Coretanzone: Hukum Islam

    Social Items

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?
Bagi seorang wanita, ketika sudah masuk lanjut usia biasanya terjadi menopause atau berakhirnya masa kesburun dalam tubuh dengan ditandai dengan berakhirnya siklus menstruasi. Ada sebagian orang yang memiliki anggapan bahwa, jika sudah masuk masa ini mereka dibolehkan untuk membuka auratnya. Dengan merujuk pada Firman Allah swt. sebagai berikut.

وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Terjemahannya: Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nur: 60)

Sebelumnya perlu kita bedakan antara dalil secara tekstual dan cara kita dalam menyimpulkan suatu dalil tersebut. Dalil yang berasal langsung dari al-Quran sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyakini keabsahannya, tetapi cara kita dalam menyimpulkan dalil tersebut belum tentu sesuai dengan maksudnya.

Berikut ini beberapa pandangan ulama terkait dengan ayat al-Quran di atas.

1. Perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi)

Al-Qurthubi menukil perkataan Rabi’ah, “Rabi’ah mengatakan, “Mereka adalah para wanita yang jika kamu melihatnya, kamu merasa risih kepadanya karena sudah tua.” Abu Ubaidah mengatakan, ‘Diterjemahkan para wanita yang tidak bisa melahirkan anak. Tapi ini tidak sesuai, karena ada wanita yang tidak bisa melahirkan anak, sementara masih terlihat indah lelaki. Demikian keterangan al-Mahduwi.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/309)

Dari pendapat di atas maka, dapat disimpulkan bahwa, yang benar adalah bukan semua wanita yang sudah menopause tetapi hanya wanita tua yang jika kamu melihatnya kamu merasa risih. Sedangkan wanita yang baru berada di awal-awal usia menopause masih terlihat menarik.

2. Pakaian yang boleh dilepaskan

Dalam ayat di atas, ada pernyataan bahwa “tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”
Pakaian apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Sebenarnya yang dimaksud di sini adalah hanya pakaian luarnya saja, seperti kebaya atau penutup luarnya saja dengan tidak bermaksud untuk membuka auratnya dan menampakkan perhiasannya.

Al-Alusi mengatakan, “Maksudnya adalah pakaian luaran, yang ketika dilepas tidak menyebabkan terbuka auratnya, seperti jilbab luar, kerudung luar, atau kain penutup yang berada di atas pakaian.” (Tafsir al-Alusi, 14/11)

Bahkan al-Jashas menegaskan bahwa ulama sepakat siapapun wanita tidak boleh membuka auratnya, baik tua maupun muda. Al-Jashas mengatakan, “Tidak ada perbedaan diantara ulama bahwa rambut nenek-nenek tidak boleh diperlihatkan kepada lelaki yang bukan mahram, sebagaimana rambut wanita muda. Dan nenek-nenek yang shalat dengan kepala terbuka, shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Yang dibolehkan bagi nenek-nenek adalah melepaskan kerudung luar di depan lelaki lain, dengan tetap tertutup kepalanya. Dan dia boleh membuka wajah dan tangannya, karena tidak ada daya tarik lagi.” (Ahkam al-Quran, 5/196).

Demikianlah postingan kali ini tentang ketentuan perempuan yang sudah menopause dalam membuka auratnya, semoga bermanfaat.

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara?
Benarkah Jika ada Mahram Sementara? Ini memang pertanyaan yang unik atau pertanyaan yang selalu datang dari masyarakat. Olehnya itu sebelum pembahasan ini lebih baik terlebih dahulu kita mengetahui pengetian dari mahram itu sendiri.

Dalam Syarah Shahih Muslim (9/105), Imam An-Nawawi memberikan defenisi mahram yaitu; “Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, sebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram.”

Dalam al-Quran Allah SWT. melarang untuk seorang laki-laki menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus, sebagaimana firmanNya sebagai berikut:

… وَأَن تَجۡمَعُواْ بَيۡنَ ٱلۡأُخۡتَيۡنِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

Terjemahannya: …dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. an-Nisa: 23)

Dalam sebuah hadis yang artinya; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dalam satu ikatan pernikahan, “Tidak boleh seorang lelaki menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Dari kedua dalil di atas memiliki maksud bahwa, saudara perempuan istri, dan bibi dari istri dilarang untuk dinikahi namun bukan mahram. Karena mereka hanya tidak boleh dinikahi untuk sementara saja.

