Coretanzone: Pendidikan Karakter

    Social Items

18 Nilai Pendidikan Karakter dan Strategi Penerapannya
Pendidikan karakter adalah pendidikan tentang budi pekerti mulia atau dalam istilah lain disebut sebagai karakter baik. Dalam islam karakter disebut sebagai akhlak, namun ada sebagian ahli membedakan keduanya. Karakter dianggap sebagai suatu teori yang berasal dari barat sedangkan akhlak berasal dari nilai-nilai islam. Walaupun demikian, menurut hemat penulis keduanya sama saja, karena mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan yang harus dilakukan oleh umat manusia.

Pendidikan karakter mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang menuju pada perolehan pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik dengan utuh, terpadu, serta seimbang, sesuai dengan standard kompetensi lulusan. Lewat pendidikan karakter diharapkan peserta didik dapat secara mandiri meningkatkan serta memanfaatkan pengetahuannya, mengkaji serta menginternalisasi dan mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia hingga terwujud dalam tingkah laku keseharian.  Pendidikan karakter pada tingkatan institusi menuju pada pembentukan budaya sekolah, yakni nilai-nilai yang melandasi tingkah laku, kebiasaan, rutinitas, sehari-harinya, serta simbol-simbol yang diterapkan oleh semua warga sekolah, serta penduduk sekitar sekolah. Budaya sekolah adalah keunikan, karakter atau watak, serta citra sekolah itu dimata masyarakat luas.

Nilai Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter menurut kementrian pendidikan nasional memiliki 18 nilai, yaitu; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

1. Nilai Religius
yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Nilai Jujur
yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Nilai Toleransi
yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras, etnis, pendapat dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup dengan tenang di tengah perbedaan tersebut. 

4. Nilai Disiplin
yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Nilai Kerja Keras
yakni nilai perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya.

6. Nilai Kreatif
yakni berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Nilai Mandiri
yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Nilai Demokratis
yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Nilai Cinta Tanah Air
yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Nilai Menghargai Prestasi
yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Nilai Bersahabat/Komunikatif
yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Nilai Cinta Damai
yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau masyarakat tertentu.

15. Nilai Gemar Membaca
yakni kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Nilai Peduli Lingkungan
yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Nilai Peduli Sosial
yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkan.

18. Nilai tanggung jawab
yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama.

Strategi Penerapan Nilai-nilai Pendidikan Karakter


Ridwan (2012:1) menjelaskan ada tiga hal pembentukan karakter yang perlu diintegrasikan yaitu:

1. Knowing the good

Knowing the good artinya anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Membentuk karakter anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut.

2. Feeling the good
Feeling the good artinya anak mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Pada tahap ini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Sehingga jika kecintaan ini sudah tertanam maka hal ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa dari dalam diri anak untuk melakukan kebaikan dan mengurangi perbuatan negatif.

3. Active the good

Active the good artinya anak mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya. Pada tahap ini anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik sebab tanpa anak melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan akan ada artinya.

Dari ketiga strategi pembentukan karakter anak ini, maka diharapkan peserta didik mampu untuk mengetahui apa saja karakter baik dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menghayati efek baik dari perbuatan baik itu kemdian mencintainya, dan peserta didik dapat mengimplementasikan perbuatan baik itu dalam kehidupan sehari-hari.

18 Nilai Pendidikan Karakter dan Strategi Penerapannya

Pendidikan Karakter Menurut Ajaran Agama Islam
Konsep dasar pendidikan karakter identik dengan pendidikan akhlak.Perkataan akhlaq bentuk jamak dari khuluq yang menurut bahasa diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Rumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dan makhluk serta antara makhluk dan makhluk.Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Quran surah al-Qalam ayat 4.

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ 

Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

Dari penjelasan di atas dapat digarisbawahi bahwa pendidikan karakter dan pendidikan akhlak memiliki kesamaan yaitu untuk menjadikan manusia lebih baik.Pendidikan karakter bersumber pada nilai-nilai kebaikan universal (nilai-nilai kehidupan yang baik atau buruknya diakui oleh seluruh umat manusia), dan pada dasarnya ajaran Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh seluruh umat manusia.

Dengan demikian maka pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan karakter atau pembentukan karakter sesuai dengan nilai-nilai Islam yang bersumber pada ajaran Islam yang
universal (al-Qur’an dan Hadist).

Konsep pendidikan karakter dalam agama Islam bersumber pada al-qur’an dan hadis. Berbagai karakter yang harus dimiliki oleh kaum Muslimin baik menurut al-qur’an maupun hadis antara lain adalah:

a. Bersilaturahmi, menyambung komunikasi

Al-Hadis: Barang siapa ingin dilunaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia bersilaturahmi (HR Bukhari Muslim dari Anas)

b. Berkomunikasi dengan baik dan menebar salam

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S.An Nahl: 125)

c. Jujur, tidak curang, menepati janji dan amanah

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

Artinya: Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan /takaran. (Q.S Tathfif: 1)

d. Berbuat adil, tolong menolong, saling mengasihi, dan saling menyayangi

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran(Q.S An-Nahl: 90)

e. Sabar dan optimis

وَٱصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

Artinya: Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan(Q.S Hud: 115)

f. Kasih sayang dan hormat pada orang tua

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حُسۡنٗاۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَآۚ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut: 8)

g. Berkata benar, tidak berdusta

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q.S Al-Shaff: 3)

Al-Hadis: Berkatalah benar sekalipun dirasa pahit. (HR Ibnu Hibban)

h. Selalu bersyukur

مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا

Artinya: Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui (Q.S An-Nisa’: 147)

Al-Hadis: Tidak termasuk bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia (menghargai dan membalas kebaikannya) (HR Turmudzi)

i. Tidak sombong dan angkuh

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S Luqman: 18)

j. Teguh hati, tidak berputus asa

يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡ‍َٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ 

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Q.S. Yusuf: 87)

k. Punya rasa malu dan iman

Al-Hadis: Malu dan iman selalu berkumpul bersama, maka kalau yang satu lenyap, lenyap pulalah yang lain (H.R Abu Na’im dari Abu Umar)

l. Berkata yang baik atau diam

Al-Hadis: Barang siapa benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim)

m. Konsisten, istiqomah

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Q.S. Al-Ahqaf: 13)

n. Bertanggung jawab

أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى

Artinya: Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (Q.S Al Qiyamah: 36)

o. Berbuat jujur, tidak korupsi

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 188)

Implementasi Pendidikan karakter dalam Islam tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah saw. Dalam pribadi Rasul, bersemai nilai-nilai karakter yang mulia dan agung.Allah berfirman dalam Al-Quran surah al-Ahzab ayat 21.             

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

Pendidikan Karakter Menurut Ajaran Agama Islam

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga
Pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga memiliki peranan sangat penting, karena anak sejak berada dalam kandungan dan sejak lahir berada dalam lingkungan keluarga, sehingga kedua orang tua yang pertama akan menjadi contoh baginya dan yang menjadi guru pertama dalam hidupnya. Karakter yang ditampilkan orang tua akan menjadi contoh bagi anak, sehingga dalam berperilaku sudah sepantasnya orang tua berhati-hati, agar perilaku yang baik saja yang ditularkan kepada pembentukan karakter anak.

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.

Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

Orang Tua Dapat Mengerti Lingkungan Yang Baik Untuk Anak


Seorang anak tentunya tidak langsung dapat mengenal alam sekitar mengerti dan memahami segalanya dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan pendidikan keluarga, pendidikan kelembagaan dan pendidikan di masyarakat. Keluarga sebagai komunitas pertama memiliki peran penting dalam pembangunan mental dan karakteristik sang anak. Di dalam keluarga, anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Interaksi yang terjadi bersifat dekat dan intim, segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya, dan sebaliknya apa yang didapati anak dari keluarganya akan mempengaruhi perkembangan jiwa, tingkah laku, cara pandang dan emosinya. Dengan demikian pola asuh yang diterapkan orang tua dalam keluarganya memegang peranan penting bagi proses interaksi anak di lingkungan masyarakat kelak.

“Kehidupan keluarga yang senantiasa dibingkai dengan lembutnya cinta kasih dan nuansa yang harmonis, dari sana akan hadirlah individi-individu dengan tumbuh kembang yang wajar sebagaimana diharapkan. Sebaliknya keluarga yang dinding kehidupannya dipahat dengan sentakan-sentakan, broken home, broken heart, perlakuan sadis dan kekejaman tercerai berainya benang-benang kasih sayang dan jalinan cinta, maka keluarga beginilah yang bakal alias cikal bakal menjadi suplayer limbah-limbah kehidupan sosial dan sampah-sampah masyarakat yang menyedihkan.

Tidak dapat dipungkiri, jika dasar pendidikan yang menjadi landasan dan tongkat estafet pendidikan anak selanjutnya adalah pendidikan keluarga. Apabila pondasi pendidikan dibangun dengan kuat maka pembangunan pendidikan selanjutnya akan mudah dan berhasil dengan baik, sebaliknya jika pondasi pendidikan lemah dan berantakan, sulit kiranya membangun pendidikan selanjutnya.

Gilbert Highest dalam Jalaludin mengatakan bahwa: kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur kembali, anak-anak  menerima pengaruh dan pendidikan  dari lingkungan keluarga (Gilbert Highest, 1961: 78).

Dari apa yang diungkapkan Gilbert, kita dapat mengetahui memang pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dari keluarga, bagaimana orang tua berprilaku akan selalu menjadi perhatian anak, dan akan ditanamkan di benaknya. Anak lahir berdasarkan fitrahnya. Jika pendidikan yang baik diterapkan orang tuanya maka banyak hal baik yang dapat ditiru anak tersebut dalam prilakunya. Lain halnya dengan anak yang dididik dengan cemoohan dan ejekan dari setiap kegagalan yang ia dapati, maka anak tersebut akan selalu hidup dalam ketakutan dan kegelisahan disebabkan hasil perbuatannya yang tidak memuaskan orang tuanya.

Dalam keluarga, seorang anak akan mendapati hal-hal yang tidak didapati di lingkungan formal maupun lingkungan masyarakat, seperti perhatian yang penuh, kasih sayang, belaian hangat kedua orang tua dan banyak hal lain lagi. Berbeda dengan lingkungan sekolah dan masyarakat, keluarga menjadi motor penggerak keberhasilan anak dalam mencapai inspirasi peergaulannya dengan teman-temannya serta lingkungan masyarakat sekitar. Orang tua yang menanamkan rasa kasih sayang dalam keluarga akan menimbulkan keharmonisan dalam interaksi dengan sang anak. Segala permasalahan yang dijumpai anak akan mudah diketahui melalui pendekatan secara personal.

Seorang anak akan merasa termotivasi jika hasil jerih payah dan prestasinya dihargai orang tua, sehingga keharmonisan hubungan keduanya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak tersebut dalam peningkatan prestasi belajar. Akan tetapi terkadang kita jumpai orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak dapat memenuhi keinginan orang tuanya itu. Hal ini akan menimbulkan rasa keterpaksaan pada diri anak baik dalam bidang prestasi, tugas maupun kewajibannya. Rasa keterpaksaan itu akan mengakibatkan timbulnya rasa malas dan mematikan rasa kesadaran diri dalam berbuat. Banyak kita dapati seorang anak takut gagal dalam berprestasi, sebab dampak yang akan didapati dari kegagalannya berupa hukuman maupun siksaan dari orang tuannya. Bagi sebagian anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuannya, berprestasi adalah sesuatu hal yang tidak penting baginya sebab segala tindakan yang ia lakukan tidak pernah dihiraukan oleh orang tuanya, sehingga berprestasi ataupun tidak merupakan suatu hal yang lumrah dan biasa saja.

Syamsu Yusuf mengatakan: “Keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik:  (a) saling memperhatikan dan mencintai (b) bersikap terbuka (c) orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya (d) ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga  (e) mampu berjuang mengatasi hidupnya (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi (g) orang tua melindungi/mengayomi anak (h) komunikasi antara anggota keluarga berlangsung dengan baik (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dalam keluarga terjadi proses interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Proses pengasuhan tersebut seperti mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kematangan sesuai yang diharapkan. Penggunaan pola asuh tertentu memberikan dampak dalam mewarnai setiap perkembangan terhadap bentuk-bentuk prilaku tertentu pada anak, seperti prilaku agresif yang sering terjadi.

Keharmonisan dan rasa demokrasi tidak selalu seperti yang kita harapkan, hingga saat sekarang ini masih banyak orang tua yang menerapkan kekerasan dalam mendidik anaknya. Mereka beranggapan pendidikan yang keras akan dapat mewujudkan keinginan dan harapannya, seperti prestasi, budi pekerti dan lain-lain. Namun sebaliknya kenyataan yang kita jumpai justru bertolak belakang dengan harapan-harapan yang diinginkan. Anak yang dididik keras akan timbul rasa tertekan dan takut, ada juga anak yang diberi kebebasan sehingga anak tersebut malas dan enggan untuk mencapai prestasi yang lebih baik, sebab tidak adanya perhatian dan tanggapan dari orang tuannya atas apa yang yang diraihnya.

Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

1) Memelihara dan membesarkan anak. 2) Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya. 3) Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. 4) Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

“Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

Alat pendidikan karakter dalam keluarga


Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki peranan penting dalam membangun sikap anak yang nantinya akan ditampilkan dalam berbagai lingkungan dimana anak itu berada, sehingga pendidikan karakter dalam keluarga bukan saja mengenai arahan dan aturan orang tua secara otoritar kepada anak tetapi orang tua perlu memahami kondisi dan kemauan anak, sehingga bisa menyesuaikan antara keduanya, kalau tidak akan menyebabkan pada rendahnya keinginan anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga