Coretanzone: Budaya -->

    Social Items

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi
Tanah Papua - merupakan tanah Indonesia yang berada di ujung timur. Walaupun demikian, tempat ini begitu banyak menyimpan budaya dan keunikan khas Papua. Bahkan tempat ini pun juga memiliki beragam pakaian, kesenian, dan makanan khas yang tak bisa Anda temukan di daerah lainnya. Selain itu, berbagai suku juga tinggal di Papua.

Salah satu kekhasan dari Papua adalah Koteka. Koteka merupakan suatu pakaian yang digunakan laki-laki di Papua untuk menutup kemaluannya. Penggunaan alat ini merupakan budaya asli penduduk di Pulau Papua. Koteka sendiri terbuat dari kulit labu air yaitu Lagenaria siceraria. Untuk bisa membuatnya, isi dan biji labu tua harus dikeluarkan terlebih dahulu. Setelah bersih, kemudian kulitnya dijemur hingga kering.

Jika dilihat secara harfiah, kata koteka ini berarti pakaian. Kata ini berasal dari bahasa salah satu suku yang ada di Paniai. Alat ini tak hanya dikenal dengan nama koteka, tetapi di sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Ukuran koteka biasanya disesuaikan dengan aktivitas penggunanya. Ukuran ini berbeda untuk setiap aktivitasnya. Baik itu saat bekerja, upacara, bahkan hanya untuk di rumah. Ada yang pendek dan juga panjang yang disertai dengan berbagai hiasan. Biasanya yang ukuran panjang ini digunakan untuk menghadiri upacara adat. Dan cara penggunaannya pun berbeda untuk setiap suku yang ada di Papua. Hal ini berbeda sekali dengan anggapan banyak orang bahwa ukuran koteka itu bergantung pada ukuran alat vital penggunanya. Setiap suku di Papua memikliki koteka yang berbeda-beda.  Orang Yali, lebih menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom biasanya memakai dua labu.

Seiring bertambahnya waktu, koteka semakin jarang digunakan. Hal ini terjadi karena pelarangan penggunaannya untuk ke sekolah maupun instansi resmi. Sejak 1950-an, para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai pengganti koteka. Pemerintah RI sejak 1960-an tengah berusaha untuk mengurangi penggunaan koteka di setiap daerah. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar. Pada akhirnya di tahun 1971, dikenal istilah operasi koteka. Operasi ini dilakukan bersamaan dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Namun, warga Papua malah banyak yang terserang penyakit kulit. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki sabun dan pakaian tersebut tidak pernah dicuci.

Keunikan koteka ini memang memberikan kesan yang khas untuk masyarakat di Papua. Namun, koteka juga tidak bisa digunakan secara terus-menerus setiap harinya. Karena hal ini masih sangat promitif dan jauh dari kesan modern. Pelarangan penggunaan koteka tersebut membuat warga Papua semakin mudah menerima perkembangan zaman yang semakin maju. Walaupun awalnya banyak yang tidak menanggapi pelarangan tersebut, namun pada akhirnya sedikit-demi sedikit masyarakat di Papua sudah beralih menggunakan pakaian yang semestinya.

Walaupun sudah tidak digunakan setiap harinya, alat ini juga memberikan banyak hal mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia. Khususnya di Papua. Koteka bukan hanya alat yang digunakan untuk menutupi kelamin laki-laki zaman dahulu, koteka juga merupakan asset budaya yang perlu dilestarikan. Maka tak heran jika dalam acara atau ritual upacara tertentu masyarakat masih menggunakan alat ini.

Nah, itulah tadi hal-hal seputar keunikan koteka. Koteka memang budaya tanah Papua yang perlu dilestarikan oleh masyarakatnya. Penggunaannya pun bisa beragam di setiap acaranya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Uniknya Tradisi Merarik Ala Suku Sasak
Suku Sasak - yang berada di Pulau Lombok ini memang tak hanya terkenal dengan kerajinan menenunnya yang telah mendunia. Berbagai adat dan budaya suku ini pun menjadi catatan penting bagi suku Sasak. Banyak budaya yang ada di sini yang kini mulai banyak ditinggalkan. Namun, untuk budaya pernikanan masih tetap dilestarikan.

