Coretanzone: Tokoh -->

    Social Items

Kisah Teladan Ibnu Sina dalam Menghadapi Orang yang Bodoh
Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh Islam yang sangat mahsyur. Beliau dikenal sebagai tokoh kedokteran yang karya-karyanya menjadi rujukan di bidang kedokteran berabad-abad lamanya. Sebagai salah seorang ilmuan yang lahir di Persia, beliau memiliki begitu banyak kisah inspiratif yang dapat kita ambil hikmahnya, salah satu kisahnya sebagai berikut.


Sebagai masyarakat yang hidup di padang pasir Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh yang suka melakukan perjalanan untuk berbagai kepentingan. Suatu ketika beliau melakukan perjalanan untuk urusan tertentu, ketika dalam perjalanan Ibnu Sina melihat ada tempat yang rindang dan bisa dijadikan sebagai tempat berteduh dan beristirahat. Beliau menghentikan kudanya di tempat tersebut kemudian mengikat kudanya di tempat yang agak rindang dan beristirahat.


Setelah beristirahat sejenak, Ibnu Sina lalu memberi makan kudanya dengan jerami yang dicampur dengan rumput-rumput yang dipilihnya berkualitas baik. Sebagai manusia yang memiliki pengetahuan yang tinggi, Ibnu Sina mengetahui betul bahwa menyiksa hewan itu suatu hal yang buruk, hewan apapun harus disayang karena merupakan ciptaan Allah, apalagi hewan yang sehari-hari selalu membantu manusia dalam beraktivitas.


Setelah memberi makan kudanya, Ibnu Sina kembali beristirahat di tempatnya yang lebih teduh yang tidak jauh dari tempat kudanya beristrahat. Beliau kemudian mengambil bekal yang dibawanya dan menikmatinya untuk menghilangkan lapar dan dahaga. 


Dalam kesendiriannya menikmati bekal yang dimilikinya, tiba-tiba datang seseorang mengendarai keledai yang juga ingin beristirahat di tempat tesebut. Orang yang baru datang ini turun dari keledainya kemudian mengikat keledainya itu di dekat kuda milik Ibnu Sina, dengan maksud agar keledai yang ia kendarai dapat memakan jerami dan rumput yang sama dengan yang dimakan oleh kuda milik Ibnu Sina.


Setelah keledainya diikat dan diberi makan, orang ini kemudian berjalan dan menuju ke tempat istirahat Ibnu Sina dan beristirahat dekat dengan ilmuan Islam ini. Setalah itu dia mengambil bekalnya dan menikmatinya. Di sela-sela mereka berdua menikmati apa yang mereka miliki, Ibnu Sina mengingatkan orang ini dengan mengatakan bahwa.


"Keledai yang engkau miliki, jauhkan dari kudaku agar tidak ditendang"


Orang yang berada di dekat Ibnu Sina ini hanya tesenyum mendengar peringatan itu, dia tidak bergerak untuk memindahkan keledainya, dan hanya memandang ke arah keledai dan kuda yang berdiri berdampingan.


Tak begitu lama dari peringatan Ibnu Sina, tiba-tiba terdengar suara "plak," kuda milik Ibnu Sina menendang keledai yang berada di dekatnya hingga keledai itu terluka cidera. 


Melihat keledainya sudah terluka cidera, orang ini kemudian marah-marah kepada Ibnu Sina, dan meminta pertanggung jawaban kepada Ibnu Sina atas apa yang telah kuda itu lakukan kepada keledainya. Namun Ibnu Sina hanya diam, tak ada sepata katapun terucap dari mulut Ibnu Sina. Merasa kesal dengan hal tesebut, pemiliki keledai ini pergi ke hakim untuk melaporkan apa yang telah terjadi dan meminta agar hakim mengatakan kepada Ibnu Sina untuk mengganti rugi atau membayar luka cedera keledai miliknya yang ditendang kuda milik Ibnu Sina.


Setelah laporan itu diterima oleh hakim, Ibnu Sina dipanggali untuk dilakukan sidang. Dalam persidangan hakim bertanya kepada Ibnu Sina tentang apa yang telah terjadi, namun Ibnu Sina tetap menutup mulutnya, tak terucap satu katapun.


Melihat keadaan ini, hakim kemudian bertanya kepada orang yang mengadukan permasalahannya.


"Apakah orang yang engkau laporkan ini bisu?"


Mendengar pertanyaan dari hakim itu, orang yang mengadu ini menjawab, "tidak hakim, saat berteduh tadi dia berbicara kepadaku."


Hakim terdiam sejenak dan bernya lagi, "apa yang orang ini katakan kepadamu?"


Orang ini dengan wajah yang mulai berubah menjawab dengan hati-hati, "keledaimu jangan dekatkan dengan kuda yang ku miliki, nanti ditendang"


Hakim tersenyum mendengar jawaban dari orang ini, kemudian berkata kepada Ibnu Sina, "engkau memang orang yang cukup cerdas, dengan tidak berkata apapun kebenaran sudah terungkap"


Ibnu Sina lalu tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh hakim tersebut, kemudian ia berkata, "tiada cara apapun menghadapi orang yang bodoh, kecuali dengan diam, karena dengan begitu kebenaran akan menunjukkan jalannya sendiri. Itulah yang menyebabkan saya memilih untuk diam."


Sidangpun selesai, dan Ibnu Sina tidak membayar ganti rugi atas apa yang telah kudanya lakukan kepada keledai miliki orang tersebut, karena sebelumnya Ibnu Sina sudah memperingatkan orang tersebut agar jangan mendekatkan keledainya di dekat kuda miliki Ibnu Sina.


Dari salah satu kisah kecerdasan Ibnu Sina di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa, ternyata diam itu terkadang emas. Untuk menghadapi orang bodoh kita tak perlu banyak berdebat dengan mereka, karena orang yang memiliki kecerdasan yang minim tidak akan mampu menjangkau cara berpikir orang yang cerdas. Mereka (orang-orang bodoh) akan terus berdebat hingga bisa terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Olehnya itu bijak dan berpikir cerdas merupakan jalan yang terbaik dalam menghadapi berbagai persoalan.

Kisah Teladan Ibnu Sina dalam Menghadapi Orang Bodoh - Terkadang Diam Itu Emas

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran
Abad ke-10 menjadi puncak zaman keemasan dinasti Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya Al-Hakam II, dinasti ini menegakkan kedaulatannya atas hampir seluruh Semenanjung Iberia. Ibukota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota berpenduduk setengah juta manusia. Lembaga-lembaga pendidikan dan agama serta perdagangan dan industri berkembang dalam suasana pergolakan intelektual.

Pada tahun 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru yaitu kota Az-Zahra, di lereng gunung Al-Arus, sebuah gunung berjarak enam mil di barat laut Cordoba. Kota ini dibangun sebagai pusat politik dan militer. Kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megahnya, tempat tinggalnya, dan taman-tamannya yang indah telah membuat beberapa sejarawan menyebutnya sebagai "Versailles of Umayyads."

Pada saat yang sama, dinasti Umayyah Andalusia memberikan perlindungan dan menyokong perkembangan seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kesehatan dan ilmu biologi. Akibatnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibukota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka lakukan.

Di kota kerajaan ini di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang lebih dikenal di Barat dengan nama Latinnya Albucasis, dilahirkan sekitar tahun 938. Ia adalah soerang dokter ahli bedah Muslim tersohor di eropa Eropa dan dunia. Dia melebihi Galenus, seorang dokter bedah di Eropa yang tersohor sebelumnya.

Naskah tentang dokter bedah Eropa Abad Pertengahan menyatakan bahwa Az-Zahrawi lebih sering daripada Galen. Namun karena kota kelahiran Az-Zahra dihancurkan pada tahun 1011 maka hanya sedikit saja yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya.

Kitab Jadhwat al-Muqtabis (Tentang Andalusia Savants) milik Al Humaydi berisi tentang biografi dokter Islam yang ada (walaupun sketsa) yang ada, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggalnya, dan perkiraan tanggal kematiannya.

Pengetahuan Az-Zahrawi tentang kedokteran ditulis dalam karyanya yang berjudul At-Tasrif liman 'Azija' an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif merupakan ringkasan 30 risalah yang dikumpulkan dari data medis yang diakumulasikan Az-Zahrawi dalam karir medis yang ia jalankan selama lima dekade, yang dimulai dari dia belajar dan melakukan praktek secara medis.

Di dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi mennulis ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek ilmu kedokteran yang menekankan pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia.

At-Tasrif menguraikan penyebab, gejala dan pengobatan penyakit, dan membahas persiapan obat-obatan dan terapi, yang mencakup obat-obatan emetik dan jantung, obat pencahar, geriatri, tata rias, dietetika, medica materia, berat dan ukuran, serta penggantian obat.

Analisis Az-Zahrawi tentang kesehatan ibu dan anak dan profesi kebidanan sangat menarik dalam sejarah keperawatan. Teksnya menyiratkan bahwa ada profesi yang berkembang subur dari bidan terlatih dan perawat yang ada selama di berada di Andalusia pada abad ke-10. Dia dan dokter ahli obstetri yang sudah terlatih lainnya menginstruksikan dan melatih bidan untuk melaksanakan tugas mereka dengan pengetahuan dan keyakinan.

Volume terakhir dan terbesar dari At-Tasrif adalah On Surgery (pembedahan) yang merupakan pencapaian terbesar dari ilmu bedah/operasi abad pertengahan. Tulisan itu merupakan risalah bedah pertama yang ditulis secara mandiri oleh Az-Zahrawi.

Tulisan ini mencakup berbagai masalah bedah termasuk kauterisasi, perawatan luka, ekstraksi panah, dan pengaturan tulang pada fraktur sederhana dan majemuk. Az-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan antiseptik pada luka dan cedera kulit; jahitan yang dirancang dari usus binatang, sutra, wol dan bahan lainnya; dan mengembangkan teknik untuk memperluas saluran kemih dan mengeksplorasi pembedahan rongga tubuh.

Az-Zahrawi adalah yang pertama merinci operasi klasik untuk kanker payudara, lithotrities untuk batu kandung kemih, dan teknik untuk menghilangkan kista tiroid. Dia menggambarkan dan mengilustrasikan forsep obstetri, tetapi hanya merekomendasikan penggunaannya dengan janin yang sudah meninggal, dan memberikan deskripsi pertama yang diketahui tentang postur kebidanan yang sekarang dikenal sebagai "posisi Walcher."

At-Tasrif juga merupakan karya pertama dalam pembuatan diagram instrumen bedah, merinci lebih dari dua ratus, banyak di antaranya merupakan rancangan Az-Zahrawi sendiri. Kebanyakan dari instrumen ini yang sudah dimodifikasi masih digunakan sampai sekarang.

Dengan kebangkitan kembali keinginan Eropa dalam ilmu kedokteran, At-Tasrif dengan cepat menjadi referensi standar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak lima kali. Susunan karya, diksi yang jelas, dan penjelasannya yang jelas berkontribusi pada popularitas dan kesuksesan besar.

Pengaruh Az-Zahrawi pada perkembangan bedah Eropa sangat dalam dan bertahan hingga saat ini. Guy de Chauliac, yang dikenal sebagai "Pemulih Bedah Eropa," mengutip tulisan-tulisan Az-Zahrawi lebih dari 200 kali.

Az-Zahrawi, Dokter Bedah yang Sangat Berpengaruh dalam Ilmu Kedokteran