Coretanzone

    Social Items

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng Belgica, adalah benteng yang di bangun oleh Portugis namun kemudian diduduki oleh Belanda pada abad ke 17. Benteng ini ada diatas perbukitan Tabaleku di samping barat daya Pulau Naira serta terdapat di ketinggian 30,01 mdpl. Benteng yang di bangun pada tahun 1611 dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini mempunyai keunikan tersendiri.

Di bangun dengan gaya bangunan persegi lima yang ada diatas bukit, tetapi jika disaksikan dari semua pelosok pasti hanya akan tampak 4 buah bagian, tapi jika dilihat dari udara terlihat seperti bintang persegi atau serupa dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki dengan nama The Indonesian Pentagon.

Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya mesti memakai tangga yang aslinya berbentuk tangga yang bisa diangkat (seperti tangga hidrolik). Dibagian tengah benteng ada suatu ruangan terbuka luas untuk beberapa tahanan. Di dalam ruangan terbuka itu ada dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan serta Benteng Nassau yang ada di pinggir pantai.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku
Benteng ini sebetulnya adalah satu diantara benteng peninggalan Portugis yang awalannya berperan menjadi pusat pertahanan, akan tetapi pada saat penjajahan Belanda, Benteng Belgica berganti kegunaan untuk memonitor lalu lintas kapal dagang. Benteng ini lalu diperbesar tahun 1622 oleh J. P. Coen. Selanjutnya, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini jadi markas militer Belanda sampai tahun 1860.

Pada tiap-tiap bagian benteng ada suatu menara. Untuk menuju puncak menara ada tangga dengan tempat hampir tegak serta lubang keluar yang sempit. Dari puncak menara ini wisatawan bisa nikmati pemandangan beberapa daerah Kepulauan Banda, dari mulai birunya perairan Teluk Banda, sunset, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar. Jalan-jalan di seputar benteng ini begitu menyenangkan sembari membayangkan situasi waktu kolonial tempo dulu.

Menelusuri Sejarah Benteng Belgica di Pulau Banda Provinsi Maluku

3 Datuk Asal Minangkabau Penyebar Islam di Sulawesi Selatan
Menilik jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan, akan tetap diidentikkan dengan kehadiran tiga mubalig dari Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, serta Datuk ri Patimang. Kehadiran mereka pada abad ke-17 M. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sebetulnya telah ada semenjak abad ke- 16 M, akan tetapi penyebarannya belumlah demikian massif.

Umumnya sejarawan mencatat jika ke-3 datuk itulah pembawa ajaran Islam pertama di tanah Sulawesi Selatan. Nama mereka tertulis menjadi tokoh utama dalam penyebaran agama Islam. Akan tetapi, beberapa catatan serta peniggalan arkeologis mengatakan ada penyebaran Islam jauh sebelum ke-3 Datuk itu. Yaitu Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini yang datang serta menyebarkan Islam di Wajo pada tahun 1320 M, tiga abad sebelum kehadiran Datuk Tellue’.

Tiga ulama ini begitu sampai di Sulawesi tidak secara langsung berdakwah, namun terlebih dulu membuat taktik dakwah. Mereka mendapatkan info jika raja yang sangat dimuliakan serta dihormati merupakan Datuk Luwu karena kerajaannya dipandang sebagai kerajaan paling tua serta tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sedang yang sangat kuat serta punya pengaruh adalah Raja Gowa dan Raja Tallo.

Sesudah mendapatkan info serta keterangan yang cukup, barulah mereka pergi ke Luwu untuk menjumpai Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Mereka pada akhirnya sukses mengislamkan elite-elite kerajaan Gowa-Tallo serta membuat Islam menjadi agama yang sah di kerajaan pada tahun 1605. Datuk Luwu selanjutnya diberi nama menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin, sedang Raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka diberinama Sultan Abdullah Awalul Islam.

Sesudah sukses mengislamkan Datuk Luwu serta Raja Tallo, ke-3 ulama ini lalu menyebar serta membagi lokasi tujuan dakwah berdasar pada keadaan serta ketrampilan mereka. Abu Hamid menyampaikan dalam “Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis-Makassar” seperti berikut :

Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal yang pakar dalam pengetahuan fikih bertugas di Kerajaan Gowa-Tallo. Penduduk yang dihadapi di kerajaan ini masih tetap memegang kuat kebiasaan lama seperti perjudian, minum ballo’, serta sabung ayam. Untuk mengislamkan mereka, cara dakwah yang dipakai yaitu dengan penegakan hukum syariat.

Datuk Patimang atau Khatib Sulung yang pakar tauhid bertugas di Kerajaan Luwu, karena keadaan masyarakatnya masih tetap berdasar teguh pada keyakinan nenek moyang mereka yang menyembah Dewata Seuwae. Datuk Patimang mengajari tauhid sederhana seperti sifat Tuhan. Penekanan tauhid ini untuk menggantikan Dewata Seuwae dengan konsep keimananan pada Allah Yang Maha Esa.

Datuk ri Tiro atau Khatib Bungsu yang pakar tasawuf bertugas di Bonto Tiro karena penduduk di daerah itu masih tetap memegang teguh ajaran – ajaran kebatinan serta sihir. Penduduk di Bonto Tiro populer seringkali memakai pengetahuan sihir atau kemampuan sakti (doti) untuk memusnahkan musuh. Mereka yakin dapat mengislamkan penduduk semacam itu dengan pengetahuan tasawuf.

Ke-3 Datuk ini sebarkan Islam sampai tutup usia serta dimakamkan di lokasi tugas mereka masing-masing. Datuk ri Bandang meninggal dunia serta dimakamkan di lokasi Tallo. Makam Datuk ri Bandang sekarang ada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Khatib Sulung lalu melanjutkan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo serta beberapa kerajaan yang belumlah memeluk Islam. Khatib Sulung meninggal dunia serta dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, oleh karena itu ia bergelar Datu Patimang.

Sementara Datuk ri Tiro meninggal dunia serta dimakamkan di Tiro atau saat ini Bonto Tiro. Makam Datu ri Tiro bisa ditemui di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghargai Datu ri Tiro, Pemerintah Kab. Bulukumba lalu menamai Islamic Center yang baru dibuat dengan nama Islamic Center Datu Tiro.

3 Datuk Penyebar Islam di Sulawesi Selatan Asal Minangkabau

Tari Cakalele merupakan tarian tradisionil semacam tarian perang yang datang dari daerah Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria, tetapi ada pula beberapa penari wanita menjadi penari simpatisan. Tari Cakalele adalah salah satunya tarian tradisional yang cukuplah populer di Maluku dan Maluku Utara serta kerap dipertunjukkan di beberapa acara adat ataupun hiburan. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya dan promo pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan juga internasional

Berdasarkan pada beberapa sumber histori yang ada, Tari Cakalele ini dulunya datang dari kebiasaan orang-orang Maluku Utara. Ketika itu tarian ini djadikan sebagai tarian perang oleh prajurit-prajurit sebelum merek menuju ke medan perang ataupun sepulang dari medan perang. Tidak hanya itu tarian ini juga dijadikan sebagaia bagian dari upacara adat masyarakat Maluku Utara.

Tari cakalele ini lalu meluas ke beberapa daerah sekitarnya, karena bagian dari pengaruh kerajaan ketika itu. Tarian ini lalu diketahui di daerah lainnya seperti di daerah Maluku Tengah serta sebagian lokasi Sulawesi, diantaranya di Sulawesi Utara. Di kelompok orang-orang Minahasa, Cakalele dikenal juga serta berubah menjadi bagian dari tarian perang mereka, yakni Tari Kabasaran.

Pada saat saat ini, Tari Cakalele tak akan digunakan sebagi tarian perang, tetapi seringkali dipertunjukkan untuk acara yang berbentuk pertunjukan ataupun perayaan kebiasaan. Untuk orang-orang disana, Tari Cakalele dimaknai menjadi bentuk animo serta penghormatan orang-orang pada beberapa leluhur atau nenek moyang mereka. Diluar itu tarian ini dapat memvisualisasikan jiwa orang-orang Maluku yang pemberani serta kuat, hal itu dapat disaksikan dari pergerakan serta ekspresi beberapa penari waktu menarikan Tari Cakalele ini.

Tari Cakalele dimainkan oleh kira-kira 30 lelaki serta wanita. Beberapa penari lelaki kenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah serta kuning tua. Di ke-2 tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) disamping kanan serta tameng (salawaku) disamping kiri, mereka memakai topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Penari wanita memakai pakaian warna putih sambil menggenggam sapu tangan atau lenso di ke-2 tangannya. Beberapa penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan disertai musik beduk (tifa), suling, serta kerang besar (bia) yang ditiup.

