Coretanzone

    Social Items

Ternyata Ini Keutamaan Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah merupakan salah satu surat yang selalu dibaca oleh umat Islam, karena merupakan salah satu surat yang wajib dibaca ketika melaksanakan shalat. Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca surat Al-Fatihah.

Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ 

Terjemahannya: 1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 4) Yang menguasai di Hari Pembalasan 5) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan 6) Tunjukilah kami jalan yang lurus 7) (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Mengenai asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) surat al-Fatihah, sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib (mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”

Surat Al-Fatihah merupakan surat dalam al-Quran yang memiliki banyak keutamaan berdasarkan hadits-hadits Rasulullah yang shahih. Surat ini wajib dibaca ketika shalat dan tidak sah shalat seseorang ketika dia tidak membaca surat ini.

Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami: “Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”

Selain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surah ini sering juga disebut Fatihatul Kitab (Pembukaan Kitab), Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur'an (Induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), Ash-Shalah (Arab: الصلاة, Shalat), al-Hamd (Arab: الحمد, Pujian), Al-Wafiyah (Arab: الوافية, Yang Sempurna), al-Kanz (Arab: الكنز, Simpanan Yang Tebal), asy-Syafiyah (Yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Arab: الشفاء, Obat), al-Kafiyah (Arab: الكافية, Yang Mencukupi), al-Asas (Pokok), al-Ruqyah (Mantra), asy-Syukru (Syukur), ad-Du'au (Do'a), dan al-Waqiyah (Yang Melindungi dari Kesesatan).Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla.

Surat AL-Fatihah memiliki banyak keutamaan diantaranya yaitu:

Surat yang Sangat Istimewa bagi Umat Islam


Diriwayatkan dari Hasan bin Ali : pada suatu hari, serombongan orang Yahudi menemui Nabi saw. Di antara pertanyaan mereka, “ kabarkan kepada kami tujuh hal yang Allah berikan kepadamu dan tidak diberikan kepada Nabi yang lain; Allah berikan kepada umatmu, tidak kepada umat yang lain? Nabi saw bersabda; Allah memberikan kepadaku Al-fatihah, azan, jamaah di masjid, hari jumat, menjaharkan tiga salat, keringanan bagi umatku dalamkeadaan sakit, safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar di antara umatku.

Diturunkan Langsung dari ‘Arsy Allah


Dari Jakfar bin Muhammad as. Dari ayahnya dari kakeknya sampai kepada Nabi saw. Ia bersabda, ketika Allah SWT. Bermaksud menurunkan Al-fatihah, ayat kursi, syahidallahu, qul illahumma malik al mulk, semua ayat itu bergantung di ‘arsy Tuhan. Tidak ada penghalang di antaranya dengan Allah. Semua ayat itu berkata, tuhanku kau turunkan kami ke kampong yang penuh dosa, kepada orang yang menentangmu, padahal kami bergantung pada kebersihan dan kesucianmu. Allah SWT. Berfirman, Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, jika seorang hamba membaca kamu sesudah salatnya, aku akan tempatkan dia di wisma kesucian(firdaus), aku akan perhatikan dia dengan mata-Ku yang terpelihara setiap hari tujuh puluh kali pandangan, aku akan penuhi setiap kali tujuh puluh keperluannya, paling sedikit di antaranya adalah mapunanku. Aku lindungi ia dari semua musuh. Aku akan membelanya. Tidak ada yang mencegahnya masuk surge kecuali kematian.

Mendapatkan Pahala yang Besar Bagi yang Membacanya


Dari Ali as. Nabi saw bersabda, pada malam isra, aku berhenti di bawah ‘arsy. Aku melihat ke atasku dan kulihat dua papan bergantung terbuat dari mutiara dan yakut. Pada papan yang satu tertulis Al-Fatihah, dan pada papan yang seluruh Al-Quran. Aku berkata; Tuhanku, muliakanlah umatku dengan dua papan ini. Tuhan yang Mahatinggi berfirman;aku sudah memuliakan kamu dan umatmu dengan keduanya(yakni firman Tuhan: sudah aku berikan kepadamu tujuh yang diulang dan Al-quran yang agung). Aku berkata; apa pahala yang membaca fatihah? Alah SWT. Berfirman, YA Muhammad, barang siapa yang membaca tujuh ayat itu satu kali, aku haramkan baginya tujuh pintu jahannam. Aku berkata, Tuhanku apa pahala orang yang membaca Al-Quran satu kali? Allah SWT. Berfirman, YA Muhammad, untuk setiap huruf, aku berikan padanya satu pohon di surga.

Orang yang Membaca Surat Al-Fatihah akan Mendapatkan Perlindungan dan Pengampunan


Di riwayatkan oleh Muhyiddin Ibn Arabi dalam futuhat al makkiyyah dengan sanadnya yang bersambung kepada Nabi saw. Bahwa Allah SWT berfirman; Hai Israil, demi keagungan-Ku, kemurahan-Ku dan kemuliaan-Ku siapa yang membaca Bismillahirrahmanirrahim bersambung dengan Al-fatihah satu kali, saksikanlah bahwa aku mengampuni dosa-dosanya, menerima kebaikannya, dan memaafkan kesalahannya. Aku tidak akan membakar lidahnya dengan api dan siksa pada hari kiamat, pada hari ketakutan yang besar. Ia akan berjumpa dengan-Ku sebelum para Nabi dan para Wali.

Al-Thabrani meriwayatkan dengan sanad dari al- Saib bin Yazid: Nabi saw memohonkan perlindungan bagiku dengan Fatihat Al Kitab.

Tidak Sah Shalat Jika tidak Membaca Surat Al-Fatihah


Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Malik, Abu Dawud, Turmudzi, Al-Nasai, Ibn Majah dengan sanad yang bersambung kepada Nabi Bahwa Rasulullah saw. Bersabda; tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca Fatihah al kitab.” Al-Darul Quthni meriwayatkan dari ubadah bin Al- Shamit, “ tidak mendapat pahala salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” Ahmad, Muslim, Abu Daud, Al-Nasai menyampaikan sabda Nabi saw. Barang siapa yang melakukan salat tetapi tidak membaca Al-Quran di dalamnya, maka salatnya itu bercacat, bercacat, bercacat.

Dapat Menjadi Obat Bagi Berbagai Penyakit


Rasulullah saw bersabda kepada Jabir Bin Abdullah, hai Jabir, maukah kamu saya ajarkan surat yang paling itama yang Allah turunkan dalam kitab-Nya. YA Rasul Allah, ajarkanlah surat itu kepadaku. Kemudian Rasulullah saw. Mengajarkan kepadanya Alhamdulillah, umm kitab, seraya berkata, maukah aku beritakan ebih lanjut tentang al-fatihah? Jabir menjawab, tentu saja, demi ayah dan ibuku. Ya Rasul Allah, beritakanlah itu kepadaku. ‘ Rasulullah saw bersabda, Al Fatihah itu obat dari segala penyakit, kecuali kematian.

Surat yang belum pernah diturunkan sebelumnya kecuali di dalam al-Quran


Suatu ketika Rasulullah memanggil sahabat Ubay bin Ka'ab, kemudian Nabi mengatakan kepada Ubay bin Ka'ab,"Sungguh Aku berharap engkau tidak keluar dari pintu masjid ini sehingga engkau mengetahui satu surat yang Allah belum pernah turunkan dalam Taurat, juga dalam Injil, tidak juga dalam al-Quran seperti ini." Ubay bin Ka'ab berkata aku pun memperlambat jalanku karena menginginkan hal itu. kemudian aku bertanya,"Wahai Rasululah apa surat yang engkau janjikan untuk kau ajarkan kepadaku?" Rasulullah menjawab ,"Apa yang engkau baca ketika engkau memulai shalat?" maka Ubay bin ka'ab menjawab "Aku membaca alhamdulillahirabbil 'aalamaiin sampai akhirnya (sampai selesai)." Kemudian Rasululah bersabda,"Itulah surat tersebut, (surat) itu adalah sab'ul matsani (tujuh yang diulang-ulang), dan al-Quranul 'azhim yang telah diberikan kepadaku.

Sebagai Surat yang Paling Agung dan Mulia dalam al-Quran


Dari Abu Sa'id bin al-Mualla ia berkata aku melaksanakan shalat, lalu aku dipanggil oleh Rasulullah dan aku tidak memnuhi panggilan beliau karena aku sedang shalat, hingga aku selesai shalat barulah aku mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah bersabda,"Apa yang mencegahmu untuk mendatangiku saat aku memanggilmu?" Maka aku (Abu Sa'id) menjawab,"Wahai Rasulullah saat itu aku sedang shalat." Lalu Rasulullah menjawab,"Bukankan Allah berfirman:Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang meberi kehidupan kepadamu (Al-Anfal:24)" kemudian beliau pun bersabda,"Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam al-Quran ini sebelum engkau keluar dari masjid." Kemudian beliau memegang tanganku dan beranjak untuk keluar dari masjid. Ketika beliau akan keluar masjid, aku berkata,"Wahai Rasulullah, bukankah tadi engkau mengatakan akan mengajarkan surat yang paling agung dalam al-Quran?" Beliau menjawab,"Benar, yaitu alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, dia ini adalah sab'ul matsani (tujuh yang diulang-ulang) dan al-quran yang agung yang diberikan kepadaku.

Surat al-Fatihah Dapat Digunakan Sebagai Ruqyah


Abu sa'id al-khudri berkata ketika kami dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat lalu datanglah seorang jariyah (budak wanita), dia berkata,"Sesungguhnya kepala kampung disini salim (tersengat hewan berbisa), sedangkan orang-orang dikampung ini sedang tidak ada. apakah diantara kalian ada yang dapat meruqyah?" Lalu dikatakan kepadanya tidak ada seorang pun diantara kami yang dapat meruqyah. Lalu abu said mencoba meruqyahnya dengan membaca surat al-Fatihah lalu sembuhlah kepala kampung tersebut. Kemudian kepala kampung itu memerintahkan untuk memberikan 30 ekor kambing kepada para sahabat, juga memberikan susu kepada mereka. Maka para sahabat pun berkata,"Janganlah ada yang menyentuhnya hingga kita tanyakan kepada Rasulullah. lalu kami pun pulang." Setibanya kami di Madinah, kami menceritakan kisah ini kepada Rasulullah. Kemudian beliau berkata,"Apa yang membuatmu mengetahui bahwa itu adalah ruqyah?" kemudian beliau berkata lagi,"Bagikanlah hadiah itu dan berikanlah sebagian untukku."

Hadits ini menunjukkan bahwa hasil dari praktek ruqyah adalah dibenarkan menurut syariat islam, artinya apabila seseorang sakit lalu ada yang meruqyahnya hingga si sakit itu sembuh, maka hadiah dari si sakit kepada orang yang meruqyahnya tadi adalah halal. Hadits tersebut juga menunjukkan tentang bolehnya melakukan ruqyah yang sesuai dengan syariat islam.

Allah Selalu Menjawab Do’a HambaNya Ketika Membaca Surat Al-Fatihah


Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: "Aku telah membagi shalat (maksudnya adalah surat al-fatihah) antara aku dengan hambaku menjadi dua bagian, dan bagi hambaku apa yang dia minta. Apabila hambaku membaca alhamdulillahi rabbil 'aalaamin, maka Allah berfirman,"Hamba-Ku telah memujiku." Apabila ia membaca arrahmaanir rahiim, maka Allah berfirman"Hamba-Ku telah menyanjung-Ku." Dan apabila hamba-Ku membaca maalikiyaumiddin maka Allah taala berfirman,"Hamba-Ku telah memuliakanku" (dalam riwayat lain "hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku") Apabila hamba-Ku membaca iyyakana'budu wa iyyaka nasta'in maka Allah berfirman,"Ini antara aku dengan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." Dan apabila hambaku membaca ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathalladzina an'amta 'alaihim, ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhalliin, maka Allah berfirman,"Inilah bagi hamba-Ku dan baginya apa yang dia minta.

Surat Al-Fatihah adalah Cahaya


Dari Abdullah bin Abbas ia berkata: ketika Jibril duduk disamping Nabi, tiba-tiba ia mendengar suara keras di atasnya. Kemudian Jibril memandang ke atas dan berkata,"Ini adalah sebuah pintu dilangit yang belum pernah dibuka sebelumnya." Lalu dari pintu tersebut turunlah malaikat. Jibril berkata,"Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan ia belum pernah turun sebelumnya." Kemudian malaikat itu mengucapkan salam kepada Nabi dan berkata,"Hendaklah engkau bergembira dengan diberikannya kepadamu dua cahaya yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebeluimmu yaitu faatihatul kitaaab dan khawaatimu suuratil baarah (penutup surat al-Baqarah), tidaklah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberikan kepadamu."

Demikianlah postingan kali ini tentang keutamaan surat Al-Fatihah, semoga dapat memberikan manfaat dalam menjalankan syariat Islam.

Ternyata Ini Keutamaan Surat Al-Fatihah

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud
Shalat Tahajud merupakan salah satu shalat di malam hari yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah kepada umatnya, karena beribadah di shalat malam selain mendapatkan banyak manfaat juga dapat menjadikan seorang hamba lebih bertaqwa kepada Allah. Lalu apa sebenarnya shalat tahajud itu? Dan bagaimana tata cara pelaksanaannya sesuai ketentuan Islam? Berikut ini Ulasannya.

Mengenai pengertian tahajud, ada yang mengatakan: “Hajadar rajul”, jika dia tidur pada malam hari. “wa hajada” jika dia shalat pada malam hari. Sedangkan al-mutahajjid adalah orang yang bangun tidur untuk mengerjakan shalat. Dengan demikian, maka Shalat sunat tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat isya dan Shalat shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rakaat shalat tahajud minimal dua rakaat hingga tidak terbatas.

Hukum Shalat Tahajud


Hukum shalat tahajud adalah sunnnah mu’akkadah. Hal ini ditetapkan melalui al-Qur’an, dan as-Sunnah, maupun ijma’ ulama. Allah berfirman dalam rangka menyifati hamba-hamba rabb yang maha pengasih:

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا

Terjemahannya: Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (Q.S. Al-furqan: 64)

Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan orang-orang yang beriman  dengan sempurna:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٧ 

Terjemahannya: (16) Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. (17) Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (Q.S. As-Sajdah: 16-17)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda tentang keutamaan shalat tahajud yang artinya; “sebaik-baik puasa setelah ramadhan adalah bulan Allah, Muharram,dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam”(HR.Muslim).

Semua kaum muslimin juga telah ber ijma’ bahwa hukum shalat tahajud adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang di tekankan.

Waktu Melaksanakah Shalat Tahajud


Waktu paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud adalah pada sepertiga malam terakhir. sebab Allah turun ke langit dunia pada waktu tersebut. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu hurairah dalam kitab shahihn bukhari dan muslim.

Disebutkan dalam shahih muslim dari jalur Hafshah dan Abu mu’awiyah, dari a’masy, dari Abu sufyan, dari jabir, dia berkata Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang khawatir tidak dapat melaksanakan shalat lail pada akhir malam maka hendaklah ia berwitir pada awalnya.dan barang siapa yang merasa yakin dapat melaksanakannya baginya shalat witir pada akhir malam.karena sesungguhnya shalat pada akhir malam disaksikan”(HR. Muslim)

Sedang Abu mu’awiyah mengatakan: “dihadiri”

Maka barang siapa lebih suka mengerjakan shalat malam pada awal maupun pertengahan malam, hal tersebut tidaklah terlarang karena hal itu adalah kebaikan. Tetapi paling utama jika dilaksanakan pada akhir malam. Sesuai amalan Rasullah Shallallahu alaihi wasallam secara kontinyu. Disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya:

“Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir yang berakhir pada waktu sahur”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah dia berkata yang artinya;

"Setiap malam Rasulullah mengerjakan witir pada awal malam, pada pertengahan malam dan pada akhir malam dan witirnya selesai pada waktu sahur”(HR. Muslim)

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan shalat malam dan shalat witir adalah sesudah isya’. sekalipun shalat isya’ dijamak taqdim dengah shalat maghrib ataupun dijamak ta’khir pada pertengahan malam. adapun shalat malam dan shalat witir sebelum isya’, itu tidak sah menurut pendapat yang rajih.