Pernikahan merupakan suatu hubungan yang menandakan suatu kehidupan baru. Dimana dua orang yang tak saling bersama akan memulai kehidupan bersama untuk selamanya. Dalam hal ini, seseorang tak bisa sembarangan dalam mencari pasangan dan menikah. Terlebih lagi, ada banyak adat yang ada dalam perkawinan di setiap daerah. Seperti halnya yang ada dalam budaya Suku Sasak. Dalam suku ini ada istilah namanya merarik. Merarik merupakan suatu adat perkawinan orang Sasak dimana mempelai wanita dilarikan dulu ke rumah keluarga pihak laki laki terlebih dahulu. Kemudian akan ada utusan dari pihak laki-laki yang mengatakan bahwa anak perempuannya telah dilarikan oleh pengantin laki-laki. Utusan ini diutus dalam satu hingga tiga hari setelah penculikan.

Walaupun demikian, prosesi pernikahan ini tak berhenti hingga saat itu juga. Masih ada berbagai prosesi lainnya yang mengiringi tradisi Merarik. Prosesi-prosesi tersebut diantaranya adalah:

1. Besejati


Prosesi bersejati yaitu prosesi awal setelah terjadinya penculikan. Pada tahapan ini pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat untuk memberikan laporan kepada kepala desa ataupun keliang/kepala dusun setempat bahwa pengantin laki-laki ingin menikah. Dalam hal ini, kepala desa dimohon untuk menyetujui niat perkawinan tersebut dan melaporkan hal ini kepada pihak keluarga perempuan.

2. Selabar


Tujuan dari Selabar adalah untuk memberitahukan kepada pihak keluarga pengantin perempuan mengenai penculikan anaknya. Kabar ini pun dilanjutkan dengan pembicaraan adat istiadatnya berupa Pisuke. Pesuke adalah sejumlah uang atau barang yang diberikan secara sukarela dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Pemberian ini kemudian akan digunakan untuk biaya syukuran menikah.

3. Bait  Wali


Bait Wali adalah mengambil wali dari pihak perempuan. Wali ini bisa juga dilaksanakan langsung pada saat selabar ataupun dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan selabar. Bait wali dilakukan tergantung dari kesepakatan dua belah pihak. Dan kemudian dilaksanakan akad pernikahannya.

4. Sorong Serah


Pelaksanaan sorong serah ini bertujuan untuk memberikan pengumuman resmi acara perkawinan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Acara ini juga disertai dengan penyerahan berbagai peralatan mempelai dari pihak laki-laki atau yang biasa disebut ajen-ajen. Acara ini dilakukan beberapa saat sebelum arak-arakan pengantin tiba di rumah perempuan.

5. Nyongkolan


Dalam pelaksanaannya, prosesi ini dilakukan oleh pihak laki-laki bersama handan taulan untuk mengunjungi keluarga dari pihak perempuan.

Tradisi merarik ini begitu unik dan tak ada di daerah lain. Suku Sasak pun masih melestarikan tradisi ini hingga saat ini. Bahkan banyak juga masyarakat lain yang menyaksikan tradisi ini di Pulau Flores. Walaupun perkembangan zaman sudah semakin maju, berbagai tradisi leluhur masih saja dilestarikan. Tak heran jika kebudayaan ini semakin terkenal dan mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat suku Sasak.

Nah, itulah tadi beberapa hal mengenai keunikan tradisi merarai ala suku Sasak yang perlu Anda ketahui. Tradisi ini masih banyak dipakai oleh suku asli Pulau Flores. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat untuk Anda. Terima kasih telah menyimaknya.

Uniknya Tradisi Merarik Ala Suku Sasak

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat
Bagaimana cara anda menentukan pasangan hidup anda ke depan? Bagaimana cara anda merencanakan berhubungan atau kencan dengan seseorang? Dua pertanyaan ini paling mendasar mengingat saat ini di dalam masayarakat sudah terjadi pergaulan bebas yang tidak hanya terjadi pada kalangan muda-mudi tetapi kalangan tua juga terjadi hal yang sama.

Di dunia barat berpacaran umumnya berarti suatu periode yang panjang untuk mengenal seseorang melalui pertemuan yang sering, melihat ke mana tujuannya, mungkin hidup bersama dan, jika kedua belah pihak berpikiran sama, maka mungkin saja mereka menikah suatu saat nanti. Namun, bagi seorang Muslim yang belum menikah, untuk mencari pasangan bukan dengan cara yang demikian!

Islam tidak mengenal pacaran dengan model di atas, yang diajarkan ajaran agama Islam ialah berpacaran dalam menentukan pasangan berarti mengenal pasangan (taaruf) dengan jalan yang hikmah, yaitu menentukan batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilewati. Islam tidak mengajarkan untuk tinggal bersama pasangan sebelum menikah, Islam tidak mengajarkan untuk kencan berdua tanpa ada muhrim, hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori yang artinya "janganlah seorang lelaki berduaan (berkencan) dengan seorang wanita kecuali ada muhrimnya"

Islam tidak mengajarkan untuk seseorang melihat aurat pasangan taaruf/pacarnya (kecuali wajah dan tangan untuk wanita) sebelum menikah, ada beberapa pendapat mengatakan yang tidak boleh dilihat (aurat) bisa dilakukan oleh perantara yang terpercaya (misalnya: keluarga, sahabat, dan teman karib) yang dibolehkan (muhrim) dan juga sesama jenis, sehingga bisa mengetahui apakah calon pasangan mengalami cacat di bagian tubuh tertentu atau tidak. Hal ini boleh dilakukan mengingat menikah bukan tentang hidup satu atau dua hari tetapi menikah adalah pertemuan dua orang yang nantinya hidup sepanjang hayat, sehingga untuk menghindari perceraian perlu dilakukan hal-hal yang sifatnya intim tetapi dengan cara-cara yang Islami.

Saling Kenal Menganal


Sebagaimana kita ketahui bahwa penciptaan manusia berawal dari seorang laki-laki yang kita kenal dengan nama Adam dan seorang perempuan yang bernama Hawa. Dari kedua manusia pertama inilah kemudian lahir milyaran manusia yang ada di muka bumi, yang berbeda-beda. Allah tidak menciptakan satu manusia sama dengan manusia lainnya sekalipun itu kembar identik, yang lahir dari rahim yang satu. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbedaan sidik jari setiap orang yang berbeda-beda.

Kemudian dalam perkembangannya, manusia mengalami pemisahan-pemisahan, tinggal berpindah-pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain, melahirkan ras-ras yang berbeda, membentuk bangsanya masing-masing, kemudian membentuk sukunya dengan budayanya masing-masing dan kemudian membentuk kerajaan atau negara yang berbeda-beda. Hal ini memang sudah menjadi rencana Allah dengan tujuan agar manusia saling kenal mengenal, sebagaimana firmannya di dalam Al-Quran surat Al-Hujrat ayat 13, yang artinya "wahai manusia, sesungguhnya telah kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenal."

Ayat ini membuktikan bahwa, saling kenal mengenal itu sudah meruntuhkan batas-batas negara, warna kulit, dan kebudayaan. Dunia saat ini sudah dapat diakses hanya dengan sebuah perangkat gandget kecil di tangan, kita sudah bisa berkenalan dengan orang yang berada di luar daerah atau bahkan di luar negeri sekalipun. Berkenalan juga bisa diartikan sebagai hubungan diplomasi antar negara, hubungan pesahabatan antar negara, hubungan perdagangan antar negara, dan hubungan cinta dengan yang berbeda warga negara.

 Allah telah menjadikan manusia berbeda-beda dengan tujuan mulia, karena dengan perbedaan tadi dunia akan terlihat indah, coba bayangkan kalau di dunia ini hanya ada satu jenis manusia saja, atau satu budaya manusia saja, apakah tidak membosankan itu?

