Coretanzone: Wisata

    Social Items

MALUKU is the largest archipelago province in Indonesia which stands east of NKRI. Maluku has been known since the colonial period with the typical spices of nutmeg and cloves are also plants that become staple food community Maluku sago. The Moluccas are rich in abundant natural wealth making Maluku has an incredible natural asset ranging from sea to land. The cultural arts, as well as the customs of the tradition, are also the main attraction for Maluku. The following traditions are the attraction of Maluku tourism which will be very unfortunate if you do not have time to enjoy it when you are on vacation in the land of Kings.

1. Eat Patita


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Eating Patita is a diligent tradition done within a year. Eating Patita is held to celebrate important days such as the celebration of Indonesian independence on every 17th of August, the anniversary of the city or district and others. Eating Patita is a tradition of eating with a group of people by serving Maluku typical foods such as smoked fish, sweet potato boiled, boiled cassava etc. Every family/household will cook Moluccan delicacies in large quantities later, the food will be taken to the patita eating location to be eaten together. Eating Patita is usually located in the open like a field, village streets and there is also in the building. The Patita table is the name of the place where food is placed. Usually, there is a table made of statues made of coconut leaves or banana leaves are arranged along the road/location as a base, there is also a wooden table that is covered with banana leaves as a table. This tradition aims to introduce a typical menu of Maluku also increase kinship and togetherness in community life.

2. Pukul Sapu (Hit a Broom of Palm Trees on The Body)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pukul Sapu is the next tradition. Pukul Sapu is a tradition conducted by the village community of Mamala a village located on the island of Ambon. This tradition is done every 7 Shawwal or a week after Idul Fitri, this tradition is done by the men. They are bare-chested with shorts and headbands. Before they do hit action they will be collected at the traditional house to attend a series of traditional events and ask the prayer to the ancestors to be blessed. Players of capsule brooms amounted to 10 to 15 people divided into 2 groups with different pants colors. They hold a broomstick made from the leaves of a palm tree with a length of about 1.5 meters with the diameter of the base 1-3 cm. They will start hitting each other until their bodies are wounded and swollen, but the players at the broom say that they never feel pain in their bodies, they just feel comfortable and amused when every stick of broom is banged onto their bodies.

3. Crazy Bamboo


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Crazy Bamboo is a Maluku community tradition that is closely related to mystical things. On the island of Ambon, traditional Crazy Bamboo shows can be found in the villages of Liang and Mamala villages. This tradition begins with the cutting of bamboo stems, not all bamboo stems can be used, the handler must perform a series of customs to ask permission to cut the bamboo stems in the bamboo forest. Bamboo is used in this tradition is bamboo with the strange segment, the bamboo length can reach 2.5 meters with a diameter of 8-10 cm. After getting bamboo, the things that must be provided are the peculiarities, mantras and the odd-numbered men as bamboo hawkers. The most important thing in this tradition is that all necessities must be odd. The bamboo-resistant men are usually well-built athletic with strong force, this is because they must be able to resist the bamboo that will wriggle very fiercely, they also wear only red or black shorts with a headband without wearing a shirt to cover the chest, but for certain reasons sometimes crazy bamboo players are required to wear closing clothes to cover the chest. Once all the preparations are ready, the attraction will begin. The handler will direct the spirit inside the bamboo while holding a container of incense while reciting a mantra. The spirit will rebuke and make the bamboo hawkers thrown here and there, but the bamboo retainers must be able to hold the bamboo until it can be soothed by the handler.

4. Tradition Of Timba Laor (Harvest Marine Worms)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Laor is the name for marine life-like worms (marine worms) that live composed. Usually, people will go to the beach at night to take this animal. These animals are eaten raw or fried. Raw laor is only mixed with vinegar and salt plus sliced onion, while the fried laor is certainly fried as usual. This tradition is done once a year when the laor appears at sea level. The time is about in March at the turn of the west season to east season (season transition).

5. Tradition Pela gandong (fraternal tradition)


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Pela Gandong is a tradition that has been embedded in every Maluku society and this tradition still survives until now. It is because of this tradition that Maluku is called Pela Gandong Country. Pela Gandong itself is a fraternity tradition of people who differ from each other, but has the same goal is to preserve togetherness and kinship. Pela gandong carried out to tie the kinship between two villages to bind kinship and live safely respect and respect each other Maluku people.

6. Festival of Enchantment Meti Kei


6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction
Meti Kei is a tidal phenomenon that can reach five to six kilometers from the mainland (coast) to the sea. This phenomenon occurs in certain months of the year, which starts in the month of September until the month of October. The peak of this natural phenomenon is in October used by the people of Kei islands to create a festive celebration, called the Festival of Enchantment Meti Kei

Well, that's 6 traditions of the people of Maluku which until now still maintained and become an attraction for tourists who visit Maluku. Are you interested to see firsthand this tradition? #CometoMaluku

6 The Traditions of Maluku Community That Became Tourism Attraction

Wisata Sejarah: Istana Kesultanan Ternate di Maluku Utara
Ternate merupakan salah satu kota sejarah di Idonesia. Dulu ternate menjadi salah satu kesultanan yang tersohor di wilayah Nusantara. Sampai saat ini masih ada bukti, salah satunya yaitu masih terdapat Istana kesultanan yang terletak di dataran pantai di Kampung Soa-sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Istana ini letaknya tidak jauh dari pusat kota Ternate.

Sebagai salah satu kesultanan yang terhosor, kesultanan ternate ternyata memiliki peran sangat penting dan strategis di wilayah Timur Nusantara sejak abad ke XIII sampai abad ke XVII. Kesultanan Ternate memiliki masa keemasan pada abad ke XVI, yang menguasai seluruh wilayah Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, sebagian Papua, kepulauan Marshall di Pasifik, dan kepulauan-kepulauan yang terletak di Filipina selatan.

Istana kesultanan Ternate sejak tanggal 7 desember 1967 hingga saat ini dimasukkan sebagai benda cagar budaya di Indonesia. Para pemilik sah kesultanan Ternate berupa ahli waris yang dipimpn oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ternate ini untuk dipugar kembali, dipelihara, dan dilestarikan oleh pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Istana kesultanan ini memiliki pagar dinding beton yang tingginya lebih dari 3 meter, menyerupai sebuah benteng. Di dalam lingkungan istana ini terdapat makam para pendahulu kesultanan, dan komplek pemikiman sultan dan keluarganya. Istana kesultanan ternate ini bergaya eropa yang menghadap ke arah laut, di dalamnya juga terdapat Masjid keultanan yang didirikan oleh Sultan Hamzah - Sultan ke-9 Ternate.

Desain interior istana penuh dengan hiasan emas yang berkilau. Di dalam ruangan kamar bagian dalam, ada peninggalan pakaian yang terbuat dari sulaman benang emas yang begitu mewah, kalung emas raksasa yang berasal dari emas murni, dan perhiasan-perhiasan lain yang berasal dari emas, serta mahkota, kelad lengan, giwang, kelad bahu, cincin, anting-anting, dan gelang yang hampir seluruhnya terbuat dari emas. Inilah yang membuktikan bahwa dimasanya kesultanan ternate pernah menjadi salah satu kerajaan yang memiliki masa kejayaan yang gemilang.

Selain itu, istana kesultanan yang megah ini masih menyimpan dan merawat serta memamerkan benda-benda pusaka yang dimilikinya, seperti senjata (meriam kecil, senapan, tombak, perisai, parang dan peluru-peluru bulat), pakaian kerajaan, pakaian besi, topi-topi kerajaan, naskah-naskah kuno (surat-surat perjanjian, maklumat, dan Al-Quran), dan alat-alat rumah tangga.

Tak jauh dari wilayah istana kesultanan, terdapat warung-warung yang menjual berbagai cinderamata dan makanan khas Maluku Utara seperti, ikah hasil olahan (ikan fufu/ikan asap, dan gohu ikan), papeda (sagu), halua kenari, bagea dan ketam kenari.

Mengenal Istana Kesultanan Ternate di Maluku Utara

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon
Perkembangan bangsa Indonesia tidak terlepas dari perkembangan agama-agama yang tersebar luas di bumi Nusantara. Sebelum datangnya agama dari luar, Indonesia yang waktu itu belum menjadi sebuah bangsa yang besar sudah memiliki agama dan kepercayaannya sendiri, seperti kepercayaan anemisme dan dinamisme. Bahkan sampai saat ini, beberapa daerah di Indonesia masih mempertahankan dan melestarikan agama-agama nenek moyang tersebut, sebagai warisan dan budaya dunia.

