Coretanzone: Islam

    Social Items

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran
Abad ke-10 menjadi puncak zaman keemasan dinasti Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya Al-Hakam II, dinasti ini menegakkan kedaulatannya atas hampir seluruh Semenanjung Iberia. Ibukota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota berpenduduk setengah juta manusia. Lembaga-lembaga pendidikan dan agama serta perdagangan dan industri berkembang dalam suasana pergolakan intelektual.

Pada tahun 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru yaitu kota Az-Zahra, di lereng gunung Al-Arus, sebuah gunung berjarak enam mil di barat laut Cordoba. Kota ini dibangun sebagai pusat politik dan militer. Kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megahnya, tempat tinggalnya, dan taman-tamannya yang indah telah membuat beberapa sejarawan menyebutnya sebagai "Versailles of Umayyads."

Pada saat yang sama, dinasti Umayyah Andalusia memberikan perlindungan dan menyokong perkembangan seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kesehatan dan ilmu biologi. Akibatnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibukota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka lakukan.

Di kota kerajaan ini di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang lebih dikenal di Barat dengan nama Latinnya Albucasis, dilahirkan sekitar tahun 938. Ia adalah soerang dokter ahli bedah Muslim tersohor di eropa Eropa dan dunia. Dia melebihi Galenus, seorang dokter bedah di Eropa yang tersohor sebelumnya.

Naskah tentang dokter bedah Eropa Abad Pertengahan menyatakan bahwa Az-Zahrawi lebih sering daripada Galen. Namun karena kota kelahiran Az-Zahra dihancurkan pada tahun 1011 maka hanya sedikit saja yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya.

Kitab Jadhwat al-Muqtabis (Tentang Andalusia Savants) milik Al Humaydi berisi tentang biografi dokter Islam yang ada (walaupun sketsa) yang ada, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggalnya, dan perkiraan tanggal kematiannya.

Pengetahuan Az-Zahrawi tentang kedokteran ditulis dalam karyanya yang berjudul At-Tasrif liman 'Azija' an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif merupakan ringkasan 30 risalah yang dikumpulkan dari data medis yang diakumulasikan Az-Zahrawi dalam karir medis yang ia jalankan selama lima dekade, yang dimulai dari dia belajar dan melakukan praktek secara medis.

Di dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi mennulis ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek ilmu kedokteran yang menekankan pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

At-Tasrif menguraikan penyebab, gejala dan pengobatan penyakit, dan membahas persiapan obat-obatan dan terapi, yang mencakup obat-obatan emetik dan jantung, obat pencahar, geriatri, tata rias, dietetika, medica materia, berat dan ukuran, serta penggantian obat.

Analisis Az-Zahrawi tentang kesehatan ibu dan anak dan profesi kebidanan sangat menarik dalam sejarah keperawatan. Teksnya menyiratkan bahwa ada profesi yang berkembang subur dari bidan terlatih dan perawat yang ada selama di berada di Andalusia pada abad ke-10. Dia dan dokter ahli obstetri yang sudah terlatih lainnya menginstruksikan dan melatih bidan untuk melaksanakan tugas mereka dengan pengetahuan dan keyakinan.

Volume terakhir dan terbesar dari At-Tasrif adalah On Surgery (pembedahan) yang merupakan pencapaian terbesar dari ilmu bedah/operasi abad pertengahan. Tulisan itu merupakan risalah bedah pertama yang ditulis secara mandiri oleh Az-Zahrawi.

Tulisan ini mencakup berbagai masalah bedah termasuk kauterisasi, perawatan luka, ekstraksi panah, dan pengaturan tulang pada fraktur sederhana dan majemuk. Az-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan antiseptik pada luka dan cedera kulit; jahitan yang dirancang dari usus binatang, sutra, wol dan bahan lainnya; dan mengembangkan teknik untuk memperluas saluran kemih dan mengeksplorasi pembedahan rongga tubuh.

Az-Zahrawi adalah yang pertama merinci operasi klasik untuk kanker payudara, lithotrities untuk batu kandung kemih, dan teknik untuk menghilangkan kista tiroid. Dia menggambarkan dan mengilustrasikan forsep obstetri, tetapi hanya merekomendasikan penggunaannya dengan janin yang sudah meninggal, dan memberikan deskripsi pertama yang diketahui tentang postur kebidanan yang sekarang dikenal sebagai "posisi Walcher."

At-Tasrif juga merupakan karya pertama dalam pembuatan diagram instrumen bedah, merinci lebih dari dua ratus, banyak di antaranya merupakan rancangan Az-Zahrawi sendiri. Kebanyakan dari instrumen ini yang sudah dimodifikasi masih digunakan sampai sekarang.

Dengan kebangkitan kembali keinginan Eropa dalam ilmu kedokteran, At-Tasrif dengan cepat menjadi referensi standar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak lima kali. Susunan karya, diksi yang jelas, dan penjelasannya yang jelas berkontribusi pada popularitas dan kesuksesan besar.

Pengaruh Az-Zahrawi pada perkembangan bedah Eropa sangat dalam dan bertahan hingga saat ini. Guy de Chauliac, yang dikenal sebagai "Pemulih Bedah Eropa," mengutip tulisan-tulisan Az-Zahrawi lebih dari 200 kali.

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran
Persaudaraan atau dalam Islam dikenal dengan ukhuwwah merupakan ikatan antara satu orang dengan yang lainnya disebabkan karena persamaan dari berbagai segi, misalnya keturunan, agama, suku, bangsa, profesi, sifat, dan sebagainya, yang dengan itu membentuk suatu ikatan bathin sehingga satu dengan yang lainnya merasa ada kedekatan tersendiri. Meski ada perbedaan dari berbagai segi tetapi al-Quran memberi penjelasan bahwa semua umat manusia adalah bersaudara.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa, dalam Islam pesaudaraan dikenal dalam empat macam yaitu:

Pertama, ukhuwah ‘ubudiyyah, yakni persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-An’am/6 ayat 38.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ  

Terjemahannya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Kedua, ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah, yakni persaudaraan karena sama-sama manusia secara keseluruhan. Persaudaraan semacam ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  

Terjemahannya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketiga, ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Ha l ini dapat dilihat dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 13.

Menurut Muhammad Imarah, pluralitas bangsa, suku bangsa, agama dan golongan merupakan kaidah yang abadi yang berfungsi sebagai pendorong untuk saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan, berlomba menciptakan prestasi dan memberikan tuntunan bagi perjalanan bangsa-bangsa dalam menggapai kemajuan dan ketinggian.

Baca juga: Ayat-ayat al-Quran tentang Persaudaraan

Keempat, ukhuwah diniyyah, yakni persaudaraan karena seagama (Ukhuwwah fi din al-Islam). Islam memberi penjelasan bahwa semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahat (bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah) yakni orang-orang yang beragama Islam semuanya bersaudara. Persaudaraan sesame umat Islam ini tidak memandang perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat al-Hujurat/49 ayat 10.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ  

Terjemahnnya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Semua umta yang beriman adalah bersaudara, sebagaimana yang dijelaskan ayat al-Quran di atas. Olehnya itu menjalin hubungan persaudaraan merupakan perintah Allah kepada semua umat Islam, agar tidak saling tercerai berai. Jika ada umat Islam yang hubungannya renggang maka perbaikilah kerenggangan itu. Selain itu sesame umat Islam juga selayaknya harus saling bahu membahu dalam membangun eksistensi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Empat Macam Persaudaraan Manusia yang Dijelaskan al-Quran

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979
Hari itu, pada tanggal 20 November 1979, tepat jam 05.00 pagi, jamaah shalat shubuh tengah menantikan azan subuh. Belumlah juga muazin Masjid al-Haram mengumandangkan azan, tidak diduga, seseorang pria berusia 40 tahun-an, dengan 200 pengikutnya, mengatakan dengan lantang: "Sang Mahdi yang dinantikan sudah hadir." Pria yang pimpin pergerakan itu terakhir didapati bernama Juhaiman al-Utaibi.

Al-Utaibi lakukan sabotase. Ia serta pengikutnya merampas pengeras suara dari imam Masjid al-Haram, lantas mengatakan dengan keras kehadiran Sang Penebus, al-Mahdi. Gerombolan ini juga keluarkan senjata mereka.

Al-Utaibi, menyatakan beberapa ciri al-Mahdi, yang dalam keyakinan Islam akan tiba menjadi penyelamat umat manusia, ada pada mertua al-Utaibi, yakni Abdullah Muhammad al-Qahthani. Gerombolan ini berbaiat pada 'Imam al-Mahdi' palsu itu pas dibagian antara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim.

Masjid al-Haram, serta lokasi tawaf saat itu betul-betul mencekam. Al-Utaibi berpidato, "Wahai umat Islam, beberapa ciri al-Mahdi sudah tercukupi dalam figur yang sekarang ada diantara kalian, wahai saudara, duduklah serta berkumpullah kalian diantara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim. Janganlah buat gaduh. Wahai Ahmad al-Luhaibi, naiklah ke atap masjid, bila memandang ada yang menantang tembak saja,"

Sesudah itu, al-Utaibi serta gerombolannya mengatakan Masjid al-Haram sudah disabotase. Momen perebutan Masjid al-Haram berjalan cepat, kira-kira satu jam gerombolan ini sukses kuasai.

Momen ini begitu populer dalam sejarah. BBC membuat dokumentasi dengan judul "Blokade Makkah". Jejak al-Utaibi memang bukan figur yang popular. Sebelum aktif di kegiatan keagamaan serta menentukan beraliran salafi keras, ia sempat ikut serta dalam jual beli narkoba.

Genealogi 'pemberontak' mengalir dalam dirinya sendiri. Bapak al-Utaibi merupakan pengikut golongan Ikwan Man Atahallah, yang ikut serta dalam Perang as-Siblah, menantang pendiri Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud.

Al-Utaibi sempat masuk dalam militer Saudi pada umur 18 tahun, namun menetukan pilihan keluar serta mengenyam pendidikan di Kampus Madinah pada 1973. Di sinilah di berjumpa dengan al-Qahthani. Kedua-duanya mempunyai persamaan pemikiran serta mendakwahkan ide mereka pada masjid-masjid kecil di Madinah. Pengikutnya makin banyak serta bergabung dalam satu jamaah yang menyebut diri mereka al-Mutabisah.

Pembaharuan yang dilaksanakan otoritas Kerajaan Saudi, dalam pandangan al-Utaibi, cuma menjauhkan umat dari agama mereka. Hal inilah yang menjadikan al-Utaibi dan kelompoknya berpandangan, haram taati raja serta harus selekasnya mendorong timbulnya al-Mahdi, supaya umat Islam kembali pada agama mereka.

Pada saat keadaan serta situasi genting saat sabotase golongan al-Utaibi, otoritas keamanan Saudi saat itu termasuk sangatlah lambat sebab faktor-faktor diantaranya, kekosongan pejabat militer lantaran tengah berada di luar negeri, sakitnya raja Khalid, serta kurangnya kapabilitas intelijen.

Pihak Keamanan Saudi menduga situasinya biasa saja, cuma masalah kecil keamanaan. Akan tetapi, Pihak Kerajaan betul-betul mengerti keadaan begitu genting, saat satu regu keamanan yang di kirim lakukan penelusuran namun ditembak.

