Coretanzone: Cerpen

    Social Items

Esok Masih Ada Cinta
Hujan terus turun membasahi bumi seakan tak mau berhenti, anginpun ikut berhembus kencang. Di kejauhan sana rumput ilalang bergoyang mengikuti irama angin. Sinar mentari masih dihalangi awan hitam, belum nampak dirinya untuk menerangi bumi yang sedang ku pijak. Saya masih berlindung di teras rumah tua dengan hati yang gundah gulana, menanti hujan berhenti untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang hampir sampai tetapi putus di tengah jalan untuk bebetapa saat.

Dalam kesendirian di tengah hujan deras itu, tiba-tiba muncul sesosok wajah, berjalan dengan anggun di tepi jalan kenangan. Dia begitu anggun, kelopak matanya yang indah, senyumnya yang menawan memikat hati. Rasanya ingin ku gapai, tapi apalah daya, itu hanyalah ilusi masa lalu. Dia terus hadir, terkadang hilang tapi tak jauh, akan muncul kembali untuk beberapa saat.

Dia masih duduk di bawah pohon depan kampus, saya terus menatapnya, hingga suatu ketika dia menyadari itu. Ketika kami sedang bertatapan, dia hanya memberiku senyum yang tak bisa ku lupakan hingga saat ini. Rinduku masih melekat di situ, di suatu masa yang telah pergi jauh.

Kami berdua akhirnya berkenalan, dan mengobrol seadanya dalam pertemuan kedua ketika berada dalam suatu kegiatan kampus. Setelah peristiwa itu, hampir sebulan lamanya saya tak pernah bertemu dengannya. Rasa rindu untuk menatapnya tak pernah padam, wajahnya selalu ada dalam tatapanku, memberiku semangat baru setiap pagi menjelang. Dia begitu istimewa, walau saya belum begitu mengenalnya, tetapi itulah yang saya rasakan.

Hari berlalu dan terus berlalu, hingga suatu ketika dia memanggilku dari kejauhan. Saat itu saya baru keluar dari kelas kuliah.

“Abang…, abang Zaki…”

Suara yang agak kencang tetapi lembut itu membuatku menoleh ke belakang, melihat sesosok wanita dengan jilbab biru tosca, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan. Saya membalas senyum itu sembari berjalanan menghampirinya. Jantungku berdetak beitu kencang, hatiku girang tiada tara, dan sambil membatin,

“Ohh… rinduku”

“hai kejora, apa kabar?, lama kita tidak berjumpa”

Saya membuka percakapan ketika sudah berada di sampingnya.

“Alhamdulillah, baik abang, abang apa kabar?”

“Alhamdulillah baik, kamu kemana saja? Tak pernah kelihatan”

“Kebetulan saya ada studi lapangan, jadinya tidak pernah masuk ke kampus, saya ke sini juga hanya untuk konsultasi dengan pembimbing”

“Studimu tentang apa?”

“Saya sedang meneliti tentang kesiapan masayarakat dalam menghadapi era digital atau istilah kerennya saat ini revolusi industry 4.0 itu”

“Wah, menarik juga penelitianmu kejora”

Kami terus berbincang berbagai hal tentang penelitian yang sedang dia lakukan, kemudian saya mengajaknya untuk mengobrol di sebuah cafe di depan kampus, biar obrolannya lebih asyik.

Sesampainya di sana, kami masih berada dalam topik yang sama. Sepertinya dia serius betul melihat kondisi masyarakat dan perkembangan teknologi yang apakah mampu melahirkan suatu masyarakat yang disebut oleh Anwar Ibrahim sebagai masyarakat madani atau civil society itu.

Saya lebih banyak mendengar cerita dia bertemu dengan masyarakat pinggiran kota yang secara ekonomi belum mampu memilki berbagai alat teknologi mutakhir, dan masih banyak lagi yang dia ceritakan tentang bagaimana masyarakat harus makan di bawah kolom jembatan dan belum mengerti betul cara memanfaatkan berbagai teknologi itu untuk bangkit dan membangun kehidupannya. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah semua elemen bangsa, khususnya pemerintah untuk melakukan upaya-upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena, tanpa pendidikan yang baik maka, semuanya akan lumpuh.

Kami berdua terdiam sesaat sambil menikamati kopi cappuccino yang kami pesan. Saya menyeruput kopi yang hangat, sedangkan dia lebih memilih kopi yang dingin, katanya untuk mendinginkan hatinya yang sedang membara, tetapi pancaran kecantikannya tetap menyejukkan jiwaku.

Ah… rasanya saya ingin berada di sampingnya, menemani dirinya menysuri kota ini, tapi apalah daya, kami berada di fakultas dan jurusan yang berbeda. Dia kuliah di jurusan manajemen informatika, sedangkan saya di keguruan. Setiap hari kami berada di gedung kuliah yang berbeda dan jarang pula bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi saya percaya bahwa “jodoh itu tak akan kemana.” Seandainya dia adalah tulang rusukku maka, kami akan disatukan dalam mahligai cinta.

Bersambung…

Esok Masih Ada Cinta

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng
Hari semakin sore kira-kira pukul 16.00, di sepanjang jalan sultan alauddin sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan baik itu kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, di sana sini orang berjalan mengikuti langkah kaki mereka dalam beraktifitas. Saya yang sedari tadi duduk termangu di depan kampus I UIN Alauddin memandangi penyelesaian konstruksi bangunan rumah sakit dan gedung kuliah pasca sarjana, tak tau apa yang mau ku kerjakan karena baru tiba dari kampus II UIN alauddin Makassar di samata gowa sekitar satu jam yang lalu.

Seperti biasanya kalau pulang kampus perut mulai terasa perih karena dari tadi pagi perutku ini hanya diisi dengan sepotong roti dan segelas teh, begitulah kondisi mahasiswa yang bermodal tipis, yang ada di kepala hanyalah kapan bisa menyelesaikan studi dan pulang ke kampung halaman dengan membawa ilmu pengetahuan dan titel keserjanahan yang menurutku tidak terlalu penting, yang terpenting seberapa besar otak ini diisi dengan ilmu yang bermanfaat.

Aku terus memandangi pembangunan gedung bertingkat yang mewah itu, hingga dikagetkan oleh mahasiswi tingkat bawah yang berjalan menghampiriku.

“Lagi apaq ka?” begitulah percakapan awal yang dimulai dengan pertanyaan basa-basi.

“Lagi dudukji saja, sambil ku lihat pembangunan kampusta yang maumi rampung”, ku balas dengan jawaban sekenanya saja.

“Bagaimana dengan skripsita ka?” dia melanjutkan percakapannya dengan bertanya tentang skripsiku.

“Sudahmi ditanda tangi sama pembimbingku de, tinggal ujian akhir ji ini” begitulah jawabku kepadanya, kebetulan saya merupakan salah satu mahasiswa yang terlambat wisuda sudah tiga semester bertahan di kampus.

“Bagusmi itu ka”, dia hanya mengatakan itu tanpa ada ucapan selamat atau apapun yang terdengar enak di telinga, tapi bagiku tidak menjadi masalah karena sudah terbiasa.

“Kalau kita iya, bagaimana dengan kuliahta? Jangan sampai terlambat selesai sepeti saya ini, kuliah yang rajin selesaikan nilaimu yang bermasalah sejak dini, biar cepatq selesai”. Begitulah sedikit nasehat dari seorang kaka senior yang telat selesai.

“iya ka, pulangka duluna, jangqi lama-lama melamun di sini ka”.

“Oke ani, hati-hatiq di jalan de”. Diapun berjalan menyusuri lorong kecil yang kami sebut sebagai lorong tikus (lotus), sedangkan diriku masih terdiam dan pikiranku kacau balau memikirkan ujian akhir yang sudah dekat.
Tak jauh dari tempat duduku ada sebuah terminal kecil untuk mobil kampus yang khusus untuk mengantar mahasiswa dari kampus I ke kampus II, kalaupun ada masyarakat umum yang naik mobil kampus maka itu adalah mereka yang tinggal di antara kampus I dan kampus II. Mobil itu saling bergantian, ada yang baru masuk  dengan banyak penumpang dan ada yang keluar menuju kampus II dengan berlari kosong, karena kalau sudah sore begini penumpang di kampus I mulai sepi, hanya mahasiswa yang baru pulang kuliah dari kampus II saja yang memenuhi kendaraan roda empat itu.

Matahari mulai menyongsong ke sebelah barat, langit mulai berwarna kemerahan gelap, perutkupun berontak meminta untuk diisi dengan makanan. Aku membuka dompetku dan menghitung lembaran-lembaran rupiah, apakah bisa untuk membeli makanan atau tidak, setalah ku hitung lembaran-lembaran pecahan dua ribu dan lima ribuku, ternyata masih tersisa Rp. 32.000, bisa untuk membeli semangkok coto Makassar dan beberapa buah ketipat.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan melalui trotoar menuju ke warung yang jaraknya lumayan jauh. Di depan gedung Syekh Yusuf Jl. Sultan Alauddin ada warung yang bertuliskan coto bagadang, di sinilah tempat faforitku untuk menyantap coto Makassar. Aku masuk dan memesan satu mangkok coto. Di sini para pembeli disediakan empat pilihan yaitu coto dengan isi mangkuk campuran, daging saja atau hati saja dan daging dan hati. Saya memilih pilihan keempat, sedangkan untuk ketupat sudah disediakan di atas meja makan.

Aroma bau daging di dalam ruangan itu menyengat hidung dengan keharuman yang begitu menggiurkan mulut. Aku hanya terdiam dan menikmati bau harum itu, kemudian dalam diamku itu yang tidak terlalu lama makanan kesukaanku di kota daeng itupun tiba dihadapanku. Pelayan di sini begitu cepat dalam menyajikannya, jadi tidak perlu tunggu lama lagi perut sudah bisa diisi dengan daging kambing atau daging sapi yang dibalut dengan bumbu khas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Silahkan dimakanq”, begitulah saya dipersialahkan makan oleh seorang pelayan yang tak asing lagi di mataku.

“iye, terima kasih”. Ku jawab begitu saja, diapun berlalu menuju tempatnya dan melayani lagi pembeli lainnya. Tak perlu tunggu lama lagi, akupun mulai menyelami lautan kenikmatan bersama coto makassar dan beberapa buah ketupat yang ada di depanku, tak lupa teh es yang manis turut serta melepaskan dahagaku.

Setelah makan lalu menuju ke kasir untuk membayar makanan yang ku makan tadi, kemudian langkah kakiku membimbingku menuju ke kamar kos-kosan yang jaraknya lumayan jauh. Berselang 15 menit aku sampai di kamar kos-kosanku kemudian menyiapkan segala hal untuk akhir studiku.

Begitulah kisahku di kota daeng, bagaimana dengan kisahmu?

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng