Coretanzone: Papua

    Social Items

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua
Islam adalah agama yang di turunkan untuk semua umat manusia. Oleh karena itu atas kehendak serta takdir Allah swt. menyebar ke seluruh pelosok dunia, tidak kecuali bumi Nusantara satu diantaranya wilayah Papua. Kedatangan Islam di bumi Papua mulai sejak lima ratus tahun yang lalu . Semangat syiar Islam sudah membawa muslim jaman itu menerjang derasanya ombak serta kuatnya gelombang hingga datang di bumi cendrawasih.

Berdasarkan catatan sejarah Papua telah diketahui begitu lama pada saat Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut dengan sebutan Janggi. Pelaut Portugis yang sempat berkunjung di Papua tahun 1526-1527 M menyebut wilayah itu dengan sebutan ‘Papua. ’ Akan tetapi ada juga yang menyebut wilayah papua dengan sebutan "Isla de Oro" (Island of Gold). Kesamaan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol mengatakan ‘Nieuw Guinea’, mengacu pada lokasi Guinea di Afrika Barat. Papua, mungkin saja datang dari bahasa Melayu, pua-pua, yang bermakna keriting. Arti ini digunakan oleh William Mardsen tahun 1812, serta ada dalam salah satunya kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, lewat kata ‘papoewah’ yang bermakna orang yang memiliki rambut keriting.

Syiar Islam di Bumi Papua terkonsentrasi di bagian Papua Barat, dari mulai Raja Ampat sampai Fakfak. Dalam perkembangannya terdapat banyak versi tentang perkiraan jalur masuk Islam di tanah Papua. Pertama, Menurut Versi Papua, berdasar pada legenda penduduk setempat, terutama di Fakfak. Islam bukan dibawa dari luar seperti Tidore atau pedagang Muslim, tapi Papua telah Islam semenjak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Kedua, Menurut versi Aceh. Versi ini berdasar pada sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang mengatakan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai telah mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) pada tahun 1224 M. Syekh Iskandar saat itu membawa beberapa kitab yaitu mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid serta kitab himpunan doa. Ada juga manuskrip yang ditulis diatas pelepah kayu, serupa daun lontara. Beberapa manuskrip itu dipercaya selamat dan masih ada sampai sekarang ini.

Menurut tradisi lisan lainnya di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam serta Masjid Rumbati menjadi bukti peninggalan sejarah. Akan tetapi informasi lainnya menyebutkan kalau Abdul Ghafar ada di Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini harus dilihat kembali, terlebih dalam soal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar ada pada abad ke 16, berbarengan dengan waktu keemasan Kesultanan Ternate serta Tidore yang menjadi bandar jalur sutera serta meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi sampai Papua.

Ketiga, Menurut versi Arab. Versi ini mengatakan jika Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman, yang berlangsung pada abad ke 16. Perihal ini sesuai dengan bukti sejarah Masjid Tunasgain yang dibangun kurang lebih pada tahun 1587 M. Informasi lainnya menyebutkan bahwa Syekh Jubah Biru datang di papua pada tahun 1420 M.

Pandangan yang nampaknya lebih kuat tentang masuknya Islam di Papua ialah masuknya Islam di Papua lewat Kesultanan Bacan (Maluku Utara). Di Maluku ada empat Kesultanan, yakni, Bacan, Jailolo, Ternate serta Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J. T. Collins, mengatakan, berdasar pada analisis linguistik, Kesultanan Bacan merupakan Kesultanan paling tua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Ada banyak nama tempat yang disebut sebagai pemberian dari Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing serta air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan sebagainya. Beberapa nama itu adalah sebagai bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat serta keturunan Raja Bacan sebagai Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan sebarkan Islam di Papua kurang lebih pada pertengahan abad ke 15 dan abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, sesudah beberapa pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan itu berkunjung ke Kesultanan Bacan pada tahun 1596.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Pandangan ini di dukung juga oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang mengatakan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) lakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di Misool, Sultan Ibnu Mansur yang kerap disebut sebagai Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War lalu dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yakni Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya sampai ke wilayah Raja Ampat bahkan juga sampai di Biak.

Penyebaran Islam selanjutnya disebarluaskan ke beberapa wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma serta Lakahia oleh beberapa pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate serta Tidore. Kedatangan orang Buton didukung dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia mengatakan di daerah pesisir Onin (Fakfak) sudah tinggal orang Pouton (Buton) yang berdagang serta sebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua jadi lebih gampang karena persamaan budaya serta bahasa. Bahasa yang digunakan termasuk bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan serta Sula (bahasa Biak di Raja Ampat ; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak serta Seram, ataupun bhs non Austronesia seperti di Ternate ; Tidore dan Jailolo karena masuk kelompok Bhs Halmahera Utara, yakni bhs Galela). Kemudahan komunikasi dengan beberapa pemimpin penduduk Papua, yang lalu memeluk Islam, menggerakkan berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom dibawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini ada di Raja Ampat (Kolano Fat), yang masih terpatri sampai sekarang menjadi jati diri Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terbagi dalam Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) serta Kerajaan Batanta.

Pengaruh Islam pada penduduk papua bisa diprediksikan dengan menyaksikan penerapan ajaran Islam yang ada di penduduk Papua waktu itu. Penerapan hukum Islam, contohnya, sudah diterapkan pada penduduk Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Disana ada Hakim Syara’ yang bekerja mengurus tentang perkawinan, kematian serta sholat berjamaa’ah. Hadirnya Masjid-masjid tua, misalnya Masjid Tunasgain, yang diprediksikan dibangun semenjak tahun 1587 M. Atau di Patimburak, yang diprediksikan semenjak abad ke 19 M.

Hadirnya Masjid ini selain peninggalan fisiknya, bisa juga kita prediksi kedudukannnya dalam penduduk. Adanya Masjid semenjak abad ke 16, mengisyaratkan lama sudah dilaksanakannya pendidikan Islam lewat khotbah Jum’at. Adanya Masjid dapat juga kita prediksikan berperan menjadi tempat pendidikan, walau berbentuk yang simpel di penduduk. Alur pendidikan sederhana ini bisa ditelusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno serta teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M. Kedatangan kitab Barzanji, bisa kita prediksikan menjadi usaha untuk menumbuhkan kebiasaan Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam yang lain dalam penduduk, bisa disaksikan dari beberapa nama yang ada dalam penduduk Papua pribumi. Di desa Lapintol serta Beo, biasanya, golongan pria menggunakan beberapa nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk wanita. Islam juga merubah tampilan penduduk. Bila di pedalaman Papua, penduduk aslinya belumlah kenakan pakaian, serta cuma tutup sisi vitalnya saja, tetapi di pesisir masyarakat Papua situasi begitu berlainan. Tidak bisa disangkal, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih tetap bisa diketemukan muslim Papua waktu itu yang meyakini keyakinan Animisme atau keyakinan lokal yang lain. Proses penyebaran Islam lewat kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam begitu tergantung pada kepedulian kepala suku itu. Demikianlah Islam berkembang di Papua dengan pasang surut persebarannya sampai saat ini.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Kota Merauke - merupakan kota cantik di ujung paling timur Indonesia yang di selatannya adalah propinsi Papua, memiliki sebutan lain yaitu Kota Rusa. Dikarenakan dahulu jenis hewan tersebut banyak ditemukan di wilayah tersebut. Selain itu binatang yang tak kalah menakjubkan juga ada di sini, seperti: kangguru merah, burung pelikan, kasuari, kuskus, tikus berkantung, kura-kura, kakatua dan sebagainya.

Bila dilihat secara geografi, sejarah, ekonomi dan budaya, kota Merauke mempunyai fakta unik dan menarik dibandingkan kota sejenis di Papua. Disebabkan letaknya paling ujung dari timur Indonesia, berjarak lurus dengan kota Sabang di propinsi Aceh. dan sama-sama memiliki tugu di masing-masing tempat.

1. Bumi Animha alias Bumi Manusia Sejati


Selain mendapat sebutan ‘sebagai ‘’Kota Rusa’ Merauke juga memperoleh julukan lain yaitu ‘’Bumi Anim – Ha’’. Hal itu behubungan dengan kepercayaan penduduk asli setempat asli Merauke dari suku Marind – Anim. Sedang Anim – Ha memilki arti ‘’Manusia Sejati’’.

2. Pantai Lampu Satu


Yang menarik dari pantai Lampu Satu adalah air lautnya yang berwarna coklat. Itu tentu berbeda sekali dengan keadaan pantai-pantai lain yang berada di pulau Papua. Dikarenakan keadaan topografi tanah Merauke yang datar dan berawalah yang menyebabkan hal tersebut. Ketika air surut, banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bermain bola, mencari kerang dan sebagainya, atau sekadar menikmati sunset di senja hari.

3. Taman Nasional Wasur


Taman Nasional Wasur atau populer dikenal dengan nama lain ‘’Serengeti Papua’’, termasuk dalam kategori lahan basah terbesar di Indonesia, bahkan di Asia yang masih terjaga alaminya. Buat Anda pecinta hewan peliharaan burung, tempat ini surganya. Menurut survey WWF di sini banyak ditemukan hampir empatratusan jenis burung, dapat dijumpai burung-burung yang berimigrasi ke Australia. Hal menarik lain akan dijumpai pula rumah ‘’Musamus’’ atau rumah semut yang hanya ada di Merauke dan Australia.

4. Tugu Kembar


Seperti sudah sedikit disinggung di atas bila kota Merauke kota paling ujung timur Indonesia dan terdapat sebuah tugu yang mirip dengan kembarannya yang berada di kota Sabang yaitu ‘’Tugu Nol Kilometer’’, memang benar adanya. Berlokasi di Sota Merauke atau lebih tepatnya di pertigaan distrik kota Sota arah perbatasan PNG, Merauke dan Boven Digul, ‘’Tugu Sabang Merauke’’ berdiri megah.

5. Pizza "Sagu Sep"


Dan ada satu yang menarik dari kota Merauke yaitu pizza ‘’Sagu Sep’’. Dilihat dari namanya memang benar ini sejenis pizza. Berbeda dengan jenis pizza yang familiar berbahan dasar tepung terigu, pizza sagu sep terbuat dari tepung sagu, makanan pokok mereka. Itu bukan papeda atau bubur, sebab cara memasaknya lain. Adalah tepung sagu yang dicampur dengan daging, (yang pada dasarnya sama bahan dasarnya untuk setiap wilayah) hanya cara mengolahnya yang sedikit unik. Namun dikarenakan proses memasaknya yang rumit, kuliner tersebut jarang ditemui, hanya di acara-acara tertentu saja olahan tersebut ada.

Itulah sekelumit kisah tentang kota Merauke dan destinasi wisatanya yang elok. Untuk mencapai daerah itu bukan sesuatu yang dirumit. Dapat dijangkau melalui jalur lalulintas laut dan udara.

Dan jika Anda bertanya di mana medan seru untuk memuaskan hasrat petualangan Anda? Jawabannya di sini! Masukkan dalam daftar agenda perjalanan wisata Anda, dan dijamin akan puas karenanya.

Mengenal Ragam Budaya Dan Pariwisata Kota Merauke yang Sangat Menawan

Kemilaunya Destinasi Wisata Kota Asmat Yang Memukau Mata
Suku Asmat merupakan salah satu suku yang mendiami pulau Papua. Bersama dengan yang lain, mereka juga sama uniknya, dengan adat budaya serta tradisi yang tak kalah menariknya. Selain ukirannya juga hal lain.

Sistem pemerintahan yang dianut : adalah dengan mengangkat seseorang dari mereka yang paling dihormati sebagai kepala atau ketua, atau lebih dikenal sebagai kepala suku, kemudian akan dihormati kedudukannya. Tugasnya sesuai dengan kesepakatan masyarakat, menjaga keharmonisan hubungan di antara mereka. Dan jika kepala suku meninggal, mereka bermusyawarah lagi mencari pimpinan baru sama persis dengan yang dilakukan pada yang pertama dulu.

1. Tradisi Pernikahan


Pria dari suku ini sangat menghormati wanita. Jika mereka menikah diwajibkan untuk memberinya mas kawin berupa piring antik dan sebuah mata uang yang nilainya sama berharganya dengan perahu Johnshon, yang digunakan untuk melaut. Jika kurang dalam melakukan pembayaran, tetap boleh menikah, namun harus mengangsur kewajiban yang tersisa selama menikah.

2. Tradisi Memotong Tali Pusar Bayi


Meski jaman sudah modern, tapi adat masih dipertahankan dalam masyarakat suku Asmat. Adalah sembilu, sejenis pisau yang berasal dari bambu yang dipakai memotong tali pusar yang baru lahir. Tradisi itu masih dipertahankan sampai sekarang.

3. Kematian


Sangat menakutkan! Terjadi bila kepala suku meninggal jenazahnya tidak dikubur, melainkan dijadikan mumi dipajang di depan rumah adat. Jika orang biasa cukup dikubur diiringi tangisan dan juga nyanyian. Lebih mainstream lagi, yaitu tradisi ikipalek. Yaitu tradisi memotong ruas jari sebagai bentuk bela sungkawa pada wanita yang telah berrkeluarga , kalau ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

4. Senjata


Senjata yang dipakai untuk berburu dan perang dari suku Asmat adalah busur dan anak panah. Ada tradisi yang sangat menakutkan, namun sekarang sudah dilarang. Adalah kesepakatan perjanjian ekstrem, yakni bila ada yang kalah dalam peperangan, maka mayatnya boleh dibawa pulang yang menang, dipotong-potong dimakan secara bersama-sama. Tapi tradisi sudah tidak ada lagi di sana.

5. Kuliner


Kuliner menyesuaikan dengan area tempat mereka tinggal dan menetap, yaitu di peisir pantai dan pedalaman. Pada umumnya berasal dari ikan atau binatang buruan. Memasaknya terbilang sederhana. Hanya dibakar saja, bahkan sagu yang merupakan bahan makanan pokok, juga hanya dibungkus daun dan dibakar.

6. Agama


Dahulunya suku Asmat cukup mengenal ajaran Animisme. Tapi seiring berjalannya waktu, agama mereka mendapat banyak pengaruh dari luar. Dan kini kehidupan bergamanya ikut pula berubah, sekarang sudah ada agama Islam, Kristen Protestan dan Katholik. Selain itu kepercayaan mendasar yang diyakini penduduk setempat, bahwa mereka anak dewa yang berasal dari dunia mistik, yang lokasinya berada di daerah mentari tenggelam pada sore hari. Mereka percaya bahwa dulu nenek moyang mereka melakukan pendaratan di bumi dan daerah pegunungan.

7. Rumah Adat


Suku Asmat merupakan suku yang terbesar dan terkenal di wilayah Papua, juga memiliki rumah adat yang sangat unik. Rumahnya disebut Jeu dengan panjang 25 meter hingga sekarang. Dan ada juga yang membangunnya di atas pohon.

Mengenal suku Asmat adalah tantangan tersendiri. Untuk Anda yang berjiwa pemberani dan menyukai sesuatu yang berbau petualangan, maka datang ke tempat ini adalah cara bagus. Memuaskan jiwa Anda, mengenal dan mempelajari kehidupan ujung timur negara Indonesia.

Kemilaunya Destinasi Wisata Suku Asmat Yang Memukau Mata

Keragaman - suku dan budaya di Indonesia tak akan pernah ada habisnya. Keunikan serta kekhasan suku-sku terseut membuat Indonesia semakin dikenal masyarakat luar negeri. Terlebih lagi dengan suku yang ada di Papua. Salah satunya adalah suku Amungme. Suku ini adalah suku yang berada di dataran tinggi Papua.

Suku Amungme tinggal di beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya. Yaitu berada diantara gunung-gunung tinggi. Seperti lembah Noema, lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah-lembah kecil lainnya, seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) dan juga di dataran rendah Agimuga dan kota Timika. Kata Amungme sendiri terdiri dari dua kata yaitu amung yang artinya utama dan mee yang berarti manusia.

Suku Amungme memiliki beragam kebudayaan yang membedakannya dengan suku-suku lainnya. Perbedaan ini terletak pada bahasa, kesenian, tradisi, upacara, dan beberapa kebudayan lainnya. Untuk bahasanya sendiri, ada dua bahasa, yaitu bahasa Amung-kal yang dituturkan oleh penduduk yang hidup disebelah selatan dan bahasa Damal-kal untuk suku yang menetap di wilayah utara. Selain itu, suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yakni Aro-a-kal. Bahasa ini menjadi bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal, bahasa simbol ini hanya akan diucapkan saat berada di wilayah yang dianggap keramat. Masyarakat suku Amungme bermata pencaharian sehari-hari adalah bercocok tanam dan berburu.

Mengenal Suku Amungme dan Budayanya

Suku Amungme memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah anak pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Suku Amungme menggangap bahwa mereka adalah penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan membuat karakter masyarakat amungme menjadi keras, tidak kenal kompromi, adil dan jantan.

Dalam segi keseniannya, Suku Amungme memiliki lagu yang ada sejak dulu, yaitu lagu purba yang syairnya Anga yeangaye, No emki untaye. Dan alat musiknya yang terkenal adalah Tifa. Selain itu ada juga noken yang berupa sebuah tas yang terbuat dari akar tumbuhan/rotan. Tak hanya itu, salah satu keunikan suku Amungme adalah dengan adanya upacara tradisional yang dinamakan dengan Bakar Batu. Tradisi ini bertujuan sebagai tanda rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, dan atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang. Persiapan awal tradisi ini masing-masing kelompok menyerahkan hewan babi sebagai persembahan, sebagain ada yang menari, lalu ada yang menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar. Secara tradisional masyarakat suku Amungme terbagi menjadi dua bagian. Dalam istilah antropologi hal ini dikenal dengan nama paroh (moieties). Paroh pertama adalah Mom, sedangkan paroh kedua adalah Magai.

Suku Amungme tak hanya menyimpan beragam budaya dan keanekaragaman yang khas di daerahnya. Karena berada di dataran tinggi, lokasi ini pun begitu sejuk dan memberikan pemandangan alam yang menawan. Suku Amungme bukan lagi sebagai salah satu suku primitif, suku ini pun sekarang sudah bisa menerima perubahan zaman. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perubahan yang ada dalam masyarakatnya. Walaupun demikian, kebudayaan dan keaslian suku ini masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Nah, itulah tadi beberapa hal seputar suku Amungme dan budaya yang melekat pada masyarakanya.

Mengenal Suku Amungme dan Budayanya

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi
Tanah Papua - merupakan tanah Indonesia yang berada di ujung timur. Walaupun demikian, tempat ini begitu banyak menyimpan budaya dan keunikan khas Papua. Bahkan tempat ini pun juga memiliki beragam pakaian, kesenian, dan makanan khas yang tak bisa Anda temukan di daerah lainnya. Selain itu, berbagai suku juga tinggal di Papua.

Salah satu kekhasan dari Papua adalah Koteka. Koteka merupakan suatu pakaian yang digunakan laki-laki di Papua untuk menutup kemaluannya. Penggunaan alat ini merupakan budaya asli penduduk di Pulau Papua. Koteka sendiri terbuat dari kulit labu air yaitu Lagenaria siceraria. Untuk bisa membuatnya, isi dan biji labu tua harus dikeluarkan terlebih dahulu. Setelah bersih, kemudian kulitnya dijemur hingga kering.

Jika dilihat secara harfiah, kata koteka ini berarti pakaian. Kata ini berasal dari bahasa salah satu suku yang ada di Paniai. Alat ini tak hanya dikenal dengan nama koteka, tetapi di sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Ukuran koteka biasanya disesuaikan dengan aktivitas penggunanya. Ukuran ini berbeda untuk setiap aktivitasnya. Baik itu saat bekerja, upacara, bahkan hanya untuk di rumah. Ada yang pendek dan juga panjang yang disertai dengan berbagai hiasan. Biasanya yang ukuran panjang ini digunakan untuk menghadiri upacara adat. Dan cara penggunaannya pun berbeda untuk setiap suku yang ada di Papua. Hal ini berbeda sekali dengan anggapan banyak orang bahwa ukuran koteka itu bergantung pada ukuran alat vital penggunanya. Setiap suku di Papua memikliki koteka yang berbeda-beda.  Orang Yali, lebih menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom biasanya memakai dua labu.

Seiring bertambahnya waktu, koteka semakin jarang digunakan. Hal ini terjadi karena pelarangan penggunaannya untuk ke sekolah maupun instansi resmi. Sejak 1950-an, para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai pengganti koteka. Pemerintah RI sejak 1960-an tengah berusaha untuk mengurangi penggunaan koteka di setiap daerah. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar. Pada akhirnya di tahun 1971, dikenal istilah operasi koteka. Operasi ini dilakukan bersamaan dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Namun, warga Papua malah banyak yang terserang penyakit kulit. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki sabun dan pakaian tersebut tidak pernah dicuci.

Keunikan koteka ini memang memberikan kesan yang khas untuk masyarakat di Papua. Namun, koteka juga tidak bisa digunakan secara terus-menerus setiap harinya. Karena hal ini masih sangat promitif dan jauh dari kesan modern. Pelarangan penggunaan koteka tersebut membuat warga Papua semakin mudah menerima perkembangan zaman yang semakin maju. Walaupun awalnya banyak yang tidak menanggapi pelarangan tersebut, namun pada akhirnya sedikit-demi sedikit masyarakat di Papua sudah beralih menggunakan pakaian yang semestinya.

Walaupun sudah tidak digunakan setiap harinya, alat ini juga memberikan banyak hal mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia. Khususnya di Papua. Koteka bukan hanya alat yang digunakan untuk menutupi kelamin laki-laki zaman dahulu, koteka juga merupakan asset budaya yang perlu dilestarikan. Maka tak heran jika dalam acara atau ritual upacara tertentu masyarakat masih menggunakan alat ini.

Nah, itulah tadi hal-hal seputar keunikan koteka. Koteka memang budaya tanah Papua yang perlu dilestarikan oleh masyarakatnya. Penggunaannya pun bisa beragam di setiap acaranya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Uniknya Koteka, Alat dan Sekaligus Sebuah Tradisi

Mengenal Suku Asmat Lebih Dekat
Beragam Suku - yang ada di Indonesia mebuat negeri ini semakin terkena dengan keragaman suku bangsanya. Dahulu ada ribuan suku yang menetap dan hidup di berbagai pelosok negeri. Namun saat ini hanya ratusan yang masih bertahan dan hidup di Indonesia. Suku-suku ini pun memiliki beragam keunikan dan kebudayaan yang berbeda dengan yang lainnya. Salah satu suku yang unik adalah suku Asmat.

Suku Asmat adalah sebuah suku yang ada di Papua. Suku ini tinggal dan hidup dengan damai di tanah Papua. Walaupun berada di ujung negara Indonesia, suku ini begitu terkenal. Banyak hal yang membuat suku ini dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Diantaranya karena produksi ukiran kayunya yang unik, serta kebudayaannya yang beragam. Beberapa ornamen dan  motif yang unik seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung. Biasanya suku Asmat mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon.  Mereka percayai bahwa motif ini adalah simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku Asmat, seni ukir kayu adalah sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

Pada dasarnya, populasi suku Asmat terbagi menjadi dua yaitu orang-orang yang tinggal di pesisir pantai dan yang tinggal di bagian pedalaman. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Untuk populasi pesisir pantai kemudian dibagi menjadi dua bagian lagi yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.

Mengenal Suku Asmat Lebih Dekat

Masyarakat suku Asmat memilki tradisi dan adat-istiadat yang bergam. Dalam hal ini, akan ada banyak upacara dan ritual yang digelar suku Asmat. Ritual ini diantaranya adalah upacara kehamilan, ritual kelahiran, ritual pernikahan, dan juga upacara kematian. Tak hanya itu, kesenian Suku Asmat juga beragam, seperti Ukiran kayu atau patung, tari Tobe, dan seni musik. Rumah Adat Suku Asmat terdiri dari dua jenis. Pertama adalah Jew yaitu rumah yang secara khusus digunakan untuk ritual atau upacara, sebagai tempat penyimpanan benda keramat, serta tempat pertemuan atau diskusi warga. Kedua adalah rumah tysem atau di sebut juga rumah keluarga. Sesuai namanya, rumah ini dibangun untuk tempat tinggal mereka yang sudah berkeluarga.

Mata pencaharian suku Asmat setiap harinya adalah berburu dan bercocok tanam. Makanan pokok suku ini adalah sagu. Setiap harnyamasyarakat ini memakan sagu dengan cara mereka sendiri . Yaitu sag dibuat menjadi bulat-bulat, kemudian dibakar di atas bara api. Suku Asmat setiap harinya memakai pakaian adat bernama Rumbai-Rumbai, pakaian ini digunakan untuk menutupi bagian tertentu saja. Dan Rumbai-Rumbai ini pun juga dibuat dari daun sagu.

Masyarakat Suku Asmat pada umumnya beragama Katolik, Protestan, dan Animisme. Animisme disini merupakan ajaran dan praktik keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan masyarakanya yang sering membuat patung.

Suku Asmat bukan hanya suku yang tinggal di ujung timur aja, suku ini juga memberikan banyak kontribusi budaya kepada Indonesia. Nah,itulah tadi beragam cerita mengenai kehiduan suku Asmat di Papua. Semoga artikel mengenal suku Asmat lebih dekat ini bermanfaat untuk Anda.

Mengenal Suku Asmat Lebih Dekat