Coretanzone: Hukum Islam

    Social Items

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan
Arti khitbah atau meminang yaitu meminta seseorang wanita untuk dinikahi melalui cara yang diketahui di dalam masyarakat. Tentunya pinangan itu tidak hanya diperuntukkan terhadap si gadis tanpa sepengetahuan ayahnya sebagai wali.

Karena pada hakekatnya, saat punya niat untuk menikah dengan seorang gadis, maka gadis itu bergantung dari ayahnya. Ayahnyalah yang terima pinangan itu ataukah tidak serta ayahnya juga yang nanti akan menikahkan anak gadisnya itu dengan calon suaminya.

Sedang ajakan menikah yang dikerjakan oleh seseorang pemuda pada seseorang pemudi sebagai kekasihnya tanpa sepengetahuan bapak si gadis tidak dimaksud dengan pinangan. Karena si gadis begitu tergantung pada ayahnya. Hak untuk menikahkan anak gadis memang ada pada ayahnya, hingga tidak dibetulkan seseorang gadis terima ajakan menikah dari siapa saja tanpa sepengetahuan ayahnya.

Meminang merupakan muqaddimah dari suatu pernikahan. Suatu perbuatan yang sudah disyariatkan Allah SWT sebelum dikerjakan pengikatan akad nikah supaya masing-masing pihak dapat kenal mengenal diantara mereka. Tidak hanya itu, supaya kehidupan pernikahan itu didasari atas bashirah yang pasti. Dengan beberapa pertimbangan, Islam menyarankan untuk merahasiakan meminangan serta cuma bisa dibicarakana dalam batas keluarga saja, tanpa mengibarkan bendera atau membuat upacara tabuhan genderang dan sebagainya.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ  عَنْ أَبِيهِ  أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ قَالَ:  أَعْلِنُوا اَلنِّكَاحَ - رَوَاهُ أَحْمَدُ  وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Terjemahannya: Dari Amir bin Abdilah bin Az-Zubair dari Ayahnya RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Umumkanlah pernikahan". (HR. Ahmad dan dishahihkan Al-Hakim)

Pada Hadis lain yang artinya: "Dari Ummu Salamah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kumandangkanlah pernikahan .... dan rahasiakanlah peminangan".

Perbuatan ini tidak lain yaitu untuk menghindar serta memelihara kehormatan, nama baik serta perasaan hati wanita. Cemas peminangan yang telah di ramaikan itu mendadak batal karena satu serta lain perihal. Apa pun alasannya, hal semacam itu tentulah begitu menyakitkan serta sekaligus juga merugikan nama baik seseorang wanita. Mungkin saja orang yang lain akan ragu-ragu meminangnya karena peminang yang pertama sudah mengundurkan diri, hingga dapat memunculkan tanda tanya di hati beberapa calon peminang yang lain. Apa wanita ini mempunyai cacat atau mempunyai permasalahan yang lain.

Demikian sebaliknya, jika peminangan ini dirahasiakan ataukah tidak di ramaikan terlebih dulu, jikalau hingga sampai berlangsung pembatalan, jadi cukuplah keluarga terdekatlah yang tahu. Serta nama baik keluarga tidak jadi taruhannya.

Khitbah Yang Dibolehkan 


Untuk bisa dilaksanakan khitbah atau peminangan, maka sekurang-kurangnya mesti tercukupi dua prasyarat paling utama.

Pertama ialah wanita itu terlepas dari semua mawani` (pencegah) dari suatu pernikahan, contohnya jika wanita itu tengah jadi istri seorang. Atau wanita itu telah dicerai atau ditinggal mati suaminya, tetapi masih juga dalam waktu `idaah. Diluar itu juga wanita itu tidak bisa termasuk juga dalam daftar beberapa orang yang menjadi mahram buat seroang lelaki. Jadi didalam Islam tidak dibolehkan ada seseorang lelaki meminang adiknya sendiri, atau ibunya sendiri atau bibinya sendiri.

Kedua ialah jika wanita itu tidak tengah dipinang oleh orang yang lain sampai jelas apa pinangan orang yang lain itu di terima atau tidak diterima. Sedang jika pinangan orang yang lain itu belum juga di terima atau malah tidak di terima, maka wanita itu bisa dipinang oleh orang yang lain. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاء أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَـكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَن تَقُولُواْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan perkataan yang ma`ruf . Dan janganlah kamu ber`azam untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(QS. Al-Baqarah : 235)

Khitbah Yang Diharamkan 


Seseorang muslim tidak halal meminang seorang wanita yang ditalak atau yang ditinggal mati oleh suaminya sepanjang masih juga dalam masa iddah. Karena wanita yang masih juga dalam massa iddah itu dipandang masih tetap menjadi mahram buat suaminya yang pertama, oleh karenanya tidak bisa dilanggar. Namun untuk isteri yang ditinggal mati oleh suaminya, bisa diberikan satu penjelasan - selama dia masih juga dalam masa iddah - dengan cara yang halus yaitu suatu sindiran, bukan dengan terang-terangan, kalau si lelaki itu ada hasrat untuk meminangnya. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah: 235)

Serta diharamkan juga seseorang muslim meminang pinangan saudaranya apabila ternyata telah sampai pada tingkat kesepakatan dengan pihak yang lainnya. Karena lelaki yang meminang pertama itu sudah mendapatkan satu hak serta hak ini mesti dijaga serta dilindungi, untuk memelihara pertemanan serta pergaulan sesama manusia dan menghindari seseorang muslim dari sikap-sikap yang bisa mengakibatkan kerusakan jati diri. Karena meminang pinangan saudaranya itu sama dengan perampasan serta permusuhan.

Tapi bila lelaki yang meminang pertama itu telah memalingkan pandangannya dari si wanita itu atau memberi izin pada lelaki yang ke-2, jadi saat itu lelaki ke-2 itu tidak berdosa untuk meminangnya. Karena hal ini sesuai sabda Rasulullah saw. yaitu seperti berikut:

`Seorang mu`min saudara bagi mu`min yang lain. Oleh karena itu tidak halal dia membeli pembelian kawannya dan tidak pula halal meminang pinangan kawannya.`(HR. Muslim)

Dan sabdanya juga:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  لا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Terjemahannya: Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Janganlah seorang laki-laki meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang pertama itu meninggalkan (membatalkan) atau mengizinkannya".(HR Bukhari).

Demikianlah ulasan tentang pinangan atau khitbah yang dibolehkan dan yang diharamkan, semoga yang belum menikah agar segeralah untuk meminang seorang gadis dengan melihat ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam.

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam
Islam merupakan agama yang paling sempurna, karena merupakan Agama yang berasal dari Allah dan masih terjaga keasliannya. Kesempurnaan ini dapat dilihat dari segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia telah diatur secara rinci dan baik, salah satunya adalah hukum menikahi wanita yang pernah berzina, sebagaimana dalam Al-Quran Allah swt. berfirman.

الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

1. Pandangan Jumhur (sebagian besar) Ulama


Jumhurul Fuqaha menyampaikan jika yang dimaksud dari ayat itu bukan mengharamkan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Bahkan juga mereka membolehkan menikah dengan wanita yang pezina. Lantas bagaimanakah dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Beberapa fuqaha mempunyai tiga argumen dalam perihal ini.

Dalam perihal ini mereka menyampaikan jika lafaz `hurrima` atau diharamkan didalam ayat itu bukan pengharaman tetapi tanzih (dibenci).

Diluar itu mereka beralasan jika memang diharamkan, maka lebih pada masalah yang spesial waktu ayat itu di turunkan. Yakni seseorang yang bernama Mirtsad Al-ghanawi yang menikah dengan wanita pezina.

Mereka menyampaikan jika ayat itu sudah dibatalkan ketetapan hukumnya (dinasakh) dengan ayat yang lain yakni

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)

Pendapat ini juga adalah pendapat dari Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq ra serta Umar bin Al-Khattab ra serta fuqaha kebanyakan. Mereka membolehkan seorang untuk menikah dengan wanita pezina. Serta kalau seorang sempat berzina tidak mengharamkan dianya dari menikah dengan cara syah.

Pandangan mereka ini dikuatkan dengan hadits sebagai berikut:

Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Istriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)

أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : لا توطأ امرأة حتى تضع 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

لا يحل لامرئ مسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقى ماءه زرع غيره 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

Lebih detil mengenai halalnya menikah dengan wanita yang sempat lakukan zina sebelumnya, simaklah pandangan beberapa ulama di bawah ini :

a. Pandangan Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah mengatakan, apabila yang menikah dengan wanita hamil itu merupakan lelaki yang menghamilinya, hukumnya bisa. Sedang jika yang menikahinya itu bukan lelaki yang menghamilinya, maka lelaki itu tidak bisa menggaulinya sampai melahirkan.

b. Pandangan Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan lelaki yang tidak menghamili tidak bisa mengawini wanita yang hamil. Terkecuali sesudah wanita hamil itu melahirkan serta sudah habis waktu 'iddahnya. Imam Ahmad memberikan satu prasyarat lagi, yakni wanita itu mesti telah tobat dari dosa zinanya. Bila belumlah bertobat dari dosa zina, dia masih tetap bisa menikah dengan siapa juga. Demikian dijelaskan didalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.

c. Pandangan Imam Asy-Syafi'i

Mengenai Al-Imam Asy-syafi'i, pandangan beliau ialah, baik lelaki yang menghamili maupun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Seperti tertera didalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.

2. Pandangan Yang Mengharamkan 


Walau demkikian, memang ada pula pendapat yang mengharamkan keseluruhan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Minimal tertulis ada Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` serta Ibnu Mas`ud. Mereka menyampaikan jika seseorang lelaki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitupun seseorang wanita yang sempat berzina dengan lelaki lainnya, jadi dia diharamkan untuk dinikahi oleh lelaki yang baik (bukan pezina).

Bahkan juga Ali bin abi Thalib menyampaikan jika jika seseorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitupun jika yang berzina merupakan pihak suami. Tentunya dalil mereka merupakan zahir ayat yang kami katakan diatas (aN-Nur : 3).

Tidak hanya itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yakni orang yang tidak mempunyai perasaan cemburu jika istrinya serong serta masih membuatnya menjadi istri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda,`Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts`. (HR. Abu Daud)

3. Pandangan Pertengahan 


Sedang pandanga yang pertengahan merupakan pandangan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seorang menikah dengan wanita yang masih tetap senang berzina serta belumlah bertaubat. Jikalau mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Tetapi jika wanita itu telah berhenti dari dosanya serta bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Apabila mereka menikah, maka nikahnya syah dengan cara syar`i.

Kelihatannya pandangan ini agak menengah serta sama dengan azas prikemanusiaan. Karena seseroang yang telah bertaubat memiliki hak untuk dapat hidup normal serta mendapat pasangan yang baik.

Dari berbagai pendapat di atas tentang hukum menikahi wanita yang pernah berzina, maka kita sebagai umat Islam, sudah sepatutnya untuk berpikir jernih agar terhindar dari perbuatan zina yang merupakan salah satu dosa besar, sehingga nantinya pernikahan akan menjadi pernikahan yang baik dan diridhoi oleh Allah.

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa dan Menyimpannya
Al-Qur’an merupakan Kalam Allah SWT yang disebut mu’jizat untuk Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushhaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya merupakan beribadah dan akan mendapat pahala.

Semenjak ada handphone pintar (smartphone), sejumlah besar orang memakai untuk menjelajahi internet. Kadang dalam mencari jalan keluar atas masalah kehidupan (keagamaan), ada yang condong mengacu pada internet (google). Lalu bagaimana hukum membaca al-Quran melalui smartphone? simak ulasannya berikut ini.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone


Seorang yang membaca al-Quran akan mendapat pahala baik dia membacanya dengan mushaf atau mungkin dengan ponsel atau yang lain, Rasulullah SAW bersabda mngenai pahala membaca al-Quran:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ: آلم حَرْفٌ. أَلْفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia akan mendapatkan pahala berupa satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dan Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimy).

Kata membaca dalam mu’jamul wasith dijelaskan jika maknanya merupakan ikuti kalimat-kalimat dalam kitab yang di baca dengan lihat serta mengucapkannya. Hingga membaca ayat dalam al-Quran tujuannya merupakan mengatakan lafadznya lewat cara lihat tulisannya atau mungkin dengan hafalan. Jadi membaca al-Quran yang digolongkan akan mendapatkan pahala sesuai apa yang disabdakan Rasulullah yaitu dengan mengucapkannya yang kira-kira si pembaca dapat dengar suaranya sendiri, baik itu membaca dengan lihat mushaf atau melalui ponsel dan lain-lain.

Bila cuma mengatakan dalam hati atau cukup dengan berbisik yang kira-kira dia tidak dengar suaranya jadi tidak dapat dimasukkan dalam kelompok membaca. Cuma saja al-Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya mengatakan jika disana ada kautamaan membaca al-Quran dengan lihat mushaf atau mungkin dengan hafalan, hal tersebut karena beberapa shahabat begitu senang untuk membaca al-Quran dengan lihat mushaf dengan cara langsung, ada hadits yang menuturkan mengenai keutamaan orang yang membaca al-Quran dengan cara langsung lewat mushaf, seperti sabda Nabi SAW :

قِرَاءَةُ الرَّجُلِ الْقُرْآنَ فِي غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصحف تضعف عل ذَلِك إِلَى ألفي دَرَجَة

Artinya: Bacaan al-Quran dari seseorang dengan tanpa melihat mushaf adalah seribu derajat, dan bacaan al-Qurannya dengan melihat mushaf akan dilipatgandakan menjadi dua ribu derajat (HR. Baihaqi).

