi Islam di Indonesia, seringkali adalah sisi dari agama tersebut di negara lainnya. Menjadi contoh, Martin van Bruinessen mencatat terdapatnya persamaan pada kebiasaan serta praktek yang dilakukan jaman dulu di kelompok umat Islam di Mesir.

Menurut cerita penduduk, kata abangan diprediksikan datang dari kata Bahasa Arab aba'an. Lidah orang Jawa membaca huruf 'ain jadi ngain. Makna aba'an kira-kira ialah "yang tidak konsekwen" atau "yang meninggalkan". Jadi beberapa ulama dahulu memberi julukan pada beberapa orang yang telah masuk Islam tetapi tidak menjalankan syariat (Bahasa Jawa: sarengat) ialah golongan aba'an atau abangan. Jadi, kata "abang" di sini tidak dari kata Bahasa Jawa abang yang bermakna warna merah

Pengertian Islam abangan ialah panggilan untuk kaum muslim atau penduduk Jawa yang mengakui beragama Islam. Islam abangan ini adalah kombinasi pada animism, hinduisme serta Islam. Diluar itu Islam abangan pun memberi ruangan pada keyakinan susah pada roh serta teori tentang pengetahuan hitam serta perdukunan

Bicara tentang munculnya terminologi abangan, Merle Ricklefs, sejarawan Australia, menuturkan jika timbulnya arti abangan dalam skema penduduk Jawa bertepatan dengan kejadian kebangkitan/pemurnian Islam yang diawali pada paruh pertama abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Ricklefs dalam bukunya Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions 1830-1930 berpandangan jika proses kebangkitan Islam di Jawa berawal sesudah berakhirnya Perang Jawa (1830). Pada rintang periode sesudah momen itu muncul gelombang pasang golongan “putihan” yang tidak ada presedennya dalam sejarah Indonesia.

Arti putihan ini mengacu pada muslim yang begitu berdasar teguh pada ajaran al-Quran serta Hadis. Menurut laporan beberapa misionaris Nederlandsche Zendelinggenootschap (NZG), arti putihan lebih popular menjadi lawan kata “abangan” yang baru muncul pada abad ke-19. Riwayat munculnya arti itu terpenting untuk memerhatikan semula timbulnya polarisasi dalam penduduk Islam di Jawa serta sekaligus juga menjadi semula lahirnya kesadaran baru penduduk muslim Indonesia.

Era ke-19 ialah waktu yang begitu memastikan buat budaya serta peradaban di semua dunia, termasuk juga wilayah-wilayah yang mayoristas penduduknya beragama Islam. Waktu ini bisa disebutkan menjadi waktu yang penting buat riwayat serta hari esok kehidupan beragama di Indonesia. Beberapa polarisasi serta ketegangan sosial yangterjadi pasa waktu ini mempunyai implikasi jauh kedepan.

Arti abangan muncul awal abad itu. Golongan putihan ialah golongan yang pertama-tama mengenalkan arti abangan untuk menghina muslim lainnya yang tidak menjalankan syariat Islam dengan prima. Arti abangan sendiri datang dari kata Jawa rendahan (ngoko) abang, bermakna warna merah atau coklat. Pada saat itu, arti yang biasa dipakai ialah bangsa abangan atau wong abangan. Dalam kata Jawa Tinggi (kromo) dimaksud abrit serta beberapa orang ini dimaksud tiyang abritan.

Di lainnya pihak, golongan putihan yang disebut minoritas waktu itu, memandang grup mereka menjadi grup yang sangat saleh sebab menjalankan syariat Islam seperti di Timur Tengah. Beberapa haji serta pelajar yang pulang dari Mekah mainkan peranan lumayan besar dalam menyemai tumbuhnya golongan putihan di Indonesia. Jumlahnya mereka juga cukuplah banyak, terdaftar pada tiga dekade paling akhir era ke-19, sekitar 4000-8000 –15% dari keseluruhnya jamaah di Arab– jamaah haji pergi ke Arab tiap-tiap tahunnya. Mereka berikut yang dengan santer serta terus-terusan lakukan pemurnian Islam di Nusantara. Tentunya, sebagai mode buat mereka ialah praktek-praktek Islam yang digerakkan di Timur Tengah, di Jazirah Arab terutamanya yang waktu itu tengah tumbuh cepat pergerakan Wahhabi.

Hubungan dengan Wahabi

Jika dihubungkan dengan riwayat perubahan Islam di Timur Tengah, maka pada saat abad ke-18 sampai 19 adalah periode perubahan untuk gerakan Wahhabi di wilayah Arab. Wahhabisme sendiri adalah pergerakan pemurnian yang dicetuskan oleh Muhammad Abd al-Wahhab pada abad ke-18, menjadi tanggapan pada ajaran-ajaran Islam yang disintesiskan dengan ajaran tradisionil ditempat. Dia memandang praktik Islam semacam itu menjadi tingkah laku syirik atau politeisme. Pada awal abad ke-19, Wahhabisme masukkan ajaran-ajaran Ibn Taimiyah ke ajaran inti mereka serta praktik mengkafirkan muslim lainnya (takfir) yang sempat tidak diterima oleh Abd al-Wahhab malah dijadikan menjadi satu diantara praktik mereka yang menonjol. Sampai sekarang ini juga, pergerakan ini bersikukuh jika umat Islam yang tidak terima atau menjalankan doktrin-doktrin mereka ialah kafir.