Mengenai pembagian sepertiga malam dimulai setelah shalat Isya atau sekitar pukul 19:00 sampai pukul 22:00, sepertiga malam yang kedua mulai dari pukul 22:00 sampai dengan 01:00 dan sepertiga malam yang terakhir muali dari pukul 01:00 sampai dengan waktu subuh.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah tidak melaksanakan shalat tahajud pada malam hari dikarenakan beliau salallahu ‘alaihiwasallam ketiduran dan beliau shalallahu ‘alaihiwasallam melaksanankannya di siang hari sebagaimana hadits yang artinya:

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah ketiduran atau kurang sehat untuk melaksanankan shalat lail. Maka beliau shalat pada siang hari dengan duabelas rakaat”(HR. Muslim)

Tetapi, melaksanakan shalat tahajud pada siang hari karena tertinggal dimalam harinya hanya di khususkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam saja dikarenakan shalat malam hukumnya wajib bagi beliau shallahu ‘alaihiwasallam dan sunnah muakkadah bagi umatnya.

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadhan atau di bulan lainnya sebagaimana disebutkan dalam shahih bukhari,muslim maupun kitab hadits lainnya.

Dari jalur Malik dari Said bin Abu said al-maqbari, dari Abu salamah bin Abdurrahman: sesungguhnya dia (Abu Salamah) memberitahukan kepada Abu Said,ia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam mengerjakan shalat lail? Aisyah menjawab:

"Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat. Baik di bulan ramadhan ataupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat jangan tanyakan bagus serta panjangnya shalat beliau,kemudian beliau shalat tiga rakaat”.(HR. Bukhari dan muslim)

Sebagian ulama berpendapat bolehnya menambah shalat lail lebih dari sebelas rakaat. barang siapa yang mengerjakan shalat lail dua puluh rakaat atau duapuluh tiga rakaat atau lebih dari itu sah saja. niscaya dia tetap mendapat pahala. Al-imam Ibnu Abdil Barr menyebutkan adanya ijma’ ulama dalam masalah ini. Beliau berkata:

"Ulama telah sepakat tentang tidak adanya batasan dalam jumlah rakaat ataupun lama dalam pelaksanaan shalat lail.ia termasuk ibadah nafilah, barang siapa yang ingin memperlama pelaksanaanya dengan jumlah rakaat yang sedikit ataupun memperbanyak rukuk dan sujud di dalamnya,maka hal itu tergantung padanya.”

Tetapi memilih pendapat yang rajih dan mengerjakan yang lebih utama merupakan tuntutan syar’i. sebagaimana telah terang tuntunan Rasulullahshalallahu ‘alaihiwasallam secara kontinyu hingga akhir hayat beliau.lalu diikuti oleh para sahabat yaitu mengerjakan shalat lail sebelas rakaat di bulan Ramadhan ataupun di bulan lainnya.

Dan tidaklah benar jika terdapat salah seorang sahabat yang membedakan jumlah rakaat shalat lail pada awal dan akhir bulan ramadhan seperti kebiasaan sebagian masyarakat sekarang. Para sahabat mengerjakan shalat lail dengan sebelas rakaat sepanjang hidup mereka.Bahkan di penghujung bulan ramadhan mereka semakin giat meningkatkan kualitas shalatnya bukan kuantitasnya.

Cara Shalat Tahajud


Pada dasarnya, gerakan atau tata cara sholat tahajud pun tidak berbeda dengan sholat-sholat sunnah yang lain.

Niat shalat tahajud dapat dilakukan di dalam hati atau juga dapat dilafalkan. Niat shalat tahajud adalah “Ushallii sunnatat-tahajudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa”. Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah”

Melakukan sholat sunnah tahajud, kemudian melakukan gerakan sholat seperti biasa mulai dari takbir hingga salam. Biasanya selalu dilakukan dengan 2 rakaat (setiap 2 rakaat salam). Pada rakaat pertama setelah takbir membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjjutkan dengan surah lainnya. Pada rokaat kedua pun sama, membaca surah Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah lainnya.

Adapun surat yang disunnahkan dibaca dalam shalat Tahajud setelah membaca surat al-fatihah adalah adalah; 1) Pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah, membaca Surat Al-Baqarah ayat 284-286. 2) Pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah, membaca surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Numun juka belum hafal surat-surat tersebut, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.

Setelah selesai mengerjakan shalat Tahajud, perbanyaklah membaca istigfar dan dzikir kepada Allah SWT serta memohon kepada-Nya, kemudian membaca doa sesuai keinginan kita.

Doa Setelah Shalat Tahajud

Apabila Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat Tahajud, lalu berdoa seperti berikut:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembahkecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.

Kiat Mudah Shalat Malam/Qiyamullail


Agar kita diberi kemudahan bangun malam untuk melakukan shalat malam, cobalah tips-tips berikut ini:

1. Aturlah aktivitas di siang hari agar malamnya Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.

2. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.

3. Hindari maksiat, sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, "Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan."

4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya.

5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

6. Baik juga jika janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone.

7. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program tahajud bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.

8. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.

Demikianlah postingan kali ini tentang Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud, semoga bermanfaat.

Panduan Lengkap Tata Cara Melaksanakan Shalat Tahajud

Hukum Islam Tentang Arisan
Hidup dengan berpegang pada aturan islam merupakan hal yang membahagiakan. Sebab seorang muslim yang hidup dengan berpegang pada aturan agamnya tidak akan bingung atau resah ketika melakukan suatu apapun. Hal sederhana yang kebanyakan terjadi adalah dengan adanya arisan. Sebenarnya bagaimana hukum islam arisan? Boleh atau justru dilarang? Padahal arisan sudah sangat umum terjadi di masyarakat luas.

Hukum islam arisan akan membantu setiap muslim mengenali apa yang sebenarnya diatur dalam arisan. Diperbolehkan atau tidaknya yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat Islam. Hukum islam arisan mendapat beberapa pendapat dari para ulama. Untuk lebih lengkapanya, berikut ini merupakan hukum islam arisan yang bisa anda ikuti.

Bagaimana Hukum Islam Arisan ?

Arisan merupakan suatu aktivitas dimana anggotanya akan menyetorkan sejumlah uang yang sudah disepakati dalam kurun waktu tertentu. Sistemnya ada yang secara acak ada juga yang sudah mendapatkan nomor urut sehingga ia bisa tahu kapan ia mendapatkan uangnya. Hukum islam arisan memanglah sempat menjadi perbincangan yang serius.

Secara umum memang belum pernah disinggung secara langsung. Maka dari hukum islam arisan dikembalikan pada hukum asal muamalah yaitu dibolehkan. Dimana para ulama pernah menyebutkan bahwa hal ini tidak boleh diharamkan muamalah yang dibutuhkan oleh manusia sekarang. Kecuali jika ada dalil dari al-qur’an dan sunnah yang mengharamkannya.

Hukum islam arisan juga disebutkan adanya Qs Al Maidah ayat 2 yang berarti bahwa adanya perintah untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Dari ayat ini dikatakan bahwa saling tolong menolong adalah hal yang baik untuk kehidupan sesama manusia.

Sementara arisan memilikki tujuan yakni tolong menolong orang yang membutuhkan. Caranya dengan membayar iuran secara rutin dan bergiliran untuk bisa mendapatkannya. Dengan sistem yang baik seperti ini, hukum islam arisan memperbolehkannya. Tetapi setiap muslim hendaknya teliti dengan sistem arisan yang akan ia ikuti karena tidak sedikit juga yang menyelenggarakan arisan tetapi mengandung riba, penipuan dan lain sebagainya yang dilarang.

Hukum islam arisan juga mengingatkan para muslim agar terhindar dari adanya praktek penipuan yang berkedok arisan. Tentu tidak asing berita atau kejadian yang menyebutkan adanya pihak pembuat arisan yang membawa kabur uang dari para anggotanya. Bahkan tidak sedikit jumlah yang dibawa seperti misalnya mencapai puluhan juta. Padahal cara ini tentu merupakan suatu kejahatan yang jelas dilarang dalam islam.

Sebagai anggota yang ikut dalam arisan, seorang muslim wajib mengetahui kemampuan dirinya dalam membayar iuran. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan dari pihak manapun. Dengan begitu, keteraturan membayar arisan akan saling membantu antar anggota. Selain itu, bentuk arisan juga merupakan uang yang ditabung. Dengan begitu, para anggota bisa menyisihkan sebagaian uangnya membayar arisan dan akan mendapatkannya kembali dnegan jumlah yang telah disepakati dan nomor urut yang ia dapatkan.

Hukum islam arisan mengatur jelas bagaimana praktek dan berjalannya arisan. Selama dalam koridor islam dan tidak merugikan pihak manapun, arisan merupakan muamalah yang bisa membantu kehidupan manusia agar berjalan dengan baik. Tidak sedikit yang terbantu dengan mengikuti arisan. Terutama bagi para muslim yang kesulitan untuk menabung untuk membeli sesuatu.

Arisan tentulah bisa membantu setiap anggotanya dalam mengatur keuangan. Dengan arisan, mereka bisa saling memberi dukungan antar anggota. Hukum islam arisan ini yang juga mengatur bagaimana transaksi atau aktivitas tersebut diperbolehkan dalam islam.

Hukum Islam Tentang Arisan

Mati Suri dalam Pandangan Islam
Mati suri merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang dapat kita jumapi dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun secara explisit mati suri tidak dibahas dalam islam, termasuk di dalamnya ayat Al-Quran yang menjelaskannya, namun ayat Al-Quran yang merupakan kita suci universal dapat digali makna-makna yang terkandung di dalamnya kemudian ditafsirkan oleh para mufassir.

Mati suru merupakan kondiri dimana seseorang dikira sudah meninggal dunia tetapi sebenarnya belum. Dalam dunia medis kondisi ini disebut sebagai near death experience (NDE).

Sudah banyak pengalaman dan kesaksian orang yang pernah mengalami kejadian mati suri, sehingga mereka menjadi tahu bagaimana alam gaib itu selama mati suri tersebut. Ada kisah yang pernah dialami oleh seseorang, katakanlah Namanya Iwan, di saat berada dalam keadaan kritis, dia dibawa oleh dua orang yang menggunakan paikaian serba putih.

Dia kemudian terbang menuju pada suatu pintu, namun saat akan memasukinya, ada penjaga pintu yang mengatakan bahwa sebenarnya belum saatnya dia masuk ke dalam melalui pintu itu. Masih ada keluarga dan orang-orang yang berada di sekitarnta yang membutuhkan dirinta. Setelah mendapatkan penjelasan itu, kedua orang yang berbaju putih itu mengembalikan ruhnya menuju jasad yang terbaring kaku, yaitu dirinya sendiri.

Kisah di atas hanya satu diantara begitu banyak kisah orang yang telah melalui kejadian mati suri. Kesaksian dari orang yang pernah mati suri tidak dapat dihitung jumlah sebenarnya, karena begitu banyak orang yang telah mengalami hal-hal semacam itu dalam kehidupan nyata di dunia ini.

Orang lain mengira bahwa dirinya telah meninggal, bahkan keluarganya sudah mempersiapkan upacara kematian dan pemakaman, namun ternyata nyawanya kembali lagi dan hidup seperti sedia kala. Sering orang yang hidup kembali dari mati suri ini menceritakan kembali pengalamannya selama berada di alam gaib.

Lalu bagaimana pandangan Islam terkait dengan mati suri ini?

Mati Suri dalam Pandangan Islam


Secara eksplisit ayat al-Quran tidak menjelaskan mati suri secara gamblang, namun ada beberapa ayat al-Quran secara implisit menjelaskan tentang keadaan mati suri ini. Salah satu ayat tersebut bisa ditemukan dalam surat Az-Zumar ayat 42 sebagai berikut.

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّىۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemahannya: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia (Allah) melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Az-Zumar: 42)

Terdapat beberapa ahli yang berpandangan bahwa kalimat “Dia (Allah) melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan” merupakan kalimat yang menunjukkan pada kejadian mati suri. Ada juga yang berpandangan bahwa sebenarnya ayat itu menunjukkan pada orang yang sedang tidur kemudian bermimpi, sehingga mimpi itu bisa membawa manusia melayang-layang kemana-man.

Pada dasarnya mati suri bukanlah mati yang sebenarnya, karena orang yang mengalami hal tersebut hanya mendekati pintu kematian ketika pintu tersebut terbuka. Di dalam salah satu hadis Qudsi yang menjelaskan bahwa, kematian itu merupakan pintu penghubung antara alam dunia dan alam akhirat. Setiap orang yang meninggal akan melewati pintu tersebut, sedangkan kehidupan merupakan kondisi dimana jasad dan roh masih melekat bersama.

Dalam al-Quran ada penjelasan bahwa mati suri itu hanya salah satu ujung roh yang terlepas, sedangkan ujung roh lainnya masih terikat sehingga dia masih hidup. Itulah sebabnya dia dapat kembali hidup normal. Jadi mati suri ini agak mirip dengan orang yang sedang tidur.

Sebagaimana kita ketahui bahwa, dalam konsep Islam, ruh itu ibarat tali yang memiliki dua ujung yang terikat pada jasad masnusia. Apabila salah satu ujung itu terlepas dari tubuh manusia maka, memungkinkan manusia untuk berada dalam kondiri mati suri, bermimpi, dan sebagainya.

Mati Suri dalam Pandangan Islam

Apa itu Dajjal, Dabbah, dan Ya’juj dan Ma’juj? Berikut ini penjelasannya
Pernahkah anda mendengar tentang Dajjal, Dabbah, dan Ya’juj dan Ma’juj? Ketiga makhluk yang diciptakan Allah ini akan muncul dan menjadi pertanda datangnya hari kiamat kelak. Menurut Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid menjelaskan sebagai berikut:


Dajjal adalah seseorang yang diciptakan oleh Allah yang nantinya akan keluar pada akhir zaman, dimana dia datang dengan membawa kemarahan dalam dirinya, dia akan membuat kerusakan di atas muka bumi, menyatakan dirinya sebagai Tuhan, menyeru kepada manusia untuk menyembahnya, menebarkan ditnah kepada manusia dengang menggunakan kelebihan-kelebihan yang Allah telah berikan kepada dirinya, seperti dia mampu mengeluarkan kekayaan alam yang ada di bumi, menurunkan hujan, dan kemudian menghidupkan bumi yang gersang.

Ciri-ciri dajjal ini adalah pemuda yang merah, memiliki rambu yang keriting, tubuhnya pendek, mata kanannya buta sedangkan mata kirinya ditumbuhi daging tebal di atasnya, diantara kedua matanya itu tertulis kata kafir, pengikutnya kebanyakan berasal dari orang Yahudi, dan dia akan dibunuh oleh Nabi Isa bin Mayam dengan tombak pendek di Palsetina.


Ya’juj dan Ma’juj merupakan dua suku yang berbeda namun sifat dan perangainya sama saja, mereka semua kafi dan berasal dari keturunan Adam, wajah yang mereka miliki lebar, mata mereka kecil, dan dahulu mereka melakukan banyak sekali kerusakan di muka bumi, hingga Allah mengutus seorang Raja yang beriman bernama Dzulkarnain, kemudian raja ini membuat tembok yang sangat kokoh untuk menahan kedua suku perusak ini. Mereka secara terus menerus melakukan penggalingan untuk melobangi tembok tersebut, namun belum juga berhasil hingga suatu saat Allah mengizinkan mereka keluar di akhir zaman nanti setelah Nabi Isa membunuh Dajjal laknatullah.

