Coretanzone: Pendidikan

    Social Items

18 Nilai Pendidikan Karakter dan Strategi Penerapannya
Pendidikan karakter adalah pendidikan tentang budi pekerti mulia atau dalam istilah lain disebut sebagai karakter baik. Dalam islam karakter disebut sebagai akhlak, namun ada sebagian ahli membedakan keduanya. Karakter dianggap sebagai suatu teori yang berasal dari barat sedangkan akhlak berasal dari nilai-nilai islam. Walaupun demikian, menurut hemat penulis keduanya sama saja, karena mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan yang harus dilakukan oleh umat manusia.

Pendidikan karakter mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang menuju pada perolehan pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik dengan utuh, terpadu, serta seimbang, sesuai dengan standard kompetensi lulusan. Lewat pendidikan karakter diharapkan peserta didik dapat secara mandiri meningkatkan serta memanfaatkan pengetahuannya, mengkaji serta menginternalisasi dan mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia hingga terwujud dalam tingkah laku keseharian.  Pendidikan karakter pada tingkatan institusi menuju pada pembentukan budaya sekolah, yakni nilai-nilai yang melandasi tingkah laku, kebiasaan, rutinitas, sehari-harinya, serta simbol-simbol yang diterapkan oleh semua warga sekolah, serta penduduk sekitar sekolah. Budaya sekolah adalah keunikan, karakter atau watak, serta citra sekolah itu dimata masyarakat luas.

Nilai Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter menurut kementrian pendidikan nasional memiliki 18 nilai, yaitu; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

1. Nilai Religius
yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Nilai Jujur
yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Nilai Toleransi
yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras, etnis, pendapat dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup dengan tenang di tengah perbedaan tersebut. 

4. Nilai Disiplin
yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Nilai Kerja Keras
yakni nilai perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya.

6. Nilai Kreatif
yakni berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Nilai Mandiri
yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Nilai Demokratis
yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Nilai Cinta Tanah Air
yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Nilai Menghargai Prestasi
yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Nilai Bersahabat/Komunikatif
yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Nilai Cinta Damai
yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau masyarakat tertentu.

15. Nilai Gemar Membaca
yakni kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Nilai Peduli Lingkungan
yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Nilai Peduli Sosial
yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkan.

18. Nilai tanggung jawab
yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama.

Strategi Penerapan Nilai-nilai Pendidikan Karakter


Ridwan (2012:1) menjelaskan ada tiga hal pembentukan karakter yang perlu diintegrasikan yaitu:

1. Knowing the good

Knowing the good artinya anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Membentuk karakter anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut.

2. Feeling the good
Feeling the good artinya anak mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Pada tahap ini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Sehingga jika kecintaan ini sudah tertanam maka hal ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa dari dalam diri anak untuk melakukan kebaikan dan mengurangi perbuatan negatif.

3. Active the good

Active the good artinya anak mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya. Pada tahap ini anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik sebab tanpa anak melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan akan ada artinya.

Dari ketiga strategi pembentukan karakter anak ini, maka diharapkan peserta didik mampu untuk mengetahui apa saja karakter baik dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menghayati efek baik dari perbuatan baik itu kemdian mencintainya, dan peserta didik dapat mengimplementasikan perbuatan baik itu dalam kehidupan sehari-hari.

18 Nilai Pendidikan Karakter dan Strategi Penerapannya

Pendidikan Karakter Menurut Ajaran Agama Islam
Konsep dasar pendidikan karakter identik dengan pendidikan akhlak.Perkataan akhlaq bentuk jamak dari khuluq yang menurut bahasa diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Rumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dan makhluk serta antara makhluk dan makhluk.Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Quran surah al-Qalam ayat 4.

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ 

Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

Dari penjelasan di atas dapat digarisbawahi bahwa pendidikan karakter dan pendidikan akhlak memiliki kesamaan yaitu untuk menjadikan manusia lebih baik.Pendidikan karakter bersumber pada nilai-nilai kebaikan universal (nilai-nilai kehidupan yang baik atau buruknya diakui oleh seluruh umat manusia), dan pada dasarnya ajaran Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh seluruh umat manusia.

Dengan demikian maka pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan karakter atau pembentukan karakter sesuai dengan nilai-nilai Islam yang bersumber pada ajaran Islam yang
universal (al-Qur’an dan Hadist).

Konsep pendidikan karakter dalam agama Islam bersumber pada al-qur’an dan hadis. Berbagai karakter yang harus dimiliki oleh kaum Muslimin baik menurut al-qur’an maupun hadis antara lain adalah:

a. Bersilaturahmi, menyambung komunikasi

Al-Hadis: Barang siapa ingin dilunaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia bersilaturahmi (HR Bukhari Muslim dari Anas)

b. Berkomunikasi dengan baik dan menebar salam

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S.An Nahl: 125)

c. Jujur, tidak curang, menepati janji dan amanah

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

Artinya: Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan /takaran. (Q.S Tathfif: 1)

d. Berbuat adil, tolong menolong, saling mengasihi, dan saling menyayangi

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran(Q.S An-Nahl: 90)

e. Sabar dan optimis

وَٱصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

Artinya: Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan(Q.S Hud: 115)

f. Kasih sayang dan hormat pada orang tua

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حُسۡنٗاۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَآۚ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut: 8)

g. Berkata benar, tidak berdusta

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q.S Al-Shaff: 3)

Al-Hadis: Berkatalah benar sekalipun dirasa pahit. (HR Ibnu Hibban)

h. Selalu bersyukur

مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا

Artinya: Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui (Q.S An-Nisa’: 147)

Al-Hadis: Tidak termasuk bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia (menghargai dan membalas kebaikannya) (HR Turmudzi)

i. Tidak sombong dan angkuh

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S Luqman: 18)

j. Teguh hati, tidak berputus asa

يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡ‍َٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ 

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Q.S. Yusuf: 87)

k. Punya rasa malu dan iman

Al-Hadis: Malu dan iman selalu berkumpul bersama, maka kalau yang satu lenyap, lenyap pulalah yang lain (H.R Abu Na’im dari Abu Umar)

l. Berkata yang baik atau diam

Al-Hadis: Barang siapa benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim)

m. Konsisten, istiqomah

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Q.S. Al-Ahqaf: 13)

n. Bertanggung jawab

أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى

Artinya: Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (Q.S Al Qiyamah: 36)

o. Berbuat jujur, tidak korupsi

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 188)

Implementasi Pendidikan karakter dalam Islam tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah saw. Dalam pribadi Rasul, bersemai nilai-nilai karakter yang mulia dan agung.Allah berfirman dalam Al-Quran surah al-Ahzab ayat 21.             

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

Pendidikan Karakter Menurut Ajaran Agama Islam

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga
Pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga memiliki peranan sangat penting, karena anak sejak berada dalam kandungan dan sejak lahir berada dalam lingkungan keluarga, sehingga kedua orang tua yang pertama akan menjadi contoh baginya dan yang menjadi guru pertama dalam hidupnya. Karakter yang ditampilkan orang tua akan menjadi contoh bagi anak, sehingga dalam berperilaku sudah sepantasnya orang tua berhati-hati, agar perilaku yang baik saja yang ditularkan kepada pembentukan karakter anak.

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.

Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Tujuan penting pendidikan karakter adalah memfasilitasi pengetahuan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak. Pengetahuan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan karakter bukanlah dogmatisasi nilai kepada peserta didik tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia termasuk bagi anak.

Tujuan lainnya adalah membangun kepribadian dan budi pekerti luhur sebagai modal dasar dalam berkehidupan ditengah-tengah masyarakat, baik sebagai umat beragama, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pendidikan karakter mengajarkan, membina, membimbing dan melatih peserta didik agar memiliki karakter, sikap mental positif, dan akhlak yang terpuji.

