Coretanzone: Belajar

    Social Items

 Pengertian Pembelajaran dan Kematangan dalam Belajar

Pendidikan dan pembelajaran meruapakan dua hal yang saling terikat dan saling berhubungan erat. Dalam pendidikan terdapat pembelajaran. Lalu apa pengertian pembelajaran? dan bagaimana kematangan dalam belajar?

1. Pengertian Pembelajaran

Berbeda dengan konsep mengajar,  pembelajaran didefinisikan sebagai proses mendesain sistem lingkungan yang kondusif sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Lingkungan yang dimaksudkan adalah sebuah lingkungan fisik dan psikologis yang benar-benar bebas dari tekanan sehingga memungkinkan peserta didik secara mandiri bisa mengembangkan kemampuan penalaran, keterampilan dan afeksinya  secara fungsional. Konsep pembelajaran merupakan aplikasi psikologi humanistik yang menghargai potensi setiap individu bahwa mereka terlahir dan tumbuh dengan berbagai talenta /kemampuan.

Tugas guru adalah mencuatkan potensi itu dengan menciptakan pra kondisi yang menantang, memberi motivasi dan animasi agar peserta didik mampu bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan bakat-bakat yang telah dimilikinya. Pada tataran itu dalam proses pembelajaran, terjadi reduksi peran guru. Peran guru sebagai pemegang otoritas tunggal proses belajar mengajar mengalami redefinisi.

Lewat proses pembelajaran, terjadi transformasi dari peran guru sebagai pemberi tahu kepada pemacu aksi dan kreasi peserta didik. Tugas guru adalah menciptakan sistem lingkungan pembelajaran yang kondusif sehingga membantu peserta didik menemukan potensi dirinya dan menemukan bagaimana cara belajar yang efektif.

Peserta didik dalam konteks pembelajaran dihargai sebagai pribadi yang aktif, kreatif, inovatif. Mereka diposisikan sebagai pebelajar yang terus menjelajah; menalar, mencari dan menemukan serta memecahkan teka-teki ilmu pengetahuan, misteri kejadian alam dengan seluruh realitasnya.

2. Kematangan dan Belajar

Setiap aktivitas pembelajaran akan dihadapkan pada dua aspek yang paling elementer pada peserta didik, yakni aspek kematangan (maturation) dan aspek belajar (learning). Kematangan adalah hasil perkembangan dari sifat-sifat individu  yang berbeda dan telah terbentuk sejak masa konsepsi. Setiap anak terlahir dengan kelebihan potensi, bakat, sikap dan kebiasaan yang berbeda antara anak yang satu dengan anak yang lain. Ada  anak yang terlahir dengan bakat nyanyi, menari, berbicara, melucu dan sebagainya. Semua kelebihan tersebut  diwariskan secara genetis.

Belajar adalah proses perubahan yang terus menerus terjadi dalam diri individu baik secara internal maupun eksternal. Perubahan itu terjadi dalam berbagai perspektif, misalnya pada pandangan hidup, perilaku, persepsi, motivasi atau pun gabungan dari unsur-unsur tadi secara simultan.Proses belajar selalu terjadi secara sistemik pada  disposisi perilaku individu yang belajar. Perubahan itu terjadi sebagai dampak atas pengalaman yang ditemukan dalam adaptasi peserta didik dengan lingkungan belajarnya. Totalitas tindakan belajar merupakan suatu mata rantai yang saling berhubungan satu dengan lainnya.

Para ahli psikologi mengklasifikasinya menjadi 8 (delapan) rangkaian. antara lain: 1) motivasi, 2) pemahaman, 3) penerimaan atau aquasition, 4) penyimpanan atau retensi, 5) mengingat atau recall, 6) menyimpulkan atau menggeneralisasi, 7) penampilan atau performance dan 8)  umpan balik atau feedback.

Mengajar adalah proses transformasi pengetahuan, keterampilan dan nilai budaya kepada peserta didik. Terminologi mengajar menjadikan guru sebagai penentu keberhasilan belajar peserta didik. Guru adalah sentrum dari seluruh proses dan peserta didik cenderung pasif sebagai pribadi bahkan abdi yang diam menerima instruksi guru. Terminologi mengajar dengan demikian, memiliki konotasi negatif karena memposisikan peserta didik sebagai bejana kosong yang siap diisi air oleh guru. Guru dianggap tau banyak tentang hal ikhwal ilmu pengetahuan.

Maka, dalam aktivitas mengajar, guru adalah subjek sedangkan peserta didik hanyalah obyek semata. Seorang guru berperan sebagai agen tunggal proses belajar mengajar dengan tugas pokok sebagai designer, manejer dan evaluator program pengajaran. (Patris Rahabav)

Pengertian Pembelajaran dan Kematangan dalam Belajar

Guru yang Memotivasi Peserta Didik dalam Belajar
Guru yang memotivasi merupakan guru yang memiliki keahlian dalam membangkitkan minat belajar peserta didik. Lalu bagaimana guru sebagai motivator? Bagaimana aplikasi teori motivasi dalam pembelajaran?

Peran Guru Sebagai Motivator

Aktivitas pembelajaran adalah sebuah wahana dimana guru memvasilitasi peserta didik untuk belajar. Peserta didik dalam aktivitas pembelajaran bukan lagi dipersepsikan sebagai bejana kosong yang siap diisi oleh guru. Sebaliknya, mereka adalah subyek yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Pembelajaran berlangsung dalam sebuah kondisi dimana guru dan peserta didik berada dalam  posisi equal (setara).

Dalam posisi demikian, guru memberi otonomi luas kepada peserta didik sebagai pemegang kendali proses pembelajaran. Pergeseran peran itu tidak bisa berlangsung dengan mudah. Hal ini dikarenakan keragaman potensi peserta didik. Peserta didik sudah lama dibentuk dengan iklim dan suasana pembelajaran yang mengandalkan peran guru. Akibatnya, kedewasaan peserta didik terlambat. Mereka telah lama terpola dengan budaya diam, menunggu disuguhkan guru. Maka, pembelajaran berlangsung secara instruktif dengan mengandalkan guru sebagai aktornya. Guru kadang-kadang sulit menemukan formula yang tepat bagaimana merangsang peserta didik untuk aktif mengambil peran.

Maka, pengetahuan guru tentang teori motivasi menjadi syarat mutlak. Pemahaman teori motivasi penting karena salah satu peran sentral guru adalah sebagai motivator. Peran tersebut makin penting terutama setelah Daniel Goleman mempublikasikan hasil penelitiannya. Menurut Goleman (2004:44) kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan seseorang, sedangkan 80% lainnya disumbang oleh kecerdasan emosional (EQ) berupa kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustrasi, mengontrol desakan hati, mengatur mood (suasana hati), berempati serta bekerjasama.

Peran guru sebagai motivator menegaskan bahwa guru bukanlah transmiter tunggal pengetahuan dan nilai budaya kepada peserta didik. Guru tidak lagi mendominasi proses pembelajaran; guru tidak lagi menjadi agen penentu keberhasilan proses pembelajaran. Sebaliknya,  terjadi delegasi peran guru kepada peserta didik.

Guru dengan demikian, tidak lagi memainkan peran sebagai tokoh sentral dalam proses pembelajaran. Peserta didik tidak lagi diposisikan sebagai subordinat proses pembelajaran akan tetapi menjadi aktor utama yang menggerakan seluruh proses itu. Guru dalam konteks itu akan lebih memainkan peran dalam 5 dimensi, yakni sebagai suporting, stimulator, regulator, dinamisator dan animator pembelajaran. Inilah elemen-elemen penting dari sosok guru yang memotivasi

Terminologi guru yang memotivasi adalah sosok guru yang memiliki kepribadian menarik, selalu tampil prima, memiliki kepedulian dan komitmen untuk secara terus menerus memberi dorongan kepada peserta didik untuk tumbuh dan berkembang secara optimum sesuai potensi dan bakat yang mereka miliki. Selanjutnya lima peran guru yang memotivasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.Sebagai supporting

Support adalah apresasi atau penghargaan yang diberikan kepada individu ketika mereka terlibat dalam suatu aktivitas. Maka, support dinilai dari seberapa lama kita memberi dukungan dan seberapa tulus dukungan yang diberikan. Dalam memberi supporting, guru memfasilitasi peserta didik dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran, menyediakan lingkungan belajar yang kondusif, memberi semangat dan penghargaan, mendampingi peserta didik, memberi bantuan dan pertolongan baik secara klasikal maupun individual.

b. Sebagai stimulator

Sebagai stimulator, guru dan peserta didik dalam pembelajaran laksana ikan dan umpan yang tersangkut pada kail. Peserta didik sebagai ikan akan melahap umpan yang diberikan oleh guru pada kail atau mata pancingnya bila umpan pada kail itu tepat dengan kebutuhan peserta didik. Dalam banyak kasus, peserta didik sulit menerima dengan baik umpan yang diberikan guru. Umpan yang dimaksud tidak dibatasi semata-mata pada konten atau materi, akan tetapi termasuk sosok pribadi utuh guru dan aksinya dalam proses pembelajaran secara terpadu.

Sebagai stimulator guru berperan menganalisis daya serap peserta didik dan menyesuaikan dengan materi atau bahan ajar yang akan disajikan, berlaku adil dengan memberi kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan bakat-kabat mereka, menggunakan metode yang variatif dalam pembelajaran, disiplin, berpenampilan menarik dan memperlihatkan sikap ramah dalam pembelajaran.

c.Sebagai regulator

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata regulasi dari bahasa Inggeris regulation yang memiliki makna  pengaturan. Pengatur tegangan, pemberi daya. Regulator juga diartikan sebagai orang yang mempunyai hak dan kewajiban untuk membuat aturan. Sebagai regulator, guru memainkan peran menyiapkan pedoman, perangkat aturan akademik di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, mengatur lalulintas diskusi atau pembicaraan agar berlangsung tertib, menjadi arbiter, advokat, negosiator dan mediator  berbagai permasalahan peserta didik.

d.Sebagai dinamisator

Secara harafiah kata dinamisator diartikan sebagai yang menimbulkan (menjadikan) dinamika; hal atau benda yang menyebabkan timbulnya tenaga untuk selalu bergerak. Realitas membuktikan bahwa peserta didik tidak selaku bertumbuh dan berkembang secara linier. Mereka kebanyakan dilanda berbagai persoalan. Kondisi demikian membuat mereka kadang-kadang putus asa, stres, dan teralienasi. Pembelajaran tidak dapat berlangsung dengan target daya serap yang tinggi ketika peserta didik dilanda berbagai persoalan seperti disebutkan.Sebagai dinamisator, guru berperan memberi harapan, menimbulkan semangat, dan membangkitkan tenaga.

e.Sebagai animator

Animasi berasal dari perkataan Latin anima yang berarti jiwa, hidup, semangat. Menurut Fernandes (2002) animasi adalah sebuah proses merekam dan memainkan kembali serangkaian gambar statis untuk mendapatkan sebuah ilusi pergerakan. Berdasarkan arti harafiah; animasi adalah menghidupkan, yaitu usaha untuk menggerakan sesuatu yang tidak bisa bergerak sendiri. Sebagai animator, guru berperan memberi kasih sayang dan kelemahlembutan, membangun harga diri, rasa percaya diri, komitmen peserta didik pada belajar, menghargai aksi dan kreasi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi dan bakat-bakat mereka.

Baca juga : Teori Motivasi Kerja

Aplikasi Teori Motivasi dalam Pembelajaran

Guru dalam kegiatan pembelajaran dapat menggunakan teori motivasi untuk  memotivasi dan meningkatkan daya serap peserta didik dalam belajar. Berikut telaah teori dan contoh aplikasinya dalam pembelajaran.

a. Menyampaikan tujuan pembelajaran

Menyampaikan tujuan pembelajaran, menjadi salah satu protokol dari proses pembelajaran yang dilakukan guru. Menyampaikan tujuan pembelajaran dimaksudkan agar peserta didik mengetahui sasaran apa yang akan mereka capai setelah akhir pembelajaran. Dasar teori dari penyampaian tujuan pembelajaran adalah teori penetapan sasaran yang mengatakan bahwa sasaran khusus meningkatkan kinerja; sasaran sulit bila diterima baik, menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dari pada sasaran mudah.

Teori berikut, yakni teori pengharapan yang berargumen bahwa kekuatan dan kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu bergantung pada kekuatan pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh output tertentu dan bergantung pada daya tarik output itu bagi individu tersebut. Sandaran terakhir adalah teori penguatan (reinforcement theory) yang berpandangan bahwa sasaran menjadi fokus individu mengarahkan tindakannya. Teori penguatan, merupakan pendekatan perilaku (behavioristik). Pendekatan behavioristik berpandangan bahwa penguatanlah yang memperkuat perilaku. Dalam konteks itu penyampaian tujuan pembelajaran akan memotivasi peserta didik untuk belajar.

b. Melakukan evaluasi dan menyampaikan hasil

Teori pengharapan berargumen bahwa kekuatan dan kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu bergantung pada kekuatan pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh output tertentu dan bergantung pada daya tarik output itu bagi individu tersebut.Dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan mengatakan bahwa karyawan dimotivasi untuk melakukan upaya yang lebih keras bila ia meyakini upaya itu menghasilkan penilaian kinerja yang baik. Penilaian yang baik akan mendorong imbalan dalam berbagai bentuk sehingga memenuhi sasaran pribadi karyawan itu. Guru dapat mengaplikasi teori pengharapan dalam pembelajaran dengan memberi evaluasi dan mengumumkan hasil pekerjaan. Evaluasi dan pengumuman hasil akan mendorong peserta didik untuk belajar keras karena di sana mereka dapat menilai kemampuan diri sendiri dan membandingkan dengan teman lain. Evaluasi dan pengumuman hasil, juga sekaligus akan memberi mereka harga diri dan kepuasan psikologis sebagaimana digambarkan pada teori hirarki kebutuhan Maslow dan Teori ERG.

c. Memberi insentif dan disinsentif

Insentif mendapatkan landasan akademik pada teori pengharapan, teori penguatan dan teori Y serta teori ERG.  Teori pengharapan mengatakan bahwa penilaian yang baik akan mendorong imbalan organisasi seperti bonus, kenaikan gaji atau promosi dan imbalan; itu akan memenuhi sasaran pribadi karyawan. Teori berikut adalah teori penguatan (reinforcement theory) yang berpandangan bahwa  penguatanlah yang memperkuat perilaku. Akhirnya, teori Y dan ERG yang menghargai otonomi manusia dalam berkarya, bahwa kerja adalah sesuatu yang alami. Motivasi orang untuk bekerja semata-mata bukan karena uang, namun sebaliknya pada kepuasan psikologis sebagaimana dikonstruksikan dalam teori ERG khususnya kelompok kebutuhan ketiga, yakni  pertumbuhan (growth), yakni hasrat intrinsik untuk perkembangan pribadi  yang mencakup komponen intrinsik dari kategori penghargaan Maslow dan karakteristik-karakteristik yang tercakup pada aktualisasi diri.

Guru dalam pembelajaran dapat menerapkan teori di atas ini dengan memberi insentif kepada peserta didik berupa pujian, hadiah dan penghargaan dalam wujud material atau non material, mendorong peserta didik untuk mencapai prestasi maksimal.

Disinsentif  diberikan kepada peserta didik  yang memperlihatkan perilaku menyimpang berupa penundaan hadiah, sangsi dan peryataan tegas dan mendidik atas pelanggaran disiplin, aturan dan sebagainya. Disinsentif mendapatkan landasan akademik pada teori X yang berpandangan bahwa  manusia umumnya  tidak menyukai kerja dan mencoba menghindarinya, maka harus dipaksa, diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai sasaran.

e. Melakukan kompetisi

Kompetisi adalah suatu ciri khas dari setiap manusia. Untuk mencapai kemajuan dan kinerja yang optimum, kompetisi menjadi penting. Kompetisi perlu dilakukan di sekolah. Ada berbagai kompetisi mulai dari olahraga dan seni hingga kompetisi yang sifatnya akademik. Kompetisi akademik bisa berupa debat, cerdas cermat, lomba karya tulis ilmiah dan sebagainya. Kompetisi di sekolah mendapatkan landasan akademik pada teori motivasi sosial McClelland terutama kebutuhan berprestasi, yakni dorongan untuk unggul, untuk berprestasi berdasarkan seperangkat standar, untuk berusaha keras supaya sukses. Melakukan kompetisi juga didukung oleh teori hirarki kebutuhan dan teori ERG serta teori pengharapan.

Di samping teori dua faktor dari Herszberg yang menyarankan para manajer bahwa jika mereka ingin memotivasi orang pada pekerjaannya, ... penekanan lebih diberikan pada hal-hal yang berhubungan dengan kerja itu sendiri atau hasil langsung yang diakibatkannya seperti peluang promosi, peluang pertumbuhan personal, pengakuan, tanggung jawab dan prestasi. Inilah karakteristik yang dianggap sebagai hal yang menguntungkan secara intrinsik. Dalam konteks teori di atas, guru dapat melakukan berbagai kompetisi yang diikuti peserta didik. Hal ini dikarenakan, setiap orang yang akan berusaha dan tertantang untuk memperlihatkan keunggulan masing-masing. Setiap peserta didik ingin memperlihatkan standar prestasi yang tinggi dan ingin meraih hadiah. Kompetisi dengan demikian, memotivasi peserta didik untuk belajar, berlatih dengan lebih giat.

f. Memberi tugas dan umpan balik

Dalam aktivitas pembelajaran, pemberian tugas dan umpan balik akan melengkapi pembelajaran di kelas sehingga peserta didik memiliki pemahaman yang paripurna terhadap bahan yang diajarkan. Pemberian tugas menghindari peserta didik dari penggunaan waktu senggang untuk aktivitas yang tidak mendidik. Pemberian tugas yang baik dan bermakna bagi perkembangan peserta didik perlu diikuti dengan kesedaiaan guru memberi umpan balik. Dengan umpan balik, peserta didik mendapatkan apresiasi atas apa yang dilakukan dan mendapatkan balikan terhadap tugas yang dilakukan sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan revisi dan perbaikan.

Memberi tugas dan umpan balik mendapatkan sandaran akademik pada teori penetapan sasaran yang mengasumsikan bahwa orang akan melakukan tugas dengan baik, bila mereka menerima umpan balik. Umpan balik, membantu mengidentifikasi penyimpangan antara apa yang telah mereka kerjakan dan target kinerja yang diharapkan guru.Umpan balik dengan demikian, bertindak memandu perilaku. Sejalan dengan teori di atas, maka dengan memberi tugas seperti Pekerjaan Rumah (PR), tugas proyek, survei terbimbing dan sebagainya, perlu ada umpan balik. Memberi tugas dan umpan balik dengan demikian, akan memotivasi peserta didik.

g. Membangkitkan rasa percaya diri

Rasa percaya diri dicapai peserta didik melalui pengakuan dan penghargaan atas prestasi yang mereka capai. Rasa percaya diri mendapatkan pendarasan akademik pada teori hirarki kebutuhan Maslow, teori ERG, teori kebutuhan McClelland dan teori dua faktor oleh Herszberg sebagaimana telah dihambarkan di atas. Maka, tugas guru adalah menelaah potensi peserta didik, mengaktualisasikan potensi tersebut melalui pemberian tugas, pemberian nilai, penguatan, dan hadiah. Semua ini bila dilakukan akan memberi rasa percaya diri dan memotivasi mereka dalam belajar. (Patris Rahabav: 2015)

Guru yang Memotivasi Peserta Didik dalam Belajar

Lupa dalam Belajar Menurut Ilmu Psikologi

Lupa menjadi gejala umum yang menimpa setiap individu. Sering terdengar ungkapan: lupa bilang, lupa bawa, lupa baca, lupa makan, lupa nama, lupa alamat dan seterusnya. Bagi pelajar dan mahasiswa, lupa menjadi hal yang amat serius karena berpengaruh terhadap daya serap mereka. Lupa dengan demikian, seringkali dipandang sebagai momok yang menakutkan. Hal ini nyata saat pelaksanaan ujian. Umumnya, guru sebagian besar masih dominan menggunakan tes obyektif. Tes demikian, sangat menekankan hafalan terutama untuk materi konsep, kaidah dan prinsip. Maka, saat ujian adalah saat yang amat menegangkan bagi peserta didik.

Pertanyaan yang patut dikedepankan adalah apakah suatu pengetahuan atau pengalaman belajar yang diperoleh di sekolah dengan gampang dilupakan atau hilang dari ingatan? Terhadap pertanyaan ini berdasarkan hasil penelitian psikologi dan pendidikan, apa yang telah dicamkan dan dimasukan dalam ingatan jangka panjang (long term memory) tetap akan tersimpan dan tidak secara serta merta hilang tanpa bekas.Seseorang yang menguasai Bahasa Inggeris dan tidak atau jarang menggunakan mungkin akan banyak kosakata yang ia lupa. Itu tidak berarti hilang sama sekali dari ingatannya. Ketika ia mempelajari kembali, maka dengan mudah kata-kata tersebut akan diingat. Ia akan menggunakan waktu yang relatif singkat untuk memahami kosakata Bahasa Inggeris, bila dibandingkan dengan waktu sebelumnya ketika ia baru mulai mempelajari Bahasa Inggeris.

Dalam konteks itu dibutuhkan penggalian kembali dari ingatan. Proses ini dikenal dengan istilah "evokasi", yaitu aktualisasi dari apa yang disimpan dalam ingatan yang diketahui pernah dicamkan atau diserap (fiksasi) di masa lampau. Sedangkan apa yang diserap saat fiksasi dan evokasi dikenal dengan fase penyimpanan (retensi), yakni apa yang telah diserap disimpan dalam ingatan sampai saat digali kembali (Winkel, 2005:503).

Berbagai literatur ilmiah yang mengungkapkan sebab-sebab lupa dapat diketegahkan disini. Pertama, Woodworth berpendapat bahwa gejala lupa disebabkan bekas-bekas ingatan yang tidak digunakan sehingga lama kelamaan terhapus seiring berjalannya waktu. Bekas ingatan menjadi kabur dan lama kelamaan hilang dengan sendirinya. Pandangan ini dikaitkan dengan proses fisiologis yang berlangsung dalam sel otak. Digambarkan bahwa ketika saat fiksasi, kesan-kesan yang dicamkan diterima dan ditanamkan dalam struktur fisik sel-sel otak. Dalam sel otak terus terjadi pertukaran zat. Maka, apabila suatu kesan ingatan tidak digunakan, dan tidak diperbaharui, sisa/bekas ingatan itu lambat laun akan terhapus.

Kedua, Pandangan yang mencari sebab lupa dari "Interferensi", yakni gangguan dari informasi yang baru masuk terhadap informasi yang telah tersimpan di situ, seolah-olah informasi lama digeser dan kemudian lebih sukar diingat. Ketiga, Pandangan yang lain merujuk pada suatu motif tertentu sehingga orang akhirnya melupakan sesuatu misalnya, kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan lebih mudah dilupakan daripada yang menyenangkan. Inilah kasus lupa yang bermotif.

Lupa dapat diatasi dengan beberapa cara: Pertama, membangkitkan motivasi belajar yang kuat pada peserta didik terutama motif intrinsiknya, menyadarkan mereka akan tujuan yang ingin dicapai dan manfaat materi untuk kehidupan mereka di masa depan dan mendorong mereka untuk penuh.Kedua, menyajikan materi dengan memperhatikan skop dan sequensinya sesuai hirarki prasyarat belajar sehingga mempermudah peserta didik mengkonstruksi dalam ingatannya sehingga terekam dalam memori jangka panjang (long term memory). Penggunaan peta konsep juga akan membantu.Ketiga, penggunaan strategi pembelajaran eksperiensial membantu peserta didik mengingat lebih baik karena mengalami langsung. Hal ini tentu berbeda dengan pendekatan dimana guru lebih dominan. Keempat, Menggunakan kunci-kunci yang tepat dalam penggalian kembali misalnya dengan menggunakan pertanyaan yang terarah, menggunakan akronim, simbol-simbol dan kode-kode khusus untuk mengingat konsep - konsep, prinsip-prinsip tertentu. Kelima, memperbanyak frekuensi dan intensitas ujian atau kompetisi. Hal ini akan memotivasi peserta didik untuk mengulang atau belajar sehingga ingatannya selalu disegarkan.

Lupa dalam Belajar Menurut Ilmu Psikologi

Transfer Belajar dalam Ilmu Psikologi
Tujuan setiap tahapan pembelajaran secara kognitif adalah agar peserta didik mampu memahami bahan yang telah dipelajari dan mengaplikasi ke situasi yang baru. Misalnya, seorang yang mempelajari tentang akuntansi dan mendapat nilai bagus tetapi tidak mampu mengaplikasikan dalam membuat pembukuan perusahan; seorang yang aktif mempelajari bahasa Inggeris, namun tidak mampu mengaplikasikan dalam percakapan; seorang calon guru yang memahami prosedur didaktis, akan tetapi tidak mampu mengajar dengan baik. Kasus-kasus di atas, terkait dengan masalah transfer belajar.

Istilah transfer belajar berasal dari perkataan bahasa Inggeris "transfer of learning" yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari di luar lingkup pendidikan di sekolah. Hasil studi yang dipindahkan dapat  berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, pengukuran kegiatan kognitif, keterampilan motorik dan sikap (Winkel, 2005:514). Transfer oleh Gentile (2000) terjadi ketika seseorang mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi baru.

Transfer belajar akan dihadapkan pada dua kutup yang antagonistis. Pertama, transfer positif. Transfer positif terjadi bila pengalihan atau pemindahan hasil belajar berperan positif, yakni menolong dan mempermudah individu menghadapi tugas belajar selanjutnya atau menunjang karier di masyarakat. Contoh seorang anak SD bisa cepat menyelesaikan soal perkalian karena sebelumnya ia telah mahir hitungan tambah-kurang. Seorang sarjana S1 lulusan fakultas seni, mampu membangkitkan antusiasme penonton, karena ia dapat membaca puisi dengan ritme dan laval yang mengagumkan. Pada contoh anak SD, ditekankan betapa pentingnya desain kurikulum dan bahan ajar yang memperhatikan dengan betul hirarki prasyarat belajar dan tingkat perkembangan anak. Pada contoh sarjana lulusan S1 Fakultas seni, sarjana tersebut ternyata tidak hanya menguasai bidang keilmuan secara akademik akan tetapi juga vocational.

Kedua, transfer negatif. Transfer negatif terjadi bila pengalihan atau pemindahan hasil belajar berperan sebaliknya, yakni tidak menolong dan mempermudah individu menghadapi tugas belajar selanjutnya atau tidak menunjang karier di masyarakat.  Contoh calistung menjadi prasyarat anak SD kelas permulaan bisa menguasai materi yang lebih sulit. Susi adalah salah satu murid SD yang tinggal kelas karena hampir semua nilai merah. Norman adalah lulusan akademi sekretaris dan bekerja pada satu instansi pemerintah, namun tidak mampu membuat konsep surat dinas.

Siswa SMU yang disiapkan dengan pendidikan dan disiplin yang keras, namun selalu melakukan perilaku menyimpang seperti: miras, nark0ba, berhubunga intim pranikah, tawuran dan perilaku dehumanisasi lainnya. Dua contoh kasus Susi dan Norman), menjelaskan bahwa ternyata tidak ada korelasi antara hasil belajar yang dikuasai individu dengan tugas belajar yang lebih tinggi dan performanya di dunia kerja. Contoh kasus ke 3 (siswa SMU), makin menegaskan bahwa transfer belajar yang baik, hanya dapat terjadi dalam kondisi dimana dua belahan otak baik otak kiri maupun otak kanan berperan dengan baik. Tanpa itu akan terjadi disparitas dalam perolehan belajar. 

Teori Transfer Belajar

Transfer belajar dapat didekati dari teori disiplin formal, teori elemen identik, dan teori generalisasi (Winkel, 2005:518-520).Pertama, teori disiplin formal. Teori ini bersandar pada pandangan aliran Psikologi Daya tentang pyche atau kejiwaan manusia. Psyche dipandang sebagai kumpulan sejumlah bagian atau aneka daya yang berdiri sendiri seperti daya pikir, daya mengingat, daya berkemauan, daya merasa dan sebagainya. Masing-masing daya dapat dikembangkan dan diperkuat sendiri-sendiri melalui program latihan yang sesuai... para ahli pendidikan berpendapat bahwa sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan daya mental siswa dikembangkan dan diperkuat. Dalam konteks itu perlu disajikan aneka bidang studi tertentu yang sulit namun cocok untuk melatih daya mental tertentu; daya mental itu didisiplinkan melalui pendidikan formal.

Dalam perjalanan, Psikologi Daya tidak lagi diakui para ahli psikologi terutama setelah William James dan Edward Thorndike membuktikan secara eksperimental bahwa suatu daya mental, tidak diperkuat melalui materi pelajaran yang sukar sebagaimana digambarkan dalam teori disiplin formal. William James membuktikan hal serupa bahwa menghafal puisi karangan Victor Hugo, tidak akan menghasilkan suatu daya mengingat yang serba kuat ... dan menjadi dasar untuk kemudian menghafal bahan apa saja. Edward Thorndike menemukan bahwa prestasi tinggi dalam bidang hahasa Latin, tidak akan lebih meningkatkan taraf inteligensi bila dibandingkan dengan bidang-bidang studi lain.

Kedua, teori elemen identik. Pandangan ini dipelopori oleh Edward Thorndike yang berpendapat bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi lain atau dari bidang studi di sekolah ke kehidupan sehari-hari terjadi berdasarkan adanya unsur-unsur yang sama antara dua bidang studi itu atau antara bidang studi di sekolah dan kehidupan sehari-hari.Makin banyak unsur yang sama, makin banyak terjadi transfer belajar.

Ketiga, Teori generalisasi. Pandangan ini dipelopori oleh Charles Judd yang berpendapat bahwa transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan prinsip-prinsip umum. Apabila seorang siswa mampu mengembangkan konsep, kaidah, prinsip dan variasi siasat untuk memecahkan persoalan, siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain di luar bidang studi dimana konsep, kaidah, prinsip dan variasi siasat mula-mula diperoleh. Siswa mampu mengadakan generalisasi, yaitu menangkap ciri-ciri atau maksud umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus.Generalisasi terjadi bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip (kemahiran intelektual) dan aneka siasat memecahkan problem atau masalah (pengaturan kegiatan kognitif). (Patris Rahabav: 2015)

Transfer Belajar dalam Ilmu Psikologi

Pengertian Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan diri manusia secara menyeluruh. Proses perubahan ini terjadi karena manusia melakukan adaptasi dengan lingkungan lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan lingkungan pendidikan. Belajar bersifat umum, bukan saja melalui kegiatan formal seperti di sekolah atau tempat perkualiahan. Agar lebih jelas berikut ini teori dasar belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Pengertian Belajar

Aksentuasi belajar selalu terarah pada perubahan perilaku, namun tidak semua perubahan dicapai sebagai hasil belajar. Sekedar contoh: Susi adalah balita usia 4 bulan yang tiba-tiba bisa tengkurap, dapat memegang benda dengan keras dan dapat memukul anggota badannya. Amin seorang atlet lari 100 meter. Pada saat latihan bersama dengan teman-temanya, Amin belum memperlihatkan kemampuan maksimal. Pelatih selalu meyakinkan Amin bahwa dia bisa berprestasi lebih dari itu. Motivasi pelatih diapresiasi Amin dengan meminum obat perangsang. Keesokan  harinya ketika kompetisi dimulai, Amin ternyata mampu menggungguli teman-temannya dengan menempatkan diri sebagai pelari tecepat.

Dua contoh kasus di atas, bukan merupakan peristiwa belajar. Apa yang dicapai oleh balita Susi semata-mata karena kematangan dan yang dicapai Amin adalah karena pengaruh obat perangsang (obat kuat).

Belajar oleh Singer (1980) adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam penampilan atau potensi perilaku yang disebabkan latihan atau pengalaman masa lalu dalam situasi tertentu. Kimble dalam Hergenhahn dan Olson (1993) mencoba mendefinisikan belajar sebagai “a relatively permanen change in behavioral potentiality that occurs as a result of reinforced practice.” Selanjutnya menurut Patris Rahabav (2000) belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen yang diperoleh individu lewat interaksi dengan lingkungan sosial dan budaya serta diperkuat oleh latihan yang kontinue dan pengalaman.  Berdasarkan ilustrasi dan pengertian di atas, dapatlah dikatakan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan perilaku pada individu yang relatif tetap. Perubahan mana diperoleh berkat latihan terus menerus yang memberi dia pengalaman. Maka, seseorang dikatakan telah belajar bila ia mengalami transformasi dari tidak tahu menjadi tahu; dari tidak menguasai sesuatu menjadi menguasai. Perubahan seperti disebutkan adalah diperolehnya pengetahuan dan pengalaman baru yang cenderung menetap. Perubahan tersebut diperoleh lewat suatu proses yang kontinue,  terjadi karena usaha atau kerja keras dan bukan karena tiba-tiba atau suatu kebetulan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Output belajar terjadi sebagai akibat dari empat variabel, yakni Raw input, Environmerntal, instrumental in input, dan process. Keempat variabel tersebut secara simultan mempengaruhi output sebuah institusi pendidikan.

Variabel Raw input, adalah masukan mentah. Masukan mentah yang dimaksudkan adalah peserta didik yang diterima institusi pendidikan. Sebagai peserta didik yang diterima umumnya sangat multikukltural. Mereka datang dari latar belakang sosial ekonomi, budaya, agama, kemampuan intelegensi, minat, motivasi dan karakter yang berbeda. Sebagai raw input, peserta didik  yang diterima telah memiliki potensi kecerdasan yang memadai dan sekolah tinggal meningkatkan. Ada yang perkembangan belajarnya cepat dan ada pula yang lamban dalam belajar. Ada peserta didik yang memilliki karakter atau kepribadian yang baik dan ada pula yang sebalknya. Ada peserta didik yang diterima melalui prosedur seleksi yang ketat dan ada pula yang tidak. Kondisi tersebut kadang-kadang menjadi persoalan tersendiri bagi guru dan kepala sekolah. Berbagai keunikan kepribadian seperti disebutkan bila tidak diketahui dengan pasti oleh guru dan kepala sekolah, kemungkinan besar sulit meningkatkan kemampuan belajar mereka.

Variabel Environmental adalah masukan lingkungan. Masukan lingkungan yang dimaksud sifatnya mutidimensional. Masukan lingkungan kontribusinya sngat besar terhadap proses pendidikan peserta didik untuk keluar sebagai output yang andal. Adapun  masukan lingkungan disingkat dengan akronim IPOLEKSOSBUDHANKAM (Idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan).

Sebagai institusi pendidikan, sekolah dalam mengemban misinya bersentuhan langsung dengan pengaruh Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM). Pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik bersentuhan langsung dengan persoalan ideologi negara. Pancasila sebagai dasar negara adalah sekaligus ideologi dan pandangan hidup bangsa. Maka, proses pembentukan karakter anak bangsa hendaklah senantiasa diarahkan pada upaya menjadikan pancasila sebagai norma tertinggi yang mengatur sikap dan perilaku bangsa yang berbeda dengan bangsa mana pun di dunia ini. Di samping Ideologi Pancasila, variabel Invironmental seperti: situasi politik, sosial ekonomi dan pertahanan keamanan menjadi hal; yang amat esensial untuk  diketahui, dianalisis dan dimasukan dalam berbagai kebijakan pendidikan. Hal tersebut amat penting karena bila terjadi instabilitas pada sektor-sektor seperti disebutkan, akan mempengaruhi seluruh proses pendidikan.

Variabel intrumental input atau masukan instrumental adalah berbagai komponen sistem di sekolah yang dapat digunakan untuk mengefektifkan pencapaian output. Masukan instrumental mencakup:, kurikulum, bahan ajar, sarana pra sarana, kompetensi guru, tatalaksana, manajemen sekolah dan sebagainya. Semua komponen tersebut perlu disinergikan dan dikelola dengan baik agar menunjang proses pendidikan. Ketidakmampuan dalam memanfaatkan dan mendayagunakan masukan instrumental tersebut akan berdampak buruk bagi pencapaian output yang unggul dan memiliki daya saing.

Variabel Process adalah persoalan yang berhubungan langsung dengan bagaimana belajar itu berlangsung dan prinsip-prinsip apa yang mesti dijadikan acuan agar peserta didik terangsang untuk belajar. Persoalan ini merupakan bidang kajian dari psikologi pendidikan dan psikogi belajar.

Belajar hanya dapat berlangsung dalam suatu kondisi yang bebas dari tekanan. Guru memegang peran sentral menstimulasi peserta didik untuk belajar melalui penciptaan sebuah lingkungan yang kondusif sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Penciptaan lingkungan yang dimaksudkan adalah baik lingkungan fisik maupun psikologis. Penciptaan lingkungan fisik berupa penyediaan ruang dan peralatan, lingkungan belajar yang memberi suasana aman bagi peserta didik dalam belajar. Sedangkan penciptaan lingkungan psikologis terkait dengan kemampuan guru merealisasikan berbagai potensi bawaan yang telah dimiliki peserta didik berupa minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif.

Sebagai guru yang baik, diharapkan mampu memberi sentuhan-sentuhan emosional kepada peserta didik sehingga mereka termotivasi untuk belajar. Pada tataran itu penting untuk diperhatikan guru juga, yakni masalah bahan atau hal yang harus dipelajari dan penggunaan strategi dan model pembelajaran yang sesuai.

Berkenaan dengan masalah bahan atau hal yang dipelajari peserta didik sudah barang tentu perlu diperhatikan guru karena pengalaman belajar peserta didik pada jenjang sekolah sebelumnya tentu berbeda. Sebagian peserta didik telah mencapai standar ketuntasan belajar dan sebagian belum. Sebagian sekolah  mencapai target kurikulum dan sebagian tidak.Hal tersebut dikarenakan soal ketidakseimbangan rasio guru dan peserta didik, kendala geografis, kalangkaan sarana prasarana, konflik, bencana alam dan sebagainya.

Dalam konteks itu dibutuhkan kecermatan  guru menganalisis pengalaman belajar peserta didik. Ketidakcermatan guru memilih bahan, membuat peserta didik sulit menyerap materi pelajaran pada tingkat yang lebih tinggi. Maka, guru perlu melakukan analisis dan deteksi dini terhadap daya serap peserta didik terutama mereka yang baru diterima. Penggunaan Test entry behaviour (tes potensi awal) akan membantu guru menyelesaikan persoalan seperti ini.

Selanjutnya, strategi dan model pembelajaran yang sifatnya instruktif dengan mengandalkan peran guru sebagai subyek sudah harus diganti dengan strategi dan model pembelajaran yang berbasis pada pengembangan kemampuan peserta didik secara mandiri. Guru pun diharapkan memperhatikan dengan betul kondisi fisiologis peserta didik. Hal ini dikarenakan kondisi fisiologis, sangat berpengaruh terhadap daya serap peserta didik.

Peserta didik yang sehat secara fisik, adalah mereka yang kondisi pancaindera terutama indera pendengaran dan penglihatannya baik. Peserta didik yang sehat, akan memiliki kemampuan belajar dan daya serap yang lebih baik bila dibandingkan dengan peserta didik yang tidak memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang baik. Demikian juga peserta didik yang memiliki keterbelakangan mental, cenderung akan memiliki pemahaman yang kurang baik bila dibandingkan dengan  mereka yang tidak memiliki keterbelakangan mental. (Patris Rahabav: 2015)

Pengertian Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Strategi pembelajaran ekspositori sama saja dengan metode ceramah dalam proses belajar mengajar. Guru secara verbal akan menyampaikan kepada siswa tentang suatu materi pelajaran. Selain strategi ini masih banyak strategi dan model pembelajaran lain, seperti model pembelajaran kooperatif dan model pembelajaran berbasis masalah.

Konsep pembelajaran ekspositori hanya terfokus kepada guru sebagai subjek pendidik sedangkan siswa hanayalah objek yang siap menerima pelajaran. Lebih detail tentang strategi pembelajaran ekspositori adalah sebagai berikut.

Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)
pixabay.com


Konsep dan Prinsip Penggunaan Strategi Pembelaran Ekspositori


Strategi pembelajaran ekpositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal diri seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen (1998) menamakan ekspositori ini dengan istilah strategi pembelajaran langsung. (direct instruction). Mengapa demikian? Karena dalam strategi ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak di tuntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan istilah strategi “clalk and talk”.

Terdapat beberapa karakterstik strategi ekspositori yaitu antara lain:

a) Strategi ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini. Oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.

b) Biasanya materi pelajaran yang di sampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.

c) Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembalai materi yang telah di uraikan.

Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang beroreantasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini guru mennyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang di sampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama strategi pembelajaran ini adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa.

Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelaran ekspositori


Tidak ada satu strategi pembelajaran yang di anggap lebih baik di bandingkan denagan strategi pemabalajaran yang lain. Baik tidaknya suatu strategi pembelajaran bisa dilihat dari  efektiv tidaknya strategi tersebut dalam menyampai tujuan pembelajaran yang telah di tenetukan. Dengan demikian, pertimbangan pertama pengguanaan strategi pembelajaran adalah tujuan apa yang harus di capai.
Dalam penggunaan strategi pembelajaran ekspositori terdapat bebeapa prinsip yang harus diperhatikan  oleh setiap guru.setiap prinsip tersebut dijelaskan dibawah ini.

a) Berorientasi pada tujuan

Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam strategi pembelajaran ekspositori melalui model pembelajaran ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran; justru tujuan itulah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam penggunaan strategi ini. Kerena itu sebelum strategi ini diterapkan terlebih dahulu, guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur. Seperti karena ia umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diukur atau beroreantasi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini  sangat penting untuk dipahami, karena tujuan spesivik memungkinkan kita bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran.

b) Prinsip komunikasi

Proses pembelajaran dapat di katakan sebagai proses komunikasi, yang menimbulkan pada proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan). Pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah materi pelajaran yang diorganisir dan disusun sesuai dengan tujuan tertentu yang ingin di capai. Dalam proses komunikasi, guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi sebagai penerima pesan.

c) Prinsip kesiapan

Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hukum belajar. Inti dari hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merespons dengan cepat dari setiap stimulus manakalah dalam dirinya sudah memiliki kesiapan; sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespons setaip stimulus yang muncul manakalah dalam dirinya belum memiliki kesiapan. Yang dapat kita tarik dari hukum belajar ini adalah, agar siswa dapat menerima informasi sebagai stimulus yang kita berikan, terlebih dahulu kita harus memposisikan mereka dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran.

d) Prinsip berkelanjutan

Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. Ekspositori yang berhasil adalalah manakalah melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidak seimbangan (disequilibrium), sehingga mendorong mereka untuk menncari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.
Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran adalah salah faktor yang dapat mempengaruhui dalam proses belajar mengajar, karena tanpa adanya prinsip yang di gunakan dalam strategi pembelajaran ini, akan menjadi penghambat dalam proses penyampaian tujuan.

Prinsip berkelanjutan yang dimaksud diatas adalah memberikan motivasi kepada siswa agar peserta didik mau belajar kembali tentang meteri yang di ajarkan oleh guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia  tidak berusaha mengerahkan segala kemampuannya.

Prosedur pelaksanaan strategi


Sebelum diuraikan tahapan penggunaan strategi ekspositori terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ini.

a) Rumusan Tujuan yang ingin dicapai

Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang beroreantasi kepada hasil belajar. Tujuan yang spesifik, seperti yang telah dijelaskan diatas, dapat memperjelas kepada arah yang ingin dicapai. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektifitas dan efisiensi penggunaan strategi ini.

b) Kuasai materi pelajaran yang ingin dicapai

Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi skspositoris. Pengguasaan materi yang sempurnaan, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan mudah akan mengelolah kelas; ia akan bebas  bergerak; berani menatap siswa; tidak takut dengan prilaku-prilaku siswa yang dapat mengganggu jalanya proses pembelajaran; dan lain sebagainya.

c) Kenali Medan dan Berbagai Hal yang dapat mempengaruhui  proses penyampain

Mengenali lapangan atau medan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran. Beberapa hal yang  dengan medan yang harus dikenali diantaranya, pertama, latar belakang audiens atau siswa yang akan menerima materi, kedua, kondisi ruangan, baik menyangkut luas dan besarnya ruangan , pencahayaan, posisi tempat duduk, maupum kelengkapan ruangan itu sendiri.

Jadi prosedur pelaksanaan strategi pembelajaran ini tidak terlepas dari seorang guru yang berprofesional dalam proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, sehingga bisa di jadikan sebagai landasan dalam mengukur tingkat pemahaman siswa dalam penerapan strategi pembelajaran ekspositori. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kemampuan merancanng dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa termasuk didalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektivitas pembelajaran berlangsung

Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:

1) Persiapan (Preparition)

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan.

Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah, mengajak siswa keluar dari kondisi yang mental yang pasif. Membangkitkan motivasi dan minat untuk belajar. Merangsang dan menggunggah rasa ingin tahu siswa. Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan diantaranya adalah:

a) Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif memberikan sugesti yang positif akan dapat membangkitkan kekuatan pada siswa untuk menembus rintangan dalam belajar. Sebaliknya, sugesti yang negatif dapat mematikan semangat belajar siswa.

b) Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai. Menemukakan tujuan sangat penting artinya dalam setiap proses pembelajaran. Dengan mengemukakan tujuan siswa akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa kemana mereka. Dengan demikian, tujuan merupakan “pengikat” baik bagi guru maupun bagi siswa.

c)  Bukalah file dalam otak siswa. Cobalah anda bayangkan, seandainya seorang guru menyampaikan materi pelajaran yang sama sekali asing bagi anda, artinya materi itu sama sekali materi yang belum anda kenal.

Jadi dalam penerapan strategi pembelajaran ini, guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam persiapan sebelum proses belajar mengajar berlangsung. Oleh sebab itu merumuskan tujuan yang merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan oleh guru.

2) Penyajian (Predentation)

Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam menyajikan ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah di tangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu antara lain:

a) Penggunaan bahasa. Pengguanaan bahasa merupakan aspek yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan presentasi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa. Pertama, bahasa yang digunakan sebaiknya bahasa yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami. Kedua, dalam pengguanaan bahasa  guru harus memperhatikan tingkat perkembangan audiens atau siswa.

b) Intonasi suara. Intonasi suara adalah pengaturan suara sesuai dengan pesan yang ingin di sampaikan.

c) Menjaga kontak dengan siswa. Dalam proses penyajian materi pelajaran, kontak mata (eye contact) merupakan hal yang sangat penting untuk membuat siswa tetap memperhatikan pelajaran.

d) Menggunakan joke-joke yang menyegarkan. Menggunakan joke adalah kemampuan guru untuk menjaga agar kelas tetap hidup dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu

3) korelasi (correlation)

langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalama siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengathuan yang dimilikinya.

4) Menyimpulkan (genelazation)

Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan.

5) Mengaplikasikan (application)

Langkah aplikasi adalah langkah untuk tujuan kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa.

Keunggulan dan kelemahan strategi


a. Keunggulan

Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi pembelejaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan strategi ini memiliki beberapa  keunggulan, diantaranya:

1) Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasaan metri pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengatahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

2) Strategi pembelejaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, semantara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.

3) Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kulia) tenteng suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi)

b. Kelemahan

1) Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik

2) Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.

3) Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.

4) Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, auntasiasme, motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan kemampuan mengelolah kelas.

5) Oleh karena gaya komunikasi strategi pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah (one way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.

Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)

Belajar merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia akan mengenal atau mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahui. Atau belajar merupakan proses yang dilakukan untuk menggali terus ilmu pengetahuan yang ada di alam raya ini. Lalu apa pengertian belajar menurut para ahli? Berikut uraian belajar menurut para ahli.

