Social Items

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan
Persaudaraan merupakan salah satu hal yang pokok dalam Islam. Persaudaraan dapat dilihat dari beberapa segi. Selain persaudaraan karena pertalian darah, ada beberapa bentuk persaudaraan, seperti persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa dan setanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Olehnya itu maka Rasulullah sangat menekankan persoalan persaudaraan dalam hubungan sesama manusia, sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis berikut.

1. Muslim yang satu adalah suadara bagi muslim yang lain


اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (H.R. Muslim)

2. Sesama saudara jangan saling membenci


لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara (Muttafaq ‘Alaih)

3. Umat Islam bagaikan bangunan yang kokoh


اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi)

Dalam riwayat Bukhâri ada tambahan:

وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan jari jemari kedua tangannya.

4. Sesama muslim tidak saling merendahkan


الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). (HR Bukhari dan Muslim).

5. Sesama umat Islam saling menyayangi


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. (HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim)

6. Tidak beriman seseorang yang tidak mencintai saudaranya


لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa persaudaraan sesama umat Islam itu sangat penting, karena dengan itu umat Islam akan menyatu menjadi satu kesatuan yang kuat. Kalau umat Islam bercerai berai maka, akan menjadi lemah. Olehnya itu marilah kita saling mencintai dalan saling menyayangi sebagaiman seruan Rasulullah saw. dalam banyak hadinya diantaranya adalah 6 hadis Rasulullah saw. tentang persaudaraan di atas.

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan

6 Hadis Rasulullah Tentang Kejujuran
Kejujuran adalah kunci utama dalam membangun kehidupan, dengan berkata jujur maka kita akan banyak mendapat kebaikat dan keberkahan dari Allah. Kejujuran itu adalah bagaimana kita berkata dan berlaku secara baik dan tidak membohongi orang lain sehingga mereka merasa dirugikan. Olehnya itu beberapa landasan hadis di bawah ini dapat dijadikan sebagai dasar akan kebaikan yang didapatkan dari sifat jujur yang melekat dalam diri seseorang.

Hadis-hadis Rosulullah Tentang Kejujuran


عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntunmu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan sesantiasa seseorang berlaku jujur dan selalu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai orang yang jujur. Dan hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai pendusta.” (H.R. Muslim)

Masih ingat dengan kisah kejujuran Abdul Qadir kecil sewaktu melaksanakan perjalanan ke kota Baghdad, dimana beliau beserta rombongan kafilah dirampok oleh kawanan penjahat di suatu tempat yang bernama Hamdan. Ia dengan jujur mengatakan bahwa ia membawa uang sebanyak 40 dinar yang diletaakan pada saku di bagian bawah ketiak. Drama perampokan itu selesai dengan insafnya para perampok karena kejujuran Abdul Qadir kecil. (Baca kisah lengkapnya: Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Ketika Dirampok)

Berlaku jujur merupakan suatu kebaikan yang nantinya akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang berlaku jujur tersebut. Sedangkan bagi yang berlaku bohong maka akan mendatangkan keburukan bagi pelakunya bahkan suatu saat kelak di akhirat nanti akan disiksa di dalam neraka.

Dalam hadis lain rasulullah saw. bersabda.

(عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ اِلَى الْبِرِّ اِنَّ الْبِرِّيَهْدِيْ اِلَى الْجَنَّةِ (رواه البخارى ومسل

Artinya : “Dari Abdullah ibn Mas’ud, dari Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa Kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran adalah yang paling utama dalam hal apapun. Lidah yang berkata jujur akan mendatangkan kebaikan, baik itu kebaikan dunia maupun akhirat. Banyak contoh yang telah banyak diceritakan baik itu di dalam al-Quran, Hadist, atau pengelaman-pengalaman para ulama yang ditulis dalam kitab-kitab mereka. Allah berjanji bahwa siapa yang berlaku jujur balasannya adalah surga.

  الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا - أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا - فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Artinya: “Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam perdagangan manusia dituntut untuk berlaku jujur, baik itu pedagang maupun pembeli. Walau keuntungan yang didatkan sedikit tetap harus jujur, karena yang terpenting adalah keberkahan, sehingga harta yang didapatkan menjadi halal. Begitu pula dengan pembeli, apa yang dibeli akan menjadi halal dan berkah, dengan tidak melakukan tipu daya.

Pedagang yang baik adalah yang menggenapkan timbangan tidak mengurangi, pedagang yang tidak berbuat riba, pedagang yang menjual barang yang halal dan baik bagi konsumen, dan sebagainya. Untuk sedikit tidak apa-apa yang penting lancar dan mendatangkan banyak pelanggan, maka insya Allah rezeki Allah tidak akan berpindah kepada orang lain.

 آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Tanda orang munafik itu ada tiga, jika berkata dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia khianati.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Bagaimana membedakan antara orang jujur dengan orang yang munafik? Jawabannya seperti hadist Rasulullah di atas, yaitu bahwa orang munafik itu tanda-tanda yang ada pada dirinya itu ada tiga; 1) Setiap kali ia berkata selalu ada dusta di dalam perkataannya, 2) tidak menepati janji, ijika dia berjanji sesuatu kepada orang lain, 3) melakukan perbuatan khianat terhadap amanah yang diberikan kepadanya.

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم - مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ. قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, "Apa ini wahai pemilik makanan?" Sang pemiliknya menjawab, "Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami. (H.R. Muslim)

Rasulullah bersabda bahwa setiap orang yang melakukan tipu daya kepada orang lain, bukan termasuk dalam golongannya, yaitu golongan orang-orang Mukmin. Sehingga dalam melakukan apapun, baik itu dalam hal ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya, kita dituntut untuk jujur. Karena “berkata yang hak walaupun itu pahit” lebih baik dari pada “berdusta dengan kata-kata yang manis” seperti janji-janji manis yang selalu diumbar ketika waktu kampanye tiba.

الثَّاني : عَنْ أبي مُحَمَّدٍ الْحَسنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أبي طَالِبٍ ، رَضيَ اللَّهُ عَنْهما ، قَالَ حفِظْتُ مِنْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : دَعْ ما يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَريبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ » رواه التِرْمذي وقال : حديثٌ صحيحٌ .
قَوْلُهُ : « يرِيبُكَ » هُوَ بفتحِ الياء وضَمِّها ، وَمَعْناهُ : اتْرُكْ ما تَشُكُّ في حِلِّه ، واعْدِلْ إِلى مَا لا تَشُكُّ فيه .

Artinya: Kedua:  Dari Abu Muhammad Al Hasan Bin Ali ra., Ia Berkata Aku menghafal hadits dari rasulullah saw., Yaitu: “Tinggalkanlah olehmu apa saja yang kamu ragukan dan beralihlah kepada yang tidak kamu ragukan,Sesungguhnya Kejujuran itu ketenangan dan Kedustaan itu kebimbangan”(H.R. Tirmidzi)

Dalam hadist ini memetrintahkan kepada umat Islam untuk meninggalkan hal yang di dalamnya ada keraguan. “Ragu-ragu mundur” itulah istilah yang tepat untuk hadist ini. Kemudian kita dituntut untuk beralih kepada hal yang tidak diragukan, karena di dalamnya ada kepastian. Selanjutnya segala yang berasal dari kejujuran akan menbawa kita kepada ketenangn batin. Wallahu a’lam.

6 Hadis Rasulullah Tentang Kejujuran

Tafsir Hadis Rasulullah saw. tentang kewajiban menuntut Ilmu
Tafsir Hadis Rasulullah saw. tentang kewajiban menuntut Ilmu. Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan umatnya dalam berbagai hal termasuk di dalamnya mewajibkan kepada seluruh umat Islam, baik itu laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Banyak terdapat ayat-ayat Al-Quran tentang pendidikan yang patut kita pelajari, karena dari al-Quranlah sumber pengetahuan hakiki. Selain itu, banyak pula hadist rasulullah saw. yang menjelaskan tentang hal ini, seperti hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di bawah ini.


Artinya: Menuntut ilmu itu (merupakan) kewajiban atas seluruh umat Islam (H. R. Ibnu Majah)

Hadis tersebut dengan jelas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu 'faridhah' yaitu merupakan hal wajib yang tidak bisa ditinggalkan oleh seluruh umat Islam, tanpa ada pengeculian. Karena dengan menuntut ilmu umat Islam dapat mengemban tugasnya sebagai khalifah di atas muka bumi, yaitu dengan membangun peradaban manusia yang mulia.

Seruan untuk menuntut ilmu ini dilakukan oleh seseorang itu sejak masih kecil. Artinya bahwa pendidikan terhadap anak itu dimulai dari dia kecil, karena ibarat pohon jika masih kecil masih mudah untuk diarahkan sedangkan jika sudah besar pohon itu sudah keras sehingga jika dirubah bagian yang bengkok menjadi lurus maka akan menjadi patah. Selain itu waktu kecil seorang anak otaknya masih 'encer' sehingga mudah untuk menerima pengetahun, sedangkan jika sudah tua otak mulai 'membatu' sehingga sulit untuk menerima pengetahuan dengan mudah.

Dalam salah satu syair arab disebutkan bahwa; "belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan belajar di waktu besar bagaikas mengukir di atas air." Ukiran di atas air dengan mudah akan hilang, sedangkan ukiran yang ada di atas batu susah untuk dihilangkan, kecuali dengan cara merusak batu itu. Begitu pula dengan otak manusia, sehingga pembiasaaan anak untuk belajar itu seharusnya dilakukan sejak dini, sehingga mereka akan terbiasa.

Ada istilah pendidikan seumur hidung (long life education). Sebelum istilah ini ada rasulullah telah bersabda tentang pendidikan seumur hidup, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Dailami sebagai berikut.


Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat/kubur. (H. R. Dailami)

Hadis ini tidak hanya ditujukan kepada seorang muslim sebagai individu dalam menuntut ilmu sejak berada di buaian ibu, tetapi juga ditujukan kepada orang tua, agar memberikan pendidikan yang baik kepada anak sejak mereka masih berada dalam kandungan. Sejak mengandung sudah seharusnya anak diperdengarkan dengan hal-hal yang baik, orang tua tidak boleh berperilaku buruk sejak anak lahir, sehingga dia dapat merekam perilaku baik dari orang tuanya sejak dini. Hadis ini juga menjelaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal umur, selama ilmu itu tidak kita ketahui apalagi yang berkaitan dengan ilmu agama, maka wajib hukumnya untuk kita pelajari.

Menuntut ilmu itu seumur hidup, dan dimanapun tanpa memandang jauh atau dekatnya suatu tempat tersebut, bahkan rosulullah pernah berasabda bahwa.


Artinya: Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina (H. R. Baihaqi).

Di zaman Rasulullah, perkemabangan teknologi tidak seperti saat ini. Perjalanan dari Madinah (tempat tinggal Nabi Muhammad saw.) menuju ke cina itu membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga bisa sampai. Mereka dalam melakukan perjalanan hanya menggunakan kuda atau unta. Belum lagi perjalanan darat yang serba kesulitan dan banyak rintangan yang harus dihadapi. Walaupun demikian menuntut ilmu itu tidak memandang jauh atau dekat tempatnya, selama di situ ada ilmu pengetahuan maka, kita dibolehkan pergi ke sana untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Menuntut ilmu itu bukan untuk mencari kebahagiaan lahiriah yang bersifat duniawi semata, tetapi juga dibarengi dengan ilmu yang dapat membahagiakan bathiniah, dan juga ilmu yang bisa menjadi pegangan hidup untuk kebahagiaan di akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda.


Artinya: Barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia maka dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka dengan ilmu.

Setiap kita yang menginginkan tentang dunia, baik itu keinginan untuk memperoleh pekerjaan, jabatan, harta dan lain sebagainya maka harus dengan ilmu atau kecerdasan, tanpa memiliki ilmu pengetahuan seseorang tidak mungkin bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Begitupula dengan kehidupan setelah kematian atau alam akhirat. Jika ingin memperoleh kebahagiaan di akhirat berupa ridha Allah, bertemu langsu dengan Allah swt, dan mendapatkan syurganya, maka itu semua harus pula dengan ilmu. Atau jika kita menginkan kedua-duanya yaitu mendapatkan dunia dan akhirat maka itupula haruslah dengan ilmu.

Tanpa ilmu kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa menjadi apa-apa.

Mendapatkan syurga merupakan balasan bagi setiap orang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, bahkan orang Islam yang sedang menuntut ilmu itu merupakan orang yang sedang berjihad di jalan Allah swt. Sehingga Allah memudahkan jalan untuk menuju ke syurga. Rasulullah saw. bersabda.


Artinya: Orang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan bagi dia jalan menuju syurga (H. R. Thabrani).


Artinya: Tuntutlah ilmu dan pengetauan, dan belajarlah untuk bersikat tenang dan sabar, serta hormatilah gurumu.

Hal yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah ketenangan dan kesabaran, karena dalam menuntut ilmu banyak cobaan yang datang untuk menghadang. Selain itu seorang murid harus menghormati gurunya agar mendapatkan berkah, dan juga menghormati orang tuanya agar dia mendapatkan berkah dari langit melalui doa-doa orang tuanya.

Tafsir Hadis Rasulullah saw. tentang kewajiban menuntut Ilmu

Subscribe Our Newsletter