Tujuan pendidikan karakter dalam keluarga adalah membentuk karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak, untuk membina anak-anak agar menjadi pribadi yang taat pada agama, berbakti kepada orang tuanya, bermanfaat untuk masyarakatnya, dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

Orang Tua Dapat Mengerti Lingkungan Yang Baik Untuk Anak


Seorang anak tentunya tidak langsung dapat mengenal alam sekitar mengerti dan memahami segalanya dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan pendidikan keluarga, pendidikan kelembagaan dan pendidikan di masyarakat. Keluarga sebagai komunitas pertama memiliki peran penting dalam pembangunan mental dan karakteristik sang anak. Di dalam keluarga, anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Interaksi yang terjadi bersifat dekat dan intim, segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya, dan sebaliknya apa yang didapati anak dari keluarganya akan mempengaruhi perkembangan jiwa, tingkah laku, cara pandang dan emosinya. Dengan demikian pola asuh yang diterapkan orang tua dalam keluarganya memegang peranan penting bagi proses interaksi anak di lingkungan masyarakat kelak.

“Kehidupan keluarga yang senantiasa dibingkai dengan lembutnya cinta kasih dan nuansa yang harmonis, dari sana akan hadirlah individi-individu dengan tumbuh kembang yang wajar sebagaimana diharapkan. Sebaliknya keluarga yang dinding kehidupannya dipahat dengan sentakan-sentakan, broken home, broken heart, perlakuan sadis dan kekejaman tercerai berainya benang-benang kasih sayang dan jalinan cinta, maka keluarga beginilah yang bakal alias cikal bakal menjadi suplayer limbah-limbah kehidupan sosial dan sampah-sampah masyarakat yang menyedihkan.

Tidak dapat dipungkiri, jika dasar pendidikan yang menjadi landasan dan tongkat estafet pendidikan anak selanjutnya adalah pendidikan keluarga. Apabila pondasi pendidikan dibangun dengan kuat maka pembangunan pendidikan selanjutnya akan mudah dan berhasil dengan baik, sebaliknya jika pondasi pendidikan lemah dan berantakan, sulit kiranya membangun pendidikan selanjutnya.

Gilbert Highest dalam Jalaludin mengatakan bahwa: kebiasaan yang dimiliki anak-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga ke saat akan tidur kembali, anak-anak  menerima pengaruh dan pendidikan  dari lingkungan keluarga (Gilbert Highest, 1961: 78).

Dari apa yang diungkapkan Gilbert, kita dapat mengetahui memang pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dari keluarga, bagaimana orang tua berprilaku akan selalu menjadi perhatian anak, dan akan ditanamkan di benaknya. Anak lahir berdasarkan fitrahnya. Jika pendidikan yang baik diterapkan orang tuanya maka banyak hal baik yang dapat ditiru anak tersebut dalam prilakunya. Lain halnya dengan anak yang dididik dengan cemoohan dan ejekan dari setiap kegagalan yang ia dapati, maka anak tersebut akan selalu hidup dalam ketakutan dan kegelisahan disebabkan hasil perbuatannya yang tidak memuaskan orang tuanya.

Dalam keluarga, seorang anak akan mendapati hal-hal yang tidak didapati di lingkungan formal maupun lingkungan masyarakat, seperti perhatian yang penuh, kasih sayang, belaian hangat kedua orang tua dan banyak hal lain lagi. Berbeda dengan lingkungan sekolah dan masyarakat, keluarga menjadi motor penggerak keberhasilan anak dalam mencapai inspirasi peergaulannya dengan teman-temannya serta lingkungan masyarakat sekitar. Orang tua yang menanamkan rasa kasih sayang dalam keluarga akan menimbulkan keharmonisan dalam interaksi dengan sang anak. Segala permasalahan yang dijumpai anak akan mudah diketahui melalui pendekatan secara personal.

Seorang anak akan merasa termotivasi jika hasil jerih payah dan prestasinya dihargai orang tua, sehingga keharmonisan hubungan keduanya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak tersebut dalam peningkatan prestasi belajar. Akan tetapi terkadang kita jumpai orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak dapat memenuhi keinginan orang tuanya itu. Hal ini akan menimbulkan rasa keterpaksaan pada diri anak baik dalam bidang prestasi, tugas maupun kewajibannya. Rasa keterpaksaan itu akan mengakibatkan timbulnya rasa malas dan mematikan rasa kesadaran diri dalam berbuat. Banyak kita dapati seorang anak takut gagal dalam berprestasi, sebab dampak yang akan didapati dari kegagalannya berupa hukuman maupun siksaan dari orang tuannya. Bagi sebagian anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuannya, berprestasi adalah sesuatu hal yang tidak penting baginya sebab segala tindakan yang ia lakukan tidak pernah dihiraukan oleh orang tuanya, sehingga berprestasi ataupun tidak merupakan suatu hal yang lumrah dan biasa saja.

Syamsu Yusuf mengatakan: “Keluarga yang fungsional ditandai oleh karakteristik:  (a) saling memperhatikan dan mencintai (b) bersikap terbuka (c) orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya (d) ada “sharing” masalah atau pendapat diantara anggota keluarga  (e) mampu berjuang mengatasi hidupnya (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi (g) orang tua melindungi/mengayomi anak (h) komunikasi antara anggota keluarga berlangsung dengan baik (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dalam keluarga terjadi proses interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Proses pengasuhan tersebut seperti mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kematangan sesuai yang diharapkan. Penggunaan pola asuh tertentu memberikan dampak dalam mewarnai setiap perkembangan terhadap bentuk-bentuk prilaku tertentu pada anak, seperti prilaku agresif yang sering terjadi.

Keharmonisan dan rasa demokrasi tidak selalu seperti yang kita harapkan, hingga saat sekarang ini masih banyak orang tua yang menerapkan kekerasan dalam mendidik anaknya. Mereka beranggapan pendidikan yang keras akan dapat mewujudkan keinginan dan harapannya, seperti prestasi, budi pekerti dan lain-lain. Namun sebaliknya kenyataan yang kita jumpai justru bertolak belakang dengan harapan-harapan yang diinginkan. Anak yang dididik keras akan timbul rasa tertekan dan takut, ada juga anak yang diberi kebebasan sehingga anak tersebut malas dan enggan untuk mencapai prestasi yang lebih baik, sebab tidak adanya perhatian dan tanggapan dari orang tuannya atas apa yang yang diraihnya.

Pendidik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Pendidik dibagi dalam tiga kategori, yaitu life educator, semi professional, professional educator. Life educator adalah orang yang secara alamiah menjalankan tugas dan kewajibannya mengasuh dan membesarkan anaknya atau membantu perkembangannya menuju kedewasaan. Itulah orang tua kita. Semi professional educator adalah orang yang menjalankan tugas pendidikan, mengembangkan kecakapan orang dengan bantuan sarana prasarana pendidikan atau keahlian orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah petugas perpustakaan, petugas museum, petugas pameran dan sejenisnya. Adapun professional educator adalah orang yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan keahlian khusus dan kompetensi yang tinggi. Termasuk dalam kategori ini adalah guru dan dosen.

Tanggung jawab pendidikan yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:

1) Memelihara dan membesarkan anak. 2) Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan agama dan falsafah hidup yang dianutnya. 3) Memberi pengajaran dalam arti luas sehinggaanak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat dicapainya. 4) Membahagiakan anak baik di dunia maupun diakhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.

Peserta Didik Pada Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Dalam arti sempit, peserta didik diartikan sebagai anak yang belum dewasa yang tanggung jawabnya diserahkan kepada pendidik. Dalam perspektif pendidikan secara umum bahwa yang disebut peserta didik adalah setiap orang atau sekelompok orang yang harus mendpatkan bimbingan, arahan dan pengajaran dari proses pendidikan.

Dalam rumah tangga yang menduduki sebagai peserta didik adalah anak. Alquran memandang anak semenjak dalam kandungan harus sudah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini biasa disebut dengan pendidikan prenatal atau pendidikan anak dalam kandungan. Demikian juga setelah anak lahir tampak jelas terdapat beberapa fakta yang mengharuskan anak mendapatkan pendidikan. Fakta-fakta tersebut antara lain: setiap anak lahir dalam keadaan lemah tidak berdaya, setiap anak lahir membawa potensi dan butuh dikembangkan, setiap anak butuh bimbingan dan arahan untuk mengenal sesuatu, dan setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.

