Coretanzone: Shalat

    Social Items

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud
Shalat Tahajud merupakan salah satu shalat di malam hari yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah kepada umatnya, karena beribadah di shalat malam selain mendapatkan banyak manfaat juga dapat menjadikan seorang hamba lebih bertaqwa kepada Allah. Lalu apa sebenarnya shalat tahajud itu? Dan bagaimana tata cara pelaksanaannya sesuai ketentuan Islam? Berikut ini Ulasannya.

Mengenai pengertian tahajud, ada yang mengatakan: “Hajadar rajul”, jika dia tidur pada malam hari. “wa hajada” jika dia shalat pada malam hari. Sedangkan al-mutahajjid adalah orang yang bangun tidur untuk mengerjakan shalat. Dengan demikian, maka Shalat sunat tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat isya dan Shalat shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rakaat shalat tahajud minimal dua rakaat hingga tidak terbatas.

Hukum Shalat Tahajud


Hukum shalat tahajud adalah sunnnah mu’akkadah. Hal ini ditetapkan melalui al-Qur’an, dan as-Sunnah, maupun ijma’ ulama. Allah berfirman dalam rangka menyifati hamba-hamba rabb yang maha pengasih:

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا

Terjemahannya: Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Q.S. Al-furqan: 64)

Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan orang-orang yang beriman  dengan sempurna:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٧ 

Terjemahannya: (16) Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. (17) Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (Q.S. As-Sajdah: 16-17)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda tentang keutamaan shalat tahajud yang artinya; “sebaik-baik puasa setelah ramadhan adalah bulan Allah, Muharram,dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam”(HR.Muslim).

Semua kaum muslimin juga telah ber ijma’ bahwa hukum shalat tahajud adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang di tekankan.

Waktu Melaksanakah Shalat Tahajud


Waktu paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud adalah pada sepertiga malam terakhir. sebab Allah turun ke langit dunia pada waktu tersebut. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu hurairah dalam kitab shahihn bukhari dan muslim.

Disebutkan dalam shahih muslim dari jalur Hafshah dan Abu mu’awiyah, dari a’masy, dari Abu sufyan, dari jabir, dia berkata Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang khawatir tidak dapat melaksanakan shalat lail pada akhir malam maka hendaklah ia berwitir pada awalnya.dan barang siapa yang merasa yakin dapat melaksanakannya baginya shalat witir pada akhir malam.karena sesungguhnya shalat pada akhir malam disaksikan”(HR. Muslim)

Sedang Abu mu’awiyah mengatakan: “dihadiri”

Maka barang siapa lebih suka mengerjakan shalat malam pada awal maupun pertengahan malam, hal tersebut tidaklah terlarang karena hal itu adalah kebaikan. Tetapi paling utama jika dilaksanakan pada akhir malam. Sesuai amalan Rasullah Shallallahu alaihi wasallam secara kontinyu. Disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya:

“Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir yang berakhir pada waktu sahur”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya;

"Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir pada awal malam, pada pertengahan malam dan pada akhir malam dan witirnya selesai pada waktu sahur”(HR. Muslim)

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan shalat malam dan shalat witir adalah sesudah isya’. sekalipun shalat isya’ dijamak taqdim dengah shalat maghrib ataupun dijamak ta’khir pada pertengahan malam. adapun shalat malam dan shalat witir sebelum isya’, itu tidak sah menurut pendapat yang rajih.

Mengenai pembagian sepertiga malam dimulai setelah shalat Isya atau sekitar pukul 19:00 sampai pukul 22:00, sepertiga malam yang kedua mulai dari pukul 22:00 sampai dengan 01:00 dan sepertiga malam yang terakhir muali dari pukul 01:00 sampai dengan waktu subuh.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah tidak melaksanakan shalat tahajud pada malam hari dikarenakan beliau salallahu ‘alaihiwasallam ketiduran dan beliau shalallahu ‘alaihiwasallam melaksanankannya di siang hari sebagaimana hadits yang artinya:

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah ketiduran atau kurang sehat untuk melaksanankan shalat lail. Maka beliau shalat pada siang hari dengan duabelas rakaat”(HR. Muslim)

Tetapi, melaksanakan shalat tahajud pada siang hari karena tertinggal dimalam harinya hanya di khususkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam saja dikarenakan shalat malam hukumnya wajib bagi beliau shallahu ‘alaihiwasallam dan sunnah muakkadah bagi umatnya.

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadhan atau di bulan lainnya sebagaimana disebutkan dalam shahih bukhari,muslim maupun kitab hadits lainnya.

Dari jalur Malik dari Said bin Abu said al-maqbari, dari Abu salamah bin Abdurrahman: sesungguhnya dia (Abu Salamah) memberitahukan kepada Abu Said,ia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam mengerjakan shalat lail? Aisyah menjawab:

"Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat. Baik di bulan ramadhan ataupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat jangan tanyakan bagus serta panjangnya shalat beliau,kemudian beliau shalat tiga rakaat”.(HR. Bukhari dan muslim)

Sebagian ulama berpendapat bolehnya menambah shalat lail lebih dari sebelas rakaat. barang siapa yang mengerjakan shalat lail dua puluh rakaat atau duapuluh tiga rakaat atau lebih dari itu sah saja. niscaya dia tetap mendapat pahala. Al-imam Ibnu Abdil Barr menyebutkan adanya ijma’ ulama dalam masalah ini. Beliau berkata:

"Ulama telah sepakat tentang tidak adanya batasan dalam jumlah rakaat ataupun lama dalam pelaksanaan shalat lail.ia termasuk ibadah nafilah, barang siapa yang ingin memperlama pelaksanaanya dengan jumlah rakaat yang sedikit ataupun memperbanyak rukuk dan sujud di dalamnya,maka hal itu tergantung padanya.”

Tetapi memilih pendapat yang rajih dan mengerjakan yang lebih utama merupakan tuntutan syar’i. sebagaimana telah terang tuntunan Rasulullahshalallahu ‘alaihiwasallam secara kontinyu hingga akhir hayat beliau.lalu diikuti oleh para sahabat yaitu mengerjakan shalat lail sebelas rakaat di bulan Ramadhan ataupun di bulan lainnya.

Dan tidaklah benar jika terdapat salah seorang sahabat yang membedakan jumlah rakaat shalat lail pada awal dan akhir bulan ramadhan seperti kebiasaan sebagian masyarakat sekarang. Para sahabat mengerjakan shalat lail dengan sebelas rakaat sepanjang hidup mereka.Bahkan di penghujung bulan ramadhan mereka semakin giat meningkatkan kualitas shalatnya bukan kuantitasnya.

Cara Shalat Tahajud


Pada dasarnya, gerakan atau tata cara sholat tahajud pun tidak berbeda dengan sholat-sholat sunnah yang lain.

