Coretanzone: Indonesia

    Social Items

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)
Beberapa teori mengenai masuknyaIslam di Indonesia ini selalu muncul sampai sekarang ini. Ada banyak pandangan mengenai masuknya Islam di Indonesia diantaranya yaitu.

Teori Makkah 


Islam yang masuk serta berkembang di Indonesia datang dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7 M. Teori ini dikemukakan oleh Hamka (Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah), ia merupakan seseorang ulama’ sekaligus juga sebagai seorang sastrawan Indonesia. Hamka menyampaikan pandangannya ini pada tahun 1958, waktu orasi yang disampaikannya pada dies natalis perguruan tinggi Islam Negri (PTIN) di Yogyakarta. Argumentasi yang dijadikan referensi Hamka ialah sumber lokal Indonesia serta sumber Arab. Tidak hanya itu yang tidak bisa dilewatkan ialah fakta menarik lainnya yaitu bahwa beberapa orang Arab telah berlayar sampai Cina pada abad ke-7 M dalam rencana untuk berdagang. Hamka yakin dalam perjalanan berikut mereka berkunjung di kepulauan Nusantara waktu itu.

Orang yang berpandangan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya datang dari Arab dan Mesir, memiliki beberapa dasar teori yaitu; 1) Pada bad ke 7 yakni tahun 674 di Pantai Barat Sumatera telah ada perkampungan Islam (Arab), 2) Samudra Pasai menganut mazhab Syafi’i, di mana pengaruh mazhab Syafi’I paling besar pada saat itu ialah Mesir serta Makkah, 3) Raja-raja Samudra Pasai memakai gelar Al-Malik, yakni gelar dari Mesir.

Teori Gujarat


Teori Gujarat menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia ini datang dari Gujarat pada abad ke-13, Islam dibawa serta disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang berkunjung di kepulauan Nusantara. Mereka meniti jalan perdagangan yang telah terjadi antara India dan Nusantara. Pandangan ini dkemukakan oleh Snouck Hurgronje. Ia mengambil pandangan ini dari Pijnapel, seseorang ahli dari Universitas Leiden Belanda, yang seringkali mempelajari artefak-artefak peninggalan di Indonesia. Pendapat Pijnapel ini dapat dibetulkan oleh J. P Moquette yang sempat mempelajari bentuk nisan kuburan-kuburan raja-raja pasai.

Pandangan tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 serta pembawanya datang dari Gujarat (Cambay), India, dengan dasar teori sebagai berikut; 1) Minimnya fakta yang menjelaskan bagaimana peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia, 2) Jalinan dagang Indonesia dengan India sudah lama lewat jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa, 3) Terdapat batu nisan Sultan Samudra Pasai yakni Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak ciri khas Gujarat.

Teori Cina 


Teori ini mengungkapkan terkait agama Islam yang disebarkan di Indonesia oleh beberapa orang Cina. Mereka bermafhab Hanafi, Pandangan ini disimpulkan oleh salah seseorang pegawai Belanda pada saat pemerintahan kolonial Belanda dahulu.

Teori ini berasumsi jika proses kehadiran Islam ke Indonesia datang dari beberapa perantau Cina. Orang Cina sudah berhubungan dengan penduduk Indonesia jauh sebelum Islam diketahui di Indonesia. Pada waktu Hindu Buddha etnis Cina atau Tiongkok sudah berbaur dengan masyarakat Indonesia, terlebih lewat kontak dagang. Bahkan juga ajaran Islam sudah masuk ke Cina pada abad ke-7 M, waktu di mana agama ini baru berkembang.

Teori Persia


Teori Persia menyampaikan jika proses kehadiran Islam ke Indonesia beasal dari daerah Persia atau Parsi (Iran). Pencetus dari teori ini ialah Hosein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hosein lebih menitik beratkan analisisnya pada persamaan budaya serta kebiasaan yang berkembang pada penduduk Parsi serta Indonesia. Kebiasaan itu diantaranya : kebiasaan dalam merayakan 10 Muharram atau hari Asyuro menjadi hari suci golongan Syi’ah atas kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw.

Teori tentang agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 ini dan pembawanya datang dari Persia (Iran) didasari atas beberapa hal, yaitu: 1) Peringatan 10 Muharam atau Asyura atas wafatnya Hasan serta Husein cucu Nabi Muhammad SAW, yang begitu di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. 2) Persamaan ajaran Sufi yang diyakini Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran yakni Al-Hallaj. 3) Pemakaian istilah bhs Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi Harakat. 4) Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik. 5) Ada perkampungan Leren/Leran daerah Gresik. Leren merupakan nama salah satunya simpatisan tori ini yakni Umar Amir Husen serta P. A. Hussein Jayadiningrat.

4 Teori masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)

Sejarah Perjalan Gerakan Pramuka di Indonesia
Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.

Sejarah Singkat Gerakan Pramuka


Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).

Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.

Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.

Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.

Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.

Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)

Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.

Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.

Perkembangan Gerakan Pramuka


Ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.

Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75% adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa.

Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat. Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari.

Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka


Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.

Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara.

Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.

Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka


Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :

1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Tunas Gerakan Pramuka”

2. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Permulaan Tahun Kerja”.

3. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Ikrar Gerakan Pramuka”.

4. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Pramuka”.

Gerakan Pramuka Diperkenalkan


Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan\ Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian. Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.

Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.

Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia

Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi/Dasar Bangsa Indonesia
Dasar, asas atau ideologi negara begitu terpenting buat satu bangsa. Tanpa ada asas/dasar negara, negara akan goyah, tidak memiliki arah yang pasti, serta tidak paham apa yang ingin diraih sesudah negara itu dibangun. Demikian sebaliknya, karenanya ada asas/dasa negara, satu bangsa tidak terombang ambing dalam hadapi beragam persoalan yang bisa hadir dari arah mana saja. Perumpamaan negara yang tidak mempunyai asas/dasar negara yakni seperti bangunan tanpa ada fondasi, sudah pasti bangunan itu akan cepat rubuh.

Pancasila merupakan asas/dasa negara Indonesia yang bisa disimpulkan menjadi lima asas/dasar terbentuknya negara. Arti Pancasila ini termuat dalam Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular. Pancasila menjadi asas/dasar negara mempunyai histori yang tidak terlepas dari proses kemerdekaan Indonesia. Proses itu berjalan dari mulai sidang BPUPKI hingga sampai sidang PPKI sesudah Indonesia merdeka.

Sesuai dengan kenyataan histori, Pancasila tidak terlahir dengan saat itu juga pada tahun 1945, namun memerlukan proses penemuan yang lama, dengan didasari oleh perjuangan bangsa serta datang dari ide serta kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Proses konseptualisasi yang panjang ini diikuti dengan berdirinya organisasi gerakan kebangkitan nasional, parpol, serta sumpah pemuda.

Dalam usaha merangkum asas atau dasar negara yakni Pancasila, ada usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diantaranya :

Muhammad Yamin, pada pada tanggal 29 Mei 1945 berpidato menyampaikan usulannya mengenai lima asas/dasa seperti berikut : Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, serta Kesejahteraan Rakyat. Dia memiliki pendapat jika ke-5 sila yang disampaikan itu datang dari histori, agama, peradaban, serta hidup ketatanegaraan yang tumbuh serta berkembang lama di Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya menyangsikan pidato Yamin itu.

Mr. Soepomo dalam usulannya pada tanggal 31 Mei 1945, menuturkan 3 teori tentang bentuk-bentuk negara, yakni :

1) Negara individualistik, yakni negara yang disusun atas dasar atau asas kontrak sosial dari warganya dengan memprioritaskan kebutuhan individu seperti di ajarkan oleh Thomas Hobbes, John Locke, Jean Jacques Rousseau, Hebert Spencer, serta H. J. Laski. 2) Negara kelompok (class theori) yang di ajarkan Marx, Engels, serta Lenin. 3) Negara Integralistik, yakni negara tidak bisa memihak pada salah satunya kelompok, namun berdiri diatas semuanya kebutuhan seperti di ajarkan oleh Spinoza, Adam Muller, serta Hegel.

Mr. Soepomo dalam perihal ini menyuarakan negara integralistik (negara persatuan), yakni negara satu yang berdiri diatas kebutuhan kebanyakan orang. Selain itu, dasar atau asas negara yang digagaskan oleh Mr. Soepomo diantaranya : Paham Persatuan, Perhubungan Negara dan Agama, Sistem Badan Permusyawaratan, Sosialisasi Negara, dan Hubungan antar Bangsa yang Besifat Asia Timar Raya.

Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 menyampaikan PancaSila menjadi asas/dasar negara dalam pidato spontannya yang setelah itu diketahui dengan judul " Lahirnya Pancasila ". Ir. Sukarno merangkum asas/dasar negara : Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau peri-kemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, KeTuhanan yang maha esa

Dari banyak usulan-usulan yang mengemuka, Ir. Soekarno sukses mensintesiskan dasar falsafah dari banyak ide serta saran yang dimaksud Pancasila pada 1 Juni 1945. Rumusan dasar Negara ini lalu bahasa kembali oleh panitia yang dibuat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) serta dimasukkan ke Piagam Jakarta. Setelah itu pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila dengan cara resmi berubah menjadi dasar atau asas Negara yang mengikat.

Saat sebelum disahkan, ada bagian yang di ubah yaitu ”Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya" berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh perwakilan yang berasal dari Indonesia timur yaitu; Sam Ratulangi, mewakili Sulawesi, Hamidhan, mewakili Kalimantan, I Ketut Pudja, mewakili Nusa Tenggara, dan Latuharhary, mewakili Maluku.

Rumusan butir-butir Pancasila yang sempat digagas, baik yang dikatakan dalam pidato Ir. Soekarno maupun rumusan Panitia Sembilan yang termuat dalam Piagam Jakarta merupakan histori dalam proses pengaturan dasar atau asas negara. Rumusan itu semua otentik hingga kemudian disetujui rumusan seperti ada pada alinea ke empat Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Berdasar pada histori, ada tiga rumusan dasar negara yang diberi nama Pancasila, yakni rumusan ide Ir. Soekarno yang dibacakan pada pidato tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI, rumusan oleh Panitia Sembilan dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, serta rumusan pada Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 yang disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi/Dasar Bangsa Indonesia

Dengan begitu, serangkaian dokumen histori yang berawal dari 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, sampai teks final 18 Agustus 1945 itu, bisa dimaknai menjadi satu kesatuan dalam proses kelahiran falsafah negara Pancasila.

Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi/Dasar Bangsa Indonesia

Proses dan Teori Masuknya Islam di Wilayah Nusantara (Indonesia)
Pada saat islam pertama kali masuk ke Indonesia, saat itu sudah ada banyak ragam keyakinan dan agama yaitu Budha, Hindu, dinamisme dan anisme sudah banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Bahkan pada beberapa wilayah di Nusantara sudah berdiri kerajaan-kerajaan yang menganut agama Budha dan Hindu. Seperti, kerajaan Sriwijaya di Sumatera, kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat dan masih banyak kerajaan yang lainnya. Islam masuk ke Indonesia dengan cara-cara yang baik sehingga mudah diterima oleh hampir seluruh masyarakat yang mendiami kepulauan Nusantara. Bahkan dalam mengucapkan dua kalimat syahadat mereka melakukannya dengan kerelaan hati tanpa ada paksaan sama sekali.

Jika berbicara berkenaan kapan islam menjadi mampir dan masuk ke Indonesia, menurut para ahli sejarah, islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke tujuh  masehi atau abad pertama hijriyah. Tapi dari sumber lain, bahwa Islam udah menjadi masuk ke Indonesia di saat pedagang-pedagang dari Arab berdagang dan memasuki wilayah Indonesa. Ada yang menyebutkan waktu itu pada pemerintahan sahabat nabi, Khulafaur Rasyidin.