Dalam keberagamaan sudah barang tentu setiap agama mempunyai tempat-tempat ibadah untuk melakukan penyembahan kepada tuhan yang maha kuasa dengan keyakinan yang dipercayai oleh umatnya masing-masing. Selain sebagai tempat penyembahan, tempat ibadah juga mempunyai fungsi yang lain, seperti tempat belajar, tempat berkumpul untuk membicarakan kepentingan umat, dan yang saat ini paling ramai bagi travelers adalah tempat wisata religi.

Pilihan traveling ke tempat ibadah selain sebagai proses untuk mengenal sang pencipta alam semesta, wisata religi juga menambah pengetahuan akan tradisi dan budaya beragama suatu daerah. Indonesia memliki ribuan pulau, dan diantara pulau-pulau yang indah itu, ada banyak yang dihuni oleh masyarakat yang beragama sekaligus berbudaya dengan tradisi masyarakatnya yang berbeda-beda.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Tak dapat kita pungkiri bahwa agama bersentuhan dengan kebudayaan manusia, sehingga model keberagamaan biasanya berbeda-beda dalam hal kehidupan sosial kemasyarakatan, sedangkan untuk ibadah yang berhubungan langsung dengan Tuhan sudah diatur secara mutlak dalam kitab-kitab suci. Kita ambil contoh di sini adalah tradisi dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Di setiap daerah yang ada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki tradisi yang berbeda dan beragam dalam merayakan hari raya.

Indonesia sebagai Negara yang multi-kultur dan plural, sudah selayaknya dibangun di atas fondasi yang dalam bahasa orang Maluku disebut sebagai pela gandong atau basudara. Indonesia tidak bisa dibangun dengan paham mono-religi, mono-kultur, dan mono-mono yang lain, karena kemerdekaan dan kepemilikikan bangsa ini tidak berasal dari satu komunitas saja, tetapi semuanya mempunyai andil dalam perebutan kemerdekaan. Begitu pula dengan pembangunan bangsa ini yang melibatkan seluruh kompenan masyarakat yang ada di dalamnya.

Untuk mengenal langsung keberagaman kultur setiap daerah yang dibekukkan dalam bentuk arsitektur bangunan, maka sebaiknya kita melakukan sedikit penjelajahan langsung menuju ke lokasi di mana tempat tersebut berada.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Salah satu arsitektur bangunan tempat ibadah yang ada di kota Ambon adalah Masjid Raya Al-Fatah Ambon. Masjid yang direnovasi pada tahun 2010 silam ini berdiri kokoh di jalan Sultan Baabullah, Kel. Honipopu, Kec. Sirimau Kota Ambon.

Masjid yang bergaya aritektur arab ini, dibuka secara umum kepada semua orang untuk berwisata ke sana, dengan ketentuan menggunakan pakaian sopan yang sesuai dengan budaya timur. Biasanya yang menggunakan pakaian tidak sopan akan langsung ditegur dan dipersilahkan keluar oleh pihak keamanan atau pengurus masjid yang bertugas di sana. Ketentuan ini berlaku agar menjaga keluhuran dan keagungan masjid sebagai tempat ibadah.

Masjid Al-Fatah terletak tidak jauh dari pusat kota dan pusat perbelanjaan. Bersebelahan langsung dengan pelabuhan, sehingga bagi kawan-kawan traveler yang hanya transit dengan kapal laut di pelabuhan Yos Sudarso Ambon bisa menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke masjid terbesar di Maluku ini.

Untuk yang sering traveling dengan pesawat, perjalanan dari bandara pattimura menuju ke masjid raya sudah sangat mudah. Di bandara ada ojek, angkutan umum, dan taksi bandara yang siap mengantar anda dengan jarak tempuh tidak terlalu lama, karena sudah diperpendek dengan hadirnya jembatan merah putih.

Wisata Religi Islam di Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Salah satu budaya Islam Nusantara yang ada di Masjid Raya Al-Fatah Ambon adalah bedug yang diletakkan diteras Masjid. Bedug dipukul dengan irama tertentu untuk menandakan masuknya waktu sholat.

Tunggu apa lagi #AyoKeMasjidAlFatahAmbon #AyoKeMaluku #MariKatongBasudara

Menelusuri Megahnya Masjid Raya Al Fatah Kota Ambon

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Masjid Wapauwe Kaitetu adalah masjid tertua di Maluku serta berumur lebih dari 7 abad lamanya. Uniknya, Masjid ini tidak di bangun memakai batu bata atau genteng dari tanah liat seperti pada bangunan biasanya, tetapi di bangun dengan memakai pelepah sagu serta tanpa adanya penggunaan paku satupun untuk mengeratkan. Inilah yang mengundang wisatwan untuk berkunjung dan berwisata ke Masjid yang sudah tua ini.

Mesjid Tua Wapauwe, menyimpan histori peradaban agama-agama dunia, Propinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan histori Islam yang masih tetap ada serta tidak lekat dilindas waktu dan masa. Di utara Pulau Ambon, persisnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe. Masjid ini di bangun tahun 1414 Masehi. Masih tetap berdiri kuat serta berubah menjadi bukti sejarah Islam di waktu lampau.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Mushaf di Mesjid Tua Wapauwe
Hal yang lain yang berharga dari sejarah masjid itu ialah tersimpan dengan sebaik-baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk juga tertua di Indonesia. Mushaf yang tertua merupakan Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang ditulis menggunakan tangan dan selsesai pada tahun 1550 serta tanpa ada iluminasi (hiasan tepi). Sedang Mushaf yang lain merupakan Mushaf Nur Cahya yang usai ditulis menggukana tangan pada tahun 1590, dan tanpa ada iluminasi dan ditulis pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy merupakan imam pertama di Masjid Wapauwe. Nur Cahya merupakan cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil ke-2 orang ini sempat dipamerkan di Festival Masjid Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 serta 1995.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Kondisi di dalam mesjid tua Wapauwe yang terawat dengan baik
Nur cahaya tidak hanya memiliki karya Penulisan Al-Quran, tetapi juga memiliki karya berupa penulisan kita Barazanji yang isinya syair, puji-pijian kepada Rasulullah saw. dan sejarah perjalanan Rasulullah saw. Selain itu ada juga beberapa kumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, satu buah falaqiah (peninggalan) dan manuskrip Islam lainnya yang telah berusia beberapa ratus tahun.

Seluruh peninggalan sejarah yang disebutkan di atas, sekarang ini adalah menjadi pusaka bagi Marga Hatuwe yang masih tetap tersimpan dengan baik didalam rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak pada rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe cuma berjarak 50 meter.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon
Bedug mesjid tua Wapauwe 
Untuk sampai Negeri Kaitetu di mana Masjid Tua Wapauwe ada, dari pusat Kota Ambon kita dapat memakai transportasi darat dengan waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon mengarah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok mengarah kiri melewati jembatan, menuju arah utara serta melalui pegunungan hijau dengan jalan berbelok dan jalan yang menanjak. Selama perjalanan kita dapat nikmati panorama alam pegunungan, dengan bagian jalan yang kadang menunjukkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih serta pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum saat sampai Kaitetu, kita terlebih dulu berjumpa Negeri Hitu, yang terdapat kira-kira 22 km. dari Kota Ambon. Suatu ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita masuk Hitu. Pada ruas jalan itu kita disajikan pemandangan pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa serta bakau. Dari situ juga, kita bisa lihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, kita mesti membelokkan kendaraan mengarah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Selanjutnya akan menempuh lagi 12 km. perjalanan dari situ, kita akan menemukannya Negeri Kaitetu.

Wisata Sejarah di Mesjid Tua Wapauwe Kaitetu, Kota Ambon

Pantai Hoat Sorbay merupakan salah satu teluk diantara sekian banyak teluk yang ada di kepulauan kei. Hoat Sorbay berasal dari bahasa kei, hoat artinya teluk, sedangkan sorbay adalah surabaya. Masyarakat setempat percaya bahwa teluk hoat sorbay memiliki kemiripan dengan pantai yang berada di surabaya. Selain itu di teluk ini dalam tuturan lisan merupakan teluk untuk pertama kalinya berlabuh kapal yang berasal dari bali. Orang-orang yang berasal dari bali inilah yang kemudian mencetuskan hukum adat yang berlaku dalam tatanan masyarakat kei.

Berikut ini 4 foto keindahan pantai hoat sorbay di kepualaun kei yang sangat menakjubkan.

1. Biarkan foto yang bercerita tentang keindahan sunset di pantai hoat sorbay.

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

2. Lukisan Tuhan selalu indah, tak ada yang bisa menandinginya. Pernakah kau mendengar Tuhan berfirman dengan bahasa alam?

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

3. Kita ditempa dengan lautan, di sana kita berjaya

Pantai Hoat Sorbay: The Stuning Sunset View

4. Terbenamnya matahari sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan


Itulah 4 foto keindahan pantai hoat sorbay di kepulauan kei.

4 Foto Keindahan Pantai Hoat Sorbay di Kepulauan Kei

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng Belgica, adalah benteng yang di bangun oleh Portugis namun kemudian diduduki oleh Belanda pada abad ke 17. Benteng ini ada diatas perbukitan Tabaleku di samping barat daya Pulau Naira serta terdapat di ketinggian 30,01 mdpl. Benteng yang di bangun pada tahun 1611 dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini mempunyai keunikan tersendiri.

Di bangun dengan gaya bangunan persegi lima yang ada diatas bukit, tetapi jika disaksikan dari semua pelosok pasti hanya akan tampak 4 buah bagian, tapi jika dilihat dari udara terlihat seperti bintang persegi atau serupa dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki dengan nama The Indonesian Pentagon.

Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya mesti memakai tangga yang aslinya berbentuk tangga yang bisa diangkat (seperti tangga hidrolik). Dibagian tengah benteng ada suatu ruangan terbuka luas untuk beberapa tahanan. Di dalam ruangan terbuka itu ada dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan serta Benteng Nassau yang ada di pinggir pantai.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng ini sebetulnya adalah satu diantara benteng peninggalan Portugis yang awalannya berperan menjadi pusat pertahanan, akan tetapi pada saat penjajahan Belanda, Benteng Belgica berganti kegunaan untuk memonitor lalu lintas kapal dagang. Benteng ini lalu diperbesar tahun 1622 oleh J. P. Coen. Selanjutnya, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini jadi markas militer Belanda sampai tahun 1860.

Pada tiap-tiap bagian benteng ada suatu menara. Untuk menuju puncak menara ada tangga dengan tempat hampir tegak serta lubang keluar yang sempit. Dari puncak menara ini wisatawan bisa nikmati pemandangan beberapa daerah Kepulauan Banda, dari mulai birunya perairan Teluk Banda, sunset, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar. Jalan-jalan di seputar benteng ini begitu menyenangkan sembari membayangkan situasi waktu kolonial tempo dulu.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

Tari Cakalele merupakan tarian tradisionil semacam tarian perang yang datang dari daerah Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria, tetapi ada pula beberapa penari wanita menjadi penari simpatisan. Tari Cakalele adalah salah satunya tarian tradisional yang cukuplah populer di Maluku dan Maluku Utara serta kerap dipertunjukkan di beberapa acara adat ataupun hiburan. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya dan promo pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan juga internasional

Berdasarkan pada beberapa sumber histori yang ada, Tari Cakalele ini dulunya datang dari kebiasaan orang-orang Maluku Utara. Ketika itu tarian ini djadikan sebagai tarian perang oleh prajurit-prajurit sebelum merek menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Tidak hanya itu tarian ini juga dijadikan sebagaia bagian dari upacara adat masyarakat Maluku Utara.

Tari cakalele ini lalu meluas ke beberapa daerah sekitarnya, karena bagian dari pengaruh kerajaan ketika itu. Tarian ini lalu diketahui di daerah lainnya seperti di daerah Maluku Tengah serta sebagian lokasi Sulawesi, diantaranya di Sulawesi Utara. Di kelompok orang-orang Minahasa, Cakalele dikenal juga serta berubah menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat saat ini, Tari Cakalele tak akan digunakan sebagi tarian perang, tetapi seringkali dipertunjukkan untuk acara yang berbentuk pertunjukan ataupun perayaan kebiasaan. Untuk orang-orang disana, Tari Cakalele dimaknai menjadi bentuk animo serta penghormatan orang-orang pada beberapa leluhur atau nenek moyang mereka. Diluar itu tarian ini dapat memvisualisasikan jiwa orang-orang Maluku yang pemberani serta kuat, hal itu dapat disaksikan dari pergerakan serta ekspresi beberapa penari waktu menarikan Tari Cakalele ini.

Tari Cakalele dimainkan oleh kira-kira 30 lelaki serta wanita. Beberapa penari lelaki kenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah serta kuning tua. Di ke-2 tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) disamping kanan serta tameng (salawaku) disamping kiri, mereka memakai topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Penari wanita memakai pakaian warna putih sambil menggenggam sapu tangan atau lenso di ke-2 tangannya. Beberapa penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan disertai musik beduk (tifa), suling, serta kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele dimaksud sebagai tari kebesaran, karena dipakai untuk penyambutan beberapa tamu agung seperti tokoh agama serta petinggi pemerintah yang bertandang ke bumi Maluku. Kelebihan tarian ini terdapat pada tiga kegunaan lambangnya. (1) Baju berwarna merah pada baju penari lelaki, melambangkan perasaan heroisme pada bumi Maluku, dan keberanian serta patriotisme orang Maluku waktu berada dalam perang. (2) Pedang pada tangan kanan melambangkan harga diri warga Maluku yang perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) serta teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian melambangkan pergerakan memprotes pada system pemerintahan yang dipandang tidak memihak pada warga masyarakat.

Tari Cakalele dalam perkembangannya sampai saat ini masih tetap selalu dilestarikan serta di kembangkan oleh orang-orang disana. Beragam kreasi serta macam juga kerap ditambahkan dalam pertunjukannya supaya menarik, tetapi tidak menghilangkan keunikan serta keaslian dari tarian itu. Tari Cakalele ini dapat masih tetap kerap dipertunjukkan di beberapa acara seperti penyambutan tamu, perayaan kebiasaan, serta acara kebiasaan yang lain. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya serta promo pariwisata.

Tari Cakalele, Tarian Perang dari Maluku

Ojek Wisata Alam Taman Nasional Manusela di Maluku
Taman Nasional Manusela merupakan taman nasional yang terdapat di Kepulauan Maluku, Indonesia. Terapat Gunung Binaya, dengan ketinggian 3.027 mdpl, gunung ini adalah yang paling tinggi di taman ini. kurang lebih terdapat 117 spesies burung, 14 merupakan endemik, seperti Nuri Bayan, Kasturi tengkuk-ungu, Kakatua Maluku, Todiramphus lazuli, Todiramphus sanctus, Philemon subcorniculatus serta Alisterus amboinensis.

Penduduk asli desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, serta Kanike, adalah enclave didalam lokasi Taman Nasional Manusela. Orang-orang itu sudah lama ada di desa-desa itu, serta yakin jika gunung-gunung yang ada di taman nasional bisa memberi semangat serta perlindungan dalam kehidupan mereka. Keyakinan mereka otomatis akan menolong melindungi serta melestarikan taman nasional.

Potensi Objek Wisata Taman Manusela


Taman Nasional Manusela diketahui menjadi tempat wisata alam dengan daya tarik sendiri dengan panorama alam yang indah serta menarik dan topografi berbukit-bukit salah satunya tepi Markele, lembah Manusela, tepi Kobipoto, dataran Mual samping utara serta lembah Wae Kawa di samping selatan. Atraksi yang dapat di nikmati yaitu menelusuri rimba, panjat tebing, melihat satwa/tumbuhan.

Lokasi Taman Nasional Manusela banyak mempunyai kekhasan serta keunikan, seperti lembah Manusela dengan panorama alamnya yang menarik serta kondisi iklimnya yang fresh serta menyenangkan, lembah Piliana yang kaya dengan berbagai jenis kupu-kupu, Sawai dengan bermacam karang lautnya yang indah begitu pas untuk aktivitas snorkeling serta diving, selain itu di daerah Sawai serta sekelilingnya dapat juga di nikmati panorama tebing sawai yang indah atau wisata tirta yang bisa di nikmati dengan memakai sarana kapal cepat serta longboat yang dimiliki oleh Balai Taman Nasional Manusela. Pusat info Taman Nasional Manusela juga ada di Negeri Sawai persisnya di seputar Dusun Masihulan. Pengelolaan wisata alam di Sawai serta sekelilingnya menyertakan berbagai pihak seperti LSM (Yayasan Wallacea yang mengurus PRS Masihulan), Pemerintahan Negeri Sawai menjadi perwakilan Pemerintahan Daerah Maluku serta pihak-pihak yang berasal dari penduduk atau entrepreneur yang bertindak aktif dalam meningkatkan aktivitas wisata alam di daerah Sawai serta sekelilingnya, air panas di Tehoru dan aktivitas safari rusa di padang Pasahari.

Di lokasi Taman Nasional Manusela banyak diketemukan bunga anggrek, bunga bangkai (Rafflesia sp.), rimba yang ciri khas serta indah, vegetasi alpin serta pakis endemik yang begitu disenangi rusa lantaran merupakan makanan rusa yang enak. Diluar itu, Taman Nasional Manusela bisa digunakan menjadi salah satu media/tempat dalam melakukan riset lapangan karena keanekaragaman flora dan fauna langka serta endemik yang ada di sana, selain itu bisa juga dilakukan penelitian farmasi karena banyak jenis tanaman obat-obatan, dan juga riset jenis tanaman bisa dijadikan sebagai makanan alternatif untuk masyarakat

Tidak hanya itu, diluar lokasi Taman Nasional Manusela pada daerah penyangga ada beberapa tempat wisata seperti penginapan terapung di Teluk Sawai, budi daya mutiara, sumber air panas (Geiser) di Tehoru, jembatan tali serta menara pengintai dengan cara alam serta tali-temali rimba di Piliana serta Masihulan, dan wisata budaya berbentuk adat istiadat ddan kebudayaan serta upacara suku asli Pulau Seram di seputar taman.

Akses Menuju Ke Taman Nasional Manusela


Taman Nasional Manusela bisa dijangkau melalui Wahai dan Saleman melalui arah pantai utara atau lewat Tehoru. Alternatif-alternatif rute perjalanan menuju Taman Nasional Manusia di jabarkan seperti berikut :

Dari Ambon ke Saleman-Wahai bisa ditempuh dengan memakai kapal motor yang menghabiskan waktu 24 jam. Kapal motor ini mempunyai jadwal perjalanan 3 kali satu minggu. Perjalanan dari Wahai ke tempat taman nasional bisa ditempuh dengan jalan kaki

Melalui pantai selatan, Taman Nasional Manusela ditempuh lewat kota Ambon ke Tehoru-Saunulu-Mosso dengan kapal motor yang menghabiskan waktu 9 jam. Jadwal kapal motor berjalan merupakan 4 kali dalam satu minggu. Perjalanan setelah itu ke tempat taman nasional cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Perjalanan melalui darat bisa melalui Ambon ke Tulehu dengan waktu tempuh 45 menit. Setelah itu dari Tulehu ke Amahai bisa diraih dengan long boat cepat yang membutuhkan waktu 1 jam 45 menit. Perjalanan dari Amahai ke Tehoru dikerjakan melalui jalan darat sepanjang 3 jam setelah itu diteruskan dengan speed boat ke Saunulu/Mosso selam 30-60 menit. Pengunjung bisa juga menentukan rute perjalanan darat menuju taman nasional sisi utara. Rute ini ditempuh dari Amahai ke Saleman melalui Masohi yang memerlukan waktu 3 jam diteruskan dengan speed boat menuju Wahai yang menghabiskan waktu 2 jam.

Perjalanan masuk ke Taman Nasional Manusela dari Saunulu/Mosso dilakukan dengan berjalan kaki lewat jalan setapak serta mendaki tebing-tebing pegunungan maka pemandu serta pembawa barang begitu dibutuhkan.

Dari bagian utara, lokasi Taman Nasional Manusela bisa ditempuh lewat jalan trans-Seram dari Wahai ke Sasarata. Rute ini bisa dilewati roda empat. Setelah itu dari Sasarata menuju ke lokasi taman nasional sisi tengah/selatan bisa ditempuh dengan jalan kaki menuju jalan setapak yang menghubungkan Kaloa-Hatuolo Maraina, serta Manusela. Perjalanan ini membutuhkan waktu kira-kira 2 hari.

Jika pengunjung membawa kendaraan roda empat, perjalanan dikerjakan dari Ambon ke Liang dengan waktu tempuh ± 1, 5 jam. Setelah itu dari Liang ke Kairatu ditempuh sepanjang ± 2 jam dengan memakai ferry. Dari Kairatu ke Saka ditempuh dengan jalan darat sepanjang ± 3, 5 jam.

Rute paling baru untuk menuju Taman Nasional sisi utara yakni dari Ambon langsung bisa memakai pesawat Merpati tipe twin otter Menuju ke Wahai, dari Wahai ke Sasarata, lalu perjalanan dikerjakan dengan jalan kaki menuju kawasan Taman Nasional.

Jika kamu ingin berkunjung ke Taman Nasional Manusela, maka musim kunjungan terbaik ada pada bulan Mei s. d Oktober di setiap tahunnya.

Taman Nasional Manusela adalah lokasi konservasi dengan luas 189. 000 Ha, dan taman nasional Manusela ini merupakan taman nasional tipe B. Lokasi ini adalah kombinasi dari 2 cagar alam yakni Cagar Alam Wae Nua serta Cagar Alam Wae Mual serta ditambah dengan pelebaran lokasi Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae Mual. Secara administratif lokasi Taman Nasional Manusela termasuk juga di lokasi Kecamatan Seram Utara yang berkedudukan di Wahai serta Kecamatan Seram Selatan di Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Secara ekologis Taman Nasional Manusela mempunyai tujuh jenis vegetasi, yakni berturut-turut dari pantai ke puncak gunung Binaya yaitu seperti berikut : Hutan mangrove (mangrove formation) , Vegetasi pantai (beach formation) , Hutan rawa dataran rendah (lowland swamp forest) , Vegetasi tebing sungai (riverbank vegetation) , Hutan hujan dataran rendah (lowland rain forest) , Hutan hujan pegunungan (mountain rain forest) , Hutan lumut (alpine/moss forest)

Keadaan Topografi 


Lokasi Taman Nasional Manusela yang meliputi 20% dari keseluruhnya luas pulau Seram, kondisi topografinya sejumlah besar bergelombang serta lahannya adalah pegunungan kapur. Topografi yang ada ini dari mulai dataran (dataran Mual) dibagian utara, bergelombang sedang- berbukit hingga sampai bergunung-gunung dengan ketinggian 0 – 3027 mdpl.

Kemiringan sekitar 30 – 60 persen dari mulai gunung Markele hingga gunung Binaya yang disebut puncak paling tinggi. Sejumlah besar lokasi ini mempunyai kelerengan yang begitu terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Sisi yang relatif landai terdapat dibagian utara seputar Wahai serta Sasarata dan sisi selatan di daerah Hatumete, Hatu serta Woke.

Berdasar pada ketinggian tempat di atas maka, permukaan laut, area Taman Nasional Manusela bisa dibedakan jadi empat kelompok, yakni:

# Dataran rendah dibawah ketinggian 500 mdpl
# Dataran tinggi antara 500 - 1500 mdpl
# Daerah pegunungan dengan ketinggian pada 1500-2500 mdpl
# Zona sub alpin dengan ketinggian pada 2500 – 3027 mdpl.

Trekking berkeliling-keliling Taman Nasional Manusela adalah pengalaman sengit serta tidak terlupakan. Track termasuk juga medium, ada sekian banyak jalur yang cukuplah menantang. Di dalam rimba, kami masuk gua kelelawar serta rasakan situasi gelap gulita didalam gua yang sunyi. Janganlah lupa bawa serta air minum cukuplah untuk bekal persediaan.

Objek Wisata Alam Taman Nasional Manusela di Maluku