Coretanzone: Ragam

    Social Items

Sejarah Benteng Tolukko di Ternate Maluku Utara
Tolukko merupakan salah satu nama benteng tua di Ternate Maluku Utara yang dibangun pada tahun 1540 oleh Francisco Serao yang merupakan seorang panglima dari Portugis. Benteng ini kemudian dikenal dengan nama benteng Holandia.

Dalam penuturan sejarahnya ada yang menyatakan bahwa nama Tolukko merupakan nama dari penguasa ke-10 yang duduk di atas singgasana Ternate yaitu Kaiil Tolukko. Namun kalau dilihat kagi dari tahun pemerintahan sultan ini yaitu pada tahun 1692 maka, nama benteng ini tidak mungkin menggunakan nama sultan yang memerintah setelah pembangunan benteng itu.

Merujuk pada catatan sejarah Belanda pada tahun 1610, benteng Tolukko direnovasi oleh Pieter Both yang merupakan seseorang yang berasal dari Belanda, untuk digunakan sebagai pertahanan dalam melawang bangsa Spanyol yang waktu itu sibuk menggempur pulau Ternate.

Benteng ini selain dijadikan sebagai tempat pertahan untuk melawan portugis, juga untuk menggiring kembali rakyat yang waktu itu melarikan diri dari serangan Spanyol untuk mau kembali tinggal di benteng tersebut. Pada saat itu benteng Malayo dijadikan sebagai tempat pelarian sebagian besar rakyat.

Dilaporkan bahwa, pada tahun 1612 terdapat 15 hingga 20 tentara di dalam benteng ini, yang dilengkapi dengan sejumlah persenjataan dan amunisi. Pada tahun 1627 di bawah pemerintahan Gubernur Jacques le Febre, dikatakan bahwa benteng yang berada tidak jauh di atas bukit di sebelah Utara Benteng Malayo ini, dilengkapi dengan dua menara berukuran kecil.

Pada waktu itu benteng tersebut dipimpin oleh seorang prajurit yang berpangkat Korporal, dia didatangkan dari Benteng Malayo. Prajurit tersebut juga menjadi sumber pemasok bahan makanan untuk 22 orang tentara yang sedang bertugas di dalam Benteng Tolukko pada saat itu.

Di tahun 1661, Dewan Pemerintahan Belanda memberi izin kepada Sultan Mandarsyah dari Ternate untuk tinggal di dalam benteng tersebut dengan pasukannya. Dikarenakan kehadiran Sultan Ternate di dalam benteng itu, maka garnizun Belanda di dalam Benteng Tolukko dikurangi hingga tersisa 160 orang.

Pada tanggal 16 April 1799, pasukan Kaicil Nuku (Sultan Tidore yang ke-19) melakukan penyerangan terhadap benteng Tolukko namun mereka dapat dipukul mundur oleh pasukan yang terdiri dari pasukan Ternate dan Pasukan VOC. Namun dikarenakan pertempuran dan khususnya pengepungan yang lama yang dilakukan oleh pasukan Nuku maka, penduduk kota Ternate yang pada bulan Juni 1797 berjumlah 3.307 jiwa, kemudian menyusut hingga tinggal 2.157 jiwa.

Penduduk lainnya meninggal akibat dari peperangan dan kelaparan atau melarikan diri ke Halmahera. Pada masa kepemimpinan Residen P. Van der Crab yaitu pada tahun 1864, benteng tesebut dikosongkan karena hampir seluruh bangunan sudah rusak.

Sesudah kemerdekaan yaitu pada tahun 1996, bangunan tua ini dipugar kembali, namun upaya pemugaran tersebut justru menghilangkan keaslian bangunan seperti terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut dihilangkan.

Sejarah Benteng Tolukko di Ternate Maluku Utara

Provinsi - Sulawesi Selatan merupakan sebuah bagian dari pulau Sulawesi, menarik yang untuk dibicarakan. Bukan saja tentang keindahan alam pariwisatanya. Namun hal lain yang tak kalah indah yaitu tradisi dan budayanya.

Terdiri dari berbagai macam suku antara lain : Bugis, Makassar, Mandar, Toraja dan lain-lain, dengan bahasa deerah yang sama untuk masing-masing suku. Secara umum termasuk kategori kebudayaan masyarakat pantai. Hal ini ditandai adanya jalur perdagangan dalam bidang ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam.

Ada beberapa tradisi yang wajib Anda ketahui, bila berniat berkunjung ke tempat itu. Dan berikut rangkumanya.

1. Rumah Adat


Rumah adat daerah Sulawesi Selatan bermacam bentuk dan jenis, tergantung suku bangsa yang mendiami. Ini menjadi semacam identitas seperti rumah adat Tonkongan (rumah adat suku Toraja), yang berarti balai desa musyawarah. Menurut kepercayaan penduduk setempat, terdapat hubungan erat antara manusia bumi dengan hal itu. Oleh karenanya dalam pembangunannya harus memenuhi aturan tertentu dengan ajaran aluk todolo. Untuk suku Bugis dan Makassar memiliki kesamaan, keduanya memiliki tipe rumah panggung yang berkolong pada bagian bawahnya. Selain yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Misalnya : rumah adat attake (kabupaten Wajo), Bola soba ( daerah Soppeng), rumah adat Bajo (kabupatn Bone), rumah adat suku kajang (kabupaten Bulukumba), perkampungan nelayan Paloppo serta rumah terapung (Sekang)

2. Pakaian Adat


Sama seperti rumah adat yang berbeda. Untuk berbagai tingkatan usia, jenis kelamin, kedudukan atau jabatan pekerjaan, latar belakang sosial, dan upacara adat. Masing-masing mempunyai tata caranya sendiri-sendiri, serta berwarna-warni.

3. Tarian Tradisional Dan Alat Musik Yang Dipergunakan


Pada kategori tarian tradisional jenis alat musik yang mereka pergunakan juga berbeda. Mappedendang adalah jenis alat musik yang memakai lesung dan alu, ada di suku Bugis dan Makassar, Gowa ada : kancing, bacing, bulo, kaoppo, serta orkes Toriolo, yaitu sejenis orkes tempo dulu dari Makassar yang terdiri dari : biola, gendang, gong, rebana, katto-katto,dan kannong-kannong. Bulukumba dengan Basing-basing, Toraja : Passuling, Gendang dan lain-lain.

4. Kerajinan


Penghasil sutra di kabupaten Wajo, pembuat perahu Pinisi di Bulukumba, seni ukir dari Tana Toraja.

5. Upacara Tradisional 


Upacara adat suku Makassar, Bugis dan Toraja mengenal daur hidup dan umum. Seperti ritual masa kehamilan di suku Makassar dan Bugis. Toraja mengenal upacara adat kematian di mana pelaksanaannya menyesuaikan status sosial seseorang dalam masyarakat, yang pada intinya semua dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta.

6. Senjata Tradisional


Senjata tradisional mereka berupa : keris, dan badik.

7. Kuliner 


Untuk jenis kuliner bermacam-macam, misalnya : coto Makassar, sop konro, pisang epe, dan es palu butung, olahan ikan dan lain sebagainya.

8. Lagu Daerah


Pakerena, Peiwa, Tawa-tawa, To Mepare, Ammac Ciang dan yang paling melankolis adalah Anging Mammire, yang menceritakan rindu gadis pada seorang pria kekasihnya di tanah sebrang.

Bagiamana pendapat Anda tentang uraian singkat ini? Ternyata Indonesia kaya sekali budaya dan adat tradisi ya? Dan sudah menjadi kewajiban dan tanggung-jawab generasi bangsa untuk memeliharanya, bukan justru lari, mengilai budaya luar negeri yang terkadang tak sesuai norma bangsa kita sendiri.

Mengenal dari Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, Ada Legenda Lagu Romantisnya Loh!

Kota Merauke - merupakan kota cantik di ujung paling timur Indonesia yang di selatannya adalah propinsi Papua, memiliki sebutan lain yaitu Kota Rusa. Dikarenakan dahulu jenis hewan tersebut banyak ditemukan di wilayah tersebut. Selain itu binatang yang tak kalah menakjubkan juga ada di sini, seperti: kangguru merah, burung pelikan, kasuari, kuskus, tikus berkantung, kura-kura, kakatua dan sebagainya.

Bila dilihat secara geografi, sejarah, ekonomi dan budaya, kota Merauke mempunyai fakta unik dan menarik dibandingkan kota sejenis di Papua. Disebabkan letaknya paling ujung dari timur Indonesia, berjarak lurus dengan kota Sabang di propinsi Aceh. dan sama-sama memiliki tugu di masing-masing tempat.

1. Bumi Animha alias Bumi Manusia Sejati


Selain mendapat sebutan ‘sebagai ‘’Kota Rusa’ Merauke juga memperoleh julukan lain yaitu ‘’Bumi Anim – Ha’’. Hal itu behubungan dengan kepercayaan penduduk asli setempat asli Merauke dari suku Marind – Anim. Sedang Anim – Ha memilki arti ‘’Manusia Sejati’’.

2. Pantai Lampu Satu


Yang menarik dari pantai Lampu Satu adalah air lautnya yang berwarna coklat. Itu tentu berbeda sekali dengan keadaan pantai-pantai lain yang berada di pulau Papua. Dikarenakan keadaan topografi tanah Merauke yang datar dan berawalah yang menyebabkan hal tersebut. Ketika air surut, banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bermain bola, mencari kerang dan sebagainya, atau sekadar menikmati sunset di senja hari.

3. Taman Nasional Wasur


Taman Nasional Wasur atau populer dikenal dengan nama lain ‘’Serengeti Papua’’, termasuk dalam kategori lahan basah terbesar di Indonesia, bahkan di Asia yang masih terjaga alaminya. Buat Anda pecinta hewan peliharaan burung, tempat ini surganya. Menurut survey WWF di sini banyak ditemukan hampir empatratusan jenis burung, dapat dijumpai burung-burung yang berimigrasi ke Australia. Hal menarik lain akan dijumpai pula rumah ‘’Musamus’’ atau rumah semut yang hanya ada di Merauke dan Australia.

4. Tugu Kembar


Seperti sudah sedikit disinggung di atas bila kota Merauke kota paling ujung timur Indonesia dan terdapat sebuah tugu yang mirip dengan kembarannya yang berada di kota Sabang yaitu ‘’Tugu Nol Kilometer’’, memang benar adanya. Berlokasi di Sota Merauke atau lebih tepatnya di pertigaan distrik kota Sota arah perbatasan PNG, Merauke dan Boven Digul, ‘’Tugu Sabang Merauke’’ berdiri megah.

5. Pizza "Sagu Sep"


Dan ada satu yang menarik dari kota Merauke yaitu pizza ‘’Sagu Sep’’. Dilihat dari namanya memang benar ini sejenis pizza. Berbeda dengan jenis pizza yang familiar berbahan dasar tepung terigu, pizza sagu sep terbuat dari tepung sagu, makanan pokok mereka. Itu bukan papeda atau bubur, sebab cara memasaknya lain. Adalah tepung sagu yang dicampur dengan daging, (yang pada dasarnya sama bahan dasarnya untuk setiap wilayah) hanya cara mengolahnya yang sedikit unik. Namun dikarenakan proses memasaknya yang rumit, kuliner tersebut jarang ditemui, hanya di acara-acara tertentu saja olahan tersebut ada.

Itulah sekelumit kisah tentang kota Merauke dan destinasi wisatanya yang elok. Untuk mencapai daerah itu bukan sesuatu yang dirumit. Dapat dijangkau melalui jalur lalulintas laut dan udara.

Dan jika Anda bertanya di mana medan seru untuk memuaskan hasrat petualangan Anda? Jawabannya di sini! Masukkan dalam daftar agenda perjalanan wisata Anda, dan dijamin akan puas karenanya.

Mengenal Ragam Budaya Dan Pariwisata Kota Merauke yang Sangat Menawan

6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku
Maluku merupakan wilayah kepulauan yang sangat terkenal dengan produksi rempah-rempah terbesar di dunia, khususnya pala dan cengkeh. Wilayah ini pernah dijajah oleh bangsa eropa, sebagaimana wilayah lain di Indonesia, dengan tujuan utama adalah menguasai perdagangan rempah-rempah yang saat itu harganya sama dengan emas. Selain itu banyak sekali keunikan yang dapat anda temui di tanah raja-raja ini, dan bila Anda berniat mengunjungi destinasi wisata di sana, maka berikut ini adalah fakta-fakta menawan yang bisa anda temui.

1. Bangunan Bedinding dari Pelepah Sagu


6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Pelepah sagu yang telah dipisah dari dagingnya, ternyata dimanfaatkan untuk membuat sebuah bangunan. Seperti yang terdapat pada masjid tua Wapauwe yang mengunakan sebagian bangunanya menggunakan bahan tersebut. Masjid ini juga merupakan salah satu masjid tertua di propinsi Maluku.

2. Tradisi Pengasingan


6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Indonesia mengenal bermacam-macam tradisi, demikian juga yang terjadi di Maluku. Ada tradisi pengasingan terhadap para perempuan yang hamil atau sedang datang bulan. Mereka diasingkan pada gubug kecil, tradisi ini dilakukan oleh suku Naulu.

3. Menjadi Nama Daerah Tertua Di Indonesia


Menurut catatan sejarah, propinsi Maluku ditetapkan sebagai nama daerah tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah prasasati yang berdiri sama waktunya dengan Kerajaan yang ada di Timur Tengah pada masa pimpinan Firaun. Bahkan pimpinan gubernur sudah terjadi semenjak tahun 1522 sampai 1605.

4. Agama Mayoritas Islam


6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Agama Islam menjadi agama Mayoritas penduduk kepualauan Maluku, baru kemudian Kristen Protestan dan Katholik. Data statistik daerah menyebutkan untuk pemeluk ajaran Islam sebanyak 61 persen selebihnya Kristen Protesatan dan Katholik.

5. Bangunan Bersejarah


6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Banguan bersejarah yang paling terkenal di Maluku, adalah benteng-bentengnya sama seperti kebanyakan bangunan bersejarah di Indonesia yang sering ditemukan. Sebab negara ini memang dulunya bekas jajahan dari negara lain. Sebab Maluku ditengarai penghasil rempah yang banyak diincar oleh bangsa asing sebagai penghangat tubuh saat cuaca dingin. Contoh rempah-rempah yang dapat ditemui di Maluku adalah pala dan cengkeh. Peninggalan sejarah yang ada di Maluku misalnya adalah banteng Amsterdam yang dibangun pada tahun 1512 yang terletak di Negeri Hila yang jaraknya 42 KM dari kota Ambon.

6. Destinasi Wisata Dan Kulinernya


6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Selain itu Maluku juga dikenal dengan destinasi wisata alam yang indah, tak kalah mengagumkan dengan daerah lain, seperti : aneka pantai, danau, gunung, bangunan bersejarah dan kulinernya. Sebagai contoh pantai Ora keindahannya menyamai pantai Maldieves, atau Ninivala yang merupakan danau di atas awan pulau Seram. Sedangkan kuliner yang paling familiar dikenal publik yaitu papeda yang dimakan bersama gulai ikan. Papeda sendiri adalah bubur yang diolah dengan mengambil bahan baku sagu sebagai bahan dasar pembuatannya, teksturnya lengket bening rasanya tawar.

Mengupas tentang Maluku rasanya tak akan habis ditulis dalam semalam. Itu semua adalah warisan budaya dari para leluhur kita, dan tidak boleh diabaikan begitu saja keberadaannya. Meski kepulauan ini terbilang mungil berbeda dengan pulau-pulau besar lain, namun ketenarannya cukup membuat orang penasaran ingin datang ke sana. Anda mungkin salah satunya?

6 Fakta Unik Tentang Kepulauan Maluku

Kue Asidah: Makanan Khas Maluku yang Lezat
"Asida-asida tepung dicampur dengan mentega" lirik lagu asidah waktu saya masih kecil dan sering saya bersama teman-teman nyanyikan sambil menikmati sepiring asidah panas.
Kue Asidah atau asida merupakan salah satu kue yang sangat digemari oleh masyarakat Maluku. Makanan yang berasal dari arab ini sudah menjadi makanan khas yang sering kita temukan dalam acara-acara keluarga, seperti tahlilalan, nikahan, khitanan, syukuran, dan acara keluarga lainnya. Kue Asidah juga biasanya dihidangkan untuk tamu yang berkunjung ke rumah.

