Coretanzone: Budaya

    Social Items

MALUKU is the largest archipelago province in Indonesia which stands east of NKRI. Maluku has been known since the colonial period with the typical spices of nutmeg and cloves are also plants that become staple food community Maluku sago. The Moluccas are rich in abundant natural wealth making Maluku has an incredible natural asset ranging from sea to land. The cultural arts, as well as the customs of the tradition, are also the main attraction for Maluku. The following traditions are the attraction of Maluku tourism which will be very unfortunate if you do not have time to enjoy it when you are on vacation in the land of Kings.

1. Eat Patita


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Eating Patita is a diligent tradition done within a year. Eating Patita is held to celebrate important days such as the celebration of Indonesian independence on every 17th of August, the anniversary of the city or district and others. Eating Patita is a tradition of eating with a group of people by serving Maluku typical foods such as smoked fish, sweet potato boiled, boiled cassava etc. Every family/household will cook Moluccan delicacies in large quantities later, the food will be taken to the patita eating location to be eaten together. Eating Patita is usually located in the open like a field, village streets and there is also in the building. The Patita table is the name of the place where food is placed. Usually, there is a table made of statues made of coconut leaves or banana leaves are arranged along the road/location as a base, there is also a wooden table that is covered with banana leaves as a table. This tradition aims to introduce a typical menu of Maluku also increase kinship and togetherness in community life.

2. Pukul Sapu (Hit a Broom of Palm Trees on The Body)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pukul Sapu is the next tradition. Pukul Sapu is a tradition conducted by the village community of Mamala a village located on the island of Ambon. This tradition is done every 7 Shawwal or a week after Idul Fitri, this tradition is done by the men. They are bare-chested with shorts and headbands. Before they do hit action they will be collected at the traditional house to attend a series of traditional events and ask the prayer to the ancestors to be blessed. Players of capsule brooms amounted to 10 to 15 people divided into 2 groups with different pants colors. They hold a broomstick made from the leaves of a palm tree with a length of about 1.5 meters with the diameter of the base 1-3 cm. They will start hitting each other until their bodies are wounded and swollen, but the players at the broom say that they never feel pain in their bodies, they just feel comfortable and amused when every stick of broom is banged onto their bodies.

3. Crazy Bamboo


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Crazy Bamboo is a Maluku community tradition that is closely related to mystical things. On the island of Ambon, traditional Crazy Bamboo shows can be found in the villages of Liang and Mamala villages. This tradition begins with the cutting of bamboo stems, not all bamboo stems can be used, the handler must perform a series of customs to ask permission to cut the bamboo stems in the bamboo forest. Bamboo is used in this tradition is bamboo with the strange segment, the bamboo length can reach 2.5 meters with a diameter of 8-10 cm. After getting bamboo, the things that must be provided are the peculiarities, mantras and the odd-numbered men as bamboo hawkers. The most important thing in this tradition is that all necessities must be odd. The bamboo-resistant men are usually well-built athletic with strong force, this is because they must be able to resist the bamboo that will wriggle very fiercely, they also wear only red or black shorts with a headband without wearing a shirt to cover the chest, but for certain reasons sometimes crazy bamboo players are required to wear closing clothes to cover the chest. Once all the preparations are ready, the attraction will begin. The handler will direct the spirit inside the bamboo while holding a container of incense while reciting a mantra. The spirit will rebuke and make the bamboo hawkers thrown here and there, but the bamboo retainers must be able to hold the bamboo until it can be soothed by the handler.

4. Tradition Of Timba Laor (Harvest Marine Worms)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Laor is the name for marine life-like worms (marine worms) that live composed. Usually, people will go to the beach at night to take this animal. These animals are eaten raw or fried. Raw laor is only mixed with vinegar and salt plus sliced onion, while the fried laor is certainly fried as usual. This tradition is done once a year when the laor appears at sea level. The time is about in March at the turn of the west season to east season (season transition).

5. Tradition Pela gandong (fraternal tradition)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pela Gandong is a tradition that has been embedded in every Maluku society and this tradition still survives until now. It is because of this tradition that Maluku is called Pela Gandong Country. Pela Gandong itself is a fraternity tradition of people who differ from each other, but has the same goal is to preserve togetherness and kinship. Pela gandong carried out to tie the kinship between two villages to bind kinship and live safely respect and respect each other Maluku people.

