Coretanzone: Tokoh Islam

    Social Items

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib
Siapa umat Islam yang tidak mengenal sosok sahabat Rasulullah yang satu ini, Ali bin Abi Thalib yang menjadi sepupu, sahabat dan menantu Rasulullah saw. Untuk itu mari mengenal sosok khalifah Ali bin Abi Thalib.

Biografi Ali bin Abi Thalib 


1. Nasab Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib mempunyai nama lengkap adalah, Ali bin Abi Thalib bin Abdi Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. beliau lahir didalam ka’bah, 23 tahun sebelum Hijriyah. Ali mempunyai nama kecil Haidarah, selanjutnya Rasulullah memberikan nama Turab untuk Ali.

Bapak Ali bin Abi Thalib bernama Abu Thalib atau nama sebetulnya Abdi Manaf yaitu paman dari Rasulullah saw. Hal tersebut memberikan pemahaman jika Ali merupakan sepupu dari Rasulullah SAW karena Ia anak dari paman Rasulallah saw.

Ibunda Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad Hasyim bin Abdi Mana bin Qushay. Ibunya digelari menjadi wanita pertama yang melahirkan seseorang putera Bani Hasyim. Hal ini, berarti Ali bin Abi Thalib merupakan keturunan dari Bani Hasyim, serta Ibunya jadi wanita pertama yang melahirkan seorang khalifah.

Ali merupakan anak bungsu, Ia mempunyai 3 (tiga) saudara laki laki serta 2 (dua saudara wanita, yakni Ja’far, Aqil, Thalib yang masing-masing umurnya berjarak 10 (sepuluh) tahun dengan Ali, lalu Ummu Hani’ serta Jumanah.

Saat musim paceklik melanda golongan Quraisy, Abu Thalib yang mempunyai banyak anak, mengundang empati Rasulullah saw. hingga ingin membantu bebannya. Rasul bersama dengan ke-2 pamannya Hamzah serta Abbas mendatangi Abi Thalib, serta mengemukakan kehendak ingin menjaga anaknya itu. Lantas Abi Thalib menyampaikan “Tinggalkanlah Aqil bagiku, serta bawa siapa saja yang kamu kehendaki”. Hamzah membawa Ja’far, Abbas membawa Thalib, dan Rasulullah menentukan untuk menjaga Ali. Dalam hal seperti ini menunjukkan jika Abi Thalib menyayangi Aqil lebih dari yang lain. Serta sejak itu Ali tinggal bersama dengan Rasulullah serta memperoleh kasih sayang seperti dari bapak kandungnya sendiri.

Semenjak Ali tinggal didalam rumah Rasulullah, ia mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah, yang melatih sifat-sifat terpuji. Ali di waktu kecilnya mengalami perubahan yang hebat, telah tampak jika dia seseorang anak yang kritis serta brilian. Perubahannya itu di tandai dengan ketidaksamaan dengan rekan-rekan sepantarannya yang tampak jelas. Rasul yang mengajarkan supaya Ali mempunyai hati yang lembut, serta sadar akan kebenaran.

2. Beberapa ciri Fisik Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib merupakan seorang yang berkulit sawo matang, badannya tegap agak pendek. Mempunyai jenggot panjang, mata yang besar berwarna hitam kemerah-merahan. Beliau mempunyai bulu dada serta pundak yang lebat, muka yang tampan, dan ringan langkah ketika berjalan.

3. Ali bin Abi Thalib Masuk Islam 

Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, Ia dilahirkan di tempat yang suci yakni ka’bah. Tidak sempat sekalinya Ali menyembah berhala. Akan tetapi Ali masuk agama Islam dengan resmi yaitu pada umur 7 tahun, 8 tahun dan ada juga yang menyebutkan sepuluh tahun. Dalam refensi lainnya, saat Rasulullah menerima wahyu pertama melalui perantara malaikat Jibril, Ali bin Abi Thalib saat itu berusia 9 tahun, atau ada juga yang menyebutkan berusia 13 tahun. Akan tetapi yang tentu Ali masuk Islam saat Ia berusia begitu muda.

Agama Islam diterimanya dengan sepenuh hati, tidak bercampur dengan dampak kepercayaan lama serta tidak bercampur dengan suatu yang mengeruhkan kejernihannya. Oleh karenanya, begitu nyata jika Ali merupakan seorang Muslim yang murni.

4. Istri dan Anak Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri Rasulullah saw. yakni Fatimah binti Nabi Muhammad saw. Mereka menikah sesudah perang badar. Dalam kata lain, posisi Ali telah makin bertambah, pertama menjadi sepupu sekaligus teman dekat Rasulullah saw, lalu dipererat menjadi menantu Rasulullah saw.

Ali begitu setia serta menyukai Fatimah, mereka dikaruniai 3 (tiga) putra, yakni Hasan, Husain, serta Muhasin tapi Muhasin wafat saat bayi. Serta mempunyai 2 (dua) putri yang bernama Zainab al-Kubra, serta Ummu Kultsum al-Kubra.

Enam bulan sesudah Rasulullah SAW meninggal dunia, Fatimah binti Rasulullah juga wafat di umur yang tidak kenap 30 (tiga puluh) tahun. Lantas setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah dengan beberapa wanita.

Ummu Banin binti Hazam, dari pernikahan ini dikaruniai 4 (empat) anak yakni, Abbas, ja’far, Abdullah, serta Usman. Akan tetapi mereka semua terbunuh dalam perang karbala, terkecuali Abbas. Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik dikeruniai 2 (dua) anak yakni Ubaidullah serta Abu Bakar yang terbunuh di perang karbala. Kemudian Istri Ali yang lain bernama Atsma` binti `Umais, Ummu Habib binti Robi`ah, Ummu Said binti Urwah, Binti Umru`ul Qais, Umamah binti Abil Ash, Khaulah binti Ja’far bin Qais.

Ali bin Abi Thalib tertulis menikah dengan 8 (delapan) wanita sesudah wafatnya Fatimah binti Rasulullah akan tetapi ada sumber lainnya yang menyampaikan ada 9 (sembilan). Dari pernikahan itu Ali mempunyai banyak keturunan, hingga ada banyak putra putri beliau yang tidak didapati nama ibu kandungnya yakni, Ummu Hani`, Maimunah, Zainab as-Shughra, Ramlah as-Shughra, Ummu Kaltsum as-Shughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah serta Nafisah.

Diantara beberapa orang istri Ali bin Abi Thalib, ada yang meninggal dunia saat beliau masihlah hidup, ada juga yang diceraikan serta saat Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, Ia tinggalkan 4 (empat) orang istri serta 19 (sembilan belas) Ummu Walad (budak wanita). Jumlah keseluruhnya putera-puteri Ali yakni, 14 (empat belas) putera, serta 17 (tujuh belas) puteri.

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib mempunyai banyak kelebihan atau keutamaan. Di bawah ini beberapa kelebihan Ali, yang terdiri dari dua jenis, yakni kelebihan menurut kedudukan, serta kelebihan berdasar pada kepribadian, lalu dilanjutkan dengan nasihat atau beberapa kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib.

1. Kedudukan Ali bin Abi Thalib

Jika dilihat dari kedudukan, Ali bin Abi Thalib merupakan yang sangat dekat nasabnya dengan Rasulullah. Pertama, Ali merupakan sepupu mutlak dari Rasulullah saw. Ke-2, Ali merupakan teman dekat yang sudah ditanggung baginya syurga. Ke-3, Ali merupakan menantu Rasulullah saw., tiap-tiap orang ketika itu banyak yang ingin jadi semacam itu, supaya lebih dekat dengan keluarga Rasulullah saw. serta mendapatkan keturunan yang terhormat. Yang paling akhir beliau merupakan seseorang khalifah Islam, yang melanjutkan pucuk kepemimpinan dari khalifah Utsman bin Affan atas amanah dari Rasulullah saw.

2. Kepribadian Ali bin Abi Thalib

Di bawah ini merupakan beberapa kelebihan Ali bin Abi Thalib, menurut Imam al-Bukhori dalam Shahinya :

a. Menyukai Allah serta RasulNya

Ali bin Abi Thalib masuk Islam dengan hati yang teguh, serta beliau sudah ikut dengan Rasulullah menegakkan Islam. Lalu bukti yang tegas mengatakan jika Ali benar-benar menyintai Allah dan Rasul, yakni ada dalam Sabda Rasul yang diriwayatkan Sahal bin Sa’ad.

Di dialam hadits itu dikisahkan jika Rasulullah akan memberi sebuah bendera besok hari pada seorang yang begitu menyukai Allah dan RasulNya. Lantas beberapa orang menanyakan serta sekalian mengharap jika dirinyalah yang akan diberikan bendera. Pada besok harinya, pada saat orang telah menunggu Rasulullah menanyakan, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib? ”. Ali tidak berada di majelis itu karena beliau menderita sakit pada kedua matanya. Lantas Ali dibawa menghadap Rasul, serta Rasulullah meludah pada kedua mata Ali sekalian berdoa, serta saat itu juga mata Ali sehat seperti tidak sempat sakit.

Lalu Rasul menyerahkan bendera yang telah ditunggu-tunggu pada Ali bin Abi Thalib. Ini dia bukti yang akurat, jika Rasulullah sendiri yang menibatkan kalau Ali orang yang begitu mencintai Allah serta RasulNya.

b. Kelembutan Rasulullah pada Ali bin Abi Thalib

Rasulullah senantiasa lembut pada istrinya, akan tetapi Ali juga mengalami hal semacam itu, saat Rasul hadir kerumah Ali ingin menemuinya, Rasul berjumpa dengan Fatimah serta bertanya, “dimanakah putera pamanku itu? ” fatimah menjawab : “di masjid”. Rasulullah menjumpai Ali dimasjid serta saat Ali akan berdiri, lantas selendangnya terjatuh, serta tanah mengotori punggungnya. Rasulullah menghapuskan tanah di punggung Ali serta berkata, “duduklah wahai Abu Turab, duduklah wahai Abu Turab”.

c. Ali bin Abi Thalib membenci perselisihan

Diriwayatkan dari Abidah bin Amru as-Salmani, dari Ali bin Abi Thalib, Ia berkata : “putuskanlah hukum seperti kalian memutuskannya dulu. Sesungguhnya saya membenci perselisihan. Usahakanlah supaya golongan muslimin satu jama’ah, atau aku mati seperti sahabat- sahabatku mati.

Selanjutnya dari sumber yang berbeda, kelebihan Ali dapat disaksikan dari sifat-sifatnya seperti berikut.

a. Menjauhi kezhaliman

Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pemberani, akan tetapi dengan keberaniannya itu Ia mempu menghidari kezhaliman. Sekali juga Ali tak pernah memulai serangan pada seorang, bila Ia bisa menghindarinya. Serta Ali menasehatkan pada anaknya Hasan, “ janganlah kamu melawan orang berduel. Bila kamu dilawan karena itu hadapilah rintangan itu, karena orang yang melawan merupakan aniaya, orang yang aniaya akan kalah.

b. Hati yang bersih dari perasaan dengki musuh

Kecerdasan Ali disertai dengan hati yang bersih dari perasaan dengki pada orang yang memusuhinya. Ali melarang keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan mutslah pada seseorang pembunuh serta membunuh orang yang bukan pembunuh.

c. Tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan sesuatu

Ali bin Abi Thalib tidak berlebih-lebihan dalam menyampaikan suatu maupun menyembunyikannya, dan tidak ingin menerima sikap terlalu berlebih, walau dari orang yang memujinya. Kadang Ali memperoleh pujian yang terlalu berlebih, sedang Ali sendiri sangsi dengan maksudnya, lantas Ali menuturkan pada orang itu, “ Saya tak sempurna seperti yang engkau jelaskan serta lebih mulia dari anggapan apakah yang terdapat dalam hatimu”.

d. Pribadi yang zuhud

Di antara kelebihan Ali bin Abi Thalib ialah karakter kezuhudan yang dimilikinya.

“Manusia yang sangat zuhud pada dunia yaitu Ali bin Abi Thalib”. Sufyan berkata : “sesungguhnya Ali tidak pernah menempatkan batu bata di atas batu bata, tanah liat di atas tanah liat, sepotong kayu di atas potongan yang lain (bangun rumah) serta tidak pernah menghimpun harta”.

Dia menolak untuk mendiami istana putih di Kuffah karena memprioritaskan gubuk yang dihuni oleh fakir miskin, serta terkadang Ia menjual pedangnya untuk membeli baju serta makanan.

Walau Ali sangatlah zuhud, Akan tetapi ali jauh dari perilaku kasar, sempit dada, kurang pergaulan. Bahkan Ali merupakan orang yang begitu toleransi pada sesama.

Inilah Ali bin Abi Thalib, seorang yang pemberani dengan keberanannya, orang yang zuhud lagi lurus, tidak berlebih-lebihan, serta menghidarkan dirinya dari kezhaliman.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib 


Ali bin Abi Thalib wafat terbunuh saat malam jum’at waktu sahur tanggal 17 ramadhan 40 H. Beliau meninggal dunia pada umur 63 tahun. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib ini didasari oleh dendam lama di Nahrawan.

Tokoh yang membuat konspirasi untuk membunuh Ali bin Abi Thalib ialah Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi atau nama sebetulnya Abdurrahman bin Amru bersama dengan kedua temannya, wardan dan Syabib. Pembunuhan ini telah direncanakan dengan begitu masak. Syabib bertindak selaku pelaksana eksekusi, Ia di depan pintu menunggu Ali keluar rumah untuk membangunkan orang shalat. Lantas Syabib memukul leher, serta menebas kepala bagian atas Ali bin Abi Thalib, hingga mengucurlah darah pada jenggot beliau.

Ketika itu, Ali sudah sempat berteriak serta memerintah untuk tangkap beberapa pembunuh, dan mereka lantas melarikan diri. Wardan sukses di kejar serta secara langsung dibunuh, Syabib berhasil lolos dari kejaran, sedang Ibnu Muljam diamankan dengan tangan terikat. Lalu Ali bin Abi Thalib dibawa kerumah dan Ibnu Muljam. Ali menanyakan, “apa yang mendorongmu lakukan ini? ”, Ia menjawab : “aku sudah mengasah pedang ini saat empat pulu hari serta saya meminta pada Allah supaya bisa membunuh makhluk yang sangat buruk dengan pedang ini”. Ali berkata : “menurutku engkaulah yang perlu terbunuh dengan pedang itu, menurutku engkaulah makhluk yang sangat buruk! ”.

Lalu Ali bin Abi Thalib menyampaikan bahwa, bila beliau meninggal dunia karena itu bunuhlah Ibnu Muljam itu. Tapi bila beliau hidup, karena itu dialah yang lebih tau bagaimana hukuman yang patut untuk dia.

Jenazah Ali bin Abi Thalib dimandikan oleh Abdullah bin Ja’far, lalu dishalatkan oleh putera beliau Hasan, dimakamkan saat malam hari di Darul Imarah, Kuffah. Mudah-mudahan Allah me-ridhai Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib merupakan teman dekat yang istimewa untuk Rasulullah saw, karena Ali bagian dari keluarganya, yakni menjadi sepupu, dan menantu Rasulullah saw.  Ali bin Abi Thalib merupakan seseorang muslim sejati, hatinya tidak sempat tercampur dengan menyembah kapada berhala. Beliau ikut serta menyebarkan dakwan islamiyah bersama dengan Rasulullah saw, dan turut dalam beberapa peperangan. Ali bin Abi Thalib mempunyai karakter yang mulia, Ia orang yang cerdas pemikirannya, suci hatinya, zuhud, serta menghindari diri dari melakukan perbuatan zalim, dan merupakan salah satu sahabat yang pemberani.

Mengenal Sosok Khalifah Ali bin Abi Thalib

Kesabaran Imam Ahmad Ibn Hambal Pada Masa-masa Sulit

Belakangan ini kita telah menyaksikan penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak berdosa di seluruh dunia. Dari konflik di Suria, sampai gelombang serangan Islamofobia terhadap umat Islam di Barat. Sejarah Islam yang kaya dan penuh makna telah memberikan banyak contoh yang tak terhitung jumlahnya tentang kebenaran dan melatih kesabaran kita. Salah satu contoh yang dapat kita lihat yaitu tentang kisah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a.

Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (164-241 H / 780-855 M) adalah tokoh teladan dari tiga generasi pertama setelah Nabi Muhammad saw. Beliau merupakan seorang ulama yang terkenal karena kezuhudannya, dan keilmuannya dan juga Musnad-nya, dia juga pendiri salah satu dari empat aliran pemikiran dalam fiqih Islam. Prestasi dan pemikirannya telah menyebar di seantero dunia.

Salah satu hal yang paling terkenal dari kisah Imam Ahmad adalah ketabahan dan keteguhannya pada kebenaran saat dianiaya oleh pendirian Mu'tazilah. Pada abad kedua, pemikiran Helenistik mulai merambah ke tanah Muslim melalui ketersediaan karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Rasionalitas yang menjadi salah satu daya tarik bagi sekelompok kalangan umat Islam, diamana mereka ingin menggabungkan antara ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Yang paling getol dalam hal ini adalah kalangan Mu'tazilah, kemudian mereka berkeyakinan bahwa Alquran yang merupakan firman Allah ini adalah makhluk yang diciptakan.

Dengan dukungan dari dinasti Abbasiyah, paham Mu'tazilah dipaksakan kepada umat Islam sebagai doktrin negara. Banyak ilmuwan pada saat itu tunduk pada kepercayaan ini baik karena kenyamanan atau ketakutan akan penganiayaan dan penyiksaan dari penguasa yang tirani.

Pada saat itu banyak ulama yang menolak aliran pemikiran ini, namun mereka ditekan dan bahkan disiksa, yang kemudian menjadi momok bagi umat Islam saat itu. Imam Ahmad ibn Hambal tidak dieksekusi layaknya ilmuan lainnya, namun beliau dipenjara dan mengalami penyiksaan yang amat pedih.

Imam Ahmad terus dibelenggu dan dicambuk tanpa henti, agar beliau mengakui pemahaman Mu'tazilah dan melepaskan pandangan lamanya tentang kebenaran Al-Quran dan menganjurkan kepada umat Islam untuk meyakini doktrin Mu'tazilah yang lebih mengandalkan logika. Dengan demikian maka, beliau akan dibebaskan dari semua penyiksaan dan situasi yang tidak baik seperti itu.

Namun Imam Ahmad tetap teguh dengan pendiriannya, karena dia memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap ummat Islam dan tidak ingin pemikiran yang menyimpang dari Islam itu dapat tersebar.

Imam Ahmad mengakui tanggung jawab yang bertumpu pada dirinya karena statusnya sebagai Ulama dengan keimanan yang tinggi kepada Allah. Dengan demikian, beliau tanpa kompromi dan tetap sabar menghadapi cobaan, meski para penangkapnya memperingatkannya bahwa dia bisa mati dalam keadaan seperti ini.

Imam Ahmad hanya menjawab, "al-farqu baynanaa wa baynakum al-jana'iz" (perbedaan antara kami dan kalian adalah ketika menjadi jenazah) "(yaitu bahwa mereka harus berhati-hati terhadap apa yang terjadi pada kematian mereka dan untuk menjadi pembelajaran). Mereka tahu bahwa Imam Ahmad akan tahan dengan semua penyikasaan, untuk menegakkan kebenaran.

Pada akhirnya beliau dibebaskan setelah menghabiskan lebih dari dua tahun penjara. Ia akhirnya meninggal dunia pada usia 77 tahun. Salah seorang anaknya menyebutkan bahwa ayahnya masih memiliki bekas luka pada bagian bulu mata saat ia meninggal dunia. Meskipun demikian, lebih dari 800.000 orang menghadiri pemakamannya di Baghdad untuk memberikan penghormatan kepada cendekiawan agung tersebut. Juga tercatat bahwa dua puluh ribu orang menerima Islam pada hari itu.

Kata-kata Imam Ahmad yang digunakan untuk memperingati para penganiayanya dimanifestasikan. Kesabaran dan ketekunannya benar-benar diterima oleh Allah, sehingga sampai saat ini ia menjadi salah satu imam besar fiqih yang terkenal yang tak kenal takut dan tak tergoyahkan dalam posisinya.

Ibn Qutaybah menyatakan bahwa "bila Anda menemukan seseorang yang mencintai Ahmad ibn Hanbal, Anda harus tahu bahwa dia adalah pengikut Sunnah."

Imam Ahmad tidak hanya meninggalkan warisan dalam ilmu-ilmu keislaman dari hadis, fiqih dan teologi, namun ia juga melambangkan teladan baik yang diceritakan oleh Nabi kita tercinta dan para sahabatnya dalam perjuangannya untuk membela kebenaran dan tetap teguh di masa yang penuh dengan gejolak. Karena alasan inilah Imam Ahmad dikenal sebagai mujaddid (reviver of the deen) pada masanya.

Semoga Allah memungkinkan kita untuk mengikuti jejak tokoh besar tersebut. Amin.

Kesabaran Imam Ahmad Ibn Hambal Pada Masa-masa Sulit

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Ketika Dirampok
Ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani masih kecil, ia sudah banyak belajar tentang ilmu agama. Suatu ketika Abdul Qadir kecil meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke kota Baghdad (sekarang masuk dalam wilayah irak). Ia berkeinginan untuk mengunjungi rumah orang-orang saleh dan alim di sana serta menimba Ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.

Sang ibu memberi izin dan merestui keinginannya. Sebelum Abdul Qadir berangkat, ibunya memberikan uang sebanyak 40 dinar sebagai bekal perjalanan. Uang itu sengaja disimpan di saku yang dibuat khusus di bawah ketiak bajunya agar aman. Ibunya juga tak lupa untuk berpesan agar ia senantiasa berkata jujur dalam setiap keadaan, baik keadaan sulit maupun senang. Ia memperhatikan betul nasehat dan pesan ibunya, kemudian ia keluar dengan mengucapkan salam.

Ibunya berkata "pergilah nak, aku telah menitipkan keselamatanmu kepada Allah, agar kamu mendapatkan pemeliharaan dari-Nya".

Abdul Qadir kecilpun pergi bersama dengan rombongan kafilah unta yang juga sedang melakukan perjalanan ke kota Baghdad. Dalam perjalanan mereka dalam keadaan baik-baik saja, namun ketika mereka melintasi suatu tempat yang bernama Hamdan, tiba-tiba ada enam puluh orang perampok yang mengendarai kuda menghampiri dan merampok seluruh harta rombongan kafilah.

Yang unik dari peristiwa ini, tidak ada satupun dari perampok-perampok itu menghampiri Abdul Qadri, sampai pada akhirnya salah seorang dari perampok itu menghampiri dan bertanya kepadanya, "wahai orang fakir, apa yang kamu bawa?".

Abdul Qadri menjawab dengan polos, "aku membawa empat puluh dinar".

Perampok itu bertanya lagi, "dimana kamu meletakkannya?"

"Aku meletakkannya di saku baju yang terjahit rapat di bawah ketiakku."

Orang itu tidak percaya dan menganggap bahwa Abdul Qadir sedang meledeknya, kemudian ia meninggalkan boca laki-laki kecil itu.

Berselang beberapa waktu, datang lagi seorang perampok dan bertanya dengan pertanyaan yang sama, Abdul Qadir menjawab pula dengan jawaban yang sama. Jawaban jujur yang ia lontarkan tidak mendapatkan respon yang serius, dan perampok itu pergi meninggalkan Abdul Qadir begitu saja.

Kedua perampok tersebut menceritakan apa yang mereka alami kepada pimpinan mereka sehingga pimpinan itu merasa heran dan mererintahkan anak buahnya untuk memanggil bocah jujur itu. "Panggil Abdul Qadri ke mari!".

Ketua perampok itu bertanya kepada Abdul Qadir saat ia sampai, "apa yang kamu bawa?"

Jawab Abdul Qadir, "empat puluh dinar."

"Dimana kamu meletakannya?" tanya kepala perampok itu lagi.

"Uang itu berada di saku yang terjahit yang terjahit rapat di bawah ketiakku."

Pimpinan perampok itu, kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk menggeledah bagian ketiak Abdul Qadir, dan mereka menemukan uang sebanyak empat puluh dinar. Siakpnya yang polos dan jujur itu membuat perampok-perampok itu heran dan menggeleng kepala mereka. Seandainya saja ia berbohong, para perampok itu tidak akan mengetahui apa yang ia bawa, apalagi waktu itu penampilan Abdul Qadri kecil sangatlah sederhana layaknya orang miskin.

"Apa yang mejadikan dirimu berkata yang sebenarnya?"

"Ibuku yang memerintahkan aku untuk berkata benar, aku tidak punya keberanian untuk durhaka terhadapnya," jawab Abdul Qadir.

Ketua perampok itu mendengar jawaban dan pernyataan Abdul Qadir, dia kemudian merasa menyesal yang sangat mendalam dan menangis tersedu-sedu. "Engkau tak berani ingkar kepada janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun ingkar kepada janji Tuhanku."

Pimpinan perampok itu kemudian menyatakan tobat kepada Allah di hadapan Abdul Qadir, anak kecil yang namanya kelak akan menjadi harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya' Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Apa yang dilakukan pimpinan perampok ini kemudian diikuti oleh seluruh anak buahnya. (Kisah ini ditulis ulang dari website NU online)

Dari kisah kejujuran syekh Abdul Qadir Al-Jailani ketika dirampok ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah, diantaranya bahwa kejujuran dan kebenaran merupakan hal yang sangat penting walau kita dalam keadaan apapun. Ketika dalam keadaan senang, kita harus berlaku jujur dan benar begitu pula dalam keadaan susah. Karena apa yang kita lakukan dengan benar itu bukan saja bermanfaat kepada kita tetapi juga bermanfaat bagi orang lain, bahkan menjadi jalan dakwah untuk menyadarkan orang lain dari ketidak benaran dan kemunafikan.

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Ketika Dirampok

 Bapak Kimia Modern: Jabir Ibnu Hayyan dan kontribusinya pada dunia
Kimia adalah ilmu alam yang mempelajari struktur materi, perubahan kimiawi yang terjadi dalam keadaan tertentu dan keteraturan yang dapat ditarik darinya.

Ilmuan Muslim telah banyak mempelajari dan memperdalam pengetahuan mereka terkait dengan ilmu pengetahuan kimia. Sayangnya penelitian dan kontribusi mereka hanya digunakan untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut, namun nama mereka banyak yang di sembunyikan, sehingga kebanyakan yang kita temui nama mereka berada dalam cerita fiksi semata. Seakan kebenaran tentang mereka tidak muncul dipermukaan dalam bentuk ilmiah. Bahkan ilmuan-ilmuan Islam namanya diganti agar kebarat-baratan, karena saat ini citra orang-orang arab dan umat Islam sengaja dibuat agar menjadi buruk.

Kimia dan Alkimia


Istilah 'alkimia' umumnya digunakan saat berbicara tentang jenis kimia yang diduga belum dipraktekkan seperti yang kita lakukan saat ini.

'Ordinall of Chemistry' menyatakan bahwa kimia sebagai ilmu pengetahuan berasal dari sekitar abad ke-17 dan ke-18. Dibandingkan dengan standar sekarang, kimia tidak akan dipraktekkan secara ilmiah sebelum itu. Ini berarti bahwa ahli kimia pada waktu itu tidak secara khusus mencari penjelasan kritis tentang gejala kimia. Ilmuwan pra-abad ke-17 disebut 'alkimia'.

Beberapa ilmuwan membalas pendapat dunia ini. Beberapa fakta menunjukkan bahwa para ilmuwan Muslim tidak hanya berkontribusi pada apa yang disebut sebagai alkimia. Eric John Holmyard, sejarawan terkenal, ahli kimia dan Arabis, memastikan bahwa klaim ilmuwan yang tidak masuk akal seperti Berthelot (seorang ahli kimia Prancis) tidak benar.

Dalam 'Makers of Chemistry' dia menguraikan perkembangan kimia dari awal sampai zaman modern. Dalam karya ini, dia menyatakan bahwa kimia Islam sebenarnya adalah dasar kimia modern. Dia juga mengungkapkan tentang beberapa ilmuwan Muslim, termasuk ahli kimia yang paling terkenal: Jabir Ibn Hayyan atau dalam dunia barat dikenal sebagai Geber.

Profil Singkat Bapak Kimia Modern (Jabir)


Nama lengkapnya Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan, yang lebih dikenal dengan nama Jabir (Geber), lahir sekitar tahun 721 dan meninggal sekitar 815 di desa Tus (sekarang di Iran), tumbuh dalam keluarga dimana kimia belum diketahui. Ayahnya adalah seorang apoteker, sehingga kemungkinan besar menjadi penyebab awal minatnya dalam mempelajari dan meneliti tentang kimia.

Ayah Jabir kemudian dieksekusi karena perjuangan politik waktu itu, yang memaksanya untuk melarikan diri ke kota Kufah. Kota ini kemudian diperintah oleh khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid.

Jabir dapat mempraktikkan sains di tingkat tertinggi berkat hubungannya dengan Barmakids (keluarga Persia berpengaruh yang menasihati khalifah Abbasiyah pertama).

Jabir Fokus Melakukan eksperimen


Jabir Ibn Hayyan adalah salah satu ilmuwan Muslim terbesar yang tidak bisa diragukan kebenarannya. Holmyard secara sah menamai dia 'Bapak Kimia'. Menurut Holmyard, salah satu aspek fundamental yang disampaikan Jabir adalah perkembangan sisi praktis kimia yaitu melakukan eksperimen. Bereksperimen memisahkan sains seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam dari tradisi spekulasi Yunani Kuno. Jabir menekankan pentingnya bereksperimen sebagai berikut: 'Yang paling penting dalam kimia adalah Anda harus melakukan pekerjaan praktis dan melakukan eksperimen, karena yang tidak melakukan pekerjaan praktis dan tidak melakukan eksperimen tidak akan pernah mencapai tingkat penguasaan, hanya sedikit.'

Kontribusi Jabir Pada Dunia Kimia


Perhatian Jabir terhadap presisi membuatnya dapat menciptakan timbangan yang bisa menimbang dengan akurasi 1/6 gram. Baginya, bereksperimen dengan materi berarti ia bisa mencampur, memanaskan, mendinginkan, menggiling, memanggang dan mengaduk berbagai zat. Kalau dilihat tempat kerja tradisional yang disebut sebagai 'alkemis' terlihat sangat mirip dengan yang kita sebut laboratorium kimia hari ini.

Untuk melakukan eksperimennya secara akurat, ia merancang berbagai jenis alat-alat praktek kimia seperti retort. Eksperimennya dengan berbagai proses kimia memungkinkannya untuk memicu reaksi seperti pengurangan (reaksi yang melibatkan perolehan elektron), kalsinasi (oksidasi melalui pemanasan, misalnya pembakaran kapur) dan mungkin yang paling penting dalam penelitiannya adalah distilasi atau penyulingan.

Dengan menggunakan alembik buatannya, dia menciptakan cara sederhana untuk melakukan penyaringan. Alembik adalah konstruksi sederhana dari dua botol yang dihubungkan oleh sebuah tabung. Salah satu botol dipanaskan dan menyebabkan cairan di dalamnya meresap dan menetes ke bawah melalui tabung. Alembik kemudian digunakan untuk memperbaiki minyak mineral menjadi minyak tanah yang bisa digunakan sebagai lampu minyak.

Pengembangan Kimia Modern


Sepuluh abad sebelum John Dalton (fisikawan Inggris dan ahli kimia yang dikenal melalui teori atom dan teori molekulnya), Jabir telah menciptakan alat untuk melihat partikel-partikel terkecil yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, dengan tidak menghilangkan sedikitpun karakteristik asli partikel-partikel tersebut.

Jabir juga mengidentifikasi banyak zat baru. Dalam penelitiannya ia menemukan asam kuat seperti asam sulfat, asam klorida dan asam nitrat. Penemuan ini terbukti sangat penting bagi kimia modern, bahkan menjadi penting bagi industri kimia saat ini.

Jabir juga meletakkan dasar dalam apa yang sekarang kita kenal sebagai tabel periodik Mendeleev. Dia mencoba membuat tabel untuk mengklasifikasikan unsur kimia, seperti tabel Mendeleev. Jaber terinspirasi dari gagasan ilmuan Yunani Kuno yang mengklasifikasikan unsur-unsur terdalam dalam berbagai logam, non-logam dan zat yang dapat disuling. Dari penelitiannya itu, sehingga entah bagaimana mejanya menyerupai tabel unsur periodik modern.

Bapak Kimia Modern: Jabir Ibnu Hayyan dan kontribusinya pada dunia

Ilmuan Muslim di balik produk kecantikan saat ini
Lipstik, handbody lotion, produk pemutih gigi, krim tangan ... tidak ada orang di dunia ini yang tidak tahu tentang produk ini dan, setiap tahun, perusahan-perusahan besar dengan merek terkenal menghasilkan banyak sekali produk baru untuk memanjakan konsumen (sekaligus menguras habis isi kantong). Namun, hanya sedikit orang yang tahu tentang siapa yang telah berjasa dalam pengembangan produk ini pada masa lalu. Tanpa orang-orang itu, kita tidak akan memiliki produk yang kita nikmati hari ini. Salah satu orang paling menonjol dalam hal ini adalah seorang pria Muslim dari Spanyol.

Al-Zahrawi, beliau juga dikenal sebagai Abulcasis, yang merupakan seorang dokter dan ahli bedah Muslim Arab dari Andalusia, sekarang dikenal sebagai Cordoba, Spanyol. Terlepas dari reputasinya sebagai "bapak pembedahan", ia juga berkontribusi besar dalam pengembangan produk kosmetik kecantikan kita saat ini. Anda bisa menemukan kontribusinya dalam karyanya yang terkenal yaitu Kitab al-Tasrifi (metode kedokteran). Kitab ini merupakan Ensiklopedia yang terdiri dari 30 jilid dan digunakan oleh ilmuan dan sarjana di Eropa sekitar abad ke-12 dan ke-17.

Dalam volume Adwiyat Al-Zinah (obat kecantikan), Al-Zahrawi menulis tentang perawatan dan kecantikan rambut, kulit dan bagian tubuh manusia lainnya dalam batas-batas Islam. Ia membahas banyak produk kecantikan untuk perawatan pribadi seperti parfum, wangi aromatik dan dupa. Beliau juga membahas tentang, produk-produk kosmetik yang digulung dan ditekan dalam cetakan khusus, yang mirip dengan lipstik dan deodoran padat yang digunakan saat ini. Al-Zahrawi bahkan menyarankan untuk merendam pakaian di dalam ember yang isinya air dengan wewangian sehingga pakaian menjadi harum dan menyenangkan. Hal ini seperti yang dilakukan orang saat ini dengan deterjen, sabun bubuk, pewangi pakaian yang dimasukkan ke air bilasan pakaian, dan sebagainya.

Produk-produk kecantikan yang dibahas oleh Al-Zahrawi juga untuk tujuan membantu mengobati orang-orang yang sakit cacat akibat pernyakit sifilis atau cacar. Selain itu bahan-bahan kosmetik lain yang digunakan untuk kepentingan medis yang dibahas oleh Al-Zahrawi adalah semprotan hidung, pencuci mulut, krim tangan, dan sebagainya.

Semua yang ditulis oleh Al-Zahrawi tentang produk kecantikan baik itu penggunaannya untuk mempercantik diri atau untuk tujuan penyembuhan, telah meniggalkan jejaknya di dunia ini pada abab ke-21 (saat ini), dan mungkin akan berlanjut pada masa yang akan datang.

Ilmuan Muslim di balik produk kecantikan saat ini

Filsuf Muslim Tersohor Al-Farabi: Disebut juga sebagai Aristoteles pada masanya
Banyak orang saat ini tidak terlalu setuju bila seseorang memilih musik sebagai karier atau sebagai suatu bidang keahlian, apalagi kaum agamawan dengan pemahaman Islam transnasional atau radikal. Pakaian yang berkilau, gaya hidup yang glamor, dan belum lagi rumor kontroversial yang disebabkan oleh ketenaran, membuat kita sulit untuk membayangkan jika seorang musisi bisa menjadi orang yang cerdas di bidangnya (musik) sekaligus di bidang pengetahuan lain. Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya ada orang yang cerdas bahkan genius di bidang musik dan juga jenius di beberapa bidang lain, seperti sains, matematika, dan astrologi. Tentu saja, kita tidak berbicara tentang orang yang jenius di bidang musik seperti grup-grup band atau musisi-musisi yang ada di Indonesia, atau di luar negeri, tetapi  kita sedang membicarakan tentang seseorang yang hidup pada abad ke-10.

Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi, di dunia barat dia juga dikenal dengan nama latinnya Alpharabius. Al-Farabi lahir pada tahun 872 dan meninggal pada tahun 950. Dalam biografi hidupnya, para sejarahwan masi mendiskusikan atau mempermasalahkan asal usulnya. Sampai sekarang, mereka tidak dapat menentukan apakah dia berasal dari Turki atau Persia. Dalam filsafat Abad Pertengahan, Al-Farabi dikenal sebagai Guru Kedua. Julukan itu diberikan karena orisinalitasnya menafsirkan filsafat Aristoteles (yang merupakan Guru Pertama) dalam mempelajari ilmu-ilmu Islam. Dari itulah, dunia Islam kontemporer sangat dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles. Sebagai poliglot, Al-Farabi bisa berbicara dalam berbagai bahasa: Arab, Persia, Turki, Siria, dan Yunani. Kecerdasannya ini membantunya melakukan perjalanan dan beradaptasi dengan budaya baru. Dia melakukan perjalanan dari Persia ke Baghdad dan tinggal di sana selama dua dekade. Di Baghdad, dia bertemu dengan filsuf terkenal seperti Ibn-Kindi dan Ar-Razi.

Filosofi Al-Farabi


Al-Farabi sangat bersemangat dalam belajar, bereksperimen, dan beliau juga sangat menjunjung tinggi rasionalitas dan akal sehat saat belajar dan dalam kehidupan nyata. Al-Farabi selalu serius dalam hal mengklarifikasi, memahami, dan mengajar orang lain. Dia merekomendasikan dalam hal apapun untuk selalu mengutamakan objektifitas (yang benar-benar terjadi), yaitu yang dilihat dengan kasat mata, kemudian dikombinasikan dengan rasa spiritualitas dan rasionalitas. Selian itu Al-Farabi mengajarkan bahwa penting untuk bahagia bagi manusia biasa dan seorang ilmuan atau tokoh terkemuka, semuanya perlu untuk mencapai kebahagiaan bersama. Karena filsafat rasional dan Aristotelesnya, Al-Farabi terkenal dan tersohor baik itu di dunia Timur maupun Dunia Barat.

Sebagian besar pemahaman ilmiah dunia tentang musik berasal dari bahasa Yunani kuno: kata musik berasal dari kata Yunani yaitu mousiki, yang artinya ilmu menyusun melodi. Tetapi kata itu adalah merupakan judul buku Al-Farabi yang ditulisnya sendiri yairu Kitab al-Musiqa, yang secara signifikan memperluas teori-teori Yunani Kuno dengan mengeksplorasi teosofi musik dan memberikan informasi rinci tentang alat-alat musik. Ketika orang-orang Eropa mulai melakukan perjalanan ke daerah baru selama Abad Pertengahan, mereka menemukan alat musik Arab dan tulisan-tulisan Al-Farabi. Dilihat dari hal ini, maka sebenarnya, budaya Arab merupakan pelopor musik - khususnya instrumen perkusi - dalam musik Eropa.

Pengaruh Al-Farabi


Filsuf Muslim Tersohor Al-Farabi: Disebut juga sebagai Aristoteles pada masanya

Karya lain yang dapat dipelajari untuk mengetahui atau mengukur pengaruh Al-Farabi terhadap filsuf kontemporer dapat ditemukan dalam karya para filsuf seperti Ibn Rusyd atau Averroes, Ibn Khaldun, dan Maimonides yang merupakan seorang filsuf Yahudi terkenal. Maimonides menyebut Al-Farabi sebagai Guru Kedua dalam karyanya yang berjudul The Treaties on Logic atau dalam bahasa arab Maqala Fi Sinat Al-Mantiq. Dalam karya ini dia menggambarkan esensi logika Aristoteles yang ditemukan dalam ajaran Al-Farabi.

Beberapa karya Al-Farabi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani. Bagian-bagian dasar filsafat Al-Farabi masih berlaku sampai sekarang: penekanannya pada pentingnya matematika dan sains, metode eksperimental, integrasi pengetahuan, dan pentingnya nilai dan rasa estetika. Orang bahkan bisa menambahkan bahwa budaya Arab telah menurun dalam hubungannya dengan filsafat pendidikannya, yang dirancang untuk membentuk kepribadian terpadu dalam tubuh, intelek, etika, estetika, dan teknologi.

Kenapa kita harus mengenal Al-Farabi


Di tangan Al-Farabi, sains dan seni menyatu dan dapat dilihat sifat sejati keduanya, yaitu untuk menyatukan umat manusia terlepas dari etnisitas, kepercayaan, dan bangsa. Ada sebuah kota bernama Harran di utara Syria saat ini, tempat yang digunakan untuk mengembangkan budaya Yunani Kuno. Di sana, dia bertemu dengan mentornya, Yuhana bin Jilad, seorang filsuf Kristen yang terkenal. Karyanya dipelajari dan telah mempengaruhi Maimonides yang telah disebutkan di atas. Al-Farabi juga memiliki hubungan dekat dengan Sayf al-Dawla Hamdanind, seorang tokoh Muslim Syiah di Aleppo, yang memiliki ikatan koeksistensi yang kuat antara Syiah dan Sunni di Suriah kuno. Al-Farabi menunjukkan kepada kita bahwa minat dan bakatnya dalam musik tidak membatasi pencapaiannya dalam masalah ilumu pengetahuan ilmiah dan matematika. Sebaliknya, ia menggabungkan pola matematika saat membangun melodi. Mungkin kalau dia hidup di zaman modern barangkali menjadi ilmuan sekaligus memiliki band musik, atau memiliki kelompok musik lainnya.

Dalam membaca riwayat hidupnya, Al-Farabi sangat fleksibel, dia bisa berjumpa dan menimba ilmu dengan siapa saja, tanpa membedakan perbedaan yang ada. Dia bisa dikatakan sebagai seorang yang berpaham multikultural klasik. Sehingga patut dicontohi dalam membangun bangsa Indonesia yang beragam ini.

Filsuf Muslim Tersohor Al-Farabi: Disebut juga sebagai Aristoteles pada masanya