Coretanzone: Budaya

    Social Items

10 Ritual Aneh dan Mengerikan Suku Aztec
Seratus tahun sebelum kejatuhannya, Kekaisaran Aztec mengalami perubahan yang luar biasa. Putra kaisar, Tlacaelel menyatakan bahwa, dewa perang, Huitzilopochtli, harus menjadi Dewa yang tertinggi dari semua dewa. Sejak saat itu, suku Aztec hidup untuk melayani dewa perang. Pengorbanan manusia menjadi bagian besar dari masyarakat Aztec, dengan ratusan ribu orang dikorbankan setiap tahun sebagai persembahan kepada para dewa.

Mereka Mengadakan Perang Hanya Untuk Mendapatkan "Pengorbanan Manusia"


Tugas ilahiyah masyarakat suku Aztec adalah memenuhi selera dan keinginan dewa-dewa mereka yang tak terpuaskan melalui pengorbanan manusia. Biasanya, suku Aztec menggunakan musuh yang telah mereka kalahkan dalam perang sebagai persembahan. Tetapi dengan begitu maka, terjadi begitu banyak peperangan yang harus dilawan dan ada begitu banyak musuh yang harus ditangkap. Mereka membutuhkan lebih banyak korban.

Suku Aztec membuat kesepakatan untuk menggunakan negara tetangga Tlaxcala sebagai ladang manusia. Kedua pasukan mengorganisir pertempuran hanya untuk menangkap tahanan untuk pengorbanan manusia. Hal itu sudah merupakan kesepakatan bersama oleh kedua belah pihak. Tentara yang kalah tidak akan menangis atau mengeluh tentang nasib mereka. Mereka mengerti bahwa ini adalah bagian dari tawar-menawar mereka, dan mereka akan membiarkan diri mereka dituntun menuju kematian.

Sebagian Orang Sukarelawan


Suatu kehormatan yang besar bagi yang berani menjadi korban manusia bagi para dewa. Bahkan, ketika Spanyol datang dan mencoba membebaskan tahanan Aztec, beberapa orang tahanan marah karena mereka diambil demi kehormatan dengan mati dalam keadaan yang diberkati dewa.

Bukan hanya prajurit musuh yang berakhir hidupnya di bawah pisau upacara. Penjahat juga akan dibawa ke altar dalam keadaan malu. Ada juga orang yang mendaftar dengan penuh semangat, menginginkan mati dengan terhormat untuk dewa-dewa yang mereka sembah. Dalam tradisi suku Aztek, seluruh pelacur bersedia mendaftar untuk dikorbankan kepada dewi cinta.

Selama musim kemarau, beberapa suku Aztec terpaksa menjual anak-anak mereka ke dalam perbudakan seharga 400 telinga jagung. Jika anak-anak tidak bekerja dengan baik, mereka bisa dijual lagi. Dan jika seorang budak dijual dua kali, mereka bisa menjadi hadiah bagi para dewa.

Festival Toxcatl


Selama bulan Toxcatl, seorang pria dipilih untuk kehormatan khusus berdasarkan penampilannya. Dia harus memiliki kulit yang halus, tubuhnya ramping dan rambutnya panjang dan lurus. Pada tahun berikutnya, pria ini akan diperlakukan seperti dewa.

Dia akan berpakaian seperti dewa Tezcatlipoca. Kulitnya akan dicat hitam, dan dia akan memakai mahkota bunga, penutup dada kerang, dan banyak perhiasan.

Pria itu akan diberi empat istri cantik untuk digauli sesuka hatinya. Dia hanya diminta berjalan-jalan di kota bermain seruling dan mencium bau bunga sehingga orang-orang dapat menghormatinya.

Ketika 12 bulan telah berlalu, dia akan berjalan menaiki tangga piramida besar, memecahkan serulingnya saat dia naik ke puncak. Ketika orang banyak menyaksikan sambil melakukan pemujaan, seorang pemuka agama akan membantunya berbaring di atas altar panjang yang terbuat dari batu. Kemudian mereka akan merobek hatinya keluar dari tubuhnya.

Setelah itu, mereka akan memilih Tezcatlipoca baru dan memulai dari awal lagi.

Ritual Pengorbanan


Biasanya seorang korban akan dibawa ke puncak piramida besar dan dibaringkan di atas batu yang sudah disiapkan untuk kurban. Seorang pemuka agama akan berdiri di depannya, memegang pedang yang terbuat dari kaca vulkanik. Pedang itu akan dijatuhkan tepat di atas dada korban dan membelahnya, kemudian pemuka agama itu akan mencabut jantungnya yang masih berdetak.

Pemuka agama itu akan mengangkat tinggi-tingg hati itu untuk dilihat oleh semua orang. Lalu ia akan menghancurkannya sampai berkeping-keping di atas batu pengorbanan. Tubuh tak bernyawa akan terguling menuruni tangga piramida, di mana tukang daging telah menunggu di bawah untuk memotong-motong tubuh sepotong demi sepotong.

Tengkorak korban itu akan dilepas dan diletakkan di atas rak bersama dengan tengkorak-tengkorak lainnya yang telah dikorbankan. Kemudian daging dari tubuh orang itu akan dimasak menjadi makanan dan dibagikan kepada para bangsawan.

Menikmati Daging Manusia


Mayat korban seringkali dipanggang dengan jagung dan dibagikan kepada para pemuka agama dalam sebuah pesta. Di lain waktu, cukup untuk disiapkan kepada seluruh masyarakat di kota, dan setiap orang yang hadir akan mengambil bagian dalam aksi kanibalisme ritualistik bersama. Tulang-tulang itu kemudian dibuat menjadi alat musik, dan senjata.

Setidaknya satu hidangan yang mereka gunakan dalam upacara ini masih ada sampai sekarang: pozole. Pada zaman suku Aztec, ini adalah sup yang disiapkan dengan paha tahanan yang dikorbankan dan disajikan kepada kaisar.

Saat ini, hidangan dibuat dengan daging babi dan bukannya daging manusia, tetapi rasanya hampir sama. Ketika orang-orang Kristen memaksa suku Aztec untuk beralih ke daging babi, mereka melaporkan bahwa rasanya sama seperti manusia.

Peresmian Piramida Besar


Tidak semua pengorbanan itu normal. Ada saat-saat luar biasa ketika berbagai hal dilakukan secara berbeda. Terkadang, metodenya berbeda. Di lain waktu, perbedaannya adalah jumlah semata.

Yang terbesar adalah selama rekonsiliasi Piramida Besar Tenochtitlan. Suku Aztec telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun kuil di ibu kota mereka, dan pada tahun 1487, Piramida Besar telah sempurna. Mereka mengadakan perayaan besar-besaran untuk meresmikan kuil besar mereka - dan mengorbankan banyak orang.

Suku Aztec mengklaim bahwa mereka mengorbankan 84.000 orang selama empat hari. Selama masa pemerintahan suku Aztec, diperkirakan hampir 250.000 orang dikorbankan di seluruh Meksiko  pertahun.

Festival Menguliti Pria


Salah satu festival Aztec yang paling horor yaitu Tlacaxipehualiztli (Festival Menguliti Pria). Ini adalah upacara yang didedikasikan untuk dewa Aztec, Xipe Totec, yang namanya memiliki arti "Yang Tercela."

Empat puluh hari sebelum festival, seorang pria diberikan kehormatan untuk berpakaian seperti The Flayed One. Dia ditutupi bulu-bulu merah dan perhiasan emas dan selama 40 hari dihormati sebagai dewa. Kemudian, pada hari festival, dia dan delapan peniru dewa lainnya dibawa ke puncak kuil kemudian dibunuh.

Para pemuka agama menguliti tubuh orang-orang yang dikurbankan dengan meniru tanaman yang menumpahkan kulitnya. Kulit itu kemudian diwarnai kuning agar terlihat seperti emas. Beberapa kulit diberikan kepada para pemimpin agama, yang menari di dalamnya. Kulit-kulit lain diberikan kepada para pria muda, yang menghabiskan 20 hari berikutnya mengemis sambil mengenakan mantel daging manusia yang longgar.

Pengorbanan Melalui Pertempuran Gladiator


Selama Festival Menguliti Pria berlangsung, beberapa pria diberi kesempatan untuk membela diri. Untuk hidup, mereka harus mengalahkan sang jagoan suku Aztec yang bertubuh besar dengan pertarungan menggunakan senjata tajam.

Para prajurit pengorbanan dibawa ke sebuah batu bundar yang disebut temalacatl. Mereka diizinkan membawa senjata kayu yang tidak lebih dari mainan. Sambil memegang tongkat yang dipangkas menjadi bentuk pedang, orang-orang ini menyaksikan juara Aztec terhebat keluar, bersenjatakan gigi.

Menurut legenda Aztec, seorang pria bernama Tlahuicol sebenarnya selamat. Dengan apa-apa selain pedang kayu, ia sendirian membunuh delapan prajurit Aztec yang bersenjata lengkap. Suku Aztec sangat senang, dan mereka menawarkan untuk menjadikannya komandan pasukan mereka.

Tawaran mereka, katanya kepada mereka, merupakan penghinaan. Tlahuicol dimaksudkan untuk nasib yang jauh lebih besar. Dia harus dikorbankan untuk para dewa.

Pengorbanan Anak Kembar


Suku Aztec memiliki keyakinan aneh dan sering bertentangan dengan masyarakat diluarnya tentang anak kembar. Mitos mereka tentang anak kembar yaitu diperlakukan sebagai dewa yang terhormat yang layak disembah oleh manusia. Kembar muncul dalam cerita mereka sebagai pembunuh monster, pahlawan, dan bahkan pencipta dunia.

Namun, kembar sungguhan diperlakukan dengan cara yang hina. Mereka memiliki satu dewa, Xolotl, untuk anak cacat dan kembar karena suku Aztec menganggap kembar sebagai anak cacat.

Mereka melihat kembar sebagai ancaman mematikan bagi orang tua mereka. Membiarkan bayi kembar hidup berarti menjadi akhir hidup orang tuanya. Jadi kebanyakan orang tua memilih salah satu bayi kembar mereka dan mengirimkannya kembali kepada para dewa melalui pengorbanan.

Pengorbanan Anak


Di jantung ibukota Aztec, Tenochtitlan, adalah kuil kembar. Pada puncak ritual pengorbanan yang didedikasikan untuk Tlaloc, suku Aztec mengadakan ritual paling mengerikan dan paling menyedihkan dari semua ritual lainnya.

Tlaloc adalah dewa hujan dan kilat, dewa ini menurut kepercayaan suku aztek menuntut korban dari anak-anak.

Selama akhir musim dingin yang mereka sebut sebagai Atlcahualo, suku Aztec akan membawa anak-anak ke kuil Tlaloc dan memaksa mereka untuk berjalan menaiki tangga. Anak-anak itu bukan sukarelawan yang rela mengorbankan dirinya, sehingga mereka menangis ketika dibawa menuju tempat pemujaan. Jika anak-anak menangis, suku Aztec percaya bahwa Tlaloc akan memberkati mereka dengan hujan. Jadi jika anak-anak tidak menangis sendiri, orang dewasa akan membuat sehingga mereka menangis.

Anak-anak dibawa menuju ke tempat pemujaan yaitu sebuah gua di luar kota. Setelah sampai, mereka diletakkan melingkar di luar gua yang terbuka sehingga hujan yang turun akan mengenai tubuh mereka tanpa ada penghalang.

10 Ritual Aneh dan Mengerikan Suku Aztec

Hubungan Antarbudaya: Akulturasi Kebudayaan dan Asimilasi Kebudayaan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan lalu lintas dunia internasional yang sangat ramai sejak zaman dahulu kala. Berbagai kebudayaan yang berasal dari berbagai wilayah di dunia pernah singgah dan melakukan hubungan dengan kebudayaan asli nusantara. Bahkan di Indonesia sendiri terdiri atas beragam suku bangsa dan adat istiadat.

Menurut Koentjaraningrat, perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh proses evolusi kebudayaan, proses belajar kebudayaan dalam suatu masyarakat, dan adanya proses penyebaran kebudayaan yang melibatkan adanya proses interaksi atau hubungan antarbudaya.

Berbagai inovasi menurut Koentjaraningrat menyebabkan masyarakat menyadari bahwa kebudayaan mereka sendiri selalu memiliki kekurangan sehingga untuk menutupi kebutuhannya manusia selalu mengadakan inovasi. Sebagian besar inovasi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat adalah hasil dari pengaruh atau masuknya unsur-unsur kebudayaan asing dalam kebudayaan suatu masyarakat sehingga tidak bisa disangkal bahwa hubungan antarbudaya memainkan peranan yang cukup penting bagi keragaman budaya di Indonesia.

Kontak kebudayaan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda menimbulkan keadaan saling memengaruhi satu sama lain. Terkadang tanpa disadari ada pengambilan unsur budaya dari luar. Oleh karena itu, salah satu faktor pendorong keragaman budaya di Indonesia adalah karena kontak dengan kebudayaan asing. Koentjaraningrat menyatakan bahwa penjajahan atau kolonialisme merupakan salah satu bentuk hubungan antarkebudayaan yang memberikan pengaruh kepada perkembangan budaya lokal. Proses saling memengaruhi budaya tersebut terjadi melalui proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan.

Akulturasi Kebudayaan


Salah satu unsur perubahan budaya adalah adanya hubungan antarbudaya, yaitu hubungan budaya lokal dengan budaya asing. Hubungan antarbudaya berisi konsep akulturasi kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat istilah akulturasi atau acculturation atau culture contact yang digunakan oleh sarjana antropologi di Inggris mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi. Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal itu sendiri.

Di dalam proses akulturasi terjadi proses seleksi terhadap unsurunsur budaya asing oleh penduduk setempat. Contoh proses seleksi unsur-unsur budaya asing dan dikembangkan menjadi bentuk budaya baru tersebut terjadi pada masa penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia sejak abad ke-1. Masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dari India ke Indonesia berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan

Hindu–Buddha dari India tersebut tidak ditiru sebagaimana adanya, tetapi sudah dipadukan dengan unsur kebudayaan asli Indonesia sehingga terbentuklah unsur kebudayaan baru yang jauh lebih sempurna. Hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Hindu–Buddha adalah dalam bentuk seni bangunan, seni rupa, aksara, dan sastra, sistem pemerintahan, sistem kalender, serta system kepercayaan dan filsafat. Namun, meskipun menyerap berbagai unsur budaya Hindu–Buddha, konsep kasta yang diterapkan di India tidak diterapkan di Indonesia.