Saudi menerapkan status darurat. Beberapa ribu personil keamanan dikerahkan untuk mengepung Masjid al-Haram. Di hari ke-2 dari sabotase, pesawat jet tempur lalu-lalang diatas Masjid al-Haram.

Kelompok bersenjata tertekan. Mereka bergabung di lantai dasar Masjid al-Haram, mereka membakar karpet serta ban mobil untuk bikin kepulan asap. Beberapa dari gerombolan itu melumuri muka mereka dengan cairan warna hitam.

Sepanjang pengepungan itu, sebelumnya beberapa personil militer benar-benar tidak berani lakukan serangan. Hal ini sebab untuk menjaga kesucian Masjid al-Haram. Jangankan menumpahkan darah manusia, membunuh burung atau hewan apa pun tidak diperbolehkan di masjid ini. Termasuk juga kehadiran orang non-Muslim.

Akan tetapi, Dewan Ulama Saudi, pada akhirnya membuat fatwa bahwa bisa membunuh golongan yang mereka sebut sebagai 'Penjajah Masjid al-Haram'. Fatwa inilah yang pada akhirnya mengakibatkan baku tembak pada kedua pihak. Pihak keamanan Saudi dibantu oleh militer Prancis. Pertarungan dahsyat pun berlangsung.

Saat baku tembak, al-Qahthani tertembak serta diberitakan meninggal. Perihal ini ikut membuat sangsi pengikutnya mengenai kebenarannya menjadi al-Mahdi.

Pertarungan itu berjalan cukuplah alot sepanjang kira-kira 15 hari sampai pada akhirnya gerombolan bersenjata itu menyerah. Mereka kehabisan logistik amunisi serta bahan makanan.

Menurut data resmi Saudi, momen berdarah ini mengakibatkan 255 orang wafat. Akan tetapi, beberapa sumber menyebutkan jumlahnya korban jiwa sampai 1.000 orang sementara 450 orang terluka.

Pemerintah Saudi menjatuhkan sangsi hukuman mati pada 65 gerombolan bersenjata yang tertangkap. Al-Utaibi ialah orang yang pertama-tama dieksekusi mati dari kelompok itu pada 9 Desember 1980.

Sumber: republika. co.id

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979

Menelusuri Islam di Nusantara menjadi salah satu kegiatan ilmiah yang sangat menarik, karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang di dalamnya terdapat berbagai macam suku, bangsa, dan etnis dengan adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda. Perbedaan yang ada di dalam bangsa ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan beragama, sehingga wajah Islam di Nusantara secara budaya dan tradisi agak berbeda dengan wajah Islam di Arab atau di negara lain. Namun sangat disayangkan, semakin hari wajah Islam Indonesia yang sejuk dan toleran mulai direduksi dengan model Islam luar yang berwajah "radikal" dan itu bukan menjadi representasi Islam rahmatan lil alamin.

Intoleransi atas nama agama serta tumbuhnya semangat keagamaan di Indonesia belakangan ini sering dihubungkan dengan kebijaksanaan non-akomodatif pada saat Orde Baru dalam memperlakukan umat Islam. Sikap antagonis Soeharto pada Islam, terutamanya pada saat-saat awal kekuasaannya, sering diklaim sudah menggerakkan tumbuhnya golongan Islam transnasional. Tekanan Soeharto yang terlalu berlebih pada pergerakan Islam politik membuat artikulasi keislaman mereka terhambat. Oleh karenanya, kala rezim Orde Baru jatuh serta muncul kebebasan yang lumayan besar, beberapa golongan Islam politik itu banyak bermunculan.

Tidak ada yang salah dari penjelasan itu, akan tetapi mengabaikan factor sejarah yang lebih panjang bisa menghambat kita dalam memandang masalah dengan lebih mendalam serta adil.

Perubahan Islam Indonesia saat ini tidak bisa dipisahkan dari latar belakang masa lalunya yang bagitu panjang. Bangkitnya semangat keagamaan yang muncul akhir-akhir ini tidak tampil demikian saja, tetapi merupakan bagian dari serangkaian perjalanan panjang proses islamisasi di Indonesia.

Sebelum Islam masuk, Jawa sudah diketahui menjadi salah satu wilayah yang mempunyai peradaban yang maju. Perihal ini, dapat dibuktikan dengan kehadiran beberapa karya sastra, candi, serta kerajaan Hindu-Buddha. Sesudah Islam masuk, budaya Islam mulai membaur dengan budaya Jawa hingga menghisalkan satu sintesa mistik (mystic synthesis) yang diambil dari beberapa kebiasaan serta khazanah budaya Indonesia pra-Islam (Hindu-Buddha dan kebiasaan Jawa) dan ajaran Islam. Budaya Islam waktu itu bisa di terima sebab menjadi salah satu khazanah budaya yang kaya. Oleh sebab pencampuran itu, sebagian besar umat Islam di Indonesia pada rentang abad ke-14 sampai awal abad ke-19, menjalankan agama mereka dengan semangat sinkretis seperti ini.

Pandangan sinkretis itu jadikan umat Islam waktu itu begitu religius dalam kesadaran jalinan mereka dengan kesatuan serta ketergantungan pada prinsip kosmik yang meliputi semua yang mengendalikan kehidupan mereka.

