Coretanzone: Sulsel

    Social Items

3 Datuk Asal Minangkabau Penyebar Islam di Sulawesi Selatan
Menilik jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan, akan tetap diidentikkan dengan kehadiran tiga mubalig dari Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, serta Datuk ri Patimang. Kehadiran mereka pada abad ke-17 M. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sebetulnya telah ada semenjak abad ke- 16 M, akan tetapi penyebarannya belumlah demikian massif.

Umumnya sejarawan mencatat jika ke-3 datuk itulah pembawa ajaran Islam pertama di tanah Sulawesi Selatan. Nama mereka tertulis menjadi tokoh utama dalam penyebaran agama Islam. Akan tetapi, beberapa catatan serta peniggalan arkeologis mengatakan ada penyebaran Islam jauh sebelum ke-3 Datuk itu. Yaitu Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini yang datang serta menyebarkan Islam di Wajo pada tahun 1320 M, tiga abad sebelum kehadiran Datuk Tellue’.

Tiga ulama ini begitu sampai di Sulawesi tidak secara langsung berdakwah, namun terlebih dulu membuat taktik dakwah. Mereka mendapatkan info jika raja yang sangat dimuliakan serta dihormati merupakan Datuk Luwu karena kerajaannya dipandang sebagai kerajaan paling tua serta tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sedang yang sangat kuat serta punya pengaruh adalah Raja Gowa dan Raja Tallo.

Sesudah mendapatkan info serta keterangan yang cukup, barulah mereka pergi ke Luwu untuk menjumpai Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Mereka pada akhirnya sukses mengislamkan elite-elite kerajaan Gowa-Tallo serta membuat Islam menjadi agama yang sah di kerajaan pada tahun 1605. Datuk Luwu selanjutnya diberi nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin, sedang Raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka diberinama Sultan Abdullah Awalul Islam.

Sesudah sukses mengislamkan Datuk Luwu serta Raja Tallo, ke-3 ulama ini lalu menyebar serta membagi lokasi tujuan dakwah berdasar pada keadaan serta ketrampilan mereka. Abu Hamid menyampaikan dalam “Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis-Makassar” seperti berikut :

Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal yang pakar dalam pengetahuan fikih bertugas di Kerajaan Gowa-Tallo. Penduduk yang dihadapi di kerajaan ini masih tetap memegang kuat kebiasaan lama seperti perjudian, minum ballo’, serta sabung ayam. Untuk mengislamkan mereka, cara dakwah yang dipakai yaitu dengan penegakan hukum syariat.

Datuk Patimang atau Khatib Sulung yang pakar tauhid bertugas di Kerajaan Luwu, karena keadaan masyarakatnya masih tetap berdasar teguh pada keyakinan nenek moyang mereka yang menyembah Dewata Seuwae. Datuk Patimang mengajari tauhid sederhana seperti sifat Tuhan. Penekanan tauhid ini untuk menggantikan Dewata Seuwae dengan konsep keimananan pada Allah Yang Maha Esa.

Datuk ri Tiro atau Khatib Bungsu yang pakar tasawuf bertugas di Bonto Tiro karena penduduk di daerah itu masih tetap memegang teguh ajaran – ajaran kebatinan serta sihir. Penduduk di Bonto Tiro populer seringkali memakai pengetahuan sihir atau kemampuan sakti (doti) untuk memusnahkan musuh. Mereka yakin dapat mengislamkan penduduk semacam itu dengan pengetahuan tasawuf.

Ke-3 Datuk ini sebarkan Islam sampai tutup usia serta dimakamkan di lokasi tugas mereka masing-masing. Datuk ri Bandang meninggal dunia serta dimakamkan di lokasi Tallo. Makam Datuk ri Bandang sekarang ada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Khatib Sulung lalu melanjutkan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo serta beberapa kerajaan yang belumlah memeluk Islam. Khatib Sulung meninggal dunia serta dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, oleh karena itu ia bergelar Datu Patimang.

Sementara Datuk ri Tiro meninggal dunia serta dimakamkan di Tiro atau saat ini Bonto Tiro. Makam Datu ri Tiro bisa ditemui di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghargai Datu ri Tiro, Pemerintah Kab. Bulukumba lalu menamai Islamic Center yang baru dibuat dengan nama Islamic Center Datu Tiro.

3 Datuk Penyebar Islam di Sulawesi Selatan Asal Minangkabau

Provinsi - Sulawesi Selatan merupakan sebuah bagian dari pulau Sulawesi, menarik yang untuk dibicarakan. Bukan saja tentang keindahan alam pariwisatanya. Namun hal lain yang tak kalah indah yaitu tradisi dan budayanya.

Terdiri dari berbagai macam suku antara lain : Bugis, Makassar, Mandar, Toraja dan lain-lain, dengan bahasa deerah yang sama untuk masing-masing suku. Secara umum termasuk kategori kebudayaan masyarakat pantai. Hal ini ditandai adanya jalur perdagangan dalam bidang ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam.

Ada beberapa tradisi yang wajib Anda ketahui, bila berniat berkunjung ke tempat itu. Dan berikut rangkumanya.

1. Rumah Adat


Rumah adat daerah Sulawesi Selatan bermacam bentuk dan jenis, tergantung suku bangsa yang mendiami. Ini menjadi semacam identitas seperti rumah adat Tonkongan (rumah adat suku Toraja), yang berarti balai desa musyawarah. Menurut kepercayaan penduduk setempat, terdapat hubungan erat antara manusia bumi dengan hal itu. Oleh karenanya dalam pembangunannya harus memenuhi aturan tertentu dengan ajaran aluk todolo. Untuk suku Bugis dan Makassar memiliki kesamaan, keduanya memiliki tipe rumah panggung yang berkolong pada bagian bawahnya. Selain yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Misalnya : rumah adat attake (kabupaten Wajo), Bola soba ( daerah Soppeng), rumah adat Bajo (kabupatn Bone), rumah adat suku kajang (kabupaten Bulukumba), perkampungan nelayan Paloppo serta rumah terapung (Sekang)

2. Pakaian Adat


Sama seperti rumah adat yang berbeda. Untuk berbagai tingkatan usia, jenis kelamin, kedudukan atau jabatan pekerjaan, latar belakang sosial, dan upacara adat. Masing-masing mempunyai tata caranya sendiri-sendiri, serta berwarna-warni.

3. Tarian Tradisional Dan Alat Musik Yang Dipergunakan


Pada kategori tarian tradisional jenis alat musik yang mereka pergunakan juga berbeda. Mappedendang adalah jenis alat musik yang memakai lesung dan alu, ada di suku Bugis dan Makassar, Gowa ada : kancing, bacing, bulo, kaoppo, serta orkes Toriolo, yaitu sejenis orkes tempo dulu dari Makassar yang terdiri dari : biola, gendang, gong, rebana, katto-katto,dan kannong-kannong. Bulukumba dengan Basing-basing, Toraja : Passuling, Gendang dan lain-lain.

4. Kerajinan


Penghasil sutra di kabupaten Wajo, pembuat perahu Pinisi di Bulukumba, seni ukir dari Tana Toraja.

5. Upacara Tradisional 


Upacara adat suku Makassar, Bugis dan Toraja mengenal daur hidup dan umum. Seperti ritual masa kehamilan di suku Makassar dan Bugis. Toraja mengenal upacara adat kematian di mana pelaksanaannya menyesuaikan status sosial seseorang dalam masyarakat, yang pada intinya semua dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta.

6. Senjata Tradisional


Senjata tradisional mereka berupa : keris, dan badik.

7. Kuliner 


Untuk jenis kuliner bermacam-macam, misalnya : coto Makassar, sop konro, pisang epe, dan es palu butung, olahan ikan dan lain sebagainya.

8. Lagu Daerah


Pakerena, Peiwa, Tawa-tawa, To Mepare, Ammac Ciang dan yang paling melankolis adalah Anging Mammire, yang menceritakan rindu gadis pada seorang pria kekasihnya di tanah sebrang.

Bagiamana pendapat Anda tentang uraian singkat ini? Ternyata Indonesia kaya sekali budaya dan adat tradisi ya? Dan sudah menjadi kewajiban dan tanggung-jawab generasi bangsa untuk memeliharanya, bukan justru lari, mengilai budaya luar negeri yang terkadang tak sesuai norma bangsa kita sendiri.

Mengenal dari Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, Ada Legenda Lagu Romantisnya Loh!

Perbedaan Suku Kajang Luar dan Kajang Dalam di Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan - memiliki banyak keanekaragaman di setiap daerahnya. Pulau ini dihuni oleh berbagai penduduk dengan kebudayaan dan ciri khas yang berbeda. Salah satunya adalah keberadaan suku-suku di provinsi ini yang beragam. Salah satu suku yang terkenal di Sulawesi Selatan adalah suku Kajang. Suku Kajang adalah  salah satu suku yang tinggal di kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Tepatnya berada di sekitar 200 km ke arah timur kota Makassar. Daerah kajang sendiri  terbagi ke dalam delapan desa, dan enam dusun.

Secara geografis Kajang di bagi menjadi dua bagian, yaitu kajang dalam yaitu mereka yang tinggal di dalam wilayah adat kajang, dan kajang luar, yaitu orang-orang yang berdiam di sekitar suku kajang yang relatif modern.

Walau berada dalam satu wilayah, yaitu Kajang, kedua daerah ini memiliki beberapa perbedaan yang mendasar. Diantaranya adalah:

1. Pola hidup masyarakatnya


Dalam hal ini, daerah kajang luar lebih bisa menerima peradaban teknologi di zaman sekarang jika dibandingkan dengan kajang dalam yang belum bisa menerima segala yang berhubungan dengan teknologi, seperti perkembangan saat ini. Contohnya adalah listrik yang tidak digunakan oleh komunitas masyarakat kajang dalam. Maka tak heran jika di daerah kajang dalam tidak ada listrik. Selain itu, jika berkunjung ke sana, Anda juga tidak diperbolehkan mengenakan sandal saat akan memasuki daerah kawasan ammatoa (kajang dalam) ini karena sandal disebut sebagai teknologi oleh mereka. Masyarakat suku kajangpun demikian, mereka sehari-hari tidak menggunakan sandal.

2. Bentuk rumah



Bentuk rumah kedua daerah ini bebeda. Hal ini dapat dibedakan dari penempatan dapur dan tempat buang air. Jika dalam masyarakat Kajang luar dapur dan tempat buang airnya berada di bagian belakang rumah, maka di daerah kajang dalam (kawasan ammatoa) dapur dan tempat buang airnya berada di bagian depan.

3. Keadaan masyarakatnya



Jika di daerah Kajang Luar masyarakatnya lebih modern dan berhubungan dengan perkembangan zaman, dan berbagai hal yang ada saat ini. Berbeda dengan masyarakat Kajang dalam yang masih hidup dengan cara-cara lama. Perbedan ini pun terlihat dari kegiatan ekonomi, dan pemerintahannya. Kajang dalam bagi penulis tidak dapat disebut sebagai masyarakat yang primitif, karena mereka memelihara alam agar terjaga dengan lestari.

4. Makna warna bagi Suku Kajang Dalam



Hitam adalah warna sakral bagi penduduk Kajang dalam. Warna ini merupakan warna adat yang khas dan kental akan kesakralannya serta kemistikannya. Seluruh masyarakat kajang dalam menggunakan pakaian yang berwarna hitan, dan bagi anda yang ingin berkunjung ke sana, saat memasuki kawasan Ammatoa pakaian yang Anda kenakan harus berwarna hitam, tidak boleh warna lain. Warna hitam dipercaya oleh masyarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal. Masyarakat ini pun percaya bahwa tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya, karena memang semua warna hitam itu sama.

5. Pernikahan


Perbedaan Suku Kajang Luar dan Kajang Dalam Sulawesi Selatan

Dalam masalah perkawinan, masyarakat suku Kajang terikat oleh adat yang mengharuskan mereka untuk menikah dengan sesama orang yang berada dalam kawasan adat. Jika tidak demikian, maka mereka harus hidup di luar kawasan adat. Bagi pasangan yang bersedia mengikuti segala aturan dan adat-istiadat yang berlaku di dalam kawasan adat, maka merekalah yang akan tinggal menetap di sana. Segala aturan adat tentang pernikahan ini berlaku untuk masyarakat suku Kajang Dalam. Untuk masyarakat suku Kajang Luar, sudah mulai diinggalkan.

Walaupun memiliki beberapa perbedaan, kedua suku ini pun sama-sama tunduk dan patuh terhadap tradisi dan kebudayaan para leluhur mereka. Kebudayaan mereka pada umumnya sama. Baik itu seni musik, tarian, dan beberapa kebudayaan lainnya. Hanya saja perkembangan teknologilah yang membedakan mereka. Suku Kajang Luar lebih terbuka diandingkan suku Kajang Dalam.

Nah, itulah 5 hala yang membedakan antara suku Kajang Luar dan suku Kajang Dalam yang ada di Sulawesi Selatan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Perbedaan Suku Kajang Luar dan Kajang Dalam di Sulawesi Selatan

Suku Luwu dan Kisah Kerajaan Tertua di Sulawesi
Zaman Dahulu - Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan. Hingga kemerdekaan tiba, wilayah-wilayah kerajaan tersebut mengalami pemekaran daerah dan terbagi ke dalam beberapa provinsi. Kerajaan-kerajaan terdahulu memang memberikan banyak kontribusi untuk kemerdeaan Indonesia. Raja-rajanya pun banyak yang gugur akibat peperangan demi merebut kembali negara Indonesia. Salah satu kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan adalah Kerajaan Luwu.

Kerajaan Luwu merupakan kerajaan tertua, terbesar, dan terluas yang ada di Sulawesi Selatan. Wilayah ini meliputi Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan juga Poso. Luwu sendiri adalah suatu suku bangsa yang besar dan terdiri dari 12 anak suku. Luwu sendiri bukanlah bagian dari suku Bugis. Namun demikian masih banyak yang mengatakan bahwa suku Luwu adalah suku Bugis.

Sekitar abad ke-X diperkirakan sebagai awal berdirinya Kerajaan Luwu yang didirikan oleh  Batara Guru (Tomanurung) sekaligus sebagai raja pertama yang menguasai Kerajaan Luwu. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan tertua di antara beberapa kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Hal ini juga karena asal-usul setiap raja di Sulawesi Selatan berasal dari Luwu. Seperti dalam kerajaan Gowa, mereka meyakini bahwa raja pertama mereka mempunyai asal-usul dari kerajaan Luwu. Begitu pula dengan kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Pusat kerajaan Luwu (Ware’) yang pertama adalah di daerah Ussu (Manussu).

Masyarakat suku luwu dahulunya menganut kepercayaan Animisme. Namun, setelah sepuluh abad lebih berdiri, kerajaan Luwu baru menerima adanya agama Islam. Yaitu sekitar abad ke-15, tepatnya pada tahun 1593. Kerajaan Luwu adalah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal-hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di desa Lapandoso, kecamatan Bua, kabupaten Luwu.

Kerajaan Luwu ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan. Kerajaan ini pun mulai mempertahankan Indonesia sejak awal kedatangan Bangsa Belanda hingga banyak juga raja-raja yang turut serta berjuang dan berperang melawan penjajah hingga mereka pun gugur dalam peperangan. Atas jasa-jasa mereka terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno memerintahkan agar Datu Luwu dimakamkan secara kenegaraan di ‘Taman Makam Pahlawan’ Panaikang Makassar, yang dipimpin langsung oleh Panglima Kodam Hasanuddin.

Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk kedalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Jemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia".

Pemekaran Wilayah Luwu telah di atur ke dalam ndang-undang. Untuk daerah Swatantra Luwu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Darurat No.3/1957 adalah meliputi: Kewedanaan Palopo, Kewedanaan Masamba dan Kewedanaan Malili

Kemudian pada tanggal 1 Maret 1960 ditetapkan PP Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pembentukan Provinsi Administratif Sulawesi Selatan mempunyai 23 Daerah Tingkat II, salah satu diantaranya adalah Daerah Tingkat II Luwu.

Kerajaan Luwu dan suku Luwu bukan hanya kerajaan tertua di Sulawesi. Kerajaan ini pun menjadi awal dari peradaban bangsa Indonesia. Berbagai kebudayan dan keaslian kerajaan ini pun masih banyak dilestarikan oleh masyarakat suku Luwu yang ada di Sulawesi Selatan.

Suku Luwu dan Kisah Kerajaan Tertua di Sulawesi

Suku Duri dan Pegunungan di Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan - tak hanya memiliki beragam keindahan alam yang menggoda. Provinsi ini pun menyimpan banyak suku yang hidup di daerah ini. Seperti suku Bugis, suku Makassar, suku Bentong dan juga suku Duri. Mengenai suku Duri, tak banyak orang yang tahu mengenai suku ini. Padahal masyarakat suku ini tinggal di daerah pegunungan yang sejuk dan menawan.

Suku Duri adalah salah satu suku yang tinggal di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di Kabupaten Enrekang. Daerah ini merupakan daerah pegunungan yang terletak di tengah-tengah Propinsi Sulawesi Selatan, dan berbatasan langsung dengan Tanah Toraja.  Tentu wilayah ini sangat sejuk dan menyegarkan. Walaupun demikian, tak banyak masyarakat yang tinggal di daerah ini. Kebanyakan masyarakat  Duri tinggal di kecamatan Baraka, Alla dan Anggeraja yang jumlahnya ada 17 desa. Sebagian dari mereka tinggal dekat dengan jalan yang dapat dilalui mobil. Hanya beberapa saja yang memilih tinggal di  di daerah pegunungan yang tinggi.

Dalam kesehariannya masyarakat suku Duri hidup dalam lingkungan yang memiliki sifat kekeluargaan serta gotong royong yang tinggi. Dahulunya, mereka mengenal adanya status sosial mulai dari kaum bangsawan, rakyat biasa hingga budak. Namun saat ini hal itu telah dihapus oleh mereka. Masyarakat ini pun kini telah banyak yang menganut agama Islam, setelah sebelumnya menganut suatu agama kepercayaan tradisional yang disebut dengan Alu' Tojolo.

Sebagian besar masyarakat suku Duri menghidupi keluarga dengan cara bercocok tanam. Yaitu dalam bidang pertanian, dengan hasil yang beragam. Mereka menanam beberapa tanaman keras, dan memelihara hewan ternak. Tanaman pertanian suku Duri, mulai dari cabe, padi, jagung, ubi, dan bawang merah sebagai tanaman utama. Sebagian kecil dari mereka membuat barang kerajinan khas suku Duri.

Suku duri terkenal dengan sifat kasih sayangnya, terlebih seorang ayah kepada anaknya. Kasih sayang itu tumbuh karena kekeluargaan merupakan bagian terpenting dalam menata kehidupan. Anak laki-laki merupakan penerus keluarga, dan akan bertanggung jawab kepada kelurganya suatu saat kelak, sehingga butuh perhatian khusus untuk mendidiknya. Selain itu mereka juga memiliki perangai yang baik dan nyali yang sangat berani.

gunung bawah karaeng via ardiyanta.com
Sulawesi Selatan juga memiliki panorama yang indah dengan banyaknya gunung yang ada di daerah ini. Gunung-gunung ini pun tersebar di beberapa daerah yang ada di Sulawesi Selatan. Karena hal inilah banyak wisatawan asing maupun domestik yang sengaja datang untuk menikmati keindahannya. Sebagian suku Duri tinggal di beberapa pegunungan yang berada di Kab. Anrekang. Berikut ini beberapa gunung yang ada di Sulawesi Selatan, diantaranya adalah:

1. Gunung Nona
2. Gunung Sesean
3. Gunung Latimojong
4. Gunung Kambing
5. Gunung Bottotallu
6. Gunung Aruan
7. Gunung Pipingpanah
8. Gunung Lapande
9. Gunung Pantara Siruk
10. Gunung Pasa’Bombo
11. Gunung Batu Maitan
12. Gunung Bawakaraeng
13. Gunung Rantemario
14. Gunung Nenemori
15. Gunung Latimojong
16. Gunung Rantekambola
17. Gunung Bajaja
18. Gunung Sumbolong
19. Gunung Batu Kitangke
20. Gunung Sikolong
21. Gunung Sinaji
22. Gunung Pokapinjan
23. Gunung Pantealoan
24. Gunung Saranglangkan
25. Gunung Katapu

Gunung-gunung tersebut adalah bagian dari pegunungan yang ada di Sulawesi Selatan. Tentu masih banyak gunung-gunung lainnya yang ada di provinsi ini. Setiap gunung memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Jarak antar gunung pun bisa berdekatan satu sama lain. Hal ini karena memang wilayah ini terdapat banyak gunung. Dan untuk bisa sampai ke sana sudah tidak sulit lagi.

Itulah tadi artikel mengenai suku Duri dan pegunungan yang berada di Sulawesi Selatan. Anda bisa mengenal lebih dekat suku ini dengan mengunjunginya. Anda pun bisa menikmati keindahan dan kesejukan pegunungan yang ada di sana. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Suku Duri dan Pegunungan di Sulawesi Selatan

Suku Bentong di Sulawesi dan Keahlian Bercocok Tanamnya
Sulawesi Selatan - memiliki beragam suku bangsa yang terkenal dengan berbagai ciri khas tersendiri. Suku-suku ini pun tersebar di berbagai daerah yang ada di provinsi Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah suku Bentong. Suku Bentong adalah suku yang hidup di desa Bulo-Bulo, yaitu terletak di Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Populasi penduduk suku Bentong diperkirakan mencapai hingga 25.000 jiwa.

Suku Bentong memiliki keragaman budaya yang berbeda dengan suku lainnya. Hal ini sebagian terlihat dari bahasanya. Kata Bentong dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “cadel”.  Kata ini pun dijadikan patokan dalam penamaan suku Bentong karena memang bahasa komunikasi dalam suku ini beragam.

Suku ini menggunakan perpaduan antara beberapa bahasa daerah yang ada di wilayah Sulawesi Selatan. Mulai dari bahasa Konjo, Bugis, Makassar, serta bahasa Mandar. Dari perpaduan antar bahasa inilah suku Bentong memiliki bahasa yang unik dan terkecan bercampur-campur. Keragaman basana ini bisa juga terjadi karena kehidupan suku Bentong yang nomaden atau berpindah-pindah. Jadi mereka menemukan bahasa yang berbeda disetiap tempat yang mereka singgahi.

Masyarakat suku Bentong masyarakat menganut sistem kepercayaan animisme, yaitu dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda yang dikeramatkan. Kepercayaan ini berhenti saat Islam datang ke suku ini. Akhirnya masyarakat suku Bentong sudah banyak yang memeluk agama Islam. Hal ini pun terlihat dari setiap tradisi acara adat yang banyak mengandung unsur Islami. Bentong memiliki adat Adat perkawinan orang Bentong bersifat endogamy. Endogamy merupakan perkawinan yang dilakukan antara orang-orang satu kelompok.

Dahulunya, suku Bentong hidup dengan cara nomaden. Artinya selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya dengan membuka lahan atau ladang di wilayah tersebut. Kemudian di sinilah mereka tinggal sambil mengurusi ladang yang tengah dikerjakan tersebut.

Suku Bentong di Sulawesi dan Keahlian Bercocok Tanamnya

Setelah panen, mereka pindah lagi ke tempat lainnya yang jauh dari pemukiman warga dan berada di sekitar hutan. Karena berada di hutan, satu-satunya mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam. Kegiatan ini pun selalu mereka lakukan. Tak heran jika hasil pertanian ini pun beragam dan berbeda di setiap tempat yang mereka singgahi. Meraka menggarap beberapa tanaman di lahan perkebunan atau sawah seperti tanaman padi, kacang-kacangan, jagung, dan beberapa jenis sayur-sayuran, serta buah-buahan.

Selain itu, suku ini juga membudidayakan beberapa tanaman keras, seperti kelapa. Untuk bisa hidup pun suku Bentong juga berburu binatang yang ada di hutan. Atau menangkap ikan di lautan atau sungai yang dekat dengan pemukiman mereka.

Suku Bentong terkenal dengan keahliannya dalam bercocok tanam. Keahlian ini mereka dapatkan dari berbagai pengalaman dalam mengolah ladang di tempat yang mereka datangi. Setiap ladang yang mereka garap, selalu nenghasilkan panen yang memuaskan dan cukup untuk menghidupi keluarganya. Walaupun teknologi, alat, dan sistem bertaninya masih sederhana, Suku Bentong mampu mengolah lahan menjadi subur dengan berbagai tanaman. Masyarakat suku ini pun memberikan kebebasan bagi warga lainnya untuk saling bekerja sama dalam mengolah lahan.

Demikianlah tadi hal-hal yang berhubungan dengan suku Bentong di Sulawesi Selatan dengan keahlian bercocok tanamnya. Keahlian ini pun masih terus diterapkan suku ini dalam bertani maupun berladang. Dari keahlian ini pun masyarakat suku Bentong bisa hidup. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Suku Bentong di Sulawesi dan Keahlian Bercocok Tanamnya

Punya Rumah yang Khas, Ini Fakta Suku Toraja
Rumah - menjadi simbol yang khas bagi setiap suku yang ada di Indonesia. Bentuk, warna, bahan dasar, serta model rumah menjadi ciri-ciri khusus suku bangsa. Aneka ragam rumah yang ada ini pun tak serta-merta dibangun untuk tempat berteduh saja. Tempat ini juga dijadikan tempat untuk berkumpul dan membudidayakan warisan leluhur. Rumah khas suku Toraja contohnya. Rumah yang biasa disebut dengan rumah Tongkonan ini menyimpan keunikan tersendiri. Ada banyak fakta menarik dari rumah ini. Berikut ini fakta rumah khas suku Toraja:

1. Makna Rumah Tongkonan


Tongkonan adalah nama rumah khas suku Toraja yang berasal dari kata tongkon dan berarti duduk. Tongkonan merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan, dan strata sosial yang ada dalam suku Toraja. Rumah ini adalah warisan nenek moyang yang hanya diwariskan kepada keturunan marga suku Toraja.

Ada 3 bagian utama dalam rumah ini. setiap bagiannya memiliki fungsi yang berbeda-beda.  Bagian selatan khusus untuk kepala keluarga, bagian tengah digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga, dapur, tempat makan dan tempat meletakkan orang mati, sedangkan untuk bagian utara difungsikan sebagai ruang tamu, tempat meletakkan sesaji dan juga tempat tidur anak-anak. Pembagian rumah ini pun harus sesuai dan tidak boleh diubah. Jika demikian, maka akan terjadi bencana atau petaka yang tidak diinginkan.

2. Ornamen yang unik


Setiap rumah Tongkonan ini dihiasi dengan tanduk kerbau yang diletakkan di depannya dan disusun memanjang ke atas. Pemilihan ornamen ini berdasarkan atas kepercayaan suku Toraja yang menganggap bahwa tanduk kerbau melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah.

Hal ini bisa dilihat dari kemampuan pemilik rumah dalam mengadakan upacara adat. Mengapa demikian? Karena memang setiap upacara adat membutuhkan hewan kerbau sebagai kurbannya dengan harga yang sangat mahal. Jadi semakin sering melalukan upacara adat, maka pemilik rumah akan terlihat semakin makmur perekonomiannya.

3. Makna warna ukiran di dinding Tongkonan


Pemilihan warna untuk ukiran yang ada pada Tongkonan tak boleh sembarangan.  Ukiran-ukiran ini biasanya menggunakan 4 warna dasar. Diantaranya adalah warna hitam, putih, merah, dan juga kuning. Warna ini memiliki makna yang berbeda-beda. Pertama, warna hitam melambangkan kematian atau duka, warna putih melambangkan kesucian, warna merah melambangkan suatu kehidupan, sedangkan warna kuning melambangkan kekuasaan Tuhan. Pemilihan warna ini kemudian diterapkan pada ukiran-ukiran yang diletakkan di dinding rumah Tongkonan.

4. Tempat terkuburnya mayat


Jika biasanya kita menguburkan mayat keluarga di tempat lain, masyarakat suku Toraja malah menguburkannya di rumah mereka. Namun hal ini tidak boleh sembarangan. Pihak keluarga dan masyarakat harus menggelar upacara penyempurnaan kematian. Upacara ini dilakukan untuk menghormati serta menghantarkan arwah orang meninggal menuju keabadian bersama para leluhur.

Sebelum disemayamkan, jenazah orang meninggal dalam keluarga ini disimpan di Tongkonan terlebih dahulu sebelum prosesi penguburan dilakukan. Untuk mengawetkannya, sebelum disimpan di lumbung, jenazah diberi balsem atau pengawet lainnya. Dalam upacara penguburan mayat ini, pihak keluarga harus membungkus jenazah, lalu membubuhkan ornamen benang emas dan perak pada peti jenazah. Setelah itu jenazah diturunkan dari lumbung untuk disemayamkan. Semua rangkaian upacara ini juga diiringi dengan atraksi budaya dan penyembelihan hewan kerbau bule Tedong Bonga. Tak heran jika upacara ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Nah, begitulah 4 fakta unik mengenai rumah khas suku Toraja. Rumah Tongkonan ini menyimpan banyak hal mengenai suku Toraja. Semoga artikel ini bermanfaat.

Punya Rumah yang Khas? Ini Fakta Unik Rumah Suku Toraja

Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya
Indonesia - lahir sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa. Suku-suku bangsa ini tersebar luas ke seluruh pelosok negeri. Mulai dari Pulau Sumatera hingga tanah Papua. Nah, salah satu suku bangsa yang berada di Pulau Sulawesi adalah suku Bugis. Suku Bugis cukup terkenal di Sulawesi. Suku ini tergolong dalam suku Melayu Deutero. Dan masuk ke Indonesia setelah adanya gelombang migrasi yang pertama dari daratan Asia, yaitu di Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” berdasarkan nama pada raja pertama yang berasal dari Cina, yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo. Yaitu La Sattumpugi.

Suku Bugis memiliki budaya yang berbeda degan suku-suku lainnya. Suku ini pun memiliki karakteristik unik dan membudaya. Diantaranya adalah budaya dalam bertegur sapa, atau mengucapkan tabe’ (permisi). Saling menghargai satu sama lain, serta berbagai budaya dalam hal adat-istiadat. Adat-istiadat ini berupa adat dalam pernikahan, adat bertani, adat bangun rumah, dan beberapa prinsip hidup suku Bugis.

Dalam budaya pernikahan, suku Bugis menerapkan 2 hal penting. Yaitu

1. Pernikahan yang dianjurkan:


Assialang marola, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik itu dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Assialana memang, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Ripanddeppe’ mabelae, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

2. Pernikahan yang dilarang atau sumbang (salimara’):


Anak dengan ibu atau ayah
Saudara sekandung.
Menantu dan mertua.
Paman atau bibi dengan kemenakannya.
Kakek atau nenek dengan cucu.

Adat dan budaya suku Bugis tak bisa dipisahkan dari berbagai hal. Mulai dari alat musik, sistem kepercayaan, rumah adat, mata pencaharian penduduk, teknologi dan beragam lainnya. Mengenai kesenian, Suku Bugis terkenal dengan alat musiknya yang khas. Yaitu Gandrang Bulo, Kecapi, Gendang, Suling. Sedangkan tariannya adalah tari Paduppa Bosara, tari Pakarena, tari Ma’badong, tari Mabbissu, dan Tari Kipas. Sistem kepercayaan penduduk suku Bugis dahulu adalah animisme yang diwariskan leluhur secara turun-menurun. Namun, kemudian masyarakat mengikuti kepercayaan sure galigo. Yaitu kepercayaan pada dewa tunggal atau disebut Patoto E. Dan saat ini kepercayaan ini semakin ditinggalkan dan Islam menjadi agama mereka saat ini.

Suku Bugis dikenal dengan sistem kekerabatannya yang kuat dan dikenal dengan nama Assiajingeng. Sistem ini merupakan sistem bilateral yang mengikuti pergaulan orang tuanya. Baik itu dari pihak ayah, maupun pihak ibu. Suku Bugis sendiri memiliki status sosial dalam pembangunan rumah mereka. Yaitu rumah besar untuk para raja (Saoraja) dan rumah untuk rakyat biasa (Bola). Masyarakat Suku Bugis mencari kehidupan dari bercocok tanam dan berlaut. Hal ini karena memang tanah di Sulawesi ini begitu subur. Sedangkan lautnya pun luas. Sebagian besar suku ini mengandalkan 2 sumber kehidupan ini.

Tak banyak yang tahu kalau suku Bugis yang terletak di Sulawesi Selatan ini menyimpan banyak kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Walaupun ada budaya yang telah bercampur dengan budaya-budaya lainnya seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi saat ini. Walaupun demikian,  pokok pentingnya masih ada dan diterapkan semua masyarakatnya.

Nah, itulah beberapa hal seputar suku Bugis di Sulawesi Selatan dan budayanya yang ada dalam suku tersebut. Semoga artikel sederhana ini dapat bermanfaat.

Mengenal Suku Bugis di Sulawesi dan Budayanya