Kelahiran abangan di Jawa serta perubahan Wahhabi di Arab yang bertepatan menguatkan anggapan jika ada banyak jamaah haji Indonesia yang pulang dari tanah suci membawa doktrin Wahhabi untuk selanjutnya diaplikasikan di Jawa. Penerapan semacam ini yang selanjutnya menimbulkan dikotomi abangan serta putihan di Jawa, sebab menurut Ricklefs golongan abangan merupakan orang-orang menjalankan ibadah yang dicampurkan dengan kebiasaan yang dipandang oleh orang putihan menjadi bidah serta sesat. Karena itu satu diantara misi penting mereka ialah meluruskan praktek-praktek Islam lokal yang dikerjakan oleh golongan abangan.

Mengembangnya Polarisasi

Dikotomi pada kelompok putihan serta kelompok abangan dalam memeluk Islam bukan sekedar tergambarkan dalam praktik keagamaan, tapi pun menggambarkan ketidaksamaan sosial yang lebih umum. Bangsa putihan biasanya lebih kaya, aktif dalam perdagangan atau perusahaan, mengenakan pakaian lebih baik, mempunyai rumah yang lebih baik, terlihat lebih baik dalam tatakrama, menjauhi opium, judi, menjalankan rukun Islam, serta lebih memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak-anak mereka.

Selain itu golongan Abangan lebih tertarik pada ritual-ritual yang terkait dengan alam serta jalinan sosial antar manusia. Jadi walau mereka lebih miskin, akan tetapi lebih aktif dalam kegiatan yang terkait dengan kebiasaan seperti slametan, pertunjukkan wayang serta gamelan dibanding menjalankan rukun Islam serta memperlihatkan kesalehan agama. Tingkah laku abangan ini sering menyebabkan perseteruan antar kelompok, sebab banyak juga kelompok putihan yang memandang pertunjukan wayang menjadi suatu yang terlarang dalam ajaran Islam.

Abangan serta putihan ialah dunia yang berlainan keduanya. Mereka dibedakan berdasar pada kelas sosial, penghasilan, pekerjaan, busana, pendidikan, sopan santun, kehidupan budaya, serta metode dalam membesarkan anak-anak. Ketidaksamaan ini makin berkembang sampai merambah pada sektor ekonomi yang mencakup (perdagangan, peminjaman uang, serta hutang). Selanjutnya kebutuhan mereka yang sama-sama bertentangan dengan gampangnya menyebabkan ketidaksukaan serta perseteruan.

Pada awal abad ke-20, identitas-identitas Jawa yang saling bertentangan ini kemudian dilembagakan dalam organisasi-organisasi moderen dan utamanya politik. Sesudah itu mereka jadi lebih kaku serta konfliktual.

Terkait dengan paparan diatas, seharusnya perpecahan pada golongan abangan dan putihan bisa dijadikan menjadi pelajaran pada saat sekarang, supaya kerukunan serta toleransi yang sudah jadi jati diri masyarakat Indonesia terus terbangun. Tanpa adanya kesadaran pada peristiwa masa lampau, maka bangsa ini selanjutnya cuma akan terjerat pada ego masing-masing yang tidak memberikan faedah apa pun buat perubahan negara ini. Ketidaksamaan aliran serta praktik keagamaan semestinya disikapi melalui cara yang bijak. Sikap-sikap arogan yang memandang golongannya sangat suci atau benar, dan memandang kelompok lainnya lebih rendah semestinya dijauhi. Dengan kedewasaan sikap itu, maka Islam Indonesia bisa bersemai kembali dengan jati diri aslinya yang penuh toleransi serta menjunjung tinggi persatuan.

Awal Mula Kelahiran Kalangan Abangan dan Bentuk Polarisasi Islam di Jawa

Warna Kain Kiswah dari Masa ke Masa dan Kejadian Terbakarnya
Kiswah atau penutup Ka’bah bukan sekedar memiliki fungsi menjadi ‘selimut’, tapi juga mempunyai unsur estetika yang tinggi sekali serta diakui. Sangat banyak kisah yang mengatakan warna dari kiswah.

Sekurang-kurangnya ada tujuh kisah yang mengatakan macam warna kiswah, yakni salah satunya yait coklat, merah, putih, kuning, hijau, hitam, serta warna keemasan.

Masing-masing warna ini sempat jadi warna penting kiswah dalam catatan riwayat. Namun warna yang sangat mendominasi ialah warna hitam, sampai saat ini.

Kombinasi warnanya dapat berubah-ubah, kadang penuh satu warna, atau dua warna yakni warna dasar serta warna sekunder untuk pemanis. Seperti yang terlihat saat ini, warna keemasan menjadi warna untuk teks ayat Alquran, sedang warna dasarnya ialah warna hitam.

Warna merah serta putih sempat juga di gabung menjadi warna kiswah saat memakai kain dari Yaman.

Brokat serta sutra adalah bahan yang seringkali dipakai untuk kiswah. Umumnya kiswah tersebu terbagi dalam beberapa kain yang disusun serta dibagian teratas ialah kiswah yang bertuliskan ayat-ayat Alquran.

Perubahan kiswah memang sebelumnya tidak ada ketetapannya, akan tetapi terakhir kiswah ditukar tiap-tiap tahun sekali. Umumnya kiswah ditukar pada 10 Muharram, awal Rajab, 27 Ramadhan, hari tarwiyah, atau saat 10 Dzulhijjah.

Pada saat Rasulullah SAW serta umat Islam menaklukkan kota Makkah, Rasulullah memilih tidak merubah kiswah yang ditempatkan oleh Suku Quraish serta masih mempertahankannya.

Kiswah itu ditukar saat terbakar karena seseorang wanita yang membakar dupa di seputar Ka’bah.

Warna Kain Kiswah dari Masa ke Masa dan Kejadian Terbakarnya

Subscribe Our Newsletter