Coretanzone: Sejarah Islam

    Social Items

10 Penemuan Umat Islam yang digunakan Sehari-hari

Penemuan-penemuan umat Islam yang setiap hari kita gunakan menjadi bukti bahwa umat Islam pada masa kejayaannya telah banyak menemukan, menciptakan, dan mengembangkan teknologi yang saat ini sudah banyak kita gunakan. Bahkan media sosial sebesar facebook tidak mungkin ada kalau tidak ada alqoritma yang ditemukan oleh umat Islam.

Banyak penemuan-penemuan umat Islam yang membentuk kehidupan manusia di dunia ini. Penemuan ini mulai dari hal besar seperti universitas hingga hal terkecil seperti sikat gigi. Berikut ini 10 penemuan umat Islam yang sering/selalu kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kopi/Coffe

Kopi

Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat digemari oleh kebanyakan orang di seantero bumi ini. Dalam pembuatannya kopi mengalami berbagai macam model racikan sesuai dengan kondisi lidah masyarakat setempat. Minuman kopi ini kemudian menjelma menjadi minuman perekat persahabat, teman nongkrong di cafe dan penenang pikiran saat sedang stres, serta dapat menambah stamina dalam bekerja. Lalu tahukah anda siapa penemu kopi ini?

Pada zaman dahulu manusia bekerja dengan keras, pada siang maupun malam hari. Mereka berusaha dengan kemampuan sendiri tanpa ada stimulan dari luar. Hingga suatu ketika ada seorang arab yang bernama Khalid sedang mengembala kambing. Di sebuah lembah di ethiopia kambing-kambing pengembala itu sedang merumput. Dia menyadari bahwa kambing-kambing itu segar dan bersemangat setelah memakan buah berbiji tertentu. Dari situlah Khalid memetik buah tersebut kemudian merebus dan menjadikannya meniman yang diberi nama "Al-Qahwa."

2. Jam/Clocks

Jam gajah adalah penemuan abad pertengahan oleh al-Jazari (1136-1206)

Jam saat ini sudah menjadi salah satu benda yang tidak asing lagi bagi manusia. Setiap orang membutuhkan jam untuk dapat melihat waktu. Ternyata jam yang kita gunakan saat ini pertama kali diciptakan oleh soerang ilmuan Islam.

Penemu jam ini adalah seorang yang terampil, dia biasanya dipanggil al-Jazari yang berasal dari daerah Diyarbakir di bagian Tenggara Turki. Beliau seorang muslim yang saleh, taat beragama dan juga seorang insinyur yang terampil dalam menemukan konsep mesin otomatis. Pada tahun 1206, al-Jazari sudah membuat banyak jam yang terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran, seperti yang kita gunakan saat ini. Penggunaan jam saat ini sama dengan penggunaan jam pada sekitar delapan ratus tahun yang lalu. Al-Jazari membuat jam selain untuk melihat waktu, juga digunakan untuk melihat dan mengetahi waktu shalat, dan kapan waktu azan dikumandangkan di masjid.

3. Camera/Kamera

Kamera obscura, pendahulu kamera modern.

Ibnu Al-Haitham atau nama lengkapnya Abu Ali Al-Hasan bin Al-Haytham merupakan peletak dasar pertama ilmu optik. Ibn al-Haitham mengembangkan subjek yang sedang dibahas secara filosofis ke dalam ilmu pengetahuan sains dengan melakukan percobaan. Dia menolak gagasan Yunani yang menyatakan bahwa cahaya yang tidak terlihat yang dipancarkan oleh mata menyebabkan manusia dapat melihat sesuatu. Sebaliknya dia dengan tepat menyatakan bahwa seseorang dapat melihat disebabkan oleh cahaya yang memantulkan benda dan masuk ke mata.

Dengan menggunakan ruangan gelap dengan lubang jarum di satu sisi dan lembaran putih di sisi lain, ia memberikan bukti teorinya. Cahaya masuk melalui lubang dan memproyeksikan gambar terbalik benda-benda di luar ruangan di atas lembaran yang berlawanan. Dia menyebut ini sebagai "qamara", yang merupakan kamera obscura pertama di dunia.

4. Alat Kebersihan

"Kebersihan bagian dari iman" itulah hadis Rasulullah saw. tentang keutamaan kebersihan, baik itu secara fisik maupun spiritual. Dunia Islam pada abad ke-10 telah memiliki produk-produk kebersihan yang bisa dikatakan sama dengan saat ini yang kita miliki. Pada abad ke-13 Al-Jazari telah menulis sebuah buku yang menjelaskan tentang perangkat mekanis (alat membersihkan diri), termasuk alat teknologi (mesin) untuk berwudu. Mesin ini bisa dibawa ke mana saja, termasuk ke bagian depan rumah, sehingga bisa digunakan oleh tamu yang datang ke rumah. Alat ini sangat simpel dan juga mengehemat air.

Umat Islam pada saat itu mengamalkan hadis Rasulullah di atas, sehingga mereka benar-benar ingin memlihara kebersihan yang tidak hanya dengan membersihkan diri dengan air saja, tetapi mereka juga membuat sabun yang berasal dari campuran minyak (biasanya minyak zaitun) dengan "al-qali", zat yang mirip garam. Kedua zat tersebut kemudian ditakar sesuai dengan kebutuhan, kemudian direbus secara bersamaan, setelah itu dibiarkan mengeras, dan digunakan di kamar mandi untuk membersihkan diri.

Al-Kindi juga menulis sebuah buku tentang parfum yang disebut "Book of the Chemistry of Perfume and Distillations". Dia dikenal sebagai filsuf, sekaligus sebagai seorang apoteker, opthalmologist, fisikawan, matematikawan, ahli geografi, astronom dan ahli kimia. Bukunya berisi lebih dari seratus resep tentang minyak, salep dan air aromatik yang fragnant. Pada saat itu pembuatan parfum menjadi tradisi bagi ahli kimia Muslim dengan metode penyulingan. Mereka menyuling tananman, dan bunga untuk menjadi parfum, dan obat terapi.

5. Universitas

Universitas al-Qarawiyyin - Lembaga Pendidikan Tinggi pertama di Dunia

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam, baik itu yang laki-laki maupun perempuan. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran dan Hadis. Dalam al-Quran ayat pertama yang turun adalah ayat untuk menuntut ilmu yaitu "Iqra" yang artinya bacalah. Perintah untuk membaca ini bersifat umum sehingga segala pengetahuan yang ada di alam semesta ini wajib dipelajari dan harus diketahui oleh umat Islam. Dari sinilah Fatimah al-Fihri, seorang perempuan muda yang salehah terinspirasi untuk membangun lembaga pendidikan di daerah Fez - Maroko. Kontribusi yang diberikan al-Fihri kepada dunia pendidikan ini pada awalnya bagian dari masjid yang diberinama al-Qarawiyin, kemudian berkembang menjadi tempat pengajaran agama dan diskusi politik.

