Coretanzone: NTT

    Social Items

Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya DuniaPulau - Nusa Tenggara Timur termasuk bagian wilayah Indonesia Timur, berbatasan dengan negara Timorleste, yang masih mempunyai keturunan dari bangsa Portugis. Sebab kawasan itu dulunya bekas jajahan negara tersebut. Ciri khas fisik mereka sekilas mirip dengan penduduk Papua.

Namun di sini hanya akan membicarakan destinasi wisatanya yang sayang sekali dilewatkan bila berkunjung ke daerah itu. Dikenal dengan panorama alam yang indah, berikut ulasannya untuk Anda.

1. Danau Tiga Warna Kelimutu


Danau Tiga Warna Kelimutu merupakan danau kawah yang terletak di puncak gunung Kelimutu tepatnya di desa Pemo, kecamatan Kelimutu kabupaten Ende. Kata "Kelimuti" sendiri berasal dari kata "keli" yang berarti "gunung" dan "mutu" yang berarti mendidih. Sesuai dengan namanya ‘’Danau Tiga Warna Kelimutu’’ memang mempunyai tiga warna air yang berbeda-beda. Dan untuk setiap warnanya diartikan sendiri-sendiri oleh penduduk setempat, yang jika berubah-ubah warna selalu dikaitkan dengan hal magis. Padahal menurut penelitaian para ahli, tiga warna tersebut disebabkan adanya perubahan molekul atau gas seperti ferum, natrium, oksida dan lain sebagainya.

2. Gua Batu Cermin


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Gua Batu Cermin berada di lokasi kampung Wae Kesambi, kecamatan  Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, tak jauh dari kota Labuan Bajo. Gua ini kali pertama ditemukan oleh Theodore Verhoven seorang pastor sekaligus arkeolog berkebangsaan Belanda pada tahun 1951. Dinamakan Gua Cermin sebab di dalam gua terdapat sebuah celah sempit yang membuat sinar matahari masih bisa mnerobos masuk ke dalam.

3. Nihiwatu Beach


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Pantai Nihiwatu pernah masuk survey yang dilakukan oleh CNN pada tahun 2013 sebagai pantai paling indah menduduki peringkat 17 dari 100 pantai dunia. Ini tidak salah sebab faktanya pantai tersebut mempunyai ombak yang menjadi salah satu tercepat di dunia, sehingga menjadi favorit para peselancar untuk datang ke sana. Bahkan mereka menjuluki tempat itu sebaga "God’s Left". snaik kuda, memancing dan sebagainya, atau sekadar duduk mengamati burung-burung di atas langit.

4. Pulau Komodo


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Sesuai dengan namanya pulau indah itu memang sarangnya pulau komodo, mahkluk purba sejenis kadal raksasa. Indonesia patut banga sebab memiliki warisan salah satu keajaiban dunia. Resmi ditetapkan sejak tahun 2012. Masuk dalam wilayah administratif desa Labuan Bajo kecamatan Komodo, kabubaten Mangarai Barat.

5. Pantai Lasiana Kupang


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Berada di ibukota Nusa Tenggara Timur yaitu Kupang bernama Lasiana. Terletak di kelurahan Lasiana kecamatan Kupang Tengah, kota Kupang. Tiket masuk ke area wisata itu terbilang sangat murah dan terjangkau.

6. Manta Point Labuan Bajo


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Manta adalah sejenis ikan laut raksasa yang cara berenangnya seperti terbang, dengan sirip sangat besar di kanan kiri badannya. Pada musim bulan Maret serta April adalah waktu yang tepat memulai petualangan. Anda dapat menikmati sensasinya sambil menyelam ke dasar laut Labuan Bajo, memicu adrenalin berenang bersama ikan-ikan unik tersebut.

7. Pulau Alor


Keajaiban Wisata Pulau Nusa Tengara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Pulau ini sering muncul  di acara tv dalam acara petualanagan seru. Memang tak salah karena tempat ini merupakan favorit wisatawan mancanegara. "Baruna’s Dive Sites At Alor" demikian julukan yang disematkan untuk pulau tersebut, dengan kekayaan terumbu karang yang menakjibkan.

Destinasi wisata Nusa Tenggara Timur sangat banyak.Di atas hanya sebagian kecil yang dituliskan. Bagaimana Anda tertarik untuk pergi ke sana juga?

Keajaiban Tempat Wisata di Nusa Tenggara Timur, Salah Satunya Jadi Situs Budaya Dunia

Masyarakat - yang hidup di Pulau Flores memiliki beragam kesenian dan kebudayaan yang khas. Dalam hal kesenian, masyarakat flores memberikan beragam tarian yang elok dan indah untuk setiap tamu yang singgah di Pulau Flores ini. Tari-tarian ini pun tak serta merta dipamerkan setiap saat. Tarian yang ada di sini, ditampilkan hanya saat ada acara atau upacara tertentu. Salah satu tarian yang terkenal dari masyarakat flores adalah tari Caci.

Tari Caci merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Pulau Flores yang disajikan dalam bentuk tarian. Tarian ini adalah sejenis tarian perang khas dari masyarakat Manggarai di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara timur. Tarian ini dimainkan oleh 2 (dua) penari laki-laki. Pada dasarnya tarian ini berupa suatu tarian dan pertarungan dimana kedua laki-laki saling bertarung yang masing-masing dari mereka menggunakan sebuah cambuk dan sebuah perisai sebagai senjatanya. Tarian ini pun biasa ditampilkan diberbagai acara seperti ritual tahun baru (penti), pada saat syukuran musim panen (hang woja), dan juga berbagai upacara adat lainnya. Karena keunikannya ini, tak heran jika tarian ini sudah terkenal luas hingga manca negara sebagai tarian khas suku manggarai di Pulau Flores, Provinsi NTT.

Menurut sejarahnya, tari Caci ini bermula dari sebuah tradisi masyarakat Manggarai. Pada saat itu para laki-laki saling bertarung satu lawan satu untuk menunjukkan ketangkasan dan keberaniannya. Seiring berjalannya waktu, tarian ini pun berinovasi dengan memadukan antara gerakan tari, lagu, dan juga musik pengiring. Tari Caci ini berasal dari kata ‘ca’ yang artinya satu dan kata ‘ci’ yakni uji. Jadi caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan dengan cara satu lawan satu.

Tari Caci ini bertujuan untuk membuktikan kejantanan mereka, baik itu dalam segi keberanian maupun ketangkasan. Sebelum para penari bertanding, pertunjukan terlebih dahulu diawali dengan sebuah Tari Tandak atau Tari Danding Manggarai. Tarian ini dipersembahkan oleh para penari laki-laki dan perempuan sebagai pembukaan acara dan meramaikan pertunjukan Tari Caci. Setelah tarian pembuka selesai lalu dilanjutkan dengan atraksi Tari Caci yang diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan gendang, serta nyanyian nenggo atau dare yang dibawakan oleh pengunjung yang hadir di sana.

Para penari tari Caci menggunakan kostum layaknya seorang prajurit yang akan maju ke medan perang dan menggunakan penutup kepala (pangkal) serta pakaian pada bagian bawah saja. Jadi tubuh bagian atas tanpa busana. Sedangkan pada bagian tubuh bagian bawah akan menggunakan celana panjang berwarna putih dan sarung songket khas dari Manggarai berwarna hitam. Sebagai aksesoris biasanya akan ditambahkan giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan para penari. Untuk penutup kepalanya, penari menggunakan sebuah topeng yang terbuat dari kulit binatang kerbau yang keras dan digunakan untuk melindungi wajah dari serangan lawan.

Tarian ini begitu masyhur di Pulau Flores. Selain karena kemeriahan dan pertunjukannya, tarian ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan ketangkasan dalam bela diri. Tak heran jika banyak pemuda yang berlatih menari Caci. Walaupun demikian, tarian ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Karena mengingat ada beberapa hal yang perlu dilatih sebelumnya.

Nah, jika Anda ingin melihat tari Caci ini, datang saja ke Pulau Flores saat ada acara atau syukuran masyarakat manggarai. Anda bisa terkesima melihatnya.

Uniknya Tari Caci Suku Manggarai di Pulau Flores

Orang Larantuka dan Pulau Flores
Pulau Flores - merupakan pulau yang berada di Indonesia bagian timur. Pulau ini menyimpan beragam kebudayaan dan banyak suku yang tinggal di dalamnya. Tak hanya itu, keaslian pulau ini pun memberikan banyak kesan karena keindahan tempatnya. Salah satunya adalah Larantuka yang berada di Pulau Flores.

Larantuka merupakan suatu daerah yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di tempat ini pun dahulunya juga berdiri sebuah kerajaan Katolik di Indonesia. Yaitu Kerajaan Larantuka pada abad ke-17. Walaupun Larantuka juga termasuk kerajaan yang kecil, baik itu berdasarkan luas wilayah dan kebudayaannya, namun Larantuka juga memberikan banyak budaya Katolik. Wilayah ini tak hanya dihuni oleh orang Larantuka saja, ada juga beberapa pendatang dari Pulau Jawa, Kepulauan Maluku, dan beberapa pendatang lainnya.

Orang Larantuka biasanya memenuhi kehidupan sehari-hari dengan cara bercocok tanam dan melaut. Hasil pertanian yang mereka dapatkan berupa umbi-umbian, padi, jagung, serta buah dan sayur. Tak hanya itu, beberapa pohon keras pun mereka tanam di tanah mereka. Karena pulau ini berdekatan dengan lautan, tak heran jika sebagian besar orang Larantuka menghabiskan waktu mereka dengan melaut. Berbagai macam ikan pun mereka dapatkan untuk makan atau dijual kembali.

Tradisi dan budaya orang Larantuka masih sangat murni dan asli. Hingga saat ini pun tradisi ini masih banyak ditemui. Berbagai ritual atau upacara adat pun mereka gelar setiap tahunnya. Salah satunya adalah ritual dalam persembahan hewan ternak pada setiap upacara tradisional yang mereka adakan. Pengorbanan hewan ini bertujuan untuk meminta berkah dari Sang Pencipta. Tak hanya itu, ada juga tradisi Semana Santa. Tradisi ini digelar secara turun temurun setiap tahunnya sejak abad ke-5. Acara ini hanya ada pada saat perayaan Paskah saja. Pada perayaan ini, banyak peziarah yang datang ke Larantuka untuk memohon berkat dan berdoa kepada Tuhan.

Selain kedua tradisi itu, masih ada tradisi Sakramen Ekaristi yang digelar di Katedral Larantuka. Tradisi ini sangatlah sakral dan hanya dilakukan pada Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung dan sebagainya. Ada pula prosesi laut Tuhan Meninu yang dilakukan saat Jumat Agung. Tradisi ini merupakan tradisi dimana orang Larantuka mengantarkan Patung Tuhan Meninu menuju ke Armida, yaitu tempat pemberhentian jalan Salib. Pengantaran patung ini melewati laut dan menggunakan kapal sebagai alat transportasinya. Tak heran jika pada saat acara ini kapal-kapal yang ada di Larantika turut menghantarkan patung tersebut.

Orang Larantuka sangat terkenal dengan keramahannya. Jadi banyak warga asing yang singgah di sini. Mereka tak hanya menikmati keindahan alam Larantuka, tapi juga mempelajari berbagai kebudayaan orang Larantuka. Banyak sekali tempat wisata dan panorama pantai di sini yang biasa dijadikan tempat jujukan orang Indonesia maupun luar negeri. Wisata-wisata ini pun begitu asri dan masih alami. Karena memang tempat ini belum banyak terjamah oleh masyarakat luas.

Setiap suku dan budaya di setiap daerah memang sangat berbeda dan beragam. Keanekaragaman ini pun juga memiliki ciri khas tersendiri yang tak bisa ditemui di daerah lain. Keunikan suatu daerah juga dapat terlihat dari acara, bahasa, dan tradisi yang sengaja digelar untuk pemujaan maupun rasa syukur masyarakatnya.

Seperti itulah beberapa hal mengenai orang Larantuka dan Pulau Flores yang menyimpan bnyak keunikan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Orang Larantuka dan Pulau Flores

Sejarah dan Budaya Suku Manggarai di Pulau Flores
Suku - Manggarai merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Suku ini berada di bagian barat pulau Flores di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Manggarai tersebar di tiga kabupaten di provinsi tersebut, yaitu Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. Jumlah populasinya sekitar 350.000 jiwa.

Berdasarkan sejarahnya, dahulu kala di Manggarai terdapat sebuah kerajaan. Pada masa sekarang sisa-sisanya masih kelihatan yaitu berupa pembagian wilayah tradisional ke dalam wilayah adat yang disebut dalu yang jumlahnya sampai 39 buah. Tiap-tiap dalu dikuasai oleh satu klen atau wau tertentu. Dalam setiap dalu tersebut terdapat beberapa buah glarang yang di bawahnya lagi terdapat kampung-kampung yang disebut beo. Orang-orang dari wau yang dominan dan menguasai dalu menganggap diri mereka sebagai golongan bangsawan. Antara satu dalu dengan dalu yang lainnya sering mengadakan aliansi perkawinan dalam sistem yang mereka sebut perkawinan tungku (semacam perkawinan sepupu silang). Antara dalu dengan glarang sering pula terjadi perkawinan, karena sebuah glarang umumnya juga dikuasai oleh sebuah wau dominan.

Dalu sebagai bawahan kerajaan dipimpin oleh seorang kraeng, yang biasanya dipanggil Kraeng Adak. Kraeng yang dianggap berjasa ini berhak memperoleh gelar Sangaji dari raja. Sementara itu adanya wau yang dominan itu maka dalam masyarakat Manggarai terdapat pelapisan sosial yang cukup jelas. Pertama adalah golongan yang menganggap dirinya bangsawan, yang biasanya memakai gelar kraeng. Kedua adalah golongan rakyat biasa yang disebut ata lahe. Golongan ketiga adalah hamba sahaya atau mendi. Tentu saja pada zaman sekarang pelapisan sosial ini sudah semakin kabur.

Suku Manggarai mayoritas mengabdikan hidupnya untuk bercocok tanam di ladang dan sawah. Tanaman yang mereka tanam diantaranya adalah padi, ubi kayu, jagung, buah dan sayur. Selain itu, mereka juga beternak. Yaitu berupa hewan kerbau, sapi, kuda, babi, anjing, ayam, serta melaut. Pada umumnya masyarakat suku Manggarai memeluk agama Katolik, dan Protestan.

Bahasa Manggarai cukup beragam. Bahasa ini memiliki perbedaan dalam hal dialek, seperti dialek, Mbaen, Pota, Mabai, Rejong, Pae, Manggarai Timur, Manggarai Tengah, dan Manggarai Barat.


Suku manggarai mempunyai beberapa tradisi upacara ritual adat yang dilakukan sebagai ucapan syukur terhadap kehidupan yang telah dijalani dalam beberapa periode waktu. Upacara adat tersebut antara lain adalah:

Ritual Penti Manggarai adalah upacara adat dalam merayakan syukuran terhadap hasil panen yang mereka miliki.

Ritual Barong Lodok adalah upacara adat untuk mengundang roh penjaga kebun yang berada di pusat lingko (bagian tengah kebun).

Ritual Barong Wae adalah upacara adat untuk mengundang roh leluhur yang menjadi penunggu sumber mata air,
Ritual Barong Compang adalah upacara adat pemanggilan roh penjaga kampung pada malam hari,
Ritual Wisi Loce, adalah upacara adat yang dilakukan agar semua roh yang diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti,
Ritual Libur Kilo adalah upacara adat untuk mensyukuri kesejahteraan keluarga yang berasal dari masing-masing rumah adat.

    Selain beberapa upacara adat di atas, suku manggarai juga memiliki olahraga tradisional yang mereka sebut sebagai caci. Olahraga caci ini adalah pertarungan dua orang laki-laki di sebuah lapangan luas. Mereka berdua saling pukul dan tangkis menggunakan pecut dan tameng. Sebelum pertunjukan ini dimulai, biasanya ada pentas tarian Danding. Tarian ini juga biasanya disebut sebagai Tandak Manggarai, yang khusus dipentaskan untuk meramaikan pertarungan caci.

    Berbagai kesenian dapat Anda temukan dalam suku ini. Baik itu seni musik, sastra, tari, disain, dan kriya. Selain itu ada kesenian lainnya yang sangat terkenal. Yaitu seni rupa (kriya), dan songket. Dalam seni musik, alat-alat musik tradisional suku ini seperti gendang, sunding, gong, tambor, tinding. Dalam bidang teknologi, masyarakat suku Manggarai zaman dahulu sudah mengenal dan mampu menghasilkan peralatan rumah tangga serta perkakas yang dibutuhkan untuk kehidupannya hingga saat ini.

    Masyarakat suku Manggarai sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Sejarah suku ini begitu melekat bagi penduduk di wilayah Nusa Tenggara Timur. Beragam kebudayan dan tradisi yang ada di daerah ini membuat suku Manggarai tak hanya terkenal di Indonesia, namun juga di kancah internasonal. Hal ini juga disebabkan oleh beragam kesenian khas daerah berupa songket atapun kerajinannya yang banyak disukai warga luar negeri.

    Sejarah dan Budaya Suku Manggarai di Pulau Flores