Tetapi lepas dari perbandingan pahala pada orang yang membaca al-Quran dengan lihat mushaf ataukah tidak, yang pasti seorang akan mendapat pahala waktu membaca al-Quran bila dia melafadzkannya.

Adab dalam Membawa dan Menyimpan Al-Quran di Smartphone


Tentang wanita yang berhalangan, apakah bisa membaca al-Quran di hati melalui ponsel? Membaca al-Quran untuk wanita haid merupakan haram, tetapi keharaman ini berlaku bila dia melafadzkannya, mengenai bila hanya di baca dalam hati atau menggerakkan lisannya tanpa ada keluarkan nada atau sebatas lihat mushaf saja tanpa ada membacanya jadi tidak berdosa, karena hal yang semacam itu tidak dapat digolongkan qiroah atau membaca.

Tentang aplikasi al-Quran dalam ponsel apakah disebutkan mushaf ataukah tidak, ulama kontemporer berlainan argumen tentang perihal ini. Ada ulama yang menyampaikan bahwa, al-Quran dalam ponsel memiliki hukum yang sama seperti mushaf asli, jadi mereka mengharamkan wanita haid untuk menyentuh ponsel itu waktu aplikasi al-Quran dalam ponsel itu tengah di buka. Sedang menurut ulama yang menyampaikan jika aplikasi al-Quran yang terinstall dalam ponsel tidak memiliki hukum sama seperti mushaf sehingga hal itu tidak diharamkan untuk wanita haid yang ingin menyentuhnya, seandainya tidaklah sampai melafdzkannya waktu membaca.

Tetapi baiknya wanita yang haid tidak menyentuh ponsel yang aplikasi al-Qurannya terbuka, perihal ini untuk menghargai al-Quran serta untuk lebih waspada. Bahkan juga seseorang ulama Hadhramaut yang menyarahi kitab al-Yaqut al-Nafis yakni al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiry menyampaikan jika seorang yang tidak dalam kondisi suci baiknya janganlah menyentuh suatu yang di dalamnya tersimpan file al-Quran baik berbentuk CD, disket, flashdisk, dan lain-lain.

Menjadi kitab suci, ada banyak ketentuan untuk menyimpan serta memegangnya. Salah satunya, diri kita mesti dalam kondisi suci dari hadats bila akan memegang Al-Qur’an. Lalu, Al-Qur’an mesti ditempatkan ditempat yang wajar menjadi bentuk pemuliaan terhadapnya. Oleh karenanya Ulama melarang membawa Al-Qur’an dibawa ke toilet. Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Mughnil Muhtaj hal. 155 mencuplik saran Imam Al-Adzra’i:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

Artinya : Imam Al-Adzra’i berkata : pendapat yang tepat adalah haram membawa Mushhaf dan semisalnya ke dalam toilet tanpa dhorurot. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap Mushhaf.

Disini butuh diperjelas mengenai Mushhaf yang disebut dalam cuplikan diatas. Imam Nawawi Banten menyampaikan mengenai batasan Mushhaf ; Yang disebut dengan Mushhaf merupakan tiap-tiap benda yang disana ada sebagian tulisan dari Al-Qur’an yang dipakai untuk dirosah (belajar) seperti kertas, kain, plastik, papan, tiang, tembok dan lain-lain.

Walaupun dalam kalangan ulama masih terdapat banyak perbedaan pandangan namun, sebaiknya kita sebagai umat Islam untuk menghormati dan menjaga kesucian al-Quran dengan sebaik mungkin, walaupun mushaf al-Quran berada dalam bentuk software yang ada di smartphone, leptop, komputer dan sebagaianya.

Menurut hemat kami, lebih baik al-Quran di dalam smartphone dihapus atau uninstal saja dulu, nanti ketika dibutuhkan barulah didownload kembali. Suatu yang baik walau sulit mesti diraih lewat cara yang baik, bukanlah dengan yang tidak baik. Wallahu a'lam.

Hukum Membaca Al-Quran Melalui Smartphone, dan Adab dalam Membawa serta Menyimpannya

Dasar Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran IslamDasar Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran Islam
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam, yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, baik itu yang baru lahir maupun yang telah berumur tua. Kewajiban zakat dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sebuat hadits sebagai berikut:

بُنِيَ الإِسْلامُ على خَمْسٍ: شَهادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإقَامِ الصَّلاةِ، وَإيْتَاءِ الزَّكاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (متفق عليه)

“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)

Zakat adalah kewajiban yang secara umum telah diketahui secara pasti oleh seluruh umat Islam, ketentuannya telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqih, sehingga jika ada umat Islam yang tidak melaksanakan kewajiban zakat maka dia merupakan orang yang ingkar sehingga disebut sebagai kufur. Syekh Muhyiddin an-Nawawi berkata:

وجوب الزكاة معلوم من دين الله تعالى ضرورة فمن جحد وجوبها فقد كذب الله وكذب رسوله صلى الله عليه وسلم فحكم بكفره

Terjemahannya: “Kewajiban zakat adalah ajaran agama Allah yang diketahui secara jelas dan pasti. Karena itu, siapa yang mengingkari kewajiban ini, sesungguhnya ia telah mendustakan Allah dan mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, sehingga ia dihukumi kufur.” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, cetakankedua, 2003, jilid V, halaman: 331)

Dalam al-Quran kewajiban membayar zakat dijelaskan di dalam beberapa surat, salah satunya surat at-Taubah ayat 103 yaitu sebagai berikut:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا 

Terjemahannya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103)

Firman Allah dalam Al-Qur'an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Terjemahannya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus." ( Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Di ayat lain Allah berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ 

Terjemahannya: “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Kewajiban dalam membayar zakat memiliki dua tijauan yaitu tinjauan penghambaan kepada Allah (ta’abbudi) dan tinjauan sosial kemasyarakatan. Zakat tidak seperti melempar jumrah saat berhaji yang hanya dilihat dari sisi penghambaan kepada Allah atau tidak pula seperti membayar hutang yang hanya berkisaran persoal sosial semata.

Tinjauan ta’abbudi dilihat dari bagaimana seorang muzakki (orang yang membayar zakat) mengkalkulasi, mendistribusi, waktu pelaksanaan, dan aturan-aturan lain yang wajib ditaati, sehingga dari sinilah zakat disejajarkan dengan ibadah mahdah lain seperti shalat, puasa, dan haji, yang kesemuanya termasuk dalam rukun Islam. Sedangkan tinjauan sosial zakat dilihat kepada objek utama yang menerimanya, dimana mereka rata-rata berada di ekonomi kelas bawah yang merupakan oran tidak mampu. Zakat sebagai pemenuhan kebutuhan hidup mustahaqqin (penerima zakat), bertujuan agar dapat memberantas kemiskinan, meningkatkan kehidupan yang layak, agar masyarakat tidak terus tergantung dengan uluran tangan orang lain, dan bahkan mereka dapat menjadi pemberi/penolong bagi orang lain yang masih dalam keadaan miskin.

Sebagaimana diketahui bahwa aturan-aturan dalam zakat bukanlah hal yang mudah, butuh pengetahuan yang mendalam sehingga bisa melaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada dalam syariat Islam. Kalau ketentuan zakat fitra dengan mudah akan dipahami, namun ketentuan dalam zakat mal (zakat harta) yang menjadi persoalan dalam umat Islam. Pengetahuan zakat ini menjadi hal penting sehingga seorang muzakki mudah mengklasifikasi aset wajib zakat dari aset lainnya, menghitung aset yang menjadi kewajiban untuk dikeluarkan, hingga mendistribusikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Hal ini jika tidak dilaksanakan maka, secara sosial tidak memiliki dampak negatif, namun perlu untuk diingat bahwa zakat memiliki tinjauan ta’abbudi, dimana akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah suatu saat kelak di akhirat nanti. Wallahu a'lam.

Dasar Hukum Kewajiban dalam Membayar Zakat sesuai dengan ajaran Islam

Hukuman Bagi Orang yang Berzina sesuai Syariat Islam
Hukuman Bagi Orang yang Berzina - Mungkin bagi kalangan besar manusia saat ini yang memuja kebebasan dan hak asasi manusia, akan beranggapan bahwa perbuatan dosa besar zina merupakan salah satu hal yang biasa-biasa saja, bahkan jika dalam keadaan suka sama suka maka tidak menjadi persoalan. Lain halnya dengan pandangan hukum Islam yang sangat melarang keras perbuatan zina, baik itu dengan cara paksaan atau suka sama suka. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran surat al-Quran surat al-Isra ayat 32. Dalam surat itu, Allah melarang manusia untuk mendekati zina (mendekati saja tidak boleh apalagi melakukannya), karena perbuatan zina itu merupakan suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.

Hukuman Bagi Orang yang Berzina


1. Orang yang melakukan perbuatan zina Muhsan baik itu laki-laki maupun perempuan dalam keadaan sadar dan atas dasar suka sama suka, maka keduanya wajib dikenakan hukuman Had (rejam) yaitu dicambuk sebanyak 100 kali, kemudian dikubur hidup-hidup hingga kepala saja yang terlihat kemudia dilempar dengan batu hinggal mati. Zina muhsan adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah, baik itu laki-laki maupun perempuan.

2. Orang yang melakukan zina ghairu muhsan, baik itu laki-laki maupun perempuan wajib diberi hukuman dengan 100 kali cambuk kemudian dibuang atau diasingkan dari ke luar dari tempar tinggalnya selam satu tahun, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur ayat 2. Zina ghairu muhsan adalah orang yang melakukan zina belum menikah.

3. Bagi perempuan yang diperkosa, telah dibuktikan dengan bukti yang diperlukan, dan tidak menimbulkan keraguan bagi hakim, maka perempuan itu tidak boleh dijatuhi hukuman hudud, dan dia tidak berdosa atas perbuatan zina semacam ini.

4. Laki-laki yang memperkosa perempuan dan dibuktikan dengan bukti dan saksi yang kuat, maka hakim wajib memberikan hukum hudud kepada laki-laki tersebut, yaitu wajib dikenakan hukum cambuk/sebetan dan hukum rajam.

5. Bagi perempuan yang telah diperkosa secara paksa, maka dia hendaklah dibebaskan dari semua hukuman (tidak boleh direham) dan Allah maha pengampun atas segala dosa yang tidak disengaja oleh perempuan itu.

Islam telah mengatur segala macam hal dalam kehidupan kita, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Hukum dalam Islam ini untuk kemanfaatan bagi manusia, termasuk hukuman bagi orang yang berzina. Dimana zina merupakan perbuatan yang dilarang dan tidak bisa ditolerir. Semoga kita menjadi hamba yang selalu bertaqwa kepada Allah.

Hukuman Bagi Orang yang Berzina sesuai Syariat Islam

Hukum Islam Tentang Ahli Waris
Hukum Islam Tentang Ahli Waris - Islam merupakan agama yang sempurna. Segala sesuatunya telah diatur sedemikian rupa. Mulai dari gaya hidup hingga masalah ekonomi seperti mengenai warisan. Hukum Islam tentang ahli waris telah tertulis dan tercantum jelas. Secara umum memang warisan ini merupakan harta peninggalan yang diberikan atau ditinggalkan pewaris kepada ahli waris. Untuk mengetahui bagaimana pembagian dan hukum jelasnya mengenai ahli waris, berikut ini bisa anda simak hingga tuntas.

Pewaris merupakan mereka yang meninggalkan harta dan hak - hak yang pernah ia peroleh dan meninggal dunia. Baik laki - laki maupun perempuan, melaui surat wasiat ataupun tidak. Sementar ahli waris ialah mereka yang berhak dalam menerima harta warisan dari pewaris yang telah ditentukan. Hal ini dikarenakan adanya hubungan keluarga, pernikahan atau karena wala’ yakni membebaskan hamba sahaya. Dengan adanya pembagian kepada mereka yang sudah diatur oleh syariat.

Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia. Dalam hal pembagian harta warisan, ada beberapa pengelompokan untuk ahli waris yang telah diatur. Yang pertama adalah adanya hubungna darah, hubungan pernikahan, hubungan persaudaraan dan juga hubungan kekerabatan.

Dalam Islam telah dijelaskan bahwa siapa yang bisa menjadi ahli waris. Mereka adalah 5 orang yakni anak kandung laki - laki dan perempuan, ayah, ibu, istri dengan status janda, suami atau duda. Ahli waris lainnya tidak mendapatkan apa - apa. Ini telah menjadi hukum ahli waris dalam islam. Namun jika kelima orang tersebut tidaklah lengkap maka ahli waris lainnya barulah memiliki peluang.

Dalil dari adanya hukum waris ini berdasarkan pada Al-Qur’an surah an-nisa’/4 ayat 11-12. Sementara syarat warisan islam ini memiliki 3 perkara yakni karena meninggalnya seseorang atau pewaris. Entah itu secara hakiki atau secara hukum telah dianggap meninggal dunia. Kemudian karena adanya ahli waris yang masih hidup secara hakiki di waktu pewaris meninggal dunia. Terakhir karena seluruh ahli waris adalah diketahui secara pasti. Termasuk jumlah dari bagian masing - masing.

