Coretanzone: Cerita

    Social Items

Melawan atau Ditindas
Keheningan malam ini menambah gairah untuk melihat cakrawala yang sedang bercengkrama dengan alam, panorama pergi ke alam tiada dalam ketiadaan, terlihat mereka yang sedang bertapa dibawah gunung fantasi, dan mereka yang sedang asyik beronani dengan kekuasaan. Dalam keheningan itu aku dikejutkan dengan serdadu-serdadu yang berlari dengan laras panjang yang mereka pikul, menembus keheningan malam, merebut hak-hak rakyat jelata, menembak mati yang melawan, mencakar perut ibu-ibu yang sedang hamil. Malam ini penuh dengan darah dan tangisan janda yang ditinggal mati suaminya, bayi-bayi terkapar di sudut gubuk, Anak yatim bersimbah darah, bumi bergoncang dengan keras, mengutuk perbuatan yang nista ini. Alam sedang menangis melihat anak manusia yang tak sadar lagi, kesadaran telah hilang bersama keringnya embun pagi, panasnya mentari tadi siang membakar kebencian yang ada di dalam hati. Dari kejauhan terlihat sesosok ibu tua yang menghampiriku kemudian bertanya: "apa sebenarnya ini?" pertanyaan yang membuatku terkejut, ingin ku jawab namun logikaku telah ditutup dengan harumnya bau amis darah yang berserakan diantara gubuk-gubuk kecil itu.

Malam semakin larut, bulan terus menyinari bumi dengan indahnya namun kemurkaan tampak jelas dari wajah indah itu, intan-intan yang selalu terpancar dari wajah cantiknya telah larut dalam kesedihan yang memukau. Bintang-bintang tak lagi menampakkan binaran mutiara yang selalu kita lihat, semuanya menunjukkan pancaran kebenciaan.

Langkah kakiku kembali menuju ke kamar tempat dimana aku tinggal, dengan perabotan sederhana yang ku gunakan untuk bertahan hidup, lukisan kuno yang menambah indah kamar terpampang di sudut kamar. Aku mulai merebahkan badanku di atas tikar yang selalu ku gunakan untuk tempat beristirahat, ku coba untuk menutup mata yang dari tadi panas, namun mata ini tak bisa diajak untuk tertutup rapat, bayangan kekejaman tadi masih menghantuiku, mataku masih terjaga. Aku terus berusaha namun usahaku sia-sia, bayangan itu lebih kuat dibandingkan dengan ushaku. Namun seacra perlahan usahaku mulai menuai hasil, mata ini dengan perlahan merapat dan akupun tertidur ditemani dengan teriakan kodok yang mengalun dengan lembut.

Aku dikejutkan dengan suara adzan yang dikumandangkan dengan indah dari surau yang terletak di ujung jalan, rasa dingin mulai menghampiriku hingga menembus ke dalam jantungku, aku masih teringat dengan kejadian tadi malam, dalam hatiku bertanya “mimpikah aku semalam atau nyatakah itu?”

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, warna kuning emas yang terpancar darinya memperindah suasana pagi, embun pagi dengan jelas terlihat diatas dedaunan,  rumput ilalang begoyang lembut ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Dengan perasaan cemas bercampur sedih aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku yang pengap itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sepi, padahal di pagi sebelumnya jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan dibeli oleh warga sekitar, kios-kios tidak juga menampakkan tanda-tanda akan dibuka, semuanya bagaikan ditelan bumi. Aku terus berjalan mengikuti irama yang samar namun tak asing lagi di telingaku. Semakin aku mendekat sumber suara itu semkin jelas terdengar. Suara tangis sendu yang keluar dari mulut mungil seorang anak yang melihat bapaknya terkapar di atas keranda mayat. Banyak anak-anak yang tak berdosa sedang duduk di sudut-sudut jalan, tergambar jelas dari wajah anak-anak itu kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Serpihan luka masih mengental di dalam hati mereka, air mata masih bercucuran membasahi bumi.

Pandanganku tertuju pada sesosok wajah jelita yang tak asing lagi bagiku dia teman sekampusku, lalu coba untuk ku sapa,

“hy ani sudah lama kamu di disini?”

Iapun menjawab

“saya baru datang juga di sini, sekitar sepuluh menit yang lalu”

Kami saling berpandangan. Ani adalah seorang mahasiswi fakultas kesehatan di Universitas yang sama denganku, sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa fakultas keguruan. Kami saling kenal ketika mengikuti acara seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi extra kampus. Wajah cantik nan anggun itu melirik ke hadapan mereka yang sedang tidur di atas tanah yang penuh dengan hamparan bebatuan dan aliran darah yang telah mengering, kebingungan terlihat jelas dari raut wajah yang sejak tadi memandang ke seluruh penjuru wilayah yang telah dilumuri dengan kekejaman akibat dari nafsu serakah sekolompok manusia.

******

Matahari siang itu hampir membakar seluruh tubuh yang lalu lalang di setiap jalanan, sudut-sudut langit dipenuhi dengan amarah, namun kesibukan yang dilakukan oleh manusia tak pernah henti, mereka mengerjakan pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari tanpa meperdulikan panasnya matahari. Langkah kakiku terhenti di sudut kampus, lirikan mataku melihat sekelompok orang yang sedang asyik berteriak dan berorasi di depan kampus, di sekitar mereka terdapat kerumunan manusia yang memakai seragam coklat yang sedang menjaga dan mengawasi kegitatan tersebut. Teriakan teriakan yang mereka lantunkan bagaikan petir yang menyambar kepala manusia di siang bolong, kadang kala teriakan yel-yel khas mahasiswa terdengar, “hidup mahasiswa… hidup rakyat…”, teriakan itu berirama sekali dan membakar semangat mereka.

Perhelatan siang hari itu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong, membongkar bongkahan-bongkahan bebatuan keras, mengalir bagaikan lahar panas yang menyembur keluar dari gunung merapi. Mobil angkotpun mulai menumpuk di sepanjang jalan, kemacetan tak terhindarkan lagi, pihak lalu lintas bingung mengarahkan jalannya kendaraan yang tak beraturan itu. Aku termangu melihat pemandangan yang melengking, ku telusuri sudut kampus itu hingga sampai diantara kumpulan mahasiswa yang sedang menikmati kobaran api yang keluar dari ban bekas yang dibakar. Pikiranku sejenak terhenti berpikir, pikiran kosong yang jauh mengembara menembus batas langit, menghilang ke dalam larutan emosi yang terbakar oleh petir-petir kebencian. Langkah kakiku kembali mengalun lirih menuju sekelompok mahasiswa yang berdiri di dalam keramaian yang begitu panas. Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, sahabat seperjuangan dalam suka dan duka.

"eh kenapa baru kelihatan di sini zaki? Padahal demonya sudah dari tadi”

“maaf sahabat, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan, jadinya terlambat ke sini”

“tidak apa-apa sahabat, yang penting sudah hadir di sini”

Kami berdua terdiam sejenak karena suasana mulai memanas, ada sedikit pertentangan antara pihak keamanan dan pimpinan aksi, perdebatan terdengar dari dalam kerumunan itu. Aku kemuadian bertanya kepada sahabatku itu.

“tema sentral aksi hari ini apa?”

Dia tak menjawab pertannyaanku itu, dia cuma diam melihat hal yang terjadi di luar pertanyaanku, mungkin telinganya tertutup oleh ramainya perdebatan yang belum ada titik penyelesaian. Kemudian kami dikejutkan dengan tembakan yang bunyinya hampir memecahkan gendang telinga, tembakan yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan masa aksi, atau hanya sebuah bunyi yang mencoba untuk memaikan perannya sebagai dewa petir yang menyambar keberanian manusia. Bunyi tembakan berulang terdengar dan menyakitkan telinga, bahkan asap tebal mulai mengepul, massa aksi mulai berlari mencari perlindungan, air mata mengalir dengan deras keluar dari mata-mata yang rapuh, mata yang datang hanya untuk melihat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas dan direnggut oleh penguasa yang rakus. Siang itu bagaikan neraka yang harus dilawan dengan kekerasan, batu dan cacian keluar bersamaan, mengiringi luapan kemarahan hanya demi satu nama yaitu keadilan.

Bayang-bayang setan berkeliaran di depan kampus, menggoda dan mencoba meruntuhkan idealisme mahasiswa, pentungan terdengar di sisi-sisi jalan. Kamipun berlari menyusuri jalanan kampus menghindari amukan massa yang semakin brutal. Di bawah pohon yang rindang dan masih berdiri kokoh di belakang kampus, memberi satu isyarat bahwa kami harus berteduh di bawahnya, dengan menarik nafas yang panjang aku dan sahabatku itu kemudian beristirahat dibawah pohon tersebut.

Sungguh peristiwa yang melelahkan dan menguras hampir sebagian tenaga, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, dalam sekejap para pahlawan keadilan diterjang oleh badai yang begitu dahsyat, kemanakah mereka harus mengadu, kemanakah mereka harus mengeluh, dan kemanakah mereka berlindung, apakah semuanya sudah terlanjur salah ataukah dianggap salah. Nurani tidak lagi dipakai, akal sudah ditutupi oleh kabut dendam, iblis kemudian terbahak melihat semua ini merasa dirinya telah menang.

Apa yang terjadi siang ini merupakan ritual yang sering dilakukan oleh mahasiswa jika ada ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, menyuarakan kebenaran yang entah itu benar ataukah dibenarkan. Dalam ritual tersebut kadang terjadi pula hal-hal yang dibenarkan oleh akal dan idealism, walau dianggp salah oleh norma-norma yang berlaku, hanya demi mencari simpati dari penguasa untuk melirik dan mendengar jeritan rakyat. Apakah kita harus memberontak ataukah diam menerima keterpurukan, pilahan bijak selalu hadir sebagai solusi. Kebenaran yang benar haruslah diperjuangkan dengan jalan yang benar, bukan dengan menggunakan hawa nafsu dalam perjuangan.

Manakala Guntur berteriak di tengah langit, gemuruh angin akan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan, hujanpun mengikuti arah yang telah ditunjuk, rerumputan tumbuh di padang yang kosong, halilimtar menyambar dahan-dahan pohon, menghanguskan yang dihinnggapinya, lalu apa bedanya manusia dengan halilintar jika hawa nafsu digunakan.

Bersambung...

Melawan atau Ditindas

Esok Masih Ada Cinta
Hujan terus turun membasahi bumi seakan tak mau berhenti, anginpun ikut berhembus kencang. Di kejauhan sana rumput ilalang bergoyang mengikuti irama angin. Sinar mentari masih dihalangi awan hitam, belum nampak dirinya untuk menerangi bumi yang sedang ku pijak. Saya masih berlindung di teras rumah tua dengan hati yang gundah gulana, menanti hujan berhenti untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang hampir sampai tetapi putus di tengah jalan untuk bebetapa saat.

Dalam kesendirian di tengah hujan deras itu, tiba-tiba muncul sesosok wajah, berjalan dengan anggun di tepi jalan kenangan. Dia begitu anggun, kelopak matanya yang indah, senyumnya yang menawan memikat hati. Rasanya ingin ku gapai, tapi apalah daya, itu hanyalah ilusi masa lalu. Dia terus hadir, terkadang hilang tapi tak jauh, akan muncul kembali untuk beberapa saat.