Olehnya itu, lebih tepatnya tidak ada istilah mahram sementara dalam islam, karena yang Namanya mahram adalah selamanya tidak boleh dinikahi. Seandainya ada mahram sementara, dikarenakan haram dinikahi sementara waktu, maka setiap istri orang lain juga merupakan mahram sementara, karena selama mereka masih berstatus sebagai istri orang lain, maka haram dinikahi oleh laki-laki manapun.

Dalam fatwa Lajnah Daimah (17/36) menyebutkan bahwa, “Ketika seseorang berstatus mahram karena nasab, persusuan, atau pernikahan, maka status mahramnya selamanya. dan tidak ada istilah mahram sementara sama sekali.”

Dengan demikian maka, pertanyaan di atas sudah terjawab bahwa, dalam Islam tidak ada sebutan mahram sementara dengan alasan apapun, yang ada adalah mahram selamanya yang haram dinikahi. Sehingga orang yang haram dinikahi dalam kurun waktu tertentu atau sementara waktu bukanlah mahram, karena mereka bisa dinikahi lagi ketika sudah tidak memilki status sebagai istri orang lain.

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara dalam Syariat Islam?

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid
Haid merupakan suatu masa yang akan dilalui oleh seorang wanita dalam masa waktu tertentu. Setiap wanita yang sudah baligh akan mengalami masa ini, sebagai penanda kesuburan dan baik untuk seorang wanita. Haid atau menstrusai ini biasanya disebut datang bulan, karena normalnya akan dialami oleh seorang wanita dalam satu bulan satu kali dalam beberapa hari tertentu. Dalam keadaan menstruasi seorang wanita dilarang melakukan beberapa hal sesuai dengan nash al-Quran dan hadis Rasulullah saw.

Berikut ini beberapa larangan yang haram untuk dilakukan oleh seorang wanita yang dalam keadaan sedang haid:

1. Shalat


Shalat lima waktu merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh semua umat islam yang sudah baligh dan memenuhi syarat, namun bagi seorang wanita yang sedang haid dilarang untuk melaksanakan shalat, baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yang artinya sebagai berkut.

Dari Aisyah ra berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat.” (HR Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

2. Menyentuh Mushaf dan Membawanya


Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada umat Islam sebagai pedoman hidup dan bekal untuk akhirat nanti. Namun dalam keadaan sedang hadis, seorang wanita dilarang untuk menyentuh apalagi membawa mushaf tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Quran sebagai berikut.

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ 

Terjemahannya: tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (Q.S. Al Waqi’ah: 79)

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW. bersabda,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya)

Orang yang sedang berhadas besar termasuk di dalamnya wanita yang sedang haid dilarang untuk menyentuh mushaf al-Quran.

3. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran


Membaca al-Quran dapat mendatangkan manfaat yang banyak termasuk mendatangkan pahala bagi pembacanya, namun ada sebagian ulama yang berpandandanga bahwa saat haid seorang wanita dilarang melafazkan ayat suci al-Quran kecuali di dalam hati atau doa/zikir yang lafaznya berasal dari ayat al-Quran. Hal ini sebagaimana salah satu hadis Rasulullah SAW. yang artinya “Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub.”

Walaupun demikian, ada sebagian pendapat ulama yang membolehkan wanita yang sedang haid untuk membaca al-Quran asalkan tidak menyentuh mushaf, dan juga takut lupa dengan hafalan al-Qur’an-nya jika waktu haidnya berlangsung lama. Selain itu juga membacanya tidak terlalu banyak juga diperbolehkan.

Pendapat ini adalah pendapat yang berasal dari Malik, sebagaimana disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal 133.

4. Masuk ke Masjid


Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat islam yang boleh dimasuki untuk melakukan ibadah kepada Allah, namun bagi wanita yang dalam keadaan haid tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam masjid sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh.” (HR Bukhori, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah).

Dengan demikian maka, larangan ini bukan saja kepada wanita haid, tetapi juga kepada laki-laki yang sedang dalam keadaan junub, sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang dalam keadaan berhadas besar dilarang untuk memasuki masjid sampai dia sudah menjadi suci.

5. Berwudu atau Mandi Janabah


Dalam pandangan mazhab As Syafiiyah dan al-Hanabilah menyatakan bahwa, seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid, diharamkan untuk berwudhu dan mandi janabah. Hal ini mengandung arti bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan haid dan darahnya masih mengalir keluar, lalu memiliki niat untuk bersuci dari hadas besar dengan cara melakukan wudhu dan mandi janabah seakan-akan masa haidnya sudah selasai, padahal kenyataannya belum.

Walaupun demikian larangan ini tidak berlaku untuk mandi yang hanya sekedar membersihkan tubuh dari kuman dengan menggunakan sabun, shampoo, dan sebagainya, dengan tidak ada niat untuk mensucikan diri dari hadas besar.

