Coretanzone: Bushcraft -->

    Social Items

Solo Bushcraft di Hutan: Kegiatan yang Mengasyikkan di Alam Bebas
Barang kali sebagian orang mengaggap bahwa kegiatan bushcraft baik itu secara kelompok atau sendiri merupakan kegiatan yang biasa-biasa saja, atau hanya sekedar masak-masak di hutan. Tetapi pada dasarnya kegiatan ini sangat sulit dilakukan jika tidak memiliki skill tertentu, seperti mendirikan tenda/bivak atau shelter baik itu menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam, atau yang dibawa sendiri dari rumah seperti flysheet. 


Saya sendiri misalnya, tidak pernah melakukan pelatihan khusus untuk kegiatan bushcraft ini, tetapi sudah sejak kcil dilatih oleh lingkungan untuk dapat mendirikan shelter permanent dari bahan alam, kemudian membuat api, dan memasak makanan ala kadarnya untuk bertahan hidup di hutan. Bagi kami masyarakat yang tinggal di pedesaan, menyalakan api menggunakan kayu bakar itu sudah hal yang biasa. Masuk hutan dengan hanya menggunakan kaos oblong, sendal jepit, dan celana pendek itu hal yang lumrah, yang menjadi aneh adalah ketika seseorang masuk ke hutan menggunakan sepatu, sehingga ketika saya pergi membuat kontent bushcraft kadangkala ditanya oleh orang yang ada di sekitar hutan "mau jalan-jalan ke mana?", saya hanya tertawa kecil dan mengatakan, "mau jalan-jalan ke hutan". Hahaha


Begitulah kira-kira, tetapi bukan itu point utama dalam tulisan ini, karena saya ingin bercerita tentang bagaimana serunya solo bushcraft di hutan hingga bermalam di sana dengan suasana yang agak seram, karena tidak ada penerangan yang memadai.


Bushcraft menurut pandangan saya adalah suatu keahlian untuk membuat kreatifitas tertentu di semak (outdoor) dengan memadukan antara peralatan yang kita miliki dan sesuatu yang ada di alam bebas. Saya biasanya dalam melakukan kegiatan bushcraft atau berkemah di hutan, hanya membawa beberapa peralatan sederhana, seperti sendok, kuksa, piring, peralatan masak, dan flysheet untuk membuat shelter. Setelah sampai di lokasi bushcraft, biasanya shelter yang saya buat menyesuaikan dengan keadaan tempat saya bushcraft, dan shelternya itu sangat sederhana, yang terpenting aman untuk menginap satu atau dua malam di hutan.


Sedangkan untuk membuat perapian, saya memanfaatkan pohon yang sudah tumbang kemudian kayunya menjadi kering. Adakalanya kayu-kayu ini basah karena terkena hujan, sehingga untuk menyalakan api saya perlu mencari kayu, bambu atau daun kering yang dinyalakan terlebih dahulu kemudian, kayu yang basah ini akan diletakkan di atas kayu yang sudah menyala itu, sehingga kayu basah menjadi kering dan ikut terbakar. 


Setelah shelter sudah dipasang, kemudian api sudah menyala, selanjutnya saya memasak makanan yang saya bawa dari rumah atau beli di pasar. Berhubung saya tinggal di wilayah kepulauan yang boleh disebut pulau kami ini pulau karang besar, sehingga di hutan desa kami merupakan hutan kering yang tidak ada sungai, telaga, danau dan sebagainya. Sehingga air minum dan bahan makanan semua dibawa dari rumah.


Masak-masak dalam kegiatan bushcraft ini merupakan salah satu kegiatan yang mengasyikan, karena saya bisa mencoba memasak makanan yang tidak pernah saya masak (saya tak pandai memasak), kadang makanan yang saya hasilkan dari racikan sendiri ini rasanya enak, kadang juga rasanya biasa saja. Namun apapun hasilnya, makanan tersebut tetap harus dimakan, karena perut yang tidak bisa diajak kompromi lagi alias lapar.


Makan di hutan tak seperti makan di rumah, warung atau restoran, barangkali ketiga tempat ini sudah biasa oleh masyarakat umum. Sedangkan makan di dalam hutan apalagi sendiri, menjadi moment yang sangat meneduhkan. Di sana, saya merasa begitu tenang seperti semua beban hidup hilang sejenak, apalagi dihibur dengan suara burung yang saling bersahutan, ohhh syahdunya. Orang Maluku bilang "seng ada lawang," yang artinya tidak ada bandingannya. Sungguh nikmat makanan yang saya makan, padalah itu hanyalah makanan biasa-biasa saja.


Makan siang atau sore telah selesai, biasanya saya istirahat sejenah dan membuat suatu kerajinan, seperti membuat mangkok dari batok kelapa atau lainyya, sesuai dengan kemampuan saya. Saya tidak ingin membuat suatu kerajinan tangan yang sulit dan tidak saya ketahui, bagi saya kerajinan tangan yang sederhana untuk mendukung kegiatan bushcraft itu saja sudah cukup. Setelah kerajinan tangan sederhana ini selesai saya buat, saya istirahat sejenak menanti malam hari tiba  kemudian membuat api unggun, memanaskan air dan menyeduh segelas kopi panas. 


