Coretanzone: Keluarga

    Social Items

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga
Pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga memiliki peranan sangat penting, karena anak sejak berada dalam kandungan dan sejak lahir berada dalam lingkungan keluarga, sehingga kedua orang tua yang pertama akan menjadi contoh baginya dan yang menjadi guru pertama dalam hidupnya. Karakter yang ditampilkan orang tua akan menjadi contoh bagi anak, sehingga dalam berperilaku sudah sepantasnya orang tua berhati-hati, agar perilaku yang baik saja yang ditularkan kepada pembentukan karakter anak.

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.

Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

Orang Tua Dapat Mengerti Lingkungan Yang Baik Untuk Anak


Seorang anak tentunya tidak langsung dapat mengenal alam sekitar mengerti dan memahami segalanya dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan pendidikan keluarga, pendidikan kelembagaan dan pendidikan di masyarakat. Keluarga sebagai komunitas pertama memiliki peran penting dalam pembangunan mental dan karakteristik sang anak. Di dalam keluarga, anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Interaksi yang terjadi bersifat dekat dan intim, segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya, dan sebaliknya apa yang didapati anak dari keluarganya akan mempengaruhi perkembangan jiwa, tingkah laku, cara pandang dan emosinya. Dengan demikian pola asuh yang diterapkan orang tua dalam keluarganya memegang peranan penting bagi proses interaksi anak di lingkungan masyarakat kelak.

“Kehidupan keluarga yang senantiasa dibingkai dengan lembutnya cinta kasih dan nuansa yang harmonis, dari sana akan hadirlah individi-individu dengan tumbuh kembang yang wajar sebagaimana diharapkan. Sebaliknya keluarga yang dinding kehidupannya dipahat dengan sentakan-sentakan, broken home, broken heart, perlakuan sadis dan kekejaman tercerai berainya benang-benang kasih sayang dan jalinan cinta, maka keluarga beginilah yang bakal alias cikal bakal menjadi suplayer limbah-limbah kehidupan sosial dan sampah-sampah masyarakat yang menyedihkan.

Tidak dapat dipungkiri, jika dasar pendidikan yang menjadi landasan dan tongkat estafet pendidikan anak selanjutnya adalah pendidikan keluarga. Apabila pondasi pendidikan dibangun dengan kuat maka pembangunan pendidikan selanjutnya akan mudah dan berhasil dengan baik, sebaliknya jika pondasi pendidikan lemah dan berantakan, sulit kiranya membangun pendidikan selanjutnya.

Gilbert Highest dalam Jalaludin mengatakan bahwa: kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur kembali, anak-anak  menerima pengaruh dan pendidikan  dari lingkungan keluarga (Gilbert Highest, 1961: 78).

Dari apa yang diungkapkan Gilbert, kita dapat mengetahui memang pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dari keluarga, bagaimana orang tua berprilaku akan selalu menjadi perhatian anak, dan akan ditanamkan di benaknya. Anak lahir berdasarkan fitrahnya. Jika pendidikan yang baik diterapkan orang tuanya maka banyak hal baik yang dapat ditiru anak tersebut dalam prilakunya. Lain halnya dengan anak yang dididik dengan cemoohan dan ejekan dari setiap kegagalan yang ia dapati, maka anak tersebut akan selalu hidup dalam ketakutan dan kegelisahan disebabkan hasil perbuatannya yang tidak memuaskan orang tuanya.

Dalam keluarga, seorang anak akan mendapati hal-hal yang tidak didapati di lingkungan formal maupun lingkungan masyarakat, seperti perhatian yang penuh, kasih sayang, belaian hangat kedua orang tua dan banyak hal lain lagi. Berbeda dengan lingkungan sekolah dan masyarakat, keluarga menjadi motor penggerak keberhasilan anak dalam mencapai inspirasi peergaulannya dengan teman-temannya serta lingkungan masyarakat sekitar. Orang tua yang menanamkan rasa kasih sayang dalam keluarga akan menimbulkan keharmonisan dalam interaksi dengan sang anak. Segala permasalahan yang dijumpai anak akan mudah diketahui melalui pendekatan secara personal.

Seorang anak akan merasa termotivasi jika hasil jerih payah dan prestasinya dihargai orang tua, sehingga keharmonisan hubungan keduanya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak tersebut dalam peningkatan prestasi belajar. Akan tetapi terkadang kita jumpai orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak dapat memenuhi keinginan orang tuanya itu. Hal ini akan menimbulkan rasa keterpaksaan pada diri anak baik dalam bidang prestasi, tugas maupun kewajibannya. Rasa keterpaksaan itu akan mengakibatkan timbulnya rasa malas dan mematikan rasa kesadaran diri dalam berbuat. Banyak kita dapati seorang anak takut gagal dalam berprestasi, sebab dampak yang akan didapati dari kegagalannya berupa hukuman maupun siksaan dari orang tuannya. Bagi sebagian anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuannya, berprestasi adalah sesuatu hal yang tidak penting baginya sebab segala tindakan yang ia lakukan tidak pernah dihiraukan oleh orang tuanya, sehingga berprestasi ataupun tidak merupakan suatu hal yang lumrah dan biasa saja.

Syamsu Yusuf mengatakan: “Keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik:  (a) saling memperhatikan dan mencintai (b) bersikap terbuka (c) orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya (d) ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga  (e) mampu berjuang mengatasi hidupnya (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi (g) orang tua melindungi/mengayomi anak (h) komunikasi antara anggota keluarga berlangsung dengan baik (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dalam keluarga terjadi proses interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Proses pengasuhan tersebut seperti mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kematangan sesuai yang diharapkan. Penggunaan pola asuh tertentu memberikan dampak dalam mewarnai setiap perkembangan terhadap bentuk-bentuk prilaku tertentu pada anak, seperti prilaku agresif yang sering terjadi.

Keharmonisan dan rasa demokrasi tidak selalu seperti yang kita harapkan, hingga saat sekarang ini masih banyak orang tua yang menerapkan kekerasan dalam mendidik anaknya. Mereka beranggapan pendidikan yang keras akan dapat mewujudkan keinginan dan harapannya, seperti prestasi, budi pekerti dan lain-lain. Namun sebaliknya kenyataan yang kita jumpai justru bertolak belakang dengan harapan-harapan yang diinginkan. Anak yang dididik keras akan timbul rasa tertekan dan takut, ada juga anak yang diberi kebebasan sehingga anak tersebut malas dan enggan untuk mencapai prestasi yang lebih baik, sebab tidak adanya perhatian dan tanggapan dari orang tuannya atas apa yang yang diraihnya.

Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

1) Memelihara dan membesarkan anak. 2) Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya. 3) Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. 4) Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

“Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

Alat pendidikan karakter dalam keluarga


Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki peranan penting dalam membangun sikap anak yang nantinya akan ditampilkan dalam berbagai lingkungan dimana anak itu berada, sehingga pendidikan karakter dalam keluarga bukan saja mengenai arahan dan aturan orang tua secara otoritar kepada anak tetapi orang tua perlu memahami kondisi dan kemauan anak, sehingga bisa menyesuaikan antara keduanya, kalau tidak akan menyebabkan pada rendahnya keinginan anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga

Tips mengatasi anak yang susah diatur menurut hukum Islam sebagaimana firman Allah swt yang artinya; "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS Al Anfaal:8:28). Ayat tersebut menerangkan dengan jelas, jika harta dan anak-anak yang dimiliki oleh seorang hamba adalah cobaan. Oleh sebab itu sebagai hamba harus bisa menerima dan mengaturnya dengan baik, untuk kebajikan sehingga dapat meningkatkan pahalanya di sisi Allah.

Menjadi orang kaya itu ujian dan memiliki anak yang tidak bisa diatu itu juga cobaan, semua sama-sama rahmat Allah hanya beda rasanya di hati. Anak adalah amanat orangtua yang dititipkan Allah. Apapun keadaannya dan kesulitan yang dihadapi dalam membesarkan dan merawatnya, itu adalah kewajibannya.

Namun keadaan sekarang sudah berubah, pola asuh dalam mendidiknya juga sudah lain harus mengikuti perkembangan jaman. Bila Anda sebagai orangtua tetap mempertahankan ego dan keyakinannya dalam mendidik seorang anak, maka bersiaplah menerima pertentanganya, mereka pasti melawan Anda.

Memang sedih rasanya, sebab tidak ada lembaga atau yayasan manapun yang mengajarkan tentang pendidikan orangtua kepada anak. Anda belum terlambat jika mendapati anak yang susah diatur oleh orangtuanya. Menurut hukum Islam berikut ini masih dapat Anda kerjakan, agar sifat anak-anak berubah, dan masa depannya juga pasti menjadi baik.

1. Rajin Mendoakan Anak


Rajin mendoakan kebahagiaan dan kebaikannya setiap waktu tak kenal putus asa, meski pada kenyataanya tiap saat harus menguras airmata, menahan sabar menghadapi ulahnya. Orangtua menjadi surga anak, bermilyar keindahan serta kehangatan ada di sana. Maka jadilah seperti demikian bagi putra-putri Anda.

2. Tidak Dapat Menjadi Contoh Yang Baik


Sebagai orangtua seharusnya menjadi contoh yang baik. Tanyakan pada diri sendiri, mengapa seorang anak sampai tidak bisa diatur? Mungkin saja kesalahan terletak pada sikap orangtuanya. Misalnya anak yang kecanduan main gadged hingga melupakan waktu belajarnya disekolah, bila diingatkan marah, tidak bisa disiplin. Itu semua tidak lepas dari sikap Anda sendiri. Terlalu memanjakan, memberi kebebasan bermain gadged hingga, anak melupakan tugas dan kewajibannya untuk belajar. Atau bisa jadi meniru dari gaya Anda, di mana seharian menghabiskan waktu di depan komputer, sibuk bermain sosmed, padahal Anda bukan pebisnis on line.

3. Mencoba Memahami Dunianya


Anak di masa usia tertentu akan mengalami pencarian jati diri, terjadi pada saat seorang anak mengalami perubahan dari masa anak menjadi remaja. Sebagai orangtua harus dapat memahami ini, bahwa ia punya dunia sendiri. Akan lebih baik jika Anda mau sedikit mengerti keinginan mereka, agar dapat meminimalisir kesalah-pahaman, sehinga mereka bisa berpikir tentang tanggung-jawabnya kelak di kemudian hari.

4. Menjadi Sahabat


Menjadi sahabat yang dimaksud di sini yaitu Anda memosisikan diri layaknya teman. Anak punya kebebasan dalam berbicara, menyampaikan pendapat termasuk juga keluh-kesahnya kepada orangtua tanpa perlu merasa takut dan dihakimi, jika kebetulan berbuat kesalahan.