Al-Qarawiyin secara bertahap memperluas pendidikannya ke semua bidang studi mata pelajaran, terutama ilmu pengetahuan alam, sehingga al-Qarawiyin dinobatkan menjadi universitas pertama dalam sejarah peradaban manusia.

Selain astronomi, ada studi tentang Quran dan teologi, hukum, retorika, prosa dan penulisan ayat, logika, aritmatika, geografi dan kedokteran. Ada juga kursus tata bahasa, sejarah peradaban Islam, dan unsur kimia dan matematika. Berbagai topik dan kualitas pengajarannya menarik banyak ilmuwan dan mahasiswa dari segala penjuru dunia. Universitas pertama ini beroperasi hampir 1.200 tahun kemudian, Hassani berharap agar pusat pendidikan ini akan mengingatkan orang bahwa belajar merupakan inti dari tradisi Islam dan kisah seorang perempuan muda "al-Firhi" akan menginspirasi wanita Muslimah muda di seluruh dunia saat ini.

6. Mesin Terbang

Abbas Ibn Firnas

Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang berusaha keras membangun mesin terbang dan mesinnya itu benar-benar terbang. Pada abad ke 9 ia merancang sebuah peralatan bersayap yang menyerupai kostum burung. Percobaannya yang paling terkenal, yaitu di dekat kota Cordoba di Spanyol, Firnas terbang ke atas untuk beberapa saat, sebelum jatuh ke tanah dan memecah punggungnya. Desainnya itu kemduain menginspirasi seorang seniman dan penemu Leonardo da Vinci, yang terkenal enam ratus tahun kemudian setelah Abbas ibn Firnas meninggal.

7. Instrumen/Alat Bedah

Al-Zahrawi

Jika kita kembali ke abad ke-10, maka kita akan bisa melihat sebuah penelitian dan penemuan mutakhir dalam bidang kedokteran yang dilakukan oleh Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbad al-Zahrawi, seorang dokter soleh yang dikenal di Barat sebagai Abulcasis. Dia menulis al-Tashrif - ensiklopedia medis yang mencakup sebuah risalah yang berjudul "On Surgery". Ensiklopedia ini mengumpulkan lebih dari dua ratus ilustrasi alat bedah.

Instrumen atau alat yang digunakan untuk operasi ini meruapakan konsep yang revolusioner, karena merubah sains dari spekulatif menjadi sesuatu yang eksperimental. Inilah risalah pertama dalam sejarah kedokteran untuk menggambarkan penggunaan instrumen bedah. Sebenarnya, desain instrumen operasi ini belum sempurna sehingga mengalami beberapa perbaikan pada abad milenium. Konsep inilah yang meletakkan dasar operasi dalam dunia kesehatan di Eropa.

8. Peta Bumi

Muhammad al-Idrisi menggambar peta dunia di Sisilia pada tahun 1154 dan dikatakan sebagai salah satu peta kuno yang paling maju.

Peta telah banyak menjadi penunjuk jalan bagi manusia sekitar 3.500 tahun. Peta paling awal terbuat dari tanah liat yang berbentuk tablet. Setelah kertas dikenalkan, peta kemudian digambar di atas kertas. Saat ini teknologi modern sudah menggunakan sistem satelit dan perangkat peneriama lainnya untuk mengukur posisi bumi, sehingga manusia tidak sulit lagi melihat peta dunia.

Kembali kepada sejarah, peta pertama kali dibuat oleh para pelancong dan perziarah Muslim. Pada abad ke-7 umat islam tertarik untuk melakukan perjalanan mengelilingi dunia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Para pelacong muslim ini melakukan perjalanan dengan berbagai rute, kadang-kadang mereka melakukan perjalanan hanya dengan maksud untuk mengumpulkan informasi dan pengetahuan tentang tempat-tempat baru. Ketika mereka kembali mereka membuat laporan tentang rute dan cara mereka melakukan perjalanan menuju ke tempat-tempat baru, orang-orang yang mereka temui, dan juga pemandangan yang mereka lihat. Pada awalnya laporan ini hanya diceritakan dari mulut ke mulut, kemudian pada abad ke-8 di kota Baghdad diperkenalkan peta pertama dan panduan perjalanan mulai diproduksi.

9. Musik

Al-Kindi

Apakah seniman dan penyanyi abad ke-20 hingga saat ini tahu bahwa, sebagian besar karya mereka berasal dari hasil karya kaum Muslim pada abad ke-9? Seniman muslim seperti al-Kindi telah menggunakan notasi musik: sistem penulisan musik. Mereka juga telah menulis skala musik dengan suku kata bukan huruf, yang disebut solmization. Suku kata ini membentuk skala dasar dalam musik hari ini dan kita semua terbiasa dengan doh, ray, me, far, so, la, tee (do-re-mi-fa-sol-la-si-do). Alfabet Arab untuk catatan ini adalah Dal, Ra, Mim, Fa, Sad, Lam, Sin. Kesamaan fonetik antara skala hari ini dan alfabet Arab yang digunakan pada abad ke 9 sungguh menakjubkan. Selain itu, umat Islam juga mengembangkan alat musik.

10. Aljabar

Aljabar

Kata "aljabar" berasal dari judul buku risalah yaitu "Kitab al-Jabr Wa l-Mugabala" yang terkenal pada abad ke-9 di Persia buku ini secara harfiah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "The Book of Reasoning and Balancing". Al-Khwarizmi memperkenalkan kosep dasar dan permulaan aljabar. Konsep aljabar sebenarnya merupakan langkah revolusioner dari konsep matematika Yunani, yang akhirnya didasarkan pada geometri.

10 Penemuan Umat Islam yang kita gunakan Sehari-hari

Berikut ini merupakan tempat kelahiran para pendiri mazhab fiqih Islam dan para ulama yang ahli dalam bidang hadis.
Tempat Lahir 4 Imam Fiqih dan 6 Imam Ahli Hadis
gambar peta tempat kelahiran 4 imam fiqih dan 6 ulama ahli Hadis via ilmfeed.com

Tempat Lahir 4 Imam Pendiri Mazhab Fiqih Islam


Imam Abu Hanifah – Kufa, Iraq (80-148 H)

Imam Malik – Madinah, Saudi Arabia (93-179 H)

Imam Ash Shafi’i – Gaza, Palestine (150-204 H)

Imam Ahmad ibn Hanbal – Baghdad, Iraq (164-241 H)

Tempat Lahir 6 Ulama Ahli Hadis


Imam Bukhari – Bukhara, Uzbekistan (194-256 H)

Imam Abu Dawud – Sistan, Iran/Afghanistan (202-275 H)

Imam Muslim – Neyshabur, Iran (204-261 H)

Imam ibn Majah – Qazwin, Iran (209-273 H)

Imam At Tirmidhi – Termiz, Uzbekistan (209-279 H)

Imam An Nasai – Nasa, Turkmenistan (215-303 H)

Tempat Lahir 4 Imam Fiqih dan 6 Ulama Ahli Hadis

40 Murid Imam Abu Hanifah yang Agung dan Tersohor
Di masanya Imam Abu Hanifah memiliki ribuan siswa. Diantaranya yaitu Imam Abu Yusuf, Imam Muhummad dan Ibn Mubarak yang merupakan murid Imam Abu Hanifah paling terkenal. Imam Abu Hanifah memiliki 40 murid yang tinggal dan belajar di sekolah yang beliau bangung. Dia dilaporkan bahwa telah berbicara mengenai 83.000 masalah hukum dalam Islam.

Mereka biasanya berbicara mengenai masalah-masalah baru yang timbul langsung dari dalam masyarakat ditinjau dari sudut pandang Islam. Masalah yang mereka kaji itu bisa sampai berbulan-bulan hingga mencapai suatu kesepakatan hukum.

Mereka biasa berijtihad terkait dengan suatu masalah dan kemudian melakukan suatu fatwa yang bisa digunakan sebagai landasan. Fiqh Imam Abu Hanifah kompatibel dan berlaku untuk zaman modern.

28 siswa Imam Abu Hanifah menjadi hakim di berbagai kota dan provinsi dan 8 menjadi imam, yang mampu menyampaikan keputusan hukum sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.

40 siswa Imam Abu Hanifah dan Ulama Pendiri Mazhab Hanafi adalah sebagai berikut:

Imam Zufar (Lulus 158 H)
Imam Malik bin Mighwal (Lulus  159 H)
Imam Dawood Taa’ee (Lulus 160 H)
Imam Mandil bin Ali (Lulus 168 H)
Imam Nadhar bin Abdul Kareem (Lulus 169 H)
Imam Amr bin Maymoon (Lulus 171 H)
Imam Hiban bin Ali (Lulus 173 H)
Imam Abu Ismah (Lulus 173 H)
Imam Zuhayr bin Mu’aawiyah (Lulus 173 H)
Imam Qaasim bin Ma’n (Lulus 175 H)
Imam Hammad bin Abi Hanifah (Lulus 176 H)
Imam Hayyaaj bin Bistaam (Lulus 177 H)
Imam Shareek bin Abdullah (Lulus 178 H)
Imam Aafiyah bin Yazeed (Lulus 180 H)
Imam Abdullah ibn Mubarak (Lulus 181 H)
Imam Abu Yusuf (Lulus 182 H)
Imam Muhammad bin Nuh (Lulus 182 H)
Imam Hushaym bin Basheer Sulami (Lulus 183 H)
Imam Abu Sa’eed Yahya bin Zakariyyah (Lulus 184 H)
Imam Fudhayl bin Iyaadh (Lulus 187 H)
Imam Asad bin Amr (Lulus 188 H)
Imam Muhammad bin Hasan as Shaybani (Lulus 189 H)
Imam Ali bin Mis’ar (Lulus 189 H)
Imam Yusuf bin Khalid (Lulus 189 H)
Imam Abdullah bin Idrees (Lulus 192 H)
Imam Fadhl bin Moosa (Lulus 192 H)
Imam Ali bin Tibyaan (Lulus 192 H)
Imam Hafs bin Ghiyaath (Lulus 194 H)
Imam Wakee bin Jarrah (Lulus 197 H)
Imam Hisham bin Yusuf (Lulus 197 H)
Imam Yahya bin Sa’eed al Qattan (Lulus 198 H)
Imam Shu’ayb bin Ishaq (Lulus 198 H)
Imam Abu Mutee Balkhi (Lulus 199 H)
Imam Abu Hafs bin Abdur Rahmaan (Lulus 199 H)
Imam Khalid bin Sulayman (Lulus 199 H)
Imam Abdul Hameed (Lulus 203 H)
Imam Hasan bin Ziyaad (Lulus 204 H)
Imam Abu Aasim Nabeel (Lulus 212 H)
Imam Makki bin Ibraheem (Lulus 215 H)
Imam Hammad bin Daleel (Lulus 215 H)

Demikianlah  40 Murid Imam Abu Hanifah yang Agung dan terhosohor. Dari murid-murid Imam Abu Hanifah inilah kemudian tersebar pemikiran fiqih Imam Abu Hanifah yang digunakan oleh sebagian besar umat Islam di Dunia, termasuk di Indonesia. Semoga Allah merahmati mereka semua.

40 Murid Imam Abu Hanifah yang Agung dan Tersohor

Masa Awal Islam di Madinah sebagai masa awal membangun peradaban Islam
Tidak gampang bagi Rasulullah dalam menjalani awal kehidupannya di Madinah. Banyak masalah yang telah menantinya. Umat Islam yang berasal dari Mekkah (kaum Muhajirin) tidak memiliki makanan, terlebih pekerjaan. Di Madinah saat itu sudah tinggal masyarakat asli Madinah yang disebut sebagai kaum Anshar. Antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar mereka dapat bersaing untuk merebut hati Rasulullah. Kaum Khazraj dan Aus masih memiliki kemungkinan untuk bertikai lagi, musuh yang berasal dari Quraisy di Mekkah atau kaum Yahudi tetangga mereka sendiri dapat menyerang setiap saat.

Pada saat-saat sulit seperti itu, Rasulullah kemudian mencetuskan gagasan yang cemerlang menerut Ilmu strategi. Gagasan itu sangat memenuhi kriteria karena "sangat sederhana" dan "sangat mudah untuk diterapkan." Startegi tersebut adalah menjadikan saudara antara satu orang dengan orang lain tanpa memandang asal usul, suku bangsa, dan Mekah atau Madinah (kota Madinah waktu itu masih bernama Yatsrib). Gagasan yang Rasulullah gunakan waktu itu saat ini sudah banyak digunakan dalam berbagai pelatihan "training" yang terus dikembangkan oleh orang-orang barat. Di barat mereka menggunakan istilah 'buddy system', yairu setiap dua orang saling "menjaga" dengan cara membantu dan mengingatkan diantara keduanya.

