Coretanzone: Pendidikan Keluarga

    Social Items

Tingkat Pendidikan dan Dorongan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak

Benarkah jika tingkat pendidikan orang tua berpengaruh terhadap prestasi belajar anak?

Beberapa pengalaman saya di lapangan bahwa tak selamanya orang tua yang hanya tamat Sekolah Dasar (SD) atau tidak sekolah sama sekali memiliki anak yang prestasi belajarnya rendah atau sebaliknya anak yang orang tuanya sarja mempunyai prestasi belajar yang tinggi.

Pretasi belajar tidak saja didukung oleh lingkungan keluarga semata, namun juga didukung oleh lingkungan lain yang membuat anak untuk berpacu dalam belajar. Persaingan misalnya, kalau anak menganggap kebodohan sebagai suatu kekalahan maka, dia akan terus mengejar ketertinggalan dalam belajar agar dia bisa bersaing dengan teman-temannya.

Tapi yang kita bahas di sini adalah tingkat pendidikan dan motivasi atau dorongan orang tua terhadap penigkatan prestasi belajar anak, maka kita akan kaji beberapa alasan mengapa sampai tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu poin yang dapat meningkatkan prestasi belajar anak, walaupun ini  meurut penulis masih bersifat relatif.

Beberapa pendapat yang penulis temukan di lapangan mengatakan bahwa, orang tua yang berpendidikan tinggi akan mengarahkan anaknya untuk mengikuti jejak orang tuanya. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan yang rendah tidak dapat mengarahkan anaknya untuk belajar dengan baik. Hal ini didasari pada dorongan orang tua terhadap anaknya dalam belajar tergantung pada pengalaman orang tua terhadap kejadian yang terjadi pada dirinya.

Namun di beberapa tempat lain penulis menemukan orang tua lain yang mengatakan bahwa;

Anak saya akan saya dorong terus untuk belajar agar mempunyai prestasi yang baik, agar suatu saat dia bisa menjadi anak yang berhasil, dan tidak mengikuti yang gagal dalam pendidikan.

Pada dasarnya hal ini sebagaimana telah saya katakan di atas bahwa masih bersifat relatif. Terkadang ada orang tua yang melihat kegagalannya dalam meraih pendidikan tinggi akan memotivasi anaknya untuk terus belajar dan belajar. Sedangkan terkadang juga orang tua yang sudah menganggap dirinya berhasil dalam pendidikan tinggi cuek dengan keadaan anaknya, dia akan beranggapan bahwa anaknya akan mengikuti jejaknya tanpa harus didorong atau dimotivasi terlebih dahulu.

Tingkat Pendidikan dan Dorongan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak
Pola asuh diambil dari kata pola serta asuh. Dalam kamus besar bhs Indonesia kata pola memiliki makna gambar yang digunakan untuk contoh batik; corak batik atau tenun; ragi atau suri; potongan kertas yang digunakan jenis; skema; langkah kerja; – permainan – pemerintahan, bentuk susunan yang tetap- kalimat; dalam puisi, merupakan sajak yang dinyatakan dengan bunyi gerak kata atau makna. Sedang Asuh bermakna mengawasi menjaga serta mendidik anak kecil; menuntun menolong serta melatih, dll; memimpin mengepalai, menyelenggarakan suatu organisasi atau kelembagaan.

Aktivitas pengasuhan banyak disimpulkan menjadi usaha dalam mendidik anak. Orangtua menjadi pendidik menentukan cara asuh yang sesuai dalam memengaruhi perkembangan anak, dan membimbingnya pada kehidupan yang pantas serta bermartabat. Proses pengasuhan senantiasa miliki sifat dinamis dalam mencari bentuk atau pola asuh yang lebih efisien serta baik. Banyak pakar menyampaikan pengertian serta bentuk-bentuk pola asuh yang pas. Laurrence Steinburg mendeskripsikan; Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang sama dengan kondisi psikologis dengan unsur-unsur seperti kejujuran, empati, mengendalikan diri pribadi, kebaikan hati, kerja sama, pengendalian diri, dan kebahagiaan. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong anak sukses di sekolah, mensupport perubahan keingintahuan intelektual, motivasi belajar, serta kemauan untuk sampai suatu hal. Pengasuhan yang baik merupakan yang menghindari anak dari perilaku anti sosial, mengerjakan pelanggaran hukum ringan, dan penggunaan nark0ba serta alk0h0l. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong melindungi anak dari mengembangnya keresahan, depresi, gangguan makan serta beberapa permasalahan psikologi lainnya.

Pada umumnya dari pemahaman di atas bisa ditarik rangkuman kalau pengasuhan merupakan aktivitas dalam rangka mendidik, menuntun, mengarahkan anak, baik secara fisik ataupun mental, kepercayaan hidup serta kepribadian. Dalam hal seperti ini bapak serta ibu mempunyai peranan menjadi seseorang pendidik dalam lingkungan keluarga dalam usaha mengarahkan anak dalam perilaku serta norma-norma yang baik.

Perilaku orangtua tetap jadi tolak ukur anak dalam proses pendidikan dalam keluarga. Anak akan mengikuti orangtua dalam berlaku serta berprilaku baik hal tersebut disadari atau tidak. Sejak dilahirkan ke dunia, anak akan mengikuti perilaku orangtua serta tidak ada yang bisa dilakukan orangtua untuk menahan hal itu. Cenderung seseorang anak menirukan semua hal yang muncul dari perilaku orangtua karena disebabkan mereka mempunyai kemauan yang kuat untuk tumbuh berkembang menjadi seperti ibu serta ayahnya. Sering kita temui orangtua yang melarang anaknya melakukan tindakan agresif, akan tetapi tidak disadari orangtua itu mengerjakannya hingga tidak tutup peluang anak itu bertindak yang sama pada rekan maupun keluarga yang lainnya.

Pekerjaan mendidik serta mengasuh anak tidak seutuhnya bisa dikerjakan dalam keluarga, seperti pendidikan keterampilan, pengetahuan, wawasan serta pengalaman. Oleh karenanya keluarga memerlukan instansi pendidikan lainnya yakni pendidikan sekolah. Dengan begitu pendidikan di sekolah adalah sisi yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan keluarga. Pendidikan di sekolah juga adalah penghubung pada kehidupan anak dalam keluarga serta kehidupan dalam masyarakat.

Namun masuknya anak ke pendidikan sekolah tidak bermakna orangtua sudah tuntas dalam pengasuhan, malah sekolah jadi partner buat orangtua dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada seiring pekerjaan pengasuhan itu. Orangtua bisa menjadi lebih meyakini serta mantap dalam ikuti perubahan anaknya. Perasaan yang juga sama akan muncul pada diri anak bersamaan keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah. Hal terpenting yang bisa disaksikan dari keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah ialah orangtua bisa tahu semua bentuk persoalan anak di sekolah hingga bisa bekerja bersama dengan guru untuk menyelesaikannya.

Keterlibatan orangtua dalam sekolah tidak cuma dengan turut menolong anak dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, tetapi lebih pada hubungan wali siswa-sekolah, baik pada komite sekolah, bimbingan penyuluhan atau beberapa hal yang terkait dengan pendidikan anak di sekolah. Perhatian orangtua pada anak bisa diwujudkan dengan membuat rutinitas bekerja dengan teratur serta disiplin pada tiap-tiap tugas serta keharusan menjadi seseorang siswa.

Mengenai dalam lingkungan masyarakat, pergaulan dengan rekan-rekan seumuran mempunyai dampak yang kuat pada perilaku anak. Orangtua sebaiknya bisa memberi perhatian yang baik juga. Pada saat kecil orangtua bisa mengatur pergaulan anak serta mengarahkannya pada rekan-rekan yang dipandang baik. Begitupun pada saat remaja orangtua bisa mengarahkan supaya bergaul dengan anak-anak yang sudah jelas mempunyai latar belakang baik serta prilkau yang baik juga.

Mengenai pengasuhan orangtua didalam keluarga ada tiga pola yaitu: 1. Pola Asuh Otoriter 2. Pola Asuh Permisip
3.Pola Asuh Demokrasi

Pola Asuh Otoriter (PAO)

Tiap-tiap orangtua tentulah menginginkan anaknya jadi orang yang bermanfaat serta menggapai kebahagiaan nantinya. Namun dalam mengasuh seringkali kita merasakan orangtua yang mengambil langkah serta sikap yang otoriter dalam mendidik anaknya. Sering orangtua lebih memprioritaskan kuatnya kemauan serta harapan supaya anak mencapai kesuksesan di waktu yang akan datang. Mereka tetap berpikir apa yang meraka kerjakan hanya untuk kebaikan sang anak serta tidak menghiraukan perasaan serta keadaan anak itu.

Pola asuh otoriter sangat punya pengaruh pada perubahan mental anak. Orangtua mempunyai kepentingan kuat untuk memegang kendali, akan tetapi pada intinya sikap otoriter ditujukan untuk beberapa hal yang baik. Orangtua tidak inginkan anaknya mengalami kegagalan, bahaya, atau suatu jelek yang menimpanya, akan tetapi perubahan mental anak akan terganggu, seperti dikatakan Laurence berikut: “Pada akhirnya satu-satunya cara agar anak anda dapat benar-benar sehat, bahagia serta sukses ialah bila anda memberi kebebasan untuk mencoba serta membuat keputusannya sendiri walau itu membuka peluang dia akan sakit hati dan kecewa. Pengasuhan yang baik menyertakan keselarasan pada keterlibatan serta kemandirian. Bila kedua-duanya dikerjakan dengan berlebihan- bila orangtua tidak perduli atau sangat turut campur- maka kesehatan mental akan menjadi rusak.

Beberapa hal negatif yang akan muncul pada diri anak karena sikap otoriter yang diaplikasikan orangtua, seperti takut, kurang mempunyai kepercayaan diri, jadi pembangkang, penentang atau kurang aktif. Orangtua semacam itu tetap memberi pengawasan berlebihan pada anak hingga beberapa hal yang kecil juga mesti terwujud sesuai dengan kemauannya. Di lain sisi, orangtua itu lebih seperti polisi yang tetap memberikan pengawasan serta aturan-aturan tanpa ingin memahami anak.

Seperti dijelaskan awal mulanya jika di antara beberapa hal negatif yang akan muncul ialah sikap penentang pada anak. Dari kelompok penentang bisa digolongkan jadi tiga jenis.

Pertama, jenis penentang aktif. Mereka jadi keras kepala, senang menyanggah serta membangkang apa kehendak orangtua. Mereka geram karena orangtua tidak menghormati dirinya menjadi manusia. Untuk menantang jelas tidak bisa dikarenakan sang “polisi” miliki kemampuan besar. Karena itu jalan yang dipilihnya ialah menyakiti hatinya.

Kedua, jenis pemberontak lewat cara halus, sadar kalau badan kecilnya tidak dapat menyaingi kemampuan “Polisi” yang tidak lain orang tuanya sendiri mereka memilih sikap diam, tetapi tidak juga ikuti perintah.

Ketiga, jenis senantiasa terlambat. Anak-anak semacam itu baru ingin kerjakan satu perintah sesudah terlebih dulu menyaksikan orang tuannya kesal, geram, serta mengomel karena kemalasannya.

Pola Asuh Permisif (PAP)

Orangtua yang baik tentu saja belum pernah bercita-cita jadikan anaknya menjadi sampah masyarakat, tidak bermanfaat serta tidak disiplin. Akan tetapi kadang kita masih tetap merasakan orangtua yang ikhlas membiarkan anaknya tanpa bimbingan serta arahan. Anak jadi tidak terukur, serta terasa orang tuanya sudah memberi kebebasan seutuhnya pada dirinya, hingga tiap-tiap keputusan yang ia mengambil ialah seutuhnya hak priadi yang tidak seseorang juga bisa mencampurinya.

Dalam pendidikan sekolah, pola asuh permisif yang diaplikasikan orangtua akan memberikan efek minimnya prestasi belajar, anak mungkin berubah menjadi malas serta tidak perduli dengan hasil belajar yang ia capai karena tidak ada perhatian dari orangtua. Orangtua terasa tidak dapat memberi pendidikan serta pengasuhan dengan baik hingga menyerahkan seutuhnya pendidikan pada sekolah. Mereka melupakan peranan terpenting dalam keluarga menjadi pendidik, pengasuh, pembimbing, pemberi motivasi, kasih sayang serta perhatian.

Anak yang berkembang tanpa batasan dan peraturan serta perhatian akan mengalami ketidakjelasan hidup serta hilangnya contoh teladan yang menyebabkan pada beralihnya anak pada lingkungan, rekan atau beberapa orang terdekatnya serta membuatnya menjadii figur. Tentang pola asuh Permisif, Diana Braumrind dalam Syamsu Yusuf LN, memaparkan sikap atau perilaku orangtua seperti berikut:

1. Sikap ”Acceptance”nya tinggi, akan tetapi kontrolnya rendah
2. Memberikan kebebasan pada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya

Profil Perilaku Anak:

1. Berlaku Impulsif serta Agresif
2. Senang memberontak
3. Kurang mempunyai rasa percaya diri serta pengendalian diri
4. Senang mendominasi
5. Tidak jelas arah hidupnya
6. Prestasinya rendah

Bisa diambil kesimpulan jika anak yang merasakan pengasuhan dari orang tuanya dengan pola asuh permisif akan cinderung miliki sifat bebas tanpa ketentuan, serta mempunyai emosi yang tidak stabil serta meledak-ledak, sedang orangtua tak akan dipandang seperti figur yang mempunyai peranan dan teladan baginya. Ia memandang jika apa yang ia capai merupakan bersumber dari pribadinya serta tidak ada yang bisa memberi aturan ataupun larangan.

Pola Asuh Demokrasi (PAD)

Jalinan yang terhubung antara orangtua dan anak seharusnya dilandasi prinsip sama-sama menghargai serta kasih sayang. Jika orangtua senantiasa mengutamakan pendekatan dengan cara personal dengan curahan kasih sayang, maka dapat terbentuklah keyakinan yang besar dalam diri anak. Anak akan berlaku terbuka pada orang tuanya hingga semua persoalan bisa dicari kunci penyelesaianya. Diluar itu orangtua lebih gampang memberikan pengarahan serta nasehat dan meninggalkan cara-cara paksaan dan intimidasi terhadap anak.

Perilaku anak akan terbentuk secara bertahap menuju pada kepribadian yang baik. Dorongan yang kuat dengan tiada henti sangatlah diinginkan dari orangtua. Sosok orangtua yang demokratis tidak memprioritaskan kebutuhan pribadinya, namun masih menghormati serta memerhatikan kebutuhan anak menjadi seseorang individu di antara populasi manusia. Dalam kata lain, orangtua tetap memandang kebutuhan bersama menjadi pembatas dari kebebasan seorang inividu.

Latar belakang pengasuhan yang ditemui anak pastilah amat punya pengaruh pada perkembangan selanjutnya, karena beberapa hal yang ia temui dari pola pengasuhan orang tuanya bisa menjadi bekal sikap serta prilakunya pada kehidupannya nantinya.

Keluarga mempunyai fungsi yang begitu terpenting dalam usaha meningkatkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang serta pendidikan mengenai nilai-nilai kehidupan baik agama ataupun sosial budaya yang diberikannya adalah aspek yang kondusif untuk menyiapkan anak menjadi pribadi serta anggota masyarakat yang sehat.

Jadi, telah jelas jika pola asuh demokrasi begitu memberikan efek positif pada perubahan anak. Orangtua bisa mencurahkan kasih sayang serta perhatiannya pada anak dengan baik serta seutuhnya tanpa memakai beberapa cara pemaksaan dan kekerasan. Dalam hal seperti ini, orangtua mesti menguasai komunikasi yang tepat dalam melakukan pendekatan supaya proses pengasuhan bisa berjalan baik serta tidak memengaruhi mental ataupun perkembangannya.

Pola asuh demokrasi begitu serupa dengan apa yang diterangkan Diana Baumrind Western dan Lioyd, 1994: 359-360; Sigelmen serta Sheffer, 1995: 396 tentang hasil penelitiannya lewat observasi dan wawancara pada siswa taman kanak-kanak. Ia menuturkan mengenai parenting stayle Pola Asuh, di antara tiga jenis; Authoritarian, Permissive, dan Authorotative, jenis yang sama juga dengan pola asuh demokrasi ialah Authoritative. Beberapa sikap yang diambil orangtua dalam mengasuh serta mendidik anak yakni:

1. Sikap “Acceptance” dan kontrolnya tinggi
2. Berlaku responsive tehadap kepentingan anak
3. Mendorong anak untuk mengatakan pendapat atau pertanyaan
4. Memberi keterangan mengenai efek perbuatan yang baik serta yang jelek.

Profil Perilaku Anak yang diakibatkan:

1. Berlaku bersahabat
2. Mempunyai perasaan percaya diri
3. Dapat mengatur diri Self Control
4. Berlaku Sopan
5. Ingin bekerjasama
6. Mempunyai perasaan ingin tahunya yang tinggi
7. Memiliki tujuan/arah hidup yang jelas
8. Berorientasi pada prestasi

Dari paparan di atas bisa dilihat jika sikap demokratis orangtua tercermin dari perbuatannya ingin menghargai pribadi anak, dan menegur perbuatan yang salah dari prilakunya dengan baik-baik seperti yang disebutkan Irawati Istadi: “Harus dibedakan antara pribadi anak dengan perilaku bisa saja salah, namun pribadi anak tetap senantiasa baik.

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak

Tuntunan Ajaran Islam dalam Menciptakan Hubungan Pergaulan Anak
Dalam pergaulan seseorang dengan orang lain selalu dikaitkan dengan sikap dan moral dalam berhubungan dengan sesamanya. Pergaulan tidak semudah seperti pergaulan pada makhluk lain. Misalnya batas-batas yang sudah disyariatkan dalam ajaran Islam. Seorang yang tidak tahu tata cara yang baik dalam bergaul dapat dimisalkan seorang pengendara mobil yang tidak tahu rambu-rambu lalu lintas sehingga dengan mudah terjadi kecelakaan. Kecelakaan dalam pergaulan tidak menyenangkan kedua belah pihak yang olehnya juga merugikan diri sendiri.

Bila dilihat sepintas lalu soal pergaulan ini hakikatnya mudah, namun pada prakteknya cukup sulit. Orang harus terlebih dahulu manghayati makna pergaulan dengan orang lain, sebab faktor emosi mengendap di dalamnya. Kenyataan mengenai emosi individu ini sulit sekali ditanggulangi, bermacam-macam sifat negatif karena pendidikan di rumahnya yang telah mengendap lama selalu akan terbawa dalam pergaulan.

Pengembangan pergaulan hidup yang baik yang melukiskan keterlibatan anak dengan berbagai pihak: dengan orang tua, guru, tetangga, teman dan orang dewasa dituntut untuk memiliki moral, karena tanpa moral maka hubungan pergaulan akan menjadi retak. Oleh karena itu, pendidik tidak terlepas dari tanggung jawab untuk membina tingkah laku dan moral pada anak dengan jalan membiasakan mereka kepada peraturan-peraturan dan sifat yang baik, jujur, dan adil. Islampun menghendaki demikian. Islam dengan ajaran pendidikannya membimbing orang tua dan pendidik untuk mengontrol dan mengamati sepenuhnya anak-anak mereka, lebih-lebih kalau anak itu sudah mencapai pubertas, hendaknya mereka mengetahui dengan siapa mereka bergaul dan ke mana mereka pergi.

Islam memberikan pedoman kepada anak-anak tentang bagaimana cara berteman dan bergaul yang baik, yaitu :

  1. Hendaklah berlaku sopan dan hormat kepada teman, sebab nanti mereka akan menghormati dan sopan pula terhadap kita.
  2. Jangan menyakiti hatinya, mencela dan menghina.
  3. Jangan mempermainkan teman dengan memberi gelar kepadanya dengan gelar yang tidak disenanginya.
  4. Jangan mengambil barang tanpa seizinnya supaya jangan terjadi pertengkaran dan perkelahian dengannya. Jika sangat memerlukan, pinjamlah dengan baik-baik.
  5. Jika memakan makanan di hadapannya, hendaklah memakan bersamanya jika diberikan dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
  6. Hendaklah bertolong-tolongan dengan teman.
  7. Jangan sekali-kali berdusta kepada teman. Jika sudah ketahuan oleh orang, maka anak rusaklah kepercayaan orang terhadap kita.

Di samping cara-cara yang disebutlkan di atas, juga Islam menuntun dan membimbing anak-anak untuk memilih teman bergaul yang saleh agar mereka terpengaruh oleh akhlak yang mulia, sopan santun yang luhur, dan kebiasaan positif. Seperti juga Islam melarang mereka bergaul dengan orang-orang jahat, berteman dengan orang-orang yang jelek akhlaknya sehingga mereka tidak terjerumus kepada kesesatan dan penyelewengan.

Rasulullah SAW. pernah bersabda yang artinya “Seseorang itu berdasarkan agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah seorang di antara kalian memperhatikan siapa temannya”.

Dari uraian di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam pergaulan seorang anak Islam menghendaki agar orang tua mencari teman yang baik akhlaknya, berbudi pekerti yang luhur. Hal inilah yang menyelamatkan diri dari terjerumus kepada hiruk pikuk kekacauan, kekhilafan, dan menyelamatkan diri dari memiliki akhlak orang-orang yang merendahkan manusia, bahkan menyelamatkan dari kedzaliman dan kenegatifan.

Alangkah layaknya para orang tua dan pendidik menerapkan bimbingan-bimbingan Islami sehingga keadaan anak mereka menjadi baik dan akhlaknya menjadi mulia. Kemuliaan akhlak mereka akan tampak di masyarakat sehingga merekapun akan menjadi tonggak kebaikan umat. Dengan baiknya mereka, umat akan bangga dengan mulianya perbuatan mereka begitu pula dengan sifat-sifat terpujinya.

Tuntunan Ajaran Islam dalam Menciptakan Hubungan Pergaulan Anak

Fungsi dan Peranan Lembaga Pendidikan Keluarga
Lingkungan pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama bagi anak, karena dalam keluarga inilah anak pertama kali mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Pendidikan keluarga juga merupakan lingkungan pendidikan yang utama, karena sebagian besar hidup anak bersama dengan keluarga, sehingga anak mendapatkan pendidikan yang paling banyak dari keluarga.

Tugas utama dari keluarga adalah sebagai peletak dasar pendidikan akhlak dan pendidikan keagamaan. Perilaku dan sifat anak kebanyak diambil dari kedua orang tua dan keluarga lain yang berada dalam lingkungan keluarga. Hal inilah yang menyebabkan lingkungan keluarga harus benar-benar baik sehingga anak akan mencontohkan apa yang dia lihat secara langsung.

Di dalam undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 Pasal 1, dikatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Anak yang lahir dari perkawinan menjadi anak yang sah dan menjadi hak dan tanggung jawab orang tua untuk memelihara dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak dimulai dari anak lahir hingga dia menikah atau bisa berdiri sendiri menanggung hidupnya.

Pengalaman Pertama Masa Kanak-kanak


Di dalam keluargalah anak mulai mengenal hidupnya. Hal ini perlu disadari oleh tiap keluarga bahwa anak lahir dari lingkungan keluarga yang tumbuh dan berkembang hingga ia melepaskan diri ketika sudah dewasa nanti. Anak akan mengalami semua perkembangan dirinya dalam keluarga, jika keluarga meleskan anak berkembang sendiri tanpa ada pengendalian dan pendidikan dari orang tua maka, dia akan mengalami perkembangan yang tidak seimbang, karena lingkungan yang dia temukan pertama kali tidak memberikan pengalaman hidup yang baik.

Pendidikan dalam keluarga memberikan pengalaman pertama bagi anak yang merupakan faktor penting dalam perkembangan kepribadiannya. Pendidikan anak dalam keluarga harus diperhatikan dengan baik, karena dari sinilah keseimbangan jiwa dalam perkembangan akan ditentukan.

Dalam pengalaman pertama masa kanak-kanak, orangtualah yang akan memberikan corak warna terhadap anaknya. Kehidupan seorang anak pada saat itu sangat ditentukan atau tergantung pada orang tuanya. Orang tua merupakan tempat bergantung anak secara wajar, dan memiliki hubungan yang bersifat alami dan kodrati.

Menjamin Kehidupan Emosional Anak


Suasan di dalam rumah sendiri yaitu di lingkungan keluarga merupakan suasana yang penuh dengan cinta kasih, simpati, aman, tentram dan susana yang saling percaya mempercayai. Dari sinilah maka, kebutuhan emosional anak dapat dipenuhi dengan baik. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan darah antara pendidik (dalam hal ini orang tua) dengan anak sebagai orang yang terdidik. Model pendidikan dalam keluarga ini sangat erat dengan rasa cinta dan kasih sayang yang murni.

Pendidikan emosional anak dalam keluarga harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, sedikit saja terjadi kesalahan, maka pertumbuhan emosional anak akan mengalami gangguang atau mengalami kelainan-kelainan yang tidak normal, seperti anak yang tidak tinggal dengan orang tuanya. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua dengan baik, seperti mereka yang tidak diperhatikan oleh orang tua, atau mereka yang berada di panti asuhan, kemungkinan besar mengalami kelainan kejiwaan seperti menjdai seorang anak yang pemuli, agresif, dan lain-lain. Hal ini pada awalnya disebabkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang yang merupakan kebutuhan dasar bagi anak.

Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa, anak yang kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang lebih memingkinkan untuk melakukan tindakan kejahatan. Cinta kasih yang tidak didapatkan dari keluarga disebabkan karena orang tua yang super sibuk sehingga melupakan tanggung jawabnya dalam mendidik anak, suasana keluarga yang tidak religius, broken home dan lain sebagainya.

Menanamkan Dasar Pendidikan Moral


Pendidikan moral untuk pertama kali ditemukan oleh anak didik berasal dari orang tua dan lingkungan keluarga. Sikap yang ditunjukan orang tua akan ditiru oleh anak, sehingga keluarga merupakan teladan bagi anak. Pada awal kehidupannya, anak akan meniru apa yang dia lihat tanpa melalui filter terlebih dahulu. Sehingga jika moral yang baik yang dia lihat maka dia akan menjadi anak yang baik, namun jika sebalinya maka efeknya sangat buruk.

Selanjutnya semua nialai yang dikenal anak akan melekat pada orang-orang yang disenangi dan dikaguminya, dan dari sinilah salah satu cara atau proses yang ditempuh anak dalam mengenal nilai.

Memberikan Dasar Pendidikan Sosial


Ayah, ibu dan anak, merupakan lembaga sosial resmi yang tumbuh secara alami tanpa ada rekayasa yang dibuat. Dari sinilah dasar pertama anak mendapatkan pendidikan sosial sebelum dia mengal lingkungan sosial yang lebih besar. Sehingga perlu menumbuhkan benih-benih kesadaran sosial pada anak dengan melatih kehidupan yang penuh dengan rasa saling tolong menolong, gotong royong, menjaga ketertiban, membantu tetangga rumah, dan lain sebagainya.

Peletakan Dasar-dasar Keagamaan


Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling baik untuk orang tua dalam mengenalkan dasar-dasar keagamaan kepada anak. Pada masa ini anak dengan mudah menyerap semua pengetahuan yang berasal dari lingkungan dimana dia berada, sehingga pendidikan agam perlu ditanamkan, sehingga sejak dini akan sudah menganal agama sebagai bagian dari tata nilai kehidupan.

Pada masa awal kehidupan, anak perlu dilatih untuk mengenal Tuhannya, anak perlu dilatih untuk menganal agamanya dan anak perlu dilatih untuk melakukan ibadah sejak dini. Selain itu pendidikan toleransi beragama juga perlu dikenalkan kepada anak, sehingga mereka dapat menyadari akan adanya perbedaan perbedaan pandangan beragama dan adanya agama lain yang patut dihargai dan dihormati keberadaannya.

Fungsi dan Peranan Lembaga Pendidikan Keluarga