Coretanzone: Agama

    Social Items

Makna dan Isi Kandungan Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 12 Tentang Berprasangka Baik (Husnudzon)
Al-Quran merupakan firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai kitab terakhir yang membawa risalah sebagai penyempurna syariat-syariat Allah yang diturunkan sebelumnya. Al-Quran mengandung pelajaran yang melingkupi seluruh jagad raya, termasuk di dalamnya pendidikan akhlak atau yang sekarang ini dikenal dengan pendidikan karakter. Salah satu karakter baik yang diajarkan al-Quran adalah agar manusia tidak berprasangka buruk, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat Al-Hujurat ayat 12 sebagai bberikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Husnudzon merupakan kata yang berasal dari Bahasa arab dan terdiri dari dua suku kata yaitu husnul yang artinya baik dan zan yang artinya prasangka atau dugaan, sehingga secara sederhana husnudzon artinya prasangka atau dugaan yang baik. Prasangka baik merupakan salah satu perilaku yang menunjukkan pada cara berpikir positif atau pandangan mulia terhadap sesuatu yang ada di hadapannya. Di sini mengandung makna bahwa, berprasangka baik itu meliputi segala sesuatu yang baik maupun yang buruk menimpa dirinya. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa husnudzon ini bagian dari akhlakul karimah (perilaku terpuji) atau karakter baik. Lawan dari sikap baik ini yaitu su’uzab yang artinya berburuk sangka yang merupakan perbuatan tercela atau akhlak mazmumah yang tidak boleh dilakukan oleh setiap manusia.

Macam-Macam Husnudzon (Berprasangka Baik)

Sebagai umat Islam, Allah swt. memerintahkan untuk berprasangka baik sebagaiman ayat al-Quran di atas dan melarang segala prasangka buruk. Kita diperintahkan untuk berpasangka baik kepada Allah swt, kepada orang lain atau sesama manusia, dan kepada diri kita sendiri. Berikut adalah penjelasana macam-macam husnudzon:

1. Husnuzdon (berprasangka baik) Kepada Allah swt.


Allah swt. memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, serta mencintai hamba-hambaNya yang saleh, serta tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu hadis qudsi yaitu: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda dari Allah swt, “Saya berada pada persangkaan hambaKu, maka berprasangkalah dengan-Ku sekehendaknya.” (HR. Ahmad).

Husnudzon kepada Allah yaitu manusia memiliki kewajiban untuk berprasangka baik terhadap segala keputusan atau takdir Allah yang telah ditetapkan kepadanya. Allah swt. memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terbatas sehinnga mengetahui segala sesuatu tentang manusia termasuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk bagi manusia. Allah merupakan tuhan segala alam semesta (rabbul ‘alamin) yaitu pengatur segala yang ada di alam semesta ini dari yang terkecil hingga yang paling besar, dari yang zahir hingga ke yang bathin. Segala yang telah Allah tetapkan dan yang telah diatur tidak akan sia-sia, semuanya untuk kepentingan makhluk ciptaanNya termasuk untuk kepentingan manusia. Olehnya itu terkadang pandangan mata ini bisa tertipu, sehingga apa yang terlihat baik belum tentu baik bagi kita dan apa yang terlihat jelek belum tentu buruk bagi kita. Seperti obat yang rasanya pahit namun sangat bermanfaat untuk kesembuhan dari penyakit.

Diantara sikap yang dapat kita tunjukkan dalam berprasangka baik atau husnudzon kepada Allah, yaitu dengan sikap sabar dan syukur. Sabar adalah sikap menahan diri atau menahan emosi. Sedangkan menurut islam sendiri sabar adalah tahan uji dalam menghadapi suka dan duka hidup dengan rida dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah. Cara bersabar diantaranya adalah dengan berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah serta menjauhi larangan Allah. Syukur adalah rasa terima kasih terhadap suatu nikmat atau karunia Allah dengan ucapan, sikap dan perbuatan. Adapun cara bersyukur kepada Allah antara lain denganmenggunakan segala nikmat dan karunia Allah untuk hal – hal yang di ridai Allah.

2. Husnudzon Kepada Orang Lain.


Husnudzon kepada orang lain mengandung makna bahwa kita harus berprasangka baik kepada orang semua yang dilakukan oleh orang lain. Berprasangka baik kepada perbuatan orang lain artinya bahwa menganggap baik semua perbuatan yang terlihat jaha, apalagi perbuatan baik  tentu baik pula, kecuali apa yang dilakukan oleh orang lain itu keluar atau melanggar dari ketentuan syariat islam.

Orang beriman dilarang untuk berprasangka buruk kepada orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain dan larangan menggunjing orang lain. Sungguh, perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa, bahkan Allah Swt mengibaratkan orang yang menggunjing seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati. Bukankah hal ini sangat menjijikkan. Sebagai muslim kita harus hidup berdampingan dengan sesama muslim yang lain serta menghormati hak dan kewajibannya. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana orang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya” (HR. at-Tirmizi).

3. Husnudzon Kepada Diri Sendiri.


Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri akan memiliki sikap percaya diri, optimis dan bekerja keras. Sebaliknya, jika seseorang berburuk sangka kepada diri sendiri maka ia akan merasa pesimis, tidak percaya diri, dan malas berusaha. Allah Swt melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya sebagaimana QS. Yusuf  ayat 87 berikut ini.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Husnudzon terhadap diri sendiri berarti bahwa segala yang melekat pada diri kita, baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai merupakan pemberian yang terbaik dari Allah kepada kita. Husnudzon ini dapat memotivasi seseorang untuk memperdayagunakan pemberian dari Allah pada jalan yang telah Allah ridai. Adapun bentuk – bentuk husnudzon pada diri sendiri antara lain adalah berinisiatif, gigih dan rela berkorban. 

(a) Berinisiatif yaitu memberdayakan daya pikir untuk merencanakan ide menjadi konsentrasi yang dapat berdaya guna dan bermnafaat. (b) Gigih adalah usaha sekuat tenaga dan tidak berputus asa untuk melaksanakan kebaikan walaupun harus mengahdapi tantangan yang berat. (c) Rela berkorban adalah bersedia dengan ikhlas, senang hati dan tidak mengharapkan imbalan bahkan rela memberikan apa yang dimilikinya, baik itu tenaga, harta maupun buah pikirannya semata demi keperluan orang lain atau masyarakat.