6. Puasa


Puasa merupakan salah satu ibadah yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendapat pahala dan manfaatnya sangat banyak untuk kesehatan tubuh. Namun seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid dilarang untuk berpuasa, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah bila wanita mendapat hatdas, dia tidak boleh shalat dan puasa?” (HR Muttafaq ‘alaihi).

7. Tawaf


Tawaf merupakan salah satu rukun haji, namun ketika seorang Muslimah dalam keadaan haid maka, tidak dibolehkan untuk melakukan tawaf, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf di sekeliling kabah hingga kamu suci.” (HR MutafaqqAlaih).

8. Bersetubuh


Darah haid itu merupakan salah satu kotoran yang tidak baik bagi kesehatan tubuh, sehingga keluar dari tubuh seorang wanita. Kotoran ini juga tidak baik untuk laki-laki, sehingga dalam keadaan seperti ini seorang wanita dilarang melakukan hubungan intim dengan suaminya, hal ini sebagimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Terjemahannya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS Al-Baqarah: 222).

Memang bahwa sebagai manusia yang normal pasti ada nafsu biologis yang ingin disalurkan melalui berhubungan badan antara suami dan istri, namun ketika seorang istri dalam keadaan haid maka, sudah menjadi kewajiban suami untuk menahan dirinya agar tidak berhubungan intim untuk menghindari penyakit yang timbul akibat dari itu.

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid

Hukum Islam Tentang Arisan
Hidup dengan berpegang pada aturan islam merupakan hal yang membahagiakan. Sebab seorang muslim yang hidup dengan berpegang pada aturan agamnya tidak akan bingung atau resah ketika melakukan suatu apapun. Hal sederhana yang kebanyakan terjadi adalah dengan adanya arisan. Sebenarnya bagaimana hukum islam arisan? Boleh atau justru dilarang? Padahal arisan sudah sangat umum terjadi di masyarakat luas.

Hukum islam arisan akan membantu setiap muslim mengenali apa yang sebenarnya diatur dalam arisan. Diperbolehkan atau tidaknya yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat Islam. Hukum islam arisan mendapat beberapa pendapat dari para ulama. Untuk lebih lengkapanya, berikut ini merupakan hukum islam arisan yang bisa anda ikuti.

Bagaimana Hukum Islam Arisan ?

Arisan merupakan suatu aktivitas dimana anggotanya akan menyetorkan sejumlah uang yang sudah disepakati dalam kurun waktu tertentu. Sistemnya ada yang secara acak ada juga yang sudah mendapatkan nomor urut sehingga ia bisa tahu kapan ia mendapatkan uangnya. Hukum islam arisan memanglah sempat menjadi perbincangan yang serius.

Secara umum memang belum pernah disinggung secara langsung. Maka dari hukum islam arisan dikembalikan pada hukum asal muamalah yaitu dibolehkan. Dimana para ulama pernah menyebutkan bahwa hal ini tidak boleh diharamkan muamalah yang dibutuhkan oleh manusia sekarang. Kecuali jika ada dalil dari al-qur’an dan sunnah yang mengharamkannya.

Hukum islam arisan juga disebutkan adanya Qs Al Maidah ayat 2 yang berarti bahwa adanya perintah untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Dari ayat ini dikatakan bahwa saling tolong menolong adalah hal yang baik untuk kehidupan sesama manusia.

Sementara arisan memilikki tujuan yakni tolong menolong orang yang membutuhkan. Caranya dengan membayar iuran secara rutin dan bergiliran untuk bisa mendapatkannya. Dengan sistem yang baik seperti ini, hukum islam arisan memperbolehkannya. Tetapi setiap muslim hendaknya teliti dengan sistem arisan yang akan ia ikuti karena tidak sedikit juga yang menyelenggarakan arisan tetapi mengandung riba, penipuan dan lain sebagainya yang dilarang.

Hukum islam arisan juga mengingatkan para muslim agar terhindar dari adanya praktek penipuan yang berkedok arisan. Tentu tidak asing berita atau kejadian yang menyebutkan adanya pihak pembuat arisan yang membawa kabur uang dari para anggotanya. Bahkan tidak sedikit jumlah yang dibawa seperti misalnya mencapai puluhan juta. Padahal cara ini tentu merupakan suatu kejahatan yang jelas dilarang dalam islam.

