Coretanzone: Agama

    Social Items

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?
Bagi seorang wanita, ketika sudah masuk lanjut usia biasanya terjadi menopause atau berakhirnya masa kesburun dalam tubuh dengan ditandai dengan berakhirnya siklus menstruasi. Ada sebagian orang yang memiliki anggapan bahwa, jika sudah masuk masa ini mereka dibolehkan untuk membuka auratnya. Dengan merujuk pada Firman Allah swt. sebagai berikut.

وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Terjemahannya: Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nur: 60)

Sebelumnya perlu kita bedakan antara dalil secara tekstual dan cara kita dalam menyimpulkan suatu dalil tersebut. Dalil yang berasal langsung dari al-Quran sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyakini keabsahannya, tetapi cara kita dalam menyimpulkan dalil tersebut belum tentu sesuai dengan maksudnya.

Berikut ini beberapa pandangan ulama terkait dengan ayat al-Quran di atas.

1. Perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi)

Al-Qurthubi menukil perkataan Rabi’ah, “Rabi’ah mengatakan, “Mereka adalah para wanita yang jika kamu melihatnya, kamu merasa risih kepadanya karena sudah tua.” Abu Ubaidah mengatakan, ‘Diterjemahkan para wanita yang tidak bisa melahirkan anak. Tapi ini tidak sesuai, karena ada wanita yang tidak bisa melahirkan anak, sementara masih terlihat indah lelaki. Demikian keterangan al-Mahduwi.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/309)

Dari pendapat di atas maka, dapat disimpulkan bahwa, yang benar adalah bukan semua wanita yang sudah menopause tetapi hanya wanita tua yang jika kamu melihatnya kamu merasa risih. Sedangkan wanita yang baru berada di awal-awal usia menopause masih terlihat menarik.

2. Pakaian yang boleh dilepaskan

Dalam ayat di atas, ada pernyataan bahwa “tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”
Pakaian apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Sebenarnya yang dimaksud di sini adalah hanya pakaian luarnya saja, seperti kebaya atau penutup luarnya saja dengan tidak bermaksud untuk membuka auratnya dan menampakkan perhiasannya.

Al-Alusi mengatakan, “Maksudnya adalah pakaian luaran, yang ketika dilepas tidak menyebabkan terbuka auratnya, seperti jilbab luar, kerudung luar, atau kain penutup yang berada di atas pakaian.” (Tafsir al-Alusi, 14/11)

Bahkan al-Jashas menegaskan bahwa ulama sepakat siapapun wanita tidak boleh membuka auratnya, baik tua maupun muda. Al-Jashas mengatakan, “Tidak ada perbedaan diantara ulama bahwa rambut nenek-nenek tidak boleh diperlihatkan kepada lelaki yang bukan mahram, sebagaimana rambut wanita muda. Dan nenek-nenek yang shalat dengan kepala terbuka, shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Yang dibolehkan bagi nenek-nenek adalah melepaskan kerudung luar di depan lelaki lain, dengan tetap tertutup kepalanya. Dan dia boleh membuka wajah dan tangannya, karena tidak ada daya tarik lagi.” (Ahkam al-Quran, 5/196).

Demikianlah postingan kali ini tentang ketentuan perempuan yang sudah menopause dalam membuka auratnya, semoga bermanfaat.

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara?
Benarkah Jika ada Mahram Sementara? Ini memang pertanyaan yang unik atau pertanyaan yang selalu datang dari masyarakat. Olehnya itu sebelum pembahasan ini lebih baik terlebih dahulu kita mengetahui pengetian dari mahram itu sendiri.

Dalam Syarah Shahih Muslim (9/105), Imam An-Nawawi memberikan defenisi mahram yaitu; “Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, sebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram.”

Dalam al-Quran Allah SWT. melarang untuk seorang laki-laki menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus, sebagaimana firmanNya sebagai berikut:

… وَأَن تَجۡمَعُواْ بَيۡنَ ٱلۡأُخۡتَيۡنِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

Terjemahannya: …dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. an-Nisa: 23)

Dalam sebuah hadis yang artinya; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dalam satu ikatan pernikahan, “Tidak boleh seorang lelaki menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Dari kedua dalil di atas memiliki maksud bahwa, saudara perempuan istri, dan bibi dari istri dilarang untuk dinikahi namun bukan mahram. Karena mereka hanya tidak boleh dinikahi untuk sementara saja.

Olehnya itu, lebih tepatnya tidak ada istilah mahram sementara dalam islam, karena yang Namanya mahram adalah selamanya tidak boleh dinikahi. Seandainya ada mahram sementara, dikarenakan haram dinikahi sementara waktu, maka setiap istri orang lain juga merupakan mahram sementara, karena selama mereka masih berstatus sebagai istri orang lain, maka haram dinikahi oleh laki-laki manapun.

Dalam fatwa Lajnah Daimah (17/36) menyebutkan bahwa, “Ketika seseorang berstatus mahram karena nasab, persusuan, atau pernikahan, maka status mahramnya selamanya. dan tidak ada istilah mahram sementara sama sekali.”

Dengan demikian maka, pertanyaan di atas sudah terjawab bahwa, dalam Islam tidak ada sebutan mahram sementara dengan alasan apapun, yang ada adalah mahram selamanya yang haram dinikahi. Sehingga orang yang haram dinikahi dalam kurun waktu tertentu atau sementara waktu bukanlah mahram, karena mereka bisa dinikahi lagi ketika sudah tidak memilki status sebagai istri orang lain.

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara dalam Syariat Islam?

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid
Haid merupakan suatu masa yang akan dilalui oleh seorang wanita dalam masa waktu tertentu. Setiap wanita yang sudah baligh akan mengalami masa ini, sebagai penanda kesuburan dan baik untuk seorang wanita. Haid atau menstrusai ini biasanya disebut datang bulan, karena normalnya akan dialami oleh seorang wanita dalam satu bulan satu kali dalam beberapa hari tertentu. Dalam keadaan menstruasi seorang wanita dilarang melakukan beberapa hal sesuai dengan nash al-Quran dan hadis Rasulullah saw.

Berikut ini beberapa larangan yang haram untuk dilakukan oleh seorang wanita yang dalam keadaan sedang haid:

1. Shalat


Shalat lima waktu merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh semua umat islam yang sudah baligh dan memenuhi syarat, namun bagi seorang wanita yang sedang haid dilarang untuk melaksanakan shalat, baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yang artinya sebagai berkut.

Dari Aisyah ra berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat.” (HR Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

2. Menyentuh Mushaf dan Membawanya


Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada umat Islam sebagai pedoman hidup dan bekal untuk akhirat nanti. Namun dalam keadaan sedang hadis, seorang wanita dilarang untuk menyentuh apalagi membawa mushaf tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Quran sebagai berikut.

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ 

Terjemahannya: tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (Q.S. Al Waqi’ah: 79)

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW. bersabda,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya)

Orang yang sedang berhadas besar termasuk di dalamnya wanita yang sedang haid dilarang untuk menyentuh mushaf al-Quran.

3. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran


Membaca al-Quran dapat mendatangkan manfaat yang banyak termasuk mendatangkan pahala bagi pembacanya, namun ada sebagian ulama yang berpandandanga bahwa saat haid seorang wanita dilarang melafazkan ayat suci al-Quran kecuali di dalam hati atau doa/zikir yang lafaznya berasal dari ayat al-Quran. Hal ini sebagaimana salah satu hadis Rasulullah SAW. yang artinya “Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub.”

Walaupun demikian, ada sebagian pendapat ulama yang membolehkan wanita yang sedang haid untuk membaca al-Quran asalkan tidak menyentuh mushaf, dan juga takut lupa dengan hafalan al-Qur’an-nya jika waktu haidnya berlangsung lama. Selain itu juga membacanya tidak terlalu banyak juga diperbolehkan.

Pendapat ini adalah pendapat yang berasal dari Malik, sebagaimana disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal 133.

4. Masuk ke Masjid


Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat islam yang boleh dimasuki untuk melakukan ibadah kepada Allah, namun bagi wanita yang dalam keadaan haid tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam masjid sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh.” (HR Bukhori, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah).

Dengan demikian maka, larangan ini bukan saja kepada wanita haid, tetapi juga kepada laki-laki yang sedang dalam keadaan junub, sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang dalam keadaan berhadas besar dilarang untuk memasuki masjid sampai dia sudah menjadi suci.

5. Berwudu atau Mandi Janabah


Dalam pandangan mazhab As Syafiiyah dan al-Hanabilah menyatakan bahwa, seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid, diharamkan untuk berwudhu dan mandi janabah. Hal ini mengandung arti bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan haid dan darahnya masih mengalir keluar, lalu memiliki niat untuk bersuci dari hadas besar dengan cara melakukan wudhu dan mandi janabah seakan-akan masa haidnya sudah selasai, padahal kenyataannya belum.

Walaupun demikian larangan ini tidak berlaku untuk mandi yang hanya sekedar membersihkan tubuh dari kuman dengan menggunakan sabun, shampoo, dan sebagainya, dengan tidak ada niat untuk mensucikan diri dari hadas besar.

6. Puasa


Puasa merupakan salah satu ibadah yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendapat pahala dan manfaatnya sangat banyak untuk kesehatan tubuh. Namun seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid dilarang untuk berpuasa, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah bila wanita mendapat hatdas, dia tidak boleh shalat dan puasa?” (HR Muttafaq ‘alaihi).

7. Tawaf


Tawaf merupakan salah satu rukun haji, namun ketika seorang Muslimah dalam keadaan haid maka, tidak dibolehkan untuk melakukan tawaf, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf di sekeliling kabah hingga kamu suci.” (HR MutafaqqAlaih).

8. Bersetubuh


Darah haid itu merupakan salah satu kotoran yang tidak baik bagi kesehatan tubuh, sehingga keluar dari tubuh seorang wanita. Kotoran ini juga tidak baik untuk laki-laki, sehingga dalam keadaan seperti ini seorang wanita dilarang melakukan hubungan intim dengan suaminya, hal ini sebagimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Terjemahannya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS Al-Baqarah: 222).

Memang bahwa sebagai manusia yang normal pasti ada nafsu biologis yang ingin disalurkan melalui berhubungan badan antara suami dan istri, namun ketika seorang istri dalam keadaan haid maka, sudah menjadi kewajiban suami untuk menahan dirinya agar tidak berhubungan intim untuk menghindari penyakit yang timbul akibat dari itu.

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid

Larangan Suami Yang Terlalu Curiga kepada Istri
Rasa Cemburu merupakan salah satu kondisi yang pasti dialami oleh setiap orang dan sudah menjadi hal yang wajar dalam suatu hubungan atau dalam rumah tangga. Cemburu biasanya diartikan sebagai tanda sayang kepada pasangan.

Rasa cemburu merupakan hal yang wajar dan manusiawi, namun rasa ini tidaklah boleh sampai berlebihan. Contohnya saja seorang suami yang selalu mencari-cari kesalahan istrinya karena rasa cemburu yang tinggi atau istilah kerennya saat ini yaitu posesif.

Sebagai seoang yang teladan bagi umat manusia, Rasulullah saw. selalu mengajarkan kepada umatnya khususnya kaum adam yang menjadi suami agar tidak diliputi dengan rasa curiga ketika dia meninggalkan istrinya di rumah. Sebagaimana salah satu sabda beliau sebagai berikut,

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

Terjemahannya: “Jika salah seorang dari kalian datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi istrinya. (Berilah kabar terlebih dahulu) agar wanita yang ditinggal suaminya mencukur bulu-bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadis lain dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya.” (HR. Muslim ).

Hadis-hadis seperti ini menurut Al-Muhallab adalah hadis atau dalil yang menunjukkan pada larangan untuk mencari-cari kesalahan dan kelengahan istri, karena hal ini merupakan bagian dari fitnah dan dapat dikategorikan sebagai suatu perbuatan berburuk sangka.

Tak perlu bagi seseorang untuk cemburu secara berlebihan kepada pasangannya, tetap menaruh kepercayaan kepada istir dengan melakukan didikan agama yang baik dan benar agar rumah tangga menjadi sakinah, mawaddah, dan warohmah.

Larangan Suami Yang Terlalu Curiga kepada Istri

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Mensyukuri Nikmat Allah
Syukur adalah suatu perbuatan atau ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT, yang dimulai dari dalam hati, kemudian diucapkan dengan lisan dan ditunjukkan dengan sikap, dan pengakuan yang setulus-tulusnya tentang nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Nikmat yang diberikan kepada kita sebagai manusia ini sangatlah banyak, bermacam-macam dan sangat lusa. Setiap detik dari kehidupan mausia dilalui dengan nikmat Allah SWT yang sangat besar yang diberikanNya secara gratis kepada manusia untuk beribadah kepadaNya.

Saking luasnya nikmat Allah, maka munusia tidak dapat menghitungnya, bahkan semua lautan dijadikan sebagai tinta dan semua pohon dijadikan sebagai kertas tidak akan mampu manusia menghitung nikmat Allah yang ada di dunia ini. Olehnya untuk menambah rasa syukur kita, maka berikut ayat-ayat Al-Quran tentang mensyukuri nikmat Allah.

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 152 dan 172


فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ

Terjemahannya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (Q.S. Al-Baqarah: 152)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ 

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah (Q.S. Al-Baqarah: 172)

Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Terjemahannya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim: 7)

Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12 dan 14


وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ

Terjemahannya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (Q.S. Luqman: 12)

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ

Terjemahannya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Q.S. Luqman: 14)

Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 78 dan 114


وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 

Terjemahannya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (Q.S. An-Nahl: 78)

فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ 

Terjemahannya: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (Q.S. An-Nahl: 114)

Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 17


إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ 

Terjemahannya: Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan (Q.S. Al-Ankabut: 17)

Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 66


بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ 

Terjemahannya: Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur" (Q.S. Az-Zumar: 66)

Al-Qur’an Surat Saba’ Ayat 15


لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ

Terjemahannya: Sesungguhnya bagi kaum Saba´ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun" (Q.S. Saba’: 15)

Mensyukuri nikamt Allah itu merupakan suatu perbuatan mulia yang wajib dilaksanakan oleh manusia. Apalah arti manusia ini di hadapan Allah yang maha kaya, sehingga tidak selayaknya manusia sombong dengan apa yang Allah titipkan kepadanya. Kekayaan yang dimiliki oleh seseorang sudah selayaknya dijadikan sebagai alat untuk mencapai keridhoaan Allah, yaitu dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Rizki yang Allah berikan kepada manusia, baik itu sedikit atau banyak tetap harus disyukuri, karena dengan mensyukuri nikmat tersebut maka Allah akan tambahkan, namun jika kufur dengan nikmat maka azab Allah sangatlah pedih. Wallahu a’lam.

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Mensyukuri Nikmat Allah

Ternyata Ini Keutamaan Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah merupakan salah satu surat yang selalu dibaca oleh umat Islam, karena merupakan salah satu surat yang wajib dibaca ketika melaksanakan shalat. Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca surat Al-Fatihah.

Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ 

Terjemahannya: 1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 4) Yang menguasai di Hari Pembalasan 5) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan 6) Tunjukilah kami jalan yang lurus 7) (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Mengenai asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) surat al-Fatihah, sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib (mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”

Surat Al-Fatihah merupakan surat dalam al-Quran yang memiliki banyak keutamaan berdasarkan hadits-hadits Rasulullah yang shahih. Surat ini wajib dibaca ketika shalat dan tidak sah shalat seseorang ketika dia tidak membaca surat ini.

Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami: “Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”

Selain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surah ini sering juga disebut Fatihatul Kitab (Pembukaan Kitab), Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur'an (Induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), Ash-Shalah (Arab: الصلاة, Shalat), al-Hamd (Arab: الحمد, Pujian), Al-Wafiyah (Arab: الوافية, Yang Sempurna), al-Kanz (Arab: الكنز, Simpanan Yang Tebal), asy-Syafiyah (Yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Arab: الشفاء, Obat), al-Kafiyah (Arab: الكافية, Yang Mencukupi), al-Asas (Pokok), al-Ruqyah (Mantra), asy-Syukru (Syukur), ad-Du'au (Do'a), dan al-Waqiyah (Yang Melindungi dari Kesesatan).Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla.

Surat AL-Fatihah memiliki banyak keutamaan diantaranya yaitu:

Surat yang Sangat Istimewa bagi Umat Islam


Diriwayatkan dari Hasan bin Ali : pada suatu hari, serombongan orang Yahudi menemui Nabi saw. Di antara pertanyaan mereka, “ kabarkan kepada kami tujuh hal yang Allah berikan kepadamu dan tidak diberikan kepada Nabi yang lain; Allah berikan kepada umatmu, tidak kepada umat yang lain? Nabi saw bersabda; Allah memberikan kepadaku Al-fatihah, azan, jamaah di masjid, hari jumat, menjaharkan tiga salat, keringanan bagi umatku dalamkeadaan sakit, safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar di antara umatku.

Diturunkan Langsung dari ‘Arsy Allah


Dari Jakfar bin Muhammad as. Dari ayahnya dari kakeknya sampai kepada Nabi saw. Ia bersabda, ketika Allah SWT. Bermaksud menurunkan Al-fatihah, ayat kursi, syahidallahu, qul illahumma malik al mulk, semua ayat itu bergantung di ‘arsy Tuhan. Tidak ada penghalang di antaranya dengan Allah. Semua ayat itu berkata, tuhanku kau turunkan kami ke kampong yang penuh dosa, kepada orang yang menentangmu, padahal kami bergantung pada kebersihan dan kesucianmu. Allah SWT. Berfirman, Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, jika seorang hamba membaca kamu sesudah salatnya, aku akan tempatkan dia di wisma kesucian(firdaus), aku akan perhatikan dia dengan mata-Ku yang terpelihara setiap hari tujuh puluh kali pandangan, aku akan penuhi setiap kali tujuh puluh keperluannya, paling sedikit di antaranya adalah mapunanku. Aku lindungi ia dari semua musuh. Aku akan membelanya. Tidak ada yang mencegahnya masuk surge kecuali kematian.

Mendapatkan Pahala yang Besar Bagi yang Membacanya


Dari Ali as. Nabi saw bersabda, pada malam isra, aku berhenti di bawah ‘arsy. Aku melihat ke atasku dan kulihat dua papan bergantung terbuat dari mutiara dan yakut. Pada papan yang satu tertulis Al-Fatihah, dan pada papan yang seluruh Al-Quran. Aku berkata; Tuhanku, muliakanlah umatku dengan dua papan ini. Tuhan yang Mahatinggi berfirman;aku sudah memuliakan kamu dan umatmu dengan keduanya(yakni firman Tuhan: sudah aku berikan kepadamu tujuh yang diulang dan Al-quran yang agung). Aku berkata; apa pahala yang membaca fatihah? Alah SWT. Berfirman, YA Muhammad, barang siapa yang membaca tujuh ayat itu satu kali, aku haramkan baginya tujuh pintu jahannam. Aku berkata, Tuhanku apa pahala orang yang membaca Al-Quran satu kali? Allah SWT. Berfirman, YA Muhammad, untuk setiap huruf, aku berikan padanya satu pohon di surga.

Orang yang Membaca Surat Al-Fatihah akan Mendapatkan Perlindungan dan Pengampunan


Di riwayatkan oleh Muhyiddin Ibn Arabi dalam futuhat al makkiyyah dengan sanadnya yang bersambung kepada Nabi saw. Bahwa Allah SWT berfirman; Hai Israil, demi keagungan-Ku, kemurahan-Ku dan kemuliaan-Ku siapa yang membaca Bismillahirrahmanirrahim bersambung dengan Al-fatihah satu kali, saksikanlah bahwa aku mengampuni dosa-dosanya, menerima kebaikannya, dan memaafkan kesalahannya. Aku tidak akan membakar lidahnya dengan api dan siksa pada hari kiamat, pada hari ketakutan yang besar. Ia akan berjumpa dengan-Ku sebelum para Nabi dan para Wali.

Al-Thabrani meriwayatkan dengan sanad dari al- Saib bin Yazid: Nabi saw memohonkan perlindungan bagiku dengan Fatihat Al Kitab.

Tidak Sah Shalat Jika tidak Membaca Surat Al-Fatihah


Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Malik, Abu Dawud, Turmudzi, Al-Nasai, Ibn Majah dengan sanad yang bersambung kepada Nabi Bahwa Rasulullah saw. Bersabda; tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca Fatihah al kitab.” Al-Darul Quthni meriwayatkan dari ubadah bin Al- Shamit, “ tidak mendapat pahala salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” Ahmad, Muslim, Abu Daud, Al-Nasai menyampaikan sabda Nabi saw. Barang siapa yang melakukan salat tetapi tidak membaca Al-Quran di dalamnya, maka salatnya itu bercacat, bercacat, bercacat.

Dapat Menjadi Obat Bagi Berbagai Penyakit


Rasulullah saw bersabda kepada Jabir Bin Abdullah, hai Jabir, maukah kamu saya ajarkan surat yang paling itama yang Allah turunkan dalam kitab-Nya. YA Rasul Allah, ajarkanlah surat itu kepadaku. Kemudian Rasulullah saw. Mengajarkan kepadanya Alhamdulillah, umm kitab, seraya berkata, maukah aku beritakan ebih lanjut tentang al-fatihah? Jabir menjawab, tentu saja, demi ayah dan ibuku. Ya Rasul Allah, beritakanlah itu kepadaku. ‘ Rasulullah saw bersabda, Al Fatihah itu obat dari segala penyakit, kecuali kematian.

Surat yang belum pernah diturunkan sebelumnya kecuali di dalam al-Quran


Suatu ketika Rasulullah memanggil sahabat Ubay bin Ka'ab, kemudian Nabi mengatakan kepada Ubay bin Ka'ab,"Sungguh Aku berharap engkau tidak keluar dari pintu masjid ini sehingga engkau mengetahui satu surat yang Allah belum pernah turunkan dalam Taurat, juga dalam Injil, tidak juga dalam al-Quran seperti ini." Ubay bin Ka'ab berkata aku pun memperlambat jalanku karena menginginkan hal itu. kemudian aku bertanya,"Wahai Rasululah apa surat yang engkau janjikan untuk kau ajarkan kepadaku?" Rasulullah menjawab ,"Apa yang engkau baca ketika engkau memulai shalat?" maka Ubay bin ka'ab menjawab "Aku membaca alhamdulillahirabbil 'aalamaiin sampai akhirnya (sampai selesai)." Kemudian Rasululah bersabda,"Itulah surat tersebut, (surat) itu adalah sab'ul matsani (tujuh yang diulang-ulang), dan al-Quranul 'azhim yang telah diberikan kepadaku.

Sebagai Surat yang Paling Agung dan Mulia dalam al-Quran


Dari Abu Sa'id bin al-Mualla ia berkata aku melaksanakan shalat, lalu aku dipanggil oleh Rasulullah dan aku tidak memnuhi panggilan beliau karena aku sedang shalat, hingga aku selesai shalat barulah aku mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah bersabda,"Apa yang mencegahmu untuk mendatangiku saat aku memanggilmu?" Maka aku (Abu Sa'id) menjawab,"Wahai Rasulullah saat itu aku sedang shalat." Lalu Rasulullah menjawab,"Bukankan Allah berfirman:Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang meberi kehidupan kepadamu (Al-Anfal:24)" kemudian beliau pun bersabda,"Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Quran ini sebelum engkau keluar dari masjid." Kemudian beliau memegang tanganku dan beranjak untuk keluar dari masjid. Ketika beliau akan keluar masjid, aku berkata,"Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan akan mengajarkan surat yang paling agung dalam al-Quran?" Beliau menjawab,"Benar, yaitu alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, dia ini adalah sab'ul matsani (tujuh yang diulang-ulang) dan al-quran yang agung yang diberikan kepadaku.

Surat al-Fatihah Dapat Digunakan Sebagai Ruqyah


Abu sa'id al-khudri berkata ketika kami dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat lalu datanglah seorang jariyah (budak wanita), dia berkata,"Sesungguhnya kepala kampung disini salim (tersengat hewan berbisa), sedangkan orang-orang dikampung ini sedang tidak ada. apakah diantara kalian ada yang dapat meruqyah?" Lalu dikatakan kepadanya tidak ada seorang pun diantara kami yang dapat meruqyah. Lalu abu said mencoba meruqyahnya dengan membaca surat al-Fatihah lalu sembuhlah kepala kampung tersebut. Kemudian kepala kampung itu memerintahkan untuk memberikan 30 ekor kambing kepada para sahabat, juga memberikan susu kepada mereka. Maka para sahabat pun berkata,"Janganlah ada yang menyentuhnya hingga kita tanyakan kepada Rasulullah. lalu kami pun pulang." Setibanya kami di Madinah, kami menceritakan kisah ini kepada Rasulullah. Kemudian beliau berkata,"Apa yang membuatmu mengetahui bahwa itu adalah ruqyah?" kemudian beliau berkata lagi,"Bagikanlah hadiah itu dan berikanlah sebagian untukku."

Hadits ini menunjukkan bahwa hasil dari praktek ruqyah adalah dibenarkan menurut syariat islam, artinya apabila seseorang sakit lalu ada yang meruqyahnya hingga si sakit itu sembuh, maka hadiah dari si sakit kepada orang yang meruqyahnya tadi adalah halal. Hadits tersebut juga menunjukkan tentang bolehnya melakukan ruqyah yang sesuai dengan syariat islam.

Allah Selalu Menjawab Do’a HambaNya Ketika Membaca Surat Al-Fatihah


Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: "Aku telah membagi shalat (maksudnya adalah surat al-fatihah) antara aku dengan hambaku menjadi dua bagian, dan bagi hambaku apa yang dia minta. Apabila hambaku membaca alhamdulillahi rabbil 'aalaamin, maka Allah berfirman,"Hamba-Ku telah memujiku." Apabila ia membaca arrahmaanir rahiim, maka Allah berfirman"Hamba-Ku telah menyanjung-Ku." Dan apabila hamba-Ku membaca maalikiyaumiddin maka Allah taala berfirman,"Hamba-Ku telah memuliakanku" (dalam riwayat lain "hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku") Apabila hamba-Ku membaca iyyakana'budu wa iyyaka nasta'in maka Allah berfirman,"Ini antara aku dengan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." Dan apabila hambaku membaca ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathalladzina an'amta 'alaihim, ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhalliin, maka Allah berfirman,"Inilah bagi hamba-Ku dan baginya apa yang dia minta.

Surat Al-Fatihah adalah Cahaya


Dari Abdullah bin Abbas ia berkata: ketika Jibril duduk disamping Nabi, tiba-tiba ia mendengar suara keras di atasnya. Kemudian Jibril memandang ke atas dan berkata,"Ini adalah sebuah pintu dilangit yang belum pernah dibuka sebelumnya." Lalu dari pintu tersebut turunlah malaikat. Jibril berkata,"Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan ia belum pernah turun sebelumnya." Kemudian malaikat itu mengucapkan salam kepada Nabi dan berkata,"Hendaklah engkau bergembira dengan diberikannya kepadamu dua cahaya yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebeluimmu yaitu faatihatul kitaaab dan khawaatimu suuratil baarah (penutup surat al-Baqarah), tidaklah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberikan kepadamu."

Demikianlah postingan kali ini tentang keutamaan surat Al-Fatihah, semoga dapat memberikan manfaat dalam menjalankan syariat Islam.

Ternyata Ini Keutamaan Surat Al-Fatihah

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud
Shalat Tahajud merupakan salah satu shalat di malam hari yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah kepada umatnya, karena beribadah di shalat malam selain mendapatkan banyak manfaat juga dapat menjadikan seorang hamba lebih bertaqwa kepada Allah. Lalu apa sebenarnya shalat tahajud itu? Dan bagaimana tata cara pelaksanaannya sesuai ketentuan Islam? Berikut ini Ulasannya.

Mengenai pengertian tahajud, ada yang mengatakan: “Hajadar rajul”, jika dia tidur pada malam hari. “wa hajada” jika dia shalat pada malam hari. Sedangkan al-mutahajjid adalah orang yang bangun tidur untuk mengerjakan shalat. Dengan demikian, maka Shalat sunat tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat isya dan Shalat shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rakaat shalat tahajud minimal dua rakaat hingga tidak terbatas.

Hukum Shalat Tahajud


Hukum shalat tahajud adalah sunnnah mu’akkadah. Hal ini ditetapkan melalui al-Qur’an, dan as-Sunnah, maupun ijma’ ulama. Allah berfirman dalam rangka menyifati hamba-hamba rabb yang maha pengasih:

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا

Terjemahannya: Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Q.S. Al-furqan: 64)

Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan orang-orang yang beriman  dengan sempurna:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٧ 

Terjemahannya: (16) Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. (17) Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (Q.S. As-Sajdah: 16-17)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda tentang keutamaan shalat tahajud yang artinya; “sebaik-baik puasa setelah ramadhan adalah bulan Allah, Muharram,dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam”(HR.Muslim).

Semua kaum muslimin juga telah ber ijma’ bahwa hukum shalat tahajud adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang di tekankan.

Waktu Melaksanakah Shalat Tahajud


Waktu paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud adalah pada sepertiga malam terakhir. sebab Allah turun ke langit dunia pada waktu tersebut. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu hurairah dalam kitab shahihn bukhari dan muslim.

