Coretanzone: Sejarah

    Social Items

Bagaimana Pengaruh Gaya Arsitektur dan Teknologi Bangsa Islam Moor di Spanyol Pada Masyarakat Saat ini?
Pada tahun 1492, Muslim Moor yang memegang bagian dari Spanyol selama hampir 800 tahun diusir setelah kalah dari Pertempuran Granada oleh pasukan Monarch Katolik. Itu adalah akhir era bagi bangsa Moor yang telah menemukan Selat Gibraltar dan membawa tidak hanya budaya dan agama mereka, tetapi juga pengetahuan mereka. Di bawah pemerintahan Moor, kemajuan dibuat dalam sains dan matematika, serta geografi dan filsafat. Dampak bangsa Moor terhadap Spanyol masih dapat dilihat sampai hari ini. Dari arsitektur, bahasa, dan bahkan pertanian, bangsa Moor membentuk bagian penting dari sejarah Spanyol.

Arsitektur


Jika anda telah menonton Game of Thrones baru-baru ini, anda mungkin telah melihat adegan yang diambil di Taman Air Dorne, yang dikenal di dunia ini sebagai Alcazar de Seville. Istana indah yang dibangun oleh raja-raja Moor, dengan lengkungan tinggi, desain geometris yang rumit, dan halaman tersembunyi, adalah salah satu contoh terbesar dari arsitektur Islam. Gaya arsitektur yang sama juga dapat dilihat di istana Alhambra, juga dikenal sebagai Qalat Al-Hamra, serta Mezquita de Córdoba (Masjid Agung Córdoba), yang untuk sementara waktu merupakan tempat ibadah bersama bagi umat Kristen dan Muslim.

Dari arsitektur ke bahasa, dan bahkan pertanian, bangsa Moor membentuk bagian penting dari sejarah Spanyol

Selama periode budaya bersama, bahasa Arab orang Moor menjadi terjalin dengan Spanyol sedemikian rupa sehingga dampaknya masih dapat didengar sampai hari ini. "Ojalá" (semoga) dalam bahasa Spanyol berasal dari "Insya Allah" dalam bahasa Arab. Kesamaan juga dapat didengar dalam kata-kata seperti arroz, azúcar, dan almohada. Pengaruh bahasa Arab pada bahasa Spanyol tidak terbatas pada kata-kata sehari-hari. Hal ini dapat didengar dalam pengucapan huruf "h" di daerah-daerah tertentu di Spanyol dan nama-nama landmark utama, seperti Costa del Azahar.

Teknologi


Muslim Moor dapat menyampaikan pengetahuan yang mereka peroleh dari Cina, India, dan wilayah lain di dunia yang mereka temui melalui perdagangan. Teknologi baru diperkenalkan, seperti sistem angka Arab, kertas dari Cina, astrolab, dan sistem irigasi mereka, yang membantu dalam menanam tanaman di Spanyol yang sebelumnya tidak dapat tumbuh. Metode pertanian dan sistem irigasi mereka, yang didirikan karena tinggal di padang pasir Afrika Utara, dapat membantu pertanian Spanyol untuk berkembang. Moor juga dapat memperkenalkan tanaman baru seperti jeruk dan tebu ke wilayah tersebut. Sejak itu, Spanyol telah menjadi salah satu penghasil buah jeruk terbesar.

Bagaimana Pengaruh Gaya Arsitektur dan Teknologi Bangsa Islam Moor di Spanyol Pada Masyarakat Saat ini?

Penemuan Benua Australia dan Pembentukan Koloni-koloni di Australia
Australia merupakan salah satu negara benua yang lokasinya pada  35°15′ LS 149°28′ BT. Ibu kita negara ini adalah Canberra, namun bukan merupaka kota terbesar. Kota terbesar negara ini adalah Sydney. Bahasa resmi yang digunakan negara ini adalah bahasa Inggris kaerna Australia merupakan salah satu negara yang masuk dalam persemakmuran Inggris. Sistem pemerintahan australia masih menyatu dengan kerajaan Inggris, olehnya itu Ratu merupakan simbol pemerintahan dan untuk mewakilinya maka, dibentuk Gubernu Jenderal. Negara ini berbentuk monarki konstitusional.

Sejarah awal australia dimulai ketika terjadi migrasu manusia pertama dari utara ke australia, kira-kira pada 40.000-50.000 tahun yang telah lampau. Masa ini disebut sebagai masa prasejarah australia. Sedangkan sejarah tertulis pertama Australia dimulai ketika orang-orang Eropa pertama kali melihat negara ini. Dan kemudia dibagi lagi menjadi dua periode: sebelum dan sesudah dia menjadi dominion dari Kekaisaran Britania pada 1901.

Untuk lebih jelasnya lagi tentang penemuan benua australia dan pembentukan koloni-koloninya maka, berikut ini penjelasannya.

Penemuan Benua Australia


Masyarakat asli Australia (aborigines atau aboriginal) mempunyai beberapa ciri fisik yang berlainan dengan beberapa ciri fisik empat ras utama yang lain, sehingga Elkin mengelompokkan masyarakat asli Australia pada kelompok khusus yang dimaksud Australoid. Diduga mereka masuk benua Australia pada 40.000 tahun yang lalu dari arah utara. Mereka berkembang dengan begitu lamban hingga mereka masih tetap hidup dalam jaman batu dengan corak kehidupan food gathering saat rombongan kolonis pertama dari Inggris datang di Australia.

Dalam pertemuan antara kebudayaan masyarakat asli dengan kebudayaan pendatang baru itu, kebudayaan masyarakat asli pada akhirnya tersisihkan, sehingga kebudayaan pendatang baru yang pada akhirnya menguasai. Kebudayaan yang berkembang di Australia selanjutnya ialah kebudayaan yang berakar pada kebudayaan Eropa meskipun dengan fisik Australia terdapat jauh dari Eropa. Sejarah Australia dalam semua aspeknya adalah sejarah bangsa yang dengan sosio budaya yang berasal dari Eropa.

Sementara masyarakat asli telah mendiami Australia beberapa puluh ribu tahun, untuk beberapa orang di Eropa eksistensi benua itu masih juga dalam skala spekulasi (asumsi). Beberapa orang Eropa masih tetap tidak sama pendapat mengenai terdapatnya antipodes. Beberapa pakar geografi dari jaman klasik sejak mulai permulaan abad masehi sudah menduga terdapatnya daratan selatan yang dimaksud Terra Australia Incognita. Pandangan ini ditentang oleh beberapa pakar agama yang juga sekaligus pakar geografi pada eranya. Kelompok yang paling akhir ini berasumsi jika dunia berupa rata seperti tikar, hingga mereka memandang jika opini yang membetulkan terdapatnya antipodes ialah opini yang salah. Saat Jaman Pertengahan opini yang paling akhir berikut yang menang, akan tetapi sesudah jaman itu selesai orang mulai berpikir kembali mengenai Terra Australia Incognita.

Pergantian politik yang berlangsung di pantai timur Laut Tengah menggerakkan beberapa orang Portugis serta Spanyol berupaya mencari jalan laut ke Dunia Timur. Mulailah masa penelusuran samudra yang melahirkan masa baru dalam riwayat bangsa-bangsa di Eropa, yakni masa penemuan beberapa daerah baru, yang dipelopori oleh Bangsa Portugis serta Spanyol. Kesuksesan Bangsa Portugis serta Spanyol menemukan jalan laut ke Dunia Timur, membuka jalan buat penemuan Benua Australia oleh beberapa orang Eropa. Akan tetapi, sejauh yang bisa diketahui Bangsa Portugis ataupun Spanyol gagal temukan Benua Australia.

Reformasi dalam segala bidang akibatnya memaksa Belanda mencari jalan sendiri ke Indonesia. Kesuksesan Belanda dalam membangun pos-posnya di Indonesia begitu memungkinkan penemuan Benua Australia, baik dengan tidak terencana ataupun sebagai hasil penyelidikan. Semenjak tahun 1606, saat pelaut Belanda untuk kali pertama mendapatkan daratan Australia, sampai tahun 1644, yakni kala berakhirnya ekspedisi Tasman yang ke-2, beberapa orang Belanda sudah sukses temukan serta memetakan sejumlah besar pantai Australia, yakni pantai utara, barat, serta 1/2 pantai selatan. Sebelumnya mereka menyebutkan daratan itu Het Land van de Eendracht, akan tetapi sesudah pelayaran tasman mereka mengatakan New Holland. Disaksikan dari sisi keuntungan materiil sebagai arah semua pekerjaan Belanda di Indonesia, New Holland tidak menarik buat Belanda. Mereka tidak mengklaim apalagi menempati daratan itu.

Pelaut Inggris yang pertama sampai dan melihat di Australia ialah William Dampier, lokasi yang didatangi Dampier sama juga dengan yang didatangi oleh pelaut-pelaut Belanda, sehingga tidak menghasilkan dampak baru buat benua itu. Penemuan Inggris yang sangat bermakna buat benua itu ialah penemuan James Cook atas pantai timur Australia pada tahun 1770. Berlainan dengan kesan-kesan Belanda, Cook melihat daratan yang ditemukannya itu memberi keinginan kehidupan yang cerah, hingga dia mengaku daratan itu berubah menjadi milik Inggris, serta dinamakan New South Wales. Laporan-laporan Cook, Joseph Banks, Solander, serta James Maria Matra, menghidupkan kemauan pemerintah Inggris untuk mendudukinya. Dengan begitu Cook dilihat menjadi penemu Australia yang sebetulnya, sebab penemuannya itu yang merubah perjalanan riwayat Australia sampai menggapai bentuk yang saat ini menuju masa depan yang akan datang.

Pembentukan Koloni Inggris di New South Wales


Keputusan pemerintah Inggris membuka koloni di New South Wales lahir ditengah-tengah aktivitas pemerintah menangani beberapa masalah karena kemiskinan, pengangguran, serta kejahatan yang diperhebat oleh ekses Revolusi Industri. Revolusi Amerika yang pada hakekatnya adalah momen politik dalam kehidupan pemerintahan Inggris pada saat itu, turut meningkatkan beban yang perlu dihadapi pemerintah Inggris di sektor sosial, terlebih terkait dengan American loyalists.

Dengan tradisional orang menjelaskan jika motif penting yang menggerakkan pemerintah Inggris memutuskan itu ialah keperluan tempat pembuangan terpidana yang tidak disenangi di Inggris. Dalam penelaahan selanjutnya, beberapa sejarawan mengajukan argumentasi bahwa mendapatkan tempat pembuangan bukan salah satu motif kuat. Ditemukan motif lainnya yang tidak kalah pentingnya seperti “naval supply and maritime base theory” yang dihubungkan dengan “Swing to the East” serta penambahan pelayaran serta perdagangan Inggris dengan Cina.

Sejak dari awal berdirinya koloni di New South Wales sampai tahun 1809, koloni itu di pimpin oleh gubernur yang berasal dari Angakatan laut, serta semenjak tahun 1790 untuk mengawasi keamanan koloni itu dibuat pasukan khusus yang disebut New South Wales Corps. Gubernur pertama Arthur Phillip, berupaya sekuat tenaga jadikan koloni itu “selfhelp”. Pengalamannya memberi landasan baginya buat berkesimpulan bahwa untuk membuat koloni itu dapat berdiri dengan sendiri jumlah free settler harus ditingkatkan di koloni itu, karena tenaga kerja terpidana termasuk tenaga kerja yang tidak produktif.

Masa Letnan Gubernur setelah Arthur Philip (1792-1795), memberikan kesempatan pada beberapa perwira Corps melakukan kegiatan-kegiatan yang hanya menguntungkan kelompoknya. Untuk memperoleh uang dalam jumlah yang semakin besar, mereka memonopoli perdagangan yang mulai berkembang di koloni itu. Perdagangan yang sangat menguntungkan mereka ialah perdagangan rum. Tiap-tiap usaha yang dia anggap merugikan mereka tetap ditentang, sekalipun datang dari gubernur koloni itu. Mengakibatkan beberapa perwira pedagang itu berselisih dengan tiga gubernur dengan beruntun. Hunter didakwa tidak pantas menjadi gubernur, sementara King pun dihina. Puncak perselisihan itu berlangsung sewaktu saat pemerintahan gubernur William Bligh. Aksi keras yang dijalankan Bligh melahirkan reaksi yang malah menjatuhkannya. Bligh tidak saja dijatuhkan, tapi dimasukkan ke penjara. Peristiwa ini populer dengan nama Rum Rebellion. Pemberontakan ini ternyata adalah awal proses berakhirnya pengaruh serta kekuasaan beberapa perwira Corps itu.

Dibawah pemerintahan Lachian Macquarie, seseorang perwira dari Angkatan Darat Inggris, dilaksanakan konsolidasi yang sukses meningkatkan koloni itu sampai kemajuan pesat. Pengetahuan mengenai garis besar pantai Australia banyak diraih pada saat sebelum Macquarie, khususnya atas jasa pelaut-pelaut ulung seperti George Bass serta Matthew Flinders. Akan tetapi, pengetahuan tentang pedalaman Australia baru bisa semakin bertambah sesudah pada tahun 1813 Great Dividing Range atau The Blue Mountains dapat ditembus oleh Gregory Blaxland, Lawson, serta Wenworth. Eksplorasi pedalaman yang sukses itu, menempatkan jalan buat kemungkinan pelebaran koloni itu selanjutnya bahkan juga membuka jalan untuk terwujudnya Australia seperti saat ini.

Pembentukan Koloni-koloni Lain di Australis


1. Queensland


Untuk pertama kali Queensland dihuni oleh masyarakat kulit putih pada tahun 1824. Ditemukannya pemukiman yang baik di Queensland sebagian besar merupakan jasa para penjelajah (explorer). John Oxley misalnya menyelidiki daerah Moreton Bay, tempat pemukiman pertama di Queensland. Pada tahun 1827 pemukiman baru di Darling Downs dibuka lagi oleh Allan Cunningham.

Pada mulanya pemukiman di Queensland tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari New South Wales. Setelah mengalami kemajuan-kemajuan, Queensland akhirnya merasa tidak puas lagi di bawah New South Wales. Rakyat di Queensland menginginkan agar Queensland dipisahkan dari New South Wales. Keinginan mereka ini dikabulkan oleh pemerintahan Inggris pada tahun 1859.

Kondisi dan kekayaan alam Queensland sangat membantu kemajuan Queensland. Letak negerinya yang sebagian berada di daerah tropis, memungkinkan Tasmania mengusahakan perkebunan kapas yang pernah sangat menguntungkan negeri itu, dan juga perkebunan tebu. Dalam mengusahakan perkebunan tebu ini Queensland memerlukan tenaga buruh yang tidak terlalu mahal. Akibantnya terjadilah apa yang disebut “Kanakas Traffic” yang menimbulkan dilema bagi negeri itu.

2. Tasmania


Koloni Tasmania mulai berkembang dari pemukiman yang dimulai di daerah Sungai Derwent yang kemudian berpusat di Hobart dan di Port Dalrymple yang kemudian berpusat di Launceston. Pada awal pertumbuhannya kedua pemukiman ini masing-masing dipimpin oleh seorang Letnan Gubernur yang mewakili Gubernur New South Wales. Sejak tahu 1813 kedua pemukiman itu (Launceston dan Hobart) ditempatkan di bawah seorang Letnan Gubernur, dan Letnan Gubernur pertama yang berkuasa atas kedua daerah pemukiman itu adalah Kolonel Davey. Dengan mendorong kemajuan pertanian serta menjadikan Hobart sebagai pelabuhan bebas, Davey berusaha menjadikan Tasmania sebagai koloni yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam usahanya ini ia berhasil. Sayang sekali ia kurang disenangi oleh Gubernur New South Wales karena Davey adalah orang yang kurang berdisiplin, dan suka minum-minum sampai mabuk.

Sebagai bagian dari New South Wales, Tasmania pernah dijadikan sebagai tempat pembuangan narapidana yang berkelakuan paling buruk. Bahkan di Tasmania sempat dibangun satu penjara khusus, Macquarie Harbour, di pantai barat pulau itu. Sejarah Tasmania sebagai koloni diisi dengan berbagai kekerasan yang meliputi:

a) Kekerasan perlakuan yang dialami oleh para narapidana. b) Kekerasan berupa teror-teror yang dilakukan oleh para bushranger, dan sebaliknya kekerasan tindakan pemerintah untuk memberantas bushranger tersebut. c) Kekerasan perlakuan masyarakat kulit putih terhadap penduduk asli. d) Kekerasan usaha pemerintah dan para imigran menjadikan koloni itu bisa berswasembada.

Pada tahun 1825 Tasmania dipisahkan dari New South Wales. Dalam perkembangan selanjutnya Tasmania mempunyai kedudukan setara dengan New South Wales, dan berhak mempunyai legislative council seperti New South Wales. Ketika New South Wales mulai mempersoalkan transportasi narapidana, Tasmania pun mengajukan tuntutan agar sistem narapidana dihapuskan. Tuntutan mereka ini menjadi kenyataan pada tahun 1852.

Pada tahun 1855 koloni ini menyelenggarakan pemerintahan sendiri, dan secara resmi sejak itu mengubah namanya dari Van Diemen’s Land menjadi Tasmania. Ditemukannya tambang tembaga, perak, dan bahan-bahan mineral lainnya dalam dekade 1870-an, menambah pesatnya kemajuan yang dialami oleh Tasmania. Keberhasilannya dalam mengekspor buah-buahan, serta bentuk pulaunya, menyebabkan Tasmania terkenal sebagai The Apple Isle.

3. Australia Selatan


Kalau Australia Barat dapat disebut koloni suatu kongsi, maka Australia Selatan dapat disebut koloni suatu teori, karena pembentukannya didasarkan pada suatu teori yang dikemukakan oleh Wakefield. Australia Selatan dibentuk dengan memotong areal seluas 300.000 mil persegi dari wilayah New South Wales. Rombongan koloni pertama tiba pada tahun 1836, mendarat di Pulau Kangaroo, namun akhirnya memilih lokasi untuk menetap di tempat dimana sekarang berdiri Kota Adelaide.

Pada awal berdirinya koloni itu, disana berjalan dualisme kekuasaan yang membawa berbagai komplikasi. Namun, akhirnya pemerintah Inggris menghapuskan dualisme tersebut dengan cara memanggil kedua pejabat, gubernur dan komisaris residen, lalu mengangkat gubernur baru yaitu Gawler. Sejak tahun 1853 Australia Selatan mulai berusaha mempersiapkan pemerintahan sendiri, namun baru berlaku secara efektif pada tahun 1856.

4. Australia Barat


Daerah pantai Australia Barat sudah dikenal oleh pelaut-pelaut Belanda sejak dekade kedua abad ke-17. Kondisi alamnya yang gersang (menurut penglihatan mereka pada waktu itu), tidak merangsang orang-orang Belanda maupun Inggris untuk mendudukinya. Pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 ekspedisi-ekspedisi penyelidikan Perancis mengunjungi daerah pantai Australia Barat tersebut. Khawatir didahului oleh Perancis dan merasa terlalu jauh harus mengawasi daerah itu dari Sydney, mendorong Gubernur Darling mengirimkan mayor Lockyer mendirikan pos di King George Sound (Albany) pada tahun 1827.

Pada tahun yang sama, James Stirling menyelidiki daerah Swan River, dan sangat tertarik untuk mendudukinya. Terpengaruh oleh Stirling, Thomas Peel membentuk kongsi untuk membuka koloni di Swan River. Rombongan peel tiba di Swan River pada tahun 1829. Mula-mula mereka mendarat di suatu tempat dimana sekarang berdiri Fremantle, akan tetapi kemudian mereka pindah ke arah utara ke tempat dimana sekarang berdiri Kota  Perth. Dari sinilah berkembang koloni Australia Barat yang sekarang menjadi salah satu negara bagian dalam Common Wealth of Australia. Dibandingkan dengan koloni-koloni lain di Australia, Australia Barat adalah koloni terakhir yang melakukan pemerintahan sendiri sebagai daerah otonom dalam lingkungan kekuasaan Inggris.

5. Victoria


Sebagai bagian dari New South Wales, Victoria semula disebut Distrik Port Philip. Kolonis yang mula-mula dikirim ke daerah ini adalah rombongan David Collins yang ditugaskan membuka pemukiman di Sorento. Akan tetapi karena tempat ini kurang cocok untuk ditempati, Collins beserta rombongannya pindah ke Tasmania. Pada tahun 1837 Gubernur Bourke mengunjungi daerah in dan meresmikan nama-nama kota Williamstown dan Melbourne. Sampai tahun 1850 Victoria masih merupakan bagian dari New South Wales. Untuk mewakili gubernur disana diangkat seorang pengawas.

Rasa tidak puas di bawah New South Wales mendorong rakyat di Distrik Port Phillip menuntut pemisahan. Tuntutan ini mula-mula dijawab dalam bentuk hak distrik ini memilih 6 dari 24 anggota legislative council di New South Wales. Jawaban pemerintah ini tidak memuaskan mereka. Pada tahun 1850 Victoria dipisahkan dari New South Wales, dan sejak tahun 1851 menetapkan dan melaksanakan pemerintahan sendiri.

Dengan berdirinya koloni-koloni Tasmania, Queesland, Australia Barat, Australia Selatan, dan Victoria, maka lengkaplah penguasaan Inggris atas Benua Australia.

Penemuan Benua Australia dan Pembentukan Koloni-koloni di Australia

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran
Abad ke-10 menjadi puncak zaman keemasan dinasti Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya Al-Hakam II, dinasti ini menegakkan kedaulatannya atas hampir seluruh Semenanjung Iberia. Ibukota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota berpenduduk setengah juta manusia. Lembaga-lembaga pendidikan dan agama serta perdagangan dan industri berkembang dalam suasana pergolakan intelektual.

Pada tahun 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru yaitu kota Az-Zahra, di lereng gunung Al-Arus, sebuah gunung berjarak enam mil di barat laut Cordoba. Kota ini dibangun sebagai pusat politik dan militer. Kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megahnya, tempat tinggalnya, dan taman-tamannya yang indah telah membuat beberapa sejarawan menyebutnya sebagai "Versailles of Umayyads."

Pada saat yang sama, dinasti Umayyah Andalusia memberikan perlindungan dan menyokong perkembangan seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kesehatan dan ilmu biologi. Akibatnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibukota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka lakukan.

Di kota kerajaan ini di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang lebih dikenal di Barat dengan nama Latinnya Albucasis, dilahirkan sekitar tahun 938. Ia adalah soerang dokter ahli bedah Muslim tersohor di eropa Eropa dan dunia. Dia melebihi Galenus, seorang dokter bedah di Eropa yang tersohor sebelumnya.

Naskah tentang dokter bedah Eropa Abad Pertengahan menyatakan bahwa Az-Zahrawi lebih sering daripada Galen. Namun karena kota kelahiran Az-Zahra dihancurkan pada tahun 1011 maka hanya sedikit saja yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya.

Kitab Jadhwat al-Muqtabis (Tentang Andalusia Savants) milik Al Humaydi berisi tentang biografi dokter Islam yang ada (walaupun sketsa) yang ada, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggalnya, dan perkiraan tanggal kematiannya.

Pengetahuan Az-Zahrawi tentang kedokteran ditulis dalam karyanya yang berjudul At-Tasrif liman 'Azija' an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif merupakan ringkasan 30 risalah yang dikumpulkan dari data medis yang diakumulasikan Az-Zahrawi dalam karir medis yang ia jalankan selama lima dekade, yang dimulai dari dia belajar dan melakukan praktek secara medis.

Di dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi mennulis ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek ilmu kedokteran yang menekankan pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

At-Tasrif menguraikan penyebab, gejala dan pengobatan penyakit, dan membahas persiapan obat-obatan dan terapi, yang mencakup obat-obatan emetik dan jantung, obat pencahar, geriatri, tata rias, dietetika, medica materia, berat dan ukuran, serta penggantian obat.

Analisis Az-Zahrawi tentang kesehatan ibu dan anak dan profesi kebidanan sangat menarik dalam sejarah keperawatan. Teksnya menyiratkan bahwa ada profesi yang berkembang subur dari bidan terlatih dan perawat yang ada selama di berada di Andalusia pada abad ke-10. Dia dan dokter ahli obstetri yang sudah terlatih lainnya menginstruksikan dan melatih bidan untuk melaksanakan tugas mereka dengan pengetahuan dan keyakinan.

Volume terakhir dan terbesar dari At-Tasrif adalah On Surgery (pembedahan) yang merupakan pencapaian terbesar dari ilmu bedah/operasi abad pertengahan. Tulisan itu merupakan risalah bedah pertama yang ditulis secara mandiri oleh Az-Zahrawi.

Tulisan ini mencakup berbagai masalah bedah termasuk kauterisasi, perawatan luka, ekstraksi panah, dan pengaturan tulang pada fraktur sederhana dan majemuk. Az-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan antiseptik pada luka dan cedera kulit; jahitan yang dirancang dari usus binatang, sutra, wol dan bahan lainnya; dan mengembangkan teknik untuk memperluas saluran kemih dan mengeksplorasi pembedahan rongga tubuh.

Az-Zahrawi adalah yang pertama merinci operasi klasik untuk kanker payudara, lithotrities untuk batu kandung kemih, dan teknik untuk menghilangkan kista tiroid. Dia menggambarkan dan mengilustrasikan forsep obstetri, tetapi hanya merekomendasikan penggunaannya dengan janin yang sudah meninggal, dan memberikan deskripsi pertama yang diketahui tentang postur kebidanan yang sekarang dikenal sebagai "posisi Walcher."

At-Tasrif juga merupakan karya pertama dalam pembuatan diagram instrumen bedah, merinci lebih dari dua ratus, banyak di antaranya merupakan rancangan Az-Zahrawi sendiri. Kebanyakan dari instrumen ini yang sudah dimodifikasi masih digunakan sampai sekarang.

Dengan kebangkitan kembali keinginan Eropa dalam ilmu kedokteran, At-Tasrif dengan cepat menjadi referensi standar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak lima kali. Susunan karya, diksi yang jelas, dan penjelasannya yang jelas berkontribusi pada popularitas dan kesuksesan besar.

Pengaruh Az-Zahrawi pada perkembangan bedah Eropa sangat dalam dan bertahan hingga saat ini. Guy de Chauliac, yang dikenal sebagai "Pemulih Bedah Eropa," mengutip tulisan-tulisan Az-Zahrawi lebih dari 200 kali.

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979
Hari itu, pada tanggal 20 November 1979, tepat jam 05.00 pagi, jamaah shalat shubuh tengah menantikan azan subuh. Belumlah juga muazin Masjid al-Haram mengumandangkan azan, tidak diduga, seseorang pria berusia 40 tahun-an, dengan 200 pengikutnya, mengatakan dengan lantang: "Sang Mahdi yang dinantikan sudah hadir." Pria yang pimpin pergerakan itu terakhir didapati bernama Juhaiman al-Utaibi.

Al-Utaibi lakukan sabotase. Ia serta pengikutnya merampas pengeras suara dari imam Masjid al-Haram, lantas mengatakan dengan keras kehadiran Sang Penebus, al-Mahdi. Gerombolan ini juga keluarkan senjata mereka.

Al-Utaibi, menyatakan beberapa ciri al-Mahdi, yang dalam keyakinan Islam akan tiba menjadi penyelamat umat manusia, ada pada mertua al-Utaibi, yakni Abdullah Muhammad al-Qahthani. Gerombolan ini berbaiat pada 'Imam al-Mahdi' palsu itu pas dibagian antara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim.

Masjid al-Haram, serta lokasi tawaf saat itu betul-betul mencekam. Al-Utaibi berpidato, "Wahai umat Islam, beberapa ciri al-Mahdi sudah tercukupi dalam figur yang sekarang ada diantara kalian, wahai saudara, duduklah serta berkumpullah kalian diantara Rukun Yamani serta Maqam Ibrahim. Janganlah buat gaduh. Wahai Ahmad al-Luhaibi, naiklah ke atap masjid, bila memandang ada yang menantang tembak saja,"

Sesudah itu, al-Utaibi serta gerombolannya mengatakan Masjid al-Haram sudah disabotase. Momen perebutan Masjid al-Haram berjalan cepat, kira-kira satu jam gerombolan ini sukses kuasai.

Momen ini begitu populer dalam sejarah. BBC membuat dokumentasi dengan judul "Blokade Makkah". Jejak al-Utaibi memang bukan figur yang popular. Sebelum aktif di kegiatan keagamaan serta menentukan beraliran salafi keras, ia sempat ikut serta dalam jual beli narkoba.

Genealogi 'pemberontak' mengalir dalam dirinya sendiri. Bapak al-Utaibi merupakan pengikut golongan Ikwan Man Atahallah, yang ikut serta dalam Perang as-Siblah, menantang pendiri Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud.

Al-Utaibi sempat masuk dalam militer Saudi pada umur 18 tahun, namun menetukan pilihan keluar serta mengenyam pendidikan di Kampus Madinah pada 1973. Di sinilah di berjumpa dengan al-Qahthani. Kedua-duanya mempunyai persamaan pemikiran serta mendakwahkan ide mereka pada masjid-masjid kecil di Madinah. Pengikutnya makin banyak serta bergabung dalam satu jamaah yang menyebut diri mereka al-Mutabisah.

Pembaharuan yang dilaksanakan otoritas Kerajaan Saudi, dalam pandangan al-Utaibi, cuma menjauhkan umat dari agama mereka. Hal inilah yang menjadikan al-Utaibi dan kelompoknya berpandangan, haram taati raja serta harus selekasnya mendorong timbulnya al-Mahdi, supaya umat Islam kembali pada agama mereka.

Pada saat keadaan serta situasi genting saat sabotase golongan al-Utaibi, otoritas keamanan Saudi saat itu termasuk sangatlah lambat sebab faktor-faktor diantaranya, kekosongan pejabat militer lantaran tengah berada di luar negeri, sakitnya raja Khalid, serta kurangnya kapabilitas intelijen.

Pihak Keamanan Saudi menduga situasinya biasa saja, cuma masalah kecil keamanaan. Akan tetapi, Pihak Kerajaan betul-betul mengerti keadaan begitu genting, saat satu regu keamanan yang di kirim lakukan penelusuran namun ditembak.

Saudi menerapkan status darurat. Beberapa ribu personil keamanan dikerahkan untuk mengepung Masjid al-Haram. Di hari ke-2 dari sabotase, pesawat jet tempur lalu-lalang diatas Masjid al-Haram.

Kelompok bersenjata tertekan. Mereka bergabung di lantai dasar Masjid al-Haram, mereka membakar karpet serta ban mobil untuk bikin kepulan asap. Beberapa dari gerombolan itu melumuri muka mereka dengan cairan warna hitam.

Sepanjang pengepungan itu, sebelumnya beberapa personil militer benar-benar tidak berani lakukan serangan. Hal ini sebab untuk menjaga kesucian Masjid al-Haram. Jangankan menumpahkan darah manusia, membunuh burung atau hewan apa pun tidak diperbolehkan di masjid ini. Termasuk juga kehadiran orang non-Muslim.

Akan tetapi, Dewan Ulama Saudi, pada akhirnya membuat fatwa bahwa bisa membunuh golongan yang mereka sebut sebagai 'Penjajah Masjid al-Haram'. Fatwa inilah yang pada akhirnya mengakibatkan baku tembak pada kedua pihak. Pihak keamanan Saudi dibantu oleh militer Prancis. Pertarungan dahsyat pun berlangsung.

Saat baku tembak, al-Qahthani tertembak serta diberitakan meninggal. Perihal ini ikut membuat sangsi pengikutnya mengenai kebenarannya menjadi al-Mahdi.

Pertarungan itu berjalan cukuplah alot sepanjang kira-kira 15 hari sampai pada akhirnya gerombolan bersenjata itu menyerah. Mereka kehabisan logistik amunisi serta bahan makanan.

Menurut data resmi Saudi, momen berdarah ini mengakibatkan 255 orang wafat. Akan tetapi, beberapa sumber menyebutkan jumlahnya korban jiwa sampai 1.000 orang sementara 450 orang terluka.

Pemerintah Saudi menjatuhkan sangsi hukuman mati pada 65 gerombolan bersenjata yang tertangkap. Al-Utaibi ialah orang yang pertama-tama dieksekusi mati dari kelompok itu pada 9 Desember 1980.

Sumber: republika. co.id

Sejarah Kelam Masjid al-Haram Diduduki Pemberontak Pada Tahun 1979

Menelusuri Islam di Nusantara menjadi salah satu kegiatan ilmiah yang sangat menarik, karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang di dalamnya terdapat berbagai macam suku, bangsa, dan etnis dengan adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda. Perbedaan yang ada di dalam bangsa ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan beragama, sehingga wajah Islam di Nusantara secara budaya dan tradisi agak berbeda dengan wajah Islam di Arab atau di negara lain. Namun sangat disayangkan, semakin hari wajah Islam Indonesia yang sejuk dan toleran mulai direduksi dengan model Islam luar yang berwajah "radikal" dan itu bukan menjadi representasi Islam rahmatan lil alamin.

Intoleransi atas nama agama serta tumbuhnya semangat keagamaan di Indonesia belakangan ini sering dihubungkan dengan kebijaksanaan non-akomodatif pada saat Orde Baru dalam memperlakukan umat Islam. Sikap antagonis Soeharto pada Islam, terutamanya pada saat-saat awal kekuasaannya, sering diklaim sudah menggerakkan tumbuhnya golongan Islam transnasional. Tekanan Soeharto yang terlalu berlebih pada pergerakan Islam politik membuat artikulasi keislaman mereka terhambat. Oleh karenanya, kala rezim Orde Baru jatuh serta muncul kebebasan yang lumayan besar, beberapa golongan Islam politik itu banyak bermunculan.

Tidak ada yang salah dari penjelasan itu, akan tetapi mengabaikan factor sejarah yang lebih panjang bisa menghambat kita dalam memandang masalah dengan lebih mendalam serta adil.

Perubahan Islam Indonesia saat ini tidak bisa dipisahkan dari latar belakang masa lalunya yang bagitu panjang. Bangkitnya semangat keagamaan yang muncul akhir-akhir ini tidak tampil demikian saja, tetapi merupakan bagian dari serangkaian perjalanan panjang proses islamisasi di Indonesia.

Sebelum Islam masuk, Jawa sudah diketahui menjadi salah satu wilayah yang mempunyai peradaban yang maju. Perihal ini, dapat dibuktikan dengan kehadiran beberapa karya sastra, candi, serta kerajaan Hindu-Buddha. Sesudah Islam masuk, budaya Islam mulai membaur dengan budaya Jawa hingga menghisalkan satu sintesa mistik (mystic synthesis) yang diambil dari beberapa kebiasaan serta khazanah budaya Indonesia pra-Islam (Hindu-Buddha dan kebiasaan Jawa) dan ajaran Islam. Budaya Islam waktu itu bisa di terima sebab menjadi salah satu khazanah budaya yang kaya. Oleh sebab pencampuran itu, sebagian besar umat Islam di Indonesia pada rentang abad ke-14 sampai awal abad ke-19, menjalankan agama mereka dengan semangat sinkretis seperti ini.

Pandangan sinkretis itu jadikan umat Islam waktu itu begitu religius dalam kesadaran jalinan mereka dengan kesatuan serta ketergantungan pada prinsip kosmik yang meliputi semua yang mengendalikan kehidupan mereka.

Abangan dan Putihan

Abangan ialah panggilan untuk kelompok masyarakat Jawa Muslim yang menjalankan Islam dalam bentuk yang lebih sinkretis jika dibanding dengan kelompok santri yang lebih ortodoks. Istilah ini diambil dari kata bahasa Jawa yang bermakna merah, kali pertama digunakakan oleh Clifford Geertz, akan tetapi sekarang ini maknanya sudah berubah. Abangan condong mengikuti sistem keyakinan lokal yang disebut adat daripada hukum Islam murni. Dalam sistem keyakinan itu ada tradisi-tradisi Hindu, Buddha, serta animisme. Akan tetapi beberapa sarjana memiliki pendapat kalau apa yang secara klasik dianggap bentuk variasi Islam di Indonesia, seringkali adalah sisi dari agama tersebut di negara lainnya. Menjadi contoh, Martin van Bruinessen mencatat terdapatnya persamaan pada kebiasaan serta praktek yang dilakukan jaman dulu di kelompok umat Islam di Mesir.

Menurut cerita penduduk, kata abangan diprediksikan datang dari kata Bahasa Arab aba'an. Lidah orang Jawa membaca huruf 'ain jadi ngain. Makna aba'an kira-kira ialah "yang tidak konsekwen" atau "yang meninggalkan". Jadi beberapa ulama dahulu memberi julukan pada beberapa orang yang telah masuk Islam tetapi tidak menjalankan syariat (Bahasa Jawa: sarengat) ialah golongan aba'an atau abangan. Jadi, kata "abang" di sini tidak dari kata Bahasa Jawa abang yang bermakna warna merah

Pengertian Islam abangan ialah panggilan untuk kaum muslim atau penduduk Jawa yang mengakui beragama Islam. Islam abangan ini adalah kombinasi pada animism, hinduisme serta Islam. Diluar itu Islam abangan pun memberi ruangan pada keyakinan susah pada roh serta teori tentang pengetahuan hitam serta perdukunan

Bicara tentang munculnya terminologi abangan, Merle Ricklefs, sejarawan Australia, menuturkan jika timbulnya arti abangan dalam skema penduduk Jawa bertepatan dengan kejadian kebangkitan/pemurnian Islam yang diawali pada paruh pertama abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Ricklefs dalam bukunya Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions 1830-1930 berpandangan jika proses kebangkitan Islam di Jawa berawal sesudah berakhirnya Perang Jawa (1830). Pada rintang periode sesudah momen itu muncul gelombang pasang golongan “putihan” yang tidak ada presedennya dalam sejarah Indonesia.

Arti putihan ini mengacu pada muslim yang begitu berdasar teguh pada ajaran al-Quran serta Hadis. Menurut laporan beberapa misionaris Nederlandsche Zendelinggenootschap (NZG), arti putihan lebih popular menjadi lawan kata “abangan” yang baru muncul pada abad ke-19. Riwayat munculnya arti itu terpenting untuk memerhatikan semula timbulnya polarisasi dalam penduduk Islam di Jawa serta sekaligus juga menjadi semula lahirnya kesadaran baru penduduk muslim Indonesia.

Era ke-19 ialah waktu yang begitu memastikan buat budaya serta peradaban di semua dunia, termasuk juga wilayah-wilayah yang mayoristas penduduknya beragama Islam. Waktu ini bisa disebutkan menjadi waktu yang penting buat riwayat serta hari esok kehidupan beragama di Indonesia. Beberapa polarisasi serta ketegangan sosial yangterjadi pasa waktu ini mempunyai implikasi jauh kedepan.

Arti abangan muncul awal abad itu. Golongan putihan ialah golongan yang pertama-tama mengenalkan arti abangan untuk menghina muslim lainnya yang tidak menjalankan syariat Islam dengan prima. Arti abangan sendiri datang dari kata Jawa rendahan (ngoko) abang, bermakna warna merah atau coklat. Pada saat itu, arti yang biasa dipakai ialah bangsa abangan atau wong abangan. Dalam kata Jawa Tinggi (kromo) dimaksud abrit serta beberapa orang ini dimaksud tiyang abritan.

Di lainnya pihak, golongan putihan yang disebut minoritas waktu itu, memandang grup mereka menjadi grup yang sangat saleh sebab menjalankan syariat Islam seperti di Timur Tengah. Beberapa haji serta pelajar yang pulang dari Mekah mainkan peranan lumayan besar dalam menyemai tumbuhnya golongan putihan di Indonesia. Jumlahnya mereka juga cukuplah banyak, terdaftar pada tiga dekade paling akhir era ke-19, sekitar 4000-8000 –15% dari keseluruhnya jamaah di Arab– jamaah haji pergi ke Arab tiap-tiap tahunnya. Mereka berikut yang dengan santer serta terus-terusan lakukan pemurnian Islam di Nusantara. Tentunya, sebagai mode buat mereka ialah praktek-praktek Islam yang digerakkan di Timur Tengah, di Jazirah Arab terutamanya yang waktu itu tengah tumbuh cepat pergerakan Wahhabi.

Hubungan dengan Wahabi

Jika dihubungkan dengan riwayat perubahan Islam di Timur Tengah, maka pada saat abad ke-18 sampai 19 adalah periode perubahan untuk gerakan Wahhabi di wilayah Arab. Wahhabisme sendiri adalah pergerakan pemurnian yang dicetuskan oleh Muhammad Abd al-Wahhab pada abad ke-18, menjadi tanggapan pada ajaran-ajaran Islam yang disintesiskan dengan ajaran tradisionil ditempat. Dia memandang praktik Islam semacam itu menjadi tingkah laku syirik atau politeisme. Pada awal abad ke-19, Wahhabisme masukkan ajaran-ajaran Ibn Taimiyah ke ajaran inti mereka serta praktik mengkafirkan muslim lainnya (takfir) yang sempat tidak diterima oleh Abd al-Wahhab malah dijadikan menjadi satu diantara praktik mereka yang menonjol. Sampai sekarang ini juga, pergerakan ini bersikukuh jika umat Islam yang tidak terima atau menjalankan doktrin-doktrin mereka ialah kafir.

Kelahiran abangan di Jawa serta perubahan Wahhabi di Arab yang bertepatan menguatkan anggapan jika ada banyak jamaah haji Indonesia yang pulang dari tanah suci membawa doktrin Wahhabi untuk selanjutnya diaplikasikan di Jawa. Penerapan semacam ini yang selanjutnya menimbulkan dikotomi abangan serta putihan di Jawa, sebab menurut Ricklefs golongan abangan merupakan orang-orang menjalankan ibadah yang dicampurkan dengan kebiasaan yang dipandang oleh orang putihan menjadi bidah serta sesat. Karena itu satu diantara misi penting mereka ialah meluruskan praktek-praktek Islam lokal yang dikerjakan oleh golongan abangan.

Mengembangnya Polarisasi

Dikotomi pada kelompok putihan serta kelompok abangan dalam memeluk Islam bukan sekedar tergambarkan dalam praktik keagamaan, tapi pun menggambarkan ketidaksamaan sosial yang lebih umum. Bangsa putihan biasanya lebih kaya, aktif dalam perdagangan atau perusahaan, mengenakan pakaian lebih baik, mempunyai rumah yang lebih baik, terlihat lebih baik dalam tatakrama, menjauhi opium, judi, menjalankan rukun Islam, serta lebih memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak-anak mereka.

Selain itu golongan Abangan lebih tertarik pada ritual-ritual yang terkait dengan alam serta jalinan sosial antar manusia. Jadi walau mereka lebih miskin, akan tetapi lebih aktif dalam kegiatan yang terkait dengan kebiasaan seperti slametan, pertunjukkan wayang serta gamelan dibanding menjalankan rukun Islam serta memperlihatkan kesalehan agama. Tingkah laku abangan ini sering menyebabkan perseteruan antar kelompok, sebab banyak juga kelompok putihan yang memandang pertunjukan wayang menjadi suatu yang terlarang dalam ajaran Islam.

Abangan serta putihan ialah dunia yang berlainan keduanya. Mereka dibedakan berdasar pada kelas sosial, penghasilan, pekerjaan, busana, pendidikan, sopan santun, kehidupan budaya, serta metode dalam membesarkan anak-anak. Ketidaksamaan ini makin berkembang sampai merambah pada sektor ekonomi yang mencakup (perdagangan, peminjaman uang, serta hutang). Selanjutnya kebutuhan mereka yang sama-sama bertentangan dengan gampangnya menyebabkan ketidaksukaan serta perseteruan.

Pada awal abad ke-20, identitas-identitas Jawa yang saling bertentangan ini kemudian dilembagakan dalam organisasi-organisasi moderen dan utamanya politik. Sesudah itu mereka jadi lebih kaku serta konfliktual.

Terkait dengan paparan diatas, seharusnya perpecahan pada golongan abangan dan putihan bisa dijadikan menjadi pelajaran pada saat sekarang, supaya kerukunan serta toleransi yang sudah jadi jati diri masyarakat Indonesia terus terbangun. Tanpa adanya kesadaran pada peristiwa masa lampau, maka bangsa ini selanjutnya cuma akan terjerat pada ego masing-masing yang tidak memberikan faedah apa pun buat perubahan negara ini. Ketidaksamaan aliran serta praktik keagamaan semestinya disikapi melalui cara yang bijak. Sikap-sikap arogan yang memandang golongannya sangat suci atau benar, dan memandang kelompok lainnya lebih rendah semestinya dijauhi. Dengan kedewasaan sikap itu, maka Islam Indonesia bisa bersemai kembali dengan jati diri aslinya yang penuh toleransi serta menjunjung tinggi persatuan.

Awal Mula Kelahiran Kalangan Abangan dan Bentuk Polarisasi Islam di Jawa

Sejarah Pembangunan Kabah dari Waktu ke Waktu
Kabah merupakan salah satu simbol yang sangat penting bagi umat Islam. Kabah bukanlah benda yang disembah tetapi merupakan tempat ibadah dan kiblat bagi umat Islam. Kabah hanyanyalah sebuah bangunan suci yang dibuat oleh manusia.

Dalam satu riwayat menyebutkan bahwa kabah bangunan yang pertama kali dibangun oleh Adam kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Syist. Ketika terjadi banjir besar di masa Nabi Nuh, kabahpun ikut rusak dan hilang terbawa air banjir. Kemudian di zaman Nabi Ibrahim barulah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangunnya kembali. Ibnu Katsir berpandangan bahwa riwayat ini beradal dari Bani Israil (ahli kitab), bukan berasal dari Rasulullah saw.

Kabah yang dibuat kembali oleh Nabi Ibrahim itu mengalami kerusakan saat kabilah Amaliq berkuasa.

Kabah yang dibuat Nabi Ibrahim sempat rusak pada saat kekuasaan Kabilah Amaliq. Kabah dibuat kembali sesuai dengan perancangan yang dibikin Nabi Ibrahim tanpa menambahkan atau pengurangan. Waktu dikuasai Kabilah Jurhum, Kabah pun alami rusaknya serta dibuat kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibikin berdaun dua serta digembok.

Di waktu Qusai bin Kilab, Hajar Aswad pernah hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar serta ditanam dalam suatu bukit. Qusai merupakan orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengurus Ka'bah setelah Nabi Ibrahim. Di waktu Qusai ini, tinggi Ka'bah ditambah jadi 25 hasta serta dikasih atap. Sesudah Hajar Aswad diketemukan, lalu disimpan oleh Qusai, sampai waktu Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada saat Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada tempatnya.

Dari waktu Nabi Ibrahim sampai ke bangsa Quraisy terhitung sekitar 2.645 tahun. Pada waktu Quraisy, ada wanita yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah. Kiswah Ka'bah pun ikut terbakar karena itu sehingga mengakibatkan kerusakan bangunan Ka'bah. Selanjutnya, pernah terjadi pula banjir yang menambah rusaknya Ka'bah. Peristiwa kebakaran ini yang disangka membuat warna Hajar Aswad yang sebelumnya putih permukaannya kemudan berubah menjadi hitam.

Untuk membangun kembali Kabah, bangsa Quraisy membeli kayu sisa kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal yang dimiliki oleh bangsa Rum/Romawi. Kayu kapal itu lalu dipakai untuk atap Kabah serta tiga pilar Kabah. Pilar Kabah dari kayu kapal ini tertulis digunakan sampai 65 H. Potongan pilarnya pun tersimpan di museum.

Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka'bah pun terbakar. Peristiwanya kala tentara dari Syam menggempur Makkah pada 681 Masehi, yakni di waktu penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang artinya merupakan keponakan Aisyah.

Kebakaran pada saat itu menyebabkan Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.

Untuk membuat kembali, seperti saat-saat awal mulanya, Kabah diruntuhkan lebih dulu. Abdullah Az-Zubair membangun kembali Ka'bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu kembali dekat pojok Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair menempatkan pecahan Hajar Aswad itu dengan diberikan penahan perak. Yang terpasang saat ini ialah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, serta ambar.

Jumlah pecahan Hajar Aswad diprediksi mencapai 50 butir.

Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi mengirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah ke lima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahu jika Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka'bah serta masukkan Hijir Ismail ke bangunan Ka'bah.

Hajjaj ingin kembalikan Kabah seperti di waktu Quraisy; satu pintu serta Hijir Ismail ada di luar bangunan Ka'bah. Jadi, oleh Hajjaj, pintu ke-2 yang ada di samping barat dekat Rukun Yamani ditutup kembali serta Hijir Ismail dikembalikan seperti sebelumnya, yaitu ada di luar bangunan Ka'bah.

Namun, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal sesudah tahu bahwa Ka'bah di waktu Abdullah bin Az-Zubair dibuat berdasar pada hadis riwayat Aisyah. Di masa selanjutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid ingin mengembalikan bangunan Ka'bah sama dengan yang dibuat Abdullah bin Az-Zubair sebab sama dengan keinginan Nabi. Akan tetapi, Imam Malik menasihatinya supaya tidak membuat Ka'bah menjadi bangunan yang senantiasa dirubah sesuai dengan kehendak tiap-tiap pemimpin. Bila itu berlangsung, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati Umat Islam

Pada 1630 Masehi, Kabah rusak karena diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai dengan bangunan Hajjaj bin Yusuf sampai bertahan 400 tahun lamanya pada saat pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang mengawali proyek pertama perluasan Masjidil Haram

Sejarah Pembangunan Kabah dari Waktu ke Waktu

Muhammad Iqbal: Bapak Sains dan Spritual Islam di Pakistan
Terlepas dari kenyataan bahwa ia meninggal sebelum Pakistan didirikan, Iqbal dipandang sebagai bapak spiritual negara itu. Ia dilahirkan pada tanggal 9 November 1877 di Provinsi Punjab di India Britania, sebagai putra dari orang tuanya yang sufi. Sejak kecil, ia tertarik dengan Al-Quran. Ayahnya berkata kepadanya, "Anakku, bacalah Al-Quran seolah-olah itu diturunkan khusus untukmu." Iqbal dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sastra Urdu dengan karya sastra di Urdu dan Persia.
"Sains dan Islam seperti sayap burung yang sama", Muhammad Iqbal-Filsuf

Pendidikan dan karier


Guru Iqbal di masjid yang mengajar bahasa Arab dan Al-Quran menyadari bahwa Iqbal adalah anak yang cerdas dan harus memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah dengan kualitas yang lebih baik. Karena termotivasi pada usia muda, Iqbal melanjutkan pendidikannya, hingga menuntunnya menerima gelar Master di bidang seni dan menempati peringkat pertama di Universitas Punjab.

Sir Thomas Arnold, yang sangat mempengaruhi sistem pendidikan Inggris, adalah guru filsafat Iqbal di perguruan tinggi negeri di Lahore, tempat Iqbal belajar filsafat, sastra Inggris, dan Arab. Sekembalinya ke Inggris, ia menyarankan Iqbal untuk belajar di Barat. Tahun-tahun berikutnya Iqbal melakukan banyak perjalanan demi pendidikan. Pada tahun 1905 Iqbal memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari University of Cambridge, di mana ia memperoleh gelar Sarjana Seni dan, hanya dua tahun kemudian, ia pindah ke Munich untuk mengambil gelar PhD tentang "Pengembangan Metafisika di Persia".

Setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, ia kembali ke Lahore sebagai profesor filsafat dan sastra Inggris.

Penyair Nasional Pakistan


Bagi orang Pakistan dan India, serta juga bagi para peneliti di seluruh dunia, Muhammad Iqbal dipandang sebagai penyair yang luar biasa. Iqbal dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sastra Urdu dan Persia. Sebagian besar puisinya dalam bahasa Persia, "Meskipun dalam bahasa India manis adalah gula, tetapi metode bicara dalam bahasa Dari (dialek Persia) lebih manis."

Di sebagian besar Asia Selatan dan tempat-tempat berbahasa Urdu, Iqbal disebut 'Shair-e-Mashriq', Penyair Timur. Dia telah mempelajari dengan cermat puisi Ghalib, Urfi dan Naziri dan sangat dipengaruhi oleh teknik mereka. Dia menyerap ide-ide mistis Rumi dan Hafiz secara mendalam.

Tarana-e-Hind-nya adalah lagu yang banyak digunakan di India sebagai lagu patriotik. Ulang tahunnya dirayakan setiap tahun di Pakistan sebagai 'Hari Iqbal' dan banyak lembaga publik, seperti universitas, dinamai menurut namanya. Baik organisasi pemerintah maupun publik telah mensponsori dan merangsang pendirian lembaga pendidikan, perguruan tinggi dan sekolah yang didedikasikan untuk Iqbal. Mereka juga telah mendirikan Akademi Iqbal Pakistan untuk meneliti, mengajar, dan melestarikan karya-karya, sastra, dan filsafatnya.

Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam


Posisi filosofis Mohammed Iqbal diartikulasikan dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1934), sebuah volume berdasarkan enam kuliah yang disampaikan pada tahun 1928-1929. Dia berargumen bahwa orang yang fokus dengan benar harus tanpa henti menghasilkan vitalitas melalui interaksi dengan tujuan hanya kepada Allah. Komunitas Muslim di zaman sekarang harus, melalui penerapan ijtihad, prinsip kemajuan hukum, merancang institusi sosial dan politik baru.

Seperti banyak pemikir lain di generasinya, Iqbal merasa bahwa umat Islam telah berada dalam masa menderita selama berabad-abad di bawah kelumpuhan intelektual, "Karena itu tugas di hadapan Muslim modern sangat besar. Dia harus memikirkan kembali seluruh sistem Islam tanpa benar-benar putus dengan masa lalu." Dia menganjurkan bahwa satu-satunya jalan yang terbuka bagi kita adalah "untuk mendekati pengetahuan modern dengan sikap hormat tapi independen dan menghargai ajaran Islam dalam terang pengetahuan itu." Ini membawa saya pada perkataan Said Nursi, pemikir lain dari generasinya, yang mengatakan bahwa
 Al-Quran dan sains seperti sayap burung, jika Anda memotong salah satu sayap, burung itu akan jatuh dan akhirnya mati.

Rumi dan Goethe


Muhammad Iqbal memiliki kesempatan untuk hidup dan belajar di Timur dan di Barat. Dengan demikian, ia dipengaruhi oleh para filsuf dan ilmuan dari kedua belah pihak.

“Jika Mathnavi of Rumi adalah interpretasi Al-Qur'an untuk orang-orang pada tahun 1300 M, karya Iqbal adalah interpretasi Al-Qur'an untuk merekonstruksi pemikiran keagamaan dalam Islam, dalam  pengetahuan modern tentang filsafat dan sains untuk orang-orang abad ke-20", adalah bagaimana putranya Javed Iqbal menggambarkan sejarah pekerjaan ayahnya.

Dari semua penyair dan filsuf Eropa, yang paling dekat dengan Iqbal tidak lain adalah Goethe. Dia memiliki puisi 'Jalal-o-Goethe' (Jalal dan Goethe), dalam koleksi di mana Iqbal menyatukan Goethe dan Rumi, sehingga menyiratkan bahwa Timur dan Barat sebenarnya tidak terpisah dan berbeda. Dalam puisi ini, dua orang bijak agung digambarkan memiliki pertemuan intim dan percakapan intelektual di Firdaus. Di sini, Goethe membaca kepada Rumi tentang pekerjaannya pada Dr. Faust, Iblis, dan rencana ilahi.

Bapak Spiritual Pakistan


Iqbal mendukung gagasan pendirian Pakistan. "Saya ingin melihat Punjab, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Sind dan Baluchistan digabung menjadi satu negara. Pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Inggris atau tanpa Kerajaan Inggris. Pembentukan Negara Muslim India Barat Laut yang terkonsolidasi bagi saya tampaknya merupakan tujuan akhir umat Islam, setidaknya bagi India Barat Laut."

Iqbal menyatakan bahwa negara yang terpisah untuk umat Islam adalah untuk kepentingan terbaik India dan Islam. Dia menjelaskan: "Untuk India, itu berarti keamanan dan perdamaian yang dihasilkan dari keseimbangan kekuatan internal. Bagi Islam, [itu berarti] kesempatan untuk menghilangkan cap yang imperialisme Arab terpaksa berikan, untuk memobilisasi hukumnya, pendidikannya, budayanya, dan untuk membawa mereka ke dalam hubungan yang lebih dekat dengan semangat aslinya sendiri dan dengan semangat zaman modern."

Pakistan, mimpi Iqbal, didirikan pada tahun 1940. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat mimpinya menjadi kenyataan. Dia menutup matanya di Lahore pada tahun 1938, setelah menderita selama berbulan-bulan karena penyakit tenggorokan yang misterius.

Muhammad Iqbal: Bapak Sains dan Spritual Islam di Pakistan

History of the Sultanate of Banten
Islamic kingdoms in Indonesia have an important part in the history of the development of Islam in the archipelago. The Islamic kingdom became one of the supporting parts in the spread of Islam in the archipelago because with the emergence of Islamic kingdoms in Indonesia it also had a very real impact on the social changes of the Indonesian people themselves. One of the kingdoms/sultanates which is the quite prominent influence in the development of Islam in the land of Java is the Sultanate of Banten.

The Kingdom of Banten is an Islamic kingdom located in the western coastal region of Java. Banten was originally part of the Sundanese kingdom. Before finally in 1525, Sultan Trenggono sent Nurullah or Syarif Hidayatullah, to conquer this Banten region. Not only to expand the Demak area but Syarif Hidayatullah also has a mission to spread the religion of Islam.

After Islam developed in the Banten region, the Banten region which was originally only a duchy of the Demak section. As time went on it changed to Demak state. Until finally it became an independent and independent sultanate after the kingdom of Demak collapsed due to the defeat of the kingdom of Pajang.

But like the previous Islamic kingdoms which suffered a setback after their golden age. This is also experienced by the kingdom of Banten, the most influential factor in the decline of the Banten Sultanate was because it began the entry of European nations to colonize and plant influence in the archipelago. In addition to the factors of colonization of the European nation, the factor of civil war also contributed to the decline of the Banten Sultanate.

The Beginning of the Establishment of the Sultanate of Banten


Before the 1400s the Banten region could be said to be a quiet area of trade. This can be understood because the Sunda Strait at that time was outside the shipping and trade lines. It is the Sea of Java that acts more as a connecting and trading lane. Towards the arrival of Islam the role of Banten began to be rather meaningful, Banten, which at that time was still in the power of the teaching, served as the port of pepper. Its position ranks second after Sunda Kelapa.

The Portuguese were very interested in the two pepper ports in the Sunda. On the other hand, the Pajajaran kingdom saw that the Portuguese would be able to help them in facing Muslims who in Central Java had succeeded in taking power from the hands of the kings of the Majapahit emperor. Therefore in 1522 Raja Pajajaran who took the title of Samiam (Sang Hyang or Sang Dewa) was willing to enter into an agreement of friendship with the Portuguese represented by Commander in Chief Henrique Leme.

But before the Portuguese had taken advantage of the agreement that was in their favor, namely establishing trade posts, the two Pajajaran ports had been occupied by Nurullah Muslims or Syarif Hidayatullah who later said Sunan Gunung Jati had succeeded in occupying Banten several years after 1522 and in 1527 succeeded in seizing the coconut Sunda Bandar.

Nurullah himself came to Banten in 1525 or 1526 at the behest of the Sultan of Demak at that time, Sultan Trenggono. His arrival, in the western part of Java, brought the mission to spread Islam, and expand Demak's territory. According to the Javanese-Banten story, after arriving in Banten, he immediately succeeded in getting rid of the Sundanese regent there to take over the government of the port city. In that case, he received military assistance from Demak.

The next step to Islamizing West Java was to occupy the old port city, Sunda Kelapa, around 1527. The struggle for the city which was very important for the Padjajaran kingdom trade was quite fierce because it was not too far from the center of the kingdom in Pakuan (Bogor). As a sign that this city is important for the future of Islam, the city was named Jayakarta. The Portuguese who did not know the city had been occupied by Muslims, came in 1527 to establish a trading post as the realization of the agreement with Sang Hyang in 1522 got armed resistance.

As a sign of appreciation for the results achieved by Banten's new ruler, Sunan Gunung Jati, in 1528-1529 Sultan Trenggana presented a large cannon made by Demak which was affixed with it later that year. This cannon is called the Banya, which is later called Ki Jimat.

Sunan Gunung Jati after controlling Banten and Jayakarta apparently did not try to attack the capital city of Pajajaran, Pakuan. In fact, he lived in Banten only until 1552. This was because his son Prince Pasareyan who was made his representative in Cirebon died, since then Sunan Gunung Jati moved to Cirebon for ever and handed Banten to his second son Hasanuddin.

Hasanuddin was appointed and regarded as the first King of Banten. In the tradition of Banten, Hasanuddin was considered the founder of the dynasty of the Banten sultans, not Sunan Gunung Jati. Two reasons may be the cause. First, Sunan Gunung Jati was not long resident in Banten and Secondly, during the reign of Sunan Gunung Jati in Banten, it was Banten's position that was still bound by Demak and Hasanuddin who had begun to break away from all Demak ties, since around 1568 when Demak was in chaos.

Development of the Sultanate of Banten


# Maulana Hasanuddin

Hasanuddin, Banten's second ruler, continued his father's aspirations to expand the influence of Islam on the land of Banten. Many progressive actions that he did in order to give direction to the newly emerging sultanate. The Great Mosque of Banten and educational facilities in the form of Islamic boarding schools in Kasunyatan are real monumental works on the next generation.

In terms of expanding the kingdom and spreading Islam, the Sultan of Hasanuddin expanded his territory to Lampung and the surrounding areas in southern Sumatra. Conquered areas in Maulana Hasanuddin turned out to be the main producing area of pepper. The pepper trade made Banten an important port city, which was visited by merchant ships from China, India, and Europe.

Hasanuddin enlarged and beautified the port city of Banten, which he named Sura-Saji (Surosuwan). This city is more important than the old city of Banten Girang. In 1570 the first Banten sultan died and was replaced by his eldest son, Prince Yusuf. After he died Maulana Hasanuddin was famous for his posthumous name "Prince Saba Kingking".

# Maulana Yusuf

Prince Yusuf's reign period, charisma Banten rose a step higher than before. The process of Islamization also seems to be perfect. The whole area of Banten, both in the city center of Banten Girang, Banten Surosuwan, and the southern region has followed the Islamic religion.

The Kasunyatan Islamic Boarding School which had been pioneered by Sultan Hasanuddin was developed intensively so that it could orbit reliable and responsible religious cadres. At this time the Great Mosque of Banten was not only a place of worship to Allah but also functioned as a place of preaching and discussion of religious problems, for Islamic scientists at that time.

Sultan Maulana Yusuf is a Sultan who is active in expanding the territory. Maulana Yusuf is known as a powerful ruler and has special skills in warfare. With the help of soldiers and religious leaders, Maulana Yusuf attacked Pajajaran, the result was in 1579 Pakuan, the capital of Pajajaran, was captured by the Banten kingdom. This attack was carried out at the time of worship Joseph had ruled for nine years.

After successfully seizing Pakuan, Panembahan Yusuf began building Banten Surosowan as its new capital. In 1980, exactly one year after the conquest of Pakuwan, Maulana Yusuf died and was remembered by the name of Prince Pasareyan. And leave the heir to the throne who is only 9 years old.

# Maulana Muhammad

Substitute Maulana Yusuf is his son Maulana Muhammad. But because Maulana Muhammad was 9 years old. As long as Maulana was under the age of government authority held by a Mangkubumi. Before Maulana grew up, there was a war between Banten and Jepara.

Prince Aria Jepara (Maulana Yusuf's sister who was raised and replaced Ratu Ratuanyat) came in Banten and demanded recognition as Banten's heir to the throne. Prince Jepara who arrived by sea brought armed forces to acquire power, but when he arrived there, the coronation of Maulana Muhammad as the Sultan of Banten had been made, this made Prince Jepara furious so that the war could not be avoided. In this battle, Demang Admiral Jepara was killed, which caused Prince Aria Jepara to abandon his intentions and return to Jepara.

After Maulana Muhammad grew up he was known as a person who rightfully and has a strong passion for disseminating Islam, he made many books and built worship facilities to all corners of the village. Although the progress obtained by Maulana Muhammad was not as high as his father's, but there was a prominent event in his time, namely expansion to Palembang.

Palembang at that time was very advanced under Ki Gede Ing Suro. At the time of the expansion, almost Palembang could be controlled, but when the victory was almost won, the Sultan of Banten was killed by a bullet. Then the attack was stopped, and the army returned home. Maulana Muhammad who died at a relatively young age, because he was only five months old.

# Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir

Sultan Abdul Mufhakir was named when he was a toddler, so for the second time the Sultanate of Banten was handed over his power to Mangkubumi Jayanegara, he was a servant who had high loyalty so that Banten remained in a stable condition.

However, since Mangkubumi Jayanegara died in 1602, the position of Mangkubumi has automatically become the target, many princes have ambitions to occupy this prestigious position. Mangkubumi, the successor to Jayanegara, made a very open policy with his relations with the West. This caused the suspicion and jealousy of several other princes, so that betrayal also happened everywhere. This act of betrayal succeeded in crippling Mangkubumi and killing him.

A new rebellion could be suppressed thanks to cooperation between the Sultan's forces, Prince Ranumganggala's forces, and Prince Jayakarta's assistance so that the rebellion was successfully crushed. In lieu of the position of Mangkubumi, Prince Arya Ranumanggala was appointed.

After serving as Mangkubumi, he immediately conducted curbing, both internal security and reconstructing the Mangkubumi policy before against European traders. The tax was increased especially for the Company, this action was taken so that foreign traders left Banten. Because he already knew of their other intentions besides trading, they also wanted to interfere in domestic affairs.

Arya Ranumanggala's decisive action forced the Company to turn its business orientation to Jayakarta. In Jayakarta they were welcomed by Prince Wijayakrama, he argued that their arrival was able to enliven the port of Sunda Kelapa.

Seeing Prince Jayakarta's close relationship with the Company made the Mangkubumi Arya disturbed. As the holder of the Banten control in charge of Jayakarta, he sent Prince Upatih to destroy foreign fortresses in the Banten region. In this effort the British could be pushed to return to the ship, the troops could also urge the Dutch, but the Dutch remained defensive and did not want to surrender until assistance from Maluku arrived.

After the assistance arrived (led by J.P. Coon) in March 1619 the siege of Banten was meaningless and they returned with disappointment. It was then that Jayakarta was officially controlled by the Company and changed its name to Batavia.

Since the incident, gunfire between Banten and the Company was rather calm, even though small-scale incidents still continued. This was due to internal palace factors, the transfer of power from Mangkubumi Arya to Sultan Abdul Mufakhir who had become an adult, and the existence of Mataram's efforts to take over Banten through the intercession of Cirebon (1650).

It was during this time that Sultan Abdul Mufakhir was the ruler of Banten who was a sultan, he was also known as a person who opposed the VOC, he refused the Dutch desire to monopolize trade. Then there was a conflict due to this, the VOC blockaded the route to the port of Banten, resulting in the war in November 1633, the war ended with a peace agreement between the two parties. Although afterward there were still tensions arising from both parties.

# Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa ascended the throne to replace his grandfather who died in 1651. Banten experienced rapid development since it was ruled by Sultan Ageng Tirtayasa, both in the fields of politics, socio-culture, and especially its economy.

Trade relations with Persia, Surat, Mecca, Karamandel, Bengal, Siam, Tonkin and China threaten the position of the VOC based in Batavia. During this time a large irrigation system was built, which was intended to develop agriculture. Between 30km and 40km of canals are built to run 40,000 hectares of new paddy fields and thousands of hectares of coconut plantations.

As a religious person, he was very antipathetic to the Dutch. His guerrilla attack was carried out by land and sea to break the Dutch defense based in Batavia. The acts of terror and sabotage directed at merchant ships seriously endanger the Netherlands. For more than twenty years Banten in a safe and peaceful atmosphere under the authority of Sultan Ageng Tirtayasa.

However, peace was blessed after his eldest son, Sultan Haji returned from the holy land (1676) because he was more in favor of the Dutch than people close to his father. The Sultan of Haji, who was appointed to assist domestic affairs, even compromised with the Company to destroy his own father.

In 1681, Sultan Ageng Tirtayasa had a really difficult time because his son took a coup to the palace with the help of VOC troops from Batavia. Finally, because it was difficult to straighten the way of thinking of his son who had been dragged down by company seduction. Sultan Ageng Tirtayasa finally decided to move to Tirtayasa and form a front there with his loyal followers. This situation is a real result of the political success of the Dutch sheep fight.

Although he had to deal with his own son, he remained steadfast in his stance. The front formed by Sultan Ageng Tirtayasa continued to launch attacks on the Dutch whose influence in the Surosowan palace was getting stronger. On February 27, 1682, the Surosuwan palace was invaded and was successfully occupied for a while, but thanks to the help of the Dutch Sultan Haji managed to maintain his power.

Sultan Ageng Tirtayasa's resistance only stopped after he was captured and imprisoned by the Company until his death in 1692. With the signing of the agreement between the Company and the Sultan of Hajj in August 1682, the sultan's absolute power over his territory ended. the status of the Sultan here is only a puppet symbol of the Dutch government. So that in the development of the Banten kingdom, this continued until the collapse of the sultanate.

History of the Sultanate of Banten