Coretanzone: Menikah -->

    Social Items

Mau Jadi Calon Istri Idaman? Pelajari 5 Keahlian Ini Sebelum Menikah
Berbeda dari berpacaran, hidup akan jauh berbeda ketika Anda menikah. Ya, secara otomatis Anda dan pasangan akan hidup bersama dan ada banyak hal yang harus disesuaikan. Jika biasanya Anda sembarangan mengurus diri sendiri, nanti Anda juga punya tugas merawat orang lain. Apalagi jika Anda memiliki anak. Wahhh, itu bisa lebih kacau urusannya!

Agar Anda tidak terkejut ketika menikah, ada beberapa keterampilan yang bisa Anda pelajari terlebih dahulu. Misalnya lima hal berikut ini.

Menjaga dan merawat rumah


Pertama mulai dari tempat tinggal Anda sendiri. Jangan sembarangan dan gegabah lagi. Mulai sekarang, Anda dapat belajar membersihkan, mengatur isi rumah, mengatur berbagai hal, untuk mengurus semua masalah di rumah.

Hal-hal yang dapat Anda lakukan setiap hari termasuk membersihkan tempat tidur, menyapu dan mengepel lantai, membuang sampah secara teratur, hingga membersihkan debu yang menempel pada barang-barang di rumah.

Belajar memasak


Meskipun tidak wajib, Anda juga bisa mulai belajar memasak. Mulailah dari yang sederhana seperti memasak nasi goreng, ayam bumbu kuning, tumis, sup, salad, menu sarapan sederhana, dan gorengan. Jika Anda sudah mahir melakukannya, Anda bisa naik level belajar untuk membuat yang lebih rumit dan menggunakan banyak rempah dan teknik.

Baca juga: 5 Ciri Cowok Yang Serius Sama Kamu

Kelola keuangan bulanan


Keterampilan yang satu ini benar-benar wajib Anda miliki. Karena setelah menikah, Anda akan memiliki dua penghasilan dengan pasangan Anda dan bagaimana Anda mengaturnya? Jadi, mulai sekarang usahakan lebih terencana dalam membelanjakan uang, memiliki rekening tabungan, dana darurat, investasi, dan memikirkan aset juga.

Setelah menikah, Anda harus memikirkan tempat tinggal, biaya hidup bersama, ditambah urusan anak-anak yang membutuhkan banyak uang mulai dari kehamilan, persalinan, hingga masalah kesehatan dan sekolah.

Multitasking


Karena akan ada banyak hal yang harus Anda selesaikan setelah menikah, sangat penting untuk dapat melakukan multitasking alias melakukan sejumlah hal sekaligus. Persiapan ini cukup penting sehingga Anda tidak akan terkejut dan menjadi kewalahan nantinya.

Nah itulah lima keahlian yang harus kamu coba sebelum menikah, karena menjadi calon istri idaman itu cukup rumit juga.

Mau Jadi Calon Istri Idaman? Pelajari 5 Keahlian Ini Sebelum Menikah

Umat Islam Menikah Untuk Beribadah
Menikah bagi umat manusia khususnya umat Islam, selain sebagai sarana untuk menyalurkan nafsu untuk berhubungan intim yang telah menjadi fitrah, juga memilki makna yang sangat luas dan mendalam. Menikah bisa saja merubah kehidupan manusia, seperti perubahan sifat, pola hidup, pola pikir, kebiasaan, sifat dan lain sebagainya. Perubahan ini bisa menjadi baik atau sebaliknya tergantung bagaimana menyikapinya saja.

Pernikahan merupakan perpaduan antara dua insan yang berbeda, baik itu berbeda dalam hal fisik maupun berbeda dalam hal psikis yang dapat berpeluang untuk menimbulkan konsekwensi baru. Walaupun sebelum menikah ada yang sudah mengalami masa pacaran dalam waktu tertentu (baca: Pandangan Islam tentang budaya pacaran yang ada di tengah-tengah masyarakat), tetapi masa pacarana itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk saling kenal mengenal secara langsung. Saat berpacaran bisa saja seseorang baik itu laki-laki maupun perempuan menyembunyikan sifat dan perilakunya yang asli, sehingga keburukan dari sifatnya bisa tertutupi. Keduanya bisa saja ingin memberikan gambaran yang terbaik agar hubungan pacaran dapat berjalan dengan baik.

Pada saat awal-awal pernikahan, kehidupan terasa paling indah, istilahnya “dunia hanya milik berdua, yang lain hanya ngontrak.” Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun pernikahan bisa saja menjadi hubungan yang buruk, jika kedua pasangan tidak dapat menyikapi perbedaan yang dimiliki dengan arif dan bijaksana, dan tidak dapat memaknai pernikahan dengan dengan hati dan pikiran yang jernih. Karenya, pemaknaan terhadap menikah ini harus lebih awal dirubah, bahwa menikah adalah bentuk dari kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw.

Pernikahan motifnya adalah ibdaha, maka perlu menanamkan setidaknya tiga sikap inti di dalam diri yaitu. (1) Sabar, dalam pernikahan akan terjadi pertemuan antara dua insan yang berbeda jenis, maka akan banyak perbedaan diantara keduanya. Jika keegoisan muncul diantara perbedaan itu, maka yang akan muncul bukan ketentraman tetapi konflik yang terjadi terus menerus. Bayangkan saja jika dalam keluarga masing-masing mempertahankan egonya dalam mengambil keputusan, apa yang tejadi kira-kira?. Sehingga diperlukan sikap sabar untuk menghindari perpecahan yang dapat menghancurkan hubungan pernikahan. Kesabaran dalam hal menerima kenyataan bahwa pasangan memiliki fitrah yaitu sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, dan kesabaran untuk mengahadapi sikap, sifat, dan kebiasaan masing-masing.

(2) Saling Membantu. Pernikahan melahirkan hak dan kewajiban yang baru, suami berkewajiban mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan istri berkewajiban untuk merawat anak-anak hingga menjadi besar. Namun apakah kewajiban dalam keluarga sekaku itu? Memang secara teoritis hak dan kewajiban telah diatur dan memiliki Batasan tertentu, tetapi secara paraktek tidaklah demikian. Misalnya saja, jika suami belum mampu menafkahi keluarga secara penuh, maka istri boleh membantu meringankan beban itu, namun jika istri tidak dapat melaksanakannya, maka setidaknya jangan terlalu banyak meminta hal-hal yang hanya bersifat sekunder yang dapat menambah beban berat suami terhadap pengeluaran keluarga.

(3) Saling Memahami. Kalau pada poin ketiga di atas berbicara tentang hal yang berbentuk fisik, maka poin kedua ini berbicara tentang hal yang berbentuk psikis. Pada prinsipnya memahami itu berkaitan dengan perasaan, bisa dikatakan juga dengan berempati. Artinya saling merasakan antara satu dengan yang lain. Contohnya saja seperti, ketika istri sedang datang bulan, biasanya menjadi sensitif dan emosinya tidak terkontrol. Sebagai seorang suami yang baik sepatutnya untuk tidak ikut-ikutan emosional ketika istri sedang dalam keadaan uring-uringan. Contoh lain lagi, misalnya seperti ketika suami baru pulang kerja, istri saat itu tidak boleh menyambutnya dengan wajah yang buruk, tetapi sambutlah dengan baik dan dengan keadaan yang senayaman mungkin, sehingga ketika suami baru saja melihat istri, sebagian beban yang ada dipundaknya menjadi ringan.

Pada pernikahan, biasanya terjadi kesalahan pemaknaan, yang pada akhirnya akan mengakibatkan usia pernikahan tidak bertahan lama. Jika pernikahan hanya dimaknai sebagai pelepas nafsu birahi, maka seiring waktu berjalan, umur akan semakin menua sehingga kekuatanpun akan menurun, dan kecantikan atau kegantengan akan memudar. Rasulullah menyebutkan bahwa salah satu penyakit yang tidak dapat dihindari oleh umat manusia adalah penyakit tua.

Biasanya di awal pernikahan yang melandasinya adalah cinta dan hawa nafsu, namun seiring waktu berjalan dan semakin bertambah umur masing-masing dan umur pernikahan sepatutnya yang melandasi pernikahan adalah cinta dan kasih sayang. Fisik suatu saat akan memudar, namun kasih sayang akan tinggal abadi selamanya hingga dikemudian hari, karena kasih sayang itu berasal dari kemuliaan hati dan jiwa manusia.

Kesalahan yang lain dalam memaknai pernikahan sebelum akad berlangsung dapat menyebabkan seseorang memutuskan untuk menunda pernikahan, atau yang lebih parah lagi bisa membatalkannya. Misalnya saja seseorang memaknai pernikahan hanya sebatas pelampiasan hasrat biologis semata, maka dia akan berpikir, kenapa harus menikah untuk melampiaskan hasrat, kalau di luar sana masih banyak dijajakkan ‘alat’ pemuas biologis.

Ada juga keslahan pemaknaan yang sering terjadi tentang pernikahan adalah menganggapnya hanya sebagai kesenangan dan keindahan semata, sehingga ketika mengalami sedikit goncangan saja di dalam rumah tangga yang dibangun sekian lama, sudah menjadi shok, tertekan, dan stres. Padahal jika kita lihat kembali sejarah perjalanan para nabi terdahulu, misalnya saja Nabi Nuh dan Nabu Luth yang mendapat cobaan terbesar dalam keluarganya, yaitu ketika istri dan anak mereka menjadi penentang besar kerasulannya dan apa yang diajarkannya. Apakah kedua nabi ini salah dalam memilih calon istri mereka? Jawabannya adalah tidak, karena istri mereka berdua dipilih langsung oleh Allah agar menjadi pelajaran bagi kita, bahwa dalam perniikahan itu pasti ada cobaan dan tantangan baik itu dari dalam keluarga sendiri maupun dari luar, sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Ibaratnya semakin tinggi pohon, maka semakin kuat angin meniupnya, jika akarnya tidak kuat maka pohon itu akan tumbang.” Wallahu a’lam.

Umat Islam Menikah Untuk Beribadah

Menikah: Beribadah Sambil Meneguk Nikmat Surga
Pernikahan merupakan jalan untuk menyatukan dua manusia berlawanan jenis yang bukan muhrim dalam satu ikatan keluarga. Secara simple dapat dikatan bahwa pernikahan merupakan jalan legal untuk memenuhi kebutuhan biologis, yang sebelumnya diharamkan untuk dilakukan. Jalan Kebutuhan biologis yang dimaksud adalah kebutuhan untuk melakukan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Kalau kita lihat kembali pada kisah pertama kali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah turun dari langit adalah peristiwa besar, mereka dipisahkan dengan jarak yang sangat jauh, kemudian dipertemukan dan dari situlah cerita cinta lama bersemi kembali. Keduanya diliputi oleh rasa nafsu untuk memuaskan kebutuhan biologis, namun di saat itu para malaikat menegur Nabi Adam dan berkata.

“Jangan dulu kau lakukan itu wahai Adam, hingga engkau membayar mas kawin (mahar) kepada Hawa”.

Adam kembali bertanya kepada malaikat, “apa maharnya?”

Malaikat menjawab, “maharnya yaitu engkau membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Nabi Adam lalu membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad saw., untuk memenuhi mahar tersebut. Pada saat itu, malaikat Jibril bertindak sebagai pembaca khutbah nikah, kemudian Allah yang menikahkan Nabi Adam dengan Sayyidah Hawa. Momentum yang agung dan untuk pertama kalinya terjadi di muka bumi ini disaksikan langsung oleh para malaikat yang dekat dengan Allah (al-Muqarrabin), seperti malaikat Israfil dan Malaikat Mikail.

Dari proses akad pernikahan yang dilangsungkan pertama kali inilah yang berlanjut sampai saat ini, bahkan disyariatkan di dalam agama Islam. Di kalangan sunni khususnya Ahlussunnah wal jamaah, ketentuan yang berlaku dalam pernikahan adalah, (1) adanya calon mempelai pria dan wanita, (2) adanya wali untuk melakukan akad nikah atau wakilnya, (3) adanya dua orang saksi dan (4) adanya mahar. Berdasarkan kisah yang telah digambarkan secara garis besar di atas, sehingga tak salah jika ada orang yang beranggapan bahwa menikah hanyalah untuk memenuhi kebutuhan biologis secara legal.

Pernikahan tidak sesederhana yang dianggap oleh beberapa orang di atas, Menurut K.H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dalam buku Keluarga Maslahah, menikah jauh lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Menikah merupakan sunnah Rasulullah, karenanya menikah merupakan salah satu ibadah. Dalam konteks ini berhubungan intim dengan istri merupakan dihitung sebagai perbuatan yang menatangkan pahala. “Barangkali persetubuhan lewat pernikahan inilah satu-satunya ibadah yang sesuai dengan tuntunan hawa nafsu manusia.” (M. Cholil Nafis dan Abdullah Ubaid: 2010).

Menurut ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali, hanya satu-satunya nikmat surge yang diturunkan Allah di dunia ini adalah nikmat saat berhubungan suami istri. Ini hanyalah merupakan stimulant atau pancingan yang diberikan Allah kepada manusia, agar jika mereka ingin mendapatkan nikmat tersebut setelah kematian, maka haruslah masuk ke dalam surga.

Dalam al-Quran, pernikahan diistilahkan sebagai mistaqan ghalizhah, yang artinya perjanjiang agung dan kokoh yang diikat dengan sumpah. Al-Quran menggunakan istilah istilah ini minimal dalam tiga konteks.

Pertama, Konteks pernikahan sebagaiman yang difirmankan Allah dalam al-Quran surat An-Nisa ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.

Kedua, konteks kedua ini berkaitan dengan janji Allah dengan bani Israil, sebagaimana firman-Nya di dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 154, Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Kegita, konteks yang ketiga ini berkaitan dengan perjanjian Allah dengan nabi-nabiNya bahwa mereka akan menyerukan ajaran agama Allah kepada umatnya masing-masing, sebagiaman firman Allah dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 7. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.

Dari ketika konteks di atas tentang terminologi mistaqan ghalizhah yang digunakan al-Quran, dapat ditarik benang merah, bahwa pada intinya nilai pernikahan itu keagungannya sama dengan perjanjian antara Allah dengan Bani Israil, dan setara dengan dengan perjanjian Allah dengan pada Nabi-Nya.

Dengan demikian, hal ini berarti bahwa pernikahan itu bukanlah hanya sekedar ikatan sah untuk menyalurkan kebutuhan biologis semata, atau merupakan tiket untuk berhubungan intim antara dua insan yang berlainan jenis, tetapi juga menjadi media atau perantara untuk mengaktualisasikan ketaqwaan kepada Allah.

Menikah: Beribadah Sambil Meneguk Nikmat Surga

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah saw. bersabda “jika seseorang menikah, maka sesungguh nya ia telah menyempurnakaan setengah dari agamanya. Oleh karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian lainnya.” (H.R. Baihaqi). Dari hadis ini Rasulullah mengungkapkan bahwa menikah adalah jalan untuk menyempurnakah sebagian dari agama Islam, sehingga nilai ibadahnya sangat tinggi. Pernikahan selain dapat membebaskan manusia dari perbuatan yang nista, juga merupakan jalan untuk mencapai kemuliaan yang tinggi di hadapan Allah.

Dalam al-Quran Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-Rum: 21).

Allah sudah dengan jelas berfirman bahwa istri berasal dari jenis kita, yaitu manusia juga, dan tidak berasal dari jenis yang berbeda, agar dalam membangun keluarga itu harus ada saling pengertian dan saling memahami, dan membangun keluarga yang baik. Pernikahan adalah jalan menuju kepada ketentraman jiwa dan raga, karena di sana ada kasih sayang antara satu dengan yang lain.

Di ayat lain Allah swt. berfirman, Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S. Al-A’raf: 189).

Ayat di atas mengajarkan bagaimana menciptakan kehidupan keluarga yang tenang dan penuh dengan perasaan senang dan kedamaian. Jika hal ini dapat terwujud, maka pernikahan akan dengan mudah menjadi jalan dan sarana untuk mencapai kemuliaan sekaligus sebagai bagian dari kenikmatan hidup yang tiada tara. Wallahu a’lam.

Menikah: Beribadah Sambil Meneguk Nikmat Surga