Coretanzone: Travel

    Social Items

Uniknya Masjid Pertama dan Tertua di Australia
Masjid-masjid yang bersejarah selalu memiliki sesuatu yang unik dan dapat memperkaya pengetahuan serta memiliki cerita-cerita mistis, sehingga ketika orang melihatnya sekilas, mereka akan kagum dengan arsitektur yang mereka saksikan. Struktur bangunan masjid bersejarah berbicara dalam kebisuan dan menceritakan tentang jiwa-jiwa yang tinggal di dalamnya. Jadi, mari kita melakukan perjalanan menyusuri jalan kenangan dan menemukan kembali masjid pertama dan tertua di Australia yang dibangun dengan ciri khasnya sendiri.

Masjid Marree dibangun di Marree, Australia Selatan, sekitar tahun 1882. Namun, beberapa sejarawan mengatakan bahwa mereka berpikir tahun yang tepat dibangunnya masjid ini sekitar tahun 1861. Masjid ini dibangun oleh anggota komunitas Afghanistan yang tinggal di Australia pada waktu itu. Ketika dipelajari secara terperinci, orang-orang Afghanistan ini bukan hanya orang Afghanistan yang datang dari Afghanistan dan Timur Tengah, tetapi umumnya Muslim Afghan datang dari Inggris-India. Anggota Afghanistan yang tinggal di wilayah Australia Selatan pada waktu itu bekerja sebagai pengemudi dan pemelihara unta.

Orang di belakang pembangunan Masjid bernama Abdul Kadir, seorang pedagang yang juga pemilik usaha pemeliharaan dan pengangkutan unta, yang terletak di stasiun Wangamanna, tempat di mana Masjid Marree berada.

Masjid Marree dianggap sebagai Masjid pertama yang dibangun di Australia. Masjid yang memiliki pengaruh sangat besar ini tidak hanya karena sekarang sudah menjadi masjid yang bersejarah tetapi Masjid ini juga merupakan representasi simbolik dari pembangunan yang didukung oleh imigran Muslim dan bagaimana upaya kolektif komunitas Muslim dan masyarakat di Marre saling membantu dalam membangun kota Marree di Australia Selatan.

Tiga Masjid di Kota Marree


Dahulu kota Marree memiliki tiga masjid yang aktif dan sering dikunjungi oleh komunitas Afghanistan setempat. Saat ini, hanya satu yang tersisa, karena dua lainnya ditinggalkan dan hilang karena ditutupi padang pasir.

Yang masih tersisa saat ini hanya sebagai contoh masjid pertama dari tiga masjid yang dibangun pada masa itu. Masjid ketiga ini berdiri di pusat kota. Kota itu sendiri tampak kosong, tetapi itu tidak berarti bahwa masjid itu tidak digunakan. Menurut laporan, seorang pemilik pub lokal menyatakan bahwa sekitar dua tahun lalu, dua Ulama Muslim mengunjungi Marree dan check-in di hotelnya. Phil lebih lanjut menambahkan bahwa "mereka tidak selalu berada di hotel yang mereka sewa," Dia melanjutkan dan mengatakan bahwa "para pengunjung biasanya terlihat satu mil dari tempatnya dan yang hanya terlihat jubah panjang dan sandal yang mereka gunakan, mereka melihat penduduk pedalaman yang tidak berpakaian. Mereka karena belum pernah ke pedalaman maka, mereka merasa heran dengan hal itu.

Orang-orang yang mengunjungi situs bersejarah tersebut bertujuan untuk menyaksikan titik awal masuk Islam di Australia, dan untuk pertama kalinya suara azan dikumandangkan di kota Marree. Panggilan yang sudah kehilangan suaranya tetapi kemudian kembali menggema dalam harmoni.

Uniknya Masjid Pertama dan Tertua di Australia

MALUKU is the largest archipelago province in Indonesia which stands east of NKRI. Maluku has been known since the colonial period with the typical spices of nutmeg and cloves are also plants that become staple food community Maluku sago. The Moluccas are rich in abundant natural wealth making Maluku has an incredible natural asset ranging from sea to land. The cultural arts, as well as the customs of the tradition, are also the main attraction for Maluku. The following traditions are the attraction of Maluku tourism which will be very unfortunate if you do not have time to enjoy it when you are on vacation in the land of Kings.

1. Eat Patita


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Eating Patita is a diligent tradition done within a year. Eating Patita is held to celebrate important days such as the celebration of Indonesian independence on every 17th of August, the anniversary of the city or district and others. Eating Patita is a tradition of eating with a group of people by serving Maluku typical foods such as smoked fish, sweet potato boiled, boiled cassava etc. Every family/household will cook Moluccan delicacies in large quantities later, the food will be taken to the patita eating location to be eaten together. Eating Patita is usually located in the open like a field, village streets and there is also in the building. The Patita table is the name of the place where food is placed. Usually, there is a table made of statues made of coconut leaves or banana leaves are arranged along the road/location as a base, there is also a wooden table that is covered with banana leaves as a table. This tradition aims to introduce a typical menu of Maluku also increase kinship and togetherness in community life.

2. Pukul Sapu (Hit a Broom of Palm Trees on The Body)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pukul Sapu is the next tradition. Pukul Sapu is a tradition conducted by the village community of Mamala a village located on the island of Ambon. This tradition is done every 7 Shawwal or a week after Idul Fitri, this tradition is done by the men. They are bare-chested with shorts and headbands. Before they do hit action they will be collected at the traditional house to attend a series of traditional events and ask the prayer to the ancestors to be blessed. Players of capsule brooms amounted to 10 to 15 people divided into 2 groups with different pants colors. They hold a broomstick made from the leaves of a palm tree with a length of about 1.5 meters with the diameter of the base 1-3 cm. They will start hitting each other until their bodies are wounded and swollen, but the players at the broom say that they never feel pain in their bodies, they just feel comfortable and amused when every stick of broom is banged onto their bodies.

3. Crazy Bamboo


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Crazy Bamboo is a Maluku community tradition that is closely related to mystical things. On the island of Ambon, traditional Crazy Bamboo shows can be found in the villages of Liang and Mamala villages. This tradition begins with the cutting of bamboo stems, not all bamboo stems can be used, the handler must perform a series of customs to ask permission to cut the bamboo stems in the bamboo forest. Bamboo is used in this tradition is bamboo with the strange segment, the bamboo length can reach 2.5 meters with a diameter of 8-10 cm. After getting bamboo, the things that must be provided are the peculiarities, mantras and the odd-numbered men as bamboo hawkers. The most important thing in this tradition is that all necessities must be odd. The bamboo-resistant men are usually well-built athletic with strong force, this is because they must be able to resist the bamboo that will wriggle very fiercely, they also wear only red or black shorts with a headband without wearing a shirt to cover the chest, but for certain reasons sometimes crazy bamboo players are required to wear closing clothes to cover the chest. Once all the preparations are ready, the attraction will begin. The handler will direct the spirit inside the bamboo while holding a container of incense while reciting a mantra. The spirit will rebuke and make the bamboo hawkers thrown here and there, but the bamboo retainers must be able to hold the bamboo until it can be soothed by the handler.

4. Tradition Of Timba Laor (Harvest Marine Worms)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Laor is the name for marine life-like worms (marine worms) that live composed. Usually, people will go to the beach at night to take this animal. These animals are eaten raw or fried. Raw laor is only mixed with vinegar and salt plus sliced onion, while the fried laor is certainly fried as usual. This tradition is done once a year when the laor appears at sea level. The time is about in March at the turn of the west season to east season (season transition).

5. Tradition Pela gandong (fraternal tradition)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pela Gandong is a tradition that has been embedded in every Maluku society and this tradition still survives until now. It is because of this tradition that Maluku is called Pela Gandong Country. Pela Gandong itself is a fraternity tradition of people who differ from each other, but has the same goal is to preserve togetherness and kinship. Pela gandong carried out to tie the kinship between two villages to bind kinship and live safely respect and respect each other Maluku people.