Abangan dan Putihan

Abangan ialah panggilan untuk kelompok masyarakat Jawa Muslim yang menjalankan Islam dalam bentuk yang lebih sinkretis jika dibanding dengan kelompok santri yang lebih ortodoks. Istilah ini diambil dari kata bahasa Jawa yang bermakna merah, kali pertama digunakakan oleh Clifford Geertz, akan tetapi sekarang ini maknanya sudah berubah. Abangan condong mengikuti sistem keyakinan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni. Dalam sistem keyakinan itu ada tradisi-tradisi Hindu, Buddha, serta animisme. Akan tetapi beberapa sarjana memiliki pendapat kalau apa yang secara klasik dianggap bentuk variasi Islam di Indonesia, seringkali adalah sisi dari agama tersebut di negara lainnya. Menjadi contoh, Martin van Bruinessen mencatat terdapatnya persamaan pada kebiasaan serta praktek yang dilakukan jaman dulu di kelompok umat Islam di Mesir.

Menurut cerita penduduk, kata abangan diprediksikan datang dari kata Bahasa Arab aba'an. Lidah orang Jawa membaca huruf 'ain jadi ngain. Makna aba'an kira-kira ialah "yang tidak konsekwen" atau "yang meninggalkan". Jadi beberapa ulama dahulu memberi julukan pada beberapa orang yang telah masuk Islam tetapi tidak menjalankan syariat (Bahasa Jawa: sarengat) ialah golongan aba'an atau abangan. Jadi, kata "abang" di sini tidak dari kata Bahasa Jawa abang yang bermakna warna merah

Pengertian Islam abangan ialah panggilan untuk kaum muslim atau penduduk Jawa yang mengakui beragama Islam. Islam abangan ini adalah kombinasi pada animism, hinduisme serta Islam. Diluar itu Islam abangan pun memberi ruangan pada keyakinan susah pada roh serta teori tentang pengetahuan hitam serta perdukunan

Bicara tentang munculnya terminologi abangan, Merle Ricklefs, sejarawan Australia, menuturkan jika timbulnya arti abangan dalam skema penduduk Jawa bertepatan dengan kejadian kebangkitan/pemurnian Islam yang diawali pada paruh pertama abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Ricklefs dalam bukunya Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions 1830-1930 berpandangan jika proses kebangkitan Islam di Jawa berawal sesudah berakhirnya Perang Jawa (1830). Pada rintang periode sesudah momen itu muncul gelombang pasang golongan “putihan” yang tidak ada presedennya dalam sejarah Indonesia.

Arti putihan ini mengacu pada muslim yang begitu berdasar teguh pada ajaran al-Quran serta Hadis. Menurut laporan beberapa misionaris Nederlandsche Zendelinggenootschap (NZG), arti putihan lebih popular menjadi lawan kata “abangan” yang baru muncul pada abad ke-19. Riwayat munculnya arti itu terpenting untuk memerhatikan semula timbulnya polarisasi dalam penduduk Islam di Jawa serta sekaligus juga menjadi semula lahirnya kesadaran baru penduduk muslim Indonesia.

Era ke-19 ialah waktu yang begitu memastikan buat budaya serta peradaban di semua dunia, termasuk juga wilayah-wilayah yang mayoristas penduduknya beragama Islam. Waktu ini bisa disebutkan menjadi waktu yang penting buat riwayat serta hari esok kehidupan beragama di Indonesia. Beberapa polarisasi serta ketegangan sosial yangterjadi pasa waktu ini mempunyai implikasi jauh kedepan.

Arti abangan muncul awal abad itu. Golongan putihan ialah golongan yang pertama-tama mengenalkan arti abangan untuk menghina muslim lainnya yang tidak menjalankan syariat Islam dengan prima. Arti abangan sendiri datang dari kata Jawa rendahan (ngoko) abang, bermakna warna merah atau coklat. Pada saat itu, arti yang biasa dipakai ialah bangsa abangan atau wong abangan. Dalam kata Jawa Tinggi (kromo) dimaksud abrit serta beberapa orang ini dimaksud tiyang abritan.

Di lainnya pihak, golongan putihan yang disebut minoritas waktu itu, memandang grup mereka menjadi grup yang sangat saleh sebab menjalankan syariat Islam seperti di Timur Tengah. Beberapa haji serta pelajar yang pulang dari Mekah mainkan peranan lumayan besar dalam menyemai tumbuhnya golongan putihan di Indonesia. Jumlahnya mereka juga cukuplah banyak, terdaftar pada tiga dekade paling akhir era ke-19, sekitar 4000-8000 –15% dari keseluruhnya jamaah di Arab– jamaah haji pergi ke Arab tiap-tiap tahunnya. Mereka berikut yang dengan santer serta terus-terusan lakukan pemurnian Islam di Nusantara. Tentunya, sebagai mode buat mereka ialah praktek-praktek Islam yang digerakkan di Timur Tengah, di Jazirah Arab terutamanya yang waktu itu tengah tumbuh cepat pergerakan Wahhabi.

Hubungan dengan Wahabi

Jika dihubungkan dengan riwayat perubahan Islam di Timur Tengah, maka pada saat abad ke-18 sampai 19 adalah periode perubahan untuk gerakan Wahhabi di wilayah Arab. Wahhabisme sendiri adalah pergerakan pemurnian yang dicetuskan oleh Muhammad Abd al-Wahhab pada abad ke-18, menjadi tanggapan pada ajaran-ajaran Islam yang disintesiskan dengan ajaran tradisionil ditempat. Dia memandang praktik Islam semacam itu menjadi tingkah laku syirik atau politeisme. Pada awal abad ke-19, Wahhabisme masukkan ajaran-ajaran Ibn Taimiyah ke ajaran inti mereka serta praktik mengkafirkan muslim lainnya (takfir) yang sempat tidak diterima oleh Abd al-Wahhab malah dijadikan menjadi satu diantara praktik mereka yang menonjol. Sampai sekarang ini juga, pergerakan ini bersikukuh jika umat Islam yang tidak terima atau menjalankan doktrin-doktrin mereka ialah kafir.

Kelahiran abangan di Jawa serta perubahan Wahhabi di Arab yang bertepatan menguatkan anggapan jika ada banyak jamaah haji Indonesia yang pulang dari tanah suci membawa doktrin Wahhabi untuk selanjutnya diaplikasikan di Jawa. Penerapan semacam ini yang selanjutnya menimbulkan dikotomi abangan serta putihan di Jawa, sebab menurut Ricklefs golongan abangan merupakan orang-orang menjalankan ibadah yang dicampurkan dengan kebiasaan yang dipandang oleh orang putihan menjadi bidah serta sesat. Karena itu satu diantara misi penting mereka ialah meluruskan praktek-praktek Islam lokal yang dikerjakan oleh golongan abangan.

Mengembangnya Polarisasi

Dikotomi pada kelompok putihan serta kelompok abangan dalam memeluk Islam bukan sekedar tergambarkan dalam praktik keagamaan, tapi pun menggambarkan ketidaksamaan sosial yang lebih umum. Bangsa putihan biasanya lebih kaya, aktif dalam perdagangan atau perusahaan, mengenakan pakaian lebih baik, mempunyai rumah yang lebih baik, terlihat lebih baik dalam tatakrama, menjauhi opium, judi, menjalankan rukun Islam, serta lebih memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak-anak mereka.

Selain itu golongan Abangan lebih tertarik pada ritual-ritual yang terkait dengan alam serta jalinan sosial antar manusia. Jadi walau mereka lebih miskin, akan tetapi lebih aktif dalam kegiatan yang terkait dengan kebiasaan seperti slametan, pertunjukkan wayang serta gamelan dibanding menjalankan rukun Islam serta memperlihatkan kesalehan agama. Tingkah laku abangan ini sering menyebabkan perseteruan antar kelompok, sebab banyak juga kelompok putihan yang memandang pertunjukan wayang menjadi suatu yang terlarang dalam ajaran Islam.

Abangan serta putihan ialah dunia yang berlainan keduanya. Mereka dibedakan berdasar pada kelas sosial, penghasilan, pekerjaan, busana, pendidikan, sopan santun, kehidupan budaya, serta metode dalam membesarkan anak-anak. Ketidaksamaan ini makin berkembang sampai merambah pada sektor ekonomi yang mencakup (perdagangan, peminjaman uang, serta hutang). Selanjutnya kebutuhan mereka yang sama-sama bertentangan dengan gampangnya menyebabkan ketidaksukaan serta perseteruan.

Pada awal abad ke-20, identitas-identitas Jawa yang saling bertentangan ini kemudian dilembagakan dalam organisasi-organisasi moderen dan utamanya politik. Sesudah itu mereka jadi lebih kaku serta konfliktual.

Terkait dengan paparan diatas, seharusnya perpecahan pada golongan abangan dan putihan bisa dijadikan menjadi pelajaran pada saat sekarang, supaya kerukunan serta toleransi yang sudah jadi jati diri masyarakat Indonesia terus terbangun. Tanpa adanya kesadaran pada peristiwa masa lampau, maka bangsa ini selanjutnya cuma akan terjerat pada ego masing-masing yang tidak memberikan faedah apa pun buat perubahan negara ini. Ketidaksamaan aliran serta praktik keagamaan semestinya disikapi melalui cara yang bijak. Sikap-sikap arogan yang memandang golongannya sangat suci atau benar, dan memandang kelompok lainnya lebih rendah semestinya dijauhi. Dengan kedewasaan sikap itu, maka Islam Indonesia bisa bersemai kembali dengan jati diri aslinya yang penuh toleransi serta menjunjung tinggi persatuan.

Awal Mula Kelahiran Kalangan Abangan dan Bentuk Polarisasi Islam di Jawa

Warna Kain Kiswah dari Masa ke Masa dan Kejadian Terbakarnya
Kiswah atau penutup Ka’bah bukan sekedar memiliki fungsi menjadi ‘selimut’, tapi juga mempunyai unsur estetika yang tinggi sekali serta diakui. Sangat banyak kisah yang mengatakan warna dari kiswah.

Sekurang-kurangnya ada tujuh kisah yang mengatakan macam warna kiswah, yakni salah satunya yait coklat, merah, putih, kuning, hijau, hitam, serta warna keemasan.

Masing-masing warna ini sempat jadi warna penting kiswah dalam catatan riwayat. Namun warna yang sangat mendominasi ialah warna hitam, sampai saat ini.

Kombinasi warnanya dapat berubah-ubah, kadang penuh satu warna, atau dua warna yakni warna dasar serta warna sekunder untuk pemanis. Seperti yang terlihat saat ini, warna keemasan menjadi warna untuk teks ayat Alquran, sedang warna dasarnya ialah warna hitam.

Warna merah serta putih sempat juga di gabung menjadi warna kiswah saat memakai kain dari Yaman.

Brokat serta sutra adalah bahan yang seringkali dipakai untuk kiswah. Umumnya kiswah tersebu terbagi dalam beberapa kain yang disusun serta dibagian teratas ialah kiswah yang bertuliskan ayat-ayat Alquran.

Perubahan kiswah memang sebelumnya tidak ada ketetapannya, akan tetapi terakhir kiswah ditukar tiap-tiap tahun sekali. Umumnya kiswah ditukar pada 10 Muharram, awal Rajab, 27 Ramadhan, hari tarwiyah, atau saat 10 Dzulhijjah.

Pada saat Rasulullah SAW serta umat Islam menaklukkan kota Makkah, Rasulullah memilih tidak merubah kiswah yang ditempatkan oleh Suku Quraish serta masih mempertahankannya.

Kiswah itu ditukar saat terbakar karena seseorang wanita yang membakar dupa di seputar Ka’bah.

Warna Kain Kiswah dari Masa ke Masa dan Kejadian Terbakarnya

Sejarah Pembangunan Kabah dari Waktu ke Waktu
Kabah merupakan salah satu simbol yang sangat penting bagi umat Islam. Kabah bukanlah benda yang disembah tetapi merupakan tempat ibadah dan kiblat bagi umat Islam. Kabah hanyanyalah sebuah bangunan suci yang dibuat oleh manusia.

Dalam satu riwayat menyebutkan bahwa kabah bangunan yang pertama kali dibangun oleh Adam kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Syist. Ketika terjadi banjir besar di masa Nabi Nuh, kabahpun ikut rusak dan hilang terbawa air banjir. Kemudian di zaman Nabi Ibrahim barulah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangunnya kembali. Ibnu Katsir berpandangan bahwa riwayat ini beradal dari Bani Israil (ahli kitab), bukan berasal dari Rasulullah saw.

Kabah yang dibuat kembali oleh Nabi Ibrahim itu mengalami kerusakan saat kabilah Amaliq berkuasa.

Kabah yang dibuat Nabi Ibrahim sempat rusak pada saat kekuasaan Kabilah Amaliq. Kabah dibuat kembali sesuai dengan perancangan yang dibikin Nabi Ibrahim tanpa menambahkan atau pengurangan. Waktu dikuasai Kabilah Jurhum, Kabah pun alami rusaknya serta dibuat kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibikin berdaun dua serta digembok.

Di waktu Qusai bin Kilab, Hajar Aswad pernah hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar serta ditanam dalam suatu bukit. Qusai merupakan orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengurus Ka'bah setelah Nabi Ibrahim. Di waktu Qusai ini, tinggi Ka'bah ditambah jadi 25 hasta serta dikasih atap. Sesudah Hajar Aswad diketemukan, lalu disimpan oleh Qusai, sampai waktu Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada saat Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada tempatnya.

Dari waktu Nabi Ibrahim sampai ke bangsa Quraisy terhitung sekitar 2.645 tahun. Pada waktu Quraisy, ada wanita yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah. Kiswah Ka'bah pun ikut terbakar karena itu sehingga mengakibatkan kerusakan bangunan Ka'bah. Selanjutnya, pernah terjadi pula banjir yang menambah rusaknya Ka'bah. Peristiwa kebakaran ini yang disangka membuat warna Hajar Aswad yang sebelumnya putih permukaannya kemudan berubah menjadi hitam.

Untuk membangun kembali Kabah, bangsa Quraisy membeli kayu sisa kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal yang dimiliki oleh bangsa Rum/Romawi. Kayu kapal itu lalu dipakai untuk atap Kabah serta tiga pilar Kabah. Pilar Kabah dari kayu kapal ini tertulis digunakan sampai 65 H. Potongan pilarnya pun tersimpan di museum.

Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka'bah pun terbakar. Peristiwanya kala tentara dari Syam menggempur Makkah pada 681 Masehi, yakni di waktu penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang artinya merupakan keponakan Aisyah.

Kebakaran pada saat itu menyebabkan Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.

Untuk membuat kembali, seperti saat-saat awal mulanya, Kabah diruntuhkan lebih dulu. Abdullah Az-Zubair membangun kembali Ka'bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu kembali dekat pojok Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair menempatkan pecahan Hajar Aswad itu dengan diberikan penahan perak. Yang terpasang saat ini ialah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, serta ambar.

Jumlah pecahan Hajar Aswad diprediksi mencapai 50 butir.

Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi mengirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah ke lima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahu jika Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka'bah serta masukkan Hijir Ismail ke bangunan Ka'bah.

Hajjaj ingin kembalikan Kabah seperti di waktu Quraisy; satu pintu serta Hijir Ismail ada di luar bangunan Ka'bah. Jadi, oleh Hajjaj, pintu ke-2 yang ada di samping barat dekat Rukun Yamani ditutup kembali serta Hijir Ismail dikembalikan seperti sebelumnya, yaitu ada di luar bangunan Ka'bah.

Namun, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal sesudah tahu bahwa Ka'bah di waktu Abdullah bin Az-Zubair dibuat berdasar pada hadis riwayat Aisyah. Di masa selanjutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid ingin mengembalikan bangunan Ka'bah sama dengan yang dibuat Abdullah bin Az-Zubair sebab sama dengan keinginan Nabi. Akan tetapi, Imam Malik menasihatinya supaya tidak membuat Ka'bah menjadi bangunan yang senantiasa dirubah sesuai dengan kehendak tiap-tiap pemimpin. Bila itu berlangsung, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati Umat Islam

Pada 1630 Masehi, Kabah rusak karena diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai dengan bangunan Hajjaj bin Yusuf sampai bertahan 400 tahun lamanya pada saat pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang mengawali proyek pertama perluasan Masjidil Haram

Sejarah Pembangunan Kabah dari Waktu ke Waktu

Al-Jahiz: Bapak Teori Evolusi dalam Islam
Abu Uthman bin Bahr al-Kinani al-Basri, atau juga dikenal sebagai Al-Jahiz, adalah seorang penulis dan pemikir Muslim keturunan Ethiopia. Ia lahir pada 776 di Basra, kota terbesar kedua di Irak. Meskipun keluarganya sangat miskin, namun tidak menghalangi Al-Jahiz untuk menuntut ilmu dan menghadiri berbagai tempat belajar yang membahas berbagai topik seperti puisi, filologi, dan leksikografi Arab. Pengetahuan yang diperoleh dan keinginannya untuk belajar yang membuatnya menghasilkan lebih dari dua ratus buku, namun sayangnya hanya tiga puluh dari buku-buku itu yang selamat.

Buku paling terkenal yang ditulis oleh Al-Jahiz adalah Kitab al-Hayawan (Kitab Hewan). Buku multi-volume ini tidak hanya menggambarkan lebih dari 350 jenis hewan, tetapi juga terdiri di dalamnya terdapat puisi pra-Islam, pengamatan pribadi, humor, cerita-cerita sejarah dan pengaruh teks zoologi Aristoteles. Meskipun Kitab Hewan terdiri dari berbagai macam subjek, sejumlah besar informasi ilmiah yang diberikan bernilai tinggi. Al-Jahiz memperkenalkan konsep evolusi biologis dalam buku ini. Setelah mengamati binatang dan serangga, al-Jahiz sampai pada kesimpulan bahwa, pasti ada beberapa mekanisme yang memiliki pengaruh pada evolusi hewan, dan ini 1000 tahun sebelum Darwin melakukannya. Al-Jahiz menulis tentang tiga mekanisme utama; perjuangan untuk eksistensi, transformasi spesies menjadi satu sama lain, dan pengaruh faktor lingkungan.

Al-Jahiz berpandangan bahwa "Hewan melakukan segala macam upaya untuk hidup, untuk mendapatkan sumber daya, untuk menghindari dari pemangsa, dan untuk berkembang biak." Dia melanjutkan bahwa, "Faktor-faktor lingkungan mempengaruhi organisme dalam mengembangkan karakteristik baru untuk memastikan kelangsungan hidup, sehingga mengubah mereka menjadi spesies baru. Hewan yang bertahan hidup dengan berkembang biak dapat meneruskan karakteristik mereka kepada keturunannya."

Jelas baginya bahwa selalu ada satu spesies yang lebih kuat dari yang lain, dan bahwa untuk bertahan hidup, spesies harus mengembangkan karakteristik baru. Karakteristik baru ini membantu spesies beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan menciptakan spesies baru.

Meskipun mekanismenya ilmiah, Al-Jahiz menambahkan aspek spiritual ke dalamnya. Pembaca harus menghargai kompleksitas dan keajaiban dari ciptaan Tuhan:

“Tikus keluar untuk mengambil makanannya, dan dia mencari dan menangkapnya. Ia memakan beberapa hewan inferior lainnya, seperti binatang kecil dan burung kecil ... ia menyembunyikan bayinya di terowongan bawah tanah yang disamarkan untuk melindungi mereka dan dirinya sendiri terhadap serangan ular dan burung. Ular sangat suka makan tikus. Adapun ular, mereka membela diri dari bahaya berang-berang dan hyena; yang lebih kuat dari diri mereka sendiri. Hyena dapat menakuti rubah, dan yang terakhir menakuti semua hewan yang lebih rendah darinya. Ini adalah hukum bahwa beberapa eksistensi adalah makanan untuk yang lain... Semua hewan kecil memakan yang lebih kecil; dan semua hewan besar tidak bisa makan yang lebih besar. Laki-laki dengan satu sama lain seperti binatang... Tuhan menciptakan hidup beberapa tubuh..."

Mahakarya al-Jahiz


Tetapi Kitab Hewan bukan satu-satunya karya besar yang ditulis oleh al-Jahiz. Kitab Pelit (The Book of Misers), misalnya, juga sangat populer. Ini adalah ensiklopedia sosial, sastra dan sejarah. Dia juga menulis buku-buku tentang psikologi manusia, bahasa dan tata bahasa. Semuanya ditulis dalam bahasa yang sangat mudah dipahami oleh orang awam. Dia terkadang menambahkan anekdot lucu dan kata-kata lucu dalam karya ilmiahnya.

Pada tahun 868 putra penjual ikan yang malang itu meninggal di Basra dan meninggalkan oeuvre yang mengesankan. Tidak jelas bagaimana dia meninggal, tetapi tidak ada keraguan bahwa karyanya dulu memang revolusioner. Terkadang ia disebut sebagai "bapak teori evolusi".

Al-Jahiz: Bapak Teori Evolusi dalam Islam

Surga merupakan salah satu tempat yang dalam gambaran al-Quran sebagai tempat yang sangat indah dan mempesona. Di dalamnya terdapat semua kemewahan, dan kesenangan yang tiada tara. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (Q.S. As-Sajdah: 17). Kemudian di ayat lain Allah berfirman "Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya" (Q.S. Al-Baqarah: 25).

Banyak ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah yang menggambarkan tentang surga. Lalu siapakah orang yang akan masuk surga itu? Pada dasarnya semua orang bisa saja masuk dan menikmati janji Allah ini, namun selama berada di dunia ini harus menjadi orang shaleh. Dalam pemahaman penulis orang shaleh adalah mereka yang mampu membangun hubungan baik dengan Allah, membangun hubungan baik dengan manusia, dan membangun hubungan baik dengan alam. Orang shaleh bukanlah orang-orang yang hanya menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik, kepentingan kelompok, atau bahkan kepentingan individu. Mereka mereka yang menggunakan simbol agama untuk kepentingannya ini tak sedikitpun dirindukan surga.

Lalu siapa saja orang-orang yang dirindukan surga itu? Sebenarnya banyak sekali kriteria orang-orang yang dirindukan surga, diantaranya adalah sebagai berikut:

Orang yang Suka Membaca dan Mengamalkan Al-Qur`an


Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam, dan merupakan sumber hukum tertinggi. Siapa saja umat Islam yang membacanya akan mendapatkan pahala, apalagi melaksanakan isinya. Selain itu suatu saat di akhirat kelak, al-Quran akan memberi syafaat kepada mereka yang selalu membaca isinya dan mengamalkannya.

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu 'anhu berkata: 'Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya" (H.R. Muslim).

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ ٢٩ لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ ٣٠ 

Terjemahannya: 29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi 30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.S. Fathir: 29-30)

Orang yang Suka Menjaga Lisan/Mulutnya


Menjaga lisan bukan perkara yang mudah, bahkan lidah lebih tajam daripada pedang. Lidah dapat menembus dan menghancurkan peradaban yang aman dan tentram. Lisan dapat merusak hubungan sesama manusia, olehnya itu menjaga lisan merupakan salah satu perintah dalam Islam.

Allah memerintahkan kepada kita untuk berbicara dengan perkataan-perkataan yang benar saja, jangan berdusta atau membicarakan orang lain. Dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 70-71 Allah swt. berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Dari Sahl bin Sa'id bahwa Rasulullah bersabda.

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga" (H.R. Bukhari)

Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggut adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kaki adalah kemaluan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (H.R. Al-Bukhari)

Orang yang Suka Memberi Makan Orang yang Lapar


Bagaimana rasanya jika anda dalam keadaan lapar? Pasti merasa tubuh sangat tidak enak, badan lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada energi di dalam tubuh. Lapar juga bisa mendatangkan berbagi macam penyakit karena sistem imun dalam tubuh tidak kuat. Begitulah kira-kira gambaran orang miskin yang jarang makan, bahkan ada yang makan dua hari sekali atau bahkan lebih dari itu.

Olehnya itu memberi makan dalam artian membantu orang yang sedang susah menjadi salah satu perintah bagi umat Islam untuk melaksanakannya. Karena di dalam rezeki yang kita dapatkan ada hak orang lain yang harus dikeluarkan melalui sedekah, infaq, dan zakat.

Memberi makan orang yang lapar akan mendatangkan pahala yang sangat banyak dan merupakan perbuatan mulia yang akan mendapatkan balasan berupa surga di akhirat kelak, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadis rasulullah sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu ia berkata, saya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika aku melihatmu maka jiwaku akan tenang dan hatiku merasa senang. Beritahukanlah kepadaku tentang segala sesuatu". Rasululullah saw. bersabda, "Segala sesuatu diciptakan dari air". Saya berkata lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang jika aku kerjakan maka aku akan masuk surga?" Rasulullah saw. menjawab, "Berilah makan kepada orang-orang miskin, tebarkanlah salam, sambunglah tali silaturrahim, dan shalatlah pada waktu malam pada saat manusia sedang tidur. Maka kamu akan masuk surga dengan selamat". (H.R. Thabrani)

Dalam hadi lain Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا. فَقَالَ أَبُوْ مَالِكْ الْأَشْعَرِى: لِمَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَبَاتَ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di surga ada sebuah kamar, yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya. Abu Malik al-Asy'ari bertanya, "Untuk siapa kamar itu wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Untuk orang yang berbicara dengan perkataan yang bagus, orang yang memberi makan orang miskin, dan orang yang bangun malam ketika manusia sedang tertidur. (H.R. Thabrani)

Kedua hadis di atas mengisaratkan bahwa, selain melakukan hubungan baik dengan Allah yaitu dengan melaksanakan shalat malam maka juga harus melakukan hubungan baik dengan manusia, dengan cara saling membantu antara satu dengan yang lain. Membantu di sini maksudnya adalah dalam hal kebaikan, seperti memberi makan orang yang sedang kelaparan. Jika hal ini dilakukan maka suatu saat di akhirat kelak Allah akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik, sebagaimana hadis Rasulullah saw di bawah ini.

“Siapa pun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan, pada hari Kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Siapa pun mukmin yang memberi minum mukmin yang kehausan, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya minum dari minuman surga. Siapa pun mukmin yang memberi pakaian mukmin lainnya supaya tidak telanjang, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya pakaian dari perhiasan surga.” (H.R. Tirmizi).

Dalam pandangan Imam Ibnu Hajar yang berkata bahwa, "jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yg besar." (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari 5: 42).

Orang yang Senantiasa Berpuasa di Bulan Ramadhan


Bepuasa di bulan ramadhan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 183 bahwa setiap orang mukmin diwajibkan untuk berpuasa dengan tujuan untuk bertaqwa kepada Allah. Ayat selanjutnya menyebutkan bahwa kewajiban jika ada orang yang sakit atau dalam perjalanan lalu tidak dapat berpuasa maka wajib digantikan pada hari-hari lain di bulan yang lain.

Banyak dalil yang menyebutkan bahwa dengan berpuasa di bulan ramadhan maka, akan mendapatkan balasan kebaikan yang sangat banyak dari Allah bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. di bawah ini.


إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ - رواه البخاري ومسلم

"Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Lalu dikatakan, 'Dimana orang-orang yang berpuasa?' Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak seorang pun masuk lagi." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Demi diri Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak wangi (kasturi)." (HR. Abu Dawud)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ - رواه البخاري

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب جهنم وسلسلت الشياطين - رواه البخاري ومسلم

"Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia yang di dalamnya terdapat begitu banyak kebaikan, bahkan jika umat Islam tau apa yang ada di dalam bulan itu maka, mereka akan menginginkan semua bulan adalah bulan ramadhan. Maka di bulan ramadhan pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan semua setan dibelenggu. Di bulan ramadahan ini setiap orang yang berbuat kebaikan akan diberi pahala yang berlipat ganda, begitu pula sebaliknya. Olehnya itu marilah sama-sama kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan agar dirindukan surga.

Siapa Saja Orang-orang yang dirindukan Surga?

Subscribe Our Newsletter