Tari Cakalele dimaksud sebagai tari kebesaran, karena dipakai untuk penyambutan beberapa tamu agung seperti tokoh agama serta petinggi pemerintah yang bertandang ke bumi Maluku. Kelebihan tarian ini terdapat pada tiga kegunaan lambangnya. (1) Baju berwarna merah pada baju penari lelaki, melambangkan perasaan heroisme pada bumi Maluku, dan keberanian serta patriotisme orang Maluku waktu berada dalam perang. (2) Pedang pada tangan kanan melambangkan harga diri warga Maluku yang perlu dipertahankan sampai titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) serta teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian melambangkan pergerakan memprotes pada system pemerintahan yang dipandang tidak memihak pada warga masyarakat.

Tari Cakalele dalam perkembangannya sampai saat ini masih tetap selalu dilestarikan serta di kembangkan oleh orang-orang disana. Beragam kreasi serta macam juga kerap ditambahkan dalam pertunjukannya supaya menarik, tetapi tidak menghilangkan keunikan serta keaslian dari tarian itu. Tari Cakalele ini dapat masih tetap kerap dipertunjukkan di beberapa acara seperti penyambutan tamu, perayaan kebiasaan, serta acara kebiasaan yang lain. Diluar itu tarian ini dapat kerap dipertunjukkan di beberapa acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya serta promo pariwisata.

Tari Cakalele, Tarian Perang dari Maluku

Ojek Wisata Alam Taman Nasional Manusela di Maluku
Taman Nasional Manusela merupakan taman nasional yang terdapat di Kepulauan Maluku, Indonesia. Terapat Gunung Binaya, dengan ketinggian 3.027 mdpl, gunung ini adalah yang paling tinggi di taman ini. kurang lebih terdapat 117 spesies burung, 14 merupakan endemik, seperti Nuri Bayan, Kasturi tengkuk-ungu, Kakatua Maluku, Todiramphus lazuli, Todiramphus sanctus, Philemon subcorniculatus serta Alisterus amboinensis.

Penduduk asli desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, serta Kanike, adalah enclave didalam lokasi Taman Nasional Manusela. Orang-orang itu sudah lama ada di desa-desa itu, serta yakin jika gunung-gunung yang ada di taman nasional bisa memberi semangat serta perlindungan dalam kehidupan mereka. Keyakinan mereka otomatis akan menolong melindungi serta melestarikan taman nasional.

Potensi Objek Wisata Taman Manusela


Taman Nasional Manusela diketahui menjadi tempat wisata alam dengan daya tarik sendiri dengan panorama alam yang indah serta menarik dan topografi berbukit-bukit salah satunya tepi Markele, lembah Manusela, tepi Kobipoto, dataran Mual samping utara serta lembah Wae Kawa di samping selatan. Atraksi yang dapat di nikmati yaitu menelusuri rimba, panjat tebing, melihat satwa/tumbuhan.

Lokasi Taman Nasional Manusela banyak mempunyai kekhasan serta keunikan, seperti lembah Manusela dengan panorama alamnya yang menarik serta kondisi iklimnya yang fresh serta menyenangkan, lembah Piliana yang kaya dengan berbagai jenis kupu-kupu, Sawai dengan bermacam karang lautnya yang indah begitu pas untuk aktivitas snorkeling serta diving, selain itu di daerah Sawai serta sekelilingnya dapat juga di nikmati panorama tebing sawai yang indah atau wisata tirta yang bisa di nikmati dengan memakai sarana kapal cepat serta longboat yang dimiliki oleh Balai Taman Nasional Manusela. Pusat info Taman Nasional Manusela juga ada di Negeri Sawai persisnya di seputar Dusun Masihulan. Pengelolaan wisata alam di Sawai serta sekelilingnya menyertakan berbagai pihak seperti LSM (Yayasan Wallacea yang mengurus PRS Masihulan), Pemerintahan Negeri Sawai menjadi perwakilan Pemerintahan Daerah Maluku serta pihak-pihak yang berasal dari penduduk atau entrepreneur yang bertindak aktif dalam meningkatkan aktivitas wisata alam di daerah Sawai serta sekelilingnya, air panas di Tehoru dan aktivitas safari rusa di padang Pasahari.

Di lokasi Taman Nasional Manusela banyak diketemukan bunga anggrek, bunga bangkai (Rafflesia sp.), rimba yang ciri khas serta indah, vegetasi alpin serta pakis endemik yang begitu disenangi rusa lantaran merupakan makanan rusa yang enak. Diluar itu, Taman Nasional Manusela bisa digunakan menjadi salah satu media/tempat dalam melakukan riset lapangan karena keanekaragaman flora dan fauna langka serta endemik yang ada di sana, selain itu bisa juga dilakukan penelitian farmasi karena banyak jenis tanaman obat-obatan, dan juga riset jenis tanaman bisa dijadikan sebagai makanan alternatif untuk masyarakat

Tidak hanya itu, diluar lokasi Taman Nasional Manusela pada daerah penyangga ada beberapa tempat wisata seperti penginapan terapung di Teluk Sawai, budi daya mutiara, sumber air panas (Geiser) di Tehoru, jembatan tali serta menara pengintai dengan cara alam serta tali-temali rimba di Piliana serta Masihulan, dan wisata budaya berbentuk adat istiadat ddan kebudayaan serta upacara suku asli Pulau Seram di seputar taman.

Akses Menuju Ke Taman Nasional Manusela


Taman Nasional Manusela bisa dijangkau melalui Wahai dan Saleman melalui arah pantai utara atau lewat Tehoru. Alternatif-alternatif rute perjalanan menuju Taman Nasional Manusia di jabarkan seperti berikut :

Dari Ambon ke Saleman-Wahai bisa ditempuh dengan memakai kapal motor yang menghabiskan waktu 24 jam. Kapal motor ini mempunyai jadwal perjalanan 3 kali satu minggu. Perjalanan dari Wahai ke tempat taman nasional bisa ditempuh dengan jalan kaki

Melalui pantai selatan, Taman Nasional Manusela ditempuh lewat kota Ambon ke Tehoru-Saunulu-Mosso dengan kapal motor yang menghabiskan waktu 9 jam. Jadwal kapal motor berjalan merupakan 4 kali dalam satu minggu. Perjalanan setelah itu ke tempat taman nasional cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Perjalanan melalui darat bisa melalui Ambon ke Tulehu dengan waktu tempuh 45 menit. Setelah itu dari Tulehu ke Amahai bisa diraih dengan long boat cepat yang membutuhkan waktu 1 jam 45 menit. Perjalanan dari Amahai ke Tehoru dikerjakan melalui jalan darat sepanjang 3 jam setelah itu diteruskan dengan speed boat ke Saunulu/Mosso selam 30-60 menit. Pengunjung bisa juga menentukan rute perjalanan darat menuju taman nasional sisi utara. Rute ini ditempuh dari Amahai ke Saleman melalui Masohi yang memerlukan waktu 3 jam diteruskan dengan speed boat menuju Wahai yang menghabiskan waktu 2 jam.

Perjalanan masuk ke Taman Nasional Manusela dari Saunulu/Mosso dilakukan dengan berjalan kaki lewat jalan setapak serta mendaki tebing-tebing pegunungan maka pemandu serta pembawa barang begitu dibutuhkan.

Dari bagian utara, lokasi Taman Nasional Manusela bisa ditempuh lewat jalan trans-Seram dari Wahai ke Sasarata. Rute ini bisa dilewati roda empat. Setelah itu dari Sasarata menuju ke lokasi taman nasional sisi tengah/selatan bisa ditempuh dengan jalan kaki menuju jalan setapak yang menghubungkan Kaloa-Hatuolo Maraina, serta Manusela. Perjalanan ini membutuhkan waktu kira-kira 2 hari.

Jika pengunjung membawa kendaraan roda empat, perjalanan dikerjakan dari Ambon ke Liang dengan waktu tempuh ± 1, 5 jam. Setelah itu dari Liang ke Kairatu ditempuh sepanjang ± 2 jam dengan memakai ferry. Dari Kairatu ke Saka ditempuh dengan jalan darat sepanjang ± 3, 5 jam.

Rute paling baru untuk menuju Taman Nasional sisi utara yakni dari Ambon langsung bisa memakai pesawat Merpati tipe twin otter Menuju ke Wahai, dari Wahai ke Sasarata, lalu perjalanan dikerjakan dengan jalan kaki menuju kawasan Taman Nasional.

Jika kamu ingin berkunjung ke Taman Nasional Manusela, maka musim kunjungan terbaik ada pada bulan Mei s. d Oktober di setiap tahunnya.

Taman Nasional Manusela adalah lokasi konservasi dengan luas 189. 000 Ha, dan taman nasional Manusela ini merupakan taman nasional tipe B. Lokasi ini adalah kombinasi dari 2 cagar alam yakni Cagar Alam Wae Nua serta Cagar Alam Wae Mual serta ditambah dengan pelebaran lokasi Cagar Alam Wae Nua dan Cagar Alam Wae Mual. Secara administratif lokasi Taman Nasional Manusela termasuk juga di lokasi Kecamatan Seram Utara yang berkedudukan di Wahai serta Kecamatan Seram Selatan di Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Secara ekologis Taman Nasional Manusela mempunyai tujuh jenis vegetasi, yakni berturut-turut dari pantai ke puncak gunung Binaya yaitu seperti berikut : Hutan mangrove (mangrove formation) , Vegetasi pantai (beach formation) , Hutan rawa dataran rendah (lowland swamp forest) , Vegetasi tebing sungai (riverbank vegetation) , Hutan hujan dataran rendah (lowland rain forest) , Hutan hujan pegunungan (mountain rain forest) , Hutan lumut (alpine/moss forest)

Keadaan Topografi 


Lokasi Taman Nasional Manusela yang meliputi 20% dari keseluruhnya luas pulau Seram, kondisi topografinya sejumlah besar bergelombang serta lahannya adalah pegunungan kapur. Topografi yang ada ini dari mulai dataran (dataran Mual) dibagian utara, bergelombang sedang- berbukit hingga sampai bergunung-gunung dengan ketinggian 0 – 3027 mdpl.

Kemiringan sekitar 30 – 60 persen dari mulai gunung Markele hingga gunung Binaya yang disebut puncak paling tinggi. Sejumlah besar lokasi ini mempunyai kelerengan yang begitu terjal dengan lembah-lembah yang dalam. Sisi yang relatif landai terdapat dibagian utara seputar Wahai serta Sasarata dan sisi selatan di daerah Hatumete, Hatu serta Woke.

Berdasar pada ketinggian tempat di atas maka, permukaan laut, area Taman Nasional Manusela bisa dibedakan jadi empat kelompok, yakni:

# Dataran rendah dibawah ketinggian 500 mdpl
# Dataran tinggi antara 500 - 1500 mdpl
# Daerah pegunungan dengan ketinggian pada 1500-2500 mdpl
# Zona sub alpin dengan ketinggian pada 2500 – 3027 mdpl.

Trekking berkeliling-keliling Taman Nasional Manusela adalah pengalaman sengit serta tidak terlupakan. Track termasuk juga medium, ada sekian banyak jalur yang cukuplah menantang. Di dalam rimba, kami masuk gua kelelawar serta rasakan situasi gelap gulita didalam gua yang sunyi. Janganlah lupa bawa serta air minum cukuplah untuk bekal persediaan.

Objek Wisata Alam Taman Nasional Manusela di Maluku

Menelusuri Kolam Renang dan Pemandian Alami Nen Masil di Kepulauan Kei
Ketika hari minggu atau hari libur lainnya tiba, rasanya tidak enak kalau saya tidak melangkahkan kaki ke luar rumah menikmati keindahan alam. Terlebih setelah kepulauan ini mendapatkan penghargaan sebagai Surga Tersembunyi Terpopuler membuat saya menjadi tambah bangga dan tambah besemangat untuk terus mengeksplore seluruh tempat wisata di daerah ini.

Salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi setiap hari libur adalah kolam renang dan pemandian alami Nen Masil yang terletak di desa Evu kecamatan Hoat Sorbay Kab. Maluku Tenggara. Objek wisata ini puncak ramenya berada pada sekitar jam tiga hingga jam tujuh malam di setiap hari libur. Biasanya masyarakat di sini pergi ke satu atau dua tempat wisata terlebih dahulu setelah itu baru mereka mengakhiri perjalanan wisata di kolom pemandian air alam ini untuk mandi atau sekedar melepas penat sembari menikmati udara segar dan keindahannya.

Kolom air pemandian alami nen masil sangat bersih dan jernih, karena berasal dari sumber mata air yang terpelihara keaslian dan kemurniannya. Air di sini juga menjadi salah satu sumber mata air yang digunakan untuk konsumsi masyarakat kab. Maluku Tenggara.

Di sekitar kolom pemandian ini masyarakat desa menyediakan beragam kuliner lokal seperti embal (makanan yang berasal dari olahan singkong beracun), sayur sir-sir, ikan bakar, gorengan, dan makanan lokal lain yang rasanya betah di lidah.

Fasilitas


Fasilitas yang ada di sini adalah tempat parkir gratis, pondokan-podokan kecil yang harga sewanya Rp. 35.000, bantal renang yang sekali disewa dengan harga Rp. 10.000 hingga Rp. 20.000 tergantung besar kecilnya. Untuk retribusi masuk tempat wisata ini harganya sangat murah, kendaraan roda dua Rp. 10.000, kendaraan roda empat (mobil penumpang dan mobil pribadi) Rp. 20.000, dan untuk bis besar harganya Rp. 25.000.

Spot Foto


Tak lengkap rasanya jika traveling tidak mengabadikan momen-momen penting saat berkunjung di salah satu tempat wisata.

Kolom pemandian alami nen masil memliki banyak spot yang keren untuk dijadikan sebagai latar dalam pengambilan gambar. Semua spot di sini masih alami, belum terlalu banyak yang dirubah.

Ketika menghabiskan akhir pekan di sini saya sempat berfoto untuk mengabadikan momen yang indah ini. Alam di sini membuat saya tidak menahan diri untuk dibidik dengan kamera, padahal saya salah satu orang yang tidak terlalu suka dipotret, saya lebih suka memotret.

Kolom Untuk Anak Kecil


Menelusuri Kolam Renang dan Pemandian Alami Nen Masil di Kepulauan Kei

Di sni sangat aman untuk piknik bersama anak, selain memiliki kolom renang besar, pemandian alami nen masil memiliki juga kolom kecil untuk anak kecil.

Anak kecil bebas bermain dan mandi di kolom kecil ini, karena dangkal, bersih, jernih, dan air terus mengalir, sehingga sirkulasi pergantian air itu terus berjalan setiap saat.

Keindahan yang masih alami biarkan menjadi alami seperti dirinya itu, jangan kita rusaki dengan mendatangkan berbagai macam kemewahan buatan.

Kolam Renang dan Pemandian Alami Nen Masil di Kepulauan Kei

Backpacker di Kepulauan Kei: Cerita dari pasir putih di pantai Ngursarnadan
Motor yang saya kendarai terus melaju dengan kecepatan 60km/jam menelusuri jalan beraspal, menerjang panasnya suhu matahari yang hampir mecapai 30 derajat celcius. Jalanan tidak begitu ramai dengan hingar bingar suara mobil atau motor yang biasa kita lihat di dalam kota.

Di kota ini saya paling senang berwisata dengan mengendarai motor, banyak hal baru yang saya jumpai selama perjalanan. Bertemu dengan orang baru atau bertemu dengan orang yang sudah saya kenal lalu saling menegur sapa dengan membunyikan klakson motor atau sekedar menganggukkan kepala dan memberikan senyum terbaik yang saya miliki.

Sudah sekitar 35 menit perjalanan dari kota Tual menuju ke pantai dengan pasir yang lembut. Dari google map, jarak antara tempat tinggal saya dengan pantai Ngur Sarnadan yang terletak di Desa Ohoililir sekitar 18 km. Kalau hanya dengan berjalan kaki ala kelompok pecinta alam, mungkin waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat ini sekitar 3 jam lebih.

Matahari tak terik lagi, diganti dengan sejuknya angin laut yang bertiup pelan dari arah barat. Pohon kelapa dan pohon-pohon besar lainnya di sepanjang bibir pantai seakan berbicara bahwa "datanglah ke dalam dekapan jiwaku, duduklah dibawahku dan nikmatilah keindahan pantai ini. Jiwamu adalah jiwaku dan jiwaku adalah jiwamu, aku adalah pesona yang hadir untuk menghibur kegundahan hatimu".

Ahhhhh, ottak liarku mulai bermain dengan alam, sejenak saya sedang berkhayal di bawah pondokan yang beratapkan anyaman dari daun pohon rumbia dan bambu. Beberapa pondokan kecil yang berjejeran di pinggir pantai berpasir halus ini dibangun atas swadaya masyarakat. Sepertinya belum ada campur tangan dari luar termasuk pemerintah setempat. Semua masih terlihat alami, seperti jiwa murni yang belum disentuh oleh noda duniawi.

Saya sempat bercerita dengan seorang ibu penjual makanan di situ tentang pengelolaan tempat wisata Ngur Sarnadan. "Di sini adalah tanah petuanan dan tanah adat milik masyarakat Desa Ohoililir, sehingga pembangunan dan pengelolaan tidak bisa diambil alih secara langsung oleh pemerintah atau pihak ketiga".

Di satu sisi jika tidak ada investor yang didatangkan oleh pemerintah maka, tidak ada pembangunan vasilitas-vasilitas wisata, seperti hotel, penginapan, dan sarana pendukung lainnya. Namun jika diminta untuk memilih maka, saya lebih memilih pilihan pertama. Alasannya adalah agar tanah adat tidak hilang karena dijual kepada investor, pesona alam yang masih asri tetap terjaga dan yang paling penting bagi saya adalah pantai dengan pasir halus nan lembut ini tetap tenang sehingga menginspirasiku dalam menulis dan memulai langkah baru.

Foto-foto


Sudah sekitar jam 15.00 WIT, air laut mulai surut. Di kejauhan sana, saya melihat ada beberapa orang wisatawan manca negara sedang berjemuran di atas pasir. Di bagian atas mereka ada penginapan yang dikhusukan buat wisatwan yang ingin menginap.

Tempat wisata yang dekat dengan pantai pasir panjang ini selalu dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan manca Negara. Garis pantai yang dimilikinya menyatu dengan pantai pasir panjang, sehingga memungkinkan wisatawan untuk berjalan kaki menelusuri putihnya pasir dan tenangnya lautan.

Bumi terus berputar dan matahari seakan terus turun ke ufuk barat. Perahu-perahu yang berlabuh di depan pantai bergoyang mengikuti irama ombak yang datang menghampiri bibir pantai. Keduanya menghasilkan irama alam yang luar biasa merdunya. Anak anjing berserta induknya becengkrama di pinggir tripot yang saya pasang tak jauh dari tempat saya berteduh. Burung-burung berkicau di atas dahan-dahan pohon, sepertinya mereka sedang bersiap untuk pulang ke peraduan malam.

Sebagian besar pengunjung mulai bergegas pulang dengan mobil dan motor yang mereka kendarai, meninggalkan kami yang sedang menanti datangnya sunset. Beberapa penduduk setempat berlalu lalang melihat kegiatan saya dan pecinta sunset lainnya memansang alat dan mencari tempat terbaik untuk memotret. Tiga piramida exposure sedang disetting, mencari speed, diagfragma dan iso yang tepat untuk keadaan alam yang mulai gelap.

Di depan saya terpampang lukisan yang maha agung, dinding-dinding langit diukir dengan ukiran tangan yang tak terlihat, warna merah, kuning, dan biru berpadu membentuk pola warna yang indah. Sinar matahari memainkan perannya dalam membentuk gradasi warna, semua mata tertuju ke sana, ke kedalaman hasil karya sang pencipta.

Matahari semakin menjauh hingga tenggelam di belahan bumi yang lain. Gelap sudah menghampiri, namun sisa-sisa cahaya masih tertinggal di dinding-dinding langit. Bulan mulai muncul dari sebelah timur, cahaya yang dipancarkan oleh bulan dan warna langit menggoda selera untuk bertahan sejenak menikmati pemandangan yang jarang saya temui ini.

Seberkas cahaya muncul dari kejauhan, sepertinya ada penduduk desa yang menyalakan lampu pelita di dalam pondokan kecilnya yang ia gunakan sebagai tempat berjualan gorengan, ikan bakar, dan menu makanan lain. Rasanya saya belum puas menikmati kemegahan alam tadi, mungkin nanti saya akan bertemu dengannya lagi di kala saya kembali ke sini.

Tempat wisata yang terletak di kecamatan kei-kecil, kabupaten Maluku Tenggara ini selalu memikat hati orang yang pernah ke sini. Pasirnya yang halus seperti tepung, pepohonan yang rindang, suasana alam yang masih asri terlebih sunsetnya yang menyisahkan rindu.

Cerita dari Keelokan Pantai Ngursarnadan di Kepulauan Kei

Menikmati Air Goa Hawang yang Berwarna Biru Safir di Kepulauan Kei
Goa ini bernama Goa Hawang atau dalam bahasa setempat disebut sebagai Wear Lian Hawang. Di dalam goa terdapat air yang sangat jernih, berwarna biru seperti batu safir. Airnya sangat sejuk dan sangat segar ketika mandi.

Dalam cerita mitos masyarakat sepempat, Goa ini ditemukan oleh seorang pemburu dan 4 anjing miliknya pada zaman dahulu. Karena haus, si pemburu berniat untuk meminum habis seluruh air yang ada di dalam goa, namun dia tidak berhasil karena dikutuk menjadi batu besar yang menjulang ke atas.

Sebenarnya kalau kita lihat dalam pembentukan goa, batu besar dan beberapa batu kecil yang ada di dasar goa yang menjulang ke atas merupakan stalagmit dan juga batu stalaktit yang menjulur ke bawah. Keduanya menambah keindahan goa.

Goa ini memiliki dua lapisan air yakni air dangkal dan air dalam. Gambar di atas menunjukkan lokasi air dangkal.

Air Goa Hawang terletak di Desa Letvuan, Kec. Hoat Sorbay,  Kab. Maluku Tenggara - Propinsi Maluku. Perjalanan dari langgur ke lokasi wisata ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit melalui Jln. K.H. Abdurrahman Wahid atau melalui jalan poros desa Debut.

Tampak bagian atas atau bagian depan goa. Dari sini kita sudah bisa melihat stalaktit yang tumbuh dari atas ke bawah. Goa ini terlihat seperti tenggorokan manusia.

Lokasi wisata alam ini memiliki pondokan-pondokan kecil sebagai tempat istirahat, dan ada beberapa pondokan lagi sedang dalam pengembangan.

Sebenarnya lokasi ini memiliki dua air goa, yang satu kecil dan sempit sedangkan yang satunya lagi luas dan dikembangkan sebagai lokasi wisata. Untuk masuk ke dalam lokasi wisata Air Goa Hawang anda akan dikenakan biaya sebesar Rp. 5000 bagi pengguna roda dua, sedangkan yang menggunakan mobil sebesar Rp. 10.000.

Segarnya Air Goa Berwarna Biru Safir membuat saya ingin berlama-lama di dalamnya. Bagaimana dengan kamu?

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jufri Derwotubun (@jufri_derwotubun) pada

#Ayo ke goa hawang

Goa Hawang: Keindahan Butiran Safir yang Mempersona

Apa yang terlintas di kepala anda jika mendengar Namlea atau Pulau Buru? Saya coba tebak: pertama, pulau pembuangan tahanan politik. Kedua adalah Tertalogi Pulau Buru yang berisikan empat novel karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan hebat Indonesia dan juga seorang tahanan politik di pulau Buru. Ketiga dan yang terakhir adalah Minyak kayu putih. Dan tak lupa yang terakhir adalah tambang emas gunung botak. Semoga tebakan saya tidak meleiisyet.

Minyak kayu putih dan Namlea bagai dua sisi dalam satu koin, tak terpisahkan. Hal itu dikarenakan di Namlea tumbuhan yang nama latinnya Melaleuca leucadendra ini tumbuh dengan liar, tak ada yang menanam dan merawat, dan tinggal dipetik. Dan, perlu dicatat bahwa minyak kayu putih “made from Buru” sajalah yang memiliki kualitas prima.

Saat berkunjung di Namlea, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Bukit Tatanggo, suatu bukit di mana tersaji pemandangan hamparan lahan pohon kayu putih. Jika di Kebun Teh, di Malino para warga memetik daun teh, maka di Namlea sini, aktivitas warganya memetik daun kayu putih. Seperti halnya daun teh, daun kayu putih terbaik adalah di pucuk. Pucuk.. pucuk.. pucuk..

Sebagian besar kita mengenal minyak kayu putih hanya dalam bentuk kemasannya dan dipakai ketika tergigit serangga, sakit perut atau membutuhkan kehangatan akan menggunakan minyak kayu putih. Tapi sedikit dari kita yang tahu bagaimana perjuangan para warga di Namlea untuk memetik daun kayu putih itu sebelum diolah dan dikemas menjadi minyak kayu putih, seperti yang kebanyakan kita pakai. Untuk ke lahan pohon kayu putih, para warga harus mendaki bukit, sebab mereka percaya bahwa khasiat minyak kayu putih yang dihasilkan pohon kayu putih di atas bukit lebih baik daripada di bawah bukit. Setelah memetik daun pucuk minyak kayu putih, para warga itu harus membawa tumpukan daun kayu putih itu dengan peralatan yang sederhana: satu bambu berukuran kurang-lebih satu meter yang di kedua ujungnya dipasangkan dua karung beras.

Setelah daun minyak kayu putih diangkut ke tempat penyulingan. Ada yang menarik dari proses penyulingan minyak kayu putih, yakni cara penyulingannya yang masih menggunakan cara tradisional dan memiliki filosofi tersendiri. Mungkin sebab itulah kualitas dan khasiat minyak kayu putih dari pulau Buru adalah yang paling prima.

Penulis: Kamal Hadi

Cerita dari Namlea: Minyak Kayu Putih Pulau Buru, Maluku