Coretanzone: Hukum Islam

    Social Items

5 Hukum Perceraian Menurut Syariat Islam
Hukum perceraian dalam Islam dapat bervariasi. Perceraian bisa bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah, hingga haram, tergantung masalah dan situasinya. Berikut ini hukum perceraian dalam Islam.

1. Hukum perceraian yang wajib


Perceraian adalah wajib jika pasangan yang sudah menikah tidak dapat berdamai dan tidak memiliki jalan keluar selain perceraian untuk menyelesaikan masalah. Biasanya, masalah ini akan dibawa ke Pengadilan Agama setempat. Jika pengadilan memutuskan bahwa perceraian adalah keputusan terbaik, maka perceraian itu wajib.

Selain masalah yang tidak dapat diselesaikan, alasan lain untuk bercerai dengan hukum wajib adalah ketika suami atau istri melakukan tindakan keji dan tidak ingin bertobat lagi. Atau ketika salah satu pasangan murtad alias meninggalkan agama Islam, maka perceraian adalah wajib.

2. Hukum perceraian yang sunnah


Terkadang perceraian direkomendasikan dan mendapatkan hukum sunnah dalam beberapa keadaan. Salah satu penyebab perceraian yang hukumnya sunnah adalah ketika seorang suami tidak mampu menanggung kebutuhan istrinya. Selain itu, ketika istri tidak dapat mempertahankan kehormatannya atau tidak ingin menjalankan kewajibannya kepada Allah, dan suami tidak lagi dapat membimbingnya, maka disunnahkan bagi suami untuk menceraikannya.

3. Hukum perceraian yang makruh


Hukum perceraian menjadi makruh jika dilakukan tanpa alasan Syar'i. Misalnya, jika seorang istri memiliki karakter yang mulia dan memiliki pengetahuan agama yang baik, maka hukum perceraian adalah makruh. Alasannya, suami dianggap tidak memiliki alasan yang jelas mengapa ia harus menceraikan istrinya jika rumah tangga mereka sebenarnya masih dapat dipertahankan.

4. Hukum perceraian yang mubah


Ada beberapa alasan yang membuat hukum perceraian mubah. Misalnya, jika seorang istri tidak dapat menaati suaminya dan berperilaku buruk. Jika suami tidak dapat menahan atau bersabar, maka perceraian itu sah atau diizinkan. Selain itu, perceraian berubah jika suami tidak lagi memiliki keinginan untuk berhubungan intim atau istrinya tidak lagi subur atau menopause.

5. Hukum perceraian yang haram


Meskipun awalnya perceraian tidak dilarang dalam Islam, namun perceraian dilarang jika perceraian yang dijatuhkan oleh suami tidak sesuai dengan hukum Islam. Perceraian dilarang dalam beberapa kondisi.

Misalnya, menceraikan seorang istri saat menstruasi atau pascapersalinan (nifas), serta menceraikan istrinya setelah berhubungan intim tanpa diketahui hamil atau tidak. Selain itu, seorang suami juga dilarang menceraikan istrinya jika tujuannya adalah untuk mencegah istri dari mengklaim hak atas harta miliknya.

Itulah 5 hukum perceraian dalam Islam. Untuk itu maka, sebelum memutuskan untuk bercerai, anda harus berpikir dulu.

5 Hukum Perceraian Menurut Syariat Islam

Haruskah Saat Sujud Syukur dalam Kondisi Suci dan Menutup Aurat?
Melakukan sujud syukur adalah salah satu bimbingan Nabi Muhammad SAW, dalam menanggapi nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi dari Abu Bakar, dikatakan bahwa Rasulullah akan melakukan sujud syukur jika ia mendapatkan sebuah perkara yang membuatnya bahagia.

Muncul pertanyaan, apakah diperlukan dalam kondisi suci ketika ingin melakukan sujud syukur? Mengutip uraian dari Lembara Dar al-Ifta Fatwa Mesir, para ulama berbeda pendapat tentang apakah sujud harus dalam keadaan suci dan menutup aurat, seperti prosedur sujud dalam shalat.

Menurut Imam Muhammad dan Abu Yusuf dari mazhab Imam Hanafi, Imam Syafii, dan Imam Ahmad, sujud itu harus dalam kondisi suci dan menutup aurat, seperti persyaratan hukum yang berlaku dalam shalat. Mereka merujuk pada hadis riwayat Muslim, bahwa tidak ada shalat yang diterima kecuali dalam keadaan suci. Sujud syukur, dianalogikan juga seperti shalat, yang harus terlebih dahulu bersuci.

Sementara itu, menurut beberapa ulama lainnya, di antaranya ulama mazhab Maliki, Ibnu Taimiyah, Ibn al-Qayyim, ash-Syaukani, dan ash-Shan'ani, menyebutkan bahwa sujud syukur tidak diisyaratkan dalam keadaan suci dan menutup aurat, sebagaimana yang berlaku pada shalat.

Mereka beralasan, banyak sahabat yang melakukan sujud syukur tanpa harus melakukan wudhu terlebih dahulu, sedangkan Rasul menyaksikan apa yang dilakukan sahabatya, tanpa mengoreksi sedikitpun.

Di akhir uraiannya, lembaga ini menyatakan, dari uraian di atas, adalah sah untuk melakukan sujud tanpa harus bersuci terlebih dahulu merujuk pada pendapat para ulama mazhab Maliki dan yang memiliki pandangan yang sama.

Namun demikian, lebih baik jika Anda ingin melakukan sujud syukur, terlebih dahulu bersuci, berniat, kemudian menghadap kiblat. Namun jika tidak dapat melaksanakan hal tersebut, maka boleh-boleh saja sujud syukur langsung, sebagaimana pendapat para ulama yang menyatakan bahwa sujud syukur boleh dalam keadaan tidak suci dan tidak menutup aurat.

Haruskah Saat Sujud Syukur dalam Kondisi Suci dan Menutup Aurat?

Hukum Menguburkan Orang yang Meninggal di Malam Hari
Kematian datang tidak melihat waktu, bisa terjadi kapan saja, termasuk di malam hari. Beberapa orang memilih untuk menunda pemakaman di malam hari dan menunggu hingga esok hari.

Namun, ada orang lain yang memutuskan untuk melanjutkan pemakaman malam itu dengan berbagai pertimbangan. Jadi apa hukum mengubur mayat di malam hari?

Menurut Lembaga Dar al-Ifta Fatwa Mesir menyebutkan bahwa, para ulama sepakat bahwa menguburkan orang meninggal di malam hari hukumnya boleh.

Mengutip Syekh al-Hathab al-Maliki di Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil, mengatakan bahwa boleh menguburkan orang mati di malam hari.

Menurut Imam an-Nawawi, pemakaman Fatima, putri Rasulullah SAW, yang diadakan pada malam hari menunjukkan kebolehan mwnguburkan mayat di malam hari.

Namun, jika memungkinkan selama pelaksanaan siang hari, selama tidak ada kendala, tentu lebih utama.

Beberapa ulama memberi hukum makruh mengubur mayat di malam hari namun tetap membiarkannya. Mereka merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah.

Ketika Nabi sedang berkhotbah, beliau telah menerima berita bahwa seorang sahabatnya telah meninggal di malam hari dan segera dimakamkan malam itu. Rasul melarang menguburkan sahabatnya itu di malam hari sampai dia dishalatkan secara bersama-sama pada keesokan hari, kecuali ada masalah yang mendesak.

Namun, sekali lagi, mayoritas ulama memiliki pandangan bahwa hukum mengubur mayat di malam hari tidak makruh. Selain pemakaman Fatimah, banyak sahabat, termasuk Abu Bakar, dimakamkan di malam hari.

Bahkan dalam sejarah, Rasul tidak melarang dan menegur sahabat-sahabat yang menguburkan kerabat mereka di malam hari. Larangan Nabi tidak disebabkan oleh waktu penguburan malam hari, tetapi faktor kekhawatiran jika pada malam hari tidak ada orang yang menshalatkan mayat tersebut, atau ketidaksempurnaan dalam mengakafani mayat disebabkan oleh karena waktu malam, atau faktor lainnya.

Hukum Menguburkan Orang yang Meninggal di Malam Hari

Bagaimana Hukum Menggunakan Celana di Bawah Mata Kaki (Isbal)?
Menjauhi isbal (berpakaian lebih dari pergelangan/mata kaki), bagi sebagian orang itu dipahami sebagai perintah wajib. Ini memunculkan beberapa fenomena baru tentang prosedur berpakaian, terutama bagi laki-laki, seperti celana, jubah, atau apapun di atas pergelangan kaki. Benarkah larangan pengurangan pakaian itu mutlak tanpa pengecualian sama sekali?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Lembaga Dar al-Ifta Fatwa Mesir mengungkapkan pandangan dari berbagai literatur ulama empat mazhab fikih.

Sejumlah hadist memang menunjukkan larangan terhadap laki-laki. Di antaranya adalah hadits Bukhari dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW berkata, "Pakaian yang melebihi dua pergelangan kaki kemudian (pemakainya) di neraka."

Namun, menurut Dar al-Ifta ', larangan ini berarti tidak mutlak karena dibatasi oleh hadist lain yang memberikan batasan, yang dilarang jika disertai dengan rasa arogansi, kesombongan, dan membanggakan diri dengan pakaian dan apa pun yang mereka punya.

Dalam tradisi sejumlah lapisan masyarakat, pada waktu itu, panjang pakaian digunakan sebagai tolok ukur untuk kualitas dan strata sosial yang bersangkutan. Hadits Bukhari dari Abdullah bin Umar RA menyatakan bahwa, siapa pun yang memanjangkan pakaiannya karena kesombongan (khuyala'), Allah tidak akan melihatnya nanti di akhirat.

Abu Bakar kemudian berkata, "Seseorang merentangkan bajuku untuk bersantai, apakah ini termasuk?" Nabi menjawab, "Kamu (Abu Bakar) tidak melakukannya karena kesombongan."

Pembatasan ini juga telah menjadi kesepakatan para ulama. Isbal yang dilarang itu memang mengandung unsur arogansi, kesombongan, dan glamoritas.

Dalam buku al-Fatawa al-Hindiyyah, yang bercorak Hanafi, disebutkan bahwa isbal berpakaian untuk pria selama tidak dimaksudkan untuk kesombongan, hukumnya adalah makruh tanzih (makruh yang dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak kehormatan).

Menurut Imam Abu al-Walid al-Baji al-Maliki, dalam buku al-Muntaqa menyatakan bahwa, sabda Rasul "siapa pun yang memperpanjang pakaiannya karena kesombongan", maksudnya sangat terkait dengan unsur arogan dan kesombongan.

Sementara memperpanjang pakaian karena itu adalah pakaian panjang, atau tidak menemukan pakaian lain, atau karena alasan tertentu, maka itu tidak termasuk yang diperingatkan.

Syekh Zakariya al-Ansari dalam buku Asna al-Mathalib yang memiliki corak Syafi'i menjelaskan bahwa pakaian yang memanjang melebihi kedua mata kaki karena sombong, hukumnya memang haram. Dan jika dilakukan karena selain kesombongan hukumnya adalah makruh.

Imam Ibn Quddamah al-Hanbali dalam bukunya al-Mughni, mengatakan bahwa pemanjangan pakaian dalam bentuk jubah atau celana sampai ke pergelangan kaki, hukumnya makruh. Jika itu dilakukan karena kesombongan, maka hukumnya adalah haram.

Pembatasan isbal yang dilarang dengan unsur kesombongan juga disampaikan oleh Ibnu Taimiyah dalam Kitab Syarh ‘Umdat al-Fiqh.

Pada akhir pemaparan, Dar al-Ifta 'menekankan bahwa isbal yang dilarang adalah yang mengandung unsur-unsur keangkuhan, kesombongan, dan glamoritas.

Jika tidak ada unsur-unsur seperti itu, maka bukan haram, terutama karena adat atau tradisi di era saat ini tidak selalu memiliki pakaian di bawah pergelangan kaki yang memiliki kaitan dengan kesombongan. Berbeda dengan tradisi yang berlaku saat itu.

Bagaimana Hukum Menggunakan Celana di Bawah Mata Kaki (Isbal)?

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?
Bagi seorang wanita, ketika sudah masuk lanjut usia biasanya terjadi menopause atau berakhirnya masa kesburun dalam tubuh dengan ditandai dengan berakhirnya siklus menstruasi. Ada sebagian orang yang memiliki anggapan bahwa, jika sudah masuk masa ini mereka dibolehkan untuk membuka auratnya. Dengan merujuk pada Firman Allah swt. sebagai berikut.

وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Terjemahannya: Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nur: 60)

Sebelumnya perlu kita bedakan antara dalil secara tekstual dan cara kita dalam menyimpulkan suatu dalil tersebut. Dalil yang berasal langsung dari al-Quran sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyakini keabsahannya, tetapi cara kita dalam menyimpulkan dalil tersebut belum tentu sesuai dengan maksudnya.

Berikut ini beberapa pandangan ulama terkait dengan ayat al-Quran di atas.

1. Perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi)

Al-Qurthubi menukil perkataan Rabi’ah, “Rabi’ah mengatakan, “Mereka adalah para wanita yang jika kamu melihatnya, kamu merasa risih kepadanya karena sudah tua.” Abu Ubaidah mengatakan, ‘Diterjemahkan para wanita yang tidak bisa melahirkan anak. Tapi ini tidak sesuai, karena ada wanita yang tidak bisa melahirkan anak, sementara masih terlihat indah lelaki. Demikian keterangan al-Mahduwi.” (Tafsir al-Qurthubi, 12/309)

Dari pendapat di atas maka, dapat disimpulkan bahwa, yang benar adalah bukan semua wanita yang sudah menopause tetapi hanya wanita tua yang jika kamu melihatnya kamu merasa risih. Sedangkan wanita yang baru berada di awal-awal usia menopause masih terlihat menarik.

2. Pakaian yang boleh dilepaskan

Dalam ayat di atas, ada pernyataan bahwa “tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”
Pakaian apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Sebenarnya yang dimaksud di sini adalah hanya pakaian luarnya saja, seperti kebaya atau penutup luarnya saja dengan tidak bermaksud untuk membuka auratnya dan menampakkan perhiasannya.

Al-Alusi mengatakan, “Maksudnya adalah pakaian luaran, yang ketika dilepas tidak menyebabkan terbuka auratnya, seperti jilbab luar, kerudung luar, atau kain penutup yang berada di atas pakaian.” (Tafsir al-Alusi, 14/11)

Bahkan al-Jashas menegaskan bahwa ulama sepakat siapapun wanita tidak boleh membuka auratnya, baik tua maupun muda. Al-Jashas mengatakan, “Tidak ada perbedaan diantara ulama bahwa rambut nenek-nenek tidak boleh diperlihatkan kepada lelaki yang bukan mahram, sebagaimana rambut wanita muda. Dan nenek-nenek yang shalat dengan kepala terbuka, shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Yang dibolehkan bagi nenek-nenek adalah melepaskan kerudung luar di depan lelaki lain, dengan tetap tertutup kepalanya. Dan dia boleh membuka wajah dan tangannya, karena tidak ada daya tarik lagi.” (Ahkam al-Quran, 5/196).

Demikianlah postingan kali ini tentang ketentuan perempuan yang sudah menopause dalam membuka auratnya, semoga bermanfaat.

Bolehkah Membuka Aurat Ketika Sudah Masuk Masa Menopause?

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara?
Benarkah Jika ada Mahram Sementara? Ini memang pertanyaan yang unik atau pertanyaan yang selalu datang dari masyarakat. Olehnya itu sebelum pembahasan ini lebih baik terlebih dahulu kita mengetahui pengetian dari mahram itu sendiri.

Dalam Syarah Shahih Muslim (9/105), Imam An-Nawawi memberikan defenisi mahram yaitu; “Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, sebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram.”

Dalam al-Quran Allah SWT. melarang untuk seorang laki-laki menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus, sebagaimana firmanNya sebagai berikut:

… وَأَن تَجۡمَعُواْ بَيۡنَ ٱلۡأُخۡتَيۡنِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

Terjemahannya: …dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. an-Nisa: 23)

Dalam sebuah hadis yang artinya; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dalam satu ikatan pernikahan, “Tidak boleh seorang lelaki menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Dari kedua dalil di atas memiliki maksud bahwa, saudara perempuan istri, dan bibi dari istri dilarang untuk dinikahi namun bukan mahram. Karena mereka hanya tidak boleh dinikahi untuk sementara saja.

Olehnya itu, lebih tepatnya tidak ada istilah mahram sementara dalam islam, karena yang Namanya mahram adalah selamanya tidak boleh dinikahi. Seandainya ada mahram sementara, dikarenakan haram dinikahi sementara waktu, maka setiap istri orang lain juga merupakan mahram sementara, karena selama mereka masih berstatus sebagai istri orang lain, maka haram dinikahi oleh laki-laki manapun.

Dalam fatwa Lajnah Daimah (17/36) menyebutkan bahwa, “Ketika seseorang berstatus mahram karena nasab, persusuan, atau pernikahan, maka status mahramnya selamanya. dan tidak ada istilah mahram sementara sama sekali.”

Dengan demikian maka, pertanyaan di atas sudah terjawab bahwa, dalam Islam tidak ada sebutan mahram sementara dengan alasan apapun, yang ada adalah mahram selamanya yang haram dinikahi. Sehingga orang yang haram dinikahi dalam kurun waktu tertentu atau sementara waktu bukanlah mahram, karena mereka bisa dinikahi lagi ketika sudah tidak memilki status sebagai istri orang lain.

Benarkah Jika Ada Mahram Sementara dalam Syariat Islam?

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid
Haid merupakan suatu masa yang akan dilalui oleh seorang wanita dalam masa waktu tertentu. Setiap wanita yang sudah baligh akan mengalami masa ini, sebagai penanda kesuburan dan baik untuk seorang wanita. Haid atau menstrusai ini biasanya disebut datang bulan, karena normalnya akan dialami oleh seorang wanita dalam satu bulan satu kali dalam beberapa hari tertentu. Dalam keadaan menstruasi seorang wanita dilarang melakukan beberapa hal sesuai dengan nash al-Quran dan hadis Rasulullah saw.

Berikut ini beberapa larangan yang haram untuk dilakukan oleh seorang wanita yang dalam keadaan sedang haid:

1. Shalat


Shalat lima waktu merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh semua umat islam yang sudah baligh dan memenuhi syarat, namun bagi seorang wanita yang sedang haid dilarang untuk melaksanakan shalat, baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yang artinya sebagai berkut.

Dari Aisyah ra berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat.” (HR Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

2. Menyentuh Mushaf dan Membawanya


Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada umat Islam sebagai pedoman hidup dan bekal untuk akhirat nanti. Namun dalam keadaan sedang hadis, seorang wanita dilarang untuk menyentuh apalagi membawa mushaf tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Quran sebagai berikut.

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ 

Terjemahannya: tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (Q.S. Al Waqi’ah: 79)

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW. bersabda,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya)

Orang yang sedang berhadas besar termasuk di dalamnya wanita yang sedang haid dilarang untuk menyentuh mushaf al-Quran.

3. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran


Membaca al-Quran dapat mendatangkan manfaat yang banyak termasuk mendatangkan pahala bagi pembacanya, namun ada sebagian ulama yang berpandandanga bahwa saat haid seorang wanita dilarang melafazkan ayat suci al-Quran kecuali di dalam hati atau doa/zikir yang lafaznya berasal dari ayat al-Quran. Hal ini sebagaimana salah satu hadis Rasulullah SAW. yang artinya “Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub.”

Walaupun demikian, ada sebagian pendapat ulama yang membolehkan wanita yang sedang haid untuk membaca al-Quran asalkan tidak menyentuh mushaf, dan juga takut lupa dengan hafalan al-Qur’an-nya jika waktu haidnya berlangsung lama. Selain itu juga membacanya tidak terlalu banyak juga diperbolehkan.

Pendapat ini adalah pendapat yang berasal dari Malik, sebagaimana disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal 133.

4. Masuk ke Masjid


Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat islam yang boleh dimasuki untuk melakukan ibadah kepada Allah, namun bagi wanita yang dalam keadaan haid tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam masjid sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh.” (HR Bukhori, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah).

Dengan demikian maka, larangan ini bukan saja kepada wanita haid, tetapi juga kepada laki-laki yang sedang dalam keadaan junub, sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang dalam keadaan berhadas besar dilarang untuk memasuki masjid sampai dia sudah menjadi suci.

5. Berwudu atau Mandi Janabah


Dalam pandangan mazhab As Syafiiyah dan al-Hanabilah menyatakan bahwa, seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid, diharamkan untuk berwudhu dan mandi janabah. Hal ini mengandung arti bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan haid dan darahnya masih mengalir keluar, lalu memiliki niat untuk bersuci dari hadas besar dengan cara melakukan wudhu dan mandi janabah seakan-akan masa haidnya sudah selasai, padahal kenyataannya belum.

Walaupun demikian larangan ini tidak berlaku untuk mandi yang hanya sekedar membersihkan tubuh dari kuman dengan menggunakan sabun, shampoo, dan sebagainya, dengan tidak ada niat untuk mensucikan diri dari hadas besar.

6. Puasa


Puasa merupakan salah satu ibadah yang dilakukan oleh umat Islam untuk mendapat pahala dan manfaatnya sangat banyak untuk kesehatan tubuh. Namun seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid dilarang untuk berpuasa, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah bila wanita mendapat hatdas, dia tidak boleh shalat dan puasa?” (HR Muttafaq ‘alaihi).

7. Tawaf


Tawaf merupakan salah satu rukun haji, namun ketika seorang Muslimah dalam keadaan haid maka, tidak dibolehkan untuk melakukan tawaf, sebagaimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut:

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf di sekeliling kabah hingga kamu suci.” (HR MutafaqqAlaih).

8. Bersetubuh


Darah haid itu merupakan salah satu kotoran yang tidak baik bagi kesehatan tubuh, sehingga keluar dari tubuh seorang wanita. Kotoran ini juga tidak baik untuk laki-laki, sehingga dalam keadaan seperti ini seorang wanita dilarang melakukan hubungan intim dengan suaminya, hal ini sebagimana hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Terjemahannya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS Al-Baqarah: 222).

Memang bahwa sebagai manusia yang normal pasti ada nafsu biologis yang ingin disalurkan melalui berhubungan badan antara suami dan istri, namun ketika seorang istri dalam keadaan haid maka, sudah menjadi kewajiban suami untuk menahan dirinya agar tidak berhubungan intim untuk menghindari penyakit yang timbul akibat dari itu.

Beberapa Larangan Bagi Seorang Wanita Muslimah Saat Sedang Haid

Hukum Islam Tentang Arisan
Hidup dengan berpegang pada aturan islam merupakan hal yang membahagiakan. Sebab seorang muslim yang hidup dengan berpegang pada aturan agamnya tidak akan bingung atau resah ketika melakukan suatu apapun. Hal sederhana yang kebanyakan terjadi adalah dengan adanya arisan. Sebenarnya bagaimana hukum islam arisan? Boleh atau justru dilarang? Padahal arisan sudah sangat umum terjadi di masyarakat luas.

Hukum islam arisan akan membantu setiap muslim mengenali apa yang sebenarnya diatur dalam arisan. Diperbolehkan atau tidaknya yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat Islam. Hukum islam arisan mendapat beberapa pendapat dari para ulama. Untuk lebih lengkapanya, berikut ini merupakan hukum islam arisan yang bisa anda ikuti.

Bagaimana Hukum Islam Arisan ?

Arisan merupakan suatu aktivitas dimana anggotanya akan menyetorkan sejumlah uang yang sudah disepakati dalam kurun waktu tertentu. Sistemnya ada yang secara acak ada juga yang sudah mendapatkan nomor urut sehingga ia bisa tahu kapan ia mendapatkan uangnya. Hukum islam arisan memanglah sempat menjadi perbincangan yang serius.

Secara umum memang belum pernah disinggung secara langsung. Maka dari hukum islam arisan dikembalikan pada hukum asal muamalah yaitu dibolehkan. Dimana para ulama pernah menyebutkan bahwa hal ini tidak boleh diharamkan muamalah yang dibutuhkan oleh manusia sekarang. Kecuali jika ada dalil dari al-qur’an dan sunnah yang mengharamkannya.

Hukum islam arisan juga disebutkan adanya Qs Al Maidah ayat 2 yang berarti bahwa adanya perintah untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Dari ayat ini dikatakan bahwa saling tolong menolong adalah hal yang baik untuk kehidupan sesama manusia.

Sementara arisan memilikki tujuan yakni tolong menolong orang yang membutuhkan. Caranya dengan membayar iuran secara rutin dan bergiliran untuk bisa mendapatkannya. Dengan sistem yang baik seperti ini, hukum islam arisan memperbolehkannya. Tetapi setiap muslim hendaknya teliti dengan sistem arisan yang akan ia ikuti karena tidak sedikit juga yang menyelenggarakan arisan tetapi mengandung riba, penipuan dan lain sebagainya yang dilarang.

Hukum islam arisan juga mengingatkan para muslim agar terhindar dari adanya praktek penipuan yang berkedok arisan. Tentu tidak asing berita atau kejadian yang menyebutkan adanya pihak pembuat arisan yang membawa kabur uang dari para anggotanya. Bahkan tidak sedikit jumlah yang dibawa seperti misalnya mencapai puluhan juta. Padahal cara ini tentu merupakan suatu kejahatan yang jelas dilarang dalam islam.

Sebagai anggota yang ikut dalam arisan, seorang muslim wajib mengetahui kemampuan dirinya dalam membayar iuran. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan dari pihak manapun. Dengan begitu, keteraturan membayar arisan akan saling membantu antar anggota. Selain itu, bentuk arisan juga merupakan uang yang ditabung. Dengan begitu, para anggota bisa menyisihkan sebagaian uangnya membayar arisan dan akan mendapatkannya kembali dnegan jumlah yang telah disepakati dan nomor urut yang ia dapatkan.

Hukum islam arisan mengatur jelas bagaimana praktek dan berjalannya arisan. Selama dalam koridor islam dan tidak merugikan pihak manapun, arisan merupakan muamalah yang bisa membantu kehidupan manusia agar berjalan dengan baik. Tidak sedikit yang terbantu dengan mengikuti arisan. Terutama bagi para muslim yang kesulitan untuk menabung untuk membeli sesuatu.

Arisan tentulah bisa membantu setiap anggotanya dalam mengatur keuangan. Dengan arisan, mereka bisa saling memberi dukungan antar anggota. Hukum islam arisan ini yang juga mengatur bagaimana transaksi atau aktivitas tersebut diperbolehkan dalam islam.

Hukum Islam Tentang Arisan