Dalam salah satu riwayat menyebutkan bahwa, Abdurrahman ibn Auf dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan seorang Ashar yairu Sa'ad ibn Rabi'. Sa'ad sebagai orang asli Madinah menawarkan sebagian hartanyanya untuk digunakan dan dikelola, namun Abdurrahman menolak tawaran tersebut. Ia hanya meninta kepada Sa'ad untuk menunjukkan jalan menuju ke pasar. Di sana Abdurrahman berniaga mentega dan keju hingga ia mendapatkan keuntungan yang besar dan sukses. Dalam riwayat lain menjelaskan bahwa Abdurahman mendapatkan pinjaman uang, dengan uang itu ia membeli sepetak tanah disamping pasar yang terlebih dahulu ada.

Pada saat itu pasar pasar yang adalah milik seorang Yahudi yang menerpakan konsep seperti Mall saat ini. Dimana setiap orang dapat berdagang di pasar tersebut dengan syarat harus menyewa tempat kepada pemilik tanah/pasar. Konsep seperti itu kemudian dirubah oleh Abdurahman ibn Auf, dengan mengumumkan bahwa setiap pedagang dengan bebas berniaga di pasarnya (tanah yang ia beli) tanpa membayar uang sewa sepeserpun. Ia menerapkan konsep bagi hasil bagi yang untuk dalam berniaga saja, sedangkan yang tidak memiliki keuntungan tidak perlu untuk berbagi hasil.

Setelah gagasan persaudaraan itu diterpakan, nabi Muhammad saw. kemudian membangun moral atau akhlak masyarakat. Nabi berkeyakinan bahwa, akhlak menjadi pondasi awal membangun masyarakat, tanpa moral yang baik masyarakat akan hancur. Rasulullah menekanakan pada pentingnya manusia berlakuu sopan santun dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Beliau menunjukkan keutamaan manusia untuk berusaha dan bekerja, bukan menjadi peminta-minta (pengemis). Dalam hadisnya  beliau menegaskan bahwa "tangan di atas (artinya memberi) lebih utama daripada tangan di bawah (artinya menerima). Selain itu juga tentang keharusan manusia untuk saling membantu tetangga atau orang lain yang sedang kesusahan tanpa melihat latar belakang suku maupun agama. Nabi Muhammad saw. juga melarang umat Islam untuk menghormatinya secara berlebihan, sehingga nantinya tidak terjadi kesyirikan seperti yang dilakukan oleh umat sebelumnya kepada Nabi mereka.

Masa Awal Islam di Madinah sebagai masa awal membangun peradaban Islam

Pada Masa awal Islam di Madinah ini Nabi Muhammad saw. mulai mengajarkan tatacara shalat, puasa, hingga zakat. Pentinganya shalat berjamaah juga diseru oleh Rasulullah.

Pada tahun kedua Hijriah, di Madinah terjadi dialog antara Rasulullah dengan sahabat-sahabatnya tentang cara untuk mengingatkan kaum Muslimin akan waktu shalat. Ada yang mengusulkan agar pada waktu shalat dikibarkan bendera, dan bagi yang melihat bendera itu agar memberitahu kepada orang lain di depan umum. Ada sebagian sahabat yang mengusulakn untuk menggunakan terompet seperti yang dilakukan oleh kaum yahudi, ada pula yang mengusulkan untuk mengguankan lonceng seperti yang dilakukan oleh kaum Nasrani.

Ada seorang sahabat yang mengusulkan agar pada saat waktu shalat tiba api dinyalakan di tempat yang tinggi, sehingga dengan mudah dapat dilihat oleh semua orang ke tempat itu, atau setidaknya asapnya dapat dilihat oleh orang yang berada di kejauhan, dan bagi yang melihat api dan asap itu agar datang untuk menghadiri shalat.

Semua usulan itu tak satupun diterima oleh Rasulullah dengan alasan-alasan yang rasional, kemudian Nabi menukarkannya dengan kalimat assalatul jami'ah (marilah shalat jamah). Musyarawah tidak dilakukan satu hari saja. Hingga suatu ketika pada saat shalat subuh, seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah ibn Zaid menceritakan tentang mimpinya yang bertemu seseorang, kemudian orang itu mengajarinya panggilan Adzan. Kemudian Rasullah meminta Bilal untuk menyerukan azan yang diajarkan oleh Abdullah ibn Zaid kepadanya.

Sejak saat itu, ketika waktu shalat tiba, Bilal-lah yang selalu mengumandangkan azan di atas atap rumah seorang wanita yang berasal dari Banu Najjar di samping Masjid Nabawi, pada saat itu tempat itu lebih tinggi dibandingkan atap masjid.

Selain persoalah aqidah, ibadah, dan akhlah, Rasulullah juga berkonsetrasi membangun sistem kenegaraan, sehingga Madinah kemudian menjadi sebuah 'Republik Kota', seuah gagasan kenegaraan yang saat ini juga digunakan oleh beberapa negara di dunia, seperti Singapura. Rasulullah merumuskan sebuah deklarasi yang mengikat seluruh warga yang tinggal di dalam kota Madinah.

Untuk kepentingan bersama, Rasulullah merumuskan suatu deklarasi yang gunanya untuk mengikat seluruh warga kota Madinah. Isi dari deklarasi itu menekankan pada jaminan kebebasan bergama bagi pemeluk-pemeluknya. Deklarasi itu ditanda tangani bersama Yahudi Bani Auf, Bani Quraiza, Banu Nadzir dan Bani Qainuqa.

Hubungan harmonis yang terjalin antara umat Islam dan pemeluk agama Yahudi tersebut menarik perhatian banyak kalangan termasuk kalangan Nasrani yang pada saat itu mengusai peta politik di kancah global melalui dominasi Kerajaan Romawi. Dari situlah Golongan Nasrani berkeinginan untuk melakukan dialog antar agama, dan datanglah rombongan Nasrasi yang dalam satu riwayat disebutkan menggunakan 60 kendaraan berkunjung ke Madinah - Republik Kota yang baru berdiri.

Pada masa awal Islam di madinah ini, kaum muslimin masih menghadap ke Baitul Maqdis-Yerusalem saat beribadah, sama dengan kaum Yahudi. Namun dikemudian hari turun wahyu dari Allah agar umat Islam saat beribadah menghadap ke Ka'bah di Mekah. Wahyu tersebut turun saat Nabi Muhammad saw. beserta beberapa orang sahabatnya sedang melaksanakan shalat Dzuhur di rumah seorang janda tua. Rasulullah beserta beberapa sahabatnya ini datang untuk mengunjungi perempuan janda tua tersebut yang baru saja meninggal keluarganya. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa waktu itu Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya hendak pulang sebelum datangnya waktu dzuhur, namun perempuan itu selaku tuan rumah menahannya agar makan siang yang sedang disiapkan.

Ketika datang waktu dzuhur, seperti biasanya, Nabi Muhammad saw. bersama sahabat-sahabatnya shalat menghadap ke baitul Maqdis di Yerusalem, kalau dari kota Madinah berarti Yerusalem berada di arah utara. Ketika wahyu itu turun di saat shalat, Nabi Muhammad saw. langsung membalikkan badannya menghadap ke selatan, yaitu ke arah ka'bah di Mekah. Saat ini rumah perempuan itu dijadikan sebagai Masjid yang memiliki dua kiblat, yang satu menghadap ke sebalah Utara - Baitul Maqdis Yerusalem, dan yang satunya lagi menghadap ke selatan - Masjidil Haram Mekkah. Masjid itu disebut sebagai Masjid Qiblatain.

Masa Awal Islam di Madinah sebagai masa awal membangun peradaban Islam

Bagaimana al-Quran Diam-diam Diajarkan di Uni Soviet

Seorang pria Muslim berusia sembilan puluh lima tahun dari Rusia menjelaskan bagaimana Ulama Rusia mengajarkan Al-Qur'an pada zaman komunisme. Dia berumur dua puluh lima tahun saat eksekusi dan penindasan Umat Islam dimulai dan dia menyaksikan keseluruhan periode itu.

Dia menjelaskan: "Kami biasa membangun rumah besar dengan aula terbuka di tengahnya. Di semua sisi aula ini, kami membangun kamar kedap suara. Ada pintu rahasia, dari aula menuju bilik-bilik itu, tempat kami akan menyajikan sebuah kotak acara yang menampilkan botol minuman keras. Kami akan menempatkan potret Lenin dan yang lainnya, layar televisi dan barang-barang cabul lainnya yang dekat dengan dinding tempat pintu rahasia berada.

Setiap kali polisi tiba dan menggeledah rumah, mereka tidak menemukan apa-apa. Mereka akan memperhatikan botol minuman keras dan menganggap bahwa kepercayaan dan ideologi penduduk sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka akan pergi, puas, tapi tertipu dengan apa yang mereka amati. Sedikit yang mereka sadari, hanya beberapa meter dari botol minuman keras itu, anak-anak kecil yang tidak berdosa membaca al-Quran. Kami akan mengunci diri di bilik-bilik itu selama enam bulan, mengajarkan anak-anak kami cara membaca al-Quran. Sahih Bukhari juga diajarkan di sana. Di luar batas ruang-ruang itu, angin komersil komunisme bertiup tanpa henti, namun di dalam, kata-kata Allah dan Hadis Nabi saw. dibacakan dan dihafalkan."

Semoga Allah memberi penghargaan kepada 'Ulama Islam untuk pengorbanan dan pengabdian tertinggi mereka dalam melestarikan iman umat Islam di wilayah yang mengalami penindasan dan ketidakadilan. Sumbangan mereka yang tak ternilai seharusnya mengilhami umat Islam untuk tetap berdedikasi pada ajaran Islam selama masa-masa sulit maupun pasa saat senang.

Bagaimana al-Quran diam-diam diajarkan di Uni Soviet

Pernahkah anda bertanya-tanya bagaimana pelaksanaan ibadah haji pada zaman dahulu? Foto-foto menarik berikut ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana rasanya melaksanakan ibadah haji pada tahun 1889.

Foto-foto tersebut diambil oleh'Abd al-Ghaffār, al-Sayyid, seorang dokter India yang tinggal di Makkah. Berikut ini beberapa foto tertua di Mekah dan daerah sekitarnya.

1. Masjid Al-Haram


2. Kota Makkah


3. Bangsawan Makkah


Mina


Dataran Tinggi Arafah


Muzdalifah

6 Foto Manarik Tentang Ibadah Haji Pada Tahun 1889

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi tua yang berasal dari Mesir
Siapa yang tidak kenal dengan Umar bin Khattab seorang sahabat Nabi yang selalu terdepan membela Islam dan membela Rasulullah saw, bahkan ia juga menentang teman-teman lamanya yang dulu mereka sama-sama menentang Islam.

Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua, menggantikan Khalifah pertama yaitu Abu Bakar as-Siddiq. Ia terkenal sebagai khalifah yang sangat adil, bijaksana, penyayang kepada Umatnya dan juga pelindung bagi kaum minoritas. Dalam kepemimpinannya ia melindungi seluruh warga negara termasuk yang tidak beragama Islam, mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagi warga negara. Di mata Umar bin Khattar, menjadi khalifah adalah menjadi pelayan bagi seluruh warga negara, sehingga ia sangat disegani dan disayangi oleh umatnya. Banyak kisah yang menceritakan tentang dirinya yang hidup dalam kesederhanaan, dan selalu adil dalam mengambil suatu kebijakan termasuk kisah Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi tua yang berasal dari Mesir.

Alkisah, ketika sahabat Abu Bakar As-Siddiq meninggal dunia, beliau digantikan oleh sahabat Umar bin Khattab. Sebagai seorang khalifah, Umar mempunyai kewajiban untuk mengatur negara yang berpusat di kota Madinah ini. Umar lalu menunjuk beberapa gubernur di beberapa wilayah baru, termasuk di wilayah mesir yang baru ditaklukkan oleh pasukan Islam dibawa pimpinan Amru bin Ash yang terkenal cerdik dalam berperang.

Untuk menghormati dan menghargai jasa Amru bin Ash, maka Khalifah Umar menunjukanya menjadi gubernur di wliayah mesir. Amru bin Ash menjadi gubernur yang taat kepada agama dan taat kepada khalifah, walaupun wilayah keduanya berjauhan. Namun suatu ketika pimpinan baru Mesir itu melakukan hal yang kurang adil.

gambar ilustrasi

Gubernur Mesir Amru bin Ash waktu itu tinggal di dalam Istana yang mewah, dan dia berniat untuk memperluas istananya dengan membangun sebuah masjid yang mewah dan indah, namun perluasan itu mengalami kendala karena seorang yahudi tua tidak ingin menjual tanah miliknya. Dia bersikeras untuk tidak menjual tanahnya yang di atas tanah itu hanya terdapat rumah reok miliknya, bahkan Amru bin Ash menawarkan tanahnya dengan harga berkali-kali lipat di atas harga pasar waktu itu.

Berbagai cara telah dilakukan untuk melunakkan hati kakek tua ini, namun dia tidak juga mau menjual tanah miliknya. Amru bin Ash merasa kesal, kemudian menggunakan kekuasaan untuk menggusur dan mengambil paksa tanah milik seorang yahudi tua itu. Orang tua yang tak berdaya itu tidak dapat berbuat apa-apa selain bersedih dan berniat untuk mengadukannya kepada khalifah. Ketika itu dia belum tau apa-apa tentang sang khalifah, namun dengan tekad yang bulat dan keyakinan yang kuat, dia mempersiapkan diri dan melakukan perjalanan ke kota Madinah.

Dalam perjalanan kakek tua itu berpikir tentang siapa sebenarnya yang akan ditemuinya di kota yang jauh dari dari tempat asalnya itu. Apakah khalifah sama dengan gubernur? Apakah ia hidup dalam kemewahan layaknya raja-raja waktu itu? Apakah ia memiliki istana yang indah dan kokoh? Semua jawaban itu ia dapatkan ketika berada di kota Madinah.

Ketika memasuki pintu kota Madinah, kakek tua itu kebingungan berjalanan kesana kemari dan tidak menemukan adanya istana yang megah layaknya kerajaan-kerajaan di waktu itu. Lalu dimana saya akan menmukan sang khalifah? Gumamnya dalam hati. Raut wajahnya yang bingung, capek dan sedih, bercampur menjadi satu. Dia terus mencari dimana tempat untuk mengadu hingga dia menemukan seorang pria yang sedang duduk di bawah pohon kurma. kemudian yahudi tua itu bertnya. "Wahai tuan apakah anda mengetahui keberadaan khalifah?"

Lelaki itu menjawab, "ada apa gerangan engkau mencarinya?"

"Aku ingin mengadukan suatu hal kepadanya," jawab kakek tua itu.
"Dimanakah istananya?"

Pria itu menjawab, "Istananya di atas tanah berlumpur"

"Lalu siapa saja pengawalnya?"

"Pengawalnya orang-orang miskin, anak-anak yatim dan janda-janda tua."

Kakek yahudi itu semakin bingung dengan jawab-jawaban yang dilontarkan oleh pria yang ditemuinya itu kemudian ia bertanya lagi.

"Apa pakaian kebesarannya?"

"Pakaian kebesarannya adalah malu dan taqwa."

Kemudian yahudi tua itu bertanya lagi, "dimana dia sekarang?"

Lelaki itupun menjawab, "sekarang dia ada di depanmu"

Seorang yahudi tua itu terperanjat kaget, ternyata pria yang dia temui dan sedang bertanya kepadanya ini adalah seorang khalifah yang hidup dalam kezuhudan. Kemudian dia menceritakan segala yang menimpa dirinya di mesir, diman harta satu-satunya diambil paksan oleh gubernur Mesir. Setelah mendengar cerita pengaduan itu, wajah khalifah berubah menjadi merah. Beliau marah dengan perlakukan Amru bin Ash yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi tua yang berasal dari Mesir
gambar ilustrasi

Setelah kemarahan khalifah Umar bin Khattab mereda, beliau meminta kepada yahudi tua itu untuk mengambil sepotong tulang unta dari tempat sampah. Yahudi tua itupun menuruti perintah dan menyerahkan tulang unta itu kepada khalifah. Khalifah Umar bin Khattab kemudian menggores tulang tersebut dari atas ke bawah dengan huruf alif, dan ditengahnya diberi goresan melintang menggunakan pedang. Kemudian tulang yang telah digores itu diserahkan kembali kepada yahudi tua, seraya berpesan, "Jaga dan bawalah tulang ini baik-baik ke mesir, sesampainya di sana serahkan tulang ini kepada gubernur Amru bin Ash."

Si yahudi itu bingung dengan apa yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab, lagi-lagi dalam hati dia membatin, "ada hubungan apa tulang unta yang digores dengan keluhannya terkait perlakuan Amru bin Ash?". Namun dia tak juga menemukan jawaban karena tidak berani lagi bertanya kepada khalifah. Orang tua yahudi itu pulang ke Mesir bersama tulang unta bergores itu dan menyerahkannya kepada Gubernur Mesir. Ketika melihat tulang itu Amru bin Ash badannya gemetar ketakukan, mukanya pucat pasi dan seketika itu juga memerintahkan rakyatnya untuk membongkar masjid mewah dan membangun kembali rumah milik yahudi tua itu.

Orang tua yahudi itu merasa heran dengan perlakukan Amru bin Ash yang langsung memerintahkan rakyatnya untuk membongkar masjid setelah mendapat kiriman tulang dari khalifah Umar bin Khattab. "Tunggu," teriak orang tua yahudi itu. "Maafkan tuan jangan dibongkar dulu masjid itu, tuan tolong jelaskan, berasal dari manakah tulang itu dan ada keistimewaan apa dengan tulang itu?, sehingga tuan langsung memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan masjid mewah yang dibangun dengan biaya yang sangat mahal itu.

Amru bin Ash kemudian mendekati orang tua itu dan memgang pundaknya seraya berkata "Wahai kakek, tulang ini hanyanyalah tulang biasa yang berbau."

"Mengapa demikian. Aku yang tua ini hanya pergi ke madinah untuk mencari keadilan, dari sana aku hanya mendapatkan sepotong tulang yang berbau busuk, kenapa benda busuk itu membuat gubernur ketakutan?" Orang tua yahudi itu bertanya lagi.

Amru bin Ash menjelaskan kepadanya bahwa "Tulang yang kau serahkan kepadaku ini merupakan peringatan keras sekaligus merupakan ancaman dari khalifah Umar bin Khattab kepadaku. Artinya bahwa apapun pangkat dan kekuasaannku saat ini, suatu saat akan bernasib sama dengan tulang ini. Sehingga khalifah memerintahkan agar saya bertindak adil seperti huruf alif yang lurus, adil di atas dan juga adil di bawah. Karena jika saya tidak bertindak adil maka khalifah tidak segan-segan untuk memenggl kepala saya."

Mendengar penjelasan dari gubernur Mesir itu, orang tua yahudi itu tertunduk haru dan terkesan dengan ajaran Islam yang penuh dengan keadilan. Dia kemudian merelakan tanah tanpa meminta bayaran sepeserpun, dan meminta kepada gubernur untuk membimbingnnya dalam mengenal agama Islam. Orang tua yahudi itu kemudian bersyahadat dan memeluk islam.

Bagaimana seorang pemimpin memahami nasib rakyatnya jika pemimpin itu belum merasakannya sendiri. (Umar bin Khattab)

Dari kisah ini, kita bisa mengambil begitu banyak hikmah, diantaranya yaitu selalu berbuat baik kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial dan latar belakang agama orang tersebut. Mau dia beragama apapun itu atau dari kalangan sosial manapun itu, selama dia masih makhluk Allah maka wajib kita hargai, wajib kita beri hak hidup kepadanya, dan jangan semena-mena terhadap dirinya.

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi Tua dari Mesir

Persoalan Politik Sebagai Awal Mula Perpecahan dalam Islam
Sedikit aneh memang ketika dikatakan bahwa persoalan politik sebagai awal mula perpecahan dalam Islam. Kenyataan yang terjadi memang seperti itu bahwa persoalan yang pertama muncul dalam umat Islam yaitu di bidang politik bukan bidang teologi. Akan tetapi dari persoalan politik inilah kemudian berkembang menjadi persoalan teologi.

Pada awal perkembangan Islam yaitu ketika Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dan menyebarkannya kepada masyarakat Quraisy yang kebanyakan pedagang dan memegang kekuasaan di Kota Mekah ini tidak begitu baik menerimanya. Mekah yang waktu itu merupakan jalur dagang Timur - Barat sangat menguntungkan bagi penduduknya. Para pedagangnya pergi membeli barang-barang di selatan kemudian mereka bawa ke utara untuk dijual di syria. Selain itu kota mekah juga menjadi kota transit bagi pedagang yang melakukan perjalanan, sehingga kota mekah berubah menjadi kota kaya.

Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Rasulullah mendapatkan perlawan yang sangat kuat dari masyarakat Quraisy, termasuk berasal dari keluarga Nabi sendiri seperti pamannya Abu Lahab. Mereka tidak ingin kepentingan kekuasaannya terlepas dan mengira bahwa Nabi Muhammad saw. menyebarkan agama Islam hanya demi kepentingan pribadi untuk berkuasa. Perlawanan yang dilakukan bukan main-main, banyak diantara umat Islam disiksa dengan berbagai macam cara, sehingga pada akhirnya Rasulullah bersama pengikut-pengikutnya memilih pindah ke Yastrib pada tahun 622 M. Sebagaimana telah diketahui bahwa nabi Muhammad saw. bukanlah termasuk golongan yang kaya raya, bahkan beliau termasuk golongan keadaan ekonominya lemah, sehingga di saat masih kecil beliau mengembala domba.

Kota Yastrib merupakan kota petani, berbeda dengan kota mekah yang merupakan kota perdagangan. Masyarakat yang adalah di dalamnya tidak homogen, akan tetapi hanya terdiri atas bangsa arab dan bangsa Yahudi. Bangsa arab yang ada di kota ini terdiri dari dua suku yaitu al-Khazraj dan al-A'us. Kedua suku ini selalu terjadi pertentangan dalam dan persaingingan yang sangat kuat untuk menjadi pemimpin. Keadaan ini yang menyebabkan kota Yastrib tidak aman sehingga mereka menginginkan adanya seorang penengah (hakam) atau perantara yang netral.

Suatu ketika pemuka-pemuka kedua suku ini pergi ke mekah untuk menunaikan ibadah haji, mereka mendengar dan mengetahui kedudukan nabi Muhammad dan dalam satu pertemuan mereka meminta untuk nabi pindah dan tinggal di kota Yastrib. Melihat begitu banyaknya pertentang yang berasal dari para pedagang mekah, maka nabipun menyetujui permintaan dari para pemuka suku al-Khazraj dan al-A'us ini. Beliau beserta pengikut-pengikutnya yang tinggal di mekah akhirnya hijrah ke Yastrib. Kota ini kemudian setelah nabi datang dan menetap, beliau mengganti namanya menjadi kota Madinah al-Nabi atau Madinah al-Munawwarah. Beliau kemudian menjadi perantara diantara kedua suku bangsa yang selalu bertentangan dan berselisih itu, lambat laun beliau menjadi pemimpin di kota Madinah, terlebih ketika Mayoritas masyarakat Madinah memeluk agama Islam, kecuali penduduk Yahudi.

Dari ulasan sejarah singkat nabi Muhammad ini dapat disimpulkan bahwa, selama berada di mekah Nabi Muhammada hanya memiliki peran sebagai kepada agama, tetapi ketika berada di kota Madinah selain sebagai kepala agama beliau juga sebagai kepala pemerintahan. Beliaulah yang mendirikan kekuasaan politik yang dipatuhi di kota ini yang sebelum itu kota Madinah tidak ada kekuasaan politik.

Persoalan Politik Sebagai Awal Mula Perpecahan dalam Islam

Selama berada di Madinah, nabi Muhammad beserta sahabat-sahabatnya melakukan dakwah menyebarkan agama Islam hingga beliau wafat pada tahun 632 M. Wilayah kekuasaan Madinah tidak hanya sebatas kota itu saja tetapi seluruh semenanjung Arabia. Negara Islam di waktu itu merupakan kumpulan suku-suku bangsa arab yang menyatu dengan mengikat tali persekutuan dengan Nabi Muhammad dalam berbagai aspek, dengan masyarakat Madinah dan Masyarakat Mekah.

Islam selain sebagai agama juga sebagai sistem politik dan Nabi Muhammad disamping sebagai seorang Rasul utusan Allah juga sebagai seorang ahli dalam bidang politik dan negara. Sehingga tidak mengherankan ketika Nabi wafat Masyarakat madinah menomorduakan pemakaman beliau dan lebih memikirkan siapa penggantinya sebagai kepala Negara, disinilah terjadi khilafah yaitu perbedaan pendapat tentang siapakah orang yang layak itu. Untuk fungsinya sebagai Nabi dan Rasul sudah barang tentu tidak ada yang bisa menggantikannya.

Sejarah mencatat bahwa yang menggantikan Rasulullah dalam mengepalai negera yang baru berdiri itu adalah Abu Bakar yang disetujui oleh mayoritas masyarakat Islam waktu itu. Kemudian setelah Abu Bakar wafat, beliau digantikan oleh Umar Ibn al-Khattab setelah itu Usman Ibn 'Affan.

Usman termasuk dalam golongan pedagang Quraisy yang kaya. Keluarganya merupakan orang-oran aristokrat yang dengan pengalaman perdagangannya, mereka memiliki pengetahuan dalam hal administrasi sehingga dapat bermanfaat dalam membuat sistem administrasi terhadap daerah-daerah yang di luar semenanjung arabia yang pada waktu itu bertambah banyak masuk di bawah kekuasaan Islam.

Ahli sejarah mencatat bahwa Usman ini merupakan orang yang lemah dalam kepemimpinannya, beliau tidak mampu membendung ambisi keluarganya yang kaya dan berpengaruh itu. Ia kemudian mengangkat mereka menjadi gubernur di wilayah-wilayah yang masuk dalam kekuasaan Islam. Gubernur-gubernur awal yang diangkat oleh Umar Ibn al-Khattab dijatuhkannya. Khalifah Umar dikenal sebagai sosok yang kuat dan tidak mementingkan kepentingan keluarganya, tetapi mementingkan kepentingan umat.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh khalifah Usman ini mendapatkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Sahabat-sahabat Nabi yang pada awalnya mendukung kepemimpinan Umar ketika melihat tindakah yang kurang tepat itu, kemudian berbalik arah meninggalkannya. Mereka yang awalnya ingin menjadi khalifat atau ingin calonnya menjadi khalifah mulai kelihatan bermain di air keruh yang timbul waktu itu. Daerah-daerah mulai menunjukkan perasaan tidak senang. Di mesir pergantian Gubernur Amr Ibn al-Ash oleh Abdullah Ibn Sa'ad Ibn Abi Sarh salah seorang kaum keluarga usman, menyebabkan 500 pemberontak berkumpul dan bergerak menuju ke Madina. Gejolak yang terjadi di Madih semakin memanas hingga terbununnya Khalifa Usman oleh pemuka-pemuka pemberontak dari Mesir ini.

Setelah Usman wafat, Ali merupakan satu-satunya calon terkuat sebagai sebagai penggantinya. Ali Ibn Abi Thalib kemudian terpilih sebagai khalifah keempat, tetapi mendapat banyak tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin juga menjadi khalifah. Dalam hal ini yang paling getol melakukan pertentangan adalah Talhah dan Zubair dari Mekah yang pada saat itu mendapat sokongan dari Aisyah. Namu pertentangan kedunya dapat dipatahkan oleh Ali dalam peperangan yang terjadi di Irak pada tahun 656 M. Talhah dan Zubair mati terbunuh kemudian Aisyah dikirim kembali ke Mekah.

Setelah itu tangan kedua datang dari Gubernur Damaskus, Muawiyah dan keluarga dekat Usman. Muawiyah juga tidak mau mengakui Ali sebagai khalifah, ia menuntut agar pembunuh-pembunuh Usman agar mendapat hukuman, bahkan ia menuduh bahwa Ali juga ikut campur dalam soal pembunuhan itu. Salah seorang pemberantak-pemberontak yang berasal dari mesir itu merupakan anak angkat dari Ali Ibn Abi Thalib, yaitu Muhammad Ibn Abi Bakr. Ali tidak mengambil tindakan keras terhadap anak angkatnya ini, bahkan Muhammad Ibn Abi Bakr diangkat menjadi gubernur di Mesir.

Dari pertengtangan yang dilakukan oleh Muawiyah, maka terjadilah perang di Siffin, tentara Ali kemudian dapat mendesak tentara Muawiyah, sehingga mereka sudah bersiap-siap untuk lari, namun Amar Ibn Ash orang yang terkenal licik, merupakan tangan kanan Muawiyah ini meminta berdamai dengan mengangkat Al-Quran ke atas. Qurra yang yang ada di pihak Ali meminta agar Ali berdamai dan dicarilah jalan keluar dengan damai, sehingga diadakanlah arbirase. Dalam arbitrase ini sebagai pengantara diangkatlah dua orang perwakilan dari kedua belah pihak yaitu Amr Ibn Ash dari pihak muawiyah dan Abu Musa Al-Asy'ari dari pihak Ali.

Dalam pertemuan kedua perwakilan tersebut terdapat pemufakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan tersebut. Dalam tradisi orang Arab biasanya yang lebih tua yang akan lebih dulu mengumumkan, sehingga Abu Musa Al-Asy'ari sebagai orang yang lebih tua lebih dulu mengumumkan kepada semua orang penjatuhan kedua pemuka tersebut. Namun hal ini berbeda dengan apa yang diumumkan oleh Amr Ibn Ash setelahnya, ia mengumumkan bahwa menyetujui penjatuhan Ali yang telah diumumkan oleh Al-Asy'ari, dan menolak penjatuhan Muawiyah.

Peristiwa ini telah merugikan Ali yang kapasitasnya sebagai khalifah yang sah dan menguntungkan bagi Muawiyah yang kedudukannya hanya sebagai gubernur daerah yang tidak mau tunduk kepada khalifah. Dengan adanya Arbitrase ini kedudukan Muawiyah naik menjadi khalifah yang tidak resmi, sehingga tidak mengeherankan jika Ali tetap mempertahankan kekhalifahannya dan tidak mau menyerahkan hingga ia mati terbunuh pada tahun 661 M.

Peristiwa arbitrase sebenarnya tidak disetujui oleh sebagi tentara Ali, mereka berpendapat bahwa semua keputusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada di dalam Al-Quran. Semboyan mereka La hukma Ila lillah atau la hakama Illa Allah. Mereka kemudian memandang bahwa apa yang dilakukan oleh Ali sudah salah kemudian keluar dari barisan Ali. Golongan yang keluar inilah yang kemudian dalam Islam dikenal dengan golongan al-Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau seceders.

Dengan adanya pandangan kaum khawarij yang memandang salah terhadap khalifah Ali, maka mereka melakukan perlawanan untuk menentang Ali. Saat itu Ali memiliki dua musuh yang dihadapinya dan melakukan penyerangan. Karena mendapat penyerangan dari dua musuh secara bersamaan, maka Ali lebih memilih terlebih dahulu memusatkan perhatian untuk menghadapi kaum khawarij. Setelah kaum khawarij hancur Ali bersama pasukannya sudah terlalu capai untuk meneruskan pertempuran dalam menghadapi Muawiyah yang tetap berkuasa di Damaskus. Setelah Ali Ibn Abi Thalib wafat dalam peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang yang berasal dari golongan Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam pada tanggal 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah. Muawiyah dengan mudah mendapatkan pengakuan sebagai khalifah Umat Islam pada tahun 661 M.

Persoalan-persoalan politik dalam Islam yang digambarkan di atas inilah yang kemudian membawa umat Islam kepada timbulnya persoalan-persoalan baru yaitu teologi. Dalam persoalan awal adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam artian siapa yang sudah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. Dari persoalan awal inilah kemudian lahir kaum khawarij yang kemudian terbagi menjadi beberapa golongan, setelah itu muncul aliran Murjia'ah, Qadariah dan Jabariah, Mu'tazilah, dan Ahlu Sunnah Wa Al-Jama'ah.

Persoalan Politik Sebagai Awal Mula Perpecahan dalam Islam