Dia masih duduk di bawah pohon depan kampus, saya terus menatapnya, hingga suatu ketika dia menyadari itu. Ketika kami sedang bertatapan, dia hanya memberiku senyum yang tak bisa ku lupakan hingga saat ini. Rinduku masih melekat di situ, di suatu masa yang telah pergi jauh.

Kami berdua akhirnya berkenalan, dan mengobrol seadanya dalam pertemuan kedua ketika berada dalam suatu kegiatan kampus. Setelah peristiwa itu, hampir sebulan lamanya saya tak pernah bertemu dengannya. Rasa rindu untuk menatapnya tak pernah padam, wajahnya selalu ada dalam tatapanku, memberiku semangat baru setiap pagi menjelang. Dia begitu istimewa, walau saya belum begitu mengenalnya, tetapi itulah yang saya rasakan.

Hari berlalu dan terus berlalu, hingga suatu ketika dia memanggilku dari kejauhan. Saat itu saya baru keluar dari kelas kuliah.

“Abang…, abang Zaki…”

Suara yang agak kencang tetapi lembut itu membuatku menoleh ke belakang, melihat sesosok wanita dengan jilbab biru tosca, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan. Saya membalas senyum itu sembari berjalanan menghampirinya. Jantungku berdetak beitu kencang, hatiku girang tiada tara, dan sambil membatin,

“Ohh… rinduku”

“hai kejora, apa kabar?, lama kita tidak berjumpa”

Saya membuka percakapan ketika sudah berada di sampingnya.

“Alhamdulillah, baik abang, abang apa kabar?”

“Alhamdulillah baik, kamu kemana saja? Tak pernah kelihatan”

“Kebetulan saya ada studi lapangan, jadinya tidak pernah masuk ke kampus, saya ke sini juga hanya untuk konsultasi dengan pembimbing”

“Studimu tentang apa?”

“Saya sedang meneliti tentang kesiapan masayarakat dalam menghadapi era digital atau istilah kerennya saat ini revolusi industry 4.0 itu”

“Wah, menarik juga penelitianmu kejora”

Kami terus berbincang berbagai hal tentang penelitian yang sedang dia lakukan, kemudian saya mengajaknya untuk mengobrol di sebuah cafe di depan kampus, biar obrolannya lebih asyik.

Sesampainya di sana, kami masih berada dalam topik yang sama. Sepertinya dia serius betul melihat kondisi masyarakat dan perkembangan teknologi yang apakah mampu melahirkan suatu masyarakat yang disebut oleh Anwar Ibrahim sebagai masyarakat madani atau civil society itu.

Saya lebih banyak mendengar cerita dia bertemu dengan masyarakat pinggiran kota yang secara ekonomi belum mampu memilki berbagai alat teknologi mutakhir, dan masih banyak lagi yang dia ceritakan tentang bagaimana masyarakat harus makan di bawah kolom jembatan dan belum mengerti betul cara memanfaatkan berbagai teknologi itu untuk bangkit dan membangun kehidupannya. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah semua elemen bangsa, khususnya pemerintah untuk melakukan upaya-upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena, tanpa pendidikan yang baik maka, semuanya akan lumpuh.

Kami berdua terdiam sesaat sambil menikamati kopi cappuccino yang kami pesan. Saya menyeruput kopi yang hangat, sedangkan dia lebih memilih kopi yang dingin, katanya untuk mendinginkan hatinya yang sedang membara, tetapi pancaran kecantikannya tetap menyejukkan jiwaku.

Ah… rasanya saya ingin berada di sampingnya, menemani dirinya menysuri kota ini, tapi apalah daya, kami berada di fakultas dan jurusan yang berbeda. Dia kuliah di jurusan manajemen informatika, sedangkan saya di keguruan. Setiap hari kami berada di gedung kuliah yang berbeda dan jarang pula bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi saya percaya bahwa “jodoh itu tak akan kemana.” Seandainya dia adalah tulang rusukku maka, kami akan disatukan dalam mahligai cinta.

Bersambung…

Esok Masih Ada Cinta

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
Suatu ketika moko sedang berkunjung ke Amerika. Di sana dia menelusuri hampir sebagian besar wilayah negara Amerika, dia terkagum-kagum dengan negara paman sam itu. Secara teknologi mereka terus berkembang dan sudah maju lebih pesat dibandingkan Indonesia. Banyak gedung-gedung pencakar langait dibangun dengan mewah. Banyak hotel-hotel yang menyediakan fasilitas terbaik, dan banyak hal lain yang berbeda jauh dengan keadaan di tanah air.

Dari perjalanannya, dia melihat bahwa ternyata Amerika ini lebih maju dari Indonesia, namun satu hal yang ingin dia coba adalah dia ingin mengetahui kualitas pengetahuan manusianya, apakah sebanding dengan keadaan negaranya itu atau tidak. Maka dia berpikir untuk menemui seorang yang paling cerdas di negara itu. Dia bertanya ke sana-kemari, dan dari beberapa orang dia menemukan jawaban bahwa, yang paling cerdas di negera itu bernama Albert, seorang dosen sekaligus penemu terkemu.

Moko mulai mencari alamat orang jenius itu, dan dia menemukan alamatnya melalui seorang temannya. Moko kemudian membuat rencana untuk menemui orang itu. Tibalah waktu yang telah direncanakan. Moko mulai bersiap-siap dengan menggunakan pakaian yang rapi, dia menggunakan celana kain hitam dan baju batik coklat serta sepatu yang mengkilap. Kemudian moko memesan taksi, dan berselang beberapa menit taksi itu sudah tiba di depan penginapan yang dia tempati. Moko kemudian bergegas masuk ke dalam mobil taksi yang berwarna kuning itu.

Selama perjalanan moko tidak tinggal diam, dia banyak bercerita tentang Indonesia kepada supir taksi. Supir taksi yang tidak tau tentang Indonesia itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Hingga suatu ketika dalam perjalanan itu moko bertanya kepada sopir taksi.

