Coretanzone: Fiksi

    Social Items

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
Suatu ketika moko sedang berkunjung ke Amerika. Di sana dia menelusuri hampir sebagian besar wilayah negara Amerika, dia terkagum-kagum dengan negara paman sam itu. Secara teknologi mereka terus berkembang dan sudah maju lebih pesat dibandingkan Indonesia. Banyak gedung-gedung pencakar langait dibangun dengan mewah. Banyak hotel-hotel yang menyediakan fasilitas terbaik, dan banyak hal lain yang berbeda jauh dengan keadaan di tanah air.

Dari perjalanannya, dia melihat bahwa ternyata Amerika ini lebih maju dari Indonesia, namun satu hal yang ingin dia coba adalah dia ingin mengetahui kualitas pengetahuan manusianya, apakah sebanding dengan keadaan negaranya itu atau tidak. Maka dia berpikir untuk menemui seorang yang paling cerdas di negara itu. Dia bertanya ke sana-kemari, dan dari beberapa orang dia menemukan jawaban bahwa, yang paling cerdas di negera itu bernama Albert, seorang dosen sekaligus penemu terkemu.

Moko mulai mencari alamat orang jenius itu, dan dia menemukan alamatnya melalui seorang temannya. Moko kemudian membuat rencana untuk menemui orang itu. Tibalah waktu yang telah direncanakan. Moko mulai bersiap-siap dengan menggunakan pakaian yang rapi, dia menggunakan celana kain hitam dan baju batik coklat serta sepatu yang mengkilap. Kemudian moko memesan taksi, dan berselang beberapa menit taksi itu sudah tiba di depan penginapan yang dia tempati. Moko kemudian bergegas masuk ke dalam mobil taksi yang berwarna kuning itu.

Selama perjalanan moko tidak tinggal diam, dia banyak bercerita tentang Indonesia kepada supir taksi. Supir taksi yang tidak tau tentang Indonesia itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Hingga suatu ketika dalam perjalanan itu moko bertanya kepada sopir taksi.

"Kamu kenal Albert?"

"Ya, saya kenal" Jawab supir taksi itu

"Kamu tau alamat ini?" lanjut moko sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat kepada supir taksi yang duduk di depannya.

"Ya, saya tau. Tanpa kamu menunjukkan alamat itu saya sudah tau alamat Albert" Jawab supir taksi itu lagi.

Moko hanya terdiam mendengar jawaban supir taksi.

"Semua orang di negara ini, tau siapa itu Albert, bahkan mungkin semua orang di dunia ini, karena dia merupakan seorang ilmuan ternama." Supir taksi menjelaskan lebih lanjut.

Moko hanya diam, namun dalam hatinya dia membatin, "sehebat itukah ilmuan amerika itu, sehingga banyak orang mengenalnya?"

Perjalanan sudah hampir satu jam, dan supir itu membelokkan kendaraan masuk ke jalan setapak perumahan. Kemudian moko bertanya kepadanya, "kita sudah hampir sampai ya?"

Supir itu menjawab, "tinggal beberapa blok lagi kita akan sampai."

Beberapa blok telah dilewati dan sampailah di sebuah rumah besar bertingkat. Mobil taksi berhenti dan supir taksi berkulit putih itu mempersilahkan moko untuk turun.

"Silahkan turun pak, inilah rumahnya"

"iya, terimah kasih, berapa harga taksinya?"

"Harganya sepuluh dolar"

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
gambar ilustrasi 

Moko menyerahkan selembar uang kertas kepada supir taksi itu, kemudian supir taksi itu pergi meninggalkan moko sendiri di depan rumah yang asing bagi moko. Rumah itu di depannya ada pohon yang rindang. Beberapa bunga juga terlihat bermekaran di halan rumah.

Dengan percaya diri moko melangkahkan kakinya menuju ke atas tangga rumah, kemudian di depan rumah dia mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

Dari dalam rumah ada bunyi kaki yang menuju ke depan pintu, dan kemudian pintu rumah itu terbuka. Terlihat oleh moko sesosok lelaki sederhana yang berdiri di depannya dengan senyum lebar. Moko menyapanya, kemudian laki-laki itu bertanya kepadanya.

"Anda, siapa?"

"Saya moko"

"Moko siapa?"

"Moko asal Indonesia"

"Owh... anda orang Indonesia, silahkan masuk"

Mereka berdua masuk ke dalam rumah besar itu, kemudian lelaki itu menyodorkan tangannya kepada moko. Mereka berdua berjabatan tangan sambil lelaki itu berkata.

"Saya Albert"

"Berarti anda yang saya cari" balas moko.

"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya Albert.

"Saya ingin menguji seberapa cerdas anda" jawab moko.

"Baiklah, mari silahkan duduk"

"Terima kasih"

Sebagai tuan rumah yang baik Albert menawarkan beberapa minuman, dan moko memilih kopi. Albert kemudian menyuruh pembantunya untuk menyiapkan minuman tersebut. Sambil menunggu kopi tiba mereka berdua bercerita lepas, moko bercerita tentang kekagumannya dengan Amerika, dan Albert bercerita tentang beberapa referensi yang ia baca tentang keindahan alam Indonesia.

Berselang beberap menit, dua gelas minuman tiba dihadapan kedua orang yang sedang asik bercerita itu. Pembantu itu meletakkan satu gelas di depan Albert dan gelas yang satunya lagi di depan moko. Albert mempersilahkan moko meminum kopi yang telah disajikan.

"Silahkan diminum kopinya"

"Iya terima kasih" balasa moko

Beberapa saat mereka berdua terdiam, kemudian muka moko agak bingung. Albert kemdian bertanya kepadanya, "ada apa dengan anda moko?"

"Kopi ini rasanya kok tidak asing di lidah saya" Jawab moko

"Kopi itu sebenarnya diimpor dari Indonesia tepatnya dari pulau sumatra, hanya saja diolah di sini" Albert menjelaskan.

"Ohh pantasan enak sekali, tidak seperti kopi yang saya minum sebelumnya di penginapan yang rasanya agak aneh."

Mereka berdua kemudian bercerita banyak tentang kopi hingga beberapa menit lamanya. Kemudian moko mengingatkan Albert tentang tujuanannya.

"Kita sudah bisa mulai menguji kepintaran masing-masing?" Tanya moko

"Iya, namun sebelum itu, kita harus membuat kesepakat terlebih dahulu" Lanjut Albert

"Kesepakatan apa itu?" Tanya Moko

"Kalau anda dapat menjawab pertanyaan saya, saya akan memberikan anda sepuluh dolar, namun jika anda tidak dapat menjawab, anda tidak perlu memberi saya apa-apa. Sebaliknya jika saya dapat menjawab pertanyaan anda, maka anda tidak perlu memberi saya apa-apa, tetapi jika saya tidak dapat menjawab pertnayaan anda, maka saya akan memberikan anda dua puluh lima dolar."

Mendengar jawaban yang menguntungkan bagi diriya itu, moko langsung menyepakati perjanjian yang dibuat oleh Albert. Kemudian moko mempersilahkan Albert untuk memulai terlebih dahulu. Albertpun memulai dengan pertanyaannya.

"Berapa jarak antara bumi dan bulan?"

Mendengar pertanyaan itu moko terdiam dan mulai berpikir tentang jarak antara bumi dan bulan, namun tidak dapat menemukan jawabannya. Kemudian dia berkata, "saya tidak mengetahuinya"

"Jarak antar bumi dan bulang itu sejauh 384.400 km" Albert menjawab sendiri pertanyaannya.

Sesuai dengan perjanjian di atas, maka moko tidak membayar sepeserpun kepada Albert.

"Moko, sekarang giliran anda"

"Baiklah Albert, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan saya"

"Iya, silahkan moko"

"Kendaraan beroda tiga apa yang pernah naik ke bulan" tanya Moko kepada Albert.

Mendengar pertanyaan itu, Albert bingung dan berpikir keras tentang kendaraan mana beroda tiga mana yang sudah naik ke bulan. Hingga dua menit Albert belum menemukan jawabannya, kemudian Albert mengalah dan mengatakan, "saya tidak tau mok, lalu apa jawabannya."

Moko dengan santai mengatakan, "bayar terlebih dahulu sebagaimana kesepakatan yang kita buat di awal tadi."

Albert menyerahkan uang sebesar dua puluh lima dolar kepada moko, kemudian bertanya lagi, "apa jawabannya."

Moko menjawabnya dengan santai "saya juga tidak tau"

Suasan hening sejenak menyelimuti mereka berdua, namun kemudian terpecahlah suara tawa di ruangan tamu yang agak luas itu.

Siapa yang lebih pintar, Albert orang Amerika atau Moko orang Indonesia? Jawabannya silahkan dicoret di kolom komentar.

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri
Kisah inspiratif tentang tak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah diri sendiri ini saya dapatkan ketika masih menjadi mahasiswa dulu, kisah ini tentang perjalanan seorang anak manusia yang mencari jati dirinya. 

Alkisah, suatu ketika ada seorang anak manusia berjalan menysuri hutan belantara, sebut saja namanya Cozen. sepertinya dia ingin menjejaki semua tempat dalam hutan itu untuk menemukan hal-hal baru yang menurutnya menarik. Perjalanan yang panjang membuat dirinya banyak merenung dan mulai bimbang. Suatu ketika di dalam hutan dia melihat seekor singa yang kuat. Singa itu dapat memangsa lawannya dengan cepat. Kekuatan dan kelicikan yang dimiliki singa itu sangat dahsyat. Dari situ si cozen ini ingin menjadi singa, dan jadilah dia singa. Dia kemudian menguasai hutan belantara tempat dimana dia berada, namun suatu ketika dia melihat singa lain mendapat serangan dari ular berbisa sehingga singa lain itupun mati.

Dari kejadian yang dia lihat, cozen mulai berpikir bahwa sekelas singa sekalipun bisa mati terkena bisa ular, sehingga dia berkeinginan untuk menjadi ular, maka jadilah dia ular. Dia merayap kesana kemari, meracuni lawannya sehingga lawannya kalah, kemudian melahap habis. Namun suatu ketika ada seekor burung elang sedang berterbangan ke sana kemari. Dia membatin "apa sebenarnya yang dilakukan elang itu? Sepertinya burung itu sedang mencari makan." Berselang beberap menit seekor ular telah dibawa terbang oleh burung elang. Pertanyaan dalam hatinya telah terjawab.

Cozen mulai berpikir lagi, ternyata menjadi ularpun masih bisa dimakan oleh burung elang di udara, sehingga dia ingin menjadi burung elang, dan jadilah dia burung itu. Cozen dengan sayapnya yang kokoh terbang kesana-kemari, dia dapat memangsa apa saja yang dia lihat lemah di atas permukaan tanah, termasuk ular. Dia berpindah dari satu dahan pohon ke pohon yang lain, dari satu gunung ke gunung yang lain. Dia terbang tinggi mengudara di angkasa.

Suatu ketika cozen sedang asyik terbang di anatara dua gunung, ternyata di lembah itu ada angin yang kuat. Cozen terkena angin lembah dan tak mampu menyeimbangkan tubuhnya, sehingga dia jatuh tersungkur di tanah. Badannya sakit semua, sayapnya mulai melemah, kakinya yang kokoh dengan cakar yang kuatpun tak mampu membawa beban tubuhnya.

Dalam kesakitannya dia membatin, "seekor elang yang kuatpun bisa jatuh di atas tanah hanya karena terkena angin lembah." Dari pengalamannya beberapa pengalaman, cozen tak lagi ingin menjadi apa-apa, seperti yang telah dia lalui. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa berubah seperti sesuatu yang lain.

Dari kisah pendek di atas dapat diambil hikmah bahwa, dalam kehidupan ini kita tidak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah pribadi yang apa adanya. Kita tidak perlu hidup bak seorang sosialita yang memiliki harta yang banyak, jika keadaan ekonomi lemah. Kita tidak perlu sombong karena di atas langit masih ada langit lagi.

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri