Social Items

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?
Sebenarnya ada beberapa Nabi yang ditemani oleh hawariyyun (penolong), seperti Nabi Isa AS, begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki teman perjuangan dalam mendakwahkan ajaran Islam. Mereka ini biasanya dikenal dengan sebutan sahabat bagi kaum Mukminin dan sahabiyah bagi kaum Mukminah. Gelar yang mereka miliki adalah radhiallahu anhu yang artinya semoga Allah ridha atas mereka.

Gelar yang diberikan kepada para sahabat Rasulullah SAW dinisbatkan dari salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu surah at-Taubah ayat 100. "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Kalau dilihat dari segi definisi maka, sahabat adalah siapa saja yang pernah beretemu dan bertatap muka secara langsung dengan Rasulullah SAW kemudian memeluk Islam. Walaupun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai pengkategorian siapa saja yang boleh disebut sebagai sahabat Nabi SAW.

Imam Muslim atau nama lengkapnya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, yang merupakan ulama hadis termasyhur, memberi pengelompokan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi 12 peringkat. Pengelompokon yang diberikan oleh Imam Muslim ini disandarkan kepada peristiwa yang telah mereka alami dan saksikan.

Para sahabat yang masuk dalam golongan pertama ialah mereka yang pertama masuk ke dalam Islam atau dalam istilah bahasa Arab disebut sebagai as-sabiqun al-awwalun, golongan ini diantaranya Abu Bakar as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan sahabat-sahabt lainnya. Golongan yang kedua diberikan kepada para sahabat yang ikut dan tergabung dalam baiat di gedung pertemuan kaum Quraisy pada waktu sebelum islam dan dan awal islam (Dar An-Nadwah). Golongan ketiga diberikan kepada mereka yang hijrah ke wilayah Habasyah. Golongan keempat adalah para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada bukit Aqabah pertama.

Untuk para sahabat yang membaiat Rasulullah SAW pada Aqabah kedua dikategorikan ke dalam golongan kelima. Golongan keenam merupakan orang-orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di Quba pada waktu sebelum memasuki wilayah Yatsrib (Madinah) pada saat hijrah. Sahabat yang ada dalam golongan ketujuh adalah mereka yang turut bersama-sama dengan Rasulullah SAW dalam perang badar. Golongan yang dikategorikan berada dalam kelompok yang kedelapan yaitu mereka yang hijrah ke suatu tempat antara Hudaibiyah dan Badar.

Selanjutnya para sahabat yang masuk dalam golongan kesembilah adalah kaum muslimin yang ikut terlibat dalam baiat ar-Ridwan (baiat saat perjanjian Hudaibiyah). Yang kesepuluh merupakan para sahabat yang hijrah antara Hudaibiyah dan al-Fatah pada peristiwa fathu Makkah (penaklukkan Makkah). Para sahabat yang masuk dalam golongan ke sebelas ialah mereka yang berdasarkan urutan masuk Islam, dan yang berada dalam golongan ke sebelas adalah anak-anak dan remaja yang sempat melihat Rasulullah SAW secara langsung pada saat haji wada dan penaklukkan kota Makkah.

Imam Muslim berpendapat bahwa, jumlah para sahabat Rasulullah SAW saat beliau wafat mencapai seratus empat puluh empat ribu. Mereka adalah orang-orang yang secara langsung melihat Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam. Imam Bukhari berpandangan bahwa sahabat Nabi SAW adalah orang Islam yang hidup bersama beliau dan pernah secara langsung melihatnya. Imam Ahmad bin Hambal berpandangan bahwa sahabat merupakan orang yang pernah hidup bersama dengan Nabi SAW, sesaat, hanya melihatnya, sehari, sebulan, setahun dan seterusnya.

Sa'id bin Musayyab yang merupakan pemuka tabi'in mengungkapkan bahwa sahabat merupakan umat Islam yang hidup bersama dengan Nabi SAW satu atau dua tahun dan pernah ikut bersama Rasulullah berperang satu atau dua kali. Sedangkan Ibnu Hajar al-Hairimi memberi definisi sahabat sebagai orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW kemudian menjadi mukmin dan hidup bersama Nabi SAW baik itu dalam waktu yang lama maupun hanya sebentar, baik itu melakukan periwayatan hadis atau tidak, atau pernah melihat Rasulullah walaupun hanya sekali atau tak bisa melihatnya karena dalam keadaan buta namun hidup di zaman Rasulullah SAW masih hidup.