Proses Masuknya Islam ke Nusantara (Indonesia)


Berbeda dengan agama lain yang masuk ke Indonesia dengan cara-cara yang kurang baik seperti penindasan dan pemaksaan. Islam masuk ke Indonesia dengan cara-cara yang damai, para mubaligh atau pembawa ajaran agama Islam terhadap pada saat itu dengan sabar dan gigih menjelaskan perihal ajaran Islam terhadap masyarakat setempat. Mereka pun tak memaksa masyarakat setempat untuk memeluk agama Islam. Disebabkan oleh, didalam ajaran islam itu tidak ada paksaan, para mubaligh dan ulama berpegang teguh terhadap ayat Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 256 dalam menyiarkan dakwah Islam.

Adapaun beberapa langkah dan proses masuknya islam di Indonesia penulis bagi menjadi 4 tahap, yaitu sebagai berikut.

1. Perdagangan


Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui langkah-langkah perdagangan. Disebabkan karena orang-orang Melayu yang ada di Indonesia pada waktu itu berhubungan  dengan orang-orang arab di dalam hal perdagangan, sehingga mereka bisa dekat antara satu dengan yang lain. Jadi, pada saat pedagang arab menyebarkan syariat  Islam, orang melayu pun tidak susah untuk menerimanya.

Walaupun Tidak cepat tetapi, orang Melayu sedikit demi sedikit mulai memeluk agama Islam dan menjalankan ajarannya. Setelah berdirinya kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, Islam makin kuat pada kala itu maka, makin ramailah pedangang-pedangang Arab dan juga ulama yang berkunjung ke Indonesia. Sambil berdakwah untuk meningkatkan amal ibadah mereka, mereka berdakwah sambil berbisnis.

2. Kultural


Yang dimaksud dengan penyebaran Islam dengan cara kultur adalah, penyebaran pemahaman Islam di Indonesia menggunakan sarana kebudayaan. Seperti yang pernah dilakukan oleh para wali songo di pulau Jawa. Sunan Kali Jaga pada di saat itu berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit, beliau mengisi pementasan wayang yang umumnya isinya itu bertema ajaran Hindu, beliau tukar dengan sejarah dan ajaran Islam. Kemudian ada juga Sunan Muria berdakwah dengan Gamelannya. Sedangkan Sunan Giri berdakwah dengan menggunakan mainan anak-anak seperti cublak Suweng, Jalungan, Jamuran dan lain sebagainya. Para ulama ini cerdas sekali, mereka mempunyai pemahaman ajaran Islam dengan menggunakan bahasa yang kerap digunakan oleh masyarakat setempat. Kebetulan di saat itu warga Indonesia terutama yang ada di pulau Jawa, menyukai kesenian sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.

3. Pendidikan


Salah satu langkah efketif masuknya pemahaman ajaran Islam pada saat itu lewat pendidikan, dan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang paling strategis dalam berdakwah. Kebanyakan para ulama dan mubalig dalam menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Indonesia adalah lulusan pesantren. Contohnya Datuk Ribandang yang dikenal sebagai lulusan dari pesantren milik Sunan Giri. Selain Datuk Ribandang, banyak santri-santri Sunan Giri yang menyebar ke pulau-pulau yang ada di Indonesia seperti Kangan, Haruku, Madura, Bawean sampai Nusa Tenggara. Sampai saat ini, ajaran Islam disebarluaskan ke seluruh Indonesia kebanyakan oleh lulusan pesantren denagan menggunakan metode yang baik da efektif.

4. Kekuasaan Politik


Penyebaran Islam di Indonesia juga tak terlepas dari dukungan para ulama. Contohnya di pulau Jawa, Kesultanan Demak dikenal sebagai pusat dakwah dan menjadi pelindung penyebaran agama Islam. Ada juga di pulau Sulawesi yakni Raja Gowa-Tolla yang menjadi pelindung bagi para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di sana. Para ulama dan penguasa dalam hal ini para raja saling berkomunikasi, tolong menolong dalam melindungi perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Kekompakkan para ulama ini juga menjadi cikal bakal lahirnya negara Indonesia.

Tiga Teori Masuknya Islam di Nusantara (Indonesia)


Menurut para pakar, di abad ke-13 Masehi, Islam sudah masuk dan berkembang di nusantara yang dibawa oleh para para ulama dan pedagang muslim. Namun para ahli masih terdapat perbedaan pendapat tentang teori masuknya Islam ke Indonesia. Namun di sini saya hanya akan memberikan tiga teori saja sebagai kajian awal.

1. Teori Gujarat


Teori gujarat dipelopori oleh ahli sejarah yang bernama Snouck Hurgronje, menurutnya agama Islam datang ke Indonesia didakwahkan oleh para pedagang sekaligus mubaligh Gujarat di abad ke-13 M.

2. Teori Persia


Seorang ahli yang bernama P.A Husein Hidayat mempelopori teori ini, dia menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh pedagang sekaligus mubalogh Persia (Iran), hal ini didasarkan pada kesamaan antara kebudayaan islam di Indonesia dengan kebudayaan Islam di Persia.

3. Teori Mekkah


Teori ini menyebutkan bahwa agama Islam masuk di Indonesia dibawa langsung oleh para pedagang Mekkah, teori ini dilandaskan pada satu berita dari China yang menyebutkan bahwa pada abad ke-7 telah ada perkampungan muslim di pantai barat Sumatera.

Proses dan Teori Masuknya Islam di Wilayah Nusantara (Indonesia)

Islam nusantara sebagai wawasan toleransi beragama
Islam merupakan agama yang saya istilahkan seperti air, dimana ketika berada di dalam gelas maka, akan berbentuk seperti gelas, ketika berada di dalam botol maka, akan berbentuk seperti botol, jika berada di dalam piring maka akan berbentuk seperti piring. Islam itu tidak kaku, bisa berada di mana saja dalam menyesuaikan dirinya. Tetapi perlu dipahami bahwa, hanya pada kata "seperti" tetapi bentuk atau wujud aslinya tetap ada. Yaitu mengajarkan tentang ketauhidan, dan syariat-syariat Islam, dan sendi-sendi kehidupan.

Sejarah telah mencatat perjalanan Islam yang panjang, dimulai dari mekkah dan madinah, hingga ke seluruh pelosok dunia. Wahyu Allah turun di arab bukan saja untuk mengislamkan manusianya, tetapi juga mengislamkan tatanan sosial, budaya, dan sebagainya. Banyak budaya arab saat ini menjadi syariat Islam, karena dianggap relevan dengan kehidupan manusia, dan lebih banyak lagi budaya arab yang dibuang karena tidak sesuai dengan tatanan kehidupan yang diajarkan oleh Rosulullah SAW.

Ketika Islam bersentuhan dengan daerah-daerah lain selain arab, maka Islam akan bersentuhan dengan kultur atau budaya masyarakat setempat, sehingga penerjemahan ayat-ayat Al-Quran dan hadist sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut. Budaya arab tidak bisa diikut sertakan masuk ke situ, karena memang mereka bukan orang Arab. Islam masuk ke suatu wilayah untuk memilah manakah budaya yang perlu dipertahankan dan budaya mana yang perlu mengalami pembaharuan.

Islam dan Budaya Manusia


Bagi saya, budaya adalah bagian terpenting dari kehidupan, manusia tidak bisa telepas dari budaya, karena itu merupakan jati diri manusia. Sebelum manusia mengenal agama secara lahiriyah, terlebih dahulu manusia diperkenalkan dengan budaya. Sehingga antara agama secara batiniyah dengan budaya sudah bersentuhan terlebih dahulu. Tinggal agama secara lahiriyah datang untuk menyempurnakan keduanya.

Ketika Islam bersentuhan dengan budaya, maka budaya itu tidak serta merta harus dihilangkan tetapi budaya juga diikut sertakan masuk dalam kajian keIslaman. Dalam kehidupan bermasyararkat ada budaya baik yang perlu dipertahankan karena itu sesuai dengan nilai-nilai agama, sedangkan ada budaya yang perlu diperbaharui agar sesuai dengan nilai-nilai agama.

Beberapa paham yang ingin memurnikan ajaran agama Islam, menjadikan pertanyaan besar bagi saya. Islam ingin dimurnikan atau ingin dibuat berwajah kearaban? Menurut hemat penulis yang dimaksud dengan pemurnian agama adalah tidak adanya unsur-unsur penyelewengan aqidah di dalam budaya, makanya budaya itu harus diperbaharui sebagaimana yang sudah saya katakan di atas. Kalau pemurnian bentuknya adalah mengadopsi budaya arab ke dalam Islam maka, itu bukan namanya pemurnian, tetapi namanya penghapusan budaya-budaya lokal.

Islam Nusantara


Dalam sejarah mencatatat bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan saja dibawa langsung dari Arab, sebagian mubaligh berasal dari India dan daratan cina serta persia. Sehingga Islam yang masuk di Indonesia sudah bersentuhan dengan beberapa budaya terlebih dahulu, kemudian masuk dan mengalami akulturasi dengan budaya Indonesia. Persentuhan antara Islam dan budaya Indonesia, kalau meminjam bahasanya Gusdur sebagai Islam Indonesia atau Islam Nusantara.

Islam nusantara bukalah agama baru, atau paham baru, tetapi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebut corak ke-Islaman yang ada di Indonesia. Dimanapun Islam itu berada, dia bisa membumi dan masuk ke dalam kehidupan masyarakat, karena Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Islam nusantara merupakan Islam yang diterapkan dengan tidak menghilangkan unsur-unsur budaya, karena sejak dahulu kala penyebaran Islam di Indonesia menggunakan budaya sebagai perantaranya. Seperti cerita sunan kali jaga yang menggunakan budaya wayang dalam berdakwah, cerita-cerita tentang budaya hindu digantikan dengan cerita sejarah Islam, alhasil banyak orang memeluk agama Islam. Inilah yang saya sebutkan di awal tadi sebagai pembaharuan budaya lokal.

Kalau Islam datang dengan wujud yang keras, lalu menghilangkan semua unsur budaya Indonesia dengan alasan pemurnian agama, maka saya yakin dan percaya bahwa penganut agama Islam kala itu sedikit saja. Para mubaligh dan ulama terdahulu telah memberikan kita petunjuk, betapa kekuatan budaya dapat menyebarkan Islam ke seantero Nusantara.

Wawasan Toleransi dalam Beragama


Kalau berbicara tentang Islam di Indonesia, maka kita akan berbicara juga tentang toleransi. Kerukunan hidup beragama merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang multikultur dan plural. Artinya bahwa keragaman dalam beragama sudah menjadi identitas yang tidak bisa terlepaskan lagi. Suatu agama tidak bisa dipaksakan untuk dipeluk oleh orang yang beragama lain, karena persoalan keyakinan itu berada di dalam hati, sehingga kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

Hidup rukun, aman dan sejahtera adalah keinginan kita semua sebagai warga negara, suatu nikmat paling besar yang diberikan Allah adalah nikmat keamanan. Kalau keamanan tidak terjalin bagaimana kita bisa melaksanakan ajaran agama. Sudah banyak contoh kasus intoleran yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam memupuk kerukunan beragama.

Yang dimaksud dengan kerukunan bergama bukanlah kita ikut beribadah bersama agama lain, tetapi maksudnya adalah saling menghargai keyakinan, saling menjaga agar tidak terjadi benturan keyakinan, saling membantu dalam masalah-masalah sosial kemanusiaan, dan saling menjaga persaudaraan antara sesama manusia.

Jangan samapai salah dalam mengartikan kata toleransi, sehingga kita bisa beribadah bersama-sama, atau saya mengistilahkan sebagai ibadah silang. Tidak ada dalam ajaran Islam yang membolehkan hal itu karena bagi Islam lakum diinukum waliyadin "untukmu agamamu dan untukku agamaku", kita masing-masing dengan agam kita, dan menjadikannya sebaga spirit berbangsa dan bernegara.

Penutup


Indonesia merupakan negara kepualaun dengan begitu banyak keragamanannya. Keragaman etnis, suku, bangsa budaya, dan agama, mejadikan bangsa ini terlihat begitu indah. "Kalau pelangi hanya ada warna hijau saja, maka pelangi itu tidak terlihat indah", sama halnya dengan Indonesia, yang jika hanya ada satu agama atau etnis saja maka Indonesia akan terlihat biasa-biasa saja.

Perbedaan yang kita miliki ini merupakan karunia Tuhan, kita tidak bisa menghindar dari itu. Dengan perbedaan kita kemudian saling kenal mengenal antara satu dengan yang lain. Dengan perbedaan kita bersatu dalam bhineka tunggal ika, dan dengan perbedaan kita terus memupuk dan mempererat persaudaraan demi kemajuan bangsa.

Tidak ada satu negeripun di dunia ini yang mirip dengan Indonesia. Hanya satu-satunya yang ada di bumi manusia. Sekarang tinggal bagaimana kita memelihara semua yang sudah ada ini dengan baik, agar kita tidak terpecah belah menjadi belahan-belahan yang terpisahkan. Kalau kita tidak bersatu maka remuklah bangsa ini, kalau kita tidak bersatu maka hancurlah harapan masa depan. Kita harus bertarung dengan waktu dan zaman, agar Indonesia tidak ditindas oleh nalar kuasa dari bangsa lain. Kita sudah merkeda dan selamanya tetap merdeka.

Semoga Allah tetap melindungi bangsa ini menjadi bangsa yang "baldatun toyyibatun" yaitu negeri yang baik, aman dan tentram.
Wallahu a'lam.

Islam Nusantara sebagai Wawasan Toleransi Beragama

Pemberdayaan Potensi Daerah Dalam Pembangunan Nasional Indonesia

Pemberdayaan Potensi Daerah Dalam Pembangunan Nasional adalah tanggung jawab semua pihak, pemerintah, masyarakat dan semua segenap bangsa Indonesia

A. Pendahuluan


Ada dua potensi daerah yang sangat terkenal dan sudah banyak dibahas dalam berbagai seminar, worshop, diskusi ilmiah dan lain sebagainya dan ini sudah menjadi perbincangan publik dalam pembangunan Nasional yaitu sumber daya alam (SDA) dan Sumber daya manusia (SDM). Jika diberikan pilihan untuk memilih manakah yang sangat dibutuhkan maka jawabannya adalah keduanya, karena kedua hal ini menjadi faktor penting. Kalau suatu daerah memiliki potensi alam yang banyak namun SDMnya rendah maka pengelolaan alam tersebut akan menjadi sembraut dan tidak terkontrol dengan baik, akibatnya potensi yang satu ini tidak membawa keuntungan yang baik, begitu pula sebaliknya jika SDMnya bagus tetapi potensi alam tidak mendukung maka kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang cerdas ini.

Sudah tidak bisa kita pungkiri lagi dan semua orang tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah. Indonesia dengan iklim tropisnya telah membawa berkah yang besar bagi penduduknya. Memiliki tiga musim (musim panas, musim pancaroba, dan musim penghujan), memiliki tiga pembagian waktu sesuai geografi alamnya, memiliki kekayaan laut yang sangat luas, memiliki tambang minyak, memiliki tambang batu mulia, memiliki tambang batu bara dan memiliki kekayaan alam lain yang tersimpan di bumi Indonesia. Apa saja yang ditanam di atas tanah Indonesia akan menjadi subur, hutannya merupakan hutan tropis sehingga banyak ditumbuhi oleh pohon dan tumbuhan lain yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyatnya.

Begitu banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia membuat mata dunia tertuju ke negara yang ada di asia tenggara ini, bahkan ada negara tertentu ingin menguasai Indonesia sejak ribuan tahun silam hingga saat ini. Indonesia bagaikan primadona di planet bumi, menjadi rebutan para investor asing.