"Kamu kenal Albert?"

"Ya, saya kenal" Jawab supir taksi itu

"Kamu tau alamat ini?" lanjut moko sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat kepada supir taksi yang duduk di depannya.

"Ya, saya tau. Tanpa kamu menunjukkan alamat itu saya sudah tau alamat Albert" Jawab supir taksi itu lagi.

Moko hanya terdiam mendengar jawaban supir taksi.

"Semua orang di negara ini, tau siapa itu Albert, bahkan mungkin semua orang di dunia ini, karena dia merupakan seorang ilmuan ternama." Supir taksi menjelaskan lebih lanjut.

Moko hanya diam, namun dalam hatinya dia membatin, "sehebat itukah ilmuan amerika itu, sehingga banyak orang mengenalnya?"

Perjalanan sudah hampir satu jam, dan supir itu membelokkan kendaraan masuk ke jalan setapak perumahan. Kemudian moko bertanya kepadanya, "kita sudah hampir sampai ya?"

Supir itu menjawab, "tinggal beberapa blok lagi kita akan sampai."

Beberapa blok telah dilewati dan sampailah di sebuah rumah besar bertingkat. Mobil taksi berhenti dan supir taksi berkulit putih itu mempersilahkan moko untuk turun.

"Silahkan turun pak, inilah rumahnya"

"iya, terimah kasih, berapa harga taksinya?"

"Harganya sepuluh dolar"

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
gambar ilustrasi 

Moko menyerahkan selembar uang kertas kepada supir taksi itu, kemudian supir taksi itu pergi meninggalkan moko sendiri di depan rumah yang asing bagi moko. Rumah itu di depannya ada pohon yang rindang. Beberapa bunga juga terlihat bermekaran di halan rumah.

Dengan percaya diri moko melangkahkan kakinya menuju ke atas tangga rumah, kemudian di depan rumah dia mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

Dari dalam rumah ada bunyi kaki yang menuju ke depan pintu, dan kemudian pintu rumah itu terbuka. Terlihat oleh moko sesosok lelaki sederhana yang berdiri di depannya dengan senyum lebar. Moko menyapanya, kemudian laki-laki itu bertanya kepadanya.

"Anda, siapa?"

"Saya moko"

"Moko siapa?"

"Moko asal Indonesia"

"Owh... anda orang Indonesia, silahkan masuk"

Mereka berdua masuk ke dalam rumah besar itu, kemudian lelaki itu menyodorkan tangannya kepada moko. Mereka berdua berjabatan tangan sambil lelaki itu berkata.

"Saya Albert"

"Berarti anda yang saya cari" balas moko.

"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya Albert.

"Saya ingin menguji seberapa cerdas anda" jawab moko.

"Baiklah, mari silahkan duduk"

"Terima kasih"

Sebagai tuan rumah yang baik Albert menawarkan beberapa minuman, dan moko memilih kopi. Albert kemudian menyuruh pembantunya untuk menyiapkan minuman tersebut. Sambil menunggu kopi tiba mereka berdua bercerita lepas, moko bercerita tentang kekagumannya dengan Amerika, dan Albert bercerita tentang beberapa referensi yang ia baca tentang keindahan alam Indonesia.

Berselang beberap menit, dua gelas minuman tiba dihadapan kedua orang yang sedang asik bercerita itu. Pembantu itu meletakkan satu gelas di depan Albert dan gelas yang satunya lagi di depan moko. Albert mempersilahkan moko meminum kopi yang telah disajikan.

"Silahkan diminum kopinya"

"Iya terima kasih" balasa moko

Beberapa saat mereka berdua terdiam, kemudian muka moko agak bingung. Albert kemdian bertanya kepadanya, "ada apa dengan anda moko?"

"Kopi ini rasanya kok tidak asing di lidah saya" Jawab moko

"Kopi itu sebenarnya diimpor dari Indonesia tepatnya dari pulau sumatra, hanya saja diolah di sini" Albert menjelaskan.

"Ohh pantasan enak sekali, tidak seperti kopi yang saya minum sebelumnya di penginapan yang rasanya agak aneh."

Mereka berdua kemudian bercerita banyak tentang kopi hingga beberapa menit lamanya. Kemudian moko mengingatkan Albert tentang tujuanannya.

"Kita sudah bisa mulai menguji kepintaran masing-masing?" Tanya moko

"Iya, namun sebelum itu, kita harus membuat kesepakat terlebih dahulu" Lanjut Albert

"Kesepakatan apa itu?" Tanya Moko

"Kalau anda dapat menjawab pertanyaan saya, saya akan memberikan anda sepuluh dolar, namun jika anda tidak dapat menjawab, anda tidak perlu memberi saya apa-apa. Sebaliknya jika saya dapat menjawab pertanyaan anda, maka anda tidak perlu memberi saya apa-apa, tetapi jika saya tidak dapat menjawab pertnayaan anda, maka saya akan memberikan anda dua puluh lima dolar."

Mendengar jawaban yang menguntungkan bagi diriya itu, moko langsung menyepakati perjanjian yang dibuat oleh Albert. Kemudian moko mempersilahkan Albert untuk memulai terlebih dahulu. Albertpun memulai dengan pertanyaannya.

"Berapa jarak antara bumi dan bulan?"

Mendengar pertanyaan itu moko terdiam dan mulai berpikir tentang jarak antara bumi dan bulan, namun tidak dapat menemukan jawabannya. Kemudian dia berkata, "saya tidak mengetahuinya"

"Jarak antar bumi dan bulang itu sejauh 384.400 km" Albert menjawab sendiri pertanyaannya.

Sesuai dengan perjanjian di atas, maka moko tidak membayar sepeserpun kepada Albert.