5. Bersikap Lembut Tapi Tetap Tegas


Sebagai wujud kasih sayang orangtua kepada anak, sesekali memanjakan dengan meluluskan permintaan anak tidak masalah, asalkan Anda tahu benar kapan dan dalam keadaan apa permintaan tersebut dipenuhi. Selain itu Anda juga mampu bersikap tegas menolak, bila dirasa tidak baik bagi diri sang anak. Bersikap lembut tapi tetap tegas, nantinya akan mengajari anak punya prinsip kuat dalam hidup.

Tips Mengatasi Anak yang Susah Diatur Menurut Ajaran Islam

5 Jawaban Mengapa Orang Tua Tidak Boleh Menyia-nyiakan Seorang Anak
Allah swt berfirman ,”Dijadikanlah indah pada pandangan manusia kecintaan yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak. Dari jenis perak, emas, kuda pilihan, binatang-binatang, ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang paling baik.” (Surat Ali- Imran: 14)

Mengutip ayat tersebut di atas, jelas Allah juga membicarakan anak sebagai salah satu kesenangan dunia. Ini berkaitan erat tentang keberadaannya dalam kehidupan seseorang. Bagaimana sebuah jalinan rumah tangga yang utuh bisa hancur. Tersebab yang menjadi salah satu pemicunya adalah soal anak yang belum ada.

Anak adalah amanat dan titipan Allah swt. Yang kehadirannya tidak boleh diabaikan. Berikut adalah 5 alasan mengapa orang tua tidak boleh menyia-nyiakan seorang anak.

1. Sebagai Ladang Amal

Seperti amalan baik lain, seorang anak juga merupakan ladang amal bagi orang tua semasa masih di dunia. Semua bayi terlahir suci tanpa dosa. Yang menghitam-memutihkannya adalah pengasuhan dan didikan orang tua. Oleh sebab itu mereka bisa menjadi surga sekaligus neraka. Jika sebagai orang tua tidak pandai dalam merawat. Sebagi tabungan di akhirat, karena itu wajib dijaga dan dipelihara sebaik mungkin, agar tak menyesal nanti. Baik ketika masih berada di dunia maupun nanti.

2. Penyambung Cita-cita Orang Tua

Anda pasti dalam hidup mempunyai keinginan dan impian indah. Adakalanya tercapai dan tidak. Dan dengan memiliki anak, membuat berpkiran positif. Sebab Anda tidak tahu maksud sebenarnya dari Allah swt terhadap diri Anda. Siapa tahu apa yang Anda perjuangkan itu bukan hak Anda, melainkan hak dari anak-anak? Menerima kenyataan bahwa yang diidamkan, menjadi kepunyaan anak esok ketika dewasa, akan membuat hati tenang nyaman. Meskipun begitu tetap sebagai hamba yang meyakini adanya kekuasaan Allah, harus mau tetap berusaha tidak boleh putus asa dan menyerah.

3. Anak Sebagai Kebanggaan Orang Tua

Memiliki anak yang membanggakan, tentu harapan dan impian semua orang tua di dunia. Tapi mendapatkanya bukanlah perkara mudah. Sebagai orang tua Anda tidak saja harus bertangggung-jawab atas kehidupannya saja. Akan tetapi menjadi contoh dan panutan yang baik bagi mereka. Segala ucapan serta tindakan anak cermin dari didikan orang tuanya. Oleh sebab itu berusaha menjadi orang tua yang baik dan bijak, wajib dilakukan oleh semua orang tua. Jika ingin putra-putrinya mempunyai ahklakul kharimah.

4. Sumber Kekuatan

Anak menjadi sumber kekuatan orang tuanya, terutama bagi mereka yang masih meyakini bila anak lelaki itu harus kuat dan tangguh. Walaupun anak perempuan juga tidak boleh dibiarkan begitu saja. Saat orang tua telah renta sebab usia, anak-anak tumpuan kekuatan untuk melinduni dan menolong  orang tua di masa tua. Merupakan aset berharga, karenanya selagi masih anak-anak harus dirawat dengan baik dan benar.

5. Sebagai Penyejuk Sekaligus Penenang Hati

Anak dapat menyejukkan sekaligus menenangkan hati para orang tua. Ini bisa dirasakan benar bila memiliki anak rajin beribadah lagi menurut apa kata orang tua. Tidak bahagia dari mana melihat semua ini?

Menjadi orang tua itu sangat berat beban yang diemban, sebab di akhirat nanti kehadiran anak di sisinya juga akan jadi bahan pertanyaan Allah untuk dihisap. Bagiamana ia melindungi, merawat dan memperlakukan semasa masih di dunia. Memberi keseluruhan cinta dan tanggung-jawab atas masa depannya merupakan kewajiban semua orang tua yang ada di muka bumi ini.

5 Jawaban Mengapa Orang Tua Tidak Boleh Menyia-nyiakan Seorang Anak

Menurut Rasulullah, Inilah Kesalahan Kecil yang Biasanya dilakukan Istri
Selama ini tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa, terjadinya perpecahan keluarga ataurumah tangga tidak jauh dari kehadiran orang ketiga atau yang lebih keren saat ini dinamakan sebagai perebut laki orang (PELAKOR). Tapi tanpa disadari, tidak sedikit keluarga atau rumah tangga terpecah disebabakan dari hal sangat kecil seperti berkelakar atau lelucon kecil antara suami istri.

Sering terjadi saat suami dan istri berkelakar dan dalam percakapan, mereka biasanya menceritakan tentang teman mereka, baik secara sengaja maupun tidak. Ungkapan yang tadinya hanya lelucon atau candaan untuk menguji reaksi pasangan, berubah menjadi salah satu alasan perceraian suami istri.

Nabi sendiri tidak mengizinkan hal semacam ini dalam hubungan seuami istri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., "Jangan biarkan perempuan bergaul dengan perempuan lain, kemudian dia mencerikatak sifat wanita tersebut kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya (seorang teman istri)." (HR. Bukhari)

Larangan ini diartikan oleh ulama sebagai bagian dari antisipasi terhadap kerusakan rumah tangga. Hal ini pun mencerminkan pada permasalahan perceraian dimana saat sudah bercerai, mantan suami itu segera menikahi seorang rekan atau saudara dari istri, sebenarnya sebelumnya sang suami tidak pernah mengenalnya, kecuali melewati istrinya sendiri.

Dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad saw. menasihati seorang wanita, "Berhati-hatilah saat Anda duduk dengan suami Anda, lantas Anda menyatakan kepadanya bentuk anggota tubuh perempuan lain, atau sifat-sifat keindahan tubuhnya, kelembutannya, kecantikannya, seakan-akan dia telah muncul di hadapan suami kamu dan dia (suamimu) menatapnya. "

Sesuatu semacam ini terkadang dapat membuat suamimu tertarik kepadanya sebab setan sudah menguasai hatinya. Jadi, terdapat fitnah. Jiwanya tergoda guna menceraikanmu atau andai wanita yang kita tunjukan kepadanya (suami) sudah menikah, maka ia akan mengupayakan merusak hubungan perkawinannya dengan suaminya sampai-sampai ia bisa menikahinya.

Menurut Rasulullah, Inilah Kesalahan Kecil yang Biasanya dilakukan Istri

Pola Hubungan Sosial Suami Istri dalam Pengambilan Keputusan
Perbedaan posisi antara laki-laki dan peremuan dalam keluarga hanya sebagian disebabkan oleh alasan-alasan biologis misalnya fisik kuat atau lemah,tidak atau terlibat dalam kegiatan seperti mengandung, melahirkan, serta membesarakan bayi, sebagian lagi disebabkan oleh perbedaaan sosial dan budaya lingkungan keluarga itu,seperti siapa yang meraja dalam sistem itu (sistem patri atau matriarka!), siapa yang mengasuh dan mendidik anak, siapa yang mencari nafkah, siapa yang tampil ke depan pada kegiatan-kegiatan ritual, da sebagainya.

Sejak semula sudah di sadari, bahwa masalah mengenai pola pengambilan  keputusan dan pola wewenang antara pria dan wanita di dalam rumah tangga atau masyarakat yang lebih luas adalah lebih rumat karena segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kekuasaan adalah peka terhadap masalah konflik dan masalah pengamilan keputusan serta wewenang erat pula hubungannya dengan norma-norma.

Untuk setiap jenis keputusan, tumah tangga di kelompokkan dalam lima tingkat yang berkaisar dan “dominasi oleh istri (keputusan di buat oleh istri)” sampai kepada “dominasi oleh suami (keputusan dibuat oleh suami sendiri) seperti; (a) keputusan dibuat oleh seorang diri tanpa melibatkan sang suami, (b) keputasan dibuat bersama oleh suami istri, tetapi dengan pengaruh yang lebih besar dan pada istri, (c) keputusan dibuat bersama dan senilai oleh suami istri, (d) keputusan dibuat bersama oleh suami istri,tetapi dengan pengaruh suami lebih besar, dan (e) keputusan dibuat oleh suami seorang diri tanpa melibatkan sang istri.

Namun dalam hal ini peranan suami atau istri pada kedudukan atau posisi sebagai pengambilan keputusan dalam rumah tangga dan masyarakat dibagi kedalam beberapa bidang seperti yang dikatakan oleh Pudjiwati Sajogyo dalam Ihromi (1990):

Pola Hubungan Keluarga Dalam Kehidupan Sehari-hari


Yang paling penting yang harus dilihat dalam kaluarga adalah sebagaimana tingkat pendapat (income) dan tingkat pengeluaran (expenditure) rumah tangga tersebut dimana sangat mempengaruhi kehidupan kelurga itu sehari-harinya. Tingkat keputusan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari terdiri atas; (a) Makanan, berupa biaya hidup dan penentuan menu makanan, (b) perumahan terdiri atas pembelian dan peerbaikan, (c) pembelian pakaian, (d) biaya pendidikan, (e) Pembelian peralatan rumah tangga, dan (f) Perawatan kesehatan

Pola Hubungan dalam Pembentukan Keluarga


Rumah tangga merupakan suatu tempat yang pertama dimana anak belajar dan menerima norma-norma atau adat kebiasaan yang diwariskan oleh keluarganya atau masyarakat serta menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial didalam hubungannya didalam kelompok keluarga dimana seorang menjadi anggotanya. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tangkat keputusan yang berhubungan dengan pembentukan keluarga itu terdiri atas : (a) Jumlah anak (dalam arti kata sampai berapa jauh pemakaian alat-alat kontrasepsi). (b) Pengajaran atau kedisiplinan anak. (c) Pembagian tugas antar anak-anak. (d) Pendidikan.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan meruoakan lembaga pertama dan individu dalam masyarakat dan merupakan lembaga pertama dan individu yang terikat oleh norma-norma tertentu, keluarga jga mempunyai kebutuhan-kebutuhan baik jasmani, rohani maupun sosial.

