Coretanzone: Kisah

    Social Items

Sahabat Nabi yang Mengguncang Langit Saat Kematiannya
Para wali atau kekasih Allah selalu dirahasiakan oleh-Nya. Hal ini dimaksudkan untuk manusia selalu melakukan kompetisi dalam segala amal kebaikan, sehingga nantinya orang yang dicintai Allah dan yang dekat dengannyalah yang terpilih sebagai wali atau kekasih-Nya.

Kisah tentang para wali ini dapat dilihat dari kisah seorang sahabat Nabi yang diberi keiistimewaan sehingga kematiannya mampu mengguncang Arasy. Sahabat Nabi ini adalah Sa’ad bin Muadz yang merupakan kepala suku Aus. Ia penduduk Madinah dan tergolong sebagai sahabat dari Kalangan Anshor. Kisah ini dapat dilihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut:

ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺭﺿﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ – ﻭﺟﻨﺎﺯﺓ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻴﻦ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ – اﻫﺘﺰ ﻟﻬﺎ ﻋﺮﺵ اﻟﺮﺣﻤﻦ

Artinya: “Diriwayatkan dari Jabir RA, bahwasanya Nabi bersabda: tatkala Jenazah Sa’ad bin Mu’adz di hadapan mereka, Arasynya Allah Dzat penyayang menjadi berguncang. (HR: Muslim).

Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa, hadis ini oleh para ulama berbeda pendapat dalam memahaminya.

Pertama, hadis ini dipahami dari dzahirnya bahwa bergetarnya arasy karena senang dalam menyambut ruh sahabat Nabi dari kalangan Anshor Ini. Artinya bahwa Arasy termasuk dalam jisim - sesuatu yang membutuhkan tempat - yang mungkin saja dalam keadaan diam atau bergerak.

Kedua, Arasy berguncang dimaksudkan bahwa para malaikat yang sedang menjaga Arasy merasa gembira dengan kedatangan ruh yang dimiliki sahabat Saad bin Mu’az.

Dalam Fatwa Dar Al-Ifta’Al-Misriyyah menyebutkan bahwa tempat mulia yang didapatkan oleh sahabat Sa’ad bin Mu’adz ini karena keberaniannya saat menghadapi musuh dalam perang Khandak. Peristiwa meninggalnya kepala suku Aus ini karena terkena busur panah musuh pada saat perang tersebut. Ia menjadi pahlawan umat Islam yang memiliki kecintaan yang tinggi kepada Nabi serta pahlawan dalam membela kebenaran.

Melalui kisah sahabat Nabi ini maka, dapat dipahami bahwa dibutuhkan perjuangan yang sangat berat dan dilakukan secara maksimal, bahkan hingga mengorbankan harta dan jiwa raga untuk mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Olehnya itu, sebagai umat Nabi Muhammad SAW, yang cinta kepadanya, marilah kita berlomba-lomba dalam segala amal kebaikan agar mendapatkan ridho dari Allah dan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisinya.

Sahabat Nabi yang Mengguncang Langit Saat Kematiannya

Kisah Dokter Non-Muslim ini Menolak Hadiah dari Khalifah Demi Iman dan Kesetiaan
Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti yang katanya pada masa itu disebut sebagai era Islam kosmopolitan. Pada saat itu semua orang - termasuk orang non-Muslim - diberi ruang yang sama dan seluas-luasnya untuk berkreasi dibidangnya masing-masing, seperti bidang ilmu pengetahuan dan pemerintahan. Pada periode selanjutnya peran orang non-Muslim dalam pemerintahan Dinasti ini turut memudahkan jalan untuk memuluskan perhatian penguasa Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Dikisahkan bahwa, suatu hari pada tahun 765 M, Abu Ja’far Al Mansur yang merupakan salah satu anak pendiri dan merupakan Khalifah Dinasti Abbasiyah pada saat itu sedang mengeluh sakit perut, tidak enak makan, dan hampir seluruh tubuhya sakit. Ia diobati oleh beberapa dokter ahli, namun setelah sekian banyak dokter yang mengobati dirinya, kondisinya tak kunjung pulih. Khalifah ini kemudian meminta kepada para ajudannya untuk mencari seorang dokter yang paling mumpuni dalam menangani penyakit yang ia derita, dokter itu baik dari negerinya itu maupun dari luar.

Mendengar perintah tersebut maka, salah satu ajudan Abu Ja’far Al Mansur berkata bahwa “Wahai Khalifah, Dokter yang paling ahli saat ini dalam menangani penyakit khalifah adalah Jurjis, salah satu dokter ahli di Gundishapur. Dokter itu sudah sangat berpengalaman.”

Ibnu Abi Usaibiah menyebutkan dalam ‘Uyunul Anba’ fi thabaqattil Athibba’, bahwa pada mulanya Dokter yang disebutkan oleh ajudan khalifah yaitu Jurjis bin Jibrail ini merasa bimbang untuk menerima tawaran dalam mengobati khalifah, karena perannya yang sulit di rumah sakit yang berada di Kawasan Gundishapur digantikan. Dikisahkan bahwa Jurjis merupakan salah satu Dokter yang memiliki peranan penting dalam pengembangan layanan dan pendidikan kesehatan di sana. Namun, melalui diskusi dan pertimbangan yang mendalam maka, tugas-tugas yang ia emban di Gundishapur diserahkan kepada anaknya Bakhtishu’ dan ia pergi ke Baghdad.

Setelah sampai di Baghdad, Jurjis memulai pengobatannya dengan beberapa kali mengunjungi khalifah. Ternyata kunjungan pengobatan yang dilakukan oleh Dokter ini manjur dan cocok, sehingga khalifah Abu Ja’far Al Mansur pulih dari penyakitnya. Abi Usaibiah mencatata bahwa, khalifah ini terkesan dengan metode terapi, pendekatan, dan pemeriksaan yang dilakukan oleh Jurjis, sehingga khalifah Abu Ja’far Al Mansur mengangkatnya menjadi Dokter istana.

Memiliki posisi yang sangat strategis di istana ono tidak membuat jurjis menjadi sombong, ia tetap rendah hati dan tidak banyak meminta perlakuan khusus atau harta benda pada khalifah atas jasanya. Sebagai dokter yang rendah hati, jurjis tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadinya, tetapi ia fokus pada pelayanan kesehatan di istana.

Pada perayaan hari raya Natal tahun 768 M, Dokter istana ini mengunjungi khalifah dalam rangka untuk memeriksa keseharan khalifah. Setelah pemeriksaan rutin kesehatan khalifah, kemudian Jurjis dijamu dengan baik oleh istana, khalifah memberikan pertanyaan kepada jurjis.

“yang harus saya makan hari ini apa?”

“Apa saja yang anda suka,” jawaban jurjis hanya itu, yang menandakan bahwa kesehatan khalifah sedang baik-baik saja. Kemudian Jurjis bersiap dan berpamitan pulang. Jurjis-pun berjalan menuju ke pintu, namun ketika berada di depan pintu istana, Khalifah memanggilnya kembali dan bertanya kepadanya,

“nampaknya hari ini anda buru-buru, sebenarnya siapa yang sedang menunggumu?”

“murid-muridku dan kawan-kawanku,” jawab jurjis dengan singkat.

Khalifah memiliki maksud untuk dapat memberi hadiah yang lebih kepada Jurjis di luar dari hasil yang ia dapatkan dalam melayani kesehatan khalifah.

“Nampaknya anda saat ini belum mempunyai istri kan?” Tanya khalifah Abu Ja’far Al Mansur. “Bagaimana kalau saya mengirimi anda budak?”

“Maaf, saya sudah memiliki isti, dia saat ini di rumah sedang sakit dan sudah tua, dia tak dapat datang untuk tinggal bersama saya di sini.” Jawab Jurjis dengan serius untuk meyakinkan khalifah.

Setelah percakapannya dengan Abu Ja’far Al Mansur, jurjis kemudian meninggalkan istana dan pergi beribadah di gereja.

Khalifah memiliki maksud untuk menyenangkan Dokter yang sangat ahli ini, sehingga ia memerintahkan kepada ajudannya untuk melihat dan memilih tiga orang budak yang cantik dan paling menarik, untuk dikirim kepada Jurjis bersma dengan uang sebesar tiga ribu dirham.

Ketika Jurjis pulang dari gereja ke rumah yang ia tempati, ia diberitahukan bahwa ada hadiah yang berasal dari khalifah untuk diberikan kepadanya. Mendengar pemberitahuan itu, Jurjis protes kepada ajudan khalifah, “kenapa anda membawa budak-budak wanita ini ke rumah saya? Kembalikan mereka ke istana.”

