Coretanzone: Tradisi

    Social Items

MALUKU is the largest archipelago province in Indonesia which stands east of NKRI. Maluku has been known since the colonial period with the typical spices of nutmeg and cloves are also plants that become staple food community Maluku sago. The Moluccas are rich in abundant natural wealth making Maluku has an incredible natural asset ranging from sea to land. The cultural arts, as well as the customs of the tradition, are also the main attraction for Maluku. The following traditions are the attraction of Maluku tourism which will be very unfortunate if you do not have time to enjoy it when you are on vacation in the land of Kings.

1. Eat Patita


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Eating Patita is a diligent tradition done within a year. Eating Patita is held to celebrate important days such as the celebration of Indonesian independence on every 17th of August, the anniversary of the city or district and others. Eating Patita is a tradition of eating with a group of people by serving Maluku typical foods such as smoked fish, sweet potato boiled, boiled cassava etc. Every family/household will cook Moluccan delicacies in large quantities later, the food will be taken to the patita eating location to be eaten together. Eating Patita is usually located in the open like a field, village streets and there is also in the building. The Patita table is the name of the place where food is placed. Usually, there is a table made of statues made of coconut leaves or banana leaves are arranged along the road/location as a base, there is also a wooden table that is covered with banana leaves as a table. This tradition aims to introduce a typical menu of Maluku also increase kinship and togetherness in community life.

2. Pukul Sapu (Hit a Broom of Palm Trees on The Body)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pukul Sapu is the next tradition. Pukul Sapu is a tradition conducted by the village community of Mamala a village located on the island of Ambon. This tradition is done every 7 Shawwal or a week after Idul Fitri, this tradition is done by the men. They are bare-chested with shorts and headbands. Before they do hit action they will be collected at the traditional house to attend a series of traditional events and ask the prayer to the ancestors to be blessed. Players of capsule brooms amounted to 10 to 15 people divided into 2 groups with different pants colors. They hold a broomstick made from the leaves of a palm tree with a length of about 1.5 meters with the diameter of the base 1-3 cm. They will start hitting each other until their bodies are wounded and swollen, but the players at the broom say that they never feel pain in their bodies, they just feel comfortable and amused when every stick of broom is banged onto their bodies.

3. Crazy Bamboo


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Crazy Bamboo is a Maluku community tradition that is closely related to mystical things. On the island of Ambon, traditional Crazy Bamboo shows can be found in the villages of Liang and Mamala villages. This tradition begins with the cutting of bamboo stems, not all bamboo stems can be used, the handler must perform a series of customs to ask permission to cut the bamboo stems in the bamboo forest. Bamboo is used in this tradition is bamboo with the strange segment, the bamboo length can reach 2.5 meters with a diameter of 8-10 cm. After getting bamboo, the things that must be provided are the peculiarities, mantras and the odd-numbered men as bamboo hawkers. The most important thing in this tradition is that all necessities must be odd. The bamboo-resistant men are usually well-built athletic with strong force, this is because they must be able to resist the bamboo that will wriggle very fiercely, they also wear only red or black shorts with a headband without wearing a shirt to cover the chest, but for certain reasons sometimes crazy bamboo players are required to wear closing clothes to cover the chest. Once all the preparations are ready, the attraction will begin. The handler will direct the spirit inside the bamboo while holding a container of incense while reciting a mantra. The spirit will rebuke and make the bamboo hawkers thrown here and there, but the bamboo retainers must be able to hold the bamboo until it can be soothed by the handler.

4. Tradition Of Timba Laor (Harvest Marine Worms)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Laor is the name for marine life-like worms (marine worms) that live composed. Usually, people will go to the beach at night to take this animal. These animals are eaten raw or fried. Raw laor is only mixed with vinegar and salt plus sliced onion, while the fried laor is certainly fried as usual. This tradition is done once a year when the laor appears at sea level. The time is about in March at the turn of the west season to east season (season transition).

5. Tradition Pela gandong (fraternal tradition)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pela Gandong is a tradition that has been embedded in every Maluku society and this tradition still survives until now. It is because of this tradition that Maluku is called Pela Gandong Country. Pela Gandong itself is a fraternity tradition of people who differ from each other, but has the same goal is to preserve togetherness and kinship. Pela gandong carried out to tie the kinship between two villages to bind kinship and live safely respect and respect each other Maluku people.

6. Festival of Enchantment Meti Kei


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Meti Kei is a tidal phenomenon that can reach five to six kilometers from the mainland (coast) to the sea. This phenomenon occurs in certain months of the year, which starts in the month of September until the month of October. The peak of this natural phenomenon is in October used by the people of Kei islands to create a festive celebration, called the Festival of Enchantment Meti Kei

Well, that's 6 traditions of the people of Maluku which until now still maintained and become an attraction for tourists who visit Maluku. Are you interested to see firsthand this tradition? #CometoMaluku

6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction

Harunya Tradisi Bau Nyale Pulau Lombok, Pengorbanan Putri Mandalika Yang Arif Dan Bijak
Pernah ke pulau Lombok Nusa Tenggara Barat? Apa yang menurut Anda paling menarik dari sana, yang membuat orang jatuh cinta dan ingin kembali lagi? Selain pantai serta suasana alam lainnya, apalagi yang Anda  ketahui?

Ya, benar tradisi tentang "bau nyale" atau menangkap cacing warna-warni di laut. Sesuai dengan namanya "bau" artinya menangkap dan "nyale" artinya cacing. Warnanya indah, tapi hanya muncul dua kali dalam setahun di bulan-bulan tertentu, yaitu pada bulan Februari dan Maret, atau pada hari 19 dan 20 bulan 10 dan 11 dalam penanggalan suku Sasak.

Sebenarnya tradisi ini sudah sejak lama ada, kepastiannya kapan tidak tahu, meski versi babad menyebutkan mulai dipekenalkan pada abad ke 16. Cacing yang ditangkap tersebut masuk dalam daftar cacing jenis filum Annelida. Hidup dilubang-lubang batu karang yang ada di bawah permukaan laut.

Bau Nyale biasa dilakukan oleh penduduk yang bertempat tinggal di daerah pesisir pantai di pulau Lombok Selatan, khususnya di pantai Lombok Timur, seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan kecamatan Jerowaru. Juga diadakan di Lombok Tengah di : pantai Seger, pantai Kuta dan pantai sekitarnya. Biasanya saat mengadakan acara ini dilengkapi dengan acara hiburan pendamping.

Tradisi adat tersebut selalu dihubungkan dengan keadaan budaya setempat, sebuah filisofi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat asli pulau itu hingga kini. Konon menurut legenda nyale berasal dari jelmaan seorang putri. Ia mengorbankan diriya dengan cara menyeburkan dirinya ke laut, sebab membela kepentingan rakyatnya.

Alkisah, diceritakan pada jaman itu sang putri terkenal karena kecantikan paras budi pekertinya. Karena itu sang putri banyak digilai para raja dan pangeran di wilayah tersebut. Beliau tidak dapat memilih menentukan pria mana yang akan dijadikan suaminya. Beliau berpikir jika mengambil salah satu dari mereka, cemas akan terjadi peperangan sebab sakit hati. Akibatnya rakyatnya yang akan menjadi korban.

Putri sangat mencintai rakyatnya, beliau tidak ingin terjadi sesuatu. Untuk itu demi menyelamatkan mereka semua, sang putri nekad menenggelamkan diri ke dasar samudera. Dan uniknya setelah tubuh putri menyentuh air laut, berubah menjadi cacing yang beraneka warna.

Masih menurut legenda, perubahan tubuh yang elok itu tidak terlepas dari sikap perilaku sang putri, yang memimpin dengan adil serta bijak. Masyarakat meyakini bahwa nyale dapat memberikan mereka semacam mukjizat. Orang yang menangkap nyale dipercaya akan mendapat kesejahteraan hidup, sangat dihormati keberaaannya, yang mengabaikan mendapat kemalangan.

Nyale setelah ditanggap banyak digunakan untuk berbagai keperluan sesuai kebutuhan masing-masing. Ada yang mempercayai dapat membuat tanah pertanian menjadi subur terutama padi, sehingga hasil panen yang didapatkan memuaskan. Tapi ada pula yang digunakan untuk lauk pauk, obat, dan yang sesuatu yang berkenaan dengan dunia gaib.

Upacara bau nyale sesungguhnya dibagi dalam dua bagian, yakni dilihat dari bulan keluarnya nyale-nyale dari laut dan waktu penangkapannya. Dari kala penangkapannyapun masih juga terbagi dua menjadi jelo pemboyak dan jelo tumpah.

Bulan keluarnya nyale disebut nyale tunggak dan nyale poto. Nyale tunggak merupakan nyale-nyale yang keluarnya pada bulan kesepuluh, sedang nyale poto keluar pada bulan kesebelas. Kebanyakan hewan-hewan itu keluar pada saat nyale tunggak yaitu tepat jatuh pada bulan kesepuluh, menarik bukan?

Harunya Tradisi Bau Nyale Pulau Lombok, Pengorbanan Putri Mandalika Yang Arif Dan Bijak

Pernikahan merupakan suatu ikatan janji suci yang sakral yang dilakukan oleh dua orang untuk hidup bersama dalam membangun rumah tangga. Pernikahan dilakukan untuk melegalkan hubungan dua orang manusia yang berbeda jenis. Dari pernikahan inilah kemudian berkembang biak manusia menjadi beragam suku, bangsa, agama, dan juga memiliki beragam budaya, adat istiadat, dan tradisis yang berbeda.

Dalam prosesi pernikahan suatu suku atau bangsa memilki budayanya sendiri-sendiri, misalnya saja budaya uang panai di suku bugis dan makassar, budaya siraman di suku jawa, dan sebagainya. Ini baru ada di Indonesia, yang hanya satu negara saja tetapi sudah memiliki beragam tradisi dalam pernikahan. Di dunia ada banyak tradisi dalam pernikahan bahkan ada yang terlihat aneh bagi orang yang bukan berasal dari wilayah tersebut. Untuk mengetahui tradisi-tradisi aneh dalam pernikahan di dunia, berikut ini ulasannya.

Tradisi Pengantin Menangis


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Di tiongkok ada sebuah suku yang bernama suku tujia memiliki tradisi yang aneh sebelum menikah. Pengantin wanita diharuskan untuk menangis selama satu jam dalam sehari selama satu bulan penuh. Pada awalnya calon mempelai ini menangis sendiri di dalam aula atau di ruang keluarha, kemudian 10 hari kemudian diikuti oleh ibunya, 10 hari setelah ibunya bergabung disusul neneknya untuk ikut menangis, dan 10 hari terakhir disusul oleh saudari-saudari perempuannya dan bibinya untuk ikut menangi, yang durasi menangisnya sama selama sejam.

Tradisi Gergaji Sepotong Kayu


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Pernikahan di jerman biasanya dilakukan tradisi memotong sepotong kayu dengan gergaji oleh kedua pengantin. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan kekompakan kedua mempelai dalam bekerja sama nantinya dalam melalui bahtera rumah tangga.

Tradisi Meludahi Pengantin


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Bagi suku massai di kenya, meludah kepada penganten ini merupakan tradisi yang sangat sakral. Tetapi tidak untuk semua orang, hanya ayah dari penganten wanita saja yang meludahi anaknya. Ini melambangkan sebagai pemberkatan seorang ayah kepada putrinya.

Tradisi aneh ini bukan saja dilakukan kepada orang yang menikah, tetapi orang suku ini juga biasanya meludah sebelum berjabatan tangan dengan orang terhormat atau orang lain yang lebih tua sebagai tanda penghormatan.

Tradisi 2 Anak di Sudan


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Di sudan, ada sebuah tradisi aneh yang dilakukan oleh suku nuer dalam pernikahan. Bagi mereka proses pernikahan belum selesai sampai pengantin wanita melahirkan dua orang anak, jika belum mendapatkan dua anak alias gagal, maka pernikahan bisa jadi batal.

Tradisi Larang ke WC/Toilet


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Kalau tradisi aneh yang satu ini berasal dari Indonesia, tepatnya di suku tidong kalimantan. Kedua mempelai selama tiga hari tiga malam dilarang ke wc, artinya bahwa mereka harus menahan rasa perut sakit untuk buang air kalau saja terjadi, sehingga kedua pengantin tidak diberi makan banyak hanya sedikit saja untuk menghindari itu.

Suku ini percaya bahwa melanggar tradisi ini akan membawa sial bagi pernikahan, sedangkan yang melaksanakannya akan membawa dampat yang baik, berupak kelanggengan, subur, dan bahagia dalam pernikahan.

Tradisi Boneka Pengantin (Bridal doll)


Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia
Ketika berada pada acara pernikahan di Puerto Riko, anda jangan heran jika ada boneka pengantin yang terlihat kuno yang mirip seperti penganti wanita, dan juga berpakaian yang sama. Ini merupakan suatu tradisi yang ada dalam pernikahan di sana.

Boneka ini dihiasi seindah mungin dan memiliki pesona yang memikat, kemudian diberikan kepada tamu undangan, dengan harapan bahwa tamu undangan itu bisa memasukkan uang ke boneka tersebut sebagai gantinya. Kalau di Indonesia budaya ini juga ada, hanya saja uang dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disediakan saat berjabatan tangan dengan pengantin.

Tradisi-tradisi Aneh dalam Pernikahan di Dunia