Suatu ketika setelah Nabi Isa membunuh Dajjal maka Ya’juj dan Ma’juj akan keluar dengan jumlah yang sangat banyak, kemudian mereka meminum air laut Tibriyah, dan membuat lagi keonaran dan kerusakan di atas muka bumi yang taka da seorangpun di bumi ini yang mampu mengahadi mereka, kemudian Nabi Isa bersama dengan orang-orang mukmin mengungsi ke gunung Thur hingga Allah swt. menghancurkan kaum Ya’juj dan Ma’juj ini dengan memerintahkan cacing-cacing memakan tengkuk-tengkuk mereka, kemudian Allah mengutus burung untuk melempari bangkai-bangkai suku jahat ini ke laut kemudian menurunkan hujan untuk memberisihkan bumi dari bangkai mereka yang sangat bau busuk.

Dabbah merupakan makhluk yang tidak sama dengan manusia yang bertubuh besar. Dia dikeluarkan Allah pada saat manusia dalam keadaan bejat, dia mampu berbicara dan memberi nasehat kepada manusia, memiliki kemampuan berpikir, dan menyebutkan manusia dengan beberapa sebutan serta dapat menyebutkan tanda yang membedakan antara orang-orang mukmin dan kafir. Manusia memiliki tugas untuk beriman dan percaya dengan keterang yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Begitu banyak ciptaan Allah di alam semesta ini yang bentuknya aneh, asing, dan ajaib yang menunjukkan pada kekuatan dan kekuasaan Allah.

Kemudian orang-orang yang ditanya tempa kembalinya, apakah mereka dimanfaatkan karena kebedohon yang dimilikinya ata tidak, dan bagaimana keadaannya pada hari kiamat kelak? Maka mereka yang beriman urusannya dikembalikan kepada Allah. Wallahu a’lam.

Apa itu Dajjal, Dabbah, dan Ya’juj dan Ma’juj? Berikut ini penjelasannya

Golongan Manusia yang Shalatnya tidak Diterima
Shalat adalah ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh semua umat Islam yang sudah baligh, Baligh adalah keadaan dimana seseorang sudah dewasa yang bagi laki-laki biasanya ditandai dengan telah mimpi basah dan perempuan ditandai dengan sudah datang bulan. Saking wajibnya shalat ini, maka orang yang sakit sekalipun harus melaksanakan shalat dengan cara jika tidak bisa berdiri maka dibolehkan dengan cara duduk, jika tidak bisa duduk maka dibolehkan dengan cara tidur dan menggerakkan anggota tubuh, jika tidak bisa juga maka shalat dengan hati. Jika shalat ditinggalkan maka akan mendapatkan dosa yang sangat besar dan akan mendapatkan siksaan kelak di akhirat.

Pada dasarnya segala sesuatu itu dimulai dengan niat, sehingga shalat yang benar adalah dengan niat hanya kepada Allah semata, bukan untuk ditonjolkan kepada orang lain. Kalau shalat dengan niat riya’ maka shalat tersebut tidak diterima.

Selain itu ada lima golongan manusia yang shalatnya tidak diterima Allah sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik R.A. yang menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda bahwasanya “lima (golongan manusia) yang tidak ditermi shalatnya yaitu:

1. Istri yang marah kepada suaminya

2. Hamba sahaya yang lari dari tuannya,

3. Orang yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, di mana ia tidak berkata-kata dengan saudaranya,

4. Orang yang terus menerus minum minuman keras,

5. Imam suatu kaum, di mana ia mengimami shalat mereka, sedangkan mereka benci kepadanya.”

Al-Faqih menjelaskan bahwa kebencian yang dimaksud hadis tersebut terdiri atas dua hal. Pertama, apabila suatu kaum membenci imamnya karena akhlaknya yang kurang baik atau akhlak yang buruk, dan banyak salah dalam membaca bacaan al-Quran dalam shalat, sedangkan dalam jamaah tersebut terdapat orang yang fasih atau lebih baik bacaan al-Qurannya daripada imam tersebut, maka inilah orang yang dilarang menjadi imam shalat.

Kedua, jika kebencian itu lahir karena imam tersebut menyeru kepada jamaahnya untuk berbuat kebaikan dan melarang jamaahnya untuk berbuat mungkar atau karena lahir rasa dengki yang disebabkan oleh sesuatu, kemudian jamaah membencinya, maka kebencian yang kedua ini tidak dapat diterima, sehingga orang tersebut tetap menjadi imam mereka dan kebencinan tersebut jangan dipedulikan.

Dengan demikian maka, kita sebagai manusia sudah seharusnya menjaga perilaku kita dan menjaga hati kita agar selalu teguh beriman dan bertaq kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, agar segala amal ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah s.w.t. Wallahu a’lam.

Golongan Manusia yang Shalatnya tidak Diterima

Larangan Islam Tentang Mempercayai Ramalan, kenapa?
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya melanjutkan dan menyempurnakan syariat para Nabi terdahulu, sehingga larangan terhadap mempercayai ramalan sudah ada sejak para Nabi terdahulu dan hal itu juga dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. yang melarang umatnya untuk mempercayai ramalan atau ilmu sihir. Hal ini karena, sejak zaman dahulu hingga saat ini banyak sekali praktek paranormal dan perdukunan di wilayah arab yang bersekutu dengan jin kafir dan setan untuk melihat atau meramal nasib atau apa-apa yang akan terjadi pada masa depan, dan kehidupan manusia.

Salah satu hadis yang melarang tentang mempercayai ramalah yaitu; Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal, kemudian percaya apa yang dikatakan, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari.” (H.R Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Dalam hadis ini Rasulullah mengingatkan kepada umat Islam, bahwa ramalan merupakan perbuatan yang keji dan mungkar, sehingga sebagai umat Islam seyogyanya tidak boleh mempercayai hal itu, karena bisa mendatangkan kesyirikan kepada Allah. Selanjutnya dipertegas bahwa selama orang itu masih mempercayai ramalan maka selama 40 hari shalatnya tidak diterima, begitupula sampai seterusnya.

Hal ini jika dikaitkan dengan saat ini, banyak sekali umat Islam yang masih saja percaya dengan ramalan-ramalan yang belum jelas keakuratannya. Seperti percaya dengan kata-kata peramal yang ada di televisi, percaya pada primbon, percaya pada kedutan, percaya pada dukun yang bersekutu dengan setan, dan lain sebagainya. Padahal dengan jelas Allah menyatakan bahwa tidak ada satu manusiapun yang mengetahui perkara gaib, sebagaimana firmannya dalam al-Quran surat An Naml ayat 65 sebagai berikut.

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ

Terjemahannya: Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Q.S An Naml: 65).

Dalam surat yang lain Allah swt. menjelaskan hal yang serupa.

عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧ 

Terjemahannya: 26) (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu 27) Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Q.S Al Jin: 26-27).

Dari kedua ayat di atas, maka dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kemampuan ilmu pengetahuan yang terbatas sehingga tidak dapat menemukan atau mengetahui hal-hal gaib, hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. Hal-hal gaib yang Allah ketahui ini hanya diberikan kepada para Rasul Allah yang diridhoi-Nya, sehingga manusia biasa tidak mampu menjakau masalah-masalah seperti itu.

Dalam hadis Rasulullah melarang umatnya mempelajari ilmu perbintangan untuk digunakan sebagai sihir atau ramalan. Sebagaimana sabdanya; “Barangsiapa yg mengambil bagian dari ilmu perbintangan, maka dia telah mengambil bagian dari ilmu sihir.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Hadis ini mengandung makna bahwa mempelajari ilmu perbintangan dengan tujuan yang salah itu haram hukumnya, sedangkan mempelajari ilmu perbintangan dengan tujuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemaslahatan manusia, itu yang dianjurkan. Wallahu a’lam.

Larangan Islam Tentang Mempercayai Ramalan, kenapa?

Kata sial atau anggapan sial dalam akidah Islam berasal dari kata tathoyyur atau thiyorah. Kata thiyaroh secara bahasa diambil dari kata thoirun yang artinya burung. Hal ini maksudnya adalah bahwa orang arab zaman dahulu di zaman jahiliyyah ketika ingin membuat suatu perencanaan perjalanan (safar), maka mereka terlebih dahulu melihat pada pergerakan burung yang ada di sekitar.

Jika burung yang mereka lihat bergerak ke arah kanan, maka itu tandanya perjalanan yang akan mereka lakukan berjalan dengan baik, namun jika burung terebut bergerak sebaliknya kea rah kiri maka, bertanda bahwa perjalanan mereka akan mendatangkan musih sehingga harus dibatalkan.

Dalam Islam maksud dari thiyaroh ini sudah bersifat umum, sehingga tidak hanya dengan burung semata, namun segala sesuatu yang berkaitan dengan anggapan sial. Thiyaroh maksudnya adalah segala sesuatu yang dianggap sial ketika tertimpa suatu musibah yang tidak dilihat sebabnya dari sisi syar’i atau indariwi, baik itu dengan tumbuhan, waktu, orang, benda tertentu, angka, atau dengan tempat tertentu.

Siapa saja yang beranggapan sial maka dia telah mengkuti tradisi dan akidah kaum jahiliyah, karena tradisi semacam ini sudah ada jauh sebelum datangnya Nabi Muhammad saw. Salah satu contoh yang paling jelas adalah kisah Fir’aun yang beranggapan sial terhadap Nabi Musa a.s. dan para pengikutnya. Suatu ketika, ada bencana yang melanda Fir’aun dan rakyatnya lalu mereka menuduhkan hal itu karena Nabi Musa a.s.

Namun sebaliknya, ketika datang berbagai kebaikan, maka mereka mengatakan bahwa hal itu karena usaha merkea sendiri, dengan tidak menyebutkan bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan berasal dari Allah. Hal ini terekam jelas dalam al-Quran surat Al-A’raf/7 ayat 131 sebagi berikut.

فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ 

Terjemahannya: Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al-A’raf: 131).

Thiyaroh atau beranggapan sial, merupakan suatu perbuatan syirik atau menyekutukan Allah. Karena tidak percaya dengan takdir Allah yang telah ditentukan kepada manusia. Dalam hadis Rasulullah s.a.w. bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis lain yang berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian maka, segala perbuatan yang mengarah kepada anggapa sial tanpa dilihat secara syar’i atau indrawi merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah s.w.t karena pada dasarnya manusia sudah ditentukan kehidupannya, seperti jodoh, rezeki, kematian dan sebagainya. Wallahu a’lam.

Adakah hari sial? Begini hukum anggapan sial dalam Islam