Coretanzone: Al-Quran

    Social Items

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu
Ayat Al-Kursi (آية الكرسي) yang dalam bahasa Indonesia artinya Ayat Singgasana merupakan ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah. Ayat ini dijelaskan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab adalah ayat yang sangat agung di dalam Al Qur'an. Dalamnya mengenai keesaan Allah dan kekuasaan Allah yang mutlak atas semua hal serta, dan Allah tidak kesusahan sedikitpun dalam memelihara segala yang diciptakannya.

Teks Bacaan Ayat Kursi


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


Terjemahannya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S Al-Baqarah/2: 255)

Video Bacaan Ayat Kursi Oleh Mevlan Kurtishi


Berikut ini video bacaan ayat kursi oleh Mevlan Kurtishi.



Faedah Membaca Ayat Kursi


Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap shalat fardhu, ia akan berada dalam lindungan Allah swt. sampai dengan shalat berikutnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di setiap akhir shalatnya, maka Allah tidak menegah untuk memasuki surga kecuali kematian, dan siapa pun yang membacanya ketika ia akan tidur, maka Allah swt. melindunginya di rumahnya, rumah tetangganya, dan rumah-rumah di sekitarnya.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi di akhir shalat, maka Allah swt. akan mengendalikan siap yang masuk ke dalam jiwanya dan dia seperti orang yang sedang berjihat dengan Rasulullah dia sehingga mati syahid.

Siapa saja yang membaca ayat kursi di akhir setiap sholat fardhu, maka Allah swt. menganugrahkan kepadanya setiap orang yang hatinya bersyukur, setiap orang berbuat benar, syafaat dari para nabi dan Allah melimpahkan rahmat kepadanya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika berbaring di tempat tidurnya, maka Allah swt mengutus 2 Malaikat untuk menjaganya hingga fajar tiba.

Barangsiapa yang membaca ayat kursi sebelum meninggalkan rumahnya, maka Allah swt. mengutus 70.000 malaikat kepadanya - mereka semua memohon pengampunan dan berdoa untuknya.

Siapa saja yang membaca ayat kursi ketika dalam kesempitan, maka Allah Yang Maha Kuasa akan melampangkannya.

Demikianlah ulasan kali ini tentang bacaan ayat kursi dan faedah membacanya dalam setiap waktu, semoga bermanfaat.

Bacaan Ayat Kursi dan Faedah Membacanya dalam Setiap Waktu

Bacaann surat Ar Rahman Ayat 1-16 Oleh Mevlan Kurtishi
Surah Ar-Rahman (Arab : الرّحْمنن) merupakan surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini termasuk dalam surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Diberi nama Ar-Rahmaan yang bermakna Yang Maha Pemurah yang diambil dari kata Ar-Rahman yang ada pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman merupakan satu diantara beberapa nama Allah. Sejumlah besar dari surah ini menjelaskan kepemurahan Allah swt. pada hamba-hamba-Nya, yakni dengan memberi nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik didunia ataupun di akhirat kelak.

Keunikan surah ini ialah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Jadi nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terdapat diakhir tiap-tiap ayat yang memaparkan rahmat Allah yang diberikan untuk manusia.

Teks surat Ar-Rahman Ayat 1-16

بِسْـــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الرَّحْمَٰنُ

1. (Tuhan) Yang Maha Pemurah,

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

2. Yang telah mengajarkan al Quran.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ 

3. Dia menciptakan manusia.

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

4. Mengajarnya pandai berbicara.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.

Video Bacaan Surat Ar-Rahman Ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi

Berikut ini video bacaan surat Ar-Rahman Ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi.



Demikianlah bacaann surat ar-Rahman ayat 1-16 oleh Mevlan Kurtishi semoga al-Quran menjadi pelindung dan bekal bagi kita semua di dunia dan di akhirat kelak. Amin.

Bacaann surat Ar Rahman Ayat 1-16 Oleh Mevlan Kurtishi

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa dan Menyimpannya
Al-Qur’an merupakan Kalam Allah SWT yang disebut mu’jizat untuk Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushhaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya merupakan beribadah dan akan mendapat pahala.