Kebutuhan jasmani yang dimaksud yaitu segala sesuatu yang memenuhi keperluan fisik seseorang untuk dapat hidup. Dilihat dan kebutuhan tersebut ternyata ada kebutuhan yang mutlak terpenuhi dan sangat menentukan hidup atau matinya. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan primer seperti : sandang dan pangan. Dan kebutuhan sekunder, kebutuhan ini hanya melengkapi hidup keluarga.

Kebutuhan rohani adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kepuasan dan ketenteraman bagi seseorang maupun keluarga. Peranan jiwa sangat penting sebab merupakan motor dalam aspek perbuatan manusia. Dengan ketenangan dan ketenteraman jiwa akan memberikan kebahagiaan bagi keluarga. Untuk itu setiap keluarga mendambakan kebahagiaan harus selalu berusaha untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut.

Ditinjau dari segi kesehatan jiwa suami istri yang terikat dalam suatu perkawinan tidak akan mendapatkan jika kala dimana perkawinan hanya berdasarkan kebutuhan biologis dan materi semata tampa terpenuhi kebutuhan afeksional (kebutuhan mencintai dan dicintai,rasa kasi sayang,rasa aman, terlindungi, dihargai, diperhatikan dll.

Jika dam pembentukan suami istrimempunyai peranan yang sangat penting, dimana diketahui bahwa keluarga merupupakan sekelompok orang berdasarkan pertalian darah dan tanggung jawabterhadap anggotanya dan berusaha memelihara segala apa yang menjadi kebutuhannya.

Pola Hubungan Sosial Suami Istri dan Keluarga Dalam Kehiduapan Sehari-hari

Konsep Keluarga, Fungsi Keluarga, dan Peranan Wanita dalam Keluarga
Keluarga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan, keluarga yang baik akan membentuk anak yang baik pula, karena dari keluargala pertama kali anak mendapatkan pendidikan. Lalu apa pengertian keluarga dan bagaimana fungsinya?.

Pengertian Keluarga


Seorang individu keberadaannya tidak terlepas dari masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok, dimana aspek dan emosi dan biologi dari proses mental sebagai manusia memerlukan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan biologis. Untuk memenuhi kebutuhan biologis ini manusia mempunyai kecenderungan untuk membentuk pasangan-pasangan yang permanen atau lengkap. Pasangan ini terbentuk karena ada hubungan yang resmi yang disebut perkawinan.

Pengertian perkawinan menurut undang-undang RI  No. 1 Tahun 1974 dalam pasal yang berbunyi : "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."

Minhajuddin (1986) mengatakan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga .sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir batin disebabkan terpenuhnya keperluan lahir dan batinnya,sehinggga timbullah kebahagiaan, yakni kasi sayang antar keluarga.

Mengenai pengertian keluarga dikemukakan oleh Ernest W. Burges dan Harvey J. Locks yang dikutip oleh Tapi Omas Ihromi (1990); "keluarga adalah kesatuan dari sejumlah orang yang saling berinteraksi dan berkomunikasi dalam rangka menjalangkan perana sosial mereka sebagai suami, istri, anak-anak, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Peranan ini ditentukan dalam keluarga diperkuat oleh perasaan-perasaan, perasaan tersebut sebagai berdasarkan pengalaman dari masing-masing anggota keluarga".

Pendapat C. H. Cooley dalam Darna Wilo (1997) mengatakan bahwa keluarga adalah kelompok kecil dimana hubungan antara anggota-anggotanya erat sekali yang berdasarkan rasa kasih sayang dan cinta.

Menurut Soerjono Soekanto (1992),tujuan membentuk suatu keluarga adalah; (1) Megatur dan memberi ketentuan hak dan kewajiban perlindungan serta pembinaan terhadap anak-anak dan hasil perkawinan. (2) Saling memenuhi kebutuhan psikologis (ketentraman, kebahagiaan dan cinta kasih). (3) Saling memenuhi kebutuhan akan sandan, pangan, papan serta pendidikan, kesehatan dan keberadaan (ektensi) keluarga. (4) Saling memelihara hubungan baik antar kelompok kerabat  yang terjaring. Misalnya kelompok kerabat suami dan kelompok kerabat istri

Fungsi Keluarga


Konsep Keluarga, Fungsi Keluarga, dan Peranan Wanita dalam Keluarga

Setiap keluarga mempunyai fungsi yang pada umumnya adalah; (1) Sebagai kesatuan biologis, ada fungsi ini keluarga mempunyai tujuan untuk melansungkan keturunan dan menciptakan penerus.(2) Sebagai kesatuan sosial, Sebagai suami istri setelah dikaruniai anak berubah menjadi suatu masyarakat kecil yang merupakan satu kesatuan kecil. Kesatuan kecil itu bertujuan untuk menciptakan hubunga sosial antara anggota keluarga dengan tanggung jawab dan masing-masing anggota. (3) Sebagai kesatuan ekonomi, antara anggota keluarga perlu terdapat saling pengertian dan kerja sama dalam mengatur kegiatan yang menghasilkan. Semua aktif berpartisipasi dalam usaha kecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. (4) Sebagai kesatuan budaya, keluarga berfungsi memelihara adat istiadat, tata cara kelakuan dalam keluarga yang diperlihara dan dipertahankan secara turun temurun. (5) Sebagai kesatuan pendidikan Keluarga merupakan lembaga pertama yang bertugas memberikan pendidikan bagi anggota-anggotanya.

Keluarga Bekerja


Dalam kehidupan keluarga, suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing sebagai mana yang tercantum dalam aturan-aturan (tertulis maupun tidak tertulis) yang berasal dari agama, adat istiadat, ataupun perundang-undangan.

Di dalam masyarakat modern, tuntunan kehidupan semakin bertambah terutama dibidang ekonomi, dipihak lain modernisasi menurut peubahan sosial kehidupan keluarga dimana peran wanita (istri) tidak lagi sebagai ibu rumah tangga saja, melainkan dituntut peranannya dalam berbagai kehidupan kemasyarakatan, antara lain turut bekerja disamping suami, dan tidak jarang menjadi wanita karier.

Bekerja untuk memperoleh suatu penghasilan merupakan sarana kehidupan yang sering kali menimbulkan konflik dalam keluarga, karena itu, masalah penghasilan sangat penting bagi keluarga damn masyarakat sehingga memerlukan perhatian khusus.

Peranan Wanita dalam Keluarga


Konsep Keluarga, Fungsi Keluarga, dan Peranan Wanita dalam Keluarga

Wanita secara kodrati dirugaskan sebagai penerus generasi, mengasuh dan mendidik anak dalam hal ini perlu diketahui secara mendasar perbedaan konsep tentang wanita itu sebagai ibu rumah tangga dan wanita sebagai wanita itu sendiri.

Konsep wanita sebagai ibu memiliki pengertian yang khas, yang didalam tercangkup  penertian tentang bapak, sebab tidak ada ibu kalo tidak ada bapak, dan mencangkup pula tentang masa depan anak. Apakah itu anak kandung maupun anak didik, sedang konsep tentang wanita itu sendiri adalah bersifat indualistis yang didalamnya tidak mencangkup bapak ataupun anak.

Adapun wanita yang melayani sebagaimana wanita mendidik dan merawat dan mengatur, mengurus untuk diikmati orang lain dan sebagai istri ia mendidik anak dan memberi pelayanan untuk suami ia sebagian waktnya didalam rumah.

Konsep Keluarga, Fungsi Keluarga, dan Peranan Wanita dalam Keluarga

Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sikap Anak
Sebelum menguraikan lebih jauh tentang faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap, terlebih dahulu penulis menggunakan pendekatan beberapa teori/pendapat para ahli tentang pengaruh pembawaan/bakat dengan lingkungan terhadap perkembangan sosial anak.

Aliran Nativisme, berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawanya sejak lahir. Aliran Empirisme, berpendapat bahwa perkembangan akan menjadi dewasa itu besar sekali pengaruh dari lingkungan sekitarnya atau dengan kata lain, pendidikan dan pengalamannya yang diterima sejak kecil. Aliran Konvergensi, bahwa perkembangan anak itu sangat dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan sekitar.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka dapat diambil suatu gambaran bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan sikap adalah :

Faktor Internal (dari dalam diri)


Faktor internal yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk memilih dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap di dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya. Misalnya, orang yang sangat haus, akan lebih memperhatikan perangsang dapat menghilangkan hausnya itu dari perangsang-perangsang yang lain.

Pada faktor intern terdapat suatu kekuatan yang ada pada diri anak untuk menerima pengaruh dari luar. Dalam hal ini, kekuatan itu berupa pembawaan dan keturunan.

1. Pembawaan dan keturunan

Pembawaan disebut juga dengan bakat, pembawaan atau bakat adalah faktor yang terdapat pada anak didik. Faktor ini disebut juga faktor intern, yaitu kekuatan yang ada dalam diri anak didik, atau ada yang menyebutkan dengan faktor dasar.

Jika sifat atau ciri-ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui dengan sel-sel kelamin dari gen yang sama dengan yang lain, yang dalam hal ini dapat kita lihat dua dimensi yakni persamaan sifat dalam ciri-ciri dan ciri-ciri ini harus menurun melalui kelamin.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembawaan adalah semua kesanggupan atau seluruh kemungkinan yang terdapat pada individu yang selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan.

Berdasarkan pendekatan tersebut di atas, memberikan pedoman bahwa anak atau manusia itu dilahirkan telah mempunyai kesanggupan-kesanggupan yang dalam perwujudannya tidak dapat direalisasikan tanpa melalui latihan.

Kemudian di sisi lain, pembawaan adalah merupakan faktor yang aktif dan pasif yang akan terus berkembang hingga mencapai perwujudannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua yang dibawa oleh anak sejak dilahirkan ke alam dunia ini adalah diterima dari kelahirannya.

Akan tetapi menurut hemat penulis, bahwa pembawaan itu tidaklah semuanya diperoleh karena keturunan, bisa juga karena faktor lain.

2. Pembawaan dan bakat

Antara pembawaan dan bakat adalah merupakan dua istilah yang sulit dipisahkan, namun jika dilihat dari segi penerapannya tersirat perbedaan yang terletak pada luasnya penyederhanaanya, artinya bakat adalah merupakan bawaan kecakapan yang merupakan kesanggupan-kesanggupan yang tertentu. Sedang pembawaan mengadung arti yang lebih luas yakni semua ciri dan kesanggupan yang dibawa sejak lahir.

Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembawaan dan bakat yang dimiliki oleh anak itu bermula dari sejak kelahirannya yang biasa disebut dengan fitrah atau suci bersih, manusia membawa potensi imaniah (ketakwaan) kepada Allah swt.

Faktor eksternal (dari luar)


Lingkungan adalah segala yang ada di luar diri anak yang memberi perilaku terhadap perilakunya. Pengaruh lingkungan bisa bernilai positif dan bisa bernilai negatif pada anak, tergantung cara pendidikan anak dari orang tuanya.

Di sisi lain, lingkungan dapat berupa benda-benda, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa yang terdapat pada diri anak yang dapat memberikan pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung, baik disengaja maupun tidak sengaja.

Terjadinya suatu pengaruh dari luar manusia, itu karena banyak interaksi dengan sekelompok manusia yang dengan hasil kebudayaannya yang sampai padanya melalui alat-alat komunikasi seperti majalah, surat kabar dan televisi bahkan sampai pada tontonan di film. Yang kesemuanya itu dapat berdampak negatif dan berdampak positif, tergantung kepada sikap seorang anak dalam menghadapi situasi yang bermacam-macam bentuknya. Kalau anak keseringan nonton film akan memperoleh pengaruh yang jelek, sehingga sikap anak akan mengalami banyak perubahan-perubahan jiwa seorang anak untuk cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik serta dalam pergaulan mereka akan berdampak juga negatif.

Karena itu, perubahan-perubahan sikap anak yang mengarah kepada yang negatif dalam berbuat sesuatu di luar moral agama dan kemasyarakatan, maka Islam tidak menghendaki demikian, bahkan Islam memberikan pedoman untuk mengikuti jalan kebenaran serta aturan-aturan dalam
berhubungan dengan sesama manusia, terutama pada anak-anak lebih awal harus diajarkan tentang tata krama pergaulan dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai moral agama dan masyarakat. Karena itu merupakan modal dasar bagi anak-anak untuk kehidupan selanjutnya.

Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sikap Anak

Pembentukan Pola Sikap Anak dalam Bergaul
Sebelum penulis menguraikan secara rinci mengenai pembentukan pola sikap anak dalam bergaul, maka terlebih dahulu penulis mengadakan pendekatan secara eksplisit mengenai pembentukan sikap anak sebagai penentu arah untuk berinteraksi dengan baik atau bergaul dengan orang lain. Kalau ditinjau lebih jauh, sikap memang sangat penting dimiliki oleh seseorang anak dalam mengadakan hubungan pergaulan di antara mereka agar nantinya terjalin keharmonisan.

Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “attitude”. Dan istilah attitude berasal dari bahasa Latin “aptus”, yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat subyektif untuk melakukan kegiatan. Pengertian sikap lain yang dikemukakan oleh Jansen, bahwa sikap itu adalah kecenderungan-kecenderungan atau kemauan-kemauan untuk berkelakuan secara tertentu di dalam situasi tertentu.

Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak menurut cara-cara tertentu yang sesuai dengan hasil penilaiannya terhadap suatu obyek tertentu. Maka untuk membentuk sikap seorang anak tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses tertentu. Dalam hal ini, penulis akan menjelaskan secara umum tentang pembentukan sikap.

Sikap dapat berbentuk atau berubah melalui empat cara yaitu; 1) Adopsi; kejadian atau peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap ke dalam individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap. 2) Diferensiasi; dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman sejalan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang terjadi dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap obyek tersebut dapat terbentuk sikap tersebut pula. 3) Integrasi; pembentukan sikap ini terjadi secara bertahap dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu, sehingga akhirnya terbentuk sikap tersebut. 4) Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang bersifat traumatis dapat juga terbentuknya suatu sikap.

Di lain pendapat misalnya Sherif mengemukakan bahwa sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia dan adanya komunikasi (yaitu hubungan langsung) dari satu pihak.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap itu terbentuk melalui hubungan individu, kelompok, serta hubungan komunikasi yang lancar.

Sikap seorang anak dalam pergaulannya baik secara perorangan maupun secara berkelompok sebelumnya nampak suatu bentuk yang kongkrit sesuai dengan nilai-nilai sosial dan budaya dalam kelompok sosial tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apakah orang-perorangan atau kelompok-kelompok sosial bertemu dan menentukan sistem, serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. Dengan kata lain, proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai kehidupan bersama.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada pendapat ahli sebagai berikut: Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial oleh karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin akan ada kehidupan bersama.

Selanjutnya H. Bonner dalam bukunya Social Psychology menyatakan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain begitupula sebaliknya.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pergaulan itu terjadi melalui suatu proses sosial yang biasa disebut interaksi sosial. Manusia sebagai makhluk sosial secara naluriah membutuhkan teman pergaulan dalam hidupnya, tidak terkecuali pada anak-anak yang usia balita. Oleh karena itu, sikap baik anak dalam bergaul akan terbentuk melalui peranan keluarga dan lingkungan sekolah.

1. Keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam berinteraksi dengan kelompoknya. Dari keluarga inilah yang akan melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan, tetapi banyak hal-hal yang dapat mempengaruhi anak untuk berkembang.

Keluarga sudah seringkali terlihat peranannya dalam membentuk pola sikap anak-anaknya. Oleh karena itu, keluarga sangat berpengaruh pada individu yang akan terjun di masyarakatnya, baik atau tidak baik sikap perbuatannya, bisa atau gagal menyesuaikan diri, itu tergantung pada dasar pembentukannya dalam keluarga. Yang tergolong dalam lingkungn keluarga adalah ayah, ibu, saudara, kesemuanya itu harus membentuk interaksi sosial yang wajar (harmonis) yang dapat diwujudkan oleh anak-anaknya dalam pergaulan mereka.

Perilaku sosial dan sikap anak dalam bergaul mencerminkan perlakuan yang diterima di dalam lingkungan keluarganya. Anak yang merasa ditolak oleh orang tua atau saudaranya mungkin menganut sikap kesyahidan di luar rumah dan membawa sikap sampai dewasa.

Pada tahun-tahun awal kehidupan yang merupakan pengaruh terpenting terhadap sikap anak dalam pergaulannya adalah cara pendidikan anak yang digunakan oleh orang tua. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang demokratis mungkin melakukan yang paling baik, mereka aktif secara sosial, mudah bergaul, sebaliknya mereka  yang didikannya otoriter cenderung menjadi tidak aktif, cenderung menjadi anak pendiam dan suka melawan serta kreatifitas terhambat oleh tekanan-tekanan orang tua.

Dengan ketergantungan cara pendidikan yang digunakan oleh orang tua dalam membentuk dan membina sikap anak-anaknya dalam bergaul, maka penulis dapat mengambil cara yang baik yang harus dilakukan oleh orang tua yaitu :

a. Pendidikan dengan keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan merupakan begian dari sejumlah yang paling efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral dan sosial, sebab pendidik atau orang tua merupakan contoh ideal dalam pandangan anak yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru. Oleh karenanya keteladanan adalah merupakan faktor penentu baik buruknya anak didik.

Salah satu sifat keteladanan pendidik yang harus ditanamkan pada anak adalah sifat akhlak karena mencakup keseluruhan aktifitas dalam pergaulannya.

Nabi sangat menekankan kepada pendidik dan orang tua yang berkompeten dalam dunia pendidkan untuk memberikan keteladanan  yang baik dalam segala segi sehingga sejak dini anak didik terpatri oleh kebaikan dan tingkah laku berdasarkan sifat-sifat utama lagi terpuji.

Dari keterangan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan keteladanan harus dimulai dari orang tua, keteladanan pergaulan yang baik adalah faktor yang efektif untuk membentuk sikap pergaulan anak untuk mempersiapkan kehidupannya dalam masyarakat.

b. Mengajarkan nilai-nilai moral pada anak

Secara alamiah, setiap anak akan berkembang sesuai dengan tahap kesadarannya, namun orang tua atau seorang guru yang bijaksana akan mampu menempatkan penalaran moral seorang anak. Dengan demikian, ia akan bertingkah laku berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan prikemanusiaan yang diterapkan secara konsekuen.

Pengajaran nilai moral pada anak sangat penting mengingat adanya hubungan antar manusia dan hubungan antar kelompok, yakni bertingkah laku sesuai dengan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, Zakiyah Daradjat menyatakan bahwa moral merupakan kelakuan yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas tindakan tersebut. Tindakan itu harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

c. Menciptakan komunikasi antara anak dan orang tua

Masalah yang tidak pernah habis dibicarakan dalam kehidupan manusia adalah masalah hubungan atau komunikasi antara orang tua dan anak. Demikian pentingnya hal tersebut, sehingga banyak persoalan-persoalan dalam masyarakat selalu dihubungkan dengan komunikasi yang berlangsung dalam keluarga, misalnya anak yang tidak sopan bicaranya dengan orang lain.

Suatu hal yang perlu diingat oleh para orang tua adalah masalah komunikasi karena itu merupakan kebiasaan. Artinya, komunikasi itu harus dipelihara terus sejak anak-anak masih kecil sampai remaja. Berkomunikasi yang baik dengan anak misalnya orang tua mengurangi kata-kata yang menyakitkan, mencegah ungkapan-ungkapan yang memperpanjang rasa sesal dan dendam serta memperkecil kemungkinan  memberikan hukuman, sehingga dengan demikian, pengaruh komunikasi yang baik dari orang tua, anak akan  menjadi luas wawasannya dalam bergaul yang baik.

Pada hakikatnya, komunikasi yang bisa menguntungkan kedua pihak ialah komunikasi timbal balik yang kedua pihak tersebut spontanitas serta keterbukaan orang tua. Keterbukaan yang demikian memungkinkan anak mengubah pendirian, mendengarkan ungkapan isi jiwa anak untuk berkembang dan belajar. Dari perkembangandan belajar inilah secara tidak langsung sikap anak terbentuk dan terbina untuk mewujudkan pergaulan yang baik.

2. Sekolah

Di sekolah bukanlah semata-mata sebagai tempat lapangan untuk mempertajam intelektual anak saja, melainkan peranan sekolah itu jauh lebih luas di dalamnya berlangsunglah beberapa bentuk dasar daripada kelangsungan “pendidikan”. Pada umumnya ialah pembentukan sikap anak dan kebiasaan yang wajar, perangsang dari potensi anak, perkembangan kecakapan-kecakapannya, belajar kerjasama dengan kawan sekelompok, melaksanakan tuntutan-tuntutan dan contoh yang baik. Dengan sikap yang sudah terbentuk melalui proses pendidikan di sekolah, maka anak dalam pergaulannya akan melahirkan suatu nilai-nilai moral yang dikehendaki oleh lingkungan masyarakat.

Pembentukan Pola Sikap Anak dalam Bergaul