Budaya Pacaran dalam Arti Taaruf


Sejak awal penciptaan manusia (Adam dan Hawa) keduanya telah dibekali dengan rasa cinta, yang kemudian diturunkan kepada keturuanan selanjutnya yaitu kita saat ini. Sehingga rasa saling suka, rasa saling ingin memiliki, dan rasa ingin hidup bersama dengan berlainan jenis sudah menjadi fitrah manusia. Namun hal ini perlu dilatar belakangi dengan niat yang baik serta cara yang baik pula. Yaitu cara-cara yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Ada orang bilang; "dunia sudah modern tapi masih mempertahankan budaya Islam yang klasik, kuno namanya itu." Kalau kita melihat kenyataan yang terjadi dengan pernyataan ini maka lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab. Apa hasil dari pacaran ala barat yang katanya modern? Hilanya kehormatan, dan yang lebih parah lagi berapa banyak bayi-bayi yang tidak berdosa dibuang akibat perbuatan zina. Atau berapa banyak wanita muda yang melakukan aborsii? Mari kita jawab sendiri menggunakan rasio yang Allah telah berikan tentang faedah ajaran Islam yang katanya kuno itu.

Lebih baik menjadi manusia kuno yang beradab daripada menjadi manusia modern yang biadab

Lalu bagaimana berpacara sebenarnya?

Banyak kalangan Islam melarang untuk berpacaran, padalah kalau kita kembalikan kepada akar sejarah, pacaran tidak terjadi seperti yang ada dalam budaya masyarakat saat ini. Pacaran merupakan budaya melayu. Kata pacaran berasal dari nama daun inai atau daun pacar yang digunakan untuk merias tangan seorang wanita. Dalam budaya masyarakat melayu, jika ada seorang laki-laki tertarik kepada seorang perempuan, maka laki-laki itu akan mengirimkan beberapa 'utusan' untuk berpantun di depan rumah wanita tersebut. Jika wanita itu dan keluarganya merespon dan menerima, maka kedua keluarga akan berkumpul dan membicarakan tentang ikatan yang akan terjadi kemudian ditandai dengan pemakaian inai (pacar air) di tangan kedua muda mudi ini. Inai ini fungsinya untuk menandai adanya hubungan keduanya.

Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Setelah acara itu sang perempuan di kurung di dalam rumah oleh orang tuanya untuk mendapatkan pendidikan tentang rumah tangga selam empat puluh hari atau lebih, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, atau yang biasanya ditandai dengan hilangnya inai di tangan perempuan. Dalam waktu yang telah ditentukan (biasanya hingga 3 bulan) sang lelaki tidak datang melamar maka, perempuan boleh memutuskan hubungan, namun jika sang lelaki datang melamar pujaan hatinya maka akan terjadi perjanjian suci berupa pernikahan. Dalam waktu menunggu tersebut kalian jangan kira mereka berpacaran seperti yang terjadi saat ini, mereka sangat terjaga hubungannya hingga pernikahan dilangsungkan.

Nah sekarang sudah jelaskan bahwa pacaran itu adalah menandai pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta dengan pacar air. Dalam hal ini jika kita tinjau dari segi Islam maka sudah terjadi proses taaruf di sini. Sehingga pacaran yang baik adalah yang dilakukan dengan adab dan etika sesuai dengan budaya masyarakat dan tuntunan ajaran agama, yaitu datang ke rumah kemudian saling kenal mengenal dan jika cocok, maka menikahlah setelah itu barulah memasuk babak pacaran yang lebih intim setelah menikah.

Hukum Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat

Perbedaan Tari Kecak dan Tari Barong Bali
Bali sebagai ikon wisata terkenal dari Indonesia tidak hanya terkenal dari keindahan alamnya saja, namun keagungan tradisi masyarakatnya jua menjadi daya tarik tersendiri yang banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali. Telah diketahui bahwa Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat, najasa dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali. Beberapa tari yang terkenal yaitu Tari Kecak dan Tari Barong.

Banyak orang yang salah menganggap sama kedua tarian ini akibat kostum dari penari yang hampir sama. Untuk mudah membedakannya, berikut adalah informasi mengenai perbedaan tari kecak dan tari barong yang akan di jelaskan secara rinci.

Tari Kecak diciptakan pertama kali pada tahun 1930. Umumnya pertunjukkan tari ini dilakukan oleh penari laki-laki yang duduk berbaris membentuk sebuah lingkaran dan menyerukan kata “cak” secara berulang-ulang dengan mengangkat kedua tangan. Pementasan Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Sementara Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan ini disimbolkan oleh Barong vs Rangda, yang mana keduanya ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Pada tarian ini Barong dilambangkan dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah lambang dari kejahatan. Tari Barong biasanya dipentaskan hanya oleh dua penari. Penari yang memerankan Barong memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan penari yang memerankan Rangda memakai topeng yang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing pada mulutnya.

Perbedaan tari kecak dan tari barong juga terletak pada jenis pertunjukannya, tari barong mengandung unsur-unsur komedi dan unsur-unsur mitologis yang membentuk seni pertunjukan. Unsur-unsur komedi ini biasanya diselipkan di tengah-tengah pertunjukan untuk memancing gelak tawa dari penonton. Seperti pada babak pembukaan, tokoh kera yang mendampingi Barong membuat gerakan-gerakan lucu yang disengaja atau menggigit telinga lawan mainnya yang bertujuan untuk mengundang tawa dari penonton. Tidak hanya itu, pada pertunjukkan Tari Barong juga seringkali diselingi dengan Tari Keris (Keris Dance), di mana masing-masing para penarinya menusukkan keris ke tubuhnya seperti pertunjukkan pertunjukan debus.

Berbeda dengan Tari Barong, Tari Kecak awalnya berasal dari ritual sanghyang. Tarian ini membuat penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh dari para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Perbedaan tari kecak dan tari barong lainnya terletak pada music pengiring tari. Berbeda dengan seni pertunjukkan lainnya, Tari Kecak tidak mengandalkan instrument alat music untuk mengiringi tarian, melankan paduan suara dari para penarinya yang mengeluarkan irama “cak” secara bersahut-sahutan hingga menghasilkan paduan yang sangat harmonis.

Perbedaan Tari Kecak dan Tari Barong Bali

Keunikan Tari Saman dari Suku Gayo di Aceh
Tari Saman adalah tarian yang berasal suku Gayo (Gayo Lues) yang didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tarian ini beberapa kali memecahkan rekor dunia dengan menjadi tarian dengan penari paling banyak hingga mencapai 12 ribu penari. Keunikan tari saman dari suku gayo ini juga membuat UNESCO menetapkan tarian ini sebagai warisan budaya dunia pada 24 November 2011 lalu.

Berikut adalah beberapa keunikan tari saman dari suku gayo lainnya:

1. Makna dan Fungsi

Syekh Saman membuat tari saman ini menjadi salah satu media dakwah. Maka dari itu tarian ini biasa dipertunjukkan dalam acara adat, maulid Nabi Muhammad SAW, penyambutan tamu dan lain-lain.

2. Nyanyian

Tari saman biasanya ditampilkan tanpa iringan alat musik, melainkan menggunakan suara dan tepukan dari penari. Tepukan bisa berupa tepukan tangan, tepukan paha dan tepukan dada. Nyanyian atau syair dari tarian ini menggunakan bahasa Arab dan bahasa gayo yang memuat pesan-pesan dakwah, nasihat maupun sindiran.

3. Gerakan

Keunikan tari saman dari suku gayo lainnya berasal dari gerakannya. Karena hanya menampilkan gerak tepukan, gerak guncang, kirap, lingang, surang-saring dan lainnya. Keharmonisan gerak oleh penari adalah syarat dari tari ini. Di mana biasanya tempo gerakan semakin lama akan semakin cepat agar terlihat semakin menarik.

4. Penari

Gerakan yang cepat dan berguncang-guncang membuat penari yang sebenarnya dibolehkan dalam tari saman ini adalah berasal dari kaum laki-laki. Jika saat ini sering terlihat tari saman yang dilakukan oleh kaum perempuan, itu adalah hasil modifikasi. Karena pada hakikatnya tarian ini kurang elok jika dilakukan oleh kaum perempuan.

Dalam pertunjukkan biasa saman bisa dimainkan oleh penari yang berjumlah 12 orang, akan tetapi keutuhan saman setidaknya didukung oleh 15 sampai 17 penari dengan fungsi masing-masing. Fungsi tersebut meliputi pengangkat, pengapit, penyepit dan penupang.

5. Kostum

Kostum yang dipakai oleh penari juga tidak kalah unik. Pada bagian kepala penari menggunakan bulung teleng atau tengkuluk dengan dasar kain hitam segi empat. Dua segi di sulam dengan benang yang sama seperti baju, sunting, dan kepies. Pada bagian badan menggunakan baju pokok / baju kerrawang yang terbuat dari kain dasar warna hitam dengan motif kerrawang berwarna merah, putih, kuning dan hijau. Dipadukan dengan celana dan kain sarung. Pada bagian tangan menggunaka aksesoris berupa topeng gelang, dan sapu tangan.

Itu dia sedikit dari banyak keunikan tari saman dari suku gayo yang sangat kental dengan budaya islam. Semoga aksi pelestarian budaya oleh generasi muda ini dapat terus berjalan dalam waktu yang sangat lama.

Keunikan Tari Saman dari Suku Gayo di Aceh

Reog Ponorogo Kesenian Indonesia yang Terus dilestarikan
Reog merupakan kesenian asli Indonesia yang berasal dari kota Ponorogo, maka dari itu kesenian ini disebut Reog Ponorogo. Hingga saat ini, Reog masih aktif dipertontonkan dan dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia bahkan wisatawan mancanegara. Kesenian reog sering diidentikan dengan kekuatan dunia hitam, kekerasan, dan kekuatan gaib. Memang, dalam pertunjukkan reog biasanya diperlihatkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak yang beratnya hingga mencapai 50 kg. Dadak merak ini diangkat dengan cara digigit oleh pembarong sepanjang pertunjukkan reog berlangsung.

Keunikan dari kesenian ini sangat autentik dan tidak terdapat pada kesenian yang berasal dari daerah lainnya. Hal ini membuat reog ponorogo kesenian yang terus dilestarikan mulai dari pemerintah hingga masyarakat ponorogo. karena dengan adanya wujud mempertahankan nilai kesenian reog ponorogo dalam kebudayaan Indonesia menjadikan budaya Indonesia akan semakin maju dan banyak yang mengenal kesenian dari kota ponorogo tersebut, sehingga memperkecil risiko adanya negara lain yang mengklaim budaya dari Indonesia.

Demi mewujudkan aksi pelestarian kesenian Reog Ponorogo ini pemerintah juga ikut turun tangan dengan mengadakan pembinaan Reog Ponorogo. Pembinaan ini dilakukan secara continue dimana beberapa grup reog bekerja sama dengan Instansi Terkait yaitu Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya khususnya Dinas Pariwisata (Disparta) Surabaya melakukan pembinaan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pembinaan secara langsung yaitu pemerintah daerah melalui Disparta Surabaya membantu dan mendukung sarana dan prasarana demi lancarnya suatu pementasan / pertunjukan Reog.

Pembinaan secara tidak langsung yaitu pembinaan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas group reog. selalu memberikan masukan, arahan dan penekanan kepada pekerja seni reog tentang berkreasi yang sehat dan harmonis agar para peminat pertunjukan selalu mengalami peningkatan jumlah.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah daerah Ponorogo juga melestarikan kesenian reog dengan cara mementaskan kesenian reog di berbagai kesempatan., seperti acara penyambutan tamu, hari-hari besar nasional, hingga acara peringatan. Dengqn harapan agar Reog Ponorogo terus dapat berkembang dan dikenal sebagai kesenian tradisional asal Indonesia oleh dunia.

Bagi kamu para pemuda yang juga ingin ikut melestarikan reog, bisa berpartisipasi dalam belajar memerankan tarian Reog Ponorogo. Hal ini dilakukan agar banyak para pemuda yang tidak hanya peduli namun mampu menjadi generasi penerus yang bisa mementaskan tarian Reog Ponorogo, karena saat ini para pementas reog biasanya adalah sekumpulan pria paruh baya. Dari hasil tersebut juga diharapkan adanya usaha mempertahankan Reog Ponorogo kesenian yang terus dilestarikan agar tidak punah dimakan zaman. Dan juga berdampak pada hasil baik yaitu mampu membentuk generasi pemuda menjunjung kesenian atas budayanya.

Reog Ponorogo Kesenian Indonesia yang Terus dilestarikan

Wayang merupakan salah satu ragam budaya Indonesia yang pada 2003 diakui oleh dunia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humaity atau mahakarya dunia yang tak ternilai melalui UNESCO. Pertunjukan wayang kerap di selenggarakan di pesta adat atau acara lainnya yang bisa menarik minat banyak penonton. Bagi kamu yang suka wayang berikut adalah informasi yang dapat menambah wawasan untuk mengenal asal usul wayang.

Mengenal Sejarah Asal Usul Wayang Indonesia
wayang Indonesia via pixabay.com
Wayang dipercaya telah ada di Indonesia sejak 1500 tahun SM di pulau jawa. Pada awalnya wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dalam beberapa upacara adat jawa. Saat itu bentuk wayang sangat sederhana, berupa rerumputan yang diikat. Mengikuti perkembangannya, setelah itu kemudian wayang dibuat menggunakan kulit hewat atau kulit pohon.  Menurut catatan yang ada, wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan telah ada sejak abad ke-2 masehi.

Butuh waktu selama 10 abad agar wayang dapat berkembang dan memasuki daerah istana kerajaan jawa. Setelah itu wayang juga menyebar ke pulau Bali, Lombok, Madura, Sumatera hingga Kalimantan. Namun, setiap daerah memiliki adat dan seni pertunjukan wayang yang berbeda, semua ini disesuaikan dengan budaya setempat.

Wayang dibedakan menjadi dua jenis tergantung pada bentuknya, yaitu wayang kulit dan wayang golek. Wayang golek yaitu wayang yang terbuat dari kayu, memiliki bentuk 3 dimensi selayaknya boneka. Sedangkan wayang kulit yaitu wayang yang berbentuk datar. Kulit ini biasanya diambil dari kulit binatang buruan atau kulit pohon. biasanya dalam pertunjukan wayang jenis ini diproyeksikan di depan layar yang menyala dari belakang sehingga membentuk bayangan.

Kesukaan masyarakat Jawa pada seni pertunjukan wayang pada masa itu, ternyata dimanfaatkan oleh pemuka agama islam untuk proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Seperti halnya yang dilakukan oleh sunan kalijaga yang rajin melakukan pertunjukan wayang untuk tujuan berdakwah. Pertunjukan wayang tersebut disisipi nilai islami agar masyarakat yang mayoritas masih memeluk agama Hindu dan Budha saat itu dapat sedikit demi sedikit mengenal ajaran Islam.

Banyaknya penonton wayang membuat beliau tertarik untuk mengembangkan pertunjukan wayangnya dengan diiringi segala perlengkapan alat musik tradisional gamelan dan para sinden agar pertunjukan lebih semarak. Dalang pada pertunjukan dianggap sebagai ahli sastra yang dibudidayakan yang mentransmisikan nilai-nilai moral dan estetika melalui karya seni. Dulu, kata-kata dan tindakan karakter wayang juga biasa digunakan sebagai sarana untuk mengkritik masalah sosial.

Itu dia fakta-fakta yang disajikan untuk mengenal asal-usul wayang. Tentunya kesenian tradisional asli Indonesia ini harus terus diperhatikan dan dilestarikan agar tidak punah. di mana generasi muda juga harus ikut serta dalam usaha pelestariannya agar generasi muda tidak terbuai degan terpaan budaya barat dan melupakan budaya dari negeri sendiri.

Mengenal Sejarah Asal Usul Wayang Indonesia

Pernikahan merupakan suatu ikatan janji suci yang sakral yang dilakukan oleh dua orang untuk hidup bersama dalam membangun rumah tangga. Pernikahan dilakukan untuk melegalkan hubungan dua orang manusia yang berbeda jenis. Dari pernikahan inilah kemudian berkembang biak manusia menjadi beragam suku, bangsa, agama, dan juga memiliki beragam budaya, adat istiadat, dan tradisis yang berbeda.

Dalam prosesi pernikahan suatu suku atau bangsa memilki budayanya sendiri-sendiri, misalnya saja budaya uang panai di suku bugis dan makassar, budaya siraman di suku jawa, dan sebagainya. Ini baru ada di Indonesia, yang hanya satu negara saja tetapi sudah memiliki beragam tradisi dalam pernikahan. Di dunia ada banyak tradisi dalam pernikahan bahkan ada yang terlihat aneh bagi orang yang bukan berasal dari wilayah tersebut. Untuk mengetahui tradisi-tradisi aneh dalam pernikahan di dunia, berikut ini ulasannya.

Tradisi Pengantin Menangis


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Di tiongkok ada sebuah suku yang bernama suku tujia memiliki tradisi yang aneh sebelum menikah. Pengantin wanita diharuskan untuk menangis selama satu jam dalam sehari selama satu bulan penuh. Pada awalnya calon mempelai ini menangis sendiri di dalam aula atau di ruang keluarha, kemudian 10 hari kemudian diikuti oleh ibunya, 10 hari setelah ibunya bergabung disusul neneknya untuk ikut menangis, dan 10 hari terakhir disusul oleh saudari-saudari perempuannya dan bibinya untuk ikut menangi, yang durasi menangisnya sama selama sejam.

Tradisi Gergaji Sepotong Kayu


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Pernikahan di jerman biasanya dilakukan tradisi memotong sepotong kayu dengan gergaji oleh kedua pengantin. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan kekompakan kedua mempelai dalam bekerja sama nantinya dalam melalui bahtera rumah tangga.

Tradisi Meludahi Pengantin


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Bagi suku massai di kenya, meludah kepada penganten ini merupakan tradisi yang sangat sakral. Tetapi tidak untuk semua orang, hanya ayah dari penganten wanita saja yang meludahi anaknya. Ini melambangkan sebagai pemberkatan seorang ayah kepada putrinya.

Tradisi aneh ini bukan saja dilakukan kepada orang yang menikah, tetapi orang suku ini juga biasanya meludah sebelum berjabatan tangan dengan orang terhormat atau orang lain yang lebih tua sebagai tanda penghormatan.

Tradisi 2 Anak di Sudan


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Di sudan, ada sebuah tradisi aneh yang dilakukan oleh suku nuer dalam pernikahan. Bagi mereka proses pernikahan belum selesai sampai pengantin wanita melahirkan dua orang anak, jika belum mendapatkan dua anak alias gagal, maka pernikahan bisa jadi batal.

Tradisi Larang ke WC/Toilet


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Kalau tradisi aneh yang satu ini berasal dari Indonesia, tepatnya di suku tidong kalimantan. Kedua mempelai selama tiga hari tiga malam dilarang ke wc, artinya bahwa mereka harus menahan rasa perut sakit untuk buang air kalau saja terjadi, sehingga kedua pengantin tidak diberi makan banyak hanya sedikit saja untuk menghindari itu.

Suku ini percaya bahwa melanggar tradisi ini akan membawa sial bagi pernikahan, sedangkan yang melaksanakannya akan membawa dampat yang baik, berupak kelanggengan, subur, dan bahagia dalam pernikahan.

Tradisi Boneka Pengantin (Bridal doll)


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Ketika berada pada acara pernikahan di Puerto Riko, anda jangan heran jika ada boneka pengantin yang terlihat kuno yang mirip seperti penganti wanita, dan juga berpakaian yang sama. Ini merupakan suatu tradisi yang ada dalam pernikahan di sana.

Boneka ini dihiasi seindah mungin dan memiliki pesona yang memikat, kemudian diberikan kepada tamu undangan, dengan harapan bahwa tamu undangan itu bisa memasukkan uang ke boneka tersebut sebagai gantinya. Kalau di Indonesia budaya ini juga ada, hanya saja uang dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disediakan saat berjabatan tangan dengan pengantin.

Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia