Coretanzone: Sejarah -->

    Social Items

Muhammad Iqbal: Bapak Sains dan Spritual Islam di Pakistan
Terlepas dari kenyataan bahwa ia meninggal sebelum Pakistan didirikan, Iqbal dipandang sebagai bapak spiritual negara itu. Ia dilahirkan pada tanggal 9 November 1877 di Provinsi Punjab di India Britania, sebagai putra dari orang tuanya yang sufi. Sejak kecil, ia tertarik dengan Al-Quran. Ayahnya berkata kepadanya, "Anakku, bacalah Al-Quran seolah-olah itu diturunkan khusus untukmu." Iqbal dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sastra Urdu dengan karya sastra di Urdu dan Persia.
"Sains dan Islam seperti sayap burung yang sama", Muhammad Iqbal-Filsuf

Pendidikan dan karier


Guru Iqbal di masjid yang mengajar bahasa Arab dan Al-Quran menyadari bahwa Iqbal adalah anak yang cerdas dan harus memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah dengan kualitas yang lebih baik. Karena termotivasi pada usia muda, Iqbal melanjutkan pendidikannya, hingga menuntunnya menerima gelar Master di bidang seni dan menempati peringkat pertama di Universitas Punjab.

Sir Thomas Arnold, yang sangat mempengaruhi sistem pendidikan Inggris, adalah guru filsafat Iqbal di perguruan tinggi negeri di Lahore, tempat Iqbal belajar filsafat, sastra Inggris, dan Arab. Sekembalinya ke Inggris, ia menyarankan Iqbal untuk belajar di Barat. Tahun-tahun berikutnya Iqbal melakukan banyak perjalanan demi pendidikan. Pada tahun 1905 Iqbal memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari University of Cambridge, di mana ia memperoleh gelar Sarjana Seni dan, hanya dua tahun kemudian, ia pindah ke Munich untuk mengambil gelar PhD tentang "Pengembangan Metafisika di Persia".

Setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, ia kembali ke Lahore sebagai profesor filsafat dan sastra Inggris.

Penyair Nasional Pakistan


Bagi orang Pakistan dan India, serta juga bagi para peneliti di seluruh dunia, Muhammad Iqbal dipandang sebagai penyair yang luar biasa. Iqbal dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sastra Urdu dan Persia. Sebagian besar puisinya dalam bahasa Persia, "Meskipun dalam bahasa India manis adalah gula, tetapi metode bicara dalam bahasa Dari (dialek Persia) lebih manis."

Di sebagian besar Asia Selatan dan tempat-tempat berbahasa Urdu, Iqbal disebut 'Shair-e-Mashriq', Penyair Timur. Dia telah mempelajari dengan cermat puisi Ghalib, Urfi dan Naziri dan sangat dipengaruhi oleh teknik mereka. Dia menyerap ide-ide mistis Rumi dan Hafiz secara mendalam.

Tarana-e-Hind-nya adalah lagu yang banyak digunakan di India sebagai lagu patriotik. Ulang tahunnya dirayakan setiap tahun di Pakistan sebagai 'Hari Iqbal' dan banyak lembaga publik, seperti universitas, dinamai menurut namanya. Baik organisasi pemerintah maupun publik telah mensponsori dan merangsang pendirian lembaga pendidikan, perguruan tinggi dan sekolah yang didedikasikan untuk Iqbal. Mereka juga telah mendirikan Akademi Iqbal Pakistan untuk meneliti, mengajar, dan melestarikan karya-karya, sastra, dan filsafatnya.

Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam


Posisi filosofis Mohammed Iqbal diartikulasikan dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1934), sebuah volume berdasarkan enam kuliah yang disampaikan pada tahun 1928-1929. Dia berargumen bahwa orang yang fokus dengan benar harus tanpa henti menghasilkan vitalitas melalui interaksi dengan tujuan hanya kepada Allah. Komunitas Muslim di zaman sekarang harus, melalui penerapan ijtihad, prinsip kemajuan hukum, merancang institusi sosial dan politik baru.

Seperti banyak pemikir lain di generasinya, Iqbal merasa bahwa umat Islam telah berada dalam masa menderita selama berabad-abad di bawah kelumpuhan intelektual, "Karena itu tugas di hadapan Muslim modern sangat besar. Dia harus memikirkan kembali seluruh sistem Islam tanpa benar-benar putus dengan masa lalu." Dia menganjurkan bahwa satu-satunya jalan yang terbuka bagi kita adalah "untuk mendekati pengetahuan modern dengan sikap hormat tapi independen dan menghargai ajaran Islam dalam terang pengetahuan itu." Ini membawa saya pada perkataan Said Nursi, pemikir lain dari generasinya, yang mengatakan bahwa
 Al-Quran dan sains seperti sayap burung, jika Anda memotong salah satu sayap, burung itu akan jatuh dan akhirnya mati.

Rumi dan Goethe


Muhammad Iqbal memiliki kesempatan untuk hidup dan belajar di Timur dan di Barat. Dengan demikian, ia dipengaruhi oleh para filsuf dan ilmuan dari kedua belah pihak.

“Jika Mathnavi of Rumi adalah interpretasi Al-Qur'an untuk orang-orang pada tahun 1300 M, karya Iqbal adalah interpretasi Al-Qur'an untuk merekonstruksi pemikiran keagamaan dalam Islam, dalam  pengetahuan modern tentang filsafat dan sains untuk orang-orang abad ke-20", adalah bagaimana putranya Javed Iqbal menggambarkan sejarah pekerjaan ayahnya.

Dari semua penyair dan filsuf Eropa, yang paling dekat dengan Iqbal tidak lain adalah Goethe. Dia memiliki puisi 'Jalal-o-Goethe' (Jalal dan Goethe), dalam koleksi di mana Iqbal menyatukan Goethe dan Rumi, sehingga menyiratkan bahwa Timur dan Barat sebenarnya tidak terpisah dan berbeda. Dalam puisi ini, dua orang bijak agung digambarkan memiliki pertemuan intim dan percakapan intelektual di Firdaus. Di sini, Goethe membaca kepada Rumi tentang pekerjaannya pada Dr. Faust, Iblis, dan rencana ilahi.

Bapak Spiritual Pakistan


Iqbal mendukung gagasan pendirian Pakistan. "Saya ingin melihat Punjab, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Sind dan Baluchistan digabung menjadi satu negara. Pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Inggris atau tanpa Kerajaan Inggris. Pembentukan Negara Muslim India Barat Laut yang terkonsolidasi bagi saya tampaknya merupakan tujuan akhir umat Islam, setidaknya bagi India Barat Laut."

Iqbal menyatakan bahwa negara yang terpisah untuk umat Islam adalah untuk kepentingan terbaik India dan Islam. Dia menjelaskan: "Untuk India, itu berarti keamanan dan perdamaian yang dihasilkan dari keseimbangan kekuatan internal. Bagi Islam, [itu berarti] kesempatan untuk menghilangkan cap yang imperialisme Arab terpaksa berikan, untuk memobilisasi hukumnya, pendidikannya, budayanya, dan untuk membawa mereka ke dalam hubungan yang lebih dekat dengan semangat aslinya sendiri dan dengan semangat zaman modern."

Pakistan, mimpi Iqbal, didirikan pada tahun 1940. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat mimpinya menjadi kenyataan. Dia menutup matanya di Lahore pada tahun 1938, setelah menderita selama berbulan-bulan karena penyakit tenggorokan yang misterius.

Muhammad Iqbal: Bapak Sains dan Spritual Islam di Pakistan

History of the Sultanate of Banten
Islamic kingdoms in Indonesia have an important part in the history of the development of Islam in the archipelago. The Islamic kingdom became one of the supporting parts in the spread of Islam in the archipelago because with the emergence of Islamic kingdoms in Indonesia it also had a very real impact on the social changes of the Indonesian people themselves. One of the kingdoms/sultanates which is the quite prominent influence in the development of Islam in the land of Java is the Sultanate of Banten.

The Kingdom of Banten is an Islamic kingdom located in the western coastal region of Java. Banten was originally part of the Sundanese kingdom. Before finally in 1525, Sultan Trenggono sent Nurullah or Syarif Hidayatullah, to conquer this Banten region. Not only to expand the Demak area but Syarif Hidayatullah also has a mission to spread the religion of Islam.

After Islam developed in the Banten region, the Banten region which was originally only a duchy of the Demak section. As time went on it changed to Demak state. Until finally it became an independent and independent sultanate after the kingdom of Demak collapsed due to the defeat of the kingdom of Pajang.

But like the previous Islamic kingdoms which suffered a setback after their golden age. This is also experienced by the kingdom of Banten, the most influential factor in the decline of the Banten Sultanate was because it began the entry of European nations to colonize and plant influence in the archipelago. In addition to the factors of colonization of the European nation, the factor of civil war also contributed to the decline of the Banten Sultanate.

The Beginning of the Establishment of the Sultanate of Banten


Before the 1400s the Banten region could be said to be a quiet area of trade. This can be understood because the Sunda Strait at that time was outside the shipping and trade lines. It is the Sea of Java that acts more as a connecting and trading lane. Towards the arrival of Islam the role of Banten began to be rather meaningful, Banten, which at that time was still in the power of the teaching, served as the port of pepper. Its position ranks second after Sunda Kelapa.

The Portuguese were very interested in the two pepper ports in the Sunda. On the other hand, the Pajajaran kingdom saw that the Portuguese would be able to help them in facing Muslims who in Central Java had succeeded in taking power from the hands of the kings of the Majapahit emperor. Therefore in 1522 Raja Pajajaran who took the title of Samiam (Sang Hyang or Sang Dewa) was willing to enter into an agreement of friendship with the Portuguese represented by Commander in Chief Henrique Leme.

But before the Portuguese had taken advantage of the agreement that was in their favor, namely establishing trade posts, the two Pajajaran ports had been occupied by Nurullah Muslims or Syarif Hidayatullah who later said Sunan Gunung Jati had succeeded in occupying Banten several years after 1522 and in 1527 succeeded in seizing the coconut Sunda Bandar.

Nurullah himself came to Banten in 1525 or 1526 at the behest of the Sultan of Demak at that time, Sultan Trenggono. His arrival, in the western part of Java, brought the mission to spread Islam, and expand Demak's territory. According to the Javanese-Banten story, after arriving in Banten, he immediately succeeded in getting rid of the Sundanese regent there to take over the government of the port city. In that case, he received military assistance from Demak.

The next step to Islamizing West Java was to occupy the old port city, Sunda Kelapa, around 1527. The struggle for the city which was very important for the Padjajaran kingdom trade was quite fierce because it was not too far from the center of the kingdom in Pakuan (Bogor). As a sign that this city is important for the future of Islam, the city was named Jayakarta. The Portuguese who did not know the city had been occupied by Muslims, came in 1527 to establish a trading post as the realization of the agreement with Sang Hyang in 1522 got armed resistance.

As a sign of appreciation for the results achieved by Banten's new ruler, Sunan Gunung Jati, in 1528-1529 Sultan Trenggana presented a large cannon made by Demak which was affixed with it later that year. This cannon is called the Banya, which is later called Ki Jimat.

Sunan Gunung Jati after controlling Banten and Jayakarta apparently did not try to attack the capital city of Pajajaran, Pakuan. In fact, he lived in Banten only until 1552. This was because his son Prince Pasareyan who was made his representative in Cirebon died, since then Sunan Gunung Jati moved to Cirebon for ever and handed Banten to his second son Hasanuddin.

Hasanuddin was appointed and regarded as the first King of Banten. In the tradition of Banten, Hasanuddin was considered the founder of the dynasty of the Banten sultans, not Sunan Gunung Jati. Two reasons may be the cause. First, Sunan Gunung Jati was not long resident in Banten and Secondly, during the reign of Sunan Gunung Jati in Banten, it was Banten's position that was still bound by Demak and Hasanuddin who had begun to break away from all Demak ties, since around 1568 when Demak was in chaos.

Development of the Sultanate of Banten


# Maulana Hasanuddin

Hasanuddin, Banten's second ruler, continued his father's aspirations to expand the influence of Islam on the land of Banten. Many progressive actions that he did in order to give direction to the newly emerging sultanate. The Great Mosque of Banten and educational facilities in the form of Islamic boarding schools in Kasunyatan are real monumental works on the next generation.

In terms of expanding the kingdom and spreading Islam, the Sultan of Hasanuddin expanded his territory to Lampung and the surrounding areas in southern Sumatra. Conquered areas in Maulana Hasanuddin turned out to be the main producing area of pepper. The pepper trade made Banten an important port city, which was visited by merchant ships from China, India, and Europe.

Hasanuddin enlarged and beautified the port city of Banten, which he named Sura-Saji (Surosuwan). This city is more important than the old city of Banten Girang. In 1570 the first Banten sultan died and was replaced by his eldest son, Prince Yusuf. After he died Maulana Hasanuddin was famous for his posthumous name "Prince Saba Kingking".

# Maulana Yusuf

Prince Yusuf's reign period, charisma Banten rose a step higher than before. The process of Islamization also seems to be perfect. The whole area of Banten, both in the city center of Banten Girang, Banten Surosuwan, and the southern region has followed the Islamic religion.

The Kasunyatan Islamic Boarding School which had been pioneered by Sultan Hasanuddin was developed intensively so that it could orbit reliable and responsible religious cadres. At this time the Great Mosque of Banten was not only a place of worship to Allah but also functioned as a place of preaching and discussion of religious problems, for Islamic scientists at that time.

Sultan Maulana Yusuf is a Sultan who is active in expanding the territory. Maulana Yusuf is known as a powerful ruler and has special skills in warfare. With the help of soldiers and religious leaders, Maulana Yusuf attacked Pajajaran, the result was in 1579 Pakuan, the capital of Pajajaran, was captured by the Banten kingdom. This attack was carried out at the time of worship Joseph had ruled for nine years.

After successfully seizing Pakuan, Panembahan Yusuf began building Banten Surosowan as its new capital. In 1980, exactly one year after the conquest of Pakuwan, Maulana Yusuf died and was remembered by the name of Prince Pasareyan. And leave the heir to the throne who is only 9 years old.

# Maulana Muhammad

Substitute Maulana Yusuf is his son Maulana Muhammad. But because Maulana Muhammad was 9 years old. As long as Maulana was under the age of government authority held by a Mangkubumi. Before Maulana grew up, there was a war between Banten and Jepara.

Prince Aria Jepara (Maulana Yusuf's sister who was raised and replaced Ratu Ratuanyat) came in Banten and demanded recognition as Banten's heir to the throne. Prince Jepara who arrived by sea brought armed forces to acquire power, but when he arrived there, the coronation of Maulana Muhammad as the Sultan of Banten had been made, this made Prince Jepara furious so that the war could not be avoided. In this battle, Demang Admiral Jepara was killed, which caused Prince Aria Jepara to abandon his intentions and return to Jepara.

After Maulana Muhammad grew up he was known as a person who rightfully and has a strong passion for disseminating Islam, he made many books and built worship facilities to all corners of the village. Although the progress obtained by Maulana Muhammad was not as high as his father's, but there was a prominent event in his time, namely expansion to Palembang.

Palembang at that time was very advanced under Ki Gede Ing Suro. At the time of the expansion, almost Palembang could be controlled, but when the victory was almost won, the Sultan of Banten was killed by a bullet. Then the attack was stopped, and the army returned home. Maulana Muhammad who died at a relatively young age, because he was only five months old.

# Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir

Sultan Abdul Mufhakir was named when he was a toddler, so for the second time the Sultanate of Banten was handed over his power to Mangkubumi Jayanegara, he was a servant who had high loyalty so that Banten remained in a stable condition.

However, since Mangkubumi Jayanegara died in 1602, the position of Mangkubumi has automatically become the target, many princes have ambitions to occupy this prestigious position. Mangkubumi, the successor to Jayanegara, made a very open policy with his relations with the West. This caused the suspicion and jealousy of several other princes, so that betrayal also happened everywhere. This act of betrayal succeeded in crippling Mangkubumi and killing him.

A new rebellion could be suppressed thanks to cooperation between the Sultan's forces, Prince Ranumganggala's forces, and Prince Jayakarta's assistance so that the rebellion was successfully crushed. In lieu of the position of Mangkubumi, Prince Arya Ranumanggala was appointed.

After serving as Mangkubumi, he immediately conducted curbing, both internal security and reconstructing the Mangkubumi policy before against European traders. The tax was increased especially for the Company, this action was taken so that foreign traders left Banten. Because he already knew of their other intentions besides trading, they also wanted to interfere in domestic affairs.

Arya Ranumanggala's decisive action forced the Company to turn its business orientation to Jayakarta. In Jayakarta they were welcomed by Prince Wijayakrama, he argued that their arrival was able to enliven the port of Sunda Kelapa.

Seeing Prince Jayakarta's close relationship with the Company made the Mangkubumi Arya disturbed. As the holder of the Banten control in charge of Jayakarta, he sent Prince Upatih to destroy foreign fortresses in the Banten region. In this effort the British could be pushed to return to the ship, the troops could also urge the Dutch, but the Dutch remained defensive and did not want to surrender until assistance from Maluku arrived.

After the assistance arrived (led by J.P. Coon) in March 1619 the siege of Banten was meaningless and they returned with disappointment. It was then that Jayakarta was officially controlled by the Company and changed its name to Batavia.

Since the incident, gunfire between Banten and the Company was rather calm, even though small-scale incidents still continued. This was due to internal palace factors, the transfer of power from Mangkubumi Arya to Sultan Abdul Mufakhir who had become an adult, and the existence of Mataram's efforts to take over Banten through the intercession of Cirebon (1650).

It was during this time that Sultan Abdul Mufakhir was the ruler of Banten who was a sultan, he was also known as a person who opposed the VOC, he refused the Dutch desire to monopolize trade. Then there was a conflict due to this, the VOC blockaded the route to the port of Banten, resulting in the war in November 1633, the war ended with a peace agreement between the two parties. Although afterward there were still tensions arising from both parties.

# Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa ascended the throne to replace his grandfather who died in 1651. Banten experienced rapid development since it was ruled by Sultan Ageng Tirtayasa, both in the fields of politics, socio-culture, and especially its economy.

Trade relations with Persia, Surat, Mecca, Karamandel, Bengal, Siam, Tonkin and China threaten the position of the VOC based in Batavia. During this time a large irrigation system was built, which was intended to develop agriculture. Between 30km and 40km of canals are built to run 40,000 hectares of new paddy fields and thousands of hectares of coconut plantations.

As a religious person, he was very antipathetic to the Dutch. His guerrilla attack was carried out by land and sea to break the Dutch defense based in Batavia. The acts of terror and sabotage directed at merchant ships seriously endanger the Netherlands. For more than twenty years Banten in a safe and peaceful atmosphere under the authority of Sultan Ageng Tirtayasa.

However, peace was blessed after his eldest son, Sultan Haji returned from the holy land (1676) because he was more in favor of the Dutch than people close to his father. The Sultan of Haji, who was appointed to assist domestic affairs, even compromised with the Company to destroy his own father.

In 1681, Sultan Ageng Tirtayasa had a really difficult time because his son took a coup to the palace with the help of VOC troops from Batavia. Finally, because it was difficult to straighten the way of thinking of his son who had been dragged down by company seduction. Sultan Ageng Tirtayasa finally decided to move to Tirtayasa and form a front there with his loyal followers. This situation is a real result of the political success of the Dutch sheep fight.

Although he had to deal with his own son, he remained steadfast in his stance. The front formed by Sultan Ageng Tirtayasa continued to launch attacks on the Dutch whose influence in the Surosowan palace was getting stronger. On February 27, 1682, the Surosuwan palace was invaded and was successfully occupied for a while, but thanks to the help of the Dutch Sultan Haji managed to maintain his power.

Sultan Ageng Tirtayasa's resistance only stopped after he was captured and imprisoned by the Company until his death in 1692. With the signing of the agreement between the Company and the Sultan of Hajj in August 1682, the sultan's absolute power over his territory ended. the status of the Sultan here is only a puppet symbol of the Dutch government. So that in the development of the Banten kingdom, this continued until the collapse of the sultanate.

History of the Sultanate of Banten

History of Ternate Sultanate Palace in North Maluku Province, Indonesia
The Ternate Sultanate Palace is located on the coastal plain in the village of Soa-Sio, Desa Letter C, Ternate City, North Maluku Province. The location of the Ternate Sultanate Palace is not far from the city center

The Ternate Sultanate had an important role in the eastern region of the archipelago from the XIII century to the XVII century. In its golden age, namely in the sixteenth century, the authority of the sultanate stretched from all regions in Maluku, North Sulawesi, islands in the southern Philippines, to the Marshall Islands in the Pacific.

On December 7, 1976, the Ternate Sultanate Palace was included as a cultural heritage object. The heirs of the Ternate Sultanate led by the Young Sultan Mudzafar Syah, surrendered the sultanate's palace to the Government of the Directorate General of Culture to be restored, maintained and preserved in accordance with the prevailing laws and regulations.

This palace is lined with walls with a height of more than 3 meters, which resembles a fortress. In this palace environment, there is also a royal settlement complex and his family, and the tomb complex of the sultanate's predecessors. This European-style palace overlooking the sea is in a complex with a sultanate mosque which was founded by Sultan Hamzah, the 9th Ternate Sultan.

The Current Ternate Sultanate Palace
The interior design of the palace is full of gold ornaments. In the inner room, there were clothes from embroidery, fancy gold threads, gold jewelry and giant necklaces of pure gold, crowns, shoulder bands, sleeves, earrings, earrings, rings and bracelets which were almost all made of gold. This is an indicator that the Ternate Sultanate had experienced a period of glory.

In addition, this magnificent palace also stores, maintains and exhibits heirlooms belonging to the sultanates, such as weapons (rifles, small cannons, round bullets, spears, machetes and shields), armor, royal clothes, war hats , household appliances, and ancient manuscripts (Al-Quran, edicts, and letters of agreement).

Not far from the palace, there are stalls selling souvenirs and special foods of North Maluku such as papeda (sago), crab walnuts, halua walnuts, bagea, and processed fish, such as fufu fish (smoked fish) and gohu fish

History of Ternate Sultanate Palace in North Maluku Province, Indonesia

Kekuatan Sultan Baabullah dalam Menaklukkan 72 Pulau dan Portugis
Jauh sebelum terbentuknya negara Indonesia, kerajaan-kerajaan sudah berdiri dengan corak serta sistem pemerintahannya sendiri. Kesultanan Ternate merupakan satu kerajaan itu, yakni kerajaan yang mejadikan Islam menjadi dasar nilai serta fondasinya. Sultan Baabullah merupakan penguasa Kesultan Ternate yang mashur dikatakan sebagai sang penakhluk, bahkan juga ada yang mensejajarkan namanya dengan Salahudin Al-Ayubi.

Sultan Baabullah adalah putera Sultan Khairun yang lahir pada 10 Februari 1528 M. Ibunya merupakan permaisuri Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sultan Baabullah adalah sultan serta penguasa Kesultanan Ternate ke-24 setelah ayahnya wafat yang berkuasa pada tahun 1570-1583 M. Sultan Baabullah diketahui menjadi sultan Ternate serta Maluku paling besar selama sejarah, karena sukses menaklukkan Portugis. Ia sukses mengantarkan Ternate ke puncak keemasan diakhir abad ke-16.

Pada saat kepemimpinannya Sultan Baabullah mamapu memperlebar kekuasaannya sampai ke 72 pulau berpenghuni yang mencakup pulau–pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan serta kepulauan Marshall. Beliau juga sebarkan Islam di beberapa daerah itu sesudah mengusir bangsa Portugis yang menjajah.

Waktu kecil Sultan Baabullah banyak belajar pengetahuan agama sekaligus juga pengetahuan perang. Ia serta saudra-saudranya dididik oleh beberapa mubalig serta panglima atas perintah ayahnya. Karena itu tidaklah heran saat menganjak remaja ia sudah ikut serta mengikuti ayahnya dalam menggerakkan urusan pemerintahan serta kesultanan.

Saat pecah perang Ternate–Portugis yang pertama (1559-1567 M), Baabullah menjadi satu diantara putra Sultan Khairun yang diutus menjadi panglima perang. Ia tampil jadi pangliam perang yang cakap serta sukses memberikan kemenangan untuk ternate. Portugispun tertekan serta tawarkan perundingan.

Pada tanggal 25 Februari 1570 M, Sultan Khairun wafat dibunuh saat menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh Portugis. Dalam jamuan makan itu semestinya membahas tentang membaiknya jalinan Ternate serta Portugis. Nyatanya utusan gubernur Portugis Lopez de Mesquita berkhianat serta memerintah pembunuhan pada Sultan Khairun.

Kematian Sultan Khairun langsung membuat rakyat dan raja-raja di Maluku serta dewan kerajaan geram. Kaicil (pangeran) Baabullah lalu dinobatkan menjadi Sultan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah. Dalam pidato penobatannya Sultan Baabullah bersumpah jika ia akan berjuang untuk menegakkan kembali panji-panji Islam di Maluku serta jadikan kesultanan Ternate menjadi kerajaan besar dan bertindak untuk membalas perbuatan bangsa penjajah postugis, sampai orang paling akhir bangsa Portugis meninggalkan wilayah kerajaannya.

Tidak berselang lama sesudah penobatannya Sulban Baabullah secara langsung mengumpulkan pasukan serta membuat taktik perang. Ia lalu mengatakan jihad serta tampil jadi koordinator dari beberapa suku yang berlainan yang memiliki akar genealogis sama di nusantara wilayah timur. Raja-raja Maluku yang lainpun melupakan pertarungan mereka serta menyatu pada sebuah komando dibawah Sultan Baabullah serta panji Ternate, begitupun raja-raja serta kepala suku di Sulawesi dan Papua.

Sultan Baabullah mempunyai panglima – panglima yang andal, salah satunya Raja Jailolo Katarabumi, salahakan (gubernur) Sula Kapita Kapalaya, salahakan Ambon Kapita Kalakinka, serta Kapita Rubuhongi. Sultan Baabullah juga mempunyai 120.000 prajurit serta dapat mengerahkan 2000 kora-kora (perahu/kapal perang khas masyarakat Maluku).

Dengan kemampuan yang demikian besar benteng – benteng Portugis di Ternate yaitu Tolucco, Santo Lucia serta Santo Pedro dalam kurun waktu singkat bisa dikuasai. Cuma tersisa Benteng Sao Paulo tempat tinggal De Mesquita. Atas perintah Baabullah pasukan Ternate mengepung benteng Sao Paulo serta akan memutus hubungan dengan dunia luar, supply makanan dibatasi sekedar hanya supaya penghuni benteng dapat bertahan.

Sultan Baabullah dapat saja menguasai benteng itu dengan kekerasan akan tetapi ia tidak tega karena cukuplah banyak rakyat Ternate yang sudah menikah dengan orang Portugis serta mereka tinggal dalam benteng bersama dengan keluarganya. Sultan Baabullah lalu mencabut semua sarana yang diberikan sultan Khairun pada Portugis khususnya menyangkut misi Jesuit.

Perang Soya – Soya (perang pembebasan negeri) dikobarkan, posisi Portugis di beberapa tempat digempur habis – habisan, tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 30 juanga yang berisi 3000 pasukan dibawah pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon serta sukses mendudukinya.

Sampai selanjutnya tahun 1575 M semua kekuasaan Portugis di Maluku dijatuhkan. Setelah lima tahun orang-orang Portugis serta keluarganya hidup menanggung derita dalam benteng, terputus dari dunia luar menjadi balasan atas penghianatan mereka. Sultan Baabullah pada akhirnya memberikan peringatan supaya mereka tinggalkan Ternate kurun waktu 24 jam. Mereka yang sudah beristrikan pribumi Ternate diijinkan masih tinggal dengan prasyarat jadi kawula kerajaan.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah jadikan benteng Sao Paulo menjadi benteng sekaligus juga istana, ia melakukan renovasi serta menguatkan benteng itu lalu merubah namanya jadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih tetap meneruskan jalinan dagang dengan bangsa barat termasuk juga Portugis serta mengijinkan mereka tinggal di Tidore, namun tanpa pemberian hak spesial, beberapa pedagang barat diperlakukan sama juga dengan pedagang – pedagang dari negeri lainnya serta mereka masih dipantau dengan ketat.

Kekuatan Sultan Baabullah dalam Menaklukkan 72 Pulau dan Portugis

3 Datuk Asal Minangkabau Penyebar Islam di Sulawesi Selatan
Menilik jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan, akan tetap diidentikkan dengan kehadiran tiga mubalig dari Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, serta Datuk ri Patimang. Kehadiran mereka pada abad ke-17 M. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sebetulnya telah ada semenjak abad ke- 16 M, akan tetapi penyebarannya belumlah demikian massif.

Umumnya sejarawan mencatat jika ke-3 datuk itulah pembawa ajaran Islam pertama di tanah Sulawesi Selatan. Nama mereka tertulis menjadi tokoh utama dalam penyebaran agama Islam. Akan tetapi, beberapa catatan serta peniggalan arkeologis mengatakan ada penyebaran Islam jauh sebelum ke-3 Datuk itu. Yaitu Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini yang datang serta menyebarkan Islam di Wajo pada tahun 1320 M, tiga abad sebelum kehadiran Datuk Tellue’.

Tiga ulama ini begitu sampai di Sulawesi tidak secara langsung berdakwah, namun terlebih dulu membuat taktik dakwah. Mereka mendapatkan info jika raja yang sangat dimuliakan serta dihormati merupakan Datuk Luwu karena kerajaannya dipandang sebagai kerajaan paling tua serta tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sedang yang sangat kuat serta punya pengaruh adalah Raja Gowa dan Raja Tallo.

Sesudah mendapatkan info serta keterangan yang cukup, barulah mereka pergi ke Luwu untuk menjumpai Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Mereka pada akhirnya sukses mengislamkan elite-elite kerajaan Gowa-Tallo serta membuat Islam menjadi agama yang sah di kerajaan pada tahun 1605. Datuk Luwu selanjutnya diberi nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin, sedang Raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka diberinama Sultan Abdullah Awalul Islam.

Sesudah sukses mengislamkan Datuk Luwu serta Raja Tallo, ke-3 ulama ini lalu menyebar serta membagi lokasi tujuan dakwah berdasar pada keadaan serta ketrampilan mereka. Abu Hamid menyampaikan dalam “Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis-Makassar” seperti berikut :

Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal yang pakar dalam pengetahuan fikih bertugas di Kerajaan Gowa-Tallo. Penduduk yang dihadapi di kerajaan ini masih tetap memegang kuat kebiasaan lama seperti perjudian, minum ballo’, serta sabung ayam. Untuk mengislamkan mereka, cara dakwah yang dipakai yaitu dengan penegakan hukum syariat.

Datuk Patimang atau Khatib Sulung yang pakar tauhid bertugas di Kerajaan Luwu, karena keadaan masyarakatnya masih tetap berdasar teguh pada keyakinan nenek moyang mereka yang menyembah Dewata Seuwae. Datuk Patimang mengajari tauhid sederhana seperti sifat Tuhan. Penekanan tauhid ini untuk menggantikan Dewata Seuwae dengan konsep keimananan pada Allah Yang Maha Esa.

Datuk ri Tiro atau Khatib Bungsu yang pakar tasawuf bertugas di Bonto Tiro karena penduduk di daerah itu masih tetap memegang teguh ajaran – ajaran kebatinan serta sihir. Penduduk di Bonto Tiro populer seringkali memakai pengetahuan sihir atau kemampuan sakti (doti) untuk memusnahkan musuh. Mereka yakin dapat mengislamkan penduduk semacam itu dengan pengetahuan tasawuf.

Ke-3 Datuk ini sebarkan Islam sampai tutup usia serta dimakamkan di lokasi tugas mereka masing-masing. Datuk ri Bandang meninggal dunia serta dimakamkan di lokasi Tallo. Makam Datuk ri Bandang sekarang ada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Khatib Sulung lalu melanjutkan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo serta beberapa kerajaan yang belumlah memeluk Islam. Khatib Sulung meninggal dunia serta dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, oleh karena itu ia bergelar Datu Patimang.

Sementara Datuk ri Tiro meninggal dunia serta dimakamkan di Tiro atau saat ini Bonto Tiro. Makam Datu ri Tiro bisa ditemui di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghargai Datu ri Tiro, Pemerintah Kab. Bulukumba lalu menamai Islamic Center yang baru dibuat dengan nama Islamic Center Datu Tiro.

3 Datuk Penyebar Islam di Sulawesi Selatan Asal Minangkabau

Sejarah Kedatangan Islam di Tanah Para Raja, Maluku dan Maluku Utara
Maluku adalah daerah yang memilki sejarah panjang serta telah diketahui sampai mancanegara terlebih derah Timur Tengah. Maluku banyak diketahui dengan sebutan Jazirah al-Mamluk atau Kepulauan Raja-raja. Sebutan ini bukan tanpa argumen, karena Maluku merupakan suatu negeri di Timur Indonesia yang begitu punya pengaruh dengan empat kerajaan yakni Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.

Menurut pencarian sejarah, Maluku telah diketahui semenjak jaman Mesir di pimpin oleh Firaun dibuktikan dengan catatan tablet tanah liat yang diketemukan di Persia, Mesopotamia dan Mesir. Dalam catatan itu dijelaskan ada negeri dari timur yang begitu kaya, adalah tanah surga, dengan hasil alam berbentuk cengkeh, emas serta mutiara. Tanda-tanda itu memberikan indikasi tanah Maluku yang memang diketahui pengahsil Pala, Fuli, Cengkeh serta Mutiara semenjak jaman dulu.

Banyak catatan histori lainnya yang mengatakan mengenai Maluku diantaranya di kitab Nagarakretagama (1365), Catatan dari Dinasti Tang (618-906) di Cina. Ini menunjukkan keberadaan tanah Maluku benar-benar sangat tua serta mempunyai dampak terpenting didunia khususnya menjadi penghasil rempah- rempah.

Terkait dengan masuknya Islam di Maluku diketemukan beberapa versi menurut pandangan beberapa tokoh serta sejarawan. Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam” yang mengulas sejarah perkembangan umat Islam dari mulai jaman jahiliyah menyebutkan bahwa Islam masuk di Maluku semenjak tahun 650 M atau 17 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw. Diterangkan bahwa pada saat itu sudah banyak pedagang Arab serta Persia yang beragama Islam ada di Maluku untuk mencari rempah-rempah. Bahkan juga diprediksikan mereka menikah dengan wanita pribumi serta kemungkinan meninggal dunia di sana.

Selain itu berdasarkan catatan Hikayat Ternate yang ditulis oleh Naidah dijelaskan jika pengislaman di Maluku berlangsung pada 643 H (1250 M). Diprakarsai oleh tokoh bernama Jafar Shadik atau Jafar Nuh yang hadir dari Jawa datang ke Ternate pada Senin 6 Muharam 643 H atau 1250 M. Diluar itu ada juga yang menyampaikan jika Islam masuk di Maluku pada abad ke-15 M dibawa oleh Syekh Mansur. Ia merupakan seseorang pedagang dari Arab yang menyiarkan Islam semasa Calano Caliati di Tidore. Dalam proses penyebaran Islam di Maluku juga dikenal nama lainnya, yakni Datu Maulana Hussein yang sebarkan Islam di wilayah Ternate pada saat pemerintahan Kalano Marhum.