6. Festival of Enchantment Meti Kei


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Meti Kei is a tidal phenomenon that can reach five to six kilometers from the mainland (coast) to the sea. This phenomenon occurs in certain months of the year, which starts in the month of September until the month of October. The peak of this natural phenomenon is in October used by the people of Kei islands to create a festive celebration, called the Festival of Enchantment Meti Kei

Well, that's 6 traditions of the people of Maluku which until now still maintained and become an attraction for tourists who visit Maluku. Are you interested to see firsthand this tradition? #CometoMaluku

6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon
Perkembangan bangsa Indonesia tidak terlepas dari perkembangan agama-agama yang tersebar luas di bumi Nusantara. Sebelum datangnya agama dari luar, Indonesia yang waktu itu belum menjadi sebuah bangsa yang besar sudah memiliki agama dan kepercayaannya sendiri, seperti kepercayaan anemisme dan dinamisme. Bahkan sampai saat ini, beberapa daerah di Indonesia masih mempertahankan dan melestarikan agama-agama nenek moyang tersebut, sebagai warisan dan budaya dunia.

Dalam keberagamaan sudah barang tentu setiap agama mempunyai tempat-tempat ibadah untuk melakukan penyembahan kepada tuhan yang maha kuasa dengan keyakinan yang dipercayai oleh umatnya masing-masing. Selain sebagai tempat penyembahan, tempat ibadah juga mempunyai fungsi yang lain, seperti tempat belajar, tempat berkumpul untuk membicarakan kepentingan umat, dan yang saat ini paling ramai bagi travelers adalah tempat wisata religi.

Pilihan traveling ke tempat ibadah selain sebagai proses untuk mengenal sang pencipta alam semesta, wisata religi juga menambah pengetahuan akan tradisi dan budaya beragama suatu daerah. Indonesia memliki ribuan pulau, dan diantara pulau-pulau yang indah itu, ada banyak yang dihuni oleh masyarakat yang beragama sekaligus berbudaya dengan tradisi masyarakatnya yang berbeda-beda.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Tak dapat kita pungkiri bahwa agama bersentuhan dengan kebudayaan manusia, sehingga model keberagamaan biasanya berbeda-beda dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan, sedangkan untuk ibadah yang berhubungan langsung dengan Tuhan sudah diatur secara mutlak dalam kitab-kitab suci. Kita ambil contoh di sini adalah tradisi dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Di setiap daerah yang ada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki tradisi yang berbeda dan beragam dalam merayakan hari raya.

Indonesia sebagai Negara yang multi-kultur dan plural, sudah selayaknya dibangun di atas fondasi yang dalam bahasa orang Maluku disebut sebagai pela gandong atau basudara. Indonesia tidak bisa dibangun dengan paham mono-religi, mono-kultur, dan mono-mono yang lain, karena kemerdekaan dan kepemilikikan bangsa ini tidak berasal dari satu komunitas saja, tetapi semuanya mempunyai andil dalam perebutan kemerdekaan. Begitu pula dengan pembangunan bangsa ini yang melibatkan seluruh kompenan masyarakat yang ada di dalamnya.

Untuk mengenal langsung keberagaman kultur setiap daerah yang dibekukkan dalam bentuk arsitektur bangunan, maka sebaiknya kita melakukan sedikit penjelajahan langsung menuju ke lokasi di mana tempat tersebut berada.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Salah satu arsitektur bangunan tempat ibadah yang ada di kota Ambon adalah Masjid Raya Al-Fatah Ambon. Masjid yang direnovasi pada tahun 2010 silam ini berdiri kokoh di jalan Sultan Baabullah, Kel. Honipopu, Kec. Sirimau Kota Ambon.

Masjid yang bergaya aritektur arab ini, dibuka secara umum kepada semua orang untuk berwisata ke sana, dengan ketentuan menggunakan pakaian sopan yang sesuai dengan budaya timur. Biasanya yang menggunakan pakaian tidak sopan akan langsung ditegur dan dipersilahkan keluar oleh pihak keamanan atau pengurus masjid yang bertugas di sana. Ketentuan ini berlaku agar menjaga keluhuran dan keagungan masjid sebagai tempat ibadah.

Masjid Al-Fatah terletak tidak jauh dari pusat kota dan pusat perbelanjaan. Bersebelahan langsung dengan pelabuhan, sehingga bagi kawan-kawan traveler yang hanya transit dengan kapal laut di pelabuhan Yos Sudarso Ambon bisa menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke masjid terbesar di Maluku ini.

Untuk yang sering traveling dengan pesawat, perjalanan dari bandara pattimura menuju ke masjid raya sudah sangat mudah. Di bandara ada ojek, angkutan umum, dan taksi bandara yang siap mengantar anda dengan jarak tempuh tidak terlalu lama, karena sudah diperpendek dengan hadirnya jembatan merah putih.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Salah satu budaya Islam Nusantara yang ada di Masjid Raya Al-Fatah Ambon adalah bedug yang diletakkan diteras Masjid. Bedug dipukul dengan irama tertentu untuk menandakan masuknya waktu sholat.

Tunggu apa lagi #AyoKeMasjidAlFatahAmbon #AyoKeMaluku #MariKatongBasudara

Menelusuri Megahnya Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Masjid Wapauwe Kaitetu adalah masjid tertua di Maluku serta berumur lebih dari 7 abad lamanya. Uniknya, Masjid ini tidak di bangun memakai batu bata atau genteng dari tanah liat seperti pada bangunan biasanya, tetapi di bangun dengan memakai pelepah sagu serta tanpa adanya penggunaan paku satupun untuk mengeratkan. Inilah yang mengundang wisatwan untuk berkunjung dan berwisata ke Masjid yang sudah tua ini.

Mesjid Tua Wapauwe, menyimpan histori peradaban agama-agama dunia, Propinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan histori Islam yang masih tetap ada serta tidak lekat dilindas waktu dan masa. Di utara Pulau Ambon, persisnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe. Masjid ini di bangun tahun 1414 Masehi. Masih tetap berdiri kuat serta berubah menjadi bukti sejarah Islam di waktu lampau.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Mushaf di Mesjid Tua Wapauwe
Hal yang lain yang berharga dari sejarah masjid itu ialah tersimpan dengan sebaik-baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk juga tertua di Indonesia. Mushaf yang tertua merupakan Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang ditulis menggunakan tangan dan selsesai pada tahun 1550 serta tanpa ada iluminasi (hiasan tepi). Sedang Mushaf yang lain merupakan Mushaf Nur Cahya yang usai ditulis menggukana tangan pada tahun 1590, dan tanpa ada iluminasi dan ditulis pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy merupakan imam pertama di Masjid Wapauwe. Nur Cahya merupakan cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil ke-2 orang ini sempat dipamerkan di Festival Masjid Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 serta 1995.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Kondisi di dalam mesjid tua Wapauwe yang terawat dengan baik
Nur cahaya tidak hanya memiliki karya Penulisan Al-Quran, tetapi juga memiliki karya berupa penulisan kita Barazanji yang isinya syair, puji-pijian kepada Rasulullah saw. dan sejarah perjalanan Rasulullah saw. Selain itu ada juga beberapa kumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, satu buah falaqiah (peninggalan) dan manuskrip Islam lainnya yang telah berusia beberapa ratus tahun.

Seluruh peninggalan sejarah yang disebutkan di atas, sekarang ini adalah menjadi pusaka bagi Marga Hatuwe yang masih tetap tersimpan dengan baik didalam rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak pada rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe cuma berjarak 50 meter.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Bedug mesjid tua Wapauwe 
Untuk sampai Negeri Kaitetu di mana Masjid Tua Wapauwe ada, dari pusat Kota Ambon kita dapat memakai transportasi darat dengan waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon mengarah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok mengarah kiri melewati jembatan, menuju arah utara serta melalui pegunungan hijau dengan jalan berbelok dan jalan yang menanjak. Selama perjalanan kita dapat nikmati panorama alam pegunungan, dengan bagian jalan yang kadang menunjukkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih serta pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum saat sampai Kaitetu, kita terlebih dulu berjumpa Negeri Hitu, yang terdapat kira-kira 22 km. dari Kota Ambon. Suatu ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita masuk Hitu. Pada ruas jalan itu kita disajikan pemandangan pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa serta bakau. Dari situ juga, kita bisa lihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, kita mesti membelokkan kendaraan mengarah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Selanjutnya akan menempuh lagi 12 km. perjalanan dari situ, kita akan menemukannya Negeri Kaitetu.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon

Pantai Hoat Sorbay merupakan salah satu teluk diantara sekian banyak teluk yang ada di kepulauan kei. Hoat Sorbay berasal dari bahasa kei, hoat artinya teluk, sedangkan sorbay adalah surabaya. Masyarakat setempat percaya bahwa teluk hoat sorbay memiliki kemiripan dengan pantai yang berada di surabaya. Selain itu di teluk ini dalam tuturan lisan merupakan teluk untuk pertama kalinya berlabuh kapal yang berasal dari bali. Orang-orang yang berasal dari bali inilah yang kemudian mencetuskan hukum adat yang berlaku dalam tatanan masyarakat kei.

Berikut ini 4 foto keindahan pantai hoat sorbay di kepualaun kei yang sangat menakjubkan.

1. Biarkan foto yang bercerita tentang keindahan sunset di pantai hoat sorbay.

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

2. Lukisan Tuhan selalu indah, tak ada yang bisa menandinginya. Pernakah kau mendengar Tuhan berfirman dengan bahasa alam?

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

3. Kita ditempa dengan lautan, di sana kita berjaya

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

4. Terbenamnya matahari sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan


Itulah 4 foto keindahan pantai hoat sorbay di kepulauan kei.

4 Foto Keindahan Pantai Hoat Sorbay di Kepulauan Kei

Wisata Sejarah di Benteng Victoria Kota Ambon
Benteng Victoria terdapat di Kecamatan Sirimau, Kotamadya Ambon, Propinsi Maluku. Karena terdapat pas di dalam kota, jadi pengunjung langsung dapat berjalan kaki mengarah timur sejauh 300 mtr. dari Terminal Mardika. Di muka benteng ada kafe-kafe tenda yang jual beragam makanan kecil ciri khas Ambon.

Benteng Victoria adalah tempat bersejarah yang terdapat pas di pusat kota Ambon. Benteng tertua di Ambon ini di bangun oleh Portugis yang setelah itu di ambil alih oleh Belanda. Belanda lalu jadikan benteng ini menjadi pusat pemerintahan untuk mengeruk harta kekayaan orang-orang pribumi, berbentuk rempah-rempah yang melimpah di bumi Maluku.

Didalam benteng bisa didapati sisa-sisa meriam yang memiliki ukuran raksasa. Di beberapa kamar ada patung berukir terbuat dari kayu pilihan, peta perubahan kota Ambon dari era XVII sampai era IX, serta beberapa koleksi lukisan administratur-administratur Belanda di Maluku. Dengan lihat peninggalan ini pengunjung bisa merekam histori lahir serta perkembangan kota Ambon.

Sedang ruas jalan disamping depan benteng atau yang dimaksud “Boulevard Victoria” menghubungkan secara langsung mengarah bibir Pantai Honipopu. Pas di muka benteng, langsung dapat melihat Teluk Ambon yang begitu indah di kala sore hari tiba, terutama waktu matahari mulai terbenam.

Dalam sejarahnya, benteng Nieuw Victoria di bangun oleh Portugis pada tahun 1575 di bawah pimpinan pemerintahan Gubernur Gazapar de Mello. Gagasan pembangunan Benteng ini lalu berubah menjadi pemberi tanda lahirnya Ambon menjadi suatu kota. Oleh Portugis Benteng ini lalu diberi nama Nossa Senhora da Annuciada yang berarti hingga sampai disini Bunda Maria dibangun. Pada tahun 1605, lalu Belanda merebutnya di bawah pimpinan Steven van Derhagen serta. menyebut benteng ini menjadi Victoria yang berarti kemenangan.

Dalam perubahannya sepanjang beberapa era yang lalu benteng ini selalu berubah menjadi sentra untuk perkembangan kota Ambon. Pada tahun 1754 kota Ambon dirundung gempa besar yang mengakibatkan kerusakan kota Ambon termasuk juga benteng victoria. Perbaikan besar yang di kerjakan pemrintah Belanda serta oleh karenanya dikasihkan nama. baru yaitu Nieuw Victoria yang berarti kemenangan baru.

Pada saat pemerintahan Belanda, benteng ini berperan strategis, yaitu menjadi pusat pemerintahan kolonial. Di muka benteng ada pelabuhan yang dipakai menjadi jalur perhubungan laut antar pulau. Lewat pelabuhan ini juga kapal-kapal Belanda mengangkat hasil rempah-rempah untuk didistribusikan ke beberapa negara di benua Eropa. Berdekatan dengan benteng ini, juga ada pasar sebagai tempat untuk bertemunya pedagang-pedagang pribumi. Benteng ini dapat dipakai menjadi tempat pertahanan dari bermacam serangan orang-orang pribumi yang melakukan perlawanan. Serta, pas di muka benteng ini pahlawan nasional bernama Pattimura digantung, yaitu pada tanggal 6 Desember 1817.

Pada tanggal 25 April 1950, kelompok separatis yang di pimpin oleh DR. Robert Steven Soumokil memproklamasikan “Republik Maluku Selatan” (RMS). Uluran tangan pemerintah untuk mencari penyelesaian dengan cara damai tidak diterima oleh pihak RMS. Karenanya pemerintah RI memperlancar operasi militer ke Maluku yang di pimpin oleh Kolonel A. E. Kawilarang.

Pendaratan pertama dikerjakan di Namlea, Pulau Buru pada tanggal 14 Juli 1950. Setelah itu diduduki Pulau Tanimbar, kepulauan Aru Kei serta pulau-pulau kecil yang lain. Pada tanggal 28 September 1950 pasukan datang di pulau Ambon. Dalam pertarungan jarak dekat untuk merampas benteng Nieuw Victoria pada tanggal 3 Nopember 1950 di kota Ambon, Kelompok pimpinan Letnan II Kolonel Slamet Riyadi gugur, namun secara keseluruhan kota Ambon bisa di kuasai Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Dengan jatuhnya kota Ambon, kemampuan pokok RMS sukses dipatahkan.

Wisata Sejarah di Benteng Victoria Kota Ambon

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng Belgica, adalah benteng yang di bangun oleh Portugis namun kemudian diduduki oleh Belanda pada abad ke 17. Benteng ini ada diatas perbukitan Tabaleku di samping barat daya Pulau Naira serta terdapat di ketinggian 30,01 mdpl. Benteng yang di bangun pada tahun 1611 dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini mempunyai keunikan tersendiri.

Di bangun dengan gaya bangunan persegi lima yang ada diatas bukit, tetapi jika disaksikan dari semua pelosok pasti hanya akan tampak 4 buah bagian, tapi jika dilihat dari udara terlihat seperti bintang persegi atau serupa dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki dengan nama The Indonesian Pentagon.

Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya mesti memakai tangga yang aslinya berbentuk tangga yang bisa diangkat (seperti tangga hidrolik). Dibagian tengah benteng ada suatu ruangan terbuka luas untuk beberapa tahanan. Di dalam ruangan terbuka itu ada dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan serta Benteng Nassau yang ada di pinggir pantai.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng ini sebetulnya adalah satu diantara benteng peninggalan Portugis yang awalannya berperan menjadi pusat pertahanan, akan tetapi pada saat penjajahan Belanda, Benteng Belgica berganti kegunaan untuk memonitor lalu lintas kapal dagang. Benteng ini lalu diperbesar tahun 1622 oleh J. P. Coen. Selanjutnya, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini jadi markas militer Belanda sampai tahun 1860.

Pada tiap-tiap bagian benteng ada suatu menara. Untuk menuju puncak menara ada tangga dengan tempat hampir tegak serta lubang keluar yang sempit. Dari puncak menara ini wisatawan bisa nikmati pemandangan beberapa daerah Kepulauan Banda, dari mulai birunya perairan Teluk Banda, sunset, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar. Jalan-jalan di seputar benteng ini begitu menyenangkan sembari membayangkan situasi waktu kolonial tempo dulu.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

Tari Cakalele merupakan tarian tradisionil semacam tarian perang yang datang dari daerah Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria, tetapi ada pula beberapa penari wanita menjadi penari simpatisan. Tari Cakalele adalah salah satunya tarian tradisional yang cukuplah populer di Maluku dan Maluku Utara serta kerap dipertunjukkan di beberapa acara adat ataupun hiburan. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya dan promo pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan juga internasional

Berdasarkan pada beberapa sumber histori yang ada, Tari Cakalele ini dulunya datang dari kebiasaan orang-orang Maluku Utara. Ketika itu tarian ini djadikan sebagai tarian perang oleh prajurit-prajurit sebelum merek menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Tidak hanya itu tarian ini juga dijadikan sebagaia bagian dari upacara adat masyarakat Maluku Utara.

Tari cakalele ini lalu meluas ke beberapa daerah sekitarnya, karena bagian dari pengaruh kerajaan ketika itu. Tarian ini lalu diketahui di daerah lainnya seperti di daerah Maluku Tengah serta sebagian lokasi Sulawesi, diantaranya di Sulawesi Utara. Di kelompok orang-orang Minahasa, Cakalele dikenal juga serta berubah menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat saat ini, Tari Cakalele tak akan digunakan sebagi tarian perang, tetapi seringkali dipertunjukkan untuk acara yang berbentuk pertunjukan ataupun perayaan kebiasaan. Untuk orang-orang disana, Tari Cakalele dimaknai menjadi bentuk animo serta penghormatan orang-orang pada beberapa leluhur atau nenek moyang mereka. Diluar itu tarian ini dapat memvisualisasikan jiwa orang-orang Maluku yang pemberani serta kuat, hal itu dapat disaksikan dari pergerakan serta ekspresi beberapa penari waktu menarikan Tari Cakalele ini.

Tari Cakalele dimainkan oleh kira-kira 30 lelaki serta wanita. Beberapa penari lelaki kenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah serta kuning tua. Di ke-2 tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) disamping kanan serta tameng (salawaku) disamping kiri, mereka memakai topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Penari wanita memakai pakaian warna putih sambil menggenggam sapu tangan atau lenso di ke-2 tangannya. Beberapa penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan disertai musik beduk (tifa), suling, serta kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele dimaksud sebagai tari kebesaran, karena dipakai untuk penyambutan beberapa tamu agung seperti tokoh agama serta petinggi pemerintah yang bertandang ke bumi Maluku. Kelebihan tarian ini terdapat pada tiga kegunaan lambangnya. (1) Baju berwarna merah pada baju penari lelaki, melambangkan perasaan heroisme pada bumi Maluku, dan keberanian serta patriotisme orang Maluku waktu berada dalam perang. (2) Pedang pada tangan kanan melambangkan harga diri warga Maluku yang perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) serta teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian melambangkan pergerakan memprotes pada system pemerintahan yang dipandang tidak memihak pada warga masyarakat.

Tari Cakalele dalam perkembangannya sampai saat ini masih tetap selalu dilestarikan serta di kembangkan oleh orang-orang disana. Beragam kreasi serta macam juga kerap ditambahkan dalam pertunjukannya supaya menarik, tetapi tidak menghilangkan keunikan serta keaslian dari tarian itu. Tari Cakalele ini dapat masih tetap kerap dipertunjukkan di beberapa acara seperti penyambutan tamu, perayaan kebiasaan, serta acara kebiasaan yang lain. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya serta promo pariwisata.

Tari Cakalele, Tarian Perang dari Maluku