Walaupun terdapat perbedaan pendapat ulama terkait dengan definisi sahabat, namun pada dasarnya hampir mirip saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, baik itu melihat secara langsung atau tidak karena buta, kemudian memeluk Islam dan hidup bersamanya walau sesaat.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW mempunyai peran yang sangat besar dalam mewariskan ajaran agama Islam. Mereka adalah generasi terbaik umat Islam karena secara langsung dapat berhubungan dengan Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam. Ketika terdapat permasalahan-permasalahan dalam persoalan agama, mereka secara langsung dapat bertanya kepada Rasulullah SAW dan kemudian mendapatkan jawaban dan pencerahan dari beliau, atau ketika mereka melakukan ijtihad maka itu berasal dari pemahaman secara murni akan al-Quran dan Hadis.

Siapa Saja Yang dapat Memiliki Gelar Sebagai Sahabat Rasulullah?

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan
Persaudaraan merupakan salah satu hal yang pokok dalam Islam. Persaudaraan dapat dilihat dari beberapa segi. Selain persaudaraan karena pertalian darah, ada beberapa bentuk persaudaraan, seperti persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa dan setanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Olehnya itu maka Rasulullah sangat menekankan persoalan persaudaraan dalam hubungan sesama manusia, sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis berikut.

1. Muslim yang satu adalah suadara bagi muslim yang lain


اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (H.R. Muslim)

2. Sesama saudara jangan saling membenci


لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara (Muttafaq ‘Alaih)

3. Umat Islam bagaikan bangunan yang kokoh


اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi)

Dalam riwayat Bukhâri ada tambahan:

وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan jari jemari kedua tangannya.

4. Sesama muslim tidak saling merendahkan


الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). (HR Bukhari dan Muslim).

5. Sesama umat Islam saling menyayangi


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).

Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. (HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim)

6. Tidak beriman seseorang yang tidak mencintai saudaranya


لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa persaudaraan sesama umat Islam itu sangat penting, karena dengan itu umat Islam akan menyatu menjadi satu kesatuan yang kuat. Kalau umat Islam bercerai berai maka, akan menjadi lemah. Olehnya itu marilah kita saling mencintai dalan saling menyayangi sebagaiman seruan Rasulullah saw. dalam banyak hadinya diantaranya adalah 6 hadis Rasulullah saw. tentang persaudaraan di atas.

6 Hadis Rasulullah saw. Tentang Persaudaraan

10 Cendikiawan Dunia yang Mengagumi Nabi Muhammad saw
Keagungan kepribadian Nabi Muhammad saw dan kebenaran ajaran yang disampaikannya tidak hanya diakui oleh umat Islam, melainkan juga oleh kaum cendikiawan barat, baik dari kalangan nasrani maupun yahudi. Berikut ini pernyataan beberapa cendikiawan barat terhadap figur Nabi Muhammad saw.

1. Karl Marx (1817-1883).


Ahli politik, filsafat dan ahli kemasyarakatan kelahiran Jerman ini, dalam bukunya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab denga judul Al-Hayat ia menulis: “ Lelaki arab yang telah menemukan kesalahan agama nasrani dan agama yahudi itu, melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya ditengah-tengah kaum musyrik penyembah berhala, mendakwah mereka pada agama tauhid dan menanamkan keyakinan tentang keabadian roh. Maka layak bagi kita untuk  mengakui kenabiannya dan dia adalah Rasul (pesuruh) langit untuk bumi.

Dalam bukunya yang lain, Ra’sul Mal, Karl Marx menulis antara lain: “Risalah nabi ini telah membuka jalan baru untuk ilmu, cahaya, dan pengetahuan, layak dicatat kata-kata dan perbuatannya dalam pola khusu operasional. Oleh karena pelajaran yang diberikannya adalah wahyu Allah yang diturunkan dan merupakan risalahnya juga, maka menjadi tugas dan kewajibannya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang telah menimbuni risalah-risalah yang lalu akibat ulah orang-orang yang bodoh yang mengandalkan ajarannya tanpa dukungan orang yang berakal.”

2. Sir Herbert Spencer (1820-1903)


Merupakan seorang filsuf kelahiran Cardiff, Inggris. Dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Ushulul Ijtima antara lain menulis: “hendaknya kalian menjadikan Muhammad sebagai perlambang politik agama yang tepat, dan seorang yang paling jujur dalam menerapkan sistemnya yang kudus ditengah-tengah umat seluruhnya. Muhammad merupakan suatu sosok amanah yang dijelamakan dalam kejujuran yang murni, siang dan malam selalu tekun dalam menghidupkan umatnya.

3. Sydoe (1817-1893)


Dia adalah seorang orientalis dan sejarahwan besar prancis. Tentang Nabi Muhammad saw, anggota persatuan cendikiawan Perancis ini menulis dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab, Khulasatu Tarihil Arab, antara lain sebagai berikut. “Muhammad telah menjadikan kabilah-kabilah arab itu satu tatanan umat menuju satu tujuan. Sehingga semua orang melihat penjelmaannya sebagai suatu umat besar yang satu sisi sayap kerajaannya mencapai spanyol dan di sisi satunya lagi mencapai india. Maka berkibarlah di mana-mana panji perdaban, ketika itu eropa sedang dirundung kegelapan jahiliyyah (kebodohan) pada abad-abad pertengahan.”

4. Dr. Wile (1818-1889)


Seorang orinetalis berkebangsaan Perancis yang bekerja di Aljazair sebagai guru dan penerjemah. Dalam karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa arab, Tarikhul Khulafa, ia menulis antara lain: “ Muhammad layak mendapatkan kekaguman dan penghargaan kita sebagai reformis agung, bahkan dia patut juga diberi gelar nabi. Kita tak usah mendengarkan orang-orang yang bermaksud jahat dan pendapat orang-orang ekstrem. Sungguh Muhammad itu seorang besar dalam agama dan pribadinya. Barang siapa yang menyerangnya, jelas dia tidak mengerti dan melecehkan jasa-jasanya.

5. Conte Henry de Castri (1853-1915)


Merupakan seorang orinetalis yang dalam karyanya Al-Islam, ia menulis antara lain: “Muhammad tidak membaca dan tidak menulis, seperti yang dikatakan dirinya sendiri. Ia seorang nabi yang ummi. Dengan demikian ia tidak pernah membaca kitab suci, tidak pernah agamanya itu mengutip agama-agama terdahulu seperti yang dituduhkan orang dengan kebodohan. Sejarah Muhammad penuh mengandung pujian dan pengagungan kepadanya yang sudah tentu tidak diketahui oleh orang-orang yang tidak mengenalnya.

6. Pastor Isaaq Tiles


Seorang agamawan kelahiran Bordeauz (1810-1897), menulis dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa arab, Haqaiqut Thariq, antara lain mengungkapkan bahwa; “Kalau kita mau meneliti dengan seksam karya-karya Muhammad dan kenabiannya, kita tidak akan menemukan sesautupun yang mencela atau mengancam nasrani, bahkan kita akan melihat garis pemisah antara kaum Yahudi dan Nasrani.

Islam datang menciptakan kebahagiaan dan peradaban Muhammad sama halnya dengan Musa membolehkan poligami dan perbudakan, walau perbudakan itu sendiri tidak diajarkan dalam aqidah Islam. Muhammad membolehkan perbudakan karena dalam keadaan darurat. Sedangkan poligami, Musa tidak mengharamkannya dalam tauratnya, dan Daud juga tidak mengharamkan dalam zaburnya. Kami wajib memahami bahwa akhlak Islam lebih luhur dari akhlak Nasrani.”

7. Monsier Deitet Vanan (1823-1879)


Adalah seorang orientalis Peranci yang pada tahun 1875 mengembara ke timur. Dalam karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab Asyi’ah Khashah bin Nuril Islam mengungkapkan antara lain; “Sesunggunya al-Quran yang dibawa Muhammad itu telah mencatat adanya kitab-kitab suci yang lain, dan ia merupakan satu-satunya kitab yang menyeru orang untuk bersikap lemah lembut dan baik hati.

Telah mengadu kepada Rasulullah Muhammad, salah seorang dari Bani Salim bin Auf yang bernama Al-Husein: “Ya Rasulullah saya mempunya orang tua yang masih beragama masehi dan keduanya enggan masuk agama Allah. Saya akan bermaksud memaksa keduanya,” Rasulullah Muhammad menjawab, “tidak ada paksaan dalam menganut agama, seperti yang tercantum dalam surat al-Kafirun/109 ayat 6; bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku.” Juga tercantum dalam surat al-Ankabut/29 ayat 46; “dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik.”

8. Lev Nikolaevich Tolstoy


Merupakan seorang filsuf dan sastrawan besar Rusia menulis dalam bukunya ‘Siapakah Muhammad’, antara lain mengungkapkan bahwa: Tahun pertama gerakan dakwahnya membawa Muhammad untuk menghadapi berbagai tantangan sebagaimana keadaan nabi yang diutus sebelumnya yang mengajak umatnya kepada kebenaran. Tetapi tantangan-tantangan ini tidak mematahkan semangatnya. Bahkan Muhammad terus berdakwah, padahal ketika itu ia belum menyatakan bahwa dirinya sebagai nabi yang satu. Tetapi datang sebagai penyempurna risalah-risalah sebelumnya dan mengajak kaumnya pada keyakinan seperti nabi-nabi sebelumnya.”

9. Edward Adams


Merupakan seorang orientalis dari Amerika dalam salah satu karyanta menyatakan antara lain: “ Nagera Arab dulu, sebelum kenabian Muhammad, adalah negara yang tenggelam dalam kerusakan moral. Sulit bagi kita mencirikan kejadian yang terjadi di setiap tempat. Kerusakan besar yang menyengsarakan rakyat pada masa itu dan kejahatan pada anak-anak (anak perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup karena takut membawa petaka), pengorbanan manusia yang dilakukan atas nama agama, perang yang berkelanjutan antara suku, dan penduduk negri yang selalu hidup kekurangan, serta tidak adanya tatanan hukum yang kuat. Semua itu mengakibatkan penghambaan dan perbudakan diantara manusiabertambahnya kejahatan, pelecehan seksual dan kehormatan diantara manusia.

Ketika itulah datang Muhammad saw. sebagai juru penerang risalah yang maha esa dan maha perkasa bagi seluruh alam, yang ditangannya membawa petunjuk dan pembeda, yakni Al-Quran dan di tangan kirinya membawa cahaya. Sesungguhnya, semua ini untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuha Yang Maha Mulia.

10. Albornos Catian


Dia merupakan seorang orientalis berkebangsaan italia. Ia menulis tentang Nabi Muhammad saw dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Arab Adayanul Arab, yang menyebutkan bahwa, seungguhnya keistimewaan Muhammad terletak pada kemampuannya yang menakjubkan sebagai seorang politisi yang bijak-bestari, lebih dari sekedar nabi yang mendapatkan wahyu. Kiranya tidak seorangpun yang mengenal Muhammad, akan menjatuhkan kehormatannya, dan siapa yang melakukannya maka ia telag berbuat aniaya terhadap dirinya dan juga terhadap Muhammad.

10 Cendikiawan Dunia yang Mengagumi Nabi Muhammad saw

Nama-nama Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad Rasulullah saw. memiliki beberapa nama, Muslim meriwayatkan bahwa beliau bersabda, “aku memiliki beberapa nama:
  1. Aku bernama Muhammad
  2. Aku bernama Ahmad
  3. Aku bernama Al-Mahi (penumpas), dimana Allah menumpas kekafiran karena aku
  4. Aku bernama hasyiir (pengumpul), dimana Allah mengumpulkan manusia atas risalahku
  5. Aku bernama al-‘Aqib (penutup), dimana tidak ada seorang nabi lagi sesudahku, dan
  6. Aku, Allah memberiku pula nama Ra’uf (penyantun) dan rahim (penyayang).” (H.R. Muslim)
Nabi Muhammad Rasulullah saw. adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah swt.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا  

Terjemahannya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab/33: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa nabi Muhammad saw. bukanlah bapak dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid (bernama Zainab) dapat beliau nikahi.

Sebagai nabi dan Rasul terakhir, nabi Muhammad saw. tidak hanya diutus kepada sebagian golongan umat, seperti halnya para nabi terdahulu, melainkan untuk seluruh umat manusia.

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا  

Terjemahannya: Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Q.S. An-Nisa/4: 79)

Nama-nama Nabi Muhammad SAW

Ayat-ayat Al-Quran tentang Tugas Nabi Muhammad-Rasulullah saw.
Secara garis besarnya Nabi Muhammad saw. mempunyai tugas meluruskan aqidah umat manusia kelaigus memperbaiki akhlaknya. Berikut kami kemukakan beberapa ayat al-Quran yang menyuratkan tugas-tugas beliau.

1. Sebagai Rahmat Bagi Alam semesta


وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ  

Terjemahannya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al-Anbiya/21: 107)

2. Bertabligh, artinya menyampaikan ajaran Allah swt.


فَإِنۡ حَآجُّوكَ فَقُلۡ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ  

Terjemahannya: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali-Imran/3: 20)

Yang dimaksud buta huruf dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak mengenal baca tulis. Menurut sebagian mufassir yang dimaksud dengan ummi, dalam ayat tersebut adalah orang musyrik arab yang tidak tau baca tulis. Menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang diberi kitab.

3. Membawa agama yang benar


هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا  

Terjemahannya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Q.S. Al-Fath/48: 28).

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ  

Terjemahannya: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (Q.S. Ash-Shaf/61: 9).

Ayat-ayat tersebut menyiratkan bahwa dengan kedatangan Islam, maka hukum-hukum sebelumnya tidak berlaku lagi dan diganti dengan hukum-hukum al-Quran. Sebab al-Quran juga menerangkan hal-hal yang mereka ada-adakan dalam agama-agam terdahulu, sehingga agama yang terjamin kebenarannya adalah agama Islam. Dan tidak ada lagi agama yang diturunkan Allah selain agama Islam. Al-Quran itu sendiri dalam pemeliharaan Allah swt., sehingga tidak berhasil dipalsukan meskipun berulang kali terjadi pemalsuan al-Quran.

4. Pembawa kabar gembira dan pemberi petunjuk peringatan


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا  

Terjemahannya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, (Q.S. Al-Ahzab/33: 45)

وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا  

Terjemahannya: dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Q.S. Al-Ahzab/33: 46)

5. Penunjuk ke jalan yang lurus


وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  

Terjemahannya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S. Asy-Syura/42: 52).

Ayat-ayat Al-Quran tentang Tugas Nabi Muhammad-Rasulullah saw.

Kepribadian dan Sifat-sifat Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad saw. terkenal dengan kepribadian dan jiwa kepemimpinan yang terpuji. Hal itu telah diungkapkan dalam ayat-ayat al-Quran antar lain:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ  

Terjemahannya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Alu Imran/3: 159)

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ  

Terjemahannya: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. At-Taubah/9: 128)

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  

Terjemahannya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab/33: 21)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  

Terjemahannya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. Al-Qalam/68: 4)

وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ

Terjemahanya: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,  (Q.S. Al-Insyirah/94: 4)

Maksud dari ayat yang terakhir ini adalah, meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, serta menjadikan taat kepada nabi termasuk taat kepada Allah swt.

Para sahabat juga memberikan kesaksian atas keluhuran akhlak Rasulullah saw. baik selaku nabi maupun sebagai pemimpin umat. Antara lain mereka katakan bahwa, Nabi saw.

1. Sangat dermawan


Ibnu Syihab Mengemukakan, setelah perang di Hunain, Rasulullah saw. memberi Shafwan Bin Umaiyah seratus ekor ternak, kemudian ditambahnya seratus ekor lagi.” (H.R. Muslim)

2. Selalu mengabulkan permintaan orang lain


Jabir bin Abdullah ra. menceritakan “ apabila Rasulullah saw. dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab dengan perkataan: ‘Tidak’.” (H.R. Muslim)

3. Bersikap bijak


Abu Hurairah ra. mengisahkan ketika ada seorang arab dusun kencing di masjid, para sahabat membentaknya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya itu dengan seember air. Kalian semua diperintah untuk berlaku manis dan bijak. Bukn berlaku kasar dan menimbulkan kesulitan.” (H.R. Bukhari). Ketika itu lantai yang dikencingi orang arab dusun itu berupa pasir, jaki sekali saja disiram dengan seember air kencingnya meresap ke dalam pasir.

4. Pemberani


Anas bin Malik ra. mengungkapkan, “Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik, paling pemurah, dan paling pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang banyak keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka berpapsan dengan Rasulullah saw. yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat asal suara tersebut. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamkannya dari Abu Thalhah, sambil menyandang pedang. Sabda beliau: ‘jangan panik, jangan panik’. Kami mendapati beliau memang santai-santai saja, dan berkuda perlahan-lahan.” (H.R. Muslim).

5. Tempat berlindung para sahabat


Ali bin Abi Thalib mengabarkan, “pada saat pertempuran sedang hebat-hebatnya kami selalu berlindung di belakang Rasulullah saw. Tidak ada orang yang lebih berani mendekati musuh seperti beliau.” (H.R. Muslim).

Kepribadian dan Sifat-sifat Nabi Muhammad saw

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran
Abad ke-10 menjadi puncak zaman keemasan dinasti Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya Al-Hakam II, dinasti ini menegakkan kedaulatannya atas hampir seluruh Semenanjung Iberia. Ibukota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota berpenduduk setengah juta manusia. Lembaga-lembaga pendidikan dan agama serta perdagangan dan industri berkembang dalam suasana pergolakan intelektual.

Pada tahun 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru yaitu kota Az-Zahra, di lereng gunung Al-Arus, sebuah gunung berjarak enam mil di barat laut Cordoba. Kota ini dibangun sebagai pusat politik dan militer. Kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megahnya, tempat tinggalnya, dan taman-tamannya yang indah telah membuat beberapa sejarawan menyebutnya sebagai "Versailles of Umayyads."

Pada saat yang sama, dinasti Umayyah Andalusia memberikan perlindungan dan menyokong perkembangan seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kesehatan dan ilmu biologi. Akibatnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibukota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka lakukan.

Di kota kerajaan ini di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang lebih dikenal di Barat dengan nama Latinnya Albucasis, dilahirkan sekitar tahun 938. Ia adalah soerang dokter ahli bedah Muslim tersohor di eropa Eropa dan dunia. Dia melebihi Galenus, seorang dokter bedah di Eropa yang tersohor sebelumnya.

Naskah tentang dokter bedah Eropa Abad Pertengahan menyatakan bahwa Az-Zahrawi lebih sering daripada Galen. Namun karena kota kelahiran Az-Zahra dihancurkan pada tahun 1011 maka hanya sedikit saja yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya.

Kitab Jadhwat al-Muqtabis (Tentang Andalusia Savants) milik Al Humaydi berisi tentang biografi dokter Islam yang ada (walaupun sketsa) yang ada, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggalnya, dan perkiraan tanggal kematiannya.

Pengetahuan Az-Zahrawi tentang kedokteran ditulis dalam karyanya yang berjudul At-Tasrif liman 'Azija' an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif merupakan ringkasan 30 risalah yang dikumpulkan dari data medis yang diakumulasikan Az-Zahrawi dalam karir medis yang ia jalankan selama lima dekade, yang dimulai dari dia belajar dan melakukan praktek secara medis.

Di dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi mennulis ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek ilmu kedokteran yang menekankan pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

At-Tasrif menguraikan penyebab, gejala dan pengobatan penyakit, dan membahas persiapan obat-obatan dan terapi, yang mencakup obat-obatan emetik dan jantung, obat pencahar, geriatri, tata rias, dietetika, medica materia, berat dan ukuran, serta penggantian obat.

Analisis Az-Zahrawi tentang kesehatan ibu dan anak dan profesi kebidanan sangat menarik dalam sejarah keperawatan. Teksnya menyiratkan bahwa ada profesi yang berkembang subur dari bidan terlatih dan perawat yang ada selama di berada di Andalusia pada abad ke-10. Dia dan dokter ahli obstetri yang sudah terlatih lainnya menginstruksikan dan melatih bidan untuk melaksanakan tugas mereka dengan pengetahuan dan keyakinan.

Volume terakhir dan terbesar dari At-Tasrif adalah On Surgery (pembedahan) yang merupakan pencapaian terbesar dari ilmu bedah/operasi abad pertengahan. Tulisan itu merupakan risalah bedah pertama yang ditulis secara mandiri oleh Az-Zahrawi.

Tulisan ini mencakup berbagai masalah bedah termasuk kauterisasi, perawatan luka, ekstraksi panah, dan pengaturan tulang pada fraktur sederhana dan majemuk. Az-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan antiseptik pada luka dan cedera kulit; jahitan yang dirancang dari usus binatang, sutra, wol dan bahan lainnya; dan mengembangkan teknik untuk memperluas saluran kemih dan mengeksplorasi pembedahan rongga tubuh.

Az-Zahrawi adalah yang pertama merinci operasi klasik untuk kanker payudara, lithotrities untuk batu kandung kemih, dan teknik untuk menghilangkan kista tiroid. Dia menggambarkan dan mengilustrasikan forsep obstetri, tetapi hanya merekomendasikan penggunaannya dengan janin yang sudah meninggal, dan memberikan deskripsi pertama yang diketahui tentang postur kebidanan yang sekarang dikenal sebagai "posisi Walcher."

At-Tasrif juga merupakan karya pertama dalam pembuatan diagram instrumen bedah, merinci lebih dari dua ratus, banyak di antaranya merupakan rancangan Az-Zahrawi sendiri. Kebanyakan dari instrumen ini yang sudah dimodifikasi masih digunakan sampai sekarang.

Dengan kebangkitan kembali keinginan Eropa dalam ilmu kedokteran, At-Tasrif dengan cepat menjadi referensi standar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak lima kali. Susunan karya, diksi yang jelas, dan penjelasannya yang jelas berkontribusi pada popularitas dan kesuksesan besar.

Pengaruh Az-Zahrawi pada perkembangan bedah Eropa sangat dalam dan bertahan hingga saat ini. Guy de Chauliac, yang dikenal sebagai "Pemulih Bedah Eropa," mengutip tulisan-tulisan Az-Zahrawi lebih dari 200 kali.

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran
Persaudaraan atau dalam Islam dikenal dengan ukhuwwah merupakan ikatan antara satu orang dengan yang lainnya disebabkan karena persamaan dari berbagai segi, misalnya keturunan, agama, suku, bangsa, profesi, sifat, dan sebagainya, yang dengan itu membentuk suatu ikatan bathin sehingga satu dengan yang lainnya merasa ada kedekatan tersendiri. Meski ada perbedaan dari berbagai segi tetapi al-Quran memberi penjelasan bahwa semua umat manusia adalah bersaudara.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa, dalam Islam pesaudaraan dikenal dalam empat macam yaitu:

Pertama, ukhuwah ‘ubudiyyah, yakni persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-An’am/6 ayat 38.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ  

Terjemahannya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Kedua, ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah, yakni persaudaraan karena sama-sama manusia secara keseluruhan. Persaudaraan semacam ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  

Terjemahannya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketiga, ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Ha l ini dapat dilihat dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13.

Menurut Muhammad Imarah, pluralitas bangsa, suku bangsa, agama dan golongan merupakan kaidah yang abadi yang berfungsi sebagai pendorong untuk saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan, berlomba menciptakan prestasi dan memberikan tuntunan bagi perjalanan bangsa-bangsa dalam menggapai kemajuan dan ketinggian.

Baca juga: Ayat-ayat al-Quran tentang Persaudaraan

Keempat, ukhuwah diniyyah, yakni persaudaraan karena seagama (Ukhuwwah fi din al-Islam). Islam memberi penjelasan bahwa semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahat (bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah) yakni orang-orang yang beragama Islam semuanya bersaudara. Persaudaraan sesame umat Islam ini tidak memandang perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 10.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ  

Terjemahnnya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Semua umta yang beriman adalah bersaudara, sebagaimana yang dijelaskan ayat al-Quran di atas. Olehnya itu menjalin hubungan persaudaraan merupakan perintah Allah kepada semua umat Islam, agar tidak saling tercerai berai. Jika ada umat Islam yang hubungannya renggang maka perbaikilah kerenggangan itu. Selain itu sesame umat Islam juga selayaknya harus saling bahu membahu dalam membangun eksistensi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran

Subscribe Our Newsletter