Proses akulturasi kebudayaan terjadi apabila suatu masyarakat atau kebudayaan dihadapkan pada unsur-unsur budaya asing. Proses akulturasi kebudayaan bisa tersebar melalui penjajahan dan media massa. Proses akulturasi antara budaya asing dengan budaya Indonesia terjadi sejak zaman penjajahan bangsa Barat di Indonesia abad ke-16. Sejak zaman penjajahan Belanda, bangsa Indonesia mulai menerima banyak unsur budaya asing di dalam masyarakat, seperti mode pakaian, gaya hidup, makanan, dan iptek. Pada saat ini, media massa seperti televisi, surat kabar, dan internet menjadi sarana akulturasi budaya asing di dalam masyarakat.

Melalui media massa tersebut, unsur budaya asing berupa mode pakaian, peralatan hidup, gaya hidup, dan makanan semakin cepat tersebar dan mampu mengubah perilaku masyarakat. Misalnya, mode rambut dan pakaian dari luar negeri yang banyak ditiru oleh masyarakat. Namun, dalam proses akulturasi tidak selalu terjadi pergeseran budaya lokal akibat pengaruh budaya asing. Misalnya, pemakaian busana batik dan kebaya sebagai busana khas bangsa Indonesia. Meskipun pemakaian busana model barat seperti jas sudah tersebar di dalam masyarakat, namun gejala tersebut tidak menggeser kedudukan busana batik dan kebaya sebagai busana khas bangsa Indonesia. Pemakaian busana batik dan kebaya masih dilakukan para tokoh-tokoh masyarakat di dalam acara kenegaraan di dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa desainer Indonesia seperti Edward Hutabarat dan Ghea Pangabean sudah mulai mengembangkan busana batik sebagai alternatif mode pakaian di kalangan generasi muda. Modifikasi busana tradisional tersebut ternyata dapat diterima oleh masyarakat dan mulai dijadikan alternatif pilihan mode berbusana selain model busana barat.

Proses akulturasi berlangsung dalam jangka waktu yang relative lama. Hal itu disebabkan adanya unsur-unsur budaya asing yang diserap secara selektif dan ada unsur-unsur budaya yang ditolak sehingga proses perubahan kebudayaan melalui akulturasi masih mengandung unsur-unsur budaya lokal yang asli. Bentuk kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi, antara lain sebagai berikut.

# Kontak kebudayaan dapat terjadi pada seluruh, sebagian, atau antarindividu dalam masyarakat.

# Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang memiliki jumlah yang sama atau berbeda.

# Kontak kebudayaan dapat terjadi antara kebudayaan maju dan tradisional.

# Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai, baik secara politik maupun ekonomi.

Berkaitan dengan proses terjadinya akulturasi, terdapat beberapa unsur-unsur yang terjadi dalam proses akulturasi, antara lain sebagai berikut.

a. Substitusi

Substitusi adalah pengantian unsur kebudayaan yang lama diganti dengan unsur kebudayaan baru yang lebih bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Misalnya, sistem komunikasi tradisional melalui kentongan atau bedug diganti dengan telepon, radio komunikasi, atau pengeras suara.

b. Sinkretisme

Sinkretisme adalah percampuran unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga membentuk sistem budaya baru. Misalnya, percampuran antara sistem religi masyarakat tradisional di Jawa dan ajaran Hindu-Buddha dengan unsur-unsur ajaran agama Islam yang menghasilkan sistem kepercayaan kejawen.

c. Adisi

Adisi adalah perpaduan unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Misalnya, beroperasinya alat transportasi kendaraan angkutan bermotor untuk melengkapi alat transportasi tradisional seperti cidomo (cikar, dokar, bemo) yang menggunakan roda mobil di daerah Lombok.

d. Dekulturasi

Dekulturasi adalah proses hilangnya unsur-unsur kebudayaan yang lama digantikan dengan unsur kebudayaan baru. Misalnya, penggunaan mesin penggilingan padi untuk mengantikan penggunaan lesung dan alu untuk menumbuk padi.

e. Originasi

Originasi adalah masuknya unsur budaya yang sama sekali baru dan tidak dikenal sehingga menimbulkan perubahan social budaya dalam masyarakat. Misalnya, masuknya teknologi listrik ke pedesaan. Masuknya teknologi listrik ke pedesaan menyebabkan perubahan perilaku masyarakat pedesaan akibat pengaruh informasi yang disiarkan media elektronik seperti televisi dan radio. Masuknya berbagai informasi melalui media massa tersebut mampu mengubah pola pikir masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan hiburan dalam masyarakat pedesaan. Dalam bidang pendidikan, masyarakat menjadi sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan harkat dan martabat warga masyarakat.

Dalam bidang kesehatan masyarakat menjadi sadar pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat, seperti, kebersihan lingkungan, pencegahan penyakit menular dan perawatan kesehatan ibu dan anak untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, serta peningkatan kualitas gizi masyarakat. Dalam bidang perekonomian, masyarakat pedesaan menjadi semakin memahami adanya peluang pemasaran produk-produk pertanian ke luar daerah.

f. Rejeksi

Rejeksi adalah proses penolakan yang muncul sebagai akibat proses perubahan sosial yang sangat cepat sehingga menimbulkan dampak negatif bagi sebagian anggota masyarakat yang tidak siap menerima perubahan. Misalnya, ada sebagian anggota masyarakat yang berobat ke dukun dan menolak berobat ke dokter saat sakit.

Akulturasi kebudayaan berkaitan dengan integrasi sosial dalam masyarakat. Keanekaragaman budaya dan akulturasi mampu mempertahankan integrasi sosial apabila setiap warga masyarakat memahami dan menghargai adanya keanekaragaman berbagai budaya dalam masyarakat. Sikap tersebut mampu meredam konflik sosial yang timbul karena adanya perbedaan persepsi mengenai perilaku warga masyarakat yang menganut nilai-nilai budaya yang berbeda.

Asimilasi Kebudayaan


Konsep lain dalam hubungan antarbudaya adalah adanya asimilasi (assimilation) yang terjadi antara komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai daerah. Koentjaraningrat menyatakan bahwa asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila adanya golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbedabeda yang saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama sehingga kebudayaan-kebudayaan tersebut berubah sifatnya dan wujudnya yang khas menjadi unsur-unsur budaya campuran. Menurut Richard Thomson, asimilasi adalah suatu proses di mana individu dari kebudayaan asing atau minoritas memasuki suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kebudayaan dominan. Selanjutnya, dalam proses asimilasi tersebut terjadi perubahan perilaku individu untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan dominan.

Proses asimiliasi terjadi apabila ada masyarakat pendatang yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat sehingga kebudayaan masyarakat pendatang tersebut melebur dan tidak tampak unsur kebudayaan yang lama. Di Indonesia, proses asimilasi sering terjadi dalam masyarakat karena adanya dua faktor. Pertama, banyaknya unsur kebudayaan daerah berbagai suku bangsa di Indonesia. Kedua, adanya unsur-unsur budaya asing yang dibawa oleh masyarakat pendatang seperti warga keturunan Tionghoa dan Arab yang telah tinggal secara turun-temurun di Indonesia. Di dalam masyarakat, interaksi antara masyarakat pendatang dan penduduk setempat telah menyebabkan terjadinya pembauran budaya asing dan budaya lokal.

Contoh asimilasi budaya tersebut terjadi pada masyarakat Batak dan Tionghoa di Sumatra Utara. Menurut Bruner, para pedagang Tionghoa yang tinggal di daerah Tapanuli sadar bahwa mereka merupakan pendatang sehingga mereka berusaha belajar bahasa Batak dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat karena dianggap menguntungkan bagi usaha perdagangan mereka. Sebaliknya, anggota masyarakat Batak Toba yang tinggal di Medan berusaha menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat setempat yang didominasi etnik Tionghoa. Selanjutnya, ia akan belajar Bahasa Cina karena pengetahuan tersebut dianggap berguna dalam melakukan transaksi perdagangan dengan warga keturunan Tionghoa.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multietnik karena beragamnya kebudayaan dan adat istiadat suku bangsa yang terdapat di Indonesia. Namun, kehidupan manusia selalu mengalami perubahan yang berpengaruh terhadap kebudayaan masyarakat karena adanya suatu kontak antarkebudayaan yang akan saling memengaruhi satu sama lain. Kontak antarbudaya tersebut memberikan pengaruh terhadap beragamnya kebudayaan masyarakat.

Bagaimana sikap kita untuk menghadapi kontak budaya dalam komunitas yang bersifat plural? Sikap toleransi sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya. Sikap toleransi dan simpati mampu menjadikan setiap individu menghargai dan saling menyerap berbagai unsur budaya yang bisa memberikan manfaat dan menyaring bentuk-bentuk budaya yang negatif dalam masyarakat.

Sikap toleransi dan simpati tersebut mampu mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak perbedaan. Sikap tersebut mampu menghilangkan adanya prasangka antarkelompok dan sikap superioritas terhadap kelompok lain. (Tedi Sutardi. Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya. 2009).

Hubungan Antarbudaya: Akulturasi Kebudayaan dan Asimilasi Kebudayaan

Hidup dan Berkembangnya Budaya Asing di Indonesia
Banyak orang mengira bahwa budaya asing itu hanyalah sesuatu yang berasal dari kebudyaan barat. Padahal budaya asing itu adalah segala sesuatu yang berasal dari luar, bukan saja barat tetapi budaya juga budaya China, Arab, dan sebagainya.

Saat ini kebudayaan asing, sudah banyak bercampur dengan kebudayaan lokal, bahkan sudah tidak dapat dilepaspisahkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sebut saja baju "koko" yang awalnya berasal dari kebudayaan China, oleh sebagian masyarakat Indonesia dijadikan sebagai baju "keagamaan" atau dalam kata lain digunakan untuk melakukan kegiatan keagamaan baik itu kegiatan sosial (ibadah goiru mahdhah) maupun kegiatan ritual keagaamn (ibadah mahdhah).

Konsep Budaya Asing


Kebudayaan suatu negara atau wilayah tidak terbentuk secara murni. Artinya, kebudayaan bukan hanya merupakan hasil interaksi dalam masyarakat, namun juga telah terpengaruh dan bercampur dengan unsur kebudayaan dari luar. Pengaruh budaya asing terjadi pertama kali saat suatu bangsa berinteraksi dengan bangsa lain. Misalnya, melalui perdagangan dan penjajahan. Dalam proses interaksi tersebut terjadi saling memengaruhi unsur budaya antarbangsa.

Pada awalnya, perhatian para sarjana antropologi untuk memahami bagaimana unsur kebudayaan asing bisa masuk ke Indonesia adalah melalui penelusuran sejarah mengenai kedatangan bangsa-bangsa asing ke Indonesia yang bertujuan untuk melakukan kolonisasi. Pada masa kolonial Belanda diterapkan sistem administrasi, seperti kelurahan, kawedanan, desa, dan dusun yang sampai sekarang masih tetap berlaku. Pengaruh budaya asing lainnya yang bersifat positif adalah budaya baca tulis yang mulai diterapkan pada masyarakat di segala lapisan sosial.

Budaya asing tidak harus selalu diartikan budaya yang berasal dari luar negeri, seperti budaya barat. Namun, tidak bisa disangkal bahwa budaya barat berupa makanan, mode, seni, dan iptek memang telah banyak memengaruhi budaya masyarakat di Indonesia. Pada abad ke-20 dan ke-21, pengaruh budaya asing di Indonesia dapat terlihat melalui terjadinya gejala globalisasi. Dalam proses globalisasi terjadi penyebaran unsur-unsur budaya asing dengan cepat melalui sarana teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi.

Faktor Sejarah


Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudra, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena letak geografis tersebut, Indonesia terletak di persimpangan jalan yang banyak disinggahi orang-orang asing. Akibatnya, Indonesia banyak menerima pengaruh unsur kebudayaan asing, seperti dari India, Cina, dan Eropa. Hubungan dengan masyarakat luar tersebut menyebabkan bertambahnya keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia terdiri atas unsur kebudayaan asli, yaitu kebudayaan nenek moyang pada zaman prasejarah dan unsur kebudayaan dari luar, seperti kebudayaan Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen. Itulah sebabnya, kebudayaan Indonesia banyak yang diwarnai budaya asing. Misalnya, dalam gaya hidup, cara berpakaian, seni musik, dan seni tari.

Pengaruh Hindu sangat terasa dalam susunan negara dan pemerintah, terutama mengenai kedudukan raja-raja pada zaman dahulu yang dianggap sebagai keturunan dewa yang bersifat turun-temurun. Dengan masuknya Hindu, rakyat Indonesia dapat belajar membaca dan menulis dengan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta. Akibat pengaruh Hindu dan Buddha maka seni bangunan candi berkembang pesat, seperti dengan berdirinya Candi Borobudur, Prambanan, dan Mendut. Selain itu, agama Islam juga banyak memengaruhi masyarakat Indonesia. Hampir sebagian besar penduduk Indonesia terpengaruh budaya Islam. Bahkan di daerah Aceh, Banten, Cirebon, Demak, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Barat Islam berkembang pesat, terutama pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa Eropa di samping membawa pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi juga menyebarkan agama Kristen.

Pengaruh Budaya Asing dalam Era Globalisasi


Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Indonesia telah memasuki era globalisasi. Kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi telah menyebabkan masuknya pengaruh budaya dari seluruh penjuru dunia dengan cepat ke Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan sistem komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mengikuti sistem serta kaidah-kaidah yang sama. Pada era globalisasi, peristiwa yang terjadi di suatu negara dapat diketahui dengan cepat oleh negara lain melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar atau internet.

Globalisasi berlangsung melalui saluran-saluran tertentu, seperti media massa, pariwisata internasional, lembaga perdagangan dan industri internasional, serta lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Saluran-saluran globalisasi, antara lain sebagai berikut.

1. Media Massa

Arus globalisasi diperoleh melalui media komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, film, dan internet. Globalisasi melalui media massa telah membuat dunia menjadi seolah-olah tanpa batas. Melalui media massa, seperti televisi yang disiarkan dalam jaringan satelit, peristiwa bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004 dapat diketahui di seluruh dunia. Demikain juga dengan perkembangan internet yang telah memudahkan perkembangan iptek dengan adanya kemudahan mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dengan murah dan cepat. Selain itu, dalam arus globalisasi, terjadi perubahan perilaku masyarakat di bidang mode pakaian, peralatan hidup, dan makanan akibat pengaruh penyebaran informasi dari luar negeri melalui media massa.

2. Pariwisata Internasional

Berkembangnya sektor pariwisata internasional juga berpengaruh terhadap penyebaran arus globalisasi. Kegiatan pariwisata internasional yang melibatkan banyak negara dapat dilakukan dengan mudah karena adanya kemajuan sarana transportasi dan telekomunikasi. Dengan meningkatnya kebutuhan wisata antarnegara menyebabkan masuknya devisa yang sangat dibutuhkan untuk membiayai pembangunan suatu negara. Dengan berkembangnya sektor pariwisata internasional, seseorang dapat dengan mudah berpergian dari satu negara ke negara lainnya.

3. Lembaga Perdagangan dan Industri Internasional

Globalisasi dalam perdagangan internasional ditandai dengan adanya pasar bebas. Dalam era pasar bebas, setiap negara akan berlomba-lomba mengembangkan keunggulan komparatifnya untuk menarik para investor dari luar negeri. Era pasar bebas juga ditandai adanya kebebasan kontak perdagangan antarnegara tanpa dibatasi hambatan fiskal dan tarif. Walaupun setiap negara bebas untuk menjalin hubungan perdagangan, namun tetap diperlukan suatu wadah kerja sama di bidang ekonomi. Misalnya, pendirian dewan kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC) dan dewan kerja sama ekonomi Amerika Utara (NAFTA).

Arus globalisasi yang melanda seluruh dunia mempunyai dampak bagi bidang sosial budaya suatu bangsa. Pada awalnya, globalisasi hanya dirasakan di kota-kota besar di Indonesia. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi globalisasi juga telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Arus globalisasi yang penyebarannya sangat luas dan cepat tersebut membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif globalisasi, antara lain sebagai berikut.

# Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia.

# Kemajuan teknologi menyebabkan kehidupan sosial ekonomi lebih produktif, efektif, dan efisien sehingga membuat produksi dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional.

# Kemajuan teknologi memengaruhi tingkat pemanfaatan sumber daya alam secara lebih efisien dan berkesinambungan.

# Kemajuan iptek membuat bangsa Indonesia mampu menguasai iptek sehingga bangsa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa lain.

Globalisasi juga mempunyai dampak negatif, antara lain sebagai berikut.

# Terjadinya sikap mementingkan diri sendiri (individualisme) sehingga kegiatan gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat mulai ditinggalkan.

# Terjadinya sikap materialisme, yaitu sikap mementingkan dan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi karena hubungan sosial dijalin berdasarkan kesamaan kekayaan, kedudukan social atau jabatan. Akibat sikap materialisme, kesenjangan sosial antara golongan kaya dan miskin semakin lebar.

# Adanya sikap sekularisme yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama.

# Timbulnya sikap bergaya hidup mewah dan boros karena status seseorang di dalam masyarakat diukur berdasarkan kekayaannya.

# Tersebarnya nilai-nilai budaya yang melanggar nilai-nilai kesopanan dan budaya bangsa melalui media massa seperti tayangantayangan film yang mengandung unsur pornografi yang disiarkan televisi asing yang dapat ditangkap melalui antena parabola atau situs-situs pornografi di internet.

# Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa, yang dibawa para wisatawan asing. Misalnya, perilaku seks bebas.

Gejala individualisme di perkotaan, mobilitas penduduk yang tinggi serta efisiensi merupakan kebiasaan hidup masyarakat kota yang telah terpengaruh budaya asing. Namun, tidak bisa disangkal bahwa semua itu adalah karena pengaruh modernitas kehidupan manusia. Kebutuhan manusia yang semakin beragam dan penghargaan atas waktu menjadikan efisiensi dan kepraktisan sebagai sesuatu yang penting untuk manusia.

Dengan demikian, segala kebiasaan yang bersifat rumit disederhanakan agar lebih efisien. Di Indonesia, modernitas adalah salah satu konsep yang menunjukkan adanya interaksi antara budaya lokal dan budaya asing. Ciri-ciri modernitas adalah mobilitas sosial yang tinggi, efisiensi, dan sikap individualisme. Hal-hal tersebut tidak bisa dipungkiri telah memengaruhi kehidupan manusia. Namun, setiap perubahan kebudayaan mempunyai dampak positif dan negatif. Individualisme berdampak negatif apabila mendorong individu untuk bekerja secara lebih produktif.

Namun, di sisi lain individualisme juga berdampak pada timbulnya sikap mementingkan diri sendiri. Selain itu, sebagai dampak individualisme, kegiatan gotong royong dan bentuk-bentuk kelembagaan sosial lainnya mulai diabaikan. Dengan demikian, modernitas tidaklah harus dinilai secara positif atau negatif karena hal itu tergantung pada bagaimana masyarakat dan individu memberikan penilaian sesuai dengan konteks kebudayaannya.

Namun, sebenarnya kemodernan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan nilainilai kebersamaan, empati, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kesadaran untuk tetap menghargai nilai-nilai tersebut. Perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial dalam masyarakat memang tidak bisa diterapkan secara kaku. Misalnya, lebih sulit untuk menerapkan sikap tersebut di dalam masyarakat perkotaan. Hal itu disebabkan sikap individualisme dan budaya materialisme yang lebih tinggi pada masyarakat perkotaan.

Oleh karena itu, perwujudan sikap empati sosial di dalam masyarakat perkotaan tidak bisa diterapkan dengan meniru kebersamaan masyarakat di daerah pedesaan. Perwujudan sikap empati sosial tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk tindakan untuk membantu sesama yang mengalami musibah bencana alam. Contohnya pada saat terjadinya bencana tsunami di Aceh, gempa Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan bencana banjir di Jakarta tahun 2007, sikap kegotongroyongan dan kebersamaan diwujudkan warga masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan social untuk meringankan penderitaan korban bencana alam.

Kesimpulan


Sebagai sarana pewarisan budaya pada era globalisasi, media massa sangat berpengaruh dalam penyerapan budaya asing di masyarakat yang bersifat positif dan negatif. Dampak positif budaya asing di media massa adalah masuknya iptek yang menunjang kemajuan di segala bidang. Pengaruh negatif budaya asing di media massa adalah terjadinya goncangan budaya karena adanya individu yang tidak siap menerima perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya dan adat istiadat.

Saat ini dunia semakin mengglobal, dan kita sebagai anak bangsa Indonesia, tidak dapat melepaskan diri dengan itu. Sehingga masuknya budaya asing di Indonesia tidak bisa dihindari, terlebih hal ini sudah berlangsung sejak lama. Kita tidak bisa membendung arus globalisasi, yang perlu dilakukan adalah memfilter antara budaya asing yang baik dengan budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Hidup dan Berkembangnya Budaya Asing di Indonesia

Konsep dan Ciri Budaya Lokal Indonesia
Seluruh kebudayaan manusia di dunia secara umum memiliki konsep dan ciri yang hampir sama, yang membedakannya adalah konsop dan ciri secara khusus yang terdapat dalam suatu bangsa, negara, atau yang paling terkecil adalah suatu daerah.

Kebudayaan lokal sudah banyak dikaji dalam berbagai literatur, termasuk salah satunya yaitu literatur antropologi.  Pada awal pembentukan disiplin antropologi di Indonesia, para ahli etnografi berusaha untuk mendeskripsikan berbagai macam kebudayaan yang tersebar luas di tanah air. Penelitian tersebut ditulis dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia karangan Koentjaraningrat yang berisi esai atau kumpulan tulisan mengenai laporan etnografi kebudayaan suku bangsa di Indonesia.

Konsep Budaya Lokal


Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikan konsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya local suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.

Menurut Hildred Geertz dalam bukunya Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, di Indonesia saat ini terdapat lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda dan memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula. Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Misalnya, wilayah pesisir pantai Jawa yang beriklim tropis hingga wilayah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju. Perbedaan iklim dan kondisi geografis tersebut berpengaruh terhadap kemajemukan budaya lokal di Indonesia.

Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah Cina Selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang luas tersebut telah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lainnya. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional serta memandang diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa tersebut mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.

Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya dan adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda. Misalnya, perbedaan Bahasa dan adat istiadat antara suku bangsa Gayo-Alas di daerah pegunungan Gayo-Alas dengan penduduk suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.

Menurut Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I, masyarakat awal pada zaman praaksara yang datang pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Ras-ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut juga mendorong terjadinya kemajemukan budaya lokal berbagai suku bangsa di Indonesia.

Menurut James J. Fox, di Indonesia terdapat sekitar 250 bahasa daerah, daerah hukum adat, aneka ragam kebiasaan, dan adat istiadat. Namun, semua bahasa daerah dan dialek itu sesungguhnya berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa dan budaya Melayu Austronesia. Di antara suku bangsa Indonesia yang banyak jumlahnya itu memiliki dasar persamaan sebagai berikut.

# Asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan masyarakat, seperti bentuk rumah dan adat perkawinan.

#  Asas-asas persamaan dalam hukum adat.

# Persamaan kehidupan sosial yang berdasarkan asas kekeluargaan.

# Asas-asas yang sama atas hak milik tanah.

Ciri Budaya Lokal


Ciri-ciri budaya lokal dapat dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku bangsa. Kelembagaan sosial merupakan ikatan sosial bersama di antara anggota masyarakat yang mengoordinasikan tindakan sosial bersama antara anggota masyarakat. Lembaga social memiliki orientasi perilaku sosial ke dalam yang sangat kuat.

Hal itu ditunjukkan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan anggota lembaga sosial tersebut. Dalam Lembaga sosial, hubungan sosial di antara anggotanya sangat bersifat pribadi dan didasari oleh loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin dan gengsi sosial yang dimiliki. Bentuk kelembagaan sosial tersebut dapat dijumpai dalam system gotong royong di Jawa dan di dalam sistem banjar atau ikatan adat di Bali. Gotong royong merupakan ikatan hubungan tolong-menolong di antara masyarakat desa. Di daerah pedesaan pola hubungan gotong royong dapat terwujud dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, dan panen bersama merupakan beberapa contoh dari aktivitas gotong royong yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di daerah pedesaan. Di dalam masyarakat Jawa, kebiasaan gotong royong terbagi dalam berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, dan panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.

Di dalam masyarakat Jawa, pelaksanaan selamatan ada yang dilakukan secara individual ataupun secara kolektif. Tujuannya adalah untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu. Misalnya, keraton Yogyakarta dan Surakarta adalah kelompok masyarakat yang paling sering melakukan ritual selamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, seperti gerebeg, sedekah bumi, upacara apeman, dan gunungan yang masih dilaksanakan sampai sekarang.

Di daerah Bali, beberapa bentuk kebudayaan lokal masih dilaksanakan sampai saat ini. Misalnya, mebanten atau membuat sesaji setiap hari sebanyak tiga kali oleh masyarakat Bali sebagai perwujudan rasa syukur, hormat, dan penyembahan kepada Tuhan. Konsep kepercayaan masyarakat Bali yang menjadi budaya adalah adat untuk melilitkan kain berwarna hitam dan putih pada batang pohon yang besar, tiang, dan bangunan di setiap daerah di Pulau Bali. Selain itu, contoh budaya lokal adalah upacara Ngaben yang saat ini menjadi tontonan para wisatawan yang datang ke Bali. Ngaben adalah upacara tradisi membakar jenazah orang yang sudah meninggal sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal.

Salah satu aktivitas masyarakat Bali yang diikat oleh prinsip kebudayaan local adalah sistem pengairan di Bali yang disebut Subak. Subak adalah salah satu bentuk gotong royong atau sistem pengelolaan air untuk mengairi lahan persawahan berbentuk organisasi yang anggotanya diikat oleh pura subak. Di dalam sistem subak terdapat pembagian kerja berdasarkan hak dan kewajiban sebagai anggota subak. Oleh karena itu, apabila ada warga yang tidak menjadi anggota maka ia tidak berhak atas jatah air untuk mengairi sawahnya dan mengurus pura serta bebas dari semua kewajiban di sawah dan pura.

Budaya lokal di Indonesia mempunyai berbagai perbedaan. Sukusuku bangsa yang sudah banyak bergaul dengan masyarakat luar dan bersentuhan dengan budaya modern, seperti suku Jawa, Minangkabau, Batak, Aceh, dan Bugis memiliki budaya lokal yang berbeda dengan suku bangsa yang masih tertutup atau terisolasi seperti suku Dayak di pedalaman Kalimantan atau suku bangsa Wana di Sulawesi Tengah.

Perbedaan budaya tersebut bisa menimbulkan konflik sosial akibat adanya perbedaan perilaku yang dilandasi nilai-nilai budaya yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan konsep budaya yang mengandung nilai kebersamaan, saling menghormati, toleransi, dan solidaritas antarwarga masyarakat yang hidup dalam komunitas yang sama.

Misalnya, para mahasiswa yang tinggal di rumah indekos di Yogyakarta. Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan budaya tersebut bisa menimbulkan konflik sosial dalam kehidupan sehari-hari apabila tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, diperlukan rasa toleransi dan saling menghormati antarpenghuni rumah indekos. Sikap toleransi antarpenghuni rumah indekos tersebut akan muncul apabila didasari prinsip relativisme budaya yang memandang bahwa setiap kebudayaan tersebut berbeda dan unik serta tidak ada nilai-nilai budaya suatu kelompok yang dianggap lebih baik atau buruk dibanding kelompok lainnya.

Kesimpulan


Pada dasarnya budaya lokal di Indonesia mengandung banyak sekali nilai-nilai yang hampir seluruhnya mirip antara satu daerah dan derah lain. Misalnya saja nilai gotong royong, toleransi, persaudaraan, dan lain sebagainya. Nilai-nilai yang baik dalam budaya lokal ini sudah seyogyanya dijadikan sebagai perekat bangsa, agar tidak terjadi perpecahan.

Sudah saatnya semua orang saling menghargai antara satu dengan yang lain, sudah saatnya kita semua bangkit bahu membahu bergotong royong membangun bangsa ini, sudah saatnya kita menarik benang merah mencari titik persaudaraan bangsa agar bangsa ini tidak rapuh.

Konsep dan Ciri Budaya Lokal Indonesia

MALUKU is the largest archipelago province in Indonesia which stands east of NKRI. Maluku has been known since the colonial period with the typical spices of nutmeg and cloves are also plants that become staple food community Maluku sago. The Moluccas are rich in abundant natural wealth making Maluku has an incredible natural asset ranging from sea to land. The cultural arts, as well as the customs of the tradition, are also the main attraction for Maluku. The following traditions are the attraction of Maluku tourism which will be very unfortunate if you do not have time to enjoy it when you are on vacation in the land of Kings.

1. Eat Patita


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Eating Patita is a diligent tradition done within a year. Eating Patita is held to celebrate important days such as the celebration of Indonesian independence on every 17th of August, the anniversary of the city or district and others. Eating Patita is a tradition of eating with a group of people by serving Maluku typical foods such as smoked fish, sweet potato boiled, boiled cassava etc. Every family/household will cook Moluccan delicacies in large quantities later, the food will be taken to the patita eating location to be eaten together. Eating Patita is usually located in the open like a field, village streets and there is also in the building. The Patita table is the name of the place where food is placed. Usually, there is a table made of statues made of coconut leaves or banana leaves are arranged along the road/location as a base, there is also a wooden table that is covered with banana leaves as a table. This tradition aims to introduce a typical menu of Maluku also increase kinship and togetherness in community life.

2. Pukul Sapu (Hit a Broom of Palm Trees on The Body)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pukul Sapu is the next tradition. Pukul Sapu is a tradition conducted by the village community of Mamala a village located on the island of Ambon. This tradition is done every 7 Shawwal or a week after Idul Fitri, this tradition is done by the men. They are bare-chested with shorts and headbands. Before they do hit action they will be collected at the traditional house to attend a series of traditional events and ask the prayer to the ancestors to be blessed. Players of capsule brooms amounted to 10 to 15 people divided into 2 groups with different pants colors. They hold a broomstick made from the leaves of a palm tree with a length of about 1.5 meters with the diameter of the base 1-3 cm. They will start hitting each other until their bodies are wounded and swollen, but the players at the broom say that they never feel pain in their bodies, they just feel comfortable and amused when every stick of broom is banged onto their bodies.

3. Crazy Bamboo


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Crazy Bamboo is a Maluku community tradition that is closely related to mystical things. On the island of Ambon, traditional Crazy Bamboo shows can be found in the villages of Liang and Mamala villages. This tradition begins with the cutting of bamboo stems, not all bamboo stems can be used, the handler must perform a series of customs to ask permission to cut the bamboo stems in the bamboo forest. Bamboo is used in this tradition is bamboo with the strange segment, the bamboo length can reach 2.5 meters with a diameter of 8-10 cm. After getting bamboo, the things that must be provided are the peculiarities, mantras and the odd-numbered men as bamboo hawkers. The most important thing in this tradition is that all necessities must be odd. The bamboo-resistant men are usually well-built athletic with strong force, this is because they must be able to resist the bamboo that will wriggle very fiercely, they also wear only red or black shorts with a headband without wearing a shirt to cover the chest, but for certain reasons sometimes crazy bamboo players are required to wear closing clothes to cover the chest. Once all the preparations are ready, the attraction will begin. The handler will direct the spirit inside the bamboo while holding a container of incense while reciting a mantra. The spirit will rebuke and make the bamboo hawkers thrown here and there, but the bamboo retainers must be able to hold the bamboo until it can be soothed by the handler.

4. Tradition Of Timba Laor (Harvest Marine Worms)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Laor is the name for marine life-like worms (marine worms) that live composed. Usually, people will go to the beach at night to take this animal. These animals are eaten raw or fried. Raw laor is only mixed with vinegar and salt plus sliced onion, while the fried laor is certainly fried as usual. This tradition is done once a year when the laor appears at sea level. The time is about in March at the turn of the west season to east season (season transition).

5. Tradition Pela gandong (fraternal tradition)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pela Gandong is a tradition that has been embedded in every Maluku society and this tradition still survives until now. It is because of this tradition that Maluku is called Pela Gandong Country. Pela Gandong itself is a fraternity tradition of people who differ from each other, but has the same goal is to preserve togetherness and kinship. Pela gandong carried out to tie the kinship between two villages to bind kinship and live safely respect and respect each other Maluku people.

6. Festival of Enchantment Meti Kei


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Meti Kei is a tidal phenomenon that can reach five to six kilometers from the mainland (coast) to the sea. This phenomenon occurs in certain months of the year, which starts in the month of September until the month of October. The peak of this natural phenomenon is in October used by the people of Kei islands to create a festive celebration, called the Festival of Enchantment Meti Kei

Well, that's 6 traditions of the people of Maluku which until now still maintained and become an attraction for tourists who visit Maluku. Are you interested to see firsthand this tradition? #CometoMaluku

6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction

Tari Cakalele merupakan tarian tradisionil semacam tarian perang yang datang dari daerah Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria, tetapi ada pula beberapa penari wanita menjadi penari simpatisan. Tari Cakalele adalah salah satunya tarian tradisional yang cukuplah populer di Maluku dan Maluku Utara serta kerap dipertunjukkan di beberapa acara adat ataupun hiburan. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya dan promo pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan juga internasional

Berdasarkan pada beberapa sumber histori yang ada, Tari Cakalele ini dulunya datang dari kebiasaan orang-orang Maluku Utara. Ketika itu tarian ini djadikan sebagai tarian perang oleh prajurit-prajurit sebelum merek menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Tidak hanya itu tarian ini juga dijadikan sebagaia bagian dari upacara adat masyarakat Maluku Utara.

Tari cakalele ini lalu meluas ke beberapa daerah sekitarnya, karena bagian dari pengaruh kerajaan ketika itu. Tarian ini lalu diketahui di daerah lainnya seperti di daerah Maluku Tengah serta sebagian lokasi Sulawesi, diantaranya di Sulawesi Utara. Di kelompok orang-orang Minahasa, Cakalele dikenal juga serta berubah menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat saat ini, Tari Cakalele tak akan digunakan sebagi tarian perang, tetapi seringkali dipertunjukkan untuk acara yang berbentuk pertunjukan ataupun perayaan kebiasaan. Untuk orang-orang disana, Tari Cakalele dimaknai menjadi bentuk animo serta penghormatan orang-orang pada beberapa leluhur atau nenek moyang mereka. Diluar itu tarian ini dapat memvisualisasikan jiwa orang-orang Maluku yang pemberani serta kuat, hal itu dapat disaksikan dari pergerakan serta ekspresi beberapa penari waktu menarikan Tari Cakalele ini.

Tari Cakalele dimainkan oleh kira-kira 30 lelaki serta wanita. Beberapa penari lelaki kenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah serta kuning tua. Di ke-2 tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) disamping kanan serta tameng (salawaku) disamping kiri, mereka memakai topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Penari wanita memakai pakaian warna putih sambil menggenggam sapu tangan atau lenso di ke-2 tangannya. Beberapa penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan disertai musik beduk (tifa), suling, serta kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele dimaksud sebagai tari kebesaran, karena dipakai untuk penyambutan beberapa tamu agung seperti tokoh agama serta petinggi pemerintah yang bertandang ke bumi Maluku. Kelebihan tarian ini terdapat pada tiga kegunaan lambangnya. (1) Baju berwarna merah pada baju penari lelaki, melambangkan perasaan heroisme pada bumi Maluku, dan keberanian serta patriotisme orang Maluku waktu berada dalam perang. (2) Pedang pada tangan kanan melambangkan harga diri warga Maluku yang perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) serta teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian melambangkan pergerakan memprotes pada system pemerintahan yang dipandang tidak memihak pada warga masyarakat.

Tari Cakalele dalam perkembangannya sampai saat ini masih tetap selalu dilestarikan serta di kembangkan oleh orang-orang disana. Beragam kreasi serta macam juga kerap ditambahkan dalam pertunjukannya supaya menarik, tetapi tidak menghilangkan keunikan serta keaslian dari tarian itu. Tari Cakalele ini dapat masih tetap kerap dipertunjukkan di beberapa acara seperti penyambutan tamu, perayaan kebiasaan, serta acara kebiasaan yang lain. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya serta promo pariwisata.

Tari Cakalele, Tarian Perang dari Maluku

Provinsi - Sulawesi Selatan merupakan sebuah bagian dari pulau Sulawesi, menarik yang untuk dibicarakan. Bukan saja tentang keindahan alam pariwisatanya. Namun hal lain yang tak kalah indah yaitu tradisi dan budayanya.

Terdiri dari berbagai macam suku antara lain : Bugis, Makassar, Mandar, Toraja dan lain-lain, dengan bahasa deerah yang sama untuk masing-masing suku. Secara umum termasuk kategori kebudayaan masyarakat pantai. Hal ini ditandai adanya jalur perdagangan dalam bidang ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam.

Ada beberapa tradisi yang wajib Anda ketahui, bila berniat berkunjung ke tempat itu. Dan berikut rangkumanya.

1. Rumah Adat


Rumah adat daerah Sulawesi Selatan bermacam bentuk dan jenis, tergantung suku bangsa yang mendiami. Ini menjadi semacam identitas seperti rumah adat Tonkongan (rumah adat suku Toraja), yang berarti balai desa musyawarah. Menurut kepercayaan penduduk setempat, terdapat hubungan erat antara manusia bumi dengan hal itu. Oleh karenanya dalam pembangunannya harus memenuhi aturan tertentu dengan ajaran aluk todolo. Untuk suku Bugis dan Makassar memiliki kesamaan, keduanya memiliki tipe rumah panggung yang berkolong pada bagian bawahnya. Selain yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Misalnya : rumah adat attake (kabupaten Wajo), Bola soba ( daerah Soppeng), rumah adat Bajo (kabupatn Bone), rumah adat suku kajang (kabupaten Bulukumba), perkampungan nelayan Paloppo serta rumah terapung (Sekang)

2. Pakaian Adat


Sama seperti rumah adat yang berbeda. Untuk berbagai tingkatan usia, jenis kelamin, kedudukan atau jabatan pekerjaan, latar belakang sosial, dan upacara adat. Masing-masing mempunyai tata caranya sendiri-sendiri, serta berwarna-warni.

3. Tarian Tradisional Dan Alat Musik Yang Dipergunakan


Pada kategori tarian tradisional jenis alat musik yang mereka pergunakan juga berbeda. Mappedendang adalah jenis alat musik yang memakai lesung dan alu, ada di suku Bugis dan Makassar, Gowa ada : kancing, bacing, bulo, kaoppo, serta orkes Toriolo, yaitu sejenis orkes tempo dulu dari Makassar yang terdiri dari : biola, gendang, gong, rebana, katto-katto,dan kannong-kannong. Bulukumba dengan Basing-basing, Toraja : Passuling, Gendang dan lain-lain.

4. Kerajinan


Penghasil sutra di kabupaten Wajo, pembuat perahu Pinisi di Bulukumba, seni ukir dari Tana Toraja.

5. Upacara Tradisional 


Upacara adat suku Makassar, Bugis dan Toraja mengenal daur hidup dan umum. Seperti ritual masa kehamilan di suku Makassar dan Bugis. Toraja mengenal upacara adat kematian di mana pelaksanaannya menyesuaikan status sosial seseorang dalam masyarakat, yang pada intinya semua dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta.

6. Senjata Tradisional


Senjata tradisional mereka berupa : keris, dan badik.

7. Kuliner 


Untuk jenis kuliner bermacam-macam, misalnya : coto Makassar, sop konro, pisang epe, dan es palu butung, olahan ikan dan lain sebagainya.

8. Lagu Daerah


Pakerena, Peiwa, Tawa-tawa, To Mepare, Ammac Ciang dan yang paling melankolis adalah Anging Mammire, yang menceritakan rindu gadis pada seorang pria kekasihnya di tanah sebrang.

Bagiamana pendapat Anda tentang uraian singkat ini? Ternyata Indonesia kaya sekali budaya dan adat tradisi ya? Dan sudah menjadi kewajiban dan tanggung-jawab generasi bangsa untuk memeliharanya, bukan justru lari, mengilai budaya luar negeri yang terkadang tak sesuai norma bangsa kita sendiri.

Mengenal dari Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, Ada Legenda Lagu Romantisnya Loh!

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya
Batik adalah salah satu budaya Indonesia yang telah dinobatkan sebagai Masterpiece of the Oral and Ingtangible Heritage of Humanity atau warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO pada Oktober 2009 lalu. Walau berasal dari jawa, kini Batik telah dikenakan dikenakan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Mari membahas beberapa fakta untuk menguak asal-usul batik dan sejarahnya.

Berdasarkan sejarahnya, asal usul batik dimulai sejak abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, motif batik dilukiskan pada daun lotar dan dinding papan rumah adat Jawa. Pola atau motif batik, awalnya hanya didominasi oleh tanaman atau binatang. Para pengrajin batik juga masih sangat terbatas jumlahnya. Hal ini membuat batik dengan motif dibuat hanya sebagai wujud pelampiasan hasrat seni dan kegiatan yang dilakukan pengrajin batik untuk mengisi waktu luang.

Seiring dengan perkembangannya, batik mulai menarik perhatian pejabat kerajaan Majapahit. Para pengrajin batik mulai menciptakan motif baru, seperti motif-motif abstrak, motif candi, awan, wayang beber, dan lain sebagainya. Akibat perkembangannya yang pesat, penulisan batik pun mulai ditujukan pada media yang berbeda, yaitu kain. Batik yang berasal dari kata amba nitik mulai di aplikasikan pada kain putih atau kain-kain berwarna terang yang menjadi pilihan utama karena dianggap lebih tahan lama dan bisa digunakan untuk pemanfaatan yang lebih banyak.

Asal-usul batik ternyata berawal dari pewarna yang dibuat dari tumbuhan sekita seperti pohon mengkudu, soga, nila hingga kunyit. Juga penggunaan soda yang terbuat dari soda abu dan garamnya dari lumpur.

Ketenaran kain batik makin tercium oleh pembesar-pembesar kerajaan Majapahit, Demak, Mataram dan kerajaan lainnya. Khusus pada masyarakat islam dulu, motif batik dengan wujud binatang ditiadakan karena dianggap menyalahi syariat islam. Sehingga membuat bati dengan motif bunga, tumbuhan dan abstrak sangat diminati pemuka agama islam. Teknik pembuatan batik yang digunakan saat itu adalah batik tulis. Dan teknik tulis tersebut adalah satu-satunya teknik membatik yang digunakan saat itu.

Awalnya, kain berbatik hanya digunakan oleh kaum kerajaan karena keterbatasan produksi bati oleh pengrajin batik. Namun, lambat laun kain batik berkembang dan juga dipakai oleh rakyat biasa. Hal ini membuat batik kian beragam, mulai dari coraknya, warnanya, jenis kainnya tergantung dengan minat dan jiwa seni para pengrajin batik itu sendiri.

Nah, itu dia beberapa informasi dan fakta-fakta yang menguak asal ususl batik dan sejarahnya agar batik tetap terus diingat awal terciptanya. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, batik tidak hanya dikenal sebagai corak pada pakaian semata, batik juga terus berkembang dan di gunakan pada tas, sepatu, topi dan aksesoris lain membuat generasi muda tidak ragu untuk memakainya di berbagai kesempatan.

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya