Coretanzone: Pernikahan

    Social Items

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan
Arti khitbah atau meminang yaitu meminta seseorang wanita untuk dinikahi melalui cara yang diketahui di dalam masyarakat. Tentunya pinangan itu tidak hanya diperuntukkan terhadap si gadis tanpa sepengetahuan ayahnya sebagai wali.

Karena pada hakekatnya, saat punya niat untuk menikah dengan seorang gadis, maka gadis itu bergantung dari ayahnya. Ayahnyalah yang terima pinangan itu ataukah tidak serta ayahnya juga yang nanti akan menikahkan anak gadisnya itu dengan calon suaminya.

Sedang ajakan menikah yang dikerjakan oleh seseorang pemuda pada seseorang pemudi sebagai kekasihnya tanpa sepengetahuan bapak si gadis tidak dimaksud dengan pinangan. Karena si gadis begitu tergantung pada ayahnya. Hak untuk menikahkan anak gadis memang ada pada ayahnya, hingga tidak dibetulkan seseorang gadis terima ajakan menikah dari siapa saja tanpa sepengetahuan ayahnya.

Meminang merupakan muqaddimah dari suatu pernikahan. Suatu perbuatan yang sudah disyariatkan Allah SWT sebelum dikerjakan pengikatan akad nikah supaya masing-masing pihak dapat kenal mengenal diantara mereka. Tidak hanya itu, supaya kehidupan pernikahan itu didasari atas bashirah yang pasti. Dengan beberapa pertimbangan, Islam menyarankan untuk merahasiakan meminangan serta cuma bisa dibicarakana dalam batas keluarga saja, tanpa mengibarkan bendera atau membuat upacara tabuhan genderang dan sebagainya.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ اَلزُّبَيْرِ  عَنْ أَبِيهِ  أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ قَالَ:  أَعْلِنُوا اَلنِّكَاحَ - رَوَاهُ أَحْمَدُ  وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Terjemahannya: Dari Amir bin Abdilah bin Az-Zubair dari Ayahnya RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Umumkanlah pernikahan". (HR. Ahmad dan dishahihkan Al-Hakim)

Pada Hadis lain yang artinya: "Dari Ummu Salamah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kumandangkanlah pernikahan .... dan rahasiakanlah peminangan".

Perbuatan ini tidak lain yaitu untuk menghindar serta memelihara kehormatan, nama baik serta perasaan hati wanita. Cemas peminangan yang telah di ramaikan itu mendadak batal karena satu serta lain perihal. Apa pun alasannya, hal semacam itu tentulah begitu menyakitkan serta sekaligus juga merugikan nama baik seseorang wanita. Mungkin saja orang yang lain akan ragu-ragu meminangnya karena peminang yang pertama sudah mengundurkan diri, hingga dapat memunculkan tanda tanya di hati beberapa calon peminang yang lain. Apa wanita ini mempunyai cacat atau mempunyai permasalahan yang lain.

Demikian sebaliknya, jika peminangan ini dirahasiakan ataukah tidak di ramaikan terlebih dulu, jikalau hingga sampai berlangsung pembatalan, jadi cukuplah keluarga terdekatlah yang tahu. Serta nama baik keluarga tidak jadi taruhannya.

Khitbah Yang Dibolehkan 


Untuk bisa dilaksanakan khitbah atau peminangan, maka sekurang-kurangnya mesti tercukupi dua prasyarat paling utama.

Pertama ialah wanita itu terlepas dari semua mawani` (pencegah) dari suatu pernikahan, contohnya jika wanita itu tengah jadi istri seorang. Atau wanita itu telah dicerai atau ditinggal mati suaminya, tetapi masih juga dalam waktu `idaah. Diluar itu juga wanita itu tidak bisa termasuk juga dalam daftar beberapa orang yang menjadi mahram buat seroang lelaki. Jadi didalam Islam tidak dibolehkan ada seseorang lelaki meminang adiknya sendiri, atau ibunya sendiri atau bibinya sendiri.