Menurut cataan baangsa Portugis Islam masuk di Maluku sudah berada pada wilayah Ternate semenjak 1460 M. Ini berarti Islam telah ada serta turut memengaruhi kehidupan tatanan sosial walau belum juga cukup kuat. Hingga kemudian sewaktu Sultan Zainal Abidin (1486-1500) pengaruh Islam mengakar dalam penduduk. Beragam versi diatas pada umumnya menyetujui jika Islam masuk ke Maluku melalu jalan perdagangan. Zainal Abidin di ketahui sempat pergi ke Jawa untuk mendalami Islam. Ia belajar secara langsung dari ulama Sunan Giri atau wali terkenal di tanah Jawa kala itu.

Selanjutnya baru muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang dikenal dengan sebutan Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja). Kesultanan Ternate yang di pimpin oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore di pimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang di pimpin oleh Sultan Sarajati, Kesultanan Bacan yang di pimpin oleh Sultan Kaicil Buko.

Sejarah Kedatangan Islam di Tanah Para Raja, Maluku dan Maluku Utara

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua
Islam adalah agama yang di turunkan untuk semua umat manusia. Oleh karena itu atas kehendak serta takdir Allah swt. menyebar ke seluruh pelosok dunia, tidak kecuali bumi Nusantara satu diantaranya wilayah Papua. Kedatangan Islam di bumi Papua mulai sejak lima ratus tahun yang lalu . Semangat syiar Islam sudah membawa muslim jaman itu menerjang derasanya ombak serta kuatnya gelombang hingga datang di bumi cendrawasih.

Berdasarkan catatan sejarah Papua telah diketahui begitu lama pada saat Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut dengan sebutan Janggi. Pelaut Portugis yang sempat berkunjung di Papua tahun 1526-1527 M menyebut wilayah itu dengan sebutan ‘Papua. ’ Akan tetapi ada juga yang menyebut wilayah papua dengan sebutan "Isla de Oro" (Island of Gold). Kesamaan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol mengatakan ‘Nieuw Guinea’, mengacu pada lokasi Guinea di Afrika Barat. Papua, mungkin saja datang dari bahasa Melayu, pua-pua, yang bermakna keriting. Arti ini digunakan oleh William Mardsen tahun 1812, serta ada dalam salah satunya kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, lewat kata ‘papoewah’ yang bermakna orang yang memiliki rambut keriting.

Syiar Islam di Bumi Papua terkonsentrasi di bagian Papua Barat, dari mulai Raja Ampat sampai Fakfak. Dalam perkembangannya terdapat banyak versi tentang perkiraan jalur masuk Islam di tanah Papua. Pertama, Menurut Versi Papua, berdasar pada legenda penduduk setempat, terutama di Fakfak. Islam bukan dibawa dari luar seperti Tidore atau pedagang Muslim, tapi Papua telah Islam semenjak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Kedua, Menurut versi Aceh. Versi ini berdasar pada sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang mengatakan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai telah mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) pada tahun 1224 M. Syekh Iskandar saat itu membawa beberapa kitab yaitu mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid serta kitab himpunan doa. Ada juga manuskrip yang ditulis diatas pelepah kayu, serupa daun lontara. Beberapa manuskrip itu dipercaya selamat dan masih ada sampai sekarang ini.

Menurut tradisi lisan lainnya di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam serta Masjid Rumbati menjadi bukti peninggalan sejarah. Akan tetapi informasi lainnya menyebutkan kalau Abdul Ghafar ada di Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini harus dilihat kembali, terlebih dalam soal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar ada pada abad ke 16, berbarengan dengan waktu keemasan Kesultanan Ternate serta Tidore yang menjadi bandar jalur sutera serta meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi sampai Papua.

Ketiga, Menurut versi Arab. Versi ini mengatakan jika Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman, yang berlangsung pada abad ke 16. Perihal ini sesuai dengan bukti sejarah Masjid Tunasgain yang dibangun kurang lebih pada tahun 1587 M. Informasi lainnya menyebutkan bahwa Syekh Jubah Biru datang di papua pada tahun 1420 M.

Pandangan yang nampaknya lebih kuat tentang masuknya Islam di Papua ialah masuknya Islam di Papua lewat Kesultanan Bacan (Maluku Utara). Di Maluku ada empat Kesultanan, yakni, Bacan, Jailolo, Ternate serta Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J. T. Collins, mengatakan, berdasar pada analisis linguistik, Kesultanan Bacan merupakan Kesultanan paling tua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Ada banyak nama tempat yang disebut sebagai pemberian dari Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing serta air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan sebagainya. Beberapa nama itu adalah sebagai bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat serta keturunan Raja Bacan sebagai Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan sebarkan Islam di Papua kurang lebih pada pertengahan abad ke 15 dan abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, sesudah beberapa pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan itu berkunjung ke Kesultanan Bacan pada tahun 1596.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Pandangan ini di dukung juga oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang mengatakan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) lakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di Misool, Sultan Ibnu Mansur yang kerap disebut sebagai Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War lalu dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yakni Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya sampai ke wilayah Raja Ampat bahkan juga sampai di Biak.

Penyebaran Islam selanjutnya disebarluaskan ke beberapa wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma serta Lakahia oleh beberapa pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate serta Tidore. Kedatangan orang Buton didukung dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia mengatakan di daerah pesisir Onin (Fakfak) sudah tinggal orang Pouton (Buton) yang berdagang serta sebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua jadi lebih gampang karena persamaan budaya serta bahasa. Bahasa yang digunakan termasuk bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan serta Sula (bahasa Biak di Raja Ampat ; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak serta Seram, ataupun bhs non Austronesia seperti di Ternate ; Tidore dan Jailolo karena masuk kelompok Bhs Halmahera Utara, yakni bhs Galela). Kemudahan komunikasi dengan beberapa pemimpin penduduk Papua, yang lalu memeluk Islam, menggerakkan berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom dibawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini ada di Raja Ampat (Kolano Fat), yang masih terpatri sampai sekarang menjadi jati diri Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terbagi dalam Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) serta Kerajaan Batanta.

Pengaruh Islam pada penduduk papua bisa diprediksikan dengan menyaksikan penerapan ajaran Islam yang ada di penduduk Papua waktu itu. Penerapan hukum Islam, contohnya, sudah diterapkan pada penduduk Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Disana ada Hakim Syara’ yang bekerja mengurus tentang perkawinan, kematian serta sholat berjamaa’ah. Hadirnya Masjid-masjid tua, misalnya Masjid Tunasgain, yang diprediksikan dibangun semenjak tahun 1587 M. Atau di Patimburak, yang diprediksikan semenjak abad ke 19 M.

Hadirnya Masjid ini selain peninggalan fisiknya, bisa juga kita prediksi kedudukannnya dalam penduduk. Adanya Masjid semenjak abad ke 16, mengisyaratkan lama sudah dilaksanakannya pendidikan Islam lewat khotbah Jum’at. Adanya Masjid dapat juga kita prediksikan berperan menjadi tempat pendidikan, walau berbentuk yang simpel di penduduk. Alur pendidikan sederhana ini bisa ditelusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno serta teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M. Kedatangan kitab Barzanji, bisa kita prediksikan menjadi usaha untuk menumbuhkan kebiasaan Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam yang lain dalam penduduk, bisa disaksikan dari beberapa nama yang ada dalam penduduk Papua pribumi. Di desa Lapintol serta Beo, biasanya, golongan pria menggunakan beberapa nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk wanita. Islam juga merubah tampilan penduduk. Bila di pedalaman Papua, penduduk aslinya belumlah kenakan pakaian, serta cuma tutup sisi vitalnya saja, tetapi di pesisir masyarakat Papua situasi begitu berlainan. Tidak bisa disangkal, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih tetap bisa diketemukan muslim Papua waktu itu yang meyakini keyakinan Animisme atau keyakinan lokal yang lain. Proses penyebaran Islam lewat kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam begitu tergantung pada kepedulian kepala suku itu. Demikianlah Islam berkembang di Papua dengan pasang surut persebarannya sampai saat ini.

Perjalanan Panjang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Papua

Sejarah Benteng Tolukko di Ternate Maluku Utara
Tolukko merupakan salah satu nama benteng tua di Ternate Maluku Utara yang dibangun pada tahun 1540 oleh Francisco Serao yang merupakan seorang panglima dari Portugis. Benteng ini kemudian dikenal dengan nama benteng Holandia.

Dalam penuturan sejarahnya ada yang menyatakan bahwa nama Tolukko merupakan nama dari penguasa ke-10 yang duduk di atas singgasana Ternate yaitu Kaiil Tolukko. Namun kalau dilihat kagi dari tahun pemerintahan sultan ini yaitu pada tahun 1692 maka, nama benteng ini tidak mungkin menggunakan nama sultan yang memerintah setelah pembangunan benteng itu.

Merujuk pada catatan sejarah Belanda pada tahun 1610, benteng Tolukko direnovasi oleh Pieter Both yang merupakan seseorang yang berasal dari Belanda, untuk digunakan sebagai pertahanan dalam melawang bangsa Spanyol yang waktu itu sibuk menggempur pulau Ternate.

Benteng ini selain dijadikan sebagai tempat pertahan untuk melawan portugis, juga untuk menggiring kembali rakyat yang waktu itu melarikan diri dari serangan Spanyol untuk mau kembali tinggal di benteng tersebut. Pada saat itu benteng Malayo dijadikan sebagai tempat pelarian sebagian besar rakyat.

Dilaporkan bahwa, pada tahun 1612 terdapat 15 hingga 20 tentara di dalam benteng ini, yang dilengkapi dengan sejumlah persenjataan dan amunisi. Pada tahun 1627 di bawah pemerintahan Gubernur Jacques le Febre, dikatakan bahwa benteng yang berada tidak jauh di atas bukit di sebelah Utara Benteng Malayo ini, dilengkapi dengan dua menara berukuran kecil.

Pada waktu itu benteng tersebut dipimpin oleh seorang prajurit yang berpangkat Korporal, dia didatangkan dari Benteng Malayo. Prajurit tersebut juga menjadi sumber pemasok bahan makanan untuk 22 orang tentara yang sedang bertugas di dalam Benteng Tolukko pada saat itu.

Di tahun 1661, Dewan Pemerintahan Belanda memberi izin kepada Sultan Mandarsyah dari Ternate untuk tinggal di dalam benteng tersebut dengan pasukannya. Dikarenakan kehadiran Sultan Ternate di dalam benteng itu, maka garnizun Belanda di dalam Benteng Tolukko dikurangi hingga tersisa 160 orang.

Pada tanggal 16 April 1799, pasukan Kaicil Nuku (Sultan Tidore yang ke-19) melakukan penyerangan terhadap benteng Tolukko namun mereka dapat dipukul mundur oleh pasukan yang terdiri dari pasukan Ternate dan Pasukan VOC. Namun dikarenakan pertempuran dan khususnya pengepungan yang lama yang dilakukan oleh pasukan Nuku maka, penduduk kota Ternate yang pada bulan Juni 1797 berjumlah 3.307 jiwa, kemudian menyusut hingga tinggal 2.157 jiwa.

Penduduk lainnya meninggal akibat dari peperangan dan kelaparan atau melarikan diri ke Halmahera. Pada masa kepemimpinan Residen P. Van der Crab yaitu pada tahun 1864, benteng tesebut dikosongkan karena hampir seluruh bangunan sudah rusak.

Sesudah kemerdekaan yaitu pada tahun 1996, bangunan tua ini dipugar kembali, namun upaya pemugaran tersebut justru menghilangkan keaslian bangunan seperti terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut dihilangkan.

Sejarah Benteng Tolukko di Ternate Maluku Utara