Sebagai anggota yang ikut dalam arisan, seorang muslim wajib mengetahui kemampuan dirinya dalam membayar iuran. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan dari pihak manapun. Dengan begitu, keteraturan membayar arisan akan saling membantu antar anggota. Selain itu, bentuk arisan juga merupakan uang yang ditabung. Dengan begitu, para anggota bisa menyisihkan sebagaian uangnya membayar arisan dan akan mendapatkannya kembali dnegan jumlah yang telah disepakati dan nomor urut yang ia dapatkan.

Hukum islam arisan mengatur jelas bagaimana praktek dan berjalannya arisan. Selama dalam koridor islam dan tidak merugikan pihak manapun, arisan merupakan muamalah yang bisa membantu kehidupan manusia agar berjalan dengan baik. Tidak sedikit yang terbantu dengan mengikuti arisan. Terutama bagi para muslim yang kesulitan untuk menabung untuk membeli sesuatu.

Arisan tentulah bisa membantu setiap anggotanya dalam mengatur keuangan. Dengan arisan, mereka bisa saling memberi dukungan antar anggota. Hukum islam arisan ini yang juga mengatur bagaimana transaksi atau aktivitas tersebut diperbolehkan dalam islam.

Hukum Islam Tentang Arisan

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan
Arti khitbah atau meminang yaitu meminta seseorang wanita untuk dinikahi melalui cara yang diketahui di dalam masyarakat. Tentunya pinangan itu tidak hanya diperuntukkan terhadap si gadis tanpa sepengetahuan ayahnya sebagai wali.

Karena pada hakekatnya, saat punya niat untuk menikah dengan seorang gadis, maka gadis itu bergantung dari ayahnya. Ayahnyalah yang terima pinangan itu ataukah tidak serta ayahnya juga yang nanti akan menikahkan anak gadisnya itu dengan calon suaminya.

Sedang ajakan menikah yang dikerjakan oleh seseorang pemuda pada seseorang pemudi sebagai kekasihnya tanpa sepengetahuan bapak si gadis tidak dimaksud dengan pinangan. Karena si gadis begitu tergantung pada ayahnya. Hak untuk menikahkan anak gadis memang ada pada ayahnya, hingga tidak dibetulkan seseorang gadis terima ajakan menikah dari siapa saja tanpa sepengetahuan ayahnya.

Meminang merupakan muqaddimah dari suatu pernikahan. Suatu perbuatan yang sudah disyariatkan Allah SWT sebelum dikerjakan pengikatan akad nikah supaya masing-masing pihak dapat kenal mengenal diantara mereka. Tidak hanya itu, supaya kehidupan pernikahan itu didasari atas bashirah yang pasti. Dengan beberapa pertimbangan, Islam menyarankan untuk merahasiakan meminangan serta cuma bisa dibicarakana dalam batas keluarga saja, tanpa mengibarkan bendera atau membuat upacara tabuhan genderang dan sebagainya.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ  عَنْ أَبِيهِ  أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ قَالَ:  أَعْلِنُوا اَلنِّكَاحَ - رَوَاهُ أَحْمَدُ  وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Terjemahannya: Dari Amir bin Abdilah bin Az-Zubair dari Ayahnya RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Umumkanlah pernikahan". (HR. Ahmad dan dishahihkan Al-Hakim)

Pada Hadis lain yang artinya: "Dari Ummu Salamah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kumandangkanlah pernikahan .... dan rahasiakanlah peminangan".

Perbuatan ini tidak lain yaitu untuk menghindar serta memelihara kehormatan, nama baik serta perasaan hati wanita. Cemas peminangan yang telah di ramaikan itu mendadak batal karena satu serta lain perihal. Apa pun alasannya, hal semacam itu tentulah begitu menyakitkan serta sekaligus juga merugikan nama baik seseorang wanita. Mungkin saja orang yang lain akan ragu-ragu meminangnya karena peminang yang pertama sudah mengundurkan diri, hingga dapat memunculkan tanda tanya di hati beberapa calon peminang yang lain. Apa wanita ini mempunyai cacat atau mempunyai permasalahan yang lain.

Demikian sebaliknya, jika peminangan ini dirahasiakan ataukah tidak di ramaikan terlebih dulu, jikalau hingga sampai berlangsung pembatalan, jadi cukuplah keluarga terdekatlah yang tahu. Serta nama baik keluarga tidak jadi taruhannya.

Khitbah Yang Dibolehkan 


Untuk bisa dilaksanakan khitbah atau peminangan, maka sekurang-kurangnya mesti tercukupi dua prasyarat paling utama.

Pertama ialah wanita itu terlepas dari semua mawani` (pencegah) dari suatu pernikahan, contohnya jika wanita itu tengah jadi istri seorang. Atau wanita itu telah dicerai atau ditinggal mati suaminya, tetapi masih juga dalam waktu `idaah. Diluar itu juga wanita itu tidak bisa termasuk juga dalam daftar beberapa orang yang menjadi mahram buat seroang lelaki. Jadi didalam Islam tidak dibolehkan ada seseorang lelaki meminang adiknya sendiri, atau ibunya sendiri atau bibinya sendiri.

Kedua ialah jika wanita itu tidak tengah dipinang oleh orang yang lain sampai jelas apa pinangan orang yang lain itu di terima atau tidak diterima. Sedang jika pinangan orang yang lain itu belum juga di terima atau malah tidak di terima, maka wanita itu bisa dipinang oleh orang yang lain. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاء أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَـكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَن تَقُولُواْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan perkataan yang ma`ruf . Dan janganlah kamu ber`azam untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(QS. Al-Baqarah : 235)

Khitbah Yang Diharamkan 


Seseorang muslim tidak halal meminang seorang wanita yang ditalak atau yang ditinggal mati oleh suaminya sepanjang masih juga dalam masa iddah. Karena wanita yang masih juga dalam massa iddah itu dipandang masih tetap menjadi mahram buat suaminya yang pertama, oleh karenanya tidak bisa dilanggar. Namun untuk isteri yang ditinggal mati oleh suaminya, bisa diberikan satu penjelasan - selama dia masih juga dalam masa iddah - dengan cara yang halus yaitu suatu sindiran, bukan dengan terang-terangan, kalau si lelaki itu ada hasrat untuk meminangnya. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah: 235)

Serta diharamkan juga seseorang muslim meminang pinangan saudaranya apabila ternyata telah sampai pada tingkat kesepakatan dengan pihak yang lainnya. Karena lelaki yang meminang pertama itu sudah mendapatkan satu hak serta hak ini mesti dijaga serta dilindungi, untuk memelihara pertemanan serta pergaulan sesama manusia dan menghindari seseorang muslim dari sikap-sikap yang bisa mengakibatkan kerusakan jati diri. Karena meminang pinangan saudaranya itu sama dengan perampasan serta permusuhan.

Tapi bila lelaki yang meminang pertama itu telah memalingkan pandangannya dari si wanita itu atau memberi izin pada lelaki yang ke-2, jadi saat itu lelaki ke-2 itu tidak berdosa untuk meminangnya. Karena hal ini sesuai sabda Rasulullah saw. yaitu seperti berikut:

`Seorang mu`min saudara bagi mu`min yang lain. Oleh karena itu tidak halal dia membeli pembelian kawannya dan tidak pula halal meminang pinangan kawannya.`(HR. Muslim)

Dan sabdanya juga:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  لا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Terjemahannya: Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Janganlah seorang laki-laki meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang pertama itu meninggalkan (membatalkan) atau mengizinkannya".(HR Bukhari).

Demikianlah ulasan tentang pinangan atau khitbah yang dibolehkan dan yang diharamkan, semoga yang belum menikah agar segeralah untuk meminang seorang gadis dengan melihat ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam.

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam
Islam merupakan agama yang paling sempurna, karena merupakan Agama yang berasal dari Allah dan masih terjaga keasliannya. Kesempurnaan ini dapat dilihat dari segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia telah diatur secara rinci dan baik, salah satunya adalah hukum menikahi wanita yang pernah berzina, sebagaimana dalam Al-Quran Allah swt. berfirman.

الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

1. Pandangan Jumhur (sebagian besar) Ulama


Jumhurul Fuqaha menyampaikan jika yang dimaksud dari ayat itu bukan mengharamkan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Bahkan juga mereka membolehkan menikah dengan wanita yang pezina. Lantas bagaimanakah dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Beberapa fuqaha mempunyai tiga argumen dalam perihal ini.

Dalam perihal ini mereka menyampaikan jika lafaz `hurrima` atau diharamkan didalam ayat itu bukan pengharaman tetapi tanzih (dibenci).

Diluar itu mereka beralasan jika memang diharamkan, maka lebih pada masalah yang spesial waktu ayat itu di turunkan. Yakni seseorang yang bernama Mirtsad Al-ghanawi yang menikah dengan wanita pezina.

Mereka menyampaikan jika ayat itu sudah dibatalkan ketetapan hukumnya (dinasakh) dengan ayat yang lain yakni

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)

Pendapat ini juga adalah pendapat dari Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq ra serta Umar bin Al-Khattab ra serta fuqaha kebanyakan. Mereka membolehkan seorang untuk menikah dengan wanita pezina. Serta kalau seorang sempat berzina tidak mengharamkan dianya dari menikah dengan cara syah.

Pandangan mereka ini dikuatkan dengan hadits sebagai berikut:

Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Istriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)

أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : لا توطأ امرأة حتى تضع 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

لا يحل لامرئ مسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقى ماءه زرع غيره 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

Lebih detil mengenai halalnya menikah dengan wanita yang sempat lakukan zina sebelumnya, simaklah pandangan beberapa ulama di bawah ini :

a. Pandangan Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah mengatakan, apabila yang menikah dengan wanita hamil itu merupakan lelaki yang menghamilinya, hukumnya bisa. Sedang jika yang menikahinya itu bukan lelaki yang menghamilinya, maka lelaki itu tidak bisa menggaulinya sampai melahirkan.

b. Pandangan Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan lelaki yang tidak menghamili tidak bisa mengawini wanita yang hamil. Terkecuali sesudah wanita hamil itu melahirkan serta sudah habis waktu 'iddahnya. Imam Ahmad memberikan satu prasyarat lagi, yakni wanita itu mesti telah tobat dari dosa zinanya. Bila belumlah bertobat dari dosa zina, dia masih tetap bisa menikah dengan siapa juga. Demikian dijelaskan didalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.

c. Pandangan Imam Asy-Syafi'i

Mengenai Al-Imam Asy-syafi'i, pandangan beliau ialah, baik lelaki yang menghamili maupun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Seperti tertera didalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.

2. Pandangan Yang Mengharamkan 


Walau demkikian, memang ada pula pendapat yang mengharamkan keseluruhan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Minimal tertulis ada Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` serta Ibnu Mas`ud. Mereka menyampaikan jika seseorang lelaki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitupun seseorang wanita yang sempat berzina dengan lelaki lainnya, jadi dia diharamkan untuk dinikahi oleh lelaki yang baik (bukan pezina).

Bahkan juga Ali bin abi Thalib menyampaikan jika jika seseorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitupun jika yang berzina merupakan pihak suami. Tentunya dalil mereka merupakan zahir ayat yang kami katakan diatas (aN-Nur : 3).

Tidak hanya itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yakni orang yang tidak mempunyai perasaan cemburu jika istrinya serong serta masih membuatnya menjadi istri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda,`Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts`. (HR. Abu Daud)

3. Pandangan Pertengahan 


Sedang pandanga yang pertengahan merupakan pandangan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seorang menikah dengan wanita yang masih tetap senang berzina serta belumlah bertaubat. Jikalau mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Tetapi jika wanita itu telah berhenti dari dosanya serta bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Apabila mereka menikah, maka nikahnya syah dengan cara syar`i.

Kelihatannya pandangan ini agak menengah serta sama dengan azas prikemanusiaan. Karena seseroang yang telah bertaubat memiliki hak untuk dapat hidup normal serta mendapat pasangan yang baik.

Dari berbagai pendapat di atas tentang hukum menikahi wanita yang pernah berzina, maka kita sebagai umat Islam, sudah sepatutnya untuk berpikir jernih agar terhindar dari perbuatan zina yang merupakan salah satu dosa besar, sehingga nantinya pernikahan akan menjadi pernikahan yang baik dan diridhoi oleh Allah.

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa dan Menyimpannya
Al-Qur’an merupakan Kalam Allah SWT yang disebut mu’jizat untuk Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushhaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya merupakan beribadah dan akan mendapat pahala.

Semenjak ada handphone pintar (smartphone), sejumlah besar orang memakai untuk menjelajahi internet. Kadang dalam mencari jalan keluar atas masalah kehidupan (keagamaan), ada yang condong mengacu pada internet (google). Lalu bagaimana hukum membaca al-Quran melalui smartphone? simak ulasannya berikut ini.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone


Seorang yang membaca al-Quran akan mendapat pahala baik dia membacanya dengan mushaf atau mungkin dengan ponsel atau yang lain, Rasulullah SAW bersabda mngenai pahala membaca al-Quran:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ: آلم حَرْفٌ. أَلْفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia akan mendapatkan pahala berupa satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dan Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimy).

Kata membaca dalam mu’jamul wasith dijelaskan jika maknanya merupakan ikuti kalimat-kalimat dalam kitab yang di baca dengan lihat serta mengucapkannya. Hingga membaca ayat dalam al-Quran tujuannya merupakan mengatakan lafadznya lewat cara lihat tulisannya atau mungkin dengan hafalan. Jadi membaca al-Quran yang digolongkan akan mendapatkan pahala sesuai apa yang disabdakan Rasulullah yaitu dengan mengucapkannya yang kira-kira si pembaca dapat dengar suaranya sendiri, baik itu membaca dengan lihat mushaf atau melalui ponsel dan lain-lain.

Bila cuma mengatakan dalam hati atau cukup dengan berbisik yang kira-kira dia tidak dengar suaranya jadi tidak dapat dimasukkan dalam kelompok membaca. Cuma saja al-Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya mengatakan jika disana ada kautamaan membaca al-Quran dengan lihat mushaf atau mungkin dengan hafalan, hal tersebut karena beberapa shahabat begitu senang untuk membaca al-Quran dengan lihat mushaf dengan cara langsung, ada hadits yang menuturkan mengenai keutamaan orang yang membaca al-Quran dengan cara langsung lewat mushaf, seperti sabda Nabi SAW :

قِرَاءَةُ الرَّجُلِ الْقُرْآنَ فِي غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصحف تضعف عل ذَلِك إِلَى ألفي دَرَجَة

Artinya: Bacaan al-Quran dari seseorang dengan tanpa melihat mushaf adalah seribu derajat, dan bacaan al-Qurannya dengan melihat mushaf akan dilipatgandakan menjadi dua ribu derajat (HR. Baihaqi).

Tetapi lepas dari perbandingan pahala pada orang yang membaca al-Quran dengan lihat mushaf ataukah tidak, yang pasti seorang akan mendapat pahala waktu membaca al-Quran bila dia melafadzkannya.

Adab dalam Membawa dan Menyimpan Al-Quran di Smartphone


Tentang wanita yang berhalangan, apakah bisa membaca al-Quran di hati melalui ponsel? Membaca al-Quran untuk wanita haid merupakan haram, tetapi keharaman ini berlaku bila dia melafadzkannya, mengenai bila hanya di baca dalam hati atau menggerakkan lisannya tanpa ada keluarkan nada atau sebatas lihat mushaf saja tanpa ada membacanya jadi tidak berdosa, karena hal yang semacam itu tidak dapat digolongkan qiroah atau membaca.

Tentang aplikasi al-Quran dalam ponsel apakah disebutkan mushaf ataukah tidak, ulama kontemporer berlainan argumen tentang perihal ini. Ada ulama yang menyampaikan bahwa, al-Quran dalam ponsel memiliki hukum yang sama seperti mushaf asli, jadi mereka mengharamkan wanita haid untuk menyentuh ponsel itu waktu aplikasi al-Quran dalam ponsel itu tengah di buka. Sedang menurut ulama yang menyampaikan jika aplikasi al-Quran yang terinstall dalam ponsel tidak memiliki hukum sama seperti mushaf sehingga hal itu tidak diharamkan untuk wanita haid yang ingin menyentuhnya, seandainya tidaklah sampai melafdzkannya waktu membaca.

Tetapi baiknya wanita yang haid tidak menyentuh ponsel yang aplikasi al-Qurannya terbuka, perihal ini untuk menghargai al-Quran serta untuk lebih waspada. Bahkan juga seseorang ulama Hadhramaut yang menyarahi kitab al-Yaqut al-Nafis yakni al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiry menyampaikan jika seorang yang tidak dalam kondisi suci baiknya janganlah menyentuh suatu yang di dalamnya tersimpan file al-Quran baik berbentuk CD, disket, flashdisk, dan lain-lain.

Menjadi kitab suci, ada banyak ketentuan untuk menyimpan serta memegangnya. Salah satunya, diri kita mesti dalam kondisi suci dari hadats bila akan memegang Al-Qur’an. Lalu, Al-Qur’an mesti ditempatkan ditempat yang wajar menjadi bentuk pemuliaan terhadapnya. Oleh karenanya Ulama melarang membawa Al-Qur’an dibawa ke toilet. Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Mughnil Muhtaj hal. 155 mencuplik saran Imam Al-Adzra’i:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

Artinya : Imam Al-Adzra’i berkata : pendapat yang tepat adalah haram membawa Mushhaf dan semisalnya ke dalam toilet tanpa dhorurot. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap Mushhaf.

Disini butuh diperjelas mengenai Mushhaf yang disebut dalam cuplikan diatas. Imam Nawawi Banten menyampaikan mengenai batasan Mushhaf ; Yang disebut dengan Mushhaf merupakan tiap-tiap benda yang disana ada sebagian tulisan dari Al-Qur’an yang dipakai untuk dirosah (belajar) seperti kertas, kain, plastik, papan, tiang, tembok dan lain-lain.

Walaupun dalam kalangan ulama masih terdapat banyak perbedaan pandangan namun, sebaiknya kita sebagai umat Islam untuk menghormati dan menjaga kesucian al-Quran dengan sebaik mungkin, walaupun mushaf al-Quran berada dalam bentuk software yang ada di smartphone, leptop, komputer dan sebagaianya.

Menurut hemat kami, lebih baik al-Quran di dalam smartphone dihapus atau uninstal saja dulu, nanti ketika dibutuhkan barulah didownload kembali. Suatu yang baik walau sulit mesti diraih lewat cara yang baik, bukanlah dengan yang tidak baik. Wallahu a'lam.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa serta Menyimpannya

Dasar Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran IslamDasar Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran Islam
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam, yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, baik itu yang baru lahir maupun yang telah berumur tua. Kewajiban zakat dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sebuat hadits sebagai berikut:

بُنِيَ الإِسْلامُ على خَمْسٍ: شَهادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإقَامِ الصَّلاةِ، وَإيْتَاءِ الزَّكاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (متفق عليه)

“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)

Zakat adalah kewajiban yang secara umum telah diketahui secara pasti oleh seluruh umat Islam, ketentuannya telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqih, sehingga jika ada umat Islam yang tidak melaksanakan kewajiban zakat maka dia merupakan orang yang ingkar sehingga disebut sebagai kufur. Syekh Muhyiddin an-Nawawi berkata:

وجوب الزكاة معلوم من دين الله تعالى ضرورة فمن جحد وجوبها فقد كذب الله وكذب رسوله صلى الله عليه وسلم فحكم بكفره

Terjemahannya: “Kewajiban zakat adalah ajaran agama Allah yang diketahui secara jelas dan pasti. Karena itu, siapa yang mengingkari kewajiban ini, sesungguhnya ia telah mendustakan Allah dan mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, sehingga ia dihukumi kufur.” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, cetakankedua, 2003, jilid V, halaman: 331)

Dalam al-Quran kewajiban membayar zakat dijelaskan di dalam beberapa surat, salah satunya surat at-Taubah ayat 103 yaitu sebagai berikut:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا 

Terjemahannya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103)

Firman Allah dalam Al-Qur'an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Terjemahannya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus." ( Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Di ayat lain Allah berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ 

Terjemahannya: “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Kewajiban dalam membayar zakat memiliki dua tijauan yaitu tinjauan penghambaan kepada Allah (ta’abbudi) dan tinjauan sosial kemasyarakatan. Zakat tidak seperti melempar jumrah saat berhaji yang hanya dilihat dari sisi penghambaan kepada Allah atau tidak pula seperti membayar hutang yang hanya berkisaran persoal sosial semata.

Tinjauan ta’abbudi dilihat dari bagaimana seorang muzakki (orang yang membayar zakat) mengkalkulasi, mendistribusi, waktu pelaksanaan, dan aturan-aturan lain yang wajib ditaati, sehingga dari sinilah zakat disejajarkan dengan ibadah mahdah lain seperti shalat, puasa, dan haji, yang kesemuanya termasuk dalam rukun Islam. Sedangkan tinjauan sosial zakat dilihat kepada objek utama yang menerimanya, dimana mereka rata-rata berada di ekonomi kelas bawah yang merupakan oran tidak mampu. Zakat sebagai pemenuhan kebutuhan hidup mustahaqqin (penerima zakat), bertujuan agar dapat memberantas kemiskinan, meningkatkan kehidupan yang layak, agar masyarakat tidak terus tergantung dengan uluran tangan orang lain, dan bahkan mereka dapat menjadi pemberi/penolong bagi orang lain yang masih dalam keadaan miskin.

Sebagaimana diketahui bahwa aturan-aturan dalam zakat bukanlah hal yang mudah, butuh pengetahuan yang mendalam sehingga bisa melaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada dalam syariat Islam. Kalau ketentuan zakat fitra dengan mudah akan dipahami, namun ketentuan dalam zakat mal (zakat harta) yang menjadi persoalan dalam umat Islam. Pengetahuan zakat ini menjadi hal penting sehingga seorang muzakki mudah mengklasifikasi aset wajib zakat dari aset lainnya, menghitung aset yang menjadi kewajiban untuk dikeluarkan, hingga mendistribusikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Hal ini jika tidak dilaksanakan maka, secara sosial tidak memiliki dampak negatif, namun perlu untuk diingat bahwa zakat memiliki tinjauan ta’abbudi, dimana akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah suatu saat kelak di akhirat nanti. Wallahu a'lam.

Dasar Hukum Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran Islam