"Moko, sekarang giliran anda"

"Baiklah Albert, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan saya"

"Iya, silahkan moko"

"Kendaraan beroda tiga apa yang pernah naik ke bulan" tanya Moko kepada Albert.

Mendengar pertanyaan itu, Albert bingung dan berpikir keras tentang kendaraan mana beroda tiga mana yang sudah naik ke bulan. Hingga dua menit Albert belum menemukan jawabannya, kemudian Albert mengalah dan mengatakan, "saya tidak tau mok, lalu apa jawabannya."

Moko dengan santai mengatakan, "bayar terlebih dahulu sebagaimana kesepakatan yang kita buat di awal tadi."

Albert menyerahkan uang sebesar dua puluh lima dolar kepada moko, kemudian bertanya lagi, "apa jawabannya."

Moko menjawabnya dengan santai "saya juga tidak tau"

Suasan hening sejenak menyelimuti mereka berdua, namun kemudian terpecahlah suara tawa di ruangan tamu yang agak luas itu.

Siapa yang lebih pintar, Albert orang Amerika atau Moko orang Indonesia? Jawabannya silahkan dicoret di kolom komentar.

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri
Kisah inspiratif tentang tak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah diri sendiri ini saya dapatkan ketika masih menjadi mahasiswa dulu, kisah ini tentang perjalanan seorang anak manusia yang mencari jati dirinya. 

Alkisah, suatu ketika ada seorang anak manusia berjalan menysuri hutan belantara, sebut saja namanya Cozen. sepertinya dia ingin menjejaki semua tempat dalam hutan itu untuk menemukan hal-hal baru yang menurutnya menarik. Perjalanan yang panjang membuat dirinya banyak merenung dan mulai bimbang. Suatu ketika di dalam hutan dia melihat seekor singa yang kuat. Singa itu dapat memangsa lawannya dengan cepat. Kekuatan dan kelicikan yang dimiliki singa itu sangat dahsyat. Dari situ si cozen ini ingin menjadi singa, dan jadilah dia singa. Dia kemudian menguasai hutan belantara tempat dimana dia berada, namun suatu ketika dia melihat singa lain mendapat serangan dari ular berbisa sehingga singa lain itupun mati.

Dari kejadian yang dia lihat, cozen mulai berpikir bahwa sekelas singa sekalipun bisa mati terkena bisa ular, sehingga dia berkeinginan untuk menjadi ular, maka jadilah dia ular. Dia merayap kesana kemari, meracuni lawannya sehingga lawannya kalah, kemudian melahap habis. Namun suatu ketika ada seekor burung elang sedang berterbangan ke sana kemari. Dia membatin "apa sebenarnya yang dilakukan elang itu? Sepertinya burung itu sedang mencari makan." Berselang beberap menit seekor ular telah dibawa terbang oleh burung elang. Pertanyaan dalam hatinya telah terjawab.

Cozen mulai berpikir lagi, ternyata menjadi ularpun masih bisa dimakan oleh burung elang di udara, sehingga dia ingin menjadi burung elang, dan jadilah dia burung itu. Cozen dengan sayapnya yang kokoh terbang kesana-kemari, dia dapat memangsa apa saja yang dia lihat lemah di atas permukaan tanah, termasuk ular. Dia berpindah dari satu dahan pohon ke pohon yang lain, dari satu gunung ke gunung yang lain. Dia terbang tinggi mengudara di angkasa.

Suatu ketika cozen sedang asyik terbang di anatara dua gunung, ternyata di lembah itu ada angin yang kuat. Cozen terkena angin lembah dan tak mampu menyeimbangkan tubuhnya, sehingga dia jatuh tersungkur di tanah. Badannya sakit semua, sayapnya mulai melemah, kakinya yang kokoh dengan cakar yang kuatpun tak mampu membawa beban tubuhnya.

Dalam kesakitannya dia membatin, "seekor elang yang kuatpun bisa jatuh di atas tanah hanya karena terkena angin lembah." Dari pengalamannya beberapa pengalaman, cozen tak lagi ingin menjadi apa-apa, seperti yang telah dia lalui. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa berubah seperti sesuatu yang lain.

Dari kisah pendek di atas dapat diambil hikmah bahwa, dalam kehidupan ini kita tidak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah pribadi yang apa adanya. Kita tidak perlu hidup bak seorang sosialita yang memiliki harta yang banyak, jika keadaan ekonomi lemah. Kita tidak perlu sombong karena di atas langit masih ada langit lagi.

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng
Hari semakin sore kira-kira pukul 16.00, di sepanjang jalan sultan alauddin sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan baik itu kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, di sana sini orang berjalan mengikuti langkah kaki mereka dalam beraktifitas. Saya yang sedari tadi duduk termangu di depan kampus I UIN Alauddin memandangi penyelesaian konstruksi bangunan rumah sakit dan gedung kuliah pasca sarjana, tak tau apa yang mau ku kerjakan karena baru tiba dari kampus II UIN alauddin Makassar di samata gowa sekitar satu jam yang lalu.

Seperti biasanya kalau pulang kampus perut mulai terasa perih karena dari tadi pagi perutku ini hanya diisi dengan sepotong roti dan segelas teh, begitulah kondisi mahasiswa yang bermodal tipis, yang ada di kepala hanyalah kapan bisa menyelesaikan studi dan pulang ke kampung halaman dengan membawa ilmu pengetahuan dan titel keserjanahan yang menurutku tidak terlalu penting, yang terpenting seberapa besar otak ini diisi dengan ilmu yang bermanfaat.

Aku terus memandangi pembangunan gedung bertingkat yang mewah itu, hingga dikagetkan oleh mahasiswi tingkat bawah yang berjalan menghampiriku.

“Lagi apaq ka?” begitulah percakapan awal yang dimulai dengan pertanyaan basa-basi.

“Lagi dudukji saja, sambil ku lihat pembangunan kampusta yang maumi rampung”, ku balas dengan jawaban sekenanya saja.

“Bagaimana dengan skripsita ka?” dia melanjutkan percakapannya dengan bertanya tentang skripsiku.

“Sudahmi ditanda tangi sama pembimbingku de, tinggal ujian akhir ji ini” begitulah jawabku kepadanya, kebetulan saya merupakan salah satu mahasiswa yang terlambat wisuda sudah tiga semester bertahan di kampus.

“Bagusmi itu ka”, dia hanya mengatakan itu tanpa ada ucapan selamat atau apapun yang terdengar enak di telinga, tapi bagiku tidak menjadi masalah karena sudah terbiasa.

“Kalau kita iya, bagaimana dengan kuliahta? Jangan sampai terlambat selesai sepeti saya ini, kuliah yang rajin selesaikan nilaimu yang bermasalah sejak dini, biar cepatq selesai”. Begitulah sedikit nasehat dari seorang kaka senior yang telat selesai.

“iya ka, pulangka duluna, jangqi lama-lama melamun di sini ka”.

“Oke ani, hati-hatiq di jalan de”. Diapun berjalan menyusuri lorong kecil yang kami sebut sebagai lorong tikus (lotus), sedangkan diriku masih terdiam dan pikiranku kacau balau memikirkan ujian akhir yang sudah dekat.
Tak jauh dari tempat duduku ada sebuah terminal kecil untuk mobil kampus yang khusus untuk mengantar mahasiswa dari kampus I ke kampus II, kalaupun ada masyarakat umum yang naik mobil kampus maka itu adalah mereka yang tinggal di antara kampus I dan kampus II. Mobil itu saling bergantian, ada yang baru masuk  dengan banyak penumpang dan ada yang keluar menuju kampus II dengan berlari kosong, karena kalau sudah sore begini penumpang di kampus I mulai sepi, hanya mahasiswa yang baru pulang kuliah dari kampus II saja yang memenuhi kendaraan roda empat itu.

Matahari mulai menyongsong ke sebelah barat, langit mulai berwarna kemerahan gelap, perutkupun berontak meminta untuk diisi dengan makanan. Aku membuka dompetku dan menghitung lembaran-lembaran rupiah, apakah bisa untuk membeli makanan atau tidak, setalah ku hitung lembaran-lembaran pecahan dua ribu dan lima ribuku, ternyata masih tersisa Rp. 32.000, bisa untuk membeli semangkok coto Makassar dan beberapa buah ketipat.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan melalui trotoar menuju ke warung yang jaraknya lumayan jauh. Di depan gedung Syekh Yusuf Jl. Sultan Alauddin ada warung yang bertuliskan coto bagadang, di sinilah tempat faforitku untuk menyantap coto Makassar. Aku masuk dan memesan satu mangkok coto. Di sini para pembeli disediakan empat pilihan yaitu coto dengan isi mangkuk campuran, daging saja atau hati saja dan daging dan hati. Saya memilih pilihan keempat, sedangkan untuk ketupat sudah disediakan di atas meja makan.

Aroma bau daging di dalam ruangan itu menyengat hidung dengan keharuman yang begitu menggiurkan mulut. Aku hanya terdiam dan menikmati bau harum itu, kemudian dalam diamku itu yang tidak terlalu lama makanan kesukaanku di kota daeng itupun tiba dihadapanku. Pelayan di sini begitu cepat dalam menyajikannya, jadi tidak perlu tunggu lama lagi perut sudah bisa diisi dengan daging kambing atau daging sapi yang dibalut dengan bumbu khas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Silahkan dimakanq”, begitulah saya dipersialahkan makan oleh seorang pelayan yang tak asing lagi di mataku.

“iye, terima kasih”. Ku jawab begitu saja, diapun berlalu menuju tempatnya dan melayani lagi pembeli lainnya. Tak perlu tunggu lama lagi, akupun mulai menyelami lautan kenikmatan bersama coto makassar dan beberapa buah ketupat yang ada di depanku, tak lupa teh es yang manis turut serta melepaskan dahagaku.

Setelah makan lalu menuju ke kasir untuk membayar makanan yang ku makan tadi, kemudian langkah kakiku membimbingku menuju ke kamar kos-kosan yang jaraknya lumayan jauh. Berselang 15 menit aku sampai di kamar kos-kosanku kemudian menyiapkan segala hal untuk akhir studiku.

Begitulah kisahku di kota daeng, bagaimana dengan kisahmu?

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng

Cerita Santri Gaul dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Dikejauhan sana, di ujung Pulau Dullah terdapat salah satu lembaga pendidikan Islam Terpadu. Itulah pondok pesantren al-Ikhlas yang sudah aktif mendidik santrinya sejak tahun 2002 silam. Saya sendiri merupakan salah satu diantara ribuan santri yang pernah sekolah di sana.

Di sanalah kisah saya dimulai, kisah tentang seorang Santri Gaul dari Pondok Pesantren. Istilah santri ini paling populer di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Sebutan santri ini digunakan untuk menyebut peserta didik yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren. Sedangkan istilah santri gaul ini untuk santri yang bukan saja belajar agama Islam secara klasikal tetapi santri yang juga belajar secara modern dan selalu update informasi terbaru dari luar dan juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Itulah beberapa pengertian yang saya buat sendiri tentang santri.

Untuk pengertian saya cukupkan dulu sampai disini pembahasannya, saya akan ceritakan tentang kisah santri gaul yang berawal dari santri culun.

Santri Culun di SMP Terpadu Al-Ikhlas


Setelah tamat sekolah dasar, saya terinspirasi dengan sebuah tayangan televisi yang sempat saya nonton di rumah tetangga, kebetulan waktu itu di rumah kami tidak ada televisi, keluarga kami hidup dalam kesederhanaan saja, sehingga kami tak begitu banyak memiliki alat eletronik, salah satunya televisi yang di saat itu cukuplah mahal untuk ukuran tingkat ekonomi keluarga kami.

Kehidupan santri yang saya nonton itu membuat saya menjadi seperti ingin berada dalam tayangan tersebut, hidup di dalam asrama bersama banyak teman, dan segala aturan-aturan ketat yang ada di dalam acara reality show tersebut. Waktu itu saya termasuk anak yang super aktif, sehingga saya ingin banyak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Nah dalam tayangan tersebut terdapat berbagai macam kegiatan santri membuat saya terkagum-kagum. Sebenarnya yang membuat saya paling tertarik dengan kehidupan pesantren dalam tayangan itu karena ada seorang anak yang hampir sebaya dengan saya waktu itu, dia duduk terdiam di samping asrama dengan menggunakan celana kain, baju kaos, peci dan sarungnya yang hanya dia gantung di lehernya.

Sebenarnya yang saya lihat bukan anak itu saja, tetapi kesederhanaan anak itu beserta santri lainnya yang membuat saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah Islam pondok pesantren.

Saya hampir dikirim ke pulau jawa dengan program beasiswa pendidikan di pondok pesantren. Kebetulan waktu itu (hingga sekarang) ayah saya adalah seorang NU kultur garis keras, sehingga beliau sangat mendorong untuk saya mengikuti program beasiswa tersebut. Namun sang ibu rasanya berat untuk melepaskan anaknya yang masih culun ini merantau ke tanah jawa yang jauh dari jangkauannya.

Bersamaan dengan tawaran beasiswa itu, ada satu lembaga pendidikan Islam pondok pesantren modern yang baru dibuka di daerah saya ini. Kebetulah ketua yayasan-nya masih kerabat dekat dengan sang ayah, sehingga saya disuruh untuk sekolah di sana saja. Semua keluarga sepakat itu termasuk saya yang mengenal dunia pesantren hanya lewat tayangan televisi.

Kesepakatan sudah dibuat bahwa saya harus sekolah di pesantren dari tingkat SMP/MTs hingga SMA/MA. Dalam diam saya membatin "semoga pesantren al-Ikhlas kehidupannya sama dengan yang saya lihat di tayangan televisi". Dan tanpa keraguan lagi, pada hari dan tanggal yang ditentukan saya diantar oleh keluarga ke pondok pesantren Al-Ikhlas yang terletak di desa Tamedan.

Hari minggu tanggal 22 juni 2002 adalah hari pertama saya dan teman-teman angkatan pertama menginjakkan kaki di pesantren yang terletak di ujung kecamatan Pulau Dullah Utara itu. Waktu itu daerah kami ini belum dimekarkan, sehingga kami semua masih berasal dari kabupaten yang satu yaitu Maluku Tenggara. Namun saat ini daerah kami ini sudah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan satu kota. Pondok pesntaren Al-Ikhlas sendiri berada di daerah kota Tual.

Kami waktu itu anak-anak kecil yang masih culun semua, kami hanyalah anak tamatan SD yang belum mengenal komputer, leptop, hp, smartphone, dan gandget lainnya. Permainan kami masih tradisional sekali. Berbeda dengan anak zaman sekarang yang sudah dewasa sebelum menjadi anak-anak. Selain kami ada pula kakak kelas yang melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas, mereka adalah tamatan SMP/MTs yang kelihatan sudah agak dewasa melebihi kami yang masih kecil-kecil ini.

Hari-haripun berlalu, apa yang saya idamkan ternyata ada, walaupun waktu itu kami masih kekurangan ustadz dan ustadzah yang kesemuanya didatangkan dari pondok pesantren Darurrohman jakarta. Nanti pada angkatan berikutnya barulah ada ustadz dan ustadzah yang didatangkan dari pondok-pesntren lain di pulau jawa seperti pesantren gontor dan pondok pesantren lainnya.

Ciri khas NU yang sangat kental dengan ajaran aswaja (ahlussunnah wal jamaah) diterapkan di pondok pesantren Al-Ikhlas. Apa yang saya inginkan tentang kehidupan itu saya dapatkan disini, tentang anak sarungan, tentang kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler dan tentang pendidikan agama, semuanya lengkap di sini. Saya begitu berbahagia menjalani hari-hari bersama teman-teman, kakak kelas SMA, para ustadz dan ustadzah, para guru SMP dan SMA dan semua yang ada di sana.

Waktu berjalan begitu cepat tak terasa pada tahun 2004, saya sudah berada di kelas 3 SMP (sebutan saat ini kelas IX), saya mulai berkeinginan yang berbeda, saya merencanakan jika setelah menamatkan pendidikan menengah pertama saya melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan. Keinginan saya ini karena ada dorongan dari teman-teman yang melihat saya yang mempunyai hobi mengotak atik barang-barang yang berhubungan dengan listrik (alat eletronik). Namun ketika keinginan itu saya utarakan kepada orang tua saya, mereka dengan tegas menolak itu, terlebih sang ibu, yang waktu itu mengatakan bahwa; Pesanten itukan pilihan kamu sejak dulu, maka selesaikan apa yang sudah kamu mulai, demi kebaikan dunia dan akhirat. Kalau fatwa begini sudah keluar, saya sebagai seorang anak hanya bisa mengambil sikap "sami'tu wa atho'tu" (saya dengar dan saya taat). Tidak ada sanggahan, usulan, saran atau kritikan lagi. Sayapun sadar bahwa itu adalah jalan yang saya pilih maka, harus saya selesaikan pendidikan dari jenjang smp hingga sma, sehingga pendidikan agama tidak terpotong di tengah jalan.

Santri Gaul di SMA Terpadu Al-Ikhlas


Ujian nasional SMP dan ujian Diniyah telah selsesai, kami diperbolehkan pulang sambil menunggu hasil ujian. Berselang beberapa minggu, kami diminta kembali ke sekolah untuk mendengar kelulusan. Dengan hati berdebar-debar kami menanti pengumuman itu diperdengarkan, dan ternyata semua peserta didik lulus dengan nilai yang baik.

Setelah mendengar kelulusan, ada beberapa teman yang tidak ingin lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di pondok pesantren ini, mereka lebih memilih untuk melanjutkannya di luar. Saya dengan beberapa orang teman, dengan pendirian yang kuat dan dorongan dari keluarga, serta nasihat dari para dewan guru, kami bertekad untuk melanjutkan pendidikan menengah atas di pondok pesantren.

Berawal dari kegiatan masa orientasi siswa baru saya mulai menunjukkan kemampuan dalam hal beretorika, di sinilah saya mulai diperhatikan oleh dewan guru, kalau waktu di SMP saya pernah menjadi juara kelas baik pelajaran diniyah maupun pelajaran umum, tetapi waktu itu saya belum begitu agresif.

Setelah kegiatan MOS kami menggunakan pakaian putih abu-abu dan mulai belajar di kelas yang berbeda. Ada teman lama yang keluar melanjutkan pendidikan di sma lain, mereka digantikan dengan teman baru yang baru masuk pesantren pada tingkat SMA. Kegiatan kepesantrenan berjalan mulai lancar setelah libur panjang dan penerimaan siswa baru. Berselang satu bulan proses pembelajaran, mulai ada wacana pembentukan ulang pengurus OSIS dan pengurus organisasi asrama.

Wacana itu menyebar luas dan sudah mulai diidekan  kemudian dianggedakan dan dilaksanakan pemilihan ketua osis secara demokrasi oleh seluruh siswa. Sedangkan pemilihan ketua pengurus asrama juga dilaksanakan di asrama. Semua berjalan dengan lancar, aman dan damai. saya dan beberapa orang teman ditunjuk menjadi pengurus organisasi asrama bidang ta'lim / Tarbiyah (pendidikan). Sedangkan di kepengurusan osis saya ditunjuk sebagai koordinator bidang organisasi.

Selain kedua organisasi extrakulikuler ini saya juga aktif sebagai anggota pramuka gugus depan Al-Ikhlas. Berbagai macam kegiatan kami laksanakan bersama mulai dari kegiatan asrama berupa pembinaan santri baru, sampai kegiatan-kegiatan organisasi osis di luar sekolah. Kami bersama teman-teman dari sma luar pernah mempelopori berdirinya organisasi keluarga OSIS se-kabupaten Maluku Tenggara.

Dari berbagai kegiatan-kegiatan ini saya belajar tentang organisasi dan berbagai hal yang mengembangkan pengetahuan saya, baik itu pengetahuan akademik, pengetahuan sosial kemasyarakatan.

Ketika berada di kelas 2 SMA saya terpilih menjadi ketua OSIS setelah bersaing dengan dua calon lainnya. Kegiatan pemilihan kami lakukan secara demokratis, mulai dari pendaftaran calon, kampanye, debat, penyampaian visi dan misi, sampai pada kegiatan pemilihan. Saya terpilih dengan suara terbanyak mengalahkan dua teman tersebut. Selain itu saya juga terpilih menjadi ketua ambalan penegak untuk gugus depan Al-Ikhlas, sekaligus terpilih sebagai ketua pengurus organisasi asrama.

Dalam satu tahun saya memegang tiga organisasi, untuk organisasi asrama saya mengkoordinir semua kegiatan asrama putra, baik smp maupun sma. Sedangkan pada organisasi pramuka saya bersama beberapa teman menangani semua kegiatan-kegiatan penegak dan penggalang.

Banyak kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, sejak saya terpilih sebagai ketua di tiga organisasi tersebut. Karena saya memgang kendala penuh ditiga organisasi maka, tidak ada kegiatan yang bertabrakan. Semua berjalan sesuai dengan rencana yang telah kami buat saat rapat kerja.

Selama setahun saya menahkodai organisasi-organisasi di sekolah, kemudian di tahun berikut saya digantikan oleh adik kelas, karena masa jabatan telah selesai dan saya juga merupakan kelas persiapan ujian nasional. Namun di asrama saya masih dipercayakan sebagai ketua pengurus organisasi asrama. Semua kegiatan-kegiatan asrama masih saya dan teman-teman kelas tiga yang mengontrol. Kami juga selalu bermusyawarah dengan adik-adik kelas kami dalam penyesuaian kegiatan. Kami juga membimbing mereka dalam berorganisasi sehingga jika ada kekurangan dari mereka selalu kami berikan masukan yang baik.

Penutup


Di pondok pesantren Al-Ikhlas ada tiga lembaga pendidikan yaitu SMP, SMA, dan Diniyyah. Pendidikan diniyah dilakukan pada pagi hari setelah itu barulah kelas SMP dan SMA di mulai, sedangkan pada sore hari (ba'da ashar) ada lagi kelas diniyah. Dengan demikian maka, kelas diniyah dilaksanakan pada waktu pagi, sore, dan di asrama.

Di pesantren terdapat banyak kesan yang tersimpan hingga saat ini, yang paling berkesan dari kehidupan pesantren adalah kebersamaan kami yang hingga sekarang masih terpelihara dengan baik.

Begitulah kehidupan saya di pesantren bersama dengan teman-teman lainnya, terdapat begitu banyak suka dan duka yang kami lewat. Banyak cerita yang tidak saya tulis di sini, karena keterbatasan waktu. Insya Allah nanti saya ceritakan pada sesi selanjutnya.

Cerita Santri Gaul dari Pondok Pesantren Al-Ikhlas