Coretanzone: Sastra

    Social Items

Melawan atau Ditindas
Keheningan malam ini menambah gairah untuk melihat cakrawala yang sedang bercengkrama dengan alam, panorama pergi ke alam tiada dalam ketiadaan, terlihat mereka yang sedang bertapa dibawah gunung fantasi, dan mereka yang sedang asyik beronani dengan kekuasaan. Dalam keheningan itu aku dikejutkan dengan serdadu-serdadu yang berlari dengan laras panjang yang mereka pikul, menembus keheningan malam, merebut hak-hak rakyat jelata, menembak mati yang melawan, mencakar perut ibu-ibu yang sedang hamil. Malam ini penuh dengan darah dan tangisan janda yang ditinggal mati suaminya, bayi-bayi terkapar di sudut gubuk, Anak yatim bersimbah darah, bumi bergoncang dengan keras, mengutuk perbuatan yang nista ini. Alam sedang menangis melihat anak manusia yang tak sadar lagi, kesadaran telah hilang bersama keringnya embun pagi, panasnya mentari tadi siang membakar kebencian yang ada di dalam hati. Dari kejauhan terlihat sesosok ibu tua yang menghampiriku kemudian bertanya: "apa sebenarnya ini?" pertanyaan yang membuatku terkejut, ingin ku jawab namun logikaku telah ditutup dengan harumnya bau amis darah yang berserakan diantara gubuk-gubuk kecil itu.

Malam semakin larut, bulan terus menyinari bumi dengan indahnya namun kemurkaan tampak jelas dari wajah indah itu, intan-intan yang selalu terpancar dari wajah cantiknya telah larut dalam kesedihan yang memukau. Bintang-bintang tak lagi menampakkan binaran mutiara yang selalu kita lihat, semuanya menunjukkan pancaran kebenciaan.

Langkah kakiku kembali menuju ke kamar tempat dimana aku tinggal, dengan perabotan sederhana yang ku gunakan untuk bertahan hidup, lukisan kuno yang menambah indah kamar terpampang di sudut kamar. Aku mulai merebahkan badanku di atas tikar yang selalu ku gunakan untuk tempat beristirahat, ku coba untuk menutup mata yang dari tadi panas, namun mata ini tak bisa diajak untuk tertutup rapat, bayangan kekejaman tadi masih menghantuiku, mataku masih terjaga. Aku terus berusaha namun usahaku sia-sia, bayangan itu lebih kuat dibandingkan dengan ushaku. Namun seacra perlahan usahaku mulai menuai hasil, mata ini dengan perlahan merapat dan akupun tertidur ditemani dengan teriakan kodok yang mengalun dengan lembut.

Aku dikejutkan dengan suara adzan yang dikumandangkan dengan indah dari surau yang terletak di ujung jalan, rasa dingin mulai menghampiriku hingga menembus ke dalam jantungku, aku masih teringat dengan kejadian tadi malam, dalam hatiku bertanya “mimpikah aku semalam atau nyatakah itu?”

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur, warna kuning emas yang terpancar darinya memperindah suasana pagi, embun pagi dengan jelas terlihat diatas dedaunan,  rumput ilalang begoyang lembut ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Dengan perasaan cemas bercampur sedih aku mulai memberanikan diri keluar dari kamarku yang pengap itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang begitu sepi, padahal di pagi sebelumnya jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan dibeli oleh warga sekitar, kios-kios tidak juga menampakkan tanda-tanda akan dibuka, semuanya bagaikan ditelan bumi. Aku terus berjalan mengikuti irama yang samar namun tak asing lagi di telingaku. Semakin aku mendekat sumber suara itu semkin jelas terdengar. Suara tangis sendu yang keluar dari mulut mungil seorang anak yang melihat bapaknya terkapar di atas keranda mayat. Banyak anak-anak yang tak berdosa sedang duduk di sudut-sudut jalan, tergambar jelas dari wajah anak-anak itu kesedihan dan kesakitan yang sangat dalam. Serpihan luka masih mengental di dalam hati mereka, air mata masih bercucuran membasahi bumi.

Pandanganku tertuju pada sesosok wajah jelita yang tak asing lagi bagiku dia teman sekampusku, lalu coba untuk ku sapa,

“hy ani sudah lama kamu di disini?”

Iapun menjawab

“saya baru datang juga di sini, sekitar sepuluh menit yang lalu”

Kami saling berpandangan. Ani adalah seorang mahasiswi fakultas kesehatan di Universitas yang sama denganku, sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa fakultas keguruan. Kami saling kenal ketika mengikuti acara seminar yang diadakan oleh salah satu organisasi extra kampus. Wajah cantik nan anggun itu melirik ke hadapan mereka yang sedang tidur di atas tanah yang penuh dengan hamparan bebatuan dan aliran darah yang telah mengering, kebingungan terlihat jelas dari raut wajah yang sejak tadi memandang ke seluruh penjuru wilayah yang telah dilumuri dengan kekejaman akibat dari nafsu serakah sekolompok manusia.

******

Matahari siang itu hampir membakar seluruh tubuh yang lalu lalang di setiap jalanan, sudut-sudut langit dipenuhi dengan amarah, namun kesibukan yang dilakukan oleh manusia tak pernah henti, mereka mengerjakan pekerjaan yang selalu dilakukan setiap hari tanpa meperdulikan panasnya matahari. Langkah kakiku terhenti di sudut kampus, lirikan mataku melihat sekelompok orang yang sedang asyik berteriak dan berorasi di depan kampus, di sekitar mereka terdapat kerumunan manusia yang memakai seragam coklat yang sedang menjaga dan mengawasi kegitatan tersebut. Teriakan teriakan yang mereka lantunkan bagaikan petir yang menyambar kepala manusia di siang bolong, kadang kala teriakan yel-yel khas mahasiswa terdengar, “hidup mahasiswa… hidup rakyat…”, teriakan itu berirama sekali dan membakar semangat mereka.

Perhelatan siang hari itu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong, membongkar bongkahan-bongkahan bebatuan keras, mengalir bagaikan lahar panas yang menyembur keluar dari gunung merapi. Mobil angkotpun mulai menumpuk di sepanjang jalan, kemacetan tak terhindarkan lagi, pihak lalu lintas bingung mengarahkan jalannya kendaraan yang tak beraturan itu. Aku termangu melihat pemandangan yang melengking, ku telusuri sudut kampus itu hingga sampai diantara kumpulan mahasiswa yang sedang menikmati kobaran api yang keluar dari ban bekas yang dibakar. Pikiranku sejenak terhenti berpikir, pikiran kosong yang jauh mengembara menembus batas langit, menghilang ke dalam larutan emosi yang terbakar oleh petir-petir kebencian. Langkah kakiku kembali mengalun lirih menuju sekelompok mahasiswa yang berdiri di dalam keramaian yang begitu panas. Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, sahabat seperjuangan dalam suka dan duka.

"eh kenapa baru kelihatan di sini zaki? Padahal demonya sudah dari tadi”

“maaf sahabat, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan, jadinya terlambat ke sini”

“tidak apa-apa sahabat, yang penting sudah hadir di sini”

Kami berdua terdiam sejenak karena suasana mulai memanas, ada sedikit pertentangan antara pihak keamanan dan pimpinan aksi, perdebatan terdengar dari dalam kerumunan itu. Aku kemuadian bertanya kepada sahabatku itu.

“tema sentral aksi hari ini apa?”

Dia tak menjawab pertannyaanku itu, dia cuma diam melihat hal yang terjadi di luar pertanyaanku, mungkin telinganya tertutup oleh ramainya perdebatan yang belum ada titik penyelesaian. Kemudian kami dikejutkan dengan tembakan yang bunyinya hampir memecahkan gendang telinga, tembakan yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan masa aksi, atau hanya sebuah bunyi yang mencoba untuk memaikan perannya sebagai dewa petir yang menyambar keberanian manusia. Bunyi tembakan berulang terdengar dan menyakitkan telinga, bahkan asap tebal mulai mengepul, massa aksi mulai berlari mencari perlindungan, air mata mengalir dengan deras keluar dari mata-mata yang rapuh, mata yang datang hanya untuk melihat dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas dan direnggut oleh penguasa yang rakus. Siang itu bagaikan neraka yang harus dilawan dengan kekerasan, batu dan cacian keluar bersamaan, mengiringi luapan kemarahan hanya demi satu nama yaitu keadilan.

Bayang-bayang setan berkeliaran di depan kampus, menggoda dan mencoba meruntuhkan idealisme mahasiswa, pentungan terdengar di sisi-sisi jalan. Kamipun berlari menyusuri jalanan kampus menghindari amukan massa yang semakin brutal. Di bawah pohon yang rindang dan masih berdiri kokoh di belakang kampus, memberi satu isyarat bahwa kami harus berteduh di bawahnya, dengan menarik nafas yang panjang aku dan sahabatku itu kemudian beristirahat dibawah pohon tersebut.

Sungguh peristiwa yang melelahkan dan menguras hampir sebagian tenaga, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, dalam sekejap para pahlawan keadilan diterjang oleh badai yang begitu dahsyat, kemanakah mereka harus mengadu, kemanakah mereka harus mengeluh, dan kemanakah mereka berlindung, apakah semuanya sudah terlanjur salah ataukah dianggap salah. Nurani tidak lagi dipakai, akal sudah ditutupi oleh kabut dendam, iblis kemudian terbahak melihat semua ini merasa dirinya telah menang.

Apa yang terjadi siang ini merupakan ritual yang sering dilakukan oleh mahasiswa jika ada ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat, menyuarakan kebenaran yang entah itu benar ataukah dibenarkan. Dalam ritual tersebut kadang terjadi pula hal-hal yang dibenarkan oleh akal dan idealism, walau dianggp salah oleh norma-norma yang berlaku, hanya demi mencari simpati dari penguasa untuk melirik dan mendengar jeritan rakyat. Apakah kita harus memberontak ataukah diam menerima keterpurukan, pilahan bijak selalu hadir sebagai solusi. Kebenaran yang benar haruslah diperjuangkan dengan jalan yang benar, bukan dengan menggunakan hawa nafsu dalam perjuangan.

Manakala Guntur berteriak di tengah langit, gemuruh angin akan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan, hujanpun mengikuti arah yang telah ditunjuk, rerumputan tumbuh di padang yang kosong, halilimtar menyambar dahan-dahan pohon, menghanguskan yang dihinnggapinya, lalu apa bedanya manusia dengan halilintar jika hawa nafsu digunakan.

Bersambung...

Melawan atau Ditindas

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
Suatu ketika moko sedang berkunjung ke Amerika. Di sana dia menelusuri hampir sebagian besar wilayah negara Amerika, dia terkagum-kagum dengan negara paman sam itu. Secara teknologi mereka terus berkembang dan sudah maju lebih pesat dibandingkan Indonesia. Banyak gedung-gedung pencakar langait dibangun dengan mewah. Banyak hotel-hotel yang menyediakan fasilitas terbaik, dan banyak hal lain yang berbeda jauh dengan keadaan di tanah air.

Dari perjalanannya, dia melihat bahwa ternyata Amerika ini lebih maju dari Indonesia, namun satu hal yang ingin dia coba adalah dia ingin mengetahui kualitas pengetahuan manusianya, apakah sebanding dengan keadaan negaranya itu atau tidak. Maka dia berpikir untuk menemui seorang yang paling cerdas di negara itu. Dia bertanya ke sana-kemari, dan dari beberapa orang dia menemukan jawaban bahwa, yang paling cerdas di negera itu bernama Albert, seorang dosen sekaligus penemu terkemu.

Moko mulai mencari alamat orang jenius itu, dan dia menemukan alamatnya melalui seorang temannya. Moko kemudian membuat rencana untuk menemui orang itu. Tibalah waktu yang telah direncanakan. Moko mulai bersiap-siap dengan menggunakan pakaian yang rapi, dia menggunakan celana kain hitam dan baju batik coklat serta sepatu yang mengkilap. Kemudian moko memesan taksi, dan berselang beberapa menit taksi itu sudah tiba di depan penginapan yang dia tempati. Moko kemudian bergegas masuk ke dalam mobil taksi yang berwarna kuning itu.

Selama perjalanan moko tidak tinggal diam, dia banyak bercerita tentang Indonesia kepada supir taksi. Supir taksi yang tidak tau tentang Indonesia itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Hingga suatu ketika dalam perjalanan itu moko bertanya kepada sopir taksi.

"Kamu kenal Albert?"

"Ya, saya kenal" Jawab supir taksi itu

"Kamu tau alamat ini?" lanjut moko sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat kepada supir taksi yang duduk di depannya.

"Ya, saya tau. Tanpa kamu menunjukkan alamat itu saya sudah tau alamat Albert" Jawab supir taksi itu lagi.

Moko hanya terdiam mendengar jawaban supir taksi.

"Semua orang di negara ini, tau siapa itu Albert, bahkan mungkin semua orang di dunia ini, karena dia merupakan seorang ilmuan ternama." Supir taksi menjelaskan lebih lanjut.

Moko hanya diam, namun dalam hatinya dia membatin, "sehebat itukah ilmuan amerika itu, sehingga banyak orang mengenalnya?"

Perjalanan sudah hampir satu jam, dan supir itu membelokkan kendaraan masuk ke jalan setapak perumahan. Kemudian moko bertanya kepadanya, "kita sudah hampir sampai ya?"

Supir itu menjawab, "tinggal beberapa blok lagi kita akan sampai."

Beberapa blok telah dilewati dan sampailah di sebuah rumah besar bertingkat. Mobil taksi berhenti dan supir taksi berkulit putih itu mempersilahkan moko untuk turun.

"Silahkan turun pak, inilah rumahnya"

"iya, terimah kasih, berapa harga taksinya?"

"Harganya sepuluh dolar"

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?
gambar ilustrasi 

Moko menyerahkan selembar uang kertas kepada supir taksi itu, kemudian supir taksi itu pergi meninggalkan moko sendiri di depan rumah yang asing bagi moko. Rumah itu di depannya ada pohon yang rindang. Beberapa bunga juga terlihat bermekaran di halan rumah.

Dengan percaya diri moko melangkahkan kakinya menuju ke atas tangga rumah, kemudian di depan rumah dia mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

Dari dalam rumah ada bunyi kaki yang menuju ke depan pintu, dan kemudian pintu rumah itu terbuka. Terlihat oleh moko sesosok lelaki sederhana yang berdiri di depannya dengan senyum lebar. Moko menyapanya, kemudian laki-laki itu bertanya kepadanya.

"Anda, siapa?"

"Saya moko"

"Moko siapa?"

"Moko asal Indonesia"

"Owh... anda orang Indonesia, silahkan masuk"

Mereka berdua masuk ke dalam rumah besar itu, kemudian lelaki itu menyodorkan tangannya kepada moko. Mereka berdua berjabatan tangan sambil lelaki itu berkata.

"Saya Albert"

"Berarti anda yang saya cari" balas moko.

"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya Albert.

"Saya ingin menguji seberapa cerdas anda" jawab moko.

"Baiklah, mari silahkan duduk"

"Terima kasih"

Sebagai tuan rumah yang baik Albert menawarkan beberapa minuman, dan moko memilih kopi. Albert kemudian menyuruh pembantunya untuk menyiapkan minuman tersebut. Sambil menunggu kopi tiba mereka berdua bercerita lepas, moko bercerita tentang kekagumannya dengan Amerika, dan Albert bercerita tentang beberapa referensi yang ia baca tentang keindahan alam Indonesia.

Berselang beberap menit, dua gelas minuman tiba dihadapan kedua orang yang sedang asik bercerita itu. Pembantu itu meletakkan satu gelas di depan Albert dan gelas yang satunya lagi di depan moko. Albert mempersilahkan moko meminum kopi yang telah disajikan.

"Silahkan diminum kopinya"

"Iya terima kasih" balasa moko

Beberapa saat mereka berdua terdiam, kemudian muka moko agak bingung. Albert kemdian bertanya kepadanya, "ada apa dengan anda moko?"

"Kopi ini rasanya kok tidak asing di lidah saya" Jawab moko

"Kopi itu sebenarnya diimpor dari Indonesia tepatnya dari pulau sumatra, hanya saja diolah di sini" Albert menjelaskan.

"Ohh pantasan enak sekali, tidak seperti kopi yang saya minum sebelumnya di penginapan yang rasanya agak aneh."

Mereka berdua kemudian bercerita banyak tentang kopi hingga beberapa menit lamanya. Kemudian moko mengingatkan Albert tentang tujuanannya.

"Kita sudah bisa mulai menguji kepintaran masing-masing?" Tanya moko

"Iya, namun sebelum itu, kita harus membuat kesepakat terlebih dahulu" Lanjut Albert

"Kesepakatan apa itu?" Tanya Moko

"Kalau anda dapat menjawab pertanyaan saya, saya akan memberikan anda sepuluh dolar, namun jika anda tidak dapat menjawab, anda tidak perlu memberi saya apa-apa. Sebaliknya jika saya dapat menjawab pertanyaan anda, maka anda tidak perlu memberi saya apa-apa, tetapi jika saya tidak dapat menjawab pertnayaan anda, maka saya akan memberikan anda dua puluh lima dolar."

Mendengar jawaban yang menguntungkan bagi diriya itu, moko langsung menyepakati perjanjian yang dibuat oleh Albert. Kemudian moko mempersilahkan Albert untuk memulai terlebih dahulu. Albertpun memulai dengan pertanyaannya.

"Berapa jarak antara bumi dan bulan?"