B. Pemberdayaan Potensi Daerah


Pemberdayaan potensi daerah dimulai dari pengembangan potensi sumber daya manusia, yaitu dengan melakukan perbaikan dan pembaharuan dalam sektor pendidikan. Pendidikan menjadi hal yang utama, pendidikan menjadi tolak ukur suatu daerah melepas predikat sebagai daerah tertinggal.

Pendidikan yang dimaksud bukan sekedar pendidikan formal yang selama ini menjadi gaya hidup (life style), tetapi pendidikan no-formal seperti pendampingan dan edukasi masyarakat pesisir, pelatihan pra-karya dan wirausaha, dan lain sebagainya sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Jangan sampai kegiatan pendidikan seperti ini salah sasaran, seperti pelatihan pertanian bagi masyarakata pesisir, atau seperti yang sedang ramai saat ini yaitu pemberian bantuan kapal kepada masyarakat agraria.

Selama ini masyarkat diberikan modal oleh negara melalui berbagai macam program yang diluncurkan oleh kebijakan pemerintah, namun pemanfaatan modal itu tidak tepat, yang ditemukan dilapangan kebanyakan masyarakat menggunakan modal yang diberikan dengan maksud untuk membiayai kehidupan sehari-hari yang sifatnya sesaat, bahkan ada yang menggunakannya untuk kegiatan hura-hura.

Kondisi inilah yang selama ini terjadi dan sangat disayangkan, karena sesuatu yang sebenarnya diberikan dengan tujuan memodali usaha rakyat namun kemudian disalahgunakan oleh rakyat sendiri. Tidak adanya sosialisasi dan pendidikan sebagaimana diuraikan di atas menjadi salah faktor kurangnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan bantuan yang diluncurkan melalui program pemerintah tersebut.

Sudah saatnya antara potensi manusia dan pengembangan potensi manusia dikembangkan sebelum program-program pemerintah dalam membantu pengembangan usaha rakyat diluncurkan, agar ketika program tersebut sampai di tangan masyarakat mereka dapat memanfaatkan sesuai dengan tujuan, sehingga usaha masyarakat dapat berkembang dan pada akhirnya dapat menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

Setelah masyarakat suatu daerah memiliki kompetensi yang baik dalam bidangnya maka pengelolaan potensi alam akan terarah sesuai dengan tingkat kecerdasan yang mereka miliki. Bagi para nelayan, pengeloalaan laut akan membaik, masyarkat akan tau cara menangkap ikan yang ramah dan tidak akan menggunakan cara-cara yang merusak laut, selain itu dengan kecerdasan yang mereka miliki hasil tangkapan laut akan membaik, petani rumput laut akan mengalami perbaikan dalam administrasi dan pengelolaan keuangan, petani di ladang dan di sawah akan mempunyai cara yang baru dalam mengelola dan mengembangkan usahanya, para wirausawan akan mendapat pendidikan baru dalam kewirausahaannya sehingga mereka dapat bersaing dalam ekonomi global apalagi kalau perdagangaan bebas benar-benar terjadi nantinya.

Pada akhirnya daerah dan masyarakat akan mengambil keuntungan dari pengelolaan potensi daerah. Tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat, pendapatan daerah membaik, pembangunan nasional terselenggara dengan baik.

C. Pembangunan Nasional


Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui bahwa rencana pembangunan nasional dibagi menjadi dua bagian, yaitu rencana pembangunan jangka pendek dan rencana pembangunan jangka panjang.

Rencana pembangunan jangka pendek dirancang untuk kepentingan negara yang sifatnya mendesak atau dibutuhkan, dalam hal ini rencana kerja jangka pendek merupakan rencana kerja pemerintah (RKP), sedangkan rencana pembangunan jangka panjang untuk merencanakan pembangunan nasional yang memperhatikan masa depan negara.

Nah, kalau masyarkat di dayagunakan dengan membangun semua potensi-potensi yang ada di dalamnya maka pembangunan nasional akan berhasil, dengan demikian maka tujuan pembangunan nasional yaitu “pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya”, dapat terwujud.

Pemberdayaan Potensi Daerah Dalam Pembangunan Nasional Indonesia