Minum kopi di malam hari sambil mendengar suara jangkrik yang berbunyi itu sesuatu kondisi yang memadukan antara rasa senang dan rasa seram yang bercampur. Seseorang yang normal ketika berada di hutan pada malam hari dengan penerangan yang tidak memadai pasti merasa agak takut, namun kondisi semacam ini harus diatasi dengan mencoba untuk menganalogikan semua yang terjadi di hutan dengan sesuatu yang rasional bukan mistis, sehingga pikiran terus berada dalam keadaan terkendali dan tidak memikirkan yang buruk-buruk. Nah inilah sebenarnya strategi mengendalikan pikiran ketika berada dalam situasi yang sulit, karena dengan pemikiran yang jernih kita dapat mengatasi apaun yang terjadi pada diri kita.


Setelah menikamti segelas kopi yang ditemani oleh suara hewan malam, saya beristirahat sejenak, kemudian merapikan tenda/shelter dan tidur untuk mengistirahatkan tubuh secara menyeluruh. Tidur di hutan berbeda dengan tidur di kamar hotel atau kamar rumah. Tidur di dalam hutan tidak boleh tidur begitu pulas, kita juga tetap behati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti tergigit hewan melata. Sehingga selain persiapan yang memadai sebelum tidur, juga dibarengi dengan do'a dan kehati-hatian, agar terhindar dari segala gangguan hingga pagi menjelang.


Pada pagi hari saya menyalakan api kemudian memasak air, dan menyeduh segelas kopi. Setelah itu saya menikmatinya dengan biskuit atau snak yang saya bawa. Biasanya saya juga membuat sarapan pagi seperti roti bakar dan telur goreng. Setelah sarapan pagi selesai, saya kemudian mengisi barang bawaan ke dalam ransel, membongkar tenda, memadamkan api, dan merapikan lokasi kemping dan terakhir adalah keluar dari hutan dan pulang ke rumah.



Pada akhir tulisan ini, saya membagikan salah satu video bushcraft yang saya lakukan di hutan. Berikut ini video solo bushcraft di hutan: kegiatan yang mengasyikkan di alam bebas. Selamat menonton dan semoga terhibur.

Solo Bushcraft di Hutan: Kegiatan yang Mengasyikkan di Alam Bebas

Mengenal Keterampilan Bushcraft Masa Kini
Bushcraft merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan di luar ruangan oleh orang yang mencintai kegiatan outdoor. Secara bahasa bushcraft terdiri atas dua kata yaitu kata "bush" yang artinya semak dan kata "craft" yang artinya kerajinan. Dengan demikian maka bushcraft bisa berarti kerajinan yang dilakukan di semak. Sedangkan dalam kamus Oxford kegiatan bushcraft ini diartikan sebagai “skill in matters pertaining to life in the bush” yang jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti "suatu ketrampilan yang berkaitan dengan cara hidup di semak-semak."


Pada dasarnya, bushcraft sudah lama dikenal oleh masyarakat dunia jauh sebelum manusia mengenal alat-alat modern. Karena jika kita lihat dari defenisi bushcraft sendiri maka, hal ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sehari-hari oleh manusia untuk bertahan hidup tanpa menggunakan alat-alat modern. Misalnya saja kebiasaan orang yang tinggal di beberapa kampung atau pedesaan yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, dan membuat perabotan rumah dengan memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam, seperti mangkok dari batok kelapa, kuksa, sendok kayu, tempat tinggal, bivak/shelter dan sebagainya.


Ada beberapa pandangan yang menyebutkan bahwa bushcraft adalah kegiatan yang primitif, karena dalam kegiatan bushcraft tidak menggunakan alat-alat atau teknologi modern. Namun jika kita lihat saat ini, manusia sudah tidak bisa terlepas lagi dengan alat-alat modern, misalnya saja seorang pemula yang baru belajar bushcraft seperti saya ini, ketika berkiatan di hutan, saya masih menggunakan beberapa alat modern dengan alat tradisional untuk membuat suatu kerajinan.


Sekilas jika kita lihat antara bushcraft dan survival hampir nampak sama, namun pada dasarnya kedua hal ini berbeda. Survival lebih kepada suatu kondisi terdesak yang mengharus seseorang atau sekelompok orang untuk bertahan hidup, misalnya saja bertahan hidup ketika tersesat di hutan, ketika berada di kapal karam yang karaam, pesawat jatuh, dalam kondisi pandemi, dan sebagainya. Sedangkan bushcraft hanya dilakukan di luar ruangan (semak) dengan persiapan yang sudah ada dan bukan dalam kondisi terdesak serta mengarah kepada natural crafting yaitu kreativitas di alam atau membuat sesuatu dengan bahan yang sudah disediakan alam.


Lalu apa saja yang dilakukan saat melakukan kegiatan bushcraft? Kalau pertanyaannya ini maka jawabannya adalah "tergantung pada kebutuhan seseorang yang melakukan bushcraft itu." Seperti pada umumnya seseorang bushman atau bushwoman pada saat bushcraft di hutan atau lingkungan outdoor lainya, biasanya membawa perlengkapan seadanya, seperti pisau, parang, kapak, gergaji, peralatan memasak dan sebagainya. Pada saat berada di lokasi, terlebih dahulu membangun shelter/bivak (penampungan sementara) baik itu yang dibuat menggunakan peralatan modern seperti flysheet maupun menggunakan bahan yang ada di alam (kayu, daun, dan lain-lain).


Setelah penampungan selesai maka, akan dibuat perapian (ini bisa dibuat paling awal tergantung kondisi alam), kemudian memasak makanan, dan setelah itu biasanya bushman atau bushwoman membuat kerajinan tertentu untuk mendukung aktivitas di alam. Nah, ini hanya gambaran kecil tentang aktivitas saat bushcraft. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dilakukan di alam bebas, namun secara umum biasanya ini. Salah satu contoh kegitan bushcraft dapat dilihat dalam video berikut ini.



Demikianlah postingan kali ini tentang mengenal keterampilan bushcraft masa kini, semoga bermanfaat.

Mengenal Keterampilan Bushcraft Masa Kini

Keluar dari Kepenatan dan Kebisingan Kota | Solo Bushcraft Indonesia
Cerita ini berawal dari kepenatan saya yang bosan dengan hiruk pikuk suasana kota yang semakin hari semakin ramai, sedangkan wilayah pedesaan sudah banyak yang meninggalkannya. Banyak orang mulai pindah ke kota untuk mencari "penghidupan" yang lebih baik. Akhirnya desa semakin sunyi dan wilayah perkotaan semakin padat penduduk.

Anggapan bahwa mencari penghidupan lebih baik di kota menurut hemat penulis masih keliru, karena masih banyak orang yang tinggal di desa yang hidupnya sejahtera karena mereka mampu mengelola kehidupan yang lebih baik. Kata kunci dari semua itu adalah memiliki ketrampilan yang sesuai dengan kondisi tempat tinggal.

***

Hari semakin siang, kira-kira pukul 09.00 saya mulai menyiapkan perlengkapan melakukan perjalanan ke hutan. Saya tak begitu membawa banyak barang perlengkapan, karena perjalanan ini sekedar keluar dari kepenatan dan kebisingan kota, menuju ke wilayah hutan yang sunyi sepi dan mencoba untuk menggunakan segala yang telah disediakan alam.

Saya mulai menstater motor metik, kemudian menuju ke pombensin untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu, saya melakukan perjalanan sekitar satu jam ke desa Ibra - kab. Maluku Tenggara. Di desa ini saya membeli dua bungkus kopi instan, dan empat buah roti untuk perbekalan. Setelah itu saya melaju ke wilayah hutan yang sebagian sudah menjadi perkebunan warga.

Di sana, saya memilih lokasi yang agak sunyi dan tidak dilewati oleh orang, kemudian saya membuka hammock dan mengikatnya di pohon. Setelah itu, saya kemudian memotong tiga pohon kecil untuk membuat "tungku" segi tiga. Lalu saya mengambil tali-talian pohon untuk mengeratkannya.

Tungku sederhana telah siap, lalu saya mengumpulkan kayu yang ada di sekitar tempat itu, kemudian menyalakan api, dan memasak air hingga mendidih. Kopi instan yang ada di dalam ransel saya ambil dan menyeduhnya. Kemudian saya menikmatinya sambil mendengarkan kicaun burung yang merdu di hutan itu.

Burung-burung itu berkicau seakan sedang berbalas pantun, setelah sebagian bekicau ada lagi burung lain yang membalas kicaun itu. Begitu indah suara-suara itu, bagaikan suara panggilan bidadari surgawi.

Secangkir kopi dan beberapa buah roti saya nikmati dengan tenang, tanpa ada gangguan atau bisingan seperti di kota, yang ada hanyalah suara alam yang seakan menyatu dengan diriku yang membuat mata mulai sayu.

Santapan sederhana telah saya nikmati, kemudian saya beristirahat di atas hammock hingga sore. Tak ada aktivitas yang banyak saya lakukan, karena hari itu hari libur, sehingga mengistirahatkan tubuh menjadi pilihan terbaik.

Sorepun tiba, suara burung semakin kencang, menandakan waktu malam akan datang. Saya lalu mengumpulkan semua barang bawaan kemudian mengisinya kembali ke dalam ransel. Hammock saya lipat kembali, sampah plastik saya pungut, panci kecil diisi ke dalam kresek. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu untuk pulang kembali ke rumah.



Nah inilah cerita singkat saya di hutan itu, cerita ini disertai dengan video yang sudah saya buat, semoga dapat menghibur dan bermanfaat buat teman-teman sekalian. Jangan lupa untuk like, share, dan subscribe channel YouTube Pengembara Kei untuk mendukung kegiatan-kegiatan kami selanjutnya. Terima kasih.

Keluar dari Kepenatan dan Kebisingan Kota | Solo Bushcraft Indonesia