6. Festival of Enchantment Meti Kei


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Meti Kei is a tidal phenomenon that can reach five to six kilometers from the mainland (coast) to the sea. This phenomenon occurs in certain months of the year, which starts in the month of September until the month of October. The peak of this natural phenomenon is in October used by the people of Kei islands to create a festive celebration, called the Festival of Enchantment Meti Kei

Well, that's 6 traditions of the people of Maluku which until now still maintained and become an attraction for tourists who visit Maluku. Are you interested to see firsthand this tradition? #CometoMaluku

6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction

Tari Cakalele merupakan tarian tradisionil semacam tarian perang yang datang dari daerah Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria, tetapi ada pula beberapa penari wanita menjadi penari simpatisan. Tari Cakalele adalah salah satunya tarian tradisional yang cukuplah populer di Maluku dan Maluku Utara serta kerap dipertunjukkan di beberapa acara adat ataupun hiburan. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya dan promo pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan juga internasional

Berdasarkan pada beberapa sumber histori yang ada, Tari Cakalele ini dulunya datang dari kebiasaan orang-orang Maluku Utara. Ketika itu tarian ini djadikan sebagai tarian perang oleh prajurit-prajurit sebelum merek menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Tidak hanya itu tarian ini juga dijadikan sebagaia bagian dari upacara adat masyarakat Maluku Utara.

Tari cakalele ini lalu meluas ke beberapa daerah sekitarnya, karena bagian dari pengaruh kerajaan ketika itu. Tarian ini lalu diketahui di daerah lainnya seperti di daerah Maluku Tengah serta sebagian lokasi Sulawesi, diantaranya di Sulawesi Utara. Di kelompok orang-orang Minahasa, Cakalele dikenal juga serta berubah menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat saat ini, Tari Cakalele tak akan digunakan sebagi tarian perang, tetapi seringkali dipertunjukkan untuk acara yang berbentuk pertunjukan ataupun perayaan kebiasaan. Untuk orang-orang disana, Tari Cakalele dimaknai menjadi bentuk animo serta penghormatan orang-orang pada beberapa leluhur atau nenek moyang mereka. Diluar itu tarian ini dapat memvisualisasikan jiwa orang-orang Maluku yang pemberani serta kuat, hal itu dapat disaksikan dari pergerakan serta ekspresi beberapa penari waktu menarikan Tari Cakalele ini.

Tari Cakalele dimainkan oleh kira-kira 30 lelaki serta wanita. Beberapa penari lelaki kenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah serta kuning tua. Di ke-2 tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) disamping kanan serta tameng (salawaku) disamping kiri, mereka memakai topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Penari wanita memakai pakaian warna putih sambil menggenggam sapu tangan atau lenso di ke-2 tangannya. Beberapa penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan disertai musik beduk (tifa), suling, serta kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele dimaksud sebagai tari kebesaran, karena dipakai untuk penyambutan beberapa tamu agung seperti tokoh agama serta petinggi pemerintah yang bertandang ke bumi Maluku. Kelebihan tarian ini terdapat pada tiga kegunaan lambangnya. (1) Baju berwarna merah pada baju penari lelaki, melambangkan perasaan heroisme pada bumi Maluku, dan keberanian serta patriotisme orang Maluku waktu berada dalam perang. (2) Pedang pada tangan kanan melambangkan harga diri warga Maluku yang perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) serta teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian melambangkan pergerakan memprotes pada system pemerintahan yang dipandang tidak memihak pada warga masyarakat.

Tari Cakalele dalam perkembangannya sampai saat ini masih tetap selalu dilestarikan serta di kembangkan oleh orang-orang disana. Beragam kreasi serta macam juga kerap ditambahkan dalam pertunjukannya supaya menarik, tetapi tidak menghilangkan keunikan serta keaslian dari tarian itu. Tari Cakalele ini dapat masih tetap kerap dipertunjukkan di beberapa acara seperti penyambutan tamu, perayaan kebiasaan, serta acara kebiasaan yang lain. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya serta promo pariwisata.