Disebutkan dalam shahih muslim dari jalur Hafshah dan Abu mu’awiyah, dari a’masy, dari Abu sufyan, dari jabir, dia berkata Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang khawatir tidak dapat melaksanakan shalat lail pada akhir malam maka hendaklah ia berwitir pada awalnya.dan barang siapa yang merasa yakin dapat melaksanakannya baginya shalat witir pada akhir malam.karena sesungguhnya shalat pada akhir malam disaksikan”(HR. Muslim)

Sedang Abu mu’awiyah mengatakan: “dihadiri”

Maka barang siapa lebih suka mengerjakan shalat malam pada awal maupun pertengahan malam, hal tersebut tidaklah terlarang karena hal itu adalah kebaikan. Tetapi paling utama jika dilaksanakan pada akhir malam. Sesuai amalan Rasullah Shallallahu alaihi wasallam secara kontinyu. Disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya:

“Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir yang berakhir pada waktu sahur”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya;

"Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir pada awal malam, pada pertengahan malam dan pada akhir malam dan witirnya selesai pada waktu sahur”(HR. Muslim)

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan shalat malam dan shalat witir adalah sesudah isya’. sekalipun shalat isya’ dijamak taqdim dengah shalat maghrib ataupun dijamak ta’khir pada pertengahan malam. adapun shalat malam dan shalat witir sebelum isya’, itu tidak sah menurut pendapat yang rajih.

Mengenai pembagian sepertiga malam dimulai setelah shalat Isya atau sekitar pukul 19:00 sampai pukul 22:00, sepertiga malam yang kedua mulai dari pukul 22:00 sampai dengan 01:00 dan sepertiga malam yang terakhir muali dari pukul 01:00 sampai dengan waktu subuh.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah tidak melaksanakan shalat tahajud pada malam hari dikarenakan beliau salallahu ‘alaihiwasallam ketiduran dan beliau shalallahu ‘alaihiwasallam melaksanankannya di siang hari sebagaimana hadits yang artinya:

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah ketiduran atau kurang sehat untuk melaksanankan shalat lail. Maka beliau shalat pada siang hari dengan duabelas rakaat”(HR. Muslim)

Tetapi, melaksanakan shalat tahajud pada siang hari karena tertinggal dimalam harinya hanya di khususkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam saja dikarenakan shalat malam hukumnya wajib bagi beliau shallahu ‘alaihiwasallam dan sunnah muakkadah bagi umatnya.

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadhan atau di bulan lainnya sebagaimana disebutkan dalam shahih bukhari,muslim maupun kitab hadits lainnya.

Dari jalur Malik dari Said bin Abu said al-maqbari, dari Abu salamah bin Abdurrahman: sesungguhnya dia (Abu Salamah) memberitahukan kepada Abu Said,ia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam mengerjakan shalat lail? Aisyah menjawab:

"Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat. Baik di bulan ramadhan ataupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat jangan tanyakan bagus serta panjangnya shalat beliau,kemudian beliau shalat tiga rakaat”.(HR. Bukhari dan muslim)

Sebagian ulama berpendapat bolehnya menambah shalat lail lebih dari sebelas rakaat. barang siapa yang mengerjakan shalat lail dua puluh rakaat atau duapuluh tiga rakaat atau lebih dari itu sah saja. niscaya dia tetap mendapat pahala. Al-imam Ibnu Abdil Barr menyebutkan adanya ijma’ ulama dalam masalah ini. Beliau berkata:

"Ulama telah sepakat tentang tidak adanya batasan dalam jumlah rakaat ataupun lama dalam pelaksanaan shalat lail.ia termasuk ibadah nafilah, barang siapa yang ingin memperlama pelaksanaanya dengan jumlah rakaat yang sedikit ataupun memperbanyak rukuk dan sujud di dalamnya,maka hal itu tergantung padanya.”

Tetapi memilih pendapat yang rajih dan mengerjakan yang lebih utama merupakan tuntutan syar’i. sebagaimana telah terang tuntunan Rasulullahshalallahu ‘alaihiwasallam secara kontinyu hingga akhir hayat beliau.lalu diikuti oleh para sahabat yaitu mengerjakan shalat lail sebelas rakaat di bulan Ramadhan ataupun di bulan lainnya.

Dan tidaklah benar jika terdapat salah seorang sahabat yang membedakan jumlah rakaat shalat lail pada awal dan akhir bulan ramadhan seperti kebiasaan sebagian masyarakat sekarang. Para sahabat mengerjakan shalat lail dengan sebelas rakaat sepanjang hidup mereka.Bahkan di penghujung bulan ramadhan mereka semakin giat meningkatkan kualitas shalatnya bukan kuantitasnya.

Cara Shalat Tahajud


Pada dasarnya, gerakan atau tata cara sholat tahajud pun tidak berbeda dengan sholat-sholat sunnah yang lain.

Niat shalat tahajud dapat dilakukan di dalam hati atau juga dapat dilafalkan. Niat shalat tahajud adalah “Ushallii sunnatat-tahajudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa”. Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah”

Melakukan sholat sunnah tahajud, kemudian melakukan gerakan sholat seperti biasa mulai dari takbir hingga salam. Biasanya selalu dilakukan dengan 2 rakaat (setiap 2 rakaat salam). Pada rakaat pertama setelah takbir membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjjutkan dengan surah lainnya. Pada rokaat kedua pun sama, membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah lainnya.

Adapun surat yang disunnahkan dibaca dalam shalat Tahajud setelah membaca surat al-fatihah adalah adalah; 1) Pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah, membaca Surat Al-Baqarah ayat 284-286. 2) Pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah, membaca surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Numun juka belum hafal surat-surat tersebut, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.

Setelah selesai mengerjakan shalat Tahajud, perbanyaklah membaca istigfar dan dzikir kepada Allah SWT serta memohon kepada-Nya, kemudian membaca doa sesuai keinginan kita.

Doa Setelah Shalat Tahajud

Apabila Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat Tahajud, lalu berdoa seperti berikut:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembahkecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.

Kiat Mudah Shalat Malam/Qiyamullail


Agar kita diberi kemudahan bangun malam untuk melakukan shalat malam, cobalah tips-tips berikut ini:

1. Aturlah aktivitas di siang hari agar malamnya Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.

2. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.

3. Hindari maksiat, sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, "Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan."

4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya.

5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

6. Baik juga jika janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone.

7. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program tahajud bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.

8. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.

Demikianlah postingan kali ini tentang Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud, semoga bermanfaat.

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud

Hukum Islam Tentang Arisan
Hidup dengan berpegang pada aturan islam merupakan hal yang membahagiakan. Sebab seorang muslim yang hidup dengan berpegang pada aturan agamnya tidak akan bingung atau resah ketika melakukan suatu apapun. Hal sederhana yang kebanyakan terjadi adalah dengan adanya arisan. Sebenarnya bagaimana hukum islam arisan? Boleh atau justru dilarang? Padahal arisan sudah sangat umum terjadi di masyarakat luas.

Hukum islam arisan akan membantu setiap muslim mengenali apa yang sebenarnya diatur dalam arisan. Diperbolehkan atau tidaknya yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat Islam. Hukum islam arisan mendapat beberapa pendapat dari para ulama. Untuk lebih lengkapanya, berikut ini merupakan hukum islam arisan yang bisa anda ikuti.

Bagaimana Hukum Islam Arisan ?

Arisan merupakan suatu aktivitas dimana anggotanya akan menyetorkan sejumlah uang yang sudah disepakati dalam kurun waktu tertentu. Sistemnya ada yang secara acak ada juga yang sudah mendapatkan nomor urut sehingga ia bisa tahu kapan ia mendapatkan uangnya. Hukum islam arisan memanglah sempat menjadi perbincangan yang serius.

Secara umum memang belum pernah disinggung secara langsung. Maka dari hukum islam arisan dikembalikan pada hukum asal muamalah yaitu dibolehkan. Dimana para ulama pernah menyebutkan bahwa hal ini tidak boleh diharamkan muamalah yang dibutuhkan oleh manusia sekarang. Kecuali jika ada dalil dari al-qur’an dan sunnah yang mengharamkannya.

Hukum islam arisan juga disebutkan adanya Qs Al Maidah ayat 2 yang berarti bahwa adanya perintah untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Dari ayat ini dikatakan bahwa saling tolong menolong adalah hal yang baik untuk kehidupan sesama manusia.

Sementara arisan memilikki tujuan yakni tolong menolong orang yang membutuhkan. Caranya dengan membayar iuran secara rutin dan bergiliran untuk bisa mendapatkannya. Dengan sistem yang baik seperti ini, hukum islam arisan memperbolehkannya. Tetapi setiap muslim hendaknya teliti dengan sistem arisan yang akan ia ikuti karena tidak sedikit juga yang menyelenggarakan arisan tetapi mengandung riba, penipuan dan lain sebagainya yang dilarang.

Hukum islam arisan juga mengingatkan para muslim agar terhindar dari adanya praktek penipuan yang berkedok arisan. Tentu tidak asing berita atau kejadian yang menyebutkan adanya pihak pembuat arisan yang membawa kabur uang dari para anggotanya. Bahkan tidak sedikit jumlah yang dibawa seperti misalnya mencapai puluhan juta. Padahal cara ini tentu merupakan suatu kejahatan yang jelas dilarang dalam islam.

Sebagai anggota yang ikut dalam arisan, seorang muslim wajib mengetahui kemampuan dirinya dalam membayar iuran. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan dari pihak manapun. Dengan begitu, keteraturan membayar arisan akan saling membantu antar anggota. Selain itu, bentuk arisan juga merupakan uang yang ditabung. Dengan begitu, para anggota bisa menyisihkan sebagaian uangnya membayar arisan dan akan mendapatkannya kembali dnegan jumlah yang telah disepakati dan nomor urut yang ia dapatkan.

Hukum islam arisan mengatur jelas bagaimana praktek dan berjalannya arisan. Selama dalam koridor islam dan tidak merugikan pihak manapun, arisan merupakan muamalah yang bisa membantu kehidupan manusia agar berjalan dengan baik. Tidak sedikit yang terbantu dengan mengikuti arisan. Terutama bagi para muslim yang kesulitan untuk menabung untuk membeli sesuatu.

Arisan tentulah bisa membantu setiap anggotanya dalam mengatur keuangan. Dengan arisan, mereka bisa saling memberi dukungan antar anggota. Hukum islam arisan ini yang juga mengatur bagaimana transaksi atau aktivitas tersebut diperbolehkan dalam islam.

Hukum Islam Tentang Arisan