Kue asidah adalah salah satu kuliner yang ada di Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke Nusantara. Pada awalnya kue ini diperkenalkan oleh orang arab yang berdagang dan menyebarkan agama Islam di Nusantara kepada masyarakat melayu, kemudian menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Kue yang mirip dengan dodol ini kemudian menjelma menjadi makanan khas beberapa daerah, seperti, Maluku, Maluku Utara, dan Riau.

Di luar negeri, kue asidah banyak dikonsumsi oleh masyarakat Arab dan Afrika Utara. Mereka menjadikannya sebagai cemilan di malam hari, atau sebagai sarapan pagi.

Kue asidah cocok sekali untuk para pekerja mengkonsumsinya pada pagi hari sebelum berangkat kerja, karena kue ini mengandung karbohidrat dan lemak yang dapat menghasilkan energi tubuh yang tinggi.

Kue Asidah Makanan khas Maluku yang Lezat

Pada saat bulan ramadhan, kue ini banyak dijual sebagai makanan berbuka puasa di Maluku. Pedagang yang menjualnya mematok harga yang relatif murah. Di kota Ambon, Kota Tual, dan Langgur, anda bisa menemukannya dengan mudah karena, tenda-tenda kue berada di atas trotoar jalan. Untuk membelinya anda tinggal datang di tempat-tempat penjualan takjil sekirat jam 15.00 WIT atau sebelum berbuka puasa.

Selain enak kue ini juga mudah untuk dibuat karena berasal dari bahan makanan yang mudah kita temukan di pasar. Cara membuatnya juga sangat mudah, tidak seperti kue lainnya yang memerlukan bahan dan peralatan yang susah. Berikut ini resep mama di rumah dalam memasak kue asidah ala Maluku yang sempat beliau share sebelum saya membuat postingan ini.

Resep Mama dalam Memasak Kue Asidah ala Maluku


Kue Asidah Makanan khas Maluku yang Lezat

Sebelum memasak kue asidah, terlebih dahulu siapkan bahan-bahannya yaitu; tepung terigu, gula merah / gula aren, gula pasir, mentega, dan air putih.

Cara memasak kue asidah ala maluku adalah sebagai berikut:

1. Pertama yang perlu anda siapkan adalah wajan kuali yang besarnya sesuai dengan jumlah bahan yang anda beli  (di Maluku biasanya menggunakan kuali timah yang tebal), kemudian masak gula merah dengan air. Setelah gulanya cair dengan merata dinginkan. Air dan gula merah anda dapat mengukur sesuai dengan yang anda inginkan, atau dalam resep mama air yang digunakan satu gayung setengah dan gula merah bulat dua buah. Agar enak jangan gunakan gula merah yang ada dalam bungusan kertas tetapi gula aren.

2. Setelah dingin campurkan gula merah cair dengan gula pasir, aduk hingga merata. Sesuaikan dengan selera, jika ingin kuenya manis maka gunakan gula pasir agak banyak, namun jika ingin tidak terlalu manis, maka gunakan gula secukupnya.

3. Langkah selanjutnya, campurkan tepung terigu dengan gula cair yang telah anda buat tadi. Jika ingin kue asidahnya kering maka buat buat adonan menjadi kental, namun jika kue asidanya lembek maka, buat adonan agak cair.

4. Letakkan wajan kuali di atas komfor dengan panas api sedang. Lelehkan mentega di atas seluruh permukaan wajan kuali. Jika kuali sudah panas, masukkan adonan yang telah anda buat ke dalam kuali. Aduk terus secara merata, apabila kuali mulai kering dan adonan mulai melengket di kuali maka, oleskan mentega di atas wajan dan di atas adonan. Lakukan hal ini secara terus menerus hingga kue asidah matang.

Ada sebagian orang memasak asidah dengan menggunakan santan, ada sebagian yang hanya menggunakan mentega. Pada dasarnya keduanya sama saja, karena sama-sama mengandung lemak yang tinggi.

Untuk mendapatkan cita rasa yang tinggi, kue asidah dapat disajikan dengan menambahkan lelehan mentega dan campuran gula pasir dan kayu manis halus di atasnya.

Menikmati Kue Asidah yang Lezat


Kue Asidah Makanan khas Maluku yang Lezat

Kebanyakan masyarakat Maluku menikmati asidah dengan minuman kopi. Bagi mereka, menikmati kue asidah tanpa segelas kopi menjadi hal yang tidak lengkap, sehingga biasanya kalau ada asidah pasti ada kopi kampung yang rasanya lezat sekali.

Untuk anda yang ingin merasakan bagaimana lezatnya kue makanan tradisional asal arab ini, anda bisa berkunjung ke Maluku untuk mendapatkannya. Namun di hari-hari biasa (selain bulan ramadhan) kita sulit menemukan penjual kue yang menjajakan makanan tradisional Nusantara yang satu ini, hanya di beberapa tempat saja. Tapi anda jangan takut kalau tidak mendapatkannya, karena di tempat-tempat penjualan kue anda bisa memesannya, karena hampir semua rumah di Maluku dapat memasak kue asidah dengan cita rasa yang berbeda tergantung kokinya, "beda koki, beda rasa".

Kue Asidah: Makanan Khas Maluku yang Lezat

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya
Batik adalah salah satu budaya Indonesia yang telah dinobatkan sebagai Masterpiece of the Oral and Ingtangible Heritage of Humanity atau warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO pada Oktober 2009 lalu. Walau berasal dari jawa, kini Batik telah dikenakan dikenakan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Mari membahas beberapa fakta untuk menguak asal-usul batik dan sejarahnya.

Berdasarkan sejarahnya, asal usul batik dimulai sejak abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, motif batik dilukiskan pada daun lotar dan dinding papan rumah adat Jawa. Pola atau motif batik, awalnya hanya didominasi oleh tanaman atau binatang. Para pengrajin batik juga masih sangat terbatas jumlahnya. Hal ini membuat batik dengan motif dibuat hanya sebagai wujud pelampiasan hasrat seni dan kegiatan yang dilakukan pengrajin batik untuk mengisi waktu luang.

Seiring dengan perkembangannya, batik mulai menarik perhatian pejabat kerajaan Majapahit. Para pengrajin batik mulai menciptakan motif baru, seperti motif-motif abstrak, motif candi, awan, wayang beber, dan lain sebagainya. Akibat perkembangannya yang pesat, penulisan batik pun mulai ditujukan pada media yang berbeda, yaitu kain. Batik yang berasal dari kata amba nitik mulai di aplikasikan pada kain putih atau kain-kain berwarna terang yang menjadi pilihan utama karena dianggap lebih tahan lama dan bisa digunakan untuk pemanfaatan yang lebih banyak.

Asal-usul batik ternyata berawal dari pewarna yang dibuat dari tumbuhan sekita seperti pohon mengkudu, soga, nila hingga kunyit. Juga penggunaan soda yang terbuat dari soda abu dan garamnya dari lumpur.

Ketenaran kain batik makin tercium oleh pembesar-pembesar kerajaan Majapahit, Demak, Mataram dan kerajaan lainnya. Khusus pada masyarakat islam dulu, motif batik dengan wujud binatang ditiadakan karena dianggap menyalahi syariat islam. Sehingga membuat bati dengan motif bunga, tumbuhan dan abstrak sangat diminati pemuka agama islam. Teknik pembuatan batik yang digunakan saat itu adalah batik tulis. Dan teknik tulis tersebut adalah satu-satunya teknik membatik yang digunakan saat itu.

Awalnya, kain berbatik hanya digunakan oleh kaum kerajaan karena keterbatasan produksi bati oleh pengrajin batik. Namun, lambat laun kain batik berkembang dan juga dipakai oleh rakyat biasa. Hal ini membuat batik kian beragam, mulai dari coraknya, warnanya, jenis kainnya tergantung dengan minat dan jiwa seni para pengrajin batik itu sendiri.

Nah, itu dia beberapa informasi dan fakta-fakta yang menguak asal ususl batik dan sejarahnya agar batik tetap terus diingat awal terciptanya. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, batik tidak hanya dikenal sebagai corak pada pakaian semata, batik juga terus berkembang dan di gunakan pada tas, sepatu, topi dan aksesoris lain membuat generasi muda tidak ragu untuk memakainya di berbagai kesempatan.