Semenjak ada handphone pintar (smartphone), sejumlah besar orang memakai untuk menjelajahi internet. Kadang dalam mencari jalan keluar atas masalah kehidupan (keagamaan), ada yang condong mengacu pada internet (google). Lalu bagaimana hukum membaca al-Quran melalui smartphone? simak ulasannya berikut ini.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone


Seorang yang membaca al-Quran akan mendapat pahala baik dia membacanya dengan mushaf atau mungkin dengan ponsel atau yang lain, Rasulullah SAW bersabda mngenai pahala membaca al-Quran:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ: آلم حَرْفٌ. أَلْفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia akan mendapatkan pahala berupa satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dan Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimy).

Kata membaca dalam mu’jamul wasith dijelaskan jika maknanya merupakan ikuti kalimat-kalimat dalam kitab yang di baca dengan lihat serta mengucapkannya. Hingga membaca ayat dalam al-Quran tujuannya merupakan mengatakan lafadznya lewat cara lihat tulisannya atau mungkin dengan hafalan. Jadi membaca al-Quran yang digolongkan akan mendapatkan pahala sesuai apa yang disabdakan Rasulullah yaitu dengan mengucapkannya yang kira-kira si pembaca dapat dengar suaranya sendiri, baik itu membaca dengan lihat mushaf atau melalui ponsel dan lain-lain.

Bila cuma mengatakan dalam hati atau cukup dengan berbisik yang kira-kira dia tidak dengar suaranya jadi tidak dapat dimasukkan dalam kelompok membaca. Cuma saja al-Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya mengatakan jika disana ada kautamaan membaca al-Quran dengan lihat mushaf atau mungkin dengan hafalan, hal tersebut karena beberapa shahabat begitu senang untuk membaca al-Quran dengan lihat mushaf dengan cara langsung, ada hadits yang menuturkan mengenai keutamaan orang yang membaca al-Quran dengan cara langsung lewat mushaf, seperti sabda Nabi SAW :

قِرَاءَةُ الرَّجُلِ الْقُرْآنَ فِي غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصحف تضعف عل ذَلِك إِلَى ألفي دَرَجَة

Artinya: Bacaan al-Quran dari seseorang dengan tanpa melihat mushaf adalah seribu derajat, dan bacaan al-Qurannya dengan melihat mushaf akan dilipatgandakan menjadi dua ribu derajat (HR. Baihaqi).

Tetapi lepas dari perbandingan pahala pada orang yang membaca al-Quran dengan lihat mushaf ataukah tidak, yang pasti seorang akan mendapat pahala waktu membaca al-Quran bila dia melafadzkannya.

Adab dalam Membawa dan Menyimpan Al-Quran di Smartphone


Tentang wanita yang berhalangan, apakah bisa membaca al-Quran di hati melalui ponsel? Membaca al-Quran untuk wanita haid merupakan haram, tetapi keharaman ini berlaku bila dia melafadzkannya, mengenai bila hanya di baca dalam hati atau menggerakkan lisannya tanpa ada keluarkan nada atau sebatas lihat mushaf saja tanpa ada membacanya jadi tidak berdosa, karena hal yang semacam itu tidak dapat digolongkan qiroah atau membaca.

Tentang aplikasi al-Quran dalam ponsel apakah disebutkan mushaf ataukah tidak, ulama kontemporer berlainan argumen tentang perihal ini. Ada ulama yang menyampaikan bahwa, al-Quran dalam ponsel memiliki hukum yang sama seperti mushaf asli, jadi mereka mengharamkan wanita haid untuk menyentuh ponsel itu waktu aplikasi al-Quran dalam ponsel itu tengah di buka. Sedang menurut ulama yang menyampaikan jika aplikasi al-Quran yang terinstall dalam ponsel tidak memiliki hukum sama seperti mushaf sehingga hal itu tidak diharamkan untuk wanita haid yang ingin menyentuhnya, seandainya tidaklah sampai melafdzkannya waktu membaca.

Tetapi baiknya wanita yang haid tidak menyentuh ponsel yang aplikasi al-Qurannya terbuka, perihal ini untuk menghargai al-Quran serta untuk lebih waspada. Bahkan juga seseorang ulama Hadhramaut yang menyarahi kitab al-Yaqut al-Nafis yakni al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiry menyampaikan jika seorang yang tidak dalam kondisi suci baiknya janganlah menyentuh suatu yang di dalamnya tersimpan file al-Quran baik berbentuk CD, disket, flashdisk, dan lain-lain.

Menjadi kitab suci, ada banyak ketentuan untuk menyimpan serta memegangnya. Salah satunya, diri kita mesti dalam kondisi suci dari hadats bila akan memegang Al-Qur’an. Lalu, Al-Qur’an mesti ditempatkan ditempat yang wajar menjadi bentuk pemuliaan terhadapnya. Oleh karenanya Ulama melarang membawa Al-Qur’an dibawa ke toilet. Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Mughnil Muhtaj hal. 155 mencuplik saran Imam Al-Adzra’i:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

Artinya : Imam Al-Adzra’i berkata : pendapat yang tepat adalah haram membawa Mushhaf dan semisalnya ke dalam toilet tanpa dhorurot. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap Mushhaf.

Disini butuh diperjelas mengenai Mushhaf yang disebut dalam cuplikan diatas. Imam Nawawi Banten menyampaikan mengenai batasan Mushhaf ; Yang disebut dengan Mushhaf merupakan tiap-tiap benda yang disana ada sebagian tulisan dari Al-Qur’an yang dipakai untuk dirosah (belajar) seperti kertas, kain, plastik, papan, tiang, tembok dan lain-lain.

Walaupun dalam kalangan ulama masih terdapat banyak perbedaan pandangan namun, sebaiknya kita sebagai umat Islam untuk menghormati dan menjaga kesucian al-Quran dengan sebaik mungkin, walaupun mushaf al-Quran berada dalam bentuk software yang ada di smartphone, leptop, komputer dan sebagaianya.

Menurut hemat kami, lebih baik al-Quran di dalam smartphone dihapus atau uninstal saja dulu, nanti ketika dibutuhkan barulah didownload kembali. Suatu yang baik walau sulit mesti diraih lewat cara yang baik, bukanlah dengan yang tidak baik. Wallahu a'lam.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa serta Menyimpannya

Kedudukan Al-Quran sebagai Sumber Pertama dalam Hukum (Syariat) Islam
Al-Quran merupakan wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat jibril untuk disampaikan kepada umat manusia agar umat manusia mendapatkan petunjuk dalam menjalani hidupnya. Para ulama berpendapatkan bahwa, al-Quran merupakan bekal hidup manusia di dunia, yang jika diamalkan segala isi kandungannya maka akan selamat di dunia maupun di akhirat.

Tentu kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini tidak terbayangkan jika kehidupan ini terjadi porak-poranda tanpa adanya suatu hukum yang mengatur. Sebelum manusia membayangkan hal tersebut, Allah swt. sudah terlebih dahulu mengantisipasinya dengan memberikan hukum kepada manusia agar kehidupan di dunia bisa menjadi kondusif. Olehnya itu Allah mewahyukan kitab-kitab sucinya kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia agar kehidupan ini lebih tentram dan terarah.

Sebelum kita membahas tentang kedudukan Al-Quran sebagai sumbe hukum (syariat) islam, maka terlebih dahulu kita akan melihat garis-garis besar isi kandungan al-Quran yaitu sebagai berikut.

Isi Kandungan Al-Quran


1. Di dalam al-Quran terdapat penjelas tentang Akidah dalam ber-Islam, yaitu tentang iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada para Rasul Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada Qada dan Qadar.

2. Al-Quran mengajarkan manusia untuk selalu mengerjakan akhlak terpuji.

3. Al-Quran meruapakan petunjuk bagi manusia dalam berbagai hal, seperti dalam hal ilmu pengetahuan, pemikiran, riset tentang alam semesta dan segala ciptannya, agar manusia mengetahui betapa besar kuasa Allah melalui ciptaannya.

4. Di dalam al-Quran terdapat kisah-kisah orang terdahulu agar menjadi pelajaran bagi manusia.

5. Dalam al-Quran terdapat janji dan ancaman Allah terhadap manusia yang melaksanakan perintahNya dan yang mendurhakai perintahNya.

Landasan Al-Quran sebagai Sumber Hukum Islam


Allah swt.menurunkan Al-Qur'an tiada lain agar dijadikan dasar hukum dan dikatakan kepada umat manusia untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, sebagaimana firman Allah:

فَٱسۡتَمۡسِكۡ بِٱلَّذِيٓ أُوحِيَ إِلَيۡكَۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 

Artinya: Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (QS. Az-Zukhruf/43: 43)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ  

Artinya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Mã'idah/5: 67)

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

Artinya: Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al-An‘ãm/6: 155)

Al-Quran merupakan kitab suci yang merupakan kalam Allah yang secara langsung diturunkan kepada Nabi Muhmmad saw. sehingga al-Quran memiliki fungis sebagai sumber hukum (syariat) Islam  pertama dan utama. Segala sumber hukum Islam tidak bisa bertentangan dengan al-Quran. Jika ada yang bertentangan maka hukum tersebut menjadi batal dan kembali kepada al-Quran sebagai sumber hukum Islam yang mutlak.

Kedudukan Al-Quran sebagai Sumber Pertama dalam Hukum (Syariat) Islam

Ketika melihat fenomena alam dan ayat-ayat Al-Quran, maka kita akan banyak menemukan bukti kebenaran akan adanya Allah. Banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan) yang mengisyaratkan adanya Allah, sebagai Tuhan yang maha kuasa dan maha tunggal.

Pernahkah kamu membaca Surah ar-Rahman (surah ke-55) beserta artinya?

فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ وَرۡدَةٗ كَٱلدِّهَانِ 

Artinya: Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak. (Q.S. ar-Rahman: 37)

Dalam waktu lama manusia tidak memahami apa yang dimaksud dengan langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilauan minyak. Sepintas hal ini tampak sebagai keindahan bahasa semata. Tetapi, Al-Qur’an bukanlah hanya deretan kata-kata indah tanpa makna. Apa yang terkandung di dalamnya adalah firman Allah SWT.

Setelah ratusan tahun wahyu Al-Qur’an turun dan tak ada yang mengerti makna ayat ini, maka ketika teleskop hubble, sebagai teleskop tercanggih ditemukan, dan para ilmuwan mengamati langit dengan teleskop itu, terungkaplah kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah. Para ilmuwan menangkap dengan teleskop tersebut apa yang disebut sebagai ledakan mawar. Sebuah tampilan visual di langit, yang apabila ditangkap mata pada saat sekarang, hal itu berarti telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Hal ini dapat kamu pahami apabila kamu mempelajari lebih jauh ilmu fisika.

Tanda-Tanda Adanya Allah di Alam Semesta
gambar ledakan mawar via commons.wikimedia.org

Tertangkapnya objek ini telah membuktikan bahwa ayat di atas adalah benar berasal dari Allah, firman Allah yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. dalam bentuk kitab suci Al-Qur’an. Sebab, tidak mungkin seorang manusia mengarang satu ayat berisi peristiwa yang pada saat Al-Qur’an diturunkan, sekitar tahun 610 M, tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan pada saat itu.

Bukalah kembali buku-buku sejarah ilmu pengetahuan. Kamu akan mengerti bahwa pada tahun ketika wahyu Al-Qur’an turun, peradaban dunia masih berada dalam perkembangan yang sangat awal. Dan baru pada saat sekaranglah, ketika teleskop hubble ditemukan, ayat tersebut terungkap kebenarannya. Maka tak mungkin seorang manusia yang menulis ayat tersebut. Pastilah ayat tersebut berasal dari Allah.

Itulah salah satu tanda akan kebenaran adanya Allah dengan kekuasaan yang tak terbatas.