Pengertian Belajar Menurut Beberapa Ahli
pixabay.com


Pengertian Belajar Menurut Beberapa Ahli


“Pada hakekatnya belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri individu. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat dilihat dari berbagai bentuk perubahan pada segi pengetahuan, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan serta aspek-aspek lainya pada individu belajar sebagai anggota masyarakat (Syaiful Sangala, 2003).

Menurut teori Behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menujukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunyapun sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar (Asri Budiningsih, 2008: 20).

Dalam Syaiful Sangala (2003), belajar menurut Gagne adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Belajar menurut Morgan adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Sedangkan Henry E.Garret berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu, kemudian Lester D. Crow mengemukakan bahwa belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.

Menurut Thorndike belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan (Asri Budiningsih, 2008: 21).

Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dan latihan atau pengalaman (BSNP, 2007:4).

Menurut Syah (2009) belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-prubahan tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Hamalik (2009) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Chaplin (Syah 2009:65) membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama dikemukakan bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya yaitu belajar adalah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang telah dikatakan belajar apabila pada dirinya telah terjadi perubahan tingkah laku maupun telah memperoleh kecakapan, keterampilan dan sikap, yang semuanya diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialaminya.

Dalam kehidupan selalu terjadi proses pembelajaran, baik sengaja maupun tidak disengaja, disadari atau tidak disadari. Di dalam proses pembelajaran, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajar, dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap, dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi, agar proses itu berlangsung dengan efektif dan efisen.
Belajar itu senantisa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan  dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih bermakna kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya (Sardiman, 2010).

Ciri-ciri Perubahan Tingkah Laku dalam Belajar


Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah sebagai berikut:

1. Perubahan yang terjadi secara sadar; Ini berarti individu yang belajar akan menyadari dan merasakan terjadinya perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kebiasaannya berubah menjadi lebih baik.

2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional; Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung secara berkesinambungan artinya satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya yang akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif; Dalam perubahan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara; Perubahan terjadi karena proses belajar bersifat menetapkan atau permanent. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.

5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah; Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Dengan demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah ditetapkannya.

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku;  Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya (Hari Mulyadi (dalam Buchari Alma, 2009).

Tokoh humanis lain adalah Hubermas. Menurutnya belajar akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud di sini adalah lingkungan alam maupun lingkungan sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan pandangannya yang demikian, ia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu; 1) belajar teknis (technical learning), 2) belajar praktis (pratical learning), dan 3) belajar emansipatoris (emancipator learning). Masing-masing tipe memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) Belajar teknis (tehnical learning) Yang dimaksud belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu alam atau sains amat dipentingkan dalam belajar teknis.

b) Belajar praktis (pratical learning) Yang dimaksud belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan limgkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang disekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesama manusia. Untuk itu bidang-bidang ilmu yang berhubungan dengan sosiologi, komunikasi, psikologi, antrophologi dan semacamnya, amat diperlukan. Sungguhpun demikian, mereka percaya bahwa pemahaman dan keterampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentinga manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari kaitan atau relevansinya dengan kepentingan manusia.

c) Belajar emansipatoris (emansipatory learning) Lain halnya dengan belajar emansipatoris. Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseoarang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Dengan pengertian demikian maka dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi kultural tersebut. Untuk itu, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi (Asri Budiningsi, 2008).

Pengertian Belajar Menurut Beberapa Ahli

Belajar dan pembelajaran dari segi kata, kelihatannya agak sama, tetapi dari segi pemaknaan berbeda. Lalu apa pengertian belajar? dan apa pengertian pembelajaran?. Berikut ini ulasan pengertian belajar dan pengetian pembelajaran disertai dengan pendapat para ahli.

Pengertian Belajar


Pengertian Belajar dan Pengertian Pembelajaran
ilustrasi pixabay.com

Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa adalah sebagai subjek dan sobjek kegiatan pembelajaran. Karena itu, inti proses pembelajaran tidak lain adalah kegiatan belajar peserta didik dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tentu saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik siswa yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Proses pembelajaran secara aktif akan menyebabkan munculnya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku ini dapat diamati dan berlangsung dalam tenggang waktu tertentu, apakah jangka pendek atau jangka panjang. Bentuk perubahan tingkah laku ini , misalnya seorang siswa yang usahanya dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak mampu menjadi mampu mengerjakannya. Dengan pengertian seperti ini, seorang siswa dikatakan telah melakukan proses pembelajaran.

Dengan belajar siswa akan mengalami suatu perubahan menuju ke tingkat lebih tinggi. Untuk itu seseorang perlu memperhatikan tingkatan dan langkah pada saat proses pembelajaran. Dalam hal ini, proses belajar berlangsung secara berkesinambungan dan berulang-ulang selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran yang dimaksud di sini dapat mempelajari suatu materi pelajaran secara berulang-ulang dalam waktu yang sama atau materi yang sama dan masih berkaitan seperti pada waktu-waktu sebelumnya

Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Thorndike, dalam (C.Asri Budiningsih.2005:21) dalam belajar adalah proses intraksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan,atau gerakan/tindakan.

b. Kimble  Garmezi, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen , terjadi sebagai hasil dari pengalaman.

c. Sahabudin (2003: 86) mengemukakan pengertian belajar adalah merupakan suatu proses yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah  kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan penyesuaian diri terhadap situasi-situasi yang di hadapi dalam hidupnya.

d. Watson, bejalar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon harus berbentuk tingkah yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur.

Dari kelima definisi di atas, dapat diterangkan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Perubahan tingkah laku menurut Witherington meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi.

Sama halnya dengan belajar, menurut Syaiful B.D. dan Aswar Z, (2002:45). mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa didik , sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada siswa didik dalam melakukan proses belajar.

Pengertian Pembelajaran


Pengertian Belajar dan Pengertian Pembelajaran
ilustrasi pixabay.com

Pembelajaran didefinisikan sebagai usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses dalam siswa. Pembelajaran merupakan upaya terencana dalam membina pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa didik melalui interaksi dengan lingkungan belajarnya. Terdapat dua unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran secara formal, yaitu guru sebagai penyampai pesan dan siswa sebagai penerima. Oleh karena itu, guru dituntut agar dapat berperan sebagai organisator yang baik dan dapat memberi pembelajaran yang optimal.

Sudjana, S. (2005:8) Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya sistematik dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan belajar.

Menurut Arief S. Sadiman, dalam M.sobry Sutikno, (2005:27) pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.

Oemar Hamalik, (2003:57).Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran Manusia yang terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Sedangkan material yang terlibat meliputi buku-buku, papan tulis, atau berbagai media lainnya. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Dan prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktek, belajar, ujian dan sebagainya.

M. sobry Sutikno, (2005:39) Pembelajaran efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan.

Dari beberapa pendapat yang dikemukan oleh beberapa  ahli di atas  tentang pengertian pembelajaran maka bisa di simpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, sehingga perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran.

Pengertian Belajar dan Pengertian Pembelajaran