Menguak Asal-usul Batik dan Sejarahnya

Pulau Lombok - tak hanya menyimpan banyak cerita mengenai keindahan alamnya. Pulau ini pun memiliki keanekaragaman suku bangsa. Suku Sasak contohnya. Suku ini merupakan suku asli Pulau Lombok. Suku ini begitu terkenal di Indonesia. Bahkan masyarakat yang ada di Lombok pun mayoritas adalah suku Sasak. Secara istilah, kata Sasak berasal dari kata sak sak, yang artinya satu satu. Kata sak juga digunakan oleh sebagian suku Dayak untuk mengatakan satu.

Suku Sasak menyimpan banyak adat-istiadat dan kebudayaan yang unik dan beragam. Diantaranya adalah penggunaan bahasa Sasak yang mirip dengan bahasa daerah lainnya. Seperti bahasa suku Bima, Samawa, dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki. Selain itu masyarakat Sasak terkenal dalam hal kerajinan tangan. Yaitu menenun. Bahkan seorang gadis dapat dikatakan sudah dewasa dan layak untuk menikah saat dia sudah pandai menenun.

Beragam adat istiadat suku Sasak juga terlihat dari adat perkawinannya. Dalam perkawinan ini, apabila seorang anak perempuan mereka akan dinikahkan dengan seorang lelaki maka yang perempuan itu harus dilarikan terlebih dahulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki. Inilah yang disebut merarik

Suku Sasak pada masa lalu mengenal golongan-golongan dalam status sosialnya. Yaitu ada dua golongan utama, pertama golongan bangsawan yang disebut perwangsa dan kedua adalah bangsa Ama atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan suku Sasak. Selain itu, masyarakat suku Sasak ini pun mayoritas memeluk agama Budha.

Kesenian yang ada dalam suku Sasak ini cukup beragam. Diantaranya berupa alat musik, tarian, dan beberapa upacara penting. Diantaranya adalah Bau Nyale, upacara Bebubus Batu, tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq, lomba Memaos yaitu adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur, tarian Tandang Mendet yaitu tarian perang Suku Sasak, seni bela diri Peresean atau Presean yang dahulunya digunakan di lingkungan kerajaan, festival peresean yang diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok, permainan Begasingan, alat musik gendang, gambus, seruling, serta beragam keunikan budaya lainnya.

Masyarakat suku sasak pada zaman dahulu via wacan.co

Pulau Lombok merupakan pulau yang ditinggali oleh Suku Sasak. Pulau ini terletak di sebelah timur Pulau Bali, dan dipisahkan oleh Selat Lombok. Di sebelah barat Pulau ini berbatasan dengan Selat Atas yang memisahkan pulau ini dengan Pulau Sumbawa. Luas wilayah pulau yang termasuk ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat ini kurang lebih 5435 km2.

Secara administratif Pulau Lombok terdiri dari lima Kabupaten dan Kota yakni Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Kurang lebih ada sekitar 3 juta jiwa yang mendiami pulau lombok, 80% di antaranya adalah Suku Sasak.

Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok selama berabad-abad tahun yang lalu. Suku ini pun sudah ada sejak  4.000 Sebelum Masehi. Banyak orang berpendapat bahwa suku Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang sasak adalah orang Jawa. Tentu hal ini tak bisa dibuktikan secara jelas. Karena memang suku ini sudah ada sejak lama dan kini telah bercampur dengan suku-suku lainnya.

Nah, seperti itulah beberapa hal mengenai kehidupan Suku Sasak dan Pulau Lombok. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat untuk Anda.

Suku Sasak dan Pulau Lombok

Bahasa - tak hanya menjadi alat komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Namun, bahasa juga memberikan rasa dan kesan yang khas terhadap daerah tersebut. Bukan hanya itu, penggunaan bahasa ini pun biasa digunakan di berbagai tempat setiap harinya. Baik itu di rumah, sekolah, instansi, bahkan di tempat beribadah sekalipun.

Di Indonesia sendiri ada ribuan bahasa daerah, namun saat ini hanya ada ratusan bahasa saja yang masih digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Diantara semua bahasa itu, mengandung makna dan dialek yang berbeda di setiap daerahnya. Walaupun ada kata atau bahasa yang mirip, belum tentu artinya sama. Walau dengan banyaknya bahasa yang ada, bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pemersatu semua bangsa.

Indonesia Timur memiliki beragam kebudayaan dan kekhasan yang berbeda-beda setiap daerahnya. Di daerah-daerah ini pun memiliki beragam bahasa pemersatu di setiap daerah. Bahasa-bahasa ini digunakan oleh masyarakat setempat. Beberapa bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia Timur sesuai karesidenannya adalah:

1. Sulawesi Selatan

Bahasa Makassar : Kota Makassar, Bantaeng,  Takalar, Jeneponto, sebagian Bulukumba, sebagian Maros, Gowa,  dan sebagian Pangkep.

Bahasa Bugis : Bone, Kabupaten Pinrang, Wajo, Sinjai, Barru, Maros, Kota Pare Pare, Pangkep, Sidrap, dan Soppeng.

Bahasa Selayar: Kabupaten Kepulauan Selayar.

Bahasa Pettae:  Tana Luwu

Toraja: Kabupaten Tana Toraja dan sekitarnya.

Bahasa Mandar: suku Mandar yaitu di Polewali Mandar, Kabupaten Mamuju, Majene dan Mamuju Utara.

2. Sulawesi Utara

Kelompok Bahasa Bolaang Mongondow adalah bahasa mongondow, bantik mongondow, lolak, boroko/Bolangitang, bintauna, dan bolango

Kelompok Bahasa Gorontalo adalah bahasa gorontalo, atinggola, dan suwawa (bone)

Kelompok Bahasa Sangihe Talaud adalah talaud (Talaur), siau, dan sanger Besar

Kelompok Bahasa Minahasa adalah toulour, tombulu, tonsea, pasan ratahan, tountemboan, tounsawang, bantik minahasa, ponosakan belang

3. Bali

Bahasa Bali adalah bahasa yang digunakan masyarakat Bali. Bahasa ini memiliki tiga tingkatan, yaitu Bali Alus, Bali Madya dan Bali Kasar.

4. Lombok

Pada umumnya masyarakat Lombok menggunakan bahasa Sasak dalam komunikasi sehari-hari.

5. Maluku

Bahasa Alune: Tala, Mala, dan Malewa yang berada di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat.

Bahasa Koa: Bahasa ini dituturkan di wilayah pegunungan tengah Pulau Seram yaitu sekitar Manusela dan Gunung Kabauhari.

Bahasa Tarangan: Bahasa ini adalah bahasa pemersatu yang digunakan oleh penduduk wilayah Pulau Aru dengan ibu kota Kab. Dobo Maluku Tenggara.

Bahasa Atiahu: Negeri Atiahu, Werinama, dan Batuasa di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur.

Bahasa Seti: Bahasa ini digunakan oleh suku Seti yang berada di Seram Utara dan Teluti Timur. Bahasa ini juga merupakan bahasa dagang di Seram Bagian Timur.

Bahasa Gorom: Bahasa ini merupakan bagian dari bahasa Seti dan digunakan oleh penduduk beretnis atau bersuku Gorom yang tinggal di kabupaten Seram Bagian Timur dan menyebar sampai Kepulauan Watubela dan Maluku Tenggara.

Bahasa Nuaulu: Bahasa ini digunakan oleh suku Nuaulu di Pulau Seram Selatan yaitu antara Teluk Elpaputi dan Teluk Teluti.

Bahasa Kei, Bahasa ini digunakan oleh suku kei yang menjadi penduduk asli dan mayoritas di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.

Bahasa yang ada di Indonesia Timur begitu banyak dan beragam. Bahasa-bahasa ini pun memiliki dialek yang unik dan menarik. Siapa saja yang tak pernah mendengarnya pasti akan heran dan takjub saat pertama mendengar atau berbicara dengan bahasa orang timur. Nah, itulah tadi ragam bahasa mayoritas Indonesia Timur.

Bahasa Mayoritas di Indonesia Timur