Tari Cakalele, Tarian Perang dari Maluku

Provinsi - Sulawesi Selatan merupakan sebuah bagian dari pulau Sulawesi, menarik yang untuk dibicarakan. Bukan saja tentang keindahan alam pariwisatanya. Namun hal lain yang tak kalah indah yaitu tradisi dan budayanya.

Terdiri dari berbagai macam suku antara lain : Bugis, Makassar, Mandar, Toraja dan lain-lain, dengan bahasa deerah yang sama untuk masing-masing suku. Secara umum termasuk kategori kebudayaan masyarakat pantai. Hal ini ditandai adanya jalur perdagangan dalam bidang ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam.

Ada beberapa tradisi yang wajib Anda ketahui, bila berniat berkunjung ke tempat itu. Dan berikut rangkumanya.

1. Rumah Adat


Rumah adat daerah Sulawesi Selatan bermacam bentuk dan jenis, tergantung suku bangsa yang mendiami. Ini menjadi semacam identitas seperti rumah adat Tonkongan (rumah adat suku Toraja), yang berarti balai desa musyawarah. Menurut kepercayaan penduduk setempat, terdapat hubungan erat antara manusia bumi dengan hal itu. Oleh karenanya dalam pembangunannya harus memenuhi aturan tertentu dengan ajaran aluk todolo. Untuk suku Bugis dan Makassar memiliki kesamaan, keduanya memiliki tipe rumah panggung yang berkolong pada bagian bawahnya. Selain yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Misalnya : rumah adat attake (kabupaten Wajo), Bola soba ( daerah Soppeng), rumah adat Bajo (kabupatn Bone), rumah adat suku kajang (kabupaten Bulukumba), perkampungan nelayan Paloppo serta rumah terapung (Sekang)

2. Pakaian Adat


Sama seperti rumah adat yang berbeda. Untuk berbagai tingkatan usia, jenis kelamin, kedudukan atau jabatan pekerjaan, latar belakang sosial, dan upacara adat. Masing-masing mempunyai tata caranya sendiri-sendiri, serta berwarna-warni.

3. Tarian Tradisional Dan Alat Musik Yang Dipergunakan


Pada kategori tarian tradisional jenis alat musik yang mereka pergunakan juga berbeda. Mappedendang adalah jenis alat musik yang memakai lesung dan alu, ada di suku Bugis dan Makassar, Gowa ada : kancing, bacing, bulo, kaoppo, serta orkes Toriolo, yaitu sejenis orkes tempo dulu dari Makassar yang terdiri dari : biola, gendang, gong, rebana, katto-katto,dan kannong-kannong. Bulukumba dengan Basing-basing, Toraja : Passuling, Gendang dan lain-lain.

4. Kerajinan


Penghasil sutra di kabupaten Wajo, pembuat perahu Pinisi di Bulukumba, seni ukir dari Tana Toraja.

5. Upacara Tradisional 


Upacara adat suku Makassar, Bugis dan Toraja mengenal daur hidup dan umum. Seperti ritual masa kehamilan di suku Makassar dan Bugis. Toraja mengenal upacara adat kematian di mana pelaksanaannya menyesuaikan status sosial seseorang dalam masyarakat, yang pada intinya semua dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta.

6. Senjata Tradisional


Senjata tradisional mereka berupa : keris, dan badik.

7. Kuliner 


Untuk jenis kuliner bermacam-macam, misalnya : coto Makassar, sop konro, pisang epe, dan es palu butung, olahan ikan dan lain sebagainya.

8. Lagu Daerah


Pakerena, Peiwa, Tawa-tawa, To Mepare, Ammac Ciang dan yang paling melankolis adalah Anging Mammire, yang menceritakan rindu gadis pada seorang pria kekasihnya di tanah sebrang.

Bagiamana pendapat Anda tentang uraian singkat ini? Ternyata Indonesia kaya sekali budaya dan adat tradisi ya? Dan sudah menjadi kewajiban dan tanggung-jawab generasi bangsa untuk memeliharanya, bukan justru lari, mengilai budaya luar negeri yang terkadang tak sesuai norma bangsa kita sendiri.

Mengenal dari Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, Ada Legenda Lagu Romantisnya Loh!