Mengetahui penolakan yang diberikannya ini, khalifah Abu Jafar al-Mansur memanggil Jurjis segera ke istana.

“Kenapa engkau mengembalikan budak-budak wanita yang ku hadiahkan?” Tanya khalifah

“Perempuan seperti mereka tidak bisa bersama kami dalam satu rumah. Dalam keyakinan kami orang Nasrani, menikah hanya satu kali, dan tidak lebih dari itu. Selama istri kami masih hidup, maka kami tidak diperbolehkan menikah dengan wanita lain.” Jawab jurjis.

Mendengar jawaban itu, khalifah sangat terkesan dengan kepribadian yang dimiliki oleh Jurjis. Kepribadian yang teguh dalam memegang prinsip keimanan dan kesetiaan.

Pada suatu saat, Jurjis sedang sakit yang penyakitnya itu cukup serius. Mendengar hal itu, khalifah memberikan perhatian lebih kepada Dokter istana ini. Untuk mengetahui kondisi Jurjis, maka khalifah memerintahkan kepada ajudannya untuk setiap hari mengunjungi Jurjis dan mengecek kabarnya. Pada saat kondisi Jurjis semakin buruk, khalifahpun memerintahkan untuk mendatangkan Dokter ini  ke istana kerjaan, agar khalifah dapat bertemu langsung dan berbincang dengannya. Pada saat sampai di istana, Jurjis-pun mengungkapkan keinginannya.

“Wahai khalifah, alangkah mulianya jika saya diizinkan oleh anda untuk pulang ke kampung halaman saya agar saya dapat tinggal bersama istri dan anak laki-laki saya. Seandainya ajal datang menjemput, saya memiliki keinginan untuk dapat dikuburkan di sana bersama dengan mereka yang telah mendahului saya (leluhur saya).”

Abu Jafar al-Mansur berkata kepada Jurjis, “Masuklah kamu ke dalam agama Islam, agar aku doakan kamu masuk surga.”

“Maafkan saya wahai amirul mu’minin, saya memilih meyakinin keimanan leluhur saya dan mati bersama dengan keimanan ini, dan berharap kelak bersama mereka di suatu tempat, entah itu surga atau di neraka.” Itulah Dokter Jurjis yang tetap berada pada pendiriannya dalam iman.

Perihal dengan pindah agama ini, khalifah tidak memaksakannya, karena dalam Islam memiliki konsep bahwa ‘tidak ada paksaan dalam agama’. Khalifah Abu Jafar al-Mansur yang merupakan putra mahkota dari Abu Abbas As-Saffah (pendiri Dinasti Abbasiyah) ini tersenyum kagum dan berkata kepada Jurjis. “Semenjak kamu datang di sini, saya sudah merasakan pelayanan yang baik hingga hari ini. Semua penyakit yang biasanya saya derita dapat terobati dengan baik.”

Pada akhirnya Jurjis memberikan mandat kepada ‘Isa bin Syahlah yang telah banyak menemani dan membantunya di Baghdad sebagi dokter kerajaan. Jurjis yang merupakan Dokter kerajaan yang sangat teguh imannya ini kemudian diantarkan pulang ke kampung halamnnya untuk dapat hidup bersama dengan keluarganya. Ketika Jurjis wafat, ia dimakamkan di sana sebagaimana permintaannya.

Pelayanan yang telah diberikan Jurjis di lingkungan Dinasti Abbasiyah ini tidak hilang begitu saja, kontribusi dan jasanya tetap diingat hingga pada masa khalifah Harun Al Rasyid, anak Jurjis yang memiliki nama Bakhtisyu yang pada awalnya menggantikan ayahnya di Gundhishapur, dipanggil ke Baghdad untuk kemudian menjadi dokter kerajaan sebagaimana ayahnya dahulu.

Ahmed Ragab dalam bukunya yang berjudul The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion, and Charity, menyebutkan bahwa; pada saat setelah Jurjis dan anaknya Bakhtisyu, pondasi pada sistem pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat Islam, terlebih khusus pada masa Dinasti Abbasiyah, klan Bakhtisyu’ yang merupakan penganut Kristen asal Persia ini sangat mempengaruhi.

Itulah kisah seorang Jurjis yang menolak hadiah dari khalifah Dinasti Abbasiyah untuk mempertahankan iman dan kesetiannya. Semoga cerita ini dapat menjadi teladan kepada kita semua, apapun agama kita dan darimanpun asal kita.

Kisah Dokter Non-Muslim ini Menolak Hadiah dari Khalifah Demi Iman dan Kesetiaan

Kisah Sufi Ibnu Khafif Menguji Ketaatan Murid-muridnya
Seorang sufi bernama Ibnu Khafif memiliki dua siswa. Satu sudah tua, sebut saja Ahmad Tua, yang lain masih muda, dijuluki Ahmad Muda. Di antara keduanya, Ibn Khafif tampak lebih menyukai anak muda. Sikap ini membuat siswa lain tampak tidak setuju. "Bukankah Old Ahmad melakukan lebih banyak perintah dan disiplin diri?" Kata beberapa muridnya.

Ibn Khafif ingin membuktikan kepada mereka, bahwa Ahmad Muda lebih unggul dari Ahmad Tua. Dikatakan bahwa ada unta tidur di pintu. Kemudian Ahmad Khafif memanggil salah seorang muridnya, "Ahmad Tua, datang ke sini."

"Aku! Wahai guru," jawab Ahmad Tua.

"Tolong angkat unta ke loteng," perintah Ibn Khafif.

"Guru, bagaimana mungkin aku bisa mengangkat unta ke loteng," katanya

"Cukup," jawab Ibn Khafif, menyela tanpa memberi alasan. Setelah itu panggil Ahmad muda.

"Wahai Ahmad Muda, tolong angkat unta," perintahnya.

Menyadari perintah guru, Ahmad Muda mengencangkan ikat pinggangnya, menggulung lengan bajunya, dan berlari keluar. Dia mulai mengangkat unta. Namun sia-sia. Ahmad Muda tidak bisa mengangkat unta.

"Cukup!" Kata Ibnu Khafif.

Kemudian dia berkata kepada murid-muridnya. "Sekarang Anda tahu bahwa Ahmad Muda telah melakukan tugasnya. Dia mematuhi perintah saya tanpa berdebat. Yang ditekankannya adalah perintah saya. Dia tidak peduli apakah perintah itu dapat dilaksanakan atau tidak. Sementara Ahmad Tua, dia hanya membuat alasan. Dari dua sikap ini, kita dapat memahami keinginan dalam hati seseorang. "

Kisah Sufi Ibnu Khafif Menguji Ketaatan Murid-muridnya

Kisah Ulama Yang Berpura-pura Tuli Untuk Melindungi Martabat Wanita
Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan atau Sufi yang terkenal dengan karakter atau Akhlak luhurnya. Nama julukan "as-sham" atau si tuli adalah salah satu contohnya. Karena menjaga perasaan seorang wanita tua yang ingin menanyakan sesuatu kepadanya, Hatim berpura-pura tuli sampai wanita tua itu meninggal.

Ceritanya adalah ketika seorang wanita tua datang ke Hatim. Dia ingin berkonsultasi dengan Hatim tentang masalah agama. Tapi tiba-tiba suara keras datang dari wanita itu. Rupanya dia kentut, hingga didengar oleh Hatim. Raut wajahnya tampak mengandung rasa malu. Wajahnya memerah. Wanita itu merasa tidak sopan terhadap ulama besar dengan posisi tinggi di masyarakat.

Mendengar suara kentut, Hatim tidak melakukan apa-apa. Ulama' ini memahami perasaan wanita di depannya. Dia terus berperilaku baik. Ekspresinya tampaknya tidak berubah sedikit pun.

Wanita itu terkejut melihat sikap Hatim, dan dengan perasaan malu, wanita itu berkata, "Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu." Kemudian Hatim pura-pura tidak mendengar dan berbicara dengan suara keras, "Ada apa, ibu?"

"Aku ingin bertanya sesuatu," jawab wanita itu dengan suara lebih keras

"Ada apa, Bu?" Hatim mengajukan pertanyaan lagi.

"Maaf, aku punya sesuatu untuk ditanyakan!" Jawab wanita itu dengan suara yang sangat keras.

"Oh, kamu mau bertanya. Maaf kalau kamu bicara tolong perkuat suara karena pendengaranku tidak bagus. Aku tuli," jawab Hatim dengan suara keras. Mendengar kata-kata Hatim, wanita itu merasa lega. Dia berpikir Hatim benar-benar tuli.

Sejak saat itu, Hatim adalah seorang pria yang berpura-pura tuli untuk melindungi perasaan wanita tua itu. Ini adalah dasar di mana Hatim memiliki nama julukan "Al-Asham" atau tuli. Gelar ini diberikan kepada Hatim selama 15 tahun untuk melindungi martabat wanita tua itu. Hatim pura-pura tuli sampai wanita tua itu meninggal.

Hatim yang lahir di Balkh adalah murid Syaqiq al-Balkhi. Hujjah al-Islam, Imam Al Ghazali juga meriwayatkan kisah Hatim dalam salah satu bukunya. Hatim meninggal di Baghdad, Irak, pada 852 M atau 237 H. Ini adalah kisah ulama Hatim yang sangat melindungi martabat dan kehormatan terhadap wanita.

Kisah Ulama Yang Berpura-pura Tuli Untuk Melindungi Martabat Wanita

Kisah Pencarian Kekuasaan Allah Oleh Nabi Ibrahim Melalui Empat Burung
Empat ekor burung dilatih oleh sang tuan. Seringkali di panggil, mereka akan selekasnya mendatangi “pelatihnya” itu walau tempatnya sangat jauh. Burung-burung itu begitu jinak serta menuruti tiap-tiap panggilannya.

Tetapi, satu hari sang tuan menebas burung itu satu per satu. Tidak cuma dibunuh, burung-burung cantik itu juga dicincang sampai badan mereka terpotong-potong berubah menjadi banyak bagian. Si pemilik burung itu juga mencampurkan adukan potongan-potongan badan hewan peliharaannya. Ia lantas menaiki bukit lalu menyimpan seperempat bagian cacahan daging. Lalu menuju bukit lainnya serta lakukan hal yang sama. Demikian selanjutnya sampai empat bukit.

Pria itu juga lalu turun dari bukit serta berjalan menjauh. Seolah tidak pernah sama sekali mencincang hewan yang telah dijaga serta dilatih itu, ia juga lalu memanggil mereka dengan seruan serta tepukan. Tidak lama hewan-hewan yang telah mati itu mendatanginya dengan keadaan utuh serta hidup. Mengagumkan! Walau sebenarnya, empat burung itu sudah dibunuh, bahkan juga dicincang. Potongan badan mereka juga bahkan juga dipisah-pisah jauh. Tetapi, keempatnya hidup kembali.

Pemilik empat burung itu adalah sang Nabi Allah swt. yang hanif, Nabi Ibrahim as. Apa yang dikerjakan Nabi Ibrahim as bukan tanpa makna. Berawal sewaktu bapak agama samawi itu menyaksikan bangkai hewan sampai tinggal tulang belulang. Nabi Ibrahim as. yang tengah mencari ketauhidan juga bertanya-tanya, bagaimanakah Allah menghidupkan kembali bangkai serta jazad yang sudah mati.

Nabi Ibrahim as lantas berseru memohon pada Allah, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimanakah Engkau menghidupkan beberapa orang mati, ” ujarnya. Allah lantas berfirman, “Belum yakinkah kamu? ”

Ibrahim lantas menjawab, “Aku sudah meyakinkannya, namun supaya hatiku masih mantap (dengan imanku), ” tuturnya. Allah lantas selanjutnya menyuruh apa yang dijalankan Nabi Ibrahim as itu. Allah berfirman, “Kalau demikian tujuanmu, ambil empat ekor burung, lantas cincanglah semua olehmu. Tempatkan diatas masing-masing satu bukit satu bagian dari beberapa bagian itu, lalu panggillah mereka. Pasti mereka hadir padamu dengan selekasnya, ”

Nabi Ibrahim as. kemudian melakukan petunjuk dari Allah itu. Dia melatih empat ekor burung sampai jinak. Lalu, lakukan seperti yang diceritakan di atas. Waktu menyebut burung-burung yang sudah jadi bangkai, Ibrahim juga kagum bukan main. Cukup dengan “kun” (jadilah), Allah menghidupkan kembali empat burung yang sudah mati, dicacah, bahkan juga dipisahkan bangkai tubuhnya. Jadi, percayalah Nabi Ibrahim jika Allah Maha kuasa, ringan buat Allah membuat serta menghidupkan kembali.

Cerita Nabi Ibrahim serta empat burung yang menunjukkan kuasa Allah itu juga diberitakan dalam Alquran surah Ibrahim ayat 260. Di akhir ayat dijelaskan, “Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. ” Berita tentang cerita dipotong-potongnya empat burung lalu dikumpulkan oleh Allah untuk dihidupkan kembali adalah cerita tafsiran menurut Ibnu Katsir serta Ath-Thabari.

Ibnu Katsir dalam Stories of the prophets mengatakan, Nabi Ibrahim adalah hamba Allah yang bertauhid. Dia banyak juga lakukan perjalanan kepada Allah yang mengantarkannya pada kepercayaan atas keesaan Allah. Cerita diatas berlangsung waktu Nabi Ibrahim as. ingin tahu tentang kehidupan sesudah kematian. Demikian lalu Nabi Ibrahim memohon panduan Allah untuk memberikannya pengetahuan. Jadi, diperintahkanlah mengenai empat burung itu.

Dari cerita itu jelas Allah Maha kuasa atas Segala Sesuatu yang ada di langit dan bumi. Apa yang diperintahkan-Nya cuma dengan kun fayakuun, “Jadi, maka terjadilah”. Allah Maha Menghidupkan seperti dalam sifat-Nya dari asmaul husna, al-Baa’its, yaitu Yang Maha Menghidupkan. Dalam Alquran banyak dijelaskan sifat Allah yang agung itu. Dalam Alquran juga dijelaskan kapabilitas Allah menghidupkan, seperti tanaman yang disuburkan sesudah mati. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 5-7 sebagai berikut.

Surat Al-Hajj Ayat 5

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Terjemahannya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Surat Al-Hajj Ayat 6

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemahannya: Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,

Surat Al-Hajj Ayat 7

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Terjemahannya: dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.

Dengan mempercayai sifat Allah itu, pasti ada kepercayaan atas kebangkitan manusia dari alam kubur. Allah akan menghidupkan tiap-tiap manusia yang mati untuk mempertanggungjawabkan semua tindakannya didunia.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya). (QS Yasin 36 : 52).

Demikianlah kekuasaan Allah atas segala sesuatu yang ada di dunia ini, tanpa ada bandingannya.

Kisah Pencarian Kekuasaan Allah Oleh Nabi Ibrahim Melalui Empat Burung

Kesabaran Imam Ahmad Ibn Hambal Pada Masa-masa Sulit

Belakangan ini kita telah menyaksikan penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak berdosa di seluruh dunia. Dari konflik di Suria, sampai gelombang serangan Islamofobia terhadap umat Islam di Barat. Sejarah Islam yang kaya dan penuh makna telah memberikan banyak contoh yang tak terhitung jumlahnya tentang kebenaran dan melatih kesabaran kita. Salah satu contoh yang dapat kita lihat yaitu tentang kisah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a.

Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (164-241 H / 780-855 M) adalah tokoh teladan dari tiga generasi pertama setelah Nabi Muhammad saw. Beliau merupakan seorang ulama yang terkenal karena kezuhudannya, dan keilmuannya dan juga Musnad-nya, dia juga pendiri salah satu dari empat aliran pemikiran dalam fiqih Islam. Prestasi dan pemikirannya telah menyebar di seantero dunia.

Salah satu hal yang paling terkenal dari kisah Imam Ahmad adalah ketabahan dan keteguhannya pada kebenaran saat dianiaya oleh pendirian Mu'tazilah. Pada abad kedua, pemikiran Helenistik mulai merambah ke tanah Muslim melalui ketersediaan karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Rasionalitas yang menjadi salah satu daya tarik bagi sekelompok kalangan umat Islam, diamana mereka ingin menggabungkan antara ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Yang paling getol dalam hal ini adalah kalangan Mu'tazilah, kemudian mereka berkeyakinan bahwa Alquran yang merupakan firman Allah ini adalah makhluk yang diciptakan.

Dengan dukungan dari dinasti Abbasiyah, paham Mu'tazilah dipaksakan kepada umat Islam sebagai doktrin negara. Banyak ilmuwan pada saat itu tunduk pada kepercayaan ini baik karena kenyamanan atau ketakutan akan penganiayaan dan penyiksaan dari penguasa yang tirani.

Pada saat itu banyak ulama yang menolak aliran pemikiran ini, namun mereka ditekan dan bahkan disiksa, yang kemudian menjadi momok bagi umat Islam saat itu. Imam Ahmad ibn Hambal tidak dieksekusi layaknya ilmuan lainnya, namun beliau dipenjara dan mengalami penyiksaan yang amat pedih.

Imam Ahmad terus dibelenggu dan dicambuk tanpa henti, agar beliau mengakui pemahaman Mu'tazilah dan melepaskan pandangan lamanya tentang kebenaran Al-Quran dan menganjurkan kepada umat Islam untuk meyakini doktrin Mu'tazilah yang lebih mengandalkan logika. Dengan demikian maka, beliau akan dibebaskan dari semua penyiksaan dan situasi yang tidak baik seperti itu.

Namun Imam Ahmad tetap teguh dengan pendiriannya, karena dia memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap ummat Islam dan tidak ingin pemikiran yang menyimpang dari Islam itu dapat tersebar.

Imam Ahmad mengakui tanggung jawab yang bertumpu pada dirinya karena statusnya sebagai Ulama dengan keimanan yang tinggi kepada Allah. Dengan demikian, beliau tanpa kompromi dan tetap sabar menghadapi cobaan, meski para penangkapnya memperingatkannya bahwa dia bisa mati dalam keadaan seperti ini.

Imam Ahmad hanya menjawab, "al-farqu baynanaa wa baynakum al-jana'iz" (perbedaan antara kami dan kalian adalah ketika menjadi jenazah) "(yaitu bahwa mereka harus berhati-hati terhadap apa yang terjadi pada kematian mereka dan untuk menjadi pembelajaran). Mereka tahu bahwa Imam Ahmad akan tahan dengan semua penyikasaan, untuk menegakkan kebenaran.

Pada akhirnya beliau dibebaskan setelah menghabiskan lebih dari dua tahun penjara. Ia akhirnya meninggal dunia pada usia 77 tahun. Salah seorang anaknya menyebutkan bahwa ayahnya masih memiliki bekas luka pada bagian bulu mata saat ia meninggal dunia. Meskipun demikian, lebih dari 800.000 orang menghadiri pemakamannya di Baghdad untuk memberikan penghormatan kepada cendekiawan agung tersebut. Juga tercatat bahwa dua puluh ribu orang menerima Islam pada hari itu.

Kata-kata Imam Ahmad yang digunakan untuk memperingati para penganiayanya dimanifestasikan. Kesabaran dan ketekunannya benar-benar diterima oleh Allah, sehingga sampai saat ini ia menjadi salah satu imam besar fiqih yang terkenal yang tak kenal takut dan tak tergoyahkan dalam posisinya.

Ibn Qutaybah menyatakan bahwa "bila Anda menemukan seseorang yang mencintai Ahmad ibn Hanbal, Anda harus tahu bahwa dia adalah pengikut Sunnah."

Imam Ahmad tidak hanya meninggalkan warisan dalam ilmu-ilmu keislaman dari hadis, fiqih dan teologi, namun ia juga melambangkan teladan baik yang diceritakan oleh Nabi kita tercinta dan para sahabatnya dalam perjuangannya untuk membela kebenaran dan tetap teguh di masa yang penuh dengan gejolak. Karena alasan inilah Imam Ahmad dikenal sebagai mujaddid (reviver of the deen) pada masanya.

Semoga Allah memungkinkan kita untuk mengikuti jejak tokoh besar tersebut. Amin.

Kesabaran Imam Ahmad Ibn Hambal Pada Masa-masa Sulit

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Ketika Dirampok
Ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani masih kecil, ia sudah banyak belajar tentang ilmu agama. Suatu ketika Abdul Qadir kecil meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke kota Baghdad (sekarang masuk dalam wilayah irak). Ia berkeinginan untuk mengunjungi rumah orang-orang saleh dan alim di sana serta menimba Ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.

Sang ibu memberi izin dan merestui keinginannya. Sebelum Abdul Qadir berangkat, ibunya memberikan uang sebanyak 40 dinar sebagai bekal perjalanan. Uang itu sengaja disimpan di saku yang dibuat khusus di bawah ketiak bajunya agar aman. Ibunya juga tak lupa untuk berpesan agar ia senantiasa berkata jujur dalam setiap keadaan, baik keadaan sulit maupun senang. Ia memperhatikan betul nasehat dan pesan ibunya, kemudian ia keluar dengan mengucapkan salam.

Ibunya berkata "pergilah nak, aku telah menitipkan keselamatanmu kepada Allah, agar kamu mendapatkan pemeliharaan dari-Nya".

Abdul Qadir kecilpun pergi bersama dengan rombongan kafilah unta yang juga sedang melakukan perjalanan ke kota Baghdad. Dalam perjalanan mereka dalam keadaan baik-baik saja, namun ketika mereka melintasi suatu tempat yang bernama Hamdan, tiba-tiba ada enam puluh orang perampok yang mengendarai kuda menghampiri dan merampok seluruh harta rombongan kafilah.

Yang unik dari peristiwa ini, tidak ada satupun dari perampok-perampok itu menghampiri Abdul Qadri, sampai pada akhirnya salah seorang dari perampok itu menghampiri dan bertanya kepadanya, "wahai orang fakir, apa yang kamu bawa?".

Abdul Qadri menjawab dengan polos, "aku membawa empat puluh dinar".

Perampok itu bertanya lagi, "dimana kamu meletakkannya?"

"Aku meletakkannya di saku baju yang terjahit rapat di bawah ketiakku."

Orang itu tidak percaya dan menganggap bahwa Abdul Qadir sedang meledeknya, kemudian ia meninggalkan boca laki-laki kecil itu.

Berselang beberapa waktu, datang lagi seorang perampok dan bertanya dengan pertanyaan yang sama, Abdul Qadir menjawab pula dengan jawaban yang sama. Jawaban jujur yang ia lontarkan tidak mendapatkan respon yang serius, dan perampok itu pergi meninggalkan Abdul Qadir begitu saja.

Kedua perampok tersebut menceritakan apa yang mereka alami kepada pimpinan mereka sehingga pimpinan itu merasa heran dan mererintahkan anak buahnya untuk memanggil bocah jujur itu. "Panggil Abdul Qadri ke mari!".

Ketua perampok itu bertanya kepada Abdul Qadir saat ia sampai, "apa yang kamu bawa?"

Jawab Abdul Qadir, "empat puluh dinar."

"Dimana kamu meletakannya?" tanya kepala perampok itu lagi.

"Uang itu berada di saku yang terjahit yang terjahit rapat di bawah ketiakku."

Pimpinan perampok itu, kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk menggeledah bagian ketiak Abdul Qadir, dan mereka menemukan uang sebanyak empat puluh dinar. Siakpnya yang polos dan jujur itu membuat perampok-perampok itu heran dan menggeleng kepala mereka. Seandainya saja ia berbohong, para perampok itu tidak akan mengetahui apa yang ia bawa, apalagi waktu itu penampilan Abdul Qadri kecil sangatlah sederhana layaknya orang miskin.

"Apa yang mejadikan dirimu berkata yang sebenarnya?"

"Ibuku yang memerintahkan aku untuk berkata benar, aku tidak punya keberanian untuk durhaka terhadapnya," jawab Abdul Qadir.

Ketua perampok itu mendengar jawaban dan pernyataan Abdul Qadir, dia kemudian merasa menyesal yang sangat mendalam dan menangis tersedu-sedu. "Engkau tak berani ingkar kepada janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun ingkar kepada janji Tuhanku."

Pimpinan perampok itu kemudian menyatakan tobat kepada Allah di hadapan Abdul Qadir, anak kecil yang namanya kelak akan menjadi harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya' Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Apa yang dilakukan pimpinan perampok ini kemudian diikuti oleh seluruh anak buahnya. (Kisah ini ditulis ulang dari website NU online)

Dari kisah kejujuran syekh Abdul Qadir Al-Jailani ketika dirampok ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah, diantaranya bahwa kejujuran dan kebenaran merupakan hal yang sangat penting walau kita dalam keadaan apapun. Ketika dalam keadaan senang, kita harus berlaku jujur dan benar begitu pula dalam keadaan susah. Karena apa yang kita lakukan dengan benar itu bukan saja bermanfaat kepada kita tetapi juga bermanfaat bagi orang lain, bahkan menjadi jalan dakwah untuk menyadarkan orang lain dari ketidak benaran dan kemunafikan.

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Ketika Dirampok