Mendengar pertanyaan itu moko terdiam dan mulai berpikir tentang jarak antara bumi dan bulan, namun tidak dapat menemukan jawabannya. Kemudian dia berkata, "saya tidak mengetahuinya"

"Jarak antar bumi dan bulang itu sejauh 384.400 km" Albert menjawab sendiri pertanyaannya.

Sesuai dengan perjanjian di atas, maka moko tidak membayar sepeserpun kepada Albert.

"Moko, sekarang giliran anda"

"Baiklah Albert, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan saya"

"Iya, silahkan moko"

"Kendaraan beroda tiga apa yang pernah naik ke bulan" tanya Moko kepada Albert.

Mendengar pertanyaan itu, Albert bingung dan berpikir keras tentang kendaraan mana beroda tiga mana yang sudah naik ke bulan. Hingga dua menit Albert belum menemukan jawabannya, kemudian Albert mengalah dan mengatakan, "saya tidak tau mok, lalu apa jawabannya."

Moko dengan santai mengatakan, "bayar terlebih dahulu sebagaimana kesepakatan yang kita buat di awal tadi."

Albert menyerahkan uang sebesar dua puluh lima dolar kepada moko, kemudian bertanya lagi, "apa jawabannya."

Moko menjawabnya dengan santai "saya juga tidak tau"

Suasan hening sejenak menyelimuti mereka berdua, namun kemudian terpecahlah suara tawa di ruangan tamu yang agak luas itu.

Siapa yang lebih pintar, Albert orang Amerika atau Moko orang Indonesia? Jawabannya silahkan dicoret di kolom komentar.

Albert orang Amerika dan Moko orang Indonesia, siapa yang lebih pintar?

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri
Kisah inspiratif tentang tak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah diri sendiri ini saya dapatkan ketika masih menjadi mahasiswa dulu, kisah ini tentang perjalanan seorang anak manusia yang mencari jati dirinya. 

Alkisah, suatu ketika ada seorang anak manusia berjalan menysuri hutan belantara, sebut saja namanya Cozen. sepertinya dia ingin menjejaki semua tempat dalam hutan itu untuk menemukan hal-hal baru yang menurutnya menarik. Perjalanan yang panjang membuat dirinya banyak merenung dan mulai bimbang. Suatu ketika di dalam hutan dia melihat seekor singa yang kuat. Singa itu dapat memangsa lawannya dengan cepat. Kekuatan dan kelicikan yang dimiliki singa itu sangat dahsyat. Dari situ si cozen ini ingin menjadi singa, dan jadilah dia singa. Dia kemudian menguasai hutan belantara tempat dimana dia berada, namun suatu ketika dia melihat singa lain mendapat serangan dari ular berbisa sehingga singa lain itupun mati.

Dari kejadian yang dia lihat, cozen mulai berpikir bahwa sekelas singa sekalipun bisa mati terkena bisa ular, sehingga dia berkeinginan untuk menjadi ular, maka jadilah dia ular. Dia merayap kesana kemari, meracuni lawannya sehingga lawannya kalah, kemudian melahap habis. Namun suatu ketika ada seekor burung elang sedang berterbangan ke sana kemari. Dia membatin "apa sebenarnya yang dilakukan elang itu? Sepertinya burung itu sedang mencari makan." Berselang beberap menit seekor ular telah dibawa terbang oleh burung elang. Pertanyaan dalam hatinya telah terjawab.

Cozen mulai berpikir lagi, ternyata menjadi ularpun masih bisa dimakan oleh burung elang di udara, sehingga dia ingin menjadi burung elang, dan jadilah dia burung itu. Cozen dengan sayapnya yang kokoh terbang kesana-kemari, dia dapat memangsa apa saja yang dia lihat lemah di atas permukaan tanah, termasuk ular. Dia berpindah dari satu dahan pohon ke pohon yang lain, dari satu gunung ke gunung yang lain. Dia terbang tinggi mengudara di angkasa.

Suatu ketika cozen sedang asyik terbang di anatara dua gunung, ternyata di lembah itu ada angin yang kuat. Cozen terkena angin lembah dan tak mampu menyeimbangkan tubuhnya, sehingga dia jatuh tersungkur di tanah. Badannya sakit semua, sayapnya mulai melemah, kakinya yang kokoh dengan cakar yang kuatpun tak mampu membawa beban tubuhnya.

Dalam kesakitannya dia membatin, "seekor elang yang kuatpun bisa jatuh di atas tanah hanya karena terkena angin lembah." Dari pengalamannya beberapa pengalaman, cozen tak lagi ingin menjadi apa-apa, seperti yang telah dia lalui. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa berubah seperti sesuatu yang lain.

Dari kisah pendek di atas dapat diambil hikmah bahwa, dalam kehidupan ini kita tidak perlu menjadi siapa-siapa, jadilah pribadi yang apa adanya. Kita tidak perlu hidup bak seorang sosialita yang memiliki harta yang banyak, jika keadaan ekonomi lemah. Kita tidak perlu sombong karena di atas langit masih ada langit lagi.

Kisah Inspiratif: Tak Perlu Menjadi Siapa-siapa, Jadilah Diri Sendiri

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng
Hari semakin sore kira-kira pukul 16.00, di sepanjang jalan sultan alauddin sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan baik itu kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, di sana sini orang berjalan mengikuti langkah kaki mereka dalam beraktifitas. Saya yang sedari tadi duduk termangu di depan kampus I UIN Alauddin memandangi penyelesaian konstruksi bangunan rumah sakit dan gedung kuliah pasca sarjana, tak tau apa yang mau ku kerjakan karena baru tiba dari kampus II UIN alauddin Makassar di samata gowa sekitar satu jam yang lalu.

Seperti biasanya kalau pulang kampus perut mulai terasa perih karena dari tadi pagi perutku ini hanya diisi dengan sepotong roti dan segelas teh, begitulah kondisi mahasiswa yang bermodal tipis, yang ada di kepala hanyalah kapan bisa menyelesaikan studi dan pulang ke kampung halaman dengan membawa ilmu pengetahuan dan titel keserjanahan yang menurutku tidak terlalu penting, yang terpenting seberapa besar otak ini diisi dengan ilmu yang bermanfaat.

Aku terus memandangi pembangunan gedung bertingkat yang mewah itu, hingga dikagetkan oleh mahasiswi tingkat bawah yang berjalan menghampiriku.

“Lagi apaq ka?” begitulah percakapan awal yang dimulai dengan pertanyaan basa-basi.

“Lagi dudukji saja, sambil ku lihat pembangunan kampusta yang maumi rampung”, ku balas dengan jawaban sekenanya saja.

“Bagaimana dengan skripsita ka?” dia melanjutkan percakapannya dengan bertanya tentang skripsiku.

“Sudahmi ditanda tangi sama pembimbingku de, tinggal ujian akhir ji ini” begitulah jawabku kepadanya, kebetulan saya merupakan salah satu mahasiswa yang terlambat wisuda sudah tiga semester bertahan di kampus.

“Bagusmi itu ka”, dia hanya mengatakan itu tanpa ada ucapan selamat atau apapun yang terdengar enak di telinga, tapi bagiku tidak menjadi masalah karena sudah terbiasa.

“Kalau kita iya, bagaimana dengan kuliahta? Jangan sampai terlambat selesai sepeti saya ini, kuliah yang rajin selesaikan nilaimu yang bermasalah sejak dini, biar cepatq selesai”. Begitulah sedikit nasehat dari seorang kaka senior yang telat selesai.

“iya ka, pulangka duluna, jangqi lama-lama melamun di sini ka”.

“Oke ani, hati-hatiq di jalan de”. Diapun berjalan menyusuri lorong kecil yang kami sebut sebagai lorong tikus (lotus), sedangkan diriku masih terdiam dan pikiranku kacau balau memikirkan ujian akhir yang sudah dekat.
Tak jauh dari tempat duduku ada sebuah terminal kecil untuk mobil kampus yang khusus untuk mengantar mahasiswa dari kampus I ke kampus II, kalaupun ada masyarakat umum yang naik mobil kampus maka itu adalah mereka yang tinggal di antara kampus I dan kampus II. Mobil itu saling bergantian, ada yang baru masuk  dengan banyak penumpang dan ada yang keluar menuju kampus II dengan berlari kosong, karena kalau sudah sore begini penumpang di kampus I mulai sepi, hanya mahasiswa yang baru pulang kuliah dari kampus II saja yang memenuhi kendaraan roda empat itu.

Matahari mulai menyongsong ke sebelah barat, langit mulai berwarna kemerahan gelap, perutkupun berontak meminta untuk diisi dengan makanan. Aku membuka dompetku dan menghitung lembaran-lembaran rupiah, apakah bisa untuk membeli makanan atau tidak, setalah ku hitung lembaran-lembaran pecahan dua ribu dan lima ribuku, ternyata masih tersisa Rp. 32.000, bisa untuk membeli semangkok coto Makassar dan beberapa buah ketipat.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan melalui trotoar menuju ke warung yang jaraknya lumayan jauh. Di depan gedung Syekh Yusuf Jl. Sultan Alauddin ada warung yang bertuliskan coto bagadang, di sinilah tempat faforitku untuk menyantap coto Makassar. Aku masuk dan memesan satu mangkok coto. Di sini para pembeli disediakan empat pilihan yaitu coto dengan isi mangkuk campuran, daging saja atau hati saja dan daging dan hati. Saya memilih pilihan keempat, sedangkan untuk ketupat sudah disediakan di atas meja makan.

Aroma bau daging di dalam ruangan itu menyengat hidung dengan keharuman yang begitu menggiurkan mulut. Aku hanya terdiam dan menikmati bau harum itu, kemudian dalam diamku itu yang tidak terlalu lama makanan kesukaanku di kota daeng itupun tiba dihadapanku. Pelayan di sini begitu cepat dalam menyajikannya, jadi tidak perlu tunggu lama lagi perut sudah bisa diisi dengan daging kambing atau daging sapi yang dibalut dengan bumbu khas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Silahkan dimakanq”, begitulah saya dipersialahkan makan oleh seorang pelayan yang tak asing lagi di mataku.

“iye, terima kasih”. Ku jawab begitu saja, diapun berlalu menuju tempatnya dan melayani lagi pembeli lainnya. Tak perlu tunggu lama lagi, akupun mulai menyelami lautan kenikmatan bersama coto makassar dan beberapa buah ketupat yang ada di depanku, tak lupa teh es yang manis turut serta melepaskan dahagaku.

Setelah makan lalu menuju ke kasir untuk membayar makanan yang ku makan tadi, kemudian langkah kakiku membimbingku menuju ke kamar kos-kosan yang jaraknya lumayan jauh. Berselang 15 menit aku sampai di kamar kos-kosanku kemudian menyiapkan segala hal untuk akhir studiku.

Begitulah kisahku di kota daeng, bagaimana dengan kisahmu?

Coto Makassar dan Mahasiswa Tingkat Akhir di Kota Daeng

Puisi: Abadi dalam cinta
Cinta memang hal yang sulit untuk ditafsirkan, setiap orang memiliki versi sendiri dalam menafsirkannya, begitu pula dengan saya. Dalam beberapa lamunan saya sering beranggapan bahwa cinta itu abstrak, lalu bisakah kita mencintai yang abstrak? Jawaban sederhana saya saat itu adalah bisa! asalakan tulus dari dasar hati karena yang abstrak itu tidak bisa dipegang, tidak bisa dilihat, hanya berada dalam dunia rasa semata. Abadi dalam Cinta mungkin ini judul puisi saya yang saya tulis untuk menghilangkan gundah dulana hati yang sedang tak pasti.

Abadi Dalam Cinta


Menyapa rembulan
Hanya lewat khayal
Jiwaku menderu dalam diam
Memanggil-manggil cahaya di angkasa

Lamunan mengekalkan
Mengabadikan
Jiwamu dalam jiwaku
Terpisah dan bersatu

Cinta menyatukan
Jiwa-jiwa yang terpisah
Jiwa-jiwa yang berbeda
Jiwa-jiwa yang mendesis

Jarak bertepi
Menetap
Waktu berputar
Berulang

Kita kan terus abadi
Hingga masa berganti
Hingga alam berganti
Hingga nirwana menjemput

Abadi dalam cinta
Abadi dalam jiwa
Abadi dalam rindu
Abadi untuk selamanya.

Puisi: Abadi dalam cinta

Sosiologi Sastra dan Masyarakat dalam Karya Sastra
Karya sastra adalah suatu wadah untuk mengungkapkan gagasan, ide dan pikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Sastra menyuguhkan pengalaman batin yang dialami pengarang kepada penikmat karya sastra (masyarakat). Sastra bukan hanya refleksi sosial melainkan merespresentase sebuah gagasan tentang dunia yang atau gagasan atas realitas sosiologis yang melampaui waktunya.  Karya sastra yang baik adalah sebuah karya yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakt. Hubungan sastra dengan masyarakat pendukung nilai-nilai kebudayaan tidak dapat dipisahkan, karena sastra menyajikan kehidupan dan sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial (masyarakat), walaupun karya sastra meniru  alam dan dunia subjektif manusia (wellek dan Warren, 1990:109). Di samping itu sastra berfungsi sebagai  kontrol sosial yang berisi ungkapan sosial beserta problematika kehidupan masyarakat hal ini di ungkapkan oleh Jobrahim (1994: 221) bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.

Pendekatan terhadap karya sastra dengan melihat nilai-nilai kemasyarakatan disebut sosiologi sastra oleh beberapa penulis, yang pada dasrnya penertiannya tidak jauh berbeda dengan sosiosastra, pendekatan sosiologi ini mencakup berbagai perdekatan masing-masing tergantung teori yang mendasarinya dan sikap tertentu. Namun semua pendekatan itu menunjukkan satu ciri kesamaan yaitu mempunyai perhatian terhadap karya sastra sebagai korelasi sosial yang diciptakan sastrawan sebagai anggota masyarakat. Hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra dan masyarakat merupakan bagian sebagai berikut:

Konteks Sosial Pengarang (Sastrawan)


Sastrawan menulis karya sastra, antara lain, untuk menyampaikan model kehidupan yang diidealkan dan ditampilkan dalam cerita lewat para tokoh. Dengan karya sastranya, sastrawan menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat itu pada hakikatnya universal, artinya diyakini oleh semua manusia. Pembaca diharapkan dalam menghayati sifat-sifat ini dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata (Nurgiyantoro, 1998: 321).

Untuk itu, seorang pengarang berusaha untuk memperlihatkan kemungkinan tersebut, memperlihatkan masalah-masalah manusia yang substil (halus) dan bervariasi dalam karya-karya sastranya. Sedangkan daya imajinatif adalah kemampuan pengarang untuk membayangkan, mengkhayalkan, dan menggambarkan sesuatu atau peristiwa-peristiwa. Seorang pengarang yang memiliki daya imajinatif yang tinggi  bila dia mampu memperlihatkan dan menggambarkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan, masalah-masalah, dan pilihan-pilihan dari alternatif yang mungkin dihadapi manusia. Kedua daya itu akan menentukan berhasil tidaknya suatu karya sastra (1978 : 9). Dalam kaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ada dalam masyarakat (realitas obyektif). Realitas obyektif bisa berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup Karya sastra menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, lingkungan, dan juga Tuhan. Karya sastra berisi penghayatan sastrawan terhadap lingkungannya. Karya sastra bukan hasil kerja lamunan belaka, melainkan juga penghayatan sastrawan terhadap kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab sebagai sebuah karya seni Nurgiyantoro1998: 3).

Sastra dan Masyarakat


Karya sastra memiliki peran yang penting dalam masyarakat karena karya sastra merupakan ekspresi sastrawan berdasarkan pengamatannya terhadap kondisi masyarakat sehingga karya sastra itu menggugah perasaan orang untuk berpikir tentang kehidupan. Membaca karya sastra merupakan masukan bagi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Para penguasa sering melarang peredaran karya-karya sastra yang dianggap membahayakan pemerintahannya. Buku-buku dimusnahkan dan sastrawan-sastrawan diasingkan. Pramoedya Ananta Toer pernah diasingkan ke Pulau Buru. Karya Mochtar Lubis berjudul Senja di Jakarta juga pernah dilarang beredar oleh Sukarno. Kekerasan ini terjadi karena sastrawan lewat karyanya berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa (Lubis, 1997: 18, 25, 32-33).

Pemecahan persoalan sosial lewat karya sastra terkait dengan konvensi-konvensi kesusastraan. Konvensi-konvensi itu selalu ada dalam aktivitas kesusastraan karena konvensi-konvensi itu menentukan sejauh mana suatu objek dapat dianggap sebagai karya sastra pada umumnya atau sebagai karya yang baik atau yang buruk pada khususnya. Sastrawan tidak dilarang untuk melakukan “pendobrakan” terhadap konvensi-konvensi sastra karena masyarakat sastralah yang nanti akan menilai apakah “pendobrakan” itu masih dalam batasan keindahan karya sastra atau tidak. Sastrawan juga perlu memperhatikan konvensi-konvensi sastra yang berlaku sebelumnya karena “pendobrakan” terhadap konvensi sastra akan terlihat maknanya jika dipertentangkan dengan konvensi sebelumnya (Teeuw, 1991: 29).

Ada hubungan yang menarik ketika konvensi sastra itu dikaitkan dengan struktur sosial. Menurut Faruk (1999: 44-47) kemungkinan hubungan tersebut ada empat, yaitu hubungan kelembagaan, hubungan permodelan, hubungan interpretatif, dan hubungan pembatasan. Hubungan yang pertama adalah hubungan kelembagaan yang menganggap konvensi-konvensi tersebut sebagai sebuah lembaga sosial yang diterima dan dipertahankan oleh masyarakat. Perubahan pada konvensi-konvensi tersebut akan berakibat perubahan pada struktur sosial dan perubahan pada struktur sosial akan berakibat perubahan pada konvensi-konvensi kesusastraan.

Sosiologi Sastra dan Masyarakat dalam Karya Sastra

Pengertian Novel dan Unsur-unsur yang Membangun Novel
Novel merupakan karya sastra yang banyak digmeari oleh semua umur, dimulai dari anak remaja, orang dewasa, dan orang tua. Penulisan novel di Indonesia sudah dimulai sejak lama, dan terus berkembang sesuai dengan zamannya, lalu apa itu sebenarnya novel? dan apa saja unsur-unsur yang membangun novel?.

Pengertian Novel


Dalam kamus istilah sastra dikemukakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang paling panjang yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menerapkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun. (Sujiman, 1994). Secara sederhana, pengertian novel dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa  Indonesia  (Depdekbud) bahwa, Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat-sifat pelaku. Novel sering juga disebut sebagai roman.

Secara etimologi, novel berasal dari kata latin "Novellus" yang diturunkan dari kata novles yang berarti "Baru". Sedangkan secara istilah Novel sebagai salah satu jenis karya sastra dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahasa yang indah  dan menimbulkan rasa seni pada pembaca. Sedangkan menurut Jassin (1991: 64-65), Novel adalah suatu karya prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita) dari kejadian ini timbul konflik suatu pertikaian yang mengalihkan urusan nasib mereka.

Sebagian ahli juga mengatakan bahwa novel adalah suatu cerita dengan plot yang cukup panjang mengenai satu atau lebih buku yang menggarap kehidupan laki-laki dan wanita yang bersifat imajinatif. Adapun ciri-ciri novel antara lain: (a) Tergantung pada pelakunya. (b) Menyajikan lebih dari satu impresi. (c)Menyajikan lebih dari satu efek, dan (d)Menyajikan lebih dari satu emosi

Unsur yang Membangun Novel


Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam definisi novel bahwa di dalam pengertian novel ada beberapa unsur yang membangun. Pada hakikatnya novel dibangun oleh dua unsur yaitu:

1. Unsur luar (ekstrinsik)

Unsur yang berada diluar cerita yang ikut  mempengaruhi kehadiran karya tersebut. Misalnya: faktor sosial, ekonomi, kebudayaan, politik, keagamaan,dan tata nilai yang dianut masyarakat Membicarakan unsur yang membangun sebuah karya sastra fiksi termasuk novel, unsur luar sulit dibicarakan karena unsur luar merupakan bagian yang teramat luas tentang segi-segi kehidupan dalam segala aspek.

2. Unsur dalam (intrinsik)

Unsur yang membentuk fiksi tersebut seperti perwatakan, tema, alur/plot, pusat pengisahan, latar dan gaya bahasa.

a. Tema

Tema adalah gagasan utama atau pokok pikiran. Tema pada suatu karya sastra imajinatif merupakan pikiran yang akan ditemukan oleh setiap pembaca yang cermat sebagai akibat membaca karya sastra. Tema adalah karya sastra secara keseluruhan sehingga didalam novel, menentukan panjang waktu yang diperlukan untuk mengungkapkan isi cerita.  Brooks dan warren dalam Tarigan (1985: 56) mengemukakan tema adalah dasar atau makna suatu cerita (novel). Tema merupakan pandangan hidup tertentu atau perasaan yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari karya fiksi.

b. Alur/Plot

Alur/Plot pada hakikatnya adalah jalan cerita atau rangkaian kejadian. Brook dalam Tarigan (1985: 126) mengemukakan “Alur adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi dan drama”. Alur cerita dalam suatu novel pada umumnya terdiri atas beberapa bagian diantaranya; (1)Bagian Pembuka yaitu: situasi yang mulai tebentang sebagai suatu  kondisi permulaan yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikut. (2) Bagian Tengah yaitu: kondisi bergerak kearah yang mulai memuncak. Bagian Puncak yaitu: kondisi mencapai titik puncak sebagai klimaks, peristiwa, danBagian Penutup yaitu: kondisi yang memuncak sebelumnya mulai menampakkan pemecahan masalah atau penyelesaian.

c. Tokoh dan Penokohan

(1) Tokoh atau pelaku adalah orang yang mengembang peristiwa dalam cerita sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Cara menggambarkan atau menampilkan tokoh/pelaku yaitu pengarang menggambarkan beberapa sifat-sifat khas tokoh, kualitas nalar, sikap, tingkah laku dan jiwa yang dapat membedakan dengan tokoh lainnya.

Setiap  cerita terdapat banyak tokoh yang memiliki peranan yang berbeda sehingga dikenal adanya tokoh utama dan tokoh tambahan. Aminuddin (1987: 80) mengemukakan pada dasarnya ada dua kategori tokoh berdasarkan peranan dalam cerita, yaitu tokoh uatama dan tokoh tambahan atau tokoh pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting dalam suatu cerita. Sedangkan tokoh tambahan  yaitu tokoh yang tidak terlalu penting perananya, karena hanya melengkapi, melayani,dan mendukung pelaku utama.   tokoh dapat dibagi berdasarkan fungsi penampilannya terdapat beberapa tokoh diantaranya;

Pertama, tokoh protagonis yakni tokoh yang menarik simpati dan empati pembaca atau penonton, ia adalah tokoh yang memegang pimpinan tokoh sentral. Kedua tokoh antagonis yakni pelaku yang tidak disenangi pembaca atau pelaku yang mengimbangi atau membayang-bayangi bahkan menjadi musuh pelaku utama. Ketiga, tokoh Tritagonis yakni tokoh yang berpihak kepada antagonis atau berfungsi sebagai penengah pertentangan tokoh-tokoh itu.

(2) Penokohan, adalah sifat atau ciri khas pelaku yang diceritakan. Masalah penokohan dan perwatakan merupakan salah satu diantara beberapa unsur dalam karya fiksi yang kehadirannya sangat memegang peranan penting. Istilah penokohan lebih luas pengertiannya sebab ia sekaligus mencakup masalah setiap tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan  sebagai salah satu unsur pembangun lainnya. Jika fiksi yang bersangkutan merupakan suatu karya yang berhasil penokohan terjalin secara harmonis dan saling melengkapi dengan unsur lain.

Penilaian terhadap cerita merupakan ukuran tentang berhasil tidaknya pengarang mengisi cerita-cerita itu dengan karakter-karakter yang menggambarkan manusia sebenarnya supaya pembaca dapat memahami ide dan emosinya. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam karya fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku saja disebut penokohan.

d. Karakter pelaku

Di dalam karya sastra mungkin tidak seluruh jenis penggambaran itu bisa ditemukan. Ada pengarang yang hanya gemar menggunakan jenis-jenis tertentu. Namun, penggambaran watak atau karakter tersebut dilakukan di dalam suatu peristiwa atau dalam hubungan aksi tokoh, baik yang sedang telah dilakukan. Ujian terhadap bagaimana karakter/watak yang sesungguhnya dari seorang tokoh di dalam sebuah karya sastra ialah tatkala bagaimana sikapnya dalam berhadapan dengan konflik-konflik yang ada dalan karya sastra tersebut. Dengan demikian akan terlihat hubungan antara peristiwa dengan konflik  dengan perwatakan/karakter.  Karakter dapat pula disebut watak, tabiat, sifat, corak pribadi. Sedangkan secara sederhana karakter adalah kondisi jiwa manusia yang diakibatkan oleh faktor dari dalam maupun dari luar yang membedakan dengan orang lain.

e. Sudut Pandang

Sudut pandang atau pusat pengisahan adalah cara pengarang mempatkan diri atau melibatkan diri dalam cerita. Brooks dalam Tarigan (1985: 138) mengemukakan cara pengisahan atau sudu pandang diantarannya; (1) Tokoh utama menceritakan diri sendiri. Hal ini bias dikatakan”Aku”. (2) Cerita itu dapat disalurkan oleh peninjau yang merupakan seorang partisipasi dalam cerita itu. (3) Pengarang bertindak sebagai peninjau saja. (4) Cerita dapat dituturkan oleh pengarang sebagai orang ketiga

f. Latar

Latar adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi, latar belakang fiksi, unsur dan ruang dalam suatu cerita. Dalam konteks latar segala yang berkaitan dengan tempat, waktu, musim, periode. Kejadian-kejadian disekitar peristiwa cerita semua termasuk latar.   Latar sebagai salah satu  unsur fiksi, sebagai fakta cerita yang bersamaan unsur-unsur lain membentuk cerita. Latar berhubungan langsung dan mempengaruhi pengaluran dan penokohan. Latar sebagai bagian cerita yang tak terpisahkan. Disamping itu, latar juga dapat dilihat dari sisi fungsi yang lain, yang lebih mengarah pada fungsi latar sebagai pembangkit tanggapan atau suasana tertentu dalam cerita.

g. Gaya Bahasa

Setiap pengarang biasa pula gaya bahasa sebagai ciri khas setiap karyanya. Pada umumnya gaya penceritaan seorang pengarang tetap, sehingga tidak tertutup kemungkinan tanpa melihat pengarang sebuah novel dapat diketahui siapa pengarangnya. Bahasa adalah media pengarang untuk menyampaikan suatu topic dalam cerita. Bahasa sebuah karya fiksi sangat memegang peranan penting, karena salah satu daya tarik mengapa seseorang ingin membaca terus suatu cerita hinggga tuntas adalah karena bahasa yang menarik.

Menurut Tarigan (1985: 153) menyatakan “bahwa berhasil tidaknya seorang pengarang fiksi justru tergantung dari percakapannya mempergunakan gaya bahasa yang serasi dalam karyanya”. Selain itu, Brook dan Werren dalam Tarigan (1985: 154) mengemukakan: Penggunaan gaya bahasa bukan harus berdiri sendiri melainkan harus berkaitan erat dengan strukturnya. Keduanya dipergunakan untuk menunjukkan cara sang pengarang mengatur serta menata bahan-bahannya untuk menyajikan efeknya, akan tetapi struktur biasanya dipergunakan dengan penunjukkanya yang lebih khusus terhadap penyusunan kata-katanya.

Pengertian Novel dan Unsur-unsur yang Membangun Novel

Puisi: Untuk Pahlawan-pahlawan yang Hilang
Puisi ini saya persembahkan untuk pahlawan-pahlawan yang telah berjuang melawan penjajahan. Untuk pahlawan-pahlawan yang gugur di medan pertempuran, dan untuk pahlawan-pahlawan yang telah 'hilang'.

Untuk Pahlawan-pahlawan yang Hilang


Kalian yang sedang tidur di atas bumi
Kalian yang sedang berada di hamparan lautan
Kalian yang sedang berada di dunia lain
Kalian yang sedang tertimbun oleh tanah

Kami hanya bisa berkata kalian telah berkorban
Kami hanya bisa berkata kalian pahlawan kami
Kami hanya bisa berkata kalian punya amal bakti
Kami hanya bisa berkata kalian berjuang untuk tanah Indonesia

Untuk pahlawan-pahlawan yang hilang
Kini Negeri Indonesia telah berwajah yang berbeda
Kini Negeri Indonesia telah berganti nahkoda
Kini Negeri Indonesia punya begitu banyak pahlawan
Kini Negeri Indonesia punya pemuda harapan bangsa

Kami berjuang menggantikan kalian
Kami berjuang dengan cara kami
Kami berjuang dengan pena dan kertas
Kami berjuang dengan pengetahuan

Kita sama dalam berjuang
Kita berbeda dalam cara berjuang
Kita sama-sama pernah kalah
Kita sama-sama meraih kemenangan untuk Indonesia.

10 November 2014

Puisi: Untuk Pahlawan-pahlawan yang Hilang