Setelah memahami sifat-sifat Allah SWT. dan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam sekitar, apakah imanmu telah bertambah? Seorang muslim yang beriman kepada Allah adalah ia yang membenarkan keberadaan Allah, meyakini bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui perkara yang nyata dan gaib, Rabb atas segala sesuatu, tidak ada yang pantas disembah selain Allah, yang memiliki sifat sempurna dan tidak memiliki kekurangan.

Untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT, kamu dapat menempuh langkah-langkah:

1. mempelajari dan merenungkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an;

2. memerhatikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta;

3. mempelajari ilmu pengetahuan.

Seorang muslim yang beriman kepada Allah memiliki sifat-sifat dan perilaku tertentu. Beberapa sifat dan perilaku orang yang beriman kepada Allah antara lain:

1. selalu merasakan kehadiran Allah;

2. selalu berserah diri kepada Allah;

3. melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangannya.

Perilaku tersebut tumbuh seiring dengan meningkatnya iman. Ketika imanmu telah bertambah maka kamu tak perlu diperintahkan untuk berbuat demikian, kamu akan melakukannya dengan senang hati.

Tanda-Tanda Adanya Allah di Alam Semesta

Bagaimana al-Quran Diam-diam Diajarkan di Uni Soviet

Seorang pria Muslim berusia sembilan puluh lima tahun dari Rusia menjelaskan bagaimana Ulama Rusia mengajarkan Al-Qur'an pada zaman komunisme. Dia berumur dua puluh lima tahun saat eksekusi dan penindasan Umat Islam dimulai dan dia menyaksikan keseluruhan periode itu.

Dia menjelaskan: "Kami biasa membangun rumah besar dengan aula terbuka di tengahnya. Di semua sisi aula ini, kami membangun kamar kedap suara. Ada pintu rahasia, dari aula menuju bilik-bilik itu, tempat kami akan menyajikan sebuah kotak acara yang menampilkan botol minuman keras. Kami akan menempatkan potret Lenin dan yang lainnya, layar televisi dan barang-barang cabul lainnya yang dekat dengan dinding tempat pintu rahasia berada.

Setiap kali polisi tiba dan menggeledah rumah, mereka tidak menemukan apa-apa. Mereka akan memperhatikan botol minuman keras dan menganggap bahwa kepercayaan dan ideologi penduduk sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka akan pergi, puas, tapi tertipu dengan apa yang mereka amati. Sedikit yang mereka sadari, hanya beberapa meter dari botol minuman keras itu, anak-anak kecil yang tidak berdosa membaca al-Quran. Kami akan mengunci diri di bilik-bilik itu selama enam bulan, mengajarkan anak-anak kami cara membaca al-Quran. Sahih Bukhari juga diajarkan di sana. Di luar batas ruang-ruang itu, angin komersil komunisme bertiup tanpa henti, namun di dalam, kata-kata Allah dan Hadis Nabi saw. dibacakan dan dihafalkan."

Semoga Allah memberi penghargaan kepada 'Ulama Islam untuk pengorbanan dan pengabdian tertinggi mereka dalam melestarikan iman umat Islam di wilayah yang mengalami penindasan dan ketidakadilan. Sumbangan mereka yang tak ternilai seharusnya mengilhami umat Islam untuk tetap berdedikasi pada ajaran Islam selama masa-masa sulit maupun pasa saat senang.

Bagaimana al-Quran diam-diam diajarkan di Uni Soviet

3 Hukum pokok yang terkandung di dalam al-Quran

Hukum pokok yang terkandung di dalam al-Quran sangat penting untuk diketahui oleh umat Islam, karena terkait dengan dasar dalam melaksanakan segala syariat Islam. Sebagai sumber pertama dalam hukum Islam, al-Quran memiliki kedudukan yang sangat tinggi seperti halnya konstitusi negara yang menjadi supreme dan acuan dalam menciptakan peraturan dan perundang-undangan. Al-Quran menjadi sumber pokok dan dasar dalam menentukan huku-hukum Islam selain hadis Rasulullah saw. Sebagai sumber dokrin dalam Islam, Al-Quran merupakan kitab yang keberadaannya mutlak berasal dari Allah.

Manusia sangat memerlukan petunjuk, untuk mengatur segala kehidupan di bumi ini, maka al-Quran diturunkan sebagai petunjuk. Kalangan Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan sebagai pencipta manusia, memiliki kewajiban untuk menuruknak al-Quran kepada makhluknya, karena manusia memiliki keterbatasan dalam memecahkan persoalan-persoalan hidup yang diahadapinya. Selanjutnya kaum Mu'tazilah berpandangan bahwa al-Quran berperan sebagai konfirmasi, yaitu memiliki fungsi untuk memperkuat pandangan-pandangan akal dan pikiran, sebagai sumber informasi bagi manusia terhadap segala sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh akal manusia.

Al-Quran sebagai kitab yang diturunkan Allah dalam bahasa Arab ada sebagian ayatnya bersifat umum sehingga memiliki makna yang multi tafsir. Petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya menghendaki penjabaran dan perincinan yang jelas dari ayat lain atau melalui hadis Rasulullah saw.

Petunjuk yang ada di dalam Al-Qur’an terkadang mempunyai sifat global sehingga untuk menerapkannnya butuh penafsiran dan penalaran akal manusia, dan oleh karena al-Quran sebagai kitab yang multi tafsir (sesuai kaidah) maka Al-Qur’an diturunkan untuk manusia berakal. Umat Islam misalnya diwajibkan untuk berpuasa, menjalankan ibadah haji dan sebagainya. Tetapi cara-cara melaksanakan ibadah-ibadah itu sebagian tidak kita jumpai dalam Al-Qur’an, tetapi penjelasannya ada di dalam hadis Nabi, yang selanjutnya diulas oleh semua ulama sebagaimana dapat kita jumpai dalam kitab-kitab fiqih.

Dengan demikian jelas bahwa kehujjahan (argumentasi) Al-Qur’an sebagai wahyu tidak seorangpun dapat membantahnya di samping seluruh kandungan isinya tak satupun yang berlawanan dengan akal kita sebagai manusia, sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang dan seterusnya. Terlebih di abad saat ini yang yang memiliki teknologi mutakhir, di mana pertumbuhan sains canggih sudah hingga pada puncaknya dan kebenaran Al-Qur’an semakin terungkap serta dapat diperlihatkan secara ilmiah.

Al-Qur’an sebagai tuntunan hidup secara umum berisi 3 hukum pokok yaitu sebagai berikut:

Hukum Aqidah


Ajaran-ajaran yang bersangkutan dengan aqidah (keimanan) yang merundingkan tentang hal-hal yang mesti diyakini, laksana masalah tauhid, masalah kenabian, tentang kitab-Nya, Malaikat, hari Kemudian dan sebagainya yang bersangkutan dengan ajaran ‘akidah.

Hukum Akhlak


Ajaran-ajaran yang bersangkutan dengan akhlak, yakni hal-hal yang mesti dijadikan perhiasan diri oleh masing-masing mukallaf berupa sifat-sifat keutamaan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membawa untuk kehinaan.

Hukum Amal


Hukum-hukum amaliyah, yakni ketentuan-ketentuan yang bersangkutan dengan amal tindakan mukalaf. Dari hukum-hukum amaliyah berikut timbul dan berkembangnya ilmu fikih, hukum-hukum amaliyah dalam Al-Qur’an terdiri dari dua cabang, yakni hukum-hukum badah yang menata hubungan insan dengan Allah, dan hokum-hukum mu’amalat yang menata hubungan insan dengan sesamanya.

Hukum-hukum amaliah dalam penjelasannya berdasarkan Al-Quran dibagi menjadi 2 bagian yaitu hukum ibadah dan hukum muamalah.

Pertama Hukum-hukum ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah dan ibadah-ibadah lain yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhan atau biasa disebut sebagai ibadah Mahdah.

Kedua Hukum-hukum muamalah, seperti masalah belanja, bisnis, akad, hukuman, jinayat dan sebagainya selain hukum ibadah. Hukum muamalah ini mengatur hubungan manusia dengan manusia, baik secara perorangan, kelompok, bangsa atau jama’ah yang disebut juga sebagai ibadah ghairu mahdah.

3 Hukum pokok yang terkandung di dalam al-Quran

ilustrasi dengan kentang
Akhir-akhir ini banyak kalangan menuduh bahwa Islam itu agama kekerasan. Banyak kasus yang melatar belakangi tuduhan ini, seperti banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnakan Islam. Namun apakah Islam mengajarkan tentang hal-hal seperti yang dituduhkan itu.

Selama ini media selalu menyudutkan Islam dengan pemberitaan yang tidak "objektif." Banyaknya kelompok-kelompok politik di luar sana yang melakukan kekerasan atas nama Islam, kemudian media dengan menggunakan nilai kuasanya memainkan peran dalam menghancurkan wajah Islam. Seakan ajaran Islamlah dalang dari semua kehebohan yang terjadi akhir-akhir ini.

Masyarakat yang masih awam dalam membaca peta politik global, mudah percaya dengan semua pemberitaan itu. Media-media sosial begitu rame dengan perdebatan yang tidak ada ujungnya, akhirnya antara sesama saudara yang berlainan agama saling menghujat, saling menyalahkan, dan lebih parah lagi saling menghina. Buli membuli bukan lagi bacaan yang baru, tetapi sesuatu yang menjadi konsumsi publik sehari-hari. Sesama anak bangsa bahkan sudah keluar dari batas kewajaran dalam menggunkan media sosial.

Mungkin ini yang disebut dengan masyarakat milenial, dimana setiap orang bebas berekspresi sesuai dengan batas kemampuannya masing-masing.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tidak sedikitpun mengajarkan umatnya untuk menyakiti orang lain - seperti yang dituduhkan selama ini - baik itu secara fisik maupun psikis, bahkan orang yang sudah berbuat salah sekalipun jika dia sudah dimaafkan oleh orang yang menjadi korban, maka dia tidak akan mendapat hukuman apapun. Contohnya seperti seseorang mengambil nyawa orang lain, dan orang itu akan dihukum sesuai dengan kesalahannya, tetapi keluarga korban memafkan, maka orang itu akan mendapatkan kebebasan.

Islam juga melarang umatnya untuk menghabisi nyawa orang lain dengan sengaja, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran sebagai berikut.

مِنۡ أَجۡلِ ذَٰلِكَ كَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ فِي ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (Q.S. Al-Maidah: 32)

Ayat Al-Quran di atas dengan jelas menyatakan bahwa Allah melarang kepada umat nabi Musa as. untuk membunuh sesama manusia, dan syariat ini berlaku sampai kepada umat Nabi Muhammad saw., yaitu umat Islam. Bahkan menghabisi nyawa orang lain tanpa alasan atau dasar tertentu maka sama saja dengan mengahabisi nyawa semua umat manusia. Perbuatan ini tergolong dalam perbuatan dosa besar.

Ajaran yang sebenarnya dalam Islam adalah memelihara kerukunan hidup antar sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama, sosial, suku, bangsa dan sebagainya. Bahkan jika seorang manusia berbuat baik dan memelihara kehidupan seseorang, maka itu sama dengan dia telah memilihara seluruh umat manusia. Memelihara dalam artian yang utuh, yaitu dari segala aspek kehidupan.

Kelompok-kelompok yang selalu berbuat kerusakan itu, telah disinyalir dalam ayat ini sebagai manusia-manusia yang melampaui batas. Mereka melampaui batas norma kehidupan manusia untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Ancaman Allah bagi mereka adalah neraka jahannam, sebagaimana firmanNya dalam al-Quran.

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (Q.S. An-Nisa: 93)

Islam tidak sedikitpun mendukung aksi-aksi kelompok ekstrimis yang selama ini menghebohkan tatanan kehidupan manusia. Tidak ada balasan bagi mereka selain kekal di dalam neraka jahannam.

Semoga kita semua terpelihara dalam penjagaan Allah swt., Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Wallahu a'lam.

Islam Melarang Membunuh Sesama Umat Manusia