Kedua ialah jika wanita itu tidak tengah dipinang oleh orang yang lain sampai jelas apa pinangan orang yang lain itu di terima atau tidak diterima. Sedang jika pinangan orang yang lain itu belum juga di terima atau malah tidak di terima, maka wanita itu bisa dipinang oleh orang yang lain. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاء أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَـكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَن تَقُولُواْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan perkataan yang ma`ruf . Dan janganlah kamu ber`azam untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(QS. Al-Baqarah : 235)

Khitbah Yang Diharamkan 


Seseorang muslim tidak halal meminang seorang wanita yang ditalak atau yang ditinggal mati oleh suaminya sepanjang masih juga dalam masa iddah. Karena wanita yang masih juga dalam massa iddah itu dipandang masih tetap menjadi mahram buat suaminya yang pertama, oleh karenanya tidak bisa dilanggar. Namun untuk isteri yang ditinggal mati oleh suaminya, bisa diberikan satu penjelasan - selama dia masih juga dalam masa iddah - dengan cara yang halus yaitu suatu sindiran, bukan dengan terang-terangan, kalau si lelaki itu ada hasrat untuk meminangnya. Sebagaimana Firman Allah swt:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah: 235)

Serta diharamkan juga seseorang muslim meminang pinangan saudaranya apabila ternyata telah sampai pada tingkat kesepakatan dengan pihak yang lainnya. Karena lelaki yang meminang pertama itu sudah mendapatkan satu hak serta hak ini mesti dijaga serta dilindungi, untuk memelihara pertemanan serta pergaulan sesama manusia dan menghindari seseorang muslim dari sikap-sikap yang bisa mengakibatkan kerusakan jati diri. Karena meminang pinangan saudaranya itu sama dengan perampasan serta permusuhan.

Tapi bila lelaki yang meminang pertama itu telah memalingkan pandangannya dari si wanita itu atau memberi izin pada lelaki yang ke-2, jadi saat itu lelaki ke-2 itu tidak berdosa untuk meminangnya. Karena hal ini sesuai sabda Rasulullah saw. yaitu seperti berikut:

`Seorang mu`min saudara bagi mu`min yang lain. Oleh karena itu tidak halal dia membeli pembelian kawannya dan tidak pula halal meminang pinangan kawannya.`(HR. Muslim)

Dan sabdanya juga:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  لا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ اَلْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ اَلْخَاطِبُ   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Terjemahannya: Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Janganlah seorang laki-laki meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang pertama itu meninggalkan (membatalkan) atau mengizinkannya".(HR Bukhari).

Demikianlah ulasan tentang pinangan atau khitbah yang dibolehkan dan yang diharamkan, semoga yang belum menikah agar segeralah untuk meminang seorang gadis dengan melihat ketentuan-ketentuan dalam syariat Islam.

Pinangan atau Khitbah yang Dibolehkan dan yang Diharamkan

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam
Islam merupakan agama yang paling sempurna, karena merupakan Agama yang berasal dari Allah dan masih terjaga keasliannya. Kesempurnaan ini dapat dilihat dari segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia telah diatur secara rinci dan baik, salah satunya adalah hukum menikahi wanita yang pernah berzina, sebagaimana dalam Al-Quran Allah swt. berfirman.

الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

1. Pandangan Jumhur (sebagian besar) Ulama


Jumhurul Fuqaha menyampaikan jika yang dimaksud dari ayat itu bukan mengharamkan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Bahkan juga mereka membolehkan menikah dengan wanita yang pezina. Lantas bagaimanakah dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Beberapa fuqaha mempunyai tiga argumen dalam perihal ini.

Dalam perihal ini mereka menyampaikan jika lafaz `hurrima` atau diharamkan didalam ayat itu bukan pengharaman tetapi tanzih (dibenci).

Diluar itu mereka beralasan jika memang diharamkan, maka lebih pada masalah yang spesial waktu ayat itu di turunkan. Yakni seseorang yang bernama Mirtsad Al-ghanawi yang menikah dengan wanita pezina.

Mereka menyampaikan jika ayat itu sudah dibatalkan ketetapan hukumnya (dinasakh) dengan ayat yang lain yakni

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Terjemahannya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)

Pendapat ini juga adalah pendapat dari Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq ra serta Umar bin Al-Khattab ra serta fuqaha kebanyakan. Mereka membolehkan seorang untuk menikah dengan wanita pezina. Serta kalau seorang sempat berzina tidak mengharamkan dianya dari menikah dengan cara syah.

Pandangan mereka ini dikuatkan dengan hadits sebagai berikut:

Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Istriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)

أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : لا توطأ امرأة حتى تضع 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

لا يحل لامرئ مسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقى ماءه زرع غيره 

Terjemahannya: Nabi SAW bersabda,"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

Lebih detil mengenai halalnya menikah dengan wanita yang sempat lakukan zina sebelumnya, simaklah pandangan beberapa ulama di bawah ini :

a. Pandangan Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah mengatakan, apabila yang menikah dengan wanita hamil itu merupakan lelaki yang menghamilinya, hukumnya bisa. Sedang jika yang menikahinya itu bukan lelaki yang menghamilinya, maka lelaki itu tidak bisa menggaulinya sampai melahirkan.

b. Pandangan Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Malik serta Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan lelaki yang tidak menghamili tidak bisa mengawini wanita yang hamil. Terkecuali sesudah wanita hamil itu melahirkan serta sudah habis waktu 'iddahnya. Imam Ahmad memberikan satu prasyarat lagi, yakni wanita itu mesti telah tobat dari dosa zinanya. Bila belumlah bertobat dari dosa zina, dia masih tetap bisa menikah dengan siapa juga. Demikian dijelaskan didalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.

c. Pandangan Imam Asy-Syafi'i

Mengenai Al-Imam Asy-syafi'i, pandangan beliau ialah, baik lelaki yang menghamili maupun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Seperti tertera didalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.

2. Pandangan Yang Mengharamkan 


Walau demkikian, memang ada pula pendapat yang mengharamkan keseluruhan untuk menikah dengan wanita yang sempat berzina. Minimal tertulis ada Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` serta Ibnu Mas`ud. Mereka menyampaikan jika seseorang lelaki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitupun seseorang wanita yang sempat berzina dengan lelaki lainnya, jadi dia diharamkan untuk dinikahi oleh lelaki yang baik (bukan pezina).

Bahkan juga Ali bin abi Thalib menyampaikan jika jika seseorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitupun jika yang berzina merupakan pihak suami. Tentunya dalil mereka merupakan zahir ayat yang kami katakan diatas (aN-Nur : 3).

Tidak hanya itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yakni orang yang tidak mempunyai perasaan cemburu jika istrinya serong serta masih membuatnya menjadi istri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda,`Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts`. (HR. Abu Daud)

3. Pandangan Pertengahan 


Sedang pandanga yang pertengahan merupakan pandangan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seorang menikah dengan wanita yang masih tetap senang berzina serta belumlah bertaubat. Jikalau mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Tetapi jika wanita itu telah berhenti dari dosanya serta bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Apabila mereka menikah, maka nikahnya syah dengan cara syar`i.

Kelihatannya pandangan ini agak menengah serta sama dengan azas prikemanusiaan. Karena seseroang yang telah bertaubat memiliki hak untuk dapat hidup normal serta mendapat pasangan yang baik.

Dari berbagai pendapat di atas tentang hukum menikahi wanita yang pernah berzina, maka kita sebagai umat Islam, sudah sepatutnya untuk berpikir jernih agar terhindar dari perbuatan zina yang merupakan salah satu dosa besar, sehingga nantinya pernikahan akan menjadi pernikahan yang baik dan diridhoi oleh Allah.

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina Menurut Islam

Tips Membangun Keluarga Harmonis Menurut Islam
Tips membangun keluarga harmonis menurut Islam sebagaimana firman Allah swt yang artinya; “Wahai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memberikan keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (Q.S. An-nisa:1)

Membaca dari arti firman Allah di atas, makin jelas bila keluarga terbentuk dari sepasang suami dan istri lalu anak-anak yang dilahirkan ke dunia. Merujuk pada judul artikel ini yakni membangun keluarga harmonis menurut Islam bahwa ini tentang kebahagiaan yang ingin dicapai seseorang dalam membina sebuah hubungan.

1. Mengerti Tugas Dan Kewajiban Antara Suami Dan Istri


Keluarga yang harmonis itu seirama dalam perjalanan rumahtangganya, antara suami dan istri masing-masing mengerti akan tugas dan kewajibannya. Suami bertugas sebagai imam yang memimpin keluarga, di pundaknya beban tanggung-jawab sebagai kepala keluarga diemban, maka mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan anak istrinya di rumah sudah menjadi kewajibannya. Sedangkan istri bertugas mendampingi suami mengurus keperluannya, mengatur keperluan keluarga dan menaati perintah suami menjadi kewajibannya. Jika semua ini dikerjakan dengan hati ikhlas semata-mata untuk beribadah kepada Allah maka tak perlu lagi ada yang merasa dimanfaatkan dan dicurangi.

2. Masing-masing Suami Istri Menyadari Tanggung-jawabnya Sebagai Orang Tua


Keluarga harmonis berarti juga ada anak-anak yang shaleh shalehah taat dan paham agamanya, takzim dan menuruti nasihat orangtuanya, tidak bengal dan nakal, tidak membuat ulah yang berujung mempermalukan keluarganya. Semua terjadi sebab masing-masing suami istri menyadari penuh tanggung-jawabnya sebagai orang tua. Sebagai ayah yang bertugas melindungi dan menjaga kepentingan sang anak juga berkewajiban mencari nafkah. Sedang istri bertugas merawat dan mendidik anak-anak di rumah, berkewajiban menjaga kehormatan suami dan melindungi anak-anaknya. Bila semua tercipta dengan baik, pasti keluarga harmonis akan didapatkan. Oleh sebab itu sebagai orangtua, sudah selayaknya memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya di rumah.

3. Mempunyai Pekerjaan Yang Barokah Dan Tidak Jauh Dari Rumah


Mempunyai pekerjaan yang barokah dan tidak jauh dari rumah, adalah dambaan semua orang bila telah berkerluarga. Ini akan membuat hati tentaram serta damai. Tidak perlu pergi jauh, rejeki sudah datang dengan sendirinya di rumah, dengan begitu keadaan rumah masih bisa terus diperhatikan tidak diabaikan. Sebab faktanya banyak keluarga terberai gara-gara suami pergi jauh meninggalkan anak istri di rumah sebab berkerja.

4. Suami Yang Pandai Menjaga Kesetiaannya Dan Istri Yang Pintar Melindungi Kehormatannya


Keluarga harmonis menurut Islam itu: suami yang pandai menjaga kesetiaannya kepada istri, mampu menahan dirinya untuk tidak terjerumus ke hal-hal yang berbau maksiyat, yang jika ia melakukannya tidak hanya mendapat azab dari Allah, tapi juga melukai perasaan itrinya di rumah yang selalu merawat menemaninya di kala hidup susah. Mampu menghargai pengabdian serta pengorabanan seorang istri. Sedangkan istri juga pintar melindungi kehormatan dan harga dirinya sebagai istri sekaligus wanita yang telah berumahtangga. Tidak merendahkan diri dengan pria yang bukan mahromnya, saat suami sedang pergi jauh mencari ma’isah buat keluarganya di rumah. Ketika semua menyadari hak dan tanggung-jawabnya, maka keluarga harmonis menurut Islam bukanlah mimpi. Semua dikerjakan atas dasar ibadah.

Tips Membangun Keluarga Harmonis Menurut Islam

Tips Disayang Suami Menurut Sesuai Ajaran Islam
Wanita selalu ingin dimengerti pria yang ia cintai itu harapan semua wanita di dunia. Begitupun yang terjadi pada seorang istri. Dan oleh sebab itu istri harus memenuhi tanggung-jawabnya terlebih dahulu, bila ingin tuntutannya didengarkan. Dalam hukum Islam tentu saja diperbolehkan selama si istri tidak menuntut sesuatu di luar batas kemampuan suami.

Tetapi tidak semua wanita beruntung mendapatkan itu. Beberapa masih berjuang keras memperoleh haknya, sementara yang lain dapat hidup berbahagia sebab mendapatkan pasangan hidup ideal. Sebagai wanita tidak perlu merasa iri, tapi tetap berusahalah menjadi pribadi berikut ini, agar impian Anda berhasil.

1. Bertakwa 


Wanita shalehah menjadi dambaan banyak pria. Ini sesuai dengan sabda Rasululloh saw, ‘’Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shaleha (HR Muslim). Maka dari itu jalan terbaik agar disayangi dan dicintai suami yakni dengan menjadi wanita demikian, bertakwa dan penuh keimanan.

2. Bersikap Manis


Bersikap manis menyenangkan hati suami ketika di depannya saat menyambutnya pulang kerja. Memakai wewangian dan baju bersih, meski seharian kotor mngurus keperluan rumahtangga. Ini akan membuat suami dihargai kehadirannya oleh istri.

3. Tidak Merendahkan Harga Diri Suami


Tidak merendahkan harga diri suami juga merupakan harapan suami. Apapun keadaan keluarga dari suami, pekerjaan yang ditekuni dan tabiat buruk atau kelemahan suami, sebagai istri selalu dapat menerima dengan lapang dada serta bersedia iklas memahami. Termasuk jika suami terlahir dari keluarga biasa saja, profesinya yang dikerjakan belum mendapat hasil yang maksimal sehingga Anda ikutan kalang kabut membantu perekonomian keluarga, atau suami mempunyai kekurangan yang rasanya sangat tidak pantas diumbar ke publik, Anda tetap setia mendampingi dan menghormatinya.

4. Tidak Banyak Menuntut


Tidak banyak menuntut menjadi keinginan suami berikutnya, istri mampu bersikap legowo dan nerimo apapun yang diberikan oleh suaminya. Rejeki banyak atau sedikit selalu bersukur, tidak berusaha membanding-bandingkannya dengan orang lain, hingga berpotensi menimbulkan perselisihan di dalam rumahtangga, yang bisa mengancam terjadinya perceraian.

5. Hidup Hemat 


Masih berbicara tentang poin ke empat di atas, yaitu tentang sikap tidak banyak menuntut berkaitan hidup hemat, istri mampu membelanjakan uang suami dengan baik, walaupun hasil rejekinya sedikit.  Tidak hidup boros dan cerdas mengatur keuangan keluarga. Atau lebih istimewa lagi jika istri bersedia dengan iklas membantu perekonomian keluarga tanpa menggerutu bahwa itu adalah kewajiban suami.

6. Mampu Mendidik Anak-anak


Seorang istri juga seorang ibu yang itu artinya ia memiliki kewajiban mendidik dan merawat anak-anaknya, menjadi madrasah pertama dalam pendidikan membangun generasi di masa yang akan datang. Bisa menjadi suri tauladan, bukannya justru memberi contoh keburukan. Orangtua tetaplah orangtua, jangan bersikap seperti layaknya abg yang masih dangkal pemikirannya, tidak mengerti akan tugas dan kewajibannya sebagai orangtua.

8. Menghormati Ibu Dan Keluarga Suami


Mau menikah dengan suami berarti harus bersedia menerima kehadiran orangtua serta keluarganya yang lain, seperti mertua dan saudara ipar. Jangan takabur dan sombong, yang ketika keluarga suami datang berkunjung ke rumah, diabaikan begitu saja, seolah mereka adalah orang asing. Ingat sebelum Anda memasuki kehidupan suami, mereka sudah ada terlebih dahulu ikut membantu keperluan suami di masa kecil dulu. Jadi mereka juga berhak atas apa yang dimiliki suami jangan Anda kuasai sendiri.

Tips Disayang Suami Menurut Sesuai Ajaran Islam