Makna dan Isi Kandungan Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 12 Tentang Berprasangka Baik (Husnudzon)

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat
Bagaimana cara anda menentukan pasangan hidup anda ke depan? Bagaimana cara anda merencanakan berhubungan atau kencan dengan seseorang? Dua pertanyaan ini paling mendasar mengingat saat ini di dalam masayarakat sudah terjadi pergaulan bebas yang tidak hanya terjadi pada kalangan muda-mudi tetapi kalangan tua juga terjadi hal yang sama.

Di dunia barat berpacaran umumnya berarti suatu periode yang panjang untuk mengenal seseorang melalui pertemuan yang sering, melihat ke mana tujuannya, mungkin hidup bersama dan, jika kedua belah pihak berpikiran sama, maka mungkin saja mereka menikah suatu saat nanti. Namun, bagi seorang Muslim yang belum menikah, untuk mencari pasangan bukan dengan cara yang demikian!

Islam tidak mengenal pacaran dengan model di atas, yang diajarkan ajaran agama Islam ialah berpacaran dalam menentukan pasangan berarti mengenal pasangan (taaruf) dengan jalan yang hikmah, yaitu menentukan batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilewati. Islam tidak mengajarkan untuk tinggal bersama pasangan sebelum menikah, Islam tidak mengajarkan untuk kencan berdua tanpa ada muhrim, hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori yang artinya "janganlah seorang lelaki berduaan (berkencan) dengan seorang wanita kecuali ada muhrimnya"

Islam tidak mengajarkan untuk seseorang melihat aurat pasangan taaruf/pacarnya (kecuali wajah dan tangan untuk wanita) sebelum menikah, ada beberapa pendapat mengatakan yang tidak boleh dilihat (aurat) bisa dilakukan oleh perantara yang terpercaya (misalnya: keluarga, sahabat, dan teman karib) yang dibolehkan (muhrim) dan juga sesama jenis, sehingga bisa mengetahui apakah calon pasangan mengalami cacat di bagian tubuh tertentu atau tidak. Hal ini boleh dilakukan mengingat menikah bukan tentang hidup satu atau dua hari tetapi menikah adalah pertemuan dua orang yang nantinya hidup sepanjang hayat, sehingga untuk menghindari perceraian perlu dilakukan hal-hal yang sifatnya intim tetapi dengan cara-cara yang Islami.

Saling Kenal Menganal


Sebagaimana kita ketahui bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki yang kita kenal dengan nama Adam dan seorang perempuan yang bernama Hawa. Dari kedua manusia pertama inilah kemudian lahir milyaran manusia yang ada di muka bumi, yang berbeda-beda. Allah tidak menciptakan satu manusia sama dengan manusia lainnya sekalipun itu kembar identik, yang lahir dari rahim yang satu. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbedaan sidik jari setiap orang yang berbeda-beda.

Kemudian dalam perkembangannya, manusia mengalami pemisahan-pemisahan, tinggal berpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain, melahirkan ras-ras yang berbeda, membentuk bangsanya masing-masing, kemudian membentuk sukunya dengan budayanya masing-masing dan kemudian membentuk kerajaan atau negara yang berbeda-beda. Hal ini memang sudah menjadi rencana Allah dengan tujuan agar manusia saling kenal mengenal, sebagaimana firmannya di dalam Al-Quran surat Al-Hujrat ayat 13, yang artinya "wahai manusia, sesungguhnya telah kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenal."

Ayat ini membuktikan bahwa, saling kenal mengenal itu sudah meruntuhkan batas-batas negara, warna kulit, dan kebudayaan. Dunia saat ini sudah dapat diakses hanya dengan sebuah perangkat gandget kecil di tangan, kita sudah bisa berkenalan dengan orang yang berada di luar daerah atau bahkan di luar negeri sekalipun. Berkenalan juga bisa diartikan sebagai hubungan diplomasi antar negara, hubungan pesahabatan antar negara, hubungan perdagangan antar negara, dan hubungan cinta dengan yang berbeda warga negara.

 Allah telah menjadikan manusia berbeda-beda dengan tujuan mulia, karena dengan perbedaan tadi dunia akan terlihat indah, coba bayangkan kalau di dunia ini hanya ada satu jenis manusia saja, atau satu budaya manusia saja, apakah tidak membosankan itu?

Budaya Pacaran dalam Arti Taaruf


Sejak awal penciptaan manusia (Adam dan Hawa) keduanya telah dibekali dengan rasa cinta, yang kemudian diturunkan kepada keturuanan selanjutnya yaitu kita saat ini. Sehingga rasa saling suka, rasa saling ingin memiliki, dan rasa ingin hidup bersama dengan berlainan jenis sudah menjadi fitrah manusia. Namun hal ini perlu dilatar belakangi dengan niat yang baik serta cara yang baik pula. Yaitu cara-cara yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Ada orang bilang; "dunia sudah modern tapi masih mempertahankan budaya Islam yang klasik, kuno namanya itu." Kalau kita melihat kenyataan yang terjadi dengan pernyataan ini maka lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab. Apa hasil dari pacaran ala barat yang katanya modern? Hilanya kehormatan, dan yang lebih parah lagi berapa banyak bayi-bayi yang tidak berdosa dibuang akibat perbuatan zina. Atau berapa banyak wanita muda yang melakukan aborsii? Mari kita jawab sendiri menggunakan rasio yang Allah telah berikan tentang faedah ajaran Islam yang katanya kuno itu.

Lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab

Lalu bagaimana berpacara sebenarnya?

Banyak kalangan Islam melarang untuk berpacaran, padalah kalau kita kembalikan kepada akar sejarah, pacaran tidak terjadi seperti yang ada dalam budaya masyarakat saat ini. Pacaran merupakan budaya melayu. Kata pacaran berasal dari nama daun inai atau daun pacar yang digunakan untuk merias tangan seorang wanita. Dalam budaya masyarakat melayu, jika ada seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan, maka laki-laki itu akan mengirimkan beberapa 'utusan' untuk berpantun di depan rumah wanita tersebut. Jika wanita itu dan keluarganya merespon dan menerima, maka kedua keluarga akan berkumpul dan membicarakan tentang ikatan yang akan terjadi kemudian ditandai dengan pemakaian inai (pacar air) di tangan kedua muda mudi ini. Inai ini fungsinya untuk menandai adanya hubungan keduanya.

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Setelah acara itu sang perempuan di kurung di dalam rumah oleh orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan tentang rumah tangga selam empat puluh hari atau lebih, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, atau yang biasanya ditandai dengan hilangnya inai di tangan perempuan. Dalam waktu yang telah ditentukan (biasanya hingga 3 bulan) sang lelaki tidak datang melamar maka, perempuan boleh memutuskan hubungan, namun jika sang lelaki datang melamar pujaan hatinya maka akan terjadi perjanjian suci berupa pernikahan. Dalam waktu menunggu tersebut kalian jangan kira mereka berpacaran seperti yang terjadi saat ini, mereka sangat terjaga hubungannya hingga pernikahan dilangsungkan.

Nah sekarang sudah jelaskan bahwa pacaran itu adalah menandai pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta dengan pacar air. Dalam hal ini jika kita tinjau dari segi Islam maka sudah terjadi proses taaruf di sini. Sehingga pacaran yang baik adalah yang dilakukan dengan adab dan etika sesuai dengan budaya masyarakat dan tuntunan ajaran agama, yaitu datang ke rumah kemudian saling kenal mengenal dan jika cocok, maka menikahlah setelah itu barulah memasuk babak pacaran yang lebih intim setelah menikah.

Hukum Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib
Siapa umat Islam yang tidak mengenal sosok sahabat Rasulullah yang satu ini, Ali bin Abi Thalib yang menjadi sepupu, sahabat dan menantu Rasulullah saw. Untuk itu mari mengenal sosok khalifah Ali bin Abi Thalib.

Biografi Ali bin Abi Thalib 


1. Nasab Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib mempunyai nama lengkap adalah, Ali bin Abi Thalib bin Abdi Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. beliau lahir didalam ka’bah, 23 tahun sebelum Hijriyah. Ali mempunyai nama kecil Haidarah, selanjutnya Rasulullah memberikan nama Turab untuk Ali.

Bapak Ali bin Abi Thalib bernama Abu Thalib atau nama sebetulnya Abdi Manaf yaitu paman dari Rasulullah saw. Hal tersebut memberikan pemahaman jika Ali merupakan sepupu dari Rasulullah SAW karena Ia anak dari paman Rasulallah saw.

Ibunda Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad Hasyim bin Abdi Mana bin Qushay. Ibunya digelari menjadi wanita pertama yang melahirkan seseorang putera Bani Hasyim. Hal ini, berarti Ali bin Abi Thalib merupakan keturunan dari Bani Hasyim, serta Ibunya jadi wanita pertama yang melahirkan seorang khalifah.

Ali merupakan anak bungsu, Ia mempunyai 3 (tiga) saudara laki laki serta 2 (dua saudara wanita, yakni Ja’far, Aqil, Thalib yang masing-masing umurnya berjarak 10 (sepuluh) tahun dengan Ali, lalu Ummu Hani’ serta Jumanah.

Saat musim paceklik melanda golongan Quraisy, Abu Thalib yang mempunyai banyak anak, mengundang empati Rasulullah saw. hingga ingin membantu bebannya. Rasul bersama dengan ke-2 pamannya Hamzah serta Abbas mendatangi Abi Thalib, serta mengemukakan kehendak ingin menjaga anaknya itu. Lantas Abi Thalib menyampaikan “Tinggalkanlah Aqil bagiku, serta bawa siapa saja yang kamu kehendaki”. Hamzah membawa Ja’far, Abbas membawa Thalib, dan Rasulullah menentukan untuk menjaga Ali. Dalam hal seperti ini menunjukkan jika Abi Thalib menyayangi Aqil lebih dari yang lain. Serta sejak itu Ali tinggal bersama dengan Rasulullah serta memperoleh kasih sayang seperti dari bapak kandungnya sendiri.

Semenjak Ali tinggal didalam rumah Rasulullah, ia mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah, yang melatih sifat-sifat terpuji. Ali di waktu kecilnya mengalami perubahan yang hebat, telah tampak jika dia seseorang anak yang kritis serta brilian. Perubahannya itu di tandai dengan ketidaksamaan dengan rekan-rekan sepantarannya yang tampak jelas. Rasul yang mengajarkan supaya Ali mempunyai hati yang lembut, serta sadar akan kebenaran.

2. Beberapa ciri Fisik Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib merupakan seorang yang berkulit sawo matang, badannya tegap agak pendek. Mempunyai jenggot panjang, mata yang besar berwarna hitam kemerah-merahan. Beliau mempunyai bulu dada serta pundak yang lebat, muka yang tampan, dan ringan langkah ketika berjalan.

3. Ali bin Abi Thalib Masuk Islam 

Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, Ia dilahirkan di tempat yang suci yakni ka’bah. Tidak sempat sekalinya Ali menyembah berhala. Akan tetapi Ali masuk agama Islam dengan resmi yaitu pada umur 7 tahun, 8 tahun dan ada juga yang menyebutkan sepuluh tahun. Dalam refensi lainnya, saat Rasulullah menerima wahyu pertama melalui perantara malaikat Jibril, Ali bin Abi Thalib saat itu berusia 9 tahun, atau ada juga yang menyebutkan berusia 13 tahun. Akan tetapi yang tentu Ali masuk Islam saat Ia berusia begitu muda.

Agama Islam diterimanya dengan sepenuh hati, tidak bercampur dengan dampak kepercayaan lama serta tidak bercampur dengan suatu yang mengeruhkan kejernihannya. Oleh karenanya, begitu nyata jika Ali merupakan seorang Muslim yang murni.

4. Istri dan Anak Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri Rasulullah saw. yakni Fatimah binti Nabi Muhammad saw. Mereka menikah sesudah perang badar. Dalam kata lain, posisi Ali telah makin bertambah, pertama menjadi sepupu sekaligus teman dekat Rasulullah saw, lalu dipererat menjadi menantu Rasulullah saw.

Ali begitu setia serta menyukai Fatimah, mereka dikaruniai 3 (tiga) putra, yakni Hasan, Husain, serta Muhasin tapi Muhasin wafat saat bayi. Serta mempunyai 2 (dua) putri yang bernama Zainab al-Kubra, serta Ummu Kultsum al-Kubra.

Enam bulan sesudah Rasulullah SAW meninggal dunia, Fatimah binti Rasulullah juga wafat di umur yang tidak kenap 30 (tiga puluh) tahun. Lantas setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah dengan beberapa wanita.

Ummu Banin binti Hazam, dari pernikahan ini dikaruniai 4 (empat) anak yakni, Abbas, ja’far, Abdullah, serta Usman. Akan tetapi mereka semua terbunuh dalam perang karbala, terkecuali Abbas. Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik dikeruniai 2 (dua) anak yakni Ubaidullah serta Abu Bakar yang terbunuh di perang karbala. Kemudian Istri Ali yang lain bernama Atsma` binti `Umais, Ummu Habib binti Robi`ah, Ummu Said binti Urwah, Binti Umru`ul Qais, Umamah binti Abil Ash, Khaulah binti Ja’far bin Qais.

Ali bin Abi Thalib tertulis menikah dengan 8 (delapan) wanita sesudah wafatnya Fatimah binti Rasulullah akan tetapi ada sumber lainnya yang menyampaikan ada 9 (sembilan). Dari pernikahan itu Ali mempunyai banyak keturunan, hingga ada banyak putra putri beliau yang tidak didapati nama ibu kandungnya yakni, Ummu Hani`, Maimunah, Zainab as-Shughra, Ramlah as-Shughra, Ummu Kaltsum as-Shughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah serta Nafisah.

Diantara beberapa orang istri Ali bin Abi Thalib, ada yang meninggal dunia saat beliau masihlah hidup, ada juga yang diceraikan serta saat Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, Ia tinggalkan 4 (empat) orang istri serta 19 (sembilan belas) Ummu Walad (budak wanita). Jumlah keseluruhnya putera-puteri Ali yakni, 14 (empat belas) putera, serta 17 (tujuh belas) puteri.

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib mempunyai banyak kelebihan atau keutamaan. Di bawah ini beberapa kelebihan Ali, yang terdiri dari dua jenis, yakni kelebihan menurut kedudukan, serta kelebihan berdasar pada kepribadian, lalu dilanjutkan dengan nasihat atau beberapa kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib.

1. Kedudukan Ali bin Abi Thalib

Jika dilihat dari kedudukan, Ali bin Abi Thalib merupakan yang sangat dekat nasabnya dengan Rasulullah. Pertama, Ali merupakan sepupu mutlak dari Rasulullah saw. Ke-2, Ali merupakan teman dekat yang sudah ditanggung baginya syurga. Ke-3, Ali merupakan menantu Rasulullah saw., tiap-tiap orang ketika itu banyak yang ingin jadi semacam itu, supaya lebih dekat dengan keluarga Rasulullah saw. serta mendapatkan keturunan yang terhormat. Yang paling akhir beliau merupakan seseorang khalifah Islam, yang melanjutkan pucuk kepemimpinan dari khalifah Utsman bin Affan atas amanah dari Rasulullah saw.

2. Kepribadian Ali bin Abi Thalib

Di bawah ini merupakan beberapa kelebihan Ali bin Abi Thalib, menurut Imam al-Bukhori dalam Shahinya :

a. Menyukai Allah serta RasulNya

Ali bin Abi Thalib masuk Islam dengan hati yang teguh, serta beliau sudah ikut dengan Rasulullah menegakkan Islam. Lalu bukti yang tegas mengatakan jika Ali benar-benar menyintai Allah dan Rasul, yakni ada dalam Sabda Rasul yang diriwayatkan Sahal bin Sa’ad.

Di dialam hadits itu dikisahkan jika Rasulullah akan memberi sebuah bendera besok hari pada seorang yang begitu menyukai Allah dan RasulNya. Lantas beberapa orang menanyakan serta sekalian mengharap jika dirinyalah yang akan diberikan bendera. Pada besok harinya, pada saat orang telah menunggu Rasulullah menanyakan, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib? ”. Ali tidak berada di majelis itu karena beliau menderita sakit pada kedua matanya. Lantas Ali dibawa menghadap Rasul, serta Rasulullah meludah pada kedua mata Ali sekalian berdoa, serta saat itu juga mata Ali sehat seperti tidak sempat sakit.

Lalu Rasul menyerahkan bendera yang telah ditunggu-tunggu pada Ali bin Abi Thalib. Ini dia bukti yang akurat, jika Rasulullah sendiri yang menibatkan kalau Ali orang yang begitu mencintai Allah serta RasulNya.

b. Kelembutan Rasulullah pada Ali bin Abi Thalib

Rasulullah senantiasa lembut pada istrinya, akan tetapi Ali juga mengalami hal semacam itu, saat Rasul hadir kerumah Ali ingin menemuinya, Rasul berjumpa dengan Fatimah serta bertanya, “dimanakah putera pamanku itu? ” fatimah menjawab : “di masjid”. Rasulullah menjumpai Ali dimasjid serta saat Ali akan berdiri, lantas selendangnya terjatuh, serta tanah mengotori punggungnya. Rasulullah menghapuskan tanah di punggung Ali serta berkata, “duduklah wahai Abu Turab, duduklah wahai Abu Turab”.

c. Ali bin Abi Thalib membenci perselisihan

Diriwayatkan dari Abidah bin Amru as-Salmani, dari Ali bin Abi Thalib, Ia berkata : “putuskanlah hukum seperti kalian memutuskannya dulu. Sesungguhnya saya membenci perselisihan. Usahakanlah supaya golongan muslimin satu jama’ah, atau aku mati seperti sahabat- sahabatku mati.

Selanjutnya dari sumber yang berbeda, kelebihan Ali dapat disaksikan dari sifat-sifatnya seperti berikut.

a. Menjauhi kezhaliman

Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pemberani, akan tetapi dengan keberaniannya itu Ia mempu menghidari kezhaliman. Sekali juga Ali tak pernah memulai serangan pada seorang, bila Ia bisa menghindarinya. Serta Ali menasehatkan pada anaknya Hasan, “ janganlah kamu melawan orang berduel. Bila kamu dilawan karena itu hadapilah rintangan itu, karena orang yang melawan merupakan aniaya, orang yang aniaya akan kalah.

b. Hati yang bersih dari perasaan dengki musuh

Kecerdasan Ali disertai dengan hati yang bersih dari perasaan dengki pada orang yang memusuhinya. Ali melarang keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan mutslah pada seseorang pembunuh serta membunuh orang yang bukan pembunuh.

c. Tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan sesuatu

Ali bin Abi Thalib tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan suatu maupun menyembunyikannya, dan tidak ingin menerima sikap terlalu berlebih, walau dari orang yang memujinya. Kadang Ali memperoleh pujian yang terlalu berlebih, sedang Ali sendiri sangsi dengan maksudnya, lantas Ali menuturkan pada orang itu, “ Saya tak sempurna seperti yang engkau jelaskan serta lebih mulia dari anggapan apakah yang terdapat dalam hatimu”.

d. Pribadi yang zuhud

Di antara kelebihan Ali bin Abi Thalib ialah karakter kezuhudan yang dimilikinya.

“Manusia yang sangat zuhud pada dunia yaitu Ali bin Abi Thalib”. Sufyan berkata : “sesungguhnya Ali tidak pernah menempatkan batu bata di atas batu bata, tanah liat di atas tanah liat, sepotong kayu di atas potongan yang lain (bangun rumah) serta tidak pernah menghimpun harta”.

Dia menolak untuk mendiami istana putih di Kuffah karena memprioritaskan gubuk yang dihuni oleh fakir miskin, serta terkadang Ia menjual pedangnya untuk membeli baju serta makanan.

Walau Ali sangatlah zuhud, Akan tetapi ali jauh dari perilaku kasar, sempit dada, kurang pergaulan. Bahkan Ali merupakan orang yang begitu toleransi pada sesama.

Inilah Ali bin Abi Thalib, seorang yang pemberani dengan keberanannya, orang yang zuhud lagi lurus, tidak berlebih-lebihan, serta menghidarkan dirinya dari kezhaliman.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib wafat terbunuh saat malam jum’at waktu sahur tanggal 17 ramadhan 40 H. Beliau meninggal dunia pada umur 63 tahun. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib ini didasari oleh dendam lama di Nahrawan.

Tokoh yang membuat konspirasi untuk membunuh Ali bin Abi Thalib ialah Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi atau nama sebetulnya Abdurrahman bin Amru bersama dengan kedua temannya, wardan dan Syabib. Pembunuhan ini telah direncanakan dengan begitu masak. Syabib bertindak selaku pelaksana eksekusi, Ia di depan pintu menunggu Ali keluar rumah untuk membangunkan orang shalat. Lantas Syabib memukul leher, serta menebas kepala bagian atas Ali bin Abi Thalib, hingga mengucurlah darah pada jenggot beliau.

Ketika itu, Ali sudah sempat berteriak serta memerintah untuk tangkap beberapa pembunuh, dan mereka lantas melarikan diri. Wardan sukses di kejar serta secara langsung dibunuh, Syabib berhasil lolos dari kejaran, sedang Ibnu Muljam diamankan dengan tangan terikat. Lalu Ali bin Abi Thalib dibawa kerumah dan Ibnu Muljam. Ali menanyakan, “apa yang mendorongmu lakukan ini? ”, Ia menjawab : “aku sudah mengasah pedang ini saat empat pulu hari serta saya meminta pada Allah supaya bisa membunuh makhluk yang sangat buruk dengan pedang ini”. Ali berkata : “menurutku engkaulah yang perlu terbunuh dengan pedang itu, menurutku engkaulah makhluk yang sangat buruk! ”.

Lalu Ali bin Abi Thalib menyampaikan bahwa, bila beliau meninggal dunia karena itu bunuhlah Ibnu Muljam itu. Tapi bila beliau hidup, karena itu dialah yang lebih tau bagaimana hukuman yang patut untuk dia.

Jenazah Ali bin Abi Thalib dimandikan oleh Abdullah bin Ja’far, lalu dishalatkan oleh putera beliau Hasan, dimakamkan saat malam hari di Darul Imarah, Kuffah. Mudah-mudahan Allah me-ridhai Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib merupakan teman dekat yang istimewa untuk Rasulullah saw, karena Ali bagian dari keluarganya, yakni menjadi sepupu, dan menantu Rasulullah saw.  Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, hatinya tidak sempat tercampur dengan menyembah kapada berhala. Beliau ikut serta menyebarkan dakwan islamiyah bersama dengan Rasulullah saw, dan turut dalam beberapa peperangan. Ali bin Abi Thalib mempunyai karakter yang mulia, Ia orang yang cerdas pemikirannya, suci hatinya, zuhud, serta menghindari diri dari melakukan perbuatan zalim, dan merupakan salah satu sahabat yang pemberani.

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib

Mengenal Sosok Ummul-Mukminin Zainab binti Khuzaimah
Rasulullah saw. merupakan nabi terakhir yang diutus Allah untuk seluruh umat manusia. Pada masanyanya Rasulullah saw. memiliki 9 istri. Salah satunya Zainab binti Khuzaimah yang meninggal dunia pada 1 H atau tahun pertama kaum Muslimin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasulullah memiliki istri yang banyak bukan tanpa alasan, atau bukan karena alasan negagatif yang selalu dituduhkan oleh kalangan pembenci Islam. Rasulullah saw. memiliki istri yang banyak dan sebagian dari kalangan janda itu karena Rasulullah saw. ingin melindungi mereka dari keadaan dunia arab waktu itu yang ganas. Salah satunya adalah Zainab binti Khuzaimah.

Nasab serta Periode Pertumbuhannya


Nama lengkapnya ialah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasar pada asal-usul keturunannya, dia termasuk juga keluarga yang dihormati serta disegani. Tanggal lahirnya tidak di ketahui dengan tentu, akan tetapi ada kisah yang menyebutkan jika dia lahir sebelum tahun ke-3 belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia telah diketahui dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) seperti sudah diterangkan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad jika Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah merupakan Ummul-Masakin. Gelar itu disandangnya semenjak periode jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin juga di terangkan jika Rasulullah saw. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah, serta saat itu dia telah diketahui dengan sebutan Ummul-Masakin semenjak jaman jahiliah. Berdasar pada hal tersebut bisa diambil kesimpulan jika Zainab binti Khuzaimah populer dengan karakter kemurah-hatiannya, kedermawanannya, serta karakter santunnya pada orang-orang miskin yang dia prioritaskan ketimbang pada dianya sendiri. Karakter itu telah tertanarn dalam dirinya sejak mulai memeluk Islam meskipun ketika itu dia belumlah tahu jika orang-orang yang baik, penyantun, serta penderma akan mendapatkan pahala dari Allah.

Keislaman dan Pernikahannya 


Zainab binti Khuzaimah. termasuk juga golongan orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam ialah akal serta pikirannya yang baik, menampik syirik dan penyembahan berhala serta tetap menghindari diri dari perbuatan jahiliah.

Beberapa perawi berlainan pandangan mengenai nama-nama suami pertama serta ke-2 sebelum dia menikah dengan Rasulullah saw. Sejumlah perawi menyampaikan jika suami pertama Zainab merupakan Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang lalu menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, akan tetapi dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sejumlah perawi menyampaikan jika suami kedua-duanya ialah Abdullah bin Jahsy. Sebetulnya ada banyak perawi yang menyampaikan pandangan yang berlainan. Namun, dari beberapa pandangan itu, yang sangat kuat ialah kisah yang mengemukakan kalau suami pertamanya ialah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak bisa melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya saat mereka pindah ke Madinah. Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara lelaki Thufail) menikah dengan Zainab. Seperti kita kenali, Ubaidah bin Harits merupakan salah seseorang prajurit penunggang kuda yang sangat perkasa sesudah Hamzah bin Abdul-Muththalib serta Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga turut menantang beberapa orang Quraisy dalam Perang Badar, serta pada akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang itu.

Sesudah Ubaidah meninggal dunia, tidak ada kisah yang menuturkan mengenai kehidupannya sampai Rasulullah menikahinya. Rasulullah menikah dengan Zainab karena beliau ingin membuat perlindungan serta mengurangi beban kehidupan yang dirasakannya. Hati beliau jadi luluh menyaksikan Zainab hidup menjanda, sesaat semenjak kecil dia telah diketahui dengan kelemah- lembutannya pada orang-orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat buat alam semesta, beliau ikhlas memprioritaskan kebutuhan kaum muslimin, termasuk juga kebutuhan Zainab. Beliau selalu meminta pada Allah supaya hidup miskin serta mati dalam kondisi miskin serta disatukan di Padang Mahsyar bersama dengan orang-orang miskin.

Walau Nabi. memungkiri beberapa nama atau julukan yang diketahui pada jaman jahiliah, tapi beiau tidak memungkiri julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Menjadi Ummul-Mukminin 


Tidak di ketahui dengan tentu masuknya Zainab binti Khuzaimah ke rumah tangga Nabi., apa sebelum Perang Uhud atau setelahnya. Yang pasti, Rasulullah. menikahinya karena kasih sayang pada umatya, meskipun wajah Zainab tidak demikian cantik serta tidak seorang juga dari kalangan teman dekat yang bersedia menikahinya. Mengenai lamanya Zainab ada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah juga banyak tendapat ketidaksamaan. Satu diantaranya pendapat menyampaikan jika Zainab masuk ke rumah tangga Rasulullah saw. saat tiga bulan, serta pendapat lainnya delapan bulan. Namun, yang tentu, hasilnya begitu singkat kanena Zainab wafat sewaktu Rasulullah hidup. Didalam kitab sirah juga tidak diterangkan penyebab kematiannya. Zainab wafat pada umur relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, serta Rasulullah saw. yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Hidupnya bersama dengan Rasulullah saw, cuma singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab populer dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya pada golongan miskin. Zainab wafat, saat Rasulullah masihlah hidup. Serta Rasulullah sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama-tama dimakamkan di Baqi.

Mudah-mudahan karunia Allah selalu mengikuti Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. serta mudah-mudahan Allah memberikannya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Mengenal Sosok Ummul-Mukminin Zainab binti Khuzaimah

Pada umumnya banyak pakar memiliki pendapat jika agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Tapi ada banyak bukti yang memperlihatkan jika agama Islam masuk ke Indonesia lebih awal lagi. Contohnya, penemuan batu nisan makam Fatimah binti Maimun yang berada di Leran, Gresik yang berangka tahun 1082 M. Bahkan juga berdasar sebagian pakar yang lain, Islam telah hadir di Indonesia kurang lebih abad ke-7 M.

Perihal pendapat tentang Islam masuk sekitar abad ke-7 M didasarkan pada sumber-sumber yang datang dari Dinasti Tang. Berita itu bercerita ada orang Ta-shih yang membatalkan tujuannya untuk menyerang kerajaan Ho-Ling. Orang Ta-shih diidentifikasin sebagai orang Arab. Beberapa orang Ta-shih betempat tinggal di seputar kekuasaan Sriwijaya. Waktu itu beberapa orang Ta-shih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi dibanding melakukan Islamisasi, mengingat masih tetap kuatnya kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha di kerajaan Sriwijaya waktu itu.

Pendapat beberapa pakar yang mengatakan jika agama Islam masuk pada abad ke-13 M di dukung oleh fakta-fakta historis. Berita Marco Polo pada tahun 1292 menunjukkan kenyataan itu, saat ia hadir di Perlak ia banyak menjumpai masyarakat yang sudah beragama Islam serta banyak pedagang dari India yang senang menyiarkan agama Islam disana. Berita Ibnu Batuta yang hadir berkunjung di Samudra Pasai pada tahun 1345 serta bukti-bukti arkeologis batu nisan makam Sultan Malik As-saleh yang berangka tahun 1297 M menguatkan pandangan ini jika Islam sudah masuk di Indonesia kurang lebih abad ke-13.

Dalam pengetahuan histori, ketidaksamaan pandangan merupakan satu hal yang tidak dapat dijauhi. Kita mesti dapat menyikapinya dengan bijak serta sesuai sumber-sumber yang akurat. Dalam hal seperti ini butuh juga dibedakan dalam tiga pemahaman, yakni waktu kedatangan, proses penyebaran serta perubahan agama Islam. Abad ke-7 bisa dilihat menjadi awal masuknya Islam di Nusantara (Indonesia).

Akan tetapi pada saat itu rupanya belumlah sangat mungkin buat beberapa pedagang muslim untuk lakukan proses Islamisasi, mengingat masih tetap kuatnya dampak Hindu. Agar bisa lakukan proses Islamisasi membutuhkan seputar 5 atau 6 abad kemudian sampai terbentuknya kekuasaan yang bercorak kerajaan/kesultanan Islam, contohnya Perlak atau Samudra Pasai. Semenjak itu memungkinkan proses penyebaran serta peningkatan agama Islam diluar pusat kerajaan.

Untuk itu maka, cara atau metode dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Perdagangan 


Pada abad ke-7 M, wilayah Nusantara kedatangan beberapa pedagang Islam dari Gujarat/India, Persia, serta Bangsa Arab. Mereka telah mengambil bagian dalam beragam aktivitas perdagangan di Indonesia. Perihal ini konsekuensi logisnya memunculkan interaksi dagang pada penduduk Indonesia serta beberapa pedagang Islam. Di samping berdagang, menjadi seseorang muslim juga memiliki keharusan berdakwah karena itu beberapa pedagang Islam juga menyampaikan serta mengajari agama serta kebudayaan Islam pada orang yang lain. Lewat cara itu, banyak pedagang Indonesia memeluk agama Islam serta merekapun sebarkan agama Islam serta budaya Islam yang baru dianutnya pada orang yang lain.

2. Perkawinan 


Diantara beberapa pedagang Islam ada yang tinggal di Indonesia. Sampai saat ini di sejumlah kota di Indonesia ada kampung Pekojan. Kampung itu dulu adalah rumah beberapa pedagang Gujarat. Koja berarti pedagang Gujarat. Sebagian dari beberapa pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia. Khususnya putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itu, maka banyak keluarga raja atau bangsawan masuk Islam. Lalu dibarengi oleh rakyatnya. Dengan begitu Islam cepat berkembang.

3. Pendidikan 


Perubahan Islam yang cepat mengakibatkan muncul tokoh ulama atau mubalig yang sebarkan Islam lewat pendidikan dengan membangun pondok-pondok pesantren. Serta didalam pesantren itu tempat pemuda pemudi menuntut pengetahuan yang terkait dengan agama Islam. Yang bila beberapa pelajar itu tuntas dalam menuntut ilmu dan pengetahuan tentang agama Islam, mereka memiliki keharusan untuk mengajari kembali pengetahuan yang diperolehnya pada penduduk yang ada di sekitarnya. Yang pada akhirnya penduduk sekitarnya menjadi pemeluk agama Islam. Pesantren yang sudah berdiri pada saat perkembangan Islam di Jawa, diantaranya Pesantren Sunan Ampel Surabaya yang dibangun oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) serta Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak datang dari Maluku (daerah Hitu), dan lain sebagainya.

4. Politik 


Seseorang raja memiliki kekuasaan serta dampak yang besar serta memegang fungsi terpenting dalam proses Islamisasi. Bila raja suatu kerajaan memeluk agama Islam, automatis rakyatnya akan berbondong - bondong memeluk agama Islam. Karena, penduduk Indonesia mempunyai kepatuhan yang tinggi serta raja tetap jadi contoh untuk rakyatnya. Bila raja serta rakyat memeluk agama Islam, tentunya untuk kebutuhan politik maka dapat diadakannya pelebaran wilayah kerajaan, yang dibarengi dengan penyebaran agama Islam.

5. Lewat Dakwah di Kalangan Masyarakat 


Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri ada juru-juru dakwah yang sebarkan Islam di lingkungannya, diantaranya: Dato'ri Bandang sebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi Selatan), Tua Tanggang Parang sebarkan Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur), Seseorang penghulu dari Demak sebarkan agama Islam di kalangan bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan), Para Wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Wali yang populer ada 9 wali yang terkenal dengan sebutan walisongo, mereka adalah; Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Derajat (Syarifuddin), Sunan Kalijaga (Jaka Sahid), Sunan Kudus (Jafar Sodiq), Sunan Muria (Raden Umar Said), dan Sunan Gunung Jati (Faletehan).

6. Seni Budaya 


Perkembangan Islam bisa lewat seni budaya, seperti bangunan (masjid), seni pahat, seni tari, seni musik, serta seni sastra. Langkah semacam ini banyak didapati di Jogjakarta, Solo, Cirebon, dan sebagainya. Seni budaya Islam dibuat melalui cara mengakrabkan budaya daerah setempat dengan ajaran agama Islam yang disusupkan ajaran tauhid yang dibikin sederhana, sehalus serta sebisa mungkin menggunakan kebiasaan lokal, contohnya : Membumikan ajaran Islam lewat syair-syair, misalnya: Gending Dharma, Suluk Sunan Bonang, Hikayat Sunan Kudus, dan lain sebagainya. Mengkultulrasikan wayang yang sarat dokrin. Misalnya: Beberapa tokoh simbolis dalam wayang diadopsi atau menciptakan nama yang lain yang dapat mendekatkan dengan ajaran Islam, Menciptakan tokoh baru serta cerita baru yang sarat pengajaran. Membunyikan bedug menjadi ajakan sholat lima waktu sekaligus juga alarm pengingat waktu.

7. Tasawuf 


Seorang Sufi biasa diketahui dengan hidup dalam keserhanaan, mereka tetap meresapi kehidupan masyarakatnya yang hidup bersama-sama ditengah – tengah masyarakatnya. Beberapa Sufi umumnya mempunyai ketrampilan yang menolong penduduk serta sebarkan agama Islam. Beberapa Sufi pada saat itu salah satunya Hamzah Fansuri di Aceh serta Sunan Panggung Jawa.

Memang banyak metode atau cara yang digunakan dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, tapi umumnya dilakukan dengan 7 cara atau metode di atas.

Cara-cara yang digunakan Mubaligh Zaman Dahulu dalam Menyebarkan Islam di Indonesia

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)
Beberapa teori mengenai masuknyaIslam di Indonesia ini selalu muncul sampai sekarang ini. Ada banyak pandangan mengenai masuknya Islam di Indonesia diantaranya yaitu.

Teori Makkah 


Islam yang masuk serta berkembang di Indonesia datang dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7 M. Teori ini dikemukakan oleh Hamka (Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah), ia merupakan seseorang ulama’ sekaligus juga sebagai seorang sastrawan Indonesia. Hamka menyampaikan pandangannya ini pada tahun 1958, waktu orasi yang disampaikannya pada dies natalis perguruan tinggi Islam Negri (PTIN) di Yogyakarta. Argumentasi yang dijadikan referensi Hamka ialah sumber lokal Indonesia serta sumber Arab. Tidak hanya itu yang tidak bisa dilewatkan ialah fakta menarik lainnya yaitu bahwa beberapa orang Arab telah berlayar sampai Cina pada abad ke-7 M dalam rencana untuk berdagang. Hamka yakin dalam perjalanan berikut mereka berkunjung di kepulauan Nusantara waktu itu.

Orang yang berpandangan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya datang dari Arab dan Mesir, memiliki beberapa dasar teori yaitu; 1) Pada bad ke 7 yakni tahun 674 di Pantai Barat Sumatera telah ada perkampungan Islam (Arab), 2) Samudra Pasai menganut mazhab Syafi’i, di mana pengaruh mazhab Syafi’I paling besar pada saat itu ialah Mesir serta Makkah, 3) Raja-raja Samudra Pasai memakai gelar Al-Malik, yakni gelar dari Mesir.

Teori Gujarat


Teori Gujarat menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia ini datang dari Gujarat pada abad ke-13, Islam dibawa serta disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang berkunjung di kepulauan Nusantara. Mereka meniti jalan perdagangan yang telah terjadi antara India dan Nusantara. Pandangan ini dkemukakan oleh Snouck Hurgronje. Ia mengambil pandangan ini dari Pijnapel, seseorang ahli dari Universitas Leiden Belanda, yang seringkali mempelajari artefak-artefak peninggalan di Indonesia. Pendapat Pijnapel ini dapat dibetulkan oleh J. P Moquette yang sempat mempelajari bentuk nisan kuburan-kuburan raja-raja pasai.

Pandangan tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 serta pembawanya datang dari Gujarat (Cambay), India, dengan dasar teori sebagai berikut; 1) Minimnya fakta yang menjelaskan bagaimana peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia, 2) Jalinan dagang Indonesia dengan India sudah lama lewat jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa, 3) Terdapat batu nisan Sultan Samudra Pasai yakni Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak ciri khas Gujarat.

Teori Cina 


Teori ini mengungkapkan terkait agama Islam yang disebarkan di Indonesia oleh beberapa orang Cina. Mereka bermafhab Hanafi, Pandangan ini disimpulkan oleh salah seseorang pegawai Belanda pada saat pemerintahan kolonial Belanda dahulu.

Teori ini berasumsi jika proses kehadiran Islam ke Indonesia datang dari beberapa perantau Cina. Orang Cina sudah berhubungan dengan penduduk Indonesia jauh sebelum Islam diketahui di Indonesia. Pada waktu Hindu Buddha etnis Cina atau Tiongkok sudah berbaur dengan masyarakat Indonesia, terlebih lewat kontak dagang. Bahkan juga ajaran Islam sudah masuk ke Cina pada abad ke-7 M, waktu di mana agama ini baru berkembang.

Teori Persia


Teori Persia menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia beasal dari daerah Persia atau Parsi (Iran). Pencetus dari teori ini ialah Hosein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hosein lebih menitik beratkan analisisnya pada persamaan budaya serta kebiasaan yang berkembang pada penduduk Parsi serta Indonesia. Kebiasaan itu diantaranya : kebiasaan dalam merayakan 10 Muharram atau hari Asyuro menjadi hari suci golongan Syi’ah atas kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw.

Teori tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 ini dan pembawanya datang dari Persia (Iran) didasari atas beberapa hal, yaitu: 1) Peringatan 10 Muharam atau Asyura atas wafatnya Hasan serta Husein cucu Nabi Muhammad SAW, yang begitu di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. 2) Persamaan ajaran Sufi yang diyakini Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran yakni Al-Hallaj. 3) Pemakaian istilah bhs Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi Harakat. 4) Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik. 5) Ada perkampungan Leren/Leran daerah Gresik. Leren merupakan nama salah satunya simpatisan tori ini yakni Umar Amir Husen serta P. A. Hussein Jayadiningrat.

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu
Ayat Al-Kursi (آية الكرسي) yang dalam bahasa Indonesia artinya Ayat Singgasana merupakan ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini dijelaskan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab adalah ayat yang sangat agung di dalam Al Qur'an. Dalamnya mengenai keesaan Allah dan kekuasaan Allah yang mutlak atas semua hal serta, dan Allah tidak kesusahan sedikitpun dalam memelihara segala yang diciptakannya.

Teks Bacaan Ayat Kursi


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


Terjemahannya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S Al-Baqarah/2: 255)

Video Bacaan Ayat Kursi Oleh Mevlan Kurtishi


Berikut ini video bacaan ayat kursi oleh Mevlan Kurtishi.



Faedah Membaca Ayat Kursi


Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap shalat fardhu, ia akan berada dalam lindungan Allah swt. sampai dengan shalat berikutnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di setiap akhir shalatnya, maka Allah tidak menegah untuk memasuki surga kecuali kematian, dan siapa pun yang membacanya ketika ia akan tidur, maka Allah swt. melindunginya di rumahnya, rumah tetangganya, dan rumah-rumah di sekitarnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di akhir shalat, maka Allah swt. akan mengendalikan siap yang masuk ke dalam jiwanya dan dia seperti orang yang sedang berjihat dengan Rasulullah dia sehingga mati syahid.

Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap sholat fardhu, maka Allah swt. menganugrahkan kepadanya setiap orang yang hatinya bersyukur, setiap orang berbuat benar, syafaat dari para nabi dan Allah melimpahkan rahmat kepadanya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika berbaring di tempat tidurnya, maka Allah swt mengutus 2 Malaikat untuk menjaganya hingga fajar tiba.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi sebelum meninggalkan rumahnya, maka Allah swt. mengutus 70.000 malaikat kepadanya - mereka semua memohon pengampunan dan berdoa untuknya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika dalam kesempitan, maka Allah Yang Maha Kuasa akan melampangkannya.

Demikianlah ulasan kali ini tentang bacaan ayat kursi dan faedah membacanya dalam setiap waktu, semoga bermanfaat.

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu

Bacaann surat Ar Rahman Ayat 1-16 Oleh Mevlan Kurtishi
Surah Ar-Rahman (Arab : الرّحْمنن) merupakan surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini termasuk dalam surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Diberi nama Ar-Rahmaan yang bermakna Yang Maha Pemurah yang diambil dari kata Ar-Rahman yang ada pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman merupakan satu diantara beberapa nama Allah. Sejumlah besar dari surah ini menjelaskan kepemurahan Allah swt. pada hamba-hamba-Nya, yakni dengan memberi nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik didunia ataupun di akhirat kelak.

Keunikan surah ini ialah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Jadi nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terdapat diakhir tiap-tiap ayat yang memaparkan rahmat Allah yang diberikan untuk manusia.

Teks surat Ar-Rahman Ayat 1-16

بِسْـــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الرَّحْمَٰنُ

1. (Tuhan) Yang Maha Pemurah,

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

2. Yang telah mengajarkan al Quran.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ 

3. Dia menciptakan manusia.

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

4. Mengajarnya pandai berbicara.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.

Video Bacaan Surat Ar-Rahman Ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi

Berikut ini video bacaan surat Ar-Rahman Ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi.



Demikianlah bacaann surat ar-Rahman ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi semoga al-Quran menjadi pelindung dan bekal bagi kita semua di dunia dan di akhirat kelak. Amin.

Bacaann surat Ar Rahman Ayat 1-16 Oleh Mevlan Kurtishi