Niat shalat tahajud dapat dilakukan di dalam hati atau juga dapat dilafalkan. Niat shalat tahajud adalah “Ushallii sunnatat-tahajudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa”. Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah”

Melakukan sholat sunnah tahajud, kemudian melakukan gerakan sholat seperti biasa mulai dari takbir hingga salam. Biasanya selalu dilakukan dengan 2 rakaat (setiap 2 rakaat salam). Pada rakaat pertama setelah takbir membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjjutkan dengan surah lainnya. Pada rokaat kedua pun sama, membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah lainnya.

Adapun surat yang disunnahkan dibaca dalam shalat Tahajud setelah membaca surat al-fatihah adalah adalah; 1) Pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah, membaca Surat Al-Baqarah ayat 284-286. 2) Pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah, membaca surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Numun juka belum hafal surat-surat tersebut, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.

Setelah selesai mengerjakan shalat Tahajud, perbanyaklah membaca istigfar dan dzikir kepada Allah SWT serta memohon kepada-Nya, kemudian membaca doa sesuai keinginan kita.

Doa Setelah Shalat Tahajud

Apabila Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat Tahajud, lalu berdoa seperti berikut:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembahkecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.

Kiat Mudah Shalat Malam/Qiyamullail


Agar kita diberi kemudahan bangun malam untuk melakukan shalat malam, cobalah tips-tips berikut ini:

1. Aturlah aktivitas di siang hari agar malamnya Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.

2. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.

3. Hindari maksiat, sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, "Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan."

4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya.

5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

6. Baik juga jika janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone.

7. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program tahajud bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.

8. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.

Demikianlah postingan kali ini tentang Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud, semoga bermanfaat.

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud

Golongan Manusia yang Shalatnya tidak Diterima
Shalat adalah ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh semua umat Islam yang sudah baligh, Baligh adalah keadaan dimana seseorang sudah dewasa yang bagi laki-laki biasanya ditandai dengan telah mimpi basah dan perempuan ditandai dengan sudah datang bulan. Saking wajibnya shalat ini, maka orang yang sakit sekalipun harus melaksanakan shalat dengan cara jika tidak bisa berdiri maka dibolehkan dengan cara duduk, jika tidak bisa duduk maka dibolehkan dengan cara tidur dan menggerakkan anggota tubuh, jika tidak bisa juga maka shalat dengan hati. Jika shalat ditinggalkan maka akan mendapatkan dosa yang sangat besar dan akan mendapatkan siksaan kelak di akhirat.

Pada dasarnya segala sesuatu itu dimulai dengan niat, sehingga shalat yang benar adalah dengan niat hanya kepada Allah semata, bukan untuk ditonjolkan kepada orang lain. Kalau shalat dengan niat riya’ maka shalat tersebut tidak diterima.

Selain itu ada lima golongan manusia yang shalatnya tidak diterima Allah sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik R.A. yang menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda bahwasanya “lima (golongan manusia) yang tidak ditermi shalatnya yaitu:

1. Istri yang marah kepada suaminya

2. Hamba sahaya yang lari dari tuannya,

3. Orang yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, di mana ia tidak berkata-kata dengan saudaranya,

4. Orang yang terus menerus minum minuman keras,

5. Imam suatu kaum, di mana ia mengimami shalat mereka, sedangkan mereka benci kepadanya.”

Al-Faqih menjelaskan bahwa kebencian yang dimaksud hadis tersebut terdiri atas dua hal. Pertama, apabila suatu kaum membenci imamnya karena akhlaknya yang kurang baik atau akhlak yang buruk, dan banyak salah dalam membaca bacaan al-Quran dalam shalat, sedangkan dalam jamaah tersebut terdapat orang yang fasih atau lebih baik bacaan al-Qurannya daripada imam tersebut, maka inilah orang yang dilarang menjadi imam shalat.

Kedua, jika kebencian itu lahir karena imam tersebut menyeru kepada jamaahnya untuk berbuat kebaikan dan melarang jamaahnya untuk berbuat mungkar atau karena lahir rasa dengki yang disebabkan oleh sesuatu, kemudian jamaah membencinya, maka kebencian yang kedua ini tidak dapat diterima, sehingga orang tersebut tetap menjadi imam mereka dan kebencinan tersebut jangan dipedulikan.

Dengan demikian maka, kita sebagai manusia sudah seharusnya menjaga perilaku kita dan menjaga hati kita agar selalu teguh beriman dan bertaq kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, agar segala amal ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah s.w.t. Wallahu a’lam.

Golongan Manusia yang Shalatnya tidak Diterima

Kamu tentu sering mendengar pujian-pujian yang ditujukan kepada Allah, satu di antaranya adalah sifat-Nya yang Maha Pemurah. Tak pernah Allah membebani hamba-Nya dengan tugas yang berada di luar jangkauan hamba-Nya. Ketika kita sakit, Allah memperbolehkan kita meninggalkan puasa wajib. Kita diperkenankan menggantinya di lain waktu ketika kondisi telah sehat kembali. Ketika tidak ada air, Allah tidak memaksa kita untuk melakukan wudhu ataupun mandi besar dengan air. Cukup dengan tayamum, Allah tetap menerima ibadah kita. Termasuk dalam jumlah rakaat shalat, ada keringanan yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Dalam keadaan tertentu, kita diperbolehkan menjamak shalat. Apa sesungguhnya shalat jamak itu? Kapan kita diperbolehkan melakukannya? Bagaimanakah caranya?

Tata Cara Shalat Jamak dan Shalat Qasar
Kewajiban shalat telah termaktub jelas pada Surah an-Nisa: 103. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga menganjurkan agar kita melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Namun demikian, hidup memang penuh rintangan. Sering kali kita mengalami halangan dalam suatu hal, termasuk dalam pelaksanaan shalat. Jangankan berjamaah di masjid, shalat tepat waktu saja kadang sulit dilaksanakan.

Nah, dalam hal ini, ada alasan-alasan khusus yang diterima oleh Allah sehingga kita bisa mendapatkan rukhsah dalam pelaksanaan shalat wajib. Rukhsah adalah diperbolehkannya seorang muslim menjalankan shalat wajib dengan cara jamak atau qasar. Dijamak artinya digabung, sedangkan diqasar berarti dipendekkan atau diringkas. Keringanan tersebut dijelaskan dalam sebuah hadis yang artinya.

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw. apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan shalat Zuhur sampai waktu Asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua shalat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu zuhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan shalat Zuhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat jamak dan qasar merupakan bentuk ke-Maha Murah-an Allah. Jika syarat- syarat memang terpenuhi, kita tak perlu sungkan melakukannya. Bukankah jika kita memaksakan diri untuk tidak menjamak atau mengqasar shalat, padahal syarat terpenuhi, adalah sama saja mengabaikan sifat ke-Maha Murah-an Allah?

Ketentuan Shalat Jamak dan Qasar


Setelah mengetahui pengertian shalat jamak dan qasar, kamu pasti bertanya- tanya apa saja ketentuan yang berlaku sehingga boleh melaksanakannya.

Secara umum, shalat jamak dan shalat qasar bisa kita lakukan jika terjadi hal-hal berikut.

1. Karena dalam keadaan safar atau perjalanan jauh.

Dalam keadaan safar atau perjalanan ini sebagaimana firman Allah swt. Dalam Al-Quran yang artinya; “Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. an-Nisa : 101)

Dalil di atas adalah dalil untuk shalat qasar. Adapun untuk shalat jamak, ada hadis riwayat Anas bin Malik yang artinya;

Anas bin Malik r.a. berkata: Adalah Rasulullah saw. jika berangkat pergi sebelum tergelincir matahari mengakhirkan Zuhur hingga Asar, kemudian turun dan mengumpulkan (menjamak) Zuhur dengan Asar, maka jika telah tergelincir matahari sebelum berangkat shalat Zuhur lalu berangkat. (HR. Bukhari, Muslim)

Seorang muslim yang sedang bersafar boleh menjamak atau mengqasar shalatnya asalkan memenuhi ketentuan berikut.

a. Perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan yang baik, bukan untuk maksiat. Misalnya bepergian jauh untuk silaturahmi, mencari ilmu, atau bekerja.

b. Jarak perjalanan yang ditempuh tidak kurang dari 3 farsakh (1 farsakh kira- kira sepadan dengan 4,8 km). Namun demikian, ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa jarak perjalanan yang memenuhi syarat adalah sekitar 80,64 km.

2. Dalam keadaan sakit.

Orang sakit boleh menjamak dan qasar shalatnya apabila sulit mengerjakan shalat pada waktunya.

3. Karena dalam keadaan darurat, ketakutan, atau kekhawatiran yang amat sangat.

Misalnya dalam keadaan perang, hujan lebat, atau angin topan. Shalat jamak dan qasar juga dapat dilakukan antara lain jika terjadi banjir sehingga kamu harus mengungsi.

Nah, itulah mengapa jika kita berada dalam keadaan-keadaan yang me- menuhi syarat untuk melakukan shalat jamak atau qasar, maka itu adalah hak bagi kita untuk melaksanakannya. Mungkin terkadang kamu sering merasa kurang mantap jika menjamak atau mengqasar shalat. Shalat pun kamu lakukan seperti biasa, sekalipun hal itu cukup merepotkan. Memang, shalat kamu tetap sah. Namun hal demikian sesungguhnya tidak sepenuhnya tepat. Bukankah Nabi Muhammad saw. sendiri telah mencontohkannya? Lagi pula, beliau menegaskan bahwa itu semua merupakan keringan dari Allah. Jadi, amat pantas bagi kita untuk menerimanya. Pahala kita pun takkan berkurang karenanya.

Tata Cara Shalat Jamak dan Qasar


1. Shalat Jamak

Sebagaimana telah kamu ketahui sebelumnya, menjamak shalat berarti menggabungkan dua shalat wajib dalam satu waktu. Dalam shalat jamak, yang digabung adalah waktunya, bukan jumlah rakaatnya. Misalnya, saat menjamak shalat Zuhur dengan Asar, bukan lantas kita melaksanakan shalat delapan rakaat. Lakukan shalat Zuhur dulu hingga salam, lalu berdiri lagi untuk melakukan shalat Asar. Adapun shalat selain Zuhur dan Asar, shalat yang bisa dijamak adalah Magrib dan Isya (Al-Jaza’iri, 2009: 416).

Dua waktu shalat yang dibatasi oleh pergantian siang ke malam atau sebaliknya tidak boleh dijamak. Shalat Asar tidak boleh dijamak dengan shalat Magrib, dan shalat Subuh tidak boleh dijamak dengan shalat Zuhur.

Shalat jamak terdiri atas dua macam, yaitu sebagai berikut.

a. Jamak taqdim

Jamak taqdim yaitu shalat jamak yang dilaksanakan pada waktu shalat yang pertama. Jika yang dijamak shalat Magrib dengan shalat Isya, maka jamak taqdim dilakukan pada waktu magrib. Jika yang dijamak adalah shalat Zuhur dan shalat Asar, maka jamak takdim dijalankan pada waktu zuhur.

b. Jamak ta’khir

Jamak ta’khir adalah shalat jamak yang dilaksanakan pada waktu shalat yang kedua. Misalnya menjamak shalat Magrib dengan shalat Isya pada waktu isya, atau menjamak shalat Zuhur dengan shalat Asar di waktu asar. Shalat jamak taqdim maupun ta’khir dilaksanakan sesuai urutan shalat yang lazim. Artinya, shalat Zuhur terlebih dahulu baru Asar, atau shalat Magrib dahulu baru Isya.

Satu hal yang harus kamu ingat dalam hal ini adalah: di antara dua shalat yang dijamak tidak boleh diselingi kegiatan lain, bahkan shalat sunah sekalipun.

2. Shalat Qasar

Cara meringkas shalat qasar ialah dengan melaksanakan shalat fardu dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Dengan demikian, shalat wajib yang boleh diqasar adalah yang jumlah rakaatnya empat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya. Shalat Subuh dan Magrib tidak dapat diqasar.

Adapun cara melaksanakan shalat qasar yaitu dimulai dengan niat meng-qasar shalat, lalu shalat biasa dengan jumlah dua rakaat. Meski hanya dua rakaat, hal tersebut sudah diniatkan untuk melaksanakan shalat wajib, baik Zuhur, Asar, atau Isya. Nah, karena hanya dua rakaat, maka tasyahud awal tidak perlu dilakukan. Tasyahud cukup dilakukan satu kali, yaitu tasyahud akhir.

Tata Cara Shalat Jamak dan Shalat Qasar

Islam mengajarkan kebersamaan dan persaudaraan tanpa memandang derajat dan status sosial. Ajaran ini tercermin pula dalam Shalat, yakni dengan diutamakannya Shalat berjamaah daripada munfarid. Shalat berjamaah lebih utama karena dapat mempererat persatuan umat. Namun demikian, dalam kondisi-kondisi tertentu Shalat dapat dilakukan secara munfarid.

Ketentuan Shalat Berjamaah dan Shalat Munfarid
ilustrasi shalat berjamaah

Islam mengajarkan kita, sesama muslim, untuk selalu bersatu dan saling mengenal. Tahukah kamu bahwa kita sangat dianjurkan untuk senantiasa berjamaah, salah satunya dalam hal Shalat? Inilah yang menunjukkan betapa Islam begitu menekankan semangat kebersamaan. Jamaah dalam Shalat diharapkan dapat tercermin pula dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menjadi umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Shalat berjamaah dilaksanakan oleh dua orang atau lebih, di mana salah seorang menjadi imam, sedang yang lain menjadi makmum. Para makmum wajib mengikuti setiap aba-aba imam. Imam harus bersikap bijak. Pernahkah kamu mendapati seorang imam yang membaca surah sangat panjang, sedangkan makmum terdiri atas kalangan tua renta yang tak kuat berdiri dalam waktu lama? Nah, kamu tentu sepakatkan, bukankah akan lebih bijak jika surah yang dibaca tidak terlalu panjang? Demikianlah tantangan seorang imam. Sebagaimana seorang pemimpin, ia harus memahami kondisi umat yang dipimpinnya. Dengan begitu, segala hal dapat diputuskan dengan lebih bijaksana.

Selain hikmah di atas, masih ada himah dari Shalat berjamaah. Allah menjanjikan pahala lebih besar dari Shalat berjamaah, yakni 27 kali lipat dari Shalat munfarid (individual). Nabi Muhammad saw. sangat menganjurkan dilaksanakannya Shalat berjamaah, khususnya bagi laki-laki. Dengan anjuran ini maka hukum Shalat berjamaah menjadi sunnah muakkadah atau sunah yang ditekankan. Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih afdal (utama) dari Shalat sendirian dua puluh tujuh derajat (tingkat). (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut, kini kita tentu paham bahwa Shalat berjamaah memang lebih baik dari Shalat sendiri. Lantas, apa yang dimaksud Shalat sendiri atau munfarid itu? Kapan kita bisa melakukan Shalat munfarid?

A. Shalat Munfarid


Shalat munfarid yaitu Shalat yang dikerjakan seorang diri, tanpa imam dan makmum. Cara mengerjakan Shalat munfarid pada dasarnya sama dengan Shalat berjamaah, hanya saja semua gerakan dilakukan sendiri, tanpa komando dari imam.

Shalat wajib secara munfarid hanya dianjurkan ketika situasi tidak memungkinkan untuk berjamaah. Situasi yang dimaksud misalnya ketika kamu berada di suatu tempat seorang diri, ketika tidak memungkinkan untuk menuju masjid, dan sebagainya. Selebihnya, apabila situasi memungkinkan, usahakanlah untuk melakukan Shalat wajib berjamaah (Al-Jaza’iri, 2009: 391 – 392). Namun demikian, terdapat pula Shalat yang dalam ketentuannya memang harus dilakukan secara munfarid. Shalat tersebut adalah jenis-jenis Shalat sunah tertentu, misalnya Shalat Tahajud, Shalat Duha, Shalat Tahiyatul Masjid, dan sebagainya.

B. Shalat Berjamaah


1. Syarat Shalat Berjamaah

Dalam Shalat berjamaah terdapat imam dan makmum. Tanpa imam dan makmum, maka Shalat yang dikerjakan adalah Shalat munfarid (Al-Jaza’iri, 2009: 393). Adapun syarat-syarat menjadi imam dan makmum adalah sebagai berikut.

a. Imam

Untuk menjadi imam, diperlukan syarat-syarat tertentu. Setidaknya ada sembilan hal yang harus dipenuhi oleh seorang imam yaitu.

1) Jika imam laki-laki, maka makmum boleh laki-laki dan perempuan. Namun bila imam adalah perempuan, makmumnya hanya boleh perempuan. 2) Imam harus memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik, lebih baik daripada makmumnya. 3) Imam harus mengerti ketentuan hukum dan seluk-beluk mengenai Shalat (syarat, rukun, dan sunah-sunah Shalat). 4) Imam bukanlah orang yang dibenci para makmum.

5) Imam tidak sedang menjadi makmum dari imam yang lain. 6) Imam mengetahui keberadaan makmum dan berdiri paling depan. 7) Imam merapikan dan meluruskan saf (barisan makmum) sebelum Shalat berjamaah dilaksanakan. 8) Imam berniat menjadi imam. 9) Imam sanggup dan sehat dalam melaksanakan Shalat. (Al-Jaza’iri, 2009: 396 – 403)

b. Makmum

Ketentuan makmum Shalat adalah sebagai berikut.

1) Makmum berniat mengikuti imam. 2) Makmum mengikuti segala gerakan imam dalam Shalat, tetapi tidak boleh berbarengan, apalagi mendahului imam. 3) Makmum tidak boleh mendahului imam dalam mengucapkan takbir. 4) Makmum mengetahui gerakan imam dalam Shalat, dengan melihat secara langsung atau melihat saf yang ada di depannya.

5) Makmum harus berada dalam satu tempat (satu masjid atau satu rumah) dengan imam. 6) Makmum tidak boleh berdiri di tempat yang lebih depan dari imam. 7) Jenis Shalat makmum harus sama dengan Shalat imam (misalnya sama- sama Shalat Zuhur). 8) Makmum tidak mengikuti imam yang batal Shalatnya, karenanya jika imam batal makmum harus bersikap mufarraqah (memisahkan diri dari Shalat imam).

a) Makmum masbuk dan makmum muwafiq

Apakah Shalat berjamaah di masjid senantiasa kamu jalani tepat waktu? Jika ya, maka kamu adalah makmum muwafiq, artinya mak- mum yang mengikuti imam secara baik dan sempurna. Sebaliknya, makmum yang terlambat datang pada Shalat berjamaah disebut mak- mum masbuk. Masbuq berarti yang tertinggal atau yang terdahului. Jika makmum tidak mendapati rukuk bersama imam, maka ia sudah terhitung sebagai makmum masbuk.

Apabila makmum masbuk sempat melakukan takbiratul ihram sebelum imam rukuk, maka ia harus membaca Surah al-Fātihah sampai ayat terakhir yang mungkin dibaca. Namun bila Surah al-Fātihah belum selesai dibaca sedangkan imam telah rukuk, ia tak perlu menyelesaikan bacaan Surah al-Fātihah, lalu langsung mengikuti imam rukuk.

Bagaimana jika kita datang pada saat imam rukuk? Jika demikian, maka kita segera melakukan takbiratul ihram, kemudian langsung mengikuti rukuk bersama imam. Kita memang tak sempat membaca al-Fātihah. Namun, sepanjang masih mendapati rukuk bersama imam, kita sebagai makmum tetap terhitung satu rakaat (Al-Jaza’iri, 2009: 404).

Berbeda halnya dengan makmum yang datang pada saat imam dalam posisi gerakan setelah rukuk, yakni i’tidal, sujud, atau duduk. Makmum tersebut dianjurkan langsung mengikuti gerakan yang sedang dilakukan oleh imam. Tentu dengan melakukan takbiratul ihram terlebih dulu. Baru setelah Shalat imam selesai (setelah imam salam), makmum berdiri lagi untuk melanjutkan atau mengganti kekurangan rakaatnya.

Artinya: Dari Abī Hurairah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu datang untuk Shalat ketika kami sujud, maka hendaknya kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rakaat, dan barang siapa mendapati rukuk bersama imam, maka ia telah mendapat satu rakaat. (HR. Abu Dawud)

b) Mengoreksi kesalahan imam

Seperti halnya manusia pada umumnya, seorang imam juga memiliki kelemahan. Kamu tentu tahu, tak ada dosa bagi orang yang lupa. Karenanya, jika imam melakukan kesalahan di tengah pelaksanaan Shalat, bukan berarti Shalat berjamaah harus bubar.

Menurut ajaran Nabi Muhammad saw., jika imam salah dalam membaca ayat Al-Qur’an, makmum laki-laki mengucap tasbih dengan keras untuk  mengingatkan:  “Subhanallah”,  dan  dibacakan  ayat yang benar. Apabila terjadi kesalahan gerakan atau jumlah rakaat, maka cukup dibaca tasbih agar imam menyadari kesalahannya. Bagi makmum perempuan cukup menepukkan tangan satu kali.

Lantas, bagaimana jika kasus yang terjadi adalah batalnya imam dari wudu atau tidak mampu melanjutkan Shalat karena suatu hal? Dalam kasus demikian, imam harus mundur, lalu salah satu makmum maju ke tempat imam untuk mengganti posisinya. Shalat berjamaah pun dapat diteruskan sampai selesai, tak perlu mengulang dari awal.

2. Saf Shalat

Selain semua syarat menjadi imam dan makmum, ada lagi adab atau aturan yang terkait dengan hubungan antara imam dan makmum. Adab yang dimaksud yaitu dalam hal pengaturan saf atau barisan Shalat. Yang bertugas mengatur kerapian, kerapatan, serta kelurusan saf adalah imam.

Ingat, lurus dan kerapian saf menentukan kesempurnaan Shalat berjamaah kita. Untuk itu, pastikan saf kamu lurus dan rapat, sehingga Shalat jamaah menjadi sempurna di sisi Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda yang artinya:

Anas r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Ratakan barisanmu, maka sesungguh- nya meratakan barisan itu termasuk dalam menegakkan (menyempurnakan) Shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun aturan penataan saf Shalat berjamaah adalah sebagai berikut.

a. Untuk makmum satu orang (laki-laki), ia berdiri di kanan imam, sedikit ke belakang.

b. Untuk dua orang makmum laki-laki, satu berdiri di kanan-belakang imam, yang lain di kiri-belakang imam. Jika makmum lain datang, maka hendaklah diisi tempat luang di antara kedua makmum yang datang awal. Makmum berikutnya lalu mengisi tempat di kanan kiri yang masih kosong.

c. Untuk makmum campuran, laki-laki berdiri di  saf  terdepan, perempuan di belakang saf laki-laki, dengan mengambil jarak agak jauh. Jarak yang jauh ini dibuat agar jika ada makmum laki-laki yang terlambat, maka dapat disambung di belakang saf laki-laki paling depan.

d. Untuk makmum dewasa dan anak-anak, saf diatur dengan menempatkan makmum laki-laki dewasa di saf terdepan, kemudian anak laki-laki di belakangnya. Di bagian saf perempuan, berada paling depan adalah makmum anak-anak, dan saf paling belakang ditempati perempuan dewasa. Pada umumnya, keadaan sering tak memungkinkan. Sebab, anak kecil cenderung lebih nyaman berada di dekat ayah atau ibunya. Namun hal ini bukan masalah besar, karena Shalat jamaah akan tetap sah dan sempurna bila terpenuhi syarat dan unsur kesempurnaannya.

3. Halangan Shalat Berjamaah

Memang, Shalat berjamaah di masjid hukumnya bukan fardu ‘ain. Namun Nabi Muhammad saw. sangat menganjurkan kita agar selalu melaksanakan Shalat secara berjamaah. Janganlah kita tinggalkan Shalat jamaah di masjid, terutama bagi laki-laki, kecuali ketika ada halangan.

Berikut adalah beberapa bentuk halangan yang dapatmelepaskan seseorang dari “kewajiban” Shalat berjamaah;

a) karena hujan lebat, b) karena angin badai, c) karena sakit, d) karena lapar dan haus, sedangkan makanan telah tersedia, atau ketika sangat ingin buang air besar atau kecil, e) karena baru saja makan makanan yang baunya sukar dihilangkan, seperti bawang, petai, atau jengkol.

Hikmah ketika Shalat berjamaah adalah semua mukmin berada dalam derajat yang sama satu sama lain, terlepas dari status sosial, kekayaan, dan derajat duniawi. Semua orang berada dalam saf sebagai jamaah Shalat. Dalam situasi Shalat berjamaah, yang membedakan satu dengan yang lain adalah kekhusukan Shalatnya, serta ilmu agama yang dimiliki. Karena itu, seorang imam disunahkan yang paling fasih bacaannya, yang paling baik ilmu agamanya.

Situasi seperti inilah yang kelak akan terjadi di hari akhir. Semua orang berada dalam status yang sama. Yang membedakan adalah amal baiknya semasa hidup.

Dengan Shalat berjamaah, kita selalu diingatkan untuk menempatkan semua urusan hidup pada posisi yang benar, sehingga selain terjaga kerukunan, kita tidak mudah terkena tipuan setan. Orang yang menempatkan urusan dunia sebagai hal paling penting, hingga mengalahkan amal ibadahnya, adalah orang yang telah tertipu.

Ketentuan Shalat Berjamaah dan Shalat Munfarid

Shalat wajib lima waktu merupakan pondasi keislaman seseorang. Melalui Shalat, setiap mukmin terhubung secara langsung kepada Allah. Shalat wajib lima waktu juga dapat menjaga kehidupan tiap mukmin agar selalu berada dalam jalan yang diridai Allah. Selain itu, Shalat merupakan amal pertama yang akan diperhitungkan kelak di hari akhir. Dengan demikian, Shalat berguna bagi setiap mukmin untuk kehidupannya yang lebih baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Ketentuan-ketentuan dalam Shalat Wajib
ilustrasi vi http://habibnovel.com

Perhatikan firman Allah berikut ini.

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ 

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al- Ankabut : 45)

Berdasarkan ayat di atas, Shalat berfungsi untuk menghapus kesalahan- kesalahan yang telah telanjur kita lakukan. Selain itu, Shalat juga dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana cara Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar? Pada waktu mengerjakan Shalat dengan khusuk, kita menempatkan diri sebagai hamba Allah sehingga kita tidak memiliki sifat sombong. Selain itu, bacaan-bacaan Shalat yang dihayati selalu mengingatkan kita kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Oleh karena itu, biasakanlah untuk mengerjakan Shalat dengan khusuk. Salah satu cara untuk menjadi khusuk adalah dengan memahami arti bacaan-bacaan Shalat. Berkonsentrasilah kepada makna bacaan- bacaan Shalat.

Selain menjadi amalan pertama yang akan dihisab, Shalat merupakan sarana untuk mengingat Allah. Mari kita simak firman Allah berikut.

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 

Artinya: Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Taha: 14)

Di negara-negara yang sedang berperang, Shalat merupakan aktivitas yang dilakukan dengan penuh kecemasan. Bahkan Umar Ibn Khattab, sahabat Rasulullah, pernah ditikam ketika beliau sedang melakukan Shalat. Bersyukurlah kita hidup di negara merdeka yang menghormati kebebasan beragama. Oleh karena itu, kerjakanlah Shalat dengan teratur dan khusuk. Berikut ini ketentuan dasar shalat wajib

1. Pengertian Shalat Wajib

Ibadah Shalat dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat dikelompokkan menjadi dua: Shalat wajib dan Shalat sunah. Shalat wajib berarti harus dilaksanakan, sedangkan Shalat sunah boleh ditinggalkan, tetapi jika melaksanakannya jauh lebih baik. Nah, untuk melaksanakan Shalat wajib secara sah, kamu harus terlebih dahulu mememenuhi syarat-syarat maupun rukun- rukunnya.

2. Syarat Wajib Shalat

Orang-orang yang diwajibkan mengerjakan Shalat syaratnya adalah; a) beragama Islam, b) balig (dewasa), tanda-tanda balig antara lain apabila seseorang telah berumur 15 tahun atau sudah pernah mengalami mimpi basah bagi laki- laki, dan sudah haid bagi perempuan, c) berakal, orang tak berakal (gila, pingsan) tidak wajib melaksanakan Shalat, d) suci dari haid dan nifas bagi perempuan, e) telah sampai ajaran Shalat kepadanya.

Melihat ketentuan di atas, apakah kamu termasuk di dalamnya? Jika kamu telah balig maka kamu telah diwajibkan untuk mengerjakan Shalat. Bagaimana jika kamu belum balig? Allah tetap menghargai Shalatmu sebagai amal kebaikan. Selain itu, mempelajari tatacara Shalat dan membiasakan Shalat tepat waktu sangat penting. Kelak ketika telah balig diharapkan kamu telah terbiasa melakukan Shalat dengan benar.

Agar Shalat sah, selain lima syarat di atas, kamu juga harus memenuhi lima syarat; a) suci dari hadas besar dan kecil, b) suci dari najis baik pada badan, pakaian, maupun tempat Shalat, c) menutup aurat. Laki-laki: antara pusar dan lutut; perempuan: seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, d) mengetahui bahwa waktu Shalat telah tiba, e) menghadap ke kiblat (Ka’bah di Mekah).

Setelah kelima syarat sah itu terpenuhi, maka Shalat bisa dimulai. Urutan Shalat wajib biasa dikenal sebagai rukun Shalat wajib. Kamu harus terlebih dahulu mengetahui rukun Shalat, sehingga Shalat wajib yang kamu laksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Rukun Shalat ini harus dipenuhi atau tak boleh ada yang terlewat! Karenanya, kita harus paham benar tentang hal ini.

3. Rukun Shalat Wajib

Rukun Shalat wajib adalah; a) niat, bersengaja di dalam hati untuk melakukan Shalat, b) berdiri bagi yang mampu (jika mampu berdiri boleh duduk atau berbaring), c) takbiratul ihram, yaitu membaca Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar, d) membaca Surah al-Fatihah, e) rukuk dengan tuma’ninah (diam sejenak, tidak tergesa-gesa), f) i’tidal dengan tuma’ninah, g) sujud dua kali dengan tuma’ninah, h) duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah, i) duduk untuk tasyahud awal, j) membaca tasyahud akhir, di waktu duduk pada raka’at terakhir, k) membaca salawat, l) mengucapkan salam yang pertama (menoleh ke kanan), m) tertib, artinya semua hal di atas wajib dilakukan secara benar dan urut.

4. Sunah-sunah Shalat

Selain gerakan dan bacaan yang wajib dilakukan, dalam Shalat terdapat gerakan dan bacaan sunah. Hal ini berarti, apabila gerakan dan bacaan sunah tersebut dilakukan akan lebih baik, tetapi apabila tidak dilakukan Shalat tetap sah. Gerakan dan bacaan sunah dalam Shalat adalah:

a) mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, saat akan rukuk, saat berdiri dari rukuk, dan saat berdiri dari tasyahud awal, b) meletakkan telapak tangan kanan di atas tangan kiri saat bersedekap, c) mengarahkan pandangan ke tempat sujud, d) membaca doa iftitah sesudah takbiratul ihram, e) membaca ta’awuż sebelum membaca basmalah, f) diam sebentar sebelum membaca Surah al-Fātihah dan sesudahnya, g) membaca “Amin” setelah Surah al-Fatihah selesai dibaca, h) membaca surah atau ayat Al-Qur’an setelah membaca Surah al-Fātihah, i) makmum mendengarkan bacaan imam, j) mengeraskan bacaan Surah al-Fātihah dan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di raka’at pertama dan kedua pada Shalat Magrib, Isya’, dan Subuh, k) takbir intiqal, yakni membaca takbir ketika naik dan turun dari gerakan Shalat kecuali i’tidal, l) membaca “Sami‘ allahu liman hamidah” saat bangkit dari rukuk, m) membaca “Rabbanā walakalhamdu” ketika i’tidal, n) meletakkan telapak tangan di atas lutut ketika rukuk, o) membaca doa rukuk, p) membaca doa sujud, q) membaca doa saat duduk di antara dua sujud, r) duduk iftirasy (bersimpuh), s) duduk tawarruk (duduk pada tasyahud akhir), t) salam yang kedua (menoleh ke kiri).

5. Hal-hal yang Membatalkan Shalat

Ada beberapa hal yang harus dihindari ketika sedang Shalat, karena dapat membatalkan Shalat. Apabila dilakukan, Shalat menjadi tidak sah dan harus diulangi dari awal. Hal-hal yang membatalkan Shalat adalah;

a) berhadas besar maupun kecil, b) terkena najis, kecuali najis ma’fu, c) berkata-kata dengan sengaja selain bacaan Shalat, d) meninggalkan salah satu dari syarat dan rukun Shalat, e) tertawa keras, f) makan dan minum, g) bergerak lebih dari tiga kali (selain gerakan Shalat), h) mendahului imam sampai dua rukun, i) berubah niat, j) murtad, keluar dari Islam.

6. Jumlah Rakaat Shalat Wajib

Jumlah rakaat Shalat wajib adalah; a) Shalat Isya : 4 rakaat, b) Shalat Subuh : 2 rakaat, 3) Shalat Zuhur : 4 rakaat, 4) Shalat Asar : 4 rakaat, 5) Shalat Magrib : 3 rakaat.

Jumlah Rakaat dalam shalat, tidak dapat dirubah, ketentuannya sudah ada sejak kewajiban shalat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw. dan disampaikan kepada kita sebagai umatnya.

Shalat menjadi salah satu kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan oleh seluruh umat Islam, kecuali dengan alasan-alasan yang sudah ditentukan oleh syariat Islam. Semoga postingan ini dapat bermanfaat.

Ketentuan-ketentuan dalam Shalat Wajib

Ketentuan Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib
Sebagai muslim, setiap hari kita melaksanakan shalat. Shalat adalah media “pertemuan” kita dengan Allah swt. Saat shalat kita harus khusyuk. Hati fokus kepada Allah, pikiran tertuju sepenuhnya kepadaNya, gerakan anggota badan terkontrol, dan tidak mudah terganggu oleh kilasan pikiran maupun suasana yang ada di sekitar kita. Inilah shalat yang dilaksanakan oleh Rasulullah dan para sahabat. Inilah shalat yang baik.

Coba perhatikanlah shalat kita. Pernahkah saat shalat kalian memikirkan hal lain,  film, gosip, atau bahkan barang yang hilang? Pernahkah pula mata kalian membaca tulisan di baju jamaah di depan saf kalian? Atau mengomentari hal yang terjadi di sekitar ketika kalian shalat? Kalau pernah, berarti shalat kalian telah terganggu. Shalat kalian tidak sempurna.

Inginkah kalian menyempurnakan shalat kalian dari kekurangankekurangan seperti itu? Inilah sebab shalat rawatib penting. Shalat rawatib menyempurnakan kekurangan-kekurangan shalat yang kita laksanakan. Dengan banyak melaksanakan shalat rawatib sebaik mungkin, shalat wajib kita akan diperbaiki dari kekurangan.

Pengertian Shalat Sunnah Rawatib


Kata rawatib berasal dari bahasa Arab yang berarti mengiringi. Secara istilah, shalat rawatib adalah shalat sunah yang dilaksanakan mengiringi shalat fardu. Shalat rawatib berhukum sunah. Artinya, kita mendapatkan pahala jika mengerjakannya dan tidak berdosa jika kita tidak melaksanakannya.

Manfaat Shalat Sunah Rawatib


Shalat rawatib senantiasa dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Beliau juga senantiasa mengingatkan para sahabat untuk mengerjakan shalat yang mendatangkan manfaat besar ini. Manfaat shalat rawatib tersebutkan dalam salah satu hadis yang artinya sebagai berikut. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali akan dihisab adalah shalat. Jika shalatnya bagus, ia telah beruntung, dan jika rusak, ia telah merugi. Apabila kurang sedikit, Allah Azza wa jalla berfirman, “Lihatlah kembali, apakah hamba-Ku itu melaksanakan shalat sunah?” (Jika ditemukan shalat sunah) shalat wajibnya disempurnakan dengan shalat sunah tersebut. Selanjutnya, amal yang lainpun disempurnakan juga.”

Inilah manfaat shalat sunah, terutama shalat sunah rawatib. Shalat ini dilaksanakan mengiringi shalat wajib yang telah Allah swt. wajibkan kepada kita. Kedudukan istimewa ini tentu memiliki fungsi yang sangat penting sebagaimana tersebut dalam hadis di atas.

Macam-Macam Shalat Sunnah Rawatib


Para ulama membagi shalat rawatib dalam berbagai kategori, yaitu berdasarkan waktu pelaksanaannya dan dikuatkannya perintah melaksanakan shalat tersebut.

Shalat sunnah rawatib berdasarkan waktunya 


Berdasarkan waktunya shalat sunnah rawatib dibagi menjadi dua yaitu; 1) Shalat Rawatib Qabliyah, yaitu shalat rawatib yang dilaksanakan sebelum kita melaksanakan shalat wajib. 2) Shalat Rawatib Bakdiyah, yaitu shalat rawatib yang dilaksanakan sesudah kita melaksanakan shalat wajib. Shalat rawatib bakdiyah ini kita laksanakan sesudah shalat Zuhur, Magrib, dan Isya. Adapun shalat Subuh dan Asar tidak diikuti dengan shalat bakdiyah karena Rasulullah melarang kita melaksanakan shalat bakdiyah pada dua waktu tersebut.

Shalat Rawatib Berdasarkan Kuatnya Anjuran


Berdasarkan kuatnya anjuran untuk melaksanakannya, shalat rawatib dibagi menjadi shalat rawatib muakkad dan rawatib gairu muakkad.

1. Shalat Rawatib Muakkad

Shalat rawatib muakkad adalah shalat rawatib yang dikuatkan. Artinya, anjuran untuk melaksanakannya sangat ditekankan oleh Rasulullah saw. Adapun shalat rawatib muakkad terdiri atas shalatshalat sebagai berikut.

  • Shalat dua rakaat sebelum Subuh.
  • Shalat dua rakaat sebelum Zuhur.
  • Shalat dua rakaat sesudah Zuhur.
  • Shalat dua rakaat sesudah Magrib.
  • Shalat dua rakaat sesudah Isya. 

Shalat rawatib muakkad ini merujuk pada hadis Ibnu Umar yang artinya: Dari Abdullah Ibnu Umar berkata, “Saya memelihara dari Rasululah  saw. senantiasa melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudah Zuhur dan dua rakaat sesudah magrib dan dua rakaat sesudah Isya, serta dua rakaat sebelum Subuh.” (H.R. Bukha-ri- dan Muslim)

Hadis inilah yang menjadi dasar para ulama menyebutkan jumlah shalat rawatib muakkad adalah sepuluh rakaat. Disamping pendapat ini, terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa shalat rawatib muakkad berjumlah dua belas rakaat.

Pendapat terakhir ini merujuk pada hadis dari Ummu Habibah bahwa Rasulullah bersabda,”Barangsiapa melaksanakan shalat dua belas rakaat, Allah akan membuatkan rumah baginya di surga. Angka dua belas rakaat tersebut sama dengan shalat rawatib muakkad di atas dengan ditambah dua rakaat lagi sebelum Zuhur.

2. Shalat Rawatib Gairu Muakkad

Shalat rawatib gairu muakkad adalah shalat rawatib yang anjuran melaksanakannya tidak dikuatkan. Shalat ini ada kalanya dilaksanakan Rasulullah saw. dan ada kalanya pula ditinggalkan. Secara umum shalat rawatib gairu muakkad terdiri atas shalat-shalat berikut ini.

  • Shalat dua rakaat sebelum Zuhur selain rawatib muakkad.
  • Shalat dua rakaat sesudah Zuhur selain rawatib muakkad.
  • Shalat empat rakaat sebelum Asar.
  • Shalat dua rakaat sebelum Magrib. Shalat dua rakaat sebelum Isya.

Pada dasarnya mengerjakan shalat rawatib bukanlah sesuatu yang sulit. Kita cukup berniat melaksanakan shalat rawatib yang dimaksud lalu mengerjakannya pada saat yang telah ditentukan. Misal, kita ingin shalat rawatib dua rakaat sebelum Subuh. Untuk melaksanakan hal tersebut kita berniat shalat rawatib qabliyah Subuh lalu melaksanakannya setelah masuk waktu Subuh.

Meski demikian terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat kita ingin melaksanakan shalat rawatib. Hal-hal tersebut sebagai berikut.

1) Rukun shalat dilaksanakan dengan baik. Meskipun shalat rawatib adalah shalat sunah bukan berarti kita boleh mengurangi tata cara shalat sebagaimana telah dituntunkan. 2) Mendahulukan shalat wajib ketika sudah siap dilaksanakan berjamaah. Jika shalat wajib siap dilaksanakan, shalat rawatib harus kita hentikan meskipun hampir selesai kita laksanakan. Hal ini menunjukkan penghormatan kita kepada shalat wajib. 3) Sebaiknya dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat. Hal ini sekadar anjuran sebagaimana shalat rawatib yang sering Rasulullah saw. laksanakan. 4) Dilaksanakan pada waktu yang telah dituntunkan. Shalat rawatib qabliyah kita laksanakan setelah masuk waktu shalat dan shalat rawatib bakdiyah kita laksanakan tidak lama setelah shalat wajib. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan selain zikir, seperti berbincang-bincang, setelah shalat ketika hendak shalat rawatib. 5) Bergeser tempat dari tempat melaksanakan shalat wajib.

Ketentuan Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib

Ketentuan Shalat Jamak dan Qasar Menurut Quran dan Hadis
Kewajiban shalat telah  termaktub jelas pada Surah an-Nisā ayat 103. Nabi Muhammad saw. juga menganjurkan agar kita melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Namun demikian, hidup memang penuh rintangan. Sering kali kita mengalami halangan dalam suatu hal, termasuk dalam pelaksanaan shalat. Jangankan berjamaah di masjid, shalat tepat waktu saja kadang sulit dilaksanakan.
Nah, dalam hal ini, ada alasan-alasan khusus yang diterima oleh Allah sehingga kita bisa mendapatkan rukhsah dalam pelaksanaan shalat wajib. Rukhsah adalah diperbolehkannya seorang muslim menjalankan shalat wajib dengan cara jamak atau qasar. Dijamak artinya digabung, sedangkan diqasar berarti dipendekkan atau diringkas. Keringanan tersebut dijelaskan dalam sebuah hadis yang artinya:

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw. apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan shalat Zuhur sampai waktu Asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua shalat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu zuhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan shalat Zuhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketentuan Shalat Jamak dan Qasar


Secara umum, shalat jamak dan shalat qasar bisa kita lakukan jika terjadi hal-hal seperti berikut ini:

1. Karena dalam keadaan safar atau perjalanan jauh.

Dalam keadaan safar atau perjalan yang jauh seorang muslim diperbolehkan melaksanakan shalat jamak dan qasar, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. an-Nisā: 101)

Dalil di atas adalah dalil untuk shalat qasar. Adapun untuk shalat jamak, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang artinya: Anas bin Malik r.a. berkata: Adalah Rasulullah saw. jika berangkat pergi sebelum tergelincir matahari mengakhirkan Zuhur hingga Asar, kemudian turun dan mengumpulkan (menjamak) Zuhur dengan Asar, maka jika telah tergelincir matahari sebelum berangkat shalat Zuhur lalu berangkat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim yang sedang bersafar boleh menjamak atau mengqasar shalatnya asalkan memenuhi ketentuan berikut: a)Perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan yang baik, bukan untuk maksiat. Misalnya bepergian jauh untuk silaturahmi, mencari ilmu, atau bekerja. b)Jarak perjalanan yang ditempuh tidak kurang dari 3 farsakh (1 farsakh kira-kira sepadan dengan 4,8 km). Namun demikian, ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa jarak perjalanan yang memenuhi syarat adalah sekitar 80,64 km.

2. Dalam keadaan sakit. Orang sakit boleh menjamak dan qasar shalatnya apabila sulit mengerjakan shalat pada waktunya.

3. Karena dalam keadaan darurat, ketakutan, atau kekhawatiran yang amat sangat. Misalnya dalam keadaan perang, hujan lebat, atau angin topan. Shalat jamak dan qasar juga dapat dilakukan antara lain jika terjadi banjir sehingga kamu harus mengungsi.

Nah, itulah mengapa jika kita berada dalam keadaan-keadaan yang memenuhi syarat untuk melakukan shalat jamak atau qasar, maka itu adalah hak bagi kita untuk melaksanakannya. Mungkin terkadang kamu sering merasa kurang mantap jika menjamak atau mengqasar shalat. Shalat pun kamu lakukan seperti biasa, sekalipun hal itu cukup merepotkan. Memang, shalat kamu tetap sah. Namun hal demikian sesungguhnya tidak sepenuhnya tepat. Bukankah Nabi Muhammad saw. sendiri telah mencontohkannya? Lagi pula, beliau menegaskan bahwa itu semua merupakan keringan dari Allah. Jadi, amat pantas bagi kita untuk menerimanya. Pahala kita pun takkan berkurang karenanya.

Tata Cara Shalat Jamak dan Qasar


1. Shalat Jamak

Sebagaimana telah kamu ketahui sebelumnya, menjamak shalat berarti menggabungkan dua shalat wajib dalam satu waktu. Dalam shalat jamak, yang digabung adalah waktunya, bukan jumlah rakaatnya. Misalnya, saat menjamak shalat Zuhur dengan Asar, bukan lantas kita melaksanakan shalat delapan rakaat. Lakukan shalat Zuhur dulu hingga salam, lalu berdiri lagi untuk melakukan shalat Asar. Adapun shalat selain Zuhur dan Asar, shalat yang bisa dijamak adalah Magrib dan Isya.

Dua waktu shalat yang dibatasi oleh pergantian siang ke malam atau sebaliknya tidak boleh dijamak. Shalat Asar tidak boleh dijamak dengan shalat Magrib, dan shalat Subuh tidak boleh dijamak dengan shalat Zuhur. Shalat jamak terdiri atas dua macam, yaitu sebagai berikut.

a. Jamak taqdim

Jamak taqdim yaitu shalat jamak yang dilaksanakan pada waktu shalat yang pertama. Jika yang dijamak shalat Magrib dengan shalat Isya, maka jamak taqdim dilakukan pada waktu magrib. Jika yang dijamak adalah shalat Zuhur dan shalat Asar, maka jamak takdim dijalankan pada waktu zuhur

b. Jamak ta’khir

Jamak ta’khir adalah shalat jamak yang dilaksanakan pada waktu shalat yang kedua. Misalnya menjamak shalat Magrib dengan shalat Isya pada waktu isya, atau menjamak shalat Zuhur dengan shalat Asar di waktu asar. Shalat jamak taqdim maupun ta’khir dilaksanakan sesuai urutan shalat yang lazim. Artinya, shalat Zuhur terlebih dahulu baru Asar, atau shalat Magrib dahulu baru Isya.

Satu hal yang harus kamu ingat dalam hal ini adalah: di antara dua shalat yang dijamak tidak boleh diselingi kegiatan lain, bahkan shalat sunah sekalipun.

2. Shalat Qasar

Cara meringkas shalat qasar ialah dengan melaksanakan shalat fardu dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Dengan demikian, shalat wajib yang boleh diqasar adalah yang jumlah rakaatnya empat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya. Shalat Subuh dan Magrib tidak dapat diqasar.

Adapun cara melaksanakan shalat qasar yaitu dimulai dengan niat mengqasar shalat, lalu shalat biasa dengan jumlah dua rakaat. Meski hanya dua rakaat, hal tersebut sudah diniatkan untuk melaksanakan shalat wajib, baik Zuhur, Asar, atau Isya. Nah, karena hanya dua rakaat, maka tasyahud awal tidak perlu dilakukan. Tasyahud cukup dilakukan satu kali, yaitu tasyahud akhir.

Ketentuan Shalat Jamak dan Qasar Menurut Quran dan Hadis