Namun apabila ahli waris tersebut tidak ada maka kepada siapa harta ini diteruskan adalah merujuk pada beberapa pendapat. Pertama diberikan kepada dzawil arham atau kerabat non ahli waris. Hal ini merupakan pendapat jumhur atau mayoritas ulama terasuk sahabat serta tab’in.

Hukum islam tentang ahli waris ini telah tertulis jelas dalam Islam. Bagi umat muslim yang mengalami kondisi dimana memiliki permasalahan mengenai pembagian warisan atau ahli waris, maka hendaknya mempelajari betul bagaimana hukum islam ini memasukkan ahli waris ke dalam bagiannya.

Banyak kasus yang mana seorang anak dengan saudaranya memperebutkan warisan dari orang tua mereka yang meninggal. Apalagi jika melihat besarnya  harta benda serta hak dari orang tua tersebut kepada ahli waris. Tidak sedikit mereka saling memperebutkan harta besar dari warisan. Namun tidak dalam Islam. Karena segala sesuatunya telah diatur termasuk tentang warisan ini. Maka dari itu sebaiknya tidak membagi warisan dengan sekehendaknya sendiri melainkan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh islam. Hal ini bisa mengatasi dan mencegah kesalah pahaman dalam pembagian harta warisan kepada ahli waris.

Karena harta benda yang dimiliki tidak akan terbawa hingga meninggal. Baik melalui surat atau tidak, warisan ini tetaplah harus dibagikan sesuai dengan ketentuan. Bagi seorang muslim, berbahagialah mereka karena dalam islam telah diatur bagaimana ahli waris dan warisan ini.

Hukum Islam Tentang Ahli Waris

Hukum Islam Tentang Perdebatan
Hukum Islam Tentang Perdebatan - Berpendapat merupakan hak dari setiap orang. Tidak ada alasan mengapa melarangnya karena hal ini menyangkut kebebasan seorang makhluk hidup apalagi dalam kehidupan bernegara. Tak jarang ketika ada satu pendapat dengan pendapat lain maka yang terjadi adalah perdebatan. Saling beradu argumen juga seringkali membuat dua orang atau lebih berdebat. Menentukan mana yang terbaik dan yang paling benar. Namun, bagaimanakah hukum islam tentang perdebatan ?

Debat merupakan dua pihak atau lebih yang mempertahankan argumennya dengan dasar – dasar yang telah ia kuasai. Islam sebagai agama yang meneduhkan telah mengatur dengan jelas adanya hukum mengenai perdebatan. Bagaimana pandangan islam mengenai hal ini ? Berikut ulasan selengkapnya.

Kegiatan beradu argumen ini sesungguhnya telah tertulis di banyak hadist. Dalam islam debat disebut denan jidal. Ha ini memang diperbolehkan tetapi hanya jika diperlukan. Menjadi metode dakwah dalam islam yang mana seorang mukmin haruslah memahami kalau perdebatan memanglah jalan terakhir untuk berdakwah. Bukanlah untuk mengawali dakwah.

Hukum dalam diperbolehkannya debat atau diskusi, Islam telah mengaturnya sedemikian rupa. Allah dan RasulNya menentukan beberapa aturan mengenai pembatasan bagaimana suatu perdebatan berlangsung. Ada beberapa tatanan yang harus diperhatikan sebagai seorang mukmin yang baik.

Tatanan yang pertama adalah memperhatikan topik yang diperdebatkan, menguasai apa yang akan diperdebatkan. Sebab berbicara tentang suatu hal yang tak diketahui adalah sia – sia. Islam mengajarkan apabila ketika berdakwah dan menerima tanggapan yang bagus maka silakan untuk melanjutkannya. Namun jika yang ada ialah penolakan maka sebaiknya tinggalkan debat tersebut. Apalagi untuk urusan dunia, tidak ada alasan untuk diperdebatkan sebab hal ini dimurkai oleh Allah SWT.

Hadist meriwayatkan “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah ialah orang yang selalu mendebat” (HR. Bukhari dan Muslim). Mendebat yang dimaksud dalam hadist ini adalah berdebat tanpa mengetahui pokok perkaranya. Tidak boleh mendebat dengan cara yang disebut batil atau tanpa dikuasainya ilmu.

Tatanan kedua ialah berdebat dengan cara yang baik. Berdebat haruslah berpedoman pada al-qur’an dan hadits yang mana Al-qur’an merupakan petunjuk bagi apapun dan siapapun. Ketika berdebat maka sebaiknya fokus pada inti masalah dan menggunakan akal sehat. Jika tidak maka yang ada hanyalah prasangka buruk semata. Hal ini yang tidak diperbolehkan dalam islam. Selain itu bagi seorang mukmin yang terlibat perdebatan maka ia harus berdebat dengan tujuan memberi tahu mana kebenaran. Tentu dengan petunjuk dan keakuratan yang telah dibuktikan. Hal ini untuk menjatuhkan kebatilan.

Berikutnya, hukum islam tentang perdebatan adalah tidak melakukan debat hanya untuk kesenangan semata. Mereka tidaklah mencari – cari pembenaran dari argumentasinya. Apalagi untuk mendapatkan dukungan dan mencari massa. Tentu ketika melakukan perdebatan, islam melarang untuk menggunakan kata yang keji atau buruk. Selain karena menyakiti orang lain, hal ini bukanlah cerminan dari seorang mukmin yang harusnya lemah lembut ketika berbicara. Debat hanyalah diperlukan untuk meluruskan apa yang batil namun apabila ditolak maka sebaiknya mukmin tersebut menghindari perdebatan.

Berdebat dalam islam tetaplah diperbolehkan asalkan dengan tujuan yang telah tertera diatas. Perdebatan yang diperbolehkan dengan tatanan dan cara – cara yang ada dalam islam. Jika seorang mukmin berdebat hanya untuk memamerkan ilmunya maka hal ini tentu dilarang. Selain karena bertujuan tidak baik, ia adalah seseorang yang pamer. Sifat seperti ini tidaklah seharusnya dimiliki oleh seorang muslim.

Hukum Islam Tentang Perdebatan

Hukum Islam Tentang Alat Musik
Hukum Islam Tentang Alat Musik - Sebagai makhluk hidup yang memiliki banyak aktivitas setiap harinya, tidak jarang ia membutuhkan selingan atau hiburan. Selain karena penat juga untuk terhindar dari rasa depresi. Hiburan bagi manusia adalah sesuatua yang mudah ditemukan. Seperti misalnya menonton film, membaca buku hingga bermain alat musik. Akan tetapi bagaimanakah hukum islam tentang alat musik ?

Ada beberapa pandangan yang perlu diketahui mengenai penggunaan alat musik. Mengingat sebuah lagu bukanlah hal yang baru untuk diperdengarkan dan hal ini tidak terlepas dari alat musik. Dan sebagai agama yang sempurna, Islam memiliki penjelasan mengenai hukumnya terhadap alat musik.

Hukum yang terkai dengean adanya penggunaan alat musik jika dari para jumhur ulama, mereka mengharamkan alat musik. Hal ini didasarkan pada beberapa hadist seperti “Sungguh akan ada diantara umatku, kamu yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat - alat yang melalaikan” (HR Bukhari).

Namun perihal musik dan alat - alat musik memang selalu menjadi perbincangan hangat di kalangan ulama. Ada sebagian yang juga membolehkannya. Sumber resmi dari Nahdlatul Ulama menyatakan dan mengangkat ringkasan dari ulasan Imam Al-Ghazali yang mana cenderung memperbolehkan untuk mendengarkan musik, lagu beserta nyanyiannya. Artinya mendengarkan musik bukan aktivitas yang membuat dosa atau mubah. Tidak ada satupun nash dan argumentasi qiyas yang menunjukkan keharaman dari aktivitas musik ini. Akan tetapi yang menjadikannya dilarang jika musik atau penggunaan alat - alat musik ini dibarengi dengan aktivitas menyesatkan. Haram hukumnya ketik dibarengi atau digunakan untuk bermaksiat seperti minum minuman keras atau mengiringi tarian yang membangkitkan hawa nafsu.

Sesungguhnya Allah telah memberi segala sesuatunya kemudahan. Ada beberapa musik yang justru membuat pendengarnya menjadi lebih tentram dan mengingat Allah SWT. Karena suaranya yang meneduhkan dan lirik yang dimilikinya juga mengagungkan sang Khalik.

Inilah hukum islam tentang alat musik yang selalu menjadi perbincangan di kalangan ulama serta masyarakat. Semoga semakin kita mencari tahu maka semakin baik pula ilmu yang kita dapatkan. Sebab berbuat sesuatu tanpa mengetahui ilmunya adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan.

Hukum Islam Tentang Alat Musik