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya
Batik adalah salah satu budaya Indonesia yang telah dinobatkan sebagai Masterpiece of the Oral and Ingtangible Heritage of Humanity atau warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO pada Oktober 2009 lalu. Walau berasal dari jawa, kini Batik telah dikenakan dikenakan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Mari membahas beberapa fakta untuk menguak asal-usul batik dan sejarahnya.

Berdasarkan sejarahnya, asal usul batik dimulai sejak abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, motif batik dilukiskan pada daun lotar dan dinding papan rumah adat Jawa. Pola atau motif batik, awalnya hanya didominasi oleh tanaman atau binatang. Para pengrajin batik juga masih sangat terbatas jumlahnya. Hal ini membuat batik dengan motif dibuat hanya sebagai wujud pelampiasan hasrat seni dan kegiatan yang dilakukan pengrajin batik untuk mengisi waktu luang.

Seiring dengan perkembangannya, batik mulai menarik perhatian pejabat kerajaan Majapahit. Para pengrajin batik mulai menciptakan motif baru, seperti motif-motif abstrak, motif candi, awan, wayang beber, dan lain sebagainya. Akibat perkembangannya yang pesat, penulisan batik pun mulai ditujukan pada media yang berbeda, yaitu kain. Batik yang berasal dari kata amba nitik mulai di aplikasikan pada kain putih atau kain-kain berwarna terang yang menjadi pilihan utama karena dianggap lebih tahan lama dan bisa digunakan untuk pemanfaatan yang lebih banyak.

Asal-usul batik ternyata berawal dari pewarna yang dibuat dari tumbuhan sekita seperti pohon mengkudu, soga, nila hingga kunyit. Juga penggunaan soda yang terbuat dari soda abu dan garamnya dari lumpur.

Ketenaran kain batik makin tercium oleh pembesar-pembesar kerajaan Majapahit, Demak, Mataram dan kerajaan lainnya. Khusus pada masyarakat islam dulu, motif batik dengan wujud binatang ditiadakan karena dianggap menyalahi syariat islam. Sehingga membuat bati dengan motif bunga, tumbuhan dan abstrak sangat diminati pemuka agama islam. Teknik pembuatan batik yang digunakan saat itu adalah batik tulis. Dan teknik tulis tersebut adalah satu-satunya teknik membatik yang digunakan saat itu.

Awalnya, kain berbatik hanya digunakan oleh kaum kerajaan karena keterbatasan produksi bati oleh pengrajin batik. Namun, lambat laun kain batik berkembang dan juga dipakai oleh rakyat biasa. Hal ini membuat batik kian beragam, mulai dari coraknya, warnanya, jenis kainnya tergantung dengan minat dan jiwa seni para pengrajin batik itu sendiri.

Nah, itu dia beberapa informasi dan fakta-fakta yang menguak asal ususl batik dan sejarahnya agar batik tetap terus diingat awal terciptanya. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, batik tidak hanya dikenal sebagai corak pada pakaian semata, batik juga terus berkembang dan di gunakan pada tas, sepatu, topi dan aksesoris lain membuat generasi muda tidak ragu untuk memakainya di berbagai kesempatan.

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi
Tanah Papua - merupakan tanah Indonesia yang berada di ujung timur. Walaupun demikian, tempat ini begitu banyak menyimpan budaya dan keunikan khas Papua. Bahkan tempat ini pun juga memiliki beragam pakaian, kesenian, dan makanan khas yang tak bisa Anda temukan di daerah lainnya. Selain itu, berbagai suku juga tinggal di Papua.

Salah satu kekhasan dari Papua adalah Koteka. Koteka merupakan suatu pakaian yang digunakan laki-laki di Papua untuk menutup kemaluannya. Penggunaan alat ini merupakan budaya asli penduduk di Pulau Papua. Koteka sendiri terbuat dari kulit labu air yaitu Lagenaria siceraria. Untuk bisa membuatnya, isi dan biji labu tua harus dikeluarkan terlebih dahulu. Setelah bersih, kemudian kulitnya dijemur hingga kering.

Jika dilihat secara harfiah, kata koteka ini berarti pakaian. Kata ini berasal dari bahasa salah satu suku yang ada di Paniai. Alat ini tak hanya dikenal dengan nama koteka, tetapi di sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Ukuran koteka biasanya disesuaikan dengan aktivitas penggunanya. Ukuran ini berbeda untuk setiap aktivitasnya. Baik itu saat bekerja, upacara, bahkan hanya untuk di rumah. Ada yang pendek dan juga panjang yang disertai dengan berbagai hiasan. Biasanya yang ukuran panjang ini digunakan untuk menghadiri upacara adat. Dan cara penggunaannya pun berbeda untuk setiap suku yang ada di Papua. Hal ini berbeda sekali dengan anggapan banyak orang bahwa ukuran koteka itu bergantung pada ukuran alat vital penggunanya. Setiap suku di Papua memikliki koteka yang berbeda-beda.  Orang Yali, lebih menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom biasanya memakai dua labu.

Seiring bertambahnya waktu, koteka semakin jarang digunakan. Hal ini terjadi karena pelarangan penggunaannya untuk ke sekolah maupun instansi resmi. Sejak 1950-an, para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai pengganti koteka. Pemerintah RI sejak 1960-an tengah berusaha untuk mengurangi penggunaan koteka di setiap daerah. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar. Pada akhirnya di tahun 1971, dikenal istilah operasi koteka. Operasi ini dilakukan bersamaan dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Namun, warga Papua malah banyak yang terserang penyakit kulit. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki sabun dan pakaian tersebut tidak pernah dicuci.

Keunikan koteka ini memang memberikan kesan yang khas untuk masyarakat di Papua. Namun, koteka juga tidak bisa digunakan secara terus-menerus setiap harinya. Karena hal ini masih sangat promitif dan jauh dari kesan modern. Pelarangan penggunaan koteka tersebut membuat warga Papua semakin mudah menerima perkembangan zaman yang semakin maju. Walaupun awalnya banyak yang tidak menanggapi pelarangan tersebut, namun pada akhirnya sedikit-demi sedikit masyarakat di Papua sudah beralih menggunakan pakaian yang semestinya.

Walaupun sudah tidak digunakan setiap harinya, alat ini juga memberikan banyak hal mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia. Khususnya di Papua. Koteka bukan hanya alat yang digunakan untuk menutupi kelamin laki-laki zaman dahulu, koteka juga merupakan asset budaya yang perlu dilestarikan. Maka tak heran jika dalam acara atau ritual upacara tertentu masyarakat masih menggunakan alat ini.

Nah, itulah tadi hal-hal seputar keunikan koteka. Koteka memang budaya tanah Papua yang perlu dilestarikan oleh masyarakatnya. Penggunaannya pun bisa beragam di setiap acaranya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Uniknya Tradisi Merarik Ala Suku Sasak
Suku Sasak - yang berada di Pulau Lombok ini memang tak hanya terkenal dengan kerajinan menenunnya yang telah mendunia. Berbagai adat dan budaya suku ini pun menjadi catatan penting bagi suku Sasak. Banyak budaya yang ada di sini yang kini mulai banyak ditinggalkan. Namun, untuk budaya pernikanan masih tetap dilestarikan.

Pernikahan merupakan suatu hubungan yang menandakan suatu kehidupan baru. Dimana dua orang yang tak saling bersama akan memulai kehidupan bersama untuk selamanya. Dalam hal ini, seseorang tak bisa sembarangan dalam mencari pasangan dan menikah. Terlebih lagi, ada banyak adat yang ada dalam perkawinan di setiap daerah. Seperti halnya yang ada dalam budaya Suku Sasak. Dalam suku ini ada istilah namanya merarik. Merarik merupakan suatu adat perkawinan orang Sasak dimana mempelai wanita dilarikan dulu ke rumah keluarga pihak laki laki terlebih dahulu. Kemudian akan ada utusan dari pihak laki-laki yang mengatakan bahwa anak perempuannya telah dilarikan oleh pengantin laki-laki. Utusan ini diutus dalam satu hingga tiga hari setelah penculikan.

Walaupun demikian, prosesi pernikahan ini tak berhenti hingga saat itu juga. Masih ada berbagai prosesi lainnya yang mengiringi tradisi Merarik. Prosesi-prosesi tersebut diantaranya adalah:

1. Besejati


Prosesi bersejati yaitu prosesi awal setelah terjadinya penculikan. Pada tahapan ini pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat untuk memberikan laporan kepada kepala desa ataupun keliang/kepala dusun setempat bahwa pengantin laki-laki ingin menikah. Dalam hal ini, kepala desa dimohon untuk menyetujui niat perkawinan tersebut dan melaporkan hal ini kepada pihak keluarga perempuan.

2. Selabar


Tujuan dari Selabar adalah untuk memberitahukan kepada pihak keluarga pengantin perempuan mengenai penculikan anaknya. Kabar ini pun dilanjutkan dengan pembicaraan adat istiadatnya berupa Pisuke. Pesuke adalah sejumlah uang atau barang yang diberikan secara sukarela dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Pemberian ini kemudian akan digunakan untuk biaya syukuran menikah.

3. Bait  Wali


Bait Wali adalah mengambil wali dari pihak perempuan. Wali ini bisa juga dilaksanakan langsung pada saat selabar ataupun dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan selabar. Bait wali dilakukan tergantung dari kesepakatan dua belah pihak. Dan kemudian dilaksanakan akad pernikahannya.

4. Sorong Serah


Pelaksanaan sorong serah ini bertujuan untuk memberikan pengumuman resmi acara perkawinan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Acara ini juga disertai dengan penyerahan berbagai peralatan mempelai dari pihak laki-laki atau yang biasa disebut ajen-ajen. Acara ini dilakukan beberapa saat sebelum arak-arakan pengantin tiba di rumah perempuan.

5. Nyongkolan


Dalam pelaksanaannya, prosesi ini dilakukan oleh pihak laki-laki bersama handan taulan untuk mengunjungi keluarga dari pihak perempuan.

Tradisi merarik ini begitu unik dan tak ada di daerah lain. Suku Sasak pun masih melestarikan tradisi ini hingga saat ini. Bahkan banyak juga masyarakat lain yang menyaksikan tradisi ini di Pulau Flores. Walaupun perkembangan zaman sudah semakin maju, berbagai tradisi leluhur masih saja dilestarikan. Tak heran jika kebudayaan ini semakin terkenal dan mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat suku Sasak.

Nah, itulah tadi beberapa hal mengenai keunikan tradisi merarai ala suku Sasak yang perlu Anda ketahui. Tradisi ini masih banyak dipakai oleh suku asli Pulau Flores. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat untuk Anda. Terima kasih telah menyimaknya.

Uniknya Tradisi Merarik Ala Suku Sasak

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat
Bagaimana cara anda menentukan pasangan hidup anda ke depan? Bagaimana cara anda merencanakan berhubungan atau kencan dengan seseorang? Dua pertanyaan ini paling mendasar mengingat saat ini di dalam masayarakat sudah terjadi pergaulan bebas yang tidak hanya terjadi pada kalangan muda-mudi tetapi kalangan tua juga terjadi hal yang sama.

Di dunia barat berpacaran umumnya berarti suatu periode yang panjang untuk mengenal seseorang melalui pertemuan yang sering, melihat ke mana tujuannya, mungkin hidup bersama dan, jika kedua belah pihak berpikiran sama, maka mungkin saja mereka menikah suatu saat nanti. Namun, bagi seorang Muslim yang belum menikah, untuk mencari pasangan bukan dengan cara yang demikian!

Islam tidak mengenal pacaran dengan model di atas, yang diajarkan ajaran agama Islam ialah berpacaran dalam menentukan pasangan berarti mengenal pasangan (taaruf) dengan jalan yang hikmah, yaitu menentukan batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilewati. Islam tidak mengajarkan untuk tinggal bersama pasangan sebelum menikah, Islam tidak mengajarkan untuk kencan berdua tanpa ada muhrim, hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori yang artinya "janganlah seorang lelaki berduaan (berkencan) dengan seorang wanita kecuali ada muhrimnya"

Islam tidak mengajarkan untuk seseorang melihat aurat pasangan taaruf/pacarnya (kecuali wajah dan tangan untuk wanita) sebelum menikah, ada beberapa pendapat mengatakan yang tidak boleh dilihat (aurat) bisa dilakukan oleh perantara yang terpercaya (misalnya: keluarga, sahabat, dan teman karib) yang dibolehkan (muhrim) dan juga sesama jenis, sehingga bisa mengetahui apakah calon pasangan mengalami cacat di bagian tubuh tertentu atau tidak. Hal ini boleh dilakukan mengingat menikah bukan tentang hidup satu atau dua hari tetapi menikah adalah pertemuan dua orang yang nantinya hidup sepanjang hayat, sehingga untuk menghindari perceraian perlu dilakukan hal-hal yang sifatnya intim tetapi dengan cara-cara yang Islami.

Saling Kenal Menganal


Sebagaimana kita ketahui bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki yang kita kenal dengan nama Adam dan seorang perempuan yang bernama Hawa. Dari kedua manusia pertama inilah kemudian lahir milyaran manusia yang ada di muka bumi, yang berbeda-beda. Allah tidak menciptakan satu manusia sama dengan manusia lainnya sekalipun itu kembar identik, yang lahir dari rahim yang satu. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbedaan sidik jari setiap orang yang berbeda-beda.

Kemudian dalam perkembangannya, manusia mengalami pemisahan-pemisahan, tinggal berpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain, melahirkan ras-ras yang berbeda, membentuk bangsanya masing-masing, kemudian membentuk sukunya dengan budayanya masing-masing dan kemudian membentuk kerajaan atau negara yang berbeda-beda. Hal ini memang sudah menjadi rencana Allah dengan tujuan agar manusia saling kenal mengenal, sebagaimana firmannya di dalam Al-Quran surat Al-Hujrat ayat 13, yang artinya "wahai manusia, sesungguhnya telah kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenal."

Ayat ini membuktikan bahwa, saling kenal mengenal itu sudah meruntuhkan batas-batas negara, warna kulit, dan kebudayaan. Dunia saat ini sudah dapat diakses hanya dengan sebuah perangkat gandget kecil di tangan, kita sudah bisa berkenalan dengan orang yang berada di luar daerah atau bahkan di luar negeri sekalipun. Berkenalan juga bisa diartikan sebagai hubungan diplomasi antar negara, hubungan pesahabatan antar negara, hubungan perdagangan antar negara, dan hubungan cinta dengan yang berbeda warga negara.

 Allah telah menjadikan manusia berbeda-beda dengan tujuan mulia, karena dengan perbedaan tadi dunia akan terlihat indah, coba bayangkan kalau di dunia ini hanya ada satu jenis manusia saja, atau satu budaya manusia saja, apakah tidak membosankan itu?

Budaya Pacaran dalam Arti Taaruf


Sejak awal penciptaan manusia (Adam dan Hawa) keduanya telah dibekali dengan rasa cinta, yang kemudian diturunkan kepada keturuanan selanjutnya yaitu kita saat ini. Sehingga rasa saling suka, rasa saling ingin memiliki, dan rasa ingin hidup bersama dengan berlainan jenis sudah menjadi fitrah manusia. Namun hal ini perlu dilatar belakangi dengan niat yang baik serta cara yang baik pula. Yaitu cara-cara yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Ada orang bilang; "dunia sudah modern tapi masih mempertahankan budaya Islam yang klasik, kuno namanya itu." Kalau kita melihat kenyataan yang terjadi dengan pernyataan ini maka lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab. Apa hasil dari pacaran ala barat yang katanya modern? Hilanya kehormatan, dan yang lebih parah lagi berapa banyak bayi-bayi yang tidak berdosa dibuang akibat perbuatan zina. Atau berapa banyak wanita muda yang melakukan aborsii? Mari kita jawab sendiri menggunakan rasio yang Allah telah berikan tentang faedah ajaran Islam yang katanya kuno itu.

Lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab

Lalu bagaimana berpacara sebenarnya?

Banyak kalangan Islam melarang untuk berpacaran, padalah kalau kita kembalikan kepada akar sejarah, pacaran tidak terjadi seperti yang ada dalam budaya masyarakat saat ini. Pacaran merupakan budaya melayu. Kata pacaran berasal dari nama daun inai atau daun pacar yang digunakan untuk merias tangan seorang wanita. Dalam budaya masyarakat melayu, jika ada seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan, maka laki-laki itu akan mengirimkan beberapa 'utusan' untuk berpantun di depan rumah wanita tersebut. Jika wanita itu dan keluarganya merespon dan menerima, maka kedua keluarga akan berkumpul dan membicarakan tentang ikatan yang akan terjadi kemudian ditandai dengan pemakaian inai (pacar air) di tangan kedua muda mudi ini. Inai ini fungsinya untuk menandai adanya hubungan keduanya.

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Setelah acara itu sang perempuan di kurung di dalam rumah oleh orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan tentang rumah tangga selam empat puluh hari atau lebih, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, atau yang biasanya ditandai dengan hilangnya inai di tangan perempuan. Dalam waktu yang telah ditentukan (biasanya hingga 3 bulan) sang lelaki tidak datang melamar maka, perempuan boleh memutuskan hubungan, namun jika sang lelaki datang melamar pujaan hatinya maka akan terjadi perjanjian suci berupa pernikahan. Dalam waktu menunggu tersebut kalian jangan kira mereka berpacaran seperti yang terjadi saat ini, mereka sangat terjaga hubungannya hingga pernikahan dilangsungkan.

Nah sekarang sudah jelaskan bahwa pacaran itu adalah menandai pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta dengan pacar air. Dalam hal ini jika kita tinjau dari segi Islam maka sudah terjadi proses taaruf di sini. Sehingga pacaran yang baik adalah yang dilakukan dengan adab dan etika sesuai dengan budaya masyarakat dan tuntunan ajaran agama, yaitu datang ke rumah kemudian saling kenal mengenal dan jika cocok, maka menikahlah setelah itu barulah memasuk babak pacaran yang lebih intim setelah menikah.

Hukum Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Perbedaan Tari Kecak dan Tari Barong Bali
Bali sebagai ikon wisata terkenal dari Indonesia tidak hanya terkenal dari keindahan alamnya saja, namun keagungan tradisi masyarakatnya jua menjadi daya tarik tersendiri yang banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali. Telah diketahui bahwa Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat, najasa dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali. Beberapa tari yang terkenal yaitu Tari Kecak dan Tari Barong.

Banyak orang yang salah menganggap sama kedua tarian ini akibat kostum dari penari yang hampir sama. Untuk mudah membedakannya, berikut adalah informasi mengenai perbedaan tari kecak dan tari barong yang akan di jelaskan secara rinci.

Tari Kecak diciptakan pertama kali pada tahun 1930. Umumnya pertunjukkan tari ini dilakukan oleh penari laki-laki yang duduk berbaris membentuk sebuah lingkaran dan menyerukan kata “cak” secara berulang-ulang dengan mengangkat kedua tangan. Pementasan Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Sementara Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan ini disimbolkan oleh Barong vs Rangda, yang mana keduanya ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Pada tarian ini Barong dilambangkan dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah lambang dari kejahatan. Tari Barong biasanya dipentaskan hanya oleh dua penari. Penari yang memerankan Barong memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan penari yang memerankan Rangda memakai topeng yang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing pada mulutnya.

Perbedaan tari kecak dan tari barong juga terletak pada jenis pertunjukannya, tari barong mengandung unsur-unsur komedi dan unsur-unsur mitologis yang membentuk seni pertunjukan. Unsur-unsur komedi ini biasanya diselipkan di tengah-tengah pertunjukan untuk memancing gelak tawa dari penonton. Seperti pada babak pembukaan, tokoh kera yang mendampingi Barong membuat gerakan-gerakan lucu yang disengaja atau menggigit telinga lawan mainnya yang bertujuan untuk mengundang tawa dari penonton. Tidak hanya itu, pada pertunjukkan Tari Barong juga seringkali diselingi dengan Tari Keris (Keris Dance), di mana masing-masing para penarinya menusukkan keris ke tubuhnya seperti pertunjukkan pertunjukan debus.

Berbeda dengan Tari Barong, Tari Kecak awalnya berasal dari ritual sanghyang. Tarian ini membuat penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh dari para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Perbedaan tari kecak dan tari barong lainnya terletak pada music pengiring tari. Berbeda dengan seni pertunjukkan lainnya, Tari Kecak tidak mengandalkan instrument alat music untuk mengiringi tarian, melankan paduan suara dari para penarinya yang mengeluarkan irama “cak” secara bersahut-sahutan hingga menghasilkan paduan yang sangat harmonis.

Perbedaan Tari Kecak dan Tari Barong Bali