Dapat juga dikatakan bahwa peserta didik adalah mereka yang sedang berkembang baik secara fisik maupun psikis. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki berbagai potensi yang harus diarahkan dan di bina agar potensi tersebut  bermanfaat. Oleh karenamya pendidikan karakter adalah sarana yang tepat untuk itu.

Materi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu system adalah materi. Materi pendidikan adalah semua bahan pelajaran (pesan, informasi, pengetahuan dan pengalaman) yang disampaikan kepada peserta didik.

Jika mengacu kepada Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kemendiknas, materi pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal (sekolah), setidaknya memuat 18 nilai karakter yaitu religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Sedangkan dalam keluarga, materi pendidikan karakter pada garis besarnya ialah materi untuk mengembangkan karakter atau akhlak anak. Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakter anaknya. Karakter tersebut lebih diutamakan pada praktik berperilaku, bertutur kata yang baik, tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar, berjalan dengan sopan dan tidak sombong, patuh dan hormat kepada orang tua, menyatakan permisi ketika melewati orang lain, mau mengucapkan terimakasih jika diberikan atau menerima sesuatu dari orang lain serta dilakukan dengan tangan kanan, tidak ragu untuk meminta maaf jika merasa bersalah pada orang lain, membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Metode Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk mencapai tujuan. Jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan karakter maka dapat diartikan metode sebagai jalan untuk menanamkan karakter  pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang berkarakter.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain:

1. Metode Internalisasi

Metode Internalisasi adalah upaya memasukan pengetahuan (knowing) dan ketrampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari.

2. Metode Keteladanan

“Anak adalah peniru yang baik.” Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting. Seorang anak akan tumbuh dalam kebaikan dan memiliki karakter yang baik jika ia melihat orang tuanya member teladan yang baik. Sebaliknya, seorang anak akan tumbuh dalam penyelewengan dan memiliki karakter yang buruk, jika ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk.

3. Metode Pembiasaan

Metode pembiasaan dalam membina karakter anak sangatlah penting. Jika metode pembiasaan sudah diterapkan dengan baik dalam keluarga, pasti akan lahir anak-anak yang memiliki karakter yang baik dan tidak mustahil karakter mereka pun menjadi teladan bagi orang lain.

4. Metode Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain.Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai kompetensinya.Kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak yaitu bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.

5. Metode Cerita

Metode cerita adalah metode mendidik yang bertumpu pada bahasa baik lisan maupun tulisan. Bercerita dapat meningkatkan kedekatan hubungan orang tua dan anak. Selain itu, bercerita juga bisa mengembangkan imajinasi dan otak kanan anak.

6. Metode Nasihat

Metode nasihat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati dan disertai keteladanan. Agar nasihat dapat membekas pada diri anak, sebaiknya nasihat bersifat cerita, kisah, perumpamaan, menggunakan kata-kata yang baik dan orang tua memberikan contoh terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.

7. Metode Penghargaan dan Hukuman

Metode penghargaan penting untuk dilakukan karena pada dasarnya setiap orang dipastikan membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Anak adalah fase perkembangan manusia yang sangat membutuhkan penghargaan.Penghargaan harus didahulukan dari pada hukuman. Jika hukuman terpaksa harus diberikan, maka hati-hatilah dalam mempergunakannya, jangan menghukum anak secara berlebihan, jangan menghukum ketika marah, jangan memukul bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh anak seperti wajah, dan usahakan hukuman itu bersifat adil (sesuai dengan kesalahan anak).

Alat pendidikan karakter dalam keluarga


Yang dimaksud dengan alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses pendidikan informal seperti mendidik karakter anak dirumah, alat pendidikan yang bisa digunakan sesungguhnya sangat banyak, yakni apa saja yang ada dirumah, mulai dari perabotan rumah tangga, permainan anak sampai alat-alat elektronik. Tapi penggunaan alat itu bermanfaat atau tidak sangat tergantung pada pengaturan orangtua.

Dalam keadaan yang normal dan mampu, sebaiknya setiap rumah memiliki fasilitas pendidikan setidaknya berupa: ruang belajar, mushola besrta kelengkapan shalat dan Alquran, ruang perpustakaan dan buku-bukunya, ruang computer dan jaringan internet dan sebagainya. Penyediaan buku-buku agama dan buku-buku lainnya patut untuk dilengkapi karena dari buku-buku itulah kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak. Yang juga tidak boleh dilupakan orang tua, sebaiknya ia menyediakan Alquran sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah. Gambar-gambar yang tidak sopan sebaiknya diganti dengan gambar-gambar yang menyejukan dan memberikan ilmu bagi yang melihatnya.

Program Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Program pendidikan karakter dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini:

1. Pengajaran

Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pengajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk memberikan pengetahuan kepada anak tentang nilai-nilai karakter tertentu, dan membimbing serta mendorongnya untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemotivasian

Pemotivasian adalah proses mendorong dan menggerakkan seseorang agar mau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan karakter di keluarga, pemotivasian dapat dimaknai sebagai upaya-upaya menggerakkan atau mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter. Berkaitan dengan itu, orang tua dituntut untuk mampu menjadi motivator bagi anak-anaknya.

3. Peneladanan

Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru, sehingga penting bagi orang tua untuk member teladan yang baik bagi anak-anaknya.

4. Pembiasaan

Peranan orang tua sangat besar untuk membina karakter anak dengan pola apapun. Dengan pembiasaan salah satunya, dapat mengantarkan kea rah kematangan dan kedewasaan, sehingga anak dapat mengendalikan dirinya menyelesaikan persoalannya, dan menghadapi tantangan hidupnya, sehingga perlu penerapan disiplin.

5. Penegakan aturan

Langkah awal untuk mewujudkan penegakan aturan dalam keluarga adalah dengan membuat peraturan keluarga yang disepakati bersama dan dapat mengikat semua pihak dirumah, tak terkecuali orang tua.

Evaluasi Pendidikan Karakter Dalam Keluarga


Evaluasi adalah penilaian terhadap sesuatu. Sasaran evaluasi adalah semua komponen yang berkaitan dengan pendidikan seperti pendidik, peserta didik, materi, metode, alat pendidikan dan sebagainya. Peserta didik merupakan sasaran evaluasi yang utama karena letak keberhasilan proses pendidikan biasanya dilihat dari keberhasilan peserta didiknya. Objek evaluasi peserta didik harus mencangkup dimensi/ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor.

Evaluasi kognitif pesrta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan pengetahuan mereka termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Evaluasi aspek afektif peserta didik berarti mengukur keberhasilan perkembangan perasaan mereka pada pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi internalisasi dan karakterisasi. Evaluasi psikomotor peserta didik berarti mengukur keberhasilan tindakan mereka yang berkaitan dengan pengetahuan termasuk di dalamnya fungsi kehendak dan kemauan.

Dalam pendidikan informal (keluarga), evaluasi biasanya lebih kepada penilaian yang bersifat normative tanpa disertai soal tes dan penentuan angka dengan skala tertentu. Evaluasi yang dilakukan cukup dengan menilai atau mengukur apakah pekerjaan yang diberikan orang tua sudah dilaksanakan atau belum oleh anak, apakah nasihat yang disampaikan oleh orang tua sudah dipraktekan atau belum, dan apakah larangan yang di kemukakan  sudah di tinggalkan atau belum. Dengan demikian evaluasi dalam keluarga lebih dekat kepada fungsi pengawasan dan control.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan pendidikan karakter dalam keluarga, maka evaluasi di sini lebih di tekankan kepada ranah psikomotor anak, karena hakikat keberhasilan pendidikan karakter adalah dapat di lihat dari performance atau penampilan diri anak dalam berbicara, berpikir, bersikap, bertindak, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki peranan penting dalam membangun sikap anak yang nantinya akan ditampilkan dalam berbagai lingkungan dimana anak itu berada, sehingga pendidikan karakter dalam keluarga bukan saja mengenai arahan dan aturan orang tua secara otoritar kepada anak tetapi orang tua perlu memahami kondisi dan kemauan anak, sehingga bisa menyesuaikan antara keduanya, kalau tidak akan menyebabkan pada rendahnya keinginan anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter dalam Linkungan Keluarga

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak
Pola asuh diambil dari kata pola serta asuh. Dalam kamus besar bhs Indonesia kata pola memiliki makna gambar yang digunakan untuk contoh batik; corak batik atau tenun; ragi atau suri; potongan kertas yang digunakan jenis; skema; langkah kerja; – permainan – pemerintahan, bentuk susunan yang tetap- kalimat; dalam puisi, merupakan sajak yang dinyatakan dengan bunyi gerak kata atau makna. Sedang Asuh bermakna mengawasi menjaga serta mendidik anak kecil; menuntun menolong serta melatih, dll; memimpin mengepalai, menyelenggarakan suatu organisasi atau kelembagaan.

Aktivitas pengasuhan banyak disimpulkan menjadi usaha dalam mendidik anak. Orangtua menjadi pendidik menentukan cara asuh yang sesuai dalam memengaruhi perkembangan anak, dan membimbingnya pada kehidupan yang pantas serta bermartabat. Proses pengasuhan senantiasa miliki sifat dinamis dalam mencari bentuk atau pola asuh yang lebih efisien serta baik. Banyak pakar menyampaikan pengertian serta bentuk-bentuk pola asuh yang pas. Laurrence Steinburg mendeskripsikan; Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang sama dengan kondisi psikologis dengan unsur-unsur seperti kejujuran, empati, mengendalikan diri pribadi, kebaikan hati, kerja sama, pengendalian diri, dan kebahagiaan. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong anak sukses di sekolah, mensupport perubahan keingintahuan intelektual, motivasi belajar, serta kemauan untuk sampai suatu hal. Pengasuhan yang baik merupakan yang menghindari anak dari perilaku anti sosial, mengerjakan pelanggaran hukum ringan, dan penggunaan nark0ba serta alk0h0l. Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang menolong melindungi anak dari mengembangnya keresahan, depresi, gangguan makan serta beberapa permasalahan psikologi lainnya.

Pada umumnya dari pemahaman di atas bisa ditarik rangkuman kalau pengasuhan merupakan aktivitas dalam rangka mendidik, menuntun, mengarahkan anak, baik secara fisik ataupun mental, kepercayaan hidup serta kepribadian. Dalam hal seperti ini bapak serta ibu mempunyai peranan menjadi seseorang pendidik dalam lingkungan keluarga dalam usaha mengarahkan anak dalam perilaku serta norma-norma yang baik.

Perilaku orangtua tetap jadi tolak ukur anak dalam proses pendidikan dalam keluarga. Anak akan mengikuti orangtua dalam berlaku serta berprilaku baik hal tersebut disadari atau tidak. Sejak dilahirkan ke dunia, anak akan mengikuti perilaku orangtua serta tidak ada yang bisa dilakukan orangtua untuk menahan hal itu. Cenderung seseorang anak menirukan semua hal yang muncul dari perilaku orangtua karena disebabkan mereka mempunyai kemauan yang kuat untuk tumbuh berkembang menjadi seperti ibu serta ayahnya. Sering kita temui orangtua yang melarang anaknya melakukan tindakan agresif, akan tetapi tidak disadari orangtua itu mengerjakannya hingga tidak tutup peluang anak itu bertindak yang sama pada rekan maupun keluarga yang lainnya.

Pekerjaan mendidik serta mengasuh anak tidak seutuhnya bisa dikerjakan dalam keluarga, seperti pendidikan keterampilan, pengetahuan, wawasan serta pengalaman. Oleh karenanya keluarga memerlukan instansi pendidikan lainnya yakni pendidikan sekolah. Dengan begitu pendidikan di sekolah adalah sisi yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan keluarga. Pendidikan di sekolah juga adalah penghubung pada kehidupan anak dalam keluarga serta kehidupan dalam masyarakat.

Namun masuknya anak ke pendidikan sekolah tidak bermakna orangtua sudah tuntas dalam pengasuhan, malah sekolah jadi partner buat orangtua dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada seiring pekerjaan pengasuhan itu. Orangtua bisa menjadi lebih meyakini serta mantap dalam ikuti perubahan anaknya. Perasaan yang juga sama akan muncul pada diri anak bersamaan keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah. Hal terpenting yang bisa disaksikan dari keikutsertaan orangtua dalam pendidikan sekolah ialah orangtua bisa tahu semua bentuk persoalan anak di sekolah hingga bisa bekerja bersama dengan guru untuk menyelesaikannya.

Keterlibatan orangtua dalam sekolah tidak cuma dengan turut menolong anak dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, tetapi lebih pada hubungan wali siswa-sekolah, baik pada komite sekolah, bimbingan penyuluhan atau beberapa hal yang terkait dengan pendidikan anak di sekolah. Perhatian orangtua pada anak bisa diwujudkan dengan membuat rutinitas bekerja dengan teratur serta disiplin pada tiap-tiap tugas serta keharusan menjadi seseorang siswa.

Mengenai dalam lingkungan masyarakat, pergaulan dengan rekan-rekan seumuran mempunyai dampak yang kuat pada perilaku anak. Orangtua sebaiknya bisa memberi perhatian yang baik juga. Pada saat kecil orangtua bisa mengatur pergaulan anak serta mengarahkannya pada rekan-rekan yang dipandang baik. Begitupun pada saat remaja orangtua bisa mengarahkan supaya bergaul dengan anak-anak yang sudah jelas mempunyai latar belakang baik serta prilkau yang baik juga.

Mengenai pengasuhan orangtua didalam keluarga ada tiga pola yaitu: 1. Pola Asuh Otoriter 2. Pola Asuh Permisip
3.Pola Asuh Demokrasi

Pola Asuh Otoriter (PAO)

Tiap-tiap orangtua tentulah menginginkan anaknya jadi orang yang bermanfaat serta menggapai kebahagiaan nantinya. Namun dalam mengasuh seringkali kita merasakan orangtua yang mengambil langkah serta sikap yang otoriter dalam mendidik anaknya. Sering orangtua lebih memprioritaskan kuatnya kemauan serta harapan supaya anak mencapai kesuksesan di waktu yang akan datang. Mereka tetap berpikir apa yang meraka kerjakan hanya untuk kebaikan sang anak serta tidak menghiraukan perasaan serta keadaan anak itu.

Pola asuh otoriter sangat punya pengaruh pada perubahan mental anak. Orangtua mempunyai kepentingan kuat untuk memegang kendali, akan tetapi pada intinya sikap otoriter ditujukan untuk beberapa hal yang baik. Orangtua tidak inginkan anaknya mengalami kegagalan, bahaya, atau suatu jelek yang menimpanya, akan tetapi perubahan mental anak akan terganggu, seperti dikatakan Laurence berikut: “Pada akhirnya satu-satunya cara agar anak anda dapat benar-benar sehat, bahagia serta sukses ialah bila anda memberi kebebasan untuk mencoba serta membuat keputusannya sendiri walau itu membuka peluang dia akan sakit hati dan kecewa. Pengasuhan yang baik menyertakan keselarasan pada keterlibatan serta kemandirian. Bila kedua-duanya dikerjakan dengan berlebihan- bila orangtua tidak perduli atau sangat turut campur- maka kesehatan mental akan menjadi rusak.

Beberapa hal negatif yang akan muncul pada diri anak karena sikap otoriter yang diaplikasikan orangtua, seperti takut, kurang mempunyai kepercayaan diri, jadi pembangkang, penentang atau kurang aktif. Orangtua semacam itu tetap memberi pengawasan berlebihan pada anak hingga beberapa hal yang kecil juga mesti terwujud sesuai dengan kemauannya. Di lain sisi, orangtua itu lebih seperti polisi yang tetap memberikan pengawasan serta aturan-aturan tanpa ingin memahami anak.

Seperti dijelaskan awal mulanya jika di antara beberapa hal negatif yang akan muncul ialah sikap penentang pada anak. Dari kelompok penentang bisa digolongkan jadi tiga jenis.

Pertama, jenis penentang aktif. Mereka jadi keras kepala, senang menyanggah serta membangkang apa kehendak orangtua. Mereka geram karena orangtua tidak menghormati dirinya menjadi manusia. Untuk menantang jelas tidak bisa dikarenakan sang “polisi” miliki kemampuan besar. Karena itu jalan yang dipilihnya ialah menyakiti hatinya.

Kedua, jenis pemberontak lewat cara halus, sadar kalau badan kecilnya tidak dapat menyaingi kemampuan “Polisi” yang tidak lain orang tuanya sendiri mereka memilih sikap diam, tetapi tidak juga ikuti perintah.

Ketiga, jenis senantiasa terlambat. Anak-anak semacam itu baru ingin kerjakan satu perintah sesudah terlebih dulu menyaksikan orang tuannya kesal, geram, serta mengomel karena kemalasannya.

Pola Asuh Permisif (PAP)

Orangtua yang baik tentu saja belum pernah bercita-cita jadikan anaknya menjadi sampah masyarakat, tidak bermanfaat serta tidak disiplin. Akan tetapi kadang kita masih tetap merasakan orangtua yang ikhlas membiarkan anaknya tanpa bimbingan serta arahan. Anak jadi tidak terukur, serta terasa orang tuanya sudah memberi kebebasan seutuhnya pada dirinya, hingga tiap-tiap keputusan yang ia mengambil ialah seutuhnya hak priadi yang tidak seseorang juga bisa mencampurinya.

Dalam pendidikan sekolah, pola asuh permisif yang diaplikasikan orangtua akan memberikan efek minimnya prestasi belajar, anak mungkin berubah menjadi malas serta tidak perduli dengan hasil belajar yang ia capai karena tidak ada perhatian dari orangtua. Orangtua terasa tidak dapat memberi pendidikan serta pengasuhan dengan baik hingga menyerahkan seutuhnya pendidikan pada sekolah. Mereka melupakan peranan terpenting dalam keluarga menjadi pendidik, pengasuh, pembimbing, pemberi motivasi, kasih sayang serta perhatian.

Anak yang berkembang tanpa batasan dan peraturan serta perhatian akan mengalami ketidakjelasan hidup serta hilangnya contoh teladan yang menyebabkan pada beralihnya anak pada lingkungan, rekan atau beberapa orang terdekatnya serta membuatnya menjadii figur. Tentang pola asuh Permisif, Diana Braumrind dalam Syamsu Yusuf LN, memaparkan sikap atau perilaku orangtua seperti berikut:

1. Sikap ”Acceptance”nya tinggi, akan tetapi kontrolnya rendah
2. Memberikan kebebasan pada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya

Profil Perilaku Anak:

1. Berlaku Impulsif serta Agresif
2. Senang memberontak
3. Kurang mempunyai rasa percaya diri serta pengendalian diri
4. Senang mendominasi
5. Tidak jelas arah hidupnya
6. Prestasinya rendah

Bisa diambil kesimpulan jika anak yang merasakan pengasuhan dari orang tuanya dengan pola asuh permisif akan cinderung miliki sifat bebas tanpa ketentuan, serta mempunyai emosi yang tidak stabil serta meledak-ledak, sedang orangtua tak akan dipandang seperti figur yang mempunyai peranan dan teladan baginya. Ia memandang jika apa yang ia capai merupakan bersumber dari pribadinya serta tidak ada yang bisa memberi aturan ataupun larangan.

Pola Asuh Demokrasi (PAD)

Jalinan yang terhubung antara orangtua dan anak seharusnya dilandasi prinsip sama-sama menghargai serta kasih sayang. Jika orangtua senantiasa mengutamakan pendekatan dengan cara personal dengan curahan kasih sayang, maka dapat terbentuklah keyakinan yang besar dalam diri anak. Anak akan berlaku terbuka pada orang tuanya hingga semua persoalan bisa dicari kunci penyelesaianya. Diluar itu orangtua lebih gampang memberikan pengarahan serta nasehat dan meninggalkan cara-cara paksaan dan intimidasi terhadap anak.

Perilaku anak akan terbentuk secara bertahap menuju pada kepribadian yang baik. Dorongan yang kuat dengan tiada henti sangatlah diinginkan dari orangtua. Sosok orangtua yang demokratis tidak memprioritaskan kebutuhan pribadinya, namun masih menghormati serta memerhatikan kebutuhan anak menjadi seseorang individu di antara populasi manusia. Dalam kata lain, orangtua tetap memandang kebutuhan bersama menjadi pembatas dari kebebasan seorang inividu.

Latar belakang pengasuhan yang ditemui anak pastilah amat punya pengaruh pada perkembangan selanjutnya, karena beberapa hal yang ia temui dari pola pengasuhan orang tuanya bisa menjadi bekal sikap serta prilakunya pada kehidupannya nantinya.

Keluarga mempunyai fungsi yang begitu terpenting dalam usaha meningkatkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang serta pendidikan mengenai nilai-nilai kehidupan baik agama ataupun sosial budaya yang diberikannya adalah aspek yang kondusif untuk menyiapkan anak menjadi pribadi serta anggota masyarakat yang sehat.

Jadi, telah jelas jika pola asuh demokrasi begitu memberikan efek positif pada perubahan anak. Orangtua bisa mencurahkan kasih sayang serta perhatiannya pada anak dengan baik serta seutuhnya tanpa memakai beberapa cara pemaksaan dan kekerasan. Dalam hal seperti ini, orangtua mesti menguasai komunikasi yang tepat dalam melakukan pendekatan supaya proses pengasuhan bisa berjalan baik serta tidak memengaruhi mental ataupun perkembangannya.

Pola asuh demokrasi begitu serupa dengan apa yang diterangkan Diana Baumrind Western dan Lioyd, 1994: 359-360; Sigelmen serta Sheffer, 1995: 396 tentang hasil penelitiannya lewat observasi dan wawancara pada siswa taman kanak-kanak. Ia menuturkan mengenai parenting stayle Pola Asuh, di antara tiga jenis; Authoritarian, Permissive, dan Authorotative, jenis yang sama juga dengan pola asuh demokrasi ialah Authoritative. Beberapa sikap yang diambil orangtua dalam mengasuh serta mendidik anak yakni:

1. Sikap “Acceptance” dan kontrolnya tinggi
2. Berlaku responsive tehadap kepentingan anak
3. Mendorong anak untuk mengatakan pendapat atau pertanyaan
4. Memberi keterangan mengenai efek perbuatan yang baik serta yang jelek.

Profil Perilaku Anak yang diakibatkan:

1. Berlaku bersahabat
2. Mempunyai perasaan percaya diri
3. Dapat mengatur diri Self Control
4. Berlaku Sopan
5. Ingin bekerjasama
6. Mempunyai perasaan ingin tahunya yang tinggi
7. Memiliki tujuan/arah hidup yang jelas
8. Berorientasi pada prestasi

Dari paparan di atas bisa dilihat jika sikap demokratis orangtua tercermin dari perbuatannya ingin menghargai pribadi anak, dan menegur perbuatan yang salah dari prilakunya dengan baik-baik seperti yang disebutkan Irawati Istadi: “Harus dibedakan antara pribadi anak dengan perilaku bisa saja salah, namun pribadi anak tetap senantiasa baik.

3 Bentuk Pola Asuh Orang Tua Pada Anak

Sejarah Perjalan Gerakan Pramuka di Indonesia
Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.

Sejarah Singkat Gerakan Pramuka


Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).

Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.

Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.

Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.

Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.

Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)

Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.

Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.

Perkembangan Gerakan Pramuka


Ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.

Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75% adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa.

Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat. Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari.

Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka


Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.

Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara.

Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.

Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka


Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :

1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Tunas Gerakan Pramuka”

2. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Permulaan Tahun Kerja”.

3. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Ikrar Gerakan Pramuka”.

4. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Pramuka”.

Gerakan Pramuka Diperkenalkan


Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan\ Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian. Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.

Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.

Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia

Jika kita pelajari histori pendidikan kepramukaan kita tidak bisa terlepas dari kisah hidup pendiri pergerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell.

Perihal ini dikarenakan pengalaman beliaulah yang memicu pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja berikut yang lalu tumbuh berkembang berubah menjadi pergerakan kepramukaan.

Sejarah hidup Baden Powell 


Sejarah Pramuka Dunia yang Diawali dengan Sejarah Hidup Baden Powel
Histori Baden Powell sebagai Bapak Pramuka Sedunia (Chief Scout of the World) tidak dapat dipisahkan dari histori kepramukaan didunia serta di Indonesia. Tidak hanya menjadi pendiri pergerakan kepramukaan sedunia, pengalaman Lord Robert Baden Powell lah yang memicu pembinaan remaja di Inggris yang selanjutnya berkembang serta diadaptasi menjadi system pendidikan kepramukaan di berbagai Negara.

Robert Stephenson Smyth Baden Powell atau Baron Baden Powell I yang selanjutnya populer menjadi Baden Powell, BP, atau Lord Baden Powell, lahir di Paddington, London pada tanggal 22 Februari 1857. Nama kecilnya Robert Stephenson Smyth Powell. Powell adalah nama keluarga dari ayahnya, Baden Powell yang merupakan seorang pendeta serta dosen Geometri di Universitas Oxford. Sedang Smyth di ambil dari nama ibunya, Henrietta Grace Smyth. Ayah Stephenson (Baden Powell) wafat waktu Stephenson masihlah berumur 3 tahun yakni pada tahun 1960.

Karena ditinggal mati oleh ayahnya semenjak kecil, Robert Stephenson mendapat pendidikan watak serta bermacam ketrampilan dari ibu serta kakak-kakaknya. Peranan ibu buat Baden Powell bahkan juga sempat diungkap secara langsung oleh beliau dengan kalimat, “Rahasia kesuksesan saya yaitu ibu saya”.

Semenjak kecil Baden Powell diketahui merupakan anak yang cerdas, senang, serta lucu hingga banyak teman-temannya yang menyukainya. Selain itu Baden Powell juga pintar bermain musik (piano serta biola), teater, berenang, berlayar, berkemah, mengarang, serta menggambar.

Setelah menyelesaikan sekolahnya di Rose Hill School, Tunbridge Wells, Robert Stephenson atau Baden Powel mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Charter house. Dan ketika dewasa, Baden Powell masuk dalam ketentaraan Inggris. Beliau kerap ditugaskan diluar Inggris seperti masuk dengan 13th Hussars di India pada tahun 1876, dinas khusus di Afrika pada tahun 1895, memimpin Pasukan Dragoon V pada tahun 1897, pemimpin resimen di Zulu Afrika Selatan pada tahun 1880, Kepala Staf di Rhodesia Selatan (saat ini diketahui Zimbabwe) pada tahun 1896, memimpin The Mafeking Cadet Corps di Mafeking, Afrika Selatan pada tahun 1899 sampai tahun 1900.

Sepanjang menjadi tentara, banyak hal yang telah dialaminya yang kemudian menjadi pengalaman bagi dirinya. Pengalaman itu diantaranya adalah sebagaia berikut:

  • Saat menjadi pembantu Letnan pada 13th Hussars yang sukses mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung dan melatih panca indera terhadap Kimball O’Hara. 
  • Bersama dengan The Mafeking Cadet Corp, mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan, walau dikepung bangsa Boer sepanjang 127 hari dalam keadaan kekurangan makan. Walau sebenarnya The Mafeking Cadet Corp hanya pasukan pembawa pesan yang tidak memiliki pengalaman dalam menghadapi musuh. 
  • Membuat latihan bersama-sama dan bertukar kebolehan survival dengan Raja Dinizulu di Afrika Selatan.

Beragam pengalaman itu ditulis dalam buku berjudul yang 'Aids to Scouting' pada tahun 1899. Buku ini sebetulnya adalah pedoman untuk tentara muda Inggris dalam melaksanakan tugas penyelidik. Buku ini lalu terjual laku di Inggris. Bahkan juga bukan sekedar di baca oleh beberapa tentara saja namun dimanfaatkan juga oleh beberapa guru serta organisasi pemuda.

Menyaksikan banyak pengguna buku 'Aids to Scouting', serta atas usul William Alexander Smith (Pendiri Boys Brigade ; satu diantara Organisasi Kepemudaan di Inggris) Baden Powell bermaksud menulis lagi buku itu untuk menyesyhuaikan dengan pembaca remaja yang tidak dari ketentaraan. Untuk menguji ide-ide barunya, pada 25 Juli - 2 Agustus 1907 Baden Powell mengadakan perkemahan di Brownsea Island dengan 22 anak lelaki yang berlatar belakang yang berbeda. Sampai pada tahun 1908 terbitlah buku 'Scouting for Boys' yang lalu berubah menjadi referensi kepramukaan di semua dunia.

Tahun 1910, atas pendapat Raja Edward VII, Baden Powell memutuskan pensiun dari ketentaraan dengan pangkat paling akhir Letnan Jenderal untuk konsentrasi pada peningkatan pendidikan kepramukaan.

Pada Januari 1912 Baden Powell berjumpa dengan Olave St Clair Soames kala diatas kapal dalam lawatan kepramukaan ke New York. Mereka lalu menikah pada tanggal 31 Oktober 1912. Mereka tinggal di Hampshire, Inggris serta dianugerahi 3 orang anak (satu lelaki serta dua wanita), yakni : Arthur Robert Peter (Baron Baden-Powell II), Heather Grace (Heather Baden-Powell), serta Betty Clay (Betty Baden-Powell).

Tahun 1930-an Baden Powel mulai sakit-sakitan. Pada tahun 1939 Baden-Powell serta Olave mengambil keputusan untuk pindah serta tinggal di Nyeri, Kenya. Sampai pada tangga l8 Januari 1941 Baden Powell wafat serta dimakamkan di pemakaman St. Peter, Nyeri.

Sewaktu hidupnya Baden Powell mendapat beragam titel kehormatan, termasuk juga titel Lord dari Raja George pada tahun 1929. Juga Baden Powell aktif menulis beragam buku baik mengenai kepramukaan, ketentaraan, ataupun bagian yang lain. Beberapa buku mengenai kepramukaan yang ditulisnya diantaranya, Scouting for Boys (1908), The Handbook for the Girl Guides or How Girls Can Help to Build Up the Empire (ditulis bersama dengan Agnes Baden-Powell ; 1912), The Wolf Cub's Handbook (1916), Aids To Scoutmastership (1919), Rovering to Success (1922), Scouting Round the World (1935) dan lain-lain.

Itu cerita atau histori Baden Powell, Sang Bapak Pandu (Pramuka) Sedunia yang tidak bisa dipisahkan dari histori kepramukaan dunia ataupun di Indonesia.

Sejarah Kepramukaan Dunia 


Sejarah Pramuka Dunia yang Diawali dengan Sejarah Hidup Baden Powel
Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Himpunan tulisannya ini dibikin buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat menyebar di Inggris serta beberapa negara lainnya yang lalu berdiri organisasi kepramukaan yang sebelumnya cuma untuk lelaki dengan nama Boys Scout.

Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes mendirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang lalu diteruskan oleh istri beliau.

Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka umur siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling menjadi dasar kegiatannya. Buku ini menceritakan mengenai Mowgli si anak rimba yang dijaga di rimba oleh induk serigala.

Tahun 1918 beliau membuat Rover Scout untuk mereka yang sudah berumur 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini mendeskripsikan seseorang pemuda yang perlu mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.

Tahun 1920 diadakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara serta ketika itu Baden Powell diangkat menjadi Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).

Tahun 1924 Jambore II di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
Tahun 1929 Jambore III di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
Tahun 1933 Jambore IV di Godollo, Budapest, Hongaria
Tahun 1937 Jambore V di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
Tahun 1947 Jambore VI di Moisson, Perancis
Tahun 1951 Jambore VII di Salz Kamergut, Austria
Tahun 1955 Jambore VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
Tahun 1959 Jambore IX di Makiling, Philipina
Tahun 1963 Jambore X di Marathon, Yunani
Tahun 1967 Jambore XI di Idaho, Amerika Serikat
Tahun 1971 Jambore XII di Asagiri, Jepang
Tahun 1975 Jambore XIII di Lillehammer, Norwegia
Tahun 1979 Jambore XIV di Neishaboor, Iran namun dibatalkan
Tahun 1983 Jambore XV di Kananaskis, Alberta, Kanada
Tahun 1987 Jambore XVI di Cataract Scout Park, Australia
Tahun 1991 Jambore XVII di Korea Selatan
Tahun 1995 Jambore XVIII di Belanda
Tahun 1999 Jambore XIX di Chili, Amerika Selatan
Tahun 2003 Jambore XX di Thailand
Tahun 2007 Jambore XXI di Hylands Park Inggris
Tahun 2011 Jambore XXII di Rikaby, Swedia
Tahun 15 Jambore XXIII di kirarahama, Jepang

Tahun 1914 beliau menulis panduan untuk pelatihan Pembina Pramuka serta baru bisa terwujud tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W. F. de Bois Maclarren, beliau mendapatkan sebidang tanah di Chingford yang lalu dipakai menjadi tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.

Tahun 1920 dibuat Deewan Internasional dengan 9 orang anggota serta Biro Sekretariatnya di London, Inggris serta tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.

Semenjak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J. S. Nilson (Inggris), Mayjen D. C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R. T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy menjadi Sekjen.

Biro Kepramukaan sedunia Putra memiliki 5 kantor lokasi yakni Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss serta Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor lokasi di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika serta Amerika Latin.

Sejarah Pramuka Dunia yang Diawali dengan Sejarah Hidup Baden Powel

Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia Dari Masa Ke Masa
Penulisan sejarah bersamaan dengan perubahan masa juga mendapatkan dampak perubahan. Hal semacam ini terkait ada usaha saling mendekat (rapproachement) pada pengetahuan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial. Kalau dibanding dengan perubahan ilmu-ilmu sosial lainnya yang bergerak cepat, sejarah yang tergolong bergerak lambat. Meski begitu sejarah menjadi ilmu pengetahuan yang memperoleh perkembangan, terlebih pada bagian metodologi. Perubahan metodologi ini memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu sosial. Saat ini sejarah banyak memakai konsep-konsep umum yang dipakai dalam pengetahuan sosial, apabila benar-benar berkaitan. Pemakaian itu untuk kebutuhan analisa hingga meningkatkan kejelasan dalam eksplanasi atau interpretasi sejarah. Karenanya pemakaian ilmu-ilmu sosial dalam kajian sejarah menjadi sesuatu yang lumrah. Perihal ini diikuti dengan perubahan historiografi era ke-20. Perluasan dengan cara horisontal (keluasan) ataupun vertikal (kedalaman) subyek sejarah yang perlu dikaji serta di teliti menuntut juga peningkatan serta penyempurnaan metodologi sejarah yang membuahkan historiografi yang beragam dalam sisi tema-tema.

Pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam kajian sejarah dihubungkan dengan ketidakpuasan beberapa sejarawan sendiri dengan bentuk-bentuk historiografi lama yang ruang lingkupnya terbatas. Historiografi baru memiliki cakupan yang lebih luas. Karena itu dibutuhkan penyempurnaan metodologi yakni pemakaian konsep-konsep pengetahuan sosial dalam analisis-analisisnya. Berkenaan dengan ini sehingga lebih jelas dibedakan pada sejarah lama (the old history) serta sejarah baru (the new history), seperti berikut ini.

a. Sejarah Lama (The Old History): 1) Disebut sejarah konvensional; sejarah tradisional. 2) Mono dimensional. 3) Pemaparan deskripstif-naratif. 4) Ruang cakup terbatas. 5) Tema terbatas (sejarah politik lama atau sejarah ekonomi lama). 6) Para pelaku sejarah terbatas pada raja-raja, orang-orang besar, pahlawan atau jenderal. 7) Tanpa pendekatan ilmu-ilmu sosial.

b. Sejarah Baru (The New History) 1) Disebut sejarah baru, sejarah ilmiah (scientific history) atau socialscientific history); sejarah total (total history). 2) Multi dimensional. 3) Para pelaku sejarah luas dan beragam, segala lapisan masyarakat (vertikal atau pun horizontal; top down atau bottom up). 4) Ruang cakup luas; segala aspek pengalaman dan kehidupan manusia masa lampau. 4) Tema luas dan beragam, sejarah politik baru, sejarah ekonomi baru, sejarah sosial, sejarah agraria (sejarah petani, sejarah pedesaan), sejarah kebudayaan, sejarah pendidikan, sejarah intelektual, sejarah mentalitas, sejarah psikologi, sejarah lokal, sejarah etnis. 6) Pemaparan analitis-kritis. 7) Menggunakan pendekatan interdisiplin ilmu-ilmu sosial (politikologi, ekonomi, sosiologi, antropologi, geografi, demografi, spikologi).

Ada beberapa babak dalam perubahan historiografi di indonesia, yakni historigrafi tradisional, historiografi kolonial, historiografi moderen, serta historiografi nasional.

a. Historiografi Tradisional

merupakan ekspresi kultural dari upaya buat merekam peristiwa. Perekaman peristiwa ini dapat dikerjakan lewat penulisan peristiwa itu. Penulisan peristiwa (tidak berbentuk prasasti) di indonesia yang diawali oleh Mpu Prapanca yang menulis kitab Negarakertagama.

b. Historiografi Kolonial

Perbincangan tentang perubahan hisoriografi Indonesia tidak bisa melewatkan buku-buku historiografi yang dibuat oleh sejarawan kolonial. Tidak bisa dipungkiri jika historiografi kolonial ikut menguatkan proses historiografi indonesia. Historiografi kolonial dengan sendirinya menonjolkan fungsi bangsa belanda serta memberikan desakan pada segi politik serta ekonomi. Perihal ini adalah perubahan logis dari kondisi kolonial saat penulisan sejarah mempunyai tujuan paling utama wujudkan sejarah dari kelompok yang berkuasa bersama lembaga-lembaganya.

c. Historiografi Modern

Tuntutan untuk keterapan tehnik dalam memperoleh realita sejarah secermat mungkin serta mengadakan rekonstruksi sebaik-baiknya dan menerangkannya setempat mungkin, menggerakkan tumbuhnya historiografi moderen. Di samping menggunakan cara yang krusial, historiografi moderen juga mengaplikasikan penghalusan tehnik riset serta menggunakan ilmu-ilmu bantu baru yang muncul. Oleh karenanya, dengan cara bertahap bebagai pengetahuan bantu dalam pembuatan sejarah berkembang dari mulai menguasai bhs dan keterampilan membaca tulisan kuno (epigrafi) hingga numismatik yang mendalami mata uang kuno serta archivology yang mendalami persoalan arsip.

d. Historiografi Nasional

Upaya perintisan penulisan sejarah nasional mulai nampak sesudah revolusi kemerdekaan indonesia, Perihal ini dilatarbelakangi oleh penulisan sejarah pada masa kolonial yang miliki sifat belanda sentris. Tidak hanya itu, menjadi negara yang baru saja merdeka, Indonesia memerlukan satu penulisan sejarah yang bisa memperlihatkan jati diri menjadi bangsa, dan memberikan legitimasi pada keberadaanya.

Sejarah nasional mengacu pada sejarah bebagai suku bangsa serta seluruh wilayah di Indonesia. Oleh karenanya, Sejarah nasional mesti bisa menggunakan sumber-sumber dari penulisan sejarah tradisionil serta kolonial untuk dikerjakan rekonstruksi kembali menjadi sejarah yang fokus pada kebutuhan integrasi multidimensial, baik segi ekonomi, ideologi, sosial-budaya, ataupun system keyakinan.

Menelaah Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia Dari Masa Ke Masa

Pengertian Sejarah, Ruang Lingkup, dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan
Sejarah memang merupakan sesuatu yang unik untuk dibahas karena merupakan peristiwa-peristiwa yang telah tejadi pada masa lampau, yang kemudian akan menjadi pelajaran untuk masa kini dalam membangun masa depan. Sehingga sejarah memeliki tiga aspek penting yaitu;

  1. Masa lalu, yaitu tentang gambaran kehidupan manusia dan kebudayaan yang melekat pada dirinya pada masa lampau.
  2. Masa kini, yang artinya saat ini yaitu saat dimana manusia mengalami pembaharuan-pembaharuan dalam berbagai macam lini. Masa kini sangat kursial jika tidak dikelola dengan baik, karena merupakan penentu masa yang akan datang.
  3. Masa depan, merupakan saat yang belum terjadi dan tidak diketahui sama sekali keadaannya oleh umat manusia. Masa depan merupakan misteri, namun penetu masa depan ada pada masa kini. Sehingga masa kini perlu dikelola dengan baik, dan nanti masa depan akan menjadi cerah.

Pengertian Sejarah


Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang maknanya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah dikatakan tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia maknanya kurang lebih ialah masa atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat terhadap bahasa Yunani yaitu historia yang bermakna ilmu atau orang pandai. setelah itu dalam bahasa Inggris menjadi history, yang bermakna waktu lantas manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut ialah Geschichte yang bermakna telah terjadi.

Pada waktu kini, untuk mendapatkan definisi jelas kita membutuhkan keterangan riwayat hidup. Kata riwayat kurang lebih bermakna kepada suatu laporan atau kisah mengenai kejadian. sementara kata hikayat (yang dekat dengan kata sejarah), maknanya kisah mengenai kehidupan, yaitu yang menjadikan manusia sebagai objeknya, dikatakan juga biografi (bios = hidup, graven = menulis). Jadi, kisah yang berkisar tentang kehidupan penulis yang ditulis oleh diri sendiri atau pelakunya sendiri dikatakan autobiografi

Dalam bahasa Arab kata "kisah" yang lazimnya menunjuk ke waktu lampau, itu malah lebih mengandung kisah yang benar-benar berlangsung terhadap waktu lampau, yakni sejarah. Di dalam bahasa-bahasa nusantara adanya sebagian kata yang kurang lebih mengandung arti sejarah adalah "babad", yang berasal dari bahasa Jawa "tambo", bahasa Minangkabau "tutui teteek", bahasa Roti "pustaka" atau "cerita". Barangkali kata babad adanya kaitannya dengan kata "babad" bahasa Jawa dalam arti "memangkas". Hasil dari pembabadan adalah suasana terang, dengan demikian babad dalam arti sejarah bertugas dalam menerangkan suatu keadaan

Sejarah Menurut Pendapat Para Ahli


Selanjutnya, mari kita lihat beberapa pandangan ahli tentang sejarah sebelum kita membuat kesimpulan sendiri tentang sejarah.

1. Sartono Kartodirdjo

Sejarah menurut Sartono Kartodirdjo adalah bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lalu, dan untuk mengungkapnya dapat melalui aktualisasi dan penetasan pengalaman masa lalu. Menceritakan suatu kejadian ialah metode dalam hadirnya kembali peristiwa tersebut dengan metode pengungkapan verbal.

2. Roeslan Abdulgani

Ilmu sejarah menurut Roeslan Abdulgani merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan

3. R. Moh, Ali

R. Moh, Ali bepandangan bahwa pengertian sejarah itu meliputi tiga aspek yaitu; 1) Sejumlah perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa dalam kenyataan sekitar kita. 2) Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang merupakan realitas tersebut. 3) Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian-kejadian, dan peristiwa yang merupakan realitas tersebut.

4. J. Bank

J. Bank mengungkapkan bahwa sejarah adalah semua kejadian/peristiwa masa lampau. Sejarah dapat membantu para siswa untuk memahami perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Semua kejadian yang dimaksud dalam pendapat tersebut adalah kejadian atau peristiwa yang berkaitan dengan manusia. Dalam kejadian atau peristiwa tersebut terdapat bagaimana manusia berperilaku.

6. Herodotus

Sejarah Menurut Herodotus adalah satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat, dan peradaban.

7. Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun berpandangan bahwa, sejarah adalah catatan tentang umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan - perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu.

8. Moh. Yamin

Moh. Yamin meberikan pengertian sejarah sebagai suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

9. Karl Popper

Karl Popper berpandangan tentang ilmu pengetahuan historis (sejarah) yaitu ilmu pengetahuan yang tertarik pada peristiwa-peristiwa spesifik dan penjelasannya. Sejarah sering dideskripsikan sebagai peristiwa-peristiwa masa lalu sebagaimana peristiwa itu benar-benar terjadi secara aktual.

Ruang Lingkup Sejarah


Sejarah terikat oleh tempat, olehnya itu mempunyai sifat yang unik serta berlangsung cuma sekali. Berikut ini merupakan ruang lingkup sejarah.

1. Sejarah Sebagai Peristiwa

Pengertian sejarah sebagai peristiwa secara umum yaitu tentang peristiwa yang sudah berlangsung serta peristiwa itu benar-benar terjadi. Sejarah disebut sebagai peristiwa adalah menyangkut kejadian yang penting, nyata serta aktual. Sejarah cuma akan membahas terkait dengan peristiwa-peristiwa serius di waktu lampau yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia

2. Sejarah Sebagai Ilmu

Pengertian sejarah sebagai ilmu secara umum yaitu membahas tentang kebenaran dari sejarah itu secara objektif. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan untuk menyelidiki lebih jauh kenyataan dengan mengadakan studi serta pengkajian tentang peristiwa kisah sejarah. Sejarah juga dapat disebut sebagai pengetahuan waktu lampau yang disusun secara sistematis dengan cara kajian secara ilmiah.

3. Sejarah Sebagai Kisah

Pengertian sejarah sebagai kisah atau cerita secara umum yaitu tentang penulisan peristiwa oleh seseorang yang idenya diambil dari sejarah. Sejarah ialah rangkaian kisah serta cerita berbentuk narasi yang disusun didasarkan ingatan, tafsiran manusia maupun aura mengenai kejadian yang berlangsung di waktu lalu.

4. Sejarah Sebagai Seni

Pengertian sejarah sebagai seni secara umum yaitu engenai sejarah yang ditulis serta diceritakan kembali sesuai nyatanya namun bersifat seni. Walau sejarah disusun didasarkan bahan-bahan secara ilmiah, tapi penyajiannya menyangkut soal keindahan bahasa serta seni penulisannya.

Hubungan Sejarah dengan Ilmu


Untuk lebih memahami tentang ruang lingkup sejarah sebagaimana telah disebutkan diatas, maka perlu untuk mengetahui bagaimana hubungan antara sejarah dan ilmu yang dilihat dari hubungan persamaan dan perbedaan yaitu sebagai berikut.

1. Persamaan Sejarah dengan Ilmu

Kalau dilihat dari segi persmaan maka, persamaan sejarah dengan ilmu pengetahuan dapat dilihat  berdasarkan pengalaman, pengamatan dan penyerapan, yakni sama-sama mempunyai dasar teori dan metode.

2. Perbedaan sejarah dengan ilmu

Sedangkan jika dilihat dari perbedaan sejarah sebagai ilmu pengetahuan yaitu dapat dilihat dan dipahami bahwa sejarah itu terikat oleh waktu, karena waktu sebagai pemegang peranan penting yang harus ada dalam setiap kajian sejarah. Hal ini berbeda dengan ilmu pengetahuan yang tidak terikat oleh waktu, dan mengalir terus, karena waktu bukanlah hal yang penting dari pengembangan ilmu pengetahuan.

Pengertian Sejarah, Ruang Lingkup, dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan